Pengantin Dewa Rimba

SERIAL PENDEKAR PULAU NERAKA
Episode:
PENGANTIN DEWA RIMBA
Karya: Teguh S
Gambar: Tony G
Penerbit:
Cintamedia, Jakarta


Pengantin Dewa Rimba

Satu
Suara gamelan mengalun merdu mengiringi langkah-langkah rombongan manusia yang berjalan pelahan-lahan, menyusuri jalan setapak di sebuah bukit batu. Tampak delapan orang laki-laki bertubuh kekar, menggotong tandu berhiaskan kain warna-warni dan bunga-bunga indah. Berjalan paling depan adalah seorang laki-laki yang mengenakan jubah kuning gading dan berkepala gundul. Di tangan kanan laki-laki itu, tergenggam seuntai tasbih dari rangkaian batu hitam pekat dan berkilat.

Di belakang orang berjubah kuning gading itu, berjalan dengan rapi sekitar tiga puluh orang pemuda tampan yang mengenakan jubah warna putih. Mereka terus berjalan pelahan-lahan dengan tangan melipat di dada. Lengan baju mereka yang panjang dan longgar, tergulung sampai ke siku. Pada bagian belakang tandu, tampak orang-orang dari berbagai golongan. Laki-laki, perempuan, tua dan muda, bahkan juga anak-anak. Mereka terus mengikuti dengan wajah tertunduk, tanpa mengeluarkan satu patah kata pun.

Para nayaga terus memainkan gamelan bernada lembut dan syahdu. Sedangkan rombongan itu pun terus mendaki ke Puncak Bukit Batu itu. Beberapa saat kemudian, suara gamelan terhenti setelah mereka mencapai puncak bukit tersebut. Tampak di depan mereka berdiri dengan megahnya dua buah batu yang menyerupai sebuah pintu gerbang.

Laki-laki yang berada paling depan, langsung berlutut, diikuti oleh para pengikutnya. Kemudian tandu segera diturunkan, disusul dengan berlututnya semua orang yang berjalan di belakang tandu.

Keadaan di sekitar Puncak Bukit Batu itu sunyi senyap. Tampak laki-laki yang berkepala gundul dan berjubah kuning gading itu mulai bangkit berdiri.

Sejenak tubuhnya membungkuk tiga kali dengan telapak tangan merapat di depan dada.

"Dewata yang bersemayam di Swargaloka, terima-lah persembahan kami ini..." lantang dan besar suara laki-laki itu.

Setelah berkata demikian dia kembali mem bungkukkan badannya tiga kali, kemudian menoleh ke belakang. Tampak delapan orang yang masih berlutut di samping tandu, segera bangkit. Mereka juga membungkuk tiga kali, dan kembali mengangkat tandu itu. Sementara itu tiga puluh orang yang berbaju seragam putih sedikit menggeser kakinya ke samping, memberi jalan. Lalu dengan langkah pelan-pelan, delapan orang bertubuh tegap dan kekar itu mulai berjalan menggotong tandu.

Dan pada saat delapan orang tersebut melewati celah batu yang menyerupai pintu gerbang itu, terdengarlah isak pelan dan tertahan. Tampak seorang perempuan yang berbaju hitam dan berkerudung, terisak dalam pelukan seorang laki-laki berbaju hitam juga.

"Cepat, masukkan" perintah laki-laki gundul itu.

Delapan orang bertubuh tegap yang menggotong tandu, bergegas melewati celah batu itu, dan meletakkannya pada sebuah batu ceper yang cukup lebar. Kemudian mereka segera berbalik lagi dan melangkah ke luar. Dan pada saat yang hampir bersamaan, di angkasa tampak sebuah bayangan hitam besar melayang-layang. Seketika semua orang yang berada di Puncak Bukit Batu itu langsung berlutut.

Bayangan hitam yang melayang-layang di angkasa itu bergerak turun dengan kecepatan tinggi, lalu menyambar tandu itu hingga hancur berantakan.

Seketika terdengar satu jeritan melengking, bersamaan dengan melesatnya kembali bayangan itu ke angkasa, lalu lenyap di balik gumpalan awan.

Tidak lama setelah kejadian itu, laki-laki berkepala gundul segera melangkah dan menuruni Puncak Bukit Batu itu. Sementara para pengikutnya segera mengikutinya dari belakang. Dan para nayaga pun kembali mengalunkan gending mengiringi langkah-langkah mereka meninggalkan tempat itu.

***

Keadaan di Desa Gampil tampak tenang dan damai. Sehari-harinya para penduduk sibuk bekerja mengolah ladang, berniaga, atau pekerjaan lain yang dapat menunjang kelangsungan hidup. Sementara anak-anak dengan cerianya bermain, seakan-akan mereka tidak peduli dengan orang-orang tua mereka yang memeras keringat demi kelangsungan hidup mereka. Kedamaian memang sangat terasa di desa itu. Namun kedamaian dan keceriaan itu kelihatannya tidak dinikmati oleh sepasang suami istri setengah baya, yang tinggal di sebuah rumah kecil berdinding papan. Mereka adalah Ki Sudra dan Nyi Sudra. Kini mereka tengah duduk dengan wajah murung di balai-balai bambu, di beranda rumahnya.

Sejenak mereka mengangkat kepalanya, ketika tampak seorang gadis yang berkulit kuning langsat keluar dari dalam rumah itu. Dia mengenakan baju warna biru yang ketat, sehingga memetakan bentuk tubuhnya yang ramping. Sedangkan tangannya menenteng sebuah bungkusan kain yang tidak begitu besar. Gadis itu berdiri di ambang pintu dengan kepala tertunduk dan mata merembang berkaca-kaca.

"Mau ke mana?" tanya Ki Sudra pelan.

"Pergi," sahut gadis itu singkat.

Nyi Sudra segera bangkit dan menghampiri gadis itu, kemudian membimbingnya ke dalam kembali.

Sedangkan Ki Sudra juga ikut bangkit dan mengikuti mereka dan duduk di lantai beralaskan selembar tikar dari daun pandan.

"Kau akan pergi ke mana?" tanya Ki Sudra lagi.

Suaranya terdengar pelan tanpa gairah.

"Ke mana saja, Pak," sahut gadis itu getir.

"Lastri, ke mana pun kau akan pergi, Pendeta Pasanta pasti akan tahu. Kau tidak mungkin bisa terlepas dari pengamatannya," kata Nyi Sudra lirih.

"Lastri, aku sudah tua, juga Mak-mu. Kami sudah tidak kuat lagi bekerja di ladang. Hanya kaulah satu-satunya harapan kami. Apa kau tega meninggalkan orang tuamu yang sudah jompo ini?" agak bergetar suara Ki Sudra.

"Tapi, Pak...," gadis yang bernama Lastri itu mau membantah, namun suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Hanya matanya saja yang terus memandang kedua orang tuanya dengan sejuta kata-kata.

"Aku mengerti, Lastri. Tapi coba kau lihat, semua gadis sebayamu tidak ada yang mau menentang Pendeta Pasanta, mereka semua pasrah, dan tetap bergembira."

"Mereka bodoh, Pak" sentak Lastri.

"Lastri..." Nyi Sudra tersentak kaget. Buru-buru dia menggeser duduknya mendekati gadis itu.

"Mereka memang kelihatan gembira, tapi di hati mereka sebenarnya sedih dan gelisah. Juga orang-orang tua di desa ini, semuanya tidak ada yang gembira. Juga Bapak dan Mak, memangnya aku tidak tahu, kalau sebenarnya Bapak dan Mak juga sedih"

agak keras suara Lastri, meskipun terdengar bergetar.

Ki Sudra dan Nyi Sudra tidak bisa lagi berkata apa-apa. Dalam hati mereka memang membenarkan kata-kata anak gadisnya itu. Bagaimanapun kuatnya mereka berusaha memendam perasaan, namun tidak mungkin bisa berlangsung lama. Selama ini mereka selalu menunjukkan wajah gembira di depan Lastri, namun dalam hati mereka sebenarnya tidak gembira.

Sudah beberapa kali Lastri memergoki kedua orang tuanya duduk termenung, dengan pandangan kosong dan mata berkaca-kaca. Dan Lastri sendiri bisa merasakan, apa yang tengah dirasakan oleh kedua orang tuanya. Lalu dia memutuskan untuk segera meninggalkan desa itu.

"Bagaimanapun juga, aku harus pergi" kata Lastri seraya bangkit dari duduknya.

"Lastri..." Nyi Sudra bergegas berdiri dan menahan langkah gadis itu. Dia memegangi tangan Lastri dengan mata berkaca-kaca.

"Biarkan aku pergi, Mak," pinta Lastri memohon.

"Lastri, pikirkan dulu niatmu itu. Sebenarnya aku tidak keberatan jika kau mau pergi juga, tapi Pendeta Pasanta sudah memilihmu untuk.. ."

"Tidak" sentak Lastri cepat memotong ucapan Ki Sudra.

"Lastri...," melemah suara Ki Sudra.

"Lastri memang sayang sama Mak dan Bapak, tapi Lastri harus pergi...," kata Lastri bersikeras dengan niatnya.

Ki Sudra hanya menunduk. Memang sulit untuk menghalangi niat anak gadisnya itu. Sementara Nyi Sudra tampak sudah terisak-isak. Lastri terus memandangi kedua orang tuanya itu dengan terharu.

Orang tua yang telah mengasuh dan merawatnya sejak dia masih bayi.

"Maafkan kelancangan Lastri, Mak," ucap Lastri pelan.

"Lastri, biarpun bukan aku yang telah melahir-kanmu, tapi aku sangat sayang padamu, tidak pernah membeda-bedakan kasih sayangku antara kau dengan semua anak-anakku...," kata Nyi Sudra di tengah-tengah isaknya.

Ingin rasanya Lastri memeluk perempuan tua itu, dan mengurungkan niatnya. Namun dia tetap berusaha menguatkan hati untuk tetap pergi meninggalkan orang tua yang telah begitu besar budinya, merawatnya sejak dia masih berumur satu bulan.

Lastri tahu semua itu karena Ki Sudra dan Nyi Sudra selalu menceritakan asal-usul anak-anak angkatnya yang berjumlah tiga orang. Meskipun mereka sendiri punya dua orang anak kandung. Kini semuanya sudah tidak ada lagi di rumah ini. Tinggal Lastri sendiri yang masih ada. Dan kini giliran dia juga harus pergi meninggalkan orang tua itu. Berat memang, tapi tekadnya sudah bulat. Pelan-pelan Lastri melangkah mundur mendekati pintu.

"Lastri, Anakku...," rintih Nyi Sudra lirih.

"Maafkan aku, Mak..., Bapak...," ucap Lastri pelan, hampir tidak terdengar suaranya.

Setelah berkata begitu, dengan cepat Lastri berbalik dan melangkah ke luar Nyi Sudra ingin mengejar, namun keburu dicegah suaminya.

Kemudian kedua orang tua itu saling berpelukan sambil memandangi tubuh Lastri yang semakin jauh melangkah.

"Lastri…" rintih Nyi Sudra. Semakin deras air matanya mengalir.

"Sudahlah, Mak. Mungkin itu sudah menjadi pilihannya yang terbaik. Kita doakan saja agar Hyang Widi melindunginya," kata Ki Sudra berusaha meng-hibur, padahal dia tak bisa menahan air matanya.

"Semoga Hyang Widi akan mempertemukan kita kembali...," bisik Nyi Sudra disela isaknya.

Beberapa saat lamanya, suami istri itu masih berdiri saja di ambang pintu sambil berpelukan.

Pandangan mereka tetap ke arah kepergian Lastri.

***

Hari terus berjalan dengan pasti. Senja pun berganti dengan malam. Tampak bulan yang bersinar di atas sana tersaput oleh awan tipis yang meng-gantung. Sementara itu seluruh penduduk Desa Gampil sudah beristirahat di dalam rumahnya masing-masing. Kini tidak lagi terdengar canda ria anak-anak yang bermain, tidak ada lagi gurauan gadis-gadis atau celetukan usil para pemuda. Malam ini suasana Desa Gampil benar-benar sunyi senyap.

Hanya mereka yang tengah meronda saja yang masih berada di luar rumah.

Dan kesunyian itu semakin terasa di dalam rumah Ki Sudra. Rumah yang tidak begitu besar itu, kini hanya dihuni oleh sepasang suami istri setengah baya yang tengah dirundung duka. Tidak ada seorang pun yang mau peduli dengan kedukaan mereka. Dan Ki Sudra memang tidak pernah menunjukkan kedukaan-nya pada orang lain.

Di malam yang sunyi dan dingin itu. Tampak Nyi Sudra masih saja duduk merenung di balai-balai bambu sambil memandang bulan dari balik jendela.

Tatapan matanya tampak kosong, dan wajahnya tak menyiratkan suatu perasaan apa pun. Sepertinya seluruh jiwanya sudah hilang dari raga. Tidak jauh darinya, Ki Sudra terlihat tengah duduk di kursi goyang. Asap tembakaunya yang keluar dari pipa hitamnya, mengepul dipermainkan oleh angin malam yang dingin.

"Sudah larut malam, Mak. Sebaiknya kau segera tidur saja. Serahkan saja semuanya pada kekuasaan Hyang Widi," kata Ki Sudra pelan.

"Hhh...," Nyi Sudra hanya mendesah saja.

"Setelah kupikir-pikir, sebaiknya kita, juga segera meninggalkan desa ini, Mak. Rasanya tidak ada gunanya lagi bertahan di desa yang keadaannya panas bagai neraka," kata Ki Sudra lagi.

"Kalau kau juga mau pergi, pergilah sana" dingin dan datar suara Nyi Sudra. Sedikit pun dia tidak menoleh.

"Memang tidak ada gunanya kita melakukan sesuatu apa pun. Ke mana kita pergi, Pendeta Pasanta pasti akan segera mengetahui. Yah..., memang sama saja. Tetap tinggal di sini, atau pergi dari desa ini tidak ada bedanya," nada suara Ki Sudra terdengar mengeluh putus asa.

"Kalau kau sudah tahu, kenapa masih juga ber-pikiran begitu? Kau selalu bisa bilang, pasrahkan saja segalanya pada Hyang Widi, tapi hatimu tidak mau pasrah," Nyi Sudra membalikkan tubuhnya dan menatap pada suaminya.

Kali ini Ki Sudralah yang mendesah panjang. Kata-kata istrinya itu memang benar, dan dia pun meng-akuinya. Dalam keadaan seperti ini, memang jarang orang yang hanya pasrah. Pasti ada sedikit terbetik di hatinya untuk memberontak. Dan itulah yang kini dirasakan oleh Ki Sudra.

Pada saat mereka berdua tengah terdiam itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Sejenak pasangan tua itu saling berpandangan, lalu hampir bersamaan mereka menoleh ke arah pintu yang tertutup. Ketukan itu terdengar kembali, kali ini ketukannya lebih keras dan yang pertama.

"Siapa...?" tanya Ki Sudra seraya bangkit dari duduknya.

Namun tak ada sahutan dari luar. Ki Sudra melangkah mendekati pintu rumahnya. Sejenak dia ragu-ragu untuk membuka pintu. Matanya melirik istrinya.

"Ah..." Ki Sudra tersentak ketika dia membuka pintu.

***

Tampak laki-laki gemuk dan berperut buncit sudah berdiri di depannya. Jubahnya yang berwarna kuning gading, terus berkibar-kibar tertiup angin. Sedang di belakangnya tampak berdiri empat orang berpakaian serba putih, dengan tangan yang terlipat di depan dada. Sejenak Ki Sudra melangkah mundur dengan wajah yang pucat pasi.

"Tuan Pendeta..., ada apa gerangan hingga malam-malam begini datang ke rumahku?" tanya Ki Sudra, agak bergetar suaranya.

"Boleh aku masuk?"

"Oh, silakan. Silakan, Tuan Pendeta."

Laki-laki gundul yang ternyata adalah Pendeta Pasanta itu melangkah masuk. Sementara empat orang laki-laki muda yang mengawalnya juga segera mengikutinya. Mereka kemudian berdiri berjajar dan membelakangi pintu. Sedang Ki Sudra segera mendekati istrinya, dan duduk di tepi balai-balai bambu itu. Sejenak Pendeta Pasanta menyeret sebuah kursi kayu, dan duduk di depan pasangan tua itu.

"Aku datang hanya ingin menanyakan anakmu.

Apakah dia ada di rumah?" pelan dan lembut kata-kata Pendeta Pasanta.

Ki Sudra tidak segera menjawab. Dia malah menoleh ke arah istrinya. Pertanyaan Pendeta Pasanta itu membuat seluruh tubuhnya jadi bergetar.

Dan jantungnya pun ikut berdetak lebih cepat dari biasanya.

"Aku sudah mengenalmu cukup lama, Ki Sudra.

Karena sebagai bekas kepala desa, kau sangat disegani. Dan aku pun menaruh hormat padamu.

Maka kuharap agar kau tidak menodai rasa hormatku ini, Ki Sudra," tetap lembut kata-kata Pendeta Pasanta, namun mengandung ancaman yang tidak bisa dipandang remeh.

"Maaf, Tuan Pendeta. Aku tidak mengerti maksudmu," kata Ki Sudra dengan suara semakin bergetar.

"Lastri sudah tidak ada di rumah, kan?" kali ini nada suara pendeta itu makin dingin. Tatapan matanya juga tajam menusuk.

Kini Ki Sudra tidak bisa lagi berkata-kata. Rasa kecemasan yang sejak tadi melanda dirinya, kini benar-benar meledak. Baru siang tadi Lastri pergi meninggalkan rumah ini, dan sekarang. Pendeta Pasanta sudah mengetahuinya. Ki Sudra sudah bisa membayangkan, malapetaka apa yang bakal menimpa dirinya. Sedangkan Nyi Sudra sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tubuhnya terasa lemas, dan wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin membasahi seluruh wajah dan lehernya.

"Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu, Ki Sudra. Aku hanya minta agar kau segera mencari Lastri, dan bawa dia padaku," tegas kata-kata Pendeta Pasanta, namun suaranya masih juga terdengar lembut.

"Tuan Pendeta, aku tidak tahu ke mana anakku pergi. Tadinya aku sudah mencoba melarangnya, tapi dia tetap saja pergi. Maafkan aku, Tuan Pendeta," lirih suara Ki Sudra.

"Sayang sekali, aku tidak bisa memutuskan. Aku hanya menyampaikan pesan saja."

Ki Sudra hanya bisa tertunduk lemas. Sedang Pendeta Pasanta segera menjentikkan jarinya. Lalu tampak dua orang dari pengawalnya segera mendekat, dan menyeret tangan Nyi Sudra yang masih duduk dengan wajah pucat.

"Pak...," ratap Nyi Sudra.

"Tuan Pendeta, hendak kau apakan istriku?"

"Hanya untuk jaminan akan tugasmu, Ki Sudra,"

sahut Pendeta Pasanta kalem seraya bangkit dari duduknya. "Bawa dia ke luar"

"Tuan...."

Ki Sudra ingin mencegah dua orang yang sudah memegangi tangan istrinya, tapi dua orang lagi segera melompat dan menekan tubuh laki-laki tua itu, sehingga dia kembali terduduk di balai-balai bambu.

Sementara Nyi Sudra tidak mampu lagi untuk berbuat apa-apa. Dia kemudian diseret ke luar tanpa dapat melakukan perlawanan. Hanya suaranya saja yang lirih terdengar meminta tolong pada suaminya.

Namun Ki Sudra hanya bisa duduk dengan pundak ditekan oleh dua orang.

"Waktumu hanya satu pekan, Ki Sudra. Kalau sampai batas waktu itu kau tidak bisa menyerahkan anakmu, maka dengan berat hati aku harus me-misahkanmu dengan istrimu untuk selamanya,"

dingin kata-kata Pendeta Pasanta.

"Tuan Pendeta, tolong..., ampuni aku. Aku benar-benar tidak tahu ke mana harus mencari Lastri.

Tolong, Tuan Pendeta...," rintih Ki Sudra memelas.

"Sebenarnya aku ingin menolongmu, Ki Sudra…

Tapi aku tidak bisa melakukannya. Rasanya hanya Lastrilah yang bisa menolongmu keluar dari kesulitan ini," pelan suara Pendeta Pasanta.

Ki Sudra hanya bisa tertunduk lemas. Sementara Pendeta Pasanta pun segera ke luar diiringi semua pengawalnya. Beberapa saat lamanya, Ki Sudra masih terduduk lemas tanpa daya. Dia tidak tahu lagi, apa yang harus diperbuatnya. Memang tidak ada cara lain, dia harus mencari Lastri. Satu pekan..., bukan waktu yang panjang

Dua

Pagi baru saja datang menjelang. Sementara di ufuk Timur, matahari belum menampakkan diri dengan penuh. Hanya cahayanya saja yang membias merah jingga di celah-celah dedaunan. Kabut pun masih menyelimuti sebagian permukaan bumi. Udara juga masih terasa dingin menusuk kulit. Namun suasana pagi yang indah itu tidak menggugah hati seorang gadis muda berbaju hijau dari kesedihannya.

Gadis itu kelihatan sangat lelah, langkahnya ter-seok-seok merambah hutan di Lereng Gunung Cangking. Udara pagi yang dingin tidak menghalangi keringatnya yang mengucur deras, membasahi wajah dan tubuhnya. Kakinya terus terayun gontai menuju sebuah sungai yang mengalir jemih menuruni lereng gunung itu.

Gadis itu langsung menjatuhkan dirinya begitu sampai di tepi sungai yang berair jernih. Begitu jernihnya, sehingga dasar sungai itu tampak jelas seperti dalam kaca. Dengan pelahan tangan yang kecil halus itu terulur berusaha menarik tubuhnya untuk lebih ke tepi. Seperti seorang musafir yang sudah tiga hari tidak bertemu air, gadis itu segera membasuh muka dan tubuhnya. Lalu tanpa menghiraukan dinginnya air itu, dia pun meneguknya sepuas-puasnya.

"Ohhh...," gadis itu mendesah lirih, dan meng-gelimpangkan tubuhnya kembali menjauh dari tepi sungai.

Kelopak matanya yang dihiasi bulu mata lentik, terpejam rapat. Buru-buru gadis itu membuka matanya ketika mendengar suara ranting patah. Dia langsung membeliak kaget dan segera bangkit berdiri.

"Maaf, kalau aku telah mengejutkanmu," terdengar sebuah suara lembut.

Gadis itu memperhatikan seorang pemuda gagah, tampan dan tegap yang sudah berdiri di depannya.

Senyum pemuda itu begitu memikat, sedang sinar matanya juga lembut, namun menyiratkan ketajaman dan kekerasan. Lalu tanpa menghiraukan tatapan jadis itu, pemuda itu segera melangkah ke sungai, dan membasuh wajahnya. Sebentar kepalanya menoleh, dan kembali tersenyum.

"Silakan, kalau ingin melanjutkan istirahatnya. Aku hanya ingin membasuh muka sebentar," kata pemuda itu, tetap lembut suaranya.

Gadis itu masih berdiri terpaku dengan wajah yang kelihatan gelisah. Sejenak matanya berputar mengamati ke sekitarnya. Tak terlihat seorang manusia pun di hutan ini kecuali mereka berdua. Tak lama kemudian, pemuda itu menghenyakkan tubuhnya dan bersandar pada sebatang pohon tua yang hampir mati. Dia lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dari daun waru dari balik ikat pinggangnya, dan meletakkan bungkusan itu di depannya. Perlahan-lahan dia membuka bungkusan itu, maka tampaklah tiga ekor kelinci yang sudah matang, tergolek di bungkusan itu. Pemuda itu segera mengambil seekor dan mendekatkannya ke mulut. Tapi dia tidak jadi menggigitnya. Sejenak matanya memandang gadis yang masih berdiri tidak jauh darinya.

"Mau?" pemuda itu menawarkan.

Gadis itu kelihatan ragu-ragu.

"Bekas makanan semalam. Memang sudah tidak hangat lagi, tapi cukup untuk mengganjal perut sampai tengah hari nanti," kata pemuda itu seraya mengambil satu lagi, dan menjulurkannya pada gadis itu.

Gadis itu masih kelihatan ragu-ragu, namun lehernya tampak bergerak-gerak. Pertanda bahwa dia sebenarnya menginginkannya. Sinar matanya masih memancarkan rasa curiga dan takut.

"Ambillah. Aku tidak akan habis makan sendirian," kata pemuda itu lagi.

Lalu dengan perasaan was-was, gadis itu pun melangkah mendekat, dan duduk di depan pemuda itu. Tangannya agak gemetar saat menerima daging itu. Namun setelah daging itu berada di tangannya, langsung disantap dengan rakus. Perutnya memang lapar, karena sejak kemarin siang belum terisi. Pemuda itu hanya tersenyum dan mulai menikmati makanannya.

"Siapa namamu?" tanya pemuda itu setelah cukup lama mereka terdiam sambil menikmati daging kelinci.

"Lastri," sahut gadis itu pelan.

"Nama yang cantik, secantik orangnya."

"Terima kasih," sahut Lastri tersipu.

"Oh, ya. Kenapa kau berada-di hutan ini sendirian?" tanya pemuda itu lagi. Suaranya tetap lembut.

"Aku..., oh, eh...," gadis yang ternyata bernama Lastri itu menjawab dengan tergagap.

"Ah, sudahlah. Kau tidak perlu menjawab. Aku hanya iseng saja kok bertanya."

Lastri hanya diam. Dia kembali menikmati daging kelinci yang sudah dingin itu. Sedangkan pemuda itu juga ikut menikmati lagi makan paginya yang sangat sederhana itu. Untuk beberapa saat lamanya mereka kemudian terdiam.

"Kau punya minuman?" tanya pemuda itu.

Lastri menggeleng lemah.

"Ah, ya Tentu saja tidak. Bodohnya aku, bertanya begitu" rutuk pemuda itu sambil memukul kepalanya sendiri.

Lastri jadi tersenyum melihat kekocakan pemuda itu. Rasa takut dan curiga yang tadinya sudah menghinggapi dirinya, berangsur menghilang. Sikapnya yang ramah dan sesekali membuat canda, membuat kemurungan dan kegelisahan di wajah gadis itu mulai sirna. Kini wajahnya mulai menyemburat kemerahan, dan senyumnya beberapa kali terukir indah di bibirnya yang selalu nampak merah basah itu.

Mereka terus menikmati sisa-sisa daging kelinci panggang dingin itu. Dan keduanya terpaksa minum air sungai, karena memang tidak ada lagi yang bisa mereka minum. Sebentar saja keakraban sudah terlihat di antara mereka. Pemuda itu memang pandai membuat suasana akrab dan menyenangkan.

***

"Rasanya sudah terlalu lama kita berada di sini. Aku harus segera melanjutkan perjalanan. Oh, ya.... Ke mana tujuanmu?" tanya pemuda itu sambil beranjak bangun dari duduknya.

Lastri tidak segera menjawab. Dia tidak tahu, ke mana tujuannya. Dia pergi meninggalkan rumah dan orang tuanya karena suatu sebab, dan ini masih tersimpan rapi di dalam hatinya. Dan dari tadi pemuda itu memang tidak menanyakan soal itu sedikit pun.

"Tampaknya kau bingung, ada masalah?" tanya pemuda itu.

Lastri masih diam. Wajah yang tadi mulai ceria, kini kembali termenung. Matanya tetap menatap kosong jauh ke depan. Dan pemuda itu memperhatikan dengan mata agak menyipit dan kening berkerut. "Maaf, kalau aku terlalu jauh ingin tahu urusan pribadimu. Memang seharusnya aku tidak bertanya begitu," kata pemuda itu seperti menyesal.

"Oh, tidak.... Tidak apa-apa," sahut Lastri buru-buru dan sedikit tergagap.

"Oh, ya. Kita akan berpisah di sini. Senang aku berteman denganmu, Gadis Manis." ujar pemuda itu sambil melangkahkan kakinya.

"Eh, tunggu...," cegah Lastri sambil beranjak.

Pemuda gagah, tampan dan berbaju kulit harimau itu tidak jadi melangkah. Dia kembali menatap wajah gadis di depannya itu dalam-dalam. Hatinya langsung bisa menebak, kalau gadis itu tengah menyimpan persoalan. Dari tadi sebenarnya dia sudah heran, di dalam hutan yang lebat ini, dan tak seorang manusia pun sudi menginjakkan kakinya di sini, ada seorang gadis muda yang cantik.

"Boleh aku tahu, ke mana tujuanmu?" tanya Lastri agak ragu-ragu.

"'Untuk apa kau tanyakan itu?" pemuda itu malah balik bertanya.

"Aku..., eh, tidak. Maaf, memang tidak sepantasnya aku bertanya begitu," kata Lastri semakin tergagap.

"Aku hanya seorang pengembara yang tidak menentu tujuannya. Ke mana kakiku melangkah, ke sanalah aku menuju," kata pemuda itu menjelaskan.

"Boleh aku ikut?" tanya Lastri memberanikan diri.

"Ikut...?" pemuda itu tersentak heran.

"Aku tahu, kau pasti keberatan. Tapi aku merasa bahwa kau bukan orang jahat. Dan aku hanyalah seorang wanita lemah yang tentunya akan membuatmu kerepotan. Ah, sudahlah. Kita berpisah saja di sini," kata Lastri lesu.

"Sebentar...," cegah pemuda itu saat gadis di depannya mau pergi.

Kini ganti Lastri yang mengurungkan niatnya.

Sebentar mereka berdiri saling berpandangan. Namun baru sejenak, kepala gadis itu sudah tertunduk dengan wajah bersemu merah dadu. Sinar mata pemuda itu telah membuatnya gugup dan tak menentu perasaannya. Lastri sendiri tidak tahu, kenapa dia jadi begitu saja percaya pada laki-laki yang baru dikenalnya.

"Aku melihat ada persoalan pada wajahmu. Memang terasa aneh bertemu seorang gadis cantik di dalam hutan yang sepi begini. Kau mau mengatakan persoalanmu padaku?" kata pemuda itu lagi. Kali ini dia tidak lagi bisa menahan rasa ingin tahunya.

"Untuk apa? Rasanya percuma saja kau tahu," pelan dan lirih suara Lastri.

"Barangkali aku bisa membantu untuk menyelesaikan persoalanmu," sahut pemuda itu.

"Tidak ada gunanya," kata Lastri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kau tadi bilang akan ikut denganku. Sebenarnya aku keberatan. Soalnya aku belum tahu sebabnya, kenapa kau mau ikut denganku?" pemuda itu memancing.

"Aku tidak tahu, tapi...."

"Kenapa?"

"Aku merasa kalau kau tidak akan berbuat yang tidak-tidak padaku. Aku merasa Dewata memang mengirimmu kemari. Entahlah, perasaan itu tiba-tiba saja datang padaku," kata Lastri pelan. Kata-kata itu seolah meluncur begitu saja tanpa disadari.

"Ha ha ha... Kau ini lucu, Gadis Manis. Aku datang ke sini tidak sengaja. Dan bertemu denganmu di tempat ini tentu saja juga hanya kebetulan. Ah, sudahlah Ke mana sebenarnya tujuanmu, dan aku akan dengan senang hati mengantarmu sampai tempat tujuan. Tanpa imbalan...," pemuda itu sempat juga bergurau.

"Terima kasih, tapi aku tidak punya tujuan," sahut Lastri pelan. Namun seulas senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Aku tidak percaya kalau kau adalah seorang pengembara."

"Memang bukan, dan ini baru pertama kalinya aku meninggalkan rumah, kampung halaman dan...,"

Lastri tidak jadi meneruskan kata-katanya.

"Kekasih?" pemuda itu langsung menebak.

Lastri segera menggeleng dan tersenyum pahit.

"Seorang gadis muda, cantik, telah meninggalkan rumah seorang diri tanpa tujuan yang pasti. Tentu ada sebabnya, kan?" pemuda itu seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Ya...," desah Lastri tak sadar.

"Boleh aku tahu?"

Lastri tidak segera menjawab. Dia kemudian malah berbalik dan mengayunkan kakinya pelan-pelan. Kepalanya tetap tertunduk memandangi ujung kakinya yang berjalan pelan di atas daun-daun kering.

Sementara pemuda itu masih tetap berdiri sambil memandanginya. Kemudian dia pun segera melangkah menyusul gadis itu. Rasa penasarannya membuat dia semakin ingin tahu.

***

Sementara itu matahari terus merambat semakin tinggi. Sinarnya yang terik telah menghalau kabut, dan seakan ingin membakar seluruh makhluk yang ada di atas permukaan bumi. Namun teriknya sinar matahari itu tidak mampu untuk menghentikan langkah dua orang yang tengah berjalan pelahan-lahan, merambah hutan di Lereng Gunung Cangking. Mereka terus berjalan ke arah Barat dari lereng gunung itu. Semakin jauh mereka berjalan, pohon-pohon semakin teriihat jarang. Namun langkah mereka tidak juga berhenti. Mereka terus saja melangkah ke kaki lereng gunung. Kedua orang itu kemudian berhenti setelah sampai pada sebuah danau kecil yang ada air terjunnya. Sebenarnya tempat itu bukan merupakan danau, hanya cekungan tanah yang terkikis dan membesar akibat irisan air yang mengalir cukup deras dari dataran yang tinggi. Ada beberapa sungai yang membawa air itu mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Kini mereka beristirahat di sebuah batu pipih yang menjorok ke danau itu. Pada bagian ini air kelihatan tenang, karena banyak batu-batu yang menghambat lajunya arus. Gadis berbaju hijau itu lalu menceburkan sebagian kakinya ke dalam air, dan membasuh wajahnya yang berdebu dan disimbahi keringat. Sedangkan pemuda di sampingnya hanya duduk mencangkung sambil memandangi air terjun di seberangnya.

"Sudah setengah hari kita bersama-sama, dan kau sudah tahu tentang diriku. Tapi aku belum tahu tentang dirimu," kata gadis itu beberapa saat kemudian.

"Apa itu perlu?" tanya pemuda itu tanpa menoleh.

"Kalau kau tidak keberatan."

"Namaku Bayu Hanggara, tapi kau cukup memanggilku dengan sebutan Bayu," pemuda itu mulai memperkenalkan diri.

"Umurmu pasti lebih tua dariku. Boleh aku memanggilmu dengan sebutan Kakang?"

"Sama sekali tidak keberatan."

"Dan kau juga jangan memanggilku lagi dengan sebutan Gadis Manis. Panggil saja aku Lastri," pinta gadis itu setengah tersipu.

"Boleh juga," sahut Bayu seraya menoleh ke arah gadis itu.

Lastri tersenyum manis.

"Kau tadi bilang, bahwa kau adalah seorang pengembara. Apakah kau seorang pendekar?" tanya Lastri lagi.

"Apakah seorang pengembara sudah berarti pendekar?" Bayu balik bertanya.

"Biasanya memang begitu. Dan biasanya juga, seorang pendekar selalu punya nama julukan. Apa nama julukanmu?"

"Kau ini seperti sudah tahu saja tentang dunia kependekaran."

"Sedikit-sedikit aku sudah tahu tentang rimba persilatan."

"Oh, ya? Dari mana kau tahu?"

"Ayahku sering cerita, juga pamanku yang memang seorang pendekar. Tapi itu dulu, ketika Paman masih hidup. Dan Ayah juga masih tampak gagah," Lastri seperti mengenang. "Pamanku dulu berjuluk Pendekar Cakar Maut. Dia memang kejam pada musuh-musuhnya, tapi hatinya baik dan lembut. Selalu menolong siapa saja yang membutuhkan."

"Kau pernah belajar ilmu olah kanuragan?" tanya Bayu tertarik juga.

"Tidak," sahut Lastri.

"Kenapa?"

"Ayah tidak pernah mengijinkan."

"Tentu ada alasannya, kan?"

"Entahlah, yang jelas aku tidak diperbolehkan untuk belajar ilmu olah kanuragan. Padahal itu kan penting, apalagi kalau dalam keadaan seperti ini.

Yaaah..., seandainya aku dulu sempat belajar, pasti tidak akan melarikan diri seperti ini," agak pelan suara Lastri.

"Aku yakin, ayahmu pasti punya alasan atas tindakannya itu," Bayu membesarkan hati gadis itu.

"Mungkin," desah Lastri. "Oh, ya. Siapa sebenarnya nama julukanmu?" tanya Lastri kembali teringat dengan pertanyaannya yang belum terjawab.

"Pendekar Pulau Neraka," sahut Bayu berterus terang.

"Ihhh..." mendadak Lastri bergidik.

"Kenapa?"

"Seram Kenapa memilih nama julukan itu? Kan masih banyak nama julukan yang baik. Julukan itu bisa menyiratkan akan watakmu yang kejam, sadis.

Seperti Paman dulu, tindakannya juga selalu kejam, tidak pernah mengampuni setiap lawannya. Jadi banyak orang memusuhinya, tapi juga banyak yang menyenanginya."

"Mungkin keadaan pamanmu dan aku ada persamaan," kata Bayu bisa merasakan kalau kata-kata Lastri itu seperti sedang menelanjangi dirinya.

"Siapa yang telah memberimu nama julukan seperti itu?" tanya Lastri mau tahu.

"Aku sendiri," sahut Bayu terus terang.

"Kausuka?"

"Ya."

"Bangga?"

"Tentu saja, setiap pendekar selalu bangga dengan nama julukannya."

"Tidak takut?"

"Kau ini ada-ada saja, Lastri. Apa yang harus kutakutkan?" Bayu merasa geli sendiri mendengar pertanyaan-pertanyaan gadis itu.

"Pendekar Pulau Neraka..., sebuah nama julukan yang bisa membangkitkah bulu kuduk. Orang pasti akan menyangka kalau kau adalah seorang yang kejam, sadis dan jahat"

Bayu hanya tersenyum. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan dugaan Lastri. Dan hal itu justru malah membuat hatinya merasa bangga. Dalam hatinya Bayu memuji kecerdasan gadis itu. Meskipun Lastri tidak pernah belajar olah kanuragan, tapi dia sendiri sudah tahu betul seluk-beluk dunia kependekaran.

"Tapi aku sendiri tidak percaya kalau kau adalah seorang yang berhati kejam. Aku tidak melihat adanya sifat kekejaman pada wajahmu, Kakang," sambung Lastri. Sepertinya tahu, apa yang tengah dipikirkan Bayu.

"Mudah-mudahan kau salah menduga," kata Bayu tersenyum geli.

"Maksudmu, dugaan yang baik atau yang buruk?"

"Yang baik."

Lastri hanya tertawa. Dan tawanya kali ini adalah tawa yang pertama kali sejak beberapa hari belakangan ini. Dia merasa kalau Bayu hanya berolok-olok saja. Dan Pendekar Pulau Neraka itu pun tersenyum saja. Entah apa arti senyumnya itu.

Mungkin juga dia merasa senang begitu melihat adanya keceriaan lagi pada wajah gadis itu.

Tiga

Tidak sulit bagi Bayu untuk membuat seorang gadis bersikap terbuka dan berterus terang padanya. Pendekar Pulau Neraka itu mempunyai cara sendiri untuk mengorek keluar semua isi hati seseorang, apalagi seorang gadis seperti Lastri. Dalam perjalanan, Pendekar Pulau Neraka itu terus-menerus menanyakan semua kesulitan yang tengah dialami Lastri. Dan cara yang dilakukan oleh Bayu itu telah berhasil membuat Lastri semakin merasa dekat dan menaruh kepercayaan padanya.

"Sudah berapa lama hal itu berlangsung?" tanya Bayu.

"Sejak ayahku tidak menjabat sebagai kepala desa lagi, kira-kira lima tahun lalu," sahut Lastri.

"Lalu, siapa yang telah menggantikan kedudukan ayahmu?"

"Adik Pendeta Pasanta, namanya Ki Durangga."

"Ah, sebuah persoalan biasa. Membodohi penduduk desa demi kepentingan pribadi," nada suara Bayu seolah mengeluh.

"Kelihatannya memang persoalan biasa, tapi hal itu bisa menjadi berlarut-larut kalau tidak segera ditangani," kata Lastri.

"Apa di desamu tidak ada sebuah padepokan?" tanya Bayu lagi.

"Desa Gampil adalah sebuah desa yang tentram.

Selama ini tidak pernah terjadi kerusuhan. Bahkan pencoleng kecil pun tidak ada di sana, jadi mungkin para penduduknya merasa tidak perlu untuk mendirikan sebuah padepokan. Lagi pula seluruh penduduknya memang tidak menyukai kekerasan,"

Lastri menjelaskan keadaan desanya.

"Kamu ini aneh, Lastri. Belum lama bilang, bahwa desamu sedang mengalami kehancuran pelan-pelan.

Dan sekarang sudah berubah, kalau desamu aman tentram dan damai. Mana yang benar?"

"Dulu Desa Gampil memang keadaannya aman, tentram dan damai. Tapi sekarang tidak lagi."

"O..., jadi kau kabur karena takut melihat kehancuran desamu, begitu?"

"Bukan hanya itu, tapi ada sesuatu yang lebih penting. Tapi rasanya kau tidak akan percaya kalau kujelaskan. Sebaiknya buktikan saja sendiri."

"Bagaimana mungkin? Sedangkan aku sendiri tidak tahu, di mana letak desamu itu. Apalagi kau sendiri sedang menjauhi desa itu...."

"Aku mau mengantarkan kau pergi ke sana, asalkan kau janji mau menyelamatkan dan membebaskan keadaan desa itu dari belenggu."

"Siapa mereka?"

"Kau akan tahu sendiri nanti."

Bayu hanya bisa mengangkat bahunya saja. Untuk saat ini dia memang masih diliputi oleh berbagai macam tanda tanya, tapi sebagian besar sudah bisa dimengerti. Dia merasakan, kalau kali ini dia harus segera kembali bertualang untuk menumpas keangkaramurkaan.

"Ayo, sebaiknya kita segera menuju Desa Gampil,"

ajak Bayu kemudian.

"Tapi kau harus janji...," tagih Lastri.

"Iya..., aku janji. Keselamatanmu aku yang tanggung," potong Bayu cepat.

Lastri segera tersenyum lebar. Entah apa sebenarnya arti senyumannya itu. Kemudian mereka mulai melangkah menuju Desa Gampil.

***

Malam kian merambat semakin larut. Seluruh permukaan bumi sudah terselimuti oleh kegelapan. Bayu dan Lastri telah tiba di perbatasan Desa Gampil, di saat seluruh penduduk desa itu tengah terbuai dalam mimpi. Sejenak mereka berhenti sambil memandang ke desa yang keadaannya sudah sepi itu. Tak terlihat seorang pun yang berada di luar rumah.

Suasana desa itu memang damai, aman dan tentram. Namun Pendekar Pulau Neraka itu segera merasakan adanya hawa lain menyelimuti desa di depannya itu. Indra keenamnya yang tajam dan terlatih baik, langsung merasakan kalau dirinya tengah diawasi. Dan perasaan itu semakin menebal kala telinganya mendengar suara gemerisik yang halus.

"Hm...," Bayu bergumam pelan, hampir tidak terdengar.

"Ada apa, Kakang?" tanya Lastri yang sempat mendengar gumaman itu.

"Tidak ada apa-apa," sahut Bayu pelan seperti bergumam. "Rumahmu masih jauh dari sini?

"Tidak lama lagi. Dari sini saja sudah kelihatan. Itu yang tampak gelap, tidak ada lampunya...," suara Lastri jadi pelan.

"Kenapa?" tanya Bayu yang merasakan kalau nada suara gadis itu telah berubah. Seperti ada yang dicemaskannya.

"Aneh..., tidak biasanya gelap begitu," sahut Lastri seperti untuk dirinya sendiri.

Bayu menatap ke arah rumah yang tidak begitu besar itu. Memang tidak seperti rumah-rumah lainnya, yang semuanya menaruh pelita pada bagian depan rumahnya.

Bayu sedikit menggeser kakinya untuk lebih mendekati Lastri. Telinganya yang selalu terpasang tajam, kembali mendengar suara gemerisik dari arah samping kanan. Suara itu sangat halus, dan Lastri pasti tidak merasakannya. Kini Pendekar Pulau Neraka itu semakin yakin, pasti ada seseorang yang sedang mengintainya. Dan orang itu tentu memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi. Terbukti dari desahan napasnya yang halus tersamar oleh hembusan angin.

Bayu sengaja tidak memberitahukan hal itu pada Lastri. Dia tidak ingin melihat gadis itu jadi terkejut dan ketakutan. Bayu memang baru sekali datang ke desa itu. Makanya harus bersikap hati-hati agar tidak mengundang perhatian.

"Perasaanku jadi tidak enak, Kang...," bisik Lastri.

"Kau mencemaskan keadaan orang tuamu?" tanya Bayu menebak.

"Ya. Aku khawatir telah terjadi sesuatu yang menimpa Ayah dan Ibuku. Tidak biasanya mereka mematikan semua lampu di rumah," sahut Lastri cemas.

"Kau ingin agar aku segera memeriksa ke sana?"

Lastri tidak segera menyahut. Tatapan matanya tetap lurus ke arah rumahnya. Hatinya terus berkecamuk penuh dengan rasa kekhawatiran.

"Kau tunggu sebentar di sini, aku tidak akan lama," kata Bayu seraya melangkah.

"Hati-hati, Kang," hanya itu yang bisa diucapkan Lastri.

Bayu hanya tersenyum. Tampak telinganya bergerak-gerak, pertanda dia semakin jelas mendengar suara yang mencurigakan sejak tadi.

Maka tanpa banyak bicara lagi, Pendekar Pulau Neraka itu segera melesat cepat bagai kilat. Begitu cepatnya dia bergerak, sehingga bagaikan hilang saja.

Sejenak Lastri terkejut, dan dia celingukan mencari-cari, namun bayangan pemuda itu sudah tidak tampak lagi. Entah menghilang ke mana...?

Belum lagi hilang rasa terkejut dan herannya gadis itu, tiba-tiba di depannya muncul seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap. Dia memakai baju putih yang ketat dan berlengan panjang yang lebar. Tentu saja Lastri jadi semakin ketakutan. Apalagi kini dari arah samping kanan dan kirinya juga muncul dua orang laki-laki yang perawakan tubuh dan pakaiannya sama dengan yang pertama.

"Mau apa kalian?" sentak Lastri, agak bergetar suaranya.

"Kami hanya menjalankan perintah untuk segera membawamu pulang," sahut seorang yang berdiri paling depan.

"Tidak..." pekik Lastri. Buru-buru dia berbalik, namun di belakangnya tiba-tiba sudah berdiri seorang laki-laki lain lagi.

Kini Lastri jadi panik. Dia sudah terkepung oleh empat orang laki-laki yang muncul secara tiba-tiba bagaikan setan saja. Lalu hampir bersamaan, empat orang berpakaian putih itu bergerak ringan mendekati. Dan Lastri semakin kebingungan.

"Tidak Jangan dekati aku... Pergi kalian semua..." jerit Lastri histeris.

Namun mereka tetap saja bergerak mendekati. Lastri terus menjerit-jerit, dia berusaha memberontak ketika salah seorang secara tiba-tiba melompat dan mencengkeramnya. Namun pada saat itu mendadak terdengar suara bentakan keras menggelegar.

"Lepaskan gadis itu"

Seketika empat orang laki-laki berbaju putih itu terkejut dan langsung menoleh. Tampak seorang pemuda tampan dan berbaju kulit harimau, telah berdiri tegak dengan tangan melipat di depan dada.

"Kakang... Tolong aku...," jerit Lastri sambil memberontak berusaha melepaskan diri dari ringkusan salah seorang laki-laki berbaju putih itu.

"Kisanak, sebaiknya kau jangan ikut campur urusan kami," kata salah seorang yang berdiri paling depan. Suaranya tegas penuh nada ancaman.

"Lepaskan Iblis, kalian semua..." bentak Lastri terus memberontak.

Tapi pemberontakan gadis itu hanya sampai di situ saja, karena tiba-tiba dia jadi lemas lunglai tertotok jalan darahnya. Sedangkan seorang laki-laki yang dari tadi meringkusnya, langsung memanggul tubuh ramping gadis itu. Sedangkan tiga orang lainnya segera berdiri di depannya dengan sikap melindungi.

"Kisanak, sebaiknya kau cepat pergi dari sini sebelum aku mengambil tindakan tegas," kembali orang yang kini berdiri di tengah berkata mengancam.

"O..., kalian main ancam rupanya. Baik, Pendekar Pulau Neraka pantang digertak" sambung Bayu dingin.

Mendengar tantangan itu, laki-laki yang berdiri di tengah, segera menjentikkan jarinya. Seketika dua orang yang berada di sampingnya langsung bergerak maju. Hampir bersamaan, kedua orang itu mengeluarkan seuntai kalung yang terbuat dari batu hitam, namun berkilat. Sejenak mereka maju ke depan tiga langkah.

Bayu segera bersiap-siap untuk menyambut serangan. Dia sudah bisa menduga kalau empat orang itu pasti memiliki tingkat kepandaian yang tinggi, dan ini sudah disadarinya sebelum meninggalkan Lastri. Dia berbuat begitu hanya untuk memancing saja, dan dugaannya ternyata tepat

"Kami beri kesempatan sekali lagi padamu, Kisanak," kata orang itu lagi. Suaranya tetap dingin.

"Aku akan segera pergi, jika kalian melepaskan gadis itu" sahut Bayu tegas.

"Rupanya kau seorang yang keras kepala juga, Kisanak. Beri dia pelajaran"

"Hup"

"Hiyaaa..."

Dua orang yang sejak tadi sudah mengeluarkan seuntai kalung hitam, langsung berlompatan menerjang Pendekar Pulau Neraka. Gerakan mereka sangat cepat dan tiba-tiba sekali, sehingga Bayu terpaksa melentingkan tubuhnya ke belakang. Namun dengan cepat salah seorang penyerangnya telah mengebutkan untaian kalung di tangan kanannya.

Wut

"Uts" Bayu segera memiringkan tubuhnya sedikit, dan untaian kalung itu lewat sedikit di depan dadanya. Dan belum lagi Pendekar Pulau Neraka itu sempat menarik tubuhnya kembali, satu tendangan sudah keburu mendarat di punggungnya. Tubuh Bayu langsung terjungkal keras ke depan. Dan dua kali dia bergulingan di tanah, namun dengan cepat dia segera bangkit kembali.

***

Pendekar Pulau Neraka benar-benar terkejut. Sama sekali dia tidak menyangka, kalau serangan dua orang itu sangat cepat dan terpadu rapi. Untung saja tendangan yang sempat mendarat di punggungnya tidak disertai dengan pengerahan tenaga dalam penuh, sehingga tidak menimbulkan luka dalam. Namun begitu, tendangan orang itu sangat keras dan membuat punggungnya terasa nyeri.

"Itu baru peringatan, Kisanak. Dan jika kau tidak segera meninggalkan desa ini, kami akan berbuat lebih dari itu" kata laki-laki yang mungkin sebagai pemimpinnya.

"Heh Jangan besar kepala dulu, Sobat Aku mampu membunuh kalian semua jika kuinginkan' sahut Bayu sengit.

"Dan kami bisa lebih kejam darimu" sahut salah seorang dari mereka tak kalah ketus.

Bayu benar-benar jengkel. Selama ini belum pernah ada seorang pun yang berani merendahkan dirinya begitu rupa. Biasanya, baru mendengar namanya saja orang pasti sudah gemetar. Tapi empat orang laki-laki di hadapannya itu sama sekali tidak gentar sedikit pun walau sudah digertak dengan menyebutkan nama julukannya yang angker itu.

"Cepat Beri dia pelajaran yang lebih keras' perintah yang diduga sebagai pemimpinnya. Langsung saja dua orang laki-laki itu kembal berlompatan menerjang. Sedangkan Bayu segera melayani dengan sungguh-sungguh. Dia langsung saja mengeluarkan jurus andalannya. Hatinya sudah benar benar panas dan jengkel. Dan pertarungan kali ini pun segera berlangsung dengan sangat dahsyat.

Sementara keempat musuhnya itu seakan baru menyadari, lebih- lebih dua orang yang kini tengah berhadapan langsung dengan Pendekar Pulau Neraka itu. Mereka telah merasakan bagaimana hebatnya angin pukulan Pendeka Pulau Neraka itu Sebuah hempasan yang menebarkan hawa panas dan dingin secara bergantian. Dan pada saat pertarungan memasuki jurus ke sepuluh, Bayu sudah bisa mengukur tingkat kemampuan lawan-lawannya itu. Otaknya yang cerdas terus bekerja, namun sedikit pun dia tidak mengurangi daya serangnya. Dan pada saat salah seorang lawannya mengebutkan untaian kalungnya ke arah kepala, dengan cepat Pendekar Pulau Neraka itu merunduk sambil melayangkan pukulan tangan kirinya ke arah perut.

Buk

"Hugh" seketika orang itu mengeluh pendek.

Bayu tidak membuang kesempatan itu, secepat kilat melentingkan tubuhnya ke atas sambil mengirimkan tendangan geledeknya ke arah dada orang itu. Seketika orang berbaju putih itu terpental sejauh tiga batang tombak ke belakang. Dan pada saat itu juga tubuh Pendekar Pulau Neraka sudah mendarat di tanah dengan manis. Lalu secepat kilat tangan kanannya berkelebat ke depan dengan tubuh agak membungkuk. Seketika secercah sinar keperakan meluncur deras ke arah musuhnya yang baru saja bisa bangkit. Dan tanpa ampun lagi, senjata cakra bergerigi enam dan berwarna keperakan itu langsung menembus dadanya.

"Aaakh..." laki-laki itu menjerit melengking tinggi.

Sejenak Bayu menghentakkan tangan kanannya ke depan dada. Dan senjata cakra andalannya itu pun kembali meluncur ke arahnya. Dan sambil melompat ke atas, Pendekar Pulau Neraka itu menangkap senjatanya itu. Tepat pada saat itu sebuah bayangan putih tiba-tiba meluncur deras ke arahnya. Buru-buru Bayu meluruk turun ke bawah. Namun tanpa diduga sama sekali, sebuah tendangan menggeledek langsung menghantam punggungnya.

"Akh"

Bayu tersungkur ke tanah dan bergulingan beberapa kali sebelum melompat bangkit. Tampak seorang lawannya lagi sudah menerjangnya kembali dengan dahsyat. Kini seluruh perhatian Bayu benar-benar terpusat pada pertarungannya itu. Belum habis dia menikmati hasilnya menjatuhkan satu lawan, kini datang kembali serangan dari lawan satunya lagi. Sepertinya Pendekar Pulau Neraka itu benar-benar tidak diberi kesempatan untuk menarik napas sedikit pun. Serangan-serangan lawannya kali ini sangat cepat dan dahsyat, sepertinya dia tidak ingin memberi kesempatan pada Bayu untuk melepaskan senjatanya.

Dalam pertarungan jarak pendek begini, biasanya Pendekar Pulau Neraka mengandalkan kelincahan gerak tubuhnya, dan kedahsyatan pukulan-pukulannya. Namun menghadapi lawan yang tingkat kepandaiannya cukup tinggi itu, dia terpaksa menggenggam erat senjatanya, untuk mengimbangi senjata lawan yang berupa seuntai kalung dari batu hitam.

***

"Mampus kau" bentak Bayu ketika dia punya kesempatan untuk mengeluarkan jurus 'Pukulan Racun Hitam'nya. Kini telapak tangan kirinya tampak terbuka lebar, dan mengarah langsung ke depan dada lawannya.

Namun tanpa diduga sama sekali, lawannya itu mampu berkelit dengan cepat. Dan dia juga sempat mengibaskan kalungnya ke arah kaki Bayu.

"Uts"

Buru-buru Bayu melompat sedikit menghindari senjata lawannya itu. Dan dia segera memutar tubuhnya sambil melayangkan kaki kanannya. Buk

Satu benturan keras langsung terjadi. Seketika lawannya terhuyung-huyung ke belakang. Dan belum lagi sempat menguasai tubuhnya, tiba-tiba Pendekar Pula Neraka itu berteriak nyaring.

"Hiyaaa..." Kali ini jurus 'Pukulan Racun Hitam' yang dikerahkan Bayu, langsung mendarat telak di dada lawannya. Kembali orang itu terjengkang ke belakang dengan tubuh limbung.

Rupanya Pendekar Pulau Neraka tidak mau lagi memberi kesempatan. Maka sambil berteriak nyaring dia segera melompat ke atas sambil melontarkan senjata mautnya. Seketika senjata cakra itu meluncur deras, dan langsung memenggal leher lawannya. Dan tanpa mengeluarkan keluhan sedikit pun, tubuh laki-laki berbaju putih itu langsung ambruk ke tanah

Sejenak Bayu berdiri tegak sambil memandang kedua mayat yang menggeletak di tanah. Lalu buru-buru dia memalingkan kepalanya. Dan betapa terkejutnya dia, karena dua orang lawannya lagi sudah hilang sambil membawa Lastri. Rupanya mereka telah mengambil kesempatan di saat seluruh perhatian Pendekar Pulau Neraka itu terpusat penuh pada pertarungannya.

"Pengecut Licik..." geram Bayu.

Kemudian Pendekar Pulau Neraka itu mengedarkan pandangannya berkeliling. Hanya kegelapan yang menyelimuti sekitar tempat itu. Bayu benar-benar menyesal karena telah terlalu memusatkan perhatiannya pada dua orang lawannya.

"Hhh Ke mana mereka membawa Lastri...?" dengus Bayu seorang diri.

Pandangan mata Pendekar Pulau Neraka itu kini terpusat pada rumah yang tampak gelap gulita. Rumah itu telah dikatakan Lastri sebagai rumahnya. Dan ada orang tuanya di sana. Tapi kenapa keadaannya begitu gelap? Bayu belum bisa menjawabnya. Dia tadi perginya untuk memancing orang-orang yang mengintainya ke luar. Dan ternyata mereka tidak bermaksud baik. Bahkan mereka telah berhasil membawa Lastri kabur. Gadis yang telah dijanjikan keselamatannya.

"Fiuh Aku jadi merasa berhutang pada gadis itu," dengus Bayu.

Pendekar Pulau Neraka itu segera berlari cepat dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Tubuhnya bagaikan sebuah bayangan yang terbawa angin, meluncur cepat ke arah rumah yang tampak gelap itu. Dan dalam waktu yang singkat saja, dia sudah berada di depan pintu rumah itu. Sebentar matanya memperhatikan keadaan sekelilingnya. Sepi, tak terlihat satu manusia pun di tempat itu.

Pelahan-lahan Bayu mendekati pintu rumah itu. keningnya agak berkerut, karena pintu itu tidak tertutup sepenuhnya. Maka dengan pelahan, tangannya terjulur dan membuka pintu yang memang sudah sedikit terbuka itu. Sejenak Bayu mengerjap-kan matanya, membiasakan penglihatan-nya dalam keadaan gelap. Kemudian dengan hati-hati sekali kakinya melangkah masuk. Namun belum lagi Pendekar Pulau Neraka itu masuk lebih ke dalam, mendadak telinganya mendengar desiran angin halus dari arah belakang. Buru-buru dia mengegoskan tubuhnya ke samping. Dan seleret cahaya kemerahan membersit di samping kepalanya.

"Hup"

Pendekar Pulau Neraka itu segera melompat ke luar. Matanya yang tajam langsung dapat melihat berkelebatnya sebuah bayangan dari atap sebuah rumah di depan rumah yang gelap itu. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Bayu segera melompat dan mengejar. Matanya terus memperhatikan bayangan yang berlompatan dari satu atap ke atap rumah lainnya. Gerakannya begitu cepat dan ringan.

"Hup Hih..."

Bayu mengempos seluruh ilmu meringankan tubuhnya. Dan lompatannya semakin cepat bagai kilat. Jarak mereka pun semakin tambah dekat saja.

Tampak Pendekar Pulau Neraka itu sedikit berkerenyit keningnya, karena bayangan itu menuju perbatasan Desa Gampil dengan hutan yang dilewatinya tadi.

***

"Berhenti..." seru Bayu lantang. Bersamaan dengan itu, Pendekar Pulau Neraka itu segera melentingkan tubuhnya, dan melompati kepala orang yang tengah dikejarnya itu. Dan dengar manis sekali kakinya segera mendarat persis di depan orang itu. Bayu langsung berbalik, bertepatan dengar berhentinya lari orang itu. Tampak seorang laki-laki tua yang berbaju kumal dan penuh dehgan tambalan. Di tangannya tergenggam sebatang tongkat berwarna hitam.

Bayu terus mengamati laki-laki yang kelihatan seperti seorang pengemis itu. Rupanya orang tua berongkat hitam itu juga tengah mengamati pemuda di depannya. Beberapa saat lamanya mereka saling berdiam diri, dengan mata sama-sama memperhatikan dengan tajam. Seakan-akan mereka tengah mengukur tingkat kepandaian masing-masing.

"Kakek tua, siapa kau? Kenapa membokongku?" tanya Bayu tetap berwaspada.

"He he he...," laki-laki tua itu terkekeh. "Seharusnya akulah yang bertanya padamu, Bocah"

"Heh" Bayu terperanjat.

"Apa maksudmu masuk ke rumah Ki Sudra? Mau mencuri?" tanya laki-laki bertongkat hitam itu tanpa menghiraukan keterkejutan Bayu.

"Jangan menuduh serabarangan, Kakek Tua" dengus Bayu sengit.

"Sudah biasa, seorang pencuri akan berlaku kasar kalau kepergok."

"Gila Siapa yang mau mencuri?"

"Kalau tidak mau mencuri, untuk apa kau masuk ke rumah yang sudah ditinggalkan oleh penghuninya?"

"Justru aku bermaksud mencari pemilik rumah itu"

"Untuk apa? Malam-malam begini, Ki Sudra tidak pernah membuka kedainya. Lagi pula dia memang tidak ada."

"Tidak ada...? Ke mana?"

"Huh Pakai tanya segala"

"Kakek tua, jangan menambah-nambah persoalan. Kau telah membokongku dengan licik. Berarti kau lebih tahu keadaan rumah itu. Apa sebenarnya yang kau inginkan? Apakah kau ini sebenarnya Ki Sudra?

"He he he..." laki-laki tua itu kembali terkekeh.

"Huh Memang susah ngomong sama orang gendeng" dengus Bayu kesal.

"Heh, Bocah Jaga mulutmu" bentak laki-laki itu.

"Kau sendiri yang harus hati-hati, Kakek Tua. Kau tahu, dengan siapa kini kau berhadapan? Akulah orang yang bergelar Pendekar Pulau Neraka" Bayu mencoba menggertak.

"Ha ha ha..." kali ini tawa laki-laki tua itu terbahak-bahak. Telinganya seperti tergelitik mendengar gertakan itu.

"Benar-benar sudah gila dia" rungut Bayu dalam hati.

"Kau pikir aku akan gentar mendengar nama kosongmu, Bocah? Orang lain mungkin bisa mati berdiri mendengarnya. Tapi Pengemis Tongkat Hitam tidak gentar" kata laki-laki tua itu menyebutkan nama julukannya.

"O... Ternyata kaulah orang yang berjuluk Pengemis Tongkat Hitam..." kini Bayulah yang terkejut mendengarnya.

"Kau kaget, kan? He he he..."

"Aku sedikit kaget bukan karena namamu yang sedikit tersohor, Pengemis Tongkat Hitam. Aku hanya heran, jauh-jauh dari daerah Selatan ke sini, tentu ada maksudnya," sahut Bayu.

"Dan kau sendiri juga berasal dari daerah Selatan. untuk apa kau datang ke sini?" Pengemis Tongkat Hitam balik bertanya.

"Aku pergi ke mana aku suka" sahut Bayu jadi sengit lagi.

"Sama. Aku juga mau pergi ke mana aku suka," sahut Pengemis Tongkat Hitam tak kalah ketus.

Bayu menggeram jengkel. Laki-laki tua itu benar-benar membuatnya kesal. Pintar memutarbalikkan kata-kata. Bayu memang sudah sering mendengar nama Pengemis Tongkat Hitam. Tapi baru sekali ini dia bertemu muka dengan orangnya. Dan pertemuannya itu malah membuatnya jengkel.

Pendekar Pulau Neraka itu tetap yakin, kalau kehadiran Pengemis Tongkat Hitam bukan hanya sekedar menuruti langkah kaki, tapi pasti ada maksud tertentu. Dia sudah tahu, kalau Pengemis Tongkat Hitam tidak mungkin meninggalkan daerah Selatan, kalau tidak punya maksud dan tujuan yang pasti. Bayu juga sudah tahu, laki-laki tua itu bukan tokoh dari golongan hitam. Tingkat kepandaiannya sukar dicari tandingannya. Dia sendiri belum tentu mampu menandinginya.

"Kenapa kau diam?" tegur Pengemis Tongkat Hitam sinis.

"Tidak apa-apa, hanya malas saja bicara denganmu," sahut Bayu masih sengit.

"He he he..., ternyata kabar yang telah kudengar tentang Pendekar Pulau Neraka, bukan omong kosong. Kau memang sulit untuk diajak berbicara. Kau angkuh, keras kepala, dan tindakanmu sangat kejam"

"Jangan menghakimi ku, Pengemis Tongkat Hitam" dengus Bayu tersinggung.

"Aku tidak menghakimimu, aku agak terganggu dengan kemunculanmu di sini"

"Ooo..., begitu. Tapi maaf, kau tidak bisa mengusirku seenaknya saja. Aku masih punya urusan di Desa Gampil," Bayu bisa menangkap maksud kata-kata Pengemis Tongkat Hitam itu.

"Sudah kuduga, kau datang ke sini bukan untuk sekedar lewat. Dan itulah yang membuatku tidak suka. Kau pasti akan mencampuri urusanku di sini"

"Urusanku sendiri saja belum selesai, kenapa harus susah-susah mencampuri urusanmu?"

"Kalau begitu, kau urus saja persoalanmu sendiri. Dan aku..."

"Tidak semudah itu, Pengemis Tongkat Hitam,"< celetuk Bayu memotong.

"Apa maksudmu?"

"Kau telah mencampuri urusanku dengan membokongku dari belakang"

"Bocah setan Kaulah yang memulai lebih dahulu tahu" sentak Pengemis Tongkat Hitam sengit.

"He..." Bayu jadi tersentak.

Empat


Pertengkaran dua tokoh rimba persilatan itu mendadak terhenti. Kini mereka mulai menyadari, bahwa persoalan yang sedang dihadapi terpusat pada satu tujuan. Meskipun belum terucapkan, tapi masing-masing sudah bisa mengerti. Dan hal itu benar-benar sangat mengejutkan. Mereka masing-masing sebenarnya tidak mau saling berurusan, tetapi kali ini mereka terbentur pada pokok persoalan yang sama tanpa diduga sebelumnya. Mereka sepertinya sama-sama menyesali pertemuan yang tidak diharapkan itu.

"Baiklah, Pendekar Pulau Neraka. Meskipun aku tidak mengharapkan kehadiranmu, tapi tujuan kita sama," kata Pengemis Tongkat Hitam mulai melunak suaranya.

"Apa maumu sekarang?" tanya Bayu. Juga sudah melemah suaranya.

"Aku ingin sebaiknya kita saling berterus terang. Tapi itu bukan berarti bahwa kita akan bekerja sama," sahut Pengemis Tongkat Hitam memberi penawaran.

"Untuk apa?"

"Agar di antara kita tidak saling mencelakakan dalam menyelesaikan persoalan masing-masing."

Sejenak Bayu terdiam. Dia segera menimbang- nimbang tawaran yang diajukan oleh Pengemis Tongkat Hitam itu. Sebenarnya dia sendiri masih belum jelas persoalan yang dihadapi, tapi juga tidak mau begitu saja menerima. Ada kemungkinan Pengemis Tongkat Hitam hanya memancing, karena dia sendiri masih meraba-raba.

Diamnya Pendekar Pulau Neraka itu segera disadari oleh Pengemis Tongkat Hitam. Sebenarnya dia mengajukan penawaran itu hanya untuk memancing keterangan yang mungkin sangat diperlukan. Dan pancingannya itu tampaknya sulit untuk mengena, karena Pendekar Pulau Neraka terlalu cerdik untuk dikelabui begitu saja. Agak lama juga mereka saling berdiam diri. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Yang satu berharap, dan satunya lagi menimbang-nimbang.

Namun masing-masing saling menjaga diri dengan keangkuhannya. Mereka memang memiliki watak yang hampir sama. Hanya bedanya, Pengemis Tongkat Hitam adalah benar-benar seorang tokoh rimba persilatan dari golongan putih, dan selalu bertindak dengan penuh perhitungan, dan masih memiliki rasa belas kasihan pada lawannya. Sedangkan Pendekar Pulau Neraka, selalu bertindak cepat tanpa pikir panjang lagi. Dan tidak segan-segan membunuh lawan-lawannya tanpa perlu mengenal lebih dulu, apakah lawannya itu hanya sebagai pengikut atau sekedar diperalat saja.

Perbedaan yang menyolok itulah yang membuat mereka sama-sama saling menjaga diri. Terlebih lagi, Pendekar Pulau Neraka tidak pernah memilih-milih lawan. Apakah itu dari golongan putih atau dari golongan hitam Apalagi jika diketahui, bahwa lawannya itu ada hubungannya dengan terbunuhnya ayahnya. Dan kekejaman Pendekar Pulau Neraka itu sudah menjadi buah bibir di kalangan kaum rimba persilatan.

"Bagaimana, Pendekar Pulau Neraka?" Pengemis Tongkat Hitam memecah kebisuan yang terjadi.

"Aku rasa sebaiknya kita berjalan sendiri-sendiri. Selama ini aku tidak pernah bekerja sama dengan seorang pun, kecuali jika orang itu meminta pertolongan dariku," sahut Bayu tegas.

Kata-kata Bayu itu memang agak merendahkan, tapi Pengemis Tongkat Hitam dapat menahan diri. Di antara mereka memang tidak punya persoalan apa pun, dan tidak ada untungnya menggali persoalan tanpa sebab yang pasti. Kini Pengemis Tongkat Hitam itu hanya mengangkat pundaknya.

"Kalau begitu, kita berpisah saja di sini. Dan mudah-mudahan tidak akan bertemu lagi," kata Pengemis Tongkat Hitam.

"Sebaiknya memang begitu," sahut Bayu kalem.

Kemudian tanpa berkata-kata lagi, Pengemis Tongkat Hitam langsung melesat, dan menghilang di balik pepohonan. Bayu masih sempat melihat arah yang ditempuh oleh laki-laki tua bertongkat hitam itu.

Sejenak dia memandang ke arah Desa Gampil, lalu dengan langkah pelan dia menuju desa itu.

***

Siang itu matahari sangat terik. Namun sengatan cahaya matahari yang membakar itu, tidak menghalangi para penduduk Desa Gampil untuk menunaikan tugas rutinnya. Para orang tua tampak sibuk bekerja di ladang, sementara anak-anak dengan cerianya bermain-main. Suasana di Desa Gampil itu sama sekali tidak menunjukkan adanya sesuatu yang telah membuat dua tokoh rimba persilatan yang sudah kondang namanya, muncul di sana.

Kemunculan dua tokoh rimba persilatan di Desa Gampil itu, tentu saja tidak luput dari perhatian Pendeta Pasanta. Lebih-lebih dengan Pendekar Pulau Neraka yang sempat bentrok dan membunuh dua orang muridnya. Siang itu tampak Pendeta Pasanta tengah duduk dengan dikelilingi oleh murid-muridnya yang kini hanya berjumlah dua puluh delapan orang.

"Mulai hari ini kalian harus meningkatkan kewaspadaan. Aku yakin, Lastri pasti sudah menceritakan semuanya pada Pendekar Pulau Neraka. Dan itu berarti akan munculnya suatu ancaman yang tidak bisa dianggap enteng," kata Pendeta Pasanta.

Dua puluh delapan muridnya hanya diam dengan kepala tertunduk. Mereka semua duduk bersila di lantai yang beralaskan permadani bulu yang tebal.

"Kalian tahu, Pendekar Pulau Neraka memiliki tingkat kepandaian yang sukar dicari tandingannya Terbukti, dua saudara kita telah tewas semalam dengan cara mengenaskan. Pendekar itu terkenal sangat kejam, membunuh setiap lawannya tanpa mau peduli besar kecilnya lawan yang dihadapi. Maka aku memperingatkan kalian agar tidak bertindak ceroboh," sambung Pendeta Pasanta.

Kembali tidak ada sahutan. Dua puluh delapan orang muridnya hanya menundukkan kepala saja.

"Satu lagi yang harus kalian ketahui. Di sini juga telah muncul seorang pendekar yang berjuluk Pengemis Tongkat Hitam. Dan aku sudah tahu, kedatangannya di sini khusus untuk mencariku. Tapi kalian tidak perlu khawatir padanya."

Semua murid-muridnya tetap diam dengan kepala tertunduk. Beberapa saat kemudian, Pendeta Pasanta bangkit dari duduknya, dan melangkah di antara murid-muridnya, yang juga segera berdiri
seraya merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada dengan tubuh sedikit membungkuk.

Laki-laki bertubuh gemuk dan berjubah kuning gading itu, terus melangkah meninggalkan ruangan besar itu. Langkahnya tampak ringan, pertanda kalau tingkat kepandaiannya sudah mencapai taraf yang hampir sempurna. Sementara para muridnya pun segera mengikutinya dari belakang.

Pendeta Pasanta kemudian berhenti melangkah saat tiba di depan sebuah pintu yang masih tertutup rapat. Seorang muridnya segera melangkah maju, dan membuka pintu itu. Lalu laki-laki gemuk berkepala gundul itu segera melangkah masuk, dan pintu kembali diturup dari luar.

Seorang gadis cantik berkulit kuning langsat, tampak duduk di tepi pembaringan. Gadis itu hanya mengangkat kepalanya sedikit, dan memandang Pendeta Pasanta dengan sinar mata penuh kebencian. Gadis berbaju hijau itu adalah Lastri, yang semalam berhasil dibawa kabur oleh dua orang laki-laki berpakaian serba putih, murid pendeta gundul itu.

Pendeta Pasanta mendekati jendela, dan membukanya lebar-lebar. Cahaya matahari langsung menerobos masuk dan menerangi seluruh ruangan itu. Angin yang bertiup kencang pun segera mengibarkan kain tirai jendela. Di depan jendela ada sebuah taman yang cukup luas dan tertata indah. Di sana tampak tengah duduk seorang perempuan tua yang dikelilingi oleh gadis-gadis cantik berjumlah lima orang.

"Mak...," desis Lastri begitu mengenali wanita tua itu.

"Ibumu tidak apa-apa, dia tetap sehat dan terjaga di sini," kata Pendeta Pasanta.

Lastri lalu mendekati jendela, dan memandangi wanita tua itu. Tak salah, wanita tua itu memang ibunya. Meskipun keadaan tubuhnya segar dan sehat, tapi raut wajahnya tidak mencerminkan kebahagiaan. Kemudian Lastri segera berbalik dan memandang Pendeta Pasanta yang kini sudah duduk di kursi dekat pintu.

"Mana Bapak?" tanya Lastri ketus.

"Tidak ada di sini," sahut Pendeta Pasanta kalem.

"Ke mana? Kau bunuh...?" agak tertahan suara Lastri.

Pendeta Pasanta hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku seorang pendeta, Anakku. Aku tidak pernah membunuh manusia tanpa alasan yang pasti. Ayahmu pergi mencarimu, dan aku kasihan melihat ibumu yang tinggal seorang diri. Itulah sebabnya aku segera membawanya ke sini agar tetap terurus segala-galanya," kata Pendeta Pasanta lembut.

Kembali Lastri menoleh ke arah ibunya yang tetap duduk di kursi taman. Kemudian pandangan gadis itu beralih pada Pendeta Pasanta lagi. Dia sebenarnya tidak mempercayai kata-kata pendeta itu, tapi melihat keadaan ibunya yang kelihatan segar, meskipun berwajah murung, hati Lastri jadi tergerak juga. Dan memang tidak mustahil kalau ayahnya juga tengah mencarinya.

"Aku mau bertemu Mak," kata Lastri.

"Kau sudah berada dalam pingitan, Anakku," masih terdengar lembut suara Pendeta Pasanta.

"Pingitan...?" Lastri terperangah kaget.

"Ya, seminggu lagi kau akan jadi pengantin. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan."

"Tidak...," desis Lastri menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Segala keperluanmu akan selalu dipenuhi di sini. Dan kau harus bisa merawat diri agar tetap kelihatan cantik," kata Pendeta Pasanta lagi.

Kini Lastri tidak dapat lagi berkata-kata. Dia kemudian berlari dan menjatuhkan dirinya di pembaringan. Air matanya segera tumpah di sana, mengeluarkan semua perasaannya. Sedangkan Pendeta Pasanta kemudian berdiri dan melangkah ke luar.

***

Sementara itu di bagian luar rumah besar yang dikelilingi pagar batu tinggi, tampak seorang laki-laki muda yang berwajah tampan sedang berdiri di bawah pohon rindang. Tatapan matanya tidak berkedip mengamati rumah besar itu. Dia sama sekali tidak peduli dengan orang-orang yang lalu-lalang di sekitarnya.

Sejenak pemuda itu menggeser tubuhnya untuk berlindung di balik pohon, ketika matanya melihat pintu gerbang rumah itu terbuka. Tampak dari dalam keluar empat orang berkuda yang mengenakan baju putih ketat dan berlengan panjang. Dan empat orang berkuda itu langsung memacu kudanya menuju arah Utara.

Dan tanpa menunggu waktu lagi, pemuda gagah itu segera melesat cepat mengikuti arah mereka. Gerakannya sangat cepat, sehingga yang terlihat hanya bayangan tubuhnya.

Sementara empat orang penunggang kuda itu terus memacu kudanya menuju Bukit Batu di sebelah Utara Desa Gampil. Mereka sama sekali tidak menyadari kalau ada seseorang yang tengah mengikuti.

Beberapa saat kemudian, mereka berhenti begitu sampai di Kaki Bukit Batu. Dan dengan berjalan kaki, mereka kemudian meneruskan mendaki bukit itu.

Sementara pemuda yang tengah menguntitnya, tetap menjaga jarak. Namun ketika empat orang itu sampai di puncak bukit, tiba-tiba lenyap begitu saja, seperti tertelan Bukit Batu itu.

"Heh Ke mana mereka...?" pemuda gagah yang mengikuti, jadi kebingungan.

Maka dengan hanya sekali lompatan saja, pemuda gagah itu sudah berada di tempat mereka tadi menghilang. Sebuah tempat yang sangat asing dan mengandung hawa aneh. Indra keenamnya yang peka dan tajam, langsung memberikan peringatan. Buru-buru pemuda itu melayangkan pandangannya berkeliling.

Dan pada saat tatapan matanya tertuju pada dua buah batu terpahat yang menyerupai pintu gerbang, tiba-tiba dari celah batu itu keluarlah seberkas cahaya jingga yang meluncur ke arahnya.

"Hup"

Langsung saja pemuda itu melentingkan tubuhnya ke udara, dan cahaya jingga itu lewat di bawah telapak kakinya. Namun begitu kakinya menjejak tanah yang berpasir, kembali secercah cahaya jingga meluruk deras ke arahnya. Dan kali ini cahaya itu datangnya secara beruntun bagaikan hujan sinar.

Maka tanpa membuang-buang waktu lagi, pemuda itu segera berlompatan ke sana kemari menghindarinya.

Matanya yang tajam, segera dapat mengetahui kalau sinar-sinar jingga itu keluar dari senjata lempar yang kecil dan berbentuk bola sebesar kerikil. Kini pemuda gagah berbaju kulit harimau itu segera menangkis serangan-serangan itu, dengan pergelangan tangannya yang tertempel sebuah senjata cakra bergerigi enam dan berwarna keperakan.

Tring

"Ikh"

Pemuda berbaju kulit harimau itu langsung memekik tertahan, dan tubuhnya terpental dua tindak ke belakang. Dia segera merasakan pergelangan tangan kanannya seperti tersengat oleh ribuan ular berbisa. Namun dia tidak sempat lagi untuk berpikir, karena cahaya-cahaya jingga itu terus saja mencecar tubuhnya tanpa ampun.

"Edan Napasku bisa putus kalau begini terus"

dengus pemuda itu dalam hati.

Seketika itu juga dia segera melentingkan tubuhnya tinggi-tinggi, dan dengan cepat meluruk ke arah salah satu batu yang menyerupai sebuah pintu gerbang perbatasan itu. Dan dengan ringan sekali kakinya mendarat di atas batu itu.

Kini dengan tajam matanya menatap ke sekitarnya. Sejenak keningnya agak berkerut ketika mendapati tempat sekitarnya itu tampak sepi. Batu kembar yang menyerupai pintu gerbang itu ternyata merupakan sebuah tempat yang menuju padang rumput yang luas. Hampir dia tidak percaya melihat keadaan itu. Tampak di tengah-tengah padang rumput itu....

"Mustahil..." desis pemuda berbaju kulit harimau itu setengah tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.

Tampak di tengah-tengah padang rumput itu terdapat sebuah bangunan megah bagai istana. Bangunan itu berdiri tepat di tengah-tengah padang rumput yang luas terhampar bagai permadani.

Bangunan itu sangat indah, dan berlapis bagaikan emas. Cahayanya begitu kemilau dan menyilaukan mata. Tapi anehnya, bangunan itu tidak dikelilingi dengan tembok benteng seperti pada umumnya bangunan-bangunan istana lainnya. Dan keadaannya juga sunyi, seperti tidak berpenghuni sama sekali.

Namun untuk mendekatinya, mustahil kalau tidak ketahuan. Istana itu berada di tengah-tengah padang rumput yang luas dan datar. Satu gerakan sedikit saja, pasti akan ketahuan oleh pemiliknya. Dan serangan-serangan tadi sudah merupakan pertanda kalau di Puncak Bukit Batu ini ada penghuninya.

"Aku harus mengetahui tempat itu. Orang-orang yang kuintai tadi telah menghilang di sini. Hm..., pasti mereka berada di dalam bangunan istana itu," bisik pemuda berbaju kulit harimau itu dalam hati.

***

Beberapa saat kemudian, pemuda berbaju kulit harimau yang tak lain adalah Bayu Hanggara itu segera melompat turun dari atas batu berbentuk gapura itu. Namun begitu kakinya menjejak tanah yang berumput, mendadak dari dalam tanah di sekitarnya, bermunculan orang-orang yang berbaju hitam dan memegang pedang panjang. Pemuda itu tidak sempat untuk berpikir lagi, karena mereka langsung menyerangnya tanpa bicara sedikit pun.

Dan pertarungan satu melawan sepuluh orang itu tidak dapat dihindarkan lagi. Bayu langsung mengamuk bagai singa padang pasir. Namun mereka ternyata tidak bisa dianggap enteng. Serangan-serangannya sangat dahsyat dan berbahaya. Sedangkan gerakan-gerakan tubuh mereka juga lentur dan lincah.

"Modar..." bentak Pendekar Pulau Neraka seraya menghantamkan jurus 'Pukulan Racun Hitam', dengan pengerahan tenaga dalam yang sempurna.

Satu orang lawannya yang terkena pukulan tepat di bagian dadanya, langsung terjungkal ke tanah. Tampak dadanya robek dalam dan menghitam bagai terbakar. Sedangkan dari mulut dan hidungnya keluarlah darah kental berwarna kehitaman. Orang itu langsung ambruk tidak bangun-bangun lagi.

Kini Bayu semakin ganas saja mengerahkan jurus andalannya yang dahsyat itu. Dan belum lagi ada setengah jurus, satu orang kembali terjungkal dengan keadaan yang sama dengan korban yang pertama tadi. Dan tidak tanggung-tanggung lagi, Bayu pun segera mencabut senjatanya yang berupa cakra bergerigi enam dan berwarna keperakan dari pergelangan tangannya. Dan dengan senjata yang sudah tergenggam di tangan itu, serangan-serangannya semakin ganas dan dahsyat

Tidak lama kemudian, satu persatu dari lawan-lawannya itu pun mulai bertumbangan dengan keadaan luka yang mengenaskan. Kini sudah lima orang yang telah tewas di tangan Pendekar Pulau Neraka itu. Namun rupanya orang-orang berbaju hitam itu tidak mudah gentar, meskipun separuh dari jumlah mereka sudah tewas. Serangan-serangan mereka tidak mengendur sedikit pun. Bahkan semakin ganas dan rapat.

"Huh Kalau begini terus, tenagaku bisa habis," dengus Pendekar Pulau Neraka.

Seketika itu juga, Pendekar Pulau Neraka segera mengubah jurusnya. Kini dia mengerahkan jurus 'Pukulan Berantai'. Dengan menggunakan jurus itu, kedua tangan Pendekar Pulau Neraka jadi bergerak lebih cepat, diimbangi dengan gerakan-gerakan kaki dan tubuhnya yang lentur bagai belut. Kembali orang-orang berbaju hitam itu bertumbangan. Mereka tidak sanggup lagi menghadapi serangan-serangan Bayu yang maha dahsyat itu. Sekali saja kena hantaman tangan Pendekar Pulau Neraka, maka pasti tidak akan sanggup untuk bangun lagi. Kalau tidak kepalanya yang pecah, pasti tulang dadanya hancur.

"Tinggal satu Hiyaaa..." Seketika Bayu mengibaskan tangan kanannya, dan senjata cakra bergerigi enam itu pun langsung melesat cepat, dan menggorok leher lawannya yang tinggal satu itu. Maka tanpa ampun lagi, darah langsung muncrat dari lukanya itu, dan membasahi rumput hijau bagai permadani itu. Sejenak Bayu mengangkat tangan kanannya, dan Cakra Maut itu pun segera kembali menempel di pergelangan tangan kanannya.

"Hhh... Mereka pasti hanya kroco, tapi sudah begitu hebat," desah Bayu seraya menarik napas panjang.

Pendekar Pulau Neraka itu masih memandangi sepuluh orang yang menggeletak jadi mayat. Tidak ada lagi bagian yang utuh dari tubuh mereka. Kini Bayu mengalihkan pandangannya ke arah bangunan istana itu. Munculnya sepuluh orang berbaju hitam itu membuatnya harus lebih berhati-hati lagi. Dia sudah tahu kalau kehadirannya pasti sudah diketahui oleh penghuni istana itu.

Tampak di atas sana matahari sudah menggelincir di ufuk Barat. Cahayanya yang kemerahan memantul lembut, membuat istana di tengah-tengah padang rumput itu semakin kelihatan indah bercahaya.

"Sebentar lagi malam, sebaiknya aku bergerak malam hari saja," gumam Bayu pelan.

Lima

Bulan tampak bersinar penuh menghiasi langit yang cerah bertaburkan bintang. Tak sedikit pun awan berarak menghalangi sinar bulan. Malam yang indah, namun berselimut maut dan bersimbah darah. Keadaan Puncak Bukit Batu itu sangat sepi, namun terlihat begitu indah di malam hari. Tapi keindahan malam itu tidak dirasakan sama sekali oleh Pendekar Pulau Neraka yang sedang menunggu waktu dalam usahanya mendekati bangunan istana di depannya.

Dan pada saat posisi bulan tepat berada di atas kepala, Pendekar Pulau Neraka, bergerak cepat menuju bangunan megah tersebut. Gerakannya sangat cepat dan ringan bagaikan tiupan angin.

"Hup..." Pendekar Pulau Neraka melompat ke atap bangunan megah itu. Dia segera merapatkan tubuhnya di atap yang bagaikan berlapis emas murni. Telinganya dipasang tajam untuk menangkap setiap gerak dan suara. Keningnya agak berkerut, karena tidak terdengar satu suara pun. Setelah beberapa lamanya Bayu berada di atas atap, dia kemudian melentingkan tubuhnya turun.

Dan belum lagi Bayu mencapai tanah, mendadak berpuluh-puluh batang anak panah menghujaninya. Dan otaknya yang cerdas, langsung bisa mengatasi keadaan itu. Dengan meminjam tenaga dari salah satu anak panah yang tengah meluncur ke arahnya, Bayu kembali melenting ke udara, setelah jari tangannya menotok anak panah itu. Anak-anak panah itu pun berhamburan lewat di bawah kakinya.

Manis sekali Pendekar Pulau Neraka itu hinggap kembali di atas atap. Mendadak matanya yang setajam mata elang, langsung dapat melihat sosok-sosok tubuh hitam, yang sedang bersembunyi di balik pepohonan dan tembok. Mereka semua sudah siap dengan senjata panah.

"Hm..., rupanya kehadiranku memang sudah ditunggu," gumam Pendekar Pulau Neraka dalam hati.

Matanya terus beredar berkeliling. Seketika dia tersentak ketika mereka keluar dari balik persembunyiannya. Jumlah mereka tidak terhitung lagi karena banyaknya. Dan semua sudah menghunus senjata masing-masing. Tampak mereka yang memegang panah sudah mengarahkannya pada Pendekar Pulau Neraka.

Menyadari dirinya sudah terkepung, Bayu segera mencari jalan untuk bisa keluar dari tempat itu. Tapi semua sudut dan celah sudah terisi rapat. Dan pada saat Bayu tengah berpikir keras itu, mendadak dua buah bayangan biru berkelebat ke atas atap. Sebentar saja di samping kiri dan kanan Pendekar Pulau Neraka itu kini sudah berdiri dua orang yang berpakaian biru dan ketat.

Dan tanpa banyak bicara lagi mereka langsung berlompatan menyerang. Sementara tidak ada pilihan lain lagi bagi Pendekar Pulau Neraka. Dia pun terpaksa menghadapi dua orang itu. Kini pertempuran di atas atap itu tidak bisa lagi dihindarkan. Tiga bayangan tampak berkelebatan saling sambar. Mereka langsung bertarung dengan menggunakan ilmu olah kanuragan tingkat tinggi.

***

Sepuluh jurus telah berlangsung dengan cepat. Dan pertarungan di atas atap itu pun terus berlangsung semakin sengit. Kini mereka sudah saling menggunakan senjata. Tampak kilatan-kilatan senjata berkelebat cepat saling sambar dan mengurung. Ketika memasuki jurus yang kedua belas, tampak Pendekar Pulau Neraka mulai terdesak. Serangan-serangannya selalu dapat dipatahkan. Dan beberapa kali tubuhnya harus rela menerima pukulan dan tendangan keras.

Namun Pendekar Pulau Neraka tidak mau untuk menyerah begitu saja. Dia masih punya andalan, walaupun masih sulit untuk mengeluarkannya, karena kedua lawannya terus mencecar secara beruntun tanpa berhenti. Pendekar Pulau Neraka sama sekali tidak diberi kesempatan untuk melontarkan senjata andalannya. Untuk merubah jurus andalan pun sulit dilakukan. Saat ini keadaan Pendekar Pulau Neraka benar-benar mengkhawatirkan.

Hingga pada satu saat, satu tendangan keras kembali mendarat di dada Bayu. Seketika tubuhnya terpental ke belakang sejauh dua batang tombak. Naas, belum lagi dia sempat menguasai tubuhnya, tiba-tiba sebuah tendangan keras menghantam punggungnya Tubuh Pendekar Pulau Neraka meluncur deras ke bawah. Dan pada saat itu pula kedua lawannya langsung meluruk mengejar. Tepat pada saat kaki Bayu menjejak tanah, tanpa dapat dicegah lagi satu pukulan Keras mendarat telak di dadanya.

"Hugh"

Satu keluhan pendek kontan terdengar, bersamaan dengan limbungnya tubuh Bayu ke belakang. Seketika napasnya terasa sesak, dan matanya mulai berkunang-kunang. Kembali Pendekar Pulau Neraka itu harus menerima satu pukulan telak pada rahangnya, sehingga dia benar-benar terjungkal ambruk ke tanah.

"Hiyaaa..."

Tiba-tiba salah seorang berbaju biru melompat sambil mengarahkan pedangnya pada leher Bayu. Namun begitu ujung pedangnya hampir menyentuh tenggorokan Bayu, mendadak terdengar bentakan keras menggelegar.

"Cukup..."

Orang berbaju biru itu langsung menghentikan gerakannya, tapi dengan segera ujung pedangnya ditempelkan ke leher Bayu yang masih menggeletak di tanah. Sedangkan satu orang lawannya lagi sudah berdiri tepat di atas ubun-ubun kepalanya. Kini keadaan Pendekar Pulau Neraka itu benar-benar tidak berdaya

Seorang laki-laki muda dan tampan, serta mengenakan baju indah yang bersulamkan benang-benang emas, melangkah menghampiri. Di belakangnya tampak mengikuti sepuluh orang yang berpakaian jubah putih. Kini pemuda tampan berkulit kuning langsat itu sudah berdiri tegak dengan penuh wibawa di samping tubuh Bayu yang tetap menggeletak di tanah.

"Siapa kau?" tanya pemuda tampan itu. Suaranya lembut, namun sangat berwibawa.

"Pendekar Pulau Neraka," sahut Bayu memperkenalkan nama julukannya.

"Apa maksudmu datang ke istanaku?"

"Cuma kebetulan lewat," sahut Bayu berusaha tenang.

Trik

Pemuda tampan itu menjentikkan ujung jarinya.

Dua orang berpakaian putih segera melangkah maju, dan mengangkat tubuh Bayu agar berdiri. Tidak ada jalan lain bagi Pendekar Pulau Neraka, dia hanya menurut saja. Bahkan sama sekali dia tidak memberontak ketika gelang rantai dilingkarkan ke pergelangan tangannya. Rantai baja yang kuat itu juga dililitkan di leher dan kakinya. Kini Bayu benar-benar pasrah. Dia tidak bisa melawan, karena senjata andalannya pun sudah ikut terampas, dan kini sudah berada di tangan pemuda tampan yang berpakaian indah itu.

"Paman Branta Ireng, kau kenal dengan senjata ini?" tanya pemuda itu sambil menunjukkan senjata Cakra Maut milik Pendekar Pulau Neraka.

Laki-laki tua berjanggut putih dengan kulit hitam legam, segera menghampiri dan menerima senjata itu. Sebentar dia memperhatikan dan matanya yang bulat kecil itu menoleh ke arah Bayu.

"Hamba kenal senjata ini, Prabu Dewa Rimba. Senjata ini adalah milik seorang yang bernama Gardika. Dia adalah seorang tokoh dari golongan hitam dan sudah tewas puluhan tahun lalu," kata Branta Ireng pasti.

Kini Bayu menatap tajam pada laki-laki bertubuh hitam itu. Dadanya mendadak terasa bergemuruh begitu mendengar nama gurunya disebut-sebut.

"Hm...," pemuda yang dipanggil Prabu Dewa Rimba itu bergumam kecil sambil terangguk-angguk pelan.

"Gusti Prabu, boleh hamba bicara empat mata?" pinta Branta Ireng..

Prabu Dewa Rimba tidak segera menjawab. Sejenak dia memandang pada Pendekar Pulau Neraka, lalu jari tangannya kembali menjentik. Kini Pendekar Pulau Neraka segera digiring oleh para pengawal yang sejak tadi telah mengepungnya.

Sementara pemuda tampan itu segera berbalik dan melangkah diikuti para pengiringnya yang terdiri dari orang-orang tua berpakaian jubah putih.

***

Malam kian merayap semakin larut. Suasana di sekitar istana megah di Puncak Bukit Baru itu kembali sunyi, seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Namun pemuda tampan yang dipanggil Prabu Dewa Rimba, masih duduk di kursi indah yang berukir dan berwarna keemasan. Di depannya tampak duduk bersila seorang laki-laki tua yang berkulit hitam, dan mengenakan jubah putih yang panjang dan longgar.

Di dalam ruangan besar dan indah itu hanya terlihat mereka berdua saja. Kesunyian masih menyelimuti ruangan itu. Tampak laki-laki tua berkulit hitam dengan nama Branta Ireng itu menundukkan kepalanya. Di tangannya masih tergenggam senjata Cakra Maut milik Pendekar Pulau Neraka.

"Paman Branta Ireng, apa sebenarnya yang hendak kau bicarakan?" tanya Prabu Dewa Rimba memecah kesunyian.

"Tentang senjata Cakra Maut ini, Gusti Prabu," sahut Branta Ireng sambil mengangkat kepalanya.

"Hm..., ya. Kau tadi bilang kalau senjata itu sebenarnya milik orang yang bernama Gardika. Lalu, kenapa bisa sampai berada di tangan orang yang berjuluk Pendekar Pulau Neraka itu?"

"Itulah yang ingin hamba bicarakan, Gusti Prabu."

"Begitu pentingkah, sehingga kau ingin bicara denganku berdua saja?"

"Rasanya sangat penting, Gusti Prabu. Karena kalau Pendekar Pulau Neraka ada hubungan dengan Gardika, maka dia merupakan ancaman yang besar bagi kelangsungan Istana Dewa Rimba."

Prabu Dewa Rimba tampak mengerutkan keningnya.

"Hamba sudah kenal betul dengan orang yang bernama Gardika itu, Gusti Prabu. Karena hamba adalah adik seperguruannya. Tidak mudah untuk menandingi ilmu-ilmu olah kanuragan yang dimiliki Gardika. Hamba sendiri belum tentu bisa menandinginya, Gusti Prabu," kata Branta Ireng.

"Kau lihat pertarungan tadi, apakah kau mengenali jurus-jurusnya?"

"Sejak dia bertarung di Gerbang Dewa, hamba sudah mengenali jurus-jurusnya, Gusti Prabu. Itulah sebabnya, kenapa hamba memerintahkan si Kembar Iblis Biru untuk mencecarnya dan jangan memberinya kesempatan untuk menggunakan senjata ini. Tapi hamba benar-benar tidak menyangka, kalau jurus-jurus pemuda itu ternyata lebih dahsyat dari Gardika. Jurus- jurusnya bertenaga luar biasa. Dan semuanya terlihat sempurna, tanpa cacat sedikit pun."

"Hm..., kalau memang benar dia adalah murid dari kakak seperguruaan mu, kenapa harus merasa jadi ancaman besar? Bukankah kita bisa memanfaatkannya, Paman Branta Ireng."

"Mungkin bisa, Gusti Prabu. Tapi antara aku dan Gardika tidak pernah sepaham, meskipun di antara kami belum pernah bentrok. Tapi hamba rasa hal itu sulit, Gusti Prabu."

"Kenapa?"

"Gardika adalah seorang tokoh dari golongan hitam yang tidak pernah tunduk pada perintah siapa pun juga. Dia mengembara seorang diri, dan mencari kepuasan juga seorang diri. Hamba khawatir, kalau semua sifat-sifat Gardika sudah merasuki jiwa Pendekar Pulau Neraka itu. Dan kalau hal itu benar-benar terjadi, tidak mungkin dia mau mengabdi pada Gusti Prabu."

"Lain orang lain jiwanya, Paman Branta Ireng. Cobalah dulu, dan kalau memang tidak bisa, kuserahkan semuanya padamu," kata Prabu Dewa Rimba.

"Hamba, Gusti Prabu."

"Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Paman. Aku harus beristirahat penuh. Beberapa hari lagi pengantinku akan datang," kata Prabu Dewa Rimba seraya bangkit.

Branta Ireng pun segera bangkit dan membungkukkan badannya.

"Aku harus segera menyelidiki, siapa pemuda itu sebenarnya. Dan apa maksudnya datang ke tempat ini," gumam Branta Ireng dalam hati.

Kemudian Branta Ireng segera melangkah ke luar setelah pemuda yang bernama Prabu Dewa Rimba tidak kelihatan lagi di ruangan itu. Langkahnya lebar dan sedikit tergesa-gesa. Dua orang penjaga pintu yang berpakaian serba hitam, langsung membungkuk begitu Branta Ireng melewatinya.

***

Branta Ireng berdiri tegak sambil menatap tajam pada Pendekar Pulau Neraka, yang kini sudah terikat rantai di sebuah tiang bersilang. Kedua tangan dan kakinya tampak dipentang lebar-lebar. Bayu juga balas menatap tajam pada laki-laki tua itu. Tidak ada orang lain lagi di ruangan yang pengap dan sempit itu.

"Aku kagum pada keberanianmu datang ke sini, Anak Muda," kata Branta Ireng pelan. "Katakan saja terus terang, apa sebenarnya yang kau inginkan dariku?" dengus Bayu ketus.

Branta Ireng hanya tersenyum mendengar nada suara Bayu itu. Dia kemudian melangkah dan mendekati pemuda itu. Bibirnya masih menyungging-kan senyuman. Namun Bayu tetap menatapnya tajam.

"Aku sama sekali tidak peduli dengan tujuanmu datang ke Istana Dewa Rimba ini, Anak Muda. Aku hanya ingin kau mengatakan terus terang, dari mana kau dapatkan senjata Cakra Maut ini?" tanya Branta Ireng sambil mengeluarkan senjata andalan Pendekar Pulau Neraka dari balik lipatan jubahnya.

Bayu tidak langsung menjawab. Kelopak matanya semakin lebar begitu melihat senjata andalannya itu. Tanpa senjata itu, rasanya Bayu seperti kehilangan separuh dari nyawanya.

"Aku tahu siapa sebenarnya pemilik senjata ini, dan aku juga kenal betul dengan jurus-jurusmu. Kau tidak bisa berdusta di depanku, Anak Muda," kata Branta Ireng lagi.

"Kalau sudah tahu, kenapa pakai tanya segala?" tetap sinis nada suara Bayu.

"Berpuluh-puluh tahun aku tidak pernah mendengar lagi kabar tentang Gardika. Dan kini aku seperti melihat dia lagi pada dirimu, Anak Muda. Jurus-jurus yang kau miliki dan senjata yang kau gunakan telah mengingatkanku padanya," kata Branta Ireng pelan.

Tampak Bayu menyipitkan matanya. Kata-kata Branta Ireng itu membuat otaknya jadi bekerja keras. Rasanya dia belum pernah bertemu dengan laki-laki tua berkulit hitam itu. Dan namanya juga belum pernah dia dengar. Tapi Branta Ireng sudah tahu banyak tentang Gardika, gurunya. Kini berbagai pertanyaan terus berkecamuk di benak Bayu Hanggara.

"Kau pasti sudah berpikir yang bukan-bukan tentang diriku, Anak Muda. Mungkin ada baiknya kalau aku mengalah sedikit," kata Branta Ireng lagi.

Bayu masih tetap diam dengan otak yang terus bekerja keras menduga-duga.

"Antara aku dan Gardika adalah saudara seperguruan. Aku adik seperguruan dari Gardika. Meskipun di antara kami banyak terjadi perbedaan, tapi aku sangat menyayanginya. Aku juga sangat sedih dan merasa kehilangan ketika mendengar kabar tentang kematiannya," Branta Ireng mulai membuka diri.

Tentu saja Bayu terkejut setengah mati mendengarnya. Dia benar-benar tidak menduga, kalau laki-laki tua itu masih saudara seperguruan dengan gurunya. Kini Bayu tidak bisa lagi berkata-kata, namun sinar matanya menyiratkan belum sepenuhnya percaya.

"Kau juga pasti berpikir, kenapa aku tidak membalas dendam pada mereka yang telah membunuh saudara seperguruanku. Ketahuilah, Anak Muda. Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri untuk melepaskan segala urusan dunia. Lebih-lebih dengan urusan dendam yang tidak akan pernah berakhir. Dan aku sudah memutuskan untuk mengabdi pada Prabu Dewa Rimba, karena kehidupan di sini selalu dalam keadaan damai, jauh dari segala macam urusan dunia. Aku memang sangat menyesali kematian Gardika yang tragis itu, tapi aku tidak mau lagi melumuri tanganku dengan darah dan dosa," kata Branta Ireng.

"Apakah kata-katamu bisa kupercaya?" Bayu ingin meyakinkan.

"Kau bisa lihat ini," kata Branta Ireng sambil merogoh ke balik lipatan jubahnya.

Seketika mata Bayu membeliak lebar. Di tangan kiri Branta Ireng kini tergenggam sebuah cakra yang berwarna kuning emas, dan berbentuk serta berukuran sama persis dengan cakra yang tergenggam di tangan kanannya yang berwarna keperakan.

"Kau mungkin sudah merasakan, bahwa dirimu dalah seorang pendekar digdaya yang sulit dicari tandingannya. Tapi kau jangan heran, jika aku sudah mengetahui semua kelemahan-kelemahan jurus-jurusmu. Itulah sebabnya kau bisa dikalahkan oleh si Kembar Iblis Biru."

Bayu jadi tercenung. Dalam pertempurannya tadi, dia memang merasakan kalau lawan-lawannya sudah mengetahui setiap gerak dan serangannya. Sehingga dengan mudah mereka dapat mengalahkan dirinya.

"Anak muda, jika kau masih juga belum percaya, aku akan segera memperagakan beberapa jurus yang juga sudah kau miliki. Lihatlah..."

Dan Branta Ireng pun segera memperlihatkan beberapa jurus yang memang sama dengan apa yang dimiliki oleh Bayu. Jurus-jurus yang diperagakan itu sama persis dengan yang telah dipelajarinya dari Eyang Gardika di Pulau Neraka. Dia tampak tercengang melihatnya.

"Cukup..." seru Bayu.

Branta Ireng pun segera menghentikan gerakan-gerakannya.

"Paman, aku mohon maaf karena tadi tidak mempercayaimu," kata Bayu setelah merasa yakin sepenuhnya, kalau Branta Ireng adalah adik seperguruan gurunya, Eyang Gardika.

Branta Ireng tersenyum lebar, dan matanya bersinar cerah mendengar dirinya disebut paman. Dia pun bergegas mendekati, dan menatap dalam-dalam ke bola mata Bayu. Sedangkan Bayu sendiri juga memberikan senyum, seraya menganggukkan kepalanya memberi hormat.

"Anak muda, ceritakanlah. Dari mana kau dapat kan Cakra Maut, dan bagaimana kau bisa menguasai jurus-jurus milik Gardika dengan begitu sempurna?" pinta Branta Ireng.

"Paman Branta Ireng, aku adalah murid tunggal Eyang Gardika. Aku menjadi murid sekaligus anak angkatnya, setelah beliau mendapat musibah dikeroyok tokoh-tokoh rimba persilatan...," Bayu mulai menceritakan semua yang telah dialaminya dan dilakukannya bersama gurunya, di sebuah Pulau terpencil yang sangat ditakuti oleh semua orang (Baca serial Pendekar Pulau Neraka, dalam kisah Geger Rimba Persilatan).

Sementara Branta Ireng terus mendengarkannya dengan penuh perhatian. Sedikit pun dia tidak menyelak cerita Bayu. Kejujuran tercermin dari sinar mata Pendekar Pulau Neraka itu. Beberapa saat lamanya mereka terdiam setelah Bayu menyelesaikan ceritanya. Tampak sepasang bola mata Branta Ireng berkaca-kaca.

"Maaf, Paman. Aku terpaksa menceritakan semuanya...," kata Bayu pelan.

"Aku sebenarnya yang minta maaf padamu, Anakku. Kau adalah murid tunggal kakak seperguruanku, dan itu berarti kau juga muridku, sekaligus anakku," kata Branta Ireng tidak bisa menahan rasa harunya.

"Pengawal..." seru Branta Ireng keras.

Sebentar saja seorang laki-laki yang berpakaian serba hitam datang menghampiri. Dia segera membungkuk memberi hormat pada Branta Ireng.

Sedangkan seorang pengawal lagi menjaga di depan pintu ruangan itu.

"Buka belenggunya" perintah Branta Ireng.

"Gusti...," pengawal itu ingin membantah.

"Buka, kataku" bentak Branta Ireng.

"Baik, Gusti."

Pengawal itu pun bergegas membuka belenggu vang mengikat kedua pergelangan tangan dan kaki Pendekar Pulau Neraka. Setelah selesai, pengawal itu memberi hormat dan segera meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Bayu langsung berlutut di depan Branta Ireng. Bagaimanapun juga, dia harus menghormati paman gurunya itu, meskipun pertemuan mereka dalam suasana yang tidak menyenangkan.

"Bangunlah, Anakku," kata Branta Ireng.

Bayu segera beranjak bangkit

"Ini senjatamu," kata Branta Ireng sambil menyerahkan kembali senjata cakra keperakan bersegi enam.

Dan tanpa ragu-ragu, Bayu segera menerimanya, dan memasangnya kembali di pergelangan tangan kanannya. Kemudian dia membungkuk dengan kedua tangan melipat di depan dada. Sementara Branta Ireng hanya tersenyum dan membalas salam penghormatan itu dengan sikap yang sama. Laki-laki tua berkulit hitam itu semakin percaya kalau Bayu adalah benar-benar murid tunggal kakak seperguruannya.

"Ayo, ikut aku," kata Branta Ireng seraya berbalik.

Bayu tidak membantah. Dia segera ikut melangkah keluar dari kamar tahanan yang pengap itu. Dia berjalan di belakang Branta Ireng. Tampak beberapa orang pengawal yang melihatnya, langsung menaruh rasa curiga, meskipun mereka masih memberi hormat pada Branta Ireng.

"Paman, kita mau ke mana?" tanya Bayu.

"Menghadap Gusti Prabu Dewa Rimba," sahut Branta Ireng.

"Untuk apa?"

"Menjernihkan semua persoalan."

"Tapi, Paman belum tahu tujuanku datang ke tempat ini."

"Kau bisa mengatakannya nanti di depan Gusti Prabu Dewa Rimba."

Bayu hanya diam dan jadi serba salah. Jelas kalau maksud kedatangannya kurang baik, meskipun tujuannya adalah baik, yaitu untuk membebaskan para penduduk Desa Gampil dari kesewenang-wenangan. Otak Bayu terus berputar memikirkan cara yang tepat untuk menyampaikannya agar tidak membuat siapa saja yang mendengarnya merasa tersinggung.

Mereka terus berjalan menyusuri lorong gelap bawah tanah. Penerangan yang ada, hanya terdiri dari beberapa buah api obor yang menempel di dinding dengan jarak berjauhan. Bayu sempat melihat ke arah kamar-kamar tahanan, yang berbaris rapi disepanjang kiri dan kanan lorong. Sungguh dia tidak menyangka, kalau kamar tahanan penjara itu tidak ada penghuninya sama sekali.

"Besok pagi kita akan menghadap Gusti Prabu Dewa Rimba. Malam ini kau istirahat saja di kediamanku," kata Branta Ireng.

"Kenapa tidak malam ini saja, Paman?"

"Tidak enak mengganggu istirahatnya. Lagi pula memang sudah terlalu larut."

Kembali Bayu terdiam. Dan mereka terus saja berjalan keluar dari tempat itu. Dua orang penjaga segera membungkuk saat mereka melewati pintu keluar. Cahaya bulan langsung menyambut mereka dengan lembutnya. Bayu tetap melangkah di samping Branta Ireng. Matanya selalu memperhatikan sekitarnya. Dan dia juga sempat melihat mata para prajurit yang berpakaian hitam memandangnya dengan penuh kecurigaan.

Enam

Bayu tampak duduk bersila di lantai yang beralaskan permadani tebal dan berwarna merah hati. Di sampingnya duduk pula Branta Ireng. Sementara di belakang Branta Ireng adalah si Kembar Iblis Biru. Kini ruangan yang besar dan indah itu sudah dipenuhi orang-orang yang berpakaian putih dan hitam. Sedangkan di depan mereka tampak duduk dengan penuh wibawa, seorang pemuda tampan yang mengenakan pakaian indah dan bersulamkan benang emas. Pemuda itu duduk di kursi yang berukir dan berlapis bagai emas.

"Aku sudah dengar semua tentang dirimu dari Paman Branta Ireng. Dan sekarang aku hanya ingin tahu, apa tujuanmu datang ke Istana Dewa Rimba ini?" tanya Prabu dengan suara besar dan berwibawa.

"Aku hanya kebetulan lewat. Tadinya aku sedang mengejar empat orang yang berpakaian serba putih yang..., maaf, sama persis dengan yang mereka pakai," sahut Bayu sambil menunjuk orang-orang yang mengenakan baju serba putih yang ketat.

"Apakah mereka ada di antara orang-orang itu?"

tanya Prabu Dewa Rimba lagi.

"Tidak" sahut Bayu tegas.

"Hm..., semua orang berpakaian putih sudah hadir di sini, Kisanak."

"Bayu, kenapa kau mengejar empat orang yang berpakaian serba putih?" tanya Branta Ireng langsung memanggil dengan menyebut Bayu.

"Terus terang, sebenarnya aku sedang mempunyai persoalan di Desa Gampil," sahut Bayu.

"Persoalan apa?" tanya Prabu Dewa Rimba.

"Menumpas keangkaramurkaan. Desa Gampil kini sedang dilanda musibah besar yang bisa menghabiskan seluruh gadis-gadisnya. Ada segelintir orang yang menamakan dirinya utusan Dewa Rimba..."

Seketika suara bergumam tak jelas terdengar memenuhi ruangan itu. Branta Ireng dan Prabu Dewa Rimba segera menatap tajam pada Bayu. Tampak sekali kalau mereka sangat terkejut mendengarnya.

"Mereka selalu mengorbankan gadis-gadis dengan alasan permintaan Dewa Rimba untuk dijadikan pengantinnya. Mereka menamakannya Persembahan Pengantin Rimba," lanjut Bayu menjelaskan. "Terus terang, aku belum tahu siapa dalang di balik semua kejadian itu. Tapi hal itu sudah berlangsung cukup lama, dan sudah banyak gadis-gadis telah menjadi korban. Mereka selalu mengirimkan korbannya dalam pakaian pengantin, dan dibawa ke Puncak Bukit Batu ini."

"Hm..., tampaknya ada seseorang yang telah memfitnahku," gumam Prabu Dewa Rimba.

"Bahkan tidak lama lagi mereka juga akan segera mengirim calon pengantin rimba wanitanya ke Puncak Bukit Batu ini," lanjut Bayu.

"Berapa hari lagi?" tanya Prabu Dewa Rimba.

"Tiga hari lagi," sahut Bayu.

"Gila" sentak Prabu Dewa Rimba.

Kini Bayu menatap dalam-dalam pada Prabu Dewa Rimba. Semakin jauh dia telusuri persoalan ini, semakin membingungkan jadinya. Dia datang ke Puncak Bukit Batu ini tadinya hanya mengikuti empat orang berpakaian serba putih yang dicurigainya, sama sekali tidak tahu kalau di puncak bukit ini ada sebuah istana yang dihuni oleh orang-orang yang cinta akan kedamaian.

Dan yang membuat Bayu semakin tidak mengerti, dia kini berhadapan langsung dengan orang yang bernama Prabu Dewa Rimba, yang sering disebut-sebut oleh penduduk Desa Gampil, sebagai raja dewa yang menginginkan pengantin wanita dalam waktu tertentu. Tapi, tampaknya Prabu Dewa Rimba dan semua orang yang ada di sini tidak mengetahui sama sekali tentang hal itu. Jelas kalau Prabu Dewa Rimba terkejut mendengarnya.

"Bayu, kau adalah murid tunggal saudara seperguruanku, dan itu berarti kau juga muridku. Jangan membuat malu aku di sini, Bayu," kata Branta Ireng.

"Aku mengatakan yang sebenarnya, Paman. Aku sendiri tidak tahu kalau di Puncak Bukit Batu ini ada istana. Aku datang ke sini tadinya hanya mengejar empat orang yang kucurigai" tegas kata-kata Bayu.

"Paman Branta Ireng, aku merasakan kejujuran pada kata-kata anak muda ini," kata Prabu Dewa Rimba lembut. "Kita berada di sini memang untuk menjauhkan segala persoalan dunia. Tapi rupanya ada saja orang yang tidak menyukai, dan ingin menghancurkan kita dengan cara keji."

"Gusti Prabu, ijinkan aku menyelidiki orang yang keji itu. Kalau ternyata Bayu berdusta, biar aku yang akan memberinya hukuman," kata Branta Ireng.

"Paman, kau akan melumuri tanganmu dengan darah dan dosa lagi?" Prabu Dewa Rimba merasa keberatan.

"Tapi, Gusti Prabu...."

"Tidak" tegas Prabu Dewa Rimba menolak.

Branta Ireng diam.

"Setiap orang yang ingin tinggal di sini, sudah disumpah untuk meninggalkan semua urusan dunia dari segala perbuatan keji dan dendam. Bayu, sebenarnya kau harus diberi hukuman karena telah menodai kesucian tempat ini dengan pertumpahan darah. Tapi aku akan membebaskan dari segala hukuman, bila kau sanggup membawa kepala orang yang ingin menghancurkan Istana Dewa Rimba ini"

tegas kata-kata Prabu Dewa Rimba.

"Gusti Prabu...."

"Tidak apa-apa, Paman. Tugas ini memang sudah seharusnya kupikul," kata Bayu cepat "Maaf kalau kedatanganku telah mengacaukan ketentraman seluruh penghuni istana ini."

"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua yang terjadi hanya kesalahpahaman saja," kata Prabu Dewa Rimba.

"Jika tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, sebaiknya aku mohon diri," pamit Bayu.

"Silakan."

Sejenak Bayu memandangi istana di Puncak Bukit Batu itu. Kemudian dia berbalik dan melangkah melintasi padang rumput yang luas. Namun baru saja Pendekar Pulau Neraka itu berjalan beberapa depa, langkahnya mendadak terhenti. Telinganya mendengar suara langkah kaki cepat mengejar di belakangnya. Buru-buru Bayu berbalik, tampak Branta Ireng berjalan cepat menghampirinya.

"Paman...," sambut Bayu setelah Branta Ireng dekat. "Ada apa Paman menyusulku?"

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, Bayu," sahut Branta Ireng.

"Tentang apa?"

"Keselamatanmu."

Bayu sedikit mengerutkan keningnya.

"Meskipun kau tidak mengatakan siapa orang yang telah membuat kacau itu, tapi aku sudah bisa menebak. Kau harus hati-hati karena dia sangat tangguh, dan memiliki ilmu yang bisa membuat mata orang lain tidak dapat membedakan antara tipuan dan kenyataan," kata Branta Ireng.

"Ilmu sihir, maksud Paman?"

"Semacam itu."

"Hm...," Bayu bergumam tidak jelas. "Paman tahu, siapa orang itu?"

"Aku hanya menduga, mungkin benar, mungkin juga salah. Tapi dugaanku sangat beralasan."

"Siapa?"

"Pendeta Pasanta."

"Ah..." Bayu tersentak kaget. Dia memang sudah menduga, kalau orang di balik semua kemelut ini adalah Pendeta Pasanta. Dan itu pernah diucapkan oleh Lastri padanya.

"Kau sudah tahu, Bayu?"

"Belum," sahut Bayu cepat.

"Beberapa tahun lalu, Pendeta Pasanta memang berada di istana ini. Dia adalah seorang pendeta murtad yang ingin bertobat. Tapi kedatangannya rupanya bukan untuk bertobat, melainkan punya maksud tersembunyi. Dan hal itu dapat diketahui dengan cepat oleh Prabu Dewa Rimba. Dan atas kesepakatan bersama, kami mengusir Pendeta Pasanta, dan tidak boleh kembali lagi sebelum dia benar-benar bertobat," Branta Ireng menjelaskan.

"Hm..., aku mengerti sekarang. Rupanya Pendeta Pasanta membalas dendam pada Istana Dewa Rimba," gumam Bayu.

"Benar, dan itu sudah diketahui oleh Prabu Dewa Rimba."

"Kalau sudah tahu, kenapa tidak mengambil tindakan?" agak heran juga Bayu dengan sikap orang-orang di Istana Dewa Rimba itu.

"Bayu..., kami semua yang datang dan tinggal di Istana Dewa Rimba sudah berniat untuk meninggalkan semua urusan dunia, dan melebur segala dosa-dosa yang telah diperbuat. Kau lihat, si Kembar Iblis Biru, baru dua purnama dia berada di sini. Mereka adalah dua orang berhati iblis yang kejam. Tapi rupanya Dewata memberikan jalan bagi mereka untuk bertobat. Mereka memang masih dalam tahap percobaan, sebelum sepenuhnya diakui menjadi warga Istana Dewa Rimba. Jadi kau tidak perlu heran, kenapa kami semua tidak melakukan tindakan apa-apa," jelas Branta Ireng.

"Rasanya sulit untuk dipercaya, Paman. Semua orang yang ada di sini tidak ingin berlumuran darah.

Tapi kenapa kedatanganku malah disambut dengan serangan?"

"Semua orang yang datang pasti diuji dengan serangan mendadak dan berbagai macam. Tapi kedatanganmu tidak dengan niat yang baik, sehingga Prabu Dewa Rimba segera memerintahkan kami untuk menangkapmu hidup atau mati. Bagi kami, setiap orang yang datang dengan maksud tidak baik, adalah setan, iblis yang harus dibasmi. Kau beruntung, Bayu. Prabu Dewa Rimba mengampunimu saat kau sudah berada di ambang maut."

"Aku masih belum mengerti, Paman...," Bayu semakin bertambah bingung saja.

"Ya, sudahlah. Kau memang tidak perlu mengerti semua tentang kami dan Istana Dewa Rimba. Aku bisa merasakan adanya ketidakpuasan hidup dalam hatimu. Baiklah, Bayu. Aku tidak mau mengganggu perjalananmu lagi. Selesaikan semua urusan di dunia dengan caramu sendiri," kata Branta Ireng tersenyum maklum.

"Paman.... Paman tidak ingin tahu lebih banyak tentang Eyang Gardika?" Bayu buru-buru membelokkan persoalan.

"Oh, ya. Di mana pusaranya?" tanya Branta Ireng.

"Saat aku meninggalkannya, Eyang Gardika meminta agar dia ditinggalkan sendiri di dalam goa. Eyang Gardika ingin membersihkan diri dalam sisa-sisa hidupnya, dengan menyerahkan diri dan jiwa pada Hyang Widi," Bayu mulai menceritakan.

"Ah..., Gardika..., Gardika. Pada saat menjelang ajalmu kau masih belum juga mau meninggalkan urusan dunia," desah Branta Ireng.

"Aku rasa, Eyang Gardika sudah meninggal, Paman," kata Bayu.

"Tidak Raganya memang meninggal, tapi jiwanya masih hidup. Dan dia akan muncul lagi pada saat kau memerlukannya, Bayu. Gardika hanya muksa, memisahkan raga dari jiwa."

"Ah, kenapa Eyang memilih begitu, Paman?"

"Karena dia merasa urusannya dengan dunia belum selesai. Dan dia akan merasa tenang, dan meninggalkan dunia, setelah semua urusannya selesai. Tapi selama dunia masih ada, urusan manusia tidak akan pernah selesai. Dan selamanya dia akan muksa, hingga dunia ini berakhir."

"Paman, Eyang Guru Gardika memang pernah cerita, bahwa sampai saat ini dia belum bisa membalas sakit hatinya pada mereka yang telah membuatnya cacat dan hidup terpencil di sebuah pulau yang angker. Lagi pula, dia masih merasa kalau anaknya masih hidup."

"Ya..., mungkin itulah yang membuatnya memutuskan diri untuk muksa."

"Apakah aku bisa membantu agar sempurna, Paman?"

"Tidak. Mungkin kau bisa saja menemukan anaknya, dan membalaskan sakit hatinya pada mereka yang telah menganiayanya sampai semua orang mengira kalau dia sudah tewas. Tapi keturunan mereka masih ada, dan darah mereka masih mengalir hidup. Mereka juga akan terus mencarimu, dan begitu seterusnya sampai ke anak cucumu. Dan selama itu pula dendam tidak akan pernah berakhir, dan Gardika tetap pada kemuksaannya."

"Ah..., kasihan, Eyang," desah Bayu.

"Tidak periu dikasihani. Itu sudah pilihan jalan hidupnya. Tidak sedikit orang yang memilih muksa dengan alasan berbeda. Mungkin juga aku, atau kau sendiri nanti juga akan memilih jalan yang sama, jika tidak mau merelakan urusan dunia."

"Mungkin aku bisa, tapi Paman tidak."

"Kenapa?"

"Karena Paman telah memilih tempat yang tepat. Meninggalkan semua urusan dunia dengan mensucikan diri, mendekatkan diri pada Hyang Widi."

"Ha ha ha... Rupanya kau telah mengerti juga, Bayu."

"Sedikit, Paman."

Tanpa terasa dari tadi mereka telah bicara sambil berjalan. Dan mereka baru menyadari setelah tiba di perbatasan padang rumput itu, dengan Puncak Bukit Batu yang seperti gurun. Kemudian mereka berhenti di ambang gerbang batu.

"Bayu, hati-hati. Jangan sampai terpancing oleh tipuannya," pesan Branta Ireng.

"Jangan khawatir, Paman," sahut Bayu.

"Ingat pesanku, Bayu. Jangan sekali-sekali kau memandang matanya. Kau akan lemah, dan dapat dikuasainya."

"Ya, Paman."

"Nah, berangkatlah. Ingat pesan Prabu Dewa Rimba. Bawa kepalanya padanya, karena akan menjadi contoh bagi penghuni Istana Dewa Rimba lainnya."

"Aku akan usahakan, Paman."

Branta Ireng segera tersenyum, dan menepuk pundak Pendekar Pulau Neraka itu. Sedangkan Bayu membungkukkan badannya sedikit dengan tangan melipat di depan dada. Kemudian mereka pun berpisah untuk menjalani hidup dengan cara masing-masing.

Bayu terus menuruni Lereng Bukit Batu itu dengan langkah pelan tanpa terburu-buru. Otaknya terus berputar memikirkan persoalan yang tengah dihadapinya. Semakin jauh dia melangkah masuk ke dalam kemelut ini, semakin sulit untuk bisa dimengerti. Tiba-tiba Pendekar Pulau Neraka itu tersentak, dan mengangkat kepalanya. Sayup-sayup dia mendengar suara pertarungan dari arah kaki bukit.

Dan tanpa membuang-buang waktu lagi, Pendekar Pulau Neraka itu segera berlari cepat menuruni Lereng Bukit Batu itu. Cepat sekali gerakannya, sehingga yang terlihat hanya bayangannya saja yang meluncur menuruni Bukit Batu.

"Pengemis Tongkat Hitam...," desis Bayu begitu sampai di tempat pertempuran. Tampak seorang laki-laki tua yang berbaju kumal dan memegang tongkat hitam, tengah bertarung dengan tiga orang laki-laki berbaju putih bersih. Dan tidak jauh dari tempat pertarungan itu, terlihat seseorang berpakaian putih menggeletak dengan dada sobek bersimbah darah. Juga ada empat ekor kuda yang tengah asyik merumput, sepertinya tidak peduli dengan pertarungan itu.

"Kelihatannya Pengemis Tongkat Hitam mampu menandingi mereka," gumam Bayu dalam hati.

Pendekar Pulau Neraka itu kemudian duduk di bawah pohon. Dia terus memperhatikan jalannya pertarungan itu. Dugaannya memang tidak meleset. Dalam beberapa gebrakan saja, satu orang sudah terjungkal dengan bersimbah darah. Dan disusul dengan satu orang lagi ambruk dengan leher menganga lebar.

"Hebat..." seru Bayu seraya bertepuk tangan seperti anak kecil.

Pengemis Tongkat Hitam menoleh saat dia sudah menewaskan lawan terakhirnya. Dia segera mendengus kurang senang melihat Pendekar Pulau Neraka menyaksikan pertarungannya. Dan dengan sekali lompatan saja, laki-laki tua itu sudah berada di depan Bayu.

"Bocah setan Apa saja kerjamu di sini?" dengus Pengemis Tongkat Hitam.

"Lho Kok, marah...? Sejak tadi aku duduk di sini. Aku kagum padamu, Kek. Kau hebat"

"Bukan waktunya untuk bergurau"

"Heh..."

"Huh Menyesal aku telah menyelamatkanmu.

Memang seharusnya aku tidak perlu bersusah-payah membantumu dari jahanam-jahanam itu" rungut Pengemis Tongkat Hitam.

"Wah Ada apa ini?" Pendekar Pulau Neraka jadi tidak mengerti.

"Seharusnya kau berterima kasih, atau paling tidak nembantuku, Bocah Setan Sejak kemarin aku bertarung karena nyawamu, tapi kau malah enak-enakan menonton Hugh..." Pengemis Tongkat Hitam terbatuk.

"Kek..," Bayu terkejut melihat perubahan pada wajah Pengemis Tongkat Hitam.

Mendadak wajah laki-laki tua itu tampak jadi pucat, dan berkeringat. Dua kali dia terbatuk, lalu dari mulutnya menyemburlah darah kental berwarna kehitaman. Buru-buru Bayu melompat, dan membawa Pengemis Tongkat Hitam ke bawah pohon. Kemudian laki-laki tua itu duduk bersila, sedangkan Bayu duduk di depannya. Dan tanpa permisi dulu, Pendekar Pulau Neraka itu segera merobek baju bagian dada Pengemis Tongkat Hitam.

"Pukulan Tapak Beracun'...," desis Bayu, ketika melihat dada Pengemis Tongkat Hitam terluka memar dan berbentuk telapak tangan hitam.

Tampak wajah Pengemis Tongkat Hitam semakin pucat. Dan keringat pun terus merembes dan membanjiri tubuhnya. Kini noda hitam di dadanya semakin kelihatan membesar. Dan Bayu segera membuka seluruh baju laki-laki tua itu. Kemudian kedua telapak tangannya ditempelkannya di punggung laki-laki tua itu.

"Hsss...," dari mulut Bayu keluar suara mendesis bagai ular.

Bersamaan dengan itu, tubuh Pengemis Tongkat Hitam menggeletar. Wajah yang pucat, kini berubah menjadi merah bagai kepiting direbus. Sementara Bayu terus memusatkan hawa murni pada telapak tangan, dan menyalurkannya ke seluruh tubuh Pengemis Tongkat Hitam.

"Akh..." tiba-tiba Pengemis Tongkat Hitam memekik tertahan.

"Pingsan...," desah Bayu ketika melihat laki-laki tua itu terjatuh. Lalu Bayu segera membaringkan tubuh tua itu di rerumputan. Tangannya terus bergerak lincah dan lembut di sekitar dada yang kurus dengan tulang-tulang bersembulan itu. Kini noda hitam di dada itu tidak lagi bergerak membesar. Dan Bayu hanya menarik napas panjang, matanya tetap tertuju pada luka itu.

"Tidak ada jalan lain. Aku harus segera mengeluarkan racun di dalam tubuhnya," gumam Bayu mendesah.

Pendekar Pulau Neraka itu pun segera mencabut senjata cakra, yang menempel di pergelangan tangan kanannya. Kemudian pelahan-lahan dia meng-goreskan ujung senjata itu ke dada Pengemis Tongkat Hitam. Seketika darah langsung merembes keluar.

Tampak darah yang sudah bercampur dengan racun dari 'Pukulan Tapak Beracun' itu berwarna hitam kebiru-biruan. Bayu kemudian mendekatkan mulutnya ke luka di dada itu, dan menyedot darah yang ke luar. Dia menyedot darah beracun itu berulang-ulang, dan menyemburkannya ke tanah. Hal itu dilakukan sampai darah yang ke luar kembali berwarna merah.

Setelah semuanya selesai, Bayu membalut luka itu dengan kain merah yang membelit pinggangnya. Jari-jari tangannya terus bergerak lincah di sekitar luka, dan darah pun langsung berhenti mengalir. Dia kemudian duduk seraya menarik napas panjang di samping laki-laki tua yang tergolek tidak sadarkan diri.

***

Menjelang senja, Pengemis Tongkat Hitam baru bisa sadarkan diri. Dan dia menurut saja ketika Bayu menyuruhnya agar segera bersemadi. Kini wajahnya sudah kembali cerah. Tubuhnya pun sudah kembali terasa hangat, dan aliran darahnya berangsur normal.

Pengemis Tongkat Hitam masih duduk bersila, meskipun dia telah menyelesaikan semadinya.

Sedangkan Bayu hanya melirik saja, sambil memutar-mutar kelinci panggang di atas api.

"Bau daging panggang, membuat perutku terasa lapar...," gumam Pengemis Tongkat Hitam, sambil memandang ke arah Bayu.

"Ah, rupanya kau sudah sadar, Kakek Pengemis. Mau?" Bayu segera mengambil satu daging kelinci yang sudah matang, dan menyerahkannya pada Pengemis Tongkat Hitam.

Dan tanpa basa-basi lagi, Pengemis Tongkat Hitam segera menerimanya. Kemudian dia memakannya dengan nikmat sekali. Sedangkan Bayu tersenyum dan mengambil satu lagi. Lalu dia pun duduk di samping Pengemis Tongkat hitam.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Bayu.

"Sudah mendingan, terima kasih," sahut Pengemis Tongkat Hitam.

"Kau telah terkena racun dari 'Pukulan Tapak Beracun'."

"Kau tahu tentang jurus itu?" Pengemis Tongkat Hitam menatap tajam.

"Ya, aku pernah mendengarnya. Tapi tidak terlalu berbahaya. Ya..., mungkin kalau tidak segera dikeluarkan, bisa mengakibatkan nyawa melayang."

"Tampaknya kau sudah tahu betul tentang 'Pukulan Tapak Beracun'."

Bayu hanya tersenyum. Dia memang sudah tahu betul dengan pukulan itu, karena dia sendiri juga memilikinya. Dan 'Pukulan Tapak Beracun' yang mengena pada Pengemis Tongkat Hitam itu masih dalam tahap yang tidak begitu tinggi, sehingga dengan mudah Bayu dapat menyembuhkannya. Mungkin kalau dia yang melakukan pukulan itu, Pengemis Tongkat Hitam sudah langsung tewas saat menerima pukulannya.

Bayu jadi termenung. Dulu dia mempelajari jurus

'Pukulan Tapak Beracun' dari gurunya, Eyang Gardika. Dan di Istana Dewa Rimba dia telah berjumpa dengan seorang laki-laki tua bernama Branta Ireng, dan mengaku masih saudara seperguruan dengan Eyang Gardika. Kalau mengingat itu semua, Bayu jadi berpikir lagi. Jurus 'Pukulan Tapak Beracun' tidak dimiliki orang lain lagi menurut Eyang Gardika. Dan kini Bayu mendapatkan ada orang lain yang telah mempunyai jurus itu.

"Ada apa, Pendekar Pulau Neraka? Kau kelihatan termenung," kata Pengemis Tongkat Hitam, yang memperhatikan sejak tadi.

"Kakek Pengemis, siapa yang telah memukulmu dengan jurus 'Pukulan Tapak Beracun'?" tanya Bayu.

"Si Iblis Hitam," sahut Pengemis Tongkat Hitam.

"Iblis Hitam...?" Bayu langsung tersentak kaget.

"Ada apa? Kau tampaknya terkejut mendengar nama itu."

Bayu tidak segera menjawab. Dia jadi teringat dengan kata-kata gurunya, Eyang Gardika. Dia harus mencari orang yang bernama Iblis Hitam, karena orang itu telah mencuri buku yang berisi jurus-jurus maut milik Eyang Gardika. Hal itu terjadi ketika Eyang Gardika dikeroyok oleh tokoh-tokoh rimba persilatan, hingga kedua kakinya buntung dan matanya buta.

"Kakek Pengemis, di mana kau telah bertemu dengan Iblis Hitam?" tanya Bayu.

"Di sini, semalam," sahut Pengemis Tongkat Hitam masih keheranan dengan sikap Pendekar Pulau Neraka itu.

"Kakek tahu ciri-cirinya?"

"Mungkin sebelum kau lahir, aku sudah kenal betul dengan si Iblis Hitam. Seorang tokoh yang sangat kejam"

"Katakan ciri-cirinya, Kek," desak Bayu.

"Dia adalah seorang tua yang berkulit hitam, dan selalu memakai baju putih. Rambutnya juga sudah putih semua."

"Apa dia juga mempunyai senjata sepertiku ini...?'" tanya Bayu sambil memperlihatkan cakra yang menempel di tangan kanannya. Dia sudah menduga, siapa orang yang barusan disebutkan ciri-cirinya itu.

"Benar Tapi warnanya kuning keemasan," sahut Pengemis Tongkat Hitam, setelah memperhatikan cakra di pergelangan tangan Pendekar Pulau Neraka.

"Branta Ireng...," desis Bayu menggeretak.

Pengemis Tongkat Hitam menatap dalam-dalam ke bola mata Bayu. Banyak sebenarnya yang ingin dia ketahui, tapi tidak bisa diucapkan. Benaknya kini masih dipenuhi dengan berbagai macam pikiran dan pertanyaan yang belum bisa dijawab. Beberapa saat lamanya mereka hanya saling berdiam diri. Nafsu makan mereka mendadak jadi hilang. Daging kelinci panggang yang baru dimakan sedikit, hanya dipegang saja.

Beberapa saat kemudian, Bayu bangkit dari duduknya, dan melemparkan daging kelinci panggangnya kuat-kuat ke udara, sambil berteriak keras. Dia merasa bahwa dirinya telah dipermainkan

Sejenak Pendekar Pulau Neraka itu menatap senjata cakra di pergelangan tangan kanannya. Kemudian dia mengibaskan tangan kanannya dengan kuat. Tapi, dia langsung tersentak karena senjata mautnya itu tidak mau terlontar.

"Setaaan… Kubunuh kau, Branta Ireng..." teriak Bayu keras.

Pendekar Pulau Neraka itu lalu mencabut cakra di tangan kanannya, dan membantingnya ke tanah.

Cakra itu tepat menghantam batu dan langsung pecah berkeping-keping. Dan dengan kemarahan meluap-luap, Bayu segera menginjak-injak senjata palsu itu. Sementara Pengemis Tongkat Hitam memandanginya tidak mengerti. Dia hanya berdiri saja tanpa berbuat apa-apa. Kini Pendekar Pulau Neraka itu benar-benar diliputi kemarahan luar biasa

"Aku akan menyabung nyawa denganmu, Branta Ireng" kembali Bayu berteriak keras.

Dan suara teriakan Pendekar Pulau Neraka tersebut segera bergema ke seluruh Kaki Bukit Batu.

Begitu kerasnya, sehingga daun-daun pohon ikut berguguran, dan batu-batu di atas bukit jadi bergetar dan menimbulkan suara gemuruh. Kemarahan yang telah meluap-luap membuat Bayu mengerahkan tenaga dalamnya yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Tampak batu-batu sudah meng-gelinding dari atas bukit. Suaranya keras bergemuruh, seperti hendak kiamat saja.

"Kubunuh kau, Branta Ireng Kubunuh kau Setaaan..."

Tujuh

Suara teriakan Bayu yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam sempurna, membuat Bukit Batu bergetar bagai terjadi gempa. Dan getaran tersebut sangat dirasakan oleh seluruh penghuni Istana Dewa Rimba. Seketika kepanikan langsung melanda, saat mereka melihat ke arah bukit yang batu-batunya berguguran. Tampak dua buah batu yang menyerupai pintu gerbang itu juga ikut bergetar hebat. Prabu Dewa Rimba bergegas ke luar diikuti oleh tokoh-tokoh sakti yang berada di istana itu.

Branta Ireng kelihatan berjalan di samping pemuda tampan itu.

"Paman Branta Ireng, apa yang sedang terjadi?" tanya Prabu Dewa Rimba setelah berada di luar istananya.

"Hamba tidak tahu, Gusti," sahut Branta Ireng.

Saat itu suara gemuruh masih terus terdengar, dan batu-batu di bukit itu juga terus berguguran. Namun getarannya sudah tidak lagi sehebat tadi. Tiba-tiba dua orang yang berpakaian serba biru berlari cepat melintasi padang rumput, dan mereka segera berlutut di depan Prabu Dewa Rimba.

"Ada apa, Iblis Biru?" tanya Prabu Dewa Rimba.

"Ampun, Gusti Prabu. Kegemparan itu berasal dari kaki bukit," sahut salah seorang dari si Kembar Iblis Biru.

"Jelaskan," pinta Branta Ireng.

"Hamba melihat ada dua orang berada di kaki bukit Mereka adalah Pendekar Pulau Neraka dan Pengemis Tongkat Hitam. Kegemparan ini disebabkan oleh teriakan Pendekar Pulau Neraka, Gusti Prabu."

Seketika Prabu Dewa Rimba memandang ke arah Branta Ireng.

"Hamba akan melihatnya sendiri, Gusti Prabu," kata Branta Ireng seraya melangkah pergi

"Iblis Kembar, ikuti Paman Branta Ireng. Dan bawa beberapa prajurit," perintah Prabu Dewa Rimba.

Si Kembar Iblis Biru kembali memberi hormat, dan melangkah pergi mengikuti Branta Ireng. Sementara tiga puluh orang yang berpakaian serba hitam mengawal mereka. Kini Prabu Dewa Rimba bergegas kembali ke dalam istananya yang megah.

Sementara itu Branta Ireng, si Kembar Iblis Biru dan tiga puluh orang berpakaian hitam terus melintasi padang rumput yang luas. Mereka semua mengerahkan ilmu meringankan tubuh, sehingga dalam waktu singkat sudah berada di gerbang masuk ke padang rumput itu. Kini suara gemuruh sudah tidak terdengar lagi, dan batu-batu yang berguguran juga sudah tidak ada. Sejenak Branta Ireng melayangkan pandangannya ke arah kaki bukit.

Tampak Desa Gampil terlihat jelas dari tempat itu.

"Iblis Biru, perintahkan mereka semua segera memeriksa ke kaki bukit," perintah Branta Ireng. Dan tanpa membantah sedikit pun, Iblis Biru segera melaksanakan tugasnya itu. Dan Branta Ireng segera mencegah si Kembar Iblis Biru untuk ikut memeriksa ke kaki bukit.

"Kenapa kau laporkan hal ini pada Prabu Dewa Rimba?" agak tertahan suara Branta Ireng.

"Maaf, Guru. Aku terpaksa," sahut salah seorang laki-laki kembar itu.

"Kau tahu, tindakanmu itu bisa merusak rencanaku" dengus Branta Ireng.

"Ampunkan kami, Guru," kedua laki-laki itu membungkuk dalam.

"Ah, sudahlah Semuanya sudah terjadi, dan ini akibat dari ketololan kalian. Sekarang kalian harus mencari Pendekar Pulau Neraka, dan bunuh dia."

"Baik, Guru."

Si Kembar Iblis Biru itu pun bergegas menjura memberi hormat, dan langsung melangkah meninggalkan tempat itu. Sementara Branta Ireng masih berdiri sambil memandang ke arah Desa Gampil. Tangannya tampak mengepal erat, dan gerahamnya bergemeletuk. Dan pada saat tubuhnya berbalik, seketika matanya membeliak lebar.

"Heh Kau..." Branta Ireng tersentak.

Tampak seorang pemuda tampan yang mengenakan baju dari kulit harimau, tahu-tahu sudah berdiri di depan Branta Ireng. Seperti biasanya, kedua tangannya melipat di depan dada. Sedangkan bibirnya terkatup rapat dengan mata menatap tajam penuh sinar kebencian. Sejenak Branta Ireng menggeser kakinya ke samping. Dia segera bisa meraba, apa yang akan terjadi.

***

Sebentar Branta Ireng melirik ke samping kiri. Dan di sana juga sudah berdiri seorang laki-laki tua berpakaian kumal memegang tongkat hitam. Branta Ireng pun segera mempersiapkan diri untuk menghadapi kedua tokoh yang sudah kondang namanya itu.

"Bayu, apa maksudmu membuat kekacauan ini?" tanya Branta Ireng.

"Jangan banyak tanya, Iblis Hitam" dengus Bayu geram.

"He Apa yang kau katakan, Bayu?" Branta Ireng langsung tersentak kaget, karena Bayu sudah tahu nama julukannya dalam rimba persilatan. Tapi begitu matanya melirik pada Pengemis Tongkat Hitam, dia segera tahu siapa biang keladinya.

"Kau kaget melihat Kakek Pengemis Tongkat Hitam masih hidup? Heh 'Pukulan Tapak Beracun'mu masih tingkat dua, Iblis Hitam" terdengar sinis nada suara Bayu Hanggara.

"Hm..., rupanya kau sudah tahu siapa aku, Bayu.

Nah Apa maumu sekarang?" kini Branta Ireng tidak mau berbasa-basi lagi.

"Merebut Cakra Mautku dan membunuhmu" dingin jawaban Bayu.

"Ha ha ha..." Branta Ireng tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban tegas itu. "Tidak semudah itu, Pendekar Pulau Neraka"

"Aku kini sudah tahu siapa kau, Iblis Hitam. Kau adalah manusia licik yang telah mencuri kitab guruku. Dan sekarang kau juga telah memperalatku, merebut Cakra Maut. Maka aku pun akan menyabung nyawa denganmu, Iblis Hitam"

Setelah berkata begitu, Bayu langsung berteriak nyaring melengking. Tubuhnya segera melesat cepat bagai kilat menerjang Branta Ireng.

Tepat pada saat itu, si Kembar Iblis Biru muncul.

Dan mereka sangat terkejut melihat pertarungan itu.

Tapi baru saja mereka hendak membantu, Pengemis Tongkat Hitam sudah menghadang. Dan Puncak Bukit Batu itu yang semula tenang, kini jadi penuh dengan teriakan-teriakan pertempuran.

Bayu terus menyerang dengan mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Kemarahan yang telah memuncak, membuat dia tidak mau lagi main-main. Serangan-serangannya sangat dahsyat, dan setiap angin pukulannya sanggup untuk menghancurkan batu. Sementara Iblis Hitam mengimbanginya dengan berhati-hati. Dia sudah mengenal semua jurus-jurus yang dimiliki oleh Pendekar Pulau Neraka, tapi dia tidak menduga sama sekali, kalau jurus-jurus itu ternyata lebih dahsyat di tangan Pendekar Pulau Neraka.

"Huh Aku harus segera menggunakan senjata cakra emas" dengus Branta Ireng.

Lalu dengan cepat, Branta Ireng langsung mengibaskan tangan kanannya. Seketika secercah cahaya keemasan meluncur deras ke arah Bayu.

Buru-buru Pendekar Pulau Neraka itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Dan tepat pada saat cakra emas itu hampir menembus dadanya, dengan cepat Bayu menarik turun tangannya.

Tring

Senjata cakra itu langsung menempel pada pergelangan tangan Bayu yang memakai gelang keperakan. Tentu saja Branta Ireng terkejut begitu melihat senjatanya sudah menempel pada pergelangan tangan kanan lawannya. Buru-buru dia mengeluarkan senjata Cakra Maut berwarna keperakan, yang telah dicurinya dari Pendekar Pulau Neraka. Dan tanpa berpikir panjang lagi, dia segera melontarkannya dengan pengerahan tenaga dalam penuh.

Suara mendesing membelah udara, dan Cakra Maut bergerigi enam itu meluncur deras ke arah Bayu Hanggara. Namun dengan cepat, Pendekar Pulau Neraka itu mengibaskan tangan kanannya Dan cakra emas di pergelangan tangan kanannya pun, langsung melesat cepat ke arah cakra perak.

Satu ledakan keras terjadi begitu dua senjata berbenturan di udara. Bunga api memercik, disertai dengan memancarnya cahaya yang menyilaukan mata.

"Heh..." Branta Ireng langsung terkejut begitu melihat kepingan-kepingan cakra emasnya berjatuhan ke tanah.

Dan dari pijaran cahaya yang menyilaukan tersebut, meluncurlah cakra perak bergerigi enam ke arah Bayu. Pendekar Pulau Neraka segera melompat ke atas, karena arah cakra itu berubah naik ke atas.

Dan pada saat itu juga, Branta Ireng pun langsung melentingkan tubuhnya ke atas. Tampak dua tubuh melayang deras mengejar senjata cakra yang meluncur cepat ke angkasa.

"Hiyaaa..." Bayu memekik keras seraya menggenjot tubuhnya lebih kencang.

Dua tokoh sakti itu segera berbenturan di udara dengan kecepatan bagai kilat. Dan tahu-tahu kedua tubuh itu kembali meluncur ke bawah dengan cepat.

Tampak tubuh Pendekar Pulau Neraka bergulingan ke tanah. Sedangkan Branta Ireng juga bergulingan begitu tubuhnya menghantam tanah.

Namun dengan cepat mereka dapat bangkit kembali. Tampak Bayu sudah berdiri tegak sambil tersenyum dengan tangan melipat di depan dada. Sedangkan cakra bergerigi enam dan berwarna keperakan, sudah menempel kembali di pergelangan tangannya. Melihat hal itu, Branta Ireng hanya bisa mendengus geram.

"Bagaimana, Iblis Hitam? Akal licik apa lagi yang sedang kau pikirkan?" ejek Bayu sinis.

"Phuih Seharusnya kubunuh kau di penjara, Pendekar Pulau Neraka" geram Branta Ireng.

"Kenapa tidak kau lakukan? Sekarang sudah terlambat. Dan aku akan segera mengirimmu ke neraka, Iblis Hitam"

"Ha ha ha... Kau boleh bangga jadi murid Gardika, tapi aku sudah tahu semua jurus-jurus yang kau miliki, Bayu Sebaiknya kau segera bunuh dirimu sendiri, sebelum aku terpaksa membunuhmu"

"Kau salah, kalau menganggap semua ilmu Eyang Gardika tertuang di dalam kitab. Masih banyak yang tidak dia tulis, dan aku memiliki lebih dari apa yang kau kira. Kitab yang telah kau curi itu, hanya berisi sepertiga dari ilmu-ilmu Eyang Gardika"

"Keparat Kau jangan coba-coba menggertakku, Bayu"

"Untuk apa? Majulah, kalau kau ingin merasakan yang tidak bisa kau curi"

Seketika Branta Ireng kembali menggeram. Kemudian dia segera mengerahkan jurus 'Pukulan Tapak Beracun'. Sementara Bayu juga mengerahkan jurus yang sama. Namun tingkatannya tentu saja berbeda. Bayu sudah menguasai Pukulan Tapak Beracun' sampai pada tahap kesempurnaan. Sedangkan yang pernah terjadi pada Pengemis Tongkat Hitam, baru sepertiga bagian saja.

"Mampus kau, bocah setan Hiyaaa..." teriak Branta Ireng sambil melompat.

"Hup Yeaaah...'"

***

Dua tokoh kondang tersebut kemudian saling berlompatan dengan kedua tangan yang menjulur kedepan. Dan tepat pada satu titik, kedua telapak tangan mereka bertemu. Seketika terdengarlah satu ledakan keras, disusul dengan terlontarnya tubuh Branta Ireng. Sedangkan Bayu hanya terdorong dua langkah ke belakang.

"Phuih" Branta Ireng segera menyemburkan ludahnya yang bercampur darah. Dia pun kembali melompat dan berusaha berdiri.

Namun tubuhnya masih sempoyongan. Kekuatan dari jurus 'Pukulan Tapak Beracun' yang dimilikinya masih jauh di bawah Pendekar Pulau Neraka. Kalau saja Branta Ireng tidak memiliki jurus pukulan itu, mungkin tubuhnya sudah hangus

"Ayo kita mulai lagi, Bocah" bentak Branta Ireng geram.

"Kau memang sudah tidak pantas untuk hidup lagi, Iblis Hitam Bersiaplah untuk mati" sambut Bayu dingin.

Pendekar Pulau Neraka sudah mencium bau darah. Dan itu pertanda bahwa dia tidak mungkin lagi bisa dihalangi. Lawan yang berhadapan harus tewas di tangannya Kini, Bayu segera membungkukkan tubuhnya, dan memiringkannya ke kiri. Lutut kirinya agak tertekuk dengan tangan menyilang di depan dada. Dia sedang menyiapkan jurus 'Pukulan Racun Hitam'. Satu jurus andalan yang belakangan ini jarang digunakan.

Sejenak Branta Ireng agak berkerenyut keningnya melihat kembangan jurus yang tengah dikeluarkan Pendekar Pulau Neraka itu. Rasanya dia pernah melihat jurus itu diperagakan oleh Gardika, dan dia sudah tahu pula kedahsyatannya. Buru-buru Branta Ireng mengerahkan jurus andalannya juga.

"Hiya..." Bayu mendadak berteriak nyaring seraya melompat ke depan.

"Yeaaah..." Branta Ireng pun segera menyambutnya. Dan pertarungan antara kedua tokoh itu pun tidak bisa dielakkan lagi. Mereka bertarung dengan jurus andalan masing-masing. Tampak Bayu terus menghantamkan pukulannya secara beruntun ke arah bagian-bagian tubuh lawan yang mematikan.

Namun dia juga tidak mengurangi daya per tahanannya. Branta Ireng agak kewalahan juga menghadapi jurus yang dikeluarkan Pendekar Pulau Neraka itu.

Beberapa kali pukulan yang dilontarkan oleh Bayu berhasil dihindarkan oleh Branta Ireng. Namun pada saat si Iblis Hitam itu menghindari tendangan yang menyamping, tanpa diduga sama sekali tangan kiri Bayu menyodok ke arah perutnya.

"Ikh"

Branta Ireng segera berkelit menarik tubuhnya ke belakang. Dan pada saat itu tangan kanan Bayu kembali menyodok ke arah dada. Kini Branta Ireng tidak sempat lagi untuk menghindar. Serangan itu langsung mendarat telak di dadanya.

"Akh..." Branta Ireng memekik keras.

Tubuhnya seketika limbung, dan terdorong ke belakang beberapa tindak. Bersamaan dengan itu, Bayu segera memiringkan tubuhnya ke kiri, dan secepat kilat dia mengibaskan tangan kanannya ke depan. Seketika itu juga, secercah cahaya keperakan melesat bagai kilat dari pergelangan tangan kanannya. Tentu saja Branta Ireng membeliak terperangah.

Senjata andalan Pendekar Pulau Neraka itu melesat cepat dan tidak dapat terbendung lagi. Maka dengan satu jeritan melengking tinggi, tubuh Branta Ireng langsung terjungkal ke tanah, begitu Cakra Maut yang dilepaskan oleh Pendekar Pulau Neraka itu membentur dadanya.

Sejenak Bayu menarik tangan kanannya ke depan dada. Dan cakra yang telah menembus dada Branta Ireng, melesat kembali ke arahnya. Senjata bergerigi enam dan berwarna keperakan itu langsung menempel di pergelangan tangannya. Sebentar Bayu memandangi tubuh Branta Ireng yang berkelojotan meregang nyawa.

"Akh Kau... kau hebat, Bayu. Tentu Gardika bangga mempunyai murid sepertimu," kata Branta Ireng masih sempat memuji dalam keadaan kritis.

"Kau tidak pantas untuk menyebut nama guruku, Branta Ireng" dengus Bayu tidak senang.

"Aku tahu, tidak lama lagi aku pasti akan mati. Tapi ketahuilah, bahwa aku tidak mencuri kitab gurumu itu. Aku hanya menyelamatkan dari tangan orang-orang yang tidak berhak. Memang benar aku adik seperguruan Gardika, gurumu. Dan aku merasa menyesal telah mengkhianatinya. Rasa penyesalan membuat diriku sengsara, Bayu. Dan aku memutuskan untuk tinggal dan mengabdi pada Dewa Rimba. Utusan dewa dari kahyangan yang menampung orang-orang yang ingin bertobat," lemah dan bergetar suara Branta Ireng.

"Aku tidak percaya dengan kata-katamu lagi, Branta Ireng"

"Kau boleh saja membenciku, Bayu. Tapi kau harus ingat, persoalan yang sedang kau hadapi tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan Prabu Dewa Rimba. Semua itu adalah ulah Pendeta Pasanta yang ingin menguasai Istana Dewa Rimba. Dia memang pernah bermukim di sana cukup lama, dan mengetahui betul seluk beluknya. Kau harus hati-hati Bayu. Pendeta Pasanta mempunyai cambuk sakti yang berhasil dicurinya dari Dewa Rimba."

Sejenak Bayu mengerutkan keningnya. Kali ini dia mau tidak mau mempertimbangkan juga kata-kata Branta Ireng.

"Aku sudah mengetahui semua tindakan Pendeta Pasanta, tapi aku tidak mau melaporkannya pada Prabu Dewa Rimba. Karena...," Branta Ireng terbatuk.

"Karena apa?" desak Bayu.

"Aku terpaksa mengikuti keinginannya dan menjadi mata-mata di dalam Istana Dewa Rimba. Pendeta Pasantalah yang telah menahan kitab gurumu, Bayu. Dan dia mengancam akan melenyapkan kitab itu jika aku tidak mau menururi perintahnya. Aku merasa berdosa pada Gardika, aku merasa bertanggung jawab dengan kitab itu. Sangat berbahaya jika Pendeta Pasanta sampai mempelajarinya suara Branta Ireng makin melemah.

Kini Bayu jadi terdiam. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Kata-kata Branta Ireng telah membuat hatinya bimbang. Dia memang telah mendapat pesan dari Eyang Gardika untuk membunuh Branta Ireng atau yang berjuluk si Iblis Hitam, karena telah mencuri kitab miliknya dan mengkhianatinya, dengan memberitahukan tempat persembunyiannya pada tokoh-tokoh rimba persilatan, yang memang menginginkan kematiannya.

Kini setelah dia melaksanakan amanat gurunya, datang lagi kebimbangan. Karena ternyata Branta Ireng telah jauh berubah. Laki laki tua berkulit hitam itu bukan lagi seperti dulu. Seorang yang kejam dan selalu mementingkan diri pribadi. Bahkan berkhianat pada Eyang Gardika karena merasa kalah dalam memperebutkan gadis desa yang cantik. Penyesalan memang selalu terlambat datangnya. Dan penyesalan itu tidak berguna lagi di saat maut telah begitu dekat menjemput.

"Bayu..., aku mohon padamu. Jangan memandangku seperti yang dulu. Aku bukan lagi Iblis Hitam, tapi aku Branta Ireng. Iblis Hitam sudah mati.

Aku mohon padamu, Bayu. Bawalah mayatku..., dan kuburkan dekat tempat tinggal Gardika. Aku mohon...," Branta Ireng tidak mampu lagi melanjutkan kata-katanya. Dia tersentak, dan langsung diam dan tak bergerak-gerak lagi

Bayu hanya bisa diam memandangi. Hatinya masih diliputi kebimbangan dengan kata-kata terakhir laki-laki tua itu. Sementara itu pertempuran antara Pengemis Tongkat Hitam dengan si Kembar Iblis Biru sudah terhenti sejak tadi. Dan Bayu tidak menyadari, kalau mereka semua mendengarkan apa yang barusan dibicarakan. Kini dia baru tersadar saat dua orang kembar itu berlari dan menubruk mayat Branta Ireng.

"Guru..."

"Hhh..." Bayu menarik napas panjang.

Delapan

Bayu tampak menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia tidak tahu lagi, apa yang harus dilakukannya. Sementara dua orang laki-laki kembar dan berbaju biru masih menangisi kematian Branta Ireng, lama juga mereka meratapi mayat gurunya. Tak lama kemudian pelahan-lahan kepala mereka terangkat.

Kedua laki-laki yang berwajah bengis dan kembar menatap Bayu dengan pandangan sayu. Hilang sudah kekejaman dan kebengisan pada sorot matanya. Dan Bayu hanya menarik napas panjang saja.

Kini semuanya sudah jelas Branta Ireng telah melakukan semuanya itu karena merasa bertanggung jawab atas kitab saudara seperguruannya, yang dicurinya dengan cara mengkhianatinya. Dan si Kembar Iblis Biru yang sempat menjadi muridnya tidak mengetahui hal itu. Mereka hanya tahu bahwa gurunya punya suatu rencana dengan Pendeta Pasanta. Hanya rencana saja yang dikatakan Branta Ireng. Tidak sedikit pun dikatakan rencana apa. Semuanya menjadi rahasia Branta Ireng. Dan si Kembar Iblis Biru hanya menurut saja padanya, sehingga tidak mau mendesak dan menanyakannya.

"Kami mohon, kau sudi menuruti permintaan Guru," kata salah seorang dari si Kembar Iblis Biru.

Bayu tidak langsung menjawab.

"Kami bersedia melakukan apa saja, asal kau sudi memenuhi permintaan Guru yang terakhir," katanya lagi berharap.

"Kalian murid Iblis Hitam?" tanya Pengemis Tongkat Hitam seperti ingin meyakinkan dirinya. Dia sudah berdiri di samping Bayu.

"Ya, hanya kami berdua muridnya."

"Benar apa yang telah dikatakan oleh gurumu tadi?" tanya Pengemis Tongkat Hitam lagi.

"Benar, dan kami tidak tahu persis persoalannya. Yang kami tahu, guru kehilangan kitab pusaka. Dan kitab itu ternyata dicuri oleh Pendeta Pasanta. Guru sudah merencanakan untuk mengambil kitab itu kembali, tapi kami tidak tahu rencana keseluruhan-nya."

"Bayu, tampaknya mereka dalam posisi tertekan," kata Pengemis Tongkat Hitam seraya menoleh pada pemuda di sampingnya.

"Eyang Gardika tinggal di Pulau Neraka, dan tempatnya sangat jauh dari sini. Harus ke Pantai Selatan dulu sebelum menyeberangi pulau itu. Dan hanya akulah yang bisa masuk ke sana," kata Bayu pelan.

"Bagaimanapun juga dia adik seperguruan gurumu, Bayu. Dan dia juga telah menyesali segala perbuatannya. Kau harus bisa memaafkannya, dan memenuhi permintaan terakhirnya," Pengemis Tongkat Hitam menasehati.

"Baiklah, tapi aku harus menyelesaikan urusanku dulu dengan Pendeta Pasanta," sahut Bayu seraya menarik napas panjang.

"Kami akan membantumu," kata si Kembar Iblis Biru serentak.

"Tak perlu, kalian jaga saja jenazah guru kalian di sini. Dan aku akan segera menjemput kalian setelah urusanku selesai," sahut Bayu cepat.

Si Kembar Iblis Biru hanya bisa mengangguk.

"Sebaiknya jangan di sini, Bayu. Tempat ini terlalu terbuka. Aku khawatir ada orang Iain yang akan mengetahuinya," Pengemis Tongkat Hitam memberi saran.

"Kami punya suatu tempat yang tidak akan bisa diketahui oleh siapa pun," celetuk salah seorang kembar itu.

"Di mana?" tanya Bayu.

"Sebelah Selatah Bukit Batu ini."

"Kalau begitu, sekarang juga kita harus ke sana" usul Bayu.

Dan tanpa ada yang membantah lagi, mereka segera meninggalkan Bukit Batu itu menuju arah Selatan. Tampak si Kembar Iblis Biru membopong mayat gurunya. Sedangkan Bayu dan Pengemis Tongkat Hitam mengikuti dari belakang.

"Kalian berjuluk si Kembar Iblis Biru. Kenapa memakai julukan itu? Rasanya kurang cocok dengan watak kalian," kata Pengemis Tongkat Hitam.

"Sebenarnya kami punya nama. Aku bernama Waka Biru, dan ini adikku bernama Watu Biru," sahut salah seorang yang berjalan di sebelah kanan.

"Lalu kenapa memakai julukan itu?" tanya Pengemis Tongkat Hitam lagi.

"Guru yang telah memberi kami nama julukan begitu. Katanya harus memakai julukan dari golongan hitam, untuk bisa masuk ke Istana Dewa Rimba.

Dan sebetulnya kami punya julukan juga, yaitu si Kembar Dari Utara. Kami sebenarnya tidak mau melakukan tindakan-tindakan yang merugikan orang lain."

"Hm..., jadi selama ini gurumu mendustaiku?

Kenapa dia lakukan itu?" Bayu seperti bertanya pada dirinya sendiri.

"Guru mengetahui jurus-jurus yang kau gunakan. Dan dia khawatir kalau kau akan menuntut kembali kitab pusaka itu."

"Sayang, kalau saja dia mau berterus terang sejak semula, mungkin nasibnya tidak sampai begini," gumam Bayu pelan.

"Guru memang menginginkan mati di tangan orang yang tingkat kepandaiannya lebih tinggi. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh adik seperguruannya. Kami rasa guru senang karena keinginannya terkabul.

Katanya dia ingin menebus segala dosa yang telah diperbuatnya pada saudara seperguruannya."

Bayu hanya diam. Dan Pengemis Tongkat Hitam juga tidak banyak tanya lagi. Entah apa yang sedang mereka pikirkan saat ini. Yang jelas, Bayu sudah tidak sabar lagi untuk menantang Pendeta Pasanta. Dia tidak peduli lagi dengan kitab pusaka peninggalan gurunya yang dicuri pendeta murtad itu. Kalaupun dia berhasil merampasnya kembali, akan segera dimusnahkan. Karena kini Bayu tidak memerlukannya lagi.

***

Malam sudah demikian larut. Kegelapan kini menyelimuti seluruh Desa Gampil. Keadaan seluruh pelosok desa itu sunyi senyap. Angin bertiup agak keras malam ini, dan menebarkan hawa dingin seperti menusuk kulit. Namun suasana malam itu tidak mempengaruhi keadaan di dalam sebuah rumah besar di desa itu.

Pada salah satu kamar di rumah itu, tampak seorang gadis cantik tengah duduk merenung di tepi pembaringan. Gadis itu tidak menyadari kalau ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya. Seorang laki-laki gemuk berkepala gundul dan berjubah kuning gading. Gadis itu baru sadar setelah laki-laki itu duduk di sampingnya.

"Mau apa kau?" sentak gadis itu sengit. Dia segera menggeser duduknya menjauh.

"He he he...," laki-laki yang ternyata adalah Pendeta Pasanta itu hanya terkekeh. Matanya yang liar terus merayapi wajah gadis itu.

Dan gadis cantik itu semakin menggeser duduknya menjauh. Tapi pendeta gundul itu segera bangkit, dan melangkah pelan-pelan menghampiri. Senyumnya lebar menyeringai, dan matanya semakin liar merayapi wajah yang mulai dilanda ketakutan.

"Kenapa kau harus takut, Lastri? Besok kau akan menjadi pengantin. Aku sudah memutuskan untuk mempercepat pelaksanaannya," kata Pendeta Pasanta.

"Huh Siapa yang mau menjadi pengantin? Kau kira aku tidak tahu akal licikmu, Pendeta Murtad. Kau telah memperalat Prabu Dewa Rimba, dan meracuni semua penduduk dengan kata-kata manismu. Tapi di balik semua itu, kau hanya melampiaskan nafsu bejadmu" garang kata-kata Lastri.

"Itu tidak benar, Lastri. Siapa yang mengatakan itu padamu?" agak terkejut juga Pendeta Pasanta mendengarnya. Namun dia segera bisa mengatasinya dengan cepat.

"Semua dayang-dayangmu berkata begitu padaku. Kau pikir mereka senang? Mereka selalu mengutuk-mu" sahut Lastri sengit.

Seketika merah padamlah seluruh wajah Pendeta Pasanta. Gerahamnya bergemeletuk dan tiba-tiba saja dia melompat dan menerkam gadis itu. Tentu saja Lastri langsung memekik kaget. Dia terus meronta dan berusaha melepaskan diri dari pelukan laki-laki gendut itu. Namun pelukan Pendeta Pasanta demikian kuat.

"Lepaskan" jerit Lastri sambil memukuli tubuh gemuk itu.

"Kau memang tidak akan jadi pengantin, gadis liar

Malam inilah malam pengantinmu" desis Pendeta Pasanta.

"Tidak Akh..."

Lastri benar-benar terkejut. Dia baru menyadari, ternyata selama ini Pendeta Pasanta-lah yang berada di belakang semua kejadian itu.

Semua gadis-gadis yang dijadikan Pengantin Dewa Rimba, ternyata hanya dijadikan pemuas nafsu olehnya. Dan dia memfitnah Prabu Dewa Rimba dalam menutupi semua aksinya itu. Benar-benar suatu perbuatan yang licik dan terencana rapi.

Bret

Lastri menjerit histeris, ketika dengan kasar Pendeta Pasanta berhasil merenggut baju yang dikenakannya. Mata laki-laki gemuk dan gundul itu semakin liar menatap kulit tubuh yang putih halus dan sudah terbuka lebar. Lastri jadi sibuk berusaha menutupi tubuhnya sambil terus memberontak, berusaha melepaskan diri dari dekapan laki-laki itu.

Sedangkan Pendeta Pasanta nampaknya sudah tidak bisa lagi mengendalikan diri. Dengan kasar dia merenggut baju yang masih tersisa di tubuh gadis itu.

Lastri terus menjerit-jerit minta tolong, tapi siapa yang mau menolongnya? Tidak seorang pun yang peduli dengan jeritan gadis itu. Kini tidak ada yang bisa diperbuatnya lagi. Air matanya mulai menitik turun dan membasahi pipinya.

"Jangan..., kasihani aku, Pendeta. Tolong jangan lakukan itu...," rintih Lastri memelas.

Namun Pendeta Pasanta tidak mau mendengarnya sama sekali. Dia bergerak semakin liar saja. Dan pada saat pertahanan Lastri hampir jebol, mendadak daun jendela kamar itu terdobrak hancur, dan melesatlah seberkas sinar keperakan.

"Uts"

Buru-buru Pendeta Pasanta menggulingkan tubuhnya ke samping. Sedangkan tangannya meraih pakaiannya, dan mengenakannya kembali. Matanya mendelik melihat sebuah bintang perak sudah tertancap di dinding. Sementara Lastri buru-buru menutupi tubuhnya dengan kain seadanya.

"Suiiit.."

Terdengar siulan panjang melengking tinggi.

Pendeta Pasanta langsung melompat ke luar, menembus jendela kamar yang sudah jebol berantakan. Suara siulan itu masih terdengar panjang melengking. Laki-laki gundul dan gemuk itu melentingkan tubuhnya ke atas atap. Telinganya mendadak mendengar suara jeritan dan pekikan, ditingkahi dentingan senjata dari arah depan.

"Edan Siapa yang telah berani main gila di sini?" dengusnya geram ketika melihat di halaman depan, tampak para pengikutnya tengah bertarung melawan seorang laki-laki tua bertongkat hitam.

Dan baru saja Pendeta Pasanta mau melompat turun, mendadak sebuah bayangan berkelebat naik ke atas genting. Tentu saja Pendeta Pasanta terkejut, begitu di depannya tahu-tahu sudah berdiri seorang pemuda tampan dan gagah, mengenakan baju kulit harimau.

"Pendekar Pulau Neraka...," desis Pendeta Pasanta.

"Aku datang untuk mengirimmu ke neraka, Pendeta Murtad" dingin suara Pendekar Pulau Neraka.

"Ha ha ha... Tidak ada ceritanya tikus menantang harimau" ejek Pendeta Pasanta sambil tertawa terbahak-bahak.

"Tikus itu berani karena harimaunya sudah ompong" ujar Bayu tak kalah sengit.

"Keparat" geram Pendeta Pasanta. Merah padam seluruh mukanya mendengar ejekan itu.

"Bersiaplah untuk mati, Pendeta Pasanta"

"Hup"

Pendeta Pasanta langsung mengeluarkan sebuah pecut berwarna hitam pekat, dengan ujung-ujungnya seperti buntut kuda. Dia pun segera mengebutkan pecutnya itu ke udara. Seketika terdengarlah suara menggeletar bagai guntur, yang memekakkan telinga.

Bayu yang sudah diperingatkan oleh Branta Ireng langsung bersikap hati-hati menghadapinya. Ujung ujung pecut itu tampak memercikkan api saat dikebutkan. Kini Pendeta Pasanta langsung menyerang sambil mengebut-ngebutkan pecutnya.

Sementara Bayu segera berlompatan menghindari ujung cambuk itu, sedikit kaget juga melihat ujung cambuk itu seperti bermata saja. Ke mana dia melompat menghindar, selalu terkejar dengan cepat.

"Ha ha ha..." Pendeta Pasanta tertawa terbahak bahak.

Pendekar Pulau Neraka benar-benar merasa kewalahan menghadapi senjata maut itu. Kini dia berusaha menandinginya dengan melontarkan Cakra Maut. Tapi senjata andalannya itu langsung berbalik lagi begitu dilontarkan, sepertinya cakra itu tidak mau berbenturan dengan cambuk hitam di tangan Pendeta Pasanta.

"Mampus kau, bocah setan" bentak Pendeta Pasanta.

Bersamaan dengan itu, Pendeta Pasanta meng angkat tangannya tinggi-tinggi, dan langsung mengebutkan senjatanya dengan kuat. Namun pada saat itu, dia jadi tersentak. Pecut di tangannya tiba-tiba terbetot, sepertinya ada tangan yang menariknya.

Sejenak Pendeta Pasanta mendongak ke atas. Dan tubuhnya langsung gemetaran.

Bayu sendiri juga terpana melihatnya. Di atas kepala Pendeta Pasanta, melayanglah seorang laki-laki muda dan tampan, serta berbaju putih bersih.

Tangan kanannya tampak menggenggam ujung cambuk dengan kuat. Dan dengan sekali tarik saja, pegangan Pendeta Pasanta pada cambuk itu langsung terlepas.

Seketika Pendeta Pasanta melompat mundur. Wajahnya kini jadi berubah pucat, melihat pemuda itu melayang turun dan hinggap di atap. Sementara Bayu masih terpana melihat kedatangan Prabu Dewa Rimba yang begitu tiba-tiba, dan bisa melayang bagai burung

Sementara pertarungan di halaman depan rumah itu masih terus berlangsung. Kini Pengemis Tongkat Hitam tidak lagi kerepotan, karena dia sudah dibantu oleh dua orang laki-laki kembar berbaju biru. Sudah tidak terhitung lagi, berapa mayat bergelimpangan dengan bersimbah darah. Dan di atas atap, tampak tiga orang laki-laki tengah berdiri tegak dengan mulut terkunci rapat.

"Aku tidak menyangka, kalau kau akan berbuat sekeji itu, Pendeta Pasanta," kata Prabu Dewa Rimba dingin.

"Kau tahu, kenapa aku ingin menghancurkanmu? Karena kau lebih percaya pada kata-kata si tua bodoh Branta Ireng" agak bergetar suara Pendeta Pasanta.

"Hal itu bukanlah alasan tepat untuk kau kembali ke dunia hitam, Pendeta Pasanta."

"Ha ha ha... Memang bukan. Sebenarnya sudah bertahun-tahun aku merencanakan semua ini, dan mempelajari segala kelemahanmu. Rasanya aku memang harus menghancurkanmu, Dewa Rimba. Karena kau telah menghancurkan puri kami, tempat kami"

"Aku memang harus menghancurkan puri sesat itu. Tidak kusangka, kau adalah salah satu pendeta murtad yang berhasil lolos dari puri hitam itu"

"Bukan aku saja yang berhasil lolos, Dewa Rimba. Tapi masih banyak saudara-saudaraku yang masih hidup. Dan mereka tidak akan pernah berhenti untuk mengajarkan aliran yang sesat, Dewa Rimba. Aku pun tidak akan tenang jika kau masih hidup"

"Sayang, dewa-dewa di nirwana tidak lagi mengijinkan aku untuk membunuh manusia lagi.

Maaf, aku harus kembali, masih banyak tugas yang harus kuselesaikan."

"Tunggu, pengecut"

Tapi Dewa Rimba sudah melayang cepat meninggalkan tempat itu. Buru-buru Pendeta Pasanta hendak mengejar, namun Bayu lebih cepat lagi bertindak. Dia segera mengibaskan tangan kanannya, dan senjata cakra langsung melesat cepat bagai kilat.

"Akh" seketika Pendeta Pasanta memekik tertahan begitu pundaknya dirobek senjata itu.

Dan belum sempat dia berbuat sesuatu, senjata cakra itu sudah berbalik dan meluruk deras ke arahnya. Maka tanpa ampun lagi, Cakra Maut bergerigi enam itu langsung menghunjam dadanya.

"Hiya..." Bayu segera melenting sambil mengangkat tangan kanannya ke atas.

Lalu bersamaan dengan menempelnya senjata Cakra Maut ke pergelangan tangan kanan, kaki Bayu segera menghajar kepala Pendeta Pasanta. Tidak ampun lagi, laki-laki gemuk berkepala gundul itu langsung meluruk jatuh ke tanah. Namun dia masih sempat bangkit lagi, meskipun dari pundak dan dadanya sudah mengucur darah. Sejenak Pendeta Pasanta menggeleng-gelengkan kepalanya.

Saat itu Bayu juga sudah meluruk deras kearahnya. Dia tidak mau lagi bertindak tanggung-tanggung. Maka dengan mengerahkan jurus 'Pukulan Racun Hitam', secara bertubi-tubi dia menyarangkan pukulannya ke tubuh Pendeta Pasanta. Sejenak Bayu heran juga melihat daya tahan yang luar biasa dari laki-laki gemuk itu. Dadanya telah bolong, dan pundaknya sudah tergores dalam. Darah pun banyak bercucuran. 'Pukulan Racun Hitam' sudah beberapa kali menghajar tubuhnya, tapi laki-laki gemuk itu masih saja bisa berdiri, meskipun limbung.

"Kau tidak akan bisa membunuhnya, Pendekar Pulau Neraka...," tiba-tiba terdengar bisikan halus di telinga Bayu.

Bayu segera mendongak ke atas. Tampak sebuah bayangan putih melayang-layang di angkasa. Dia tahu kalau bayangan itu adalah Dewa Rimba.

"Pendeta Pasanta memiliki kekebalan pada sabuknya. Jika kau berhasil merampasnya, baru dia akan bisa mati," terdengar lagi suara bisikan halus.

Bayu menatap Pendeta Pasanta yang sudah bergerak lagi hendak menyerangnya. Mata Pendekar Pulau Neraka itu menatap tajam ke pinggang Pendeta Pasanta. Tampak sebuah sabuk besar yang berwarna hitam, melingkar di perut gendut itu. Maka dengan mengerahkan jurus 'Bayangan Dewa Maut', Bayu segera mendahului menyerang. Gerakannya begitu cepat seperti bayangan saja. Dan dengan mudah, Bayu berhasil memegang sabuk di pinggang Pendeta Pasanta, namun dia terkejut karena sabuk itu ternyata sulit terlepas.

Tepat pada saat Bayu berusaha menarik sabuk itu, pukulan geledek Pendeta Pasanta langsung menghajar tubuhnya. Tak pelak lagi, tubuh Pendekar Pulau Neraka itu segera terpental sejauh dua batang tombak. Sedangkan Pendeta Pasanta buru-buru melompat menerjang.

Melihat keadaan itu, Bayu bergegas menggulingkan tubuhnya ke samping, lalu dengan cepat kembali melompat bangkit. Dan bagaikan seekor kucing tengah menerkam ikan, Pendekar Pulau Neraka melompat sambil melancarkan pukulan mautnya dengan bertubi-tubi.

Gerakan Pendeta Pasanta yang memang sudah lamban, tidak sanggup untuk berkelit. Dan pukulan Bayu dengan telak menghajar tubuhnya. Namun Bayu merasakan pukulannya seperti mengenai buntalan kapas. Pendeta Pasanta masih tangguh, tidak goyah sedikit pun Dia kini malah menyeringai menyeramkan. Buru-buru Bayu melompat mundur dua tindak.

Lalu dengan cepat dimiringkan tubuhnya sambil melontarkan senjatanya.

Seketika Cakra Maut bergerigi enam itu langsung melesat cepat, dan menancap tepat di mata Pendeta Pasanta. Kontan saja laki-laki gemuk dan gundul itu meraung keras. Sejenak Bayu menghentakkan tangan kanannya dengan kuat, dan cakra yang tengah tertancap di mata Pendeta Pasanta itu pun tercabut ke luar.

Namun sebelum senjata itu kembali pada pemiliknya, Bayu segera mengebutkan tangan kanannya ke arah perut lawannya.

Trak

"Aaakh..." Pendeta Pasanta langsung menjerit melengking.

Dan tanpa membuang-buang kesempatan, Bayu langsung melompat dan mengirimkan tendangan geledeknya ke arah tubuh Pendeta Pasanta. Kontan saja tubuh gemuk itu terjungkal keras menghantam tanah. Lalu sekali lagi Pendekar Pulau Neraka itu mengebutkan tangan kanannya, dan senjatanya itu kembali meluncur deras ke arah tubuh yang sudah menggeletak itu.

Cras

Seketika Cakra Maut bergerigi enam merobek perut lawannya. Dan hampir bersamaan pula, Bayu segera melompat dengan tangan bergerak cepat merampas sabuk yang sudah terpotong senjatanya. Dengan disertai pengerahan tenaga dalam tinggi, kali ini dia berhasil mencopot sabuk itu dari pinggang Pendeta Pasanta.

"Mampus kau..., hih "

Sekali lagi Bayu menghantamkan pukulan mautnya ke arah dada. Sebentar Pendeta Pasanta masih berkelojotan, lalu diam dan tak bergerak lagi.

Bayu masih berdiri tegak sambil memandangi mayat lawannya. Lalu dia mendongakkan kepalanya ke atas. Tampak bayangan tubuh putih tengah melayang menjauh. Pendekar Pulau Neraka itu pun segera memeriksa tubuh gemuk yang sudah menjadi mayat Dan dari balik lipatan bajunya dia menemukan sebuah kitab yang bersampul kulit hitam. Maka tanpa berpikir panjang lagi, Bayu segera menghancurkan kitab itu dengan 'Pukulan Tapak Api'. Seketika itu juga kitab itu hangus terbakar jadi abu. Kembali Pendekar Pulau Neraka menarik napas panjang, kemudian melangkah meninggalkan mayat Pendeta Pasanta.

Pada saat itu semua pertempuran yang berlangsung di halaman depan rumah besar tersebut sudah berhenti. Tampak Pengemis Tongkat Hitam yang dibantu oleh si Kembar Iblis Biru tengah berlari-lari menghampiri Bayu. Mereka telah berhasil menumpas habis semua pengikut Pendeta Pasanta. Bayu segera berhenti melangkah, menanti tokoh-tokoh yang telah membantunya itu.

***

"Bayu, aku tadi sempat melihat Prabu Dewa Rimba. Ke mana dia sekarang?" tanya Pengemis Tongkat Hitam, begitu sampai di depan Bayu.

"Pergi," sahut Bayu pelan.

"Aku yang telah memberitahunya," celetuk Waka Biru, salah satu dari manusia kembar itu.

"Kenapa kau lakukan itu?" tanya Pengemis Tongkat Hitam.

"Maaf, aku memang harus mengatakan semuanya pada Gusti Prabu Dewa Rimba. Dan beliau pun memahami. Kami juga akan diterima, jika mau kembali ke Istana Dewa Rimba," sahut Waka Biru.

"Kalian akan kembali ke sana?" tanya Bayu.

"Ya," sahut si Kembar Iblis Biru serempak.

Bayu hanya bisa tersenyum saja. Entah apa arti senyumnya itu.

"Bayu, tolong Bawalah mayat guru kami ke Pulau Neraka. Maaf, kami tidak bisa ikut. Prabu Dewa Rimba sudah memperingatkan, kalau kami tidak akan bisa masuk ke sana. Hanya kaulah yang bisa melakukannya Pulau itu selalu dijaga oleh kekuatan Eyang Gardika," kata Waka Biru lagi.

"Tidak apa, aku juga tidak keberatan,'' sahut Bayu memaklumi.

"Terima kasih, kami permisi dulu."

"Tunggu dulu," cegah Bayu ketika dua orang kembar itu sudah mulai melangkah.

Waka Biru dan saudara kembarnya itu segera menghentikan langkahnya. Mereka kembali berbalik dan menghadap Pendekar Pulau Neraka.

"Terus terang, aku belum tahu betul, siapa Dewa Rimba itu?" tanya Bayu.

"Dia adalah utusan Dewa-dewa di Swargaloka. Dan dia datang untuk memberi pengampunan pada setiap manusia. Sudah banyak orang-orang dari kalangan rimba persilatan yang bertobat dan meninggalkan dunianya yang keras," Waka Biru menjelaskan.

Bayu segera mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Oh, ya... Prabu Dewa Rimba juga telah mengundangmu untuk menghadiri upacara perkawinannya.

Kali ini benar-benar Pengantin Dewa Rimba sungguhan" sambung Waka Biru.

"Terima kasih, akan kuusahakan untuk datang."

Si Kembar Iblis Biru segera meninggalkan halaman rumah besar di Desa Gampil itu. Mereka terus berlari cepat menuju Bukit Batu. Sementara Bayu masih memperhatikan kepergian mereka dengan hati mengucapkan sejuta kata. Namun tidak mampu untuk dikeluarkannya. Kemudian dia segera mengayunkan kakinya setelah bayangan si Kembar Iblis Biru lenyap dari pandangan.

"Mau ke mana?" tanya Pengemis Tongkat Hitam, yang sejak tadi terus memperhatikannya.

"Aku rasa tugasku sudah selesai, Kek. Aku harus memenuhi keinginan terakhir Paman Branta Ireng,"

sahut Bayu pelan.

"Bayu, aku ingin minta maaf padamu," kata Pengemis Tongkat Hitam pelan.

"Hey Apa ini?" Bayu sedikit kaget tidak mengerti.

"Aku sudah menduga buruk sebelumnya terhadap-mu. Kau memang kejam, sadis dan tidak mengenal kata ampun Tapi aku merasakan kelembutan dan kebaikan hatimu," kata Pengemis Tongkat Hitam.

"Ah, sudahlah. Kebetulan saja kau melihatku lagi baik," Bayu merasa tidak enak juga.

Dan baru saja Bayu hendak melangkah kembali, tampak Lastri berlari-lari kecil menghampirinya. Gadis itu hanya mengenakan kain seadanya untuk membalut tubuhnya. Di belakang gadis itu terlihat seorang laki-laki dan perempuan tua.

"Kakang, kau hendak ke mana?" tanya Lastri begitu sampai di depan Bayu.

"Pergi. Masih banyak tugas yang harus kuselesaikan," sahut Bayu pelan.

"Kakang, aku mau mengucapkan terima kasih, karena kau telah menyelamatkanku," ucap Lastri. "Juga kedua orang tuaku, mereka sangat berterima kasih sekali padamu. Bahkan ayahku berkenan mengundangmu untuk menginap di rumah."

"Benar, Nak," sambung Ki Sudra meyakinkan.

Kini Bayu tidak bisa menjawab. Dia lalu melirik pada Pengemis Tongkat Hitam.

"Ah, sebaiknya Tuan juga ikut bersama kami. Aku akan menjamu Tuan berdua dengan sebaik mungkin," kata Nyi Sudra sambil memandang ke arah Pengemis Tongkat Hitam.

"Ayolah, Kakang...," rengek Lastri memohon.

"Bagaimana, Kek?" Bayu meminta pendapat Pengemis Tongkat Hitam.

"Aku rasa tidak baik untuk menolak suatu undangan," sahut Pengemis Tongkat Hitam bijak.

"Kau bisa ke...."

"Aku tahu, Kek" potong Bayu cepat. "Baiklah, aku terima undangan kalian."

Tentu saja Lastri gembira mendengar jawaban Bayu tersebut. Dia langsung memeluk tubuh pemuda itu tanpa malu-malu lagi. Sementara Pengemis Tongkat Hitam dan kedua orang tua Lastri segera mulai melangkah meninggalkan mereka. Bayu ingin melepaskan pelukan gadis itu, tapi Lastri malah melingkarkan tangannya dengan kuat ke leher pemuda itu.

"Lastri...," bisik Bayu merasa tidak enak dengan yang lain.

"Tinggallah di sini, Kakang," kata Lastri membujuk.

Kembali Bayu tidak bisa menjawab. Rasanya setiap kali dia menerima kata-kata seperti itu dari seorang gadis, sulit untuk menjawabnya. Namun Bayu punya cara tersendiri, dan hanya dialah yang bisa tahu. Kini Pendekar Pulau Neraka itu mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Lastri, sedang tangannya melingkar di pinggang gadis yang ramping itu. Lalu bibir mereka menyatu rapat dalam dekapan hangat.

                      SELESAI

Episode selanjutnya Pendekar Kembar

Thanks for reading Pengantin Dewa Rimba I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »