Dendam Si Anak Haram Jilid 10

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Dendam Si Anak Haram Jilid 10
Sonny Ogawa

Dendam Si Anak Haram Jilid 10

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

“ENGKAU membutakan mata Ibuku dengan jarum ini!” Kwan Bu telah mengeluarkan jarum yang selama ini ia simpan, jarum yang dahulu ia terima dari Ibunya, Sin-To Hek-Kwi tidak perduli dan membuat gerakan tangan tidak sabar.

“Orang muda, jarum itu mungkin punyaku mungkin juga bukan. Sudah banyak perempuan rewel kubutakan matanya dengan jarum. Andai kata benar Ibumu termasuk seorang di antara mereka, habis engkau mau apa?” Sin-To Hek-Kwi marah sekali karena ia merasa dibikin malu di depan semua tamunya sehingga ia menjadi nekad untuk menunjukan keberanian dan kegagahannya karena ia merasa yakin akan dapat mengalahkan lawan yang masih muda ini.

“Hemm, tidak salah dugaanku. Tak perduli apakah benar-benar engkau si jahanam yang membasmi keluargaku atau bukan, manusia jahat macam engkau ini sudah sepatutnya dilenyapkan dari muka bumi!” kata Kwan Bu yang merasa muak dan marah sekali endengar pengakuan dengan suara dingin dari mulut kepala perampok itu.

Tentu saja Sin-To Hek-Kwi menjadi marah sekali, “Bacah sombong, kematianmu sudah berada di depan mata dan engkau masih berani membuka mulut besar? Mampuslah!” bentakan ini disusul dengan terjangan goloknya yang menyambar dahsyat sampai mengeluarkan bunyi berdesing. Ternyata kepala perampok ini memiliki tenaga yang amat besar.

Akan tetapi bagi Kwan Bu, gerakan lawannya ini lambat sekali maka ia memandang rendah. Kalau ia mengehendaki, sekali mencabut Toat-Beng-Kiam dan menggunakan pedang pusaka itu, pasti dalam beberapa gebrakan saja ia akan berhasil membunuh orang yang diduganya musuh besarnya ini. Akan tetapi ia sudah mengambil keputusan untuk tidak membunuh Iawannya, menangkapnya hidup-hidup untuk diseret ke depan kaki Ibunya agar Ibunya menyaksikan sendiri dengan matanya yang tinggal sebelah itu betapa balas dendam telah terpenuhi.

Karena ini, dia hanya mengelak dan membalas dengan cengkeraman ke arah lengan kanan yang memegang golok. Akan tetapi biarpun bagi Kwan Bu yang lihai luar biasa itu gerakan Sin-To Hek-Kwi masih terlalu lambat, namun sesungguhnya kepala rampok ini termasuk orang yang sudah tinggi ilmu silatnya dan tidaklah mudah untuk mengalahkannya begitu saja.

Pergelangan tangannya melakukan gerakan mencongkel dan goloknya sudah membalik, kini menyambar ke arah tangan kwan Bu yang mencengkeram. Kwan Bu tidak mengelak. seolah-olah membiarkan tangannya terbacok golok, namun pada detik terakhir setelah angin yang mendahului mata golok sudah menyentuh tangannya, lengannya bergerak miring dan dari sebelah jari tengahnya menyentil ke arah tubuh golok.

“Criinggg...!” Hebat bukan main sentilan ini. yang dilakukan dengan tenaga ginkang. Lengan tangan Sin-ti Hek-kwi tergetar hebat, namun tidak percuma ia berjuluk Sin-to (Golok Sakti) karena ia sudah berhasil membalikkan goloknya ke bawah lengan dan mematahkan getaran karena sentilan itu. Kemudian dari bawah lengan, goloknya meluncur maju dengan tiba-tiba mengarah perut Kwan Bu. Lihai juga ilmu gelek dari Sin-toHek-kwi ini.

Namun sekarang ia berhadapan dengan seorang yang tingkat ilmu silatnya jauh melampauinya. Tikaman goloknya ke arah perut bukan saja dapat dielakkan oleh Kwan Bu, bahkan pemuda ini mengelak sambil melangkah maju mendekatinya dan sekali tangan kiri Kwan Bu menampar, terdengar bunyi, “Krakk!” dan terhuyunglah Sin-toHek-kwi ke belakang dengan tulang pundak retak!

Namun, kepala rampok ini masih tidak melepaskan goloknya. Kwan Bu sudah mengejar tubuh lawan yang terhuyung itu sampai beberapa langkah, hendak menawannya, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara halus,

“Bhe-Taihiap tunggu dulu...” Ucapan ini disusul dengan berkelebatnya tiga bayangan yang ringan sekali dan ternyata di depan kwan Bu telah berdiri Koai Kiam Tojin Ya Keng Cu, Sin-jiu Kim-wan Ya Thian Cu, dan Ban-Eng-Kiam Yo Ciat!

Melihat betapa Ya Keng Cu dan kawan-kawannya mengahadangnya dan mencegahnya menawan Sin-To Hek-Kwi, Kwan Bu mengerutkan alisnya dan menjura kepada mereka bertiga akan tetapi ucapannya ia tujukan kepada Ya Keng Cu yang selalu menjadi wakil pembicara para Enghiong yang berjuang melawan pihak Kaisar.

“Totiang, saya minta dengan hormat dan sangat agar Totiang sekalian tidak mencampuri urusan pribadiku ini. Biarlah saya menyelesaikan sendiri urusan ini dengan Sin-To Hek-Kwi.”

“Hemm, orang muda. Biarpun Taihiap seorang pendekar yang telah memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun usiamu masih amat muda sehingga perbuatan-perbuatanmu juga masih sembrono dan terburu nafsu. Apakah Sin-To Hek-Kwi adalah musuh besarmu? Bagaimana kalau sampai Taihiap keliru dan kesalahan membunuh orang lain?”

“Andaikata saya salah menduga pun tidak mengapa, seorang kepala rampok kejam seperti dia itu sudah sepatutnya dibunuh!” jawab Kwan Bu penasaran.

“Siancai...! Hal itu tidak boleh kau lakukan Bhe-Taihiap. Sin-To Hek-Kwi adalah sahabat kami, bahkan sekutu kami, seorang pejuang yang gigih, yang tentu saja akan kami lindungi. Kami terpaksa melarangmu kalau kau hendak membunuhnya, Taihiap. Harap kau suka berpemandangan jauh dan luas, dan mengerti akan kedudukan kami sebagai pejuang-pejuang yang tidak menghiraukan urusan pribadi karena urusan negara lebih penting!”

Kwan Bu mendengus dengan sikap mengejek. Ia sudah bosan mendengar tentang urusan negara ataupun urusan rakyat yang sesungguhnya adalah permainan orang-orang yang berambisi, orang-orang yang memperebutkan kedudukan melalui kemenangan-kemenangan dengan mengorbankan bangsa sendiri yang pahamnya berbeda atau berlawanan. Akan tetapi sebelum ia menjawab, Bu Keng Liong sudah melangkah maju.

“Kwan Bu, dengarlah kata-kata Totiang Ya Keng Cu yang mengandung kebenaran. Engkau sendiri, juga aku, tidak tahu siapa sebenarnya musuh besar Ibumu. Dan memang benar bahwa Sin-To Hek-Kwi adalah seorang kepala perampok, akan tetapi dia adalah sekutu kami untuk berjuang melawan kelaliman. Tentu saja tidak mungkin kami mendiamkan saja kalau kau hendak membunuhnya, aku tahu bahwa engkau seorang yang berpemandangan luas, maka tentu kau dapat mengerti keadaan kami.”

“Baiklah, Thai-ya, dan Totiang serta sekalian orang gagah yang hadir di sini. Saya tidak akan membunuh Sin-To Hek-Kwi, melainkan menahannya dan membawanya kepada Ibu. Kalau Ibu menyatakan bahwa bukan dia orangnya, saya berjanji membebaskannya, akan tetapi kalau benar dia musuh besarku, tentu saja saya tidak akan mengampuninya, biarpun siapa juga yang akan menentangnya!”

“He-he-he, orang muda! Ucapanmu takabur sekali dan kalau kami menurut saja, berarti engkau telah melempar kotoran di muka kami! Bagaimana kami dapat membiarkan engkau menangkap seorang kawan kami tanpa kami berusaha melindunginya? Tidak, Bhe-Taihiap. Engkau sebaiknya membantu perjuangan kami, dan aku bersumpah atas nama semua orang gagah bahwa jika telah selesai urusan perjuangan yang lebih penting, kami akan membantumu sampai musuh besarmu itu dapat ditemukan!” Ucapan ini keluar dari mulut Ban-Eng-Kiam Yo Ciat, kakek tinggi kurus yang amat lihai.

Berkerut alis Kwan Bu. Dia tidak boleh mundur berarti ia harus merana dalam kebimbangan, tersiksa oleh dendam yang tak terlampiaskan. “Kalau begitu, terpaksa aku akan melawan semua rintangan! Siapa yang membela musuh besarku, berarti ingin memusuhiku pula!”

“Benar, Twako! Sikat saja, biar kubantu! Oang-orang ini menjemukan sekali dan mereka berkawan dengan para perampok tentu bukan manusia baik-baik!” Teriak Giok Lam sambil mencabut goloknya untuk membantu sahabatnya yang agaknya akan menghadapi pengeroyokan itu.

“Perempuan hina, lebar sekali mulutmu!” Bu Siang Hwi sudah menerjang maju dengan sepasang pedang di tangan, menyerang Giok Lam dengan ganas. Giok Lam mendengus marah dan menggerakan goloknya.

“Tring-tring-tring…!” Pedang dan golok bertemu dahsyat dan selain suara nyaring, juga menimbulkan pijar bunga api.

“Siang Hwi, mundur!” bentak Bu Keng Liong.

“Lam-ten-te... tahan!” seru pula Kwan Bu yang menjadi kikuk sekali karena ia terpaksa masih harus menyebut Lam-te (adik laki-laki Lam) kepada gadis itu. “Biarkan aku mengurus dan menyelesaikan persoalan pribadi ini, jangan kau mencampurinya.”

Kwan Bu menjadi khawatir sekali ketika Siang Hwi tadi bertanding menyerang Giok Lam, ia mengkhawatirkan kedua-duanya. Tidak menghendaki seorang diantara mereka terluka.

Dua orang gadis itu mencelat mundur, mentaati seruan-seruan itu. Sejenak mereka berdiri bertentangan, melanjutkan pertandingan mereka bukan dengan sinar senjata tajam, melainkan dengan sinar mata yang agaknya tidak kalah tajam oleh sinar golok atau pedang, saling menusuk dan saling membenci!

“Hemm, Bhe Kwan Bu! Engkau benar-benar seorang yang aneh sekali. Dalam pertemuan antara kita yang pertama kali, engkau menjadi lawan kami dan dalam pertemuan kedua engkau menjadi kawan kami. Kini pertemuan ketiga, kembali menjadi lawan! Dan selama itu, belum ada kesempatan bagi Pinto untuk mencoba kepandaianmu. Mari kita main-main sebentar, hendak Pinto lihat apakah engkau cukup pantas untuk memandang rendah kami kaum pejuang!”

Sin-jiu Kim-wan Ya Thian Cu. Suheng dari Ya Keng Cu berkata dengan suaranya yang kecil nyaring. Kakek bongkok yang kedua lengannya panjang sekali hampir sampai ke kakinya ini telah meleles senjatanya yang telah mengangkat namanya tinggi di dunia kang-ouw, yaitu ikat pinggangnya yang terbuat dari kain istimewa, lebih lemas dari Sutera dan lebih kuat daripada baja.

“Baiklah, agaknya aku harus dapat mengalahkan para Locianpwe yang berada di sini terlebih dahulu sebelum aku diperbolehkan membawa Sin-To Hek-Kwi sebagai tawanan!” Kwan Bu juga maklum bahwa calon-calon lawannya adalah orang-orang yang berilmu tinggi, tidak berani memandang rendah dan sekali tangannya bergerak, tanpa berkelebat segulung sinar merah darah yang menyilaukan mata dan Toat-Beng-Kiam telah berada di tangannya.

“Tahan dulu!” Bu Keng Liong mengangkat tangan dan mencegah dua orang itu saling gempur. Pendekar ini merasa cemas sekali menyaksikan betapa antara kawan-kawannya dan Kwan Bu akan terjadi bentrokan yang ia tahu pasti berkesudahan hebat. Bu Keng Liong sebetulnya merasa amat berterima kasih dan berhutang budi kepada Kwan Bu, juga diam-diam ia merasa suka dan kagum kepada pemuda bekas kacungnya ini. Bahkan ia pernah mengharapkan menjodohkan Siang Hwi dengan pemuda ini.

“Kwan Bu, perlukah pertandingan antara kita sendiri dilanjutkan?”

Kwan Bu menjura kepada bekas majikannya. “Thai-ya, andai kata para Locianpwe di sini bertemu dengan saya pada lain waktu dan lain tempat, kemudian saya ditantang, saya tentu tidak akan begini kurang ajar untuk memperlihatkan kebodohan dan akan mengaku kalah sebelum bertanding. Akan tetapi keadaannya sekarang lain lagi. Saya mempertahankan niat saya untuk menawan Sin-To Hek-Kwi karena dendam pribadi, adapun para Locianpwe, termasuk Thai-ya sendiri, mempertahankan kedudukan masing-masing sebagai seorang kawan Sin-To Hek-Kwi yang harus memperlihatkan kesetiakawanan. Tidak ada cara lain lagi, yang merintangi saya menawan Sin-To Hek-Kwi, terpaksa akan saya lawan.”

“Bagus, orang muda. Kau hadapilah Pinto!” Sin-jiu Kim-wan Ya Thian Cu sudah menerjang maju. Terdengar suara bersiut keras ketika sabuknya berubah menjadi segulung sinar kuning, sinar kuning yang melengkung panjang seperti seeker naga hidup menyerang ke arah Kwan Bu.

Kwan Bu cepat menggerakkan tubuhnya, meloncat ke atas dan memutar pedang Toat-Beng-Kiam. Bunyi desing pedang ini diikuti oleh berkelebatnya segulung sinar merah darah, dan ketika sinar kuning bertemu sinar merah, terdengar suara mendencing nyaring seolah-olah ada dua senjata keras bertemu. Sinar kuning membuyar dan terpental, akan tetapi terus melengkung dan menyambar kembali lebih dahsyat daripada tadi.

Dalam gebrakan pertama kali ini Sin-jiu Kim-wan Ya Thian Cu harus mengakui bahwa lawannya yang muda dan pernah mengalahkan Sutenya, Ya Keng Cu, benar-benar memiliki ginkang yang hebat dan pedangnya yang bersinar merah darah itu ampuh sekali.

Sebaliknya, Kwan Bu juga maklum bahwa kakek bongkok ini setingkat lebih lihai daripada Koai Kiam Toojin Ya Keng Cu maka ia tidak berlaku sungkan-sungkan lagi dan cepat ia mainkan ilmu pedangnya dengan pengerahan ginkangnya mengeluarkan jurus-jurus pilihan.

Pemuda ini masih belum mengenal betul kemampuan Toat-Beng-Kiam dan kehebatan ilmu pedang yang ia terima dari Pat-Jiu Lo-Koai, tidak sadar bahwa ilmu pedangnya adalah yang amat luar biasa sehingga membuat Pat-Jiu Lo-Koai selama puluhan tahun merupakan tokoh yang tak pernah terkalahkan. Kini ia mengerahkan ginkang dan mengeluarkan jurus-jurus pilihan, tentu saja Sin-jiu Kim-wan menjadi terkejut sekali dan tak dapat bertahan lama-lama.

Kakek bongkok yang biasanya jarang menderita kekalahan dalam setiap pertandingan silat ini tiba-tiba menjadi silau pandang matanya karena gulungan sinar pedang yang merah itu makin lama menjadi lingkaran-lingkaran yang lebar dan tebal, menggulung sama sekali lingkaran sinar senjata sabuknya, dan ia melihat pedang merah itu seolah-olah telah berubah menjadi ratusan banyaknya, dan bayangan pemuda lawannya tampak di empat penjuru.

Sin-jiu Kim-wan masih berusaha untuk mempertahankan diri dengan memutar-mutar sabuknya cepat melindungi seluruh tubuhnya, dan tangan kirinya mulai memukul-mukul ke arah bayangan yang tampak, yaitu menggunakan pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sakti sehingga biarpun tangan yang memukul tidak menyentuh lawan, namun hawa pukulannya saja sudah cukup kuat untuk meremukan isi dada!

Inilah kehebatan Sin-jiu Kim-wan sehingga ia dijuluki Sin-jiu (Kepalan Sakti). Namun semua pukulan itu dapat ditahan oleh Kwan Bu dengan kibasan-kibasan tangan kirinya atau dengan sinar pedangnya yang makin cepat bergulung-gulung, kini seolah-olah telah menggulung dan menyelimuti seluruh tubuh lawan yang terkurung di tengah-tengah. Tiga puluh jurus telah lewat dan tiba-tiba terdengar Kwan Bu berkata.

“Totiang maafkan aku!” Pemuda itu ternyata talah melompat mundur dan kini berdiri dengan tenang, pedangnya sudah tidak di tangannya lagi karena sambil melompat tadi ia telah menyimpan kembali pedangnya.

Adapun Sin-jiu Kim-wan berdiri dengan muka pucat, sabuk di tangannya putus menjadi dua dan lengan kirinya di atas siku terluka dan berdarah. Kakek ini menarik napas panjang, lalu menggeleng kepala dan tahulah ia bahwa kalau pemuda itu menghendaki, saat ini ia tentu telah berada diakhirat!

“Sungguh hebat murid Pat-Jiu Lo-Koai, Pinto mengaku kalah.” Ban-Eng-Kiam Yo Ciat meloncat maju.

“Bhe Kwan Bu, engkau patut dikagumi. Biarlah aku merasakan bagaimana lihainya ilmu pedang dari Pat-Jiu Lo-Koai!” sambil berkata demikian tangannya bergerak dan tampak sinar putih berkelebat ketika pedang perak berada di tangannya. Ketika kakek yang tinggi kurus ini memutar pedang, terdengar suara melengkin seperti suling ditiup.

Kwan Bu maklum bahwa dia harus mengalahkan mereka ini, seorang demi seorang sebelum ia dapat menawan Sin-To Hek-Kwi, maka ia mencabut Toat-Beng-Kiam, melintangkan pedang merah di depan dada dan berkata, “Locianpwe, silakan kalau hendak memberi pelajaran kepadaku.” Suara melengking itu makin meninggi dan Yo Ciat sudah menerjang dengan gerakan pedang yang amat dahsyat.

Kwan Bu terkejut, maklum bahwa lawannya benar-benar seorang ahli pedang yang pandai, maka iapun cepat mengimbangi kecepatan lawan, menangkis dan membalas menyerang. Pertandingan sekali ini benar-benar hebat. Dua gulung sinar pedang yang berkilauan, satu putih dan yang kedua merah. Saling gulung dan libat, kadang-kadang merupakan lingkaran-lingkaran yang saling mendesak, diiringi suara melengking tinggi dari pedang Ban-Eng-Kiam Yo Ciat.

Mungkin dalam hal tingkatan ilmu silat, Yo Ciat tidaklah banyak selisihnya dengan Sin-jiu Kim-wan Ya Thian Cu, akan tetapi dalam ilmu pedang yang dimainkan Kwan Bu bertemu tanding dan pertandingan itu menjadi makin seru. Gerakan mereka cepat sekali, tubuh mereka lenyap terbungkus sinar pedang dan hanya dapat diikuti pandang mata para ahli silat tinggi yang hadir di situ.

Bagi para anggauta perampok dan mereka yang kurang tinggi ilmunya, yang tampak hanyalah dua gulungan sinar pedang saja, kelihatan amat indahnya. Sin-te Hek-kwi makin lama menjadi makin gelisah. Pemuda yang memusuhinya itu benar-benar lihai sekali. Kini, melihat bahwa Ban-Eng-Kiam Yo Ciat dapat mengimbanginya, ia menjadi girang dan diam-diam ia telah mempersiapkan jarum-jarumnya.

Dalam hal ilmu golok, biarpun kepala rampok ini tidak dapat menandingi Kwan Bu, namun ia masih memiliki kepandaian yang amat diandalkan, yaitu mempergunakan senjata rahasia jarum-jarumnya. Ketika terbuka kesempatan baginya, cepat kedua tangannya bergerak dan tujuh batang jarum meluncur cepat ke arah Kwan Bu yang sedang didesak oleh Yo Ciat. Dua batang menyambar mata, sebatang tenggorokan, dua batang kedua lengan dan dua batang lagi menyerang perut!

“Twako, awas...!” Giok Lam menjerit dan gadis ini telah menggerakkan tangannya pula. Tiga batang jarumnya menyambar ke arah Sin-te Hek-kwi. Namun kepala rampok muka hitam itu dapat mengelak.

Kwan Bu terkejut ketika melihat berkelebatnya senjata rahasia yang menyerangnya. Pada saat itu, pedang perak di tangan Yo Ciat sedang menerjang dahsyat, sehingga ia harus membagi perhatiannya. Tangan kirinya ia kibaskan ke arah jarum-jarum itu, ada sebagian yang ia elakkan sedangkan pedangnya masih bergerak menahan pedang Yo Ciat.

Kemudian ia teringat bahwa jarum-jarum itu merupakan bukti dan sekali melihat jarum milik Sin-To Hek-Kwi, ia akan dapat menentukan apakah kepala rampok ini musuh besarnya ataukah bukan. Pikiran ini yang membuat ia memperlambat elakannya dan setengah disengaja ia membiarkan pangkal bahu kirinya menerima jarum yang menancap di dagingnya!

Sambil menahan pedang lawan ia mencabut jarum itu dan melihat sekilas saja tahulah ia bahwa jarum ini berbeda dengan jarum yang telah membutakan sebelah mata Ibunya. Hatinya kecewa, akan tetapi juga marah karena betapapun juga, Sin-toHek-kwi selain orang jahat juga seorang yang curang, menyerangnya secara menggelap.

Kemarahan ini membuat gerakan pedangnya menjadi hebat sekali. Tangan kirinya ia dorongkan dengan tangan terbuka setelah ia melontarkan jarum yang tadi menancap di bahunya ke arah Sin-To Hek-Kwi, mendorong dengan pukulan sakti membuat Yo Ciat berseru kaget dan terhuyung ke belakang.

Cepat Kwan Bu menggerakan pedangnya, terdengar Yo Ciat memekik dan pedang perak itu terlepas dari tangannya yang berdarah karena terluka oleh geresan pedang. Akan tetapi teriakannya itu didahului oleh pekik yang keluar dari mulut Sin-To Hek-Kwi karena jarum yang dilontar kembali oleh Kwan Bu secara tidak tersangka-sangka itu telah “Makan” tuannya sendiri, menancap di dada Sin-To Hek-Kwi!

Pada saat Sin-te Hek-kwi sedang terhuyung dan berusaha mencabut keluar jarumnya sendiri dari dada, segulung sinar merah menyambar dan kepala rampek itu menjerit dan roboh, darah menyembur keluar dari lehernya yang hampir putus! Kesemuanya itu terjadi amat cepatnya sehingga semua orang menjadi tertegun. Baru setelah jelas ternyata bahwa Sin-To Hek-Kwi rebah berkelojoran mandi darah, anak buah menjadi marah dan maju hendak mengeroyok.

“Kwan Bu, engkau melanggar janji! Mengapa membunuhnya?” Bu Keng Liong menegur marah.

“Dia jahat. dan curang! Patut dibikin mati!” Giok Lam mewakili sahabatnya membentak.

Pada saat itu, terdengar suara kentongan dipukul riuh dan terdengar pula teriakan-teriakan memecah kesunyian alam di luar tembok, “Siaaaappp! Anjing-anjing Kaisar mengurung kita...!!”

Kacaulah keadaan di situ. Anak buah perampok sudah berserabutan lari keluar disertai keluar disertai teriakan-teriakan, dan bunyi senjata berdencingan ketika mereka menyambar tombak dan lain-lain senjata tajam.

“Bhe Kwan Bu! Ternyata kau seorang penghianat palsu, anjing Kaisar!” bentak Ya Keng Cu marah sekali, lalu menerjang maju dengan pedangnya. Serangannya ini disusul oleh Sin-jiu Kim wan Ya Thian Gu dan Ban-Eng-Kiam Yo Ciiat yang menjadi marah sekali karena menganggap bahwa tentu pemuda ini yang membawa datang barisan pengawal yang kini mengurung tempat itu.

“Heiii...! Apa-apaan ini? Curang, main keroyokan...!” Giok Lam memaki-maki, akan tetapi tiba-tiba Siang Hwi sudah menerjangnya dengan sepasang pedangnya.

“Perempuan hina!” Siang Hwi memaki.

“Wah, kau galak benar!” Giok Lam balas memaki dan bertandinglah kedua orang gadis ini dengan seru. Namun ternyata bahwa Giok Lam terdesak oleh sepasang pedang Siang Hwi yang lihai dan cepat.

“Twako... bantu aku...! Twako... perempuan ini galak benar...!” Giok Lam berteriak-teriak.

Kwan Bu bingung. Ia tidak dapat menolong sahabatnya itu dari desakan Siang Hwi yang seperti harimau haus darah itu karena dia sendiripun repot menghadapi keroyokan tiga orang ahli silat yang lihai.

Sementara itu, Bu Keng Liong dan tokoh-tokoh lain sudah menerjang keluar untuk menghadapi para penyerbu, yaitu para pengawal ini dipimpin oleh tokoh-tokoh besar Panglima pengawal sendiri, yaitu Gin-San-Kwi, dan Kim I Lohan. Yang menggemaskan hatinya adalah ketika ia melihat keponakannya, juga muridnya, Liu Kong berada di antara para pimpinan pengawal yang amat lihai.

“Saudara-saudara, harap bantu di luar musuh yang dihadapi amat kuat!” teriak Bu Keng Liong sambil melompat lagi ke tempat pertempuran yang tadi.

Mendengar ini, mereka yang mengeroyok Kwan Bu menjadi kacau sehingga pemuda ini berhasil loncat ke arah Giok Lam dan menangkis pedang Siang Hwi yang sudah mendesak gadis berpakaian pria itu.

“Kau... kau melindungi dia...? Baik, kita mengadu nyawa!” bentak Siang Hwi.

Akan tetapi, Kwan Bu mengelak sambil meloncat jauh dan menarik tangan Giok Lam. Dan pada saat itu, para penyerbu telah datang dan ternyata bahwa pihak perampok sama sekali tidak berdaya menghadapi serbuan mereka. Yang amat hebat adalah sepak terjang Gin-San-Kwi, Kim I Lohan, Liu Kong, dan dua orang muda laki-laki dan wanita.

Terutama mereka berdua inilah yang amat hebat sehingga siapa yang maju tentu roboh! Mereka ini bukan lain adalah Siok Lun dan Bi Hwa. Keadaan menjadi kacau balau, bersimpang siur. Kwan Bu masih bergandeng tangan dengan Giok Lam.

“Lam-te... eh, nona. Lebih baik kita lari sekarang, tidak perlu mencampuri urusan mereka.”

Giok Lam mengerutkan alisnya, membantah. “Perlu apa lari? Kita harus menggempur perampok-perampok itu, terutama perampok perempuan yang begitu galak tadi!”

“Ah, Lam-te... eh... nona Phoa, kau tentu sudah dapat menduga. Pernah kuceritakan padamu. Bu Keng Liong itu adalah bekas majikanku dan... dia itu nona majikanku...”

“Huh, macam begitu nona majikan!”

“Nona Phoa, harap jangan membantah. Keadaan amat berbahaya, dengan kedua pihak aku tidak berhubungan, bahkan dimusuhi, lebih baik lagi selagi kacau kita lari demi keselamatanmu...!”

Akan tetapi terlambat. Tiba-tiba terdengar seruan keras. “Omitohud...! Kebetulan sekali, bocah sombong itupun berada di sini!”

Tanpa membuang waktu lagi Kim I Lohan sudah menerjang Kwan Bu dengan tengkatnya. Kwan Bu cepat menangkis, akan tetapi sebentar saja ia sudah dikurung dan dikeroyok lagi, sekarang bukanlah pihak pejuang yang mengeroyoknya, melainkan pihak pengawal!

Karena tahu bahwa akan sia-sia saja kalau dia membela diri dengan mulut. Kwan Bu lalu memutar pedang merahnya untuk melindungi diri dan juga Giok Lam yang membantu sedapatnya dengan pedang di tangan dan dengan jarum-jarumnya yang ia sambit-sambitkan dengan marah.

Namun, seperti juga tadi, kali ini para pengeroyok Kwan Bu adalah orang-orang yang berilmu tinggi, terutama sekali Gin-San-Kwi dan Kim I Lohan yang ingin membalas dendam atas kematian rekan meraka, Sam-Tho-Eng Ma Chiang yang telah tewas di tangan Kwan Bu. Di samping itu masih ada beberapa orang pengawal yang kepandaiannya tinggi juga melakukan pengeroyokan.

Sementara itu, Siok Lun dan Bi Hwa mengamuk hebat karena kedua orang muda ini ingin membuktikan jasa mereka. Tidak ada anggauta perampok yang tidak roboh dan tewas jika mencoba untuk menghadapi mereka ini dan melihat amukan dua orang muda ini, Bu Keng Liong sendiri, bersama Ya Keng Gu, Ya Thian Cu dan Yo Ciat, maju mengeroyok.

Akan tetapi dua orang muda murid Pat-Jiu Lo-Koai itu benar-benar amat tangguh, apalagi karena keadaan markas besar di Hek-Kwi-San sudah menjadi kacau balau dan banyak anggauta perampok yang binasa sehingga hati para tokoh pejuang menjadi gelisah.

Dalam pertandingan mati-matian ini, akhirnya Siok Lun dan Bi Hwa, dibantu oleh pengawal-pengawal yang cukup tinggi ilmunya, berhasil merobohkan para pejuang secara berturut-turut! Bu Keng Liong yang mainkan pedangnya secara nekad tidak dapat menahan kecepatan gerakan Liem Bi Hwa sehingga dialah yang mula-mula roboh oleh tusukan pedang Bi Hwa.

Namun Bu Keng Liong tidak tewas hanya oleh sebuah tusukan yang hampir menembus dadanya, Ia bangkit lagi menubruk, namun sambil tertawa Siok Lun mengelebatkan pedangnya di antara pengeroyokan para pejuang dan sekali ini pedangnya berhasil membababat leher Bu Keng Liong sehingga hampir putus! Bi Hwa tentu saja melindungi Suhengnya dengan putaran pedangnya yang merupakan gulungan sinar berkilauan, mencegah para pengeroyok lain menolong Bu Keng Liong.

“Ayahhhh...!” Siang Hwi yang tadi meninggalkan Kwan Bu setelah melihat betapa para Panglima datang mengeroyok pemuda itu dan sudah menggabung dengan Ayahnya, menjerit dan menubruk Ayahnya. Akan tetapi tiba-tiba ia ditotok dari belakang dan rebeh lemas dalam pelukan Liu Kong!

“Kau...? Kau... jahanam...!” Ia mengeluh dan pingsan dalam pelukan pemuda itu.

Liu Kong memondongnya dan membawanya pergi dari tempat pertandingan. Cinta kasihnya terhadap Siang Hwi membuat pemuda ini berkhawatir kalau-kalau Siang Hwi menjadi korban dalam pertempuran, maka ia lebih dulu menyingkirkan Siang Hwi dan menyerahkannya kepada para pengawal untuk membelenggu gadis itu dengan pesan bahwa siapapun juga tidak boleh mengganggunya dan harus memperlakukannya dengan baik dan dengan hati-hati agar jangan sampai lecet.

Melihat robohnya Bu Keng Liong dan tertawannya Siang Hwi, melihat pula betapa barisan perampok sudah banyak yang mati dan lebih banyak yang melarikan diri, mulailah Ya Keng Cu dan kawan-kawannya ingat untuk melarikan diri. Namun, mereka kini sudah terkurung hebat dan tidak ada kesempatan lagi. Maka mereka menjadi nekad dan melakukan perlawanan mati-matian.

Perlawanan yang sia-sia karena selalu berhadapan dengan sepasang orang muda yang amat lihai, juga para pengawal yang mengurung ikut pula membantu dan mengereyek. Akhirnya, Ya Keng Cu rebah mandi darah, disusul Ya Thian Cu yang terkena tendangan kaki Siok Lun dan disusul dengan bacokan pedang Bi Hwa.

Tinggal Yo Ciat yang masih terus melakukan perlawanan pedang peraknya melengking-lengking dan entah berapa banyaknya pengawal yang sudah roboh ditangannya. Kiranya orang tua tinggi kurus ini sudah tidak mempunyai harapan untuk lolos lagi, maka ia mengamuk sekuat tenaga. Siok Lun dan Bi Hwa mengeroyoknya dan memang ilmu pedang kedua orang muda ini hanya sedikit selisihnya dengan ilmu pedang Kwan Bu.

Maka belasan jurus kemudian Yo Ciat terpaksa mengaku kalah dan rebah dengan dua buah lubang di dada dan lambungnya. Kakek ini memekik keras, mengayun pedang peraknya ke arah leher sendiri dan berbareng dengan muncratnya darah dari lehernya, kakek ini roboh dan tewas di saat itu juga!

Siok Lun dan Bi Hwa meloncat pergi untuk mencari-cari lawan baru. Pertandingan masih berlangsung, akan tetapi perlawanan pihak musuh sudah amat lemah. Melihat adanya pertandingan hebat antara Gin-San-Kwi dan Kim I Lohan yang dibantu beberapa pengawal mengeroyok dua orang, Siok Lun dan Bi Hwa terkejut dan cepat meloncat mendekati.

Begitu melihat Kwan Bu dan Giok Lam, Bi Hwa dan Siok Lun berseru keras, meloncat masuk dalam pertandingan menggerakkan pedang menangkis kedua pihak dan berseru nyaring, “Berhentil Tahan senjata!”

Kwan Bu yang tadinya sudah repot sekali menghadapi pengeriyokan para pengawal karena ia harus melindungi Giok Lam sehingga ia harus melawan terus dan tidak mungkin meloloskan diri, menjadi kaget, heran dan juga girang.

“Suheng, Suci! Bagaimana kalian bisa berada disini?”

“Koko...!” Giok Lam yang sesungguhnya bernama Phoa Giok Lam, menubruk dan merangkul kakaknya.

Hal ini tentu saja membuat Kwan Bu melongo. Dia sudah tahu bahwa pemuda yang menjadi sahabatnya itu seorang gadis, akan tetapi sama sekali tidak mengira bahwa gadis itu adalah adik Suhengnya. Siok Lun tertawa dan menepuk-nepuk punggug adiknya.

“Hemm, bocah nakal. Kau gentayangan di sini bersama Sute mau apakah? Kenapa berkeliaran di tempat sorang perampok ini?”

Sementara itu, dengan susah payah Bi Hwa menyebarkan hati para pengawal dan berkata, “Mereka itu bukan orang lain. Pemuda itu adalah Suteku dan gadis berpakaian pria itu adalah adik kandung Suheng!”

Gin-San-Kwi Lu Mo Kok mengeluarkan suara mendengus penasaran, lalu melangkah maju dan menggerak-gerakkan kipasnya, berkata kepada Siok Lun dengan suara nyaring, “Phoa Sicu! Orang yang bernama Bhe Kwan Bu ini adalah seorang pemberontak dan kawan perampok! Biarpun dia Sutemu tetapi...”

“Bohong besar! Fitnah kosongll” Phoa Giok Lam yang penutup rambutnya tadi terlepas sehingga rambutnya yang panjang hitam itu kini terurai lepas, melangkah maju membantah ucapan Gin-San-Kwi Lu Mo Kok, sepasang matanya bersinar marah.

“Koko, jangan percaya omongan kakek ini! Aku sendiri yang datang bersama Bu-Twako ke sini, dan Bu-Twako datang untuk membunuh kepala rampok Sin-To Hek-Kwi. Lihat di sana itu, mayatnya masih belum dingin. Dan tadi sebelum kakek ini datang mengeroyok, Bu-Twako dan aku sedang dikeroyok kaum pemberontak dan perampok. Dan sekarang Bu-Twako difitnah sebagai pemberontak dan kawan perampok. Alangkah menggelikan fitnah ini!”

Siok Lun cepat maju menyela, “Agaknya ada kesalah-pahaman dalam urusan ini. Sute, coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.”

Kwan Bu yang sudah menyimpan pedangnya sehingga Siok Lun dan Bi Hwa dalam keributan itu tidak begitu memperhatikan pedang Toat-Beng-Kiam yang tadi ia gunakan, menyusut peluhnya dan berkata, matanya memandang dengan sinar suram ke arah tumpukan mayat di sebelah kiri di mana ia melihat Bu Keng Liong, Ya Keng Cu, Ya Thian Cu, Yo Ciat dan banyak anggauta pejuang yang telah tewas, lalu berkata. “Aku bersama Lam-te,… eh...”

“Ha-ha, namanya adalah Phoa Giok Lan, Sute,”

“Bersama Lan-moi datang ke tempat ini karena mencari Sin-To Hek-Kwi, Suheng tentu masih ingat betapa aku mencari musuh besarku yang telah membasmi keluarga Ibuku. Nah, setelah tiba di sini, ternyata para pejuang... eh, yang kalian katakan pemberontak itu, berada pula di sini dan mereka melindungi Sin-To Hek-Kwi. Terpaksa aku melawan dan tejadi pertandingan antara aku dan mereka. Kemudian muncul para Ciangkun ini, datang datang mengeroyokku, Sesungguhnya, tidak pernah aku mempunyai hubungan apa-apa dengan para pemberontak itu.”

“Hemm... sungguh mencurigakan dan aneh,” Gin-San-Kwi mengelus jenggotnya, tubuhnya makin membongkok karena ia memutar otaknya dan mengangguk-angguk. “Dahulu, Bhe Kwan Bu ini datang memusuhi kami dan berusaha membebaskan pemberontak Bu Keng Liong bersama puterinya dan kedatangannya bersama para pemberontak lain. Apa keteraganmu untuk peristiwa itu, erang she Bhe?”

“Tidak kusangkal hal itu. Akan tetapi, ketika itu aku datang seorang diri dan memang tujuanku hanya untuk membebaskan Bu Keng Liong dan puterinya, karena selain aku sudah berhutang budi kepada majikanku itu, juga aku tahu betul bahwa dia bukanlah seorang pemberontak. Hanya kebetulan saja munculnya para Tosu dan pejuang lainnya pada malam hari itu, bukan sekali-kali aku yang membawa mereka datang.”

Ia menghela napas panjang dan memandang ke arah mayat bekas majikannya, “Sayang, agaknya sekarang dia telah bersekutu dengan para pemberontak, sehingga tewas dan aku tidak dapat melindunginya lagi. Dia seorang baik...” kembali Kwan Bu menarik napas panjang penuh penyesalan.

“Omitohud!” Kim I Lohan, tokoh pelarian Siauw-Lim-Pai itu memukulkan tongkatnya ke atas tanah, “Sungguh persoalan yang berbelit-belit, akan tetapi mengingat bahwa Bhe Kwan Bu adalah Sute dari Phoa-Sicu, kami mau menerima keterangan-keterangan itu. Hanya satu hal yang membuat pinceng penasaran. Kalau memang kau tidak bersekutu dengan pemberontak, kenapa kau membunuh Sam-Tho-Eng Ma Ghiang, rekan kami dan seorang Panglima pengawal kerajaan? Bhe Kwan Bu apa jawabanmu untuk ini?”

Dengan sikap tenang dan suara mengandung nada dingin, Kwan Bu menjawab. “Memang aku telah membunuh manusia iblis Ma Chiang, akan tetapi bukan karena aku seorang pemberontak dan karena dia seorang pengawal, melainkan karena dia seorang manusia iblis. Dia telah berusaha memperkosa nona Siang Hwi... Heiiiiii ke mana dia? Mana Bu-Siocia? Apakah dia... dia kalian bunuh juga...?”

Teringat akan Siang Hwi, wajah Kwan Bu menjadi pucat sekali dan matanya jalang mencari-cari ke kanan kiri di antara tumpukan mayat-mayat yang berserakan di tempat itu, disinari cahaya obor yang dniyalakan para pengawal setelah semua perampok telah melarikan diri meninggalkan banyak sekali kawan mereka yang tewas.

Tiba-tiba Liu Keng maju dan dengan muka berseri pemuda yang cerdik ini berkata. “Saudara Kwan Bu, harap jangan khawatir. Adik Siang Hwi selamat dan sementara ini terpaksa ditahan karena dia berada diantara para pemberontak.”

Melihat Liu Kong, Kwan Bu marah sekali. Ia menudingkan telunjuknya kepada Liu Kong dan membentak. “Manusia berwatak rendah! Apapun alasannya, engkau telah membuktikan betapa rendah watakmu, melawan dan membunuh paman dan guru sendiri, sekarang malah menawan nona Siang Hwi yang masih adik misanmu sendiri. Sungguh tak tahu malu. Hayo bebaskan nona Siang Hwi atau... kuhancurkan kepalamu sekarang juga!”

Melihat kemarahan Kwan Bu, para Panglima sudah memegang erat-erat senjata mereka, dan Siok Lun cepat maju memegang lengan Sutenya sambil berkata halus. “Sute, simpan kemarahanmu. Engkau tidak boleh menyalahkan Liu-Ciangkun. Dia hanya melanjutkan perjuangan Ayahnya, yaitu membela Kaisar sebagai hamba yang setia. Yang salah adalah keadaan, sehingga bekas majikanmu itu terseret dan bersekutu dengan para pemberontak dan perampok. Engkau harus dapat melihat kenyataan.

"Betapapun muluknya cita-cita para pemberontak yang menyebut diri sendiri pejuang, mereka itu telah bersekutu dengan segala macam para perampok dan penjahat. Bagaimana dapat dikatakan bahwa cita-cita mereka bersih dan murni? adalah lebih tepat apabila engkau mengikuti jejak aku dan Sucimu yaitu menggunakan tenaga dan kepandaian untuk pemerintah membasmi perampok sehingga penghidupan rakyat jelata menjadi aman tenteram.“

Kwan Bu menjadi bingung. Kenyataan Bu Keng Liong bergabung dengan pejuang-pejuang, kenyataan betapa pejuang itu bersekutu bahkan melindungi orang-orang macam Sin-To Hek-Kwi, merupakan kenyataan pahit dan hatinya menyesal sekali.

“Aku tidak tahu... Suheng, akan tetapi... aku menghendaki agar nona Siang Hwi dibebaskan...! Kasihan dia, sudah kehilangan Ayahnya... dan... dan kalau dia menjadi tawanan dan dihukum, hatiku tidak akan rela membiarkan.”

Wajah Giok Lan yang tadinya pucat, kini menjadi merah. Ia mengikuti semua percakapan itu dan jantungnya seperti ditusuk mendengar betapa Kwan Bu membela Siang Hwi mati-matian. akan tetapi tentu saja dia tidak dapat mengeluarkan kata-kata, hanya tangannya dikepal-kepal dan hatinya terasa perih.

“Baiklah, Sute. Aku yang menjamin bahwa nona itu akan dibebaskan, dan hanya ditahan semalam ini untuk diminta keterangannya tentang para pemberontak yang lain. Hanya kuminta, setelah kami memenuhi tuntutanmu agar nona itu dibebaskan, engkau juga mengimbangi dan berjanji akan membantu kami ingat, Kwan Bu. Bukankah Suhu juga selalu berpesan agar kita membasmi orang-orang jahat dan menolong rakyat yang tertindas?”

“Tapi Suhu tidak menyebut-nyebut tentang pertikaian antara mereka yang pro dan anti Kaisar!” bantah Kwan Bu.

“Sute,” kata Bi Hwa yang sejak tadi diam saja. “Kita bertindak membasmi perampok bukan karena pro Kaisar, melainkan pro kebenaran! Tentang jasa kita dihargai hal itu hanya terserah kebijaksanaan Istana. Andaikata engkau tidak menghendaki anugerah, juga tidak apa-apa.”

Didesak begitu, Kwan Bu yang hatinya risau dan kecewa kepada para pejuang, menjadi makin bingung. Akhirnya ia berkata. “Aku masih meninggalkan Ibuku. Aku harus pergi kembali kepada Ibuku, dan menemaninya. Dia seorang diri di dunia ini...”

“Bu-Twako, mengapa bingung? Marilah kita menjemput Ibumu, kemudian mengajak beliau tinggal di rumah kami di Kam-sin-hiu. Aku tanggung beliau akan hidup tenteram dan tenang di sana, akan kami anggap sebagai orang tua sendiri... dan... dan..” Giok Lam tak dapat melanjutkan kata-katanya dan mukanya menjadi merah sekali. Ia telah kelepasan bicara, dan kata-kata bahwa dia akan menganggap Ibu Kwan Bu seperti Ibunya sendiri sungguh mempunyai arti yang amat dalam!

“Ha-ha-ha! Ingatlah kau dahulu akan kata-kataku bahwa kalau kau bertemu dengan adikku yang nakal ini kau akan repot sekali, Sute? Akan tetapi omongan anak nakal ini memang tepat. Kau boleh bersama adikku menjemput Ibumu dan mengantarkannya ke rumah kami di Kam-sin-hiu. Percayalah, Sute, aku tidak sombong, akan tetapi keluarga kami adalah keluarga kaya di sana dan kiranya Ibumu tidak akan kekurangan sesuatu.

"Selain itu, yang terpenting tidak akan kesepian dan terjamin keselamatannya. Aku bersama Sumoi harus hendak ke Kota Raja terlebih dulu, membuat laporan dan kelak kamipun akan pulang ke Kam-sin-hiu. Kau tunggu saja di sana, agar kemudian kau dapat bersama kami kembali ke Kota Raja untuk membantu pekerjaan mulia ini membasmi para perampok.”

“Bu-Twako, engkau masih ragu-ragu bahwa Sin-To Hek-Kwi adalah benar musuh besarmu bukan?” Giok Lam bertanya.

Kwan Bu menggeleng kepala. “Bukan, jarumnya tidak sama..? Ia meraba pangkal lengannya yang tadi tertusuk jarum lawan itu.

“Kalau begitu, dalam tugas membasmi perampok-perampok ini, sekalian kita mencari musuh besarmu itu. Bukankah musuhmu itupun seorang kepala rampok?” Ucapan ini berpengaruh sekali dalam hati kwan Bu karena ia dapat mengakui kebenarannya. Ia lalu mengangguk.

“Baiklah, aku akan menjemput Ibuku.”

“Bersamaku, Twako!”

“Kau... kau... bagaimana dapat melakukan perjalanan jauh bersamaku setelah... setelah kau bukan... Lam-te lagi?”

“Aku dapat saja berpakaian pria dan kau boleh terus menyebut aku Lam-te!”

Semua orang tersenyum mendengar jawaban yang lincah ini dan semua orang tahu belaka bahwa gadis yang lincah itu mencinta Kwan Bu.

“Baiklah, hanya aku mempunyai satu pertanyaan, harap Suheng suka meminta kepada para Lo-Ciangkun untuk mengabulkan.”

“Permintaan apakah? Kalau patut, mengapa kami tidak akan memenuhi permintaan seseorang calon rekan kami yang baik?” kata Liu Kong dengan suara ramah, agaknya pemuda ini sama sekali tidak merasa sakit hati telah dimaki oleh Kwan Bu tadi.

Diam-diam Kwan Bu merasa heran dan juga kagum. Liu Kong benar-benar telah berubah banyak sekarang pikirnya. Pemuda yang dahulunya keras hati itu kini pandai sekali menyembunyikan perasaan dan tampaknya sudah matang dan cerdik, terhadap orang seperti ini ia harus berhati-hati pikirnya.

“Apapun yang dikatakan orang terhadap Bu Keng Liong, dia tetap bekas majikanku dan aku berhutang budi banyak terhadapnya. Oleh karena itu sebelum aku pergi, aku ingin mengubur jenasahnya membantu nona Siang Hwi, kemudian harus kulihat sendiri dia dibebaskan dari sini.”

“Wah, apakah engkau tidak percaya kepada aku Sute?” Tanya Siok Lun, mengerutkan keningnya.

“Dalam hal ini bukan soal percaya atau tidak, Suheng. Keadaan menghendaki demikian dan aku hanya ingin membalas budi kebaikan keluarga Bu yang telah dilimpahkan kepada Ibuku.”

Kwan Bu tidak tahu betapa diam-diam Siok Lun memberi isarat kedipan mata kepada Liu Kong dan para Panglima pengawal, kemudian ia mengangguk, “Baiklah, Sute. Permitaanmu akan dikabulkan, bukankah begitu, jiwi Lo-Ciangkun?”

Gin-San-Kwi dan Kim I Lohan mengangguk-angguk, juga Liu Kong berkata, “Baiklah memang sudah sepatutnya begitu.”

Siang Hwi menangis tersedu-sedu didepan makam Ayahnya. Bibirnya berkemak-kemik dan Kwan Bu yang berlutut disampingnya, ikut juga menangis, mendengar gadis itu berbisik. “Ayah, aku bersumpah untuk membalas dendam kepada pembunuh-pembunuhmu...”

Kwan Bu mendengar ini dengan alis berkerut. Perih dan risau hatinya. Ia sudah mendengar bahwa pembunuh Bu Keng Liong adalah Suheng dan Sucinya sendiri dan kini gadis ini bersumpah hendak membalas dendam! Maka diapun berbisik. “Bu Thai-ya...Thai-ya gugur sebagai orang gagah, gugur dalam sebuah peperangan mempertahankan cita-cita. Tidak tewas dalam tangan seorang musuh seperti keluarga Ibuku... Thai-ya gugur sebagai korban perang...”

Siang Hwi menoleh kepadanya dengan muka pucat dan pipi basah air mata. Kemudian gadis itu bangkit berdiri menggigit Bibir, mengepul tangannya. Kwan Bu juga bangkit berdiri. “Nona, sebaliknya nona pergi sekarang dan berkumpul kembali dengan keluarga nona, tidak lagi mencampuri urusan peperangan. Sayang... aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengubur Thai-ya dan minta nona dibebaskan...”

Pandang mata Siang Hwi penuh kemarahan. “Kau...! Kau merendahkan diri menjadi anjing penjilat...! Ah, betapa kecewa hatiku! Betapa muak aku melihatmu!”

Kwan Bu hendak membantah, akan tetapi terpaksa menutup mulut karena pada saat itu bersama Gin-San-Kwi dan Kim I Lohan muncul bersama Bi Hwa, dan Giok Lan. Mereka ini tadi sengaja menjauhkan diri dan memberi kesempatan kepada Kwan Bu dan Siang Hwi untuk bersembahyang di depan makam Bu Keng Liong.

“Bhe-Sicu,” kata Gin-San-Kwi “sekarang nona Bu boleh pergi, kami membebaskan dia seperti permintaanmu.”

“Dan kita berangkat sekarang juga, Twako!” kata Giok Lan yang kini sudah berpakaian pria lagi, rambutnya disembunyikan ke dalam penutup kepala berwarna biru.

“Kamipun sudah bersiap-siap untuk kembali ke Kota Raja,” kata pula Gin-San-Kwi, “Liu-Sicu dan Phoa-Sicu sedang sibuk mengatur pasukan, hanya minta disampaikan salam nya kepada Bhe-Sicu.”

Siang Hwi menyapu mereka semua dengan pedang matanya, berhenti sejenak pada wajah Giok Lan dengan pandang mata penuh kebencian, kemudian memandang wajah Kwan Bu dengan penuh duka. Naik sedu-sedan dari dadanya, kemudian ia memutar tubuh dan tanpa mengeluarkan kata-kata apapun ia lalu lari pergi dari tempat itu, menuju ke selatan.

Kwan Bu menghela napas setelah mengikuti bayangan gadis itu sampai lenyap dari pandang matanya. Ia merasa ada tangan menyentuh lengannya dan menoleh ke arah Giok Lan. Wajah gadis ini tidak kelihatan tampan seperti biasa, melainkan tampak cantik jelita, tersenyum manis kepadanya.

“Mari kita pergi..?” katanya, hatinya diliputi kedukaan setelah menjura kepada para Panglima, ia berkata kepada Bi Hwa. “Suci, sampaikan salamku kepada Suheng. Sampai jumpa pula.”

“Baik, Sute. Kami akan segera menyusulmu ke Kam-sin-hiu setelah selesai urusan kami di Kota Raja.” Berangkatlah Kwan Bu bersama Giok Lan, menuggang dua ekor kuda yang disediakan oleh para Panglima, menuju ke barat untuk menjemput Ibunya yang masih ia titipkan di kuil Kwan-im-bio di luar kota Kwi-cun.

Siang Hwi masih menangis sesenggukan ketika ia lari meninggalkan Hek-Kwi-San. Malam telah berganti pagi dan sebetulnya pemandangan di sepanjang jalan amatlah indahnya. Sinar matahari pagi mengusir kegelapan malam dan kicau burung-burung di pepohonan menimbulkan suasana yang cerah. Namun hati Siang Hwi amat gelap, perasaan yang mengaduk-ngaduk batinnya hanyalah perasaan yang amat tidak enak.

Ia berduka kehilangan Ayahnya, penasaran karena tidak dapat membalas kematian Ayahnya. Ia marah kepada Liu Kong saudara misannya juga saudara seperguruan yang telah mengkhianati Ayahnya. Ia benci kepada gadis berpakaian pria yang menjadi sahabat Kwan Bu, dan ia lebih benci lagi kepada Kwan Bu! Hatinya duka, penasaran, marah, dan iri!

Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang disusul suara teguran halus penuh ejekan, “Nona manis hendak lari ke mana?”

Siang Hwi mengangkat muka dan melihat bahwa yang menghadang di depannya yaitu Liu Kong dan Siok Lun, pemuda tampan yang lihai sekali yang ia tahu telah membunuh Ayahnya! “Keparat jahanam! Mau apa kau?” bentaknya penuh kebencian. Ia maklum bahwa terhadap musuhnya ini ia tidak akan dapat menang, akan tetapi ia sudah bertekad untuk membalas dendam.

“Hwi-moi, kau ikutlah bersama kami. Karena kau berada di antara pemberontak, terpaksa sekali kami harus mengajakmu ke Kota Raja. Jangan kau khawatir, moi-moi aku akan melindungimu dan akan membelamu sehingga kau hanya akan dijadikan saksi, aku yang akan mengusahakan agar kau diampuni dan kelak kau dibebaskan, atau setidaknya hanya diberi hukuman ringan.”

“Manusia tak kenal budi, manusia berhati busuk, pengkhianat! Siapa sudi mendengarkan omongan busukmu? Kau sudah berjanji membebaskan aku. Sekarang kembali hendak melanggar janji! Setelah mempunyai semua kebusukan itu, kini ditambah lagi dengan manusia yang tak kenal janji? Alangkah busuk dan rendahnya kamu ini, Liu Kong!”

Wajah Liu Kong menjadi merah sekali dan jantungnya seperti ditusuk rasanya. Ia mencinta Sumoinya ini, akan tetapi keadaan memaksanya menjadi musuh. “Aku bermaksud baik terhadapmu, moi-moi. Percayalah, kalau tidak ada aku yang melindungimu, tentu engkaupun sudah tewas semalam...!”

“Cerewet! Siapa butuh perlindunganmu? Lebih baik mati bersama Ayah daripada tertolong oleh seorang hina macam kamu!”

“Ha-ha-ha, nona manis yang galak! Makin galak makin manis menarik hati. Lo-Ciangkun, perlu apa banyak berbantahan? Lo-Ciangkun tidak akan menang berbantahan dengan seorang gadis manis yang galak! Biarlah kutangkap dia!”

“Sratttt!” Siang Hwi sudah mencabut pedangnya dan menghadapi Siok Lun dengan pandang mata berapi. “Binatang! Engkau dan Sumoimu telah membunuh Ayahku. Memang aku hendak mengadu nyawa denganmu!” setelah berkata demikian, Siang Hwi menerjang dengan dahsyat.

Kemarahannya memuncak, membuat gerakan pedangnya menjadi ganas sekali dan nekat. Dia seolah-olah tidak memperdulikan gerak bertahan lagi, melainkan mencurahkan seluruh kepedihan, tenaga dan kecepatannya untuk menyerang dan membunuh musuh besarnya ini. Andaikata yang melawannya adalah orang yang setingkat kepandaiannya, misalnya Liu Kong, tentu akan kewalahan menghadapi kenekatan gadis ini.

Akan tetapi yang ia hadapi adalah Siok Lun murid Pat-Jiu Lo-Koai. Jangankan dia, biar Ayahnya yang menjadi gurunya sendiri, mendiang Bu Keng Liong, masih kalah jauh terhadap pemuda ini. Dengan senyum mengejek dan pandang mata ceriwis Siok Lun melayani Siang Hwi dengan tangan kosong.

“Singgg!” pedang itu ditusukan oleh Siang Hwi penuh kekejaman ke arah dada Siok Lun setelah lebih dari dua puluh jurus ia menyerang tanpa hasil, selalu dapat dielakkan oleh Siok Lun sambil tertawa-tawa.

Kini menghadapi tusukan ini, Siok Lun hanya miringkan tubuhnya sehingga pedang itu menyambar lewat di dekat dadanya, kemudian tiba-tiba lengannya yang dikembangkan mengempit pedangnya, namun tidak berhasil dan tiba-tiba ia menjerit marah ketika tangan Siok Lun sudah mencengkeram dadanya!

Siang Hwi mengangkat tangan kirinya menghantam muka Siok Lun, namun sebelah tangan Siok Lun sudah menangkap pergelangan tangan itu sehingga gadis itu tidak dapat bergerak lagi!

Tangan kiri Siok Lun masih mencengkeram dada sambil ketiaknya mengempit pedang, tangan kanan menangkap pergelangan tangan kiri Siang Hwi, kemudian pemuda ceriwis ini mendekatkan muka dengan mulut diruncingkan hendak mencium! Siang Hwi marah dan bingung, membuang muka.

Dan pada saat itu Liu Kong membentak. “Phoa-Taihiap, ingat dia itu piauw-moiku, harap lepaskan dia!”

Bentakan ini membebaskan Siang Hwi. Tidak jadi tercium, akan tetapi sambil tertawa Siok Lun menggerakkan tangannya dan sebuah totokan mengenai jalan darah thian-hu-hiat membuat Siang Hwi roboh dengan tubuh lemas. Liu Kong segera menangkap tubuh piauw-moinya itu lalu dipanggulnya.

“Ha-ha, maafkan aku Liu-Ciangkun. Aku hampir lupa melihat gadis manis yang galak ini,” Siok Lun tertawa-tawa dan secara kurang ajar sekali ia membawa tangan yang mencengkeram dada tadi ke depan hidungnya dan memuji. “Hemm harum...!”

“Sudahlah, harap Taihiap jangan main-main. Mari kita membawanya kembali ke pasukan.” Kata Liu Kong yang tak berdaya karena dia tak berani marah kepada laki-laki yang kurang ajar namun amat lihai itu.

Mereka berdua segera lari kembali ke pasukan yang menanti mereka. Memang semua ini telah diatur oleh Siok Lun, yaitu di depan Kwan Bu sengaja memberi janji agar Sutenya itu tidak menimbulkan banyak keributan. Bukannya dia jerih terhadap Kwan Bu, hanya tidak ingin memusuhi Sutenya itu.

Apalagi karena para Panglima termasuk Liu Kong juga setuju kalau dapat menarik Kwan Bu menjadi sekutu mereka, yang berarti bertambahnya tenaga yang lihai. Para Panglima memuji-muji Liu Kong dan Siok Lun dan para pasukan itu segera diberangkatkan meninggalkan Hek-Kwi-San untuk kembali ke Kota Raja.

Di sepanjang perjalanan mereka masih melakukan “Pembersihan-pembersihan” di dusun pegunungan yang mereka lalui dan tentu saja. Seperti lazimnya dalam “Operasi pembersihan” seperti itu, para anggauta pasukan mempergunakan kesempatan untuk keuntungan dan kesenangan diri sendiri, misalnya menyambar benda-benda berharga yang kecil dan yang mudah mereka pindahkan ke kantung baju sendiri, mengganggu wanita-wanita cantik yang mereka dapatkan di rumah-rumah yang dijadikan sasaran “Penggeledahan.”

Pada suatu malam, pasukan ini berhenti di sebuah dusun setelah sehari penuh mengadakan pembersihan sampai ke dusun itu. Dalam operasi pembersihan ini, Siok Lun terpaksa memenuhi permintaan Sumoinya. juga kekasihnya, untuk membasmi habis para perampok yang memang dijadikan musuh besar Bi Hwa, yang mendendam kepada semua perampok karena keluarganya habis dibasmi perampok.

Siang Hwi menjadi tawanan, selalu dijaga keras, bahkan tak pernah terlepas dari pengawasan para Panglima secara bergiliran. Namun karena di situ ada Liu Kong, gadis ini diperlakukan dengan cukup baik dan terjamin. Malam hari itu, seperti biasa, Siang Hwi dikeram ke dalam kamar sebuah rumah untuk sementara diduduki oleh para pasukan.

Malam yang sunyi. Para penduduk yang ketakutan karena di manapun pasukan itu tiba selalu terjadi hal-hal mengerikan, siang-siang dalam rumah setelah mereka memenuhi sebuah perintah lurah setempat untuk menyediakan segala keperluan pasukan. Hanya rumah lurah saja yang nampak sibuk karena tentu saja pembesar tempat ini seperti biasa menyambut para Panglima dengan segala kehormatan.

Phoa Siok Lun menjadi kesal hatinya. Sumoinya memang benar membalas cinta kasihnya. Akan tetapi pemuda yang selalu dikejar nafsunya sendiri ini menjadi gelisah karena Sumoinya bukanlah seorang wanita yang selalu suka melayaninya bermain cinta. Sebagai seorang pemuda hidung belang, penyakit lamanya kambuh kembali dan ia menjadi kesal.

Sebetulnya ia amat tertarik kepada Siang Hwi, dan kalau saja di sana tidak ada Liu Kong, tentu gadis itu sudah menjadi korban nafsunya. Dia tidak ingin bermusuhan dengan Liu Kong karena hal itu akan menghambat cita-citanya mendapatkan kedudukan di Istana, maka ia menahan dirinya seringkali mengutuk pemuda itu.

Setelah semua orang tidur dan keadaan sunyi, Siok Lun yang tidak betah tinggal di dalam kamarnya, lalu keluar dan bermaksud untuk mencari korban nafsunya di dalam dusun itu. Dengan kepandaiannya yang amat tinggi, ia dapat keluar dari kamarnya tanpa menimbulkan suara dan sebagai seekor kucing. Ia menyelinap di dalam gelap, lalu meloncat ke atas genting-genting rumah penduduk dusun.

Akan tetapi tiba-tiba Siok Lun mendekam di wuwungan dan matanya memandang tajam ke depan. Ia melihat sesosok bayangan yang ringan dan lincah gerakannya berkelebat di atas wuwungan depan, hatinya berdebar. Ah, untung dia keluar dari kamarnya karena kalau tidak, tentu bayangan itu berhasil datang di tempat itu tanpa diketahui para pengawal yang menjaga.

Orang yang memiliki gerakan selincah itu ternyata terlalu pandai bagi para pengawal yang menjaga, sedangkan yang berilmu sedang tidur dan beristirahat melepas lelah. Bayangan itu kini datang dekat. Malam itu bulan sepotong menyinari bumi dan kebetulan sekali bayangan itu berdiri dengan muka menghadap bulan. Jantung Siok Lun berdebar makin tegang.

Dari tubuh orang itu ia tadi sudah menduga bahwa bayangan ini tentu seorang wanita, karena terlalu ramping untuk seorang pria, Ketika ia dapat melihat wajahnya, ia girang bukan main, Wajah seorang wanita yang masih muda, seorang gadis yang cantik manis sekali, dengan pakaian serba hijau yang ketat, mencetak bentuk tubuhnya yang menggairahkan, tubuh seorang wanita muda yang sedang dirindukannya!

Seorang gadis cantik yang memiliki ilmu kepandaian lumayan! Bagus sekali, pikirnya, dan Siok Lun hampir saja bergelak tertawa. Selagi ia merindukan Siang Hwi, kini Thian mengirimkan pengganti Siang Hwi kepadanya!

Siok Lun amat cerdik. Dia dapat menduga ketika melihat wanita itu mulai mengintai ke bawah bahwa wanita ini tentulah seorang anggauta pemberontak atau setidaknya mata-mata pemberontak yang mungkin datang untuk menolong Siang Hwi.

Kalau ia membiarkan wanita itu turun tentu akan diketahui para Panglima dan sekali wanita terjatuh ke tangan para Panglima dan dijadikan tawanan kalau tidak mati, sukurlah baginya untuk mendapatkan gadis ini. Kalau dia serang kemudian wanita itu melawannya, tentu menimbulkan keributan dan semua orang akan terbangun, dengan demikian ia akan terganggu dan gagal pula gadis idam-idaman hatinya...

Jilid sebelumnya,

Jilid selanjutnya,
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.