Cinta Berlumur Darah


SERIAL PENDEKAR PULAU NERAKA
Karya: Teguh S
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Gambar Sampul: Tony G
Episode: CINTA BERLUMUR DARAH




Satu


“Hup! Yeaaa...!”
“Uts, ha...!”
“Cukup!”



Seorang laki-laki tua berjubah putih melompat ke tengah-tengah dua orang muda yang saling berhadapan. Dua orang muda itu serentak mengambil sikap hormat dengan telapak tangan merapat didepan dada, kemudian duduk bersila di atas rerumputan. Sedangkan laki-laki tua itu tetap berdiri dengan kepala terangguk-angguk. Bibirnya yang tipis hampir tertutup kumis putih itu terus menyunggingkan senyum.

“Hari ini kalian berlatih begitu luar biasa. Terutama kau, Intan. Jurus-jurusmu maju begitu pesat. Semakin mantap dan sempurna,” ujar laki-laki berjubah putih itu bernada bangga.

“Terima kasih, semua ini berkat bimbingan Eyang,” sahut gadis cantik yang memakai baju merah terang.

“Dan kau, Indranata! Kulihat pengerahan tenaga dalammu tidak penuh. Itu bisa membahayakan dirimu sendiri seandainya bertarung dalam arti yang sesungguhnya. Ingat! Pengerahan tenaga dalam sangat penting dan harus tepat pada waktunya,” jelas laki-laki berjubah putih itu seraya memandang pemuda berkulit sawo matang yang duduk bersila di samping Intan Delima.

“Maaf, Eyang. Aku tidak sampai hati untuk melukai Intan,” sahut pemuda yang dipanggil Indranata.

“Itu bukan alasan yang tepat, Indranata. Rasa kasihan harus kau hilangkan. Dalam dunia persilatan, hanya ada satu kalimat yang harus kau ingat. Dibunuh, atau membunuh! Camkan itu, Indranata!”

“Baik, Eyang.”

“Hm…” laki-laki tua berjubah putih itu mengalihkan pandangannya pada Intan Delima, kemudian kembali memandang Indranata yang tengah menundukkan
kepalanya. Indranata mengangkat kepalanya. Tatapan matanya langsung tertuju pada tatapan mata Eyang Watuagung. Seperti mengerti arti tatapan itu, Indranata bangkit berdiri, lalu menjura hormat.

“Pergilah istirahat, Indranata. Aku ada perlu dengan Intan sebentar. Ada yang ingin kukatakan padanya,” kata Eyang Watuagung pelan.

“Aku mohon diri, Eyang,” ucap Indranata seraya menjura hormat.

“Hm,” Eyang Watuagung hanya menggumam tidak jelas.

Indranata bergegas melangkah meninggalkan halaman luas berumput di depan pondok yang berada di Puncak Gunung Rangkas. Intan bangkit berdiri setelah Indranata lenyap di belakang pondok. Eyang Watuagung membalikkan tubuhnya dan berjalan pelan menjauhi pondok kecil itu. Intan Delima mengikuti dari belakang. Keningnya berkerut sedikit. Hatinya bertanya-tanya, apa yang akan dikatakan Eyang Watuagung padanya?

“Sudah berapa lama kau di sini?” tanya Eyang Watuagung setelah mereka berada di bibir tebing sangat curam.

Dari sini, mereka bisa memandang ke bagian Selatan Gunung Rangkas. Tampak sebuah perkampungan yang tidak begitu besar berdiri tidak jauh dari kaki gunung ini. Di situ hanya ada beberapa rumah yang letaknya cukup berjauhan.

“Entahlah! Aku tidak pernah mengingatnya,” sahut Intan setengah mendesah.

“Hm...,” Eyang Watuagung kembali bergumam tidak jelas.

Intan Delima semakin bertanya-tanya di dalam hatinya, dan berusaha mencari jawaban dari raut wajah laki-laki tua itu. Tapi jawaban yang diinginkannya sulit didapat, karena wajah Eyang Watuagung begitu datar dan sukar diterka. Hanya tatapan matanya saja yang menyiratkan sesuatu, namun sangat sulit untuk diartikan.

“Apa yang ingin Eyang katakan?” tanya Intan Delima tidak sabaran.

“Hhh.... Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Tiba-tiba saja aku teringat dengan mendiang ayahmu, yang juga murid kesayanganku,” kata Eyang Watuagung setelah menarik napas panjang.

Intan Delima kembali diam membisu. Dia memang tidak pernah lupa akan kematian ayahnya yang begitu tragis sebagai seorang laki-laki jantan dan ksatria. Apalagi untuk bisa melupakan lawan bertarung ayahnya, yaitu seorang pemuda tampan yang telah menorehkan tinta asmara di dasar hatinya yang paling dalam. Tidak mungkin Intan melupakan begitu saja. Sampai saat ini pun dia jelas terbayang, bahkan sampai kapan pun.

“Semula, kukira dia sudah mati di dasar jurang Tapi tidak kusangka, ternyata dia masih hidup dan mampu membunuh muridku,” ujar Eyang Watuagung setengah bergumam.

“Eyang! Aku sudah berusaha untuk melupakannya...,” kata Intan berdusta. Nada suaranya agak bergetar saat mengatakan itu.

“Benar kau akan melupakannya, Intan?” tanya Eyang Watuagung penuh selidik.

Intan Delima tidak segera manjawab, tapi hanya menunduk saja karena tidak mampu lagi membalas tatapan mata laki-laki tua berjubah putih di depannya. Dalam hati, dikutuki dirinya sendiri yang berani mendustai eyang gurunya ini.

“Aku tidak percaya kau akan melupakan semua itu, Intan. Aku tahu perasaanmu. Tapi aku tidak ingin menyalahkan siapa pun dalam hal ini. Kau berhak mencintainya meskipun orang yang kau cintai itu telah membunuh ayahmu sendiri. Itu hakmu, Intan. Tapi aku hanya ingin mengingatkan, bahwa orang yang kau cintai adalah seorang pembunuh kejam!” agak sedikit ditahan suara Eyang Watuagung.

“Eyang...,” suara Intan tertahan di tenggorokan. “Aku tak bermaksud mengajarkan atau membakar dendam pada dirimu, Intan. Hanya yang ingin kukatakan, bahwa semua yang telah terjadi hendaknya kau jadikan pelajaran berharga bagi dirimu sendiri. Kau seorang wanita, dan harus lebih bisa menjaga diri daripada laki-laki.”

Intan hanya menundukkan kepalanya saja. Hatinya jadi tidak menentu, dan kepalanya terasa pening. Kata-kata Eyang Watuagung seolah-olah sengaja menyingkap tirai kenangannya pada seorang pendekar gagah dan tampan, dengan tingkat kepandaian sangat tinggi. Orang yang sangat dicintai, tapi yang juga telah menghancurkan hati dan harapannya. Dia telah membunuh ayah kandungnya. Haruskah mesti dicintai...?



***


Pembicaraan Eyang Watuagung dan Intan Delima dilanjutkan terus sampai menjelang sore hari. Namun sampai sejauh ini Intan belum dapat menangkap maksud pembicaraan Eyang Watuagung yang mengungkit peristiwa di Kadipaten Jati Anom.

Intan Iebih banyak diam dan berbicara dengan dirinya sendiri di dalam hati. Semakin diingatnya semua kejadian itu, semakin disadari kalau ternyata ada kebencian di hatinya terhadap Pendekar Pulau Neraka. Tapi rasa benci itu segera pupus begitu perasaan cinta dan kerinduan melanda hatinya. Memang, Intan harus menghadapi dua pilihan yang sangat sulit.

“Selama kau berada di pondokku, latihanmu begitu giat dan tekun. Kesungguhanmu dalam berlatih tidak pernah kujumpai sebelum ini...,” ujar Eyang Watuagung seraya mengayunkan langkahnya kembali menuju ke pondok.

“Apakah aku salah, Eyang?” tanya Intan sambil mengikuti langkah laki-laki berjubah putih itu.

“Tidak! Sama sekali tidak! Justru aku senang jika kau bersungguh-sungguh ingin menyempurnakan jurus-jurusmu, bukan karena sebab-sebab lain yang tertanam di dalam hatimu,” jawab Eyang Watuagung, tapi masih sulit dimengerti.

“Aku tidak mengerti, Eyang.”

“Memang sulit untuk dimengerti, karena jawabannya ada pada dirimu sendiri. Sedangkan aku tidak tahu, apa yang ada di dalam hatimu saat ini. Hanya saja jika kau memiliki suatu maksud...,” Eyang Watuagung tidak melanjutkan.

“Eyang.... Apakah Eyang menyangka bahwa aku menyimpan dendam, begitu?” tebak Intan Delima masih menduga-duga.

Eyang Watuagung tidak menjawab, tapi hanya tersenyum. Ayunan kakinya tidak berhenti, meskipun pelahan-lahan sekali. Intan Delima semakin diliputi ketidakmengertian akan sikap eyang gurunya ini.

“Terus terang, Eyang. Aku memang membencinya, tapi juga mencintainya. Aku ingin punya kesempatan untuk bertarung secara jujur dengannya. Ini bukan dendam, juga bukan pelampiasan kebencian atau perasaan cinta. Aku hanya ingin menunjukkan kalau diriku bukan wanita lemah yang hanya bisa mengemis cinta dan perlindungan laki-laki,” tegas Intan.

“Kau berkata dari hatimu sendiri, Intan?” nada suara Eyang Watuagung seakan tidak percaya.

“Kalau Eyang tidak percaya, aku harus bicara apa lagi?” agak kesal juga Intan.

“Aku percaya padamu, Intan. Aku bangga jika kau punya pendirian seperti itu. Pendirian yang keluar dari dalam hati, bukan hanya di mulut saja.”

Intan kembali diam. Dia tahu kalau Eyang Watuagung tidak percaya dengan pendiriannya. Tapi dia sendiri memang tidak yakin dengan apa yang baru saja diucapkan. Yang jelas ketidakpercayaan gurunya bukan merupakan hambatan bagi Intan. Masalahnya dia sendiri memang belum tahu arah dan tujuannya saat ini.



***


Hampir seharian penuh Intan Delima duduk merenung di atas batu di pinggir sungai. Sebagian kakinya terayun-ayun ke dalam sungai, mempermainkan riak air yang mengalir jernih dari sumbernya di puncak gunung ini. Sejak matahari terbit tadi, sampai senja sekarang ini dia masih duduk merenung di atas batu yang menjorok ke tepi sungai. Pandangannya lurus menatap dasar sungai yang berbatu.

“Intan...!”

Intan menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Kembali dialihkan pandangannya ke dalam langsung begitu dilihatnya Indranata datang menghampiri. Pemuda berwajah cukup tampan dengan kulit sawo matang terbakar matahari ini, duduk di atas batu lain samping Intan Delima.

“Ada apa kau ke sini? Apakah kau membawa amanat Eyang untukku?” tanya Intan memberondong.

“Tidak! Aku memang sengaja mencarimu,” sahut Indranata tidak tersinggung dengan nada ketus gadis itu.

“Apa perlunya kau mencariku?” “Ngobrol.”

“Hhh...!” Intan mendesah panjang. Jawaban yang diberikan Indranata begitu mudah dan terdengar hanya alasan yang dibuat-buat saja. Intan tahu betul itu. Apalagi sejak kedatangannya di Puncak Gunung Rangkas ini, Indranata selalu mencari perhatian. Bahkan sikapnya sangat berlebihan. Hal-hal kecil pun juga diperhatikan. Intan tahu, kalau Indranata jatuh cinta padanya. Hanya saja pemuda itu tidak punya keberanian untuk mengucapkannya. Dan Intan sendiri tidak pernah memberi peluang terhadap pemuda itu.

“Dari pagi tadi aku mencarimu, Intan. Kau tidak latihan hari ini. Eyang Guru juga menanyakanmu. Aku tidak tahu kalau kau ada di sini,” kata Indranata lagi.

“Katakan saja pada Eyang, bahwa aku ingin istirahat dalam beberapa hari,” masih ketus nada suara Intan.

“Ada apa dengan dirimu, Intan. Kau kelihatan tidak....”

“Sudahlah, Indranata. Ini bukan urusanmu.

Biarkan aku sendiri di sini. Saat ini aku butuh ketenangan. Aku tidak suka berdebat denganmu. Mengertilah sedikit, Indranata,” kata Intan setengah memohon. Hilang keketusannya.

Indranata memandangi wajah gadis itu lekat-lekat. Keningnya sedikit berkerut. Tidak pernah dilihatnya Intan begitu murung, sampai betah duduk sendirian satu hari penuh. Intan memang selalu ber-wajah murung, sejak datang ke pondok di Puncak Gunung Rangkas ini. Tapi tidak separah ini! Kedatangannya waktu itu pun dalam keadaan tubuh tidak begitu sehat. Satu pekan penuh Eyang Watuagung merawatnya. Dan baru tiga purnama ini Intan mulai berlatih ilmu olah kanuragan langsung di bawah bimbingan Eyang Watuagung.

“Kau masih di situ, Indranata?” nada suara Intan setengah mengusir.

“Intan! Kau boleh susah dengan dirimu sendiri. Kau boleh punya persoalan apa saja. Aku tahu, kau membenci seseorang yang mungkin telah melukai hatimu. Tapi jangan limpahkan kebencian itu kepadaku,” ungkap Indranata mengeluarkan segala kekesalan yang selama ini ditahan.

Intan memang tidak pernah bersikap ramah terhadap Indranata. Kata-katanya selalu bernada ketus. Bahkan mereka jarang bicara kalau tidak sedang berlatih. Indranata sadar betul kalau Intan tidak menyukainya, bahkan mungkin membencinya. Tapi Indranata tidak ambil peduli. Malahan dia selalu bersikap manis, seolah-olah tidak tahu. Bahkan segala keperluan gadis itu dipenuhi hanya untuk mendapatkan sebuah senyuman. Tapi Intan tidak pernah memberi senyuman manis ya ng tulus. Senyumannya selalu dipaksakan dan pahit dirasakan. Terhadap sikap Intan yang demikian itu, bagi Indranata mulanya memang menyebalkan. Tapi setelah tahu siapa Intan Delima sebenarnya, sikapnya pun berubah. Dia tidak peduli lagi dengan sikap gadis itu yang tidak bersahabat. Bahkan sulit untuk menolak timbulnya perasaan simpati yang berkembang menjadi perasaan cinta, meskipun belum pernah diungkapkan secara terus terang.

“Kau seorang gadis cantik, anggun, dan suci di mataku, Intan. Seharusnya semua itu tidak kau rusak dengan sikapmu yang kekanak-kanakan. Bagiku bukan persoalan jika kau membenciku selamanya. Tapi cobalah berpikir secara dewasa. Kau tidak hidup sendirian di sini. Tidak mungkin kau dapat menyelesaikan segala persoalan seorang diri. Kau membutuhkan seorang teman yang dapat diajak bertukar pikiran, yang bisa mengerti dirimu, dan bisa menumbuhkan kembali semangat dalam dirimu,” ungkap Indranata lagi.

Intan masih diam membisu. Begitu pula dengan Indranata. Dirasakan semua yang dikatakannya hanya terbawa angin saja. Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepala menghadapi kekerasan hati gadis itu.

“Sudah selesai khotbahmu?” masih bernada sinis suara Intan.

“Edan! Hampir berbusa mulutku, masih kau anggap angin lalu saja!” dengus Indranata kesal. Indranata langsung bangkit berdiri dan melangkah pergi. Tapi baru saja berjalan beberapa langkah, dia kembali berhenti dan berbalik. Intan masih tetap duduk memandang ke dalam sungai.

“Eyang berpesan agar kau menemuinya malam nanti di bilik semadi!” kata Indranata lantang.

Sama sekali Intan tidak menyahut. Indranata kembali berbalik dan melangkah pergi. Intan tetap duduk di atas batu di tepi sungai itu hingga matahari benar-benar tenggelam di ufuk Barat. Dia baru beranjak meninggalkan tempat itu setelah keadaan menjadi gelap. Wajahnya tetap murung, dan ayunan kakinya sedikit gontai. Beberapa kali terdengar tarikan napasnya yang panjang dan berat.


***


Agak ragu-ragu juga Intan membuka pintu bilik semadi. Sore tadi Indranata mengatakan kalau dia dipanggil Eyang Watuagung di bilik semadi. Dan saat pulang tadi, Eyang Watuagung juga mengatakan hal yang sama. Tidak biasanya Eyang Watuagung memanggilnya ke dalam bilik semadi. Intan sempat terkejut begitu pintu bilik terbuka. Tampak Indranata telah duduk bersila di depan Eyang Watuagung yang mengenakan baju jubah putih dengan ikat kepala juga berwarna putih bersih. Intan mengayunkan kakinya melangkah masuk, kemudian duduk di samping Indranata tanpa sedikit pun menoleh pada pemuda itu.

“Lama sekali kau baru datang, Intan,” tegur Eyang Watuagung.

“Maaf, Eyang. Aku...,” Intan tidak melanjutkan kata-katanya, hanya ditundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Aku sengaja memanggil kalian ke bilik semadiku ini, karena ada sesuatu yang hendak kukatakan pada kalian berdua,” kata Eyang Watuagung langsung.

Intan dan Indranata hanya diam dengan kepala setengah tertunduk. Sementara Eyang Watuagung merayapi wajah yang tertunduk itu dalam-dalam.

“Besok, pagi-pagi sekali aku akan pergi. Dan....”

“Eyang...!” Intan tersentak, langsung mengangkat kepalanya.

“Dengarkan dulu, Intan. Aku belum selesai bicara.”

Intan Delima kembali terdiam.

“Kalian tidak perlu cemas. Aku pergi karena ada sesuatu yang harus kuselesaikan. Keperluanku sangat penting dan mendesak sekali. Memang berat untuk meninggalkan kalian yang belum menyelesaikan seluruh pelajaran. Tapi apa boleh buat, itu harus kulakukan,” kata Eyang Watuagung.

“Eyang, apa yang membuatmu harus pergi dengan tiba-tiba?” tanya Intan. “Aku mendapat kabar bahwa adikku telah kembali. Aku harus menemuinya.” sahut Eyang Watuagung.

Intan Delima langsung terlonjak. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi telah lebih dulu dicegah. Gadis itu hanya bisa diam dengan dada bergemuruh. Dia tahu, Siapa orang yang dimaksud Eyang Watuagung. Dan Intan juga sudah bisa menebak apa yang bakal terjadi. Hanya satu yang dikhawatirkan Intan. Saat ini Eyang Watuagung masih menderita luka dalam akibat pertarungannya dengan Pendekar Pulau Neraka. Meskipun Eyang Watuagung sudah berusaha menyembuhkannya, tapi Intan tahu kalau luka dalam itu belum seluruhnya hilang. Bahkan mungkin tidak akan hilang sampai ajal merenggutnya. Dan kini Eyang Watuagung akan menghadapi sesuatu yang sulit dibayangkan jadinya.

“Satu pesanku lagi untuk kalian berdua,” lanjut Eyang Watuagung. “Seandainya aku tidak kembali dalam waktu tiga purnama, kalian berdua tidak usah mencariku. Aku lebih senang jika kalian menganggapku sudah mati.”

“Eyang...!” kembali Intan tersentak.

Eyang Watuagung tersenyum lembut. Namun senyumnya seperti sangat dipaksakan. Tangannya yang sejak tadi berada di atas sebuah kotak kayu berukir berwarna hitam pekat, kini berusaha membuka tutupnya. Dikeluarkannya dua buah pedang pendek berwarna hitam dengan gagang berbentuk kepala naga dan sebuah kitab bersampul hitam pula.

“Pedang ini bernama Naga Hitam Kembar. Sedangkan kitab ini bernama Kitab Naga Kembar,” kata Eyang Watuagung seraya meletakkan benda-benda pusaka itu di atas tutup kotak kayu di depannya. Intan menyipitkan kedua matanya memandang benda-benda pusaka itu. Benda-benda pusaka dan keramat itu memang tidak pernah dikeluarkan Eyang Watuagung sebelumnya. Bahkan muridnya yang terdahulu saja, yaitu ayah Intan Delima, belum pernah melihat, meskipun telah mendengarnya.

“Benda pusaka ini kuserahkan pada kalian berdua! Selama aku pergi, pelajari dan kuasailah jurus-jurus 'Naga Kembar'. Sudah kalian pelajari dasar-dasarnya dan kitab ini akan menjadi penuntun kalian selama mempelajari jurus-jurus 'Naga Kembar',” kata Eyang Watuagung lagi.

Laki-laki tua berjubah putih itu menyerahkan sebuah pedang yang berada di sebelah kanannya kepada Indranata. Dan sebuah pedang lagi diserahkan pada Intan Delima. Sementara Kitab Naga Kembar diserahkan pada Indranata yang menerirna dengan sikap penuh hormat.

“Jika kalian sudah menguasai jurus-jurus 'Naga Kembar', musnahkanlah kitab itu. Dan jangan kalian lupa, pedang yang kalian miliki tidak dapat digunakan secara terpisah. Jadi, selama masih memegang pedang itu, kalian harus selalu bersatu. Mengapa demikian? Nanti akan kalian ketahui jika telah menguasai jurus-jurus 'Naga Kembar',” lanjut Eyang Watuagung.

Intan melirik pemuda di sampingnya. Pada saat yang sama, Indranata pun melirik pada gadis itu. Intan buru-buru membuang mukanya.

“Pergilah kalian beristirahat,” kata Eyang Watuagung lagi.

Laki-laki tua berjubah putih itu memandang dua orang muda itu meninggalkan bilik semadi ini. Sebentar dia masih duduk bersila di atas altar semadi yang terbuat dari batu pipih berbentuk persegi. Kemudian matanya mulai terpejam, sedangkan telapak tangannya menempel pada lutut. Eyang Watuagung mulai bersemadi untuk mengembalikan kembali kondisi tubuhnya. Sejak pertarungannya dengan Pendekar Pulau Neraka, dia sering bersemadi.

“Ugh! Dada ini...!” keluhnya dalam hati.


***


“Eyang...!”

Intan Delima membuka pintu bilik semadi. Sejenak dia tertegun mendapati altar semadi telah kosong. Tidak ada lagi Eyang Watuagung di dalam bilik. Pelahan-lahan gadis itu melangkah masuk. Matanya beredar merayapi seluruh sudut bilik yang berukuran tidak begitu luas ini. Matahari belum lagi terbit, tapi Eyang Watuagung sudah pergi.

“Eyang...,” lirih suara Intan. Intan duduk di atas akar semadi. Diangkat kepalanya ketika mendengar langkah kaki memasuki bilik. Tatapan matanya kosong ke arah Indranata yang berdiri di ambang pintu bilik. Pemuda itu juga memandang lurus pada Intan dengan sinar mata kosong. Sesaat mereka hanya saling pandang saja.

“Belum pernah Eyang pergi dengan meninggalkan banyak pesan,” kata Intan lirih, memecahkan kebisuan.

“Eyang pasti kembali dalam waktu tiga purnama, kata Indranata mencoba membesarkan hati gadis itu.

“Hhh! Kau hanya menghibur saja, Indranata, Intan tersenyum sinis.

“Ya, kau memang perlu dihibur. Aku yakin kala hatimu yang kosong pasti membutuhkan seseorang untuk menghibur dan mengisinya kembali,” sahut Indranata datar.

Intan Delima bangkit berdiri, kemudian bergegas melangkah keluar dari bilik semadi itu. Indranata menyusul dan menggamit pergelangan tangan gadis itu. Intan berusaha menyentakkannya, tapi cekalan Indranata begitu kuat. Gadis itu berbalik dan menatap tajam pada pemuda itu, maka Indranata pun melepaskan cekalannya.

“Kau benar-benar kepala batu, Intan!” dengus Indranata gusar. “Apa kau lupa dengan pesan-pesan Eyang Watuagung semalam? Kau boleh membenciku tanpa alasan, tapi jangan abaikan amanat Eyang Watuagung!”

Intan diam membisu. Dalam hati diakui kalau kata-kata Indranata benar. Lagi pula sungguh tak beralasan jika harus membenci pemuda itu. Indranata tidak pernah berbuat salah sedikit pun terhadap dirinya. Bahkan belum pernah dia melukai hatinya, apa lagi menyakitinya. Mengapa harus membenci pemuda itu?

Kata-kata Indranata kemarin sore kembali terngiang-ngiang di telinga gadis itu. Sangat jelas, dan tidak bisa dibantah sedikit pun. Dia memang tidak punya alasan sama sekali. Tapi yang jelas, dia membenci Indranata hanya karena meluapkan kekesalan dan kekecewaan hati terhadap Bayu. Sedangkan Indranata hanya jadi korban dari perasaan hatinya. Perasaan kekanak-kanakannya. Intan mendesah pelan. Terseliplah rasa sesal dan malu pada pemuda itu. Memang tidak seharusnya membenci Indranata yang telah begitu baik dan selalu memperhatikannya.

“Aku sudah membacanya semalam. Sekarang, giliranmu untuk membaca dan memahami isinya!” kata Indranata seraya menyerahkan Kitab Naga Kembar.

Intan memandangi sesaat kitab berwarna hitam pekat itu, kemudian menerimanya dengan tangan bergetar. Indranata langsung berbalik dan melangkah ke tengah-tengah halaman depan pondok. Intan memandangi pemuda itu. Hatinya diliputi berbagai macam perasaan yang tak terungkapkan.

“Kakang...,” pelan dan agak bergetar suara Intan memanggil.

Indranata menghentikan langkahnya. Pelahan-lahan dia berbalik menghadap pada gadis itu. Tampak bibir Intan Delima bergetar, seolah-olah ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara sedikit pun meluncur dari bibirnya yang bergetar.

“Ada apa?” tanya Indranata tanpa gairah.

“Maafkan aku,” ucap Intan pelan. Begitu pelannya sehingga hampir tidak terdengar suaranya.

“Ah, sudahlah! Tidak ada yang perlu dimaafkan,” kata Indranata.

“Katakanlah, Kakang. Maukah kau memaafkan aku?” desak Intan.

“Kau sudah memanggilku Kakang. Dan itu sudah cukup menyenangkan hatiku, Intan,” kata Indranata.

“Oh! Terima kasih, Kakang.” Indranata tersenyum.

Intan melangkah menghampiri dan mengajak pemuda itu duduk di tangga beranda pondok. Indranata tidak menolak. Mereka kini duduk berdampingan tanpa ada kata-kata yang terucap untuk beberapa saat lamanya. Pandangan mereka lurus ke depan.

“Kau membenciku, Kakang?” tanya Intan pelan.

“Tidak ada alasan untuk membencimu,” jawab Indranata juga pelan.

“Aku selalu membencimu, tapi kau tidak pernah membenciku. Ah, kau baik sekali...,” suara Intan tengah mendesah.

Indranata memandang wajah gadis di sampingnya. Sedangkan Intan tetap memandang lurus ke depan. Sinar matanya begitu kosong, tidak bermakna sedikit pun.

“Intan! Mengapa kau membenciku selama ini?” tanya Indranata ragu-ragu.

“Seperti yang pernah kau katakan sore kemarin. Aku sendiri tidak tahu, kenapa aku membencimu. Yah..., mungkin kau benar, Kakang. Aku hanya melampiaskan perasaanku saja,” sahut Intan.

“Aku sebenarnya sedikit tahu tentang dirimu dari Eyang Guru Watuagung. Tapi aku tidak tahu, persoalan yang kau hadapi hingga kau lampiaskan padaku,” kata Indranata mulai mengorek.

“Aku malu mengatakannya, Kakang,” sahut Intan polos.

“Kenapa harus malu? Katakan saja, mungkin aku dapat membantu meringankan bebanmu.”

Intan menarik napas panjang-panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. Berat rasanya untuk menceritakan semua yang telah terjadi pada dirinya. Tapi akhirnya diceritakannya juga. Dan tentu saja dengan menutupi hubungan intimnya bersama Pendekar Pulau Neraka. Dia memang lupa dara tan, sehingga menyerahkan mahkota satu-satunya yang paling berharga bagi dirinya! Sesuatu yang tidak mungkin didapatkannya kembali!


***


Hari-hari kini dilalui dua anak manusia yang masih muda itu dengan berlatih tekun mengikuti petunjuk yang tertulis dalam Kitab Naga Kembar. Saat-saat luang dihabiskan untuk mengenal diri masing-masing. Kini mereka mulai saling terbuka dalam beberapa hal. Hanya saja masih ada sesuatu yang masih disembunyikan Intan Delima.

“Kakang, kau belum menceritakan awal pertemuanmu dengan Eyang Watuagung,” kata Intan di saat mereka tengah beristirahat setelah berlatih keras.

“Oh, ya...?”

“Iya.”

“Baiklah,” desah Indranata.
Intan diam menunggu sabar.
“Aku bertemu Eyang Watuagung ketika berusia lima belas tahun. Waktu itu, keadaan desaku tengah dilanda kekacauan. Seorang tokoh rimba persilatan datang lalu membuat onar. Ilmunya sangat tinggi, dan tidak ada yang dapat menandingi...,” Indranata mulai bercerita tentang hidupnya.

“Lalu?” Intan mulai tidak sabaran.

“Tokoh digdaya itu sebenarnya hanya mencari kepala desa. Sedangkan kami semua sangat mencintai kepala desa karena selalu membela kepentingan orang banyak. Beliau selalu bertindak adil, tidak memandang golongan. Baik kaya atau pun miskin, sama saja di matanya.”

“Lalu?”

“Kami semua tak rela jika orang gila itu membunuh beliau. Tapi akhirnya, kekhawatiran kami menjadi kenyataan. Malam itu terjadi kegemparan dirumah kepala desa. Benar saja. Orang gila itu telah membunuh kepala desa, dan orang-orang yang mencoba menghalanginya. Tidak sedikit pendekar yang tewas. Bahkan para penduduk pun menjadi korban, termasuk ayahku,” semakin pelan suara Indranata.

“Lalu, di mana kau bertemu dengan Eyang?” tanya Intan.

“Kematian Ayah membuatku kehilangan kendali. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Ibu meninggal ketika aku masih berusia tiga tahun. Kemudian kuputuskan untuk pergi mengembara. Tapi belum berapa jauh meninggalkan tanah kelahiran, malapetaka kembali menimpa. Sekelompok orang telah merampok semua harta yang kumiliki. Tidak berhenti sampai di situ, aku pun dianiaya hingga hampir mati. Untungnya, Eyang Watuagung cepat datang menolong dan membawaku ke sini. Sejak itulah aku tinggal di sini, menuntut ilmu dari Eyang Watuagung.”

“Malang sekali nasibmu, Kakang,” ucap Intan lirih.

“Kemalangan bukan untuk disesali, Intan. Tapi untuk direnungi dan diambil hikmahnya. Semua yang telah terjadi terhadap diriku merupakan suatu pelajaran yang sangat berharga.”

“Kau meniru kata-kata Eyang, Kakang.”
“Semua yang dikatakan Eyang, tidak pernah kulupakan. Kata-katanya merupakan api semangat yang selalu menyulut pelita kehidupanku, Intan. Di sini kutemukan kembali arti kehidupan, semangat dan masa depanku. Aku sangat berhutang budi pada Eyang Watuagung. Hutang yang tidak mungkin dapat terbalaskan sepanjang sisa hidupku.”

“Kau merasa berhutang budi pada Eyang Watuagung, tapi kenapa kau tidak bersamanya pada saat Eyang menghadapi bahaya?”

“Eyang sudah mengatakan yang benar, Intan. Dan itu harus kupatuhi. Aku yakin Eyang bisa mengatasi persoalannya tanpa harus ada campur tanganku. Aku sangat menghormatinya, dan tidak mungkin melanggar perintahnya.”

“Kau murid yang setia dan taat, Kakang. Tidak heran kalau Eyang begitu menyayangimu. Bahkan aku sempat iri melihat kasih sayangnya padamu.”

“Ah! Kau hanya membesarkan hatiku saja, Intan.

“Aku mengatakan yang sebenarnya, Kakang.

Semua ilmu yang kau miliki tidak seluruhnya kumiliki juga.”

“Intan, hal itu jangan kau jadikan rasa dengki! Aku yakin, Eyang Watuagung mempunyai pertimbangan lain, mengapa beberapa ilmu tidak diturunkan kepadamu. Dan juga harus kau ingat, beberapa ilmu yang kau miliki belum tentu dapat kumiliki! Tapi hal itu tidak membuatku berkecil hati. Karena aku melihat beberapa ilmu yang tidak kau kuasai, memiliki keistimewaan tersendiri. Begitu pula sebaliknya. Bahkan bila digabungkan dengan kerjasama yang baik, akan menghasilkan ilmu yang dahsyat.”

“He! Dari mana kau tahu?” Intan terkejut.

“Kau sudah baca semua yang tertuang di dalam Kitab Naga Kembar?” Indranata balik bertanya.

Intan tidak langsung menjawab. Memang kitab itu belum dibaca seluruhnya. Malahan sebagian yang dibaca belum dapat dipahami betul. Terlalu sulit untuk mencernanya seorang diri.

“Kau melalaikan amanat Eyang Watuagung, Intan,” nada suara Indranata seperti menyesalkan.

“Maaf, Kakang. Aku tidak bisa terlalu cepat memahami. Terlalu sulit bagiku,” Intan mengakui terus terang.

“Ah, sudahlah! Ayo kita berlatih lagi. Malam nanti aku akan membantumu memahami isi Kitab Naga Kembar. Ingat, Intan. Waktu yang diberikan hanya tiga purnama. Waktu yang tidak panjang.”

Baru saja Intan akan mengatakan sesuatu, tiba-tiba....

“Awas...!” seru Intan Delima.


***


Sebatang anak panah tiba-tiba melesat cepat ke arah Indranata. Seketika itu juga Intan menggenjot tubuhnya dan menangkap anak panah berwarna hijau itu. Tapi, belum juga berhasil menjejak tanah, dua batang tombak melesat cepat bagai kilat ke arah Intan.

“Hiyaaa...!”

Indranata melompat cepat sambil menggerakkan kedua tangannya.

Trak! Trak!

Tombak itu langsung patah kena sampokan keras bertenaga dalam.
Indranata menjejakkan kakinya tepat di samping Intan Delima. Tangannya merebut anak panah di genggaman gadis itu. Wajah Indranata langsung memerah ketika melihat goresan kilat pada batang panah hijau itu.

“Keparat...!” geram Indranata.

“Ada apa, Kakang?” tanya Intan.

“Hhh! Rupanya dia masih mencariku!” sahut Indranata mendesis.

“Ha ha ha...!”

Intan dan Indranata agak terperanjat begitu mendengar suara tawa menggelegar bagai hendak menghancurkan alam ini. Suara tawa itu demikian keras memekakkan telinga. Intan dan Indranata segera mengerahkan hawa murni dan menutup pendengarannya. Suara tawa itu jelas disalurkan dengan pengerahan tenaga dalam cukup tinggi. Indranata menggerak-gerakkan kedua tangannya
turun naik di depan dada dengan cepat. Kedua kakinya dipentang lebar setengah tertekuk. Kemudian, sambil berteriak keras, tangannya terangkat tinggi-tinggi di utas kepala.

“Hiyaaa...!”

Suara tawa itu langsung terhenti, bersamaan dengan terdengarnya ledakan dahsyat, setelah tangan Indranata menghentak ke depan. Sebongkah batu besar di balik pepohonan, hancur seketika terhantam pukulan jarak jauh bertenaga dalam cukup tinggi. Dari bongkahan batu dan kepulan debu, nampak berkelebat satu bayangan hijau. Seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun, tahu-tahu sudah berdiri di depan Indranata dan Intan Delima. Seluruh pakaiannya berwarna hijau. Di pinggangnya tergantung sekantung anak panah. Tapi anehnya tidak membawa busur! Laki-laki aneh itu menatap tajam pada Indranata. Sedangkan Intan Delima memperhatikan tanpa berkedip.

“Siapa dia, Kakang?” tanya Intan tanpa menoleh

“Setan Panah Hijau...,” sahut Indranata.
Laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun dan berjuluk Setan Panah Hijau sebenarnya adalah bekas penjahat yang telah merampok Indranata dulu. Suatu saat, Indranata berhasil mempermalukannya di depan anak buahnya, setelah dia cukup mendapat ilmu dari Eyang Watuagung. Oleh karena diliputi rasa dendam, Setan Panah Hijau pun mencari Indranata sampai di mana pun.

“He he he.... Kau masih mengenaliku, Indranata?”

si Setan Panah Hijau terkekeh. Suaranya terdengar kering dan serak.

“Sampai kapan pun aku tidak lupa!” sahut Indranata dingin.

“Bagus! Itu berarti kau sudah siap ke neraka!”

Setelah berkata demikian, Setan Panah Hijau langsung melompat menerjang. Dua pukulan keras beruntun dilayangkan ke tubuh Indranata. Namun dengan manis, pemuda itu mengelakkannya. Sementara Intan Delima menyingkir beberapa tombak
jauhnya.

“Bagus! Tidak sia-sia kau berguru, Bocah!” sindir Setan Panah Hijau. “Hup! Hiyaaa...!”

“Hih!”

Indranata melompat mundur ketika Setan Panah Hijau mencabut dua batang anak panah, dan langsung dilontarkan ke arah pemuda itu. Indranata meliuk-liukkan tubuhnya menghindari terjangan dua anak panah yang berwarna hijau itu. Melihat dua senjatanya luput dari sasaran, Setan Panah Hijau kembali melontarkan panah-panahnya dengan cepat dan beruntun. Namun Indranata bukanlah pemuda kosong. Dengan manis dihindarinya serbuan anak panah hijau itu. Tentu saja hal ini membuat Setan Panah Hijau jadi berang. Sampai panahnya habis, tidak satu pun yang berhasil menemui sasaran.

“Awas kepala...!” teriak Indranata tiba-tiba.

Seketika itu juga Indranata melentingkan tubuhnya ke atas, dan meluruk cepat menyambar kepala Setan Panah Hijau.

“Uts!”

Setan Panah Hijau merunduk. Tapi tanpa diduga sama sekali, kaki Indranata menyepak keras punggungnya. Setan Panah Hijau mengumpat, merasakan nyeri pada tulang punggungnya. Buru-buru dia berbalik. Tapi, tangan Indranata lebih cepat lagi menggedor keras disertai pengerahan tenaga dalam penuh ke arah dada.

“Akh...!” Setan Panah Hijau memekik keras. Pada saat tubuh Setan Panah Hijau terjajar ke belakang, Indranata melompat cepat sambil mencabut pedangnya.

Sret!
“Hiyaaa...!”

“Aaa...!”

Pedang di tangan Indranata lantas saja menusuk dada Setan Panah Hijau hingga hampir tembus ke punggungnya! Darah muncrat keluar dari dada yang menganga tertembus pedang itu. Hanya sekali tendangan saja, tubuh si Setan Panah Hijau menggelepar di tanah. Indranata pun segera menyarungkan kembali pedangnya di pinggang. Matanya tajam menatap Setan Panah Hijau yang menggelepar bersimbah darah. Dan akhirnya, mati.


***


Waktu terus berjalan dengan pasti. Hari berganti hari, sejalan dengan peredaran matahari. Dua anak manusia di Puncak Gunung Rangkas semakin terlihat akrab. Ke mana-mana selalu berdua. Mereka sudah mengenal diri masing-masing, meskipun masih disadari kalau tidak semuanya dapat diungkapkan secara langsung. Jelas masih ada sesuatu yang harus dirahasiakan.

Namun masing-masing tidak ingin menuntut untuk harus terbuka dalam berbagai hal. Mereka terus mendalami jurus-jurus 'Naga Kembar'. Semakin dikuasai, mereka semakin yakin kalau, jurus-jurus simpanan Eyang Watuagung memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Lebih-lebih setelah Pedang Naga Kembar digunakan. Hasilnya, jurus-jurus mereka semakin dahsyat. Jadi, yang dikatakan Eyang Watuagung memang benar. Jurus-jurus yang mereka pelajari selama ini adalah dasar dari jurus 'Naga Kembar. Dan mereka kini semakin merasakan adanya suatu keterikatan yang sulit dipisahkan satu sama lain.

Siang itu, udara di Puncak Gunung Rangkas panas luar biasa. Langit tampak mendung tersaput awan hitam, tapi udaranya begitu menyengat. Intan keluar dari dalam pondok, mencoba mencari angin. Rasanya seperti berada di dalam tungku saja jika terus-menerus di dalam pondok. Langkah kakinya terayun menghampiri Indranata yang tengah duduk bersandar di bawal sebuah pohon yang cukup besar dan rindang. Pemuda itu begitu tekun membaca sebuah buku.

“Buku apa yang kau baca?” tanya Intan setelah dekat jaraknya dengan Indranata.

“Sastra. Mau baca?” Indranata mengangkat kepalanya sedikit.

“Males, ah! Aku tidak suka baca sastra,” sahut Intan seraya menempatkan dirinya di depan pemuda itu,

“Sastra itu penting untuk pedoman hidup, Intan.”

“Ah! Lagakmu seperti seorang pujangga saja,” rungut Intan mencibir.

“Tapi aku tidak ingin jadi pujangga. Yang kuinginkan hanyalah menjadi resi. Aku ingin seperti Eyang Watuagung.”

“Aneh...,” gumam Intan pelan.

“Apanya yang aneh?”

“Keinginanmu itu.”

Indranata hanya tersenyum saja. Memang bagi kebanyakan orang, keinginan menjadi resi masih dianggap sesuatu yang aneh. Sedikit sekali orang yang berkeinginan menjadi resi atau pertapa, yang selalu menyepi meninggalkan segala nafsu duniawi. Lebih-lebih dalam usia muda seperti Indranata ini. Kalaupun ada pemuda yang masuk ke kuil atau pertapaan, pada akhirnya bukan untuk menjadi resi. Mereka hanya sekedar menuntut ilmu. Dan biasanya, mereka akan keluar begitu selesai menamatkan pelajarannya.

Indranata dan Intan mengangkat kepala hampir berbarengan ketika muncul seseorang menghampiri. Mereka lantas bangkit berdiri dan menunggu. Orang itu semakin dekat dan membungkukkan badannya begitu sampai di depan dua orang muda itu. Intan memandang laki-laki berusia sekitar tujuh puluh tahun itu. Tatapan matanya sedikit tajam dan penuh selidik.

“Maaf. Apakah Eyang Watuagung ada?” tanya laki-laki tua itu penuh rasa hormat.

“Bapak siapa?” tanya Intan.

“Aku datang dari Desa Sirna Galih. Namaku KiAdong,” laki-laki tua itu memperkenalkan diri.

“Apa keperluan Ki Adong mencari Eyang
Watuagung?” tanya Indranata.

“Kami memang sangat memerlukannya, Kisanak,” jawab Ki Adong.

“Sayang sekali, Eyang Watuagung sedang pergi. Kira-kira sudah tiga pekan ini,” jelas Intan.

“Oh...,” Ki Adong mengeluh lesu.
Intan memandangi wajah laki-laki tua itu. Wajah yang semula penuh harap, kini berubah lesu tanpa semangat. Gadis itu menatap pada Indranata yang juga sedang memandang ke arahnya. Sesaat mereka saling melempar pandang. Kemudian sama-sama mengalihkan pandangan kembali ke arah laki-laki tua di depan mereka.

“Ada yang bisa kami bantu, Ki?” lembut suara Intan.

“Aku tidak tahu pasti, apakah kalian mampu. Kami semua mengharapkan kehadiran Eyang Watuagung.

Tolong tunjukkan, di mana beliau berada?”

“Eyang Watuagung tidak mengatakan hendak pergi ke mana. Tapi kalau Ki Adong percaya, kami bisa mewakilinya. Kami adalah murid Eyang Watuagung,”
kata Indranata tetap lembut dan ramah.

Ki Adong menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan Intan dan Indranata kembali saling lempar pandangan. Sesaat tidak ada yang bicara. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Namun wajah laki-laki tua yang berpakaian lusuh dan kotor berdebu itu semakin kelihatan lesu tanpa gairah.

“Sudah kuduga sejak semula. Seharusnya aku memang tidak perlu jauh-jauh datang ke sini. Eyang Watuagung banyak yang membutuhkan, dan tidak mungkin beliau berada di dua tempat dalam waktu yang singkat,” kata Ki Adong pelan setengah bergumam. Dia seperti bicara pada dirinya sendiri.

“Boleh kami tahu, persoalan apa yang sedang Anda hadapi?” tanya Indranata tetap ramah.

“Hanya Eyang Watuagung yang bisa menyelesaikannya. Maaf, sebaiknya aku segera kembali sebelum keadaan semakin bertambah buruk,” ujar Ki Adong segera berbalik.

“Tunggu...!” cegah Indranata.

Tapi Ki Adong terus saja melangkah. Indranata akan mengejar, namun Intan sudah keburu mencekal tangannya. Laki-laki tua berusia cukup lanjut itu terus melangkah lesu. Wajahnya tertunduk seperti kehilangan semangat.
“Kelihatannya ia benar-benar membutuhkan pertolongan Eyang Watuagung,” kata Indranata.

“Kelihatannya memang begitu,” gumam Intan.

“Kau tahu, di mana letak Desa Sirna Galih?” tanya Indranata.

“Untuk apa?”

“Aku yakin, pasti ada sesuatu yang sedang terjadi di sana.”

“Kalau iya, kau mau apa?”

“Ki Adong datang atas nama warga desa itu, dan tampaknya sangat mengharapkan sekali kehadiran Eyang Watuagung. Rasanya tidak mungkin jika tidak terjadi apa-apa.”

“Mengapa harus ikut campur? Dia sendiri tidak memandang sedikit pun pada kita. Nada suaranya meremehkan sekali.”

“Intan, jangan bersikap begitu. Aku tahu, dia tidak bermaksud meremehkan. Dia hanya memerlukan Eyang Watuagung, lalu kecewa karena yang diharapkan tidak ada. Mungkin rasa kecewanya membuatnya jadi bersikap begitu.”

Intan hanya mengangkat bahunya saja.

“Kau tahu letak Desa Sirna Galih?” tanya Indranata lagi.

“Tidak jauh dari Kadipaten Jati Anom. Desa itu memang masih termasuk wilayah Kadipaten Jati Anom,” sahut Intan acuh.

“Hanya satu hari perjalanan dengan kuda. Tidak terlalu jauh,” gumam Indranata.

“Mau apa sih?”

“Aku akan ke sana! Mungkin ada yang dapat kulakukan di sana.”

“Edan! Kita belum sempurna menguasai ilmu 'Naga Kembar', bagaimana mungkin dapat meninggalkan tempat ini, Kakang? Sedangkan Eyang berpesan agar jangan pergi sebelum batas waktu tiga purnama. Pokoknya, Eyang tidak mengijinkan kita pergi sebelum menguasai penuh jurus-jurus 'Naga Kembar', meskipun sampai tahunan!”

“Eyang Watuagung selalu meninggalkan kepentingan pribadi jika ada orang yang datang meminta bantuannya. Aku yakin, Eyang tidak akan marah,”' bantah Indranata.

“Terserah kaulah...,” Intan menyerah.
Kata-kata Indranata memang benar. Intan pun menyerah tanpa mampu mendebat lagi. Dia memang tidak pernah menang jika berdebat dengan Indranata.

Apalagi kalau berkaitan dengan ucapan, tingkah laku, serta kebiasaan-kebiasaan Eyang Watuagung. Intan memang tidak begitu mengenal tentang diri Eyangnya itu yang diketahuinya, dirinya adalah cucu Eyang Watuagung. Sebelumnya belum pernah Intan tinggal begitu lama bersama Eyang Watuagung di tempat yang sepi dan menyendiri. Sedangkan Indranata, entah sudah berapa tahun hidup bersama laki-laki tua Itu.

“Aku akan siapkan kuda. Hari ini juga kita berangkat,” kata Indranata.

“Hey...!” Intan terkejut.

“Kenapa? Kau akan melarang lagi?”

“Ini sudah hampir sore. Kalau berangkat sekarang, bisa tengah malam baru tiba di sana.”

“Baiklah. Besok pagi-pagi sekali kita harus berangkat,” kali ini Indranata yang mengalah, karena memang tidak tahu letak Desa Sirna Galih.

“Lalu, bagaimana dengan Kitab Naga Kembar?” tanya Intan.

“Simpan di tempat yang aman,” sahut Indranata.

Lagi-lagi Intan hanya mengangkat bahunya saja.


***


Tiga
Kadipaten Jati Anom tampak sepi lengang. Kesunyian sangat terasa menyelimuti sekitarnya. Tidak terdengar lagi canda dan tawa ceria anak-anak bermain. Tidak juga terdengar gadis-gadis bersenda gurau di sungai. Bahkan ladang-ladang tampak sepi tanpa seorang pun yang menggarap. Kadipaten Jati Anom kini bagaikan sebuah kota mati tak berpenghuni.

Sayup-sayup terdengar derap langkah kaki kuda dari arah Utara. Kemudian terlihat debu mengepul ke udara. Suara kaki kuda dipacu semakin jelas terdengar mengusik kesunyian ini. Dari kepulan debu yang menggumpal, muncul seekor kuda yang berpacu cepat membawa seorang laki-laki tua berjubah putih. Kuda hitam pekat itu terus berlari memasuki jalan utama kadipaten ini.

“Hiya! Yeaaah...!”

Dari balik pintu dan jendela rumah di sepanjang jalan utama Kadipaten Jati Anom ini, bersembulan kepala-kepala manusia. Kuda yang berlari cepat bagai dikejar setan itu sempat menimbulkan perhatian para penduduk. Laki-laki tua berjubah putih yang tengah menunggang kuda itu menghentikan laju kudanya tepat di tengah-tengah jalan yang langsung menuju keistana kadipaten. Sepasang bola matanya yang tajam mengamati keadaan sekitarnya.

“Hm...,” gumamnya tidak jelas.

Dari salah satu rumah, muncul seorang laki-laki bertubuh gemuk dengan kepala setengah botak. Sebentar laki-laki gemuk itu merayapi penunggang kuda Itu, lalu berlari menghampiri. Penunggang kuda itu melompat turun, sedangkan laki-laki gemuk berkepala agak botak itu segera berlutut memeluk kaki yang tertutup jubah putih longgar.

“Eyang...,” laki-laki gemuk berkepala setengah botak itu merintih lirih.

“Bangunlah.”

Laki-laki gemuk itu bangkit berdiri. Dari tiap rumah sekitar jalan itu bermunculan orang-orang, laki-laki, perempuan, tua, dan muda. Bahkan anak-anak pun ikut keluar dari dalam rumahnya masing-masing. Mereka langsung merubungi laki-laki tua berjubah putih yang kini berdiri tak jauh dari kuda hitam itu. Laki-laki berjubah putih yang ternyata adalah Eyang Watuagung itu merayapi para penduduk yang mendatanginya dengan wajah lesu tanpa gairah hidup. Mereka merubung dengan kepala tertunduk. Eyang Watuagung menarik napas panjang dan berat. Perhatiannya tertuju pada laki-laki gemuk berkepala setengah botak didepannya. Orang itu juga menundukkan kepalanya dengan tangan didepan.

“Waraketu! Bukankah seharusnya kau berada diIstana sampai pengganti Adipati Rakondah datang?” tanya Eyang Watuagung.

“Benar, Eyang. Seharusnya aku memang berada diistana kadipaten. Tapi...,” laki-laki gemuk yang dipanggil Waraketu itu menghentikan kata-katanya.

“Kenapa?”

“Perubahan besar terjadi setelah Eyang pergi dari kadipaten ini.”

“Maksudmu?”

“Pendekar Pulau Neraka datang lagi bersama orang-orangnya. Mereka menguasai istana dan membuat peraturan-peraturan yang sangat memberatkan. Bahkan yang berani menentang langsung dihukum mati di tempat itu juga,” jelas Waraketu.

“Benar, Eyang. Bahkan utusan kerajaan yang membawa pengganti adipati dibantai habis,” celetuk salah seorang yang berada di belakang Waraketu.

“Mereka sangat kejam, Eyang!” celetuk salah seorang lagi.

“Pendekar Pulau Neraka...,” desis Eyang Watuagung.

Laki-laki tua berjubah putih itu mengangkat kepalanya ketika tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk. Para penduduk yang berkerumun, serentak berlarian sambil berteriak ketakutan. Tampak beberapa tubuh berpentalan ke udara dengan darah mengucur deras. Teriakan ketakutan ditingkahi jerit dan pekik kematian mewarnai keadaan di Kadipaten Jati Anom ini. Eyang Watuagung segera melompat begitu matanya melihat tiga orang bertampang kasar dan bengis mengamuk, memporak-porandakan kerumunan penduduk.

Lesatan Eyang Watuagung begitu cepat, disertai kiriman sebuah tendangan keras pada salah seorang yang tengah mengamuk itu. Orang itu langsung terpental, tidak menduga akan ada serangan begitu cepat dan tiba-tiba. Dua orang lagi serentak melesat mundur setelah melihat temannya tergeletak dengan kepala pecah. Bola mata mereka bersinar merah menyala melihat seorang laki-laki tua berjubah putih tahu-tahu sudah berdiri tegak dengan sikap menantang. Sementara para penduduk langsung menyingkir, masuk ke rumahnya masing-masing. Mereka harus mengintip dari balik lubang pintu dan jendela. Hanya beberapa saja yang masih berada diluar rumah, tapi tarjarak agak jauh. Mereka adalah bekas para prajurit dan pembesar kadipaten.

“Setan! Berani kau membunuh teman kami, heh!” geram salah seorang.

“Membunuh kalian bukan pekerjaan yang sulit,” dingin suara Eyang Watuagung.

“Monyet! Kau harus bayar mahal nyawa temanku!”

“Seharusnya kalian yang membayar nyawa mereka yang tidak berdosa.”

“Kurang ajar! Kubunuh kau! Hiyaaa...!”

Eyang Watuagung memiringkan tubuhnya ke kiri ketika salah seorang melompat sambil mengayunkan goloknya. Tebasan golok itu hanya lewat di depan dadanya. Dan pada saat itu, dengan kecepatan kilat, tangan kanan laki-laki berjubah putih itu menyodok lambung lawannya.

“Hughk!” orang itu mengeluh pendek
Tubuhnya terbungkuk. Dan belum sempat berbuat banyak, satu pukulan keras bertenaga dalam sangat tinggi menghajar mukanya. Raungan keras terdengar bersamaan dengan terpentalnya tubuh orang itu kebelakang. Eyang Watuagung membalikkan tubuhnya ketika seorang lawan lagi menyerang dari arah samping. Goloknya menyodok ke arah dada. Hanya sedikit Eyang Watuagung memiringkan tubuhnya, maka golok lawan terkempit di ketiak Seketika itu pula tangan kirinya mendarat telak di dada lawan. Orang itu terjungkal keras ke belakang. Eyang Watuagung melemparkan golok lawannya disertai pengerahan tenaga dalam. Golok itu meluncur deras lalu menancap di dada pemiliknya.

“Aaa...!”

Eyang Watuagung langsung melompat ketika salah seorang yang wajahnya telah berlumuran darah mencoba bangkit. Kakinya segera menjejak dada orang itu seraya tangannya merampas goloknya, dilemparkan begitu saja.

“Jawab pertanyaanku! Siapa yang menyuruhmu?” dingin suara Eyang Watuagung bertanya.

Orang berwajah kasar dan berlumuran darah itu berusaha menggeliat, tapi kaki Eyang Watuagung kian kuat menekan dadanya.

“Akh!”

“Aku bisa membunuhmu semudah membalikkan telapak tangan! Jawab pertanyaanku, keparat!” bentak Eyang Watuagung.

Orang itu masih belum menjawab. Sementara Waraketu dan beberapa orang lainnya sudah mulai bergerak mendekati. Mereka memandang dengan penuh rasa kebencian yang amat sangat pada orang yang tidak berdaya di bawah injakan kaki Eyang Watuagung. Paras wajahnya kelihatan pucat, dan tubuhnya menggeletar menggigil. Bibirnya bergerak-gerak seolah-olah ingin mengatakan sesuatu.

“Siapa yang menyuruhmu?

” tanya Eyang Watuagung lagi.

“Pen.... Pendekar Pu....”

“Jawab yang benar!” bentak Eyang Watuagu gusar.

“Aduh!”

“Kau akan semakin tersiksa kalau tidak mau mejawab!” ancam Eyang Watuagung.

“Pendekar Pulau Neraka, Tuan. Dia yang menyuruh kami menguasai kota ini,” kata orang itu bergetar suaranya.

“Kau jangan main-main, keparat!”

“Benar, Tuan. Aku tidak main-main.”

“Hih!”

Eyang Watuagung menendang tubuh orang itu hingga menggelinding ke kaki Waraketu. Saat itu juga, Waraketu mencabut goloknya yang terselip di pinggang, dan mengibaskan dengan cepat ke tubuh orang itu.
“Aaa...!”


***


Eyang Watuagung duduk bersila diruangan depan rumah Waraketu. Di depannya juga bersila Waraketu dan beberapa orang bekas pembesar kadipaten. Mereka membicarakan keadaan kadipaten yang kini dikuasai seseorang yang mengaku Pendekar Pulau Neraka. Eyang Watuagung kelihatan masih belum percaya dengan kabar yang diterimanya.

Dia memang tidak menyaksikan kematian kedua muridnya yang menjabat sebagai adipati di Kadipaten Jati Anom ini dan menjadi panglima kerajaan. Tapi dari kabar yang didengar, kedua muridnya itu tewas oleh Pendekar Pulau Neraka. Memang sulit untuk mempercayai berita yang diterimanya itu. Dan dia sengaja datang ke kadipaten ini untuk mengetahui secara jelas kebenaran berita itu.

Tapi yang didapati di kadipaten Jati Anom, sungguh mencengangkan sekali. Sambutan yang diterima sangat luar biasa. Tiga orang yang tewas telah mengaku suruhan Pendekar Pulau Neraka untuk menguasai Kadipaten Jati Anom, lewat tindakan brutal dan kesadisan. Eyang Watuagung begitu yakin kalau Pendekar Pulau Neraka telah tewas di dalam jurang ketika bertarung dengannya. Sukar dipercaya kalau pendekar itu ternyata masih hidup dan mampu membunuh dua orang muridnya.

“Pendekar Pulau Neraka memang masih hidup, Eyang. Aku melihat sendiri, bagaimana dia bertarung dan membunuh Gusti Adipati dan Gusti Panglima di halaman depan Istana Kadipaten,” ungkap Waraketu memecah kebisuan yang terjadi.

''Lantas, yang sekarang menguasai istana kadipaten itu benar-benar Pendekar Pulau Neraka?” tanya Eyang Watuagung.

“Tidak tahu pasti, Eyang,” sahut Waraketu.

“Hm...,” Eyang Watuagung mengerutkan keningnya.

“Mereka memang selalu menyebut-nyebut nama Pendekar Pulau Neraka. Tapi sejak peristiwa di Istana Kadipaten waktu itu, kami semua tidak pernah lagi melihat Pendekar Pulau Neraka di sini,” ujar salah seorang yang duduk di samping Waraketu.

“Sulit dipercaya...,” gumam Eyang Watuagung. Eyang Watuagung menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebelum datang ke kadipaten ini, dia memang telah memeriksa jurang tempat jatuhnya Pendekar Pulau Neraka di sana. Memang tidak terdapat satu mayat pun di dalam jurang itu. Dan sekarang Waraketu bersumpah kalau telah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Pendekar Pulau Neraka masih hidup dan telah membunuh kedua muridnya.

Kalau memang benar pendekar itu dapat selamat dari dalam jurang setelah terkena pukulan maut dan tendangan bertenaga dalam tinggi, tentulah ilmunya sukar diukur tingkatannya. Apalagi dapat membunuh dua orang muridnya dalam waktu yang tidak begitu lama setelah bertarung dengannya. Padahal kalaupun masih bisa selamat, tentu dia membutuhkan waktu paling tidak satu pekan untuk memulihkan kekuatan kembali. Tapi hanya dalam waktu kurang satu hari, Pendekar Pulau Neraka mampu memulihkan kekuatan tubuhnya. Bahkan mampu menandingi dan mengalahkan dua orang yang berilmu cukup tinggi.

Eyang Watuagung benar-benar tidak percaya menerima kenyataan ini. Sejak menerima kabar berita itu, kepercayaannya mulai hilang. Terlebih lagi setelah menyaksikan sendiri mayat kedua muridnya yang tewas di tangan Pendekar Pulau Neraka. Saat itu dia tidak tahu, apa yang harus dilakukan. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Gunung Rangkas dan mendidik Intan serta Indranata, sambil memulihkan kembali kekuatannya akibat pertarungan dengan Pendekar Pulau Neraka. Dia ingin membuktikan sendiri kebenarannya sebelum mengambil tindakan. Tapi semua yang diperolehnya mendekati kebenaran.

“Setahuku, Pendekar Pulau Neraka selalu bertindak sendiri. Dia tidak punya pengikut seorang pun. Bahkan teman dalam perjalanan saja tidak punya...,” gumam Eyang Watuagung pelan.

“Aneh...!

Kenapa berita yang kuperoleh jadi simpang siur? Aku datang justru untuk menemui adikku. Tapi.... Ah, jangan-jangan ini ulah si Hastama.... Hhh! Kalau memang benar, aku harus menyadarkannya...!” lanjut Eyang Watuagung dalam hati.

“Barangkali dia mengambil para begal dan perampok, lalu membawanya ke sini untuk menguasai seluruh kedipaten ini, Eyang,” celetuk Waraketu.

“Tidak mungkin...! Meskipun aku pernah bentrok dan dia memusuhi muridku, tapi aku dapat menilai kalau dia seorang ksatria yang keras pada pendiriannya. Dia bukan jenis manusia yang ingin memiliki kekuasaan dan harta benda duniawi. Dia seorang pendekar sejati, meskipun tindakannya sangat kejam tanpa mengenal ampun,” bantah Eyang Watuagung jujur.

“Lalu, siapa orang yang kini menguasai Istana Kadipaten, Eyang?” tanya salah seorang yang duduk paling kanan.

“Perasaanku mengatakan ada seseorang yang mengambil kesempatan untuk kepentingan pribadi, dan memakai nama Pendekar Pulau Neraka untuk mengecilkan hati semua orang. Saat ini Pendekar Pulau Neraka memang sukar dicari lawan tandingnya. Secara jujur, aku sendiri menaruh hormat padanya,” sahut Eyang Watuagung agak ditekan suaranya.

“Kalau memang bukan Pendekar Pulau Neraka, kita harus bertindak, Eyang!” kata Waraketu.

“Benar! Kita harus membebaskan kesengsaraan penduduk!” sambung yang lain.

“Benar!”

“Bekas para prajurit kadipaten pasti mampu menghadapi mereka!”

Eyang Watuagung hanya diam saja. Kepalanya agak tertunduk, dan keningnya sedikit berkerut. Dia memang harus bertindak, tapi tidak secara brutal
tanpa perencanaan matang. Masalahnya, hal itu pasti akan membuat kerugian yang tidak kecil. Harus ada cara lain yang lebih tepat untuk menghindari kemungkinan jatuh korban terlalu banyak.


***


Eyang Watuagung memandangi bangunan megah yang dikelilingi tembok benteng tinggi dan kokoh. Suasana kelihatan sepi, dan keadaannya kotor tidak terawat. Keadaan bangunan kebanggaan seluruh rakyat Kadipaten Jati Anom ini sungguh mengenaskan sekali. Bahkan Eyang Watuagung sempat menitikkan air mata melihat keadaan istana kadipaten itu.

Mendadak, Eyang Watuagung tersentak kaget begitu melihat sebuah bayangan berkelebat cepat memasuki benteng istana itu dengan melompati tembok

“Hup!”

Eyang Watuagung segera melesat ke atas tembok benteng. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, kakinya mendarat manis di atas tembok benteng itu. Matanya tajam beredar ke sekeliling. Hampir dia tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Di balik bayang-bayang sebuah pohon yang sangat besar, terlihat seorang laki-laki yang selama ini selalu mengganggu pikirannya. Tanpa buang-buang waktu lagi, Eyang Watuagung segera melentingkan tubuhnya ke arah orang itu. Gerakannya cepat dan ringan sekali, dan dengan manis mendarat tepat di depan orang itu.

“Hm..., rupanya kau belum mati, Pendekar Pulau Neraka!” gumam Eyang Watuagung mendengus.

“Heh...!” laki-laki muda yang memakai baju dari kulit harimau itu terkejut. Laki-laki berwajah tampan dan keras itu melangkah mundur dua tindak. Kedua bola matanya berputar merayapi orang tua berjubah putih di depannya. Dia memang Pendekar Pulau Neraka atau dengan nama asli Bayu Hanggara. Masih diingatnya siapa laki-laki tua berjubah putih itu. Orang yang pernah mengalahkan dan hampir membunuhnya di jurang, tidak jauh dari perbatasan Kadipaten Jati Anom (Baca Serial Pendekar Pulau Neraka, dalam kisah Lambang Kematian).

“Tidak kusangka kau punya maksud buruk dengan Kadipaten Jati Anom ini, Pendekar Pulau Neraka. Tapi selama aku masih hidup, kau tidak akan bisa menguasai tanah kelahiranku ini!” kata Eyang Watuagung dingin.

“Aku tidak mengerti maksudmu, Eyang Watuagung...,” kata Bayu keheranan.

“Phuih! Jangan berlagak bodoh, bocah setan! Apa saja yang telah kau lakukan di Istana Kadipaten ini heh?” geram Eyang Watuagung, tidak bisa menahan amarahnya.

“Aku...? Aku melakukan apa?” Bayu semakin kelihatan kebingungan. Memang tuduhan itu baginya sulit dimengerti.

“Bocah setan...! Aku menghormatimu karena kau bersikap ksatria waktu itu. Tapi rasa hormatku luntur karena kelakuanmu yang membuatku muak!” desis Eyang Watuagung.

Setelah berkata demikian, Eyang Watuagung segera membuka jurus. Bayu kembali menggeser kakinya ke belakang satu tindak. Dia pernah melihat dan merasakan jurus laki-laki tua itu. Sangat dahsyat dan hampir tidak terbendung. Memang dia sempat mengalami kekalahan pahit, tapi ketika itu hanya dilayani setengah-setengah.

“Tunggu dulu, Eyang! Aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan,” sergah Bayu berusaha menenangkan laki-laki tua itu.

“Sudah cukup penjelasan yang kuberikan, Bocah! kau benar-benar manusia busuk yang berkedok ksatria!”

“Eh, tung... Uts!”

Bayu tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena Eyang Watuagung telah menyerang dengan jurus-jurus mautnya yang sangat dahsyat dan berbahaya. Bayu terpaksa berlompatan dan berkelit menghindar setiap serangan yang dilancarkan laki-laki tua berjubah putih itu. Masih belum dimengerti, kenapa Eyang Watuagung langsung menyerang dengan jurus-jurus mautnya.

Bayu masih terus berkelit dan menghindar meskipun agak kewalahan juga menghadapinya. Sampai sejauh itu, Pendekar Pulau Neraka belum mau membalas serangan-serangan Eyang Watuagung. Dia tidak ingin bertarung dengan seseorang karena belum jelas
permasalahannya.

“Eyang, hentikan! Hup, yaaa...!” seru Bayu keras. Tubuh Pendekar Pulau Neraka.melesat tinggi ke udara, tepat ketika Eyang Watuagung mengibaskan kakinya ke arah kaki pemuda berbaju kulit harimau itu. Dua kali Bayu berputar di udara, lalu hinggap diatas dahan pohon. Eyang Watuagung berdiri tegak dengan tangan di pinggang. Kepalanya menengadah atas memandang tajam ke arah Bayu.

“Turun kau, setan keparat!” bentak Eyang Watuagung menggeram.

“Eyang! Coba jelaskan, kenapa kau menyerangku dan menuduhku yang tidak-tidak?” agak keras suara Bayu.

“Kau terlalu congkak, Pendekar Pulau Neraka. Kau menganggap dirimu tangguh dan digdaya tanpa tanding. Kau lupa, bahwa di dunia ini masih banyak orang berilmu tinggi, yang tingkat kepandaiannya jauh di atasmu!”

“Jangan berbelit-belit, Eyang.”

“Turun kau, setan. Biar kupecahkan kepalamu bentak Eyang Watuagung.

“Sial! Setan apa yang ada di dalam kepalamu. Tanpa sebab apa-apa kau begitu bernafsu ingin membunuhku,” dengus Bayu setengah berteriak.

“Keparat! Yaaah...!”

Eyang Watuagung mengibaskan kedua tangann keatas. Beberapa buah pisau kecil meluncur dan menimbulkan cahaya keperakan yang memijar. Bayu sempat terkesiap juga. Buru-buru dilentingkan tubuhnya dan berputar beberapa kali di udara. Pisau-pisau itu lewat di antara putaran-putaran tubuhnya, lalu dengan manis sekali dijejakkan kakinya di tanah.

Pada saat itu, Eyang Watuagung melompat menerjang sambil mengirimkan tiga kali pukulan beruntun. Bayu meliuk-liukkan tubuhnya menghindari pukulan-pukulan bertenaga dalam sangat tinggi itu, kemudian melompat mundur. Tapi Eyang Watuagung tidak memberi kesempatan pada Pendekar Pulau Neraka untuk mengambil jarak. Dia langsung menyerang kembali, bahkan semakin ganas.

“Uts! Edan...!” dengus Bayu ketika sebuah pukulan mengandung hawa panas hampir menjebol dadanya.

Bayu memiringkan tubuhnya ke kiri, maka pukulan keras mengandung hawa panas menyengat itu lewat di depan dadanya. Dengan kecepatan yang sukar diikuti mata biasa, tangan kiri Pendekar Pulau Neraka menyodok perut lawan.
“Hugh!” Eyang Watuagung mengeluh tertahan.

Sodokan tangan kiri Bayu tepat menghajar lambungnya. Dan pada saat tubuh Eyang Watuagung agak terbungkuk, satu pukulan tanpa pengerahan tenaga dalam mendarat di wajahnya. Eyang Watuagung terdongak. Bayu kembali menghantam dada laki-laki tua itu dengan satu tendangan keras, juga tanpa pengerahan tenaga dalam. Akibatnya, Eyang Watuagung terjajar beberapa langkah kebelakang

“Keparat!” geram Eyang Watuagung.

Laki-laki berjubah putih itu tahu betul kalau Pendekar Pulau Neraka tidak mengerahkan tenaga dalam saat mendapat kesempatan tadi. Kalau saja
Bayu mengerahkannya, dapat dipastikan tulang-tulang tua Eyang Watuagung bakalan remuk. Bahkan mungkin nyawanya melayang malam ini juga.

“Maaf, Eyang. Aku masih punya urusan yang lebih penting lagi,” kata Bayu.

Pemuda berbaju kulit harimau itu langsung melesat pergi. Gerakannya demikian cepat, sehingga dalam sekejap mata saja bayangan tubuhnya lenyap ditelan kegelapan malam. Eyang Watuagung mengeluh pendek. Meskipun tendangan dan pukulan Pendekar Pulau Neraka tidak disertai pengerahan tenaga dalam, tapi cukup membuat tubuh terasa sakit, dan tulang-tulang terasa nyeri.

Dari situ saja Eyang Watuagung mengerti kalau tingkat kepandaian Pendekar Pulau Neraka sukar diukur. Pukulan dan tendangan kosong dengan tenaga luar saja, sudah begitu keras dan dahsyat. Apalagi disertai pengerahan tenaga dalam? Sulit dibayangkan, bagaimana akibatnya jika hal itu sampai terjadi.

“Uh! Aku tidak mengerti, ilmu apa yang digunakannya? Aku pernah bertarung dengannya, dan dia masuk ke dalam jurang. Aku kira sudah tewas...

Hhh...! Apa jadinya dunia persilatan jika seandainya orang setangguh dia sampai masuk ke dalam golongan hitam...?” Eyang Watuagung mengeluh berbicara sendiri.

Dengan langkah lunglai, laki-laki tua berjubah putih itu berjalan meninggalkan halaman istana kadipaten itu. Dilewatinya pintu gerbang yang hancur berantakan. Tapi begitu kakinya sampai di ambang pintu gerbang, langkahnya terhenti. Tubuhnya pun berbalik menghadap pada bangunan megah tak terawat itu.

“Uh! Sial...! Hampir aku lupa. Tapi....”

Eyang Watuagung berdiri tertegun memandang bangunan megah didepannya. Dia jadi ragu-ragu untuk memeriksa bangunan itu malam ini. Munculnya Pendekar Pulau Neraka di sini tadi membuatnya jadi berpikir lagi. Sedangkan suasana di sini demikian sepi, tidak terlihat tanda-tanda kehidupan.

“Hhh! Sebaiknya besok siang saja aku kembali lagi ke sini,” gumam Eyang Watuagung.

Laki-laki berjubah putih itu membalikkan tubuhnya kembali dan berjalan meninggalkan pintu gerbang istana kadipaten itu. Ayunan langkahnya kembali mantap dan ringan. Begitu ringannya, seolah-olah berjalan tidak menapak tanah.


***


Empat

Pagi baru saja datang menjelang. Fajar menyingsing. Matahari di ufuk Timur memancarkan cahaya merah Jingga. Seorang pemuda berwajah tampan, tapi
menyiratkan kekerasan berdiri tegak membelakang cahaya matahari. Rambutnya yang panjang, meriap melambai-lambai dipermainkan angin. Udara masih terasa dingin, meskipun kehangatan mulai menjalar mengusir titik-titik embun.

Pemuda berbaju kulit harimau itu tidak berkedip memandang ke arah Kadipaten Jati Anom. Tatapannya lurus ke sebuah bangunan megah dikelilingi tembok benteng yang tinggi dan kokoh. Suasana
bangunan istana itu masih kelihatan sepi senyap, meskipun hampir semua rakyat Kadipaten Jati Anom sudah mulai keluar dan bekerja kembali.

Dari tempat yang cukup tinggi ini, Kadipaten Jati Anom memang bisa terlihat jelas. Bahkan desa-desa di sekitarnya seperti hanya tinggal melangkah saja.

Pandangan pemuda berbaju kulit harimau itu beralih ketika telinganya yang tajam bagai mata elang itu mendengar suara dari arah sebelah Selatan Kadipaten Jati Anom. Kelopak matanya agak menyipit, begitu melihat dua orang tengah bertarung sengit.

“Hm..., sepertinya aku kenal dengan orang yang satu itu...,” gumam pemuda itu pelan.

Pemuda berbaju kulit harimau yang ternyata adalah Pendekar Pulau Neraka langsung melesat, berlari cepat ke arah desa itu. Dengan mengerahkan ilmu lari cepat, maka dalam waktu sebentar saja,
telah berada dekat pertarungan yang dilihatnya dari atas bukit.

“Intan...,” desisnya begitu mengenali gadis yang tengah bertarung melawan seorang laki-laki berkepala gundul.

Tidak jauh dari Intan, Indranata tengah bertarung melawan seorang laki-laki tua mengenakan baju hitam, dan memegang tongkat berkeluk yang juga berwarna hitam pekat. Bayu mengedarkan pandangannya berkeliling. Agak terkesiap juga dia melihat di sekitarnya banyak mayat bergelimpangan.

“Akh!”

Tiba-tiba terdengar jeritan keras tertahan. Bayu langsung menolehkan kepalanya. Tampak Intan Delima terjajar sambil memegangi dadanya. Darah mengucur dari sela-sela jari tangannya. Orang berkepala gundul, dan yang bersenjatakan ruyung raksasa itu langsung melompat sambil mengibaskan senjatanya ke arah leher Intan. Pada saat itu posisi Intan Delima tidak menguntungkan sama sekali. Intan memejamkan matanya, tidak mampu berkelit lagi. Dan pada saat ujung senjata ruyung itu hampir mengoyak lehernya, sebuah bayangan berkelebat cepat menahan laju senjata itu.

Trak!

“He!” laki-laki gundul itu tersentak kaget.

Senjatanya hampir terlepas dari tangannya. Buru-buru dia melompat mundur. Di depan Intan kini telah berdiri seorang pemuda berwajah tampan dan keras mengenakan baju kulit harimau. Intan membuka matanya, dan langsung terbeliak lebar begitu melihat depannya telah berdiri seseorang yang amat dikenal, dirindukan, sekaligus dibencinya.

“Kakang Bayu...,” desis Intan agak bergetar suaranya.

“Menyingkirlah, Intan. Dia bukan lawanmu,” kata Bayu.

Intan yang akan mundur, tiba-tiba mengurungkan niatnya. Bahkan tanpa berkata-kata lagi, gadis itu melesat kembali menerjang orang berkepala gundul itu. Bayu tersentak kaget, tapi tidak bisa berbuat banyak. Intan sudah kembali terlibat pertarungan sengit dengan lawannya. Tapi baru saja pertarungan itu berjalan beberapa jurus, kembali gadis itu terpental seraya memekik keras.

“Intan...!” sentak Bayu cemas.

Intan menggeletak dengan tubuh bersimbah darah. Dia masih berusaha bangkit. Namun luka-luka ditubuhnya tidak mengijinkannya bangkit kembali, meskipun sudah berusaha sekuat tenaga. Gadis itu memang berhasil berdiri, tapi tidak dapat tegak. Tubuhnya limbung seperti pohon kelapa ditiup angin topan.

“Hiyaaa...!” laki-laki berkepala gundul itu melompat menerjang Intan.

“Yaaa...!”

Bayu langsung melesat memapak serangan orang berkepala gundul itu. Tangan kirinya mendorong kedepan. Sedangkan orang itu melentingkan tubuhnya berputar di udara. Mereka sama-sama mendarat manis, dan saling berhadapan berjarak cukup dekat. Orang berkepala gundul itu segera memberondong dengan sodokan senjata ruyungnya. Bayu mengegoskan tubuhnya ke kiri dan ke kanan menghindari serangan senjata orang gundul itu.

“Modar!” tiba-tiba Bayu berseru nyaring.

Seketika itu juga tangan kanannya mengibas kedepan dengan tubuh agak membungkuk miring kekiri. Secercah cahaya keperakan melesat cepat bagaikan kilat dari pergelangan tangan kanannya. Jarak yang begitu dekat membuat orang berkepala gundul itu terperangah, dan tidak bisa menghindar lagi. Dikibaskan senjatanya di depan tubuhnya. Tapi sungguh tidak diduga sama sekali, senjata Cakra Maut yang dilontarkan Pendekar Pulau Neraka berbelok cepat, dan langsung menghunjam perut orang itu.

“Aaa...!”

Orang berkepala gundul itu menjerit keras. Bayu menyentakkan tangan kanannya ke atas kepala. Cakra Maut yang tertanam di perut lawannya kembali melesat pulang. Dan ketika tangan kanan Bayu mengibas ke depan, Cakra Maut kembali melesat cepat bagaikan kilat ke arah orang berkepala gundul itu. Orang berkepala gundul itu kembali menjerit keras. Lehernya hampir putus terpenggal senjata maut Pendekar Pulau Neraka. Bayu langsung berbalik begitu senjatanya kembali menempel di pergelangan tangan kanannya. Sementara laki-laki berkepala
gundul itu menggeletak meregang nyawa. Bayu menghampiri Intan yang kembali menggeletak tidak berdaya.

“Intan...,” desis Bayu agak lirih.

Jari-jari tangan. Pendekar. Pulau Neraka itu bergerak cepat dan lembut di sekitar luka pada tubuh gadis itu. Darah segera berhenti mengalir. Bayu mengangkat tubuh Intan dan membawanya ke bawah pohon rindang. Diletakkan tubuh gadis itu di bawah pohon, terlindung dari sengatan matahari. Sebentar diperiksanya luka-luka di tubuh Intan Delima.

Sebentar Intan memejamkan mata, lalu kembali membukanya. Dadanya bergemuruh setiap kali memandang wajah pemuda di dekatnya. Ingin rasanya memeluk dan menumpahkan rasa cintanya. Tapi, begitu teringat ayahnya yang tewas di tangan pemuda ini, perasaan yang menggelora di hatinya langsung ditekan dalam-dalam. Dua kutub yang saling bertentangan bergelut di dalam dirinya. Intan diam saja ketika Bayu berusaha mengobati luka-lukanya.

“Untung hanya luka luar. Tapi kau cukup banyak kehilangan darah,” kata Bayu setengah mendesah.

“Oh...,” Intan hanya bergumam lirih.

Tatapan mata gadis itu beralih pada pertarungan Indranata dan kakek tua bertongkat hitam. Kelihatannya Indranata pun juga kewalahan menghadapi lawannya. Beberapa kali tongkat kakek tua berbaju hitam itu menghantam tubuhnya. Indranata jatuh bangun berusaha menghindari serangan-serangan lawannya. Pada saat yang sama, Bayu Hanggara juga mengarahkan pandangannya ke sana.

“Yang mana temanmu?” tanya Bayu tanpa mengalihkan pandangannya.

“Indranata...,” sahut Intan pelan. Hampir tidak terdengar suaranya.

“Yang tua, atau yang muda?”

“Muda,” sahut Intan tetap pelan.

Bayu langsung melompat ke arah pertarungan itu. Sementara Intan beringsut duduk bersandar pada pohon. Matanya tidak berkedip memandangi pemuda berbaju kulit harimau itu. Bibirnya bergetar, seolah-olah ingin mengucapkan sesuatu. Namun tidak ada satu kata pun yang terucap.


***


Indranata lantas melompat mundur ketika Pendekar Pulau Neraka terjun dalam pertempuran itu. Laki-laki tua berbaju hitam bersenjata tongkat hitam pula, juga segera melompat mundur. Matanya yang merah membara menatap tajam pada pemuda berbaju kulit harimau yang telah mencampuri pertarungannya.

“Bocah setan!” geram laki-laki tua berbaju hitam itu.

Bayu menoleh pada Indranata yang berdiri di belakangnya agak ke samping.

“Bantu temanmu, dia terluka cukup parah,” kata Bayu.

“Kau berani mencampuri urusanku! Sebagai imbalannya kau harus mampus, Bocah!” geram laki-laki tua bertongkat hitam itu.

Baru saja Bayu mengalihkan pandangannya kembali, laki-laki bertongkat hitam itu sudah menyerang ganas. Bayu melompat ke samping, menghindar sodokan ujung tongkat yang runcing. Dan dengan, cepat didupakkan kakinya ke arah pinggang. Laki-laki tua bertongkat hitam itu tidak menyangka, dan terlambat untuk berkelit.

“Uh!” dia mengeluh pendek seraya menyemburkan ludahnya. Cepat sekali tubuhnya berbalik berputar sambil melayangkan tongkatnya ke arah kaki. Pendekar Pulau Neraka melompat dan berputar satu kali di udara. Kembali kakinya mendupak dari atas. Laki-laki
tua bertongkat hitam itu terperanjat. Buru-buru diangkat tongkatnya, mencoba memapak serangan kaki Pendekar Pulau Neraka. Namun kembali Bayu menarik kakinya dengan memutar tubuhnya ke bawah.

Sangat di luar dugaan, dengan posisi kaki berada atas, Bayu ternyata masih bisa melontarkan dua pukulan dengan kecepatan penuh. Orang bertongkat hitam itu terpekik kaget. Buru-buru dia melompat mundur ke belakang dua tindak. Bayu kembali memutar tubuhnya dengan cepat, dan mendarat manis tanah. Dia berdiri tegak dengan tangan melipat di depan dada.

“Siapa kau, Bocah?” tanya laki-laki tua bertongkat Hitam itu.

“Untuk apa kau ingin tahu namaku? Kalau gentar, cepat pergi! Sebelum aku berubah pikiran!” dingin kata-kata Bayu.

“Setan alas! Kau terlalu besar kepala, Bocah!” geram laki-laki tua itu.

Sementara Indranata telah menghampiri Intan Delima yang sedang duduk di sebuah batang pohon tumbang. Diperiksanya luka-luka di tubuh gadis itu. keningnya berkerut, melihat luka-luka yang diderita Intan sudah tidak membahayakan lagi. Hanya perlu
sedikit perawatan untuk mengeringkan lukanya saja. Kemudian dia memandang ke arah Bayu dan bekas lawannya yang berdiri saling berhadapan.

“Siapa dia, Intan?” tanya Indranata, tanpa mengalihkan pandangannya.

“Pendekar Pulau Neraka,” sahut Intan pelan.

“Hm..., apakah dia mampu menandingi Gagak Ireng?” gumam Indranata seperti bertanya untuk dirinya sendiri.

“Dia pasti mampu, Kakang.”

“Kau kenal dia, Intan?”

“Ya...,” pelan suara Intan. Gadis itu menggigit bibirnya sendiri. Untung saja Indranata tidak sedang memandang ke arahnya, sehingga tak melihat perubahan wajah gadis itu. Entah kenapa, Intan tidak bisa menghilangkan perasaan cintanya pada Bayu Hanggara. Dia sudah berusaha, dan bahkan mencoba untuk menggantinya dengan perasaan benci. Tapi tetap saja tidak mampu. Kebenciannya memang ada, tapi cintanya ternyata lebih besar lagi.

Saat itu laki-laki tua bertongkat hitam yang bernama Gagak lreng sudah kembali menyerang Pendekar Pulau Neraka. Pertarungan kali ini lebih sengit lagi. Gagak lreng langsung mengeluarkan jurus-jurus mautnya. Sementara, Bayu hanya sesekali saja membalas serangan lawan, tapi mampu membuat Gagak lreng jumpalitan menghindari. Jurus demi jurus dilalui dengan cepat. Dan kelihatannya Gagak lreng kewalahan sekali menghadapi Pendekar Pulau Neraka. Beberapa kali tendangan dan pukulan keras bertenaga dalam tinggi mendarat di tubuhnya. Sedangkan Gagak lreng belum berhasil menyarangkan satu pukulan pun terhadap lawannya. Hal ini tentu saja membuat Gagak lreng semakin berang.

“Hup! Hiyaaa...!!!”

Gagak lreng memutar tongkatnya dengan cepat. Dan seketika itu juga tubuhnya melesat bagai kilat ke udara. Dengan pengerahan tenaga dalam penuh, Gagak lreng mengibaskan tongkatnya ke kepala Pendekar Pulau Neraka.

“Uts! Yaaah...!”

Bayu segera merundukkan kepalanya dengan tubuh miring ke kiri. Dan pada saat itu juga, tangan kanannya mengibas ke atas dengan cepat Cakra Maut melesat bagaikan kilat dari pergelangan tangannya.

Gagak lreng terperangah sesaat, cepat-cepat diputar tongkatnya.

Trak!

“Hah...!”

Gagak Ireng terbelalak matanya begitu tongkatnya terpenggal jadi dua bagian. Dan belum sempat hilang rasa terkejutnya, Cakra Maut Pendekar Pulau Neraka langsung meluruk deras ke arah perutnya.

“Aaa...!” Gagak Ireng menjerit keras.

Tubuh yang terbalut kain hitam itu langsung terjerembab jatuh. Keras sekali tubuhnya menghunjam tanah. Bayu mengangkat tangan kanannya ke atas
kepala. Cakra Maut berwarna keperakan pun bergerak ke luar dari perut Gagak Ireng dan langsung melesat cepat. Bayu Hanggara mengambil potongan tongkat Gagak Ireng, begitu senjatanya kembali menempel di pergelangan tangannya.

“Modar! Yiaaa...!”

Sambil berteriak, Pendekar Pulau Neraka itu melompat, dan menghunjamkan potongan tongkat itu ke tubuh pemiliknya. Gagak Ireng menjerit melengking. Darah segar muncrat begitu dadanya tertembus tongkatnya sendiri. Bayu bangkit berdiri dan memandangi mayat lawannya.

Pelahan-lahan Pendekar Pulau Neraka itu berbalik menghadap ke arah Intan dan lndranata yang duduk di bawah pohon. Pada saat itu, dari setiap rumah penduduk, bermunculan orang dengan wajah cerah ceria. Mereka serentak berhamburan ke arah Pendekar Pulau Neraka. Di antara mereka, tampak Ki Adong. Laki-laki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun itu langsung membungkuk ke depan Bayu dan menyalaminya dengan hangat.

Bayu jadi terheran-heran menyaksikan semua itu. Tidak sedikit orang yang merubung dan mengelu-elukannya. Yang pasti, dia seperti seorang pahlawan yang baru saja pulang dari medan perang dan membawa kemenangan. Bayu tidak bisa menolak ketika para penduduk itu menggiringnya ke sebuah rumah besar dengan halaman luas. Dia berusaha mengangkat kepalanya, mencari Intan dan lndranata. Tapi kerumunan orang itu menghalangi pandangannya. Terlebih lagi, dia terus digiring menuju ke rumah besar berhalaman luas itu.

Pada saat itu, Intan sudah dapat berdiri kembali dibantu lndranata. Sesaat gadis itu memandang kearah kerumunan penduduk Desa Sirna Galih yang menggiring Pendekar Pulau Neraka ke rumah kepala desa. Pelahan-lahan pandangan gadis itu beralih pada wajah pemuda disampingnya. Saat yang sama, lndranata juga tengah mengarahkan pandangannya pada gadis itu.

“Ayo, kita pulang,” ajak Intan pelan.


***


Bayu masih belum dapat mengerti terhadap sikap para penduduk Desa Sirna Galih padanya. Dia dijamu dan dielu-elukan bagai seorang pahlawan perang yang pulang dengan membawa kemenangan. Dia belum sempat bertanya, karena penduduk berdatangan silih berganti ke rumah Ki Adong hanya untuk berbicara dan mengenal lebih dekat Rumah Kepala Desa Sirna Galih itu pun sesak oleh kerumunan penduduk.

Baru pada tengah malam, Bayu bisa beristirahat. Dirasakannya kelelahan yang amat sangat pada seluruh tubuh. Baginya lebih baik bertarung tiga hari penuh daripada harus melayani begitu banyak orang, dengan tingkah dan tujuan yang bermacam-macam. Masih bisa dimaklumi kalau mengerti permasalahannya. Tapi ini..Sama sekali Bayu tidak bisa memahami dan mengerti permasalahan yang dihadapi para penduduk itu.

Bayu duduk bersila di dipan bambu, beranda depan rumah Ki Adong. Saat itu malam sudah demikian larut. Dan Desa Sirna Galih pun telah sepi. Tak ada seorang penduduk pun yang ke luar dari rumahnya lagi. Bayu merayapi suasana di sekitarnya.

Digeser duduknya ketika Ki Adong menghampiri. Laki-laki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun itu duduk disamping Pendekar Pulau Neraka.

“Aku mengharapkan Tuan Pendekar bersedia tinggal beberapa hari di sini, sampai keadaan benar-benar pulih,” pinta Ki Adong penuh harap.

Bayu tidak menjawab, tapi hanya menarik napas saja.

“Sudah beberapa purnama ini mereka menguasai desa ini. Mereka adalah orang-orang yang sangat kejam...,” sambung Ki Adong.

“Siapa mereka sebenarnya?” tanya Bayu.

“Kaki tangan Pendekar Pulau Neraka,” sahut Ki Adong.

“Heh!

Bayu terkejut setengah mati. Seketika dirasakan jantungnya berhenti berdetak. Jawaban Ki Adong sungguh di luar dugaan sama sekali. Bayu menatap dalam-dalam pada laki-laki tua di sampingnya.

“Tuan kenal dengan Pendekar Pulau Neraka?” tanya Ki Adong. Jengah juga dia mendapat tatapan begitu dalam. Bayu menarik napas dalam-dalam. Bagaimana mungkin tidak kenal dengan Pendekar Pulau Neraka? Karena pendekar itu adalah dirinya sendiri! Hanya yang menjadi pertanyaan, Ki Adong menyebut kalau dua orang yang berhasil dibunuhnya adalah kaki tangan Pendekar Pulau Neraka. Sedangkan Ki Adong sendiri tidak mengenal pendekar itu sebenarnya.

“Kabarnya, Pendekar Pulau Neraka sudah menguasai Istana Kadipaten Jari Anom. Bahkan kaki-tangannya menyebar ke desa-desa di sekitar Kadipaten Jati Anom. Ya, termasuk Desa Sirna Galih ini,” sambung Ki Adong.

Bayu tetap diam. Kepalanya serasa akan pecah. Dia memang datang ke Istana Kadipaten Jati Anom semalam. Tujuannya ke sini lagi memang karena dia mendengar ada seseorang yang memakai namanya untuk tujuan pribadi. Atau mungkin juga untuk mencemarkan namanya. Bisa juga karena untuk membalas dendam.

Bayu jadi paham, mengapa Eyang Watuagung begitu berang dan ingin membunuhnya kemarin malam. Benar-benar tidak disangka kalau kehadirannya kembali di Kadipaten Jati Anom bakal berhadapan dengan satu persoalan yang membingungkan. Dia hanya untuk membuktikan kebenaran yang didengarnya. Tapi kenyataannya sungguh di luar dugaan.

“Ki Adong pernah melihat Pendekar Pulau Neraka?” tanya Bayu memancing.

“Melihat sih belum. Tapi, dengar-dengar Pendekar Pulau Neraka-lah yang membunuh Gusti Adipati Rakondah dan Panglima Bantaraji. Mungkin dia kembali ke sini dengan membawa kaki-tangan untuk menguasai seluruh Kadipaten Jati Anom. Bahkan belum lama ini, rombongan pengganti adipati diserang dan semuanya tewas terbunuh. Sudah dua kali hal itu terjadi, tapi dari pihak kerajaan kelihatannya tidak ada tanda-tanda mengambil tindakan.”

“Kenapa?” tanya Bayu ingin tahu.

“Pernah dikirim satu pasukan prajurit, tapi mereka semua mundur. Prajurit-prajurit itu tidak mampu menghadapi orang-orang Pendekar Pulau Neraka. Mereka cukup tangguh, meskipun jumlahnya tidak banyak. Tuan Pendekar sendiri sudah berhadapan dengan dua kaki-tangan Pendekar Pulau Neraka. Untungnya Tuan begitu hebat! Tidak seperti murid-murid Eyang Watuagung itu. Kalau tidak ada Tuan Pendekar pasti mereka sudah tewas. Selanjutnya aku tak tahu lagi, apa yang akan terjadi pada desa ini,” kata Ki Adong agak mengeluh.

Kembali Bayu terdiam. Dia jadi teringat dengan Intan Delima. Dia tahu kalau Intan adalah cucu Eyang Watuagung yang juga muridnya. Tapi pemuda itu….Sudah pasti dia juga murid Eyang Watuagung.

“Sudah terlalu larut, sebaiknya Tuan beristirahat,” Adong seraya bangkit berdiri.

“Terima kasih,” ucap Bayu.

Ki Adong melangkah masuk ke dalam rumahnya, Sedangkan Bayu Hanggara tetap duduk bersila di atas balai-balai beranda depan rumah laki-laki tua kepala desa itu. Bayu menyadari nama baiknya bisa hancur kalau tidak cepat bertindak. Untuk sementara, semua urusan pribadinya harus dapat di kesampingkan dulu.


***


Lima
Intan terbaring lemah di atas dipan kayu dalam bilik kamar tidurnya. Luka-luka akibat pertarungan Desa Sirna Galih belum lagi pulih benar. Gadis menatap kosong pada langit-langit kamarnya. Pikirannya menerawang jauh pada Pendekar Pulau Neraka. Pemuda yang dicintainya dan dirindukan, sekaligus dibencinya. Ada kesempatan untuk memenuhi keinginannya, tapi kesempatan itu lewat tanpa dapat dicegah lagi.

Kepala gadis itu berpaling ketika terdengar ketukan pintu. Di ambang pintu kamar yang tidak tertutup, Indranata berdiri dengan tangan membawa semangkuk bubur. Pemuda itu tersenyum dan melangkah masuk. Disodorkan mangkuk bubur kepada Intan. Gadis itu segera beranjak bangkit, dan duduk bersandar.

“Terima kasih,” ucap Intan seraya menerima mangkuk bubur itu.

“Sejak kemarin kau belum makan. Kubuatkan bubur ini khusus untukmu,” kata Indranata.

“Kau baik sekali, Kakang,” lirih suara Intan.

“Makanlah, biar perutmu tidak terlalu kosong.”

Intan tersenyum, dan mulai memakan bubur itu pelahan-lahan. Indranata memperhatikannya disertai senyuman di bibir. Dia senang melihat Intan sudah mau makan lagi. Sejak pertempurannya di Desa Sirna Galih, kelihatannya gadis itu berubah. Lebih senang murung dan selalu menyendiri. Tidak mau makan, tidak mau berlatih lagi. Bahkan bicara pun hanya seperlunya.

“Kenapa tidak dihabiskan?”

“Sudah,” sahut Intan sambil meletakkan mangkuk buburnya di meja dekat pembaringan.

“Bagaimana kesehatanmu? Sudah mendingan?” tanya Indranata.

“Yah..., lumayan,” sahut Intan, tetap pelan suaranya.

“Intan, boleh aku bicara padamu?” “Sejak tadi juga sudah.”

“Maksudku...,” Indranata jadi tersipu kelabakan.

“Aku tahu, kau pasti ingin menanyakan tentang pemuda yang menolong kita, kan?” tebak Intan langsung.

Indranata mengangguk membenarkan.
Intan kembali memalingkan wajahnya. Pandangannya lurus menatap keadaan di luar, dari jendela kamar yang terbuka lebar. Wajahnya kembali berubah murung. Bayang-bayang Bayu Hanggara kembali bermain di pelupuk matanya.
“Kau kenal siapa dia, Intan?” tanya Indranata.

“Ya. Bahkan lebih dari sekedar kenal,” sahut Intan pelan. “Namanya Bayu Hanggara, dan biasa dikenal dengan julukan Pendekar Pulau Neraka.”

“O...! Yang membuat kerusuhan itu rupanya. Tapi....Kok aneh, malah membunuh dua orang temannya sendiri?”

“Tidak aneh, karena mereka bukan temannya.”

Indranata menatap tidak mengerti pada gadis itu. Sudah jelas kerusuhan yang terjadi di Kadipaten Jati Anom dan desa-desa di sekitarnya akibat ulah Pendekar Pulau Neraka. Tapi, kenapa Intan malah
membantahnya?

Indranata semakin tidak mengerti. Dia tahu kalau ayah Intan mati terbunuh oleh Pendekar Pulau Neraka. Itu cerita dari Eyang Watuagung. Dan sekarang, Intan malah mengakui kalau dia lebih dari sekedar kenal terhadap Pendekar Pulau Neraka. Indranata jadi bertanya-tanya dalam hati. Tapi dia tidak ingin menduga duga terlalu jauh lebih dahulu.

“Aku yakin, bukan dia yang melakukan semua itu. Pasti ada orang lain yang menjual namanya untuk kepentingan pribadi,” kata Intan seperti bicara pada dirinya sendiri.


“Bagaimana kau bisa begitu yakin, Intan?” tanya Indranata.

“Aku tahu siapa Bayu. Dia seorang pendekar yang tangguh dan keras pada pendiriannya, meskipun tindakannya bisa dikatakan kejam. Tapi semua yang dilakukan bukan untuk kepentingan diri pribadi. Apa lagi untuk menggapai kekuasaan dan kesenangan duniawi! Dia seorang pendekar sejati,” jelas Intan tegas penuh semangat.

“Sejauh itu kau mengenal pribadinya?”
“Ya! Bahkan lebih jauh lagi.”

“Kau punya hubungan khusus dengan...?”

Indranata tidak melanjutkan.

Intan menoleh dan tersenyum pada pemuda itu.

“Terus terang, aku mencintainya: Walaupun dia yang membunuh ayahku, tapi aku tetap mencintainya. Aku tidak bisa menipu diriku sendiri. Aku memang dendam dan ingin membunuhnya, tapi tidak sanggup melakukannya! Aku sangat mencintainya! Aku...,”

Intan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Bahunya berguncang-guncang, tapi tidak terdengar suara isak tangis.

Indranata menghampiri dan duduk di samping gadis itu. Dilingkarkan tangannya di bahu, dan dipeluknya gadis itu. Intan merebahkan kepalanya di dada pemuda itu. Pelan, namun terdengar juga isaknya. Setitik air bening menggulir jatuh ke pipi.

“Tumpahkan semua perasaanmu, Intan. Menangislah, kalau itu bisa membuatmu lebih tenang Menangislah, Intan...,” kata Indranata.

Intan tidak dapat lagi bertahan. Tangisnya meledak di dalam pelukan Indranata. Air matanya membasahi dada pemuda itu. Indranata membiarkan Intan menumpahkan semua perasaannya. Dia bisa memaklumi kemelut yang tengah melanda batin gadis ini. Indranata semakin mengetatkan pelukannya. Sebentar dia menarik napas panjang seraya menengadahkan kepalanya.

Indranata baru melepaskan pelukannya setelah Intan tidak menangis lagi. Namun sesekali masih terdengar isaknya yang tertahan. Gadis itu duduk dengan kepala tertunduk dalam. Bahunya masih terlihat guncang menahan isaknya. Indranata memindah duduknya di depan gadis itu. Diambilnya kedua tangan Intan. Digenggamnya jari-jari tangan yang lentik halus itu, kemudian pelahan-lahan dibawanya mulutnya. Dengan lembut dikecup jari-jemari itu.

Intan mengangkat kepalanya pelahan-lahan. Tatapan matanya langsung tertuju ke bola mata pemuda di depannya. Untuk beberapa saat lamanya mereka saling berpandangan, tanpa kata-kata terucapkan. Begitu banyak yang ingin diucapkan, tapi sulit untuk diungkapkan, Pelahan-lahan kepala Intan Delima kembali tertunduk.

“Akan kubalaskan sakit hatimu, Intan,” kata Indranata pelan, namun terdengar mantap suaranya.

“Oh!” Intan tersentak kaget. Kata-kata Indranata yang begitu pelan, bagaikan petir yang menggelegar menggetarkan hati.

Ditatapnya dalam-dalam bola mata Indranata. Seolah-olah Intan ingin mencari kepastian akan kata kata yang hampir membuat jantungnya berhenti berdetak. Gadis itu mengeluh lirih. Ditemukan secercah kepastian dalam sorot mata pemuda itu.

“Percayalah! Aku akan membalaskan sakit hati mu. Meskipun aku tahu dia seorang yang tangguh dan digdaya. Aku rela mati untukmu, Intan,” kata lndranata lagi.

“Oh, Kakang...,” desah Intan.

Gadis itu langsung menjatuhkan dirinya dalam pelukan Indranata, dan kembali menangis. Tangisan hampa yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Belum ada seorang pun yang berkata seperti itu padanya, hanya Indranatalah yang pertama kali mengatakannya. Hatinya luluh dalam keharuan. Intan tidak tahu lagi, apa yang harus dikatakannya.

Indranata rela mengorbankan nyawa demi dirinya, hati Intan tidak mungkin dapat membiarkan dua orang yang begitu dekat dengannya bertarung menyabung nyawa. Intan sadar kalau Indranata mencintainya dengan tulus dan murni. Tapi hatinya belum bisa terbuka pada pemuda ini. Cintanya masih terpaku pada Bayu Hanggara, pemuda tampan yang telah membunuh ayahnya.

Intan tahu, kenapa Pendekar Pulau Neraka membunuh Adipati Rakondah, ayahnya. Tapi dalam hal ini, dia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa (Baca serial Pendekar Pulau Neraka, dalam kisah: Lambang Kematian).


***


“Hup! Hiyaaa...!”

“Yaaa...!”

Glarrr!

Batu cadas sebesar badan kerbau, hancur berkeping-keping begitu dua senjata pedang berwarna hitam pekat menghantamnya. Di antara kepulan debu dan reruntuhan batu, berdiri tegak dua orang manusia dengan pedang hitam melintang di depan dada. Mereka adalah Intan dan Indranata yang baru saja menyelesaikan tahap terakhir jurus-jurus 'Naga Kembar'.

Intan membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju pondok. Indranata mengikutinya dari belakang. Gadis itu duduk di tangga beranda depan pondok. Sedangkan Indranata hanya berdiri didepannya. Pedang hitam pekat bertangkai kepala naga sudah tersampir di punggung.

“Kau kelihatan murung, Intan. Ada apa?” tanya Indranata.

“Tidak apa-apa,” sahut Intan pelan seraya menghembuskan napas kuat-kuat.

“Ada yang kau pikirkan?

Indranata mengambil tempat di samping gadis itu.

“Hhh...,” Intan hanya menghembuskan napas saja.

Indranata memandang wajah gadis di sampingnya.

Sebentar dia bernapas panjang, lalu beranjak bangkit berdiri. Pemuda berkulit sawo matang itu melangkah masuk ke dalam rumah. Sedangkan Intan Delima masih duduk di beranda. Pandangannya kosong lurus ke depan.

Tidak lama Indranata berada di dalam pondok kini keluar lagi, Bajunya telah berganti menjadi berwarna biru terang dengan bagian dada terbuka lebar. Gagang pedang berbentuk kepala naga hitam menyembul dari balik punggunya. Pemuda itu terus melangkah melewati Intan yang tetap duduk memandang kosong ke depan.

“Kakang…!” seru Intan Delima begitu menyadari kalau Indranata bermaksud pergi.

Indranata menghentikan langkahnya, tanpa berbalik sedikit pun. Bahkan menoleh pun tidak. Intan bangkit berdiri dan melangkah menghampiri. Gadis itu melewati sedikit dan berdiri di depannya.

“Mau ke mana?” tanya Intan.

“Pergi,” sahut Indranata singkat.

“Pergi ke mana?”

“Ini sudah lewat tiga purnama Eyang Watuagung pergi. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya,” jelas Indranata.

“Kau akan mencari Eyang?”

“Ya! Aku tahu ke mana tujuan Eyang.”
“Kakang! Kau lupa pesan Eyang? Meskipun tidak kembali, Eyang tidak mau kita mencarinya. Aku juga khawatir, tapi aku tidak mau melanggar amanatnya. Kau sendiri selalu mengatakan begitu, kan?” Intan mengingatkan.

“Aku pun selalu ingat amanatnya, Intan. Tapi aku tidak bisa menipu diriku sendiri. Memang selalu kupatuhi segala kata dan amanatnya selama ini. Tapi kali aku merasakan lain. Perasaan hatiku mengatakan bahwa Eyang Watuagung tengah mengalami kesulitan yang besar. Belum pernah Eyang pergi dengan meninggalkan pesan yang bernada ragu-ragu. Biasanya Eyang selalu mengatakan kapan akan kembalinya lagi. Tapi ini lain, Intan. Apa kau tidak merasakan adanya perbedaan?”

“Aku tahu.”

“Sekarang terserah kau, Intan. Ikut, atau tetap mengurung diri di gunung ini sendirian,” Indranata memberikan pilihan.

“Kau membawa Pedang Naga Hitam Kembar, tidak mungkin dapat digunakan hanya sebelah, Kakang,” pelan suara Intan.

“Aku mampu menggunakannya seperti pedang biasa, tanpa harus tergantung pada pasangannya.”

“Percuma! Jangan membohongi dirimu sendiri. Aku telah lihat ketika kau berusaha menguasai pedang itu sendirian, ternyata kau tidak mampu. Bahkan hampir mati kalau aku tidak cepat datang membawa pasangannya. Pedang Naga Hitam Kembar tidak dapat digunakan sendiri-sendiri, Kakang.”

“Paling tidak, untuk lima puluh jurus aku masih mampu.”

“Dan setelah itu kau akan mati karena tenagamu habis tersedot kekuatan pedang itu!”

“Aku tidak peduli, asalkan dapat membunuh orang yang kau cintai, sekaligus kau benci. Apalagi dia pembunuh ayahmu!”

“Kakang...!” Intan tersentak kaget.

“Maafkan aku, Intan. Aku memang bertekat untuk menantang Pendekar Pulau Neraka. Aku mencintaimu, Intan. Aku tidak ingin melihatmu tenggelam terus-menerus dalam bayangan semu. Kau mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin didapat!” tegas kata-kata Indranata.

“Kakang..., kau...,” suara Intan tersekat di tenggorokannya.

“Sejak aku melihatmu pertama kali, aku sudah menyukaimu, Intan. Dan aku tidak peduli meskipun kau membenciku setengah mati. Aku tetap mencintaimu, walaupun kau sudah mencintai pemuda lain. Aku akan menantangnya! Akan kubuktikan, siapa yang lebih pantas mendapatkan cintamu!” tetap tegas kata-kata Indranata.

Kini Intan tahu, Indranata akan pergi bukan untuk mencari Eyang Watuagung. Tapi untuk menantang bertarung Pendekar Pulau Neraka. Hal inilah yang selalu dicemaskan Intan. Ada sedikit penyesalan didalam hatinya, karena telah menceritakan semuanya pada pemuda ini. Sama sekali tidak disadari kalau keterbukaannya telah menimbulkan api cemburu didada Indranata.

“Aku minta padamu, Kakang. Jangan pergi! Aku mohon...,'' rajuk Intan memelas.

“Maafkan aku, Intan. Aku memang tidak pantas mendapatkan cintamu. Tapi aku tidak rela Pendekar Pulau Neraka menghancurkan hidupmu.”

“Lupakan saja tentang dia, Kakang,” pinta Intan berharap.

“Tentu! Aku pasti akan melupakannya setelah dia menjadi santapan cacing-cacing tanah!”

“Oh..., Kakang,” lirih suara Intan.

“Sudahlah, Intan. Tidak ada gunanya kau membujukku. Aku harus pergi sekarang juga, dengan atau tanpa kau.”
Intan tidak bisa lagi membujuk. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan dua orang yang sebenarnya sama-sama disukainya, bertarung hanya karena memperebutkan cintanya. Meskipun Intan tahu, Bayu Hanggara pasti tidak akan melayani keinginan Indranata. Bayu pasti akan menyerahkan Intan dengan sukarela. Dia tahu watak-watak seorang pendekar kelana yang tidak suka terikat dengan seorang gadis mana pun juga.

Intan Delima menggeser kakinya ke samping ketika Indranata mengayunkan kakinya. Gadis itu bergegas mengikuti dan mensejajarkan langkahnya disamping pemuda itu. Sementara Indranata terus melangkah mantap. Intan tetap berusaha membujuk walau disadari tidak akan berhasil.

Merasa setiap bujukannya tidak mengena, pada akhirnya Intan Delima terdiam. Kakinya tetap terayun melangkah di samping Indranata. Sedangkan pikirannya kacau tidak menentu. Terlebih lagi hatinya. Indranata telah mengungkapkan langsung rasa cintanya. Intan sendiri tidak tahu, apakah menunggu kata-kata itu atau tidak. Namun dia tidak bisa menipu dirinya sendiri. Dalam hati, dia memang menyukai Indranata. Pemuda yang selalu lembut dan penuh perhatian padanya.

“Kakang....”

“Sudahlah, Intan. Aku tidak mau lagi mendengar bujukanmu. Aku sudah bertekad harus menantang Pendekar Pulau Neraka!” potong Indranata cepat.

“Bukan itu yang ingin kukatakan,” kata Intan pelan. Nada suaranya terdengar agak tertahan.

“Hm, apa?”

“Kau benar-benar mencintaiku, Kakang?” tanya Intan seraya menggigit bibirnya.

Indranata menghentikan langkahnya. Ditatapnya Intan Delima dalam-dalam. Pertanyaan Intan membuatnya jadi berpikir. Benaknya menduga kalau gadis
itu tengah menggunakan cara lain untuk membatalkan niatnya menantang Pendekar Pulau Neraka.

“Intan! Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Tapi tolong, jangan paksa aku untuk merubah tujuan,” kata Indranata serius.

“Aku..., aku....”

“Ah, sudahlah! Ayo kita jalan lagi.”

Intan tidak bisa membantah. Kembali dilangkahkan kakinya dengan kepala tertunduk. Memang sulit untuk mengatakannya. Tapi dia tidak ingin melukai hati pemuda itu. Dia tahu kalau Indranata sungguh-sungguh dan tulus mencintainya. Kesungguhan dan ketulusan itulah yang membuat Intan tersiksa. Intan hanya bisa menjerit dalam hati, menyesali semua keadaan yang telah terjadi pada dirinya. Kalau saja hal itu tidak pernah terjadi, tidak akan segundah ini hatinya.

“Tidak! Dia tidak boleh tahu! Dia juga tidak boleh mati di tangan Pendekar Pulau Neraka. Aku harus berbuat sesuatu. Ya...! Berbuat sesuatu...!” tekad Intan dalam hati.


***


Sementara itu di Desa Sirna Galih, Pendekar Pulau Neraka sudah bersiap-siap meninggalkan rumah kepala desa. Selama berada di desa ini, keadaannya sangat tenang dan tentram. Para penduduk pun sudah melakukan kesibukannya masing-masing.

Tidak ada lagi kekacauan dan segala macam tindak kekerasan! Desa Sirna Galih benar-benar pulih seperti sediakala.

“Jadi berangkat sekarang, Tuan?” tegur Ki Adong.

“Ya,” sahut Bayu.

“Sebenarnya seluruh penduduk desa ini mengharapkan agar Tuan bersedia tetap tinggal di sini,” kata Ki Adong lagi.

“Terima kasih, tapi maaf aku tidak bisa memenuhi. Masih banyak yang harus kuselesaikan,” sahut Bayu tanpa bermaksud menyinggung perasaan laki-laki tua itu.

“Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, kecuali hanya ucapan terima kasih,” kata Ki Adong.

Bayu tersenyum dan menepuk pundak laki-laki tua itu. Kakinya terayun melangkah keluar dari rumah kepala desa itu. Dia agak terkejut saat kakinya sampai di luar. Para penduduk Desa Sirna Galih telah berkumpul di depan rumah kepala desa. Bayu mengayunkan langkahnya, dan beberapa penduduk menghampiri seraya menyalaminya. Pendekar Pulau Neraka itu tidak dapat menahan keharuan. Baru kali ini dia diterima dan disambut begitu baik dan hangat oleh seluruh warga desa yang didatanginya.

Seorang laki-laki muda menghampirinya, sambil menuntun seekor kuda coklat yang tinggi dan tegap. Bayu memandanginya sebentar. Pemuda desa itu menyerahkan tali kekang kudanya.

“Untuk apa?” tanya Bayu.

“Tuan pasti membutuhkan,” kata pemuda desa itu.

“Maaf, tidak ada lagi yang dapat kuberikan.”

Bayu menepuk-nepuk pundak pemuda desa itu. Kepalanya tergeleng-geleng dengan mata agak berkaca-kaca. Terharu sekali. Hatinya jadi berat untuk meninggalkan desa ini. Tapi dia harus pergi dan mencari pembunuh keluarganya.

“Bukannya aku menolak. Aku tidak bisa menunggang kuda,” kata Bayu pelan.

“Tuan bisa belajar,” desak pemuda itu.
“Kuda ini sangat bagus. Kau pasti lebih memerlukan daripadaku. Sayang, kalau kuda sebagus ini mati tertembus panah atau tombak.”

“Tuan....”

“Baiklah, aku terima kuda ini. Tapi biar kutitipkan padamu. Kau bisa merawatnya, kan?”

“Oh, Terima kasih, Tuan. Aku janji, pasti akan merawatnya dengan baik,” pemuda desa itu gembira. Wajahnya berseri-seri.

Bayu tersenyum dan menepuk pundak pemuda desa itu beberapa kali, kemudian kembali mengayunkan kakinya melangkah pergi. Begitu banyak yang diberikan penduduk padanya, tapi tidak dapat diterima semuanya. Tidak mungkin menerima dan membawa semua yang diberikan mereka.

Pendekar Pulau Neraka itu mempercepat langkahnya dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh. Langkah kakinya begitu ringan, seolah-olah berjalan tanpa menapak tanah. Dalam waktu tidak terlalu lama, dia sudah sampai di perbatasan desa. Bayu menolehkan kepalanya ke belakang. Para penduduk Desa Sirna Galih masih berkumpul didepan rumah kepala desa.

“Hup!”

Bayu melompat dan langsung berlari cepat bagaikan angin. Ilmu lari cepat yang diimbangi dengan pengerahan ilmu meringankan tubuh, membuat Pendekar Pulau Neraka itu bagaikan terbang saja.

Hanya bayangannya saja yang berkelebat cepat menerobos semak dan pepohonan.

Pendekar Pulau Neraka itu terus berlari cepat menuju sebuah hutan lebat dengan pohon-pohon besar menjulang tinggi menentang langit. Dan ketika baru saja mencapai tepian hutan itu, mendadak sebuah ranting kecil meluncur deras ke arahnya. Bayu langsung melentingkan tubuhnya ke udara, lalu bersalto dua kali sebelum mendarat manis di tanah.

Entah bagaimana caranya, ranting yang tadi melunak deras ke arahnya sudah berada dalam genggaman tangan. Bayu memegangi ranting itu sesaat, kemudian tatapannya tajam beredar kesekelilingnya. Tidak terlihat seorang pun di tepian hutan ini. Tapi telinganya yang tajam bisa menangkap sumber suara dari sebelah kiri.

“Hup!”

Bayu mengibas tangan, melontarkan ranting yang ditangkapnya. Ranting itu meluruk deras disertai hempasan tenaga dalam hampir mencapai taraf kesempurnaan, dan menembus gerumbul semak.

Maka....
Srak!
“Aaa...!”

Satu jeritan melengking terdengar menyayat. Tidak lama kemudian muncul sesosok tubuh yang langsung ambruk bergulingan dengan leher tertembus ranting.

Pada saat yang hampir bersamaan, dua buah bayangan berkelebat keluar dari balik pepohonan.

“Hm...,” Bayu menggumam pelan tidak jelas.

“Hebat...!” kata salah seorang yang memakai baju biru tua dengan rantai baja tergenggam di tangannya.

“Siapa kalian? Kenapa menghadang jalanku?” tanya Bayu dingin.

“He he he...! Rupanya tikus kecil ini bisa juga main gertak...!” seorang tua bertubuh kurus memakai baju panjang longgar berwarna putih, tertawa mengejek. Sebilah pedang panjang tergantung di pinggang.

“Hm... aku tidak kenal siapa kalian. Maaf, aku tidak punya waktu untuk melayani orang gendeng!” dengus Bayu ketus.

“Bangsat! Kau terlalu memandang rendah, Bocah!” bentak laki-laki berbaju biru tua.

“Jika kalian tidak ingin disamakan dengan anjing buduk, menyingkirlah!”

“Bocah setan! Buka matamu lebar-lebar...! Kau tahu, siapa kami, heh!”

“Siapa pun kalian, aku tidak peduli! Aku tidak punya urusan dengan tikus-tikus comberan macam kalian!”

“Beledek gembel!” laki-laki tua bertubuh kurus itu terlonjak dengan wajah merah-padam menahan marah.

“Kau akan berlutut minta ampun kalau tahu siapa kami!” bentak orang yang berbaju biru. “Aku si Rantai Iblis Pencabut Nyawa!”

“Dan aku, si Pedang Kilat!” sambung laki-laki tua kurus itu.

“Hebat...,” Bayu tersenyum sinis. “Anak kecil boleh pingsan mendengar nama bau kencur itu. Tapi aku....”Bayu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum sinis.

“Kau benar-benar bocah setan!”

“Kau sudah bosan hidup rupanya, heh!”

“Hidup matiku bukan urusan kalian! Tapi.... Yah..
kalau kalian ingin mati sekarang, silakan. Aku bisa membantu kalian untuk lebih cepat pergi ke neraka!”

Kata-kata Bayu memang lembut, tapi membuat telinga kedua orang itu panas membara. Kemarahannya tidak bisa dibendung lagi. Kedua orang itu berlompatan ke samping sambil menghunus senjata masing-masing. Si Rantai Iblis Pencabut Nyawa memutar-mutar rantai baja putihnya. Sedangkan si Pedang Kilat mengibas-ngibaskan pedangnya di depan dada.

“Hhh...! Lucu sekali. Tidak ada panas, tidak ada hujan, kalian marah-marah mencegat perjalananku. Dan sekarang akan menyerangku. Ada apa sebenarnya ini...?” Bayu seperti bicara pada dirinya sendiri.

“Jangan banyak omong! Kau harus mampus Pendekar Pulau Neraka!” bentak si Pedang Kilat.

“He! Kau tahu namaku?” agak terkejut juga Bayu.

“Ya! Karena itu kau harus mampus! Kau adalah penghalang kami untuk menguasai seluruh Kadipaten Jati Anom!” sahut si Rantai Iblis Pencabut Nyawa.

“Aku? Ha ha ha...!”

Bayu merasakan tenggorokannya jadi tergelitik. Dia tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban itu. Sedangkan si Rantai Iblis Pencabut Nyawa dan si Pedang Kilat, hanya saling pandang.

“Menggelikan sekali. Aku tidak kenal kalian berdua, tapi kalian menuduhku sebagai penghalang. Dunia ini benar-benar sudah edan! Kenapa begitu banyak orang gila hidup di dunia ini...?” Bayu kembali seperti bicara pada dirinya sendiri.

“Tutup mulutmu, bangsat!” bentak si Rantai Iblis Pencabut Nyawa keras menggelegar.

Belum lagi hilang suara bentakan itu, si Rantai Iblis Pencabut Nyawa langsung melesat sambil mengebutkan rantainya ke arah Pendekar Pulau Neraka. Pada saat yang sama, si Pedang Kilat juga melompat menyerang. Bayu masih berdiri menanti, dan...

“Yaaa...!”


***


Enam

Sambil berteriak keras menggelegar, Bayu melompat ke udara. Itu dilakukan di saat kedua orang itu sudah dekat dengan dirinya. Dua kakinya dengan cepat merentang ke samping. Sedangkan kedua penyerangnya itu terkejut. Buru-buru mereka menarik mundur tubuhnya ke belakang. Namun Bayu dengan cepat meluruk ke arah si Rantai Iblis Pencabut Nyawa. Dua pukulan beruntun dilepaskan dengan cepat, di sertai pengerahan tenaga dalam sangat tinggi.

Si Rantai Iblis Pencabut Nyawa gelagapan seketika, dan semampunya mencoba menghindar dengan menjatuhkan tubuh ke tanah. Tapi belum juga tubuhnya sempat menyentuh tanah, dengan kecepatan luar biasa, kaki Pendekar Pulau Neraka sudah bergerak mendupaknya.

“Akh...!” si Rantai Iblis Pencabut Nyawa menjerit keras.

Tak ampun lagi, tubuhnya jatuh keras bergulingan di tanah berumput kering. Tendangan bertenaga dalam hampir sempurna itu membuat tulang iga laki-laki berbaju biru tua itu seperti remuk. Sementara Bayu berdiri tegak dengan tangan terlipat di depan dada. Tatapan matanya tajam pada si Pedang Kilat.
Laki-laki tua itu sepertinya ragu-ragu untuk melakukan penyerangan.

“Sudah kukatakan, tikus-tikus macam kalian tidak pantas berhadapan denganku!” kata Bayu sinis.

“Phuih! Kau terlalu besar kepala, Bocah!” dengus si Pedang Kilat.

“Kepalaku memang besar, dan yang pasti lebih keras dari kepalamu!”

“Setan! Mampus kau! Hiyaaa...!”

Si Pedang Kilat memuncak kembari amarahnya. Dia tidak peduli lagi kalau lawan begitu mudah menjatuhkan temannya. Sambil berteriak keras, laki-laki tua itu menyerang dengan senjatanya. Kibasan dan tusukan pedangnya begitu cepat bagaikan kilat. Tubuh Pendekar Pulau Neraka seperti tergulung cahaya kemerahan. Memang pantas kalau dia berjuluk si Pedang Kilat. Gerakan-gerakan pedangnya cepat luar biasa, dan selalu mendesis-desis seperti seorang musafir kehausan di padang pasir.

Tapi sampai sejauh itu, serangan-serangan si Pedang Kilat belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Gerakan tubuh Bayu begitu lentur, bagai
seekor belut. Sulit untuk menyentuhnya. Dan hal ini membuat si Pedang Kilat semakin bertambah berang.

Si Pedang Kilat mengibaskan senjatanya ke arah kepala. Dengan cepat Bayu mengangkat tangan kanannya, dan membiarkan pergelangan tangan kanannya yang tertempel senjata Cakra Maut membentur pedang lawan.

Tring!

Si Pedang Kilat tersentak bukan main begitu pedangnya membentur pergelangan tangan kanan Pendekar Pulau Neraka. Seluruh persendian tangannya bergetar dan nyeri, bagai tersengat ribuan kala berbisa.

Pada saat laki-laki tua itu menarik tangannya pulang, secepat kilat Pendekar Pulau Neraka menyodokkan tangan kirinya ke lambung. Sodokan dengan pengerahan tenaga dalam itu tidak bisa dihindari lagi. Laki-laki tua berbaju putih itu mengeluh pendek, dan tubuhnya agak terbungkuk.

“Hiyaaa...!”

Sambil berteriak keras, Bayu mengirimkan satu pukulan telak ke rahang lawannya. Si Pedang Kilat tersentak ke belakang. Tulang rahangnya serasa patah, sedangkan kepalanya sampai terangkat. Saat itu Bayu tidak membuang-buang kesempatan lagi Kakinya terayun deras, dan masuk tepat di dada lawannya.

“Akh!”

Laki-laki tua kurus itu terpental ke belakang sejauh tiga batang tombak. Kesempatan itu digunakan Bayu untuk mengibaskan tangan kanannya ke depan.

Secercah cahaya keperakan melesat cepat bagaikan kilat. Dan belum juga si Pedang Kilat sempat ambruk ke tanah, senjata Cakra Maut yang dilepaskan Pendeka Pulau Neraka amblas di dadanya.

“Aaa...!” si Pedang Kilat menjerit melengking.

Darah langsung muncrat dengan keras, begitu Cakra Maut kembali melesat keluar dari dalam dada yang berlubang cukup besar itu. Bayu mengangkat tangannya ke atas kepala, maka Cakra Maut kembali menempel di pergelangan tangan kanannya. Pendekar Pulau Neraka itu membalikkan tubuhnya. Pandangannya langsung tertuju pada si Rantai Iblis Pencabut Nyawa.

Langkah kakinya mantap, dan tatapan matanya tajam menusuk Si Rantai Iblis Pencabut Nyawa beringsut mundur menyeret tubuhnya. Raut wajahnya nampak pucat pasi, dan seluruh tubuhnya bergetar bagai terserang malaria. Keringat sebesar butiran jagung menitik membasahi kening dan lehernya.

“Kau akan bernasib sama dengan temanmu, keparat!” dingin suara Bayu Hanggara.

“Tolong..., jangan bunuh aku...,” ratap si Rantai Iblis Pencabut Nyawa memelas.

“Hey! Kenapa ketakutan begitu? Tadi kau kelihatan garang, dan bangga dengan julukanmu yang memuakkan,” ejek Bayu.

“Tuan, aku mohon. Jangan bunuh aku...,” rengek laki-laki berbaju biru tua itu.

“Tidak kusangka, kau akan ketakutan juga menghadapi kematian,” sinis kata-kata Bayu.

“Apa yang kau inginkan dariku, Tuan. Pasti akan kuberikan, asal kau tidak membunuhku.”

“Baik! Katakan, siapa yang menyuruhmu menghadang jalanku?” tanya Bayu, dingin suaranya.


“Pendekar Pulau Neraka.”

“Aku tidak main-main, Setan!”

Plak!

Tamparan tangan Bayu begitu keras mendarat diwajah laki-laki itu, sehingga tubuhnya sampai terguling beberapa kali. Bayu melompat dan menjejak dada orang itu. Wajahnya nampak bengis, ditambah matanya yang memerah membara terselimut hawa kemeriahan.

“Siapa yang menyuruhmu? Jawab!” bentak Bayu gusar.

“Aku tidak bohong, Tuan. Aku.... Akh!”

Bayu jadi geram setengah mati. Ditekannya dada orang itu dengan kuat. Darah menyembur muncrat dari mulut laki-laki berbaju biru tua itu. Tulang-tulang dadanya berkeretuk patah. Pendekar Pulau Neraka itu setengah membungkuk, dan mencengkeram leher si Rantai Iblis Pencabut Nyawa.

Cengkeramannya begitu kuat, membuat laki-laki bertampang angker itu meringis kesakitan.

“Di mana dia sekarang?” tanya Bayu tetap dingin suaranya.

“Di Istana Kadipaten.”

“Hih!”

Bayu mencampakkan tubuh orang itu dengan kasar. Lalu sambil berteriak keras, dihantamnya dada laki-laki berbaju biru tua itu dengan pengerahan tenaga dalam penuh. Si Rantai Iblis Pencabut Nyawa tidak mampu bersuara lagi. Kepalan tangan Bayu melesak ke dalam dada hingga pergelangan tangan.
Bayu mendorong tubuh orang itu dengan kakinya. Tangan kirinya berlumuran darah segar begitu keluar dari dalam dada si Rantai Iblis Pencabut Nyawa. Sebentar dipandangi tubuh-tubuh yang bergelimpangan tak bernyawa lagi.

“Siapa pun dia, harus mampus di tanganku!” desis Bayu menggeram penuh amarah.

Pendekar Pulau Neraka itu segera melesat pergi kearah Kadipaten Jati Anom. Lesatan yang begitu sempurna dan cepat bagaikan kilat. Dalam sekejap mata saja, bayangan tubuhnya sudah tidak terlihat lagi. Sementara di sekitar tepian hutan itu kembali sunyi senyap dengan dua sosok tubuh menggeletak tak bernyawa lagi.


***


Hari masih siang. Matahari telah naik tinggi tepat di atas kepala. Sinarnya yang terik menyengat, membuat kulit terasa panas terbakar. Kadipaten Jati Anom tampak sepi lengang, bagaikan sebuah kota mati tak berpenghuni. Hanya ada satu orang terlihat. Dialah Bayu Hanggara yang berjalan cepat menuju bangunan megah dikelilingi tembok benteng yang tinggi dan kokoh.

Langkah kaki Pendekar Pulau Neraka itu berhenti di ambang pintu gerbang yang telah hancur porak-poranda. Sepasang bola matanya tajam merayapi sekelilingnya. Keadaan bangunan istana kadipaten itu tampak kotor dan berantakan. Suasananya seperti baru saja terjadi pertempuran dahsyat. Pelahan-lahan Bayu mengayunkan kakinya melewati pintu gerbang itu.

Ayunan kakinya pelan dan ringan. Tak ada sedikitpun suara terdengar. Hanya desiran angin saja yang mengusik gendang telinganya. Bayu terus melangkah melintasi halaman yang luas dan berantakan. Angin siang ini terasa begitu kencang berhembus menerbangkan debu dan dedaunan kering. Pendekar Pulau Neraka itu berdiri tegak di tengah-tengah halaman depan istana kadipaten yang luas ini.

Sing!
“Hup!”

Tiba-tiba saja dari arah depan meluncur sebatang tombak panjang. Bayu segera memiringkan tubuhnya ke kanan, lalu tangan kirinya bergerak cepat menangkap tombak itu. Dan belum lagi sempat menarik tubuhnya, kembali sebuah tombak meluncur ke arahnya.

“Hup! Yaaa...!”

Bayu memutar tombak yang berhasil ditangkapnya, dan dilemparkan dengan mengerahkan tenaga dalam penuh. Dua batang tombak berbenturan di tengah-tengah, dan hancur berkeping-keping. Bayu berdiri tegak dengan tangan melipat di depan dada.

“Ha ha ha...!”

Tiba-tiba terdengar suara tawa keras menggelegar. Jelas tawa itu disertai pengerahan tenaga dalam yang cukup tinggi. Hal itu terbukti dengan daun-daunan yang berguguran, dan batu-batu kerikil yang berlompatan seperti terkena gempa. Bayu segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengimbangi suara tawa itu.

“Hup! Yaaa...!”

Bayu menggerak-gerakkan tangannya di depan dada, lalu berteriak keras melengking tinggi. Teriakan yang disertai pengerahan tenaga dalam hampir mencapai taraf kesempurnaan itu membuat suara tawa berhenti seketika. Bangunan megah itu dibuat bergetar, bagai diguncang gempa!

Begitu suara teriakan Bayu hilang, dari dalam Istana Kadipaten Jati Anom melesat sebuah bayangan. Dan tahu-tahu di depan Pendekar Pulau Neraka telah berdiri seorang laki-laki tua bertubuh agak bungkuk. Bajunya longgar berwarna merah. Tangan kanannya menggenggam sebatang tongkat dengan kepala berbentuk tengkorak manusia. Tongkat itu juga berwarna merah bagai berlumur darah.

“He he he...! Kau benar-benar pendekar jantan, Pendekar Pulau Neraka,” kata laki-laki tua itu. Suaranya terdengar kecil dan serak, namun melengking tinggi menyakitkan telinga.

“Siapa kau?” tanya Bayu ketus.

“Kau akan terkejut bila mendengar namaku, Pendekar Pulau Neraka,” sahut laki-laki tua itu.

“Huh!” Bayu hanya mendengus saja.

“Dengar baik-baik, Anak Muda. Aku yang bernama si Tua Tongkat Merah!” laki-laki tua itu memperkenalkan diri.

Bayu mengerutkan keningnya sedikit. Memang pernah didengarnya nama itu dari gurunya. Eyang Gardika di Pulau Neraka. Nama yang menjadi musuh bebuyutan, dan yang telah membuat cacat Eyang Gardika. Si Tua Tongkat Merah adalah salah satu dari orang yang mengeroyok guru Bayu itu.

“Sudah lama kuikuti perkembanganmu, Anak Muda. Sepak terjangmu tidak berbeda jauh dari sikeparat Gardika!” kata si Tua Tongkat Merah itu lagi.

“Mengapa kau memakai namaku?” tanya Bayu.

“He he he....
Aku hanya ingin memancingmu. Aku tahu kau datang ke sini untuk mencari Adipati Rakondah untuk membalas dendam. Aku juga tahu kau berhasil membunuhnya. Kesempatan itu kupergunakan untuk memancingmu, sekaligus membuktikan anggapan semua orang yang mengatakan bahwa kau manusia berbahaya yang tidak boleh dibiarkan hidup!”

“Licik!” geram Bayu marah.

“Kau baru seumur jagung, Anak Muda.
Pengalamanmu belum seberapa dalam pahit getirnya kehidupan rimba persilatan. Pertarungan tidak hanya mengandalkan kekuatan dan tingginya tingkat kepandaian. Tapi juga ini...!” si Tua Tongkat Merah mengetuk-ngetuk keningnya sendiri.

“Tua bangka busuk! Kau harus menanggung semua kelicikanmu!” dengus Bayu menggeram.

“He he he...! Bocah baru kemarin sore sudah besar kepala. Gurumu saja tidak mampu menghadapiku....

He he he...!” si Tua Tongkat Merah terkekeh mengejek.

“Setan keparat...! Kubunuh kau! Hiyaaa...!”

Bayu tidak bisa mengendalikan amarahnya lagi. Pantang baginya berhadapan dengan orang yang menghina gurunya. Dengan kecepatan kilat, Pendekar Pulau Neraka itu melompat sambil mengirimkan beberapa pukulan beruntun.

“Uts!”

Si Tua Tongkat Merah berlompatan menghindari serangan Bayu Hanggara. Tubuh tua setengah bungkuk yang kelihatannya rapuh itu, ternyata begitu gesit dan tangkas. Gerakan kakinya lincah, dan tubuhnya sangat lentur. Beberapa kali pukulan dan tendangan Bayu hampir mengenai sasaran, tapi laki-laki tua berbaju merah itu masih mampu menghindarinya.

“He he he..., kau boleh juga, Anak Muda!” si Tua Tongkat,Merah terkekeh.

“Awas kepala!” bentak Bayu tiba-tiba.

“Uts!”

Si Tua Tongkat Merah langsung berhenti tawanya. Buru-buru dirundukkan kepalanya begitu tangan kiri Bayu melayang ke arah kepalanya. Tapi begitu merunduk, tidak terduga sama sekali, tangan kanan Pendekar Pulau Neraka itu menyodok ke arah lambung.

“Heh!”

Si Tua Tongkat Merah tersentak kaget. Dengan cepat dia melompat mundur menghindari serangan mendadak dan tidak terduga itu. Kesempatan ini tidak disia-siakan begitu saja oleh Pendekar Pulau Neraka. Dengan cepat dimiringkan tubuhnya ke kiri setengah membungkuk, dan kakinya tertekuk hampir menyentuh tanah. Seketika itu juga tangan kanannya mengibas ke depan.

Secercah cahaya keperakan melesat cepat bagaikan kilat Si Tua Tongkat Merah terperangah sesaat. Buru-buru diangkat tongkatnya dan diputarnya dengan cepat, membuat perisai bagi dirinya sendiri.

Bayu menghentakkan tangan kanannya ke atas, dan Cakra Maut melesat cepat ke atas. Begitu tangan Bayu menghantam ke bawah, senjata bulat pipih bergerigi enam buah itu langsung meluruk turun ke bawah.

“Edan!” dengus si Tua Tongkat Merah terperanjat.

Buru-buru dikibaskan tongkatnya ke atas kepala. Pada saat itu, Bayu melompat cepat dengan kaki kanan tertuju ke depan. Lompatan yang cepat dan deras itu, membuat si Tua Tongkat Merah kelabakan. Tidak mungkin ditarik tongkatnya kembali yang berada di atas kepala untuk menangkis serangan senjata Cakra Maut.

Tidak ada kesempatan lagi. Si Tua Tongkat Merah mendorong tangan kirinya ke depan, dan langsung berbenturan dengan telapak kaki Pendekar Pulau Neraka.

“Akh!”

Si Tua Tongkat Merah terpental dua batang tombak ke belakang. Sedangkan Bayu melesat keudara, dan bersalto dua kali sebelum kakinya kembali menjejak tanah. Sementara si Tua Tongkat Merah
makin terperanjat setengah mati.

Ternyata pada saat yang bersamaan, senjata Cakra Maut telah membabat tongkatnya hingga terpotong jadi dua bagian. Si Tua Tongkat Merah memang tidak bisa membagi dua kekuatan secara penuh. Dua serangan yang datang secara bersamaan membuatnya harus membagi dua kekuatan. Dan itu sangat fatal akibatnya.

Tangan kirinya tidak bisa digerakkan lagi. Seluruh tulang tangan kirinya remuk, sedangkan tongkat kebanggaannya terpotong jadi dua. Si Tua Tongkat Merah hampir tidak percaya dengan kenyataan yang dihadapinya. Benar-benar tidak disangka kalau Pendekar Pulau Neraka bisa melakukan dua serangan dalam waktu yang bersamaan!

Hal itu tidak pernah diduga sebelumnya. Dia kenal betul Gardika yang menjadi guru tunggal Pendekar Pulau Neraka. Beberapa kali si Tua Tongkat Merah bentrok dengan Gardika. Dan sudah barang tentu dia mengenal betul jurus-jurusnya. Tingkat kepandaiannya dengan Gardika memang seimbang. Bahkan kalau boleh dikatakan, dia berada satu tingkat diatasnya. Tapi kenyataan yang kini dihadapinya, sungguh diluar dugaan.

“Kau ternyata lebih sempurna dari Gardika, Pendekar Pulau Neraka!” kata si Tua Tongkat Merah memuji tulus.

“Hhh! Pertarungan belum selesai, Tua Bangka!” dengus Bayu ketus.

“Jangan besar kepala dulu! Aku belum kalah!”

“Hup, yaaa...!”


***


Pertarungan antara Bayu Hanggara dengan si Tua Tongkat Merah kembali berlangsung sengit. Masing-masing mengerahkan jurus-jurus andalannya. Semakin banyak jurus yang dikeluarkan, semakin disadari kalau Pendekar Pulau Neraka berada di atas angin.

Tentu saja hal ini sangat mengejutkan si Tua Tongkat Merah. Jurus-jurus yang dimiliki Pendekar Pulau Neraka tidak berbeda jauh, bahkan sama persis dengan yang dimiliki Gardika. Hanya saja dalam diri Pendekar Pulau Neraka, jurus-jurus itu semakin mantap dan lebih sempurna. Bahkan begitu banyak gerak tipuan disertai penggabungan beberapa jurus.

Penggabungan beberapa jurus inilah yang membuat si Tua Tongkat Merah jadi kelabakan. Dia selalu mati langkah, dan sering kecolongan. Beberapa kali pukulan dan tendangan mendarat di tubuhnya, meskipun pukulan dan tendangannya juga bisa disarangkan ke tubuh Pendekar Pulau Neraka. Tapi tanpa tongkat yang utuh, si Tua Tongkat Merah bagaikan macan yang kehilangan hampir seluruh giginya.

“Modar! Hiya...!” teriak Bayu keras.

Dengan cepat Pendekar Pulau Neraka itu
melepaskan beberapa pukulan beruntun dari arah depan, lalu disusul dengan dua buah tendangan kaki kanan dan kiri. Serangan itu demikian cepat, sehingga membuat si Tua Tongkat Merah kewalahan menghindarinya. Hingga....

“Akh!” si Tua Tongkat Merah memekik tertahan. Satu pukulan keras jurus 'Pukulan Racun Hitam' berhasil mendarat di dadanya. Si Tua Tongkat Merah terhuyung ke belakang dengan tangan kiri menekap dada. Begitu tangannya diturunkan, tampak di dada yang kurus tergambar telapak tangan berwarna hitam kebiru-biruan. Dari sudut bibirnya pun mengalir darah kental kehitaman.

Bayu berdiri tegak dengan tangan melipat di depan dada. Matanya menatap tajam, sedangkan bibirnya menyunggingkan senyuman tipis dan sinis. Sementara si Tua Tongkat Merah menggerak-gerakkan tangannya, berusaha menghimpun hawa murni untuk membendung racun yang mulai menjalar merasuki peredaran jalan darahnya.

Disadarinya kalau 'Pukulan Racun Hitam' sangat berbahaya.

“Kau hebat, Pendekar Pulau Neraka...,” pelan dan agak tersendat suara si Tua Tongkat Merah.

“Dan kau tinggal menunggu kematian, Tua Bangka!” sambut Bayu dingin.

“Ugh!”

Si Tua Tongkat Merah menyemburkan darah kental kehitaman dari mulutnya. Tubuhnya semakin limbung, dan kakinya bergetar, sepertinya tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Dan pada muntahan darah kedua kalinya, tubuhnya langsung ambruk.

Bayu melepaskan jurus 'Pukulan Racun Hitam' dengan tenaga penuh. Dan sudah tentu akibatnya sangat fatal. Bukan hanya racun yang menjalar diseluruh aliran darah, tapi juga membuat tulang-tulang dada remuk Sebentar. si Tua Tongkat Merah menggelepar, lalu diam tidak bergerak-gerak lagi. Saat itu juga nyawanya melayang dari badan.

“Hhh...!” Bayu mendesah panjang.


***


Tujuh




Bayu baru saja membalikkan tubuhnya, menjadi terperanjat karena di depannya kini sudah berdiri seorang laki-laki tua berjubah putih. Bayu kenal betul siapa laki-laki tua itu. Dia tidak lain dari Eyang Watuagung. Seorang tua yang selalu jadi panutan dan amat disegani seluruh rakyat Kadipaten Jati Anom. Bahkan para penduduk desa-desa di sekitar Gunung Rangkas pun sangat menghormatinya. Hal itu bisa saja terjadi karena Eyang Watuagung pernah menjabat sebagai adipati di Kadipaten Jati Anom ini.

“Eyang...,” desis Bayu merasa sungkan.

“Untuk apa kau kembali lagi ke sini, Pendekar Pulau Neraka?” tanya Eyang Watuagung. Dingin suaranya.

“Rasanya tidak perlu kujelaskan lagi, Eyang,” sahut Bayu seraya melirik mayat si Tua Tongkat Merah.

“Kau tahu siapa dia?”

“Ya! Dia salah seorang yang telah menganiaya dan membuat cacat guruku,” sahut Bayu lagi.

“Aku tidak peduli siapa gurumu!”

Bayu agak tertegun mendengar kata-kata bernada kasar itu. Tapi dicobanya bersabar. Meskipun Eyang Watuagung adalah guru dari orang yang pernah jadi
musuhnya, Bayu tetap menghormati karena sikapnya yang arif dan bijaksana. Bahkan Eyang Watuagung pernah mencoba menghalangi tindakannya dan hampir membunuhnya di dasar jurang. Bayu dapat memaklumi hal itu. Seorang guru pasti tidak akan berdiam diri melihat muridnya terancam bahaya. Demikian juga sebaliknya.

“Kau tahu, orang yang terbujur itu? Dia bernama Hastama, adik kandungku!” kata Eyang Watuagung dengan nada suara agak tertahan.

“Oh!” Bayu benar-benar terkejut mendengarnya. Sama sekali tidak disangka kalau si Tua Tongkat Merah adalah adik kandung Eyang Watuagung. Sesaat kemudian Pendekar Pulau Neraka itu mengeluh dalam hati. Bukannya gentar menghadapi laki-laki tua itu, tapi rasa sungkan dan hormat membuatnya enggan untuk kembali bentrok.

“Aku bisa memahami dan memaklumi saat kau membunuh kedua muridku, Pendekar Pulau Neraka!

Tapi sekarang, kau juga telah membunuh adik kandungku! Di saat aku sedang berusaha menyadarkan kekeliruannya. Perbuatanmu benar-benar tidak bisa kumaafkan lagi!” semakin dingin nada suara Eyang Watuagung.

“Eyang! Aku sungkan padamu, dan aku juga menghormatimu sebagaimana rakyat kadipaten ini menghormatimu. Aku membunuh muridmu karena dia telah membantai keluargaku dan memporak-porandakan padepokan milik ayahku. Dan sekarang adik kandungmu, dia sengaja memancingku ke sini dengan menyebarkan fitnah dan merusak nama baikku. Dia telah menganiaya guruku, dengan membuntungi kedua kaki dan membutakan matanya! Dia tidak suka ada orang yang mewarisi ilmu-ilmu Eyang Gardika, makanya sengaja memancingku ke sini dan ingin membunuhku karena aku murid musuhnya!

Apakah aku salah kalau semua yang kulakukan hanya untuk membela diri dan rasa bakti pada orang tua dan guruku?” lantang dan gamblang kata-kata Bayu.

Eyang Watuagung terdiam.

“Eyang adalah seorang yang sangat dihormati dari menjadi panutan semua orang. Aku pun sangat menghormatimu. Sepertinya berat jika rasa hormatku rusak hanya karena masalah kecil dan kesalah-pahaman yang tidak berarti,” lanjut Bayu.

Eyang Watuagung semakin terdiam mendengar penjelasan Bayu yang gamblang. Diakui kalau dia tidak bisa menyalahkan penuh pada Pendekar Pulau Neraka itu. Secara jujur, Eyang Watuagung merasa malu dengan perbuatan kedua murid dan adik kandungnya. Tidak ada salahnya jika Bayu membalas dendam dan membela martabat orang tua dan gurunya. Di samping itu pula, kehadiran Bayu sekarang ini bukan kehendaknya sendiri. Secara diam-diam, Eyang Watuagung memang mengikuti Pendekar Pulau Neraka saat memasuki Kadipaten Jati Anom ini. Dan dia terus mengawasi kejadian di halaman depan istana kadipaten ini. Semua pembicaraan dan semua yang terjadi didengar dan dilihatnya. Hatinya mengakui kalau sikap dan perbuatan Bayu adalah ciri seorang pendekar sejati.

Datang menantang lawan dengan sikap jantan dan tidak bertindak curang. Pertarungannya juga murni, meskipun terlihat kejam pada lawannya. Hal itu
memang bisa dimaklumi dalam dunia kependekaran.

“Maaf, kalau kata-kata dan perbuatanku terlalu kasar dan menyinggung perasaanmu selama ini. Aku tidak tahu harus berkata dan berbuat apa lagi untuk.menjelaskannya. Semua yang kulakukan bukan berdasar kebencian semata. Aku hanya....”

“Cukup!” sentak Eyang Watuagung memotong. Bayu langsung diam.

“Sebaiknya kau cepat tinggalkan kadipaten ini! Dan kuminta jangan kembali lagi ke sini dengan meninggalkan mayat-mayat,” tegas Eyang Watuagung.

Sesaat Bayu tertegun.

“Aku tidak menyalahkanmu, dan juga tidak membenarkan segala tindakanmu. Meskipun kau telah melangkahiku. Dan sebelum pikiranku berubah, sebaiknya segera kau tinggalkan Kadipaten Jati Anom!” tegas kata-kata Eyang Watuagung.

Sejenak Bayu menatap pada laki-laki tua berjubah putih itu, kemudian melangkah pergi. Eyang Watuagung masih berdiri tegak memandangi kepergian Pendekar Pulau Neraka itu. Batinnya terasa terpukul dengan semua peristiwa yang terjadi secara beruntun di tanah kelahirannya ini.

“Oh, Tuhan..., mengapa Kau timpakan cobaan begini berat padaku...?” desis Eyang Watuagung lirih.

Eyang Watuagung melangkah mendekati mayat si Tua Tongkat Merah. Dia berlutut di samping tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi. Batinnya benar-benar bergolak menghadapi kenyataan pahit ini. Hatinya menjerit dan teramat sakit. Kematian adik kandungnya ini teramat tragis, dan berlangsung di depan matanya.

“Aku memang sudah berjanji untuk selalu melindungimu, Adikku. Tapi kau bukan anak kecil lagi. Selalu kuperingatkan agar kau jangan mengobarkan api yang hampir padam...,” lirih suara Eyang Watuagung.
Kepala laki-laki tua itu tertunduk dalam. Sebentar matanya terpejam rapat, lalu kembali terbuka seraya mengangkat kepalanya ke atas. Tarikan napasnya begitu berat.

“Sejak kecil kita selalu bersama-sama, Adikku. Kita selalu saling membela. Kita selalu saling merasakan bila tersakiti. Kini kau telah tiada, dan aku merasa diriku juga telah mati. Ah...! Seharusnya aku membalas kematianmu, Hastama. Tapi..., ah, tidak! Aku tidak boleh mendendam. Dendam bukan satu-satunya jalan mencari penyelesaian. Dendam dapat mengakibatkan timbulnya permasalahan baru yang tidak akan pernah berakhir, Hastama! Relakan dirimu pergi, dan aku juga akan merelakanmu. Biarlah semuanya menjadi kenangan dan menjadi cambuk
dalam kehidupan. Selamat jalan, Adikku,” semakin lirih suara Eyang Watuagung.

Eyang Watuagung mengangkat tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi itu, kemudian pelahan-lahan kakinya melangkah. Saat itu senja mulai merayap turun. Bias-bias cahaya matahari mengintip dari balik awan
hitam. Eyang Watuagung terus berjalan pelahan-lahan meninggalkan halaman depan Istana Kadipaten Jati Anom.


***


Eyang Watuagung berdiri tegak memandangi gundukan tanah merah yang masih baru. Pada bagian ujungnya tertancap sebatang tongkat berkepala tengkorak manusia. Tanpa terasa, setitik air bening menggulir di pipinya. Setegar apa pun, hatinya terasa teriris juga menghadapi kematian satu-satunya adik kandung yang sudah bertahun-tahun berpisah.

Sejak kemarin sore, sampai menjelang pagi ini, Eyang Watuagung berdiri mematung di samping makam adiknya. Dia baru mengangkat kepala begitu merasakan sengatan matahari mulai membakar kulitnya. Saat itu baru disadari kalau telah semalaman penuh dia berdiri dengan pikiran mengambang, melayang-layang tidak tentu arah dan tujuannya.

Kepalanya berpaling ke kanan ketika mendengar suara langkah kaki menuju ke arahnya. Kelopak matanya agak menyipit melihat Intan Delima dan Indranata datang. Eyang Watuagung melangkah menuju sebuah pohon rindang, kemudian duduk di bawah pohon itu. Intan sempat berhenti dan memandang gundukan tanah merah itu, kemudian mendekati dan duduk di samping Indranata yang telah lebih dahulu berada di depan laki-laki tua
berjubah putih itu.

“Dari mana kalian tahu aku ada di sini?” tanya Eyang Watuagung.

“Seorang perambah hutan kebetulan melihat Eyang berada di sini,” sahut Indranata.

“Eyang! Makam siapa itu?” tanya Intan melirik kuburan yang masih baru.

“Adikku,” sahut Eyang Watuagung.

“Eyang Hastama?” Intan ingin kejelasan.

“Ya.

Intan memandangi kuburan itu. Dia ingat ketika masih kecil dulu, Eyang Hastama-lah yang mengajarkan dasar-dasar ilmu olah kanuragan. Dan ketika ibunya meninggal, Eyang Hastama pula yang selalu menghiburnya. Meskipun sikap dan segala tindakannya kasar, tapi di mata Intan, Eyang Hastama merupakan seorang yang paling baik dan bijaksana.

“Kapan Eyang Hastama meninggal?” tanya Intan kembali berpaling ke arah Eyang Watuagung

“Kemarin sore,” sahut Eyang Watuagung.

“Bertarung?” tanya Intan lagi.

“Ya.”

“Dengan siapa?”

“Pendekar Pulau Neraka.”

Seketika itu juga Intan merasakan jantungnya berhenti berdetak. Sedangkan Indranata langsung menatap pada gadis itu. Sementara Intan menatap tajam, meminta penjelasan pada laki-laki berjubah putih di depannya.

“Sudahlah, Intan. Pertarungan itu jujur dan ksatria,” jelas Eyang Watuagung seolah-olah bisa mengerti perasaan dan tatapan mata gadis itu.

“Keterlaluan! Benar-benar keparat dia!” geram Indranata.

“Indranata!” sentak Eyang Watuagung.
“Maaf, Eyang. Perbuatan Pendekar Pulau Neraka tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ini sudah keterlaluan!

Pertama, yang dibunuh Paman Adipati Rakondah dan Paman Panglima Bantaraji. Semuanya murid Eyang. Dan sekarang dia membunuh Eyang Hastama. Entah besok, lusa, atau kapan waktu dia pasti membunuh kita semua! Aku tidak bisa menerima semua ini, Eyang! Perbuatannya harus dihentikan!” ujar Indranata berapi-api.

“Hentikan kata-katamu, Indranata!” bentak Eyang Watuagung.

“Eyang....”

“Cukup!”

Indranata langsung bungkam. Kepalanya tertunduk dalam. Bentakan Eyang Watuagung begitu keras, dan menciutkan hatinya. Sementara Intan hanya diam saja. Hatinya benar-benar tidak menentu saat ini.

“Indranata! Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk mendendam. Buang jauh-jauh perasaan dendam di hatimu. Aku tidak mengerti, setan mana yang mengurung hatimu, sehingga kau bisa berkata begitu?” Eyang Watuagung menggeleng-gelengkan kepala.

“Maafkan, Eyang. Aku hanya....”

“Ah, sudahlah!” potong Eyang Watuagung cepat.

Indranata kembali diam. Dia memang tidak mungkin membantah dan berdebat dengan gurunya ini. Meskipun hatinya masih membara, tapi tidak mungkin untuk menentang kata-kata Eyang Watuagung. Indranata melirik Intan yang hanya diam saja tanpa berkata sepatah kata pun.

“Untuk apa kalian meninggalkan pondok?” tanya Eyang Watuagung setelah lama terdiam. Tidak ada yang menjawab.

“Intan...?” Eyang Watuagung menatap Intan Delima.

'Mencari Eyang,” sahut Intan pelan suaranya.

“Kau lupa pesanku, Intan.”

“Sudah tiga purnama lebih Eyang tidak kembali. Aku hanya khawatir, Eyang. Tidak ada maksud lain,” jelas Intan agak bergetar suaranya.

“Sebaiknya kalian kembali ke pondok. Aku akan keKadipaten Jati Anom, sampai ada pengganti adipati,” kata Eyang Watuagung.

Intan dan Indranata saling berpandangan, kemudian beranjak bangkit berdiri. Setelah menjura memberi hormat, kedua anak muda itu berbalik dan melangkah pergi. Sementara Eyang Watuagung juga segera berlalu menuju Kadipaten Jati Anom. Tapi baru saja berjalan beberapa langkah, mendadak berhenti.

“Hm..., mereka pasti bukan mencariku,” gumam Eyang Watuagung. “Ah, tidak! Itu tidak boleh terjadi...!”

Eyang Watuagung tersentak kaget, dan langsung berbalik. Sebentar dipandang arah kepergian Intan dan Indranata pergi. Laki-laki tua berjubah putih itu bar menyadari kalau kepergian cucu dan muridnya bukan menuju ke Gunung Rangkas. Tanpa berpikir panjang lagi, Eyang Watuagung langsung melesat mengejar kedua muridnya.


***


Saat itu Intan dan Indranata sudah tiba di tepi hutan yang berbatasan dengan Desa Sirna Galih. Mereka sempat terkejut begitu melihat tiga sosok mayat tergeletak berlumuran darah. Sekitar tempat itu juga porak-poranda, seperti bekas terjadi pertempuran. Intan mengajak Indranata untuk terus berlalu.

“Eyang Watuagung pasti marah kalau tahu kita tidak kembali ke pondok, Intan,” kata Indranata sambil terus melangkah menyusuri tepian hutan itu.

“Aku kan sudah bilang, tidak ada gunanya mencari Pendekar Pulau Neraka. Eyang Watuagung juga tidak mengijinkan,” sahut Intan.

“Tapi, Intan. Perbuatannya sudah keterlaluan!”

Intan tidak menyahuti.

“Kau masih mencintainya, Intan?” tanya Indranata setengah menyelidik.

“Entahlah,” sahut Intan mendesah.

Indranata berhenti melangkah. Ditatapnya Intan Delima dalam-dalam. Setiap kali menanyakan hal itu, dan jawabannya selalu sama. Maka dada Indranata langsung bergemuruh. Indranata mengakui kalau dia merasa cemburu. Yang diinginkan, agar Intan menumpahkan rasa cinta hanya pada dirinya saja.

“Kenapa kau memandangku seperti itu?” tegur Intan.

“Sebaiknya kita kembali saja ke pondok,” kata Indranata pelan. Suaranya terdengar datar tanpa tekanan sama sekali.

“Kenapa?” kali ini Intan agak terkejut.
“Tidak mungkin aku dapat menghadapinya. Kau pasti tidak ingin melihat dia terluka, apalagi tewas,” ada nada kecemburuan pada suara Indranata.

Intan Delima hanya memandang pada sorot mata pemuda itu. Bisa dirasakan ada nada kecemburuan pada suara lndranata. Dia tahu kalau pemuda itu mencintainya dengan tulus dan murni, lapi Intan belum bisa memupuskan cintanya pada Bayu Hanggara, Pemuda tampan dan gagah, juga berilmu sangat tinggi. Pemuda yang telah membuat hatinya terpisah-pisah bagai kepingan kapal terhempas badai.

Gadis itu memang mendendam dan membenci Pendekar Pulau Neraka. Tapi juga sangat mencintainya. Ingin dia membunuhnya, mencabik-cabik tubuh nya, meminum darahnya. Tapi rasa cinta yang amat besar selalu menghalangi dan memupuskan keinginannya itu. Sedangkan cinta lndranata begitu besar, tulus dan murni. Apakah dia akan mengecewakan pemuda itu? Padahal pemuda ini selalu memperhatikan, dan rela mengorbankan nyawa demi cintanya.

“Ah...!” Intan menggeleng-gelengkan kepalanya

“Ayo, jalan lagi,” ajaknya.

“Kau menyembunyikan sesuatu, Intan,” tebak Indranata.

“Tidak!” sahut Intan. “Ah, sudahlah. Ayo kita cari Pendekar Pulau Neraka. Aku pasti akan membantumu untuk membunuhnya!”

“Kau tidak sungguh-sungguh, Intan.”
“Aku serius!”
“Sungguh?”
“Iya!”

lndranata tersenyum mendengar jawaban bernada sungguh-sungguh itu. Kemudian dilingkarkan tangannya ke pinggang gadis itu dan dipeluknya erat-erat. Namun dengan halus Intan melepaskan pelukan pemuda itu. Agak terkejut juga gadis itu, karena pelukan lndranata demikian ketat dan sukar dilepaskan.

“Kakang....”

lndranata tidak peduli lagi dengan penolakan Intan. Dengan liar disumpalnya bibir gadis itu dengan bibirnya. Intan hanya bisa menggumam dan mendesis. Gadis itu memegang tangan lndranata yang mulai nakal merayapi tubuhnya. Dan pada saat bibir pemuda itu lepas dari bibirnya, Intan segera melangkah mundur seraya mendorong dada pemuda itu dengan halus.

“Kau nakal, Kakang,” desah Intan agak terengah.

lndranata hanya tersenyum saja. Ingin digamitnya pinggang gadis itu kembali, tapi Intan lebih cepat berkelit dan melangkah kembali. lndranata mengikutinya, dan mensejajarkan langkahnya di samping Intan.

Tangannya memeluk pinggang gadis itu. Intan tidak bisa menolak tangan yang melingkari pinggangnya.

Mereka terus berjalan tanpa berkata-kata lagi. Sesekali Intan menggelinjang jika jari-jari tangan lndranata mulai nakal. Dan saat tiba di tepi sungai, langkah mereka langsung terhenti. Pandangan mereka tidak berkedip, tertumbuk pada sesosok tubuh yang tengah duduk bersandar di bawah pohon rindang. Saat itu Intan merasa jantungnya berhenti berdetak lndranata melepaskan pelukannya dipinggang gadis itu.

“Kakang Bayu...,” desis Intan tidak sadar.


***


Pemuda berbaju kulit harimau yang duduk bawah pohon itu berpaling. Keningnya sedikit berkerut melihat Intan dan Indranata. Pemuda itu bangkit dan berdiri tegak dengan tangan melipat di depan dada. Sedangkan Indranata melangkah menghampiri. Tatapan matanya tajam menusuk.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Indranata langsung melompat dan menyerang. Tentu saja Bayu terkejut, lalu buru-buru melompat ke samping menghindari serangan itu. Tapi Indranata tidak menghentikan serangannya. Gagal dengan serangan pertama, maka disusul dengan serangan kedua yang lebih hebat.

“Hey, tunggu...!” seru Bayu terus berkelit menghindari serangan yang gencar itu.

“Ayo! Lawanlah aku, pendekar keparat! Kita bertarung sampai mati!” geram Indranata.

“Hup!”

Bayu melentingkan tubuhnya ke atas ketika kaki Indranata berputar menyambar ke arah kakinya. Dua kali Bayu berputar di udara, kemudian dengan manis mendarat agak jauh dari pemuda itu. Sementara Intan Delima tetap diam. Perasaannya diliputi kebimbangan.

“Ada apa ini? Mengapa kau menyerangku?” tanya Bayu minta penjelasan.

“Jangan banyak tanya! Kau harus mampus sekarang juga!” bentak Indranata.

“Hey...! Hup!”

Bayu tidak dapat bertanya lagi, karena Indranata kembali menyerang dengan jurus-jurus tangan kosong yang cepat dan bertenaga dalam cukup tinggi. Pukulan-pukulan Indranata demikian dahsyat. Pohon-pohon di sekitarnya tumbang berantakan terkena pukulan nyasar. Bayu tetap berkelit dan berlompatan menghindar tanpa balas menyerang. Beberapa kali Indranata diperingatkan agar berhenti menyerang, tapi tidak digubris sama sekali.

“Berhenti...!” teriak Intan keras dan tiba-tiba. Bayu seketika menoleh. Dan pada saat yang sama, Indranata melontarkan satu pukulan telak disertai pengerahan tenaga dalam cukup tinggi. Bayu tidak bisa mengelak lagi. Tubuhnya terpental ketika pukulan Indranata menghantam telak dadanya. Sebuah pohon yang sangat besar langsung terbentur punggung Pendekar Pulau Neraka itu.

“Hoek...!”

Bayu memuntahkan darah kental dari mulutnya. Bergegas dia bangkit berdiri dan menggerak-gerakkan tangannya. Dia tengah menghimpun hawa murni yang kemudian disalurkannya ke bagian dada. Rasa sesak menyelimuti seluruh dadanya. Pukulan Indranata demikian keras dan hampir meremukkan tulang-tulang dada Pendekar Pulau Neraka itu.
Sekali lagi Bayu memuntahkan darah dari mulutnya, kemudian menatap Indranata yang sudah meloloskan pedang pendek berwarna hitam pekat. Bayu menggeleng-gelengkan kepalanya sebentar, mencoba mengusir rasa pening akibat napasnya sempat terganggu tadi. Sementara Intan berlari menghampiri Pendekar Pulau Neraka itu, tapi Indranata lebih cepat melompat menghadang.

“Intan...!” sentak Indranata seraya menatap tajam pada gadis itu.

Intan tampak kebingungan. Sebentar menatap Indranata, sebentar kemudian beralih pada Bayu Hanggara. Sementara itu Pendekar Pulau Neraka berhasil mengatur napasnya kembali, meskipun dadanya masih sedikit terasa nyeri.

“Kakang, sudah..., jangan diteruskan,” pinta Inta memohon.

“Aku harus membunuhnya, Intan! Dia berhutang tiga nyawa, dan aku harus membalas kematian mereka!” tegas Indranata.

“Lupakan saja, Kakang.”

“Lupakan? Heh! Tidak semudah itu, Intan! Dia telah membunuh dua orang murid Eyang Watuagung, membunuh ayahmu, membunuh adik kandung Eyang, Dan dia juga telah menyakiti hatimu! Apakah semua ini harus dilupakan? Dan membiarkannya bebas hidup lalu membunuh orang-orang yang tidak berdosa. Tidak, Intan. Aku tidak bisa membiarkan orang seperti dia hidup lebih lama lagi!” lantang suara Indranata.

“Aku mohon padamu, Kakang. Lupakan saja. Sebaiknya kita kembali ke pondok,” kata Intan berharap.

“Minggiriah, Intan!” dingin nada suara Indranata.
“Kakang... Oh!”

Intan terdorong ke samping. Indranata langsung melompat menendang Pendekar Pulau Neraka. Saat itu Bayu memang sudah siap untuk menghadapi serangan pemuda itu kembali. Dan pada saat pedang hitam di tangan Indranata menebas ke arah lehernya, dengan cepat Bayu menarik kepalanya ke belakang.

Dengan gerakan bagaikan kilat, kaki kanannya cepat melayang menghantam perut Indranata.

“Hugh!” Indranata mengeluh tertahan.
Selagi tubuh Indranata terbungkuk, satu pukulan keras mendarat di wajahnya. Kepala pemuda itu terdongak ke atas. Dan sekali lagi Bayu mendaratkan tendangan keras ke dada pemuda itu. Indranata langsung terjungkal ke belakang. Namun pemuda itu cepat bangkit kembali.

“Kakang...!” Intan menghampiri Indranata.

Gadis itu memeluk dan menghapus darah yang meleleh di sudut bibir pemuda itu. Indranata melepaskan pelukan Intan dan mendorongnya ke samping. Dia menggeram hebat, dan kembali menyerang Pendekar Pulau Neraka dengan jurus-jurus 'Naga Kembar'.

Kali ini Bayu sedikit kerepotan juga menghadapinya. Jurus-jurus yang dimainkan Indranata luar biasa dahsyatnya. Tebasan pedangnya menimbulkan hawa panas yang menyesakkan dada. Tempat di sekitar pertarungan seperti hampa udara. Bayu
segera mengalihkan pernapasannya melalui perut.

Disadarinya bahwa menghadapi jurus itu tidak dapat dilakukan dengai pernapasan biasa.

Jurus demi jurus berlalu cepat. Tidak terasa, lndranata telah menghabiskan lebih dari tiga puluh jurus. Tapi sampai sejauh itu belum bisa menyentuhkan pedangnya ke tubuh Pendekar Pulau Neraka. Meskipun beberapa kali pukulan dan tendangannya berhasil disarangkan, tapi dia juga tidak luput dari pukulan dan tendangan Pendekar Pulau Neraka.

“Huh!” Indranata mendengus keras.

Memasuki jurus yang keempat puluh, Indranata mulai merasa tangannya pegal dan kesemutan. Lalu pelahan-lahan tenaganya seperti terkuras, terserap kedalam Pedang Naga Hitam Kembar. Indranata sadar kalau dalam beberapa saat lagi pasti tidak dapat mengendalikan pedangnya. Dengan demikian, kemungkinan mati kehabisan tenaga. Tapi kebencian yang memuncak dan rasa cemburu yang menggelegak di dalam dada membuatnya tidak peduli. Bahkan semakin ganas menyerang, meskipun gerakan-gerakan tubuhnya mulai tidak teratur.

Sementara itu, Intan yang menyaksikan jalannya pertarungan dengan penuh perasaan kecemasan dan kebimbangan, mulai menyadari kalau Indranata tidak
akan mampu bertahan lebih lama lagi. Jelas ini akan membahayakan dirinya sendiri, maupun lawannya. Pedang itu tidak dapat dikendalikan, dan akan bergerak sendiri disertai hawa kematian. Pedang itu tidak akan dapat diam sebelum minum darah dari lawannya.

“Oh, tidak...! Ini tidak boleh terjadi!” desis Intan cemas.

Saat itu juga Intan Delima segera melesat sambil mencabut pedangnya yang bentuk dan warnanya sama persis dengan pedang di tangan Indranata.

“'Naga Kembar'...!” teriak Intan keras.

Mendengar teriakan itu, Indranata langsung mengangkat pedangnya ke atas. Intan segera membenturkan pedangnya dengan pedang di tangan Indranata.

Tring!

Bunga api berpijar begitu dua pedang kembar beradu di udara. Dan seketika itu juga, Indranata merasa tenaganya pulih kembali. Secepat kilat kembali diterjangnya Bayu.


***


Bayu benar-benar kewalahan menghadapi gempuran yang beruntun dan saling sambut itu. Tapi setelah melewati beberapa jurus, baru diketahui kalau Intan Delima tidak bersungguh-sungguh dalam setiap serangannya. Gadis itu hanya menunjang tenaga simpanan bagi Indranata.

Menyadari hal itu, Pendekar Pulau Neraka memusatkan perhatiannya pada Indranata. Dia tidak peduli dengan serangan-serangan Intan lagi. Meskipun ujung pedang Intan hampir menyentuh tubuhnya, gadis itu selalu cepat membelokkannya. Ini dilakukan karena Intan tidak bisa membunuh atau melukai orang yang telah mengisi hatinya. Tapi dia juga tidak ingin Indranata tewas di tangan Pendekar Pulau Neraka. Suatu pilihan yang amat sulit dan harus dilakukan.

“Yaaa...!”
Tring!

Bayu tersentak kaget, dan langsung melompat mundur tiga tindak. Pergelangan tangannya seperti terbakar ketika menangkis tebasan pedang Indranata dengan senjata Cakra Maut yang menempel dipergelangan tangan kanannya. Hal yang sama juga terjadi pada diri Indranata. Dia juga melompat
mundur beberapa tindak. Seluruh persendian tulang tangan kanannya terasa nyeri dan kaku.

“Intan! Gunakan jurus 'Naga Api'!” seru Indrana keras.

Intan tersentak kaget. Sejenak dipandangnya Indranata, lalu beralih ke arah Bayu. Jurus 'Naga Api’ sangat dahsyat, dan merupakan jurus terakhir 'Naga Kembar'. Batu sebesar kerbau pun dapat hancur jika terkena sambaran pedang mereka berdua. Apalagi manusia...? Sedangkan baru terkena anginnya saja pohon-pohon akan mati layu, dan binatang-binatang akan mati terbakar.

Belum sempat Intan berpikir lebih jauh, Indranata sudah membuka jurus 'Naga Api', dan langsung melompat menerjang Pendekar Pulau Neraka. Hawa panas segera terasa menyengat bagai hendak
menghanguskan sekitar tepian sungai ini. Tanpa berpikir panjang lagi, Intan langsung melompat memotong arah gerakan Indranata. Pada saat itu, pedang di tangan Indranata sudah berkelebat menusuk ke arah dada.

“Intan...!” Indranata tersentak kaget.
“Tidak...!” pekik Bayu sambil melompat. Indranata berusaha menarik kembali pedangnya, namun tubuh Intan sudah lebih dulu meluruk deras.

Dan....

“Aaa...!” Intan menjerit melengking.

Pedang di tangan Indranata menembus dada gadis itu hingga ke punggung. Sedangkan Indranata hanya mampu berdiri tegak seraya melepaskan genggamannya pada tangkai pedang. Sebentar Intan masih mampu berdiri, dan akhirnya jatuh sambil memegangi pedang yang menembus dadanya. Darah mengucur deras membasahi tubuhnya.
“Intan...,” desis Indranata tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Sedangkan Bayu hanya bisa terpaku memandangi tubuh yang menggeletak meregang nyawa. Sesaat kemudian, Pendekar Pulau Neraka menjatuhkan diri. Diangkatnya tubuh gadis itu ke pangkuannya, dipandangi wajah yang kian pucat pasi itu dalam-dalam. Sementara Indranata masih berdiri gemetar.

“Kakang...,” lirih suara Intan

“Intan, mengapa kau lakukan ini?” tanya Bayu agak tertahan suaranya.

“Aku mencintaimu, Kakang. Aku tidak ingin kau mati.. ,” semakin lirih suara Intan.

Bayu tidak mampu berkata-kata lagi. Wajahnya tertunduk dalam, dan bibirnya bergetar, seolah-olah hendak mengatakan sesuatu. Sementara wajah Intan Delima semakin memucat. Dengan tangan bergetar dan berlumuran darah, dirabanya wajah Bayu.

“Oh, tidak...,” desis Bayu tertahan.

“Selamat tinggal, Kakang,” ucap Intan lirih

“Intan...! Intaaan...!” Bayu menjerit keras.

Intan terkulai lemas. Tangannya jatuh ke tanah menjuntai. Bayu memeluk tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi. Pendekar Pulau Neraka benar-benar menyesali dirinya yang telah menyia-nyiakan cinta suci Intan Delima. Cinta yang harus berakhir pertumpahan darah. Sungguh besar pengorbanan Intan. Dia rela mati demi cintanya yang suci.

Bayu tahu kalau Intan sengaja memotong serangan Indranata, dan membiarkan dirinya tertembus pedang pemuda itu. Peristiwanya begitu cepat, dan tidak terduga sama sekali. Pelahan-lahan Bayu bangkit berdiri sambil memondong tubuh Intan Delima. Pedang pendek berwarna hitam pekat masih menancap di dadanya. Sementara Indranata masih berdiri terpaku tanpa mampu berbuat apa-apa.

Beberapa saat Bayu menatap tajam pemuda murid Eyang Watuagung itu, Kemudian berbalik dan melangkah tanpa berkata-kata lagi. Indranata masih berdiri terpaku, tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Dan ketika Bayu sudah berjalan sejauh beberapa depa, Indranata tersentak. Sambil memungut pedang Intan yang menggeletak di tanah, pemuda itu segera melompat mengejar.

“Berhenti!” bentak Indranata keras

Indranata melompati kepala Bayu Hanggara. Dan begitu kakinya mendarat di depan Pendekar Pulau Neraka itu, dia langsung berbalik. Pedang pendek berwarna hitam pekat melintang di depan dada. Bayu menghentikan langkahnya. Pandangannya tajam menusuk langsung ke bola mata pemuda didepannya.

“Kau masih belum puas, Indranata?” dingin suara Bayu.

“Tinggalkan Intan di sini!” bentak Indranata berapi-api.

“Dia tewas karena kebodohanmu, Indranata. Tidak pantas kau memilikinya lagi, meskipun hanya berupa mayat!”

“Tinggalkan Intan di sini, kataku!”

“Untuk apa? Ingin kau cincang?”

“Setan! Kau benar-benar iblis keparat, Pendekar Pulau Neraka!” geram Indranata seraya mengibaskan pedang ke depan.

“Hup!”

Bayu melompat mundur, sehingga terhindar dari tebasan pedang Intan Delima yang dipegang pemuda itu. Indranata yang sudah demikian kalap, langsung melompat sambil menusukkan pedangnya. Dan pada saat yang tepat, sebuah bayangan berkelebat cepat memapak. Tubuh Indranata terpental balik kebelakang. Dia bergulingan beberapa kali di tanah, lalu bergegas bangkit.

Namun mendadak tubuhnya jadi gemetar. Sedangkan matanya membeliak lebar dengan mulut ternganga. Hampir dia tidak bisa percaya dengan penglihatannya sendiri. Ternyata tiba-tiba saja didepannya sudah berdiri Eyang Watuagung. Sedangkan Bayu tepat berada di samping kanannya, Indranata langsung menjatuhkan diri berlutut.

“Eyang...,” ucap Indranata pelan, agak bergetar.

“Bangun, Indranata!” bentak Eyang Watuagung.

Indranata mengangkat kepalanya pelahan-lahan lalu bangkit berdiri. Kembali ditundukkan kepalanya tidak sanggup menentang sorot mata Eyang Watuagung yang begitu tajam menusuk.

“Aku tidak tahu harus berkata apa lagi padamu Kau benar-benar mengecewakan hatiku, Indranata!” sesal Eyang Watuagung agak tertahan suaranya.

“Maafkan aku, Eyang. Aku....”

“Diam!” bentak Eyang Watuagung memotong cepat.

Indranata langsung bungkam.

“Sengaja kuberikan Kitab Naga Kembar dan Pedang Naga Hitam Kembar untuk kau pelajari dan kau kuasai. Sengaja kuberi waktu tiga purnama dan melarangmu untuk meninggalkan pondok. Tapi semua kau langgar. Bahkan kau jadikan ilmu simpananku itu untuk membalas dendam! Kau lupa Indranata. Apakah kau tidak membaca seluruh isi Kitab Naga Kembar? Hawa nafsu dan dendam akan memakan dirimu sendiri! Kau tidak akan mampu mengendalikan diri, dan akan termakan oleh ilmumu sendiri! Kau dengar itu, Indranata!”

Indranata hanya diam tertunduk. Memang pernah dibaca satu kalimat yang melarangnya untuk mempunyai perasaan dendam, nafsu yang berkelebihan setelah menguasai ilmu 'Naga Kembar'. Rasa penyesalan pelahan-lahan menghinggapi diri pemuda itu. Tapi penyesalan sudah terlambat. Intan sudah jadi korban dari perasaan dendam, benci, dan cemburunya yang berlebihan.

“Oh, tidak...!” jerit Indranata langsung berlari dan memeluk kaki Eyang Watuagung.

Indranata menangis memeluk erat-erat kaki gurunya itu. Sementara Bayu yang menyaksikan, hanya bisa menarik napas panjang. Dia masih memondong mayat Intan Delima. Sedangkan Eyang Watuagung menggamit pundak pemuda itu dan membawanya berdiri.

“Ampunkan aku. Eyang. Ampunkan aku yang telah mengecewakan hatimu...,” rintih Indranata.

“Indranata. Bertahun-tahun aku memeliharamu, mendidikmu, dan mempersiapkanmu agar menjadi seorang pendekar digdaya. Terlalu banyak harapanku padamu, Indranata...,” pelan suara Eyang Watuagung.

“Hukumlah aku, Eyang,” pinta Indranata.

“Hukuman tidak akan berguna bagimu, Anakku.”

“Eyang....”

Indranata kembali menjatuhkan diri dan berlutut, tapi Eyang Watuagung membangunkannya lagi. Laki-laki tua berjubah putih itu berpaling menatap Bayu Hanggara yang tetap berdiri di samping kanannya.

Bayu menyerahkan mayat Intan Delima, dan Eyang Watuagung menerimanya dengan mata berkaca-kaca.

“Maaf, aku tidak dapat mencegah,” ucap Bayu pelan.

“Aku bisa memahami,” sahut Eyang Watuagung.

Setelah berkata demikian, Eyang Watuagung berbalik dan berjalan pelahan-lahan. Indranata masih berdiri tegak, kemudian berpaling kepada Pendekar Pulau Neraka. Sesaat mereka saling berpandangan. Indranata lantas menyodorkan tangannya yang kemudian disambut hangat oleh Bayu.

“Aku harap kita dapat bertemu kembali sebagai seorang laki-laki jantan tanpa persoalan,” kata lndranata.

“Aku menanti harapanmu” sahut Bayu mantap.

Indranata melepaskan tangannya, kemudian segera melangkah mengikuti Eyang Watuagung.

Bayu masih berdiri memandangi kepergian mereka. Dia tahu betul arti kata-kata Indranata tadi. Satu saat kelak Ya...,satu saat kelak Indranata ingin bertemu dan bertarung sebagai seorang pendekar ksatria.

SELESAI


Episode selanjutnya PENGANTIN DEWA RIMBA

Thanks for reading Cinta Berlumur Darah I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »