Dendam Si Anak Haram Jilid 11

BERPIKIR demikian, Siok Lun lalu merenggut lepas sebuah kancing bajunya dan menyambitnya ke arah bayangan wanita yang sedang mengintai. Wanita itu mendengar bersiutnya angin, cepat mengulur tangan menyambar benda yang menyerangnya.
Ia mengeluarkan suara kaget, agaknya ia menjadi kaget karena tangannya yang menerima benda itu terasa panas dan nyeri, tanda bahwa si penyambit bertenaga besar, apalagi setelah ia mendapat kenyataan bahwa benda itu hanya sebuah kancing.
Tahulah gadis baju hijau itu bahwa yang menyambitnya adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi sekali dan bahwa kehadirannya sudah diketahui orang!
Gadis itu adalah seorang yang sudah berpengalaman di dunia kang-ouw karena dia itu bukan lain adalah Cheng I Lihiap (Pendekar Wanita Berbaju Hijau, anak murid Kun-Lun-Pai yang pernah tertolong oleh Kwan Bu dan Giok Lan ketika tertawan di kuil Ban-Lok-Tang di Sian-Hu, ketika mereka itu kebetulan bersama-sama menyerbu kuil untuk membasmi pendeta-pendeta cabul yang dipimpin oleh Tong Kak Hosiang, si penjahat cabul yang berkedok pendeta.Cheng I Lihiap maklum bahwa para Panglima pengawal bukanlah orang-orang yang boleh dianggap ringan, maka kini setelah ia diketahui orang dan yang melihatnya itu benar-benar amat lihai. Ia segera melompat turun dari genting dan melarikan diri dari tempat berbahaya itu. Ia bermaksud menolong Siang Hwi setelah ia mendengar bahwa puteri Bu Taihiap yang terkenal itu menjadi tawanan.
Apalagi mendengar bahwa dusun-dusun tertimpa malapetaka di mana saja pasukan pengawal tiba. Akan tetapi ia tidak mau berlaku sembrono dan malam ini agaknya belum tiba saatnya yang baik baginya untuk menolong gadis puteri Bu Taihiap itu.
Akan tetapi, ketika ia tiba-tiba di luar dusun itu, di jalan yang sepi tiba-tiba ada bayangan berkelebat di sampingnya, mendahuluinya dan tahu-tahu seorang laki-laki yang tampan dan gagah sudah berdiri di depannya sambil bertolak pinggang dan tersenyum-senyum. Sinar bulan yang menimpa muka pria itu memperlihatkan wajah yang tampan dan gagah, namun sepasang mata yang nakal dan kurang ajar.
“Heh-heh, nona manis berbaju hijau! Setelah datang tanpa diundang, mengapa pergi tanpa pamit.”
Cheng l Lihiap memandang penuh perhatian, lalu berkata dengan suara ketus. “Siapa engkau dan mau apa menghalangiku?”
“Ha-ha! ditanya belum menjawab balas bertanya. Baiklah, nona manis namaku Phoa Siok Lun, seorang calon Panglima pengawal Istana! Tadi aku melihatmu, dan karena aku merasa sayang sekali kalau engkau sampai ketahuan para Panglima dan tentu akan dibunuh, maka kuperingatkan engkau agar pergi saja dari sana.”
Cheng I Lihiap mengerutkan alisnya. Jelas bahwa orang ini menyambitnya dengan kancing tadi, seorang yang berkepandaian tinggi. Orang ini memang telah memperingatkan dan mungkin menghindarkannya daripada bahaya maut, akan tetapi sikapnya sungguh ceriwis. Betapapun juga sebagai seorang tokoh kang-ouw telah menghindarkannya yang tahu aturan, apalagi menghadapi seorang lihai ia lalu menjura dan berkata.
“Kalau begitu, aku Cheng I Lihiap menghaturkan terima kasih atas peringatanmu tadi Phoa-Enghiong. Sekarang aku tahu betapa bodohnya mengganggu rombongan pengawal yang terjaga oleh orang-orang lihai sepertimu dan Panglima-Panglima lain. Selamat Tinggal.”
Cheng l Lihiap sengaja mengerahkan ginkangnya melesat jauh dengan sebuah loncatan yang dilanjutkan dengan lari cepat. Akan tetapi matanya terbelalak ketika memandang ke depan dan melihat bahwa pemuda tampan itu telah berada di depannya, tersenyum-senyum kepadanya.
“Nona yang cantik jelita dan gagah perkasa, mengapa tergesa-gesa amat?”
“Hemm, kau mau apa?” Cheng l Lihiap membentak, timbul kemarahannya karena pandang matanya yang sudah berpengalaman itu dapat melihat sifat cabul yang membayang pada pandang mata dan senyum pemuda itu.
Siok Lun tersenyum, “Heh-heh, nona sendiri telah mengaku bahwa aku telah menolongmu. Kalau bukan engkau, mana sudi aku menolong? Setelah menolong, masa habis sampai di sini saja? Nona, kalau memang nona ingin sekali menyaksikan keadaan di pondok-pondok yang didiami para pengawal dan tawanannya, mari ikut bersamaku. Engkau, akan aman dan kita dapat bercakap-cakap dan bersenang-senang dalam pondokku...”
“Keparat...! Kiranya engkau orang macam inikah? Sudah kuduga! Seorang yang bekerja sama dengan para pengawal yang kejam, yang mendatangkan bencana kepada rakyat, pasti bukanlah seorang manusia baik-baik.”
Berkata demikian, Cheng l Lihiap telah mencabut pedangnya, dipandang dengan senyum mengejek oleh Siok Lun. Darah Siok Lun bergolak, bukan marah, melainkan oleh nafsunya yang sejak sore tadi sudah menguasainya, dan kini menyaksikan Cheng l Lihiap dari dekat. Ia mendapat kenyataan bahwa pendekar wanita ini benar-benar cantik sekali dan memiliki bentuk tubuh yang menggairahkan.
“Nona, daripada bertanding, bukankah lebih menyenangkan kalau kita bercinta?”
“Tutup mulutmu yang kotor! Lihat pedang!” Cheng I Lihiap sudah menyerang Siok Lun dengan tusukan pedangnya ke arah leher.
Siok Lun hanya menundukkan kepalanya dan tangannya bergerak ke atas menyentil pedang itu. “Tringgg...! Aihhh..!”
Cheng l Lihiap terkejut sekali karena sentilan pada pedangnya itu membuat pedangnya tergetar hebat dan telapak tangan yang memegang pedang terasa kesemutan. Namun ia menjadi makin marah dan kembali pedangnya menyambar, kini membacok kepala lawannya yang ceriwis.
“Eihhh, benarkah engkau tega membunuh penolongmu, nona.” Siok Lun menggoda sambil mengelak cepat.
Cheng l Lihiap makin marah. Juga ia maklum bahwa keadaan dirinya berada dalam bahaya, Dari sikap, dan kata-kata pemuda tampan ini ia dapat menduga bahwa pemuda ini termasuk seorang pria yang tidak segan-segan menggunakan kepandaian dan kekerasan untuk memakan seorang wanita. Karena itu, dia harus dapat membunuh pemuda ini, bukan hanya demi menolong diri sendiri, juga untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang pendekar, membasmi orang-orang jahat di muka bumi.
Kini pedang Cheng l Lihiap bergerak cepat sekali mengirim serangan maut dengan kelebatan pedang yang menyambar secara bergelombang, susul menyusul dari kanan ke kiri dan membalik lagi sehingga dalam satu jurus saja ia telah menyerang ke arah pinggang, dan paha!
Akan tetapi Siok Lun jauh lebih cepat gerakannya lagi. Dengan loncatan-loncatan seperti burung terbang, ia dapat menghindarkan diri dan sebelum Cheng l Lihiap sempat menyerang lagi, tahu-tahu lengan gadis itu sudah kena dicengkeram. Sebuah totokan di pundak membuat pendekar wanita itu mengeluh dan ia menjadi lemas, pedangnya terlepas dari pegangan.
Siok Lun tertawa gembira, lalu memeluk dia menciumi muka Cheng l Lihiap sepuasnya tanpa gadis itu dapat berdaya sedikitpun kecuali merintih dan memejamkan matanya. Pemuda yang lihai namun bermoral betjat itu lalu menggendong tubuh yang sudah lemas itu, kemudian membawanya lari kembali ke dusun.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, Siok Lun berhasil membawa Cheng I Lihiap kembali ke pondoknya tanpa diketahui seorang penjaga pun. Ia melemparkan tubuh yang lemas itu ke atas pembaringan, kemudian tertawa dan berkata kepada gadis yang memandangnya dengan mata terbelalak penuh kebencian dan juga kengerian.
“Ha-ha, nona manis! Aku ingin melihat engkau meronta dan melawan, melihat engkau hidup dalam pelukanku, bukan seperti orang mati. Nah, kau melawanlah!” Ia lalu membebaskan totokan pada tubuh gadis itu sehingga kembali Cheng I Lihiap dapat bergerak.
Begitu merasa bahwa totokan tubuhnya sudah bebas, Cheng I Lihiap meloncat dan menerjang musuhnya, menggunakan kepalan tangannya memukul dada Siok Lun. “Dukk” Siok Lun sengaja menerima pukulan itu sambil mengerahkan ginkangya sehingga tangan gadis itu sendiri yang terasa nyeri, sedangkan tangan Siok Lun tidak tinggal diam, mencengkeram ke depan dan merenggut.
“Bretttt...!” Robeklah baju luar gadis itu sehingga kini tampak baju dalamnya yang berwarna merah muda!
“Ha-ha-ha! hayo lawan terus, nona manis. Dan kaupun boleh berteriak kalau berani. Berteriaklah agar banyak pengawal datang dan melihat engkau menjadi permainanku!”
Cheng I Lihiap menggigit bibirnya. Ia merendah dan malu sekali, juga penasaraan. Ia tahu bahwa kalau ia menjerit ia hanya akan menjadi tontonan dan buah tertawaan, maka ia menjadi nekat dan menerjang lagi. Namun mudah saja pukulannya ditangkis oleh Siok Lun yang kembali mencengkeram sehingga terdengar kain robek dan baju luarnya menjadi compang-camping tidak karuan. Ia makin nekat, terus menubruk lagi, sekali ini ia melakukan tendangan kilat ke arah bawah pusar lawan.
“Wah-wah, galaknya!” Siok Lun mengejek, menangkap kaki yang menendang dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menjambret ke depan.
“Brettt...!!” Sekali ini sebelah sepatu dan celananya terobek sehingga Cheng l Lihiap menjadi setengah telanjang. Melihat betis kiri yang padat dan berbentuk indah berkulit putih bersih, Siok Lun menjadi makin beringas. Ia terkekeh-kekeh dan menangkap gadis itu, dilemparkannya ke atas pembaringan di mana Cheng l Lihiap terbanting terlentang.
Sebelum gadis ini cepat meloncat turun, Siok Lun sudah menerkamnya. Ia memapaki dengan pukulan keras ke arah kepala pemuda itu namun lagi-lagi tangannya dapat ditangkap. Tedengar suara kain robek berkali-kali dan kini baju dalam berwarna merah muda itupun sudah compang-camping.
“Aihhhh...!” Cheng I Lihiap mengeluh dan berusaha menutupi dadanya yang telanjang dengan kedua tangan, Siok Lun makin beringas dan buas, ketika tangannya menyengkeram, kini bagian atas celana Cheng I Lihiap hancur dan robek-robek! Cheng I Lihiap merintih dan matanya terbelalak penuh kengerian. Ia terisak saking marah dan takutnya, kemudian karena ia maklum bahwa tak mungkin ia melawan laki-laki yang sudah seperti binatang buas ini, ia berlaku nekat da melakukan gerakan meloncat, membenturkan kepalanya sendiri ke dinding kamar untuk membunuh diri!
“Eh-eh... jangan begitu, manis!” Siok Lun cepat menyambar tubuh itu, mencegah si gadis membunuh diri, merangkul dan menciuminya.
Cheng I Lihiap kembali meronta dan menyerang, akan tetapi kini Siok Lun sudah menangkap kedua tangannya dengan satu tangan saja. Betapapun gadis itu meronta dia tidak mampu melepaskan kedua tangan yang pergelangannya sudah dicengkeram tangan kiri Siok Lun. Sambil tertawa-tawa dan menciumi seluruh tubuh gadis itu, Siok Lun menggunakan tangan kanannya untuk membelai-belai secara kurang ajar, kemudian mulai menggerayangi pakaiannya sendiri untuk ditanggalkan.
Cheng I Lihiap meronta-ronta, menggeliat-geliat sambil mengeluarkan suara merintih-rintih dan terisak-isak, namun hal ini agaknya menambah gembira hati Siok Lun yang tiada hentinya menciumi penuh nafsu yang buas.
“Aahhhh, jangan... jangan... bunuh saja aku...” Gadis itu merintih-rintih dan meminta-minta dengan suara mengandung isak tertahan.
“Membunuhmu? Aha, sayang sekali... kau begini manis, begini montok, begini menggairahkan...!”
Pada saat itu, daun pintu pondok itu di dorong orang dari luar dan terdengar seruan. “Suheng...!!”
Siok Lun terkejut sekali, seperti disambar petir rasanya. Ia cepat melepaskan Cheng l Lihiap dan membalikkan tubuh. Dengan kancing bajunya sudah terlepas semua ia berdiri memandang Bi Hwa yang telah berada di ambang pintu dengan muka marah dan mata menyinarkan api.
“Prokkkt!” Siok Lun tekejul bukan main dan cepat membalikkan tubuh. Ia tertegun memandang tubuh setengah telanjang yang menggairahkan itu di atas pembaringan, mukanya mandi darah yang muncrat keluar dari kepalanya yang retak-retak.
Ternyata Cheng l Lihiap mempergunakan kesempatan itu untuk membenturkan kepala sendiri pada dinding sampai pecah. Gadis pendekar yang namanya terkenal di dunia kang-ouw itu tewas dalam keadaan mengenaskan, akan tetapi ia terbebas daripada perkosaan yang pasti akan terjadi menimpa dirinya kalau saja tidak muncul Bi Hwa. Ketika seorang gadis perkasa muncul dan menyebut Suheng kepada Siok Lun, Cheng l Lihiap habis harapannya dan membunuh diri.
Siok Lun menghela napas panjang, hatinya kecewa sekali. “Dia sudah membunuh diri, tak perlu aku membunuhnya,” katanya.
“Suheng! Apa yang kau lakukan? Siapa dia?” Bi Hwa bertanya dengan suara marah.
Siok Lun membalikkan tubuh dan tersenyum. “Sumoi. jangan salah faham. Dia ini mata-mata musuh, tadi mengintai dan memasuki kamar bermaksud membunuhku. Akan tetapi untung aku belum tidur dan berhasil mengalahkannya. Dia cukup lihai dan galak..?
“Hemm, kalau bertanding biasa, masa pakaiannya sampai robek-robek semua seperti itu? Suheng. kau... kau masih juga belum berubah! Kau mengecewakan hatiku..?” Bi Hwa lalu menangis, menutupi mukanya dengan kedua tangan.
Siok Lun cepat maju mendekati, lalu memegang kedua pundak Sumoinya. Juga kekasihnya itu. “Sumoi, jangan salah mengerti. Dia... dia itu selain lihai juga galak dan sombong. aku... aku hanya ingin merobek-robek pakaiannya sebelum membunuhnya untuk membalas kesombongannya...!”
“Siapa tidak tahu watakmu? Cih, muak aku melihatmu! Suheng, kau benar-benar menyakiti hatiku..?”
Siok Lun lalu berlutut di depan kaki Sumoinya. memeluk kedua kaki itu. “Sumoi, kalau begitu maafkanlah aku. Sumoi... aku takkan melakukan hal itu Iagi... maafkan aku..?”
Bi Hwa memang sudah menyerahkan hati dan tubuhnya kepada Suhengnya ini. Melihat Suhengnya berlutut dan minta maaf, kemarahannya mereda dan ia lalu berkata perlahan. “Sudahlah, lebih baik kita cepat membereskan pakaian mayat itu agar tidak menjadikan bahan percakapan dan tertawaan para pengawal.”
Lega hati Siok Lun dan ia membiarkan Bi Hwa membereskan, bahkan mengganti pakaian Cheng I Lihiap sehingga gadis itu tewas dalam keadaan pakaian masih utuh. Kemudian para Panglima diberitahu bahwa wanita yang tewas itu adalah mata-mata musuh yang berhasil menyelinap masuk akan tetapi tewas oleh pukulan Siok Lun!
Semenjak peristiwa itu, Siok Lun selalu membujuk-bujuk Sumoinya untuk sudi melayaninya. Namun Bi Hwa selalu menolak dengan halus dan biarpun di luarnya Bi Hwa tidak kelihatan marah lagi, namun di dalam hatinya, gadis ini merasa tersiksa dan menyesal mengapa dia telah menyerahkan cinta kasihnya, menyerahkan tubuhnya kepada pemuda yang biarpun tampan dan gagah, namun amatlah mata keranjang dan cabul itu.
Bibit kebencian bersemi di dalam hatinya, namun ditahan-tahannya dengan hiburan kalau kelak sudah menjadi suaminya, tentu akan berubah watak yang kurang baik dari Siok Lun. Namun, benarkah dugaanya ini? Sukar untuk membenarkan karena watak Siok Lun ini sudah menjadi hamba nafsunya sendiri.
Sekarang yang sudah menghambakan diri kepada nafsu, dalam keadaan apapun juga, dan di manapun ia berada, nafsunya selalu mengajarnya, selalu mengusik dan mengganggunya, menuntut pemuasan. Setelah gagal mendaptakan diri Cheng I Lihiap dan Sumoinya bahkan selalu menolak ajakannya bermain cinta, Siok Lun menjadi gelisah selalu. Apalagi di waktu malam.
Ia segan untuk mencari perempuan dusun, karena mana mungkin perempuan-perempuan dusun disamakan dengan Cheng l Lihiap dan Sumoinya? Karena dorongan nafsunya tak dapat tertahankan lagi, mulailah ia mengincar Siang Hwi! Kalau saja ia dapat membujuk Siang Hwi. Dengan janji membebaskan gadis tawanan yang cantik itu! Harus ia akui bahwa biarpun dalam ilmu silat, Siang Hwi tidak selihai Cheng l Lihiap apalagi Sumoinya.
Namun Siang Hwi memiliki kecantikan yang khas, memiliki semangat yang menyala-nyala. Di dalam tubuh gadis tawanan terdapat api panas yang membuat nafsu berahinya makin berkobar jika ia memikirkannya. Biarlah kutebus tubuhnya dengan pembebasan, pikirnya atau kalau menolak lalu kupaksa siapa yang tahu? Kalau ia sudah berhasil memiliki gadis itu, tentu Siang Hwi pun tidak ada muka untuk menceritakan kepada orang lain.
Beberapa hari kemudian, pada suatu malam mereka tiba di kata Kam-suk-bun yang berada di sebelah Kota Raja. Malam itu merupakan malam terakhir yang merupakan kesempatan terakhir pula bagi Siok Lun untuk memusnahkan nafsunya yang sudah berkobar-kobar, rasa rindunya untuk memiliki tubuh gadis tawanan yang makin dikenang makin merindukan hatinya itu.
Selama dalam perjalanan, sungguhpun berkat pengawasan Liu Kong yang penuh perhatian keadaan Siang Hwi cukup baik dan terjamin, namun gadis itu selalu dibujuk-bujuk dan diancam untuk menceritakan keadaan teman-teman pemberontak yang lain. Namun semua pertanyaan tidak diperdulikan oleh Siang Hwi dan tidak dijawabnya kaena bagaimana dia harus menjawabnya?
Dia dan Ayahnya terseret ke dalam pasukan pemberontak setelah mereka berdua dibebaskan dari tawanan oleh kaum pejuang. orang dia kenal hanyalah mereka yang berkumpul di Hek-Kwi-San dan kini tokoh-tokoh pejuang itu telah terbasmi habis. Dia tidak tahu lagi dimana adanya pejuang-pejuang yang lain, yang tentu saja masih banyak sekali. Siang Hwi hanya mempunyai satu harapan, yaitu kalau dia berhasil meloloskan diri, ia akan menghubungi kaum pejuang itu.
Dan terutama sekali dia akan melakukan balas dendam atas kematian Ayahnya. Dia tahu bahwa pembunuh Ayahnya adalah Siok Lun dan Bi Hwa, dua orang musuh yang tak mudah dikalahkan akan tetapi ia tidak menjadi gentar. Dia akan berusaha. mencari bantuan diantara para pejuang yang ia tahu banyak terdapat orang-orang pandai. Kalau toh tidak ada yang akan membantunya, dia akan mencari dua orang musuh besar itu dan mengadu nyawa, membunuh atau dibunuh.
Kalau saja Kwan Bu... ah, dia tidak mau mengenang lagi pemuda itu. Dia akan menghubungi Suhengnya, Kwee Cin, yang tentu akan dapat membantunya. Apalagi Kwan Bu adalah Sute dari musuh-musuhnya, jadi termasuk musuhnya juga. Entah mengapa, kalau mengingat tentang hal itu, tak tertahankan lagi air matanya bercucuran.
Malam itu gelap sekali. Tidak ada bulan di langit hanya bintang-bintang yang suram karena terhalang mendung. Kebetulan sekali, penjagaan ketat siang dan malam dilakukan atas diri gadis tawanan itu, jatuh pada giliran Siok Lun dan beberapa orang pengawal. Kesempatan ini tidak akan disia-siakan oleh Siok Lun. Nafsunya telah menggerogoti hatinya, membuat ia gelap mata.
Bukan keadaan luar yang melahirkan perbuatan maksiat melainkan tergantung daripada keadaan batin seseorang. Kalau batin orang itu kuat, biarpun ia menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga, ia tetap akan teguh dan tidak tergoda. Sebaliknya. biarpun berada di tempat sunyi tidak ada kesempatan melakukan maksiat, kalau memang batinnya sudah kotor dia akan selalu membayangkan hal-hal yang menimbulkan nafsu-nafsunya.
Inilah sebabnya mengapa sebelum orang berbuat benar dan berbicara benar, harus lebih dahulu berpikir benar. Dengan pikiran kotor, maka ucapan dan perbuatan-perbuatan yang bersih sekalipun hanya merupakan kedok belaka. Dengan pikiran yang benar dan bersih, tidak akan mungkin terlahir ucapan dan perbuatan yang jahat dan kotor.
Di sinilah letak kebenaran pengajaran yang mengharuskan setiap orang manusia setiap hari membaharui dan membersihkan pikirannya dari pada hal-hal yang kotor dan jahat. Harus dapat memerangi dan menundukkan nafsu-nafsu yang mengotori pikiran sendiri. Karena kalau tidak, pikiran akan dikotori nafsu kemauan akan diperbudak oleh nafsu sehingga setiap ucapan dan perbuatan selalu didorong oleh pemuasan nafsu-nafsunya sendiri belaka.
“Perkuat penjagaan diluar.” Kata Siok Lun kepada sepuluh orang pengawal yang malam itu bertugas menjaga tawanan. "Kita sudah berada dekat Kota Raja, tentu para peberontak akan bergerak malam ini kalau mereka hendak menolong tawanan. Juga di bawah dan di atas. Keamanan di dalam tak usah khawatir aku sendiri yang akan menjaganya dan kalian tak perlu masuk karena dalam kesempatan ini aku akan membujuk si tawanan untuk mengaku.”
Tentu saja para pengawal mentaati perintah ini karena mereka sudah perpaya penuh akan kelihaian pemuda itu. Mereka tahu pula bahwa jasa pemuda ini bersama Sumoinya amat besar ketika dilakukan penyerbuan yang sukses di Hek-Kwi-San. Maka sepuluh orang pengawal itu lalu menjaga di luar pondok yang seperti biasa diambilkan pondok penduduk kota itu dan dijadikan tempat tahanan Siang Hwi.
Delapan orang menjaga di empat penjuru, masing-masing dua-dua orang, dan di genteng menjaga pula dua orang. Adapun Siok Lun sendiri menjaga di dalam. Dapat dibayangkan betapa girang hati pemuda ini karena kesempatan yang dinanti-nantikan telah tiba. Dia berada berdua saja di dalam pondok itu bersama Siang Hwi yang ia rindukan.
Lewat tengah malam, ketika Siang Hwi tidur pulas di atas pembaringan di dalam kamar tahanan di pondok itu, gadis ini terkejut dan tiba-tiba terjaga dari tidurnya, sambil menjerit dan melompat. akan tetapi.btidak ada suara yang keluar dari mulutya karena tangan Siok Lun sudah mendekap mulutnya dan menjajakan sehelai saputangan sehingga Siang Hwi merasa seperti tercekik.
Pinggangnya dipeluk sehingga ia tidak mampu melompat. Melihat bahwa yang melakukan hal ini adalah Siok Lun. Siang Hwi marah bukan main. Kedua tangannya lalu ia gunakan untuk memukul, akan tetapi cepat Siok Lun menotoknya, membuat Siang Hwi rebah kembali di atas pembaringan dengan lemas. Ia hanya dapat membelalakan mata ketika pemuda itu mengikat keempat kaki tangannya dengan robekan kain dalam pembaringan, kemudian baru membebaskan totokan sambil menyeringai.
Siang Hwi rebah terlentang di atas pembaringan. Kaki tangannya meronta-ronta, tubuhnya menggeliat-geliat namun ia tidak dapat melepaskan ikatan kedua tangan dan kedua kakinya. Betapapun ia mengguncang-guncang kepalanya, ia tidak dapat membuka sapu tangan yang menyumpal mulutnya sehingga ia tidak dapat berteriak.
Gadis ini makin lama makin terbelalak matanya, memandang penuh kengerian ketika melihat betapa Siok Lun melepaskan pakaian luarnya. Siang Hwi meronta-ronta lagi sekuatnya ketika jari-jari tangan Siok Lun meraba-raba dengan kasar menanggalkan pakaiannya sambil terkekeh-kekeh penuh kegembiraan hidungnya mendengus-dengus karena nafsu menyesak di dada. Air mata bercucuran dari kedua mata gadis itu.
Malapetaka hebat membayang di depan matanya dan ia takkan mungkin dapat tertolong lagi. Ia akan mengalami perkosaan, penghinaan yang paling berat, lebih hebat daripada kematian. Wajahnya pucat sekali dan saking ngerinya ia hampir pingsan. Dendam kematian Ayahnya belum dapat ia balas dan kini dia mengalami penghinaan yang tiada taranya. Akan tetapi tak mungkin ia mohon untuk dibunuh, tidak mungkin pula membunuh diri, apa lagi melawan.
“Phoa Siok Lun, apa yang hendak kau lakukan itu?” Tiba-tiba terdengar bentakan keras.
Siok Lun terkejut dan meloncat turun dari pembaringan. Liu Kong, yang datang membentak itu, membawa pedang di tangan kanan, dan melihat keadaan Siang Hwi telanjang bulat dan teriak-teriak di atas pembaringan, dia cepat melompat dekat. Pedangnya berkelebat dan gadis itu terbebas daripada ikatan kaki tangannya. Siang Hwi cepat membuang saputangan yang menyumbat mulutnya, kemudian menyambar pakaiannya yang tadi ditanggalkan oleh tangan Siok Lun, dipakainya cepat-cepat.
“Sumoi, kau larilah!” bisik Liu Kong dengan suara menggetar.
Siang Hwi yang baru saja terbebas dari malapetaka mengerikan, tidak menjawab, hanya melompat ke jendela.
Siok Lun bergerak dan berkata, “Jangan lari...!” Namun terlambat, karena tadi terlalu kaget dan malu, Siok Lun tertegun dan setelah kini sadar kembali hendak menghalangi larinya Siang Hwi gadis itu telah menerobos keluar jendela. Ia hendak mengejar, akan tetapi pedang Liu Kang menghadangnya dan pemuda ini berkata marah.
“Phoa Siok Lun, engkau benar-benar seorang yang berwatak cabul dan kotor..!”
Siok Lun kini sepenuhnya memperhatikan Liu Kong. Dia pun marah sekali. Marah dan kecewa, juga penasaran. Dua kali ia gagal memuaskan nafsunya pada gadis-gadis pilihannya. Yang pertama, si gadis baju hijau luput dari jangkauannya dan mati membunuh diri. Kalau pada waktu itu yang mencegahnya orang lain tentu turun tangan.
Akan tetapi pada waktu itu yang mengganggunya adalah Bi Hwa, maka ia hanya menyimpan rasa kecewa di hati, akan tetapi sekarang setelah hasil di depan mata kemudian muncul gangguan Liu Kong, kemarahannya meluap-luap dan ia memandang Liu Kang penuh kebencian.
“Kau sudah bosan hidup!” serunya dan cepat Siok Lun menyambar jubah luarnya yang tadi ia tanggalkan. Dengan hanya memakai pakaian dalam.
Siok Lun menerjang Liu Kong dengan senjata istimewa ini. Liu King sudah menjadi nekat. Biarpun ia merupakan seorang pemuda yang memiliki cita-cita mengejar kedudukan tinggi, namun karena sejak kecil ia digembleng Bu Taihiap, dia sedkit banyak memiliki sikap gagah. Semenjak ia ikut para pengawal ia mendapatkan banyak kekecewaan. Guru atau pamannya terbunuh, para pengawal melakukan hal yang amat memuakkan perutnya, seperti merampok dan memperkosa wanita.
Kini, gadis yang amat dicintainya menjadi tawanan, dan hampir diperkosa oleh Siok Lun. Timbullah kegagahan dan kepekaannya, sehingga tanpa ragu-ragu lagi ia membebaskan Siang Hwi dan kini dengan pedang di tangan ia melawan mati-matian kepada Siok Lun.
Namun, biar Siok Lun hanya bersenjatakan jubah, pemuda murid Pat-Jiu Lo-Koai ini benar-benar bukan tandingan Liu Kong yang jauh lebih lemah. Dalam beberapa gebrakan saja, pedang itu telah terbelit jubah dan sekali renggut, pedang telah dapat dirampas oleh Siok Lun. Kemudian, Siok Lun mengebutkan jubah dan pedang rampasannya menyambar dahsyat ke arah tuannya.
Liu Kong terkejut, cepat ia mengelak sehingga pedangnya lewat di atas pundak dan menancap di dinding, akan tetapi dia tidak mengelak dari sambaran jubah yang di tangan Siok Lun berubah menjadi senjata yang ampuh.
“Prakkkl” Liu Kang tak dapat bergerak lagi karena ia sudah rebah terguling dengan kepala pecah! Siok Lun tidak memperdulikan Liu Kong yang sudah menjadi mayat, cepat tubuhnya mencelat melalui jendela hendak mengejar Siang Hwi.
Keadaan di situ menjadi geger karena orang-orang sudah mendengar suara ribut-ribut itu. Para pengawal memasuki pondok juga muncul para Panglima, mereka terkejut melihat tawanan lolos dan Liu Kong tewas, beramai-ramai mereka inipun melakukan pengejaran secara ngawur. Di samping pondok, ketika sudah berhasil keluar melalui jendela, Siok Lun melihat dua orang pengawal yang menjaga di situ menggeletak, agaknya dirobohkan Siang Hwi yang tentu saja terlalu lihai bagi dua orang pengawal itu.
Seorang pengawal sambil merintih-rintih menuding ke arah depan dan Siok Lun terus melakukan pengejaran dan ilmu larinya yang luar biasa. Akan tetapi tiba-tiba munpul Bi Hwa di depannya, dengan pedang di tangan dan dengan sikap angker.
“Suheng, mau apa kau lari-lari dengan pakaian setengah telanjang seperti ini?”
Pucat wajah Siok Lun, kemudian merah. “Aku... aku mengejar... tawanan lolos... si keparat Liu Kang yang...”
“Cukup aku telah mengetahui segalanya, Suheng. Tak perlu kau membohong kepadaku. Dasar engkau laki-laki yang mata keranjang!”
Siok Lun tertegun. Memang tidak perlu menyangkal lagi kalau Bi Hwa sudah tahu semua. “Sumoi... biarlah nanti kuminta ampun darimu. Sekarang lebih baik kita lekas mengejar tawanan.”
“Untuk kau tangkap dan kau perkosa?” Bi Hwa mengejek.
“Tidak. Demi Tuhan... tidak! Hanya, dia tawanan penting tidak boleh lolos..?”
Bi Hwa menggeleng kepala dan sementara itu, dari belakang sudah terdengar jejak kaki para Panglima yang melakukan pengejaran. “Biarkan dia lolos, Suheng. Kalau dia tertawan, tentu dia akan membuka semua peristiwa yang terjadi. Kalau sudah begitu, bagaimana dengan cita-cita kita. Engkau telah membunuh Liu Kong, seorang perwira yang dipercaya..?”
Siok Lun sadar dan menjadi bingung. “Habis, bagaimana baiknya? Mereka sudah datang..?”
“Bodoh! Bilang saja kalau Liu Kong yang membebaskan Siang Hwi, dan kau terpaksa membunuhnya, kemudian kami melakukan pengejaran tanpa hasil.”
Ingin Siok Lun memeluk dan mencium kekasihnya yang cerdik ini. Akan tetapi Bi Hwa menggerakkan tangan dan “Plakk!” pipi kanan Siak Lun telah ditamparnya. Pada saat itu, muncul Gin-San-Kwi dan Kim I Lohan, sedangkan dari belakang mereka tampak bukan pengawal dengan obor di tangan.
“Apa yang terjadi? Liu-Sicu tewas di kamar tahanan..?” Gin-San-Kwi berkata, memandang penuh kecurigaan kepada Siok Lun yang telah memakai jubahnya kembali.
“Dia pengkhianat benar Lo-Ciangkun!” kata Siok Lun, suaranya bernada marah, karena ia marah dan benci sekali kepada Liu Kong yang sudah menggagalkannya. “Dia telah membebaskan tawanan, agaknya karena gadis itu memang piauw-moinya. Tentu dia sudah bersama-sama lari pula kalau aku tidak muncul setelah agak terlambat, aku terpaksa menghadapinya dan tawanan lolos, akan tetapi pengkhianat itu telah berhasil kubunuh.”
Dengan suara yang sedikitpun tidak ragu-ragu Siok Lun menceritakan peristiwa yang dikarangnya sesuai dengan petunjuk Bi Hwa. Para Panglima dan pengawal memaki-maki Liu Kong sebagai seorang pengkhianat.
“Tidak heran,” kata Kim I Lohan. “Sejak kecil ia menjadi murid Bu Keng Liong, tentu saja ia merasa berat melihat Bu Keng Liong tewas dan puterinya ditawan. Untung Phoa-Sicu berhasil membunuhnya, memang dia sudah selayaknya mati, sungguhpun lebih baik lagi kalau ditangkap hidup-hidup untuk membuat pengakuannya.”
Demikianlah, dalam peristiwa kematian Liu Kong itu, Siok Lun malah dipuji-puji oleh para Panglima dan rombongan itu dilanjutkan pada keesokan harinya menuju kata raja tanpa tawanannya yang sudah melarikan diri dan biarpun sampai pagi para pengawal melakukan pengejaran, namun hasilnya sia-sia. Siang Hwi telah lenyap seperti ditelan bumi dan hal ini memang tidak aneh karena daerah itu merupakan daerah yang luas penuh dengan hutan dan pegunungan, sedangkan gadis itu melarikan diri di waktu malam yang amat gelap.
Bi Hwa sekali ini benar-benar marah kepada Siok Lun. Di dalam perjalanan ke Kota Raja, gadis ini menjadi pendiam sekali dan ketika Siok Lun berusaha membujuk dan mengambil hatinya. Bi Hwa hanya menjawab singkat. “Kita ke Kota Raja membereskan tentang kedudukan kita. Kemudian kita harus pergi ke orang tuamu dan kita langsungkan pernikahan, aku telah menyerahkan segala-galanya kepadamu. Kau memnuhi permintaanku ini atau kita pisah sekarang dan selamanya engkau akan kuanggap sebagai musuhku!”
Siok Lun mati kutunya. Dia sebetulnya mencinta Sumoinya ini. Bukan hanya cinta nafsu, melainkan betul-betul ingin menjadi suami Sumoinya ini. Maka ia hanya mengangguk-angguk dan tidak berani membantah. Mereka duduk beristirahat di bawah pohon di pinggir sebuah hutan. Matahari bersinar terik sekali sehingga mereka berteduh di bawah pohon dan menghapus peluh yang mengucur deras.
“Twako, kenapa engkau murung dan termenung saja sejak kita pergi dari Hek-Kwi-San beberapa hari yang lalu?”
Mendengar pertanyaan ini, Kwan Bu hanya menghela napas dan menggeleng kepala.
“Twako, apakah kau marah kepadaku?”
Kwan Bu menoleh memandang wajah gadis itu, lalu menggeleng kepala dan menjawab lesu, “Tidak, mengapa harus marah kepadamu?”
“Aku telah mempermainkanmu! Namaku sebenarnya adalah Phoa Giok Lan, dan aku mengaku pria kepadamu, akan tetapi aku tidak tahu bahwa engkau adalah Sute dari kakakku, aku seperti mempermainkanmu selama ini, Twako. Maukah kau memaafkan aku?” suara Giok Lan terdengar manja.
Kwan Bu tersenyum, senyum yang duka. “Aku tidak marah kepadamu, Lan-moi dan tidak perlu memaafkan, aku sudah tahu bahwa engkau adalah seorang wanita...?"
“Heee…? Bagaimana bisa tahu dan sejak kapan?” Giok Lan bertanya heran dan tak disadarinya ia memegang lengan Kwan Bu. Hal seperti ini memang sering dia lakukan ketika dia masih menjadi “Pemuda” akan tetapi kini bagi Kwan Bu terasa janggal dan membuatnya kikuk dan malu.
“Sejak di kuil Ban-Lok-Tang ketika kita menyerbu tempat Tong Kak Hosiang, Cheng l Lihiap menyebutmu Cici.”
“Ah, kau nakal, Twako, Kenapa tidak bilang terus terang bahwa kau telah mengetahui penyamaranku?”
Kwan Bu tersenyum lagi. Kedukaannya berkurang kalau ia bercakap-cakap dengan gadis lincah ini, yang sekarang telah mencubit lengannya. “Aku tidak ingin menyinggungmu, Lan-moi.”
“Ah, engkau memang seorang gagah yang amat baik hati. Twako.”
“Engkaulah yang baik budi, sudi membantuku mencari musuhku!"
“Kalau kau tidak marah kepadaku, kenapa murung?”
“Banyak terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan hati, Lan-moi.”
“Yang terjadi di Hek-Kwi-San?”
Kwan Bu mengangguk.
“Kematian majikanmu Bu Keng Liong itu?”
Kwan Bu menarik napas panjang. “Sungguh sayang sekali seorang pendekar yang berjiwa besar, aku mengenal betul wataknya, seorang Taihiap yang patut dikagumi. Sayang, dia tewas sebagai seorang pemberontak, dan bersekutu dengan perampok...” Ia kembali menghela napas. “Kematiannya merupakan salah satu diantara hal-hal yang tidak menyenangkan hatiku.”
“Hemm... kalau begitu tentu karena gadis galak itu? Puteri Bu Keng Liong yang bernama... ah, siapa lagi namanya?”
“Siang Hwi, Bu Siang Hwi.”
“Ya, betul. Tentu karena dia bukan? Dia amat mencintaimu Twako.”
Kwan Bu memandang wajah gadis itu dengan mata terbelalak. “Apa? Ah, jangan main-main, Lan-moi. Dia... dia membenciku, seringkali memaki-makiku, memandang rendah kepadaku!”
Biarpun mulutnya berkata demikian namun di dalam hatinya Kwan Bu membayangkan kembali betapa mesra ketika ia mencium gadis yang pernah menjadi nona majikannya itu, dan jantungnya berdebar keras Siang Hwi mencintainya? Tak mungkin! Ketika dicium gadis itu seolah-olah tidak hanya menyerah, bahkan terasa di hatinya gadis itu membalasnya, akan tetapi gadis itu menyangkal bahkan menjatuhkan fitnah atas dirinya. Mengingat itu semua, kemarahannya timbul dan wajahnya muram kembali.
“Memang begitu pada lahirnya, akan tetapi pandang matanya kepadamu, dan... dan... dia cemburu dan iri kepadaku sehingga melihat aku bersamamu, dia mendadak saja tanpa alasan membenciku setengah mati! Mungkin dia tidak mencintaimu, akan tetapi kau... kau amat mencintainya, Twako. Dan kini kau merisaukan keadaannya karena dia menjadi yatim-piatu...?”
Kembali Kwan Bu terkejut, akan tetapi ketika mereka bertemu pandang ia melihat betapa pandang mata itu penuh pengertian, tidak mungkin dapat ia bohongi. Maka ia mengangguk dan menghela napas panjang. “Memang, aku pernah mencinta, Lan-moi, akan tetapi... hemm,.. seorang yang tak berharga seperti aku, mana patut menjadi jodohnya? Bagaikan seekor kambing merindukan ujung cemara yang tinggi! aku seorang yang miskin, bodoh, dan hanya hidup bersama Ibuku yang tua dan miskin, seorang anak yang tidak berbakti karena sampai kini belum juga mampu menemukan musuh besar keluargaku. Seorang macam aku ini… siapa yang sudi memperhatikan?” Teringat akan keadaannya, dan merasa betapa jantungnya seperti ditusuk-tusuk ketika membicarakan Siang Hwi, dua titik air mata membasahi pipinya.
“Twako... kenapa bicara seperti itu?” Giok Lan mendekat, mengeluarkan saputangan dan menghapus dua titik air mata itu. “Twako... tidak tahukah engkau ataukah pura-pura tidak tahu? Bahwa ada seseorang yang amat memperhatikan dirimu, yang amat... cinta kepadamu...? Twako, lupakanlah Siang Hwi karena di sini ada Giok Lan yang sanggup mencintaimu sampai mati, yang setia dan yang akan membelamu dengan seluruh jiwa raganya..” Gadis itu telah memaksa hatinya untuk membuka rahasia perasaanya, kini ia terengah-engah dan menangis.
Sejenak Kwan Bu termenung. Tentu saja dia tidak buta. Tentu saja dia dapat menduga sedikit-sedikit bahwa kebaikan Giok Lan kepadanya tentu ada dasarnya, akan tetapi, mendengar pengakuan cinta yang terus terang, seperti itu, mendengar pengakuan kasih yang demikian mendalam, ia terkejut dan terharu sekali.
“Giok Lan... moi-moi..., ah, betapa mulia hatimu..” Ia meraba kepala itu dan mengelus rambut yang hitam dan halus.
Sentuhan ini memecahkan air mata Giok Lan sehingga tangisnya makin sesenggukan, bahkan gadis itu lalu menubruk dan menyembunyikan mukanya di dada Kwan Bu sambil menangis terisak-isak. “Twako... Twako..!” ia berbisik, penuh keharuan, juga kebahagiaan.
Kwan Bu adalah seorang muda yang teguh hatinya, dan seorang muda yang selalu menjaga tindakannya. Peristiwa yang dihadapinya kali ini sungguhpun amat mengguncang hatinya, namun tidak membuat ia kehilangan akal dan kesadaran. Ia membiarkan gadis itu melampiaskan perasaanya menangis di atas dadanya. Kemudian setelah tangis itu agak mereda, ia memegang pundak Giok Lan dan dengan halus mendorong gadis itu sambil berkata.
“Lan-moi, tenangkan hatimu dan marilah kita bicara dengan hati terbuka dan pikiran sadar.”
Giok Lan sudah dapat menguasai hatinya. Ia mundur sedikit dan duduk menyusuti air matanya, kemudian memandang wajah pemuda itu dengan mata sayu dan muka kemerahan karena merasa malu dan jengah. “Twako, kau tentu akan memandang rendah kepadaku setelah pengakuan tadi... tidak semestinya seorang gadis mengaku cinta...!!”
“Ah, tidak sama sekali, Lan-moi. Bahkan aku menjadi kagum akan kejujuranmu, aku menjadi terharu dan berterima kasih kepadamu bahwa seorang gadis seperti engkau ini, cantik-jelita, kaya-raya, lihai pula sudah sudi melimpahkan cinta kasih kepada seorang seperti aku...!”
“Ah, kalau begitu engkau juga... mencintaiku, Twako...?” Gadis itu memandang dengan sinar mata sayu, penuh harapan.
Kwan Bu merasa tidak tega untuk menolak begitu saja. Gadis ini amat cantik, dan amat baik terhadap dirinya. Tidaklah sukar untuk menjatuhkan cinta kasih kepada seorang gadis seperti Giok Lan ini akan tetapi ia tidak akan mampu melupakan Siang Hwi, takkan mampu melupakan penderitaan-penderitaan gadis bekas nona majikannya itu, dan terlebih lagi, tidak akan mampu ia melupakan dua kali ciumannya yang dihadiahi tamparan-tamparan oleh Siang Hwi.
“Lan-moi, aku akan menjadi seorang pemikat dan pembohong kalau aku mengaku cinta begitu saja kepadamu. Aku suka kepadamu, hal ini sudah jelas. Akan tetapi tentang cinta, kiranya... aku belum berhak menyatakannya kepada gadis manapun juga. Harap kau ketahui, moi-moi. Aku seorang pemuda yang miskin dan bodoh, dan yang jelas sekali, aku tidak akan bicara tentang cinta dan jodoh sebelum aku berhenti menyari dan membalas dendam musuh besarku.”
“Aku tahu engkau masih mencinta gadis she Bu..?” Giok Lan berkata dengan wajah berduka.
Kwan Bu memegang tangannya. “Kurasa tidak moi-moi. Memang dahulu aku mencintainya, akan tetapi aku bukanlah seorang yang begitu bodoh sekali sehingga akan nekat saja mencinta seorang yang jelas membenciku, dan berkali-kali menghinaku. Tidak, kalau nona Bu membenciku, akupun akan berusaha sekuat tenaga menjauhinya, untuk melupakannya!”
Wajah Giok Lan berseri dan ia pun melompat bangun. Di sudut hatinya, ini menemukan harapan baru dan ia percaya bahwa dia akan dapat membuat Kwan Bu melupakan Siang Hwi, dan dia percaya bahwa akhirnya dia akan berhasil memiliki hati dan cinta kasih pemuda yang amat dikaguminya ini. Sambil tersenyum manis ia menarik bangun pemuda itu dan berkata,
“Ah, apa-apaan kita ini bicara tentang hal yang bukan-bukan? Kita lupa sedang melakukan perjalanan penting sekali. Mari, Twako. aku ingin cepat-cepat menjumpai Ibumu dan memboyongnya ke rumahku.”
Kwan Bu melompat bangun dan seketika kekeruhan di wajahnyapun lenyap ketika ia teringat kepada Ibunya. Sudah lama ia meninggalkan Ibunya dan hatinya sudah amat merindukan orang tua itu. Ia ingin cepat-cepat pula bertemu dengan Ibunya, selain karena sudah rindu ingin menjemput Ibunya mengajak ke rumah Suhengnya.
Juga ada satu hal yang membuat ingin sekali ia bertemu Ibunya. Ia ingin sekali bertanya kepada Ibunya tentang Ayahnya. Ia telah dimaki orang sebgai anak haram dan dahulu ia tidak dapat bertanya kepada Ibunya karena orang tua itu keadaannya masih seperti orang bingung saking beratnya penderitaan batin yang ditanggungnya karena dahulu kehilangan puteranya. Kini, Kwan Bu mengharapkan akan mendapat penjelasan Ibunya tentang makian anak haram yang dilontarkan oleh keluarga Bu dan murid-muridnya kepadanya dahulu.
Karena dua ekor kuda yang mereka dapatkan dari para pengawal adalah binatang-binatang pilihan yang kuat dan baik, maka perjalanan itu dapat dilanjutkan dengan cepat. Ketika mereka berdua memasuki dusun Kwi-cun, Kwan Bu menghentikan kudanya dan memandang dusun kecil itu dengan terharu.
“Inilah tempat tinggal keluarga Ibuku...? katanya perlahan seperti kepada diri sendiri.
Giok Lan memandang pemuda itu dan ia maklum bahwa dusun ini tentu saja menimbulkan kenang-kenangan tidak menyenangkan bagi pemuda itu, maka ia berkata,.“Akan tetapi kau bilang Ibumu berada di kuil Kwan-im-bio, lebih baik kita cepat-cepat ke sana Twako.”
Diingatkan kepada Ibunya, Kwan Bu menjadi gembira lagi. “Kuil itu berada di luar dusun. Mari...” mereka membalapkan kuda menuju kuil tua yang berada di tempat sunyi jauh di luar dusun Kwi-cun.
“Kwan Bu datang...!!” dua orang nikauw yang berada di luar kuil itu berseru girang ketika melihat masuknya pemuda ini menuntun kudanya bersama seorang “Pemuda” tampan yang juga menuntun kudanya, memasuki pekarangan kuil itu.
Seorang diantara kedua nikauw itu lalu tergesa-gesa masuk ke dalam kuil dan tak lama kemudian muncullah Ibunya bersama Cheng ln Nikauw yang sudah tua. Ibunya juga kelihatan tua. padahal Bhe Ciok Kim pada waktu itu ia belum ada lima puluh tahun usianya, paling banyak empat puluh satu atau dua tahun.
“lbu...!” Kwan Bu lari dan berlutut didepan Ibunya, memeluk kaki Ibunya yang berdiri tertegun, kemudian Ibu inipun mengangkat bangun puteranya, memeluk dan menangis saking girangnya.
“Kwan Bu...! Kwan Bu...! Betapa rinduku kepadamu anakku!" Ibu dan anak itu bertangis-tangisan dan Giok Lan yang menyaksikan ini, tak dapat menahan air matanya sehingga para nikauw memandangnya dengan heran karena baru sekarang mereka melihat pemuda yang begitu ganteng akan tetapi juga begitu mudah menangis!
“Omitohud... syukur engkau datang, Kwan Bu. Ibumu setiap hari merindukanmu dan berduka sehingga kami khawatir kalau-kalau dia akan jatuh sakit. Sebaiknya kau ajak Ibumu masuk agar leluasa bercakap-cakap dan... Kongcu ini..?” Cheng In Nikauw memandang kepada Giok Lan.
Kwan Bu yang sudah melepaskan keharuannya tertawa. “Dia ini bukan seorang Kongcu, melainkan seorang Siocia,” katanya kepada para nikauw yang menjadi bengong, kemudian mereka tersenyum dan maklum mengapa “Pemuda” itu begitu mudah mengucurkan air mata, kiranya seorang wanita! “Ibu, dia adalah nona Phoa Giok Lan, adik kandung Suhengku!”
Giok Lan cepat maju memberi hormat kepada Ibu Kwan Bu dan orang tua ini memandang penuh selidik, kemudian memegang tangan gadis itu dan menariknya. “Tentu engkau seorang nona yang amat baik budi dan menjadi sahabat baik anakku. Marilah masuk, kita bicara di dalam.”
Nyonya yang sebelah matanya buta itu membawa puteranya dan Giok Lan ke ruangan belakang di mana mereka bertiga dapat bercakap-cakap tanpa gangguan. Tadinya Ibunya memandang dengan sikap agak ragu-ragu kepada Giok Lan akan tetapi ia menjadi lega ketika puteranya berkata.
“Ibu, Lan-moi itu adalah seorang sahabat baik yang sudah mengetahui akan riwayat kita, bahkan dia membantuku dalam usahaku mencari musuh besar kita.”
“Ah, terima kasih, nona. Engkau sungguh baik sekali.” Kata nyonya itu dengan girang, kemudian ia memegang tangan anaknya sambil bertanya penuh keterangan.
“Bagaimana dengan usahamu itu, anakku? Sudah berhasilkah engkau menemukan dia?”
Wajah Kwan Bu menjadi muram seketika, ia menggeleng kepala. “Sudah banyak aku merantau dan mendengar, banyak pula orang-orang yang memiliki ciri-ciri sepeti musuh besar kita kudatangi, akan tetapi mereka itu bukan musuh besar kita, Ibu. Sungguh anakmu ini tidak ada gunanya. Akan tetapi aku bersumpah akan terus mencarinya sampai dapat, Ibu.”
Nyonya itu melepaskan tangan Kwan Bu dan kembali duduk bersandar di kursinya sambil menghela napas penuh kekecewaan. Kemudian ia berkata. “Memang tidak mudah bagimu, anakku. Engkau selamanya belum pernah melihat mukanya dan hanya akulah seorang yang akan dapat mengenal dia, bila mana dan di manapun. Dan aku harus dapat membalas dendam ini. Engkau harus dapat menyeret dia ke depan kakiku untuk kubunuh dia! Sebelum si laknat itu mati di kakiku, aku takkan mau mati! Aku tidak akan mau mati sebelum dapat membalas dendam kepada si jahanam!”
Nyonya itu bicara penuh semangat dan sudah bangkit berdiri dari kursinya mengepul tinju. Melihat keadaan nyonya ini, Giok Lan bergidik. Ia dapat melihat bahwa Ibu Kwan Bu ini dahulunya seorang wanita yang cantik jelita, dan mendengar cara bicaranya, tentulah bukan seorang dusun biasa. Kini ia melihat sinar maut memancar dari mata yang tinggal sebuah itu.
Napas yang panas seperti api melalui hidung yang berkembang-kempis dan teranglah oleh Giok Lan betapa hebat dendam yang diderita oleh Ibu Kwan Bu, akan tetapi dia dapat membayangkan betapa sakit hati nyonya itu kalau suaminya, orang tuanya dan seluruh keluarganya terbunuh oleh musuh besar itu. Karena maklum akan hal ini, Giok Lan menekan rasa ngerinya dan iapun menundukkan mukanya.
“Harap Ibu suka tenangkan hati dan pikiran. Aku bersumpah untuk mencari musuh kita sampai dapat dan menyeretnya ke depan kaki Ibu! Sekarang aku hanya datang untuk menjemputmu, Ibu. Aku hendak menitipkan Ibu di rumah Suheng, di rumah adik Phoa Giok Lan ini yang tinggal di kota Kam-Sin-Hu.”
“Eh, mengapa begitu, Kwan Bu? Sudah baik-baik aku tinggal di Kwan-im-bio ini. Bahkan aku sudah berjanji kepada ketua kuil ini bahwa kalau musuh besar kita sudah dapat kita balas. aku ingin menjadi nikouw di sini, mengabdi kepada Kwan Im Pauwsat. Selama dendam masih terkandung di hati, tidak mungkin aku dapat menjadi nikouw. Pula. Dengan menumpang di rumah nona ini, bukankah berarti kita akan mengganggu dan memberatkan beban keluarga?”
“Tidak sama sekali, Bibi. Kami akan senang sekali apabila Bibi sudi tinggal bersama kami di Kam-Sin-Hu. Semenjak kecil kami, yaitu saya dan Siak Lun koko telah ditinggal mati Ibu kami, sedangkan ketika masih kecil, kami berdua telah ditinggal pergi oleh Ayah yang berdagang di luar kota. Kalau Bibi sudi tinggal bersama kami, hitung-hitung kami mendapatkan seorang Ibu...” Gadis itu berhenti dan mukanya berubah merah karena tanpa disengaja ia telah berbicara terlanjur.
“lbu! Aku sengaja datang menjemput Ibu karena hal ini didesak oleh Suheng dan juga nona Giok Lan ini. Kalau Ibu tinggal bersama keluarga mereka, aku akan merasa tenang dan lapang, dapat mengerahkan seluruh tenaga dan mencurahkan seluruh perhatian untuk mencari musuh kita karena aku yakin bahwa keadaan Ibu terjamin di sana. Harap Ibu tidak menolak.”
Bhe Ciok kim menghela napas panjang. Melihat sikap dan mendengar suara anaknya, ia mengerti bahwa kalau ia berkeras menolak, tentu anaknya akan kecewa sekali dan sebagai seorang tua ia dapat maklum bahwa tentu “Ada apa-apa” antara puteranya dan nona yang cantik jelita ini.
“Baiklah, baiklah... Aku hanya menurut semua kehendakmu, Bu-ji.”
Kwan Bu kelihatan girang dan demikian pula Giok Lan yang segera berkata. “Perjalanan ini amat jauh dan tidak mungkin Ibumu harus menunggang kuda, Twako. Biar kucari sebuah kereta untuk Bibi!” Tanpa menanti jawaban, gadis ini sudah bergegas keluar.
Kwan Bu menghela napas dan membiarkannya saja karena memang Ibunya perlu sekali dengan kendaraan itu untuk melakukan perjalanan jauh.
“Ke mana dia hendak mencari kereta?”
“Jangan khawatir, Ibu. Nona Phoa Giok Lan adalah seorang yang kaya raya, tentu dia akan membeli sebuah kereta untuk Ibu. Dan kita tidak perlu merasa malu terhadap dia, Ibu. Percayalah, hubungan antara kami sudah seperti saudara sendiri, karena kami pernah berjuang sehidup semati menghadapi penjahat-penjahat. Maka akupun tidak merasa ragu-ragu lagi menitipkan Ibu di rumahnya, tidak pula merasa sungkan melihat dia hendak membeli sebuah kereta untuk Ibu.”
Nyonya itu mengangguk-angguk. “Kwan Bu, tahukah engkau bahwa nona itu amat mencintaimu?”
Kwan Bu tercenggang dan kagum akan ketajaman pandang mata Ibunya. Ia mengangguk. “Aku tahu, Ibu. Bahkan dia telah menyatakan secara terus terang kepadaku?"
“Dan engkau juga mencintainya?”
“Aku belum dapat memutuskannya dan aku tidak akan bicara tentang cinta dan perjodohan sebelum musuh besar kita dapat terbatas.”
“Bagus, anakku. Engkau memang seorang anak yang baik. Aku girang mendengar keputusanmu ini dan kalau Thian mengijinkan kita membalasnya, agaknya gadis itu akan menjadi seorang isteri yang amat baik bagimu. Baru bertemu saja aku sudah suka kepadanya. Dia cantik jelita, cerdik, dan berwatak polos. Aku akan suka sekali mempunyai mantu seperti dia. Dia kelihatan lincah akan tetapi halus budi..!! Tidak seperti nona Siang Hwi yang galak...”
Kwan Bu cepat menundukkan mukanya agar sinar muram yang menyelimuti wajahnya tidak tampak oleh Ibunya ketika ia mendengar disebutnya nama Siang Hwi. Cepat-cepat ia berkata untuk mengalihkan percakapan. “Bolehkah aku sekarang mengetahui nama Ayahku, Ibu.”
“Tidak boleh... tidak bisa kuberitahu kepadamu. Kwan Bu, dengarlah baik-baik. Semenjak malapetaka itu menimpa diriku, menimpa keluargaku yang semua terbunuh penjahat dan mataku yang sebelah dibikin buta, aku bersumpah takkan menyebut-nyebut nama seluruh keluargaku sebelum aku berhasil membalas sakit hati kepada musuh besar kita itu. Nah, sekarang kau mengerti dan jangan kau bertanya-tanya lagi sebelum kau mampu menyeret penjahat itu ke depan kakiku. Setelah dia tertangkap, baru akan kuberitahu kepadamu akan segala hal.”
Tentu saja Kwan Bu menjadi terharu dan tidak berani lagi bertanya. Terdengar suara roda kereta dan ringkik kuda di depan kuil dan tak lama Giok Lan melangkah masuk dengan wajah berseri. “Kereta sudah siap!”
Cheng In Nikouw mengangguk-angguk menyatakan persetujuannya ketika Kwan Bu dan Ibunya menjelaskan kehendak pemuda itu memboyong Ibunya ke Kam-Sin-Hu. Dan berangkatlah kereta ditarik dua ekor kuda, dikusiri oleh Kwan Bu sendiri dan dikawal oleh Giok Lan yang menunggang kuda. Mengingat akan keadaan Ibunya yang lemah perjalanan dilakukan perlahan-lahan sambil menikmati tempat-tempat yang dilalui, bahkan untuk menyenangkan hati Ibu Kwan Bu.
Giok Lan yang membawa bekal banyak uang itu sengaja mengajak orang tua ini pelesir, bermalam di penginapan-penginapan mewah dan makan di restoran-restoran besar sehingga Ibu pemuda itu makin suka kepada gadis ini. Agak terhiburlah hati Nyonya itu yang selama ini bersembunyi di dalam kuil yang sunyi. Dengan perlindungan dua orang muda yang gagah perkasa ini perjalanan dilakukan dengan aman dan selamat karena tidak ada penjahat berani mengganggu.
“Nona Giok Lan, engkau seorang anak yang amat baik budi. Kami Ibu dan anak sungguh telah berhutang budi besar kepadamu,” kata Nyonya itu ketika mereka bermalam di sebuah penginapan besar. Mereka menyewa dua kamar, sekamar untuk Giok Lan dan Ibu Kwan Bu, sedangkan sekamar lagi untuk Kwan Bu.
“Ah, berkali-kali Bibi berkata demikian. Sesungguhnya, saya tidak melepas budi karena selain Kwan Bu koko adalah Sute dari kakakku sendiri sehingga boleh dibilang diantara kami adalah saudara seperguruan, juga Bu-koko telah menjadi sahabatku yang paling baik. Kalau saja Bibi tahu betapa beberapa kali saya terancam bahaya dalam pertempuran dan seandainya tidak ada Bu-koko yang menolong, tentu hari ini tidak ada Phoa Giok Lan lagi.” Gadis itu tersenyum manis.
Dan Nyonya itu menjadi tertarik sekali, memegang tangan gadis itu dan berkata lirih, “Engkau amat mencinta puteraku, bukan?”
Wajah Giok Lan menjadi merah sekali sampai ke leher dan telinganya, akan tetapi sambil menundukkan muka, ia tersenyum dan mengangguk.
“Percayalah, anakku. Setelah selesai urusan balas dendam, aku akan menekan Kwan Bu agar suka mengambil pilihanku menjadi isterinya, dan pilihanku bukan lain adalah engkau.”
Giok Lan menjadi makin malu, akan tetapi hatinya menjadi besar sekali. Dengan suara lirih ia berbisik. “Terima kasih, Bibi...”
Sementara itu, di dalam kamarnya. Kwan Bu gelisah karena lagi-lagi pikirannya diganggu oleh bayangan Siang Hwi. Tak pernah ia dapat melupakan gadis itu dan ia menjadi berduka sekali mengingat akan nasib gadis itu. Betapa sengsara hati Siang Hwi. Melihat Ayahnya terbunuh, keluarganya terpaksa mengungsi dan mungkin sekarang gadis itupun sedang merana seorang diri.
Apakah Siang Hwi kembali kepada Ibunya yang sudah mengungsi ke dusun entah di mana? Tak mungkin. Gadis itu amat keras hati, dan tentu tidak akan berhenti berusaha sebelum membalas dendam kematian Ayahnya. Kalau membalas kepada Suhengnya dan Sucinya, tentu gadis itu akan membuang tenaga sia-sia belaka.
Bahkan ada kemungkinan akan celaka di ujung pedang Suhengnya dan Sucinya yang lihai. Ataukah gadis itu melampiaskan dendam nya kepada para tokoh yang pro Kaisar dan menggabungkan diri dengan para pemberontak lainnya yang amat banyak jumlahnya. Teringat akan ini, Kwan Bu berduka sekali...