Bayangan Bidadari Jilid 10

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Bayangan Bidadari Jilid 10
Sonny Ogawa

Bayangan Bidadari Jilid 10

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

SETELAH Si Hoo masuk bersama Ouw Boan Kit, para murid segera berkumpul dan memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan di depan dada kepada Guru mereka. “Suhu..!” Ucap mereka serempak.

Si Hoo menggerakkan tangan ke atas. “Anak-anak, perkenalkan, ini adalah Kongcu (Tuan Muda) Ouw Boan Kit yang tertarik dengan perguruan kita dan ingin menyaksikan kalian berlatih.” Si Hoo lalu menunjuk empat orang murid yang sudah tergolong pandai untuk memperagakan ilmu silat mereka di depan Ouw Boan Kit yang sudah dipersilahkan duduk di atas sebuah bangku.

Empat orang murid kelas atas ini lalu bermain silat, latihan bertanding. Gerakan mereka gesit dan tangkas. Si Hoo memandang puas dan mengharapkan pujian dari tamunya. Akan tetapi Ouw Boan Kit bangkit sambil terkekeh dan melambaikan tangannya.

“Sudah! Cukup, tak perlu dilanjutkan. Silat macam apa itu demikian lemahnya? Mari kita main-main sebentar. Kalian berempat boleh maju bersama mengeroyok aku. Kalau aku dapat kalian kalahkan barulah ilmu silat perguruan ini boleti masuk hitungan!”

Setelah berkata demkian, Ouw Boan Kit menanggalkan jubah luarnya dan menaruh di atas meja. Kini tampak kedua lengannya yang kekar dan berotot. Dia melangkah ke tengah ruangan itu dengan sikap menantang. Empat orang pemuda murid Si Hoe itu tentu saja panas hati mereka mendengar tantangan yang memandang rendah itu. Akan tetapi di depan Guru mereka, mereka tidak berani bersikap semmbarangan, maka kini mereka berempat hanya memandang kepada Si Hoo, menanti keputusan Guru mereka.

Si Hoo diam-diam merasa muak juga menyaksikan sikap pemuda yang sombong itu, namun dia tidak mau menambah permusuhan dengan Jaksa Ouw. Maka sambil tersenyum ia menghampiri Ouw-Kongcu. “Kongcu, kalau hendak main-main dan menguji ilmu silat, biarlah seorang saja di antara empat murid ini maju melayaninru, tidak perlu berempat.”

“Hanya seorang dari mereka? Wah, Si-Kauwsu, aku merasa malu kalau harus bertanding melawan seorang dari mereka. Kepandaian mereka masih mentah. Apalagi maju seorang, biar mereka berempat maju masih juga bukan lawanku yang seimbang! Biarlah mereka berempat maju mengeroyokku!” Pemuda itu menantang sambil tersenyum mengejek.

Sesabar-sabarnya orang, mendengar kata-kata yang amat merendahkan itu, panas juga rasa perut Si Hoo. "Kalian majulah, akan tetapi hati-hati jangan sampai melukai Ouw-Kongcu.” katanya.

Empat orang murid yang merasa penasaran itu maju dan mengepung Ouw Boan Kit dari empat jurusan. Ouw-Kongcu memasang kuda-kuda yang kokoh dengan merenggangkan kedua kaki dan menekuk kedua lutut, kedua tangan di kanan-kiri pinggang, lalu berseru. “Kalian berempat maju dan seranglah!”

Empat orang murid itu serentak berseru, “Lihat serangan!” Lalu mereka menyerang dari empat penjuru dengan cepat namun dengan tenaga dibatasi karena mereka menaati pesan Guru mereka agar tidak melukai putera jaksa yang sombong ini.

Akan tetapi pemuda bangsawan itu ternyata gesit sekali. Dua serangan dapat dia elakkan dan yang dua lagi dia tangkis sedemikian kuatnya sehingga dua orang penyerangnya terhuyung ke belakang. Dia pun membalas dengan serangan bertubi yang cukup dahsyat sehingga empat orang pengeroyok itu berloncatan ke belakang, kemudian mereka menyerang lagi dengan hati-hati karena maklum bahwa pemuda sombong itu bukan hanya pandai berlagak, namun juga pandai ilmu silat!

Terjadi saling serang selama belasan jurus dan empat orang pengeroyok itu sama sekali belum mampu mendesak pemuda bangsawan itu! Diam-diam Si Hoo merasa heran karena ilmu silat yang dimainkan putera jaksa Itu amat ganas dan kuat, dan jelas menunjukkan ciri ilmu silat aliran sesat.

Tiba-tiba Ouw Boan Kit mengeluarkan suara gerengan seperti seekor binatang buas, disusul tubuhnya yang berpusing seperti gasing. Lalu terdengar bentakannya melengking. “Ciaatt... ciaatt... ciaatt... ciaattt!!”

Tubuh empat orang murid Si-Kauwsu itu terpelanting roboh dan mereka hanya mampu bangkit duduk sambil menyeringai kesakitan. Si Hoo cepat menghampiri mereka dan setelah dia memeriksa, dengan kaget dia mendapat kenyataan bahwa mereka mengalami patah tulang. Seorang patah tulang pundaknya, yang ke dua patah tulang lengannya, ke tiga patah tulang iganya dan yang ke empat patah tulang kakinya!

Tidak berbahaya bagi keselamatan nyawa mereka memang, namun tetap saja membuat mereka menderita nyeri yang hebat. Si Hoo bangkit berdiri, mengerutkan alisnya menghadapi Ouw Boan Kit, namun dia tetap sabar. Terluka dalam pi-bu (adu ilmu silat) merapikan hal yang wajar dan tidak perlu diributkan.

“Tidak disangka ilmu silat Ouw Boan Kit memang tinggi dan hebat. Kami merasa kagum sekali. Maafkan kalau kami tidak dapat melayani Kongcu lebih lanjut, karena kami harus merawat mereka yang terluka.” Ucapan ini mengandung pengusiran halus.

Akan tetapi Boan Kit tertawa mengejek. “He-he-he! Tingkat kepandaian Guru dapat dilihat dari mutu para muridnya. Kalau mutu murid-muridmu hanya sebegini, bagaimana mungkin engkau berani membuka perguruan silat di Hak-Ciu ini, Si-Kauwsu? Engkau hanya mengajarkan ilmu silat rendahan dan menerima pembayaran para murid. Berarti engkau menipu mereka!”

“Ouw-Kongcu, saya mengajarkan ilmu silat untuk olah raga yang menyehatkan tubuh, bukan untuk berkelahi dan menjadi tukang pukul.”

“Cukup obrolan ini Si Hoo, sekarang, Iawanlah aku. Kalau engkau mampu mengalahkan aku, baru engkau boleh menjadi Guru silat di kota ini. Akan tetapi kalau engkau tidak mampu mengalahkan aku, perguruan ini harus ditutup!"

“Ouw-Kongcu, saya tidak mencari permusuhan.”

“Kalau engkau tidak mencari permusuhan dan takut melawan aku, hayo tutup dan bubarkan perguruan ini. Kota Hak-Ciu tidak boleh dikotori oleh Guru silat palsu yang menipu uang para pemuda!”

Ini sudah keterlaluan, pikir Si Hoo. Anak sombong kurang ajar ini patut diberi hajaran, asal dijaga agar jangan sampai terluka. “Orang muda, sikap dan kata-katamu ini kalau tidak kau ubah, kelak akan mencelakai dirimu sendiri.” katanya, masih sabar dan mencoba untuk menyadarkan.

Namun, mendengar ini, Ouw Boan Kit menjadi semakin marah. “Keparat, berani engkau mengancam aku?”

“Aku tidak mengancam, hanya memperingatkan...”

“Mampuslah!” Tiba-tiba Ouw Boan Kit sudah menyerang dengan gangs. Pukulannya yang mengandung tenaga kuat itu menyambar ke arah kepala Si Hoo dan kalau pukulan itu mengenai sasaran, bukan mustahil kalau kepala Guru silat itu akan pecah!

Akan tetapi dengan mudah Si Hoo mengelak. “Ouw Kongcu, aku tidak ingin berkelahi!”

Akan tetapi pemuda itu malah menyerang lebih hebat lagi. Setelah tiga kali mengelak dari pukulan Ouw Boan Kit, dan pemuda itu masih terus menyerang, Si Hoo mengelak sambil menggerakkan kakinya yang menendang lutut lawan. Gerakan ini cepat sekali dan tiba-tiba tubuh Ouw Boan Kit terpelanting karena dia merasa kedua lututnya kehllangan tenaga!

Ketika terpelanting, mukanya terbanting pada lantai dan sungguh sial baginya, di situ terdapat kotoran anjing sehingga hidung dan mulutnya berlepotan kotoran anjing. Dia bangkit menyumpah-nyumpah sambil muntah-muntah! Terdengar tepuk tangan para murid yang geli dan senang melihat pemuda sombong itu menerima hajaran. Ouw Boan Kit bangkit dengan muka merah, matanya melotot memandang kepada Si Hoo, lalu dia lari keluar dari rumah perguruan silat itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Si Hoo menghela napas panjang. “Mulai hari ini, kalian semua harus berhati-hati, jaga jangan sampai terjadi bentrokan dengan siapa pun.” Dia memesan lalu merawat empat orang murid yang menderita patah tulang.

Pada keesokan harinya, datang petugas Kantor Kejaksaan yang menyampaikan perintah Jaksa Ouw agar Si Hoo datang ke kantor untuk dimintai keteranganl Si Hoo tidak berani membantah dan dia pun pergi menghadap Jaksa Ouw di kantornya. Ketika dia memasuki ruangan kantor itu, yang berada di kantor adalah Jaksa Ouw sendiri, dikawal oleh lima orang tukang pukulnya yang sudah dikenal semua penduduk kota Hak-Ciu.

Lima orang jagoan ini adalah Hak-Ciu Ngo-Houw (Lima Harimau Hak-Ciu). Selain lima orang itu, terdapat pula Ouw Boan Kit dan di dekat pemuda itu duduk pula seorangKakek berusia sekitar enam puluh tahun, tubuhnya kurus agak bongkok, mukanya halus tanpa kumis atau jenggot, tampak lemah berpenyakitan namun sepasang matanya mencorong penuh wibawa yang menakutkan! Begitu memasuki ruangan itu diantar oleh dua orang perajurit penjaga yang tali menyambutnya di luar.

Seorang dari Hak-Ciu Ngo-Houw membentak. “Orang she Si, berlututlah menghadap Ouw Taijin!”

Dalam hatinya, Si Hoo tidak dapat menerima perintah ini, akan tetapi dia tahu bahwa Jaksa ini bagi penduduk Hak-Ciu merupakan Raja kecil. Bahkan kepala daerah di Hak-Ciu juga tunduk kepada orang yang berwenang menuntut dan menyalahkan siapa saja ini.Maka dia pun mengalah dan berlutut menghadap Jaksa Ouw yang duduk dengan alis berkerut dan tangan kiri mengelus jenggotnya.

“Heh, kamu yang bernama Si Hoo, Guru silat?” Jaksa Ouw bertanya, suaranya membentak mengandung kemarahan.

“Benar, Taijin.”

“Kamu sudah berani memukul puteraku Ouw Boan Kit kemarin, ya?”

“Tidak Taijin. Ouw Boan Kit datang mengajak pi-bu (adu kepandaian silat) dan tidak ada yang memukulinya.”

“Dia bohong, Ayah!” tiba-tiba Ouw Boan Kit berseru sambil bangkit berdiri dan menudingkan telunjuknya ke arah Si Hoo.

“Mula-mula dia menyuruh empat orang muridnya mengeroyokku, setelah empat orang muridnya kukalahkan, dia maju dan memukuliku!”

“Itu tidak benar, Taijin...”

“Diam kau, Si Hoo! Kalau tidak ditanya jangan bicara!” bentak Jaksa Ouw. Si Hoo terdiam dan menahan kesabarannya. “Tidak ada gunanya berbantahan karena kedua pihak tentu bertahan dengan keterangan masing-masing...”

“Maaf, Taijin. Terdapat banyak sekali saksi. Murid-murid saya semua menyaksikan peristiwa itu...”

“Diam! Mereka adalah murid-muridmu, tentu saja mereka semua siap berbohong untuk membenarkan dan membelamu! Saksi-saksi seperti itu tidak dapat dipercaya dan tidak boleh dijadikan saksi. Sekarang keputusanku begini. Karena puteraku Ouw Boan Kit menjadi korban, maka aku memberi kesempatan kepadanya untuk mengajukan usul, tindakan apa yang harus diambil untuk menghukum kejahatanmu. Nah, bagaimana pendapatmu, Boan Kit? Apakah engkau mempunyai usul?”

“Begini saja, Ayah. Setelah bertahun-tahun mempelajari ilmu silat dari Suhu yang sekarang hadir di sini, aku menghargai kegagahan. Karena Itu, biarlah sekarang Guru Silat Si Hoo bertanding melawan Guruku. Kalau dia mampu mengalahkan Guruku, biarlah aku mengalah dan aku akan berguru kepadanya, dan perguruannya akan kita dukung agar menjadi besar. Sebaliknya, kalau dia kalah dia harus menutup perguruannya!”

“Wah, itu usul yang baik dan adil sekali!” seru Jaksa Ouw bangga. “Nah. dengarlah, Si Hoo. Kami memutuskan agar engkau bertanding ilmu silat melawan Guru puteraku. Kalau engkau menang, engkau pantas menjadi Gurunya yang Baru. Sebaliknya kalau engkau kalah, engkau harus menutup perguruanmu!”

“Akan tetapi, Taijin, sungguh mati saya tidak ingin bermusuhan dengan siapa pun juga.” Si Hoo membantah.

“Tidak boleh menolak keputusan kami! Tinggal pilih, engkau menerima pi-bu (mengadu ilmu silat) itu atau masuk penjara!”

Tidak ada pilihan lain bagi Si Hoo, “Baiklah, saya menerima keputusan Taijin.”

“Ruangan Ini cukup luas!” kata Jaksa Ouw. “Lo-Cianpwe (orang tua gagah), silahkan mewakili Boan Kit melawan Guru Silat Si Hoo.” kata Jaksa itu kepada Kakek kurus bongkok yang sejak tadi diam saja sambil menyeringai aneh.

Mendengar ini, Kakek itu lalu bangkit dan melangkah ke tengah ruangan. “Orang she Si, ke sinilah dan mari kita main-main sebentar. Ingin aku malihat bagaimana engkau dapat merobohkan muridku.” Suara Kakek itu tinggi dan lembut, namun matanya mencorong dan mulutnya menyeringai seperti mengejek.

Si Hoo tak dapat mengelak atau membantah lagi. Tentu saja lebih baik pi-bu daripada dimasukkan tahanan atau penjara. Dia lalu bangkit dan menghampiri Kakek kurus itu. Mereka berdua kini saling berhadapan.

“Orang she Si, dari manakah aliran perguruanmu?”Kakek itu kembali berkata dengan pertanyaan yang diiringi sikap memandang ringan.

“Saya murid Bu-Tong-Pai.” jawab Si Hoo bersahaja.

“He-heh, bagus. Nah, sambut seranganku ini!” Kakek itu menyerang dengan tamparan tangan kiri. Gerakannya tampak lemah dan lambat.

Namun Si Hoo terkejut bukan main karena dia merasa betapa ada hawa pukulan yang amat kuat menyambar ke arah kepalanya. Cepat dia mengelak dan membalas. Kakek itu pun dengan mudah mengelak dan mereka berdua lalu bertanding saling serang. Si-Kauwsu (Guru Silat Si) terkejut bukan main.

Baru beberapa gebrakan saja tahulah dia bahwa lawannya ini memiliki kepandaian silat yang tinggi sekali dan agaknya amat memandang rendah kepadanya sehingga dalam jurus-jurus pertama seperti mempermainkan dia saja. Setiap kali lengannya bertemu dengan lengan kurus kecil itu, tubuhnya tergetar dan tangannya terasa panas sekali!

Akhirnya, telah lewat beberapa jurus, Kakek itu berseru. “Pergilah!” Tangan kanannya dengan jari-jari terbuka mendorong ke arah dada Si Hoo.

Serangan ini demikian cepat hingga tidak dapat dihindarkan Si Hoo sehingga dadanya tersentuh. Hanya tersentuh saja, akan tetapi dia merasa dadanya panas dan sesak, kepalanya pening dan dia pun terpelanting roboh! Si Hoo berusaha untuk mengatur pernapasannya, Akan tetapi dia tahu bahwa dia telah terkena pukulan yang amat ampuh dan ketika dia membuka bajunya melihat tanda menghitam di dadanya, dia terbelalak,

“Hek-Tok-Ciang (Tangan Racun Hitam)...? Kalau begitu... engkau... adalah... Pak Lo-Kui...?” kata Si Hoo terengah-engah.

“He-he-he-he! Bagus engkau mengenal aku! lni sekadar pelajaran bagimu yang telah berani memukul muridku!” kata Kakek kurus bongkok yang ternyata Pak Lo-Kui (Setan Tua Utara) atau yang dikenal pula sebagai Datuk Utara atau Rajanya para Datuk persilatan di wilayah utara!

Si Hoo merasa penasaran sekali. Dia bangkit dan memberi hormat kepada Jaksa Ouw, lalu berkata. “Penasaran...! Saya tidak bersalah... saya akan melapor... kepada... Kepala Wilayah... di Nam-Ciu...” setelah berkata demikian Si Hoo lalu keluar dari kantor kejaksaan.

Dia segera pulang, mengumpulkan murid-muridnya, menyatakan pembubaran perguruan silatnya dan menitipkan rumahnya kepada para murid tertua. Kemudian sambil membawa pakaian dan bekal, dia cepat meninggal kota Hak-Ciu, bermaksud untuk pergi ke Nam-Ciu. Dia tahu bahwa dia menderita luka dalam yang amat parah sebagai akibat pukulan Hek-Tok-Ciang, sehingga luka mengandung hawa beracun itu merusak isi dadanya.

Dan sebelum terlambat dia ingin melaporkan perbuatan wenang-wenang Jaksa Ouw kepada pejabat tinggi di Nam-Ciu, yaitu Jaksa Kepala Kwa yang merupakan pembesar tinggi angkatan Kaisar sendiri. Jaksa Kepala Kwa ini datang dari kotaraja dan bertugas di Nam-Ciu yang membawahi banyak kota, di antaranya Hak-Ciu termatuk wilayah Nam-Ciu.

Akan tetapi agaknya Jaksa Ouw khawatir kalau dia benar-benar hendak melapor kepada Pembesar Kwa di Nam-Ciu, maka pembesar itu lalu menyuruh Hak-Ciu Ngo-Houw untuk mengejarnya dan membunuhnya.

“Demikianlah, Lihiap (Pendekar Wanita)... aku... aku tidak kuat lagi... tolong sampaikan kepada... Anakku... Si Han Lin... dia mungkin... di Bu-Tong-Pai...”

“Tenanglah, Paman. Aku akan membawamu ke ahli pengobatan agar dapat manolongmu.”

“Tidak... percuma... berjanjilah, Lihiap... engkau... kelak mau menyampaikan... kepada... Si... Han... Lin...”

“Baik, aku berjanji Paman...” Akan tetapi tubuh Si Hoo terkulai dan ketika In Hong memeriksanya, Guru silat itu telah mati. In Hong bangkit berdiri, menghela napas panjang dan mengepal tangannya. Tadi ia telah mendengar semua cerita Guru silat Si. Setelah bercerita panjang lebar, Guru silat yang terkena pukulan Hek-Tok-Ciang itu kehabisan tenaga dan akhirnya menghembuskan napas terakhir setelah meninggalkan pesan kepadanya.

Si Han Lin, ia tidak akan melupakan nama itu. Akan tetapi sekarang ada hal lebih penting yang harus ia tangani. Pertama, melaporkan kematian Guru silat itu kepada para muridnya agar jenazahnya dapat diurus, dan ke dua, ia tidak dapat tinggal diam saja mendengar kisah mengharukan Guru silat itu, Jaksa Ouw, anaknya dan antek-anteknya itu harus diberi hajaran keras.

la sendiri pernah menerima gemblengan Datuk-Datuk aneh yang berwatak aneh seperti gila, juga terkadang amat kejam, akan tetapi dua orang mendiang Gurunya itu, Hek Moli (Iblis Betina Hitam) dan suaminya Bhutan Koai-jin (Manusia Aneh dari Bhu-tan), setldaknya memiliki rasa keadilan dan membenci mereka yang berbuat jahat dan sewenang-wenang. Tiga orang pemuda itu menghadapi In Hong dan memandang penuh heran dan kagum.

“Benarkah ini rumah Guru Si Hoo?” tanya gadis itu. “Dan apakah kalian ini murid-muridnya?”

Tiga orang pemuda itu saling pandang, lalu seorang di antara mereka bertanya, “Nona siapakah dan ada kepentIngan apakah datang berkunjung?”

“Jawab dulu pertanyaanku tadi!”

“Benar, Nona. Ini rumah perguruan silat yang dipimpin Suhu Si Hoo, akan tetapi sekarang telah ditutup dan perguruan dibubarkan. Kami adalah murid-muridnya.”

“Bagus, kalau begitu kalian cepat urus jenazah Gurumu...”

“Jenazah Suhu...? Apa... apa maksudmu?”

“Dia terluka parah dan tewas dalam perjalanan, di hutan sebelah selatan kota. Cepat pergi ke sana dan urus jenazahnya.”

“Tapi... siapakah yang membunuhnya?” tanya seorang.

“Siapakah nama Nona?” tanya yang lain.

Akan tetapi mereka bertiga hanya melihat bayangan berkelebat dan gadis cantik di depan mereka Itu telah lenyap! Mereka bengong, saling pandang kehilangan akal, akan tetapi mereka lalu bergegas mengundang saudara-saudara seperguruan yang tinggal berpencaran.

Tak lama kemudian tujuh orang murid telah pergi menuju keluar kota ke arah selatan dan pada sore harinya mereka kembali ke kota dengan wajah duka, menggotong jenazah Si Hoo dan membawanya pulang untuk di urus perkabungan dan penguburannya karena Guru silat itu tidak mempunyai seorang pun keluarga di kota Hak-Ciu.

Pada saat para bekas murid Si Hoo berkumpul di rumah duka, terjadi hal yang menarik dan menggegerkan di rumah Jaksa Ouw yang besar, megah dan mewah. In Hong memasuki pekarangan rumah besar itu. Pekarangan itu luas dan terdapat lima orang penjaga yang bertubuh tinggi besar dan bersikap galak.

Melihat ada seorang gadis memasuki pekarangan, lima orang petugas jaga itu cepat menghadang. Mereka adalah orang-orang kasar yang berpakaian seragam, dan mereka adalah petugas-petugas penjaga yang ditugaskan sebagai pasukan pengawal di rumah Jaksa Ouw.

Melihat ada gadis cantik memasuki pekarangan dan tidak mengenal gadis Itu, lima orang itu tertawa-tawa dan bersikap kurang ajar. Gadis Itu bukan anggauta keluarga Jaksa Ouw, maka tentu saja mereka berani bersikap kurang ajar.

“Wahai Nona manis, engkau datang hendak mencari aku, bukan?” kata seorang.

“Bukan, ia mencari aku, betulkan, manis?”

Lima orang itu menggoda dengan ucapan-ucapan nakal bahkan ada yang bicara cabul dan tangan mereka meraih untuk menyentuh tubuh yang menggairahkan itu. In Hong mengerutkan alisnya, matanya berkilat dan tiba-tiba tubuhnya bergerak cepat berkelebatan. Terdengar teriakan-teriakan dan tubuh lima orang itu berturut-turut roboh tak dapat bangkit kembali karena mereka telah tewas tanpa terluka sama sekall.

Tentu saja karena pukulan tangan In Hong mengandung tenaga sinkang yang tidak melukai kulit, melainkan menghancurkan isi kepala dan isi dada, di mana bagian itu terkena tamparannya! Teriakan lima orang itu terdengar dari dalam gedung dan muncullah beberapa orang.

In Hong sudah tiba di dekat serambi rumah itu dan ia melihat ada belasan orang berpakaian seragam pengawal keluar memegang golok. Tampak pula lima orang Hak-Ciu Ngo-Houw yang pernah ia robohkan. Mereka terpincang-pincang, dan tampak pula seorang pemuda yang tampan gagah dan berpakaian mewah. In Hong tadi membunuh lima orang penjaga karena mereka berani bersikap kurang ajar, bukan saja mengeluarkan kata-kata cabul menggodanya, bahkan tangan mereka mulai hendak merabanya.

la tidak ingin membunuh banyak orang, apa lagi yang tidak mengganggunya. Melihat pemuda itu, diamati wajahnya dan pakaiannya. Bagaikan seekor burung garuda, ia melayang naik ke atas serambi itu dan menyambar ke arah Ouw Boan Kit yang bersikap gagah.

Melihat gadis itu melompat ke arahnya, Ouw Boan Kit yang biasa memandang rendah orang, terkekeh genit. “Aduh, engkau secantik bidadari!” Dan tangannya lalu bergerak meraih, hendak menangkap gadis yang mendekatinya itu, sedangkan belasan orang pengawal itu cepat mengepung. Begitu kedua tangan Ouw Boan Kit menyambar kearah tubuh In Hong, gadis itu menggerakkan kedua tangannya lebih cepat lagi.

“Krek-Krekk! Aughhh...!!” Ouw Boan Kit menjerit karena sambungan tulang sikunya patah dan kedua lengannya menjadi lumpuh seketika!

In Hong mencengkeram punggung bajunya dan menghardik. “Kau yang bernama Ouw Boan Kit” Cengkeraman itu mnembus baju dan kulit serta daging punggung itu ikut pula di cengkeram sehingga mendatangkan rasa nyeri yang lebih hebat daripada rasa nyeri kedua lengannya.

“Aduh... aduhh... tolong...!” Ouw Boan Kit menjerit-jerit. Akan tetapi para pengawal itu tentu saja tidak berani bergerak karena In Hong sudah membentak nyaring.

“Diam semua, atau kubunuh dulu anjing ini!” Teriakkan ini sambil meletakkan tangannya di atas ubun-ubun kepala Ou Boan Kit membuat semua pengawal tidak berani berkutik. “Hayo jawab, kamu Ouw Boan Kit, bukan?”

“Ya... ya... ampun...” Tanpa malu-malu lagi pemuda itu merintih karena kedua lengannya lumpuh dan nyeri, punggungnya seperti dijepit baja dan ketika tangan yang halus berjari lentik itu menyentuh ubun-ubun kepalanya, dia merasa kepalanya panas!

“Hayo bawa aku menemui Ayahmu, Jaksa Ouw yang brengsek itu!” kata In Hong lalu mendorong punggung pemuda itu yang segera melangkah masuk dengan tubuh menggigil ketakutan. Belasan orang pengawal itu pun mengikuti dari belakang dengan golok di tangan, namun mereka tidak berani lancang menyerang In Hong karena keselamatan nyawa tuan muda mereka berada di tangan gadis itu.

Ouw Boan Kit memasuki sebuah ruangan dan di situ tampak Ouw Taijin duduk dengan muka pucat. Belasan orang pengawal lain menjaga dan melindunginya dengan golok di tangan. Melihat puteranya digiring masuk oleh seorang gadis dan para pengawal hanya mengikuti dari belakang, Jaksa Ouw marah sekali.

Tadi dia sudah mendengar laporan akan datangnya seorang gadis perkasa yang pernah merobohkan Hak-Ciu Ngo-Houw dan gadis itu mengamuk, membunuh lima orang pengawal dan menangkap puteranya. Kini melihat bahwa gadis itu kelihatan biasa saja, timbul keberaniannya dan dia hendak menggunakan kewibawaannya yang selama ini tidak pernah gagal menggertak dan membikin takut orang-orang.

“Hei, gadis muda! Berani engkau bersikap begini di depanku? Aku adalah Jaksa Ouw, pejabat yang paling berkuasa di Hak-Ciu! Aku bisa mengerahkan ribuan perajurit untuk menangkap dan membunuhmu. Hayo lepaskan puteraku!” katanya sambil bangkit berdiri dan menudingkan telunjuknya.

Akan tetapi gertakan itu sama sekali tidak membuat In Hong menjadi takut, sebaliknya membuat gadis itu menjadi semakin marah. “Krekk! Krekk!” Kedua tangannya mencengkeram dan bunyi itu adalah bunyi kedua tulang pundak Ouw Boan Kit yang remuk oleh cengkeraman jari-jari tangan lentik itu! Pemuda itu menjerit dan ketika dilepaskan dia roboh terkulai, merintih-rintih di atas lantai dan mencoba untuk merangkak mendekatl Ayahnya.

Jaksa Ouw terbelalak dan marah sekali. “Bunuh perempuan ini!” teriaknya kepada belasan orang pengawal sambil menudingkan telunjuknya ke arah In Hong.

Belasan orang itu dengan golok di tangan lalu menyerbu dan mengeroyok In Hong. Akan tetapi gadis itu menggerakkan tangan kanannya dan tampak sinar berkilat ketika pedang Gan-Liong-Kiam dicabutnya dari belakang punggung. Pedang Gan-Liong-Kiam adalah sebatang pedang pusaka ampuh pemberian Hek Moli, Gurunya yang pertama.

Gadis ini jarang mencabut dan mempergunakannya, karena biasanya kaki tangannya cukup untuk menandingi dan mengalahkan lawan. Akan tetapi pada saat itu ia marah dan melihat belasan orang pengawal mengeroyoknya, In Hong tidak segan-segan mencabut dan mempergunakan Gan-Liong-Kiam!

Ketika ia menggerakkan pedang dengan cepat dan tubuhnya berkelebatan, maka yang tampak hanya gulungan pedang yang menyambar kesekelilingnya. Terdengar teriakan-teriakan mengaduh, pedang pusaka itu membuat golok para pengeroyok patah atau terpental dan lima belas orang pengawal itu satu demi satu roboh dengan luka yang mencucurkan darah!

Jaksa Ouw terbelalak dan pucat wajahnya. Dia berusaha lari ke dalam sambil memapah puteranya, akan tetapi sekali meloncat, In Hong sudah tiba di dekatnya. Gadis itu menendang dan tubuh gendut itu pun terlempar, menabrak dinding dan roboh. Ketika Jaksa Ouw merangkak bangun, pedang di tangan In Hong berkelebat. Pembesar itu menjerit, darah muncrat di mukanya dan ternyata matanya yang kiri telah ditusuk ujung pedang sehingga dia menjadi cacat, mata kirinya buta!

“Jaksa Ouw dan Ouw Boan Kit! Sekali ini aku hanya memberi pelajaran kepada kalian. Kalau lain kali aku melihat kalian masih belum mengubah watak kalian yang jahat sewenang-wenang, aku akan membunuh kalian!” Setelah berkata demikian, tubuh In Hong berkelebat dan lenyap dari situ.

Ruangan itu penuh darah dan rintihan lima belas orang pengawal dan pembesar berdua dengan puteranya itu. In Hong merasa puas setelah memberi hajaran kepada pembesar Ouw dan puteranya. Akan tetapi baru saja ia keluar dan tiba di pekarangan, tiba-tiba terdengar bentakan. “Hei, keparat, perlahan dulu!”

Pada saat itu, angin yang dahsyat menyambar dari belakang. In Hong mengenal serangan ampuh, maka ia cepat melompat ke kiri bagaikan gerakan seekor burung walet. Ketika ia membalik, ia melihat seorang laki-laki berusia enam puluhan tahun, tubuhnya kurus bongkok, mukanya halus tanpa jenggot atau kumis, matanya lebar dan mulutnya tersenyum menyeringai seperti mengejek.

Sepasang mata itu terbelalak semakin lebar setelah kini melihat wajah In Hong. In Hong bersikap waspada karena ia dapat menduga bahwa tentu Kakek ini Guru Ouw Boan Kit seperti yang diceritakan oleh mendiang Si Hoo kepadanya. Serangan tadi saja menunjukkan bahwa ia berhadapan dengan orang yang lihai sekali karena serangan jarak jauh itu mengandung hawa pukulan yang amat dahsyat.

Sebaliknya, Pak Lo-Kui (Setan Tua Utara) atau lebih dikenal sebagai Datuk Utara itu memandang penuh kagum dan mulut berdecak-decak. Datuk ini memang terkenal mata keranjang. Kini dia mencoba untuk meluruskan tubuhnya yang bongkok, akan tetapi karena dia kurus kering dan punggungnya memang bongkok, maka gayanya itu malah tampak lucu sekali.

“Aduh-aduh...! Kiranya yang mengamuk, membunuhi dan melukai banyak orang itu adalah seorang gadis cantik jelita seperti bidadari!”

“Hemm, anjing bongkok tua bangka! Engkau tentu Guru Ouw Boan Kit, bukan?”

Dimaki seperti itu, Datuk Utara itu malah tertawa senang, seolah mendapat pujian, bukan makian! Dia memang seorang di antara para Datuk besar yang terdiri dari orang-orang yang selain amat tinggi tingkat ilmunya, juga memiliki watak yang aneh-aneh.

“Ha-ha-ha! Matamu yang jeli seperti mata Burung Hong itu ternyata tajam juga, bidadariku! Aku memang Pak Lo-Kui, Datuk Besar Utara dan pernah memberi sedikit pelajaran kepada Ouw Boan Kit yang bodoh itu. Engkau telah mengacau di sini, mestinya aku harus menghukum berat, bahkan membunuhmu. Akan tetapi melihat engkau seperti bidadari, biarlah aku maafkan engkau asal engkau mau menjadi murid merangkap kekasihku. Ha-ha-ha!”

“Jahanam busuk!!” In Hong marah sekali dan tubuhnya sudah berkelebat ke depan, jari tengah dan telunjuk tangan kirinya menyambar ke arah muka Pak Lo-Kui untuk mencokel keluar biji matanya, sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah perut. Bukan main dahsyat dan berbahayanya serangan itu. Kalau mengenai sasaran, tak dapat dicegah lagi sepasang biji mata itu akan tercongkel keluar dan kulit perut itu akan pecah dan isi perutnya terburai!

“Wahh...!!” Pak Lo-Kui terkejut bukan main. Sama sekali tak pernah disangkanya gadis jelita semuda itu dapat melakukan serangan yang demikian dahsyatnya, penuh tenaga lweekang (tenaga dalam) tingkat tinggi! Cepat dia melempar ke kiri dan menggerakkan kedua lengan, diputar ke kanan menangkis dua tangan gadis itu. Dia sengaja mengerahan sinkang (tenaga sakti) untuk menggempur kedua lengan gadis itu. Dua lengan yang berkulit putih halus dan hanya kecil itu tak mungkin dapat menahan gempuran kedua lengannya yang dipenuhi sinkang.

“Wuuutt... desss!!” Benturan dua pasang lengan itu sungguh hebat menggetarkan keadaan sekitar tempat itu. Pak Lo-Kui terkejut sekali untuk kedua kalinya karena benturan hebat itu membuat dia terdorong dan terhuyung ke belakang! Dia terbelalak dan tidak percaya akan penglihatannya sendiri. Mungkinkah ada gadis semuda ini mampu menandingi sinkangnya yang sudah dihimpun dan dilatih selama puluhan tahun?

Kalau yang mengimbanginya itu seorang Datuk besar lain, hal Itu tidak aneh, setidaknya para tokoh pimpinan aliran-aliran persilatan besar seperti Siauw-Lim-Pai, Bu-Tong-Pai, Kun-Lun-Pai, Go-Bi-Pai dan lain-lain. Akan tetapi lawannya ini hanya seorang gadis muda cantik jelita, paling banyak baru dua puluh tahun usianya! Pak Lo-Kui menjadi penasaran. Semua gairah berahinya yang tadi bangkit melihat kecantikan wajah dan keindahan tubuh In Hong, kini terganti rasa penasaran dan kemarahan. Maka dia pun kini balas menyerang dengan hebatnya, mengerahkan seluruh tenaga saktinya.

Serangan Datuk Utara ini mempunyai ciri khas andalan ilmu silat dari utara yang banyak menggunakan tendangan dan bercampur dengan ilmu gulat yang menjadi keistimewaan Ilmu berkelahi bangsa-bangsa Mongol. Dia menggunakan kedua kakinya menendang bergantian secara berantai dan bersambung. Tendangan berantai lni memang hebat sekali karena kedua kaki itu dapat menendang dari depan, dari kanan atau kiri, bahkan ada kalanya merupakan tendangan terbang!

In Hong mengenal serangan berbahaya. la segera menggunakan ginkang (ilmu meringankan tubuh) dan tubuhnya berkelebatan seolah berubah menjadi bayang-bayang sehingga kemana pun kedua kaki Pak Lo-Kui menyambar, selalu hanya mengenai tempat kosong! Dan sambil mengelak, In Hong membalas pula dengan tamparan-tamparannya.

Pak Lo-Kui diam-diam mengeluh. Lawannya ini bukan hanya memiliki tenaga sakti yang mampu mengimbanginya, bahkan memiliki ginkang yang bahkan lebih tinggi daripada tingkatnya! Dia menjadi semakin penasaran dan dia mengeluarkan seluruh ilmu silatnya, dipilihnya yang paling ampuh, untuk menandingi In Hong sehingga terjadi perkelahian yang amat seru di pekarangan gedung Jaksa Ouw itu.

Dari dalam rumah kini keluar para perajurit pengawal, akan tetapi mereka hanya menonton dari jauh, sama sekali tidak berani mendekat karena mereka sudah merasa jerih menyaksikan kelihaian dan keganasan gadis cantik itu.

Juga di jalan umum depan pekarangan gedung itu, para pejalan kaki kini menonton dan beberapa orang yang sudah mendengar akan munculnya Sian-Li Eng-Cu (Bayangan Bidadari) yang kabarnya telah mengalahkan dan menghajar Hak-Ciu Ngo-Houw, lima orang tukang pukul Jaksa Ouw yang galak dan terkenal tangguh itu. Maka mulailah mereka yang menonton dari jalan itu berbisik-bisik. “Sian-Li Eng-Cu... Sian-Li Eng-Cu...!”

Setelah bertanding selama tiga puluh jurus dan bertahan mati-matian terhadap desakan In Hong, Pak Lo-Kui yang merasa penasaran itu marah sekali dan mengambil keputusan untuk membunuh Iawan. Tiba-tiba dia mengeluarkan gerengan seperti seekor binatang buas dan kedua tangannya dengan telapak terbuka didorongkan ke arah In Hong. Kedua telapak tangan itu kini berubah hitam sekali. Itulah merupakan Hek-Tok-Ciang (Tangan Racun Hitam) yang ilmu andalan Datuk Utara itu.

Melihat serangan pukulan jarak jauh ini, In Hong cepat menekuk kedua lututnya dan ia pun menyambut dengan dorongan kedua tangannya pula sambil mengerahkan tenaga saktinya. Kedua tangannya mengepulkan uap putih! ltulah ilmu Pek-In-Ciang (Tangan Awan Putih) yang ia pelajari dari mendiang Bhutan Koai-Jin, Gurunya yang kedua!

“Syuuutt... blarrr...!!” Tubuh In Hong terdorong mundur tiga langkah, akan tetapi tubuh Kakek itu terlempar dan dia tentu akan terbanting jatuh kalau saja dia tidak membuat gerakan poksai (salto jungkir balik) beberapa kali sehingga dia dapat turun berdiri. Wajahnya berubah kemerahan karena merasa malu bahwa dalam adu tenaga sakti lewat pukulan jarak jauh tadi jelas bahwa dia kalah kuat!

“Anjing tua, sambutlah ini!” Tiba-tiba tangan In Hong bergerak dan ada sinar hitam menyambar dari tangannya ke arah Datuk Utara.

“Singgg...!” Datuk Utara terkejut sekali dan dia membuang diri ke samping sehingga rebah di atas tanah lalu bergulingan. Setelah dia melompat berdiri lagi, mukanya berubah agak pucat. “Setan...!” dia berseru. “Engkau... murid Hek Moli?”

“Benar, dan engkau calon setan penasaran!” In Hong membentak dan kini ia mencabut pedangnya karena ia ingin membunuh Pak Lo-Kui.

Melihat pedang itu, Datuk Utara berseru lagi. “Gan-liong-kiam milik Hek Moli...!” Dan tanpa banyak cakap lagi Kakek kurus bongkok itu melompat jauh dan melarikan diri! In Hong tidak mengejar. Ia pun melompat dan lenyap dari pekarangan itu, bayangannya berkelebat dekat para penonton di luar pekarangan.

“Sian-Li Eng-Cu...” seorang berseru.

“Sian-Li Eng-Cu... ia menang...!” kata yang lain.

Akan tetapi ketika terdengar berita bahwa Si Bayangan Bidadari yang tidak mereka tahu siapa namanya itu telah mengamuk dalam gedung Jaksa Ouw, meremukkan kedua tulang pundak Ouw Kongcu dan membutakan sebelah mata Jaksa Ouw, gegerlah kota Hak-Ciu dan nama Sian-Li Eng-Cu menjadi buah Bibir penduduk, bahkan berita tentang kehebatan Si Bayangan Bidadari telah tersiar jauh, sampai ke Kotaraja!

Dunia kang-ouw (sungai-telaga, atau dunia persilatan) mulai mengenal Si Bayangan Bidadari yang baru muncul, sosok bayangan wanita muda cantik jelita yang kabarnya demikian hebatnya sehingga mampu menandingi Pak Lo-Kui atau Datuk Utara!

Pada waktu itu, seluruh daratan Cina telah dikuasai dan dijajah oleh Mongol yang mendirikan Kerajaan atau Dinasti Goan (1279-1368). Yang menjadi Kaisar adalah Kublai Khan (1260-1294), cucu Jenghis Khan pendiri Kerajaan Mongol dan dibawah pimpinan Kaisar Kublai Khan yang meneruskan ambisi besar Jenghis Khan. Dinasti Goan menjadi semakin jaya dan besar.

Kisah ini terjadi, pada saat In Hong berusia dua puluh tahun, sekitar tahun 1290. Biarpun dalam sejarah tercatat betapa para patriot Kerajaan Sung yang telah jatuh oleh bangsa Mongol itu tiada hentinya berjuang untuk membela tanah air dan berusaha mengusir bangsa Mongol. Namun banyak pula orang-orang yang berjiwa licik dan tidak segan-segan mengkhianati bangsa sendiri.

Mereka ini rela menjadi antek-antek penjajah, berkhianat dengan menunjukkan di mana adanya para patriot, bahkan ada pula yang menggunakan kepandaian ikut membantu pasukan Mongol membasmi para patriot. Semua ini tentu saja dengan imbalan berupa harta benda dan pangkat tinggi untuk memperoleh kekuasaan. Sudah menjadi siasat para penjajah diseluruh dunia, Kerajaan Goan atau bangsa Mongol juga menggunakan harta dan pangkat untuk memancing orang-orang pribumi untuk menjadi antek mereka.

Siasat ini amat menguntungkan mereka dalam berbagai hal. Pertama, mereka dapat memanfaatkan para pengkhianat bangsa itu untuk menjadi mata-mata mengikuti gerak-gerik para pejuang yang memusuhi penjajah dan hal ini tentu lebih mudah dilakukan para pribumi sendiri.

Pada waktu itu, mereka yang batinnya dikuasai nafsu sendiri, yang hanya ingin mencari kesenangan duniawi, tidak segan menggunakan segala cara untuk memperoleh harta dan pangkat. Bahkan tidak segan menjual tanah air dan bangsa, berkhianat terhadap bangsa sendiri, mengabdi kepada penjajah Mongol. Sebagai imbalannya, mereka memperoleh kedudukan, kekuasaan dan harta benda.

Tentu saja kekuasaan mereka itu terbatas, bahkan hanya kekuasaan untuk menekan rakyat bangsa sendiri, akan tetapi kepada atasan mereka, yaitu kepada pembesar Mongol, mereka harus merendahkan diri, dan terutama harus pandai menjilat bermuka-muka.

Pada waktu itu, banyak orang berjiwa rendah menjadi orang-orang kaya mendadak. Mereka yang tadinya dari keluarga miskin, setelah berjasa terhadap penjajah dan memperoleh kekuasaan, tidak menyia-nyiakan kekuasaannya itu untuk mengumpulkan harta sebanyak mungkin. Maka bermunculanlah bangsawan-bangsawan pribumi yang suka bertindak sewenang-wenang, menggunakan hukum sebagai modal untuk membenarkan pengumpulkan harta mereka.

Mereka yang menjadi pejabat yang bertugas mengadili, selalu membenarkan mereka yang mampu menyogok dengan uang banyak walaupun penyogok itu bersalah, dan sebaliknya menyalahkan yang benar namun yang tidak mampu memberi uang suapan. Bahkan para penjahat dapat berlindung di balik bayang-bayang pejabat yang menerima pembagian hasil kejahatan mereka.

Karena ulah para pengkhianat bangsa ini, maka kaum pendekar bukan hanya membenci bangsa Mongol yang menjajah, melainkan lebih membenci lagi bangsa sendiri yang menjadi antek penjajah itu. Karena untuk memberontak dan menggulingkan Kerajaan Goan merupakan hal yang mustahil mengingat betapa kuatnya bala tentara Mongol, maka para pendekar kini lebih mengutamakan melindungi rakyat dan menentang para penjahat, termasuk para bangsawan penindas rakyat.

Biarpun Kwee In Hong digembleng berturut-turut oleh dua orang Guru yang tergolong sebagai Datuk sesat yang aneh dan kejam. Namun kedua orang Gurunya itu bukanlah tergolong orang yang suka melakukan kejahatan. Maka sejak dulu, Kwee In Hong puteri Ayah-Ibu yang berwatak baik bahkan budiman dan dermawan, juga berwatak adil, suka melindungi mereka yang lemah dan membutuhkan bantuan.

la memang mewarisi watak kejam dari kedua orang Gurunya, namun kekejamannya itu ditujukan kepada orang-orang yang dianggap jahat dan dimusuhinya. Dalam perantauannya, setiap kali melihat ketidak-adilan merajalela, In Hong pasti turun tangan membasmi yang jahat dan membela mereka yang lemah tertindas. Nama julukannya sebagai Sian-Li Eng-Cu semakin terkenal. Tidak ada orang yang tahu bahwa nama aselinya adalah Kwee In Hong, karena kalau ia terpaksa harus menggunakan nama, Ia memakai nama Put Hauw Li (Gadis Tidak Berbakti).

Penggunaan nama ini mengingat betapa ia tidak membalas kematian Ayahnya yang terbunuh, bahkan ia jatuh cinta kepada Si Pembunuh Ayahnya. Yang lebih menyakitkan hatinya lagi ialah bahwa sampai sekarang pun ia tidak membenci mendiang Ong Tiang Houw atau Bu Jin Ai itu, bahkan hatinya merasa bahwa ia masih mencintanya! Penyesalan karena dirinya sendiri inilah yang membuat ia mengutuk diri sendiri dan menggunakan nama Gadis Tidak Berbakti itu.

Pada suatu pagi, ia berjalan keluar dari kota Lan-Keng di mana ia bermalam di rumah Tan-Wangwe (Hartawan Tan). Keluarga Tan menganggapnya sebagai seorang tamu agung yang dihormati, bahkan ia disebut Lihiap (Pendekar Wanita). Kemarin siang, ketika tiba di luar kota Lan-Keng, ia melihat sebuah kereta dihadang sepuluh orang laki-laki yang bersikap keras dan kasar, bahkan seorang di antara mereka melompat ke atas kereta dan menarik turun kusir kereta. Kereta itu ditumpangi suami-isteri Tan.

Hartawan Tan dan isterinya sedang melakukan perjalanan keluar kota dan pada siang hari yang panas itu, kereta dihadang dan dihentikan sepuluh orang itu. Ketika Hartawan Tan yang berusia sekitar lima puluh tahun itu membuka tirai kereta, dia dan isterinya diancam dua orang yang memimpin gerombolan itu dan diancam agar jangan berteriak. Seorang di antara mereka lalu duduk di tempat kusir, sedangkan kusir itu sendiri mengerang kesakitan setelah mereka pukuli. Jelas bahwa gerombolan itu hendak menculik Hartawan Tan dan isterinya.

In Hong melompat dan menghajar gerombolan yang hendak menculik suami-isteri hartawan untuk dimintai uang tebusan. Mereka melarikan diri setelah dihajar sampai bagian muka mereka bengkak-bengkak dan ada tulang yang patah-patah. Hartawan Tan dan isterinya berterima kasih sekali dan dengan sangat mereka memohon dan membujuk In Hong agar suka singgah di rumah mereka, dengan alasan mereka takut kalau-kalau gerombolan itu datang mengganggu lagi.

Sebetulnya In Hong enggan, karena ia melihat betapa banyak hartawan pada waktu itu merupakan orang-orang yang biasa berhubungan dengan para pembesar dan kerjanya hanya menumpuk uang tanpa memperhatikan nasib rakyat yang hidup serba kekurangan. Akan tetapi sikap Tan-Wangwe dan isterinya yang ramah dan lembut.

la mau singgah rumah mereka dan dengan girang ia mendengar bahwa Hartawan Tan sekeluarga ternyata adalah keluarga yang budiman dan dermawan. Keluarga Tan itu memang sudah kaya-raya sejak sebelum bangsa Mongol menjajah, jadi bukan orang kaya baru dan nenek moyangnya memang pedagang. Dari para pelayan yang tampak berwajah cerah. itu ia mendengar akan kebaikan budi dan kedermawanan Hartawan Tan sekeluarga yang sudah terkenal di kota Lan-Keng.

Setiap ada musibah menimpa rakyat di daerah itu yang membuat rakyat hidup serba kekurangan, Hartawan Tan selalu rela membagi sebagian kekayaannya untuk menolong mereka. Ketika In Hong menjadi tamu, ia dijamu pesta keluarga dan diperkenalkan kepada Tan Siong, putera tunggal hartawan Tan Yu Seng itu. Tan Siong berusia dua puluh satu tahun, wajahnya tampan, sikapnya lembut dan sopan. Dia telah lulus ujian dan menjadi seorang terpelajar bergelar siucai.

In Hong merasa gembira. Setelah mandi pada sore hari itu di kamar mandi yang bersih dan airnya jernih berlimpah, berganti pakaian, kini ia menghadapi meja makan dengan masakan bermacam-macam dan suami-isteri tuan rumah bersama puteranya itu menjamunya dengan sikap yang ramah sekali. Ia merasa seolah menjadi anggauta keluarga. Setelah makan minum sampai kenyang, In Hong diajak duduk di ruangan depan yang hawanya sejuk karena ruangan itu memiliki banyak jendela yang terbuka dan menembus taman bunga. Tiga lampu gantung dinyalakan.

Mereka duduk mengelilingi sebuah meja bundar yang besar dan Tan Yu Seng yang biasa disebut Hartawan Tan bertanya dengan sikap ramah dan hormat. “Lihiap, kami berhutang nyawa dan budi kepadamu, akan tetapi sejak tadi engkau belum juga mengaku siapa nama Lihiap yang terhormat dan di mana engkau tinggal. Kami ingin sekali mengetahuinya.”

“Paman, memang sudah menjadi tugasku untuk menentang orang-orang jahat. Aku menghajar mereka yang jahat siang tadi bukan untuk mencari balasan, maka aku tidak merasa perlu untuk memperkenalkan nama.” In Hong memang tidak biasa bersopan-sopan, maka ucapannya juga terdengar datar dan acuh tak acuh.

“Ayah dan Ibu, Lihiap ini adalah seorang pendekar wanita yang budiman, kalau tidak mau memperkenalkan nama kepada kita, sudah sewajarnya dan harap jangan didesak terus. Biarlah kita mengenalnya sebagai Dewi Penolong atau penjelmaan Sang Dewi Kwan Im (Dewi Dewi Welas Asih).” Ucapan Tan Siong sewajarnya dan sama sekali tidak mengandung suara mencela atau menyindir sehingga In Hong merasa tidak enak sendiri. Ia menghela napas panjang lalu berkata.

“Baiklah, kalau kalian ingin mengetahui. Di dalam perantauanku ini aku menggunakan nama Put-Hauw Li.”

“Ah...!” Ayah, Ibu dan anak itu berseru dengan alis berkerut dan pandang mata tidak percaya.

Tan Siong segera berkata dengan tegas. “Tidak mungkin seorang gadis seperti Lihiap menjadi seorang anak yang Put-Hauw (tidak berbakti)! Kepada Ayah dan Ibu saja yang merupakan orang-orang lain yang tadinya sama sekali tidak dikenal, Lihiap telah suka membela, apalagi terhadap orang-tua sendiri. Tidak, aku tidak percaya bahwa Lihiap seorang anak yang tidak berbakti!”

“Ah, Lihiap tentu bergurau!” kata Hartawan Tan dan isterinya.

“Biarlah, mungkin karena belum mengenal kita dengan baik, Lihiap masih belum percaya kepada kita. Nanti kalau sudah lebih mengenal kita, tentu akan memperkenalkan diri yang sebenarnya.” kata Nyonya Tan.

In Hong merasa tidak enak hati melihat keluarga yang amat ramah dan sopan kepadanya, maka ia lalu minta diri untuk beristirahat dalam kamar yang sudah dipersiapkan untuknya. Keluarga itu tidak berani mencegah dan In Hong memasuki kamarnya. Ia merebahkan diri dan berulang kali menghela napas panjang. Ia masih ingat, dulu ketika ia masih kecil.

Sebelum malapetaka menimpa keluarga orang tuanya, ia tinggai bersama Ayah dan Ibunya dalam rumah gedung mewah seperti gedung keluarga Tan ini. Ayah-Ibunya dulu juga merupakan orang-orang kaya yang dermawan, bahkan setiap hari Ayah dan Ibunya memberi ia sekantung uang receh untuk dibagikan kepada para pengemis yang datang minta-minta ke rumah mereka.

Mengingat akan masa lampau itu, rasanya seperti mimpi saja. Betapa jauh bedanya kehidupannya yang sekarang dibandingkan dahulu. Sekarang ia hidup merantau, tak tentu tempat tinggalnya. la merasa tidak dapat tinggal bersama Ibunya. Kalau ia dekat dengan Ibunya, tentu ia akan selalu teringat betapa Ibunya pernah menjadi isteri Bu Jin Ai dan hal ini membuat hatinya terasa sakit, malu, dan penasaran.

Ah, betapa ia merindukan masa lalunya bersama Ayah dan Ibunya! Akan tetapi sekarang Ayahnya telah meninggal dunia, dan Ibunya telah... menjadi lain, menjadi isteri... musuh pembunuh Ayahnya dan sudah mempunyai seorang anak lain, yaitu Ong Lian Hong dan ia tidak mempunyai rumah lagi.

Kerinduan akan masa lalunya ini membuat ia merasa rindu pula kepada rumahnya dahulu, di kota Tiang-An. Di rumah itu ia terlahir dan tumbuh besar sampai berusia lima tahun. Tiba-tiba ia ingin sekali melihat rumah Ayahnya di Tiang-An itu dan ingin sekali tahu siapa yang menempati rumah itu sekarang!

Tiba-tiba ia mendengar suara dari kamar sebelah. Biarpun hanya terdengar lirih, namun ia mengenal suara Hartawan Tan dan isterinya. la lalu mendekati dinding penyekat antara dua kamar itu, menempelkan daun telinganya dan kini ia dapat mendengar pembicaraan itu dengan cukup jelas.

“Aku setuju saja dengan niatmu itu, akan tetapi apakah Siong-ji (Anak Siong) setuju?” terdengar Nyonya Tan berkata.

“Tadi sudah kutanyai dia dan biarpun dia menjawab bahwa hal ini terserah kepada kita berdua, namun dari sikap dan bicaranya aku dapat memastikan bahwa Siong-ji setuju sekali. Jelas bahwa anak kita amat kagum dan menaruh hati kepada Lihiap.”

“Terserah kepadamu, akan tetapi sudah yakin benarkah engkau untuk mengambil ia sebagai mantu? Ingat, anak kita hanya tinggal Tan Siong seorang, jangan sampai kita salah memilih jodohnya. Aku merasa agak ragu karena gadis itu tidak mau mengakui siapa namanya yang sesungguhnya.”

“Ah, tidak aneh bagi seorang pendekar wanita untuk menyembunyikan nama aselinya. Akan tetapi kalau ia sudah menjadi mantu kita, ia pasti akan menceritakan riwayatnya. Seorang gadis sebaik ia, pasti memiliki latar belakang dan keluarga yang baik pula.”

“Kalau kita tidak mengetahui siapa orang tuanya dan di mana tempat tinggalnya, lalu bagaimana kita dapat mengajukan pinangan?” tanya Nyonya Tan.

“Hal itu dapat diurus kemudian. Lebih dulu engkau besok pagi-pagi sampaikan keinginan kita kepada Lihiap. Kalau ia mau menerima niat perjodohan kita, tentu ia akan memberitahu siapa dan di mana orang tuanya, lalu kita mengajukan pinangan.”

“Baiklah, besok pagi-pagi akan kubicarakan dengannya...”

In Hong tidak mendengarkan lagi dan ia duduk termenung di atas pembaringan. Alisnya berkerut. Ia hendak dilamar dan dijodohkan dengan Tan Siong! Pemuda itu harus diakui amat menarik, tampan dan lembut sopan-santun, seorang siucai pelajar pula, juga anak tunggal Hartawan Tan yang kaya-raya.

Kalau menjadi isteri Tan Siong, maka kehidupannya terjamin. Disayang suami dan mertua, hidup berkecukupan, dan terhormat karena keluarga itu terkenal sebagai keluarga dermawan. Mau apa lagi? Akan tetapi tidak! Ia tidak bisa menjadi isteri Tan Siong atau isteri siapa pun. Setelah Bu Jin Ai meninggal dunia, ia merasa tidak mungkin dapat mencinta laki-laki lain. Cintanya yang pertama ternyata telah salah besar. Yang dicintanya itu pembunuh Ayah kandungnya!

Ia menjadi jera untuk mencinta seorang laki-laki lagi. Tidak, ia tidak mau terikat sebagai isteri Tan Siong, sungguhpun pemuda itu merupakan seorang pemuda pilihan! Tiba-tiba ia tertarik lagi karena mendengar suara Nyonya Tan menangis. Karena ingin tahu In Hong menempelkan lagi telinganya ke dinding. la mendengar nyonya itu terisak-isak.

“Sudahlah, jangan menangis. Anak itu sudah tersesat! Agaknya watak Ayahnya menurun kepadanya, maka minggat. Tidak perlu kita pikirkan lagi. Dia pergi atas kehendaknya sendiri, malah minggat. Bukan kita yang mengusirnya!”

Nyonya Tan menahan isaknya, lalu menghela napas panjang dan berkata. “Bagaimana tidak sedih? Sejak berusia tiga tahun Bouw-ji kurawat dan kubesarkan, kuanggap anak sendiri. Bahkan setelah Siong-ji terlahir, aku tetap menyayangnya dan tidak membeda-bedakan antara mereka. Akan tetapi mengapa setelah berusia remaja, lima belas tahun, dia minggat dan membawa banyak uang emas? Ah, bagaimana keadaannya sekarang dan di mana dia sekarang?”

“Sudahlah, isteriku. Sejak dia berusia belasan tahun sudah tampak kenakalannya. Tan Bouw tidak mau belajar seperti Tan Siong, dia malas dan nakal, juga tidak mau mendengar nasehat orang tua. Bahkan setelah remaja dia bergaul dengan segala pemuda brandal, belajar silat bukan untuk menjadi pendekar, melainkan menjadi brandal, suka berkelahi. Teman-temannya adalah bangsa penjahat. Ketika dia mulai memukuli Tan Siong, aku marah sekali, akan tetapi dia tidak takut malah mencuri banyak emas lalu minggat. Dan anak macam itu masih juga engkau tangisi kepergiannya, setelah dia pergi selama sembilan tahun?”

Kembali Nyonya Tan menghela napas panjang. “Bagaimana aku dapat melupakannya? Sejak kecil dia kutimang-timang, dan mengingat betapa Ayah-Ibunya tewas terbunuh ketika dia berusia tiga tahun, aku merasa kasihan padanya.”

“Hemm, Ayahnya seorang yang hidupnya sesat, hidup di kalangan dunia hitam, tidak aneh kalau sampai terbunuh bersama isterinya. Kalau ingat akan hal Itu, aku menyesal mengapa dulu aku memenuhi permintaanmu untuk memungut anak itu. Ternyata ia mewarisi watak Ayahnya dan kini setelah menggunakan nama keluarganya, Tan, dia hanya mengotori nama keluargaku saja.”

In Hong tidak mendengarkan lagi karena merasa bahwa yang dibicarakan bukan urusannya. Akan tetapi ia segera tidur dan pada keesokan harinya, sebelum ada yang bangun dalam rumah gedung itu ia sudah keluar tanpa ada yang mengetahui dan meninggalkan kota Lan-Keng!

Biarpun ia baru berusia lima tahun ketika meninggalkan dusun Tiang-On, namun In Hong benar masih ingat di mana letak rumah orang tuanya ketika ia memasuki dusun itu. Hati gadis itu terasa perih ketika ia memasuki pekarangan rumah. la merasa terharu sekali. Pohon besar di depan rumah, sebelah kiri, kini telah menjadi tua sekali dan daunnya tinggal sedikit, cabang-cabangnya banyak yang kering.

Akan tetapi batu sebesar kerbau yang berada di bawah pohon itu masih sama seperti dulu. Di waktu kecil ia sering dimarahi Ayahnya karena sebagai seorang anak perempuan kecil ia sering naik ke atas batu besar itu, tidak takut jatuh! Seorang laki-laki setengah tua berpakaian pelayan menyambut kedatangannya.

“Nona hendak mencari siapakah?” tanyanya hormat, dan matanya memandang heran.

In Hong bertanya, “Paman, rumah siapakah ini? Kalau aku tidak salah, belasan tahun yang lalu ini merupakan gedung milik keluarga Kwee.”

“Wah, itu sudah lama sekali yang lalu, Nona! Memang dulu keluarga Kwee yang memiliki rumah ini, dan setelah terjadi geger serangan gerombolan penjahat, Hartawan Kwee terbunuh penjahat dan Nyonya Kwee menghilang. Perabotan isi rumah ini dirampok habis, nyaris dibakar akan tetapi diselamatkan penduduk. Rumah ini kosong sampai bertahun-tahun dan beberapa tahun yang lalu keluarga Nyonya Kwee yang tinggal di See-Ciu datang mengurus rumah peninggalan keluarga Kwee ini.”

“Maksudmu keluarga Yo dari See-Ciu?”

“Benar sekali! Apakah Nona mengenal mereka?”

“Aku mengenal mereka, Paman. Lalu siapa kini yang tinggal di sini?”

“Dua tahun yang lalu keluarga Yo telah menjual rumah ini kepada majikan saya, Nona. Majikan saya she Lu dan pindahan dari Yung-Se. Apakah Nona ingin bertemu dengan keluarga Lu?”

“Tidak, terima kasih, Paman. Saya hanya ingin bertanya, apakah Paman dulu mengenal Hartawan Kwee Seng?”

“Tentu saya mengenalnya baik-baik. Hartawan Kwee seringkali menolong keluarga kami yang miskin.”

“Hemm, kalau begitu tentu Paman dapat memberitahukan kepadaku di mana dulu jenazah Hartawan Kwee dikubur.”

“Tentu saya tahu, Nona. Setelah jenazahnya ditemukan orang-orang sehari setelah dia terbunuh agak jauh dari dusun ini, karena banyak orang pernah ditolongnya, maka beramai-ramai jenazahnya lalu dibawa ke dusun dan dikuburkan baik-baik. Bahkan sampai sekarang makamnya dirawat baik-baik oleh penduduk daerah ini.”

In Hong merasa girang dan minta ditunjukkan tanah kuburan itu. Setelah mengetahui tempatnya dan ciri makam itu, ia lalu bergegas menuju ke sana. Tanah kuburan umum dusun Tiang-On ini cukup luas dan ternyata cerita orang tadi benar. Makam dengan bong-pai (batu nisan) yang terukir nama KWEE SENG terawat baik sehingga tampak bersih.

Sejenak In Hong berdiri termenung di depan makam itu, makam yang sederhana namun bersih. la tadi memang sudah membeli hio-swa (dupa maka kini ia membakar ujung dupa dan berlutut di depan makam, bersembahyang sebagai penghormatan kepada Ayahnya yang sudah meninggal. Ketika ia teringat betapa Ayahnya dulu amat sayang kepadanya, sering membawa ia pergi berjalan-jalan, baik naik kuda maupun jalan kaki, bahkan membiarkan ia duduk di pundak Ayahnya, In Hong tidak mampu menahan beberapa butir air mata menetes di atas kedua pipinya.

“Ayah... ampuni anakmu yang tidak berbakti ini. Anak tidak mampu membalaskan sakit hati dan kematian Ayah...” ia menancapkan belasan batang dupa lidi yang ujungnya membara itu di depan makam dan berlutut sambil mengusap air matanya. Teringat pula ia akan dosanya yang besar, yang bahkan membalas pembunuh Ayahnya dengan cinta!

Sayang Ong Tiang Houw alias Bu Jin Ai pembunuh Ayahnya itu telah terbunuh oleh puteranya sendiri. Kalau tidak, ia tentu akan dapat menebus dosanya dengan membunuh Bu Jin Ai, walaupun ia sangsi sendiri apakah ia akan tega dan mampu membunuh laki-laki itu.

“Ayah...!” kembali ia mengeluh. Karena keharuan menguasai hatinya, In Hong menjadi lengah, kehilangan kewaspadaan sehingga ia tidak tahu bahwa ada orang mendekati tempat itu dengan langkah ringan dan kini orang itu berdiri di sebelah kanannya dalam jarak tiga tombak.

“Hong-moi (Adik Hong)...!”

Jilid selanjutnya,