Bayangan Bidadari Jilid 11

IN HONG yang masih berlutut menoleh ke sebelah kanan dan melihat seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar, berwajah ganteng dan gagah, dengan sebatang golok bergagang emas tergantung di punggungnya. “Yo-Twako (Kakak Yo)...!” In Hong berseru girang.
Pemuda itu adalah Yo Kang, putera Yo Hang Tek yang tinggai di See-Ciu, pemuda yang merupakan orang pertama yang jatuh cinta kepadanya. “Bagaimana engkau bisa berada di sini, Twako?”
“Nanti dulu, Hong-moi. Biar aku bersembahyang dulu di depan makam mendiang Paman Kwee Seng.”
Setelah berkata demikian, pemuda itu membakar dua lidi yang sudah dibawanya lalu bersembahyang memberi hormat di depan makan itu. Setelah melakukan penghormatan sebagaimana lajimnya, dia lalu duduk di atas batu yang banyak terdapat di situ, berhadapan dengan In Hong yang juga duduk di depannya.
“Hong-moi, aku memang sengaja hendak menjenguk makam Paman Kwee Seng yang sudah lama tidak kukunjungi.”
“Akan tetapi bagaimana engkau tahu...?”
“Tentu saja aku tahu, Hong-moi. Dahulu, Ayahku yang mengatur pemakaman ini, setelah mendengar akan malapetaka yang menimpa Ayahmu.”
In Hong mengangguk-angguk. Kalau ia tidak salah ingat, dahulu ketika ia berkunjung ke rumah Kakeknya, Yo Tang, Ayah dari Ibunya yang pemarah, pikun dan pelit itu, rasanya pernah Pamannya, Yo Hang Tek menceritakan tentang pemakaman jenazah Ayahnya. Kalau tadi pelayan tua di bekas rumah Ayahnya itu mengaku bahwa penduduk yang mengurus jenazah Ayahnya, mungkin mereka itu hanya membantu saja.
“Terima kasih bahwa engkau masih mau menjenguk makam Ayahku, Twako.”“Ah, mendiang Paman Kwee Seng adalah suami Bibiku Yo Cui Hwa, berarti dia masih keluarga dekat dengan keluarga kami. Hong-moi, bagaimana hasilmu mencari Bibi Yo Cui Hwa? Kami sudah berusaha untuk mencarinya dengan menyebar banyak orang, namun sampai sekarang belum juga dapat kami temukan.”
“Aku sudah bertemu dengan Ibuku, Yo-Twako. Ibu kini tinggal di dusun Hok-Te-Cung sebelah barat kota Lm-Goan-Kan.”
“Ah, aku girang sekali mendengar itu, Hong-moi! Ayah dan Kongkong (Kakek) tentu girang sekali, terutama Kongkong yang kini sakit berat dan selalu menanyakan Bibi Yo Cui Hwa.”
Tiba-tiba In Hong berseru! “Awas, Twako!”
Akan tetapi agaknya Yo Kang juga sudah melihat adanya sinar-sinar hitam yang menyambar ke arah dia dan In Hong. Dengan gesit dia mengelak ke kiri mendekati makam, tangannya mencabut beberapa batang dupa lidi yang masih membara dan menyambut ke arah datangnya sinar hitam tadi.
Pada saat yang bersamaan, In Hong yang juga dapat mengelak dari serangan gelap itu sudah menggerakkan tangan kirinya dan sinar hitam dari senjata rahasianya pasir hitam yang disebut Toat-Beng Hek-Kong (Sinar Hitam Pencabut Nyawa) telah meluncur ke arah yang sama.
Terdengar jeritan beberapa orang dan beberapa sosok bayangan yang tadi berada di balik semak-semak kini berloncatan dan melarikan diri. In Hong dan Yo Kang cepat meloncat ke balik semak-semak itu dan mereka melihat seorang yang menggeletak telentang dan telah tewas, mukanya berubah menghitam dan itu merupakan tanda bahwa dia menjadi korban serangan balik yang dilakukan In Hong dengan Toat-Beng Hek-Kong tadi.
Yo Kang mengerutkan alisnya. “Ah, engkau telah membunuhnya, Hong-moi!” katanya dengan nada suara menyesal.
“Manusia jahat yang menyerang secara menggelap ini sudah sepatutnya dibunuh!” jawab In Hong tegas.
Mendengar jawaban yang ketus itu Yo Kang merasa bahwa ucapannya tadi seolah menegur, maka cepat dia berkata. “Maksudku, kalau dia tidak dibunuh kita dapat mengetahui mengapa dia menyerang kita.”
In Hong mengangguk. “Ya, sayang yang lain-lain dapat kabur.”
“Akan tetapi beberapa batang dupa lidi yang ku sambitkan tadi mengenai sasaran, hanya tidak membunuh mereka.” kata Yo Kang, lalu dia berjongkok untuk meneliti orang yang tewas oleh pasir hitam yang dilontarkan In Hong tadi.
Laki-laki itu berusia sekitar lima puluh tahun. Di punggungnya tergantung sebatang pedang, pakaiannya serba hitam, akan tetapi anehnya, pakaiannya yang terbuat dari kain hitam yang masih baru itu di sana-sini dihias dengan tambalan! Wajahnya bersih tanpa kumis dan jenggot, dan sama sekali tidak tampak serem seperti wajah seorang penjahat.
In Hong melihat Yo Kang seperti orang terheran. “Yo-Twako, apakah engkau mengenal orang ini?”
“Orangnya aku tidak kenal, akan tetapi ciri pakaiannya ini menunjukkan bahwa dia adalah seorang anggauta Hek I Kaipang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam) yang berpusat di Lereng Beng-San! Aneh sekali, mengapa Hek I Kaipang memusuhi kita?”
“Mungkin yang mereka musuhi adalah seorang di antara kita. Aku sendiri tidak pernah berurusan dengan Hek I Kaipang. Mungkin engkau yang mereka musuhi, Twako.”
“Hemm, aku pribadi pun belum pernah bermusuhan dengan perkumpulan pengemis yang merupakan Kaipang (Perkumpulan Pengemis) paling terkenal dan besar saat ini. Di mana-mana terdapat cabangnya dan perkumpulan itu, sepanjang pendengaranku, dipimpin oleh tokoh-tokoh berilmu tinggi yang berjiwa pendekar dan penentang penjajah. Nama mereka bersih sebagai orang-orang gagah yang tidak pernah melakukan kejahatan. Bahkan mereka menentang para penjahat sehingga para hartawan yang dermawan banyak memberi sumbangan kepada Hek I Kaipang. Aku tidak pernah bermusuhan dengan mereka!”
“Hemm, kalau begitu, mengapa ada anggauta mereka yang hendak membunuh kita?” tanya In Hong.
Yo Kang lalu berjongkok dan memeriksa saku baju mayat itu. Dalam sebuah saku bajunya, dia menemukan sehelai kertas bertulis. Dia lalu membacanya bersama In Hong. “Pemuda baju biru itu Yo Kang, murid Bu-Tong-Pai.”
“Hemm, kalau begitu, Hek I Kaipang agaknya memusuhi Bu-Tong-Pai. Akan tetapi mengapa?”
“Engkau benar, Yo-Twako. Kalau mereka memusuhi pribadimu, tentu surat itu tidak perlu menyebut engkau sebagai murid Bu-Tong-Pai. Tentu mereka memusuhi Bu-Tong-Pai sehingga tadi mereka juga menyerang aku, tentu mengira aku murid Bu-Tong-Pai pula.”
“Hemm, aneh sekali. Hek I Kaipang perkumpulan orang gagah, Bu-Tong-Pai juga perguruan para pendekar. Mengapa Hek I Kaipang memusuhinya? Aku harus menyelidiki hal ini. Kalau tidak salah, di kota Im-San-Keng juga terdapat cabang perkumpulan itu. Aku akan berkunjung ke sana dan menanyakan hal ini.”
“Tidak, Yo-Twako, jangan engkau yang pergi. Mereka tahu bahwa engkau murid Bu-Tong-Pai. Jangan-jangan, begitu engkau muncul, mereka akan langsung menyerangmu. Biar aku yang pergi. Aku bukan murid Bu-Tong-Pai, tentu lebih mudah melakukan penyelidikan.”
“Baiklah, Hong-moi, dan terima kasih atas bantuanmu terhadap But-Tong-Pai ini. Engkau memasuki kota Im-San-Keng untuk melakukan penyelidikan dan aku akan menanti di luar kota.” Lalu dia menoleh dan memandang ke arah mayat itu. “Akan tetapi lebih dulu akan kukubur jenazah ini baik-baik sebagai bukti bahwa Bu-Tong-Pai memang tidak bermusuhan dengan Hek I Kaipang.”
Diam-diam In Hong merasa kagum akan sikap Yo Kang yang baik budi itu. Ia sendiri tentu tidak sudi untuk mengurus mayat orang yang memusuhinya dan baru saja tadi menyerangnya secara pengecut dengan niat membunuhnya. Setelah mengubur mayat itu secara sederhana, mereka lalu meninggalkan tanah kuburan menuju ke kota Im-San-Keng di sebelah timur.
Setelah tiba di luar kota Im-San-Keng, dalam sebuah hutan kecil bawah sebuah bukit, mereka berhenti dan Yo Kang berkata. “Nah, aku akan menanti di sini, Hong-moi. Engkau masuklah ke sana dan selidiki orang-orang Hek I Kaipang. Kebetulan di sana terdapat pula seorang murid Bu-Tong-Pai yang membuka perguruan silat sebagai cabang dari aliran Bu-Tong-Pai. Aku tidak mengenal murid itu karena aku hanya mendengar tentang perguruan silat Bu-Tong-Pai itu dari para Suhu di Bu-Tong-Pai, Sebaiknya engkau melihat ke sana pula. Siapa tahu orang-orang Hek I Kaipang juga memusuhi mereka. Dengan begitu kita tahu apakah Hek Kaipang memusuhi Bu-Tong-Pai ataukah memusuhi aku pribadi.”
“Baik, Yo-Twako.” In Hong lalu meninggalkan hutan kecil itu dan memasuki kota Im-San-Keng yang ternyata cukup besar dan ramai.
Siang hari itu udaranya panas, namun orang-orang masih ramai dan sibuk di sepanjang jalan umum dalam kota itu. In Hong mencari-cari dengan pandang matanya, akan tetapi sampai jauh ia berkeliling kota, ia tidak pernah bertemu dengan seorang pun anggauta Hek I Kaipang yang tentu akan mudah ia kenal dari pakaian mereka.
Akan tetapi di sudut kota sebelah selatan, tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun, berpakaian hitam tambal-tambalan seperti pakaian orang yang tewas oleh pasir hitamnya pagi tadi. Dia pasti seorang anggauta Hek I Kaipang!
In Hong lalu diam-diam membayangi orang itu. Pengemis yang pakaiannya serba hitam, kainnya baru akan tetapi banyak tambalannya itu memasuki sebuah rumah yang pintu gerbangnya besar dan terbuka sehingga dari jalan orang dapat melihat ke ruangan depan yang luas. Di atas pintu gerbang terdapat tulisan yang tidak berapa mencolok dan besar, namun ditulis dengan gaya indah. PERGURUAN SILAT RANTING BU-TONG-PAI
Hati In Hong menjadi tegang. Perguruan inilah yang dimaksudkan Yo Kang. Dan sekarang ada seorang anggauta Hek I Kaipang memasuki gerbang itu! Cepat ia menyelinap dan mengintai. Tadi dari luar ia sudah mendengar bentakan-bentakan orang banyak berlatih silat.
Setelah ia menyelinap masuk mempergunakan ilmunya meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat tinggi sehingga tubuhnya hanya tampak seperti bayangan berkelebat lalu ia mengintai dari balik dinding, ia melihat seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar berjenggot panjang. Wajahnya gagah dan pakaiannya seperti yang biasa dipakai seorang ahli silat, sedang memberi aba-aba kepada lima belas orang pemuda yang belajar silat.
Belasan orang murid yang berusia dari dua puluh sampai tiga puluh tahun itu bertelanjang dada dan mereka menggerakkan kaki tangan secara berbareng, setiap gerakan disertai bentakan dari mulut mereka. In Hong dapat melihat bahwa murid-murid itu baru mencapai tingkat mempergunakan gwakang (tenaga luar) dan tubuh mereka tampak berotot dan kekar.
Namun harus ia akui bahwa gerakan mereka mantap dan ilmu silat Bu-Tong-Pai merupakan ilmu bela diri yang baik. Ketika melihat betapa orang berpakaian hitam yang ia duga tentu anggauta Hek I Kaipang itu kini menonton sambil tersenyum mengejek, In Hong menjadi semakin tertarik.
“Hemm, begini sajakah ilmu silat Bu-Tong-Pai? Dengan ilmu silat kampungan seperti ini, bagaimana berani bertindak sewenang-wenang membunuhi anggauta perkumpulan lain?”
Tiba-tiba anggauta Hek I Kaipang itu menggerakkan tangan kirinya dan tiga buah batu kecil yang tadi digenggamnya meluncur cepat ke arah tiga orang murid yang sedang berlatih silat dan yang berada paling depan.
“Tak-tak-takk...!” Tiga buah batu kecil itu menyambar cepat dan agaknya mengenai lutut kanan tiga orang murid itu. Mereka mengeluh dan jatuh terduduk, menggosok-gosok lutut kanan yang terasa nyeri dan kehilangan tenaga karena tertotok jalan darahnya oleh batu-batu kecil tadi.
Laki-laki gagah yang tadi memimpin para murid berlatih terkejut sekali. Dengan gerakan yang cukup gesit dia melompat dan sudah berhadapan dengan pengemis baju hitam. Mereka saling tatap dengan pandang mata tajam menyelidik, seperti dua ekor ayam jantan sedang berlaga, siap saling terjang. In Hong menonton saja karena ia ingin tahu mengapa pengemis itu memusuhi Bu-Tong-Pai. Kini ia yakin bahwa bukan Yo kang pribadi yang dimusuhi Hek I Kaipang, melainkan Bu-Tong-Pai.
“Bukankah engkau ini anggauta Hek I Kaipang, sobat? Setahuku, Hek I Kaipang bersahabat dengan para pendekar. Mengapa engkau sekarang datang dan menghina kami?” laki-laki itu bertanya dengan keren, namun sikapnya masih lunak.
“Hemm, selamanya Hek I Kaipang bersahabat dengan para pendekar, akan tetapi memusuhi pembunuh dan Bu-Tong-Pai ternyata telah menjadi segerombolan pembunuh yang kejam dan jahat!” kata pengemis baju hitam itu dengan suara mengandung kemarahan.
“Sobat, apa maksudmu? Jangan meIempar fitnah yang bukan-bukan kepada kami. Aku, Tung Pan, murid Bu-Tong-Pai tidak pernah melakukan perbuatan jahat!”
“Dan aku, Ang Cun, murid Hek I Kaipang tingkat empat, juga bukan orang yang suka melempar fitnah! Di kota An-Hui, sebulan yang lalu, tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang telah dibunuh oleh segerombolan murid Bu-Tong-Pai!”
“Tidak mungkin!” bentak Tung Pan marah.
“Hem, pembunuhan telah terjadi. Semua murid Hek I Kaipang telah bersumpah untuk membalas dendam. Aku tidak mau membunuhi pemuda-pemuda yang menjadi muridmu ini karena mereka masih belum dapat dinamakan murid Bu-Tong-Pai. Akan tetapi engkau, Tung Pan, engkau murid Bu-Tong-Pai, maka harus kubunuh. Bersiaplah engkau untuk mati di tanganku!”
“Manusia sombong! Siapa takut padamu? Aku sebagai murid Bu-Tong-Pai selalu siap untuk mempertahankan nama baik dan kehormatan Bu-Tong-Pai yang kau fitnah dan kau bikin kotor!” Dia menoleh kepada para muridnya. “Kalian jangan mencampuri urusan ini. Mundur dan menjauhlah!”
Para murid itu tidak berani membantah dan mereka lalu mundur dan hanya menonton dari sudut ruangan yang luas itu. Ang Cun lalu menarik sebatang tongkat hitam yang tadi diselipkan di ikat pinggangnya. Melihat ini, Tung Pan yang sudah lama mengenal Hek I Kaipang, maklum bahwa lawannya bersungguh-sungguh dan telah memegang senjata andalan kaum pengemis baju hitam itu. Maka dia pun cepat mengambil sebatang golok dari rak senjata di sudut dan kini mereka berhadapan lagi, senjata andalan masing-masing di tangan.
“Sambut seranganku!” bentak Ang Cun dan tongkat hitamnya menyambar. Gerakannya cukup dahsyat dan Tung Pan yang tahu akan kelihaian lawan sudah mengelebatkan goloknya menangkis.
“Tranggg...!” Bunga api berpijar dan kedua orang itu merasa tangan mereka tergetar, menunjukkan bahwa tenaga mereka seimbang.
Mereka lalu saling serang dengan seru dan mati-matian. Tung Pan mainkan goloknya dengan Bu-Tong To-Hoat (Ilmu Golok Bu-Tong-Pai) yang indah. Namun In Hong yang menjadi penonton melihat bahwa ilmu golok murid Bu-Tong-Pai itu belumlah selihai ilmu golok yang dikuasai Yo Kang, apalagi setelah pemuda yang menjadi Kakak misannya itu mendapat petunjuk dari Wu Wi Thaisu wakil Ketua Go-Bi-Pai.
In Hong memang hanya menonton karena apa yang didengarnya dari percakapan antara dua orang itu membuat ia ragu. Siapakah di antara Hek I Kaipang dan Bu-Tong-Pai yang bersalah? Kalau benar-benar tiga puluh orang Hek I Kaipang dibantai secara kejam oleh orang-orang Bu-Tong-Pai, jelas bahwa Bu-Tong-Pai yang bersalah. Akan tetapi kalau hal itu benar, perlu pula diketahui sebabnya mengapa Bu-Tong-Pai melakukan pembunuhan-pembunuhan itu.
la menjadi ragu dan hanya menonton. Setelah lewat lima puluh jurus, Tung Pan mulai terdesak seperti yang sudah diduga oleh In Hong yang dapat menilai bahwa tingkat kepandaian murid Bu-Tong-Pai itu masih kalah tinggi sedikit dibandingkan tingkat lawannya. Melihat ini In Hong mengerti bahwa kalau dibiarkan saja, tentu murid Bu-Tong-Pai itu akan roboh dan mungkin tewas, mengingat betapa orang Hek I Kaipang itu sejak tadi menyerang dengan dahsyat untuk membunuh.
Benar saja dugaannya, tiba-tiba Ang Cun berseru keras dan biarpun Tung Pan dapat menghindarkan diri dari totokan tongkat itu, namun tendangan kaki Ang Cun mengenai lututnya dan Tung Pan roboh. Tongkat hitam di tangan Ang Cun menusuk ke arah dada Tung Pan yang sudah tak berdaya itu.
“Syyyttt... plakk!” Ang Cun terkejut dan cepat melompat ke belakang ketika serangan tongkatnya itu terpental dan tertangkis bayangan yang tiba-tiba muncul dan menyambar ke arah tongkatnya. Ketika melihat bahwa yang berdiri di depannya adalah seorang gadis muda yang cantik, dia mengerutkan alisnya.
“Hemm, apakah engkau juga murid Bu-Tong-Pai?” tanyanya, maklum bahwa orang yang mampu menangkis tongkatnya dengan tangan seperti tadi, memiliki tingkat kepandaian yang tinggi.
“Bukan, aku bukan murid Bu-Tong-Pai. Akan tetapi kebetulan aku tertarik melihat pertentangan antara Hek I Kaipang dan Bu-Tong-Pai ini. Lokai (Pengemis Tua), engkau keliru besar kalau hendak membunuh murid Bu-Tong-Pai.”
“Nona, harap jangan mencampuri urusan kami dengan Bu-Tong-Pai. Orang-orang Bu-Tong-Pai telah bertindak kejam, membantai tiga puluh orang anggauta kami. Apakah engkau hendak membela iblis-iblis kejam seperti mereka itu?”
Tung Pan yang sudah bangkit berdiri dan mundur berkata, “Kami tidak membunuh orang!”
“Dengar, Lokai! Paman Tung Pan ini sama sekali tidak tahu menahu tentang pembunuhan itu. Mengapa ia harus bertanggung jawab dan menebus dengan kematiannya?”
“Huh Bu-Tong-Pai membunuhi tiga puIuh orang kami yang tidak bersalah apa-apa, maka semua murid Bu-Tong-Pai harus kami bunuh sebagai balas dendam!”
“Aku tidak percaya bahwa murid Bu-Tong-Pai melakukan pembunuhan itu!” kata Tung Pan penasaran.
“Ang-Lokai, apa buktinya bahwa pembunuhan banyak anggauta Hek I Kaipang itu dilakukan murid Bu-Tong-Pai? Hati-hati, tanpa bukti berarti engkau hanya melempar fitnah!” kata In Hong.
“Ketika para pimpinan datang, ada dua orang anggauta itu yang tidak tewas, hanya terluka parah. Mereka yang mengatakan bahwa yang membunuh mereka adalah seorang bertopeng yang mengaku sebagai tokoh Bu-Tong-Pai.”
“Hemm, itu bukan bukti yang meyakinkan. Bisa saja orang lain yang melakukannya dan mengaku sebagai tokoh Bu-Tong-Pai, maka dia memakai kedok.”
“Ada bukti lain! Para anggauta Hek I Kaipang itu mati karena pukulan Tong-Sim-Ciang (Tangan Pengguncang Jantung) yang hanya dikuasai orang Bu-Tong-Pai! Para korban itu hancur jantung mereka oleh pukulan itu. Tidak ada lain aliran persilatan yang memiliki pukulan itu!”
Pada saat itu, tiba-tiba dua orang laki-laki berpakaian hitam berlari memasuki ruangan itu. Mereka cepat menghampiri Ang Cun dan seorang di antara mereka berkata. “Ang-Twako, Kian-Te mati dibunuh orang...”
Tiba-tiba orang kedua berseru sambil menudingkan telunjuknya ke arah In Hong. “Gadis itu yang membunuhnya! Kami juga terluka oleh dupa lidi...!” Dua orang itu memandang kepada In Hong dengan mata melotot.
Mendengar ini, Ang Cun marah sekali dan tanpa banyak cakap lagi ia sudah menyerang In Hong dengan tongkat hitamnya. Dua orang anggauta Hek I Kaipang yang baru datang itu pun cepat menggunakan tongkat hitam untuk mengeroyok In Hong, akan tetapi agaknya tingkat mereka berdua berada di bawah tingkat Ang Cun. Melihat gadis yang menolongnya itu dikeroyok, Tung Pan sudah menggerakkan goloknya hendak membantu, namun In Hong berseru mencegahnya.
“Paman Tung Pan, jangan mencampuri. Ini urusanku!”
Tung Pan tidak jadi maju, malah mundur mendekati murid-muridnya dan mereka menonton dengan mata terbelalak. Sepak terjang In Hong memang membuat mereka kagum sekali. Tiba-tiba saja tubuh gadis itu lenyap berubah menjadi bayangan yang berkelebatan menyambar-nyambar. Tiga orang Hek I Kaipang menjadi kebingungan dan mencoba untuk menyerang bayangan itu, namun selalu gagal.
Tiba-tiba tiga orang itu mengeluh dan roboh, tak mampu menggerakkan kaki tangan mereka karena In Hong sudah berhasil menotok jalan darah mereka, membuat mereka lumpuh. Tiga orang itu rebah telentang dan mata mereka melotot.
“Bunuhlah, kami sudah kalah. Kami tidak takut mati!” bentak Ang Cun.
Akan tetapi In Hong menggerakkan tangannya tiga kali dan tiga orang anggauta Hek I Kaipang itu terbebas dari totokan dan dapat bergerak kembali. Mereka lalu bangkit berdiri dan memandang In Hong dengan heran. “Mengapa aku harus membunuhmu? Di antara kita tidak ada permusuhan apa pun.”
“Akan tetapi seorang saudara kami!” Ang Cun berkata dengan marah.
“Hemm, hanya itu yang dilaporkan dua orang temanmu ini.” In Hong memandang kepada dua orang yang baru datang. Yang seorang terluka kecil pipi kirinya, bekas tertusuk dupa lidi dan orang kedua terluka lehernya. Agaknya dupa-dupa lidi yang disambitkan Yo Kang telah mengenai sasaran pula.
“Hayo kalau kalian mengaku sebagai anggauta Hek I Kaipang yang gagah, ceritakan sebenarnya apa yang terjadi.”
“Hayo ceritakan!” Ang Cun membentak kepada dua orang itu.
Orang yang pipinya terluka kecil bercerita. “Setelah mendapat pesan dengan surat darimu, Twako, kami bertiga lalu mengikuti Yo Kang sampai di tanah kuburan. Kami melihat dia di depan sebuah makam bersama gadis ini, maka kami lalu menyerang mereka dengan Hek-Piauw (senjata Rahasia Piauw Hitam). Tiba-tiba mereka berdua yang dapat mengelak lalu menyerang kami. Kian-Te terkena sinar hitam dari gadis ini dan tewas, sedangkan kami hanya terluka dupa lidi saja sehingga dapat melarikan diri dan menyusulmu ke sini.”
“Nah, engkau mendengar sendiri, Lokai. Aku yang tidak bersalah apa-apa, diserang secara menggelap dan kalau serangan itu mengenai sasaran, tentu aku akan mati Maka aku membalas dengan serangan senjata rahasia dan seorang di antara mereka roboh dan tewas. Apa engkau hendak menyalahkan aku? Sekarang tentang tuduhanmu kepada Bu-Tong-Pai itu. Karena pembunuh itu menggunakan topeng, walaupun dia membunuh dengan Tong-Sim-Ciang dari Bu-Tong-Pai, masih diragukan apakah dia benar orang Bu-Tong-Pai.
"Dan ingat, seandainya dia itu orang Bu-Tong-Pai, apakah pantas kalau Hek I Kaipang lalu hendak membunuhi semua orang Bu-Tong-Pai? Apakah kesalahan satu orang harus dipikul seluruh anggauta partai? Andaikata seorang anggauta Hek I Kaipang melakukan kesalahan, apakah kalian seluruh anggauta Hek I Kaipang mau menebus kesalahannya dan menyerahkan nyawa kalian untuk dibunuh?”
Mendengar ucapan In Hong itu, tiga orang Hek I Kaipang tidak mampu menjawab. Mereka tertegun dan ragu-ragu, lalu Ang Cun berkata setelah menarik napas panjang. “Kami menyadari kebenaran ucapanmu, Nona... hemm, siapakah sebetulnya engkau, Nona?”
“Sebut saja Put Hauw Li.”
“Put Hauw Li (Wanita Tidak Berbakti)? Itu bukan nama!” kata Ang Cun.
“Kalau aku tidak salah duga, tentu Nona yang dikenal orang dengan julukan Sian-Li Eng-Cu (Bayangan Bidadari)!” tiba-tiba Tung Pan berkata. “Maafkan kalau dugaanku keliru, Lihiap (sebutan Pendekar Wanita)!”
In Hong tersenyum dan berkata acuh tak acuh. “Boleh saja disebut begitu. Nah, Ang Lokai, lanjutkan bicaramu.”
“Sian-Li Eng-Cu, seperti kukatakan tadi, kami menyadari kebenaran ucapanmu. Akan tetapi peristiwa pembunuhan itu membuat kami semua marah dan sakit sekali. Lalu apakah kami harus berdiam diri saja melihat tiga puluh orang saudara kami dibantai?”
“Bukan begitu Ang Lokai. Aku sendiri juga tidak senang mendengar ada orang membunuhi tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang atau orang-orang manapun juga yang tidak bersalah. Aku pasti akan menentang orang itu! Akan tetapi tindakan Hek I Kaipang yang hendak membunuhi semua murid Bu-Tong-Pai jelas keliru. Seharusnya, para pemimpin Hek I Kaipang secara baik-baik mendatangi para pemimpin Bu-Tong-Pai pusat Bu-Tong-San, melaporkan kejadian.
"Dengan demikian, aku yakin para Guru besar Bu-Tong-Pai pasti akan turun tangan melakukan penyelidikan dan mencari orang yang membunuh para anggauta Hek I Kaipang itu dan menangkap orang itu, baik dia murid Bu-Tong-Pai atau hanya orang yang menggunakan nama Bu-Tong-Pai.”
“Wah, pendapat itu amat tepat! Sobat Ang Cun, apa yang dikatakan Sian-Li Eng-Cu ini baru namanya adil dan benar. Yang bersalah memang harus dihukum, tidak peduli dia dari golongan apa, akan tetapi yang tidak bersalah tidak semestinya dikejar-kejar dan dihukum!” kata Tung Pan dengan kagum terhadap gadis itu.
“Seorang anggauta Hek I Kaipang yang tewas di tanah kuburan itu adalah akibat dari ulahnya sendiri. Kalau dia dan dua orang temanmu ini tidak menyerang secara menggelap, sudah pasti dia tidak akan mati terkena senjata gelap pula. Dan aku melihat bahwa murid Bu-Tong-Pai bernama Yo Kang itu sama sekali tidak membenci atau memusuhi Hek I Kaipang. Buktinya, melihat mayat anggauta Hek I Kaipang itu, dia lalu menguburnya.
"Kalau bermusuhan, mana dia sudi melakukan hal itu? Nah, Ang Lokai, kuharap engkau dapat menyadari bahwa pada umumnya, para murid Bu-Tong-Pai adalah orang-orang berjiwa pendekar. Maka perlu diselidiki, dicari dan ditangkap orang yang mengaku murid Bu-Tong-Pai namun melakukan pembunuhan kejam terhadap tiga puluh orang Hek I Kaipang itu.”
Mendengar ini, Ang Cun dan dua orang kawannya mengangguk-angguk. Mereka mengerti benar, bahkan menyetujui pendapat Si Bayangan Bidadari itu. “Herm, ucapanmu itu benar-benar telah menerangi pikiran kami yang tadinya gelap oleh dendam, Sian-Li Eng-Cu. Aku sendiri yang akan menghadap Ketua kami dan menyampaikan pesanmu agar mereka semua sadar akan kekeliruan mereka. Tung-Kauwsu, maafkan sikap kami tadi!” Ang Cun memberi hormat kepada Tung Pan dan In Hong, diikuti dua orang temannya, kemudian mereka bergerak keluar dari rumah perguruan silat itu.
“Lihiap, banyak terima kasih atas budi pertolonganmu, bukan saja menyelamatkan aku dari ancaman maut, akan tetapi terutama sekali karena Lihiap telah berhasil menyadarkan Ang Cun dan kawan-kawannya.”
“Tidak perlu berterima kasih, Tung-Kauwsu. Aku hanya mengharap mudah-mudahan Ang Cun dapat menyadarkan Ketuanya dan para pemimpin Hek I Kaipang.”
Tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan beberapa orang di luar rumah perguruan itu. Cepat In Hong melompat dan berlari keluar, diikuti oleh Tung Pan dan para muridnya. Setibanya di luar, Tung Pan dan para muridnya melihat In Hong yang gerakannya amat cepat tadi sudah berjongkok dekat mayat tiga orang yang bukan lain adalah Ang Cun dan dua orang anggauta Hek I Kaipang tadi! Mereka melihat In Hong meraba-raba dada tiga orang yang sudah tewas itu.
“Lihiap, apakah yang terjadi?” Tung Pan lari menghampiri.
In Hong menggelengkan kepala tanda bahwa Ia tidak tabu. Tung Pan lalu bertanya kepada empat orang yang kebetulan lewat di depan rumahnya dan kini berdiri di tepi jalan menonton. “Saudara-saudara, apakah kalian melihat apa yang terjadi dan mengapa tiga orang itu tewas?”
Empat orang itu tampak bingung dan seorang di antara mereka berkata, “Kami tidak tahu. Tadi kami hanya melihat betapa tiga orang ini tiba-tiba berteriak dan terguling jatuh, tak bergerak lagi. Kami tidak tahu mengapa, dan tidak melihat ada orang lain di sekitar sini.”
Tiba-tiba tampak tiga orang berpakaian hitam-hitam berlari-lari mendatangi. In Hong melihat bahwa mereka adalah tiga orang anggauta Hek I Kaipang dan begitu tiba di situ, mereka segera berlutut dan menangisi mayat tiga orang rekan mereka. Seorang di antara mereka, yang berusia sekitar dua puluh lima tahun atau lebih, tubuhnya sedang dan mukanya kotor oleh debu, rambutnya awut-awutan, berteriak-teriak.
“Orang Bu-Tong-Pai jahat! Bu-Tong-Pai jahat!!” Dia menudingkan telunjuk kirinya ke arah Tung Pan.
Tung Pan segera melangkah maju dan berkata kepada anggauta Hek I Kaipang yang muda itu. “Nanti dulu, sobat. Bukan aku yang membunuh mereka!”
“Bohong! Orang Bu-Tong-Pai semua jahat!” Anggauta Hek I Kaipang itu berseru dan dia sudah mencabut tongkat hitamnya lalu menyerang Tung Pan.
Akan tetapi ternyata tingkat kepandaian anggauta muda perkumpulan pengemis itu masih rendah karena sekali ditangkis Tung-Kauwsu, dia terpelanting jatuh. Dua orang kawannya, murid-murid Hek I Kaipang lalu mencegahnya dan mereka bertiga segera memondong tiga buah jenazah itu pergi dari situ.
“Aih, apa yang terjadi di sini?” Tung Pan menepuk dahinya dan merasa khawatir sekali. “Lihiap, sia-sia saja tadi Lihiap dapat menyadarkan Ang Cun dan dua orang temannya. Ternyata ada yang membunuhnya secara gelap!”
In Hong mengangguk. “Ya, dan mereka terkena pukulan Tong-Sim-Ciang dari Bu-Tong-Pai pula! Hemm, mari kita bicara di dalam Tung-Kauwsu.” Mereka semua memasuki rumah perguruan itu. Mereka lalu duduk di ruangan dalam, bicara dengan serius.
“Paman Tung, apakah engkau menguasai ilmu pukulan Tong-Sim-Ciang?” Tiba-tiba In Hong bertanya.
Tung Pan memandang dengan alis berkerut. “Lihiap, apakah engkau menduga aku yang...”
“Bukan begitu, Paman. Aku hanya ingin tahu untuk melancarkan penyelidikanku.”
“Tidak, Lihiap. Ilmu pukulan itu hanya dikuasai oleh murid Bu-Tong-Pai yang tingkatnya sudah tinggi, dua tingkat lebih tinggi daripada tingkatku.”
“Apakah Paman mengenal seorang Guru silat di Hak-Ciu, juga murid Bu-Tong-Pai yang bernama Si Hoo?”
“Si Suheng (Kakak Seperguruan Si)? Tentu saja aku mengenalnya. Dia itu murid Bu-Tong-Pai yang lebih tinggi setingkat dibandingkan aku.”
“Hemm, Paman Si Hoo itu pun terbunuh dan pembunuhnya adalah Pak Lo-Kui.”
“Pak Lo-Kui, Datuk Besar Utara? Akan tetapi, mengapa?”
“Mungkin ini merupakan peristiwa lain, Paman.” In Hong lalu menceritakan tentang Si Hoo yang dibunuh oleh Pak Lo-Kui gara-gara ulah murid Datuk Utara itu.
“Ah, mengapa murid-murid Bu-Tong-Pai terlibat dalam urusan yang menimbulkan permusuhan ini? Bagaimana sekarang, Lihiap? Satu-satunya murid Hek I Kaipang yang sudah sadar dan hendak menyampaikan pandanganmu itu tentang pembunuhan tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang, kini bersama dua orang temannya terbunuh. Apalagi terbunuhnya di depan rumah perguruanku, tentu Bu-Tong-Pai akan semakin dicurigai dan dibenci oleh mereka.”
“Paman Tung, aku hampir yakin bahwa pembunuh tiga orang murid Hek I Kaipang tadi adalah orang yang membunuh tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang di An-hui yang diceritakan Ang Cun tadi. Tentu dia mendengar bahwa Ang Cun telah sadar dan hendak melapor kepada Ketuanya, maka Ang Cun dan dua orang temannya dibunuh dan cara membunuhnya juga dengan Tong-Sim-Ciang pukulan lihai khas Bu-Tong-Pai.”
“Akan tetapi mengapa orang itu melakukan pembunuhan-pembunuhan dan menggunakan ilmu Bu-Tong-Pai?”
“hi sudah jelas, Paman! Hanya ada dua kemungkinan, yaitu pertama, kemungkinan tipis bahwa orang itu adalah seorang tokoh Bu-Tong-Pai yang membenci Hek I Kaipang, entah mengapa dan dia ingin agar Bu-Tong-Pai bermusuhan dengan Hek I Kaipang.”
“Akan tetapi mengapa dia memakai topeng dan membunuh secara gelap?”
“Tentu agar dia tidak dikenal, karena dia khawatir para pemimpin Bu-Tong-Pai tidak menyetujui perbuatannya itu. Dan kemungkinan kedua, yang lebih kucurigai, pembunuh itu adalah orang yang sengaja hendak melempar fitnah kepada Bu-Tong-Pai untuk mengadu domba, agar terjadi permusuhan antara Bu-Tong-Pai dan Hek I Kaipang.”
“Akan tetapi mengapa dia melakukan hal itu? Apa alasan atau tujuannya?”
“Entahlah, aku belum dapat menduganya. Akan tetapi, aku berjanji akan ikut menyelidiki hal ini. Sekarang, lebih baik Paman membubarkan perguruan silat ini dan Paman sendiri bersama keluarga Paman pindah ke lain tempat karena aku yakin bahwa kematian Ang Cun dan dua orang kawannya di depan rumah Paman ini tentu akan berekor panjang. Mereka pasti akan mencari Paman untuk membalas dendam. Apalagi sekarang sudah tidak ada Ang Cun yang menyadarkan mereka. Nah, turutilah nasehatku, Paman. Sekarang aku hendak pergi.”
Setelah berkata demikian, In Hong cepat meninggalkan kota Im-San-Keng dan kembali ke hutan kecil di luar kota itu. Cuaca senja mulai remang-remang ketika In Hong memasuki hutan kecil itu. Tidak tampak bayangan Yo Kang di tempat di mana ia meninggalkan pemuda itu. Sampai agak lama ia berdiri di situ, memandang ke sekeliling yang sudah mulai gelap.
“Yo-Twako...!” la berseru sambil mengerahkan tenaga dalam sehingga suaranya menembus pepohonan dan mencapai tempat jauh.
Tiba-tiba terdengar jawaban. “Hong-moi...!” Dan pemuda itu muncul dari balik pepohonan. “Maaf, Hong-moi, aku agak terlambat muncul. Cuaca sudah agak gelap dan tidak mengenal bayanganmu sebelum engkau memanggilku.”
“Ada apakah, Twako? Mengapa engkau begitu curiga?”
“Entahlah, tadi aku seperti mendengar gerakan-gerakan orang di sekitar sini. Aku menyelinap dan mengintai, akan tetapi tidak menemukan orang. Aku menjadi curiga dan berhati-hati. Maka ketika engkau muncul, hanya merupakan bayangan, tentu saja aku tidak segera keluar karena tidak mengenalmu.”
“Sudahlah, agaknya engkau terlalu khawatir, Twako. Ah, aku lelah sekali, ingin mengaso. Banyak hal terjadi di Im-San-Keng tadi.”
“Apa yang terjadi, Hong-moi?”
“Nanti kuceritakan, sekarang sebaiknya kita membuat api unggun untuk mengusir nyamuk. Ah, aku lelah dan juga tidak enak rasanya, hemmm... alangkah akan segarnya kalau aku dapat mandi...”
“Jangan khawatir, Hong-moi. Aku tadi sudah menemukan sumber air di mana engkau dapat mandi. Aku pun sudah mandi, dan selain itu aku menemukan sebuah pondok kosong di tengah hutan, agaknya dulu dipergunakan para pemburu untuk beristirahat dan berlindung di waktu hujan.”
“Bagus sekali! Di mana sumber air itu, Twako? Aku ingin sekali mandi!” kata In Hong girang.
Yo Kang menjadi penunjuk jalan dan tak jauh dari situ memang terdapat sebuah gubuk kayu. “Di belakang pondok itu terdapat mata air itu, Hong-moi. Airnya banyak dan jernih. Lihat, aku tadi menemukan sebuah cerek air dan aku sudah menjerang air untuk kita minum. Dan ini, aku juga menangkap seekor kelinci gemuk, sudah kukuliti tinggal memanggang saja. Di dalam pondok tersedia alat-alat dapur, bahkan ada garam dan bumbu. Mandilah, Hong-moi, nanti kita panggang daging ini dan kita makan.” Pemuda itu tampak gembira sekali, lalu membuat api unggun.
In Hong mengambil pakaian dari buntalan pakaiannya, kemudian membawa obor kayu kering menuju ke belakang pondok. Ia menemukan sumber air itu, lalu membuat api unggun tak jauh dari sumber air agar tidak terlalu gelap. Setelah itu ia menanggalkan semua pakaiannya dan mulai mandi di bawah pancuran air yang mungkin dibuat oleh mereka yang dulu menggunakan pondok itu.
Segar sekali rasanya ketika seluruh tubuh In Hong tersiram air jernih itu. Ia menggosok-gosok seluruh tubuhnya dengan beberapa helai daun yang tadi dipetiknya. la mengenal beberapa macam daun dan rumput yang baik sekali untuk menggosok dan membersihkan kulit.
Saking segar dan nyamannya, tanpa disadari In Hong bersenandung lirih. la memang suka bernyanyi dan suaranya pun merdu. Dahulu, Guru pertamanya, Hek Moli mengajarkan banyak lagu rakyat daerah Bhutan dari mana Gurunya kedua atau juga bekas suami Hek Moli, berasal. Lagunya sederhana dan indah sekali.
Akan tetapi panca indera gadis itu sudah terlatih dan amat tajam atau peka. Sedikit saja suara yang tidak wajar cukup untuk dapat ditangkap pendengarannya. la tahu bahwa ada orang mengintai dari sebelah kirinya, mungkin di balik semak-semak yang gelap itu. Dengan tenang, tanpa menghentikan senandungnya, tangan kiri In Hong mengambil sebuah batu sebesar kepalan tangannya lalu cepat ia menyambitkan batu itu ke arah semak-semak yang mendatangkan suara berkeresekan yang mencurigakan tadi.
“Keparat busuk pergilah!” bentak In Hong dan berbareng dengan bentakannya, batu itu sudah menerjang dan menerobos semak-semak!
Akan tetapi tidak terjadi apa-apa di sana. Tidak mungkin pikirnya. Pendengarannya tidak akan salah. Pasti ada orang tadi bersembunyi di balik semak-semak. Juga sambitannya tidak mungkin luput. Akan tetapi nyatanya tidak ada orang terkena sambitannya. Aneh!
“Hong-moi, ada apakah?” tiba-tiba Yo Kang muncul.
In Hong yang berdiri telanjang sebatas pinggang dalam air, menjerit dan menutupi dada dengan kedua tangan lalu membenamkan tubuh ke air sampai sebatas leher! la menjerit kaget karena tadi Yo Kang melihatnya berdiri bertelanjang dada.
Akan tetapi Yo Kang cepat memutar tubuhnya, membelakangi gadis itu. “Ah, maafkan aku, Hong-moi. Sungguh aku tidak tahu bahwa engkau... eh, aku tadi mendengar bentakanmu maka aku khawatir terjadi sesuatu dan cepat lari ke sini. Maafkan aku...”
“Sudahlah, Twako. Coba tolong lihat ada apa di balik semak-semak sana itu.”
Yo Kang cepat melompat dan memeriksa belakang semak-semak. “Tidak ada apa-apa, Hong-moi.”
“Ya sudahlah, Twako. Tunggu saja di pondok itu dan kau panggang saja daging kelinci itu. Aku hendak mencuci pakaian lebih dulu. Sebentar aku ke sana. Tolong tambahkan kayu bakar pada api unggun itu agar tidak padam.”
Yo Kang memenuhi permintaan In Hong tanpa menoleh satu kalipun kepada gadis itu, lalu pergi. In Hong mencuci pakaiannya yang kotor dan berganti pakaian bersih. Ia merasa heran sekali sehingga setelah mencuci pakaian dan mengenakan pakaian bersih, ia masih penasaran lalu memeriksa sendiri belakang semak-semak itu. Ia tidak melihat ada orang. Akan tetapi alisnya berkerut ketika sinar api unggun membuat ia dapat melihat adanya sebuah batu sebesar kepalan tangan berada di situ, di atas tanah.
Batu yang licin dan masih basah, jelas batu berasal dari bawah pancuran air yang tadi ia sambitkan! Padahal batu itu tidak mungkin berada di situ kalau tidak mengenai sesuatu atau... ditahan sesuatu! In Hong kembali ke pondok dan hidungnya disambut bau sedap daging dibakar dibumbui bawang putih dan garam. Tiba-tiba ia merasa lapar sekali.
Akan tetapi ketika tiba di dekat, Yo Kang melihat wajahnya yang termenung dan dia bertanya. “Hong-moi, ada apakah?”
In Hong menaruh pakaiannya yang tadi dicucinya di atas, tepi atap pondok agar mengering. Lalu ia duduk dekat Yo Kang yang sedang memanggang daging. “Yo-Twako, aku yakin bahwa kita tidak sendirian.”
“Maksudmu?”
“Ada orang lain di sini, orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Aku tidak tahu siapa dia, kawan ataukah lawan. Kita harus berhati-hati malam ini.”
“Jangan khawatir, Hong-moi. Ada kita berdua di sini, siapa dapat mengganggu kita? Kita tidur dan berjaga... maksudku engkau yang tidur dan aku yang berjaga.”
“Tidak, harus bergantian. Seorang tidur yang lain berjaga dan bergiliran.”
Mereka lalu makan daging kelenci bakar yang dibumbui. Sedap sekali rasanya, lalu minum air yang sudah dimasak. Daging kelenci gemuk itu cukup mengenyangkan perut mereka. Kemudian mereka duduk di atas batu panjang datar yang berada di depan pondok, dekat api unggun.
“Sekarang ceritakan bagaimana hasil penyelidikanmu ke kota Im-San-Keng tadi, Hong-moi.”
In Hong lalu menceritakan pengalamannya di rumah perguruan Tung Pan. Setelah ia selesai bercerita, Yo Kang berkata, “Ah, keadaan menjadi semakin runyam kalau begitu! Tentu Hek I Kaipang akan semakin mendendam kepada Bu-Tong-Pai! Sudah kuduga, tentu ada seorang yang sengaja membunuhi orang-orang Hek I Kaipang itu. Aku harus pergi ke Bu-Tong-San memberitahukan Suhu tentang semua peristiwa ini!”
“Akan tetapi sebelum terjadi pertempuran antara kedua pihak, pertempuran yang lebih besar dan menewaskan banyak korban, sebaiknya aku menemui dulu Ketua Hek I Kaipang di Beng-San, memberi penjelasan agar dia mau membicarakan urusan itu secara baik-baik dengan pimpinan Bu-Tong-Pai.” kata In Hong.
“Baiklah, Hong-moi. Kita membagi tugas. Aku menemui pimpinan Bu-Tong-Pai dan engkau menemui pimpinan Hek I Kaipang. Akan tetapi sebelum pergi ke Bu-Tong-San, aku hendak menemui Bibi Yo Cui Hwa lebih dulu di dusun Hek-Te-Cung. Aku hendak mengundangnya untuk pindah saja ke See-Ciu, tinggal bersama kami, apa lagi sekarang Kongkong sedang sakit dan selalu menanyakan Bibi Yo Cui Hwa.”
In Hong menahan diri untuk tidak menceritakan tentang Ibunya yang telah menikah lagi, bahkan menikah dengan pembunuh suaminya, dan sekarang telah mempunyai seorang anak perempuan. Bagaimana mungkin ia dapat menceritakan bahwa Ibunya telah menikah dengan musuh besar yang membunuh Ayahnya? Biarlah Ibunya sendiri yang akan bercerita kalau bertemu dengan Yo Kang. Ia lalu memindahkan percakapan tentang Ibunya.
“Yo-Twako, apa saja yang terjadi denganmu semenjak kita saling berpisah? “
“Tidak banyak, Hong-moi. Setelah melihat engkau mampu mengalahkan Wu Wi Thaisu tokoh Go-Bi-Pai itu, aku baru menyadari bahwa tingkat kepandaianku dibandingkan denganmu masih teramat rendah, Hong-moi. Maka aku menjadi penasaran dan aku lalu pergi ke Bu-Tong-San untuk memperdalam ilmu silat di bawah bimbingan langsung dari Guru Besar Tiong Li Seng-jin, Ketua Bu-Tong-Pai.”
“Ah, pantas saja engkau kini menjadi semakin lihai. Menggunakan dupa lidi sebagai senjata rahasia, membutuhkan lweekang (tenaga dalam) yang kuat!”
“Ah, Hong-moi, dibandingkan denganmu, kepandaianku tidak ada artinya. Engkau sungguh hebat sekali, Hong-moi. Engkau amat lihai, gagah dan semakin cantik jelita. Sungguh membuat aku menjadi semakin kagum dan semakin mencintaimu.”
Mendengar pengakuan cinta, In Hong memandang dengan mata terbelalak keheranan. la tidak heran mendengar Yo Kang mencintanya karena hal ini sudah diketahui sejak dulu. Yang ia herankan adalah pernyataan cinta yang demikian terbuka dan jujur!.“Tentu saja, Yo-Twako. Aku adalah Piauw-moi (Adik misan perempuan) bagimu, sudah semestinya engkau sayang kepada Adik misanmu.”
“Bukan begitu, bukan itu maksudku, Hong-moi. Aku cinta padamu seperti seorang laki-laki mencinta seorang perempuan. Baru sekali ini selama hidupku aku jatuh cinta kepada seorang perempuan, dan aku akan berbahagia sekali jika kita berdua sudah dapat hidup sebagai suami-isteri.”
In Hong memandang heran dan kagum. Kakak misannya ini demikian jujur dan terbuka! Dan harus ia akui bahwa Yo Kang adalah seorang pemuda yang gagah perkasa dan tampan, ilmu silatnya tinggi, pendeknya, seorang pemuda pilihan! Akan tetapi ia tidak merasakan kemesraan dalam hatinya terhadap Yo Kang seperti yang ia rasakan terhadap Bu Jin Ai atau Ong Tiang Houw yang telah tiada. la tidak mencinta Yo Kang!
“Yo-Twako, aku minta agar engkau tidak bicara tentang hal itu lagi!” katanya tegas. “Aku tidak suka dan sama sekali belum memikirkan tentang perjodohan!”
Yo Kang bersikap tenang walaupun suaranya agak gemetar ketika dia berkata. “Baiklah dan maafkan aku, Hong-moi. Sekarang engkau mengasolah dalam pondok, aku yang berjaga di sini.” Dia lalu menambahkan kayu pada api unggun. Sikapnya seolah tidak pernah ada apa-apa.
In Hong juga segera bangkit dan memasuki pondok kecil itu. “Tengah malam nanti aku yang menggantikanmu berjaga.”
“Ah, tidak usah, Hong-moi.”
In Hong lalu merebahkan diri di bangku dalam pondok. Bangku bambu yang kasar. la tidak dapat tidur, pernyataan cinta dari Yo Kang tadi tetap terngiang di telinganya. Sementara itu, Yo Kang duduk di dekat api unggun, diam seperti patung, matanya memandang nyala api yang amat indah, namun dia tidak melihat keindahan itu. Bahkan mata yang terbuka itu tidak melihat apa-apa. Dia termenung.
Memang sikapnya tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Namun hatinya terasa pedih dan tidak nyaman. In Hong memang tidak menolak cintanya, akan tetapi jelas tidak menerimanya, tidak menyambutnya. Padahal bukan dia sendiri yang mengharapkan gadis itu menjadi isterinya. Ayah-Ibunya pernah membicarakan urusan perjodohan antara dia dan In Hong.
Ayahnya yang ingin sekali mengambil In Hong sebagai mantunya. Walaupun Ibunya agak menentang karena Ibunya menginginkan mantu seorang gadis bangsawan yang halus budi, bukan gadis kang-ouw yang lebih pandai memainkan pedang daripada alat menyulam, memasak dan lain-lain, namun akhirnya Ibunya tidak dapat menentang keinginan Ayahnya. Ayah-Ibunya sudah setuju dan dia sendiri sejak pertemuan pertama sudah jatuh cinta. Akan tetapi sikap In Hong jelas menolak! Tiba-tiba dia melihat bayangan berkelebat.
“Siapa itu!” bentak Yo Kang dan dia sudah melompat ke arah bayangan itu. Akan tetapi bayangan itu menyambutnya dengan pukulan jarak jauh, mendorongkan tangan kanannya ke arah Yo Kang. Dari telapak tangan itu menyambar sinar putih yang dahsyat sekali. Yo Kang cepat menyambut dengan dorongan tangan pula sambil mengerahkan sinkang (tenaga sakti).
“Wuuuuttt... blaarrr...!” Dua tenaga sakti yang amat kuat bertemu dan bertumbukan dengan dahsyat dan akibatnya, Yo Kang terjengkang dan roboh telentang! Bayangan itu kini mendorongkan kedua tangannya dan dari kedua telapak tangan itu tampak sinar putih menyambar ke arah dada Yo Kang yang masih terengah-engah. Serangan maut itu agaknya sulit untuk dapat dihindarkan Yo Kang.
“Syuuuuttt... darrrr...!!” In Hong yang tadi melayang keluar dari pondok dan menangkis serangan itu dengan dorongan kedua tangannya, terhuyung ke belakang saking kuatnya tenaga serangan bayangan hitam yang tidak tampak jelas orangnya itu. Akan tetapi bayangan hitam itu pun terpental ke belakang. Bayangan itu mengeluarkan seruan lirih seperti orang terkejut, lalu melompat dan menghilang ke dalam kegelapan.
In Hong tidak mau mengejar karena kegelapan menghalanginya dan orang itu lihai sekali. Amat berbahaya kalau mengejar bayangan yang lihai itu di tempat gelap, apa lagi yang tidak dikenalnya. Gadis ini lalu cepat menghampiri Yo Kang yang telah duduk bersila, tak jauh dari api unggun yang kini hampir padam. In Hong menambahkan kayu kering pada api unggun itu sehingga nyalanya membesar, lalu ia mendekati Yo Kang. Pemuda itu membuka matanya dan memandang kepadanya.
“Yo-Twako, engkau tidak apa-apa?”
Pemuda itu menghela napas panjang, menggelengkan kepala. “Hong-moi, aku tidak apa-apa, selamat dan terhindar dari maut karena pertolonganmu. Aku berhutang nyawa padamu, Hong-moi.”
“Ah, sudahlah, jangan sebut lagi itu. Sekarang, bagaimana rasanya?”
“Bahaya sudah lewat, Hong-moi. Rasanya aku tidak terluka walaupun tadi aku merasa sesak kalau bernapas. Pukulan orang tadi sungguh luar biasa dan berbahaya sekali. Tahukah engkau siapa dia, Hong-moi?”
In Hong menggelengkan kepalanya. “Aku tidak dapat melihat mukanya. Karena gelap, aku hanya melihat sosok bayangan orang, tidak tahu dia itu pria atau wanita, tua atau muda. Akan tetapi agaknya kalau tidak salah aku mengenal pukulan jarak jauh yang dia lakukan terhadap dirimu tadi. Pukulan itu mengandung sinar putih seperti Pek-Kong-Ciang (Tangan Sinar Putih) dari Kun-Iun-Pai.”
“Kun-Lun-Pai? Akan tetapi mengapa ada orang Kun-Lun-Pai memusuhi kita? Padahal Kun-Lun-Pai merupakan perguruan yang sealiran dengan kita, selalu menentang kejahatan!”
“Bukan kita yang dimusuhi, Yo-Twako, melainkan engkau, karena engkau tadi yang diserang, bukan aku. Mungkin saja bukan Kun-Lun-Pai yang memusuhi engkau atau Bu-Tong-Pai, melainkan ada permusuhan pribadi antara engkau dan seorang yang menguasai ilmu-ilmu Kun-Lun-Pai. Coba ingat-ingat, barangkali engkau pernah bermusuhan dengan seorang murid Kun-Lun-Pai.”
“Seingatku tidak pernah, Hong-moi. Kalau aku pernah bermusuhan, tentu akan kuingat, apalagi orang yang menyerangku tadi bukan orang sembarangan. Ilmu silatnya tinggi sekali dan kalau dia memang murid Kun-Lun-Pai, tentu dia seorang yang memiliki kedudukan tinggi di perguruan itu.”
“Hemm, sungguh aneh sekali!” In Hong mengerutkan alisnya dan berpikir.
“Hek I Kaipang mengatakan bahwa mereka diserang orang yang menggunakan nama dan ilmu Tong-Sim-Ciang dari Bu-Tong-Pai sehingga Hek I Kaipang memusuhi Bu-Tong-Pai untuk membalas dendam. Sekarang ada orang menggunakan ilmu Pek-Kong-Ciang dari Kun-Lun-Pai untuk nnenyerang dan hampir menewaskan seorang murid Bu-Tong-Pai! Perbuatan ini tentu saja dapat mengakibatkan permusuhan antara Bu-Tong-Pai dan Kun-Lun-Pai! Engkau harus berhati-hati, Yo-Twako.”
“Kukira semua anggauta Bu-Tong-Pai harus berhati-hati. Aku akan melaporkan peristiwa ini kepada para pimpinan Bu-Tong-Pai agar semua murid berhati-hati dan para pimpinan dapat memberitahukan penyerangan ini kepada para pimpinan Kun-Lun-Pai.”
“Itu benar, Yo-Twako. Dengan begitu maka pihak Kun-Lun-Pai tentu akan berusaha untuk menemukan orang yang berniat membunuhmu tadi.”
Setelah malam berganti pagi, kedua orang muda itu saling berpisah. In Hong hendak mengunjungi pusat Hek I Kaipang di Beng-San, sedangkan Yo Kang akan pergi ke Bu-Tong-San untuk menemui para pimpinan Bu-Tong-Pai. Yo Kang merasa kecewa, kehilangan dan kesepian ketika berpisah dari In Hong yang telah mencuri hatinya. Tadinya, berdekatan dengan In Hong, dia merasa betapa hatinya tenang tenteram dan gembira, segala sesuatu tampak indah menyenangkan.
Kini, begitu dia berpisah dari gadis itu, hatinya merasa begitu sepi, segala sesuatu tampak tidak ada artinya dan tidak ada lagi yang tampak indah. Dia merasa kehilangan, seolah dirinya tidak utuh lagi yang membuat dia melakukan perjalanan sambil melamun. Semangatnya seolah terbawa pergi oleh In Hong!
Cinta yang melanda hati seorang manusia terhadap lawan jenisnya, merupakan satu di antara gairah-gairah nafsu yang teramat kuat! Cinta dapat mengubah sendi-sendi kehidupan seorang manusia. Dapat mendatangkan kebahagiaan yang melampaui semua khayalan, namun dapat pula mendatangkan duka nestapa yang melampaui ketahanan seorang manusia.
Betapa gagah perkasa pun seorang pria, betapa tinggi pun kedudukannya, betapa pandai dan bijaksana pun wataknya, namun sekali hatinya dilanda apa yang dinamakan cinta, dia akan berubah menjadi seorang manusia yang lemah lunglai tak berdaya! Hidup seolah tidak ada artinya lagi tanpa dia yang dicinta berada di dekatnya, menerima dan membalas cintanya! Kebahagiaan itu hanya dapat dirasakan oleh mereka yang berhasil memadu cinta.
Sebaliknya kesengsaraan itu pun hanya dapat dirasakan oleh mereka yang gagal dalam bercinta. Akan tetapi, betapa pun kuatnya cinta mempengaruhi keadaan hati, seperti semua emosi yang dapat melanda hati manusia, rasa takut, duka, bingung, senang, dan lain-lain, sudah pasti akhirnya tunduk kepada Waktu!
Sang Waktu merupakan kekuatan yang mengalahkan segalanya, biarpun kerjanya lambat, namun pasti segala sesuatu ditelannya, sesuai dengan Hukum Alam bahwa tiada yang langgeng (abadi) di dunia fana ini. Betapa pun besar kedudukan ataupun kesenangan, pada akhirnya terhapus oleh Sang Waktu yang menelan segalanya. Segala macam perasaan yang melanda hati manusia hanya sementara belaka, baik dalam waktu panjang maupun pendek. Akhirnya akan menghilang dimakan waktu, atau terganti oleh perasaan yang lain lagi.
Biarpun baru sebelas tahun bangsa Mongol menguasai Cina, namun bangsa yang amat kuat dan mahir dalam perang itu telah dapat mengatur pemerintahan sampai kedaerah-daearah. Mereka tidak hanya mengandalkan tenaga bangsa Mongol sendiri dalam menguasai wilayah yang amat luas itu, namun juga mempergunakan tenaga orang-orang pribumi sendiri yang mau mengabdi kepada Kerajaan Goan-Tiauw yang baru.
Kotaraja Peking juga dibangun. Kerusakan-kerusakan pada Istana dan bangunan-bangunan lain diperbaiki. Bahkan Istana diperindah. Bangsa Mongol bukan bangsa yang pandai dalam hal bangunan, mereka hanya pandai berperang, namun mereka mendatangkan ahli-ahli bangunan dari seluruh pelosok sehingga Istana Kaisar Kublai Khan dibangun megah dan lebih indah daripada sebelumnya.
Kotaraja Peking sendiri menjadi ramai dikunjungi para pedagang. Kaisar Kublai Khan maklum bahwa biarpun dia berambisi untuk memperluas wilayah jajahannya dengan memerangi berbagai bangsa di barat dan selatan, namun dia tetap waspada terhadap ancaman gangguan dalam negeri. Dia maklum bahwa masih banyak terdapat kelompok-kelompok orang gagah bangsa pribumi yang masih penasaran dan tidak rela membiarkan tanah airnya di jajah bangsa Mongol.
Mereka memang sudah dipukul dan dicerai-beraikan, namun tetap saja masih merupakan ancaman yang harus ditanggulangi secara khusus. Oleh karena itu, Kaisar Kublai Khan mengangkat beberapa orang panglima perang yang lihai dan cerdik untuk menjadi komandan pasukan yang tugasnya selain menjaga keselamatan dan keamanan Kotaraja, juga untuk menghancurkan setiap golongan yang sikapnya memusuhi pemerintah Mongol.
Para panglima itu disebar dan bermarkas di beberapa kota besar, tentu saja yang terbanyak di Kotaraja. Mereka membentuk pasukan khusus sendiri-sendiri. Maka tak dapat dielakkan lagi terjadilah penangkapan-penangkapan yang terkadang hanya berdasar kecurigaan, atau bahkan akibat fitnah.
Satu diantara panglima yang oleh Kaisar Kublai Khan ditugasi khusus untuk menjaga Kotaraja dan memberantas para pemberontak, adalah Jenderal Ogucin, seorang jagoan bangsa Mongol aseli yang sudah dianggap sebagai Datuk karena selain pandai memimpin pasukan perang, juga pandai ilmu silat aliran Utara dan ilmu gulat aseli Mongol.
Setelah menjadi seorang jenderal, dia menggunakan nama pribumi, yaitu Ouw Gu Cin atau Jenderal Ouw Gu Cin yang biasa disebut Ouw Goanswe (Jenderal Ouw). Jenderal Ouw berkedudukan di Kotaraja dan dia membentuk pasukan khusus yang diberi nama Hui-To-Tin (Barisan Pisau Terbang). Nama ini diambil dari keistimewaan seratus orang perajurit itu yang semua pandai menggunakan pisau untuk membunuh lawan dengan cara menyambitkan, seolah-olah pisau itu dapat terbang menyambar nyawa!
Jenderal Ogucin, atau kita sebut saja nama barunya, Jenderal Ouw Gu Cin yang berusia lima puluh tahun, bertubuh tinggi besar dengan kumis kecil melintang khas Mongol, jenggot pendek, mata lebar dan kulitnya kecoklatan, memiliki seorang isteri yang cantik, peranakan Mongol/Han, biarpun usianya sudah empat puluh tahun namun masih tampak cantik dengan tubuh ramping, kulitnya kuning mulus.
Suami-isteri yang tinggal di sebuah gedung besar di ujung jalan raya Kotaraja sebelah barat itu mempunyai seorang puteri yang cantik jelita berusia delapan belas tahun. Gadis bangsawan peranakan Han/Mongol ini diberi nama pribumi Ouw Swi Lan. Gadis berusia delapan belas tahun ini sikapnya sudah dewasa. Gerak gerik dan bicaranya lembut. namun terkadang sinar matanya mencorong penuh wibawa dan membayangkan kekerasan hati.
Wajah yang bulat telur itu manis sekali. Kulitnya tidak seputih kulit Ibunya, akan tetapi tidak secoklat kulit Ayahnya. Kulit yang halus seolah membayangkan kelembutan, namun sesungguhnya di dalam tubuh yang ramping itu tersembunyi kekuatan yang dahsyat karena Ouw Swi Lan adalah seorang gadis yang tinggi ilmu silatnya, juga dari Ibunya ia mewarisi keahlian membaca menulis, membuat sajak, bernyanyi dan menari. Ia suka akan kesenian, akan tetapi lebih menyukai ilmu silat.
Di belakang gedung tempat tinggal keluarga Jenderal Ouw di Kotaraja terdapat sebuah taman yang luas dan di tengah taman itu terdapat sebuah bangunan panggung bertingkat tiga berbentuk menara. Jenderal Ouw memang sengaja membangun menara ini sebagai tempat pertemuan rahasia antara dia dan para pembantunya yang melakukan pekerjaan rahasia.
Yaitu menyelidiki orang-orang dan golongan-golongan persilatan tertentu yang dianggap cukup mencurigakan dan perlu diselidiki apakah mereka itu anti pemerintah Mongol. Pertemuan-pertemuan seperti itu memang seringkali harus diadakan secara rahasia, jangan terlihat umum karena sebagian para pembantunya adalah orang-orang pribumi sendiri yang memiliki kepandaian tinggi.