Dendam Si Anak Haram

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Dendam SI Anak Haram
Sonny Ogawa

Dendam Si Anak Haram

Karya Kho Ping Hoo

KAISAR HIAN TIONG dari kerajaan Tang, sesungguhnya bukanlah seorang Kaisar yang lalim. Dia adalah seorang yang berbudi pekerti baik, juga memiliki rasa cinta kasih kepada rakyatnya. Akan tetapi Kaisar ini mempunyai cacat-cacat yang tidak seharusnya dipunyai seorang Kaisar yang baik.

Yaitu bahwa Kaisar ini terlalu menenggelamkan diri ke dalam kesenangan pribadi, mabok dalam pelukan selir cantik jelita Yang Kui Hui dan menyerahkan pelaksanaan pemerintahan kepada menteri-menteri yang tidak becus dan korup.

Semua rencana demi kesejahteraan rakyat, demi pembangunan Negara yang keluar dari Istana, tidak pernah ditinjau atau diperhatikan pelaksanaanya dan Kaisar ini hanya percaya kepada laporan-laporan para menteri dan pejabat yang tentu saja melaporkan bahwa semua itu berjalan dengan baik.

Padahal pelaksanaanya jauh bedanya. Bagaikan bumi dengan langit jika dibandingkan dengan rencananya semula. Pengeluaran Negara yang seharusnya dapat diperkecil dan diperhemat, malah ditambah berlebihan yang sebagian besar keluar masuk ke dalam gudang perbendaharaan si pembesar-pembesar korup.

Penghasilan-penghasilan yang masuk digerogoti di tengah jalan sehingga andaikata penghasilan Negara yang masuk itu merupakan seekor ikan, maka negara hanya menerima tulang dan kulitnya belaka. Daging-dagingnya sudah dikeroyok dan digeregoti mereka yang befoya-foya atas uang rakyat dan Negara.

Bukan hanya kelalaian ini yang menjadi cacad Kaisar Hian Tiong. Yang paling menyedihkan adalah karena pengaruh para menteri durna. sebagian besar adalah kaum Thaikam (Pembesar Kebiri), sudah sedemikian mendalam mencengkeram Istana tanpa disadari Kaisar, maka segala pelaporan yang masuk oleh Kaisar diserahkan lebih dulu penelitiannya oleh para menteri ini.

Kaisar yang dimabok asmara oleh selirnya yang cantik itu terlalu malas untuk melepaskan diri dari pelukan kekasihnya dan membuang waktu untuk menghadapi perkara-perkara memusingkan! Apalagi kalau pelaporan itu mengenai tuntutan rakyat tentang beberapa orang pembesar tinggi!

Kaisar ini kurang tegas, kurang erat memegang pedang keadilan dan tidak berani bertindak terhadap para menterinya yang korup khawatir kalau-kalau tindakan tegas memberantas kecurangan mereka itu menimbulkan pemberontakan.

Kaisar Hian Tiong lupa agaknya akan catatan sejarah lama bahwa justru karena keadaan macam ini kehidupan rakyat amat tertindas, justru karena rakyat terlalu tertindas, muncullah banyak bahaya pemberontakan dari rakyat yang merasa tidak puas. Betapa rakyat akan kuat bertahan kalau hidup ditindas dan dihisap seperti itu?

Tidak ada air yang mengalir ke atas. Untunglah kaum bawahan kalau air yang mengalir ke bawah itu air yang jernih pelepas haus atau air madu yang dapat dinikmati mereka yang berkedudukan di bawah. Akan tetapi kalau air kotor yang mengalir turun! Air kotor beracun! Maka rusaklah rakyat. Kalau atasannya kotor, bawahannya akan lebih kotor lagi, yakni kalau pembesar-pembesar tinggi korup.

Pembesar-pembesar rendahan merajalela, berpikiran mencontoh atasan mereka. Rakyat yang tidak berdaya itulah yang setengah mati. Pajak-pajak yang ditentukan dari Istana, sesampainya kepada rakyat telah menjadi berlipat ganda! Mereka memprotes akan berhadapan dengan barisan petugas yang merasa terganggu dan ditentang kekuasaan dan kepentingannya, dan akibatnya si pemerotes itu ditangkap, dihukum, bahkan dibunuh.

Para petugas tidak lagi memperhatikan kewajiban mereka. Karena yang terpenting bagi mereka adalah keuntungan diri pribadi. Kewajiban diabaikan, hukum-hukum dilanggar, penjaga menjadi pengganggu, penegak menjadi pelanggar. Semua ini mungkin terjadi karena nafsu korupsi telah merajalela.

Tentu saja para penjahat berpesta pora, memancing di air keruh, mereka dilindungi oleh petugas-petugas yang semestinya memberantas mereka. Mestinya menjadi lawan kini dapat saja menjadi kawan, karena memang tujuan mereka sama yakni mencari untung. Untung haram bukan soal lagi, hanya bedanya kalau para pencuri dan perampok melakukan “Usaha mencari untung” secara kasar, para petugas mendapatkannya secara halus berkedok kekuasaan.

Sudah bukan merupakan hal aneh lagi kalau ada dusun-dusun terpencil yang merupakan sebuah kerajaan kecil dan si penguasa setempat menjadi raja kecilnya. Dan bukan hal aneh pula kalau perampok-perampok datang di siang hari memasuki dusun-dusun dan melakukan perampokan seenak perutnya sendiri, tanpa ada perlawanan berarti dari para petugas keamanan. Dapat dibayangkan betapa gelisah dan sengsara hati rakyat hidup tak aman seperti itu...!

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo
Dendam Si Anak Haram Jilid 01
Dendam Si Anak Haram Jilid 02
Dendam Si Anak Haram Jilid 03
Dendam Si Anak Haram Jilid 04
Dendam Si Anak Haram Jilid 05
Dendam Si Anak Haram Jilid 06
Dendam Si Anak Haram Jilid 07
Dendam Si Anak Haram Jilid 08
Dendam Si Anak Haram Jilid 09
Dendam Si Anak Haram Jilid 10
Dendam Si Anak Haram Jilid 11
Dendam Si Anak Haram Jilid 12
Dendam Si Anak Haram Jilid 13
Dendam Si Anak Haram Jilid 14
Dendam Si Anak Haram Jilid 15
TAMAT
Kisah sebelumnya,
BAYANGAN BIDADARI (SIAN-LI ENG-CU)
Kisah selanjutnya,