Dendam Si Anak Haram Jilid 13

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Dendam Si Anak Haram Jilid 13
Sonny Ogawa

Dendam Si Anak Haram Jilid 13

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

“Ha-ha, nona manis, kau hendak berbuat apa sekarang!” Cengkeraman pada pergelangan tangan itu amat kuat sehingga pedang itu terlepas dan tangan Siok Lun diulur ke arah dada.

“Suheng jangan...!!” Kwan Bu membentak marah.

Siok Lun menarik tangannya dan menengok. “Sute.” katanya tersenyum. “Apakah engkau hendak membela nona pemberontak ini?”

Pada saat itu terdengar jerit melengking dari sebelah dalam rumah. Kwan Bu terkejut dan merasa bulu tengkuknya berdiri karena ia mengenal jeritan itu seperti suara Ibunya. “lbu...!!” Teriaknya dan tubuhnya mencelat ke dalam. Juga yang lain-lain terkejut.

Siok Lun sendiri melepaskan Siang Hwi dan hampir berbareng dengan Bi Hwa iapun lari ke dalam, diikuti Giok Lan. Siang Hwi yang ditinggal sendiri, sejenak termenung, wajahnya masih pucat sekali dan diapun lalu menyambar pedangnya dan mengejar masuk. Dia harus membunuh musuh-musuhnya atau terbunuh di situ juga.

Kwan Bu mempergunakan ginkangnya secepat mungkin, bagaikan terbang telah tiba di taman bunga. Sejenak ia ternganga karena keheranan ketika melihat Ibunya menangis terisak-isak berhadapan dengan kakek gagah yang tadi masuk, yaitu Ayah dari Siok Lun dan Giok Lan. Kakek itu terbelalak memandang Ibunya, dan kini terdengar Ibunya berkata dengan suara gemetar dan terputus-putus, telunjuknya menuding ke arah muka kakek itu.

“Kau...! Kau... kepala rampok itu... kau... manusia terkutuk... kiranya engkau pemilik rumah ini...!!”

Mendengar ini, Kwan Bu merasa seolah-olah kepalanya disambar halilintar. Musuh besar yang selama ini dicari-carinya dengan susah payah dan belum juga berhasil ditemukannya, kiranya adalah Ayah dari Suhengnya! Ayah dari Giok Lan. Seketika amarah dan kebenciannya bangkit, tangan kirinya merogoh saku dan ia meloncat maju sambil membentak, “Keparat jahanam! Terimalah pembalasanku!”

Tangannya terayun dan terdengar suara bersiut nyaring. Kakek yang bernama Phoa Heng Gu, bekas kepala rampok yang dahulu bersama anak buahnya merampok Kwi-cun dan memperkosa Bhe Ciok Kim secara keji, terkejut dan menoleh. Ia hanya melihat sinar hitam menyambar. Dicobanya untuk mengelak namun terlambat karena sambitan jarum dari tangan Kwan Bu itu hebat bukan main.

Pemuda ini yang diracuni dendam, bertahun-tahun melatih diri dengan jarum itu, jarum yang membutakan mata Ibunya, jarum milik kepala rampok yang kini ia kirim kembali kepada pemiliknya. Tanpa dapat dicegah lagi jarum itu menyambar dan menancap memasuki mata kiri Phoa Heng Su. Kakek ini menjerit mengerikan. Tangannya mendekap mata, tangan kanannya mencabut goloknya yang besar, lalu ia menubruk ke arah Kwan Bu.

Namun pemuda ini telah siap, mengelak ke kiri dan mengirim tendangan yang tepat mengenai lutut Phoa Heng Gu sehingga kakek ini terpelanting roboh dan goloknya terlepas dari tangannya. Dengan kemarahan meluap Kwan Bu menghampiri kakek itu, menyambar goloknya dan mengangkat golok itu untuk dibacokkan ke arah kepala si kakek yang ternyata adalah musuh besarnya.

“Kwan Bu... jangan...!!” Ciok Kim menjerit sehingga Kwan Bu terkejut, lalu menghampiri Ibunya dan berlutut karena melihat Ibunya tiba-tiba roboh lemas.

Pada saat itu, Siok Lun dan Bi Hwa serta Giok Lan telah tiba di tempat itu. Melihat Ayah mereka roboh dan berkelojotan dengan muka berlumuran darah, Siok Lun dan Giok Lan menubruk dengan hati terkejut sekali.

“Ayah…!!” Teriak mereka. Siok Lun lalu mengangkat kepala Ayahnya dan melihat mata kiri Ayahnya berlumur darah, ia makin kaget. Spalagi ketika melihat gagang sebatang jarum sedikit menyembul keluar dari rongga mata, jarum milik Ayahnya sendiri.

“Ayah, apa yang terjadi...? Siapa yang melakukan ini?” bentaknya dengan suara saking marahnya.

Adapun Giok Lan hanya menangis dan merintih. “Ayah… Ayah...!”

Akan tetapi kakek yang berkelojotan menahan menahan nyeri itu mengangkat tangan ke atas seolah-olah melarang puteranya melakukan sesuatu.

Dan pada saat itu terdengar suara Kwan Bu. “Ibu, mengapa Ibu menahanku...?”

“Kwan Bu, engkau tidak boleh... dia... dia... kepala perampok jahanam itu... dia itu adalah... Ayah kandungmu sendiri...!” Nyonya itu tak dapat melanjutkan ucapannya karena sudah menangis tersedu-sedu, menangis kemudian disusul suara ketawanya terkekeh-kekeh sambil menudingkan telunjuknya ke arah kakek yang sekarat itu.

“Heh-heh-heh... anakmu sendiri yang membalas...! Ingatkah kau akan sumpahku dahulu...? Aku akan membalasmu, dalam keadaan hidup ataupun mati...”

Kwan Bu seperti dipagut ular berbisa. Ia meloncat ke belakang menjauhi Ibunya, memandang dengan mata terbelalak. kemudian perlahan-lahan ia menoleh kearah kakek itu seperti orang kehilangan ingatannya. Kakek itu, Ayah Giok Lan, musuh besarnya, perampok yang membunuh keluarga Ibunya... dia itu Ayahnya sendiri? Betapa mungkin ini...?

Adapun Siok Lun yang terkejut, bingung dan marah itu melihat betapa luka di mata Ayahnya amat parah dan berbahaya. Jarum itu panjang dan telah menancap sampai hampir tak tampak. Hal ini amat berbahaya karena jarum itu tentu menembus ke otak! “Ayah! apa artinya ini? Siapa yang melakukan ini? Kwan Bu kah? Biar kubunuh dia...!!”

Akan tetapi kakek itu memegangi pundak Siok Lun, kemudian memaksa diri bangkit duduk, kemudian merangkul Siok Lun dan Giok Lan. mukanya penuh darah, keadaannya amat mengerikan, mata kanannya kini terbelalak dan menjendul keluar. Dia menggoyang-goyang kepalanya.

“Jangan! Memang ini perbuatanku yang penuh dosa. Dengar baik-baik Siok Lun dan Giok Lan. Kalian lihat wanita itu? Dia dahulu seorang gadis cantik jelita, puteri seorang kepala kampung dusun Kwi-cun. Dan aku, Ayahmu ini yang sekarang menjadi Phoa wangwe... ha-ha-ha! Phoa-wangwe... aku dahulu adalah seorang kepala rampok.

"Semenjak Ibumu meninggal dunia karena sakit. Aku seperti gila, aku meninggalkan engkau, Siok Lun, puteraku satu-satunya kepada Bibimu dan aku... aku merantau, aku merampok dusun Kwi-Cun, membakar habis, membasmi keluarga lurah, memperkosa wanita itu... dan dengan jarum yang menancap di mataku ini aku membikin buta sebelah matanya! Kemudian aku kawin lagi, mendapat seorang puteri, engkau Giok Lan... akan tetapi Ibumu mati.

"Dasar nasibku yang buruk, karena perbuatan-perbutanku yang penuh dosa, sekarang wanita yang kubunuh semua keluarganya, yang kuperkosa dan kubutakan matanya datang kesini membawa puteranya... puteraku pula sebagai akibat dari perbuatanku memperkosanya... dan puteraku sendiri ini yang membalas dendam kepadaku, mengembalikan jarumku pada mataku! Ha-ha-ha... memang adil dan patut sekali... eh, kau... wanita yang keras hati, aku kagum sekali padamu. Siapa namamu?”

Kwan Bu terbelalak memandang kakek yang tadi diserangnya. Kini ia baru tahu akan riwayatnya. Pantas dia dimaki anak haram! Dan pada kenyataanya memang dia adalah seorang anak haram! Ibunya melahirkannya tanpa Ayah. Dia adalah hasil dari sebuah perbuatan maksiat yang paling keji. Pria yang menjadi Ayahnya itu, Ayah tak resmi, Ayah yang telah memperkosa Ibunya. Dan dia dididik oleh Ibunya untuk membalas dendam, untuk membunuh musuh besar yang sesungguhnya adalah Ayah sendiri!

Ah, baru terbuka matanya kini. Baru ia mengerti mengapa dahulu Bu Taihiap tidak suka mengajar silat kepadanya. Kiranya pendekar besar yang bijaksana itu sudah tahu, dan tidak suka melihat dia membalas dendam kepada Ayahnya sendiri, betapapun jahatnya Ayah itu! Karena bengong terlongong, Kwan Bu kurang waspada bahkan membelakangi Ibunya.

“Aku Bhe Ciok Kim, setelah berhasil membalas dendam, bersedia untuk mati! Hidup pun tidak ada gunanya lagi bagiku...”

Kwan Bu terkejut dan menengok, namun terlambat. Ibunya telah memungut golok milik Phoa Heng Gu yang tadi dibawa Kwan Bu dan diletakkan dekat Ibunya dan ketika pemuda ini tadi berlutut dekat Ibunya dan ketika terkejut mendengar pengakuan Ibunya, ia meloncat mundur, lupa membawa goloknya. Kini Ibunya memungut golok itu dan menancapkan golok di perutnya sendiri. Golok yang tajam itu amblas ke perut sampai ke ujungnya menembus punggung!

“Ibu...! Kwan Bu meloncat dan menubruk Ibunya, namun, melihat betapa luka Ibunya tak mungkin dapat ditolong lagi, ia hanya dapat memeluk sambil menjatuhkan air mata, terisak-isak dan menyebut-nyebut nama Ibunya.

Terdengar suara ketawa serak. “Ha-ha-ha, Bhe Ciok Kim..! Hutangku kepadamu didunia telah terbayar lunas! Akan tetapi masih ada hutangku di akhirat, terhadap keluargamu dan terhadap banyak orang lain. Marilah... marilah kita bersama menghadap pengadilan di akhirat... agar segera selesai pengadilannya dan dapat ditentukan hukuman bagiku... ha-ha-ha!”

Agaknya karena jarum itu melukai otak, maka kakek ini menjadi seperti orang gila. Tiba-tiba ia berkelojotan dan menghembuskan napas terakhir, hampir berbareng dengan Bhe Ciok Kim yang juga tewas dalam pelukan puteranya.

Sementara itu, Siang Hwi yang tadinya marah sekali dan hendak menentang musuh-musuhya sampai mati, kini berdiri terlongong dengan muka pucat. Peristiwa yang didengar dan dilihatnya terlampau hebat dan diam-diam ia memandang kepada Kwan Bu dengan hati penuh rasa iba. Alangkah hebat penderitaan batin pemuda itu. Kini ia pun tahu akan segala persoalannya.

Dibandingkan dengan penderitaan batin Kwan Bu, yang dendamnya setinggi gunung sedalam lautan, dendam yang tanpa disadarinya telah ditujukan kepada Ayah kandungnya sendiri, dan kini berhasil pula membunuh musuh besarnya, membunuh Ayah kandungnya, dibandingkan dengan itu semua dendamnya sendiri atas kematian Ayahnya tidak ada artinya sama sekali!

Ayahnya telah berpihak kepada pejuang, dan dua orang murid Pat-Jiu Lo-Koai itu berpihak kepada Kaisar. Kematian Ayahnya adalah kematian wajar seorang pejuang, tewas dalam pertempuran, bukan karena urusan pribadi, tepat seperti yang dikatakan Kwan Bu. Berpikir demikian, rasa dendamnya menipis, kedukaannya lenyap melihat kedukaan hebat yang menimpa diri Kwan Bu. Alangkah hebat penderitaan batin Kwan Bu di saat itu, dapat ia maklumi.

Melihat mayat Ayah kandung yang dibunuhnya sendiri, melihat Ibunya menggeletak tak bernyawa karena bunuh diri di depan matanya, benar-benar merupakan pengalaman hebat yang tiada taranya didunia ini. Perlahan-lahan Kwan Bu bangkit berdiri, dan demikian pula Siok Lun. Dua orang muda ini berdiri dan saling memandang, wajah mereka pucat dan lengan serta dada mereka penuh darah Ayah dan Ibu masing-masing. Kalau pandang mata Kwan Bu lesu dan suram seperti kehilangan semangat, adalah pandang mata Siok Lun penuh hawa amarah yang seolah-olah membuat dadanya hampir meledak.

“Kwan Bu engkau membunuh Ayahku...” akhirnya keluar suara dari mulut Siok Lun agak mendesis.

Kwan Bu mengangguk. Dadanya seperti ditindih gunung sehingga sukar baginya untuk bicara. Ia memaksa diri untuk berbicara dan terdengar suaranya lemah dan lesu, suara seorang yang sudah kehilangan, gairah hidup. “Benar, aku telah membunuh dan kalau Suheng tidak terima dan hendak menuntut balas, silakan. Mari kita keluar.”

Suaranya sama sekali tidak mengandung tantangan, melainkan lebih mengandung penyerahan dari seorang yang sudah putus asa, putus harapan karena tidak melihat lagi kegairahan hidup. Dia benar-benar seorang anak haram yang hina dan tercela! Kehilangan hatinya kepada Siang Hwi yang menghinanya, kemudian muncul Giok Lan yang merupakan pelita yang akan dapat menerangi hatinya yang gelap, akan tetapi ternyata bahwa Giok Lan adalah saudaranya sendiri, adik tirinya, satu Ayah lain Ibu!

Dan yang lebih hebat daripada semuanya, ia telah membunuh Ayah kandungnya sendiri. Apalagi yang diharapkan dalam hidup ini? Dengan langkah tenang akan tetapi tubuh dan semangat lemas ia keluar tanpa menengok lagi, Kemudian, sebaliknya di pekarangan luar, ia berdiri menanti Siok Lun dengan pandang mata sayu dan muka muram. Siok Lun mengejar keluar diikuti oleh Giok Lan yang menangis terisak-isak dan oleh Bi Hwa yang mengerutkan keningnya.

Gadis ini ikut menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan dalam menghadapi peristiwa mengerikan dan menyedihkan ini. Juga timbul ketidakpuasaan di dalam hatinya mendengar bahwa Ayah Suhengnya yang akan menjadi suaminya itu adalah seorang bekas perampok yang telah melakukan perbuatan-perbuatan sedemikian kejinya terhadap Ibu Kwan Bu. Memang tadinya ia pun sudah kecewa setelah mengenal watak calon suaminya yang mata keranjang dan pelahap wanita. Akan tetapi apa yang dapat ia lakukan?

Ia telah terperosok, terjebak oleh nafsunya sendiri, telah menyerahkan diri kepada Siok Lun. Dia tidak dapat mundur lagi dan terpaksa harus menerima pemuda yang telah memiliki tubuhnya itu sebagai suami, sungguhpun rasa kasih sayangnya telah menipis, bahkan menghilang oleh kenyataan betapa watak calon suaminya ini amatlah kotornya. Kini dltambah kenyataan tentang Ayah Siok Lun, benar-benar hati Bi Hwa menjadi berduka, kecewa dan juga bingung.

Adapun Siang Hwi yang menyaksikan itu semua, bagaikan sebuah bayangan ikut pula lari keluar dan kini berdiri di pinggiran dengan pedang tetap di tangan, memandang kepada Kwan Bu. Kini pandang matanya terhadap Kwan Bu sudah banyak berubah, lenyap sinar kebencian dan kecurigaan karena ia sudah tahu akan segala keadaan pemuda itu, kini terganti oleh sinar mata yang mengandung rasa kasihan.

“Kau... kau bedebahl Kau harus mengganti nyawa Ayah!” berseru keras lalu maju menubruk, memukul ke arah dada Kwan Bu.

Kwan Bu hanya memandang tanpa berkedip, tidak menangkis, juga tidak mengelak, menerima hantaman itu dengan mata terbuka. “Desss....!” Tubuh Kwan Bu terjengkang ke belakang, dadanya serasa pecah, napasnya sesak dan ia bangkit berdiri, wajahnya pucat sekali. Dia telah mengerahkan sinkang untuk menerima pukulan itu, namun pukulan Suhengnya amatlah hebatnya sehingga biarpun ia tidak terluka hebat di sebelah dalam dadanya, tetap saja ia merasa nyeri yang menusuk-nusuk rongga dada.

“Kau..., kau tidak membalas? Bagus... kalau begitu mampuslah!“ Siok Lun mencabut pedangnya.

“Koko, jangan... “ Giok Lan maju dan memeluk lengan kakaknya sambil menangis.

“Moi-moi, mengapa kau menghalangiku? Dia musuh besar kita! Dia membunuh Ayah kita! Pergilah!”

Akan tetapi Giok Lan tidak melepaskan pelukannya dan kini berkata dengan suara gemetar. “Koko, ingatlah. Dia adalah saudara kita sendiri! Dia adalah kakakku, dia adikmu! Dia adalah putera Ayah juga! Lupakah engkau akan pengakuan Ayah tadi? Biarpun dia Ayah kita sendiri, akan tetapi kita harus tidak menutup mata terhadap perbuatannya yang keji, Ayah telah membunuh semua keluarga Ibunya, telah memperkosanya dan membutakan mata Ibunya.

"Kita sudah tahu betapa dia selalu mencari musuh besarnya, tidak disadari bahwa musuhnya adalah Ayahnya sendiri. Ketika mendengar suara Ibunya dan mendengar bahwa Ayah kita adalah musuh besarnya, dia menyerangnya dengan jarum, tepat seperti dahulu Ayah menyerang dan membutakan mata Ibunya! Ayah kita yang bersalah!”

Siok Lun mulai meragu dan mulutnya yang cemberut, hanya mengeluarkan suara. “Hemm... hemm!”

“Kalau kau memaksa hendak membunuhnya, apa lagi dia sama sekali tidak melawan, berarti engkau menambah dosa Ayah dan aku..., aku akan terpaksa melawanmu, koko. Biar aku mati sekalian ditanganmu...!” Giok Lan menangis tersedu-sedu.

Siok Lun menghela napas, memandang kepada Kwan Bu yang menundukkan muka, kemudian Siok Lun berkata, “Kwan Bu adalah Suteku, dan ternyata adikku sendiri. Kau benar, Lan-moi, dia membunuh Ayah karena tidak tahu. Dan Ayah... ah, salah siapakah ini? Salah siapa?” Ia menghela napas dan menyarungkan pedangnya kembali. “Sute, aku tidak membunuhmu. Kau adikku sendiri. Akan tetapi, salah siapakah ini?”

“Salah Ayah kita!” jawab Kwan Bu, suaranya tegas.

“Ya, salah Ayah kita. Ah... tidak! Salah dia semua ini!” Tiba-tiba ia menuding ke arah Siang Hwi yang berdiri di pinggiran.

“Salah wanita keparat ini! kalau dia tidak datang mengacau, tentu Ayah kita tidak mati, tentu tidak terjadi semua ini. Gadis ini yang salah, dan aku harus meghukum dia! Dia anak pemberontak, dia yang menyebabkan kematian Ayah dan kematian Ibumu!” Tiba-tiba saja Siok Lun berkelebat maju ke arah Siang Hwi.

“Suheng...!” teriak Kwan Bu.

“Koko, jangan...!” teriak Giok Lan.

Siang Hwi menusukan pedangnya, akan tetapi dengan sebuah tangkisan pedang itu terpental dan di lain detik Siok Lun telah memondong tubuh Siang Hwi yang menjadi lemas karena telah ditotoknya secepat kilat, “Aku harus menghukum dia...., ha-ha-ha, harus menghukum kuda liar ini!” Seperti orang gila Siok Lun menciumi muka Siang Hwi dan membawanya lari memasuki rumahnya.

Kejadian ini amat tidak terduga-duga dan terjadi cepat sekali sehingga yang lain-lain sejenak melongo, akan tetapi kemudian Kwan Bu mengeluarkan suara gerangan aneh dan tubuhnya berkelebat memasuki rumah lagi, melakukan pengejaran, Giok Lan menjerit dan mengejar pula. Bi Hwa menjadi pucat mukanya, menggigit Bibirnya sampai berdarah kemudian ia pun lari mengejar mereka. Pintu kamar itu tertutup dari dalam, Biarpun Kwan Bu menggedor-gedornya, tetapi tidak dibuka karena sudah dipalang dari dalam.

“Suheng! Bukalah! Suheng, aku tidak akan membiarkan kau melakukan perbuatan terkutuk!” bentak Kwan Bu sambil menggedor pintu kamar, Ia mengharapkan Suhengnya atau juga kakak tirinya sadar dan membuka pintu, Namun Siok Lun tidak membuka pintu.

“Braakkkkl” Daun pintu itu pecah berantakan ketika diterjang oleh Bi Hwa, Gadis ini tidak mengeluarkan suara, akan tetapi pandang matanya beringas, berkilat-kilat dan mukanya pucat sekali sehingga darah yang keluar dari luka di Bibir bawahnya yang ia gigit sendiri tampak nyata.

Siok Lun membalikkan tubuhnya sambil menyeringai memandang Kwan Bu dan Bi Hwa yang berada di ambang pintu. Tubuh Siang Hwi yang lemas menggeletak di atas pembaringan, matanya terbelalak. Siok Lun yang tadinya menelungkup memeluk gadis itu kini membalikkan tubuh, napasnya terengah-engah, pandang matanya seperti pandang mata seekor anjing yang sedang makan tulang lalu diganggu. Beringas dan penuh ancaman.

“Tak boleh seorang pun mencampuri urusanku ini! Aku hendak menghukumnya, aku hendak membalas kematian Ayah! Yang menghalangi akan kubunuh?”

“Suheng, kalau begitu, aku bersedia kau bunuh karena aku akan menghalangi perbuatanmu yang terkutuk ini!” jawab Kwan Bu. Kini suaranya sudah berubah tidak seperti tadi, melainkan penuh tantangan. Kini ada sesuatu yang mendatangkan kembali gairah hidupnya, yaitu melindungi Siang Hwi daripada bahaya mengerikan. Kini ia harus hidup untuk menolong dan melindungi gadis yang dicintainya itu.

“Kau? Kau Suteku dan adikku sendiri? Ha, benar-benar kau sudah bosan hidup! Mari kita selesaikan urusan ini kalau memang kau ingin sekali mati di tanganku!” berkata demikian, Siok Lun mencabut pedangnya.

“Aku menanti di Iuar!” kata Kwan Bu sambil berlari keluar.

Siok Lun mengejar keluar dan Bi Hwa Juga keluar tanpa mengeluarkan kata-kala, Giok Lan yang menjadi bingung itu segera menghampiri Siang Hwi dan berusaha membebaskan totokan kakaknya yang hampir membuat gadis itu lumpuh.

“Cabut pedangmu....!” Siok Lun menantang.

Kwan Bu tersenyum dingin. Kakak tirinya atau bukan, Suhengnya atau bukan, sudah menjadi kewajibannya untuk menentang orang ini. Kalau tidak, tentu ia malu menjadi murid gurunya. Ia lalu melepaskan pedang yang dikaitkan sebagai ikat pinggangnya, tampak sinar merah dan suara Kwan Bu terdengar berwibawa,

“Phoa Siak Lun, berlututlah! Aku mewakili Suhu untuk menangkap kau sebagai seorang murid durhaka dan menyerahkan kepada Suhu!”

Siok Lun dan Bi Hwa memandang pedang itu, terkejut bukan main. “Toat-Beng-Kiam...!” Hampir berbareng Siok Lun dan Bi Hwa berseru ketika mereka mengenal pedang itu.

“Kau... kau dari mana mendapatkan pedang itu? Kau curi dari tangan Suhu?” Tanya Siok Lun.

Akan tetapi Bi Hwa sudah menjatuhkan diri berlutut sebagai tanda penghormatan kepada pedang itu yang mewakili kehadiran Suhunya.

“Phoa Siok Lun, kau sungguh murtad. Setelah melihat pedang pusaka ini, kau masih belum bertutut? Aku menjadi wakil Suhu, berhak menghukum setiap orang murid yang menyeleweng. Akan tetapi aku tidak mau membunuhmu, hanya hendak membawamu kepada Suhu. Menyerahlah dan lepaskan pedangmu,”

“Ha-ha-ha-ha! Kau mimpi! Kwan Bu, kau... bocah haram! Meskipun kau anak Ayah tetapi kau terlahir dari hubungan gelap, Siapa takut padamu? Biarpun Suhu sendiri yang menghalangi urusanku dengan anak pemberontak itu, dia tidak berhak. Apa lagi kau!”

“Phoa Siak Lun! Sekali lagi, apakah kau tidak mau menyerah?” Kwan Bu berkata dengan suara nyaring.

“Suheng, jangan melawan! Engkau sudah menyeleweng, mengaku dan menyerahlah, tentu Suhu akan mengampuni dosamu!” tiba-tiba Bi Hwa yang semenjak tadi dia saja berkata sambil berlutut.

“Apa? Siapa menyeleweng? Aku suka kepada nona Bu puteri pemberontak itu, siapa perduli? Aku hendak menghukumnya menurut caraku, siapa akan menghalangiku? Bi Hwa, engkau menyebut Suheng lagi kepadaku, apakah engkau tidak mau mengakui aku sebagai calon suamimu? Jangan kau membela bocah kurang ajar ini! Ingat, kalau aku tidak mau mengambilmu sebagai isteri, siapa lagi yang sudi? Kau bukan perawan lagi! Dan kau tidak boleh cemburu, kalau menjadi isteriku, apapun yang akan kulakukan, kau harus patuh, Mengerti??”

Muka Bi Hwa menjadi pucat sekali dan ia seperti habis ditampar mukanya, Kwan Bu makin marah, “Phoa Siok Lun, engkau sungguh seorang murid yang sesat, seorang manusia yang berhati busuk..!”

“Cerewet!” Siok Lun membentak dan menerjang maju, menyerang Kwan Bu dengan pedangnya, Kwan Bu sudah siap sedia, cepat ia menggunakan pedang Toat-Beng-Kiam sehingga tampak sinar merah darah yang menyilaukan mata.

Namun Siok Lun adalah seorang sombong dan percaya kepada kelihaiannya sendiri. Dia tidak gentar dan cepat menarik kembali pedangnya yang hendak ditangkis, kemudian merobah gerakan yang tadi membacok leher itu dengan sebuah tusukan kilat ke arah perut Kwan Bu disusul sebuah sodokan dengan jari tangan terbuka yang menyambar dari kiri menuju pelipis lawan. Hebat bukan main gerakan Siok Lun, selain cepat sekali juga mengandung hawa pukulan yang kuat.

Kwan Bu bersikap tenang. Tentu saja ia mengenal jurus yang dipergunakan Suhengnya untuk menangki, kemudian memutar tubuhnya dan pedang yang terpental karena benturan itu kini membabat ke atas “Memotong” jalan penyerangan tangan kiri Siok Lun. Siok Lun berseru marah. Ia tadi cepat-cepat menarik lagi pedangnya karena ia masih ragu-ragu dan jerih untuk mengadu pedang keras-keras.

Maklum bahwa pedang Suhunya itu adalah pedang pusaka yang amat ampuh. Dengan kemarahan meluap ia kini menyeruduk maju seperti seekor harimau kelaparan, menyerang dengan ketebalan pedangnya, amat cepat gerakannya untuk menghimpit dan mendesak Kwan Bu sehingga Sutenya itu tidak akan mendapat kesempatan untuk balas menyerangnya.

Kwan Bu sudah mengenal Suhengnya ini, bahwa gerakan Suhengnya amat cepat, bahwa ginkang Suhengnya amat tinggi, Ketika belajar di bawah pimpinan Pat-Jiu Lo-Koai dahulu, dalam latihan-latihan mereka, ia hanya dapat mengimbangi ginkang dari Suhengnya ini, namun dalam hal kecepatan, ia masih kalah seusap. Selain ini, juga Suhengnya itu pandai sekali menciptakan gerakan-gerakan memancing, gerakan-gerakan palsu yang membingungkan lawan.

Jurus-jurus yang mereka pelajari, namun dalam penggunaannya Siok Lun pandai menambah gerakan variasi yang mengkombinasikan sebuah jurus dengan jurus berikutnya. Namun, Pat-Jiu Lo-Koai dapat mengenal murid-muridnya dan kakek ini lebih condong untuk mengangkat Kwan Bu menjadi wakilnya, bukan hanya karena ia lebih percaya akan batin muridnya ini, melainkan juga karena ia tahu bahwa Kwan Bu memiliki ketenangan yang luar biasa.

Dan ketenangan inilah yang mengatasi segala kelebihan Siok Lun. Dalam keadaan tenang dan waspada, Kwan Bu tidak dapat diperdaya oleh segala gerak tipu, dan kini ditambah lagi dengan keunggulan pedang pusaka Toat-Beng-Kiam, Siok Lun sama sekali tidak mampu mendesak Sutenya. Andaikata mereka bertanding dengan dasar pamrih yang sama, yaitu untuk saling membunuh, Kiranya Siok Lun takkan dapat bertahan jika Kwan Bu mendesaknya dengan balasan serangan maut.

Akan tetapi, Kwan Bu tidak bermaksud membunuh Suhengnya, sungguhpun ia berhak melakukan hal ini sebagai wakil Suhunya, dan sungguhpun ia amat membenci perbuatan-perbuatan Siok Lun yang tidak patut terhadap Siang Hwi, Ia tidak tega untuk membunuh Siok Lun, selain karena mereka merupakan saudara seperguruan yang semenjak kecil berkumpul di gunung, juga di tambah lagi kenyataan bahwa mereka masih seayah, masih saudara seketurunan!

Karena inilah, maka agak sukar bagi Kwan Bu untuk menundukkan Suhengnya ini tanpa membunuhnya. Tingkat ilmu silat mereka tinggi, dan kelebihan ketenangan dan pedang pusaka di tangan Kwan Bu diimbangi oleh kelebihan Siok Lun dalam hal ginkang dan gerak tipu. Untuk menundukkan lawan yang seimbang tanpa mengeluarkan jurus-jurus maut untuk menyerangnya, sungguh merupakan hal yang tidak mudah.

Bi Hwa sudah bangkit berdiri, wajahnya pucat sekali, matanya mengeluarkan sinar aneh. Wwajahnya yang cantik itu mengerikan, seperti wajah mayat hidup dan sesungguhnya dia sudah “Mati” di bagian dalam dadanya hatinya sudah hancur lebur dilumatkan ucapan Siok Lun tadi. Dia berdiri bagaikan patung hidup, menonton pertandingan itu dengan penuh perhatian.

Ketika dua orang pemuda perkasa itu tengah bertanding ramai-ramainya, muncul pula Siang Hwi dan Giok Lan. Dengan susah payah tadi Giok Lan membebaskan totokan di tubuh Siang Hwi dan setelah berhasil, ia cepat mengambil pakaiannya untuk dipakai gadis yang pakaiannya sudah dirobek oleh tangan nakal Siok Lun, Siang Hwi terisak dan berbisik, “Terima kasih, engkau baik sekali..?”

“Dalam kejadian seperti ini, tak perlu berterima kasih..? jawab Giok Lan yang matanya merah karena banyak menangis. “Aku khawatir sekali..., mari kita lihat bagaimana jadinya dengan mereka berdua...!”

Siang Hwi mengangguk dan mereka keluar memandang penuh kekhawatiran kepada dua orang muda yang sedang bertanding hebat dan mati-matian itu, Siang Hwi merasa betapa kedua kalinya menggigil, Ia mengkhawatirkan keselamatan Kwan Bu. Ia tahu bahwa kembali Kwan Bu telah menolongnya dan membelanya, bahkan kini pemuda itu membelanya dengan pengorbanan hebat, yaitu dengan menantang Suheng dan juga kakak sendiri!

Ia tahu betapa besar rasa cinta kasih Kwan Bu kepadanya, dan sekali ini, setelah untuk kesekian kalinya ia menghina pemuda itu, Kwan Bu masih tetap membelanya dengan taruhan nyawa! Kwan Bu yang tadi ia lihat seperti sudah kehilangan gairah hidup, yang sudah putus asa karena tekanan batin hebat. Kini kembali menjadi penuh semangat hanya untuk membela dirinya! Ia menjadi terharu dan malu kepada diri sendiri. Berhargakah dia ini, yang sudah membikin malu kepada Kwan Bu sampai berkali-kali, untuk dibela seperti itu oleh Kwan Bu?

Tidak, ia tidak berharga dan harus malu kepada diri sendiri. Di sudut hatinya, belum pernah ia mencinta seorang pria seperti perasaannya sekarang terhadap Kwan Bu. Hanya Kwan Bu sajalah satu-satunya pria yang pernah dicintanya, yang selalu dirindukannya. Namun, keangkuhannya selalu menolak dan menentang perasaan cinta kasihnya ini! keangkuhannya yang merasa bahwa ia adalah bekas nona majikan pemuda itu, bahwa Kwan Bu hanyalah seorang pelayan, seorang kacung, bahkan seorang anak haram! Semua ini yang membuat ia selalu melawan perasaannya sendiri.

Ketika dua kali ia terbuai dalam pelukan Kwan Bu, merasa nikmat dan penuh bahagia dicium dan membalas ciuman Kwan Bu. Pikiran itu pula yang membuat ia memaki dan menjatuhkan fitnah untuk menyembunyikan rasa malunya! Dia benar-benar tidak berharga untuk Kwan Bu dan diam-diam hatinya menangis!

Adapun Giok Lan ketika tiba di luar dan melihat pertandingan hebat yang sedang terjadi atara kedua orang kakaknya itu, hanya berdiri terbelalak dan mulutnya terengah-engah penuh kegelisahan. Siok Lun adalah kakak tirinya, seayah lain Ibu, juga Kwan Bu adalah kakak tirinya. Hal yang amat mendukakan hatinya karena sesungguhnya ia amat mencinta pemuda itu, Kini tak mungkin ia memandang Kwan Bu sebagai seorang kekasih. Namun, melihat kedua orang kakak tirinya itu bertanding, hatinya condong berpihak Kwan Bu.

Bukan karena memang ada perasaan cinta kasihnya, melainkan juga karena ia melihat jelas betapa jahatnya Siok Lun. Ingin ia melerai, ingin ia mencegah mereka saling bunuh, akan tetapi ia tak berdaya karena ilmu pedang mereka itu amat tinggi, gerakan mereka amat cepat sehingga mengikuti gerakan pedang mereka saja ia tidak mampu, yang tampak olehnya hanyalah dua gulungan sinar pedang putih dan merah, yang berkelebatan dan berlingkaran.

Pertandingan kini berlangsung dengan hebatnya, mencapai puncak bahaya maut karena masing-masing kini telah mengeluarkan jurus-Jurus simpanan yang paling hebat. Kwan Bu yang masih segan untuk membunuh Suhengnya, menjadi terkejut menyaksikan betapa lawannya ini sekarang seratus persen mencurahkan segala daya silatnya untuk menyerang dengan serbuan maut.

Tanpa memperdulikan segi pertahanan dan ini membuktikan kecerdikan Siok Lun. Agaknya Siok Lun maklum akan isi hati Sutenya yang ingin merobohkannya tanpa membunuh, dan hal yang merupakan kelemahan besar bagi Kwan Bu ia pergunakan baik-baik, yaitu dengan jalan memperkuat penyerangannya tanpa memperdulikan pertahanan, karena tahu Sutenya itu tidak akan membunuhnya!

Kwan Bu cepat melindungi tubuhnya dengan sinar pedang sambil memutar otak. Diapun bukan seorang bodoh dan dalam detik-detik berbahaya itu ia mendapat akal yang amat baik. Ketika ujung pedang Suhengnya mengancam ulu hati dengan tusukan maut yang amat kuat dan cepat, ia miringkan tubuh, sengaja berlaku lambat sehingga ujung pedang lawan menusuk pangkal lengan kirinya.

Akan tetapi begitu ujung pedang itu amblas menusuk dagingnya, Toat-Beng-Kiam berkelebat cepat dan terdengar suara keras ketika pedang itu membabat langsung dari samping dengan cepat sekali sehingga pedang di tangan Siok Lun patah menjadi dua. Dalam detik berikutnya selagi Siok Lun terbelalak dan kaget, Kwan Bu menendang lutut Suhengnya sehingga tanpa dapat dicegah lagi tubuh Siok Lun roboh terguling.

Tiba-tiba terdengar pekik melengking dan Bi Hwa sudah melompat maju, menubruk ke arah Siok Lun dengan pedang di tangan. Sebelum Kwan Bu sempat mencegah, tahu-tahu pedang itu telah amblas ke dada Siok Lun sampai kegagangnya, dan ujung pedang yang menembus punggungnya!

Siok Lun terbelalak memandang wajah Bi Hwa yang berada dekat karena tubuh gadis itu terdorong ke depan setelah pedangnya menembus dada. “Kau..., ahh..., kau...?” Siok Lun menggerakkan kedua tangannya ke depan, memukul dan terdengar suara “Krekkk!” ketika dua tangan yang terbuka jari-jarinya itu menghantam kepala Bi Hwa dengan pukulan yang keras yang mengandung tenaga sinkang terakhir.

Kepala gadis itu pecah dan tubuhnya tertelungkup, menindih tubuh Siok Lun. Kedua orang itu dalam keadaan berpelukan karena berkelojotan dalam sekarat, kemudian tak bergerak lagi, keduanya mati dalam berpelukan!

“Suheng... Suci...” Kwan Bu melempar pedangnya dan menubruk maju, berlutut dan menangis, tak memperdulikan bahu kirinya yang mengucurkan darah.

“Koko…!” Giok Lan juga berlutut dan memeluk tubuh kakaknya yang sudah menjadi mayat.

Sementara itu, dengan hati penuh keharuan dan penyesalan terhadap diri sendiri, Siang Hwi meninggalkan tempat itu secara diam-diam, mengambil kesempatan selagi Kwan Bu dan Giok Lan terbenam dalam kesedihan dan para pelayan datang berlari-lari menghampiri pekarangan yang banjir darah itu. Ketika jenasah-jenazah itu oleh para pelayan diangkut kedalam dan mereka sibuk mempersiapkan peti mati dan alat keperluan sembahyang, Giok Lan dan Kwan Bu saling memandang dengan sinar mata sayu.

Melihat sinar mata gadis itu yang penuh kedukaan, penuh penderitaan dan kegelisahan, Kwan Bu menelan ludah dan akhirnya dapat mengeluarkan suara, “Aku... aku yang menyebabkan kesengsaraanmu”

Giok Lan mendekap mukanya dan menangis lagi. Kalau tadi ia menahan, hanya dengan air mata mengalir tanpa suara, kini ia merintih-rintih dan mengguguk. Dicobanya untuk mengeluarkan suara, akan tetapi tidak mampu dan ia hanya menggeleng kepalanya.

Kwan Bu teringat-ingat akan Siang Hwi, menengok ke kanan-kiri mencari-cari, maklumlah ia bahwa gadis itupun diam-diam sudah pergi. Hatinya menjadi makin kosong dan ia berkata lagi, “Aku... lebih baik membawa pergi jenasah Ibuku dari sini...”

Dengan langkah lemas ia pergi meninggalkan Giok Lan yang masih menangis dengan niat hendak membawa jenazah Ibunya dan menguburnya di suatu tempat jauh dari situ. Giok Lan menurunkan tangannya yang menutupi muka, memandang terbelalak kemudian menjerit dan menubruk, merangkul kaki Kwan Bu sambil menangis dan berkata tersedu-sedu.

“Kau... kau kejam..., kau kejam sekali, Eh, koko mengapa engkau sekejam ini kepadaku...?”

Kwan Bu merasa jantungnya seperti ditusuk. Ia pun berlutut dan memegang kedua pundak gadis itu. Melihat wajah yang penuh penderitaan itu, melihat sepasang mata itu bercucuran air mata, dada itu tersedak-sedak, Kwan Bu tak dapat menahan keharuan hatinya. Gadis ini adalah adiknya, adik tiri seayah. Gadis ini tidak berdosa, akan tetapi harus mengalami penderitaan ini semua, Ia merangkul dengan air mata menitik. “Giok Lan, adikku...!”

“Koko..! Kasihaniah aku..., aku kehilangan Ayah dan kakak... aku ditinggal sendirian... apakah engkau juga hendak meninggalkan aku...?”

Kwan Bu mempererat rangkulannya. “Tidak moi-moi, tidak..?”

Mereka berangkulan dan bertangisan sehingga para pelayan yang menyaksikan adegan ini ikut bercucuran air mata. Dengan penuh kedukaan, kedua orang kakak beradik yang sudah kehilangan segaIa-galanya ini hanya mempunyai sedikit hiburan, yang merupakan seutas tali harapan kecil di mana mereka bergantung, yaitu kenyataan bahwa mereka masih memiliki pertalian satu kepada yang lain dalam keadaan sebatang kara itu, mengurus empat jenasah itu menyembahyanginya dan kemudian menguburnya sebagaimana mestinya.

Karena Phoa-wangwe adalah seorang hartawan yang terkenal dermawan di kata Kam-Sin-Hu, tentu saja semua itu mengejutkan semua orang dan pemakaman jenasah-jenasah itu dilayat oleh semua penduduk Kam-Sin-Hu. Setelah pemakaman selesai, kedua kakak beradik ini duduk di ruangan depan, melamun. Keadaan malam hari itu sunyi, para pelayan yang kelelahan telah sore-sore memasuki kamar masing-masing untuk beristirahat. Spa lagi karena nona majikan mereka menyatakan tidak mau diganggu lagi.

“Lan-moi, sekarang aku terpaksa harus berpamit darimu. Aku akan pergi merantau, mungkin kita takkan bertemu lagi, moi-moi. Kau maafkanlah segala kesalahanku kepadamu. Engkau seorang gadis yang amat baik dan selama hidupku aku akan tetap mengakibatkan engkau menderita dan hidup kesepian dan sengsara.”

Wajah yang pucat itu makin melayu, mata yang sudah kehabisan air mata itu memandang sayu sehinga Kwan Bu tidak dapat menahan hatinya dan menunduk. Kemudian terdengar suara Giok Lan yang serak. “Bu-ko, engkau hendak ke manakah?”

“Entahlah, mungkin merantau... mungkin kembali kepada Suhu melaporkan kematian Suheng dan Suci...“

“Kalau begitu, aku akan ikut denganmu, koko!” Ucapan ini dikeluarkan dengan suara yang mencerminkan ketegasan yang takkan dapat dibantah lagi.

Kwan Bu terkejut dan cepat berkata, “Tidak mungkin, moi-moi. Aku akan ikut Suhu dan tidak turun gunung lagi, aku akan menjadi pertapa, menjadi seorang Hwesio untuk setiap hari bersembahyang kepada Tuhan dan mohon pengampunan atas segala dosa-dosaku,”

Giok Lan membelalakan matanya memandang kakak tirinya ini, yang tadinya merupakan satu-satunya pria yang dicintainya. “Apa? Engkau menjadi Hwesio? Tidak bisa! Tidak boleh! Engkau tidak berdosa, dan... dan engkau harus ingat kepada Siang Hwi! Apakah kau hendak menghancurkan pula hatinya, merusak hidupnya dan membasmi pengharapannya?”

“Apa... apa maksudmu?”

“Dia mencintaimu, koko! Mencintaimu dengan setulus hatinya. Ketika aku menolongnya dari keadaan tertotok, ia menangis dan berbisik bahwa dia telah berdosa kepadamu, benar-benar amat mencintaimu, koko. Tidak tahukah engkau akan hal itu?”

Kwan Bu menggeleng-geleng kepalanya, tidak percaya dan hatinya menjadi kesal karena terbayanglah pengalaman-pengalamannya dengan Siang Hwi. “Tak mungkin. Dia memandang rendah kepadaku. dan sudah sepatutnya. Aku seorang bodoh, miskin dan... aku seorang anak haram yang hina dina!”

“Koko!” Suara Giok Lan terdengar marah. Agaknya karena penasaran dan mengingat keadaan Kwan Bu, bangkit pula semangat gadis ini. Sepasang matanya bersinar-sinar penuh penasaran.

“Jangan sekali-kali kau sebut-sebut tentang anak haram lagi! Engkau bukan anak haram, karena bukankah Ayahku, Ayah kita, sudah mengakui perbuatannya dan sudah jelas bahwa kau puteranya? Andaikata benar engkau seorang anak haram, seorang anak yang dilahirkan di luar pernikahan yang sah, patutkah kalau kau dipandang hina dan rendah? Seorang anak yang dilahirkan tidak sah, mengapa dipandang hina? Salahkah anak itu? Salah pulakah Tuhan yang menghendaki anak itu terlahir? Apa dosanya? Apa dosamu sehingga engkau dilahirkan oleh Ibumu yang diperkosa Ayahmu?

"Yang bersalah adalah Ayah, bukan Ibumu dan bukan pula engkau. Kalau ada orang-orang yang memandang hina kepada seorang anak haram, maka yang hina adalah orang-orang itu sendiri, munafik yang merasa bersih dan Suci, yang merasa lebih pandai daripada Tuhan sendiri! Yang terang bersalah adalah Ayah, dan untuk kesalahannya itu Ayah telah menanggung akibatnya, mengapa orang-orang menghina engkau yang tidak berdosa?”

Kwan Bu menarik napas panjang. Ia dapat merasakan tepatnya ucapan adik tirinya ini dan diam-diam dia menjadi kagum. Adiknya ini sama sekali tidak mewarisi watak buruk dan rendah dari Ayahnya, agakanya mewarisi watak Ibunya. Dan memang harus diakui akan kepicikan pandangan manusia yang sudah menjadi “Umum”, padahal pendapat yang timbul dari pandangan sesat itu sesungguhnya menyeleweng dari pada kebenaran.

“Mungkin engkau benar, Lan-moi. Akan tetapi tidak boleh engkau ikut pergi bersamaku. Engkau seorang gadis terhormat, kaya raya dan hidupmu sudah senang sekali di tempat ini. Kalau engkau pergi, siapa yang akan mengurus semua harta bendamu? Mengapa mencari kesukaran mengikuti aku yang tidak bercita-cita ini?”

“Kalau engkau merasa aku hidup senang di sini, mengapa engkau mau pergi? Kita adalah kakak beradik. Harta benda yang berada di sini adalah peninggalan Ayah, Ayah kita! Engkau berhak pula mempergunakan dan menikmatinya, jangan pergi, koko, mari kita hidup berdua di sini sebagai kakak adik,”

Kwan Bu menggeleng kepala. “Terima kasih, moi-moi. Engkau seorang adik yang baik sekali, akan tetapi aku... aku lebih suka merantau...”

Giok Lan mulai mengangguk. “Memang, aku pun tahu. Dan karena engkau tidak mau tinggal bersamaku di sini, maka aku memutuskan untuk ikut denganmu. Aku tidak mau berpisah darimu, koko?" Giok Lan mulai terisak. "Aku..., aku hanya mempunyai engkau seorang. Engkau kakakku, pengganti orang tuaku..., bawalah aku pergi. Kita pergi merantau, dan mencari Siang Hwi...”

“Tidak! Perlu apa mencarinya? Dia sudah tidak sudi kepadaku!”

Giok Lan diam saja karena maklum bahwa diam-diam hati kakaknya ini menjadi sakit sekali karena sikap gadis itu yang sudah menyakiti hatinya. Diam-diam ia berjanji didalam hatinya untuk mempertemukan lagi dua hati yang amat saling mencinta itu.

“Baiklah, terserah kemana kau bawa aku pergi merantau, koko! Ah kita pergi ke tempat-tempat ternama dan indah. Kita punya banyak uang, untuk apa kalau tidak menikmati hidup? Kita naik dua ekor kuda yang hebat. Kuda pilihan, membawa bekal emas dan perak. Kita bersenang-senang, koko dan tidak mencampuri lain urusan yang memusingkan kepala.”

Tak mungkin Kwan Bu dapat menolak lagi dan tiga hari kemudian, berangkatlah dua orang kakak beradik ini menunggang kuda setelah Giok Lan menyerahkan perawatan rumah gedungnya kepada para pelayan yang setia. Seperti biasa, sekali ini pun Giok Lan berpakaian seperti seorang pemuda tampan, dan di sampingnya, Kwan Bu juga berpakaian indah sebagai seorang pemuda pelajar.

Giok Lan memaksa kakaknya untuk bertukar pakaian yang indah-indah dan untuk menyenangkan hati adiknya dan yang amat menyayanginya itu terpaksa Kwan Bu menurut saja. Benar seperti yang dikatakan Giok Lan setelah melakukan perjalanan merantau dan berpesiar ke tempat-tempat yang terkenal dan indah, hati mereka agak terhibur.

Kasih sayang antara mereka sebagai kakak beradik makin mendalam, terutama sekali bagi Kwan Bu yang selama ini tidak pernah merasakan kasih sayang seorang saudara. Bahkan baru sekali ini, selain Ibunya sendiri, Kwan Bu menerima kasih sayang dari orang lain. Kadang-kadang ia merasa kasihan kepada adiknya ini yang seperti juga dia secara “tidak kebetulan” terlahir sebagai anak dari seorang yang tak dapat dikatakan baik seperti Phoa Heng Gu, kepala rampok yang kejam itu.

Padahal Giok Lan adalah seorang gadis yang amat baik budi, ramah-tamah, dan tidak pernah mempunyai pikiran yang kotor atau jahat. Diam-diam Kwan Bu menduga-duga apakah Ibu gadis ini dahulunya menjadi isteri Phoa Heng Gu secara sukarela, ataukah paksaan, seperti yang telah diderita Ibunya! Ia tidak meragukan lagi bahwa Ibu dari Giok Lan tentu seorang wanita yang cantik dan berbudi,

“Aku tidak ingat lagi riwayat Ibuku.” jawab Giok Lan ketika Kwan Bu mengajukan pertanyaan. “Aku hanya ingat bahwa Ibuku seorang wanita cantik yang pendiam. Dia meninggal dunia ketika aku masih kecil. Ah, kalau dibandingkan, engkau lebih beruntung daripada aku, koko. Setidaknya, engkau kenyang akan kasih sayang Ibu ketika masih kecil."

Kwan Bu hanya menghela napas panjang. Segala pengalaman hidupnya sendiri dan keadaan hidup orang lain yang telah dihadapinya, menjadi pelajaran yang amat baik, keadaan-keadaan yang dapat dilihat dan didengar, sesungguhnya mengandung kebenaran-kebenaran dan pembukaan-pembukaan rahasia akan kehidupan.

Giok Lan semenjak kecil hidup berenang dalam laut kemewahan, namun gadis ini mengeluh dan merasa sengsara karena tidak mengenal kasih sayang Ibu kandung. Dia sendiri, semenjak kecil kenyang akan kasih sayang Ibunya, akan tetapi seperti halnya Giok Lan tak dapat menikmati segala kecukupannya. Ia pun tidak dapat menikmati kenyataan ini dan selalu merasa sengsara karena hidup sebagai orang miskin dan merasa nelangsa karena dicap sebagai anak haram yang hina!

Di manakah rahasianya kebahagiaan dalam limpahan harta benda. Dalam cinta, juga bukan, buktinya Bi Hwa tersiksa hatinya oleh cinta, dan dia sendiri pun telah merasai pahitnya cinta, Segala sesuatu yang terjadi dan yang menimpa diri, apa bila merugikan diterima dengan kecewa dan berduka, sebaliknya apa bila menguntungkan diterima dengan puas dan gembira.

Padahal, setiap manusia pasti akan mengalami hal-hal yang bertentangan ini, kadang-kadang merugikan dan kadang-kadang menguntungkan. Tak mungkin selalu menguntungkan lahir ataupun batin, Jadi, di manakah letaknya bahagia? Selama manusia masih terseret ke lingkaran yang tiada putusnya ini.

Masih menarik garis perbedaan antara rugi dan untung. tidak akan ada bahagia sejati baginya! Bahagia yang abadi dan sejati hanya akan dinikmati oleh mereka yang telah dapat menghapus garis pemisah antara untung dan rugi, antara susah dan senang, antara puas dan kecewa, Betapa hal ini dapat dilaksanakan? Dapat, dan syaratnya adalah penyerahan!

Penyerahan mutlak dan bulat dengan penuh kesukaran bahwasannya segala sesuatu, baik maupun buruk, yang dianggap menguntungkan atau merugikan, yang menimpa kepada manusia, adalah hal yang wajar dan sudah semestinya demikian! Kesadaran yang mendatangkan keyakinan ini akan menciptakan kebulatan penyerahan kepada kekuasaan Tuhan, dan barang siapa sudah berhasil menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan,dialah orang-orang yang benar bahagia!

“Lan-moi, sesungguhnya kalau aku merenungkan kembali segala pengalamanku, aku lebih condong untuk mencontoh guruku, Pat-Jiu Lo-Koai, menjauhkan diri dari pada keramaian dunia yang diakibatkan sepak terjang manusia, betapa bersama Suhu di puncak Pek-hong-san. Akan tetapi mengingat adanya engkau di dunia ini yang sebatang kara, hatiku tidak tega, moi-moi. Biarlah kalau kelak engkau menemukan jodohmu, ada seorang pria yang menjadi sandaran hidupmu, aku akan pergi menyusul Suhu.”

Giok Lan adalah seorang gadis yang tidak saja pandai ilmu silat, namun pandai pula tentang sastera dan filsafat. Biarpun Phoa Heng Gu seorang bekas kepala rampok. Akan tetapi setelah menjadi hartawan yang terhormat, ia menyuruh anak-anaknya mempelajari bun (sastera) dan bu (silat).

Mendengar ucapan Kwan Bu, Giok Lan menjadi merah mukanya dan tersenyum, “Bu-ko.... engkau tahu akan isi hatiku, mana mungkin bicara tentang jodohku? Kalau di dunia ini ada seorang pemuda yang seperti engkau, atau setidaknya hampir menyamaimu, mungkin aku akan berpikir tentang jodoh! Sekarang lebih baik tentang keinginanmu menjadi seorang pertapa, Koko, apakah kau menganggap baik dan tepat kalau orang mengasingkan diri dari dunia yang ramai dan menjadi pertapa?”

“Tentu saja baik!”

“Bagaimana baiknya? Apakah kebaikannya?”

“Banyak sekali! Di antaranya, menjauhkan diri dari dunia ramai, tidak mencampuri urusan dunia berarti menjauhkan diri daripada perbuatan yang merugikan orang lain,”

“Ah, pendapat itu tersesat, koko. Perbuatan tetap perbuatan, baik dan buruknya tergantung si pembuat. Kalau perbuatan dihentikan sama sekali, apa gunanya bagi manusia dan dunia? Seperti sebuah pisau, kalau dipergunakan untuk kebaikan tentu bermanfaat, kalau dipergunakan untuk keburukan menimbulkan kejahatan, terserah kepada dia yang menggunakan atau si pembuat. Akan tetapi kalau dibuang begitu saja sampai hancur berkarat, apa gunanya? Apakah gunanya dibikin pisau itu? Apa gunanya manusia dilahirkan kalau hanya untuk diasingkan tanpa ada manfaatnya sama sekali? Apa gunanya orang mengasingkan diri sendiri maupun untuk orang lain?”

“Wah, kalau pendapatmu seperti itu, berarti kau menyerang kaum pertapa yang Suci, moi-moi! Setidaknya, mengasingkan diri sambil bertapa seperti itu dapat menjauhkan segala godaan nafsu..?"

“Picik lagi pendapat ini. Nafsu tak dapat terpisah dari badan yang kita bawa ke manapun juga badan kita pergi. Perbuatan dan sifat pengecut kalau kita melarikan diri dari pada hal-hal yang dianggap godaan nafsu. hal di luar itu sudah wajar, menggoda atau tidak tergantung kita sendiri. Biarpun menjauhkan segala macam benda di dunia ini, kalau kita masih menjadi hamba nafsu. ke manapun kita pergi kita tidak akan terbebas daripada godaannya, dari pada cengkeramannyai.

"Sebaliknya, biarpun kita dikelilingi oleh segala macam maksiat, kalau kita sudah dapat menguasai nafsu kita sendiri, kita akan tetap aman dan tak mungkin dapat tergoda. Sesungguhnya bukanlah perbuatan maksiat yang tampak itu yang menjatuhkan seseorang, melainkan nafsunya sendiri. Dan orang tak mungkin dapat melarikan diri dari nafsu, melainkan harus menundukkannya dan mengendalikannya, seperti orang menundukkan dan mengendalikan seekor kuda liar, sehingga kuda yang tadinya binal dan berbahaya itu berubah menjadi kuda yang jinak dan berguna bagi kemajuan duniawi,”

Kwan Bu terbelalak. “Waduh, engkau hebat, moi-moi. Mendengar kata-kata yang keluar dari mulutmu, seolah-olah aku mendengar wejangan seorang ahli tapa dan seseorang bijaksana saja,”

Gadis itu tersenyum manis. “Aku hanya meniru-niru, koko. Meniru dari kitab-kitab yang pernah kubaca, hanya aku lupa lagi apa namanya kitab yang mengandung filsafat ini.”

“Akan tetapi itu baik sekali, moi-moi. Filsafat merupakan pelajaran yang amat berguna bagi siapa saja, karena pengertian itu seolah-olah menjadi tongkat bagi kita agar jangan mudah tersesat dan tergelincir di jalan kehidupan yang amat rumit dan licin.”

“Kita belum selesai, koko. Coba kemukakan lagi kebaikan daripada bertapa mengasingkan diri dari dunia ramai.”

“Tentang menjauhkan godaan nafsu sudah kau bantah. Sekarang kebaikan lainnya. Dengan menjauhkan diri dari pergaulan ramai, orang terhindar daripada bahaya penularan maksiat. Pergaulan dapat menyeret manusia ke dalam lembah kesesatan sehingga kalau menyendiri di tempat sunyi, bahaya itu tidak ada dan si pertapa akan tetap bersih. Bagaimana pendapatmu?”

“Tidak begitu! Memang harus diakui bahwa pergaulan mempunyai pengaruh yang besar, akan tetapi pengaruh ini hanya dapat menyeret orang yang memang hatinya lemah! Yang penting adalah dasar pribadinya sendiri. kotoran tetap kotor biar dicampurkan dengan segudang mutiara, tetap merupakan kotoran. Sebaliknya, mutiara tetap mutiara, biar dicampurkan dengan segudang kotoran. Tetap merupakan mutiara!

"Dasar pribadi yang kuat menjadi landasan, ditambah dengan kebijaksanaan sebagai manusia sadar yang tentu saja tidak akan menggauli golongan yang kotor! Biarpun tinggal di dunia ramai, di antara banyak orang jahat, namun dia yang batinnya bersih tetap waspada akan setiap perbuatannya. Sebaliknya, biar tinggal seorang diri di puncak gunung, kalau hatinya kotor tetap saja akan bergelimang dengan pikiran dan perbuatan kotor!”

“Wah, kau terlalu keras terhadap orang-orang yang biasa bertapa moi-moi!”

“Keliru, koko, bukan terhadap orang pertapa, melainkan terhadap orang yang munafik, yang ingin dianggap bersih namun sesungguhnya, batinnya sekotor isi perutnya!”

Kwan Bu tertawa dan baru sekarang ia dapat tertawa semenjak mereka meninggalkan kata Kam-Sin-Hu, Mereka melanjutkan perjalanan! Mengeprak kuda tunggangan mereka yang membalap keluar dari hutan yang teduh itu, dan jalan itu mulai menanjak memasuki daerah perbukitan.

“Kita harus cepat-cepat agar jangan kemalaman di jalan, moi-moi. Kurasa di depan tentu ada sebuah dusun di mana kita akan dapat rnenginap,”

“Baiklah, koko. Menginap di dusun, dalam sebuah rumah tentu lebih hangat, biarpun bagi orang-orang seperti kita ini apa sih halangannya menginap di tepi jalan dan di bawah pohon-pohon, bertilam rumput, beratap langit sambil menikmati kehangatan api unggun dan menikmati pula nyanyian burung malam, kerik jangkerik dan desir angin lalu diantara daun pohon?”

“Ha-ha-ha, engkau tidak sadar bahwa kenikmatan seperti itulah yang menarik para pertapa yang mengasingkan diri!”

Giok Lan hanya tersenyum akan tetapi Bhe Kwan Bu berkata, “Ah, di depan ada orang...!”

Giok Lan juga menghentikan kudanya dan keduanya lalu minggirkan kuda karena tampak ada serombongan orang berjalan kaki dari depan. Dari jauh kelihatan betapa serombongan orang itu telah tiba dekat, Kwan Bu mengeluarkan seruan tertahan dan melompat dari kuda, diikuti oleh Giok Lan. Mereka melihat bahwa ada seorang pemuda diantara mereka, pemuda ini bukan lain adalah Kwee Cin!

Yang mengagetkan hati mereka adalah ketika mereka melihat bahwa leher Kwee Cin dikalungi belenggu, sedangkan rantai panjang dari belenggu itu dipegang ujungnya oleh seorag kakek yang mereka kenal karena kakek ini bukan lain adalah Hek I Kim Hiap Lauw Tik Hiong, Suheng dari Bu Taihiap, tokoh Bu-Tong-Pai dan tentu dianggap sebagai seorang murid yang murtad ketika Kwee Cin menggunakan akal menyelamatkan Kwan Bu dan Giok Lan tempo hari!

Kwan Bu segera menghadang di tengah jalan, sedangkan Giok Lan cepat mengikat dua ekor kuda mereka pada sebatang pohon, kemudian bersiap-siap pula. jantungnya berdebar tegang dan ia maklum bahwa mereka berdua harus menolong Kwee Cin yang pernah menolong mereka. Bahkan, malapetaka yang saat ini menimpa diri Kwee Cin adalah akibat daripada pertolongan prmuda itu kepada mereka tempo hari.

“Berhenti! Harap cuwi suka membebaskan saudara Kwee Cin atau terpaksa aku berlaku kurang ajar dan menggunakan kekerasan!” kata Kwan Bu dengan suara tegas.

Hek I Kim Hiap Lauw Tik Hiong dan rombongannya berhenti, kemudian dengan dengan tenang Lauw Tik Hiong menoleh kekanan dan berkata dengan suara penuh hormat, “Susiok (paman guru) inilah dia Bhe Kwan Bu, pemuda hina itu. Dan gadis itu adalah adik dari Phoa Siok Lun si anjing penjilat!”

Kwan Bu dengan terkejut dan cepat menoleh ke kanan. Orang yang menjadi paman guru Hek I Kim Hiap itu adalah seorang kakek yang usianya sudah tujuh puluh tahun, berpakaian sebagai seorang Tosu, tubuhnya tinggi kurus dan tangannya memegang sebatang tongkat bambu yang butut. Pakaiannya juga butut dan rambutnya putih digelung ke atas itu ditutupi sebuah caping yang lebar, sikapnya tenang dan pandang matanya tajam.

Kwan Bu maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang tokoh besar Bu-Tong-Pai, seorang yang menjadi paman guru Lauw Tik Hiong, juga paman guru Bu Taihiap, tentu memiliki tingkat ilmu kepandaian yang tinggi. Namun, dalam tekadnya untuk menolong Kwee Cin, ia tidak menjadi gentar menghadapi kakek Tosu itu dengan sikap waspada.

Memang tepat dugaan Kwan Bu bahwa kakek itu bukanlah orang sembarangan. Dia ini merupakan tokoh Bu-Tong-Pai yang terkenal, karena dia itu adalah Loan Khi Tosu, orang kedua di Bu-Tong-Pai setelah ketua Bu-Tong-Pai yang telah terkenal diseluruh dunia kang-ouw bahwa Bu-Tong-Pai merupakan sebuah partai persilatan yang berdisiplin, keras dan memegang teguh peraturan, disamping terkenal pula sebgai golongan yang menamai dirinya pejuang, yaitu mereka yang anti Kaisar.

Karena kedisiplinan inilah mengapa kini seorang tokoh tua dan penting seperti Loan Khi Tosu sampai turun tangan sendiri dalam penangkapan atas diri Kwee Cin yang dianggap sebagai seorang penghianat dan murid murtad dari Bu-Tong-Pai. Kakek ini sudah mendengar penuturan Hek I Kim Hiap Lauw Tik Hiong tentang keadaan perjuangan pada masa itu, mendengar pula atas kekejaman murid Pat-Jiu Lo-Koai bernama Phoa Siak Lun yang telah menjadi pembantu Kaisar.

Betapa pemuda ini selain telah merobohkan banyak pejuang juga memperlakukan pejuang-pejuang wanita secara keji dan hina, memperkosa wanita memperkosa mereka lalu memberikan tawanan-tawanan wanita itu kepada anak buah pengawal untuk diperkosa dan dipermainkan banyak orang sampai mati!

Karena inilah, kakek ini turun tangan sendiri, apa lagi ketika mendengar bahwa murid keponakannya ini tadinya telah berhasil menawan Phoa Giok Lan adik perempuan pemuda jahat itu juga menawan Bhe Kwan Bu, seorang pemuda lain yang menjadi Sute Phoa Siok Lun, kemudian betapa mereka telah dibebaskan oleh Kwee Cin yang mengkhianati dan murtad terhadap perguruan.

Kini, mendengar bahwa pemuda yang bermata tajam dan bersikap tenang yang kini menghadang rombongannya itu adalah Bhe Kwan Bu, sedangkan gadis berpakaian pria itu adalah adik kandung Phoa Siok Lun, kakek itu mengangguk-angguk. Sebetulnya kemarahan bergejolak di dalam rongga dadanya, akan tetapi sebagai seorang yang memiliki batin yang kuat, kakek ini sama sekali tidak kelihatan marah, bahkan tersenyum dan matanya memandang tenang...

Jilid sebelumnya,

Jilid selanjutnya,
DENDAM SI ANAK HARAM JILID 14
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.