Dendam Membara Jilid 05

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Dendam Membara Jilid 05
Sonny Ogawa

Dendam Membara Jilid 05

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

WANITA itu adalah Lui Toa-nio (Nyonya Besar Lui), isteri bekas jaksa Liu yang segera dikenal oleh Cin Han. Nyonya itu kini nampak tua, dan pakaiannya tidaklah seindah dahulu. Juga Kim Eng mengenakan pakaian sederhana dan ringkas, bukan pakaian bangsawan seperti dahulu.

Mendengar keterangan puterinya, Lui Toa-nio yang baru datang itu terkejut dan memandang kepada Cin Han, Mereka saling pandang, dan sinar mata nyonya itu mengandung keheranan karena ia mengenal pemuda itu! "Kau... bukankah Bu Cin Han yang dulu pernah berada di rumah tangga keluarga kami...?"

Cin Han segera memberi hormat kepada nyonya tua itu. Dia teringat betapa nyonya ini merupakan orang yang bijaksana dan baik sekali, sungguh seperti bumi dengan langit kalau dibandingkan dengan suaminya. Bahkan ketika dia diusir dari rumah keluarga itu, nyonya inilah yang bersikap baik kepadanya, memberinya bekal uang.

"Benar sekali, toa-nio. Saya adalah Bu Cin Han. Maafkan kedatangan saya seperti ini, toa-nio, akan tetapi saya kira toa-nio juga mengerti mengapa saya bermaksud membunuh suami toa-nio."

"Ahhhh...!!" Wanita tua itu menutupi muka dengan kedua tangannya dan ia menangis.

Melihat ini, Kim Eng menjadi marah lagi. "Ibu, biar kubunuh keparat ini!" Ia sudah hendak menerjang lagi ketika ibunya memegang lengannya.

"Jangan, Kim Eng... dia... dia memang beralasan untuk membunuh ayahmu..." Dan kini air mata bercucuran dari kedua mata wanita tua itu. Betapa banyak penderitaan dialami semenjak menjadi isteri dari ayah Kim Eng.

Dahulu, di waktu ia masih muda, suaminya itu yang masih menjadi seorang pejabat yang berkuasa dan kaya raya, selalu menyakiti hatinya dengan mengumpulkan banyak selir dan selalu berganti kekasih baru tanpa memperdulikan perasaan hatinya. Kemudian, malapetaka itu tiba. Suaminya kena fitnah dan dipecat dari kedudukannya dengan tidak hormat.

Bahkan harta bendanya disita pemerintah sehingga mereka jatuh miskin dan terpaksa pindah ke dusun itu tanpa membawa apa-apa. Semua selir juga meninggalkan suaminya, demikian pula semua kawan lama. Hanya ia dan puterinya, dan pelayan yang seorang itu saja yang dengan setia terus mengikutinya. Ia tahu pula akan peristiwa kematian ayah Bu Cin Han ini, juga tentang kematian ibunya.

Mendengar ucapan ibunya, seketika wajah Kim Eng menjadi pucat sekali. "Apa kata ibu? Dia beralasan hendak membunuh ayah? Apa yang telah dilakukan ayah kepadanya? Bukankah dahulu kita bersikap baik kepadanya, juga kepada ibunya yang membunuh diri itu?"

"Aiihh... engkau memang tidak pernah tahu tentang ayahmu, Kim Eng... dan aku selalu menyembunyikannya darimu agar engkau tidak memandang rendah kepada ayahmu! Akan tetapi, sekarang.... agaknya terpaksa aku harus menceritakan kepadamu...."

"Tidak! Aku tidak perduli apapun yang pernah dilakukan ayah kepadanya, akan tetapi aku akan membela ayah dengan jiwaku kalau dia hendak membunuhnya!!" Kembali Kim Eng siap untuk menyerang Cin Han.

"Cin Han, engkau datang untuk membunuh suamiku. Nah, jelaskanlah, apa yang telah dilakukan suamiku terhadap dirimu maka engkau mendendam kepadanya?" tanya nyonya itu.

"Akan tetapi... saya yakin bahwa toa-nio sudah tahu..." kata Cin Han.

"Aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri," jawab nyonya itu karena ia belum yakin apakah Cin Han telah mengetahui semuanya.

Sebetulnya Cin Han tidak ingin menceritakan semua sebab dendamnya di depan Kim Eng karena dia tidak ingin membuat gadis itu berduka, akan tetapi kini dia terpaksa bicara, bahkan diapun menganggap bahwa sebaiknya kalau gadis itu mengetahui agar tidak merasa penasaran lagi!!

"Ayah saya yang menjadi pegawai Lui Tai-jin telah tewas karena diracun oleh Lui Tai-jin agar ibu saya dapat dijadikan selirnya. Setelah dia bosan kepada ibu saya, lalu ibu saya diberikan dengan paksa kepada tukang kebun Phang Lok. Ibu saya diperkosa oleh Phang Lok di depan mata saya, kemudian ibu saya membunuh diri dengan membenturkan kepala di dinding."

Selama bercerita dengan singkat ini, pandang mata Cin Han tidak pernah meninggalkan wajah Kim Eng dan gadis itupun mendengarkan sambil memandang kepadanya. Dia melihat betapa sepasang mata gadis itu terbelalak dan mukanya menjadi semakin pucat.

"Bohong!! Dia membohong, ibu!! Tidak mungkin ayah melakukan perbuatan sejahat itu!" Kim Eng berseru marah.

"Ada benarnya, ada pula bagian yang tidak benar," kata Nyonya Lui kepada Kim Eng, juga kepada Cin Han karena kini ia memancang kepada pemuda itu. "Agaknya engkau memperoleh keterangan yang tidak benar seluruhnya, orang muda. Dari siapakah engkau memperoleh keterangan sumua itu?"

"Dari mendiang ibu, sebelum ia meninggal dunia karena bunuh diri."

Nyonya itu mengangguk-angguk. "Terserah engkau mau percaya atau tidak kepadaku, Cin Han, akan tetapi aku harus menceritakan hal yang sebenarnya kepadamu, sama sekali bukan untuk membela suamiku, melainkan menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Suamiku memang seorang yang lemah sekali terhadap wanita.... semoga Tuhan mengampuninya, akan tetapi dia bukan seorang jahat yang berhati kejam. Ketahuilah, mendiang ayahmu, merupakan seorang pegawai yang setia dan sudah bertahun-tahun bekerja pada suamiku. Karena itu, ketika dia mengajukan permohonan agar isteri dan anaknya boleh diboyong ke dalam perumahan kami, suamiku menyetujuii. Isteri ayahmu, yaitu ibu kandungmu, masih muda dan ia cantik manis, juga.... genit.

"Ini bukan kukatakan karena aku cemburu, Cin Han. Sudah terlampau biasa aku melihat suamiku menyukai wanita lain sehingga tiada cemburu lagi di hatiku. Baru beberapa pekan saja tinggal di rumah kami, suamiku tergila-gila dan ibumu.... menyambut uluran cintanya. Aku pura-pura tidak tahu saja. Akan tetapi pada suatu malam, ayahmu sakit keras, muntah-muntah dan meninggal dunia! Dan keterangan tabib, kami tahu bahwa ayahmu, meninggal karena keracunan."

Cin Han mengepal tinjunya. "Diracun oleh Lui Tai-jin, tentu dengan menyuruh orang, lain."

"Bukan, Cin Han. Ayahmu keracunan karena racun yang ditaruh ke dalam makanannya ketika dia makan malam dan yang menaruh racun itu adalah... ibumu sendiri...."

"Tidak....Tidak mungkin....!!" Cin Han berteriak, wajahnya menjadi pucat sekali.

Nyonya itu tersenyum sedih. "Sudah sepatutnya engkau tidak percaya, akan tetapi demikianlah kenyataannya. Dua orang pelayan melihat ketika ibumu membuang sisa makanan dan sisa racun dalam botol, ke dalam tempat sampah. Kami melakukan penyelidikan dan tahu akan hal itu. Ibumu meracuni suaminya sendiri karena dianggap penghalang hubungannya dengan suamiku... aih, sungguh memalukan sekali perbuatan mereka berdua itu. Ibumu mempunyai cita-cita yang besar, ingin mengambil hati suamiku agar kelak menjadi selir nomor satu dan berkuasa."

"Tapi.... bagaimana mungkin saya mempercayai cerita seperti itu tentang ibu kandung saya, toa nio? Semua itu fitnah belaka!"

"Terserah kepada penilaianmu, Cin Han. Namun demikianlah kenyataannya. Ketika mengetahui akan hal itu, suamiku marah dan hendak membawa ibumu ke pengadilan atau mengusirnya. Akan tetapi aku yang melarangnya karena kasihan kepada ibumu, kepadamu. Akhirnya, kami bersepakat memberikan ibumu kepada Phang Lok, tukang kebun yang setia agar ibumu kembali berumah tangga dan terbebas dari aib. Akan tetapi ia.... ia malah nekat membunuh diri...."

"Ah, bagaimana mungkin aku bisa mempercayai fitnah itu?" Cin Han kembali berseru dengan nada penuh penasaran.

"Cin Han!" Kini Kim Eng membentak dan menudingkan telunjuknya ke arah muka pemuda itu. "Engkau ingin menang sendiri! Yang bersalah dalam hal ini adalah ayahku dan juga ibumu. Merekalah yang mempunyai ulah sehingga menimbulkan korban ayahmu yang diracuni oleh ibumu sendiri. Dan engkau berani mengatakan bahwa ibuku melemparkan fitnah? Bukankah dengan ulah mereka berdua itu ibu sudah menderita batin yang hebat? Kalau engkau membela ibumu mati-matian, akupun berhak membela ayahku mati-matian. Nah, sekarang engkau mau apa lagi?"

Sejenak Cin Han menjadi bingung sekali, tidak tahu apa yang harus dilakukan atau dikatakan. Dia sungguh bimbang dan sukar untuk percaya bahwa ibunya mempunyai watak yang sedemikian buruknya, akan tetapi diapun teringat betapa Nyonya Lui ini seorang yang baik hati, bahkan sampai sekarang sikapnya demikian lemah lembut dan pandang matanya demikian jernih. Akan tetapi, bagaimanapun juga, yang menjadi korban adalah ayahnya dan ibunya. Mereka telah tewas, sedangkan jaksa Lui sekeluarga dalam keadaan selamat! "Aku harus membunuh Jaksa Lui!" katanya tegas.

"Bagus, kalau begitu aku akan mengadu nyawa denganmu!" ia berkata demikian, Kim Eng sudah menggerakkan pedangnya lagi menyerang, tidak perduli akan teriakan ibunya yang melarangnya.

"Eng-ji.... jangan...! Jangan berkelahi...!"

Akan tetapi, Kim Eng marah sekali karena pemuda itu nekat hendak membunuh ayahnya, maka kini ia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk mengirim serangan dengan jurus-jurus paling dahsyat. Cin Han juga cepat menggerakkan tubuhnya untuk mengelak.

Tiba-tiba terdengar suara yang berat, "Kim Eng, tahan pedangmu dan mundurlah!"

Mendengar suara ini, Kim Eng menahan senjatanya dan meloncat ke belakang, ke dekat orang yang melarangnya itu. "Akan tetapi, ayah. Orang ini hendak membunuhmu!" bantahnya.

Cin Han menengok dan dia mengenal Jaksa Lui, akan tetapi pembesar yang dulunya memang sudah bertubuh tinggi kurus itu kini tinggal kulit membungkus tulang saja. Demikian kurusnya, juga wajahnya pucat sekali, matanya cekung dan sinarnya redup, bahkan berdiripun dia harus dipapah oleh pelayan tadi..Seorang mayat hidup, orang yang agaknya menderita sakit parah dan dalam keadaan setengah mati!

"Biarlah, Kim Eng.... biarlah. Engkau Bu Cin Han, bukan? Engkau mencari aku untuk membunuhku? Untuk membalas kematian ayah dan ibu kandungmu? Nah, lakukanlah, orang muda. Bunuhlah aku, biar hitung-hitung aku menebus semua dosaku dalam kehidupanku selama menjadi jaksa. Bagaimanapun juga, akulah yang mendatangkan orang tuamu ke rumah tangga kami, dan aku pula yang menggoda ibumu.

"Aku sudah menderita karena semua dosaku, Thian telah menghukumku, aku difitnah sehingga kehilangan kedudukan dan harta, hidup melarat dan berpenyakitan di sini, tinggal menanti sisa hidup yang sengsara. Kalau engkau hendak membebaskan aku dari penderitaan ini, aku bersukur. Nah, kau bunuhlah aku, Bu Cin Han!"

Berkata demikian, laki-laki yang lemah itu membusungkan dadanya yang kerempeng dan memandang kepada Cin Han dengan sinar mata sedikitpun tidak memperlihatkan tanda takut.

Melihat keadaan orang itu, yang dianggap musuh besarnya selama ini, dalam keadaan seperti itu, seketika lemaslah rasa tubuh Cin Han. Betapa mungkin dia membunuh atau menyerang orang yang sedang menderita seperti ini? Jangankan masih ada keraguan karena keterangan Nyonya Lui tadi, andaikata tidak ada keraguan akan kesalahan bekas jaksa inipun, agaknya akan sukar baginya untuk membunuh atau menyerang seorang laki-laki lemah seperti ini.

"Sesungguhnya, siapakah yang telah membunuh ayahku?" tanyanya, suaranya terdengar tidak bersemangat lagi dan matanya terus mengamati wajah yang kurus kering itu.

Wajah yang kering itu tersenyum, senyum yang nampak menyeringai seperti orang kesakitan. "Apa bedanya? Bagaimanapun juga, ayahmu telah tewas akibat kesesatan kami berdua, ibumu dan aku. Sebagai seorang pembesar aku terseret oleh 'arus' yang dibuat iblis, seperti para pembesar lain, gila hormat, berfoya-foya dalam kesenangan dan gila perempuan. Dan ibumu, sebagai seorang wanita lemah, gila kehormatan dan gila kedudukan dan kemuliaan.

"Dialah yang meracuni ayahmu, demi untuk dapat bebas sehingga dapat mencapai kemuliaan melalui kedudukanku.... ah, sudahlah. Untuk apa semua itu diceritakan lagi? Yang jelas, ayahmu tewas karena hubungan gelap antara aku dan ibumu. Sekarang ibumu telah tiada, tinggal aku, nah, kalau engkau hendak melampiaskan dendam, bunuhlah aku orang muda!"

Akan tetapi, Cin Han menjadi semakin lemas! Untuk apa dia harus membunuh orang ini? Ayah dari gadis yang diam-diam telah menjatuhkan hatinya? Dan kini dia percaya. Mungkin ibunya seorang wanita lemah dan dalam kelemahannya itu menjadi silau oleh kemuliaan dan mata gelap! Dalam keadaan mata gelap, siapapun dapat melakukan pembunuhan. Dia sendiri, andaikata kini menjadi gelap mata, bukankah dia akan mudah saja membunuh bekas jaksa ini bahkan dengan seluruh keluarganya?

"Tidak....!" Jawaban ini keluar melalui mulutnya dan diapun membalikkan tubuh, berlari keluar dari rumah itu tanpa pamit lagi.

"Bu Cin Han.... kau bunuhlah aku.... bunuhlah untuk mengakhiri penderitaanku lahir batin....." Dia masih mendengar suara bekas jaksa itu berteriak-teriak dan menangis. Suara ini bagaikan mengejarnya dan diapun berlari semakin cepat keluar dari dusun itu.

****

Rumah itu kecil saja, menyerupai gubuk dari kayu dan bambu, terletak di ujung kota Wan-sian, di tempat terpencil dekat muara. Cin Han sejak tadi mengamati rumah ini dari jarak agak jauh. Menurut hasil penyelidikannya, di sinilah kini tinggal Phang Lok, bekas tukang kebun Jaksa Lui yang dahulu memperkosa ibunya di depan matanya, bahkan telah memukul dan menendangnya.

Penglihatan ketika ibunya diperkosa bekas tukang kebun itu di depan matanya yang agak kabur karena dia dalam keadaan setengah pingsan, tak pernah dapat dilupakannya. Peristiwa yang membuat ibunya membunuh diri dengan membenturkan kepalanya pada dinding. Kini timbul keraguan dan kebimbangan di hatinya mengenai bunuh diri ibunya. Karena aib setelah diperkosa Phang Lok, ataukah karena kecewa oleh Lui Taijin diberikan kepada tukang kebun itu?

Dia telah melakukan penyelidikan di Wan-sian, dan dari bekas tetangga keluarga jaksa itu, dia mendengar bahwa Phang Lok masih tinggal di Wan-sian dan kini menjadi tukang membuat tahu, berumah di sudut kota itu. Dan pada siang hari itu, dia berhasil menemukan rumah kecil ini dan kini dia termenung mengamati rumah itu dari jauh.

Beberapa kali dia melihat seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun keluar dari rumah itu, menjemur pakaian dan agaknya melakukan pekerjaan lain, dan pernah pula dia melihat seorang anak laki-laki yang usianya kurang lebih enam tahun. Karena dia tidak pernah melihat Phang Lok, dia lalu menghampiri rumah itu.

Sebuah rumah yang kecil, mirip gubuk, amat miskin. Lantainya dari tanah, dindingnya sebagian dari bambu. Si wanita yang sudah dilihatnya tadi, keluar menyambutnya dengam senyum. Seorang wanita yang berparas lumayan, namun pakaiannya kumal dan miskin.

"Selamat siang, kongcu (tuan muda). Apakah kongcu ingin memesan tahu?" tanyanya, mengira bahwa orang muda ini datang untuk, membeli atau memesan tahu.

Cin Han menggeleng kepalanya. "Apakah di sini rumah Phang Lok?"

Wanita itu memandang dengan heran, lalu mengangguk. "Benar, dan dia adalah suamiku."

Cin Han memandang wanita itu dan anaknya yang kini mendekat dan ikut mendengarkan. "Dan ini anaknya?"

Kembali wanita itu mengangguk. "Ada keperluan apakah kongcu mencari suamiku?"

"Apakah dia berada di rumah? Aku ingin bertemu dengannya," katanya sambil menengok ke dalam rumah dari mana dia mendengar suara gilingan tahu.

Anak itupun lari ke dalam rumah sambil berteriak-teriak. "Ayah ada orang mencari ayah!"

Suara gilingan tahu yang diputar tadi berhenti dan tak lama kemudian muncullah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih. Tubuhnya tinggi besar, mukanya bopeng, dan tubuh yang tidak memakai baju, hanya bercelana hitam panjang itu nampak kuat penuh otot besar melingkar-lingkar, kulitnya penuh keringat. Jelaslah, orang itu Phang Lok!

Dia keluar sambil menyeka keringat dengan sebuah kain yang kumal. Kemiskinan membayang pada keluarga ini. Phang Lok memandang kepada Cin Han dan sedikitpun dia tidak mengenal pemuda ini. Sambil tersenyum kasar dia menghampiri pemuda itu. "Kongcu membutuhkan tahu yang baik?" tanyanya. Agaknya hanya menjual tahu saja, urusan mereka sehari-hari karena kalau tahu mereka itu laku berarti penyambung hidup mereka.

Kalau tadinya hati Cin Han sudah menjadi dingin bertemu dengan isteri dan anak Phang Lok, kini begitu melihat Phang Lok, teringatlah dia kembali akan peristiwa yang terjadi di dalam gubuk taman di mana ibunya diperkosa orang ini dan hatinya menjadi panas sekali. "Phang Lok, lupakah engkau kepadaku?" bentaknya.

Phang Lok terbelalak, memandang penuh perhatian, akan tetapi dia menggeleng kepala dan mengerutkan alis, tanda bahwa dia memang tidak ingat lagi siapa gerangan pemuda yang berdiri di depannya ini.

"Phang Lok, ingatkah engkau akan peristiwa sebelas tahun yang lalu, di dalam gubuk taman keluarga Lui ketika engkau masih menjadi tukang kebun? Apa yang kau lakukan kepada Nyonya Bu dan anaknya laki-laki?"

Sepasang-mata itu semakin terbelalak, kemudian wajah itu berubah pucat sebentar kemudian merah. Agaknya Phang Lok kini telah teringat dan dapat menduga siapa adanya pemuda ini. Perasaan kaget dan khawatir itu ditutupinya dengan keberanian dan kekasarannya. "Ah, kiranya engkau bocah setan itu? Hemm, engkau sudah dewasa sekarang!! Nah, mau apa engkau datang mencari aku?"

Sepasang mata Cin Han mencorong penuh kemarahan. "Phang Lok, manusia keji, perbuatan yang kau lakukan di dalam gubuk itu pantas dihukum dengan hukum mati!!"

"Hemm, siapa yang akan menghukum aku? Hah, bocah sombong! Majikanku memberikan wanita itu menjadi isteriku, apa salahnya kalau aku menidurinya? Engkau mau apa sekarang?"

"Mau mencabut nyawamu!" bentak Cin Han.

Phang Lok adalah seorang kasar yang mengandalkan tenaga besar, maka dengan marah diapun mendahului Cin Han, menerjang maju dengan kedua lengan dibuka, seperti seekor biruang marah melakukan serangan terhadap lawannya.

Namun, tentu saja gerakan serangan ngawur itu dengan mudah dapat dihindarkan oleh Cin Han yang menggeser tubuh ke samping dan sekali kakinya bergerak, kedua tulang lutut Phang Lok sudah tercium ujung sepatu dan tak dapat dicegah lagi tubuh Phang Lob terpelanting! Akan tetapi, orang ini memiliki tubuh yang kuat dan begitu terpelanting, dia meloncat bangun lagi dan menyerang semakin sengit.

Cin Han menyambutnya dengan tamparan dua kali dari kanan kiri dan kembali tubuh tinggi besar itu terjatuh. Ketika dia bangkit lagi, kedua pipinya bengkak dan dari ujung mulutnya keluar darah. Akan tetapi dia tidak menjadi gentar dan terus menubruk lagi, disambut tendangan kaki Cin Han yang membuatnya terpelanting untuk ketiga kalinya. Dengan nekat Phang Lok menyerang terus, akan tetapi dia dihajar oleh Cin Han sampai jatuh bangun dan babak belur.

Tentu saja semakin lama, kepalanya menjadi semakin pusing, tenaganya berkurang dan ketika dia terbangun, dia sempoyongan. Mukanya sudah bengkak-bengkak dan melihat keadaan Phang Lok, isterinya dan anaknya menangisinya dan memeluknya. Isteri Phang Lok lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Cin Han. "Kongcu, ampunilah suamiku.... ampunilah dia...!"

Cin Han berdiri seperti patung, Tadinya dia mengira bahwa Phaog Lok adalah orang yang amat jahat, yang dibenci oleh semua orang. Akan tetapi kini, dia melihat betapa isteri Phang Lok minta-minta ampun untuk suaminya, dan betapa anaknya merangkul dan menangisinya! Dan keadaan mereka demikian miskinnya!

Kalau dia membunuh Phang Lok, lalu bagaimana dengan kehidupan anak isterinya? Pula, orang ini tidak dapat terlalu disalahkan ketika memperkosa ibunya. Bukankah, cocok dengan keterangan Nyonya Lui, ibunya itu diberikan kepada Phang Lok untuk menjadi isterinya? Phang Lok memaksa.menggauli ibunya, sebagai seorang suami menggauli isterinya, dan dia tahu bahwa pada waktu itu Phang Lok dalam keadaan mabok.

"Phang Lok, katakan siapa yang telah membunuh ayah kandungku? Katakan sejujurnya, atau aku tidak hanya akan membunuhmu, akan tetapi juga akan membunuh anak isterimu!"

Seketika pucat wajah Phang Lok mendengar ancaman ini. Dia tahu bahwa pemuda ini lihai bukan main dan dia tidak berdaya melawannya. Dan mendengar ancaman bahwa anak isterinya akan dibunuh, tiba-tiba saja lenyaplah semua keberanian dan kenekatannya. Dia lalu berlutut dan suaranya seperti orang menangis ketika dia berkata.

"Kongcu.... jangan.... jangan bunuh anak isteriku, mereka tidak berdosa... ampunkan mereka...." Dia meratap.

"Katakan sebenarnya, siapa membunuh ayah kandungku!" Cin Han membentak dengan suara mengandung ancaman.

Dengan suara agak gemetar karena masih ketakutan kalau-kalau anak isterinya akan dibunuh pemuda itu, Phang Lok menjawab, "Yang membunuh ayahmu adalah isterinya sendiri. Isterinya ingin menguasai Lui Tai-jin, maka suaminya diracuni. Aku sendiri yang melihat dia membuang sisa racun dalam botol, dan ada beberapa orang pelayan lain. Karena itu, untuk mencegah hal itu tersiar di luaran, Lui Tai-jin memaksa wanita itu... eh, ibumu... untuk menjadi isteriku..."

"Desss...." Cin Han menendang dengan keras dan Phang Lok terlempar, lalu terbanting keras dan pingsan. Cin Han menekan perasaannya. Kiranya memang benar, ibunya yang telah membunuh ayahnya sendiri. Dan agaknya, karena 'tidak' berhasil menguasai Lui Tai-jin dan karena penyesalan mungkin setelah membunuh suami sendiri, kemudian karena diperkosa Phang Lok.

Semua perasaan itu yang membuat ibunya membunuh diri, karena penyesalan, karena kecewa, karena malu. Phang Lok tidak dapat terlalu disalahkan, dan di situ terdapat anak isterinya yang kini meraung-raung menangisi tubuh yang pingsan itu. Diam-diam Cin Han lalu meloncat pergi meninggalkan tempat itu.

Sungguh aneh. Setelah kini dia pergi meninggalkan Wan-sian, hatinya terasa ringan bukan main. Tidak lagi ada dendam membebani batinnya. Ayahnya sudah mati dan yang membunuh adalah ibunya sendiri. Sudahlah. Ibunya juga sudah menerima hukuman atas dosanya dan ibunya sudah meninggal pula. Itupun sudah selesai.

Lui Taijin juga sudah menderita sengsara lahir batin, mungkin karena hukuman Thian, demikian pula Phang Lok hidup dalam keadaan miskin, dan diapun sudah menghajarnya. Semua itu cukup sudah. Tidak ada lagi dendam, tidak ada hutang piutang dan Cin Han merasa betapa ringan hatinya. Hanya ada satu hal yang selalu menjadi ganjalan hatinya, membuatnya gelisah dan bingung. Yaitu kalau terbayang wajah Kim Eng!

Dia selalu menarik napas panjang karena hatinya seperti ditusuk kalau dia teringat kepada Kim Eng. Dia mencinta gadis itu, tidak salah lagi! Akan tetapi kenyataan membuktikan bahwa dia harus berdiri sebagai musuh dari gadis itu. Setidaknya, dia pernah datang untuk membunuh ayah gadis itu! Betapa Kim Eng tentu amat membencinya! Dan inilah yang menyedihkan hatinya, Dibenci oleh gadis yang dicintanya, satu-satunya gadis yang pernah di-cintanya!

Teringatlah dia kepada Kim Cong Bu dan Ciu Lian Hwa. Merekalah dua orang yang terdekat dengannya di saat itu. Bagaimanapun juga, mereka berdua adalah kawan-kawannya ketika mereka masih berada di kuil, walaupun hubungannya dengan mereka tak dapat dibilang akrab. Akan tetapi, bukankah kedua orang teman itu pernah berpamit ketika meninggalkan kuil dan mengatakan agar dia suka mengunjungi mereka di Tong-an? Teringat kepada mereka, dengan hati gembira Cin Han lalu pergi mengunjungi kota Tong-an di Propinsi Secuan selatan. Kota ini cukup besar dan bersih.

Setelah tiba di kota itu, Cin Han memilih sebuah kamar di hotel yang sederhana namun bersih, dengan sewa kamar yang tidak mahal. Dia merasa berterima kasih sekali kepada Hek-bin Lo-han, gurunya yang telah memberinya sekantung uang emas, untuk bekal perjalanan. Tanpa bekal itu, dia tidak tahu, bagaimana dia akan dapat melakukan, perjalanan tanpa mencuri atau merampok yang amat dilarang oleh gurunya.

Pada keesokan harinya barulah dia pergi berkunjung ke rumah Kim Cong Bu. Dia telah melakukan penyelidikan di mana adanya rumah ayah pemuda itu, yaitu Komandan Kim yang amat terkenal di kota Tong-an. Kim ciangkun (Perwira Kim) adalah kepala atau komandan keamanan kota Tong-an, maka ketika dia melakukan penyelidikan, semua orang tahu belaka di mana rumah Kim-ciangkun.

Sampai lama Cin Han berdiri, di luar pintu gerbang pagar tembok rumah gedung yang megah itu. Dia merasa rendah diri dan bimbang melihat betapa gedung itu besar dan megah, dan di depannya terjaga oleh beberapa orang perajurit. Akan tetapi mengingat bahwa Cong Bu dahulu minta kepadanya agar suka berkunjung, diapun membesarkan hatinya dan melangkah menghampiri gardu penjagaan di dekat pintu gerbang. Dua orang perajurit segera keluar menyambutnya dan dengan pandang mata penuh selidik bertanya siapa dia dan apa keperluannya.

"Saya bernama Bu Cin Han, seorang teman dari kongcu (tuan muda) Kim Cong Bu ketika dia masih belajar di dalam kuil di puncak Bukit Mawar. Harap suka sampaikan kepadanya bahwa.saya datang berkunjung seperti yang dipesankan ketika dia meninggalkan kuil."

Cin-Han dipersilakan menanti dan seorang di antara para penjaga itu lalu pergi melapor ke dalam. Tak lama kemudian diapun datang dan Cin Han dipersilakan masuk dan diantar oleh seorang perajurit ke ruangan tamu di mana dia ditinggalkan seorang diri dan dipersilakan duduk menunggu. Cin Han merasa makin rendah diri ketika memasuki ruangan itu. Sebuah ruangan yang luas dan dilengkapi prabot ruangan yang serba mewah, dengan hiasan dinding berupa lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan indah.

Alangkah mewah dan kayanya orang tua Kim Cong Bu, pikirnya. Bahkan tempat itu lebih mewah dari pada gedung milik Jaksa Lui di Wan-sian dahulu. Tentu orang tuanya berkedudukan, tinggi dan amat kaya, pikir Cin Han. Tanpa disadarinya, dia membandingkan keadaan pemuda itu dengan keadaan dirinya sendiri dan dia merasa semakin rendah diri. Dia seorang pemuda yatim piatu, tidak mempunyai tempat, tinggal dan tidak mempunyai apa-apa!! Kalau, tidak gurunya yang memberi bekal uang, tentu dia sekarang telah menjadi seorang jembel, gelandangan tanpa tempat tinggal.

Mengapa kita selalu, membandingkan diri sendiri dengan mereka yang lebih tinggi dari pada kita? Lebih pandai, lebih kaya, lebih tinggi kedudukannya, dan segala yang serba lebih lagi. Membandingkan diri dengan mereka yang berada diatas mendatangkan kecewa, rendah diri, dan juga iri hati.

Kalau kita selalu memandang ke atas, kitapun kehilangan kewaspadaan dan kaki kita mudah tersandung! Mengapa kita tidak mau memandang ke bawah, melihat kenyataan dan melihat betapa di bawah kita masih jauh lebih banyak lagi terdapat mereka yang segalanya serba kurang dibandingkan dengan kita?

Kalau kita selalu memandang ke bawah, maka sudah sepatutnya kita berterima kasih kepada Yang Memberi Hidup, karena keadaan kita masih merupakan berkah. Lebih tepat lagi, dapatkah kita memandang segala sesuatu, menghadapi segala sesuatu tanpa membandingkan dengan apapun juga, melainkan menghadapinya seperti apa adanya?


Suara langkah yang datang dari dalam menyeret kembali Cin Han dari dunia lamunan. Dia mengangkat muka menyambut munculnya, orang dari pintu dalam dengan hati berdebar tegang. Seperti apa sekarang Kim Cong Bu, anak yang dulu agak congkak, tampan, gagah dengan alis yang tebal itu?

Ketika akhirnya si pemilik kaki muncul, Cin Han segera bangkit berdiri dan dia berhadapan dengan seorang pemuda yang dikenalnya karena memang Kim Cong Bu masih seperti dulu. Tampan, gagah, dan bersikap congkak, dengan senyum yang membayangkan keyakinan, akan pentingnya diri sendiri.

"Kim-kongcu...!" Cin Han berseru gembira dan memberi hormat. "Tentu engkau masih mengenalku!"

Sepasang alis yang tebal itu berkerut dan pandang mata itu amat merendahkan. "Ah, kiranya engkau! Bukankah engkau Bu Cin Han yang dulu menjadi kacung di dalam kuil, pembantu dari kepala dapur?"

Nada suara itu masih seperti dulu, amat congkak dan merendahkan, akan tetapi Cin Han sudah mengenal watak Cong Bu, maka dia bersikap biasa walaupun penghormatannya tadi tidak dibalas sama sekali oleh tuan rumah. "Benar, Kim-kongcu. Engkau kira siapa?" kata Cin Han sambil tersenyum.

"Tadi aku bingung menduga-duga siapa adanya orang yang mengaku menjadi sahabatku ketika aku masih belajar di kuil. Habis aku tidak mempunyai sahabat lain kecuali su-moi (adik.seperguruan) Ciu Lian Hwa. Kalau tadi engkau mengaku kacung kuil itu, tentu aku teringat."

Wajah Cin Han berubah agak merah. Kiranya orang ini malah lebih congkak lagi dibandingkan dulu ketika masih kanak kanak! Kalau tahu begini dia akan disambut, tidak sudi dia berkunjung. "Aku.... ah, kukira... tiada salahnya mengaku bekas teman ketika di kuil...."

"Sudahlah! Sekarang katakan, apa maksud kedatanganmu ini? Kalau engkau berniat minta pekerjaan, tentu tidak ada karena engkau tahu, ayahku adalah komandan pasukan keamanan di kota ini dan setiap orang anggauta pasukan keamanan haruslah memiliki ilmu silat yang cukup kuat. Akan tetapi kalau engkau minta bantuan uang, biarlah aku dapat memberimu sedikit, mengingat akan perkenalan kita dahulu." Berkata demikian, Kim Cong Bu memasukkan tangannya ke dalam saku baju, agaknya untuk mengambil uang.

"Tidak, tidak usah!" Cin Han berkata, suaranya agak keras dan alisnya berkerut. "Kim-kongcu, aku datang ke sini bukan untuk minta pekerjaan, minta uang atau minta apapun juga. Aku datang untuk berkunjung karena ketika berpamit dahulu, engkau pernah mengundangku agar berkunjung ke sini. Engkau tidak perlu menghinaku, kalau engkau tidak suka menerima kunjunganku, aku akan pergi sekarang juga!"

Agaknya memang Kim Cong Bu tidak suka akan kunjungan bekas kacung ini, dan kalau dulu dia mengundang, hal itu hanya sebagai basi-basi saja. Dia juga tidak perduli melihat, betapa Cin Han tersinggung. "Cin Han! kita bukan anak-anak lagi dan hubungan antara, kita harus berdasarkan derajat dan tingkat. Aku tidak mungkin bergaul dengan sembarangan orang saja dan tidak dapat menerimamu sebagai tamu. Kalau engkau hendak pergi sekarang juga, pergilah."

Makin merah wajah Cin Han, akan tetapi dia tersenyum. Dia memandang kepada wajah pemuda itu dan ada perasaan iba di dalam hatinya. Kasihan sekali pemuda ini, pikirnya. Kepribadian dan kemanusiaannya sudah hilang, diganti oleh kekuasaan harta dan pangkat, tidak seperti manusia lagi melainkan menjadi boneka dari kekuasaan. Diapun mengangguk dan tanpa banyak cakap lagi dia lalu meninggalkan ruangan itu, keluar melalui pintu gerbang dan cepat-cepat pergi dari tempat itu.

Pengalamannya yang pahit ketika berkunjung ke rumah Kim Cong Bu ini membuat Cin Han merasa enggan dan malu untuk mencoba berkunjung ke rumah Ciu Lian Hwa. Gadis itu dahulu memang merupakan seorang anak yang baik hati dan halus budi. Akan tetapi kini tentu sudah menjadi seorang gadis dewasa dan gadis itu puteri Ciu Tai-jin, kepala daerah Tong-an.

Kedudukan orang tua gadis itu lebih tinggi dari pada kedudukan orang tua Kim Cong Bu, maka bukan hal aneh kalau keluarga Ciu itu tentu bersikap lebih congkak lagi! Dan dia hanya ingin berkunjung, tanpa maksud apa-apa maka sungguh tidak sepadan dengan kemungkinan bahaya menerima penghinaan lagi!

Tidak, dia tidak akan berkunjung kepada Ciu Lian Hwa dan hubungannya dengan kedua orang bekas teman di kuil itu akan dihabiskan sampai di situ saja. Biarlah aku akan mengenang mereka sebapai anak-anak di kuil, murid-murid Thian Cu Hwesio ketua kuil Siauw-lim-si di puncak Bukit Mawar, pikirnya. Legalah hatinya dan urusan itupun sudah lewat dan lepas dari batinnya.

Batin yang bebas tidak akan menyimpan pengalaman yang lalu untuk dijadikan kenangan indah atau kenangan buruk. Penyimpanan pengalaman masa lalu ini hanya mendatangkan ikatan. Batin yang bebas melepaskan segala hal yang dialami dan menghabiskan di saat itu juga. Tidak mengenang masa lampau, tidak membayangkan masa depan, melainkan hidup dari saat ke saat.

Setelah meninggalkan rumah keluarga Kim dan sekaligus meninggalkan apa yang dialami di rumah Kim Cong Bu, pada siang harinya Cin Han memasuki sebuah rumah makan untuk makan siang. Dia duduk menghadapi meja kosong dan memesan makanan dan air teh. Makanan sederhana saja, nasi dengan dua macam masakan sayur tanpa daging. Kehidupan di kuil selama belasan tahun membuat Cin Han tidak begitu suka daging walaupun dia tidak pantang seperti para pendeta di kuil. Juga dia tidak biasa minum arak, maka tehpun cukup baginya.

Beberapa orang tamu yang mejanya tidak jauh darinya, saling pandang dan tersenyum mendengar pesanan pemuda sederhana itu. Masakan tanpa daging, dan minumnya air teh! Hampir mereka mentertawakannya. Tentu pemuda yang sedang kosong kantungnya, pikir mereka. Tentu saja Cin Han tahu bahwa banyak mata memandang kepadanya dengan ejekan, dan banyak senyum mengejek ditujukan kepadanya. Namun dia tidak perduli.

Baru saja masakan dan nasi dihidangkan oleh seorang pelayan yang kurang sopan karena pelayan inipun tidak dapat menghormati tamu yang memesan makanan murahan seperti yang dilakukan Cin Han, tiba-tiba masuklah dua orang laki-laki. Mereka itu celingukan, memandang ke sana-sini, kemudian langsung saja mereka menghampiri Cin Han. Di meja pemuda itu memang terdapat empat buah bangku. Yang dipakai hanya sebuah oleh Cin Han dan kini dua orang itu tanpa permisi dulu duduk begitu saja di depan Cin Han!

Pemuda ini mengerutkan alisnya, akan tetapi tidak mengatakan sesuatu dan dapat menduga bahwa dua orang ini memang mencari gara-gara. Meja banyak yang kosong di situ, kenapa mereka duduk di mejanya? Dia menuangkan air teh dari poci ke dalam cawan tehnya.

"Ha-ha, toako. Orang desa berani masuk restoran, sungguh tak tahu diri sekali, ya?" kata seorang di antara mereka yang kumisnya tebal.

"Benar, seorang kacung berlagak menjadi tuan muda, mana pantas?" kata orang ke dua yang matanya sipit.

Cin Han merasa bahwa mereka menyindirnya dan dia terheran. Bagaimana mereka ini bisa tahu bahwa dia bekas kacung? Akan tetapi dia pura-pura tidak mengerti dan mulai makan.

"Brakkkk....!" Si kumis tebal menggebrak meja dan dua mangkok sayur itu tumpah, juga cawan teh itu miring dan tumpah.

"Kalian mengapa bersikap seperti ini? Apa kesalahanku?" tanya Cin Han, masih sabar.

"Habis, engkau mau apa? Mau marah? Ha-ha-ha!" Si mata sipit, kini menggerakkan kedua tangannya menampar dan semua makanan dan poci teh di atas meja di depan Cin Han terguling dan isinya berhamburan di atas meja.

Cin Han bangkit berdiri, alisnya berkerut. "Hemm, kalian sungguh keterlaluan menghina orang katanya. "Sebenarnya, mengapa kalian melakukan hal ini kepadaku?"

"Karena engkau petani desa tolol hendak berlagak!" kata si kumis tebal.

"Kacung busuk mau makan di restoran ha-ha!!" kata si mata sipit dan tangan kirinya menampar ke arah pipi Cin Han. Pemuda ini menarik tubuh bagian atas ke belakang sehingga tamparan itu luput dan diapun melangkah mundur.

Melihat betapa tamparannya tadi luput, si mata sipit menjadi penasaran dan marah. "Engkau berani melawan, ya?" bentaknya dan diapun menerjang dengan pukulan ke arah kepala Cin Han, sedangkan si kumis tebal juga sudah mengirim tendangan. Dua serangan ini terjadi dari kanan kiri menyerang Cin Han yang hanya melangkah mundur.

"Tuk!! Tukk!" Semua tamu dan para pelayan di restoran itu melihat betapa tiba-tiba saja gadis itu muncul, menyambar sepasang sumpit di atas meja dan menggunakan sumpit, di kedua tangannya untuk menyambut pukulan dan tendangan yang menyerang Cin Han tadi. Kaki itu tertotok sumpit, pergelangannya sedangkan pergelangan tangan si mata sipit juga tertotok sumpit.

"Aduhhh....!"

"Aughh, kurang ajar....!"

Akan tetapi, pada saat itu, gadis yang berpakaian indah itu sudah menggerakkan kakinya, cepat sekali dan dua orang itupun jatuh bertekuk lutut karena lutut mereka tercium ujung sepatu yang membuat kaki mereka lumpuh seketika.

Ketika itu, ramailah orang-orang di dalam restoran berkata.

"Ciu Sio-cia (Nona Ciu)....!"

Si kumis tebal dan si mata sipit itu mengangkat muka dan ketika mereka berdua melihat siapa gadis yang merobohkan mereka itu, seketika wajah mereka menjadi pucat sekali dan dengan kedua kaki masih berlutut kini mereka mengangkat kedua tangan kedepan dada memberi hormat dan mengangguk-angguk, membungkuk-bungkuk,

"Ciu Sio-cia, harap ampunkan kami....." kata si kumis tebal.

"Ciu Sio-cia, ampunkan kami akan tetapi kami.... kami tidak merasa bersalah terhadap siocia...." sambung si mata sipit.

"Hah, enak saja minta ampun. Kalian tidak merasa bersalah, ya? Kalian sudah menghina dan mengganggu orang yang tidak berdosa dan kalian masih mengatakan tidak merasa bersalah? Hayo jawab atau haruskah kupatah patahkan semua tulang kaki dan tangan kalian?"

"Aduh, ampunkan kamii" seru si mata sipit.

"Siocia, kami mengaku salah...." kata sikumis tebal juga cepat mengaku dengan tubuh menggigil ketakutan. "Tapi, dia...., dia hanya seorang kacung yang...."

"Biar dia kacung atau pengemis sekalipun, tanpa dosa tidak boleh dihina sembarangan seolah-olah di kota ini tidak ada lagi hukum! Padahal kulihat saudara ini tadi tidak mengganggu siapa-siapa...."

Pada saat itu, si gadis mengangkat muka memandang Cin Han dan kata-katanya terhenti, matanya terbelalak. "Eh, aku seperti mengenalmu...."

Cin Han terpaksa mempeikenalkan diri dan diapun menjura dengan sikap hormat, "Nona Ciu Lian Hwa, terima kasih atas pertolonganmu."

Wajah yang manis itu berseri dan matanya terbelalak. "Wah, engkau ini.... bukankah engkau anak di kuil itu.... siapa namanya... eh, Cin Han, bukan...?"

Jilid sebelumnya,

Jilid selanjutnya,
DENDAM MEMBARA JILID 06
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.