Dendam Membara Jilid 06

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Dendam Membara Jilid 06
Sonny Ogawa

Dendam Membara Jilid 06

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

CIN HAN mengangguk dan hatinya merasa gembira sekali. Gadis ini masih ramah, lincah dan manis, dan wataknya masih tetap saja baik, seperti dulu, terbukti dari sikapnya, menentang kedua orang laki-laki kurang ajar tadi, diapun tidak merasa heran kalau kedua pria itu ketakutan menghadapi Lian Hwa. karena pertama, gadis ini lihai ilmu silatnya dan kedua, tentu saja gadis ini adalah puteri kepala daerah!

Melihat Cin Han mengangguk, gadis itu yang ternyata adalah Ciu Lian Hwa, tersenyum girang. "Aih, Cin Han, kapan engkau datang? Kenapa tidak singgah di rumah kami?"

"Saya.... saya baru datang dan belum sempat, nona.. Eh, kebetulan kita bertemu di sini....." jawab Cin Han gagap karena memang tadinya dia sama sekali tidak ingin berkunjung kepada gadis ini setelah pengalaman pahit yang diperolehnya dalam kunjungannya kepada Cong Bu.

Dua orang yang masih berlutut itu kini menjadi semakin ketakutan ketika melihat betapa nona bangsawan itu ternyata sudah mengenal bahkan akrab dengan pemuda yang mereka ganggu. Mereka adalah dua orang prajurit yang tadi berjaga di depan gedung kepala pasukan Kim.

Setelah Cin Han yang tadi datang bertemu kepada Kim Cong Bu pergi, Cong Bu mengutus mereka mengenakan pakaian preman dan mengejar pemuda itu dengan pesan agar mereka berdua mencari gara-gara sehingga timbul perkelahian karena Cong Bu ingin mereka mencoba apakah pemuda bekas kacung kuil itu kini memiliki ilmu silat ataukah tidak.

"Dia dulu kacung kuil, sekarang berlagak. Kalian cari gara-gara untuk menghajar dia, akan tetapi jangan tangkap dan jangan bunuh. Aku hanya ingin tahu apakah dia pandai ilmu silat ataukah tidak."

Dua orang itu sudah biasa melakukan kekerasan terhadap rakyat, maka menerima tugas ini mereka menjadi gembira sekali dan ketika melihat pemuda itu memasuki rumah makan, mereka lalu turun tangan mengganggunya. Tak mereka kira sama sekali bahwa di situ mereka akan bertemu dengan Ciu Siocia yang membela pemuda itu!

Tentu saja mereka sama sekali tidak berani melawan, bukan hanya tidak berani akan tetapi juga tidak mampu karena mereka cukup maklum betapa lihatnya gadis bangsawan yang menjadi sumoi dari majikan muda mereka itu.

Diam-diam Lian Hwa kagum melihat Cin Han. Pemuda bekas kacung kuil itu kini nampak tampan dan gagah walaupun pakaiannya sederhana, mukanya yang bulat putih dengan alis berbentuk golok, hidung mancung dan mulut selalu tersenyum ramah penuh kesabaran itu membayangkan kejantanan dan ketenangan yang menghanyutkan. Ketika melihat dua orang yang masih berlutut, bangkit kembali kemarahan Lian Hwa.

"Dua ekor tikus busuk yang memalukan! Tahukah kalian siapa dia ini? Dia adalah seorang sahabatku, yang datang dari jauh untuk mengunjungi aku dan kotaku. Eh, baru saja tiba, kalian sudah berani menghinanya. Sungguh membuat aku malu dan penasaran, dan sebaiknya kalau aku mematah-matahkan kedua kaki tangan kalian!"

Tentu saja dua orang itu minta-minta ampun dan membentur-benturkan dahi mereka di atas lantai seperti dua ekor ayam sedangi makan beras. Tiada henti-bentinya mulut mereka mohon ampun.

"Sudahlah, nona, ampuni mereka," kata Cin Ban yang merasa tidak enak melihat keadaan dua orang itu.

"Nah, kalian dengar, tikus-tikus busuk!! Sahabatku Bu Cin Han ini malah mintakan ampun untuk kalian!! Aku ampuni kalian, akan tetapi kalian harus menebus kekurang-ajaran kalian tadi dengan melayani kami makan minum. Hayo bersihkan meja itu dengan baju kalian!"

Yang tadi, dan melihat ini, para tamu yang tadi melihat betapa mereka menghina Cin Han, diam-diam merasa puas dan mentertawakan mereka. Dua orang itu merasa lega diampuni, tidak dipatah-patahkan kaki tangan mereka, maka mendengar permintaan ini, mereka lalu cepat-cepat membersihkan meja yang penuh kuah dan air teh itu dengan baju mereka sampai meja itu kembali bersih.

Setelah meja itu bersih, mereka berdua berdiri tak jauh dari meja, membungkuk dan siap melakukan printah apa saja. Baju mereka kotor, muka mereka pucat. Lenyaplah kegarangan yang tadi, dan melihat ini, para tamu yang melihat betapa mereka menghina Cin Han, diam-diam merasa puas dan menertawakan mereka.

"Huh, kalian menjemukan. Kalau melihat kalian, aku takkan suka makan. Sudah, kalian boleh pergi, akan tetapi sebagai tikus-tikus busuk kalian harus merangkak keluar dari ramah makan ini!" kata Lian Hwa dengan sikap galak.

Dua orang itu tak berani membantah, bahkan mereka merasa lega sekali karena dapat terlepas dari tangan gadis yang galak itu. Mereka lalu merangkak keluar dari rumah makan, diikuti pandang mata para tamu yang merasa semakin geli dan puas. Tidak ada seorangpun mengkhawatirkan gadis itu, karena siapa yang akan berani menentangnya? Pemilik rumah makan sendiri kini menghampiri Lian Hwa dan Cin Han, dan memberi hormat.

"Siocia telah memberi pertunjukan yang bagus sekali!" kata pemilik rumah makan. "Dapatkah kami membantu dan melayani nona?"

Lian Hwa tersenyum. "Aku hendak menjamu sahabatku ini, keluarkan hidangan yang paling istimewa.... eh, engkau makan daging, Cin Han?"

"Sedikit saja, nona, lebih senang sayur dan tidak pernah minum arak. Maklumlah hidup di kuil...."

"Hidangkan masakan yang banyak sayur sedikit daging, tapi yang lezat! Minumannya teh yang paling baik." Perintah Lian Hwa kepada pemilik restoran yang segera mengerahkan anak buahnya untuk memenuhi perintah itu dengan sebaiknya.

Gadis itu nampak gembira bukan main dengan pertemuannya itu sehingga Cin Han yang tadinya masih merasa sungkan, lambat laun juga menjadi gembira dan diam-diam dia bersyukur dan girang sekali melihat berapa nona bangsawan ini ternyata bersikap baik sekali.

"Oh ya, engkau tentu belum lupa kepada suheng, bukan!" tanya Lian Hwa ketika mereka sudah mulai makan minum.

"Tentu saja tidak. Kim kongcu, bukan?"

"Ya, dia tinggal di kota ini juga. Dia putera komandan pasukan keamanan kota, tinggal di sebelah barat dekat benteng. Dia tentu akan gembira sekali melihatmu, Cin Han."

Tentu saja Cin Han tidak tahu harus menjawab bagaimana, maka diapun diam saja, hanya mengangguk-angguk dan memenuhi mulutnya dengan makanan agar dia tidak usah menjawab.

Bagaikan pertemuan dua orang sahabat karib yang sudah lama saling berpisah, mereka bercakap-cakap dan dari gadis yang ramah itu Cin Han mendengar bahwa setelah mereka berdua itu pulang ke Tong-an, gadis itu dan Cong Bu lalu melanjutkan belajar silat kepada guru-guru silat yang sengaja didatangkan dari berbagai kota oleh Kim-ciangkun. Mereka memperoleh banyak kemajuan, dan di samping ilmu silat, juga mereka mempelajari dan memperdalam ilmu kesusasteraan.

Akan tetapi, di antara segala hal yang diceritakan oleh gadis itu kepadanya, yang paling menarik hati Cin Han adalah keterangan bahwa Ciu Lian Hwa telah dijodohkan dengan Kim Cong Bu dan bahwa pesta perayaan pertunangan mereka akan diadakan satu bulan lagi!

Mendengar ini, diam-diam Cin Han merasa sayang sekali. Gadis ini amat baik, dan agaknya tidak tepat kalau menjadi jodoh seorang pemuda yang demikian congkak dan besar kepala seperti Kim Cong Bu. Akan tetapi tentu saja perasaan ini hanya disimpannya saja di dalam hatinya dan dia tidak memberi komentar apapun.

"Cin Han, engkau harus singgah ke rumahku, berkenalan dengan orang tuaku. Aku sudah bercerita tentang dirimu kepada ayah ibuku, dan mereka tentu akan girang sekali kalau engkau datang berkunjung."

"Akan tetapi...."

"Aih, Cin Han, apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau tidak sudi berkunjung ke rumah kami?"

"Bukan begitu, nona, akan tetapi aku sudah menyewa kamar...."

"Aah, urusan mudah sekali itu. Kita datangi saja penginapan itu dan kau ambil pakaianmu, kemudian bersama aku pergi ke rumah kami. Aku akan marah kalau engkau menolak undanganku, Cin Han!"

Apa yang dapat ia lakukan menghadapi gadis lincah ini? Terpaksa Cin Han menurut saja ketika Lian Hwa membayar makanan dan mengajaknya pergi mengambil buntalannya di rumah penginapan, kemudian mereka pergi ke rumah kepala daerah yang membuat Cin Han merasa semakin rendah diri. Rumah ini lebih besar dan lebih mewah dibandingkan gedung tempat kediaman keluarga Kim yang dikunjunginya tadi!

Yang membuat hati Cin Han merasa gembira adalah melihat sikap ayah dan ibu gadis itu menyambutnya. Mereka tidak banyak cakap, akan tetapi wajah mereka ramah ketika Lian-Hwa memperkenalkan dia kepada mereka.

"Ayah dan ibu, inilah Bu Cin Han yang pernah kuceritakan kepada ayah dan ibu. Dia murid hwesio kepala dapur di kuil Siauwlim-pai di Bukit Mawar. Hari ini dia datang dan memerlukan singgah untuk mengunjungiku."

Cin Han memberi hormat dan merasa semakin berterima kasih kepada Lian Hwa. Gadis itu bukan saja tidak memberitahukan ayah bundanya akan kerendahan dirinya, juga tidak menceritakan bahwa dia bertemu dengan gadis itu di rumah makan, bukan sengaja datang, berkunjung seperti yang diceritakan gadis itu.

"Ayah, aku yang minta kepada Cin Han untuk bermalam di sini," gadis itu berkata lagi.

Pembesar Ciu hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum, demikian pula isterinya. "Baiklah, biar nanti pelayan mempersiapkan sebuah kamar tamu untuk saudara Bu Cin Han."

Kemudian, setelah berbasa-basi sejenak, suami isteri itu meninggalkan Cin Han berdua saja dengan Lian Hwa dan mereka bercakap-cakap di taman sebelah kiri gedung setelah pelayan menyimpan buntalan pakaian Cin Han ke dalam kamar yang sudah disediakan untuknya.

"Cin Han, sejak tadi engkau hanya menjadi pendengar saja dan aku yang banyak bercerita tentang diriku, sekarang tiba giliranmu untuk menceritakan keadaanmu semenjak kita saling berpisah," kata Ciu L.iau Hwa kepada Cin Han.

Mereka duduk berhadapan di atas bangku-bangku kayu, menghadapi meja kecil bundar yang diukir indah. Pemandangan di taman itu indah sekali. Malam yang gelap membuat pemandangan di taman semakin indah karena taman itu diterangi lentera-lentera berbagai warna. Kebetulan sekali bunga-bunga mawar di sekitar mereka duduk sedang berkembang dan baunya semerbak barum, membuat suasana amat romantis.

"Ah, tidak, ada sesuatu yang menarik mengenai diriku, nona," kata Cin Han dan pada saat itu, seorang pelayan wanita datang menghidangkan air teh hangat berikut kuih-kuih.

"Sejak kapan engkau meninggalkan kuil?"

"Sejak beberapa bulan yang lalu, nona."

"Jadi selama ini engkau terus berada di dalam kuil? Dan apa saja yang kau lakukan di sana?"

Cin Han tersenyum. "Masih seperti biasa, membantu suhu Hek-bin Lo-han dengan pekerjaannya."

"Belajar ilmu silat?"

"Ah, tidak ada artinya, nona."

"Akan tetapi engkau memiliki tubuh yang amat kuat, Cin Han. Pekerjaan berat itu membuat tubuhmu terlatih dan kuat. Sayang kalau tidak mempelajari ilmu silat..."

Tiba-tiba muncul Kim Cong Bu yang bergegas memasuki taman dan melihat betapa Lian Hwa duduk berhadapan dengan Cin Han sambil bercakap-cakap dalam suasana romantis dan mesra, wajahnya berubah merah sekali.

"Bagus!! Kiranya engkau ini kacung busuk berani sekali kurang ajar di sini, ya?" bentaknya sambil melotot kepada Cin Han. "Bu Cin Han, manusia tak tahu diri. Bangkitlah dan mari kita selesaikan urusan ini seperti laki-laki sejati!"

Tentu saja Cin Han terkejut sekali melihat betapa Cong Bu datang-datang marah dan menantangnya. Dia bangkit berdiri dan dengan sikap tenang dia mengamati wajah yang marah itu. "Kim-kongcu, mengapa engkau marah-marah? Apa kesalahanku sehingga engkau datang-datang marah kepadaku dan menantangku?" Sikapnya masih tenang dan sabar karena dia merasa yakin bahwa tentu terjadi salah pengertian.

"Apa kesalahanmu? Bocah dusun tak tahu diri! Engkau berduaan di taman ini dengan sumoi! Tahukah engkau bahwa ia adalah tunanganku? Dengan perbuatanmu ini berarti engkau menghinaku! Nah, majulah dan mari kita selesaikan dengan kepalan. Engkau harus berani melawanku, kecuali kalau engkau hanya seorang pengecut besar, seorang hina yang tidak pantas disebut laki-laki."

"Suheng....!!" Tiba-tiba Lian Hwa membentak sambil meloncat berdiri di depan Cin-Han ketika melihat suhengnya itu sudah hendak menerjang maju menyerang tamunya.

"Macam apa sikapmu ini? Sungguh tidak mengenal sopan santun!! Kau kira apa aku ini sebuah benda mati yang hendak kau kuasai begitu saja? Engkau marah-marah seolah-olah aku tidak berada di sini! Akulah nona rumah pemilik tempat ini, mengerti? Engkau tidak berhak ribut-ribut! Dengar baik-baik, suheng. Akulah yang mengundang Bu Cin Han untuk datang berkunjung, dan aku telah memperkenalkan dia kepada ayah ibuku. Mereka saja sebagai ayah ibuku tidak ribut, kenapa engkau ribut-ribut seperti kambing kebakaran jenggot?

"Sikapmu ini sungguh tak tahu diri dan menghinaku, suheng! Kalau engkau mau memukul Cin Han, nah, lakukanlah, akan tetapi di sini ada aku yang akan menentangmu!" Berkata demikian, kedua tangan gadis itu dikepal dan agaknya ia sudah siap untuk berkelahi melawan suhengnya sendiri yang juga sudah menjadi calon suaminya itu.

Menghadapi Lian Hwa yang marah itu Cong Bu menjadi lemas. Akan tetapi, dengan penasaran dia membela diri. "Sumoi, kau tidak boleh membelanya. Dia hanya kacung, orang rendah, dan dia sudah berani mengangkat dirinya setinggi derajatmu. Bukankah itu memalukan sekali? Melihat dia duduk berdua saja pada malam hari di taman ini, aku...."

"Bagus! Engkau cemburu, ya? Suheng, engkaulah yang seharusnya malu dengan pikiranmu yang kotor itu!! Cin Han datang dengan sopan, sudah kuhadapkan ayah ibu, dan kami bicara dengan sopan. Akan tetapi pikiranmu yang kotor itu membayangkan yang bukan-bukan! Suheng, kau kira aku ini gadis macam apakah? Berani engkau menghina aku dengan tuduhan yang kotor?"

Menghadapi kemarahan sumoinya, Cong Bu menjadi kewalahan dan tidak berdaya, maka dengan bersungut-sungut dia berkata, "Baik, aku akan memberi tahu orang tuamu. Engkau tidak adil, sumoi." Pergilah pemuda itu, langsung masuk ke dalam gedung..Suasana menjadi kaku dan tegang setelah Cong Bu pergi.

Akhirnya Cin Han berkata sambil menarik napas panjang, "Aih, aku sungguh menyesal sekali, nona. Kehadiranku hanya mendatangkan keributan saja."

"Tidak! Siapapun yang bersikap kurang bijaksana akan kutentang?"

"Nona Ciu, kuharap saja aku tidak menjadi orang yang akan merusak hubungan baik antara kalian. Ingatlah bahwa dia adalah suhengmu dan lebih dari itu, calon jodohmu."

"Tapi dia tidak berhak untuk cemburu....!"

Cin Han tersenyum. "Dia cemburu karena cintanya, nona. Dia tidak ingin kehilangan engkau...."

"Tapi dia terlalu menghinamu, juga menghinaku. Dia tidak menghargai orang lain, kepala batu dan congkak!"

Cin Han diam saja dan suasana menjadi semakin kaku. Tak lama kemudian, muncullah Ciu Taijin. Baru saja dia mendapat laporan dari Cong Bu tentang diri Cin Han. Seorang kacung kuil! Sungguh tidak disangkanya. Kalau hanya seorang kacung, seorang pelayan, tentu saja tidak pantas menjadi sahabat dan tamu puterinya. Cong Bu memang melaporkan dengan hati panas.

Dua orang utusannya tadi telah pulang dan sambil meringis menceritakan tentang gagalnya usaha mereka karena muncul nona Ciu yang bahkan menghajar dan membikin malu pada mereka. Dua orang itu melaporkan betapa nona Ciu membela Cin Han dan mengajak pemuda itu makan minum di rumah makan, di depan umum!

Dengan hati panas dia lalu pergi mengunjungi rumah sumoinya dan dapat dibayangkan betapa panas dan cemburu rasa hatinya melihat sumoinya, juga tunangannya itu, duduk berdua saja dengan Cin Han di dalam taman dalam suasana yang romantis! Maka diapun cepat mengadukan keadaan Cin Han kepada calon ayah mertuanya.

Pembesar ini menjadi marah dan cepat memasuki taman. "Lian Hwa!" kata orang tua itu dengan sikap marah dan suara keras "Benarkah bahwa pemuda ini adalah seorang kacung kuil?"

"Benar, ayah, akan tetapi...."

"Cukup!!" bentak pembesar itu dan kepada Cin Han yang berdiri dengan muka ditundukkan dia berkata, "Orang muda, engkau tahu sendiri betapa tidak pantas kalau engkau menjadi tamu kami. Apa akan kata orang kalau mendengar bahwa puteri kami bersahabat dengan seorang kacung kuil? Nah, aku minta agar engkau suka meninggalkan rumah kami sekarang juga."

"Ayah.....!"

"Sudahlah, nona Ciu. Yang salah adalah aku. Ayahmu benar, aku harus tahu diri. Nah, aku akan mengambil pakaianku dan terus pergi dari sini, nona. Maafkan bahwa kehadiranku hanya mendatangkan keributan belaka."

Tanpa menoleh Cin Han lalu melangkah lebar menuju ke kamarnya, mengambil buntalan pakaiannya, kemudian pergi meninggalkan rumah gedung itu dengan hati terasa perih. Dia memang tak tahu diri, pikirnya. Mana mungkin seorang seperti dia bergaul dengan orang-orang seperti Ciu Lian Hwa dan Kim Cong Bu?

Malam semakin larut dan suasana sunyi sekali di rumah keluarca Ciu. Lampu-lampu besar sudah dipadamkan, tinggal lentera-lentera yang menerangi sudut-sudut yang gelap. Para petugas yang menjaga keselamatan keluarga itu sudah mulai meronda, memasuki taman, mengelilingi gedung dan memasuki lorong-lorong kecil dalam perumahan yang luas itu.

Dua sosok bayangan hitam berkelebat cepat, menyelinap di antara semak-semak dalam taman, lalu bersembunyi di balik batang pohon dan semak-semak ketika ada dua orang penjaga meronda dan lewat di lorong dekat taman. Dua orang itu berpakaian serba hitam dan muka mereka ditutupi kedok hitam pula, hanya nampak dua mata melalui lubang di kedok itu.

Gerakan mereka gesit dan ringan sekali, yang seorang bertubuh tinggi besar dan seorang lagi kecil ramping. Mereka berdua tidak tahu bahwa agak jauh di belakang mereka, terdapat sesosok bayangan pula yang membayangi mereka sejak tadi! Bayangan orang ke dua ini bukan lain adalah Bu Cin Han! Ketika tadi dia meninggalkan rumah gedung keluarga Ciu dengan hati perih, di tempat gelap dia melihat berkelebatnya dua bayangan orang.

Dia terkejut karena dia mengenal gerakan orang yang ahli dalam ilmu gin kang (ilmu meringankan tubuh). Hatinya tertarik dan diam-diam diapun membayangi mereka. Alangkah heran dan kagetnya ketika dia melihat kedua orang yang dibayanginya itu menuju ke gedung keluarga Ciu!

Mereka berdua meloncati pagar tembok dan masuk ke dalam taman di mana tadi dia duduk bersama Ciu Lian Hwa. Dengan hati-hati Cin Han terus membayangi dan menanti dalam persembunyiannya ketika dua orang itupun menanti sampai malam agak larut.

Setelah para peronda lewat dan suasana makin sepi, dua sosok bayangan orang itu berloncatan keluar dari tempat sembunyi mereka dan dengan gerakan ringan sekali mereka meloncat ke atas genteng bangunan induk di mana tinggal keluarga Ciu. Cin Han terus membayangi mereka dari jarak yang aman sehingga tidak nampak oleh mereka.

Ciu Tai-jin dan isterinya sudah tidur nyenyak ketika tiba-tiba mereka terbangun oleh suara keras dan betapa kaget hati mereka melihat jendela kamar mereka telah dibongkar orang dan jebol. Ciu Tai-jin menyingkap kelambu dan dia melihat bayangan dua orang di luar jendela, keduanya memegang sebatang pedang telanjang yang berkilauan tertimpa sinar lentera dari luar kamar!

Satu di antara dua bayangan itu mengeluarkan suara lirih, namun tajam dan mendesis seperti suara orang yang menahan kemarahan. "Orang she Ciu, bersiaplah untuk mampus!!"

Tiba-tiba bayangan yang sudah hendak melompat ke dalam kamar itu, terdorong keluar kembali dan terdengar seruan orang lain, "Jangan....!" Kemudian terjadi perkelahian di luar kamar pembesar itu.

Ciu Tai-jin melihat betapa dua orang bayangan yang mengenakan pakaian dan kedok hitam mengeroyok seorang laki laki yang memakai kedok pula, yang terbuat dari saputangan yang menutupi sebagian mukanya bagian bawah. Orang ini tidak memegang senjata, dikeroyok oleh dua orang yang menggunakan pedang itu.

"Tolooonggg...! Tolooonngg...! Penjaga...! Ada perampok....!" Ciu Tui-jin berteriak-teriak, juga isterinya berteriak-teriak.

Mendengar teriakan ini dan melihat pula berbondong-bondong para penjaga menyerbu ke tempat itu, dua orang berpakaian serba hitam lalu berloncatan pergi, gerakan mereka cepat sekali. Orang ke tiga yang menutupi muka dengan sapu tangan, juga meloncat pergi dan gerakannya bahkan lebih cepat dari pada dua orang pertama.

"Ayah....! Ibu....! Apakah yang telah terjadi?" Ciu Lian Hwa kini muncul dengan pedang di tangan, Ia masih mengenakan pakaian tidur, hanya menutupinya dengan mantel karena ia terkejut oleh teriakan ayah ibunya tadi. Dan pada waktu itu, belasan orang penjaga juga sudah berdatangan.

"Ada dua orang berpakaian hitam, berkedok hitam, membongkar jendela dan hendak menyerang ke dalam kamar. Lalu muncul orang ke tiga tadi yang menutupi muka dengan saputangan. Terjadi perkelahian di luar kamar, orang ke tiga itu dengan tangan kosong dikeroyok oleh dua orang berpedang, dan kami berteriak-teriak, mereka semua lalu melarikan diri." kata Ciu Tai-jin yang selanjutnya memerintahkan komandan jaga untuk memperketat penjagaan dan melakukan usaha pencarian penjahat-penjahat tadi.

Lian Hwa sendiri mempergunakan kepandaiannya untuk meloncat ke atas genteng dan melakukan pencarian, namun tidak menemukan jejak tiga orang yang diceritakan ayahnya itu.

"Keadaan hanya remang-remang, mereka semua menutupi mukanya, akan tetapi jelas bahwa dua orang berpakaian hitam itu bermaksud buruk, bahkan terdengar seorang di antara mereka, dengan suara wanita mengatakan bahwa ia akan membunuhku. Sedangkan orang ke tiga, yang agaknya dia yang berseru melarang, menentang mereka sehingga mudah diduga bahwa dia telah menolong, kalau tidak bahkan mungkin telah menyelamatkan nyawaku." kata Ciu Tai-jin kepada puterinya ketika mereka membicarakan peristiwa yang mengejutkan dan mengkhawatirkan itu.

"Akan tetapi, siapa yang memusuhi ayah? Apakah ayah mempunyai musuh?" tanya Lian Hwa.

Ciu Tai-jin menghela napas panjang, "Memegang jabatan tak mungkin membuat orang bebas dari permusuhan. Apa lagi kalau pemegang jabatan itu bertindak tegas dan tertib, tanpa pandang bulu menentang mereka yang melanggar hukum, tentu dimusuhi banyak orang, para penjahat dan para pejabat yang menyeleweng dan kutentang."

Akan tetapi pembesar ini bingung juga memikirkan bahwa ada wanita yang memusuhinya dan berniat membunuhnya. Mulai malam itu, penjagaan dilakukan dengan ketat, dan Kim-ciangkun yang mendapatkan berita ini, bahkan mengerahkan sepasukan pengawal istimewa untuk mengawal keselamatan keluarga Ciu itu. Orang ke tiga itu adalah Bu Cin Han.

Ketika Cin Han melihat dua orang berkedok itu memasuki taman rumah keluarga Ciu, timbul perasaan khawatir dalam hatinya. Memang, ayah Lian Hwa telah menghinanya, bahkan mengusirnya. Akan tetapi, hal itu tidak mendatangkan kebencian dalam batinnya. Ayah gadis itu mengusirnya karena malu mendengar puterinya bersahabat dengan seorang kacung, seperti yang tentu telah dilaporkan oleh Cong Bu.

Kini ada orang-orang mengancam keselamatan keluarga itu, dan dia mengetahuinya, maka dia harus turun tangan mencegahnya. Betapapun juga, bukankah Lian Hwa telah bersikap amat baik kepadanya? Dan bukankah sebelum mendengar laporan atau hasutan Cong Bu, ayah ibu gadis itupun berskap baik kepadanya?

Ketika dua orang itu membongkar jendela kamar, diapun mendekat dan ketika seorang di antara mereka, yang ternyata seorang wanita, mengeluarkan suara mengancam Ciu Tai-jin, Cin Han merasa terkejut bukan main karena dia mengenal suara wanita itu. Suara Kim Eng! Dia mengenal betul suara gadis itu dan dia tidak meragukan lagi bahwa itu adalah suara Lui Kim Eng, gadis yang dicintainya!

Juga kini bentuk tubuhnya dikenal dengan baik, maupun gadis itu mengenakan pakaian hitam dan kedok hitam. Maka, diapun berteriak mencegah dan mendorong Kim Eng sehingga gadis itu tidak jadi meloncat masuk ke dalam kamar. Kemudian, dia harus menghadapi pengeroyokan mereka berdua yang memegang pedang.

Cin Han memang sudah menutupi mukanya dengan saputangan. Hal ini tadinya dilakukan karena dia tidak ingin dikenal oleh penghuni rumah keluarga Ciu yang hendak dibelanya. Maka, Ciu Tai-jin tidak mengenalnya, bahkan wanita berkedok hitam yang sesungguhnya adalah Lui Kim Eng, tidak pula mengenalnya ketika ia bersama temannya terpaksa melarikan diri karena para penjaga sudah datang berlarian atas teriakan Ciu Tai-jin dan isterinya.

Semenjak terjadinya percobaan pembunuhan atas diri kepala daerah itu, bukan hanya para pengawal yang sibuk berjaga setiap malam dengan ketatnya. Diam-diam ada seorang yang melakukan penjagaan dengan rahasia, dan orang ini bukan lain adalah Cin Han! Pemuda ini setiap malam, secara sembunyi menjaga tidak jauh dari rumah pembesar itu, siap untuk mencegah kalau, sampai dua orang berkedok itu muncul kembali untuk mengulangi percobaan mereka membunuhi Ciu Tai-jin.

Hal ini adalah karena dia merasa yakin bahwa seorang di antara dua orang berkedok itu adalah Lui Kim Eng! Dia tidak tahu mengapa gadis itu melakukan usaha pembunuhan terhadap Ciu Tai-jin dan tidak tahu pula siapa gerangan orang tinggi besar yang menemaninya, akan tetapi dia sama sekali tidak menghendaki gadis yang dicintanya itu menjadi seorang pembunuh gelap!

Dia harus mencegah Kim Eng melakukan pembunuhan itu, melakukan perbuatan gelap seperti penjahat dan untuk pencegahan ini, terpaksa setiap malam dia harus berjaga di sekitar rumah keluarga Ciu. Hatinya agak lega melihat betapa ketatnya penjagaan pasukan pengawal sehingga sukarlah kini memasuki gedung itu tanpa diketahui para penjaga.

Karena setiap malam dia berjaga, maka pada siang hari dia beristirahat di rumah penginapan dan selebihnya waktu siang dia pergunakan untuk mencoba mencari di mana adanya Lui Kim Eng. Namun, usahanya mencari Kim Eng di siang hari tak pernah berhasil. Diapun melihat kesibukan dan persiapan keluarga Ciu, tentu untuk merayakan pesta pertunangan yang akan diadakan, pertunangan antara Ciu Lian Hwa dan Kim Cong Bu.

Ah, dia akan menanti sampai tiba saat perayaan itu di mana besar kemungkinan Kim Eng akan muncul pula. Andaikata tidak, maka dia akan mencari Kim Eng ke dusunnya, yaitu di Lian giok bun, untuk memberi nasihat kepada gadis itu agar menghentikan niatnya membunuh kepala daerah Tong-an. Dan memang tak pernah gadis itu muncul lagi di waktu malam untuk mengulang usahanya membunuh pembesar Ciu, sampai tiba saatnya pesta perayaan hari pertunangan itu diadakan dengan meriah.

Pesta itu diadakan meriah sekali. Maklum, yang punya kerja adalah kepala daerah dan komandan pasukan keamanan, dua orang paling tinggi kedudukannya di kota Tong-an. Orang-orang terpenting di kota itu diundang, dan mereka yang tidak diundang, datang pula berbondong menonton dari luar karena pesta itu diramaikan dengan musik, nyanyi, tari bahkan permainan silat!

Sejak pagi sekali, Cin Han sudah berada di situ, menyelinap di antara para penonton yang berdiri di luar pekarangan. Dia bukan menonton, melainkan memasang mata mengamati semua orang yang datang, baik mereka yang datang sebagai tamu maupun mereka yang hanya sebagai penonton saja. Dan usahanya sekali ini berhasil.

Dia melihat Lui Kim Eng, yang berpakaian pria, bersama seorang laki-laki muda yang bertubuh tinggi besar, masuk sebagai tamu bersama para tamu lainnya dan mereka itu duduk di bagian tamu muda yang berada di barisan belakang. Berdebar rasa jantung Cin Han saking tegangnya melihat gadis itu. Biar menyamar seribu kalipun, dia akan selalu dapat mengenal sepasang mata itu!

Dia memperhatikan pemuda yang datang bersama Kim Eng, dan ada perasaan tidak sedap menyelinap dalam hatinya. Siapakah pemuda yang gagah itu? Tubuhnya tinggi besar dan sikapnya gagah, seorang jantan yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun. Dia merasa heran sendiri melihat betapa perasaannya terguncang oleh sesuatu yang tidak nyaman. Cemburulah dia?

Dan Cin Han merasa malu sendiri. Kenapa dia harus cemburu? Apanyakah Kim Eng? Cepat-cepat dia dapat melihat betapa bodohnya perasaan yang menyelinap di dalam perasaan hatinya ini dan perasaan itupun lenyap. Dia kini waspada mengikuti gerak-gerik kedua orang itu dari jauh, dan kerumunan para penonton yang semakin bertambah karena musik, telah dimainkan dan mengiringi suara nyanyian merdu, beberapa orang gadis penyanyi yang cantik-cantik.

Pesta berlangsung dengan meriah sekali. Para tamu mulai menikmati hidangan makanan yang serba mahal, sambil menonton pertunjukan hiburan yang menggembirakan. Sekarang juru bicara mewakili tuan rumah, menyambut para tamu dengan sebuah pidato yang cukup panjang, disambut tepuk tangan meriah oleh para tamu.

Dari tempat dia berdiri, selain dapat mengikuti gerak-gerik Lui Kim Eng dan temannya, juga Cin Han dapat melihat Ciu Tai-jin yang duduk di atas panggung bersama isterinya. Juga seorang panglima setengah tua bersama isterinya duduk di panggung itu sehingga mudah diduga oleh Cin Han bahwa tentu panglima itu komandan pasukan keamanan, ayah dari Cong Bu.

Dua orang muda yang dirayakan pertunangan mereka juga hadir di situ, yaitu Kim Cong Bu yang mengenakan pakaian mewah dan Ciu Lian Hwa yang nampak cantik jelita dalam pakaiannya yang indah. Dan Cin Han melihat pula dengan hati lega betapa panggung itu dijaga oleh puluhan orang pengawal, banyak di antara mereka berpakaian preman sehingga dia maklum bahwa keselamatan pembesar itu terjamin.

Dia yakin bahwa Lui Kim Eng dan temannya itu kini tidak akan mampu berbuat sesuatu untuk mencelakai Ciu Tai-jin. Diam-diam timbul kembali perasaan di dalam hatinya. Kenapa Kim Eng melakukan ini? Apakah ia terbawa oleh laki-laki itu? Siapa pula laki-laki itu?

Tentu saja Cin Han tidak dapat menduganya siapa karena memang dia belum mengenalnya. Pemuda tinggi besar yang datang bersama Kim Eng itu bernama Tan Sun, suheng (kakak seperguruan) dari Kim Eng. Seperti telah kita ketahui, setelah ayahnya pindah ke dusun, Kim Eog bertemu dengan seorang guru yang berilmu tinggi.

Gurunya itu seorang to-su (pendeta Agama To) dan ia diterima sebagai muridnya bersama seorang yang telah lebih dulu menjadi muridnya, yaitu Tan Sun. Hubungan antara kedua orang saudara seperguruan ini akrab sekali, apalagi karena Tan Sun inilah yang lebih banyak melatih ilmu silat kepada Kim Eng dibandingkan dengan gurunya sendiri.

Tingkat ilmu silat Tan Sun jauh lebih tinggi dari pada tingkat Kim Eng walaupun gadis ini memiliki bakat yang amat baik. Setelah tamat belajar dan merasa bahwa ia telah memiliki bekal ilmu silat tinggi, Kim Eng lalu mengambil keputusan untuk mencari musuh ayahnya. Ayahnya yang dulunya seorang jaksa di kota Wan-sian, kena fitnah sehingga dia dipecat dengan tidak hormat, hartanya disita pemerintah dan ayahnya menjadi seorang yang jatuh lahir batinnya, menderita sakit dan hidup miskin di dusun Liang-ok-bun.

Sesungguhnya keadaan ayahnya itulah yang mendorong Kim Eng, untuk mempelajari ilmu silat setinggi-tingginya, yaitu untuk membalas dendam. Ia telah mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas kejatuhan ayahnya. Ayahnya dipecat karena laporan seorang pejabat lain, yang bukan lain adalah Ciu Tai-jin, kepala daerah dari kota Tong-an. Kim Eng menceritakan niatnya membalas dendam kepada suhengnya dan mendengar ini, Tan Sun segera menyatakan kesediaannya untuk membantu.

"Musuh besarmu seorang kepala daerah, seorang pembesar tinggi. Berbahaya sekali untuk menyerangnya, su-moi, karena tentu dia dikawal oleh banyak perajurit. Aku khawatir sekali engkau akan gagal, bahkan celaka, maka aku harus membantumu sampai engkau berhasil."

Kim Eng memang sudah tahu bahwa sejak lama su-hengnya ini mencintanya, walaupun Tan Sun tidak pernah mengatakannya. Ia sendiri tidak tahu apakah ia mencinta Tan Sun walaupun ia merasa amat kagum karena suhengnya ini jauh lebih lihai dari padanya.

Ketika untuk pertama kali mereka berusaha membunuh Kepala Daerah Ciu di dalam gedungnya, mereka dikejutkan oleh munculnya seorang yang mengenakan topeng saputangan, yang amat lihai ilmu silatnya. Mereka gagal dan merekapun berhati-hati. Ketika melakukan penyelidikan, tahulah mereka bahwa Ciu Tai-jin mempunyai seorang anak perempuan yang lihai ilmu silatnya, juga mempunyai calon mantu yang masih suheng dari gadis itu, juga lihai.

Mendengar bahwa tak lama lagi pembesar itu akan merayakan pertunangan puterinya, Tan Sun nungusulkan kepada Kim Eng untuk menanti sampai datangnya hari perayaan itu. "Kita menyamar sebagai tamu dan kita melihat perkembangannya. Kalau engkau tidak berhasil membunuh musuhmu dengan cara gelap, bisa kita lakukan dengan terang-terangan, di dalam pesta itu! Akan tetapi kita tidak boleh bertindak gegabah, harus melihat keadaan. Biarlah aku yang akan mengatur siasat, sumoi."

Kim Eng tentu saja berterima kasih dan setuju saja karena tanpa suhengnya ia merasa tak berdaya. Demikianlah, pada hari itu mereka berhasil menyelinap masuk sebagai tamu, di antara banyak tamu.

Setelah para penari mengundurkan diri karena sudah selesai memperlihatkan suatu tarian, juru bicara muncul lagi dan sambil tersenyum gembira mengumumkan dengan suara lantang. "Cu-wi (hadirin sekalian) yang terhormat. Kini akan dipertunjukkan acara yang amat menarik. Karena kedua pihak yang kini dirayakan pertunangannya, yaitu..Ciu Siocia dan Kim Kongcu. Keduanya merupakan orang-orang yang ahli dalam ilmu silat, maka untuk menggembirakan suasana, kini akan dipertunjukkan permainan silat oleh beberapa orang ahli silat yang dipilih untuk keperluan ini. Silakan menikmati pertunjukan ini"

Dia mundur diiringi tepuk tangan gembira dari para tamu. Dua orang laki-laki yang berpakaian ringkas sebagai ahli-ahli silat naik ke atas panggung. Mereka dengan sikap gagah memberi hormat ke arah panggung di mana duduk tuan rumah dan besannya dan dua orang muda yang bertunangan, kemudian mereka memberi hormat ke arah penonton.

Beberapa orang yang memegang canang, gembreng dan tambur bermunculan dan mereka membawa bendera dengan gambar harimau bersayap. Ini menandakan bahwa yang bertugas meramaikan pesta itu adalah perkumpulan silat Harimau Terbang yang cukup terkenal di kota Tong-an. Musik yang bising itu dibunyikan dan mulailah kedua orang pesilat itu mendemonstrasikan ilmu silat mereka. Gerakan mereka gagah dan bertenaga.

Kemudian mereka memperlihatkan ilmu silat pasangan. Mereka saling serang dengan tangkasnya dan biarpun semua gerakan itu telah diatur terlebih dahulu, namun kelihatannya seperti orang yang sungguh-sungguh berkelahi sehingga para tamu memberi sambutan dengan tepuk tangan dan seruan-seruan gembira. Akan tetapi bagi mereka yang memiliki, kepandaian silat tinggi, seperti Cong Bu dan Lian Hwa, pertunjukan itu tidak ada artinya, hanya indah dilihat saja akan tetapi hanya mengandung ilmu bela diri yang amat lemah.

Karena yang mengundang rombongan ini adalah kepala daerah yang berbesan dengan komandan pasukan keamanan, maka sekali ini rombongan perkumpulan silat Harimau Terbang disertai ketua atau guru mereka, seorang laki-laki berusia limapuluh tahun yang bertubuh kecil pendek. Melihat keadaan tubuhnya, orang akan memandang rendah. Akan tetapi sekali ini, ketua itu ingin menyenangkan hati kepala daerah dan diapun maju sendiri untuk mendemonstrasikan kepandaiannya!

Ketika dia muncul dan memberi hormat ke arah panggung, kemudian kepada para tamu, mereka yang telah mengenalnya menyambutnya dengan tepuk tangan gemuruh. Siapa yang tidak mengenal Kwan-kauwsu (Guru Silat Kwan) yang menjadi ketua Hui-houw Bu-koan (Perguruan Silat Harimau Terbang)? Biarpun pendek kecil akan tetapi orang ini sudah dikenal sebagai jago silat yang pandai.

Ketika Kwan-kauwsu mulai bersilat, diam-diam Cin Han memperhatikan dan diapun tahu, bahwa biarpun dia saja memiliki tingkat yang iebih tinggi dari pada kedua orang muridnya tadi, namun ilmu silat yang dipertontonkan oleh guru silat inipun hanya indah ditonton saja, tidak memiliki dasar yang kuat sehingga masih meragukan kalau dipergunakan untuk membela diri menghadapi lawan tangguh.

Akan tetapi, gerakan orang ini memang lincah bukan main, agaknya dia memang hendak memamerkan kepandaiannya dan sesuai dengan nama perkumpulannya, maka dia bergerak cepat laksana seekor harimau yang pandai terbang! Sorak sorai dan tepuk tangan gemuruh yang menyambut permainan silat ketua perguruan silat Harimau Terbang itu agaknya membuat Kwan Kauwsu menjadi bangga bukan main.

Setelah berhenti bersilat, dia lalu memberi hormat ke empat penjuru, kemudian berkata dengan suara yang lantang. "Cu-wi yang mulia. Ilmu silat perkumpulan kami, sesuai dengan namanya, mengandalkan kelincahan, baru menggunakan kekerasan, seperti seekor harimau yang terbang. Untuk memeriahkan pesta ini, biarlah saya akan membuat sayembara. Lihatlah, ini adalah sebuah pisau belati pusaka peninggalan kakek saya, terbuat dari pada baja asli dari utara."

Dia mencabut sebuah pisau belati dan nampaklah sinar berkilau kebiruan. Sebatang pisau belati yang amat baik memang. "Saya akan mengikatkan pisau ini di punggung saya dan saya persilakan siapa saja di antara cuwi mencoba-coba untuk mengambil pisau ini. Siapa yang berhasil merampasnya, biarlah saja aku sebagai saudara tua dan pisau ini akan saya persembahkan kepadanya sebagai hadiah. Saya memberi kesempatan selama dua puluh jurus kepada siapa saja yang hendak mencoba, dan saya hanya akan mengelak tanpa membalas serangan."

Manusia sombong, pikir Cin Han. Pada saat itu, dari kelompok tamu, keluarlah seorang laki-laki berusia empat puluh tahunan, bertubuh tinggi kurus dia lalu naik ke atas panggung sambil tersenyum. Dia memberi hormat kepada tuan rumah dan keluarganya di panggung.

"Harap Tai jin, sudi memaafkan saya yang hendak meramaikan pesta ini dengan mencoba-coba mengadu untung. Siapa tahu saya bisa mendapatkan pisau belati yang baik berikut seorang adik baru!" Semua orang tertawa mendengar kelakar ini.

"Bagus!! Silakan maju dan mencoba-coba, sobat!" kata guru silat kecil pendek itu. Tambur pun dipukul dan seorang murid perguruan itu siap untuk menghitung banyaknya jurus.

Si tinggi kurus melangkah maju dan membuka serangan dengan menubruk, menggunakan kedua lengannya yang panjang. Lengan kiri menyambar ke arah perut sebagai ancaman dan lengan kanan menyambar ke arah punggung untuk merampas pisau belati. Akan tetapi, dengan mudah saja Kwan-kauwsu mengelak, lincah dan lucu gerakannya. Si tinggi kurus menyerang lagi, bertubi-tubi, bahkan kadang kadang menyelingi dengan tendangan, namun semuanya luput karena guru silat itu memiliki gerakan yang jauh lebih cepat dan lincah.

Karena tubrukan dan serangannya selalu dapat dielakkan dengan gerakan yang lucu, para penonton tertawa geli, mentertawakan si tinggi kurus dan sampai lewat dua puluh jurus, jangankan dapat merampas pisau, menyentuh ujung baju Kwan-kauwsu saja dia tidak mampu! Dengan muka merah karena ditertawakan orang, si tinggi kurus mengundurkan diri.

Tiba tiba nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depan Kwan-kauwsu telah berdiri seorang pemuda yang amat tampan. Pakaiannya sederhana dan terlalu besar, wajahnya tampan dan gerak-geriknya halus, namun sepasang, matanya mengeluarkan sinar berapi penuh semangat.

Cin Han terkejut melihat majunya Kim Eng dan dia pun mempergunakan kesempatan selagi para penonton dan tamu mencurahkan seluruh perhatian ke atas panggung, diapun menyelinap masuk dan mencampurkan diri dengan para tamu, duduk di sebuah kursi kosong dan siap siaga. Dia harus turun tangan mencegah kalau Kim Eng nekat hendak membunuh Ciu Tai-jin...!

Jilid sebelumnya,

Jilid selanjutnya,
DENDAM MEMBARA JILID 07
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.