Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Pertama
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

BAGIAN 05

UPASARA menghaturkan sembah. Dua prajurit itu berlalu tanpa memperhatikan Upasara. Dengan lirik matanya, Upasara melihat arah berlalunya dua prajurit. Telinganya masih mendengar percakapan dua prajurit itu.

"Enak kita. Kalau ada kuli seperti itu."

"Lebih baik begitu. Kan tidak lucu kalau kita prajurit harus mengangkut barang seperti itu. Kalau kita cepat. kita bisa naik pangkat. Siapa tahu dapat persen dan bisa kawin lagi?"

Menunggu malam hari, Toikromo-lah yang paling sibuk. Ia mengajak Upasara mandi di belik, si sebuah sendang kecil. Dan meminjami sisir, serta memberi bedak.

"Wajahmu tampan, Anakmas."

"Sudahlah, Paman"

Sebenarnya Upasara ingin segera meninggalkan tempat itu. Namun merasa tak enak jika ia meninggalkan begitu saja. Ia kuatir jika dua prajurit itu menuduh Pak Toikromo mempermainkan mereka. Akibatnya bisa runyam semuanya. Makanya, Upasara ingin penolongnya berlalu dulu dan ia akan mencari kesempatan baik untuk meloloskan diri. Di samping itu, ia juga ingin menggunakan saat yang sebentar untuk beristirahat dan memulihkan tenaganya.

Tetapi Toikromo ternyata menunggu sampai Upasara diambil dua prajurit itu baru berlalu. Setelah mengadakan perpisahan sederhana, Upasara mengikuti dua prajurit itu. Masuk ke dalam bangunan rumah yang agak megah. Dindingnya dari anyaman bambu. Demikian juga bagian lantai rumah. Jadi bukan dari tanah biasa.

"Besok pagi mulai bekerja. Malam ini kau beristirahat di sini."

"Sembah dalem, Raden...."

Salah seorang dari prajurit itu mengeluarkan duit receh terkecil dan melemparkan ke tanah. "Ini buat beli tembakau."

Dahi Upasara berkerut. Sungguh tersiksa rasa congkaknya untuk memungut duit yang dilemparkan dengan cara seperti itu, dan ini dilihat oleh prajurit-prajurit yang lain.

"Maaf, Raden. Hamba tidak menisik dengan tembakau...." Upasara bergeming, tidak mengambil duit.

"Pakailah untuk makan."

"Maaf, hamba sudah diberi oleh Bapak...."

Prajurit itu menggertakkan giginya. "Kalau kuperintah mengambil, jangan berbuat yang lain."

Upasara menghaturkan sembah. Ia mengulurkan tangan untuk mengambil recehan ketika prajurit itu menyungkil dengan tombaknya. Kepingan mata uang itu melayang ke atas, dan ditangkap dengan sebelah tangan. Upasara menjadi gusar.

"Hah!" teriaknya kaget.

Namun bersamaan dengan teriakan kaget dan mulut terbuka, Upasara mengirimkan tenaganya, sehingga kepingan logam itu jadi melenceng. Si prajurit menangkap angin. Kepingan duit logam itu jatuh kembali ke tanah. Prajurit yang lain menertawakan. Ditertawakan, seperti itu prajurit yang congkak ini jadi merah-padam. Tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Dan tak menduga ini ulah Upasara. Hanya geramnya dilampiaskan ke Upasara.

"Pungut duit itu. Ikut aku. Kuajari caranya menisik tembakau."

"Baik, Raden." Upasara memungut duit dan mengikuti prajurit di depannya.

"Jangan sekadar memanggil Raden. Panggil aku Raden Sukra. Ini pelajaran kalau ingin menjadi calon prajurit."

"Nama hamba Upa...."

"Siapa yang menanyaimu? Tugasmu hanya menjawab pertanyaan dengan kalimat: 'Sendika dawuh, Raden Sukra'"

"Sendika dawuh, Raden Sukra."

Sambil menahan rasa dongkol yang sudah sampai di leher, Upasara mengikuti Prajurit Sukra. Ada yang menahan Upasara untuk langsung menyikat Prajurit Sukra. Pertama karena ia ingin mengetahui persiapan apa yang terjadi di tempat ini. Ini cukup beralasan karena Upasara melihat adanya panji-panji atau umbul-umbul yang sama dengan yang dikibarkan di dalam tenda Raja Muda Gelang-Gelang. Matanya sempat melihat ke dalam bangunan rumah. Di bawah penerangan obor yang dinyalakan dari ujung tangkai pohon kelapa yang diremukkan dari beberapa jurusan, beberapa prajurit utama berkumpul. Semuanya duduk di bawah. Menghadap kursi yang masih kosong.

"Hei. Jangan longak-longok begitu. Jongkok."

Kali ini Prajurit Sukra bukan hanya berkata, akan tetapi langsung menarik pundak Upasara dan menyeretnya ke tanah. Upasara mengikuti bantingan, hingga tubuhnya seperti dilontarkan ke depan. Ia bisa melihat lebih jelas kini. Sebelum Prajurit Sukra maju kedua kalinya. terdengar langkah kaki memasuki bangunan utama. Semua prajurit langsung tunduk dan menghaturkan sembah.

Kesempatan ini digunakan oleh Upasara. Dengan mengambil batu kerikil kecil, ia menimpuk ke arah Prajurit Sukra dan badan Sukra menjadi kaku. Tentu saja di saat semua menunduk, kehadiran Prajurit Sukra jadi menarik perhatian. Begitu yang memegang pimpinan melirik ke arah Prajurit Sukra, semua menahan napas.

"Prajurit mana yang tak tahu adat itu?"

Bersamaan dengan itu tangan ksatria yang berada di tengah ruangan menuding. Upasara menduga bahwa sebuah tenaga lurus menghantam ke arah Prajurit Sukra. Upasara tak mau berisiko. Ia menyambitkan batu kerikil untuk membebaskan kekakuan Prajurit Sukra. Soalnya kalau orang mengetahui bahwa Prajurit Sukra berdiri kaku karena tertotok jalan darahnya, bisa buyar semua rencananya. Maka ketika tenaga dan jari telunjuk itu menyentuh Prajurit Sukra, yang terakhir ini sempat mengaduh. Matanya membeliak dan tubuhnya terjatuh ke depan.

Ksatria di depan itu meraupkan tangannya, dan Prajurit Sukra seperti melayang di udara. Lalu dengan satu tolakan tangan yang itu juga. tubuh Prajurit Sukra terlempar jatuh ke belakang. Tak terdengar suara mengaduh.

Upasara menahan ludah yang hampir tertelan. Satu gebrakan yang keras dan ganas. Kalau melawan prajurit biasa. seorang yang mempunyai kepandaian tertentu di atasnya bisa mempermainkan. Itu bukan hal yang aneh. Yang membuat Upasara bertanya-tanya dalam hati ialah gerakan ksatria itu. Tak ubahnya gerakan yang dipertontonkan oleh Pujangga Pamungkas, Ugrawe.

Siapa ksatria ini? Dilihat dari usianya, masih sepantaran dengan Upasara. Tapi dilihat dan pangkat dan jabatan, jelas ia pemimpin dalam pasukan ini. Dilihat dari kemampuan dan tenaga yang dipergunakan, jelas susah ditentukan di mana tingkatnya.

"Sembah dalem, Gusti Rawikara...."

Rawikara melambaikan tangan. Para prajurit yang menghaturkan sembah tetap menunggu. Akan tetapi agaknya yang ditunggu tidak segera duduk di kursi yang telah disediakan. Rawikara berarti sinar matahari. Kini, pertanyaan Upasara agak terjawab sedikit dengan gerakan yang didemonstrasikan tadi. Pantas saja gerakannya seperti Ugrawe. Ataukah ksatria ini murid Ugrawe? Kalau benar begitu, jelas banyak tokoh yang tangguh bergabung dengan pasukan Gelang-Gelang.

"Bagaimana dengan penjagaan?"

"Sembah dalem, Gusti...." Seseorang menghaturkan sembah. "Sampai hari ini belum ada yang melalui jalan di depan."

"Meskipun demikian, jangan sampai lengah. Kita mendapat tugas untuk mengamati jalan di Banyu Urip. Karena ini satu-satunya jalan utama menuju ke Keraton Singasari dari Perguruan Awan. Siapa pun yang lolos dari sana, akan melalui jalan ini."

Diam-diam Upasara bersyukur. Di luar perhitungannya sendiri, ia bisa lolos dari pengawasan. Kalau saja ia muncul sendirian di pasar, pasti ia sudah ditanyai dengan berbagai pertanyaan dan akan sangat repot. Untung saja ia muncul bersama Toikromo yang sudah dikenal baik para prajurit di sini. Sehingga tidak menimbulkan kecurigaan sedikit pun. Bukan tidak mungkin selama ini Toikromo ditemani oleh keponakan atau anaknya. Hanya saja karena banyaknya gerobak yang dimiliki semua dipakai untuk mengangkut, jadi hari ini Toikromo terpaksa mengangkut sendirian.

"Meskipun tugas utama kita menghimpun kekuatan, akan tetapi baru saja ada berita dari Perguruan Awan, bahwa Senamata Karmuka sempat lolos. Tetapi ia tak akan pernah mencapai Keraton Singasari. Tidak, selama kita masih di sini. Aku menginginkan semua menjalankan tugas dengan baik. Jangan mencoba menyepelekan tata tertib yang berlaku."

Secara serentak para prajurit menghaturkan sembah.

"Semua yang diundang ke Perguruan Awan bisa diselesaikan. Sebagian ditawan, sebagian dibunuh, dan sebagian dikubur hidup-hidup."

Upasara menggertakkan gerahamnya. Ia teringat akan nasib Jagaddhita dan Gendhuk Tri.

"Hanya mayat Senamata Karmuka yang belum ditemukan. Boleh dikatakan tugas pertama berhasil sempurna. Tinggal melaksanakan dua tugas berikutnya. Kalau ini sudah terlaksana, kita akan melihat tanah Jawa kembali diperintah oleh yang berhak. Kembali diperintah titisan dewa dan bukan turunan para perampok."

"Sembah dalem, Gusti...."

Rawikara mengeluarkan suara mendesis. "Tetapi tetap ada yang membuat ganjalan. Maharesi Ugrawe dilukai sedikit, tapi tak menjadi soal. Akan tetapi yang menjadi soal ternyata di antara kita sendiri ada yang berkhianat."

Sejak meninggalkan Perguruan Awan, Upasara tak tahu apa yang terjadi. Baru sekarang ini semua keterangan bisa diperoleh. Akan tetapi yang jauh lebih menarik perhatiannya ialah ternyata Maharesi Ugrawe begitulah Rawikara menyebutnya yang menjadi pucuk pimpinan prajurit Gelang-Gelang, mempunyai tiga rencana sekaligus. Pertempuran hancur-hancuran dan habis-habisan di Perguruan Awan hanyalah salah satu dari tiga rencananya. Betapa dahsyat tipu muslihatnya!

Tiga rencana dilaksanakan secara serentak. Tidak percuma semua gelar yang diangkat dan dianugerahkan untuk dirinya sendiri. Ugrawe memang luar biasa. Jago silat kelas utama, sekaligus ahli siasat perang yang memegang komando sendiri. Dalam hati Upasara menduga bahwa dua rencana yang lain pasti tak akan dikatakan di pertemuan ini. Pertemuan ini terlalu terbuka untuk menjelaskan tugas rahasia. Inilah tugas Upasara untuk bisa mengetahui.

Pasti juga bukan hal mudah. Akan tetapi jika ia berhasil mengendusnya, bukan mustahil semua rencana bisa digagalkan. Dan ini berani keselamatan Keraton bisa dipertahankan. Hanya saja kalimat terakhir Rawikara membuatnya sedikit bergidik. Kalau dikatakan ada yang berkhianat, apakah Rawikara mengetahui kehadiran dirinya?

"Tak perlu kuatir. Aku sendiri telah menangkap pengkhianat itu."

Tangannya melambai. Persis gerakan Ugrawe. Upasara menghimpun tenaganya. Namun ternyata ucapan itu tidak ditujukan kepada dirinya. Ucapan itu ditujukan kepada sekelompok prajurit yang menyeret maju seseorang yang telah diikat erat sekujur tubuhnya. Upasara bisa segera mengenali bahwa yang diikat erat itu adalah... Kawung Sen! Apakah karena dalam pertempuran lalu Kawung Sen membebaskan dirinya, maka sekarang dianggap pengkhianat? Upasara menahan getaran di tangannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak berbuat sembrono.

"Inilah pengkhianat itu. Dan kalian semua akan melihat bagaimana aku menghukumnya, karena Maharesi Ugrawe telah menyerahkan hal ini padaku..."

"Hoho, sejak kemarin dulu aku selalu dikatakan pengkhianat. Tetapi apa sebenarnya dosaku?"

"Kawung Sen, kau masih bertanya? Kau tahu siapa aku? Kau tahu kenapa Maharesi Ugrawe menyerahkan persoalan ini padaku? Karena aku bisa menyiksa manusia dan setan untuk mengaku."

"Itu aku sudah tahu. Semua juga tahu. Bahkan kalau disuruh menyiksa ayahmu sendiri, kau akan menjalankan perintah gurumu."

Kini lebih jelas. Maharesi Ugrawe memang benar guru Rawikara. Tapi siapa yang disebut sebagai ayah? Mungkin Jayakatwang sendiri?

"Aku tak pernah berkata lain. Aku selalu memegang janjiku. Nah, Kawung Sen, mengingat jasa baikmu dahulu ketika menyerbu Keraton Singasari, mengingat pengorbanan saudara-saudaramu, katakan di mana kau sembunyikan Kartika Parwa dan Bantala Parwa"

"Hoho, jadi itu dosaku?" Kawung Sen bergelak. Hanya itu yang bisa dilakukan dengan bebas, karena menggerakkan ujung jari pun agaknya tak mungkin. Kedua tangan dan kakinya diikat, dan itu pun saling dikaitkan. Tubuhnya terbaring di lantai yang dialasi anyaman bambu. "Semua orang juga tahu, untuk apa aku mencuri kitab bulukan itu. Pasti untuk mempelajari, untuk kubaca pelan-pelan, kuhafalkan. Agar aku bisa mengalahkan Ugrawe yang merasa menguasai segala macam soal matahari, rembulan, bintang dan langit, serta bumi. Untuk apa dipersoalkan lagi. Ayolah paksa aku. Siksa aku. Biar aku mengaku."

Dari jawaban Kawung Sen yang tetap berani, Upasara tak bisa menebak arahnya ke mana. Karena jawaban itu sudah jelas. Kalau seorang dituduh mencuri suatu kitab, jelas untuk dipelajari, Apa lagi selain itu. Rangkaian jawabannya juga benar. Ugrawe dikenal menguasai ilmu angin puyuh yang dahsyat karena berhasil menggabungkan berbagai unsur kitab-kitab yang ada. Seperti yang dinamakan sebagai kitab mengenai bintang, Kartika Parwa, dan kitab mengenai bumi, Bantala Parwa. Bahwa dua kitab itu penting, mudah dimaklumi. Sama mudahnya memaklumi bahwa Ugrawe memang menyimpan berbagai kitab pusaka. Akan tetapi bahwa Kawung Sen dituduh mencuri, agak janggal. Terutama sekali dari jawaban Kawung Sen.

"Ayo lakukan. Tak bakal ada yang menyalahkanmu. Kau putra Raja Muda Gelang-Gelang. Gurumu adalah Maharesi Ugrawe. Apa susahnya? Tapi ketahuilah, Rawikara. Kau sama bodohnya dengan aku atau Ugrawe. Kenapa untuk soal sekecil ini saja aku harus diseret kemari dari Perguruan Awan? Kenapa Ugrawe sendiri tak bisa menyelesaikannya? Kenapa aku harus dituduh? Semua orang juga tahu bahwa Kawung Sen adalah orang yang paling bodoh di antara kawung yang lain. Karena Kawung Sen tak mengerti baca dan tulis. Lalu untuk apa kalian semua menjerat aku seperti ini?"

Upasara baru mengerti sekarang ini bahwa Kawung Sen tidak mengerti baca dan tulis. Agak mengherankan, akan tetapi hal itu memang bisa saja terjadi.

"Sayang benar. Ayahmu bercita-cita jadi Baginda raja. Gurumu jadi paman negara. Tapi kau putranya, muridnya yang terkasih diberi pekerjaan yang tak ada artinya. Tidak sadarkah bahwa kau diperolok-olok?"

Rawikara mengedipkan matanya. "Dalam tugas besar ini aku memang cuma menjadi penjaga jalan dan menyiapkan alat-alat perang. Aku tak kebagian tugas penting. Tetapi apa pun tugas yang diberikan oleh Maharesi akan kulakukan dengan baik. Aku tahu kaulah yang mengambil kitab itu. Pertanyaanku: Kepada siapa kau serahkan kitab itu?"

"Mudah sekali jawabannya. Kepada orang yang bisa membaca dan mau mengajariku."

Belum pernah Upasara melihat peristiwa yang tak masuk akal ini. Bagaimana bisa seorang seperti Kawung Sen yang pernah dianggap berjasa dan dianggap senopati kemudian dituduh mencuri kitab? Bagaimana mungkin ia diseret begitu jauh untuk dipertemukan dengan Rawikara?

Tetapi memang Ugrawe tokoh yang serba aneh dan serba ganjil. Segala apa yang dilakukan serba tak menentu. Di satu pihak bisa memerinci suatu gebrakan besar dan bukan hanya satu. Akan tetapi di lain pihak, perincian itu termasuk yang tak perlu dilakukan.

Upasara, walau baru sekali bertukar kalimat, menyadari bahwa Ugrawe mudah kacau pikirannya. Seperti ketika diingatkan bahwa ia malah mencari musuh baru dengan mengadakan pertempuran habis-habisan dengan niat membunuh semua yang ada di Perguruan Awan. Atau seperti yang dilihat sendiri oleh Upasara. Semua lawan bisa dihadapi dengan mudah dan bisa dikalahkan, akan tetapi rasanya Ugrawe tak berani bentrok dengan Senopati Pangastuti. Penglihatan Upasara yang tajam bisa seketika menemukan titik kosong dalam masalah ini.

Anehnya hal seperti ini ternyata tertular kepada Rawikara, muridnya. Mengancam Kawung Sen di depan para prajurit dalam suatu ruang terbuka lebar. "Bagus. Berikan kepadaku dan nanti aku ajari kamu."

"Mana boleh begitu. Itu sama saja menyuruh aku mengakui. Dan bagiku, pantangan besar mengakui apa yang tak kulakukan."

"Atau begini saja. Kau ambil dulu kitab itu, kau berikan padaku, lalu kukembalikan, dan kau mengajariku, begini?"

Kawung Sen bergelak. Dan masih bergelak, ketika Rawikara mengangkat tubuhnya lalu melemparkannya ke atas. Sebat sekali gerakannya, dengan melemparkan bagian ujung talinya sehingga terikat di salah satu tiang. Tubuh Kawung Sen jadi terayun-ayun di udara.

"Begitulah cara mati yang paling hina. Tubuhnya tak menyentuh tanah..." Rawikara tertawa. Tangannya mengambil salah satu cawan tanah dan diguyurkan ke tubuh Kawung Sen. "Dengan air gula aren ini, semua semut akan menggigitmu. Itulah cara mati yang lebih sengsara lagi."

Tiga cawan air gula aren, ditambah dengan botol yang lain. Sehingga air gula aren itu meleleh ke tanah. Sebagian ditumpahkan ke bagian wajah. Sebagian lagi dioleskan lewat tiang rumah. Memberi jalan semut-semut yang akan menyerbu wajah Kawung Sen.

"Mati karena digigit semut. Aha."

Kali ini Kawung Sen tidak berani membuka mulut. Wajahnya menjadi pucat.

"Sekarang kalaupun kau mengaku, aku takkan membebaskanmu." Dengan gerakan kilat, Rawikara meloncat ke tengah ruangan. "Kalau sampai besok tak ada seekor semut datang padamu, kau akan kubebaskan. Rakyatku, dengar apa kata gustimu ini, yang tak pernah menelan ludah yang sudah disemburkan."

"Sembah dalem, Gusti...."

"Sekarang kalian semua bubar dari sini. Meneruskan pekerjaan jaga."

"Sembah dalem, Gusti...."

Rawikara nampak puas. Ia berjalan ke bagian belakang dan menghilang. Para prajurit yang tadinya duduk bersila tak berani bergerak kini berdiri. Melihat Kawung Sen yang terayun di udara.

"Kalau ada yang berani menertawakanku, akan kucabut nyawanya begitu aku dibebaskan. Kalau aku mati, akan kucekik lehernya. Sebagai hantu aku bisa melakukan itu."

Beberapa prajurit undur ketakutan. Upasara bergerak lebih dulu. Ia masuk ke kemah bagian dapur. Koki yang sedang tidur ditepuk urat di pundaknya. Ia mencari garam. Diremukkan dalam genggaman tangan sehingga menjadi debu yang halus. Kemudian dengan cepat ia kembali ke tempat Kawung Sen digantung, Melihat seorang prajurit ada yang berani mendekat, Kawung Sen siap untuk mengancam lagi.

"Kutandai kau dan akan kubunuh... eh... kau..."

"Sssst terus memakiku." Suara Upasara lemah sekali agar tak terdengar yang lain. "Aku menaburkan garam di sekitar tiang. Sehingga tak mungkin ada semut datang. Jangan takut, sampai besok pagi semut tak akan datang. Dan kau bebas."

"Bagus...."

"Sssttt, terus memakiku."

"Mana mungkin-..."

"Ayo...." Upasara menaburkan untuk kedua kalinya. Warna garam yang sudah menjadi bubuk itu tak terlihat di antara cairan air gula aren. "Maaf aku tak bisa menunggu lama. Aku harus pergi."

Tanpa menunggu jawaban, Upasara berlalu dalam gelap. Ia menuju salah satu penjagaan. Dua penjaga tak menaruh curiga sedikit pun. Sebelum keduanya bereaksi, Upasara telah membungkam mulut mereka. Lalu menyeret, menaikkan ke punggung kuda. Kuda itu dituntun agak jauh. Di tempat yang agak sepi, dua prajurit itu diletakkan di tanah.

"Dua jam lagi kalian akan bebas. Kalian bisa kembali ke rumah besar itu. Kalau kalian cerita ada dua ekor kuda hilang, kalian bisa dipenggal. Maka lebih baik pura-pura diam saja. Tidak perlu memberi laporan."

Upasara mencemplak kudanya, dan segera bergegas. Sengaja ia tidak mengambil jalan di perempatan dekat pasar. Ia berputar lewat jalan berbukit di dekat sungai. Dari sana kedua kudanya dipacu sekencang mungkin. Satu kuda dinaiki, satu lagi untuk pengganti. Dengan demikian Upasara berharap bisa lebih cepat sampai di Keraton.

Meskipun kuda yang dipilih bukan kuda seperti yang dibawa dari Keraton atau seperti yang dinaiki Senopati Suro, namun cukup kuat juga. Karena memang dipersiapkan untuk berperang. Toh begitu Upasara mempersiapkan dua-duanya. Setiap waktu yang digunakan untuk menanak nasi, Upasara pindah dari punggung satu ke punggung lainnya. Tanpa istirahat, tanpa berhenti lebih dulu.

Gelap malam diterjang terus. Upasara mengandalkan ketajaman kuda untuk menerobos jalan malam. Jalan setapak yang kadang menikung sangat tajam, masuk ke dalam celah-celah pepohonan, muncul di antara semak-semak. Hanya bintang di langit yang menjadi pedoman. Bagi Upasara makin jauh jalan yang ditempuh, berani makin dekat ke Keraton. Ia akan berusaha menghabiskan separuh malam untuk terus berkuda. Makanya dua kuda terus dipaksa hingga meringkik-ringkik.

"Esok jika matahari mulai terbit, aku tak bisa mengendarai secepat ini. Karena pasti akan menarik perhatian penduduk. Kalau mereka barisan dari Gelang-Gelang, sia-sialah usahaku selama ini. Besok aku mulai berjalan biasa, kecuali kalau melewati hutan. Makanya, kudaku, ayo sekarang saatnya. Kalian dijuluki binatang yang tidak mempunyai pusar, berani tak kenal lelah. Ayo tunjukkan kelebihan kalian."

Upasara terus memacu, hingga kuda-kuda itu benar-benar kelelahan. Saat itu langit mulai sedikit terang. Upasara menghentikan kudanya, meloncat turun, dan membiarkan kudanya melepaskan lelah sambil merumput. Ia sendiri memilih tempat yang agak terlindung untuk beristirahat, sekaligus semadi untuk mengatur tenaganya.

Udara pagi yang dingin makin berkurang. Samar-samar mulai terlihat keadaan sekeliling. Dan ketika Upasara memperhatikan keadaan sekitar, ia tak percaya apa yang dilihat. Tak masuk akal sama sekali! Karena di kejauhan ia melihat gerobak sapi milik Toikromo! Tak masuk akal. Pun andai Toikromo tokoh silat kelewat sakti, ia tak mungkin bisa membawa gerobaknya melayang di angkasa. Akan tetapi yang dilihat adalah benar-benar gerobak sapi milik Toikromo. Bukan dalam mimpi. Dan jaraknya dari tempatnya berlindung tak lebih dari lima ratus meter.

Begitu Upasara melihat suasana sekitar, ia tahu bahwa dirinya telah masuk perangkap dan melakukan pekerjaan sia-sia selama setengah malam suntuk. Berapa tidak, kalau nyatanya ia masih berada di sekitar Pasar Banyu Urip!

"Jagat Dewa Batara! Jadi selama setengah malam ini aku cuma berputar-putar tidak karuan di sekitar tempat ini. Sungguh luar biasa. Benar-benar iblis Sakti Ugrawe. Upasara, kenapa kau begitu tolol?" Upasara menepuk jidatnya sendiri. Suara hatinya berkecamuk dan bertanya-jawab sendiri.

"Ugrawe telah mengatur segalanya. Dengan menyerbu habis ke Perguruan Awan, ia menutup jalan di Banyu Urip ini. Bahkan jalan di sekitar tempat ini pun telah dibuat sedemikian rupa, sehingga bakal menyesatkan. Kalau seseorang seperti aku, yang tak begitu mengenal daerah ini, mencoba menerobos, pasti hasilnya sia-sia. Akan bermuara kembali ke Pasar Banyu Urip. Pastilah Ugrawe telah memerintahkan Rawikara untuk mengatur desa ini. Jalan lama dihilangkan, jalan baru dibuat. Dan itu hanya melingkar-lingkar saja. Setengah malam aku berkuda, tapi hasilnya kembali ke tempat semula. Inilah serangan yang sempurna dan dahsyat. Ah, mudah-mudahan Senamata Karmuka dan Ngabehi Pandu bisa meloloskan diri dari jalan siluman ini. Kalau tidak, percuma juga. Mereka akan tertangkap di sini juga. Ugrawe begitu yakin akan bisa menyapu bersih sampai rata semua yang hadir di Perguruan Awan. Ternyata rencananya sangat rapi sekali. Dan betapa dahsyatnya, kalau ini salah satu dari tiga rencana yang dilakukan. Ilmu silatnya sudah setinggi langit. Kecerdikannya juga luar biasa. Ditambah penguasaan strategi peperangan seperti ini, Ugrawe benar-benar ancaman luar biasa bagi Keraton. Aku bukan tandingannya dalam peperangan. Apalagi dalam mengatur strategi seperti ini. Entah bagaimana aku bisa meloloskan diri dari sini dan bisa menuju ke Keraton. Agaknya keinginan Bibi Jagaddhita tak akan terkabul."

Berpikir begitu Upasara jadi lesu. Semangatnya hilang separuh. Ia menghela napas. "Satu kesempatan meloloskan diri telah buntu. Aku harus mencari tahu lebih banyak dulu, sebelum bisa lolos dari sini."

Upasara berjalan biasa, menuju ke arah Toikromo, yang sangat gembira melihatnya. Langsung menyambut dengan wajah yang sangat riang.

"Bagaimana, Anakmas, bisa diterima?"

"Mudah-mudahan...."

"Semalam penuh Paman menunggu di sini. Kalau saja diizinkan masuk ke rumah itu pasti Paman sudah masuk. Tapi prajurit galak-galak. Paman menunggu di sini."

"Apakah pagi ini Paman akan berangkat lagi?"

"Ya, mengambil kiriman berikutnya."

"Dari Gelang-Gelang?"

"Ya."

"Paman bisa ke sana sendiri?"

"Bisa. Paman selalu lewat jalan yang sama."

"Tahukah Paman bahwa di tempat ini banyak jalan yang diubah?"

Toikromo mendehem dan berdecak-decak. Perasaan bangga terpancar dari wajahnya "Paman tahu para prajurit itu membuat jalan palsu. Dan menutup jalan aslinya dengan pohon-pohon serta belukar palsu. Tapi mana mungkin bisa mengelabui Paman?"

"Kalau begitu Paman tahu jalan ke Keraton Singasari?"

Toikromo terdiam sejurus. Lalu menggeleng. "Jalan utamanya telah ditutup sama sekali. Dipersiapkan lama. Tak mungkin bisa dilalui gerobak atau kuda. Semua jalan telah ditutup."

Dada Upasara menjadi panas, Hatinya juga panas.

"Hanya Gusti yang tahu. Kecuali kalau kembali ke Gelang-Gelang lebih dulu. Baru dari sana masih bisa ditemukan jalan lain. Tetapi harus berputar sangat jauh. Heh, Anakmas, kalau pasuwitan-mu diterima di sini untuk apa harus ke Keraton? Bukankah di sini sama saja?"

Belum Upasara menjawab, dari bangunan rumah terdengar teriakan dan suara-suara manusia sangat banyak. Upasara mengikuti Toikromo mendekat, hingga batas yang diizinkan. Ternyata asal suara itu dari diturunkannya tubuh Kawung Sen.

Rawikara berdiri tegak. "Seperti setiap kalimat yang keluar dari bibirku pasti terjadi. hari ini kamu bebas." Rawikara memberi tanda. Beberapa prajurit membebaskan tali pengikat di tubuh kawung Sen.

"Terima kasih. Aku suka sikap ksatria." Suara Kawung Sen tetap keras. Tidak tercermin tanda-tanda keloyoan darinya.

Rawikara mengangguk. "Mulai hari ini, Kawung Sen adalah senopati kita. Kalian para prajurit harus menghormati seperti menghormati senopati."

Rawikara membimbing tangan Kawung Sen. Para prajurit menunduk, sebagian bersila menghaturkan sembah. Juga yang di luar dinding bersila.

Kawung Sen mengangguk-angguk puas. "Hari ini aku ingin makan enak, mandi dengan enak, dan minum madu sepuasnya."

Tubuhnya langsung melesat ke depan. Meluncur ke arah tanah, kakinya menutul, dan balik kembali berjumpalitan dengan gagah. Ia menuju ke bagian Samping, mengambil jala, dan berjalan menuju sungai di bagian belakang bangunan rumah. Dua prajurit mengiringinya. Disusul seorang prajurit yang membawakan pakaian.

"Kau tidak becus membawakan," bentak Kawung Sen di luar.

"Biarlah hamba yang membawakan," kata Upasara sambil menghaturkan sembah.

Kawung Sen menoleh ke arah Upasara dan matanya membelalak. "Kau..."

"Hamba memang belum resmi diterima sebagai prajurit. Hamba ingin mengabdi kepada Paduka." Upasara mengedipkan sebelah matanya. Ia masih sangsi Kawung Sen bisa diajak bersandiwara.

"Baik. Mulai sekarang kau menjadi prajurit. Ayo bawakan pakaianku."

Upasara menghaturkan sembah. Menerima pakaian dari prajurit Gelang-Gelang dan mengikuti langkah Kawung Sen. Yang langsung menuju ke tengah sendang. Membuka semua pakaiannya dan langsung berendam. Menyibakkan air sepuasnya. Dua prajurit yang mengiringi diusir jauh-jauh. Diancam akan dipecat jika berani mendekat. Tinggal Upasara sendiri.

"Ayo mandi di sini."

Tanpa pikir panjang, Upasara menanggalkan pakaiannya. Ia menyimpan cincin, gigi emas Jagaddhita, dan gelang kaki yang terbuat dari emas di bawah tumpukan pakaiannya. Lalu dengan telanjang bulat masuk ke dalam air.

"Hebat. Hebat. Akal sehat. Garam itu betul-betul menolak semut. Kau telah menyelamatkan nyawaku. Kau hebat, Upa...."

"Ya, panggil saja aku Upa. Ingat, kita harus tetap bersandiwara sebagai prajurit dan senopati"

"Bagus. Boleh juga. Aku senang sandiwara begini. Tetapi kenapa kau menolongku sekali lagi? Bukankah aku pantas mati karena aku memang mencuri kitab-kitab itu? Tapi sampai mampus mereka tak akan tahu di mana aku menyimpannya."

"Aku tahu. Kau menyimpan dalam jalamu. Jala itu terdiri atas dua lapis. Dan kau menyimpan di tengahnya."

Kawung Sen membelalak untuk waktu yang lama. "Jadi kau melihatnya waktu aku mencurinya? Aku kesal! Sebal! Mereka selalu meremehkanku. Hanya karena aku tidak bisa membaca dan menulis. Sumpah, siapa pun yang menghina seperti itu, akan kubunuh. Setidaknya kucelakai. Juga Ugrawe. Makanya ketika ia tak tahu, peti bukunya kubuka dan kuambil dua buah bukunya. Baru tahu dia sekarang. Hoho, baru tahu bahwa Kawung Sen tak bisa direndahkan oleh siapa saja. Tidak akan pernah."

"Kenapa kitab itu dicuri?"

"Sudah kubilang aku kesal, Upa."

"Pastilah kitab itu sangat berarti sehingga Ugrawe sampai tega membunuhmu bila perlu."

"Ya, bagi yang mengerti." Suara Kawung Sen jadi menyesali dirinya sendiri. "Bagiku lebih berarti air sungai ini. Aku memang bodoh. Kenapa kakak-kakakku bisa membaca, sedang aku tidak? Uh, aku sungguh sangat bodoh sekali. Paling bodoh. Otakku bebal. Sangat bebal"

Kawung Sen meninju air hingga tersibak.

"Itulah sebabnya kepandaianku tak bisa maju. Selama ini hanya Kakang Ketip yang memberitahu secara lisan. Tanpa bantuan itu, aku tak bisa maju. Sayang Kakang Ketip telah tiada. Kakang Benggol juga telah tiada. Uh, kenapa aku tidak mati digigiti semut saja?"

"Selama ada aku, kenapa harus mati digigit semut? Aku bisa membacakan isi kitab itu padamu."

Kawung Sen bersila di dasar sungai hingga air sampai didagunya. Ia menghaturkan sembah. "Dewa di langit, hari ini Kawung Sen menghaturkan sembah buat Kakang Upa...."

Upasara hampir tertawa lepas. Ia berusaha menahan diri sekuatnya. "Adik, aku bersedia menerimamu. Asal hanya kita berdua dan dewa di langit yang tahu hal ini."

"Aku, Kawung Sen yang hina ini, bersumpah, kalau membocorkan rahasia ini, biarlah mati digigit seribu semut!"

"Baik, baik."

"Ayolah kita pelajari sekarang juga."

"Mana mungkin?"

"Kenapa tidak? Dari dulu aku sudah senopati. Senopati itu tak punya pekerjaan kalau tidak perang. Dan tak bakal diganggu orang lain. Hanya Rawikara yang berhak memanggilku Ayolah, Kakang. sekarang kita mulai."

Kawung Sen meloncat naik, meraih jala. Meneliti, dan mengeluarkan lempengan klika, atau kulit kayu yang sangat tipis.

"Bacakan."

"Tidak enak di sini. Kita cari tempat yang lebih aman di tengah hutan. Adik tahu jalan yang dipalsukan?"

Tanpa mengelap tubuh, Kawung Sen memakai celananya. Demikian juga Upasara. Lalu keduanya bergerak dengan cepat ke tengah hutan. Menuruni dua lembah, melewati bukit kecil berputar, mereka berdua sampai ke tanah lapang.

"Ini jalan yang ditutup itu." Upasara melihat, bahkan di siang hari pun jalan itu tak mungkin bisa dikenali. Tanpa bantuan Kawung Sen, Upasara tak akan bisa menemukan jalan yang sebenarnya. "Adik, sebenarnya kakangmu ini ada tugas istimewa di Keraton Singasari. Jadi Kakang akan bacakan sekali, lalu ingat-ingat dengan baik."

"Mana mungkin?"

"Harus mungkin. Karena Kakang harus segera ke Keraton."

"Apa susahnya kita ke Keraton sama-sama? Selama dalam perjalanan, Kakang bisa membacakan kitab itu."

Upasara berpikir sebentar. Bersama dengan Kawung Sen akan banyak manfaatnya. Setidaknya kalau di tengah jalan ada bahaya dari senopati Gelang-Gelang yang lain, Kawung Sen bisa menyelesaikan.

"Baik, mari kita segera berangkat. Tapi ingat, kepergian Kakang dan hubungan kita tak boleh ada yang tahu."

Kawung Sen menghaturkan sembah dengan kaku. Kawung Sen memang tidak terbiasa dengan adat-istiadat. Upasara menepuk pundak Kawung Sen, dan keduanya mulai berjalan. Upasara berjalan sambil membuka lempengan klika pertama.

"Ini Kartika Parwa, atau Buku Bintang, disebut juga Dwidasa Nujum Kartika atau Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Jurus-jurus ini diciptakan berdasarkan gerak dan pengaruh serta nama-nama bintang.

"Jurus pertama, disebut Lintang Sapi Gumarang. Pusat tenaga yang dikerahkan adalah tenaga yang disebut tenaga Kasa- Tenaga berasal dari arah utara dan selatan, serangan ke arah kanan dan ke arah kiri. Pengaruhnya membuat samar, seperti berada dalam bayang-bayang amun-amun, atau fatamorgana."

"Tunggu, Kakang. Mana aku mengerti tentang Kasa segala macam?"

"Kasa adalah perhitungan bulan pertama. Jadi tenaga yang dikerahkan, tenaga dalam yang digunakan, harus mengandung keadaan bintang saat musim yang pertama. Tenaga itu seperti yang dimiliki oleh hujan yang jatuh pertama kali. Hujan pertama menyebabkan benih tumbuhan jadi, belalang dan hewan terbang dari sarangnya, embun putih keluar, langit mulai terang, tanah mulai terlihat, batu bersih. Makanya kalau merasa sombong dan pongah, jurus ini akan luput, jurus ini tidak mencapai sasaran. Ingat baik-baik, Adi.

"Jurus kedua, disebut Lintang Tagih. Pusat tenaga yang dikerahkan tenaga Karo. Tenaga yang diambil adalah tenaga dari- utara, di mana pun adik berdiri. Gerak tenaga besar bagai lumbung padi. Pengaruhnya memberi ketenangan si penyerang, tapi membuat kacau yang diserang. Tenaga yang dikerahkan adalah tenaga Karo, yang artinya tenaga ketika tetumbuhan mulai bersemi, tenaga cacing bertelur, belalang menetas, pohon besar berkeringat mulai berbunga, serangan pelan tapi terus mengalir. Biarkan tenaga panas di luar akan tetapi tetap dingin di dalam.

"Jurus ketiga, disebut Lintang Lumbung. Pusat tenaga yang dikerahkan tenaga Katiga. Pusat kekuatan berada di kaki, seperti akar yang merayap masuk ke tanah dan berangkulan di dalamnya. Serangan di Luar bagai bumi yang bersih, tapi di dalam tetap bergolak.

"Jurus keempat, disebut Lintang Jaran, atau Bintang Kuda. Pusat tenaga dan arah utara, bergelombang datangnya. Gerak tenaga bagai menumpahkan hujan dan sekaligus petir. Memakai sifat tenaga Kapat. Yaitu sifat perpaduan, seperti perpaduan antara binatang jantan dan betina yang berkaki empat, seperti binatang bersayap yang mulai menggerakkan sayapnya, seperti tenaga daun berebut tempat tumbuh di atas. Perubahan tenaga kalau ke selatan membawa angin, kalau ke utara membawa hujan. Jurus ini bisa membuat kematian mendadak kalau bisa mengenai secara telak.

"Jurus kelima, disebut Banyak Angrem, atau Angsa Mengeram. Pusat tenaga seperti musim Kalima. Tenaga air sama dengan tenaga angin. Pusat tenaga yang diambil dari utara dan barat. Kalau menyerang dengan tenaga air, tanpa tenaga angin. Kalau menyerang dengan tenaga angin, tanpa tenaga air. Hasilnya lebih berlipat ganda. Kekuatan utama adalah penggunaan tenaga kasar.

"Jurus keenam, disebut Lintang Gotong Mayit, atau Bintang Menggotong Mayat. Satu-satunya tenaga yang dikerahkan dari arah barat. Besar, keras, dan harus cepat. Jurus ini dipengaruhi musim Kanem, atau keenam. Jurus ini akan menghasilkan manfaat seperti memetik buah-buahan. Jangan terpengaruh oleh suara dari lawan, atau gerakan lawan. Sebab apa yang nampak adalah palsu. Lawan sudah terpengaruh untuk bisa bertahan. karena seperti mengantuk.

"Jurus ketujuh, disebut Lintang Bima Sekti. Pusat tenaga musim Kapitu atau musim ketujuh. Tenaga dari arah barat. Besar, cepat, dan berulang-ulang secara bergelombang. Tenaga seperti membuat pohon melengkung, tapi tidak sampai rubuh. Menyerang bagian kaki tidak untuk menjatuhkan melainkan membuat bumi yang diinjak amblas. Kunci utama adalah gelombang serangan yang terus-menerus.

"Jurus kedelapan, disebut Lintang Wulanjar. Pusat tenaga dan arah perpaduan antar barat dan selatan, menghajar tapi tanpa tenaga. Ibarat bunyi petir tanpa hujan. Tenaga ditarik ke dalam. Sehingga kekuatan di atas dan di bawah sama rata. Antara akar dan daun sama warnanya. Tak ada penyerangan, kalau bisa berdiam diri.

"Jurus kesembilan, disebut Lintang Wuluh. Pusat tenaga dari selatan persis. Pengerahan tenaga seperti bunyi cengkerik dan belalang, sifat serangan dingin. Merontokkan serangan berbunga dari lawan. Semakin. berbunga-bunga serangan semakin rontok. Tujuan utama serangan perut dan dada. Bagian kaki tak akan terkena telak, tetapi akan menyulitkan kuda-kuda lawan. Bagaimanapun lawan bergerak, perut dan dada yang digunakan untuk bernapas menjadi sasaran utama.

"Jurus kesepuluh, disebut Lintang Waluku. Pusat tenaga diambil dari antara selatan dan timur, cepat sifat serangannya. Terutama untuk menyerap tenaga lawan, seperti sifat bumi menyerap hingga kering, seperti ibu menyerap tenaga ke dalam kandungan. Lawan akan kehilangan keseimbangan dan kehabisan tenaga.

"Jurus kesebelas, juga disebut Lintang Lumbung. Sama dengan jurus ketiga. Pusat tenaga diambil dari timur-selatan, keras sifatnya. Sangat keras. Segala tenaga diatas tanah hancur, seperti tercerabutnya rumput dari tanahnya tercongkel, tenaga didasarkan pada hewan kaki empat akan terguling rubuh, tenaga meloncat seperti burung terbang akan hancur sayapnya, rasa dingin akan menyerang lawan ke bagian tulang, tenaga di tengah dari lawan akan mati terhenti dan sia-sia.

"Jurus kedua belas, disebut juga Lintang Tagih. Memakai kekuatan musim Saddha. Tenaga diambil sebelah timur. Sasaran terakhir adalah membunuh tanpa meninggalkan mayat, mengambil nyawa tanpa terasa, seperti mengguncang pohon merontokkan semua daun, pohon tetap berdiri tapi sudah mati. Bumi terbelah, tapi batangnya tak runtuh. Tenaga panas dan dingin menjadi satu. Menyerang dan bertahan menjadi satu. Khusus untuk jurus terakhir ini bisa terus diulang dan diulang tanpa perubahan, tidak usah melalui jurus pertama,"

Kawung Sen seperti tak bernapas. Mendengarkan penuturan Upasara yang membaca sambil terus berjalan, Kawung Sen mengerahkan seluruh kemampuannya. Daya tangkapnya melalui lisan memang selama ini jauh lebih hebat dari dua kawung yang lain. Hal ini tidak terlalu istimewa, karena sebenarnya Kawung Sen memang lebih menonjol dalam hal mengingat-ingat. Soalnya ia tak bisa mengulangi dengan membaca. Namun karena Upasara membaca terus-menerus, tak urung Kawung Sen menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sulit. Sulit sekali, Kakang."

"Kelihatannya justru mudah sekali."

"Kau tidak main-main, Kakang?"

"Tidak. Kita ini sangat senang dengan ilmu silat. Bagaimana mungkin aku main-main?"

"Aku bisa menghafal apa yang kau katakan. Setidaknya separuh bagian aku tahu. Tapi bagaimana mungkin aku bisa mengerti?"

"Kuncinya ialah pengetahuan kita tentang musim. Tentang letak serta kedudukan bintang. Ini termasuk ilmu pranata mangsa, mengenai musim. Siapa pun yang telah menciptakan dan menuliskan Kartika Parwa ini, pasti seorang tokoh yang luar biasa luas ilmu pengetahuannya. Adik, menurut pendapatku ini bukan sekadar cara penyerangan dan memberitahukan gerak-gerak saja, melainkan terutama pada pengaturan tenaga. Sedang mengenai geraknya bagaimana sama sekali tak ditulis di sini. Menurut Adik bagaimana?"

"Mana aku tahu, Kakang. Aku ikut saja."

Upasara menghela napas. "Untuk membuktikan mengenai cara memusatkan tenaga, kita harus berlatih. Tetapi sayang sekarang bukan waktu yang baik." Upasara berhenti, menggulung kembali klika kayu, menyembah, dan mengembalikan kepada Kawung Sen. "Simpanlah, Adik."

"Percuma, Kakang. Aku tak bisa membaca. Bawa sajalah."

Upasara menggeleng. "Tidak. Adik yang mendapatkannya. Adik pula yang harus menyimpannya. Aku telah berbuat kurang ajar membacanya. Mudah-mudahan empu yang menuliskan ini mau mengampuniku."

Upasara duduk, bersemadi, dan menghaturkan sembah.

Kawung Sen memperhatikan, dan kemudian mengikuti jejak Upasara. Tanpa terasa matahari telah menggelincir di arah barat. Kawung Sen mencari buah-buahan, mengumpulkan, dan mulai menyantapnya. Ia juga mencari sarang tawon dan memeras, serta meminum madunya. Upasara mendapat bagian yang sama. Sejenak setelah beristirahat.

"Kakang, masih ada satu kitab lagi. Lebih pendek. Bantala Parwa. Kalau Kakang mau membacakan, aku akan membuatkan api."

"Baiklah. Akan kubacakan semua untuk Adik. Setelah itu kita berpisah di sini. Aku akan meneruskan perjalanan, dan Adik kembali ke Rawikara agar tidak menimbulkan kecurigaan. Rasanya aku bisa meneruskan perjalanan sendiri."

Sementara Kawung Sen sibuk mengumpulkan kayu kering, Upasara beristirahat. Pikirannya bergelut antara tugas yang harus disampaikan ke Keraton dan kesempatan yang masih tersisa. Sementara Kawung Sen hanya terpusat pada apa yang baru saja dibacakan oleh Upasara.

"Kakang Upasara, sungguh suatu kemurahan dewa di langit bahwa kita bisa bertemu dengan cara seperti ini. Aku tak menyangka sedikit pun bahwa kita bisa menjadi kakak-adik seperti sekarang ini. Sayang, Kakang ada urusan penting di Keraton. Kalau tidak kita akan bisa bersama-sama terus. Ah, mungkin nanti setelah urusan Kakang selesai kita akan bisa berkumpul terus. Bukan begitu, Kakang?"

Upasara berusaha tersenyum. "Untuk mengatakan terus terang, tidak tahu saat seperti itu bisa terjadi. Urusan di Keraton bukan urusan sepele yang bisa segera diselesaikan. Entah bisa terjadi atau tidak. Entah kapan. Adik Kawung Sen, kenapa dulu Adik menyerang ke Keraton?"

"Sudah tentu aku menyerang ke Keraton. Kakek moyangku, tiga turunan ke atas, adalah pengabdi setia Baginda Raja sejak masih di Tumapel. Lalu tanpa ba dan bu, kami semua tidak dianggap lagi. Ayahandaku, Kawung Kencana, tidak mempunyai jabatan apa-apa lagi. Ayahanda Kawung Kencana meninggal karena sakit hati. Tetapi kami bertiga bersaudara memutuskan untuk mbalela. Kami mempunyai banyak teman yang juga dipecat, dipindahkan, diturunkan pangkatnya."

"Kakang Upasara, apakah kami keliru?"

"Entahlah, aku tak bisa mengerti masalah seperti ini. Hanya saja cara memberontak itu mungkin tak bisa dibenarkan."

"Kami semua merasa malu. Merasa hina. Sejak Baginda Raja mengampuni kami, rasanya kami tak mempunyai harga diri lagi-. Ke mana pun kami pergi, kepada siapa pun kami bertemu, pandangan mereka ini sangat merendahkan. Dendam kami makin besar sekali. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa suatu hari aku akan membalas dendam. Sampai kemudian Maharesi Ugrawe mengajak kami bergabung."

"Serba susah. Kalau Baginda Raja dulu tidak mengampuni, mungkin akan lain jalannya sejarah. Adik Kawung Sen, sekarang ini kau masih ingin membalas dendam?"

"Ya, Kakang."

"Jika aku prajurit Keraton, kau akan bertempur denganku?"

"Tidak mungkin. Tetapi aku tetap akan menyerbu ke Keraton. Dan memaksa Baginda Raja mengumumkan bahwa kami bukan orang yang bersalah. Bahwa kami mbalela, kami memberontak, karena kami tidak dimanusiakan lagi. Kakang Upasara, bagi kami sekeluarga pangkat tinggi atau bukan tak jadi soal benar. Tetapi kehormatan, harkat diri sebagai manusia, perlu dipulihkan. Kakang akan bisa mengerti kalau Kakang mengetahui bagaimana Ayahanda secara tiba-tiba digeser kedudukannya. Ayahanda begitu berduka sehingga membiarkan tubuhnya tersiksa oleh batinnya. Sampai meninggalnya, sejak digeser, Ayahanda tak berbicara, tak minum, tak makan, tak bergerak..."

"Kakang bisa mengerti?" Upasara, sekali lagi, berusaha tersenyum. Hatinya memang terpukul oleh penuturan Kawung Sen. Ini bukan pertama kali telinganya mendengar kekecewaan mendasar sejak Baginda Raja melakukan penggantian besar-besaran di lingkungan pejabat Keraton. "Adik Kawung Sen, banyak para pendekar yang bergabung dengan Ugrawe. Akan tetapi kenapa Ugrawe hanya mengajak adik bertiga ke Perguruan Awan? Bukankah terlalu riskan mengandalkan jumlah para prajurit saja?"

"Soal itu aku tak tahu, Kakang."

"Apakah Adik mendengar bahwa Ugrawe menyusun kekuatan yang lain, di mana para pendekar juga berkumpul?"

"Ya, tapi aku tak tahu."

"Begini. Ketika Adik ditawan oleh Rawikara, aku mendengar bahwa Ugrawe mempunyai tiga rencana. Penyerbuan ke Perguruan Awan adalah salah satu rencana. Masih ada dua rencana lain. Apakah Adik mengetahui?"

Kawung Sen menunduk sedih. "Aku memang bodoh, Kakang."

Upasara mengetahui bahwa Kawung Sen tidak berdusta mengenai hal ini. "Adik, aku tahu. Rencana Ugrawe adalah menyerbu ke Keraton. Menumbangkan Baginda Raja. Akan tetapi jebakan apa, atau tipu muslihat apa, aku sama sekali tidak mengetahui."

Wajah Kawung Sen berubah gembira. "Hoho, jangan kuatir, Kakang. Begitu aku mengetahui, aku akan segera memberitahu Kakang."

"Akan banyak gunanya." Lalu disambung dengan suara perlahan, "Kalau belum terlambat. Setelah usaha itu berhasil kita semua juga akan mengetahui."

"Ah, dari tadi kita bicara tidak jelas. Bagaimana kalau kita pelajari lagi kitab itu?"

Kawung Sen memberikan klika berikutnya.

Upasara menghela napas. Pandangan matanya menatap percikan api.

"Sekarang ini aku tak tahu bagaimana nasib paman dan teman-teman yang berada di Perguruan Awan...."

"Hoho... kalau hal itu aku tahu. Kakang mau mendengarkan?"

Kawung Sen mengisap udara kuat-kuat. Seakan ingin memenuhi seluruh isi dadanya dengan udara. Seperti mengumpulkan semua kemampuannya untuk mengingat kejadian yang lalu.

Sejak Kawung Sen melepaskan Upasara, ia masih bersama dengan Kawung Benggol. Itu adalah saat Ugrawe mengajak Upasara masuk ke dalam tenda Raja Muda Gelang-Gelang. Lalu ketika terjadi keributan besar, Kawung Sen terlibat lagi di bagian lain. Bersama dengan dua kawung yang lain, ia melibatkan diri dalam pertempuran. Juga saat-saat Padmamuka meninggal dunia, dan dua kawung yang lain menyusul.

"Bagaimana dengan Paman Wilanda?"

"Yang mana itu? Yang gundul. Oh, ilmu hebat. Ia yang paling bisa bertahan dengan tenaga dalamnya ketika yang lain mulai dipengaruhi racun asap."

"Paman Wilanda yang sedang menderita luka."

"O, ia langsung ditawan. Diringkus. Begitu juga Tiga Pengelana Gunung Semeru. Setelah terpengaruhi racun asap, tak terlalu sulit menawan mereka. Ugrawe sendiri bisa membereskan mereka. Tapi lucu, Kakang, Ugrawe kehilangan telinganya. Daun telinganya hilang. Hoho, itu yang menyebabkan Ugrawe murka luar biasa. Hebat sekali Gendhuk Tri. Di jagat ini hanya ia yang bisa melukainya!"

"Semuanya bisa ditawan?"

"Bisa. Tiga Pengelana Gunung Semeru, Dewa Maut, Wilanda, dan akhirnya orang gundul yang hebat itu. Hebat dia, Kakang. Pukulannya juga aneh. Ia menggunakan satu tangan untuk menangkis dan melawan Maharesi Ugrawe. Pertempuran paling lama. Tapi akhirnya bisa diringkus juga."

"Kalah tenaga dalamnya?"

"Aku yang meringkus, Kakang. Aku jala. Tinggal menyeret saja." Kawung Sen menunjukkan wajah duka. "Tapi susah. Orang gundul itu tak mau kuajak bicara. Tak mau kuajak bertanding seperti Kakang. Ya sudah. Namun yang membuatku jengkel, karena Maharesi Ugrawe menganggap aku paling bodoh, paling tak mengerti situasi. Ini keterlaluan sekali. Ia boleh jengkel karena daun telinganya hilang. Tapi mana mungkin menghinaku. Makanya, aku ambil kitabnya dari peti. Di sana ada beberapa bundel. Aku mengambil dua. Kusimpan dalam jala. Tapi karena orang yang berada di tempat penyimpanan itu hanya aku, akulah yang diringkus. "Dan segera dikirim ke Banyu Urip. Aku sudah bersumpah lebih baik mati daripada harus mengakui sebagai pencuri kitab."

"Kenapa Adik dikirim ke Banyu Urip?"

"Karena akan diadili oleh Rawikara."

"Kenapa Ugrawe sendiri tak melakukan itu?"

"Sehabis pertempuran itu, sehabis mengubur Kakang Kawung Ketip dan Kakang Benggol, sehabis menjebloskan mayat Pu'un dan Padmamuka ke dalam gua..."

Upasara tanpa terasa mengeluarkan seruan tertahan. "Ah!"

"Kenapa, Kakang?"

"Kenapa Padmamuka dan Pu'un dilemparkan ke dalam Gua Lawang Sewu?"

"Aku tak tahu nama gua itu. Maharesi menyuruh melemparkan dua mayat itu, dan menimbuni dengan tanah, batu, dan meninggalkan beberapa prajurit untuk menjaga mulut gua."

"Ugrawe tidak menyerbu masuk?"

"Tidak. Ia bilang tak tahu rahasia gua. Ia tak mau berisiko. Makanya ditimbun saja."

Upasara sadar kini. Bahwa Ugrawe tak mau mengambil risiko untuk menyerbu masuk dalam gua. Makanya ia sengaja menutup. Tapi sebelum itu, melemparkan mayat Pu'un dan Padmamuka. Perhitungan Ugrawe pastilah mayat itu akan membusuk. Pastilah ini akan merepotkan yang bersembunyi di dalam gua. Sudah jelas sangat berbahaya. Karena seluruh tubuh Padmamuka sebenarnya adalah gumpalan racun yang kelewat ampuh! Karena, tubuh Pu'un pun mengandung unsur-unsur gaib yang tak dikuasai. Unsur-unsur yang bisa membahayakan juga. Sungguh licik Ugrawe. Dan perhitungannya sangat tepat.

Siapa pun yang berada dalam gua itu. Mengingat hal itu, Upasara menjadi sedih. Pertemuan dengan Jagaddhita sangat singkat. Begitu juga dengan Gendhuk Tri. Namun dalam hatinya, Upasara menghormati keduanya. Dan merasa akrab dengan Gendhuk Tri. Ia menyesali kenapa meninggalkan Gendhuk Tri di dalam gua! Mestinya ia terus memaksa agar Gendhuk Tri ikut dengannya! Upasara tak bisa menceritakan bahwa Jagaddhita, Gendhuk Tri, masih tertinggal dalam Gua Lawang Sewu.

Melihat Upasara berduka, Kawung Sen jadi merasa bersalah. "Katakan, Kakang, apa yang bisa kulakukan?"

"Para pendekar utama telah ditawan. Kini lapanglah jalan Ugrawe untuk mencapai maksudnya."

"Kakang, kalau Kakang menginginkan para pendekar yang ditawan itu dibebaskan, aku bisa mengusahakannya."

"Tak begitu mudah. Ugrawe tak akan melepaskan pengawalan."

"Mereka akan dikirim ke Banyu Urip. Rawikara yang akan mengurusi."

"Ugrawe, ke mana ia?"

"Kembali ke Kediri."

Upasara mengernyitkan dahinya. Apa yang dilakukan Ugrawe di Kediri? Kenapa tidak langsung menyerbu ke Keraton Singasari? Kenapa malah ke Kediri? Dunia kelewat luas, dan aku ini tak bisa menduga sedikit pun. Kalau Ugrawe secara buru-buru pergi ke Kediri, pasti ada sesuatu yang direncanakan. Tidak mungkin kalau sekadar berobat atau apa. Ini berani, bukan penyerbuan langsung ke Keraton yang menjadi langkah berikutnya. Berani juga, perhitungan Senamata Karmuka dan Jagaddhita meleset. Memang dengan menutup jalan di Banyu Urip, Ugrawe membuntu kemungkinan lolosnya satu orang ke Keraton. Menutup kemungkinan Keraton mengetahui kejadian di Perguruan Awan. Tapi ternyata itu tidak berani Ugrawe dan pasukannya lebih dulu menyerbu ke Keraton.

"Apakah Ugrawe bersama rombongan Raja Muda Gelang-Gelang?"

"Ugrawe berangkat lebih dulu. Raja Muda akan menyusul kemudian."

"Adik Kawung, kau tahu apa yang akan dilakukan Ugrawe?"

"Mana aku tahu, Kakang? Aku sudah diikat."

Paling tidak, untuk sementara Keraton masih aman, pikir Upasara. Ugrawe ternyata tidak langsung menyerbu. Juga sangat tidak mungkin ketika Ugrawe pergi ke Kediri, pasukannya akan menyerbu sendiri. Ugrawe pasti akan terlibat dalam penyerbuan dan berada di garis paling depan. Nah, kalau bukan menyerbu langsung, rencana apa yang dipersiapkan di Kediri? Sepersepuluh rencana Ugrawe bisa kutebak, aku sudah merasa beruntung, kata hati Upasara. Makin dikenal tokoh satu ini, makin terasa kebesarannya.

"Kakang, aku bisa pergi ke Kediri untuk mengetahui rencana Maharesi Ugrawe. Kalau Kakang memerintahkan, tak nanti adikmu ini membantah."

Itu juga bisa, pikir Upasara. Kawung Sen bisa leluasa di sana. Namun Upasara juga memperhitungkan bahwa Kawung Sen tak akan mendapatkan banyak keterangan. Meskipun Kawung Sen termasuk salah satu senopati yang diunggulkan, tetapi dalam masalah-masalah pelik dan rahasia, ia tak pernah diikutsertakan. Pastilah Ugrawe sudah mengetahui bahwa jiwa Kawung Sen mudah goyah. Tokoh ini sangat angin-anginan. Ambisinya dalam pertempuran berbeda banyak. Bagi Kawung Sen, masalah penyerbuan ke Keraton lebih didasarkan pada masalah pribadi.

Kawung Sen menunggu...


BAGIAN 04CERSIL LAINNYABAGIAN 06

Senopati Pamungkas Bagian 05

Senopati Pamungkas
Buku Pertama
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

BAGIAN 05

UPASARA menghaturkan sembah. Dua prajurit itu berlalu tanpa memperhatikan Upasara. Dengan lirik matanya, Upasara melihat arah berlalunya dua prajurit. Telinganya masih mendengar percakapan dua prajurit itu.

"Enak kita. Kalau ada kuli seperti itu."

"Lebih baik begitu. Kan tidak lucu kalau kita prajurit harus mengangkut barang seperti itu. Kalau kita cepat. kita bisa naik pangkat. Siapa tahu dapat persen dan bisa kawin lagi?"

Menunggu malam hari, Toikromo-lah yang paling sibuk. Ia mengajak Upasara mandi di belik, si sebuah sendang kecil. Dan meminjami sisir, serta memberi bedak.

"Wajahmu tampan, Anakmas."

"Sudahlah, Paman"

Sebenarnya Upasara ingin segera meninggalkan tempat itu. Namun merasa tak enak jika ia meninggalkan begitu saja. Ia kuatir jika dua prajurit itu menuduh Pak Toikromo mempermainkan mereka. Akibatnya bisa runyam semuanya. Makanya, Upasara ingin penolongnya berlalu dulu dan ia akan mencari kesempatan baik untuk meloloskan diri. Di samping itu, ia juga ingin menggunakan saat yang sebentar untuk beristirahat dan memulihkan tenaganya.

Tetapi Toikromo ternyata menunggu sampai Upasara diambil dua prajurit itu baru berlalu. Setelah mengadakan perpisahan sederhana, Upasara mengikuti dua prajurit itu. Masuk ke dalam bangunan rumah yang agak megah. Dindingnya dari anyaman bambu. Demikian juga bagian lantai rumah. Jadi bukan dari tanah biasa.

"Besok pagi mulai bekerja. Malam ini kau beristirahat di sini."

"Sembah dalem, Raden...."

Salah seorang dari prajurit itu mengeluarkan duit receh terkecil dan melemparkan ke tanah. "Ini buat beli tembakau."

Dahi Upasara berkerut. Sungguh tersiksa rasa congkaknya untuk memungut duit yang dilemparkan dengan cara seperti itu, dan ini dilihat oleh prajurit-prajurit yang lain.

"Maaf, Raden. Hamba tidak menisik dengan tembakau...." Upasara bergeming, tidak mengambil duit.

"Pakailah untuk makan."

"Maaf, hamba sudah diberi oleh Bapak...."

Prajurit itu menggertakkan giginya. "Kalau kuperintah mengambil, jangan berbuat yang lain."

Upasara menghaturkan sembah. Ia mengulurkan tangan untuk mengambil recehan ketika prajurit itu menyungkil dengan tombaknya. Kepingan mata uang itu melayang ke atas, dan ditangkap dengan sebelah tangan. Upasara menjadi gusar.

"Hah!" teriaknya kaget.

Namun bersamaan dengan teriakan kaget dan mulut terbuka, Upasara mengirimkan tenaganya, sehingga kepingan logam itu jadi melenceng. Si prajurit menangkap angin. Kepingan duit logam itu jatuh kembali ke tanah. Prajurit yang lain menertawakan. Ditertawakan, seperti itu prajurit yang congkak ini jadi merah-padam. Tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Dan tak menduga ini ulah Upasara. Hanya geramnya dilampiaskan ke Upasara.

"Pungut duit itu. Ikut aku. Kuajari caranya menisik tembakau."

"Baik, Raden." Upasara memungut duit dan mengikuti prajurit di depannya.

"Jangan sekadar memanggil Raden. Panggil aku Raden Sukra. Ini pelajaran kalau ingin menjadi calon prajurit."

"Nama hamba Upa...."

"Siapa yang menanyaimu? Tugasmu hanya menjawab pertanyaan dengan kalimat: 'Sendika dawuh, Raden Sukra'"

"Sendika dawuh, Raden Sukra."

Sambil menahan rasa dongkol yang sudah sampai di leher, Upasara mengikuti Prajurit Sukra. Ada yang menahan Upasara untuk langsung menyikat Prajurit Sukra. Pertama karena ia ingin mengetahui persiapan apa yang terjadi di tempat ini. Ini cukup beralasan karena Upasara melihat adanya panji-panji atau umbul-umbul yang sama dengan yang dikibarkan di dalam tenda Raja Muda Gelang-Gelang. Matanya sempat melihat ke dalam bangunan rumah. Di bawah penerangan obor yang dinyalakan dari ujung tangkai pohon kelapa yang diremukkan dari beberapa jurusan, beberapa prajurit utama berkumpul. Semuanya duduk di bawah. Menghadap kursi yang masih kosong.

"Hei. Jangan longak-longok begitu. Jongkok."

Kali ini Prajurit Sukra bukan hanya berkata, akan tetapi langsung menarik pundak Upasara dan menyeretnya ke tanah. Upasara mengikuti bantingan, hingga tubuhnya seperti dilontarkan ke depan. Ia bisa melihat lebih jelas kini. Sebelum Prajurit Sukra maju kedua kalinya. terdengar langkah kaki memasuki bangunan utama. Semua prajurit langsung tunduk dan menghaturkan sembah.

Kesempatan ini digunakan oleh Upasara. Dengan mengambil batu kerikil kecil, ia menimpuk ke arah Prajurit Sukra dan badan Sukra menjadi kaku. Tentu saja di saat semua menunduk, kehadiran Prajurit Sukra jadi menarik perhatian. Begitu yang memegang pimpinan melirik ke arah Prajurit Sukra, semua menahan napas.

"Prajurit mana yang tak tahu adat itu?"

Bersamaan dengan itu tangan ksatria yang berada di tengah ruangan menuding. Upasara menduga bahwa sebuah tenaga lurus menghantam ke arah Prajurit Sukra. Upasara tak mau berisiko. Ia menyambitkan batu kerikil untuk membebaskan kekakuan Prajurit Sukra. Soalnya kalau orang mengetahui bahwa Prajurit Sukra berdiri kaku karena tertotok jalan darahnya, bisa buyar semua rencananya. Maka ketika tenaga dan jari telunjuk itu menyentuh Prajurit Sukra, yang terakhir ini sempat mengaduh. Matanya membeliak dan tubuhnya terjatuh ke depan.

Ksatria di depan itu meraupkan tangannya, dan Prajurit Sukra seperti melayang di udara. Lalu dengan satu tolakan tangan yang itu juga. tubuh Prajurit Sukra terlempar jatuh ke belakang. Tak terdengar suara mengaduh.

Upasara menahan ludah yang hampir tertelan. Satu gebrakan yang keras dan ganas. Kalau melawan prajurit biasa. seorang yang mempunyai kepandaian tertentu di atasnya bisa mempermainkan. Itu bukan hal yang aneh. Yang membuat Upasara bertanya-tanya dalam hati ialah gerakan ksatria itu. Tak ubahnya gerakan yang dipertontonkan oleh Pujangga Pamungkas, Ugrawe.

Siapa ksatria ini? Dilihat dari usianya, masih sepantaran dengan Upasara. Tapi dilihat dan pangkat dan jabatan, jelas ia pemimpin dalam pasukan ini. Dilihat dari kemampuan dan tenaga yang dipergunakan, jelas susah ditentukan di mana tingkatnya.

"Sembah dalem, Gusti Rawikara...."

Rawikara melambaikan tangan. Para prajurit yang menghaturkan sembah tetap menunggu. Akan tetapi agaknya yang ditunggu tidak segera duduk di kursi yang telah disediakan. Rawikara berarti sinar matahari. Kini, pertanyaan Upasara agak terjawab sedikit dengan gerakan yang didemonstrasikan tadi. Pantas saja gerakannya seperti Ugrawe. Ataukah ksatria ini murid Ugrawe? Kalau benar begitu, jelas banyak tokoh yang tangguh bergabung dengan pasukan Gelang-Gelang.

"Bagaimana dengan penjagaan?"

"Sembah dalem, Gusti...." Seseorang menghaturkan sembah. "Sampai hari ini belum ada yang melalui jalan di depan."

"Meskipun demikian, jangan sampai lengah. Kita mendapat tugas untuk mengamati jalan di Banyu Urip. Karena ini satu-satunya jalan utama menuju ke Keraton Singasari dari Perguruan Awan. Siapa pun yang lolos dari sana, akan melalui jalan ini."

Diam-diam Upasara bersyukur. Di luar perhitungannya sendiri, ia bisa lolos dari pengawasan. Kalau saja ia muncul sendirian di pasar, pasti ia sudah ditanyai dengan berbagai pertanyaan dan akan sangat repot. Untung saja ia muncul bersama Toikromo yang sudah dikenal baik para prajurit di sini. Sehingga tidak menimbulkan kecurigaan sedikit pun. Bukan tidak mungkin selama ini Toikromo ditemani oleh keponakan atau anaknya. Hanya saja karena banyaknya gerobak yang dimiliki semua dipakai untuk mengangkut, jadi hari ini Toikromo terpaksa mengangkut sendirian.

"Meskipun tugas utama kita menghimpun kekuatan, akan tetapi baru saja ada berita dari Perguruan Awan, bahwa Senamata Karmuka sempat lolos. Tetapi ia tak akan pernah mencapai Keraton Singasari. Tidak, selama kita masih di sini. Aku menginginkan semua menjalankan tugas dengan baik. Jangan mencoba menyepelekan tata tertib yang berlaku."

Secara serentak para prajurit menghaturkan sembah.

"Semua yang diundang ke Perguruan Awan bisa diselesaikan. Sebagian ditawan, sebagian dibunuh, dan sebagian dikubur hidup-hidup."

Upasara menggertakkan gerahamnya. Ia teringat akan nasib Jagaddhita dan Gendhuk Tri.

"Hanya mayat Senamata Karmuka yang belum ditemukan. Boleh dikatakan tugas pertama berhasil sempurna. Tinggal melaksanakan dua tugas berikutnya. Kalau ini sudah terlaksana, kita akan melihat tanah Jawa kembali diperintah oleh yang berhak. Kembali diperintah titisan dewa dan bukan turunan para perampok."

"Sembah dalem, Gusti...."

Rawikara mengeluarkan suara mendesis. "Tetapi tetap ada yang membuat ganjalan. Maharesi Ugrawe dilukai sedikit, tapi tak menjadi soal. Akan tetapi yang menjadi soal ternyata di antara kita sendiri ada yang berkhianat."

Sejak meninggalkan Perguruan Awan, Upasara tak tahu apa yang terjadi. Baru sekarang ini semua keterangan bisa diperoleh. Akan tetapi yang jauh lebih menarik perhatiannya ialah ternyata Maharesi Ugrawe begitulah Rawikara menyebutnya yang menjadi pucuk pimpinan prajurit Gelang-Gelang, mempunyai tiga rencana sekaligus. Pertempuran hancur-hancuran dan habis-habisan di Perguruan Awan hanyalah salah satu dari tiga rencananya. Betapa dahsyat tipu muslihatnya!

Tiga rencana dilaksanakan secara serentak. Tidak percuma semua gelar yang diangkat dan dianugerahkan untuk dirinya sendiri. Ugrawe memang luar biasa. Jago silat kelas utama, sekaligus ahli siasat perang yang memegang komando sendiri. Dalam hati Upasara menduga bahwa dua rencana yang lain pasti tak akan dikatakan di pertemuan ini. Pertemuan ini terlalu terbuka untuk menjelaskan tugas rahasia. Inilah tugas Upasara untuk bisa mengetahui.

Pasti juga bukan hal mudah. Akan tetapi jika ia berhasil mengendusnya, bukan mustahil semua rencana bisa digagalkan. Dan ini berani keselamatan Keraton bisa dipertahankan. Hanya saja kalimat terakhir Rawikara membuatnya sedikit bergidik. Kalau dikatakan ada yang berkhianat, apakah Rawikara mengetahui kehadiran dirinya?

"Tak perlu kuatir. Aku sendiri telah menangkap pengkhianat itu."

Tangannya melambai. Persis gerakan Ugrawe. Upasara menghimpun tenaganya. Namun ternyata ucapan itu tidak ditujukan kepada dirinya. Ucapan itu ditujukan kepada sekelompok prajurit yang menyeret maju seseorang yang telah diikat erat sekujur tubuhnya. Upasara bisa segera mengenali bahwa yang diikat erat itu adalah... Kawung Sen! Apakah karena dalam pertempuran lalu Kawung Sen membebaskan dirinya, maka sekarang dianggap pengkhianat? Upasara menahan getaran di tangannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak berbuat sembrono.

"Inilah pengkhianat itu. Dan kalian semua akan melihat bagaimana aku menghukumnya, karena Maharesi Ugrawe telah menyerahkan hal ini padaku..."

"Hoho, sejak kemarin dulu aku selalu dikatakan pengkhianat. Tetapi apa sebenarnya dosaku?"

"Kawung Sen, kau masih bertanya? Kau tahu siapa aku? Kau tahu kenapa Maharesi Ugrawe menyerahkan persoalan ini padaku? Karena aku bisa menyiksa manusia dan setan untuk mengaku."

"Itu aku sudah tahu. Semua juga tahu. Bahkan kalau disuruh menyiksa ayahmu sendiri, kau akan menjalankan perintah gurumu."

Kini lebih jelas. Maharesi Ugrawe memang benar guru Rawikara. Tapi siapa yang disebut sebagai ayah? Mungkin Jayakatwang sendiri?

"Aku tak pernah berkata lain. Aku selalu memegang janjiku. Nah, Kawung Sen, mengingat jasa baikmu dahulu ketika menyerbu Keraton Singasari, mengingat pengorbanan saudara-saudaramu, katakan di mana kau sembunyikan Kartika Parwa dan Bantala Parwa"

"Hoho, jadi itu dosaku?" Kawung Sen bergelak. Hanya itu yang bisa dilakukan dengan bebas, karena menggerakkan ujung jari pun agaknya tak mungkin. Kedua tangan dan kakinya diikat, dan itu pun saling dikaitkan. Tubuhnya terbaring di lantai yang dialasi anyaman bambu. "Semua orang juga tahu, untuk apa aku mencuri kitab bulukan itu. Pasti untuk mempelajari, untuk kubaca pelan-pelan, kuhafalkan. Agar aku bisa mengalahkan Ugrawe yang merasa menguasai segala macam soal matahari, rembulan, bintang dan langit, serta bumi. Untuk apa dipersoalkan lagi. Ayolah paksa aku. Siksa aku. Biar aku mengaku."

Dari jawaban Kawung Sen yang tetap berani, Upasara tak bisa menebak arahnya ke mana. Karena jawaban itu sudah jelas. Kalau seorang dituduh mencuri suatu kitab, jelas untuk dipelajari, Apa lagi selain itu. Rangkaian jawabannya juga benar. Ugrawe dikenal menguasai ilmu angin puyuh yang dahsyat karena berhasil menggabungkan berbagai unsur kitab-kitab yang ada. Seperti yang dinamakan sebagai kitab mengenai bintang, Kartika Parwa, dan kitab mengenai bumi, Bantala Parwa. Bahwa dua kitab itu penting, mudah dimaklumi. Sama mudahnya memaklumi bahwa Ugrawe memang menyimpan berbagai kitab pusaka. Akan tetapi bahwa Kawung Sen dituduh mencuri, agak janggal. Terutama sekali dari jawaban Kawung Sen.

"Ayo lakukan. Tak bakal ada yang menyalahkanmu. Kau putra Raja Muda Gelang-Gelang. Gurumu adalah Maharesi Ugrawe. Apa susahnya? Tapi ketahuilah, Rawikara. Kau sama bodohnya dengan aku atau Ugrawe. Kenapa untuk soal sekecil ini saja aku harus diseret kemari dari Perguruan Awan? Kenapa Ugrawe sendiri tak bisa menyelesaikannya? Kenapa aku harus dituduh? Semua orang juga tahu bahwa Kawung Sen adalah orang yang paling bodoh di antara kawung yang lain. Karena Kawung Sen tak mengerti baca dan tulis. Lalu untuk apa kalian semua menjerat aku seperti ini?"

Upasara baru mengerti sekarang ini bahwa Kawung Sen tidak mengerti baca dan tulis. Agak mengherankan, akan tetapi hal itu memang bisa saja terjadi.

"Sayang benar. Ayahmu bercita-cita jadi Baginda raja. Gurumu jadi paman negara. Tapi kau putranya, muridnya yang terkasih diberi pekerjaan yang tak ada artinya. Tidak sadarkah bahwa kau diperolok-olok?"

Rawikara mengedipkan matanya. "Dalam tugas besar ini aku memang cuma menjadi penjaga jalan dan menyiapkan alat-alat perang. Aku tak kebagian tugas penting. Tetapi apa pun tugas yang diberikan oleh Maharesi akan kulakukan dengan baik. Aku tahu kaulah yang mengambil kitab itu. Pertanyaanku: Kepada siapa kau serahkan kitab itu?"

"Mudah sekali jawabannya. Kepada orang yang bisa membaca dan mau mengajariku."

Belum pernah Upasara melihat peristiwa yang tak masuk akal ini. Bagaimana bisa seorang seperti Kawung Sen yang pernah dianggap berjasa dan dianggap senopati kemudian dituduh mencuri kitab? Bagaimana mungkin ia diseret begitu jauh untuk dipertemukan dengan Rawikara?

Tetapi memang Ugrawe tokoh yang serba aneh dan serba ganjil. Segala apa yang dilakukan serba tak menentu. Di satu pihak bisa memerinci suatu gebrakan besar dan bukan hanya satu. Akan tetapi di lain pihak, perincian itu termasuk yang tak perlu dilakukan.

Upasara, walau baru sekali bertukar kalimat, menyadari bahwa Ugrawe mudah kacau pikirannya. Seperti ketika diingatkan bahwa ia malah mencari musuh baru dengan mengadakan pertempuran habis-habisan dengan niat membunuh semua yang ada di Perguruan Awan. Atau seperti yang dilihat sendiri oleh Upasara. Semua lawan bisa dihadapi dengan mudah dan bisa dikalahkan, akan tetapi rasanya Ugrawe tak berani bentrok dengan Senopati Pangastuti. Penglihatan Upasara yang tajam bisa seketika menemukan titik kosong dalam masalah ini.

Anehnya hal seperti ini ternyata tertular kepada Rawikara, muridnya. Mengancam Kawung Sen di depan para prajurit dalam suatu ruang terbuka lebar. "Bagus. Berikan kepadaku dan nanti aku ajari kamu."

"Mana boleh begitu. Itu sama saja menyuruh aku mengakui. Dan bagiku, pantangan besar mengakui apa yang tak kulakukan."

"Atau begini saja. Kau ambil dulu kitab itu, kau berikan padaku, lalu kukembalikan, dan kau mengajariku, begini?"

Kawung Sen bergelak. Dan masih bergelak, ketika Rawikara mengangkat tubuhnya lalu melemparkannya ke atas. Sebat sekali gerakannya, dengan melemparkan bagian ujung talinya sehingga terikat di salah satu tiang. Tubuh Kawung Sen jadi terayun-ayun di udara.

"Begitulah cara mati yang paling hina. Tubuhnya tak menyentuh tanah..." Rawikara tertawa. Tangannya mengambil salah satu cawan tanah dan diguyurkan ke tubuh Kawung Sen. "Dengan air gula aren ini, semua semut akan menggigitmu. Itulah cara mati yang lebih sengsara lagi."

Tiga cawan air gula aren, ditambah dengan botol yang lain. Sehingga air gula aren itu meleleh ke tanah. Sebagian ditumpahkan ke bagian wajah. Sebagian lagi dioleskan lewat tiang rumah. Memberi jalan semut-semut yang akan menyerbu wajah Kawung Sen.

"Mati karena digigit semut. Aha."

Kali ini Kawung Sen tidak berani membuka mulut. Wajahnya menjadi pucat.

"Sekarang kalaupun kau mengaku, aku takkan membebaskanmu." Dengan gerakan kilat, Rawikara meloncat ke tengah ruangan. "Kalau sampai besok tak ada seekor semut datang padamu, kau akan kubebaskan. Rakyatku, dengar apa kata gustimu ini, yang tak pernah menelan ludah yang sudah disemburkan."

"Sembah dalem, Gusti...."

"Sekarang kalian semua bubar dari sini. Meneruskan pekerjaan jaga."

"Sembah dalem, Gusti...."

Rawikara nampak puas. Ia berjalan ke bagian belakang dan menghilang. Para prajurit yang tadinya duduk bersila tak berani bergerak kini berdiri. Melihat Kawung Sen yang terayun di udara.

"Kalau ada yang berani menertawakanku, akan kucabut nyawanya begitu aku dibebaskan. Kalau aku mati, akan kucekik lehernya. Sebagai hantu aku bisa melakukan itu."

Beberapa prajurit undur ketakutan. Upasara bergerak lebih dulu. Ia masuk ke kemah bagian dapur. Koki yang sedang tidur ditepuk urat di pundaknya. Ia mencari garam. Diremukkan dalam genggaman tangan sehingga menjadi debu yang halus. Kemudian dengan cepat ia kembali ke tempat Kawung Sen digantung, Melihat seorang prajurit ada yang berani mendekat, Kawung Sen siap untuk mengancam lagi.

"Kutandai kau dan akan kubunuh... eh... kau..."

"Sssst terus memakiku." Suara Upasara lemah sekali agar tak terdengar yang lain. "Aku menaburkan garam di sekitar tiang. Sehingga tak mungkin ada semut datang. Jangan takut, sampai besok pagi semut tak akan datang. Dan kau bebas."

"Bagus...."

"Sssttt, terus memakiku."

"Mana mungkin-..."

"Ayo...." Upasara menaburkan untuk kedua kalinya. Warna garam yang sudah menjadi bubuk itu tak terlihat di antara cairan air gula aren. "Maaf aku tak bisa menunggu lama. Aku harus pergi."

Tanpa menunggu jawaban, Upasara berlalu dalam gelap. Ia menuju salah satu penjagaan. Dua penjaga tak menaruh curiga sedikit pun. Sebelum keduanya bereaksi, Upasara telah membungkam mulut mereka. Lalu menyeret, menaikkan ke punggung kuda. Kuda itu dituntun agak jauh. Di tempat yang agak sepi, dua prajurit itu diletakkan di tanah.

"Dua jam lagi kalian akan bebas. Kalian bisa kembali ke rumah besar itu. Kalau kalian cerita ada dua ekor kuda hilang, kalian bisa dipenggal. Maka lebih baik pura-pura diam saja. Tidak perlu memberi laporan."

Upasara mencemplak kudanya, dan segera bergegas. Sengaja ia tidak mengambil jalan di perempatan dekat pasar. Ia berputar lewat jalan berbukit di dekat sungai. Dari sana kedua kudanya dipacu sekencang mungkin. Satu kuda dinaiki, satu lagi untuk pengganti. Dengan demikian Upasara berharap bisa lebih cepat sampai di Keraton.

Meskipun kuda yang dipilih bukan kuda seperti yang dibawa dari Keraton atau seperti yang dinaiki Senopati Suro, namun cukup kuat juga. Karena memang dipersiapkan untuk berperang. Toh begitu Upasara mempersiapkan dua-duanya. Setiap waktu yang digunakan untuk menanak nasi, Upasara pindah dari punggung satu ke punggung lainnya. Tanpa istirahat, tanpa berhenti lebih dulu.

Gelap malam diterjang terus. Upasara mengandalkan ketajaman kuda untuk menerobos jalan malam. Jalan setapak yang kadang menikung sangat tajam, masuk ke dalam celah-celah pepohonan, muncul di antara semak-semak. Hanya bintang di langit yang menjadi pedoman. Bagi Upasara makin jauh jalan yang ditempuh, berani makin dekat ke Keraton. Ia akan berusaha menghabiskan separuh malam untuk terus berkuda. Makanya dua kuda terus dipaksa hingga meringkik-ringkik.

"Esok jika matahari mulai terbit, aku tak bisa mengendarai secepat ini. Karena pasti akan menarik perhatian penduduk. Kalau mereka barisan dari Gelang-Gelang, sia-sialah usahaku selama ini. Besok aku mulai berjalan biasa, kecuali kalau melewati hutan. Makanya, kudaku, ayo sekarang saatnya. Kalian dijuluki binatang yang tidak mempunyai pusar, berani tak kenal lelah. Ayo tunjukkan kelebihan kalian."

Upasara terus memacu, hingga kuda-kuda itu benar-benar kelelahan. Saat itu langit mulai sedikit terang. Upasara menghentikan kudanya, meloncat turun, dan membiarkan kudanya melepaskan lelah sambil merumput. Ia sendiri memilih tempat yang agak terlindung untuk beristirahat, sekaligus semadi untuk mengatur tenaganya.

Udara pagi yang dingin makin berkurang. Samar-samar mulai terlihat keadaan sekeliling. Dan ketika Upasara memperhatikan keadaan sekitar, ia tak percaya apa yang dilihat. Tak masuk akal sama sekali! Karena di kejauhan ia melihat gerobak sapi milik Toikromo! Tak masuk akal. Pun andai Toikromo tokoh silat kelewat sakti, ia tak mungkin bisa membawa gerobaknya melayang di angkasa. Akan tetapi yang dilihat adalah benar-benar gerobak sapi milik Toikromo. Bukan dalam mimpi. Dan jaraknya dari tempatnya berlindung tak lebih dari lima ratus meter.

Begitu Upasara melihat suasana sekitar, ia tahu bahwa dirinya telah masuk perangkap dan melakukan pekerjaan sia-sia selama setengah malam suntuk. Berapa tidak, kalau nyatanya ia masih berada di sekitar Pasar Banyu Urip!

"Jagat Dewa Batara! Jadi selama setengah malam ini aku cuma berputar-putar tidak karuan di sekitar tempat ini. Sungguh luar biasa. Benar-benar iblis Sakti Ugrawe. Upasara, kenapa kau begitu tolol?" Upasara menepuk jidatnya sendiri. Suara hatinya berkecamuk dan bertanya-jawab sendiri.

"Ugrawe telah mengatur segalanya. Dengan menyerbu habis ke Perguruan Awan, ia menutup jalan di Banyu Urip ini. Bahkan jalan di sekitar tempat ini pun telah dibuat sedemikian rupa, sehingga bakal menyesatkan. Kalau seseorang seperti aku, yang tak begitu mengenal daerah ini, mencoba menerobos, pasti hasilnya sia-sia. Akan bermuara kembali ke Pasar Banyu Urip. Pastilah Ugrawe telah memerintahkan Rawikara untuk mengatur desa ini. Jalan lama dihilangkan, jalan baru dibuat. Dan itu hanya melingkar-lingkar saja. Setengah malam aku berkuda, tapi hasilnya kembali ke tempat semula. Inilah serangan yang sempurna dan dahsyat. Ah, mudah-mudahan Senamata Karmuka dan Ngabehi Pandu bisa meloloskan diri dari jalan siluman ini. Kalau tidak, percuma juga. Mereka akan tertangkap di sini juga. Ugrawe begitu yakin akan bisa menyapu bersih sampai rata semua yang hadir di Perguruan Awan. Ternyata rencananya sangat rapi sekali. Dan betapa dahsyatnya, kalau ini salah satu dari tiga rencana yang dilakukan. Ilmu silatnya sudah setinggi langit. Kecerdikannya juga luar biasa. Ditambah penguasaan strategi peperangan seperti ini, Ugrawe benar-benar ancaman luar biasa bagi Keraton. Aku bukan tandingannya dalam peperangan. Apalagi dalam mengatur strategi seperti ini. Entah bagaimana aku bisa meloloskan diri dari sini dan bisa menuju ke Keraton. Agaknya keinginan Bibi Jagaddhita tak akan terkabul."

Berpikir begitu Upasara jadi lesu. Semangatnya hilang separuh. Ia menghela napas. "Satu kesempatan meloloskan diri telah buntu. Aku harus mencari tahu lebih banyak dulu, sebelum bisa lolos dari sini."

Upasara berjalan biasa, menuju ke arah Toikromo, yang sangat gembira melihatnya. Langsung menyambut dengan wajah yang sangat riang.

"Bagaimana, Anakmas, bisa diterima?"

"Mudah-mudahan...."

"Semalam penuh Paman menunggu di sini. Kalau saja diizinkan masuk ke rumah itu pasti Paman sudah masuk. Tapi prajurit galak-galak. Paman menunggu di sini."

"Apakah pagi ini Paman akan berangkat lagi?"

"Ya, mengambil kiriman berikutnya."

"Dari Gelang-Gelang?"

"Ya."

"Paman bisa ke sana sendiri?"

"Bisa. Paman selalu lewat jalan yang sama."

"Tahukah Paman bahwa di tempat ini banyak jalan yang diubah?"

Toikromo mendehem dan berdecak-decak. Perasaan bangga terpancar dari wajahnya "Paman tahu para prajurit itu membuat jalan palsu. Dan menutup jalan aslinya dengan pohon-pohon serta belukar palsu. Tapi mana mungkin bisa mengelabui Paman?"

"Kalau begitu Paman tahu jalan ke Keraton Singasari?"

Toikromo terdiam sejurus. Lalu menggeleng. "Jalan utamanya telah ditutup sama sekali. Dipersiapkan lama. Tak mungkin bisa dilalui gerobak atau kuda. Semua jalan telah ditutup."

Dada Upasara menjadi panas, Hatinya juga panas.

"Hanya Gusti yang tahu. Kecuali kalau kembali ke Gelang-Gelang lebih dulu. Baru dari sana masih bisa ditemukan jalan lain. Tetapi harus berputar sangat jauh. Heh, Anakmas, kalau pasuwitan-mu diterima di sini untuk apa harus ke Keraton? Bukankah di sini sama saja?"

Belum Upasara menjawab, dari bangunan rumah terdengar teriakan dan suara-suara manusia sangat banyak. Upasara mengikuti Toikromo mendekat, hingga batas yang diizinkan. Ternyata asal suara itu dari diturunkannya tubuh Kawung Sen.

Rawikara berdiri tegak. "Seperti setiap kalimat yang keluar dari bibirku pasti terjadi. hari ini kamu bebas." Rawikara memberi tanda. Beberapa prajurit membebaskan tali pengikat di tubuh kawung Sen.

"Terima kasih. Aku suka sikap ksatria." Suara Kawung Sen tetap keras. Tidak tercermin tanda-tanda keloyoan darinya.

Rawikara mengangguk. "Mulai hari ini, Kawung Sen adalah senopati kita. Kalian para prajurit harus menghormati seperti menghormati senopati."

Rawikara membimbing tangan Kawung Sen. Para prajurit menunduk, sebagian bersila menghaturkan sembah. Juga yang di luar dinding bersila.

Kawung Sen mengangguk-angguk puas. "Hari ini aku ingin makan enak, mandi dengan enak, dan minum madu sepuasnya."

Tubuhnya langsung melesat ke depan. Meluncur ke arah tanah, kakinya menutul, dan balik kembali berjumpalitan dengan gagah. Ia menuju ke bagian Samping, mengambil jala, dan berjalan menuju sungai di bagian belakang bangunan rumah. Dua prajurit mengiringinya. Disusul seorang prajurit yang membawakan pakaian.

"Kau tidak becus membawakan," bentak Kawung Sen di luar.

"Biarlah hamba yang membawakan," kata Upasara sambil menghaturkan sembah.

Kawung Sen menoleh ke arah Upasara dan matanya membelalak. "Kau..."

"Hamba memang belum resmi diterima sebagai prajurit. Hamba ingin mengabdi kepada Paduka." Upasara mengedipkan sebelah matanya. Ia masih sangsi Kawung Sen bisa diajak bersandiwara.

"Baik. Mulai sekarang kau menjadi prajurit. Ayo bawakan pakaianku."

Upasara menghaturkan sembah. Menerima pakaian dari prajurit Gelang-Gelang dan mengikuti langkah Kawung Sen. Yang langsung menuju ke tengah sendang. Membuka semua pakaiannya dan langsung berendam. Menyibakkan air sepuasnya. Dua prajurit yang mengiringi diusir jauh-jauh. Diancam akan dipecat jika berani mendekat. Tinggal Upasara sendiri.

"Ayo mandi di sini."

Tanpa pikir panjang, Upasara menanggalkan pakaiannya. Ia menyimpan cincin, gigi emas Jagaddhita, dan gelang kaki yang terbuat dari emas di bawah tumpukan pakaiannya. Lalu dengan telanjang bulat masuk ke dalam air.

"Hebat. Hebat. Akal sehat. Garam itu betul-betul menolak semut. Kau telah menyelamatkan nyawaku. Kau hebat, Upa...."

"Ya, panggil saja aku Upa. Ingat, kita harus tetap bersandiwara sebagai prajurit dan senopati"

"Bagus. Boleh juga. Aku senang sandiwara begini. Tetapi kenapa kau menolongku sekali lagi? Bukankah aku pantas mati karena aku memang mencuri kitab-kitab itu? Tapi sampai mampus mereka tak akan tahu di mana aku menyimpannya."

"Aku tahu. Kau menyimpan dalam jalamu. Jala itu terdiri atas dua lapis. Dan kau menyimpan di tengahnya."

Kawung Sen membelalak untuk waktu yang lama. "Jadi kau melihatnya waktu aku mencurinya? Aku kesal! Sebal! Mereka selalu meremehkanku. Hanya karena aku tidak bisa membaca dan menulis. Sumpah, siapa pun yang menghina seperti itu, akan kubunuh. Setidaknya kucelakai. Juga Ugrawe. Makanya ketika ia tak tahu, peti bukunya kubuka dan kuambil dua buah bukunya. Baru tahu dia sekarang. Hoho, baru tahu bahwa Kawung Sen tak bisa direndahkan oleh siapa saja. Tidak akan pernah."

"Kenapa kitab itu dicuri?"

"Sudah kubilang aku kesal, Upa."

"Pastilah kitab itu sangat berarti sehingga Ugrawe sampai tega membunuhmu bila perlu."

"Ya, bagi yang mengerti." Suara Kawung Sen jadi menyesali dirinya sendiri. "Bagiku lebih berarti air sungai ini. Aku memang bodoh. Kenapa kakak-kakakku bisa membaca, sedang aku tidak? Uh, aku sungguh sangat bodoh sekali. Paling bodoh. Otakku bebal. Sangat bebal"

Kawung Sen meninju air hingga tersibak.

"Itulah sebabnya kepandaianku tak bisa maju. Selama ini hanya Kakang Ketip yang memberitahu secara lisan. Tanpa bantuan itu, aku tak bisa maju. Sayang Kakang Ketip telah tiada. Kakang Benggol juga telah tiada. Uh, kenapa aku tidak mati digigiti semut saja?"

"Selama ada aku, kenapa harus mati digigit semut? Aku bisa membacakan isi kitab itu padamu."

Kawung Sen bersila di dasar sungai hingga air sampai didagunya. Ia menghaturkan sembah. "Dewa di langit, hari ini Kawung Sen menghaturkan sembah buat Kakang Upa...."

Upasara hampir tertawa lepas. Ia berusaha menahan diri sekuatnya. "Adik, aku bersedia menerimamu. Asal hanya kita berdua dan dewa di langit yang tahu hal ini."

"Aku, Kawung Sen yang hina ini, bersumpah, kalau membocorkan rahasia ini, biarlah mati digigit seribu semut!"

"Baik, baik."

"Ayolah kita pelajari sekarang juga."

"Mana mungkin?"

"Kenapa tidak? Dari dulu aku sudah senopati. Senopati itu tak punya pekerjaan kalau tidak perang. Dan tak bakal diganggu orang lain. Hanya Rawikara yang berhak memanggilku Ayolah, Kakang. sekarang kita mulai."

Kawung Sen meloncat naik, meraih jala. Meneliti, dan mengeluarkan lempengan klika, atau kulit kayu yang sangat tipis.

"Bacakan."

"Tidak enak di sini. Kita cari tempat yang lebih aman di tengah hutan. Adik tahu jalan yang dipalsukan?"

Tanpa mengelap tubuh, Kawung Sen memakai celananya. Demikian juga Upasara. Lalu keduanya bergerak dengan cepat ke tengah hutan. Menuruni dua lembah, melewati bukit kecil berputar, mereka berdua sampai ke tanah lapang.

"Ini jalan yang ditutup itu." Upasara melihat, bahkan di siang hari pun jalan itu tak mungkin bisa dikenali. Tanpa bantuan Kawung Sen, Upasara tak akan bisa menemukan jalan yang sebenarnya. "Adik, sebenarnya kakangmu ini ada tugas istimewa di Keraton Singasari. Jadi Kakang akan bacakan sekali, lalu ingat-ingat dengan baik."

"Mana mungkin?"

"Harus mungkin. Karena Kakang harus segera ke Keraton."

"Apa susahnya kita ke Keraton sama-sama? Selama dalam perjalanan, Kakang bisa membacakan kitab itu."

Upasara berpikir sebentar. Bersama dengan Kawung Sen akan banyak manfaatnya. Setidaknya kalau di tengah jalan ada bahaya dari senopati Gelang-Gelang yang lain, Kawung Sen bisa menyelesaikan.

"Baik, mari kita segera berangkat. Tapi ingat, kepergian Kakang dan hubungan kita tak boleh ada yang tahu."

Kawung Sen menghaturkan sembah dengan kaku. Kawung Sen memang tidak terbiasa dengan adat-istiadat. Upasara menepuk pundak Kawung Sen, dan keduanya mulai berjalan. Upasara berjalan sambil membuka lempengan klika pertama.

"Ini Kartika Parwa, atau Buku Bintang, disebut juga Dwidasa Nujum Kartika atau Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Jurus-jurus ini diciptakan berdasarkan gerak dan pengaruh serta nama-nama bintang.

"Jurus pertama, disebut Lintang Sapi Gumarang. Pusat tenaga yang dikerahkan adalah tenaga yang disebut tenaga Kasa- Tenaga berasal dari arah utara dan selatan, serangan ke arah kanan dan ke arah kiri. Pengaruhnya membuat samar, seperti berada dalam bayang-bayang amun-amun, atau fatamorgana."

"Tunggu, Kakang. Mana aku mengerti tentang Kasa segala macam?"

"Kasa adalah perhitungan bulan pertama. Jadi tenaga yang dikerahkan, tenaga dalam yang digunakan, harus mengandung keadaan bintang saat musim yang pertama. Tenaga itu seperti yang dimiliki oleh hujan yang jatuh pertama kali. Hujan pertama menyebabkan benih tumbuhan jadi, belalang dan hewan terbang dari sarangnya, embun putih keluar, langit mulai terang, tanah mulai terlihat, batu bersih. Makanya kalau merasa sombong dan pongah, jurus ini akan luput, jurus ini tidak mencapai sasaran. Ingat baik-baik, Adi.

"Jurus kedua, disebut Lintang Tagih. Pusat tenaga yang dikerahkan tenaga Karo. Tenaga yang diambil adalah tenaga dari- utara, di mana pun adik berdiri. Gerak tenaga besar bagai lumbung padi. Pengaruhnya memberi ketenangan si penyerang, tapi membuat kacau yang diserang. Tenaga yang dikerahkan adalah tenaga Karo, yang artinya tenaga ketika tetumbuhan mulai bersemi, tenaga cacing bertelur, belalang menetas, pohon besar berkeringat mulai berbunga, serangan pelan tapi terus mengalir. Biarkan tenaga panas di luar akan tetapi tetap dingin di dalam.

"Jurus ketiga, disebut Lintang Lumbung. Pusat tenaga yang dikerahkan tenaga Katiga. Pusat kekuatan berada di kaki, seperti akar yang merayap masuk ke tanah dan berangkulan di dalamnya. Serangan di Luar bagai bumi yang bersih, tapi di dalam tetap bergolak.

"Jurus keempat, disebut Lintang Jaran, atau Bintang Kuda. Pusat tenaga dan arah utara, bergelombang datangnya. Gerak tenaga bagai menumpahkan hujan dan sekaligus petir. Memakai sifat tenaga Kapat. Yaitu sifat perpaduan, seperti perpaduan antara binatang jantan dan betina yang berkaki empat, seperti binatang bersayap yang mulai menggerakkan sayapnya, seperti tenaga daun berebut tempat tumbuh di atas. Perubahan tenaga kalau ke selatan membawa angin, kalau ke utara membawa hujan. Jurus ini bisa membuat kematian mendadak kalau bisa mengenai secara telak.

"Jurus kelima, disebut Banyak Angrem, atau Angsa Mengeram. Pusat tenaga seperti musim Kalima. Tenaga air sama dengan tenaga angin. Pusat tenaga yang diambil dari utara dan barat. Kalau menyerang dengan tenaga air, tanpa tenaga angin. Kalau menyerang dengan tenaga angin, tanpa tenaga air. Hasilnya lebih berlipat ganda. Kekuatan utama adalah penggunaan tenaga kasar.

"Jurus keenam, disebut Lintang Gotong Mayit, atau Bintang Menggotong Mayat. Satu-satunya tenaga yang dikerahkan dari arah barat. Besar, keras, dan harus cepat. Jurus ini dipengaruhi musim Kanem, atau keenam. Jurus ini akan menghasilkan manfaat seperti memetik buah-buahan. Jangan terpengaruh oleh suara dari lawan, atau gerakan lawan. Sebab apa yang nampak adalah palsu. Lawan sudah terpengaruh untuk bisa bertahan. karena seperti mengantuk.

"Jurus ketujuh, disebut Lintang Bima Sekti. Pusat tenaga musim Kapitu atau musim ketujuh. Tenaga dari arah barat. Besar, cepat, dan berulang-ulang secara bergelombang. Tenaga seperti membuat pohon melengkung, tapi tidak sampai rubuh. Menyerang bagian kaki tidak untuk menjatuhkan melainkan membuat bumi yang diinjak amblas. Kunci utama adalah gelombang serangan yang terus-menerus.

"Jurus kedelapan, disebut Lintang Wulanjar. Pusat tenaga dan arah perpaduan antar barat dan selatan, menghajar tapi tanpa tenaga. Ibarat bunyi petir tanpa hujan. Tenaga ditarik ke dalam. Sehingga kekuatan di atas dan di bawah sama rata. Antara akar dan daun sama warnanya. Tak ada penyerangan, kalau bisa berdiam diri.

"Jurus kesembilan, disebut Lintang Wuluh. Pusat tenaga dari selatan persis. Pengerahan tenaga seperti bunyi cengkerik dan belalang, sifat serangan dingin. Merontokkan serangan berbunga dari lawan. Semakin. berbunga-bunga serangan semakin rontok. Tujuan utama serangan perut dan dada. Bagian kaki tak akan terkena telak, tetapi akan menyulitkan kuda-kuda lawan. Bagaimanapun lawan bergerak, perut dan dada yang digunakan untuk bernapas menjadi sasaran utama.

"Jurus kesepuluh, disebut Lintang Waluku. Pusat tenaga diambil dari antara selatan dan timur, cepat sifat serangannya. Terutama untuk menyerap tenaga lawan, seperti sifat bumi menyerap hingga kering, seperti ibu menyerap tenaga ke dalam kandungan. Lawan akan kehilangan keseimbangan dan kehabisan tenaga.

"Jurus kesebelas, juga disebut Lintang Lumbung. Sama dengan jurus ketiga. Pusat tenaga diambil dari timur-selatan, keras sifatnya. Sangat keras. Segala tenaga diatas tanah hancur, seperti tercerabutnya rumput dari tanahnya tercongkel, tenaga didasarkan pada hewan kaki empat akan terguling rubuh, tenaga meloncat seperti burung terbang akan hancur sayapnya, rasa dingin akan menyerang lawan ke bagian tulang, tenaga di tengah dari lawan akan mati terhenti dan sia-sia.

"Jurus kedua belas, disebut juga Lintang Tagih. Memakai kekuatan musim Saddha. Tenaga diambil sebelah timur. Sasaran terakhir adalah membunuh tanpa meninggalkan mayat, mengambil nyawa tanpa terasa, seperti mengguncang pohon merontokkan semua daun, pohon tetap berdiri tapi sudah mati. Bumi terbelah, tapi batangnya tak runtuh. Tenaga panas dan dingin menjadi satu. Menyerang dan bertahan menjadi satu. Khusus untuk jurus terakhir ini bisa terus diulang dan diulang tanpa perubahan, tidak usah melalui jurus pertama,"

Kawung Sen seperti tak bernapas. Mendengarkan penuturan Upasara yang membaca sambil terus berjalan, Kawung Sen mengerahkan seluruh kemampuannya. Daya tangkapnya melalui lisan memang selama ini jauh lebih hebat dari dua kawung yang lain. Hal ini tidak terlalu istimewa, karena sebenarnya Kawung Sen memang lebih menonjol dalam hal mengingat-ingat. Soalnya ia tak bisa mengulangi dengan membaca. Namun karena Upasara membaca terus-menerus, tak urung Kawung Sen menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sulit. Sulit sekali, Kakang."

"Kelihatannya justru mudah sekali."

"Kau tidak main-main, Kakang?"

"Tidak. Kita ini sangat senang dengan ilmu silat. Bagaimana mungkin aku main-main?"

"Aku bisa menghafal apa yang kau katakan. Setidaknya separuh bagian aku tahu. Tapi bagaimana mungkin aku bisa mengerti?"

"Kuncinya ialah pengetahuan kita tentang musim. Tentang letak serta kedudukan bintang. Ini termasuk ilmu pranata mangsa, mengenai musim. Siapa pun yang telah menciptakan dan menuliskan Kartika Parwa ini, pasti seorang tokoh yang luar biasa luas ilmu pengetahuannya. Adik, menurut pendapatku ini bukan sekadar cara penyerangan dan memberitahukan gerak-gerak saja, melainkan terutama pada pengaturan tenaga. Sedang mengenai geraknya bagaimana sama sekali tak ditulis di sini. Menurut Adik bagaimana?"

"Mana aku tahu, Kakang. Aku ikut saja."

Upasara menghela napas. "Untuk membuktikan mengenai cara memusatkan tenaga, kita harus berlatih. Tetapi sayang sekarang bukan waktu yang baik." Upasara berhenti, menggulung kembali klika kayu, menyembah, dan mengembalikan kepada Kawung Sen. "Simpanlah, Adik."

"Percuma, Kakang. Aku tak bisa membaca. Bawa sajalah."

Upasara menggeleng. "Tidak. Adik yang mendapatkannya. Adik pula yang harus menyimpannya. Aku telah berbuat kurang ajar membacanya. Mudah-mudahan empu yang menuliskan ini mau mengampuniku."

Upasara duduk, bersemadi, dan menghaturkan sembah.

Kawung Sen memperhatikan, dan kemudian mengikuti jejak Upasara. Tanpa terasa matahari telah menggelincir di arah barat. Kawung Sen mencari buah-buahan, mengumpulkan, dan mulai menyantapnya. Ia juga mencari sarang tawon dan memeras, serta meminum madunya. Upasara mendapat bagian yang sama. Sejenak setelah beristirahat.

"Kakang, masih ada satu kitab lagi. Lebih pendek. Bantala Parwa. Kalau Kakang mau membacakan, aku akan membuatkan api."

"Baiklah. Akan kubacakan semua untuk Adik. Setelah itu kita berpisah di sini. Aku akan meneruskan perjalanan, dan Adik kembali ke Rawikara agar tidak menimbulkan kecurigaan. Rasanya aku bisa meneruskan perjalanan sendiri."

Sementara Kawung Sen sibuk mengumpulkan kayu kering, Upasara beristirahat. Pikirannya bergelut antara tugas yang harus disampaikan ke Keraton dan kesempatan yang masih tersisa. Sementara Kawung Sen hanya terpusat pada apa yang baru saja dibacakan oleh Upasara.

"Kakang Upasara, sungguh suatu kemurahan dewa di langit bahwa kita bisa bertemu dengan cara seperti ini. Aku tak menyangka sedikit pun bahwa kita bisa menjadi kakak-adik seperti sekarang ini. Sayang, Kakang ada urusan penting di Keraton. Kalau tidak kita akan bisa bersama-sama terus. Ah, mungkin nanti setelah urusan Kakang selesai kita akan bisa berkumpul terus. Bukan begitu, Kakang?"

Upasara berusaha tersenyum. "Untuk mengatakan terus terang, tidak tahu saat seperti itu bisa terjadi. Urusan di Keraton bukan urusan sepele yang bisa segera diselesaikan. Entah bisa terjadi atau tidak. Entah kapan. Adik Kawung Sen, kenapa dulu Adik menyerang ke Keraton?"

"Sudah tentu aku menyerang ke Keraton. Kakek moyangku, tiga turunan ke atas, adalah pengabdi setia Baginda Raja sejak masih di Tumapel. Lalu tanpa ba dan bu, kami semua tidak dianggap lagi. Ayahandaku, Kawung Kencana, tidak mempunyai jabatan apa-apa lagi. Ayahanda Kawung Kencana meninggal karena sakit hati. Tetapi kami bertiga bersaudara memutuskan untuk mbalela. Kami mempunyai banyak teman yang juga dipecat, dipindahkan, diturunkan pangkatnya."

"Kakang Upasara, apakah kami keliru?"

"Entahlah, aku tak bisa mengerti masalah seperti ini. Hanya saja cara memberontak itu mungkin tak bisa dibenarkan."

"Kami semua merasa malu. Merasa hina. Sejak Baginda Raja mengampuni kami, rasanya kami tak mempunyai harga diri lagi-. Ke mana pun kami pergi, kepada siapa pun kami bertemu, pandangan mereka ini sangat merendahkan. Dendam kami makin besar sekali. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa suatu hari aku akan membalas dendam. Sampai kemudian Maharesi Ugrawe mengajak kami bergabung."

"Serba susah. Kalau Baginda Raja dulu tidak mengampuni, mungkin akan lain jalannya sejarah. Adik Kawung Sen, sekarang ini kau masih ingin membalas dendam?"

"Ya, Kakang."

"Jika aku prajurit Keraton, kau akan bertempur denganku?"

"Tidak mungkin. Tetapi aku tetap akan menyerbu ke Keraton. Dan memaksa Baginda Raja mengumumkan bahwa kami bukan orang yang bersalah. Bahwa kami mbalela, kami memberontak, karena kami tidak dimanusiakan lagi. Kakang Upasara, bagi kami sekeluarga pangkat tinggi atau bukan tak jadi soal benar. Tetapi kehormatan, harkat diri sebagai manusia, perlu dipulihkan. Kakang akan bisa mengerti kalau Kakang mengetahui bagaimana Ayahanda secara tiba-tiba digeser kedudukannya. Ayahanda begitu berduka sehingga membiarkan tubuhnya tersiksa oleh batinnya. Sampai meninggalnya, sejak digeser, Ayahanda tak berbicara, tak minum, tak makan, tak bergerak..."

"Kakang bisa mengerti?" Upasara, sekali lagi, berusaha tersenyum. Hatinya memang terpukul oleh penuturan Kawung Sen. Ini bukan pertama kali telinganya mendengar kekecewaan mendasar sejak Baginda Raja melakukan penggantian besar-besaran di lingkungan pejabat Keraton. "Adik Kawung Sen, banyak para pendekar yang bergabung dengan Ugrawe. Akan tetapi kenapa Ugrawe hanya mengajak adik bertiga ke Perguruan Awan? Bukankah terlalu riskan mengandalkan jumlah para prajurit saja?"

"Soal itu aku tak tahu, Kakang."

"Apakah Adik mendengar bahwa Ugrawe menyusun kekuatan yang lain, di mana para pendekar juga berkumpul?"

"Ya, tapi aku tak tahu."

"Begini. Ketika Adik ditawan oleh Rawikara, aku mendengar bahwa Ugrawe mempunyai tiga rencana. Penyerbuan ke Perguruan Awan adalah salah satu rencana. Masih ada dua rencana lain. Apakah Adik mengetahui?"

Kawung Sen menunduk sedih. "Aku memang bodoh, Kakang."

Upasara mengetahui bahwa Kawung Sen tidak berdusta mengenai hal ini. "Adik, aku tahu. Rencana Ugrawe adalah menyerbu ke Keraton. Menumbangkan Baginda Raja. Akan tetapi jebakan apa, atau tipu muslihat apa, aku sama sekali tidak mengetahui."

Wajah Kawung Sen berubah gembira. "Hoho, jangan kuatir, Kakang. Begitu aku mengetahui, aku akan segera memberitahu Kakang."

"Akan banyak gunanya." Lalu disambung dengan suara perlahan, "Kalau belum terlambat. Setelah usaha itu berhasil kita semua juga akan mengetahui."

"Ah, dari tadi kita bicara tidak jelas. Bagaimana kalau kita pelajari lagi kitab itu?"

Kawung Sen memberikan klika berikutnya.

Upasara menghela napas. Pandangan matanya menatap percikan api.

"Sekarang ini aku tak tahu bagaimana nasib paman dan teman-teman yang berada di Perguruan Awan...."

"Hoho... kalau hal itu aku tahu. Kakang mau mendengarkan?"

Kawung Sen mengisap udara kuat-kuat. Seakan ingin memenuhi seluruh isi dadanya dengan udara. Seperti mengumpulkan semua kemampuannya untuk mengingat kejadian yang lalu.

Sejak Kawung Sen melepaskan Upasara, ia masih bersama dengan Kawung Benggol. Itu adalah saat Ugrawe mengajak Upasara masuk ke dalam tenda Raja Muda Gelang-Gelang. Lalu ketika terjadi keributan besar, Kawung Sen terlibat lagi di bagian lain. Bersama dengan dua kawung yang lain, ia melibatkan diri dalam pertempuran. Juga saat-saat Padmamuka meninggal dunia, dan dua kawung yang lain menyusul.

"Bagaimana dengan Paman Wilanda?"

"Yang mana itu? Yang gundul. Oh, ilmu hebat. Ia yang paling bisa bertahan dengan tenaga dalamnya ketika yang lain mulai dipengaruhi racun asap."

"Paman Wilanda yang sedang menderita luka."

"O, ia langsung ditawan. Diringkus. Begitu juga Tiga Pengelana Gunung Semeru. Setelah terpengaruhi racun asap, tak terlalu sulit menawan mereka. Ugrawe sendiri bisa membereskan mereka. Tapi lucu, Kakang, Ugrawe kehilangan telinganya. Daun telinganya hilang. Hoho, itu yang menyebabkan Ugrawe murka luar biasa. Hebat sekali Gendhuk Tri. Di jagat ini hanya ia yang bisa melukainya!"

"Semuanya bisa ditawan?"

"Bisa. Tiga Pengelana Gunung Semeru, Dewa Maut, Wilanda, dan akhirnya orang gundul yang hebat itu. Hebat dia, Kakang. Pukulannya juga aneh. Ia menggunakan satu tangan untuk menangkis dan melawan Maharesi Ugrawe. Pertempuran paling lama. Tapi akhirnya bisa diringkus juga."

"Kalah tenaga dalamnya?"

"Aku yang meringkus, Kakang. Aku jala. Tinggal menyeret saja." Kawung Sen menunjukkan wajah duka. "Tapi susah. Orang gundul itu tak mau kuajak bicara. Tak mau kuajak bertanding seperti Kakang. Ya sudah. Namun yang membuatku jengkel, karena Maharesi Ugrawe menganggap aku paling bodoh, paling tak mengerti situasi. Ini keterlaluan sekali. Ia boleh jengkel karena daun telinganya hilang. Tapi mana mungkin menghinaku. Makanya, aku ambil kitabnya dari peti. Di sana ada beberapa bundel. Aku mengambil dua. Kusimpan dalam jala. Tapi karena orang yang berada di tempat penyimpanan itu hanya aku, akulah yang diringkus. "Dan segera dikirim ke Banyu Urip. Aku sudah bersumpah lebih baik mati daripada harus mengakui sebagai pencuri kitab."

"Kenapa Adik dikirim ke Banyu Urip?"

"Karena akan diadili oleh Rawikara."

"Kenapa Ugrawe sendiri tak melakukan itu?"

"Sehabis pertempuran itu, sehabis mengubur Kakang Kawung Ketip dan Kakang Benggol, sehabis menjebloskan mayat Pu'un dan Padmamuka ke dalam gua..."

Upasara tanpa terasa mengeluarkan seruan tertahan. "Ah!"

"Kenapa, Kakang?"

"Kenapa Padmamuka dan Pu'un dilemparkan ke dalam Gua Lawang Sewu?"

"Aku tak tahu nama gua itu. Maharesi menyuruh melemparkan dua mayat itu, dan menimbuni dengan tanah, batu, dan meninggalkan beberapa prajurit untuk menjaga mulut gua."

"Ugrawe tidak menyerbu masuk?"

"Tidak. Ia bilang tak tahu rahasia gua. Ia tak mau berisiko. Makanya ditimbun saja."

Upasara sadar kini. Bahwa Ugrawe tak mau mengambil risiko untuk menyerbu masuk dalam gua. Makanya ia sengaja menutup. Tapi sebelum itu, melemparkan mayat Pu'un dan Padmamuka. Perhitungan Ugrawe pastilah mayat itu akan membusuk. Pastilah ini akan merepotkan yang bersembunyi di dalam gua. Sudah jelas sangat berbahaya. Karena seluruh tubuh Padmamuka sebenarnya adalah gumpalan racun yang kelewat ampuh! Karena, tubuh Pu'un pun mengandung unsur-unsur gaib yang tak dikuasai. Unsur-unsur yang bisa membahayakan juga. Sungguh licik Ugrawe. Dan perhitungannya sangat tepat.

Siapa pun yang berada dalam gua itu. Mengingat hal itu, Upasara menjadi sedih. Pertemuan dengan Jagaddhita sangat singkat. Begitu juga dengan Gendhuk Tri. Namun dalam hatinya, Upasara menghormati keduanya. Dan merasa akrab dengan Gendhuk Tri. Ia menyesali kenapa meninggalkan Gendhuk Tri di dalam gua! Mestinya ia terus memaksa agar Gendhuk Tri ikut dengannya! Upasara tak bisa menceritakan bahwa Jagaddhita, Gendhuk Tri, masih tertinggal dalam Gua Lawang Sewu.

Melihat Upasara berduka, Kawung Sen jadi merasa bersalah. "Katakan, Kakang, apa yang bisa kulakukan?"

"Para pendekar utama telah ditawan. Kini lapanglah jalan Ugrawe untuk mencapai maksudnya."

"Kakang, kalau Kakang menginginkan para pendekar yang ditawan itu dibebaskan, aku bisa mengusahakannya."

"Tak begitu mudah. Ugrawe tak akan melepaskan pengawalan."

"Mereka akan dikirim ke Banyu Urip. Rawikara yang akan mengurusi."

"Ugrawe, ke mana ia?"

"Kembali ke Kediri."

Upasara mengernyitkan dahinya. Apa yang dilakukan Ugrawe di Kediri? Kenapa tidak langsung menyerbu ke Keraton Singasari? Kenapa malah ke Kediri? Dunia kelewat luas, dan aku ini tak bisa menduga sedikit pun. Kalau Ugrawe secara buru-buru pergi ke Kediri, pasti ada sesuatu yang direncanakan. Tidak mungkin kalau sekadar berobat atau apa. Ini berani, bukan penyerbuan langsung ke Keraton yang menjadi langkah berikutnya. Berani juga, perhitungan Senamata Karmuka dan Jagaddhita meleset. Memang dengan menutup jalan di Banyu Urip, Ugrawe membuntu kemungkinan lolosnya satu orang ke Keraton. Menutup kemungkinan Keraton mengetahui kejadian di Perguruan Awan. Tapi ternyata itu tidak berani Ugrawe dan pasukannya lebih dulu menyerbu ke Keraton.

"Apakah Ugrawe bersama rombongan Raja Muda Gelang-Gelang?"

"Ugrawe berangkat lebih dulu. Raja Muda akan menyusul kemudian."

"Adik Kawung, kau tahu apa yang akan dilakukan Ugrawe?"

"Mana aku tahu, Kakang? Aku sudah diikat."

Paling tidak, untuk sementara Keraton masih aman, pikir Upasara. Ugrawe ternyata tidak langsung menyerbu. Juga sangat tidak mungkin ketika Ugrawe pergi ke Kediri, pasukannya akan menyerbu sendiri. Ugrawe pasti akan terlibat dalam penyerbuan dan berada di garis paling depan. Nah, kalau bukan menyerbu langsung, rencana apa yang dipersiapkan di Kediri? Sepersepuluh rencana Ugrawe bisa kutebak, aku sudah merasa beruntung, kata hati Upasara. Makin dikenal tokoh satu ini, makin terasa kebesarannya.

"Kakang, aku bisa pergi ke Kediri untuk mengetahui rencana Maharesi Ugrawe. Kalau Kakang memerintahkan, tak nanti adikmu ini membantah."

Itu juga bisa, pikir Upasara. Kawung Sen bisa leluasa di sana. Namun Upasara juga memperhitungkan bahwa Kawung Sen tak akan mendapatkan banyak keterangan. Meskipun Kawung Sen termasuk salah satu senopati yang diunggulkan, tetapi dalam masalah-masalah pelik dan rahasia, ia tak pernah diikutsertakan. Pastilah Ugrawe sudah mengetahui bahwa jiwa Kawung Sen mudah goyah. Tokoh ini sangat angin-anginan. Ambisinya dalam pertempuran berbeda banyak. Bagi Kawung Sen, masalah penyerbuan ke Keraton lebih didasarkan pada masalah pribadi.

Kawung Sen menunggu...


BAGIAN 04CERSIL LAINNYABAGIAN 06