Bayangan Bidadari Jilid 06

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Bayangan Bidadari Jilid 06
Sonny Ogawa

Bayangan Bidadari Jilid 06

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

KUN-LUN-PAI atau partai persilatan cabang Kun-Lun adalah sebuah di antara lima partai persilatan terbesar di Tiongkok. Tidak saja terbesar karena banyak memiliki anak murid, akan tetapi juga besar namanya karena anak-anak murid keluaran Kun-Lun-Pai merupakan jago-jago silat dan pendekar-pendekar yang disegani.

Pegunungan Kun-Lun-San yang amat besar, seperti halnya pegunungan Go-bi-san, menjadi tempat pelarian para Pertapa. Oleh karena letaknya di Tiongkok Barat, maka selain Pertapa-Pertapa bangsa Tiongkok sendiri, banyak juga bangsa-bangsa lain dari barat yang meyakinkan kehidupan mistik dan memilih jalan menjadi Pertapa, datang ke puncak gunung ini untuk memilih tempat yang permai, indah, bersih dan menenangkan hati.

Kedatangan para Pertapa dari luar inilah yang menimbulkan pelbagai macam ilmu silat, karena sudah menjadi kelajiman bahwa para perantau dan Pertapa itu tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Memang ilmu silat tak dapat dipisah-pisahkan dengan ilmu batin, keduanya merupakan cabang dari satu sumber, sungguhpun ilmu silat diumpamakan kembangnya, ilmu batin adalah tangkainya.

Maka tidak heran apabila Kun-Lun-Pai menurunkan banyak murid dengan pelbagai macam kepandaian, ada ahli pedang, ahli golok, ahli tombak, bahkan di antara anak murid yang sudah pandai terdapat pula ahli-ahli silat yang mempergunakan senjata-senjata aneh seperti poan-koan-pit (alat menulis), hud-tim (kebutan Pendeta), ikat pinggang, ujung lengan baju, senjata roda dan lain-lain.

Memang partai persilatan Kun-Lun-Pai amat kaya dengan perkembangan ilmu silatnya. Kun-Lun-Pai membuka cabang di banyak tempat, akan tetapi pusat atau sumbernya tetap saja dipuncak sebuah gunung di pegunungan Kun-Lun-Pai. Di tempat ini didirikan sebuah kelenteng besar dan disinilah tinggalnya Guru-Guru besar dari partai Kun-Lun. Disini pula anak-anak murid yang akan mewakili dan menjadi pengurus cabang digembleng dengan ilmu silat dan ilmu batin.

Pada waktu itu, yang menjadi ciang-bun-jin atau Ketua dari Kun-Lun-Pai adalah Pek Ciang San-Lojin, seorang Kakek yang usianya sudah hampir tujuh puluh tahun. Sebetulnya dalam urutan, baik usia maupun tingkat kepandaian, Pek Ciang San-Lojin tak dapat dikatakan paling tinggi. Akan tetapi, pengangkatan ciang-bun-jin oleh Guru besar bukanlah semata-mata berdasarkan usia dan kepandaian, melainkan sifat dan watak calon Ketua itu.

Pek Ciang San-Lojin mempunyai watak tegas dan kebijaksanaan, maka ia terpilih oleh mendiang Gurunya. Masih ada Sute (adik seperguruan) dan beberapa orang Suheng (kakak seperguruan) yang biarpun memiliki kepandaian yang tidak kalah olehnya, namun hanya menjadi pembantu-pembantu biasa saja, bahkan di antaranya ada yang memilih tugas sebagai tukang masak dan tukang kebun!

Akan tetapi oleh karena sifat pekerjaan mereka dan juga watak mereka amat sederhana dan tidak pernah memperlihatkan diri di dunia kangouw, mereka yang tidak menduduki tempat penting ini tentu saja tidak dikenal orang. Yang terkenal di dunia kangouw pada waktu itu, selain Pek Ciang San-Lojin sendiri, adalah Kun-Lun Sam-lojin (Tiga orangtua Kun-Lun), yakni tiga orang murid Pek Ciang San-Lojin, yang bernama Cu Sim San-Lojin, Kim Sim San-Lojin, dan Sun Sim San-Lojin.

Mereka bertiga ini adalah mereka yang dulu membantu tokoh-tokoh Go-Bi-Pai menewaskan Hek Moli. Mereka juga menduduki tempat penting di Kun-Lun-Pai. Cu Sim San-Lojin yang memiliki kebijaksanaan menjadi wakil dari Pek Ciang San-Lojin dan agaknya dia inilah yang menjadi calon ciang-bun-jin kelak. Kim Sim San-Lojin mendapat tugas sebagai kepala bagian penjaga keamanan karena ia berdisiplin dan keras.

Maka dahulu belasan tahun yang lalu ketika Hek Moli menyerbu ke Kun-Lun-Pai, dia inilah yang menghadapinya langsung dan akhirnya kena dikalahkan oleh Hek Moli. Sun Sim San-Lojin, murid ketiga dari Pek Ciang San-Lojin, orangnya berbakat mengajar, pandai sekali menerangkan tentang teori persilatan, maka oleh Gurunya ia diangkat menjadi wakilnya dalam memberi pelajaran kepada semua anak murid Kun-Lun-Pai.

Dahulu ketika Wi Tek Tosu dari Go-Bi-Pai datang minta bantuan untuk mengalahkan Hek Moli, tiga orang tokoh Kun-Lun-Pai ini hanya mau pergi setelah mendapat perkenan dari Pek Ciang San-Lojin. Wi Tek Tosu secara pandai telah menghasut dan memanaskan hati tokoh-tokoh Kun-Lun-Pai dengan menyatakan bahwa Hek Moli amat ganas dan kejam, merupakan bahaya di dunia kangouw.

Pek Ciang San-Lojin memang mempunyai watak yang tegas dan paling benci akan kejahatan. Mendengar penuturan Wi Tek Tosu itu, ia lalu memberi ijin kepada tiga orang muridnya untuk membantu Pendeta Go-bi itu untuk melenyapkan seorang berbahaya dan jahat seperti Hek Moli. Maka, sekembali mereka dari O-mei-san, tiga orang tokoh Kun-Lun ini tidak mengkhawatirkan sesuatu dan menganggap bahwa kematian Hek Moli sudah semestinya sebagai hukuman atas semua kejahatan dan keganasan yang telah dilakukannya.

Akan tetapi, pada suatu hari, dari bawah gunung yang dijadikan pusat oleh Kun-Lun-Pai itu, berkelebat bayangan yang gesit sekali gerakannya. Bayangan ini bukan lain adalah In Hong yang sengaja datang ke Kun-Lun untuk menuntut balas atas kematian Gurunya. Kun-Lun-Pai bukan partai persilatan yang ternama dan besar kalau gerakan In Hong ini tidak diketahui oleh para penjaga. Sebelum gadis itu tiba di depan kelenteng, Kim Sim San-Lojin sudah siap-sedia menyambut kedatangan orang yang mencurigakan ini!

Setelah kelenteng itu kelihatan menjulang tinggi di dekat puncak, In Hong menahan gerakan kakinya dan berjalan biasa menghampiri kelenteng itu. Di depan kelenteng terdapat sebuah pekarangan yang amat lebar. Dari jauh sudah kelihatan para Pendeta sibuk bekerja, ada yang memikul kayu, ada yang berjalan membawa keranjang daun obat, ada pula yang sedang menyapu daun-daun kering membersihkan pekarangan. Kelihatan tenteram dan damai sehingga tak enak jugalah hati In Hong.

Namun ia berjalan terus, memasuki pintu gerbang pekarangan yang luas itu. Betapapun juga, Gurunya telah ditewaskan oleh tiga orang tokoh Kun-Lun-Pai yang tinggal di kelenteng itu dan ia harus menuntut balas! Dengan langkah lebar dan gagah gadis ini maju terus, tidak perdulikan pandangan mata beberapa orang Tosu yang berada di pekarangan itu. Bahkan ia tidak perduli kepada seorang Tosu tua berkepala botak yang menyapu daun-daun kering sambil bernyanyi kecil, diseling ketawa-tawa seperti seorang yang miring otaknya.

Ketika ia tiba di tengah pekarangan, seorang Tosu berjenggot panjang hitam menghadangnya. Tosu ini memandang tajam, lalu menjura dan berkata, “Nona, kami tidak pernah menerima tamu wanita dan tidak seorangpun wanita diperkenankan memasuki kelenteng. Kalau nona ada keperluan, katakan saja kepada Pinto, nona ini siapa dan ada keperluan apakah datang di tempat ini?”

Tanpa memberi hormat dan dengan sikap ketus, In Hong menjawab, “Namaku Put Hauw Li dan aku datang perlu bertemu dan bicara dengan Pek Ciang San-Lojin.”

Memang gadis ini ingin bertemu dengan Ketua Kun-Lun-Pai untuk menegur tentang pengeroyokan atas diri Gurunya. Betapapun juga, Gurunya pernah menuturkan kepadanya bahwa Kun-Lun-Pai adalah partai persilatan besar dan kuat, maka dalam urusan ini tidak baik bersikap sembrono dan lebih baik kalau langsung berhadapan dengan Ketuanya untuk minta pertanggungan jawabnya.

“Suhu sedang bersamadhi dan tidak boleh diganggu. Kalau nona ada urusan, harap disampaikan kepada Pinto dan Pinto akan melaporkan ke dalam,” kata pula Kim Sim San-Lojin dengan suara sabar.

“Tidak bisa disampaikan kepada orang lain. Suruh Pek Ciang San-Lojin keluar menjumpaiku, atau aku akan masuk saja langsung menemuinya.”

Kim Sim San-Lojin mulai marah dan ia memandang kepada gadis itu dengan kening berkerut. “Nona, kau dilarang keras memasuki kelenteng. Kalau kau tidak mau menyampaikan kepada Pinto, maaf, harap kau kembali saja. Belum pernah ada wanita diperkenankan memasuki kelenteng, itu aturan kami.”

In Hong tersenyum mengejek. “Ketika wanita gagah Hek Moli datang kesini, apakah dia juga tidak masuk ke dalam?”

Kim Sim San-Lojin terkejut mendengar ini, akan tetapi ia masih dapat menekan perasaannya dan sebagai seorang Pendeta yang banyak pengalaman dan banyak menghadapi orang-orang bermacam sifat, ia dapat berlaku tenang dan sabar. “Biarpun Hek Moli sendiri ketika datang kesini, tidak diperbolehkan masuk ke dalam,” jawabnya.

In Hong menjadi naik darah. Ketika tadi mendengar bahwa Tosu ini menyebut Guru kepada Pek Ciang San-Lojin, ia sudah dapat menduga bahwa Tosu ini tentulah seorang di antara Kun-Lun Sam-lojin (Tiga Kakek Kun-Lun), atau seorang di antara tiga tokoh Kun-Lun yang menewaskan Gurunya. Akan tetapi ia tidak mau turun tangan dulu sebelum bicara dengan Ketua Kun-Lun-Pai.

“Kalau begitu, biarlah aku sekeluarga mematahkan pantangan itu,” katanya dan secepat kilat tubuhnya berkelebat melewati sebelah Tosu itu, hendak berlari memasuki kelenteng.

“Perlahan dulu, nona!” Kim Sim San-Lojin menggerakkan tangan dan ujung lengan bajunya menyambar dengan totokan ke pundak In Hong untuk mencegah gadis itu melanjutkan niatnya. Tosu itu melihat jelas betapa ujung lengan bajunya mengenai pundak In Hong, akan tetapi bukan main terkejut dan herannya ketika ia melihat gadis itu seakan-akan tidak merasai totokannya dan berlari terus cepat sekali!

Memang In Hong sengaja tidak mau menangkis atau melayani Tosu ini karena ia bermaksud untuk mencari Pek Ciang San-Lojin sebelum bertanding dengan tokoh-tokoh Kun-Lun. Gadis yang cerdik ini tahu bahwa kalau ia menangkis, tentu ia akan terlibat dalam pertempuran, maka ketika ia merasa datangnya hawa pukulan, ia dapat menahan totokan itu. Cepat ia mengerahkan hawa lweekang yang disalurkan ke pundak menutupi jalan darah dan ia berhasil menolak serangan itu.

Kim Sim San-Lojin tadi tidak mengerahkan seluruh tenaganya. Pendeta ini walaupun tahu bahwa gadis yang naik ke gunung dengan mempergunakan ilmu lari cepat yang luar biasa ini tentu memiliki kepandaian, namun ia tidak tega untuk menjatuhkan tangan besi. Dikiranya bahwa totokannya tadi yang disertai tenaga setengah bagian saja sudah cukup untuk menghalanginya masuk kelenteng. Tidak tahunya totokannya seakan-akan tidak terasa oleh In Hong! Baru ia maklum bahwa gadis yang demikian mudanya itu ternyata seorang ahli silat yang pandai.

Akan tetapi, gadis itu sudah memasuki kelenteng dan Kim Sim San-Lojin tersenyum. Ia tidak mengejar, karena malu baginya kalau berkejar-kejaran dengan seorang demikian muda. Sungguhpun gadis itu agaknya tidak mengandung maksud baik, namun ia tidak khawatir. Di dalam kelenteng masih banyak kawan-kawan yang akan dapat menghalangi gadis itu. Dengan tenang iapun berjalan memasuki kelenteng, sedangkan Tosu-Tosu lain melanjutkan pekerjaan mereka seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu.

Tosu tua yang botak dan menyapu daun-daun kering tadi, tertawa-tawa kecil, menghentikan nyanyinya dan berkata-kata seorang-diri, “Nona kecil berbakat sekali, sayang terdidik oleh tangan yang ganas...” Ia lalu melanjutkan pekerjaannya.

Adapun In Hong, ketika tiba di ruangan depan kelenteng itu, terheran-heran melihat kelenteng itu sunyi saja. Yang ada hanya tiga orang Tosu setengah tua yang sedang bersembahyang. Selain ini, tidak ada siapa-siapa lagi dan keadaannya sunyi mengandung rahasia. In Hong tidak berani mengganggu Tosu-Tosu yang sedang bersembahyang itu, maka ia lalu berjalan terus masuk ke sebelah dalam.

Ternyata di sebelah dalam kelenteng ini amat besar dan luas. Kelihatan bangunan-bangunan kecil di sana sini, lorong-lorong yang lebar sehingga ia menjadi bingung. Ia tidak tahu dimana adanya Pek Ciang San-Lojin, maka ia lalu memasuk lorong sebelah kiri yang menuju ke sebuah ruangan terbuka. Tanpa mengetahui bahwa semua gerak geriknya diikuti oleh banyak pasang mata, In Hong maju terus.

Ia memasuki ruangan terbuka yang berada di tengah-tengah. Ruangan ini adalah ruangan tempat belajar atau berlatih ilmu silat yang disebut lian-bu-thia. Lebar sekali tempat ini, karena selain dipergunakan untuk tempat berlatih silat, juga di tempat inilah biasa diadakan pertemuan antara Tosu-Tosu dan anak-anak murid Kun-Lun-Pai yang banyak jumlahnya. Di tempat ini, beberapa bulan sekali, ciang-bun-jin dari Kun-Lun-Pai, yakni Pek Ciang San-Lojin, dihadap oleh puluhan orang anggauta Kun-Lun-Pai, memberi pelajaran tentang ilmu batin dan menguraikan ujar-ujar kuno dari kitab-kitab agama To.

Ketika In Hong tiba di ruangan ini, keadaan disitu sunyi belaka, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara di belakangnya. Ketika ia menengok, ia melihat seorang Tosu tua telah duduk di atas bangku bundar, bersila dan memegang sebuah kitab sambil membacanya perlahan-lahan. In Hong terkejut dan kagum.

Tadi ketika masuk ia tidak melihat Kakek ini, akan tetapi bagaimana tiba-tiba bisa berada disitu? Terang bahwa Tosu ini memiliki ginkang yang sudah tinggi sekali sehingga gerakannya amat ringan dan cepat. Ia mendengar Tosu itu membaca ayat-ayat dari kitab To Tek Keng tentang sifat air menurut pandangan filsafat besar Lo Cu,

“Tiada kelembutan melampaui air. Namun dalam menanggulangi kekerasan Tiada kekuatan didunia dapat melebihinya. Karenanya tiada yang dapat menggantikannya. Kelemahan mengalahkan kekuatan. Kelembutan mengalahkan kekerasan. Namun tiada yang dapat mengetahuinya. Tiada yang dapat menjalankannya.”

Tosu itu hendak melanjutkan bacaannya yang memang masih ada lanjutannya, akan tetapi ia dipotong oleh In Hong yang bersajak dengan suara keras mengejek, “Lidah memang tak bertulang. Mudah saja setiap orang menggoyang. Tapi, biarpun lidah Pendeta Suci. Mana bisa mencerminkan isi hati? Air bersifat lembut, kuat, dan jujur. Mana sama dengan hati Tosu-Tosu terkebur? Kalau tidak dikeroyok Tosu-Tosu ganas. Tak mungkin wanita gagah Hek Moli tewas!”

Ketika berguru kepada Hek Moli, In Hong hanya sedikit saja mendapat pelajaran ilmu membaca dan menulis. Akan tetapi Gurunya itu pandai sekali bernyanyi, nyanyian dari Nepal yang dinyanyikan dalam bahasa Han, dan nyanyian ini terisi yang bersajak indah. Oleh karena amat tertarik dan suka sekali akan nyanyian-nyanyian ini, maka In Hong yang berotak cerdas itu pandai membuat sajak.

Sekarang mendengar ayat-ayat kitab To Tek Keng yang tidak pernah didengarnya, sekali mendengar saja maklumlah ia bahwa Tosu itu menyindirnya dan memperingatkannya. Akan tetapi, sebagai balasan, sekaligus ia dapat mengucapkan sajak yang membalas sindiran itu, benar-benar gadis ini berotak cerdik sekali.

Ketika Tosu itu mendengar sajak ini, ia berdiri dan tersenyum, lalu menjura kepada In Hong. “Nona, ketika tadi bertemu dengan Suhengku Kim Sim San-Lojin, kepala penjaga, kau menyebut-nyebut nama Hek Moli. Sekarang, dihadapan Pinto, Sun Sim San-Lojin, kaupun kembali menyebut nama Hek Moli. Kau masih ada hubungan apakah dengan Hek Moli dan apakah kehendakmu datang disini?”

“Dia adalah Guruku, yang telah kalian bunuh dengan cara amat curang! Mana Pek Ciang San-Lojin? Suruh dia keluar dan mempertanggung jawabkan perbuatan yang amat rendah dan curang daripada murid-muridnya!”

“Nona, kau mengaku bernama Put Hauw Li (Anak perempuan Tidak Berbakti), sungguh sebuah nama yang tidak harum! Apalagi kalau ditambah dengan sepak terjangmu ini, sungguh sayang sekali Pinto terpaksa menyatakan bahwa masa depanmu tidak begitu terang. Insaflah bahwa disini bukan tempat dimana kau boleh berbuat sesukamu. Kalau kau ada urusan, boleh katakan di depan Pinto dan akan Pinto pertimbangkan.”

“Tosu bau! Kau kira aku takut padamu? Kalau aku menurutkan hawa nafsu dan tidak mengindahkan Kun-Lun-Pai, apa kau kira aku perlu bertemu dengan ciang-bun-jin dari Kun-Lun-Pai? Tak usah banyak cakap dan jangan mencoba untuk memanaskan hatiku, lekas panggil keluar ciang-bun-jin dari partaimu!”

“Nona, Pinto disini dan Pinto menjadi wakil ciang-bun-jin Kun-Lun-Pai!” tiba-tiba terdengar suara yang halus dan berpengaruh dan tahu-tahu disebelah kiri telah berdiri seorang Tosu lain yang usianya sebaya dengan pembaca kitab tadi.

Kembali In Hong harus mengaku bahwa gerakan Tosu inipun amat ringan dan cepat, maka diam-diam ia berlaku waspada dan insaf bahwa ia berada di tempat yang berbahaya, dimana terdapat banyak sekali lawan yang amat lihay.

“Nona Put Hauw Li, Pinto Cu Sim San-Lojin mewakili Suhu untuk menanyakan maksud kedatanganmu,” kata pula Tosu ini.

In Hong menahan kemarahannya. Sekarang ia sudah melihat tiga orang Tosu yang telah menyebabkan kematian Gurunya, dan sebelum ia menjawab, seorang Tosu berjalan masuk melalui pintu depan dengan tindakan perlahan. Ketika In Hong melirik, ternyata bahwa Tosu ini adalah Kim Sim San-Lojin yang tadi ia jumpai di luar. Sekarang lengkaplah tiga orang Tosu pembunuh Gurunya! Namun, In Hong masih menahan kemarahannya dan tidak akan turun tangan sebelum ia men-dengar jawaban dari Ketua Kun-Lun-Pai, yakni Pek Ciang San-Lojin.

“Kalian bertigaah yang bersekongkol dengan Pendeta-Pendeta busuk dari Go-bi, yang secara curang telah menewaskan Guruku! Bagaimana aku sudi bercakap-cakap dengan kalian? Lekas minta keluar Gurumu, Pek Ciang San-Lojin, kalau tidak, terpaksa aku akan masuk dan mencarinya sendiri!”

Sikap In Hong ini membikin marah kepada Cu Sim San-Lojin yang biasanya amat sabar dan ramah. “Nona, harap kau jangan keterlaluan, jangan mendesak secara kurang ajar. Guruku mana bisa keluar dari tempat samadhi sebelum waktunya, apalagi untuk menemui seorang anak kecil seperti kau? Tidak, nona, lebih baik kau berurusan dengan kami saja, dan segala apa akan beres.”

“Kalau aku memaksa masuk, kalian mau apa?”

“Tak mungkin, kami seluruh anak murid Kun-Lun-Pai takkan membiarkan kau bertindak sewenang-wenang dan sesuka hati disini,” kata Cu Sim San-Lojin dan tiga kali ia bertepuk tangan.

Maka dari segala jurusan muncullah Tosu-Tosu bermacam bentuk dan usia dan sebentar saja tempat itu telah penuh oleh Tosu yang jumlahnya tidak kurang dari tujuh puluh orang! In Hong yang berhati keras dan tabah sekali, tidak menjadi gentar, sungguhpun ia tahu bahwa tak mungkin ia dapat menghadapi sekian banyaknya lawan yang rata-rata memiliki kepandaian silat tinggi.

“Hm, nama besar Kun-Lun-Pai tidak tahunya hanya kesombongan palsu dan kosong belaka. Siapa orangnya di dunia kangouw mau percaya bahwa ratusan orang Tosu Kun-Lun-Pai hendak mengeroyok dan menakut-nakuti seorang gadis yang usianya baru sembilanbelas tahun?” Kata-kata ini ia ucapkan dengan suara keras sekali karena ia sengaja mengerahkan sinkangnya dan ia sengaja pula melebih-lebihkan dengan menyebut ratusan orang Tosu, padahal sebenarnya iapun tahu tidak ada begitu banyak.

Pada saat itu, terdengar suara halus suara dan lambat seperti suara seorang anak kecil, “Ada apakah ribut-ribut ini? Aah, dalam kelenteng pun masih saja Pinto tak dapat mengaso tenteram!”

Cu Sim San-Lojin dan kedua Sutenya, juga semua Tosu yang berada di lian-bun-thia itu, menjadi kaget sekali mendengar ini. Mereka semua lalu mengundurkan diri, berdiri di pinggiran sambil menundukkan kepala membungkukkan pinggang.

Beberapa orang Tosu yang tadi berdiri membelakangi sebuah pintu, cepat-cepat pergi dari situ dan segera terbuka sebuah jalan. Didahului oleh suara berketuknya tongkat di lantai, muncullah seorang Tosu yang bertubuh tinggi besar, berwajah angker berpengaruh, usianya enam puluh tahun lebih, jubahnya lebar dan kepalanya memakai topi yang jarang sekali kelihatan dipakai oleh Tosu, sedangkan di punggungnya tergantung sebuah pedang pendek yang sarungnya indah sekali.

Setelah tiba disitu, Tosu tua ini menyapu seluruh yang hadir dengan sepasang matanya yang tajam. Tak seorangpun Tosu disitu berani bergerak atau mengangkat kepala. Kemudian pandangan mata Tosu itu melirik ke arah In Hong. Ia nampak tak senang, mengerling tajam ke arah Cu Sim San-Lojin dan berkata, suaranya tidak halus dan lambat lagi, melainkan nyaring dan tajam menusuk, “Cu Sim, kau tidak memenuhi tugasmu dengan baik. Bagaimana ada seorang nona dapat memasuki lian-bu-thia?”

Cu Sim San-Lojin menjadi merah mukanya dan ia memandang kepada In Hong dengan mata marah. “Suhu, dengan halus Teecu sekalian sudah mencoba untuk mencegahnya masuk, akan tetapi nona ini berkeras hendak bertemu dengan Suhu. Mohon Suhu sudi memaafkan Teecu sekalian,” katanya dengan nada suara merendah.

Mendengar kata-kata Cu Sim San-lojian ini, In Hong tidak ragu-ragu lagi. Inilah orangnya yang menjadi Ketua Kun-Lun-Pai, yang bernama Pek Ciang San-Lojin. In Hong melirik ke arah kedua tangan yang memegang tongkat dan benar saja seperti yang dituturkan oleh Gurunya dahulu, kedua tangan Tosu tua ini putih sekali seakan-akan tidak ada darah pada telapak tangan dan jari-jari itu. Inilah pula mengapa ia bernama Pek Ciang San-Lojin (Kakek Gunung bertangan putih).

“Apakah kau yang menjadi ciang-bun-jin Kun-Lun-Pai dan bernama Pek Ciang San-Lojin?” tanya In Hong kepada Tosu tua itu.

Semua Tosu menjadi marah sekali karena sikap gadis ini benar-benar keterlaluan dan dianggap amat kurangajar. Pek Ciang San-Lojin memutar tubuh menghadapi In Hong, sepasang alisnya yang tebal itu bergerak dan matanya memandang tak senang. “Kau siapakah?” bentaknya.

“Suhu, dia mengaku bernama Put Hauw Li, murid dari iblis wanita Hek Moli,” kata Cu Sim San-Lojin.

“Pantas, pantas...! Orang seperti dia mana bisa mempunyai murid yang tahu aturan? Nona, kau sudah melakukan pelanggaran besar, memaksa masuk ke dalam kelenteng kami. Kau berkeras hendak bertemu dengan Pinto, ada urusan apakah?”

Melihat sikap Ketua Kun-Lun-Pai yang keras ini, hati In Hong sudah menjadi mendongkol sekali, maka iapun tidak memperlihatkan sikap merendah, suaranya terdengar kering dan ketus ketika menjawab,

“Totiang, aku datang kesini untuk menuntut agar kau sebagai ciang-bun-jin di Kun-Lun-Pai, mengadili murid-muridmu yang secara curang telah membunuh Guruku Hek Moli. Kalau aku tidak memandang muka perkumpulan dan Ketuanya, apakah aku perlu susah-susah bertemu denganmu? Aku tidak ingin turun tangan sendiri dan menyerahkan hukuman kepada tiga orang muridmu yang curang dan licik itu ke dalam tanganmu sendiri.”

Pek Ciang San-Lojin tiba-tiba berubah air mukanya, tidak keren dan mengeras seperti tadi, kini ia tersenyum, agaknya geli mendengar kata-kata ini. “Nona, kalau tidak melihat bahwa kau masih begini muda, masih terhitung anak-anak hijau, tentu ucapanmu ini akan menimbulkan sangkaan bahwa kau sudah gila. Kau pikir kau ini siapakah dapat memerintah Pinto dan kami sekalian anak murid Kun-Lun-Pai untuk berbuat apa yang kau kehendaki? Gurumu Hek Moli bukanlah orang baik-baik, dia yang mencari keributan disini. Kemudian, iapun menyerbu pelbagai partai persilatan dan sudah melukai serta membunuh entah berapa banyak orang. Akhir-akhir ini, dalam sebuah pibu ia tewas, hal sudah sewajarnya. Mengapa kau penasaran?”

“Akan tetapi Guruku tewas karena keroyokan tiga orang muridmu. Apakah perbuatan ini pantas? Bukankah itu perbuatan yang pengecut sifatnya?”

Pek Ciang San-Lojin mengerutkan keningnya dan suaranya keren lagi seperti tadi, “Hek Moli jahat, jahat dan ganas, mencoba untuk menjatuhkan nama Go-Bi-Pai dan Kun-Lun-Pai dengan mengandalkan kepandaiannya. Biarpun dia berkepandaian tinggi, kalau dia jahat sudah menjadi kewajiban Kun-Lun-Pai untuk membasminya. Di dalam sebuah pibu tanpa perjanjian, seorang menghadapi banyak lawan bukanlah hal aneh.

"Empat orang Go-Bi-Pai tewas dan sebaliknya Hek Moli juga tewas, apa anehnya dalam sebuah pibu ada akibat terluka ataupun tewas? Sekarang kau sebagai murid Hek Moli, sudah melakukan pelanggaran, memasuki kelenteng secara kasar dan seperti orang yang memancing permusuhan. Akan tetapi oleh karena Pinto mempertimbangkan bahwa kau masih muda sekali, biarlah kali ini Pinto memberi ampun dan kau boleh lekas-lekas enyah dari sini!”

In Hong marah sekali dan ia membanting-banting kakinya dengan gemas sebelum menjawab, “Pek Ciang kau terlalu menghina Guruku dan aku sendiri! Kau anggap bahwa Guruku sudah tewas dalam sebuah pibu, baik. Sekarang aku muridnya pun datang untuk menantang pibu kepada kau dan siapa saja tokoh Kun-Lun-Pai, hendak kulihat sampai dimana kepandaiannya maka berlagak sombong. Kalian mau maju seorang lawan seorang boleh, mau maju semua mengeroyokku pun baik, aku menyediakan nyawaku untuk membalas sakit hati Guruku!” Setelah berkata demikian, In Hong mencabut pedang Liong-gan-kiam dan bersiap-sedia menghadapi lawan!

“Perempuan liar, jangan kurang ajar!” bentak Sun Sim San-Lojin yang menjadi marah sekali melihat sikap dan mendengar kata-kata In Hong terhadap Suhunya. Ia menyerang dengan hud-timnya dan ujung kebutan itu meluncur ke arah pundak In Hong untuk menotok jalan darah, sedangkan tangan kirinya bergerak hendak merampas pedang. Tosu ini sudah tahu akan kelihayan Hek Moli, akan tetapi terhadap murid Hek Moli, seorang gadis yang masih begitu muda, tentu saja ia memandang ringan.

Akan tetapi, dilain saat Tosu ini mencelat mundur dengan muka pucat. Kebutannya telah terbabat putus oleh pedang nona itu dan kalau tadi ia tidak lekas-lekas mempergunakan gerakan Pek-liong-hoan-sin (Naga putih membalikkan tubuh) dan melompat ke belakang, tentu tangan kirinya akan terbabat putus pula! Demikian cepat dan ganasnya gerakan pedang di tangan gadis itu.

“Begitu sajakah kelihayan Tosu Kun-Lun-Pai?” In Hong yang tidak mengejar, tersenyum mengejek dengan sikap menantang. “Hayo siapakah lagi yang mau main-main?”

Cu Sim San-Lojin dan Kim Sim San-Lojin marah sekali dan mereka sudah siap untuk turun tangan dan senjata mereka sudah disiapkan pula. Akan tetapi Pek Ciang San-Lojin berkata, “Biar Pinto sendiri memberi hajaran kepada nona yang kejam dan ganas ini!”

Guru besar ini dari gerakan tadi sudah maklum bahwa ilmu pedang dari In Hong amat ganas dan cepat, dan kiranya kepandaian nona ini sudah mengimbangi kepandaian Hek Moli. Kekalahan Sun Sim San-Lojin dalam segebrakan tadi biarpun terjadi karena Sun Sim San-Lojin kurang berhati-hati dan memandang terlampau rendah kepada lawan, namun sudah merupakan hal yang amat memalukan.

Kalau kedua muridnya yang lain maju kemudian kalah oleh nona yang masih ini, bukankah itu akan mencemarkan nama baik Kun-Lun-Pai? Maka, dalam penasaran dan malunya, Pek Ciang San-Lojin sampai melupakan kedudukannya yang tinggi dan mau turun tangan sendiri menghadapi seorang lawan yang patut menjadi murid cucunya.

Mendengar ucapan Pek Ciang San-Lojin, In Hong juga berlaku waspada. Memang kepandaiannya sudah hampir menyamai kepandaian Gurunya, bahkan dalam kecepatan ia mungkin masih menang, sungguhpun tenaga lweekangnya memang masih jauh daripada memuaskan. Dahulu Gurunya baru roboh setelah dikeroyok tiga oleh Kun-Lun Sam-lojin dengan bantuan Tosu-Tosu Go-Bi-Pai pula, maka sekarang menghadapi tiga orang tokoh Kun-Lun-Pai itu ia tidak takut sama sekali, biarpun andaikata akan dikeroyok tiga.

Akan tetapi sekarang Pek Ciang San-Lojin sendiri yang akan maju. Menghadapinya dan inilah lain lagi! Sebagai Ketua partai Kun-Lun-Pai, In Hong percaya bahwa kepandaian Tosu tua ini pasti luar biasa sekali, maka ia harus menghadapinya dengan hati-hati. Diam-diam tangan kiri gadis ini merogoh segenggam pasir hitam, senjata rahasianya yang disebut toat-beng-hek-kong (sinar hitam pencabut nyawa)!

Pada saat itu terdengar suara, “Sreeek... Sreeek... Sreeek...!” dan masuklah seorang Tosu tua sambil menyeret sapunya yang menerbitkan suara itu ke dalam ruangan lian-bu-thia. Dia ini bukan lain adalah Tosu tua tukang menyapu pekarangan depan yang tadi bekerja sambil bernyanyi-nyanyi dan tertawa-tawa seorang diri seperti orang gendeng. Kini, Tosu yang lebih tua dari Pek Ciang San-Lojin ini, yang sudah tujuh puluh tahun lebih usianya, menghampiri In Hong sambil menyeret sapunya.

“Tugasku sebagai tukang sapu disini, membersihkan segala kekotoran. Kalau masih ada aku disini, mengapa ciang-bun-jin harus turun tangan sendiri menyapu sehelai daun muda yang melayang turun mengotori ini? Biarkan aku tua bangka mengerjakannya.”

Pek Ciang San-Lojin tadi sudah siap dengan tongkatnya untuk memberi hajaran kepada In Hong. Melihat datangnya Tosu tua ini, ia segera melangkah mundur dan mukanya berobah merah. Baru ia insaf bahwa tadi ia terlalu terburu nafsu dan hampir saja ia merendahkan nama Kun-Lun-Pai. Bagaimana akan kata orang-orang kangouw kalau mereka mendengar betapa untuk mengusir seorang gadis muda yang datang mengacau, ciang-bun-jin dari Kun-Lun-Pai sendiri sampai turun tangan? Hal ini sama saja dengan mengaku kepada dunia bahwa Kun-Lun-Pai sudah kehabisan orang pandai!

“Susiok (Paman Guru) memperingatkan Teecu dan datang membantu, itulah bagus sekali!” kata Pek Ciang San-Lojin dengan wajah berseri. Tidak saja ia terbebas dari keadaan yang memalukan dan merendahkan kedudukannya, juga kalau Kakek tua ini maju, pasti segalanya akan beres. Andaikata Paman Gurunya ini sampai kalah oleh In Hong, maka kiranya tidak ada orang lain disitu yang akan dapat memenangkannya!

Tosu tua tukang sapu itu lalu membalikkan tubuh menghadapi In Hong, tersenyum-senyum dan matanya yang sipit itu berkejapan aneh. “Kau murid Hek Moli? Mari kuantar kau keluar kembali, tak baik berada disini, di antara puluhan orang pria, sedangkan kau seorang gadis muda. Ha, ha, ha!”

Kata-kata ini diterima oleh In Hong sebagai penghinaan maka ia menjadi marah sekali. “Tosu bau yang berotak miring. Kau juga ingin mampus? Lihat pedang!” seru In Hong marah dan pedangnya cepat sekali menusuk ke arah leher Tosu tua itu.

Gerakan serangan ini luar biasa cepatnya sehingga diam-diam Pek Ciang San-Lojin terkejut. Benar-benar seorang gadis yang lihay sekali, pikirnya, dan baiknya yang menghadapinya adalah susioknya. Maka ia tidak merasa khawatir sedikitpun, tahu akan kelihayan susiok itu.

Sebaliknya, In Hong terkejut bukan-main ketika tiba-tiba ujung pedangnya itu telah “Ditangkap” oleh sapu. Sapu itu membelit ujung pedangnya dan betapapun ia membetot, tak berhasil ia melepaskan pedang dari libatan ini. Ia tahu bahwa tenaga lweekangnya jauh lebih rendah daripada tenaga Kakek aneh ini, maka diam-diam ia merasa gelisah sekali.

“Lepaskan pedang!” serunya dan kaki kirinya menendang ke arah gagang sapu lawannya.

Tosu tua itu menangkis dengan tangan kiri dan begitu kaki itu bertemu dengan lengan si Kakek, In Hong terhuyung-hujung dan saat itu dipergunakan oleh Tosu itu untuk menarik sapunya dengan tenaga lweekang yang hebat sekali sehingga In Hong tak dapat menahan dan pedangnya terampas! Bukan main marahnya gadis ini, sedangkan para Tosu disitu tersenyum-senyum girang. Juga Pek Ciang San-Lojin tersenyum girang dan diam-diam memuji kelihayan susioknya yang aneh ini.

Akan tetapi kegirangan mereka itu terganti dengan kekagetan hebat ketika tiba-tiba tangan kiri In Hong yang marah menyambar dan sinar hitam menyambar ke arah tubuh Tosu tua tadi. Tosu ini nampak terkejut, mengayun sapu dan lengan baju untuk menyampok pasir beracun itu. Akan tetapi, biarpun sebagian besar pasir itu dapat ditangkis, masih ada yang menembus ujung lengan baju dan melukai lengannya. Untuk beberapa detik Tosu tua ini terhuyung-uyung dengan muka pucat!

Akan tetapi, dilain saat, Tosu itu mengeluarkan seruan keras, tubuhnya melayang ke arah In Hong dan sapunya menyambar. In Hong mengelak, namun kakinya masih terlibat oleh sapu dan tubuh gadis ini terguling! Dilain saat,Kakek tua ini sudah mengempit tubuhnya dan sambil membawa tubuh gadis itu keluar, ia tertawa-tawa dan berkata, “Biar aku melempar keluar daun ini, ha, ha, ha!”

Semua Tosu menarik napas lega, akan tetapi diam-diam Pek Ciang San-Lojin menjadi gelisah sekali. Ciang-bun-jin dari Kun-Lun-Pai ini maklum bahwa susioknya telah terkena sambaran senjata rahasia yang amat lihay. Ia pernah mendengar bahwa Hek Moli memiliki senjata rahasia toat-beng-hek-kong dan kiranya tadilah senjata rahasia itu, diperlihatkan oleh muridnya dan benar-benar hebat sekali sehingga susioknya yang berilmu tinggi masih terkena juga.

“Cu Sim, kau lihatlah keadaan susiok-couwmu itu dan kalau ia terluka, lekas memberi laporan agar dapat berusaha mengobatinya!”

Cu Sim San-Lojin menyatakan baik lalu keluar dari ruangan itu. Tosu-Tosu lain lalu bubaran, melakukan pekerjaan mereka seperti biasa. Memang mereka sudah amat terlatih, cepat berkumpul apabila dibutuhkan dan tenang kembali setelah peristiwa selesai. Betapapun In Hong meronta dan mengerahkan tenaga, ia tidak mampu melepaskan diri dari kempitan lengan Tosu tua itu yang setelah keluar dari kelenteng, berlari cepat sekali sehingga sebentar saja sudah tiba di lereng gunung. Kemudian ia melepaskan nona itu sambil tersenyum dan berkata, “Nona, kalau tidak teringat akan mendiang Gurumu, siapa sudi menolongmu dan rela membiarkan lenganku terkena toat-beng-hek-kong?” katanya dan dari dalam saku bajunya ia mengeluarkan sebungkus obat, terus mengobati luka yang diakibatkan oleh pasir-pasir hitam.

Melihat obat ini, In Hong terkejut. Itulah obat pemunah pasir hitam yang dibuat oleh Gurunya sendiri, yang juga berada di dalam bungkusan pakaiannya. Darimana Tosu ini mendapatkan obat itu?

“Gurumu adalah sahabat baikku, dan karena aku pernah ditolong olehnya, maka tadi melihat kau menghadapi Pek Ciang San-Lojin, aku sengaja datang untuk menyeretmu keluar dari lembah maut. Kalau tidak aku keburu datang, apa kau kira sekarang kau masih bernyawa? Hm, biarpun ilmu silat dan ilmu pedangmu lihay, mana kau dapat menghadapi tokoh-tokoh Kun-Lun-Pai? Iweekangmu masih amat rendah dan kalau kau bertanding melawan Pek Ciang, kau tentu akan terluka dan binasa.”

Mendengar semua kata-kata ini, maklumlah In Hong bahwa Kakek aneh ini bermaksud baik dan bahkan telah menolongnya, maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut. “Lo-Cianpwe, banyak terima kasih atas pertolonganmu. Akan tetapi Teecu Kwee In Hong tidak takut mati. Untuk membalas budi mendiang Guruku, Teecu harus berani berkorban nyawa. Teecu harus membalas dendamnya atas pengeroyokan Tosu-Tosu Kun-Lun-Pai.”

“Ha, ha, ha, inilah namanya anak kerbau tidak takut harimau. Dengan tenaga lweekangmu serendah itu, biar sepuluh tahun lagi tak mungkin kau dapat mengalahkan kami. Kecuali kalau kau bisa mendapatkan kitab Tat Mo I-Kin-Keng dari Siauw-Lim-Si dan mempelajarinya sampai tamat, baru kiranya kau akan dapat menghadapi kami! Nah, kau pergilah, aku bicara semua ini bukan terhadapmu, melainkan terhadap arwah Gurumu!” Setelah berkata demikian, sambil menyeret sapunya Tosu tua itu berjalan pergi.

“Tahan dulu, Lo-Cianpwe, mohon tahu nama Lo-Cianpwe yang mulia.”

Tanpa menoleh Tosu itu herkata,.“Siang-te Lo-koay hanya tukang sapu di kelenteng Kun-Lun, tidak ada harganya untuk diingat lagi.” Kakek itu mempercepat larinya dan sebentar saja telah naik kembali ke bukit itu.

In Hong menarik napas panjang. Ia kagum sekali kepada Kakek ini, yang biarpun ilmu silatnya tidak amat tinggi, namun ginkang dan lweekangnya sudah sampai di puncak yang tak dapat diukur tingginya sehingga ia merupakan seorang anak kecil yang tidak berdaya terhadapnya. Ia pikir bahwa betul sekali apa yang diucapkan oleh Kakek itu. Kepandaiannya, atau lebih tepat ilmu lweekangnya, masih terlampau rendah sehingga kalau ia nekad membalas dendam ke Kun-Lun-Pai, hal itu bukan berarti kegagahan, melainkan ketololan besar.

Sakit hati Gurunya takkan terbalas, sebaliknya ia seperti mengantarkan nyawa secara sia-sia belaka. Tat Mo I-khi-keng dari Siauw-Lim-Si! Kata ini terukir di dalam hatinya. Apa artinya semua kepandaiannya kalau ia tidak dapat memiliki lweekang yang tinggi? Ia pernah mendengar dari Gurunya bahwa dalam pertandingan menghadapi tokoh lihay memang tenaga lweekang amat penting. Dan Gurunya pernah mengaku bahwa dalam hal lweekang, masih kalah oleh partai-partai besar, apalagi partai silat Siauw-Lim-Si yang amat mengutamakan ilmu lweekang ini.

“Aku harus mendapatkan kitab Tat Mo I-Kin-Keng dari Siauw-Lim-Si, biarpun harus menjadi pencuri!” Pikiran ini menjadi keputusan di dalam hati gadis yang masih penasaran itu, dan sekali mengambil keputusan, ia tidak mau menunda-nunda lagi, maka begitu turun dari Kun-Lun-San, ia langsung menuju ke Siauw-Lim-Si.

Berbeda dengan partai persilatan Kun-Lun-Pai, Siauw-Lim-pay adalah partai persilatan dari penganut-penganut agama Buddha. Kelenteng Siauw-Lim-Si adalah sebuah kelenteng yang besar sekali, di kelilingi oleh tembok yang tebal dan tinggi. Di antara semua partai persilatan yang besar, nama Siauw-Lim-pay sudah amat terkenal.

Setiap orang Hwesio, atau anak murid Siauw-Lim-pay yang berada di luar kelenteng, sudah dapat dipastikan memiliki ilmu kepandaian tinggi, karena kalau belum tamat belajar mencapai tingkat tertentu, murid Siauw-Lim-Si tidak boleh meninggalkan perguruan! Setiap orang anak murid yang tamat harus menempuh ujian, yakni melalui sebuah lorong yang sudah disiapkan untuk menguji si murid.

Lorong ini penuh dengan alat-alat rahasia dan si murid akan menghadapi serangan-serangan berbahaya, baik yang dilakukan dengan alat-alat rahasia itu maupun oleh Guru-Gurunya sendiri. Kalau ia berhasil menembusi lorong inti, ia dianggap cukup cakap untuk keluar dari Siauw-Lim-Si. Akan tetapi kalau dalam menghadapi ujian ini ia gagal, harus belajar lebih giat lagi.

Atau kalau sampai ia tewas dalam ujian ini, itu sudah menjadi nasibnya! Oleh karena ada aturan dan disiplin yang keras ini, maka selamanya Siauw-Lim-pay dapat menjaga nama dan anak-anak murid keluaran Siauw-Lim-pay dapat menjunjung tinggi nama perguruan itu.

Pada waktu itu, yang menjadi Ketua dari Siauw-Lim-pay adalah Bu Kek Tianglo, seorang Hwesio yang usianya sudah hampir delapan puluh tahun. Selama berpuluh tahun Hwesio ini memegang pimpinan Siauw-Lim-pay dan boleh dibilang ia berhasil dalam memajukan partai persilatan ini. Akan tetapi hatinya tidak puas. Ada hal yang amat mengganjal hatinya dan kalau ia teringat akan hal ini, diam-diam ia menarik napas seorang diri dan berbisik,

“Apakah akan jadinya dengan Siauw-Lim-pay? Tat Mo Couwsu pasti arwahnya akan mengutukku kalau aku tidak bisa mendapatkan seorang ahli waris yang baik.”

Yang menjadikan Kakek Hwesio ini berduka adalah karena selama ini, ia tidak bisa mendapatkan seorangpun murid yang berbakat dan yang akan dapat mewarisi kepandaian aseli dari Tat Mo Couwsu. Ilmu silat peninggalan Guru besar Tat Mo Couwsu, yang disebut Tat Mo Kun-hoat, terdiri dari bermacam-macam ilmu silat.

Memang semua anak murid Siauw-Lim-pay mempelajari ilmu silat ini, akan tetapi tingkat mereka yang paling tinggi hanya sampai enam bagian saja. Yang sudah mewarisi ilmu silat ini sampai sembilan bagian hanyalah Bu Kek Tianglo seorang, karena untuk berhasil mewarisi seluruh pelajaran yang amat sukar dari ilmu silat itu, dibutuhkan bakat luar biasa serta kebersihan batin, hawa dalam tubuh, dan darah.

Sampai sebegitu jauh, tak seorangpun anak murid yang sanggup menerima latihan I-Kin-Keng, yakni latihan ilmu lweekang yang tertinggi. Hanya Bu Kek Tianglo sendiri yang berhasil, akan tetapi ia sudah terlalu tua. Usianya takkan lama lagi mempertahankan hidupnya dan sebelum mati, Hwesio tua ini ingin sekali mendapatkan seorang murid yang dapat mewarisi I-Kin-Keng dan ilmu silat tertinggi dari Tat Mo kun-hoat.

Bu Kek Tianglo sudah hampir putus asa sampai datangnya seorang Hwesio Siauw-Lim-Si yang membawa seorang pemuda dan seorang bocah perempuan ke kelenteng itu. Hal ini terjadi lima tahun yang lalu. Hwesio yang datang ini adalah murid kepala dari Bu Kek Tianglo yang bernama Ceng Seng Hwesio. Ceng Seng Hwesio berlutut menghadap Ketua Siauw-Lim-pay itu dan disebelahnya, pemuda dan anak perempuan itupun ikut berlutut dengan penuh penghormatan.

“Muridku yang baik, tiga bulan lamanya kau meninjau keadaan di luar, bagaimanakah khabarnya dengan para anak murid kita yang berada di luar?”

“Mereka baik-baik semua, Suhu, dan tak seorangpun yang melakukan pelanggaran, kesemuanya patuh akan pelajaran dan larangan Siauw-Lim-pay,” jawab Ceng Seng Hwesio.

Jawaban ini kelihatannya amat menyenangkan hati Bu Kek Tianglo, karenaKakek ini memang selalu merasa gelisah kalau ia teringat betapa banyaknya murid-murid Siauw-Lim-pay berada di luar kelenteng sehingga ia tidak kuasa untuk mengawasi tingkah laku mereka. Ia selalu khawatir kalau-kalau ada anak murid yang melakukan perbuatan jahat, melanggar larangan Siauw-Lim-pay dan di dunia luar merusak nama baik Siauw-Lim-pay.

Oleh karena ini, seringkali ia mengutus murid-muridnya untuk meninjau keadaan di dunia kangouw dan memberi wewenang kepada murid-muridnya ini apabila mendengar anak murid Siauw-Lim-pay yang menyeleweng, untuk menangkap dan menyeretnya ke Siauw-Lim-pay!

“Siapakah orang muda dan nona cilik ini?” kemudian Kakek itu bertanya sambil memandang kepada pemuda dan anak perempuan yang berlutut di dekat Ceng Seng Hwesio.

“Di dalam perantauan, Teecu bertemu dengan mereka ini, dikeroyok oleh perampok di dalam hutan. Teecu amat tertarik melihat ilmu silat pemuda ini berdasarkan ilmu silat Siauw-Lim-Si, akan tetapi gerakannya sudah menyeleweng jauh. Setelah Teecu mengajak mereka bercakap-cakap, ternyata bahwa mereka ini masih cucu murid dari supek Bu Sek Tianglo!”

Bu Kek Tianglo nampak tercengang dan memandang kepada pemuda itu dengan penuh perhatian. “Anak muda, siapa namamu? Dan kau murid siapakah?” tanya Bu Kek Tianglo.

Pemuda itu mengangkat mukanya yang tampan dan membayangkan kedukaan, memandang kepada Tosu tua itu kemudian menunduk kembali dan menjawab, suaranya halus dan sopan, “Susiok-couw, Teecu bernama Ong Teng San, dan ini Adik Teecu bernama Ong Lian Hong. Teecu berdua menerima pelajaran ilmu silat dari Ayah Teecu sendiri yang bernama Ong Tiang Houw, murid dari sucouw Bu Sek Tianglo. Kebetulan sekali Teecu berdua yang sengsara bertemu dengan supek Ceng Seng Hwesio, maka apabila susiok-couw tidak berkeberatan, Teecu berdua mohon diterima menjadi murid di Siauw-Lim-Si, karena Teecu berdua sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi.” Suara pemuda itu menjadi perlahan dan ia kelihatan berduka sekali.

“Hm, mengapa kalian pergi dari rumah? Dimana Ayahmu? Biarpun Ayahmu tidak langsung menjadi murid Siauw-Lim-pay, akan tetapi sudah lama Pinceng (aku) mendengar akan sepak terjangnya yang patut dihargai sebagai seorang pendekar yang gagah. Agaknya mendiang Suhengku Bu Sek Tianglo tidak terlalu salah menerima murid sungguhpun dia sendiri telah meninggalkan Siauw-Lim-pay.”

Mendengar pertanyaan ini, tiba-tiba Teng San terisak menangis! Hati pemuda ini bersedih sekali kalau ia teringat akan Ayahnya yang dianggap telah melakukan perbuatan yang amat memalukan dan tidak berbudi. Melihat pemuda ini menangis, Bu Kek Tianglo wajahnya tiba-tiba berseri. Di dalam hatinya ia berkata,

“Aha, anak inilah yang kiranya akan dapat mewarisi I-Kin-Keng, hatinya perasa sekali dan perasaan yang halus inilah yang amat dibutuhkan untuk bisa mempelajari I-Kin-Keng dengan sempurna.” Akan tetapi di luarnya, ia berkata dengan suara tegas, “Teng San, tidak patut seorang pemuda mengalirkan airmata. Ada urusan, boleh kau beritahukan kepada Pinceng dengan terus terang, boleh jadi Pinceng akan dapat mencarikan jalan terang bagimu.”

Teng San menekan perasaan sedihnya, kemudian ia dengan terus-terang menceritakan bagaimana Ayahnya telah membunuh seorang hartawan muda bernama Kwee Seng, kemudian mengambil isteri hartawan itu sebagai isterinya. Hal ini dianggapnya amat menyakitkan dan memalukan hati, apalagi karena Teng San sudah menganggap Ibu tiri itu sebagai Ibunya sendiri, bahkan sudah berkali-kali berjanji kepada Ibu tirinya untuk membalaskan dendam atas terbunuhnya suami yang dahulu dari Ibu tirinya itu. Tidak disangka-sangkanya bahwa pembunuhnya adalah Ayahnya sendiri!

Mendengar penuturan ini, Bu Kek Tianglo mengerutkan keningnya dan beberapa kali ia menggeleng-geleng kepalanya yang gundul. “Omitohud, bagaimana ada kejadian seperti itu? Pinceng sudah mendengar tentang Ayahmu yang memimpin pasukan Kai-Sin-Tin membasmi orang-orang hartawan dan bangsawan. Perjuangan memperbaiki nasib kaum jembel memang baik, bahkan semenjak dahulu dipelopori oleh orang-orang gagah sedunia yang tidak suka melihat sesama hidup bersengsara dan melihat keganjilan di dunia ini, dimana yang hidup kaya sampai berlebihan dan yang hidup miskin sampai tidak bisa makan.

"Akan tetapi, setiap perjuangan memperbaiki nasib haruslah dilakukan dengan hati-hati dan waspada, karena hampir selalu ada bahaya kemasukan anasir-anasir buruk dan sifat-sifat yang tidak baik. Ayahmu terlampau dikuasai oleh nafsunya, nafsu dan dendam karena kematian isterinya, yaitu Ibumu, dan orang yang sudah dikuasai oleh nafsu dan dendam, tiada ubahnya seperti binatang buas yang tidak memilih bulu, siapa saja diterkamnya.

"Orang gagah harus dapat berlaku adil, menghukum mereka yang bersalah dan menolong mereka yang tergencet. Secara membuta tuli saja membasmi orang-orang hartawan dan bangsawan, adalah perbuatan yang amat keliru, karena tak mungkin seluruh hartawan dan bangsawan itu jahat belaka. Karena kekeliruan Ayahmu itu, sekarang ia harus memetik buahnya yang amat pahit. Bagaimana dengan Ayahmu sekarang?”

“Teecu tidak tahu, susiok-couw. Entah bagaimana dengan Ayah, dan kalau Teecu teringat akan Ibu...”

Sampai disini terdengar suara tangisan Liang Hong. “San-Ko, aku mau pulang, mau menjaga Ibu...,” anak ini menangis.

Bu Kek Tianglo adalah seorang yang hatinya penuh welas asih, sesuai dengan penganut agama Buddha, maka ia amat terharu melihat keadaan dua orang anak itu. Apalagi kalau ia melihat Teng San, diam-diam ia memuji ketajaman mata muridnya, karena pemuda ini benar-benar memiliki bakat yang luar biasa. Oleh karena itu, ia menerima Teng San dan Lian Hong menjadi murid Siauw-Lim-Si, dan menyerahkan pendidikan mereka kepada Ceng Seng Hwesio.

Akan tetapi, terhadap Teng San ia turun tangan sendiri memberi pelajaran ilmu silat tinggi sehingga pemuda itu mendapatkan kemajuan yang amat pesat. Selama lima tahun Teng San dan Lian Hong dilatih di dalam kelenteng Siauw-Lim-Si dan Teng San kini benar-benar telah mewarisi ilmu-ilmu silat tertinggi dari Siauw-Lim-pay.

Akan tetapi, tetap saja ia masih mengalami kesukaran untuk mewarisi I-Kin-Keng dan setelah lima tahun, baru ia mulai mendapat penjelasan tentang ilmu lweekang tertinggi dari Siauw-Lim-pay ini. Juga Lian Hong merupakan murid yang amat memuaskan hati Ceng Seng Hwesio, karena dalam usia empatbelas tahun, gadis cilik ini telah mampu melewati lorong ujian dengan selamat dan tidak terluka sedikitpun!

Pada waktu inilah ketika Siauw-Lim-Si mendapat serbuan yang menggemparkan kelenteng besar itu, serbuan yang dilakukan oleh Kwee In Hong, gadis murid Hek Moli yang amat berani dan keras hati itu! Waktu itu tepat tanggal limabelas, bulan bersinar terang dan hawa malam itu dingin bukan main, tanda bahwa musim panas sudah mulai bertukar musim.

Tak seorangpun di kelenteng Siauw-Lim-Si yang menduga bahwa malam itu tempat mereka yang disegani dan ditakuti oleh semua orang kangouw akan menerima tamu tak diundang yang amat berani. Memang sudah berpuluh tahun tidak ada orang yang berani memusuhi Siauw-Lim-Si, apalagi datang sebagai seorang tamu malam tak diundang yang bermaksud jahat. Maka para Hwesio enak-enak saja dan tidak menyangka buruk.

Apalagi karena In Hong memasuki tempat itu dengan mempergunakan ginkangnya yang sudah tinggi tingkatnya. Hanya bayangannya saja yang berkelebatan ketika ia mendaki bukit itu menuju ke kelenteng. Kemudian, dengan amat mudahnya ia melompat pagar tembok yang tinggi, yang mengelilingi semua bangunan kelenteng dan rumah tinggal para anak murid Siauw-Lim-pay. Kalau orang melihat In Hong melompat-lompat di dalam sinar bulan purnama, tentu ia akan mengira bahwa gadis ini seorang bidadari yang turun dari bulan.

Memang gadis ini amat cantik, lincah, dan pakaiannya yang serba ringkas membayangkan potongan tubuhnya yang langsing. In Hong merasa agak heran ketika melihat keadaan di dalam pagar tembok itu sunyi saja, tidak kelihatan penjaganya. Begini sajakah keadaan Siauw-Lim-Si yang tersohor kuat itu? Ia merasa lega dan setelah meneliti bahwa keadaan di dalam benar-benar aman, ia lalu melayang turun dari pagar tembok dengan gerakan ringan seakan-akan seekor burung walet menyambar.

Kedua kakinya tidak mengeluarkan suara ketika ia tiba di atas tanah dalam sebuah pekarangan yang lebar. Sambil menyelinap dan bersembunyi di dalam bayang-bayang pohon dan tembok yang gelap, gadis yang berani ini maju terus. Tiba-tiba ia melihat seorang Hwesio cilik membawa lampu berjalan perlahan. Sambil berjalan, Hwesio cilik ini mulutnya berkemak-kemik mengeluarkan suara seperti orang berdoa, agaknya ia sedang menghafal ayat-ayat Suci yang baru dipelajarinya siang hari tadi.

In Hong cepat bersembunyi ke dalam tempat gelap dan ketika Hwesio kecil itu lewat, ia melompat dan pedangnya sudah menempel pada leher Hwesio ini. Alangkah heran dan kagumnya hati In Hong ketika melihat betapa Hwesio cilik ini sama sekali tidak terkejut. Jangankan berteriak minta tolong atau melepaskan lampunya, bahkan ia memandang sambil tersenyum! Ketenangan Hwesio cilik ini membuat In Hong menjadi kagum dan malu kepada diri sendiri, maka ia menjauhkan pedangnya dari leher anak yang sudah menjadi calon Pendeta itu.

“Siauw-suhu, aku tidak berniat buruk kepadamu, hanya aku harap kau suka memberitahu kepadaku dimana adanya kamar penyimpanan kitab Siauw-Lim-Si!” bisiknya.

Memang aneh sekali Hwesio cilik ini sambil tersenyum lalu menuding ke arah kiri. “Kau hendak mencari kamar penyimpanan kitab? Lihat, bangunan di sudut kiri yang jendelanya kuning itulah tempat penyimpanan kitab.”

In Hong tertegun. “Kau tidak bohong, siauw-suhu?”

Hweesio cilik itu tersenyum dan menggeleng kepalanya yang gundul kelimis. “Kalau orang masih suka berbohong apa gunanya berada disini? Tidak, disini kau tidak bertemu dengan orang yang suka membohong.”

In Hong menggerakkan tangan hendak menotok Hwesio cilik ini agar jangan dapat bergerak atau berteriak, akan tetapi melihat muka yang jujur dan polos serta senyuman yang terbuka itu, ia menahan tangannya. “Aku takkan mengganggumu, akan tetapi kau harus berjanji takkan memberitahukan kepada siapapun juga akan kedatanganku ini.”

Kembali Hwesio cilik itu tertawa. “Lihiap, tentang kedatanganmu, siapakah yang tidak tahu? Para Suhu disini sudah tahu semua, untuk apa diberitahukan lagi?” Setelah berkata demikian, Hwesio cilik ini berjalan terus dengan lambat, lampu di tangannya bergoyang-goyang.

Untuk sejenak In Hong berdiri terpaku. Keterangan terakhir ini mengejutkan hatinya. Akan tetapi, betulkah itu? Kalau para tokoh Siauw-Lim-pay sudah mengetahui kedatangannya, mengapa mereka tidak muncul? Betapapun juga, aku sudah sampai disini dan harus kucoba mendapatkan kitab I-Kin-Keng, pikirnya. Tanpa ragu-ragu lagi In Hong lalu melompat cepat ke kiri, menuju ke bangunan berjendela kuning yang ditunjuk oleh Hwesio kecil tadi.

Untuk sampai di tempat itu, ia harus melalui beberapa ruangan dan di sana sini terdapat arca-arca Buddha sebesar orang sehingga kadang-kadang gadis ini terkejut karena dari jauh arca-arca ini seperti seorang Hwesio sedang duduk bersamadhi. Akhirnya ia sampai di sebuah ruangan dan di dekat ruangan terbuka inilah adanya kamar yang berjendela kuning. Hatinya berdebar girang dan dengan hati-hati ia mendekati kamar itu.

Di ujung ruangan itu, dekat dengan pintu kamar, ia melihat punggung sebuah patung lagi yang sebesar manusia, patung seperti arca-arca lain yang dilihatnya tadi. Maka ia tidak menaruh perhatian. Dengan langkah lebar In Hong menghampiri jendela kuning dari kayu dan sekali mencongkel dengan pedangnya, jendela itu terbuka tanpa menerbitkan suara apa-apa.

Kamar ini luas sekali dan diterangi oleh lampu besar. Ia melihat lemari-lemari yang penuh dengan buku-buku kuno dan di tengah kamar ini ia melihat seorang laki-laki sedang duduk membaca buku. Laki-laki itupun bersila dan biarpun kedua tangannya memegang sebuah kitab terbuka, namun ia tidak bergerak sama sekali. Agaknya seluruh perhatiannya dicurahkan untuk membaca isi kitab, maka ia tidak memperdulikan lain hal yang terjadi disekelilingnya.

In Hong tercengang dan ia memandang dengan mata terbelalak. Kalau ia melihat laki-laki itu seorang Hwesio gundul, ia takkan terheran. Akan tetapi laki-laki ini bukan seorang Hwesio, melainkan seorang pemuda yang tampan dengan pakaian serba putih. Ia hendak menerjang masuk, akan tetapi menarik diri kembali dan bersembunyi ketika melihat pemuda itu menggerakkan leher dan menengok ke arah jendela.

“Sampai berani merusak jendela, inilah keterlaluan sekali!” kata pemuda itu dan ketika In Hong hendak memandang ke dalam, tiba-tiba jendela itu sudah tertutup!

In Hong meraba penutup yang kini berwarna hitam itu dan ternyata bahwa yang menutup jendela secara aneh itu adalah besi yang tebal dan dingin! Ia mencoba mendorong, namun sia-sia karena besi penutup jendela itu kokoh kuat. In Hong penasaran dan sekali ia melompat, ia telah naik ke atas genteng kamar itu. Namun, ketika ia membuka genteng, ternyata bahwa dibawah genteng juga tertutup oleh lapisan besi yang tak mungkin ditembus!

“Kurang ajar!” ia memaki perlahan dan melayang turun kembali, kini ia menghampiri pintu. “Kau kira aku tidak berani menerjang dari pintu?” pikirnya. Akan tetapi, sebelum ia membuktikan ancamannya ini, arca yang tadi ia lihat punggungnya, tiba-tiba bergerak dan sudah berdiri di belakangnya.

“Nona, tak seorangpun boleh memasuki pintu ini!”

In Hong sampai mencelat setombak lebih saking kagetnya. Tidak disangkanya bahwa yang dikira arca itu ternyata seorang Hwesio gundul tua yang agaknya duduk bersamadhi di depan pintu itu! Pada saat itu, terdengar suara kelenengan perlahan yang sambut menyambut di seluruh tempat itu, maka tahulah In Hong bahwa ia sudah terkepung.

Pintu kamar itu terbuka dan pemuda yang tadi dilihatnya membaca kitab, sudah berdiri dengan pedang ditangan, sedangkan daun pintu itu tertutup sendiri dengan suara keras dan nyaring yang menyatakan bahwa daun pintu inipun terbuat daripada besi atau baja! Gagal dan aku harus cepat melarikan diri, pikir In Hong dengan kecewa.

“Nona, jalan masuk ke Siauw-Lim-Si amat mudah, namun jalan keluarnya tidak semudah kau kira,” Hwesio tadi berkata dengan nada mengejek.

“Minggir kau!” bentak In Hong sambil mempergunakan tangan kirinya.mendorong.

Hwesio itu tidak mau mengelak, sebaliknya menyambut dengan tangan kanannya. Tubuh In Hong terpental ke belakang, demikian kerasnya tenaga dorongan Hwesio itu. In Hong terkejut sekali. Lihay betul lweekang dari hweesio ini, pikirnya, maka ia tidak berani memandang ringan. Baru seorang Hwesio saja begini lihay, kalau mereka semua muncul, ia tentu takkan mampu melawan mereka semua. Cepat ia hendak lari, akan tetapi Hwesio itu sudah menghadangnya sambil tertawa,

“Coan Sim Hwesio menjaga kamar kitab takkan membiarkan kau pergi, nona,” katanya dan tangannya menyambar hendak menangkap lengan In Hong yang memegang pedang.

Nona ini menjadi marah dan cepat ia menggerakkan pedang hendak membacok lengan Hwesio itu. Lawannya ternyata memiliki gerakan yang gesit juga, karena sudah dapat menarik lengannya dan membalas dengan tendangan Loan-Hoan-Twi, yakni tendangan berantai yang dilakukan bertubi-tubi...

Jilid selanjutnya,
BAYANGAN BIDADARI JILID 07