Dendam Si Anak Haram Jilid 14

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Dendam Si Anak Haram Jilid 14
Sonny Ogawa

Dendam Si Anak Haram Jilid 14

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

“SINCAI...! Di dunia bermunculan orang-orang muda yang berilmu tinggi! Orang muda, apakah engkau murid Pat-Jiu Lo-Koai juga?”

Bhe Kwan Bu merasa tidak enak sekali bahwa sekarang agaknya ia terpaksa harus menentang orang-orang Bu-Tong-Pai yang terkenal sebagai perkumpulan silat besar dan menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Ia cepat mengangkat kedua tangan di depan dadanya terhadap Tosu tua itu dan berkata, “Tidak keliru pertanyaan Totiang. Saya memang bernama Bhe Kwan Bu dan murid termuda Suhu Pat-Jiu Lo-Koai.”

“Heh-heh, sungguh bagus sekali Pat-Jiu Lo-Koai! Beginikah dia mendidik murid-muridnya? Menjadi penjilat golongan penindas. perusak tata susila, lancang mencampuri urusan dalam perkumpulan lain?”

“Harap Totiang suka maafkan. Suhu tidak ikut-ikut dalam hal yang dilakukan murid-muridnya. Karena itu harap jangan membawa-bawa nama Suhu karena hal itu amat tidak adil. Setiap perbuatan yang dilakukan seseorang adalah tanggung jawab si orang itu sendiri, tidak semestinya menyalahkan guru, atau orang tua, maupun langit dan bumi!”

Loan Khi Tosu memandang tajam lalu menggeleng-gelengkan kepala dan berkata perlahan. “Orang muda yang menjadi keras karena banyak menderita! Bhe Kwan Bu apakah dengan pendapatmu itu kau mau mengatakan bahwa perbuatanmu sekarang ini pun atas tanggung jawabmu sendiri?”

“Tentu saja, Totiang. Segala yang saya lakukan akan saya pertanggungjawabkan sendiri.” jawab Kwan Bu dengan tenang.

“Bagus, Pinto (aku) bertanya demikian hanya untuk menjaga agar kelak Pat-Jiu Lo-Koai tidak akan menganggap Pinto seorang tua tak tahu diri menindas yang muda. Nah, Bhe Kwan Bu, sekarang katakanlah apa kehendakmu menghadang rombongan Bu-Tong-Pai sekarang ini?”

“Maaf, Totiang.” Sesungguhnya diantara Bu-Tong-Pai dan saya tidak ada permusuhan sesuatu, juga saya tidak sekali-kali berani mencari permusuhan dengan Bu-Tong-Pai. Akan tetapi, karena melihat bahwa saudara Kwee Cin menjadi tawanan totang, maka terpaksa saya memberanikan diri untuk mohon kebebasan bagi saudara Kwee Cin itu.”

“Susiok, harap jangan terlalu merendahkan diri melayani seorang bodoh sombong macam ini!” Tiba-tiba Hek I Kim Hiap Lauw Tik Hiong berkata, kemudian menoleh kepada Kwan Bu membentak.

“Heh bocah sombong! Bicaramu halus akan tetapi mengandung kepalsuan. Kwee Cin ini adalah seorang anak murid Bu-Tong-Pai, Karena pergaulannya dengan orang seperti engkau maka dia sampai berani menyeleweng mengkhianati perguruannya sendiri dan menjadi murid murtad. Kami dari Bu-Tong-Pai kini turun tangan terhadap anak murid sendiri, ada sangkut pautnya apakah dengan engkau? Engkau terang-terangan menghadang dan hendak merampas anak murid Bu-Tong-Pai, masih berkata dengan halus tidak ingin bermusuhan. Masih bocah sudah suka bicara plintat-plintut macam ini. Tidak akan malukah yang menjadi gurunya?”

Wajah Kwan Bu menjadi merah sekali. Tentu saja dia sendiripun tahu bahwa dalam hal ini, mengenai Kwee Cin, dia berada di pihak yang salah. Memang tidak patut sekali kalau ia mencampuri urusan dalam partai besar seperti Bu-Tong-Pai.

“Kwan Bu, dan juga engkau, nona, kuminta dengan sangat sukalah mundur saja dan jangan mencoba mencampuri urusan Bu-Tong-Pai. Aku ditangkap oleh susiok-kong karena memang bersalah dan aku bersedia mengakui kesalahanku di depan pengadilan Bu-Tong-Pai. Harap jiwi (kalian berdua) jangan melibatkan diri. Terutama engkau, nona Giok Lan..?”

Biarpun mulutnya berkata demikian namun baik Kwan Bu maupun Giok Lan maklum bahwa di dalam hatinya Kwee Cin sengaja mengeluarkan kata-kata demikian hanya untuk melindungi mereka berdua karena agaknya Kwee Cin khawatir bahwa bentrokan antara mereka dengan pihak Bu-Tong-Pai yang diperkuat oleh Tosu itu amat membahayakan keselamatan Kwan Bu dan Giok Lan.

Kalau Kwan Bu menjadi merah mukanya karena merasa salah, sebaliknya Giok Lan menjadi marah sekali mendengar ucapan Lauw Tik Hiong yang kasar. Ia melangkah maju, menudingkan telunjuknya ke arah muka kakek Bu-Tong-Pai itu sambil berkata,

“Eh, kau orang tua kalau bicara seenak perutmu sendiri saja! Aku mendengar julukanmu adalah Hek I Kim Hiap. Pendekar Pedang Baju Hitam, ternyata yang hitam bukan hanya bajumu, melainkan juga pikiran dan hatimu. Sedangkan julukan pendekar hanya menjadi hiasan belaka untuk menjual tampang. Aku mendengar pula bahwa Bu-Tong-Pai adalah perkumpulan orang-orang gagah yang menyebut diri pendekar-pendekar.

"Sekarang aku hendak bertanya, apa sih artinya pendekar kalau sikapnya seperti kalian ini? bukankah pendekar itu orang-orang gagah yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan yang selalu turun tangan membela orang-orang lemah yang tak berdosa tertindas oleh mereka yang kuat dan sewenang-wenang?

"Bukankah pendekar itu orang yang tidak mengingat akan jasanya, melainkan selalu ingat akan budi orang lain. Kalian hendak mencelakai dan menghina seorang wanita seperti aku, hanya karena kebetulan aku ini adik kandung mendiang kakakku Phoa Siok Lun. Kalian juga memusuhi kakak Kwan Bu hanya karena menuduh dia bersekongkol dengan orang-orangnya kerajaan tanpa penyelidikan lebih dahulu!”

“Perempuan rendah bermulut lancang!” Hek I Kim Hiap membentak dan begitu tangannya bergerak sebatang pedang telah berada di tangan itu dan sinar terang dari pedang yang berkelebat menyambar menyilaukan mata. Sinar pedang itu berkelebat ke arah Giok Lan.

“Trannggg..!!” Hek I Kim Hiap Lauw Tik Hiong terkejut sekali dan cepat menarik kembali pedangnya.

“Trakkkk!..”Juga Kwan Bu menarik pedangnya yang tadi menangkis pedang Hek I Kim Hiap akan tetapi pada detik berikutnya telah membalik oleh benturan tongkat bambu Tosu tua yang entah kapan tahu-tahu telah menggerakkan tongkat bambunya itu dengan kekuatan dahsyat sehingga membuat tangan pemuda ini tergetar hebat.

“Siancai... kulihat pedangmu bersinar merah...?” Lian Khi Tosu mengangguk-angguk dan memandang ke arah gagang pedang Kwan Bu yang kini telah menyimpan kembali pedangnya.

Biarpun tangkisan bambu itu tadi mengejutkannya, namun gerakan Kwan Bu mencabut pedang, menangkis dan menyimpannya kembali amatlah cepatnya sehingga yang tampak tadi hanyalah sinar merah seperti darah. Kalau Tosu tua itu dapat mengenal pedang itu, hal ini membuktikan betapa tajam pandang mata kakek tokoh Bu-Tong-Pai ini, hingga Kwan Bu juga diam-diam menjadi kagum.

“Orang muda, bukanlah pedangmu itu pedang Suhumu, pedang penuh dosa bergelimang darah manusia milik Pat-Jiu Lo-Koai yang disebut Toat-Beng-Kiam?”

Panas juga hati Kwan Bu mendengar betapa pedangnya, pedang pemberian Suhunya yang dianggapnya pedang keramat, dianggap oleh Tosu ini pedang penuh dosa dan bergelimang darah manusia. Maka dengan suara tenang dan sikap dingin ia menjawab. “Tidak salah Totiang. Pokiam (Pedang Pusaka) Toat-Beng-Kiam pemberian Suhu ini adalah pedang yang bergelimang dengan darah manusia-manusia berdosa!”

“Hemm...!” Tosu itu mengelus jenggotnya. “Kalau Pat-Jiu Lo-Koai sudah memberikan pedangnya padamu, tentu kepandaianmu sudah boleh juga,” ia menoleh pada Lauw Tik Hiong dan berkata dengan suara menegur. “Tidak perlu mempergunakan kekerasan sebelum Pinto bicara,”

“Hik-hik, tampak belangnya sekarang. Masih ada pendekar gagah demikian kejam, darah dingin begitu saja hendak memenggal kepala seorang gadis tanpa memberi gadis itu kesempatan untuk bicara? Eh... pendekar pedang berpakaian dan berhati hitam! Apakah kau takut kalau rahasia busukmu kubongkar di depan paman gurumu?”

“Nona muda, mulutmu lebih tajam dari pada pedang pemberian Suhu ini,” kata Loan Khi Tosu sambil memandang Giok Lan, “Tidak ada rahasia busuk pada anak murid Bu-Tong-Pai yang terdiri dari pada patriot-patriot sejati. Hayo katakan apakah maksudmu tadi menyatakan bahwa anak murid Bu-Tong-Pai hendak menghina seorang wanita muda seperti engkau?”

“Totiang yang baik. Totiang adalah seorang tua yang pantas menjadi kakekku, amatlah baik kalau aku tidak bicara dan Totiang tidak percaya. Karena itu, harap kau orang tua suka bertanya kepada murid keponakanmu ini, si pendekar pedang berjantung hitam. Apakah yang ia lakukan terhadap aku ketika dia berhasil menawan aku dan menawan pula Ibu kakak Kwan Bu. Mari kita dengarkan bersama dan harap Totiang yang bijaksana dapat mempertimbangkan, apakah patut dia memakai julukan pendekar dan menganggap kami ini orang-orang jahat dan rendah.”

“Nona Phoa... kuminta, harap nona meninggalkan tempat ini, demi keselamatanmu sendiri...!” Kwee Cin kembali berkata dan Tosu tua itu menjadi marah lalu membentak,

“Tutup mulutmu, murid-murtad! Kiranya engkau tergila-gila lagi kepada gadis bermulut tajam ini!”

Kwee Cin menundukkan mukanya yang menjadi merah, akan tetapi tiba-tiba ia mengangkat mukanya memandang wajah kakek guru itu dengan penuh keberanian dan terdengarlah suaranya lantang, “Benar, susiak-kong. Saya mencinta nona ini. Adakah hal melanggar peraturan Bu-Tong-Pai?”

Sunyi senyap setelah pemuda itu mengeluarkan isi hatinya dengan ucapan singkat ini. Bahkan Giok Lan sendiri yang biasanya lincah jenaka dan pandai berkelakar, penuh keberanian, kini memandang pemuda tawanan itu dengan muka sebentar pucat sebentar merah.

Para murid Bu-Tong-Pai memandang gelisah antara pemuda tawanan itu dan Giok Lan, sedangkan Loan Khi Tosu mengelus jenggotnya dengan pandang mata melamun. Teringat ia akan peristiwa yang menimpa dirinya di masa mudanya. Dahulu, Bu-Tong-Pai merupakan perkumpulan yang dipimpin oleh para Tosu dan ketika ia masih muda, terdapat peraturan bahwa para anak murid Bu-Tong-Pai tidak boleh jatuh cinta kepada wanita, apalagi menikah.

Dan dia telah bertemu dengan seorang gadis, jatuh cinta kepada gadis itu, akan tetapi ditentang oleh pimpinan Bu-Tong-Pai sehingga hubungan cinta kasih mereka terputus. Inilah sebabnya, setelah menduduki tempat sebagai wakil ketua, ia bersama Suhengnya, Thian Khi Tosu kini menjadi ketua Bu-Tong-Pai, telah menghapuskan peraturan itu dan anak murid Bu-Tong-Pai, boleh menikah, dan tentu saja boleh jatuh cintai.

“Tidak, dalam hal itu engkau tidak melanggar peraturan.” katanya perlahan seolah-olah berkata kepada dirinya sendiri. Kemudian ia menoleh ke arah Hek I Kim Hiap Lauw Tik Hiong dan berkata. “Lauw Tik Hiong, coba ceritakan, apalagi yang kalian lakukan terhadap nona ini ketika dia kalian tawan?”

“Susiok, teecu (murid) sama sekali tidak melakukan hal-hal yang rendah, melakukan sesuai dengan tugas teecu sekalian sebagai pejuang dan sebagai anak murid Bu-Tong-Pai yang menjunjung kegagahan. Karena Kwan Bu telah menyebabkan banyak pejuang tewas maka untuk membekuknya dengan mudah, terpaksa teecu menawan Ibunya yang sama sekali tidak teecu ganggu dan memaksanya menyerahkan diri.

"Adapun mengenai diri gadis ini, karena dia adalah adik kandung Phoa Siok Lun, teecu tawan pula dan setelah Kwan Bu menyerahkan diri, juga akan teecu bebaskan. Tentu saja tidak membebaskannya begitu saja sebelum memberi hukuman yang layak mengingat akan kejahatan kakaknya. Akan tetapi teecu sama sekali tidak melukainya.”

Loan Khi Tosu memandang Giok Lan sambil berkata, “Nona, biarpun mulutmu tajam melancarkan fitnah, akan tetapi Pinto tidak melihat sesuatu kesalahan dalam perlakuan murid-murid Bu-Tong-Pai terhadap dirimu.”

“Apa? Wah, kalau cara Totiang mengadili perkara seperti ini, hanya mendengarkan keterangan palsu sebelah pihak, dunia ini akan penuh dengan perkara-perkara penasaran! Eh. Hek-sim Kiam-hiap (Pendekar Pedang Berhati Hitam), mengapa engkau tidak menceritakan betapa ketika aku tertawan dan dibelenggu engkau menggunakan pedangmu yang lihai itu untuk merobek bajuku, dengan matamu beringas dan liar penuh kecabulan?

"Mengapa tidak kau ceritakan betapa ujung pedangmu sudah siap merobek pula celanaku untuk menelanjangi bulat-bulat diriku? Kalau tidak muncul saudara Kwee Cin yang merasa muak menyaksikan perbuatan tokoh-tokoh Bu-Tong-Pai yang hina dan kemudian dengan siasat membebaskan aku dan kakak Kwan Bu siapa yang akan menanggung bahwa engkau akan melakukan hal yang lebih menjijikan lagi? Hayo jawab!”

Wajah Lauw Tik Hiong menjadi pucat dan para murid Bu-Tong-Pai menundukkan muka mereka yang menjadi merah sekali. Loan Khi Tosu mengerling ke arah murid-murid itu dan Tosu ini menggerak-gerakan alisnya, matanya mengeluarkan sinar merah,

“Lauw Tik Hiong, benarkah apa yang dikatakan nona ini?” Pertanyaan Tosu itu terdengar halus dan tenang, namun mengandung suara dingin yang mengerikan sehingga pendekar pedang berbaju hitam itu menjadi makin pucat.

Kakek ini, yang usianya sudah enam puluh tahun dan yang sesungguhnya melakukan hal atas diri Giok Lan semata-mata berdasarkan kemarahan dan sakit hatinya terhadap Siok Lun, merasa tersudut oleh cara gadis itu bicara. “Susiok, teecu tidak akan menyangkal akan terjadinya hal itu. Akan tetapi teecu percaya bahwa susiok akan dapat menyelami perasaan teecu mengingat akan kejahatan kakak kandungnya terhadap wanita tawanan, Dalam kemarahan hati, teecu melakukan hal itu semata-mata untuk membalas penghinaan yang dilakukan kakaknya terhadap banyak wanita. Teecu hanya ingin membikin malu dia...”

“Wah, lidah tak bertulang! Orang she Lauw, mengapa engkau tidak mengatakan bahwa memang engkau yang sudah tua ini masih berhati muda dan kotor, bahwa memang ingin melihat aku bertelanjang di depan matamu?”

Kemarahan Lauw Tik Hiong tidak dapat ia tahan-tahan lagi. Matanya terbelalak dan sambil memaki, “Perempuan hina!” la sudah menerjang maju dengan pedangnya, cepat sekali seperti serangan pertama tadi.

“Murid celaka!” Loan Khi Tosu berseru, tongkat bambunya bergerak ke depan dan terdengar bunyi “Krek! Krek!” disusul dengan robohnya tubuh Lauw Tik Hiong yang pedangnya terlempar dan lengan kanannya patah bagian tulangnya di dua tempat! Kakek ini memegangi lengan kanan dengan tangan kirinya, wajahnya pucat ketika memandang kepada susioknya,

“Angkat dia ke pinggir!” seru Loan Khi Tosu kepada murid-murid yang lain.

Para murid Bu-Tong-Pai segera menggotong tubuh Lauw Tik Hiong ke pinggir dan berusaha mengobati tangan yang patah-patah itu. Kini dengan sikap angkuh Loan Khi Tosu menghadapi Kwan Bu dan Giok Lan yang masih terkejut menyaksikan bahwa tokoh Bu-Tong-Pai ini memberi hukuman secara tegas sekali kepada muridnya, Suara kakek ini dingin ketika berkata.

“Kalian telah melihat sendiri betapa Bu-Tong-Pai mengunakan disiplin yang keras terhadap murid-muridnya yang bersalah, melawan dan berkhianat kepada Bu-Tong-Pai, dia harus dihukum yang akan dijatuhkan sendiri oleh ketua kami, nah, Pinto menganggap urusan ini selesai. Kalian boleh pergi dari sini, asal kelak tidak menghalangi perjuangan, Pinto akan melupakan nama kalian,”

“Saudara Kwee Cin harus dibebaskan!” Seru Giok Lan dan wajah gadis ini berubah pucat ketika ia memandang ke arah Kwee Cin. Pemuda itu secara terang-terangan menyatakan cinta kepadanya, dan harus ia akui bahwa pemuda itu telah pula menolongnya. Sekarang pemuda itu menghadapi bencana, bagaimana mungkin ia mendiamkan saja? Ketika melihat betapa mata pemuda itu memandangnya dengan penuh rasa terima kasih dan amat mesra, wajah gadis ini menjadi merah sekali dan ia menundukkan mukanya.

Kwan Bu menggerakkan kakinya maju selangkah menghadapi kakek Bu-Tong-Pai itu. Sikapnya tetap menghormat dan tenang. Sungguhpun dia tahu bahwa sekali ini dia harus berani menentang segala bahaya untuk menyelamatkan Kwee Cin. Ia tahu bahwa yang ia hadapi bukan orang sembarangan, dan bahwa dalam urusan ini seolah-olah dia menjadi pelanggar peraturan partai besar, juga dia mencampuri urusan dalam Bu-Tong-Pai. Akan tetapi, mengingat akan kebaikan-kebaikan Kwee Cin, dia siap untuk mengorbankan apa saja untuk menolong sahabatnya itu.

“Maaf, Totiang. Saya mengerti bahwa urusan saudara Kwee Cin dengan Totiang adalah urusan antara guru dan murid dalam lingkungan Bu-Tong-Pai dan bahwa tidak ada orang lain boleh mencampurinya. Saya pun tidak akan berani mencampuri urusan dalan dari Bu-Tong-Pai. Akan tetapi, hendaknya Totiang juga memahami keadaan saya sebagai seorang yang tahu akan budi, tahu pula bahwa budi harus dibalas, karena inilah pendirian seorang yang menjunjung tinggi kegagahan,”

“Susiok. harap jangan sampai terkena bujuk bocah itu!” Tiba-tiba Lauw Tik Hiong berseru keras. Pendekar Pedang Baju Hitam ini sudah bangkit berdiri, lengan kanannya sudah dibalut dan diobati dengan obat penyambung tulang. Wajahnya masih pucat akan tetapi pandang matanya bersinar-sinar penuh kemarahan terhadap Kwan Bu dan Giok Lan.

“Teecu mengenal betul dia ini, banyak mendengar tentang dia. Dia dahulu adalah kacung Sute Bu Keng Liong dan menurut berita yang teecu dengar. Dia ini adalah seorang anak haram! Seorang anak haram mana ada harga untuk berunding dan berdebat dengan susiok? Dia seorang anak haram yang durhaka, tidak mengenal budi. Setelah sejak bayi bersama Ibunya sampai besar setiap hari makan nasi Bu-Sute. Akhirnya setelah dewasa dia yang menyebabkan kematian Bu-Sute dan banyak pejuang gagah lainnya.

"Siapa yang menyebabkan kematian Koai Kiam Tojin Ya Keng Cu? Dia! Siapa yang menyebabkan kematian Sin-jiu Kim-wan Ya Thian Cu, Ban-Eng-Kiam Yo Ciat, dan banyak lagi pejuang-pejuang gagah perkasa? Dia inilah! Dia yang bersama Suhengnya dan Sucinya, si keparat Phoa Siok Lun dan Liem Bi Hwa, bersekongkol dengan para Panglima pengawal Istana, menyergap tempat berkumpulnya para pejuang.

"Susiok dia anak karam yang hina dina, pembunuh para pejuang dengan pengkhianatnya, terutama pembunuh Sute Bu Keng Liong yang telah melepas budi kepada dia dan Ibunya! Biarkan teecu membunuhnya. Dengan tangan kiri, teecu masih sanggup untuk menghadapinya demi menjaga nama baik Bu-Tong-Pai!”

Loan Khi Tosu tertegun melihat sikap murid keponakannya ini dan diam-diam ia merasa bangga. Memang, anak murid Bu-Tong-Pai amat gagah perkasa dan tidak takut mati. juga mengenal dan taat akan peraturan sehingga murid yang sudah tua ini pun sama sekali tidak mengeluh ketika tulang tangannya dipatahkan sebagai hukumannya.

“Bohong! Tidak benar...!” Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan berkelebat bayangan manusia meloncat ke tempat itu. Kwan Bu menahan napas ketika mengenal bayangan ini, yang bukan lain adalah Bu Siang Hwi! Gadis ini amat menyedihkan keadaanya. Pakaiannya dan rambutnya kusut. Wajahnya pucat dan masih ada tanda-tanda air mata di pipinya, bahkan kini ia memandang Kwan Bu dengan sepasang mata merah dan basah.

“Bu-Siocia (nona Bu)... harap jangan mencampuri...?”

“Kwan Bu, kesalahanku terhadap dirimu sudah bertumpuk-tumpuk. Biarlah kubuka hari ini...” Siang Hwi terisak. Kemudian ia menghadapi para anak murid Bu-Tong-Pai sambil berkata. “Locianpwe sekalian adalah tokoh-tokoh Bu-Tong-Pai sedangkan saya sendiri puteri mendiang Ayah Bu Keng Liong secara tidak langsung juga murid Bu-Tong-Pai. Biarpun saya tidak mengerti betul peraturan Bu-Tong-Pai, akan tetapi saya tidak berani berbohong kepada perguruan Ayah saya sendiri.”

Loan Khi Tesu mengelus jenggotnya. “Siancai... siancai... anak baik, jadi engkau ini puteri mendiang Bu Keng Liong? Coba ceritakan jangan ragu-ragu apa yang hendak kau lakukan dengan kedatanganmu ini.”

“Saya tadi telah mendengar apa yang dituduhkan Supek Lauw Tik Hiong kepada Kwan Bu. Saya tahu bahwa Supek juga hanya mendengar dari lain orang akan tetapi sesungguhnya semua yang dikatakan ini adalah fitnah yang dijatuhkan oleh orang-orang ini atas diri Kwan Bu dan sayalah orangnya yang mengetahuinya sendiri, yang akan dapat menjelaskan bahwa semua itu fitnah belaka.”

Loan Khi Tosu mengerutkan keningnya, “Apa jaminannya bahwa yang hendak kau ceritakan ini adalah hal yang sebenarnya bukan sebuah kebohongan lain yang semata kau keluarkan untuk menolongnya?”

“Jaminannya adalah nyawa saya. Locianpwe. Kalau saya mengeluarkan kata-kata bohong, biarlah saya menyerahkan nyawa saya dan rela untuk dibunuh!”

Kwan Bu memandang dengan mata terbelalak, wajahnya berubah dan pandang matanya sayu, jantungnya berdebar. Benar-benarkah ini Bu Siang Hwi, gadis yang dahulu sering kali mendatangkan rasa perih di hatinya yang seringkali memandang rendah dan menghinanya. Inikah Bu Siang Hwi, yang memandangnya sebagai seorang anak haram, sebagai seorang bujang, atau kacung? Sekarang hendak membelanya dengan taruhannya nyawa! Hampir ia tidak dapat mempercayai mata dan telinganya sendiri.

Sementara itu, Lauw Tik Hiong dan para anak murid Bu-Tong-Pai yang lain tidak berani mengeluarkan kata-kata karena yang bicara sekali ini adalah puteri Bu Keng Liong sendiri, bukan pihak musuh mereka. Semua tahu bahwa Bu Keng Liong tewas sebagai seorang pejuang, dan bahwa gadis ini pun seorang pejuang pula. Semua mata memperhatikan Siang Hwi, semua telinga ditujukan untuk mendengar kata-katanya, kecuali Kwee Cin dan Giok Lan yang saling bertukar pandang.

Kwee Cin dengan pandang mata mesra. Sedangkan Giok Lan dengan pandang mata bingung dan jantungnya berdebar tidak karuan! Hening keadaan di situ, kemudian terdengar lagi suara Siang Hwi yang telah ditunggu-tunggu banyak telinga.

“Makian yang dilontarkan kepada Kwan Bu bahwa dia seorang anak haram yang hina hanya akan dikeluarkan oleh mulut orang yang lebih hina lagi! Saya sendiri telah mengucapkan makian itu Locianpwe. Bahkan sebagai anak haram, dan saya menyesal sekali, kini terbuka mata saya bahwa manusia boleh menyebutnya anak haram, namun tidak haram di mata Tuhan! Dia anak yang tidak berdosa, yang tidak tahu apa-apa.

"Ibunya pun seorang wanita yang bersih, yang melahirkan dia karena kekejian seorang pria yang memperkosanya. Dapatkah kita menyalahkan Ibunya atau si anak sendiri yang terlahir karena kehendak Thian pula, melalui perbuatan keji orang lain? Tidak Locianpwe, kalau Lauw-Supek menganggap dia sebagai seorang anak haram yang terlalu rendah untuk berunding dengan Locianpwe, maka Supek keliru dan pandangannya dangkal sekali!”

Debar pada jantung Kwan Bu makin cepat dan diam-dia ia merasa terharu, juga girang sekali. Sungguh tidak pernah disangkanya bahwa ucapan seperti ini akan keluar dari mulut gadis yang biasanya sombong dan angkuh ini, yang lain-lain juga diam saja, diam mempertimbangkan ucapan gadis itu dan karena mereka semua terdiri dari orang-orang gagah yang memiliki sifat adil, maka diam-diam mereka pun dapat membenarkan pendapat itu.

Loan Khi Tosu mengangguk-angguk. “Hemm, omonganmu bukan semata membela pemuda itu, akan tetapi mengandung kebenaran, lanjutkanlah.”

“Hal itu tadi saya kemukakan kepada Locianpwe hanya untuk menebus kesalahan saya yang dahulu mempelopori makian anak haram kepada diri Kwan Bu, agar didengar oleh semua orang kalau saya menarik kembali segala makian itu dengan penyesalan yang mendalam dan bahwa saya sebagai pemakinya malah jauh lebih rendah dari pada orang yang saya maki...”

“Bu-Siocia...” Kwan Bu berseru perlahan, keluhan hatinya yang amat terharu.

Akan tetapi Siang Hwi seolah-olah tidak mendengarnya, padahal sebenarnya gadis ini tidak berani memandang kepada pemuda itu, khawatir kalau-kalau keharuan akan mengurangi kekerasan hatinya yang sudah bulat untuk membela Kwan Bu di depan para tokoh Bu-Tong-Pai ini.

“Locianpwe, tadi Lauw-Supek mengatakan bahwa Kwan Bu adalah orang yang telah mengakibatkan tewasnya banyak pejuang, termasuk Ayah saya. Anggapan seperti ini pernah pula saya miliki, karena itu saya tidak menyalahkan Lauw-Supek yang mempunyai anggapan seperti itu karena tidak tahu akan duduknya hal yang sebenarnya. Kwan Bu sama sekali bukan seorang kaki tangan pengawal Kaisar, bukan pula pembantu pejuang.

"Dia seorang yang bebas tidak terlibat dan tidak mau melibatkan diri dengan permusuhan antara mereka yang pro dan kontra Kaisar. Pendiriannya merupakan ketaatan terhadap mendiang Ayah. Dahulu Ayah sayapun seorang yang tidak sudi melibatkan diri dengan pertempuran antara bangsa sendiri, tidak membantu mereka yang anti maupun yang pro Kaisar. Sayang muncul peristiwa terbunuhnya orang tua Liu Kong sehingga Ayah terseret dan terlibat sehingga mengalami kematian dalam pertempuran.

"Kwan Bu sama sekali tidak pernah membantu pengawal dan kalau beberapa kali dia secara kebetulan datang dengan waktu yang sama dengan pengawal-pengawal Istana, hal itu di luar kehendaknya dan di luar pengetahuannya. Dan karena kebebasannya itulah Kwan Bu dimusuhi dua pihak, baik para pengawal maupun para pejuang menganggapnya musuh.”

Dengan panjang lebar Siang Hwi menuturkan tentang diri Kwan Bu. Semenjak masih kanak-kanak tinggal di rumah keluarga Bu sebagai kacung atau anak seorang pelayan, sampai menjadi dewasa menjadi murid Pat-Jiu Lo-Koai. Diceritakan betapa Kwan Bu membela keluarga Bu yang diserang oleh para pejuang. Diberitakan pula pembelaannya ketika keluarga Bu yang diserang oleh para Panglima pengawal, kemudian betapa dalam usahanya mencari musuh besar Ibunya.

Kwan Bu menyerbu ke Hek-Kwi-San karena mengira bahwa Sin-To Hek-Kwi adalah musuh besarnya sehingga ketika secara kebetulan para pengawal Istana juga menyerbu Hek-Kwi-San dibantu oleh dua orang murid lain dari Pat-Jiu Lo-Koai, Kwan Bu dengan sendirinya disangka membantu para pengawal membasmi para pejuang.

“Demikianlah, Locianpwe. Sudah jelas bahwa Kwan Bu bukanlah seorang hina, bukan pula seorang jahat, melainkan seorang yang bernasib malang sejak dilahirkan. Dia benar Sute dari Phoa Siok Lun yang jahat, akan tetapi tahukah Locianpwe di mana Siok Lun itu sekarang? Telah mati, dan siapa pembunuhnya? Bukan lain Kwan Bu sendiri yang terpaksa membunuhnya karena Suhengnya amat jahat..Masihkah Locianpwe dan para tokoh Bu-Tong-Pai yang gagah perkasa dan adil menganggap dia seorang pemuda jahat?”

Selagi semua orang yang mendengar penuturan panjang lebar dari Siang Hwi itu termangu dan Kwan Bu sendiri menjadi terharu tiba-tiba terdengar suara yang parau dan keras menyakitkan anak telinga. “Ha-ha-ha-ha, apa saja yang tidak dilakukan wanita yang sedang dimabok Cinta. Bocah ini telah membunuh Suhengnya sendiri, membunuh Ayahnya sendiri, masih tidak dikatakan jahat! Ha-ha-ha!”

Semua orang menengok dan terkejut karena ternyata tempat itu telah terkurung oleh sedikitnya lima puluh barisan pengawal yang agaknya tadi mengurung secara diam-diam dan baru sekarang muncul setelah terdengar suara itu. Yang tertawa adalah seorang kakek tua sekali, rambutnya panjang terurai berwarna hijau, tubuhnya yang kecil kurus tampaknya lemah sekali, pakaiannya adalah pakaian pengawal bersulam benang emas yang indah.

Di kanan kiri kakek ini muncul pula Gin-San-Kwi Lu Mo Kok, pengawal nomor satu dari Istana Kaisar, sedangkan yang seorang lagi adalah Kim I Lohan, Hwesio yang menjadi pengawal, seorang tokoh yang meninggalkan Siauw-lim-si. Para anak buah Bu-Tong-Pai yang jumlahnya sepuluh orang itu bersiap-siap, meraba gagang senjata masing-masing,

Akan tetapi Loan Khi Tosu mengangkat tangan memberi isarat agar anak buahnya bersabar, Adapun Kwan Bu yang melihat Gin-San-Kwi Lu Mo Kok dan Kim I Lohan, dua orang musuh lama, maklum bahwa keadaan para anak murid Bu-Tong-Pai dan dia sendiri terancam bahaya, melihat dari banyaknya tentara pengawal yang mengurung. Dia tidak mengenal Panglima baru yang amat tua itu. Yang ia khawatirkan adalah keselamatan Siang Hwi!

Baru ia memikirkan pula keselamatan Giok Lan dan Kwee Cin, dia bersikap tenang dan hanya memandang penuh kewaspadaan. Loan Khi Tosu, wakil ketua Bu-Tong-Pai yang bersikap tenang itu, kini menjadi terkejut dan mukanya berubah merah ketika ia mengenal kakek berpakaian Panglima pengawal yang berambut panjang putih, Sinar mata wakil ketua Bu-Tong-Pai ini mengeluarkan pancaran kemarahan,

“Ha-ha-ha. sungguh kebetulan sekali, para pemberontak Bu-Tong-Pai dan seorang pentolannya. Sekali ini kita mendapat kakap!” kakek berambut panjang itu tertawa lagi. Ucapan ini disusul suara ketawa Gin-San-Kwi Lu Mo Kok dan Kim I Lohan.

Loan Khi Tosu melangkah maju, berdiri tegak dan menudingkan telunjuknya ke arah kakek rambut putih itu, “Ho-Sim Pek-Mo, jangan berkecil hati kalau Pinto menghapus penghormatan kepada orang yang lebih tua seperti engkau. Dahulu engkau adalah sahabat baik kami pimpinan Bu-Tong-Pai, yang kuhormati, akan tetapi sekarang ternyata bahwa engkau hanyalah seorang penjilat Kaisar yang hina!”

Mendengar disebutnya nama Ho-Sim Pek-Mo, semua orang terkejut, Semua murid Bu-Tong-Pai pasti mengenal nama besar ini yang selalu dipuji-puji dan dikagumi tokoh-tokoh Bu-Tong-Pai. Kwee Cin, Giok Lan, Siang Hwi dan Kwan Bu sebagai tokoh-tokoh muda yang belum pernah mendengar nama besar tokoh tua ini, hanya memandang dan menduga bahwa kakek kurus kecil ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Julukannya saja sudah menyeramkan dan aneh, Ho-Sim Pek-Mo (Iblis Putih Baik Hati), sudah disebut iblis akan tetap baik hati!

Hal ini sebetulnya adalah karena sepak terjang kakek ini yang puluhan tahun lamanya menggemparkan dunia kang-ouw. Sepak terjangnya aneh. Dia ganas sekali menghadapi penjahat-penjahat, ganas seperti iblis sendiri, akan tetapi dia bersikap seperti seorang pendekar budiman terhadap mereka yang lemah tertindas, karena semenjak muda rambutnya sudah putih, maka dia dijuluki Pek-Mo (Iblis Putih] oleh para penjahat akan tetapi mendapat sebutan Ho-Sim (Hati Baik) oleh dunia kang-ouw.

“Eh, Loan Khi Tosu, tak perlu kau putuskan persahabatan, memang sudah putus dengan sendirinya dalam jaman yang kacau ini! Bukan salahmu... bukan salahku, Dahulu, di waktu jaman aman, setiap kali aku datang berkunjung ke Bu-Tong-Pai, engkau dan Thian Khi Tosu menyambutku sebagai sahabat, kita bermain thioki (catur) sampai tiga hari tiga malam penuh kegembiraan! Kemudian muncul pemberontakan-pemberontakan yang mengakibatkan perpecahan, Bu-Tong-Pai memilih pihak pemberontak, itu adalah haknya, akan tetapi aku memilih pihak pemerintah, ini pun hakku.

"Tidak perlu disebut siapa benar siapa salah karena memang manusia memiliki pendapat masing-masing. Dan kini kita bertemu bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai musuh, ini pun kehendak nasib! Betapapun juga, kedatanganku ke sini sama sekali bukan untuk menangkap pemberontak-pemberontak Bu-Tong-Pai namun semula hanya untuk mengejar dan menangkap dia itu!” kakek itu menuding kearah Kwan Bu.

“Siapa kira, kami di sini bertemu dengan para pemberontak-pemberontak Bu-Tong-Pai, hal ini sekaligus kami dapat menangkap sekawanan pemberontak Ha-ha-ha!”

Kwan Bu mengerutkan keningnya, dan bertanya, suaranya tenang, “Locianpwe, biarpun keadaan memaksaku beberapa kali bentrok dengan pihak pengawal, akan tetapi saya pribadi tidak mempunyai permusuhan dengan pihak pengawal. Mengapa pula sekarang Locianpwe mengejar dan hendak menangkap aku?”

“Wah, bocah engkau murid Pat-Jiu Lo-Koai, bukan? Dan bukankah engkau telah membunuh Phoa Siok Lun dan Liem Bi Hwa dua orang pembantu kami yang setia? Mereka itu adalah Suheng dan Sumoimu, dan mereka itu adalah orang-orang muda yang telah membela pemerintah bangsanya, orang-orang gagah yang patut dipuji, akan tetapi engkau telah membunuhnya!”

“Tidak benar sama sekali, Locianpwe. Mereka memang Sumoi dan Suhengku, akan tetapi hanya Sumoi yang benar seorang murid Suhu yang baik, akan tetapi sayang sekali, saya tidak dapat mengatakan bahwa Suheng adalah seorang murid yang baik. Dan pula, tidak benar kalau dikatakan saya yang membunuh mereka karena mereka berdua itu saling bunuh sendiri,”

“Engkau yang menjadi gara-garanya, aku sudah mendengar akan apa yang terjadi! Sama saja, engkau yang membunuh mereka, karena itu, engkau harus menyerahkan diri menjadi tawanan kami.”

Kwan Bu tersenyum pahit. “Urusanku dengan dia adalah urusan pribadi, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kerajaan, tidak ada sangkut pautnya dengan kedudukan pengawal. Saya tidak merasa bersalah terhadap kerajaan, tentu saja saya keberatan kalau dijadikan tawanan,”

“Berani engkau melawan aku, orang muda?”

“Keberanian hanya dipakai berlandaskan kebenaran, karena saya merasa benar dalam hal ini, tentu saja saya berani membela diri terhadap siapapun juga.”

“Bocah sombong!” Gin-San-Kwi Lu Mo Kok membentak marah dan sudah menerjang maju, menyerang Kwan Bu dengan senjatanya yang luar biasa, yaitu kipas perak yang lihai sekali dan yang sudah mengangkat namanya tinggi-tinggi sehingga julukannya pun Gin-San-Kwi (Si Kipas Setan Perak).

“Wirrrr... siuuuuuttt...!” angin besar datang dari kipas itu disusul luncuran gagang kipas yang runcing menotok kearah leher, pusar, mata, dan dada! Hebat bukan main gerakan ini dan amat cepat susul menyusul sehingga tak dapat diikuti oleh pandangan mata. Mula-mula ujung gagang kipas meluncur ke arah leher, sedetik kemudian disusul dengan serangan kepusar, kemudian mata dan selanjutnya menyerang dada.

Kwan Bu yang sudah siap dan waspada menggunakan kelincahan tubuhnya mengelak, akan tetapi keringat dingin mengucur di lehernya ketika ia melihat betapa ujung gagang kipas itu melakukan serangan-serangan berikutnya secara cepat sekali. Hampir saja ia tidak dapat mengelak dari tusukan terakhir ke ulu hatinya kalau ia tidak cepat menekan ke tanah dengan ujung kaki sehingga tubuhnya mencelat ke belakang dan berjungkir balik. Ketika pemuda ini sudah turun lagi ke atas tanah tangannya sudah memegang pedang Toat-Beng-Kiam yang merah darah!

“Omitohud...! Pedang Toat-Beng-Kiam yang jahat!” Bentak Kim I Lohan dan angin pukulan yang amat kuat menyambar dari samping ketika Kim-coa-pang (Tongkat Ular Emas) menyambar dari kanan kearah kepala Kwan Bu.

Pemuda ini cepat mengelak dengan merendahkan diri dan meliuk ke kiri, kemudian sinar merah darah berkelebat ketika ia menggerakkan pedang Toat-Beng-Kiam dari bawah membabat pergelangan tangan kanan Hwesio itu.

“Singggg... tranggg,!” karena babatan pedang itu amat cepat dan tidak terduga oleh Hwesio pengawal itu, yang dilakukan sebagai balasan sambaran tongkatnya tadi, terpaksa Kim I Lohan memutar tongkat dan menangkis dari samping, Hwesio ini sudah mengenal keampuhan Toat-Beng-Kiam, maka ia tidak menggunakan seluruh tenaga dan membiarkan tongkatnya terpental sehingga tidak terancam bahaya terpotong oleh pedang pusaka yang tajamnya luar biasa itu,

“Hiaaattttt...!” Kembali kipas perak di tangan Lu Mo Kok menyambar, kini mengancam pelipis.

Ketika Kwan Bu mengelebatkan pedang untuk menangkis sambil merendahkan tubuhnya, tiba-tiba tongkat yang berubah menjadi sinar kuning emas bergulung itu telah membabat kedua kakinya. Keadaan ini benar-benar amat berbahaya karena ia terancam dari atas dan bawah,

“Haiiiiiiittttt” Tubuh Kwan Bu mencelat ke atas seperti seekor burung terbang sehingga mereka yang menonton menjadi kagum dan otomatis mundur ke belakang untuk dapat menyaksikan pertandingan hebat itu, Dua orang lawannya juga kaget dan cepat menengok Kwan Bu yang mencelat ke atas itu kini sudah menukik ke bawah didahului sinar pedangnya yang merah sekali itu bergerak membuat lingkaran-lingkaran lebar yang menyilaukan mata, lingkaran-lingkaran yang mengeluarkan kilat-kilat menyambar kearah Kim I Lohan dan Gin-San-Kwi.

“Hayaaa...!” Gin-San-Kwi tidak berani menangkis kilatan sinar pedang yang seperti pijaran api itu, khawatir kalau-kalau kipasnya rusak, maka terpaksa ia melempar tubuh ke belakang, terjengkang dan bergulingan jauh. Tidak demikian dengan Kim I Lohan yang biarpun tahu akan kemampuan pada lawan, namun ia pun percaya akan kehebatan tongkat ular emasnya, maka sekali ini mengerahkan tenaga menangkis, dengan harapan akan menang tenaga karena mengira bahwa pemuda itu tentu membagi tenaga ketika menyerang mereka berdua,

“Cringggg...!” Ujung pedang bertemu dengan ujung tongkat dan Hwesio itu meloncat ke belakang sambil berseru kaget karena selain tangannya menjadi panas tergetar, juga ternyata ujung tongkatnya terbabat potong sedikit!

“Serbu... Tangkap para pemberontak itu!” Tiba-tiba Gin-San-Kwi Lu Mo Kok yang merasa penasaran dan khawatir kalau-kalau para pemberontak itu akan meloloskan diri, memberi aba-aba, Lima puluh orang pengawal bergerak maju.

Adapun Ho-Sim Pek-Mo yang melihat betapa pemuda murid Pat-Jiu Lo-Koai itu benar-benar hebat sekali ilmu pedangnya dan agaknya dua orang Panglima pengawal itu belum tentu akan dapat mengalahkannya, segera berseru keras dan tubuhnya sudah bergerak maju. Ketika kakek ini maju, tampak sinar hitam dan putih menyambar dari kedua tangannya dan ternyata sinar itu adalah gerakan sepasang senjata yang aneh, berbentuk gelang bergaris tengah kurang lebih setengah meter, yang di tangan kiri berwarna putih yang kanan hitam.

“Pek-mo, Pintolah lawanmu!” Loan Khi Tosu berteriak dan tongkat bambunya bergerak ke depan, mengirim tusukan kearah lambung kiri Ho-Sim Pek-Mo. Gerakannya perlahan akan tetapi tahu-tahu ujung tongkatnya sudah mengancam lambung. Gerakan kakek Bu-Tong-Pai ini adalah jurus ilmu pedang Bu-tong Kiam-sut yang amat hebat sehingga Ho-Sim Pek-Mo, tokoh besar itu tidak berani memandang ringan, cepat menarik kembali sepasang gelangnya yang tadinya hendak menyerang Kwan Bu.

Lalu gelang putih membalik cepat menangkis bambu sedangkan gelang kitam meluncur ke atas menghantam ke arah kepala Loan Khi Tosu, akan tetapi, wakil ketua Bu-Tong-Pai ini bukan orang sembarangan, ilmu silatnya sudah amat tinggi tingkatnya dan sedikit saja tubuhnya miring, serangan gelang itu telah luput.

Sepuluh orang anak murid Bu-Tong-Pai, dipimpin oleh Hek I Kim Hiap Lauw Tik Hiong yang memegang pedang dengan tangan kirinya karena lengan kanannya dibalut dan tak dapat digerakkan, segera menghampiri serbuan lima puluh orang pengawal itu sehingga terjadilah pertempuran yang amat seru dan hebat di tempat itu.

Melihat bahwa keadaan telah menjadi kacau. Giok Lan cepat melompat mendekati Kwee Cin dengan pedang di tangan, Tanpa mengeluarkan kata-kata sesuatu, gadis ini lalu memutuskan belenggu leher dan tangan Kwee Cin dengan pedangnya.

“Terima kasih, nona... akan tetapi sesungguhnya aku... tidak berani melepaskan diri dari tawanan Bu-Tong-Pai...”

“Ah... setelah persoalan menjadi begini, mengapa masih banyak rewel tentang aturan lagi?” Giok Lan mencela, “Kalau kita tidak turun tangan membantu menghadapi para pengawal, apakah kita tidak akan mati semua? Kita usir dulu para pengawal, urusan kemudian bagaimana nanti sajalah!”

“Betul, Kwee-Suheng. Mari kita basmi pengawal menjemukan ini!” kata Siang Hwi yang menyerahkan sebuah diantara pedangnya kepada Kwee Cin. Gadis ini biasanya bersenjata siang-kiam (pedang pasangan) akan tetapi ia pun ahli dalam mempergunakan pedang tunggal.

Setelah Kwee Cin menerima pedang itu mereka bertiga lalu menyerbu ke depan dan sebentar saja mereka itu dikeroyok oleh banyak sekali pengawal yang bertempur sambil berteriak-teriak. Diantara murid Bu-Tong-Pai, hanyalah Hek I Kim Hiap Lauw Tik Hiong yang paling lihai namun pendekar pedang ini sudah patah lengan kanannya sehingga hal ini tentu saja mengurangi kelihaiannya.

Adapun anak murid lainnya adalah murid-murid tingkat rendah, maka biarpun kini mereka itu dibantu oleh Kwee Cin, Siang Hwi dan Giok Lan serentak juga menahan serbuan para pengawal, tetap saja mereka terdesak hebat oleh pihak pengawal yang jumlahnya lima kali lebih banyak daripada jumlah mereka itu. Pertandingan itu tidak seimbang dan makin lama pihak Bu-Tong-Pai terdesak makin hebat dan setiap saat tentu akan dapat terbasmi habis dalam pengeroyokan para pengawal.

Yang amat hebat adalah pertandingan antara Loan Khi Tosu dan Ho-Sim Pek-Mo. Ternyata kedua orang kakek ini setingkat dan memiliki kehebatan masing-masing, Loan Khi Tosu yang bersenjata tongkat bambu itu agaknya lebih kuat ginkangnya sehingga biarpun senjatanya hanya tongkat bambu, namun gerakannya mantap dan dari tongkat bambu itu tergetar tenaga ginkang yang amat kuat sehingga wakil ketua Bu-Tong-Pai ini dapat menahan serbuan sepasang gelang hitam putih dari Ho-Sim Pek-Mo yang hebat sekali.

Adapun keunggulan Ho-Sim Pek-Mo adalah senjatanya itulah. Benar-benar sepasang senjata aneh dan ampuh sekali. Sepasang gelang atau roda itu berputar-putar membentuk lingkaran-lingkaran yang sukar sekali dijaga, seolah-olah sepasang roda itu hidup dan seolah-olah terbang tanpa dipegang di udara.

Dua senjata yang berlawanan warna itu berputaran, mengeluarkan suara mengaung dan berubah menjadi dua gulungan sinar hitam putih yang saling melibat, dan mempunyai daya serang bertubi-tubi. Sehingga Loan Khi Tosu benar-benar terdesak dan hanya mampu memutar tongkat melindungi tubuhnya. Hanya kadang-kadang saja dia menyerang hebat, namun perbandingan penyerangannya adalah satu lawan tiga.

Kwan Bu pemuda perkasa kembali memperlihatkan kelihaianya. Biarpun dikeroyok oleh dua orang Panglima yang berilmu tinggi, namun pemuda dengan pedang pusakanya ini selalu berada di pihak unggul, selalu menekan dan membagi-bagi serangan.

Tubuhnya lenyap, yang tampak hanyalah gulungan sinar merah darah yang seperti naga bermain di angkasa menyambar-nyambar kearah Gin-San-Kwi Lu Mo Kok dan Kim I Lohan. Pemuda ini biarpun tidak mudah mengalahkan dua orang lawannya, namun dia masih mendesak terus, tinggal mencari kesempatan baik merobohkan dua orang kakek pengawal itu.

Sayang bahwa Kwan Bu tak dapat mencurahkan seluruh perhatiannya kepada pertandingan itu, kadang matanya mengerling ke arah Siang Hwi yang bersama Giok Lan dan Kwee Cin sedang terdesak hebat oleh pengeroyokan pengawal. Hal ini mengurangi daya serang Kwan Bu, dan pemuda itu tidak tahu pula betapa Ho-Sim Pek-Mo juga seringkali mengerling ke arah dia dan agaknya kakek itu merasa tidak puas menyaksikan betapa dua orang sahabatnya terdesak oleh murid Pat-Jiu Lo-Koai itu.

Tiba-tiba sinar merah darah yang bergulung-gulung itu melesat ke kiri dibarengi bentakan-bentakan Kwan Bu yang marah sekali ketika dengan lirikan sudut matanya ia melihat betapa Siang Hwi yang untuk kesekian kalinya merobohkan seorang pengeroyok dengan tusukan pedangnya, menjadi gugup ketika pedangnya itu terjepit diantara tulang iga lawan yang ditusuknya dan pada saat itu, empat orang pengawal telah menerjangnya dengan senjata mereka.

Siang Hwi yang belum berhasil mencabut pedangnya dari dada lawan yang dirobohkan, mengelak, akan tetapi pundaknya masih terserempet golok sehingga pangkal lengannya terluka dan mengucurkan darah, padahal empat orang pengawal yang mengeroyoknya sudah menerjang lagi. Saat itulah Kwan Bu melupakan keadaanya sendiri dan tubuhnya melesat meninggalkan dua orang Panglima pengawal yang sudah didesaknya.

Sinar merah darah menyambar seperti sebuah bintang terbang dan terdengar jerit mengerikan ketika ujung Tot-beng-kiam sekaligus membabat robek perut empat pengawal yang mengancam Siang Hwi itu! Akan tetapi pada saat itu, Lu Mo Kok dan Kim I Lohan meloncat mengejar dan mereka ini pun marah sekali melihat banyaknya para pengawal anak buah mereka roboh binasa.

Sungguh tidak mereka duga sama sekali bahwa Kwan Bu yang baru saja menolong Siang Hwi merobohkan empat orang pengawal, diam-diam memperhatikan gerakan mereka dan sebelum dua orang pengawal tingkat tinggi itu sempat menyerang, tiba-tiba pemuda itu langsung membalik dan meloncat ke depan, tubuhnya meluncur seperti terbang dan pedangnya bergerak secara luar biasa sekali membabat ke depan membabat leher Lu Mo kok dan Kim I Lohan!

“Hayaa...!” Gin-San-Kwi Lu Mo Kok tak sempat menangkis dan cepat menjatuhkan diri, akan tetapi pedang itu sudah meluncur ke bawah dan ujungnya amblas ke dalam ulu hatinya, dan cepat menyambar sudah tercabut pula dan menyambar ke arah leher Kim I Lohan.

“Celaka...!” Kim I Lohan yang melihat betapa darah muncrat dari dada temannya, cepat menangkis.

“Trangggg... auggghhh...!” tongkat itu terbabat buntung dan pedang Toat-Beng-Kiam dan terus meluncur dan menyabet pinggir leher Kim I Lohan, tepat mengenai urat besar sehingga tubuh Hwesio Panglima pengawal itu terpelanting, darah seperti muncrat-muncrat dari lehernya!

“Keji...!” Terdengar bentakan keras dan angin yang amat kuat menyambar dari sebelah kiri ke belakang Kwan Bu.

Pemuda ini maklum bahwa ada serangan yang amat berbahaya, Cepat ia menggerakkan pedang menangkis, “Traakkkkl” Pedangnya itu melekat pada gelang putih di tangan Ho-Sim Pek-Mo yang ternyata telah datang membantu dua orang kawannya, karena Kwan Bu baru saja mengeluarkan tenaga besar untuk merobohkan dua orang lawan tangguh, sedangkan serangan Ho-Sim Pek-Mo amat tiba-tiba dan dari belakang datangnya.

Maka ketika pedangnya melekat pada roda putih Kwan Bu menjadi gugup dan berusaha menarik kembali pedangnya, Pemuda ini lupa bahwa kakek tua itu memiliki dua buah roda, maka pada detik berikutnya gelang atau roda hitam telah menyambar dadanya tanpa dapat dielakkan lagi oleh Kwan Bu.

“Bukkkk...!” Kwan Bu sudah mengerahkan ginkang untuk bertahan, namun tetap saja tubuhnya terbanting keras sampai bergulingan di atas tanah dalam keadaan pingsan!

“Kwan Bu...!” Siang Hwi menjerit dan menubruk ke depan dengan nekad ketika melihat kakek berambut putih itu sudah kembali meloncat dan agaknya hendak memukul Kwan Bu yang sudah pingsan itu dengan rodanya.

Loan Khi Tosu yang tadi ditinggalkan lawannya, hanya menonton saja karena dia menganggap tidak perlu menolong Kwan Bu karena dia tahu bahwa pemuda ini melawan para pengawal sekali-kali bukan karena membantu pihaknya! Kenekadan Siang Hwi tentu akan ditebus dengan nyawanya ketika ia menubruk maju, tidak peduli akan keampuhan roda di tangan kakek itu untuk menolong Kwan Bu, kalau saja pada saat itu tidak bertiup angin yang kuat sekali, didahului oleh suara membela,

“Tua Bangka tak tahu malu!” dan tiba-tiba tubuh Ho-Sim Pek-Mo terhuyung ke belakang!

Ketika Siang Hwi menengok ternyata yang muncul itu adalah seorang Hwesio tua yang tidak memakai baju, celananya yang lebar dan besar itupun terbuat dari kain yang tebal dan murah, badannya gemuk dan perutnya gendut sekali, persis seperti arca Jilaihud akan tetapi hanya sebentar saja Siang Hwi memandang Hwesio itu karena ia segera teringat akan Kwan Bu dan cepat la berlutut di dekat tubuh pemuda ini.

“Kwan Bu... ah, Kwan Bu...!” ia mengguncang-guncang tubuh pemuda yang pingsan itu, dan menangis! la melihat wajah pemuda itu pucat seperti mayat, nafasnya sesak dan matanya meram.

“Pat-Jiu Lo-Koai...!” Seruan ini hampir berbareng keluar dari mulut Loan Khi Tosu dan Ho-Sim Pek-Mo, dan mendengar disebutnya nama ini, otomatis pertandingan yang masih berjalan itu terhenti.

Sepuluh orang anak murid Bu-Tong-Pai tinggal lima orang lagi yang lima orang telah roboh dan tewas. Adapun pihak pengawal, selain kehilangan dua orang Panglima mereka yang tewas di ujung pedang Kwan Bu, juga lebih dari dua puluh orang anak buah pengawal roboh.

Pat-Jiu Lo-Koai memandang ke arah tumpukan mayat-mayat dan orang-orang terluka itu, dengan lirih menyebut, “Omitohud...” dan menggeleng-gelengkan kepalanya, “Darah mengalir keluar... nyawa melayang... apa sih yang diperebutkan manusia-manusia tolol ini...? Sungguh mengenaskan dan menyedihkan!”

Ketika mendengar disebutnya nama itu, Siang Hwi terkejut dan menoleh. Ah, kiranya kakek gundul yang aneh itu adalah guru Kwan Bu! Timbullah harapan di hatinya yang penuh kekhawatiran melihat keadaan Kwan Bu, Cepat ia melompat dan berlutut di depan kakek itu sambil berkata, “Lcianpwe... tolonglah... Kwan Bu...”

Pada saat itu Giok Lan juga telah menggandeng tangan Kwee Cin, setengah dipaksanya pemuda itu berlari menghampiri si kakek gundul dan diajak berlutut di depan kakek itu sambiil berkata, “Locianpwe, saya adalah adik tiri kakak Kwan Bu. Saya mohon perlindungan Locianpwe harap bebaskan Kwan Bu, Siang Hwi, saya dan saudara Kwee Cin ini yang pernah menolong Kwan Bu-koko dan saya. Kami hendak dibunuh oleh orang-orang Bu-Tong-Pai dan pengawal-pengawal kerajaan.”

“Omitohud... orang-orang tua... seharusnya menyenangkan hati dan membimbing orang-orang muda, malah mengganggu mereka. Bangunlah dan jangan khawatir, pinceng memang pelindung orang-orang muda!”

Tiba-tiba Siang Hwi mengeluh dan terguling, roboh pingsan. Kiranya gadis ini sejak tadi telah amat menderita karena luka di pangkal lengannya mengeluarkan terlalu banyak darah. Hanya karena kekhawatiran hatinya melihat keadaan Kwan Bu saja yang masih membuat ia masih kuat bertahan. Sekarang, setelah hatinya lega mendengar betapa guru Kwan Bu yang ia yakin amat sakti menyatakan hendak melindungi mereka, rasa lemas menyelimutinya dan membuat dia jatuh pingsan.

Giok Lan cepat memeluk dan memondongnya. Adapun Kwee Cin tanpa disuruh juga sudah memondong tubuh Kwan Bu yang pingsan, kemudian mereka itu digiring dan dikawal oleh Pat-Jiu Lo-Koai yang tersenyum-senyum tenang seolah-olah di situ tidak ada siapa-siapa. Tidak ada seorang pun berani bergerak menghadang, karena baik di pihak Loan Khi Tosu maupun dipihak para pengawal masing-masing saling berhadapan sebagai musuh dan mereka itu merasa ragu-ragu untuk menambah lawan dengan seorang seperti Pat-Jiu Lo-Koai!

“Baringkan dia di sini, pinceng hendak memeriksa lukanya,” kata Pat-Jiu Lo-Koai ketika mereka tiba di dalam sebuah hutan dan telah jauh meninggalkan tempat pertempuran antara anak murid Bu-Tong-Pai dan para pengawal tadi.

Kwee Cin menurunkan tubuh Kwan Bu di atas tanah bertilam rumput di bawah sebatang pohon besar. Kemudian dia sendiri duduk tak jauh dari situ memandang penuh perhatian pada bersama Giok Lan dan juga Siang Hwi yang sudah siuman. Biarpun wajahnya masih pucat, Siang Hwi tidak pening lagi karena diberi minuman obat penambah darah dan lukanya telah diobati pula oleh Pat-Jiu Lo-Koai dalam perjalanan tadi.

Kwan Bu yang kini rebah terlentang masih pingsan, Napasnya masih terengah, bahkan sebagian mukanya kelihatan menghitam sehingga Siang Hwi yang melihatnya menjadi khawatir sekali. Demikian pula Kwee Cin dan Giok Lan memandang dengan hati gelisah sehingga mereka bertiga tidak berani membuka mulut, hanya memandang kakek gundul yang kini mulai memeriksa tubuh Kwan Bu.

Setelah membuka baju pemuda itu dan meraba dadanya, Pat-Jiu Lo-Koai menggeleng kepala dan berkata perlahan. “Pukulan keji...!”

Mendengar ucapan itu, tiga orang muda yang memandang dan mendengar, menjadi makin gelisah, bahkan Siang Hwi mengeluarkan isak tertahan sehingga kakek itu menoleh kepadanya.

Baru sekali ini kakek itu memandang kepada Siang Hwi, dan sepasang mata kakek aneh itu memandang penuh perhatian. “Nona siapakah dan ada hubungan apa dengan Kwan Bu?”

Siang Hwi cepat berlutut dan menundukkan mukanya, agaknya ia merasa malu harus menceritakan keadaan dirinya, karena ia teringat betapa dahulu ia seringkali melakukan hal-hal yang menyakitkan hati Kwan Bu, “Teecu... Bu Siang Hwi... dan dahulu,... Kwan Bu bekerja di rumah mendiang Ayah...”

“Hemm... puteri Bu Keng Liong kah? Dan tadi engkau membela Kwan Bu mati-matian, mengapa?”

Ditanya begitu, Siang Hwi tak dapat menjawab hanya sesenggukan.

“Jangan khawatir, biarpun berat lukanya. Kwan Bu takkan mati,” Setelah berkata demikian, Hwesio tua itu menotok beberapa jalan darah di leher dan punggung Kwan Bu, mengurut dadanya dan terdengar Kwan Bu mengeluh, membuka mata dan hendak bangkit duduk.

Akan tetapi tangan Pat-Jiu Lo-Koai mendorongnya rebah kembali dan Hwesio berilmu tinggi ini berkata. “Jangan banyak bergerak. Engkau terluka karena kebodohanmu sendiri, kurang waspada menghadapi sepasang roda Pek-mo! Pinceng akan menyembuhkan Iukamu, akan tetapi sedikitnya engkau akan harus beristirahat selama sebulan, baru akan sembuh betul, kau diam saja, kumpulkan tenaga di pusar dan jangan menggerakkan tenagamu agar racun di tubuh tidak menjalar makin luas.

"Pinceng akan berusaha mengusir hawa beracun akan pukulan roda hitam Pek-mo. Untung roda hitam yang memukul dadamu, roda hitam yang mengandung hawa beracun panas. Kalau roda putih yang mengandng hawa beracun dingin, agaknya sekarang engkau sudah tidak bernyawa lagi. Nah, rebah saja dan jangan bergerak!”

Kwan Bu merasa terharu sekali, nyawanya tertolong oleh Suhunya sendiri, dan dia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk memberi hormat dan menghaturkan terima kasih. Namun ia tidak berani membantah, maka ia lalu rebah terlentang dan tidak bergerak, juga menarik tenaga dalamnya di pusar agar tidak melakukan perlawanan terhadap usaha gurunya.

Pat-Jiu Lo-Koai duduk bersila di dekat muridnya yang terluka, tangan kanan di atas dada Kwan Bu. kemudian meramkan kedua matanya dan mulailah mengerahkan sinkangnya untuk mengobati muridnya, diam-diam Kwan Bu terkejut sekali ketika merasa betapa Suhunya menggunakan sinkang untuk menyedot hawa beracun dengan kekuatan sinkang melalui telapak tangannya! Hal itu amatlah berbahaya karena dengan demikian, hawa beracun itu akan berpindah ke dalam tubuh Suhunya!

Akan tetapi ia maklum akan watak Suhunya yang tak boleh dibantah, maka ia diam saja. Teringat ia di waktu dahulu masih kanak-kanak. Ia hanya berhasil menjadi murid Suhunya karena kekerasan hatinya. Kini, melihat Suhunya yang keras hati itu mengobatinya dengan resiko yang berbahaya. Ia menjadi terharu dan tak terasa lagi dua titik air mata turun ke bawah matanya.

Kwee Cin, Giok Lan, dan Siang Hwi memandang dengan mata terbelalak dan penuh kekaguman. Cara mengobati seperti ini hanya pernah mereka dengar saja dalam cerita di dunia kang-ouw, dan baru sekali ini mereka menyaksikannya sendiri.

Makin lama, tenaga menyedot yang keluar dari telapak tangan Hwesio tua itu makin kuat sehingga Kwan Bu merasa seolah-olah seluruh hawa di tubuhnya terhisap! Sinkangnya sendiri otomatis hendak bergerak melawan. Akan tetapi cepat-cepat ia mengerahkan perhatiannya dan tetap menahan semua tenaga dalamnya di pusar dengan penuh kepasrahan dan kepercayaan kepada Suhunya.

Kini tubuh Hwesio gendut itu gemetar dan uap menghitam mengepul keluar dari kepalanya yang gundul. Perlahan-lahan, warna hitam di wajah Kwan Bu bergerak turun, berkumpul di dagu, terus turun ke leher dan ke dada sehingga wajahnya kembali kelihatan pucat. Akan tetapi sebaliknya, warna hitam menjalar ke lengan Pat-Jiu Lo-Koai, makin lama makin hitam dan wajah serta kepala kakek itu kini penuh dengan peluh napasnya agak berat tanda bahwa kakek ini mengerahkan tenaga sinkang sekuatnya.

Selama tiga jam Hwesio sakti itu mengobati muridnya dan akhirnya semua hawa beracun di dada Kwan Bu telah tersedot habis dan bersih. Ketika Hwesio itu melepaskan tangannya dari dada Kwan Bu, pemuda ini mengeluh dan bangkit duduk dengan lemah.

“Suhu, Suhu terkena racun…” bisiknya perlahan penuh keharuan memandang Suhunya yang masih duduk bersila dan kini mulai mengerahkan sinkang lagi utuk mendesak keluar hawa beracun dari lengan kanannya.

Pat-Jiu Lo-Koai membuka matanya dan tersenyum. “Pinceng dapat membersihkannya!”

Kwan Bu maklum bahwa untuk mendesak keluar hawa beracun dari lengan gurunya itu membutuhkan pengerahan sinkang yang kuat. Sedangkan gurunya tadi telah menghabiskan tenaganya untuk menolongnya, “Suhu, biarlah teecu membantu Suhu...”

Jilid sebelumnya,

Jikid selanjutnya,
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.