Bayangan Bidadari Jilid 07

IN HONG cepat melompat tinggi ke belakang, dan sambil memutar tubuhnya, pedangnya menusuk dada Hwesio itu. Gerakannya demikian ringan dan cepat sehingga Hwesio ini mengeluarkan seruan kaget dan cepat mengelak sambil melompat ke belakang.
Namun In Hong tidak memberi kesempatan padanya dan terus menyerang. Pedangnya kini merupakan sinar dan bergulung-gulung menyerang Hwesio itu yang menjadi kewalahan, melompat dan mengelak ke sana ke mari.
“Pencuri nekat jangan kau kurang ajar!” tiba-tiba pedang In Hong tertangkis oleh pedang lain dan ternyata bahwa yang menangkis pedangnya adalah pemuda yang tadi membaca kitab. “Murid termuda Siauw-Lim-Si Ong Teng San takkan membiarkan pencuri pergi!”
In Hong menjadi marah. Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi ia lalu memutar pedangnya secepatnya, menyerang pemuda itu dengan jurus ilmu pedangnya yang paling lihay. Pemuda itu terkejut sekali dan buru-buru ia menangkis sambil melangkah mundur, karena serangan ini benar-benar merupakan desakan yang masih berbahaya kalau hanya ditangkis saja.
In Hong penasaran. Serangannya tadi amat lihay dan kalau lawan tidak memiliki ilmu silat tinggi tak mungkin dapat menghindarkan diri. Namun pemuda itu masih dapat mengelak dan menangkis. Selagi ia hendak mendesak terus, dari samping Coan Sim Hwesio kembali mengulur tangan mendorongnya dan kembali angin dorongan itu membuat In Hong terhuyung. Celaka pikirnya. Tidak menguntungkan kalau ia melawan terus, maka sekali kakinya dienjotkan, ia telah melayang naik ke atas genteng.
Coan Sim Hwesio dan pemuda yang bukan lain adalah Ong Teng San itu, tidak mau mengejarnya. Mereka maklum bahwa gadis itu takkan mungkin dapat keluar dari kepungan para Hwesio Siauw-Lim-Si. Betapapun juga mereka tidak mau tinggal diam dan keduanya lalu pergi melakukan penjagaan di lain tempat, Hwesio itu lari ke kanan untuk membantu penjagaan di tembok sebelah kanan, sedangkan Teng San melompat naik ke atas genteng melakukan penjagaan di atas.
In Hong berlari terus, menuju keluar. Maksudnya hendak lekas-lekas pergi dari tempat itu, apalagi setelah ia melihat dari atas betapa banyak Hwesio-Hwesio menjaga di sana sini. Tempat yang ketika ia datang nampak sunyi itu sekarang sudah berobah sama sekali. Di setiap sudut terdapat lampu penerangan.
Selagi ia mencari tempat yang dapat dilaluinya untuk melarikan diri, tiba-tiba terdengar bentakan, “Nona tak tahu aturan, tidak lekas-lekas menyerah?”
In Hong memutar pedangnya untuk menangkis ketika merasa sambaran angin datang dari sebelah kanan. Terdengar suara keras dan ujung sebatang toya terbabat putus oleh pedang Liong-gan-kiam. Hwesio yang menyerangnya berseru kaget, akan tetapi dua orang kawannya lagi maju menubruk untuk menangkap In Hong.
Nona ini melihat dirinya dikeroyok tiga orang Hwesio, tidak mau melayani dan secepat burung terbang, ia melompat turun lagi dari atas genteng. Kemudian ia berlari terus ke depan dan anehnya, tiga orang Hwesio itupun tidak mau mengejarnya. Begitu kedua kaki In Hong menginjak tanah, ia dikejutkan oleh bentakan mengguntur,
“Penjahat wanita yang berani mati mengacau Siauw-Lim-Si, lebih baik kau menyerah untuk Pinceng ikat kaki tanganmu!”In Hong melihat seorang Hwesio tinggi besar yang memegang sebatang rantai baja panjang. Darahnya naik mendengar bentakan itu. Masa ia hendak diikat dengan rantai baja yang lebih pantas untuk mengikat gajah itu? Tanpa mengeluarkan suara, pedangnya membabat dan secepat kilat ia telah melakukan serangan ke arah perut Hwesio itu dengan tusukan maut.
“Siancay... ganas betul kau!” Hwesio itu menggerakkan rantainya dan hampir saja pedang In Hong terlepas dari pegangannya ketika dua senjata itu bertemu dengan kerasnya.
Diam-diam In Hong amat terkejut. Biarpun gerakan para Hwesio di Siauw-Lim-Si ini tidak terlalu cepat, namun ia harus akui bahwa mereka rata-rata memiliki tenaga yang besar. Telapak tangannya sampai terasa pedas ketika gagang pedangnya tergetar dalam pertemuan senjata itu. Ia cepat menarik pedang dan kembali melakukan tiga jurus serangan bertubi-tubi. Namun dengan pemutaran rantai sehingga merupakan kitiran baja yang tangguh, semua serangannya gagal.
“Suheng, jangan lepaskan dia!” terdengar suara Hwesio lain membentak.
In Hong menjadi gemas sekali melihat datangnya dua orang Hwesio lain yang memegang toya. Melayani si tinggi besar dengan rantai ini saja belum tentu ia akan dapat menang secara cepat, apalagi sekarang datang pula dua orang pengeroyok. Dan ia maklum bahwa senjata toya bagi Siauw-Lim-Si merupakan senjata yang ampuh dan ilmu toya Siauw-Lim-Si amat terkenal ketangguhannya.
“Kalian memaksakan dan tidak mau membiarkan aku pergi? Baik, kalian rasakan ini!” bentaknya marah sekali dan tiba-tiba, ketika tangan kiri In Hong bergerak, sinar hitam menyambar ke arah tiga orang Hwesio itu. Inilah Toat-beng-hek-kong yang luar biasa.
Pasir hitam halus yang mengandung racun itu sukar sekali dihindarkan, apalagi dipergunakan di waktu malam. Biarpun tiga orang Hwesio itu cepat-cepat mengelak, namun masih saja mereka terkena samberan pasir dan segera terdengar suara mengaduh-aduh dari tiga orang ini.
In Hong mempergunakan kesempatan ini untuk berlari terus. Akan tetapi karena ia tidak kenal jalan dan tempat itu ternyata amat luasnya, ia tidak tahu harus mengambil jalan mana dan berlari saja dengan membuta. Ia tiba di sebuah ruangan lain yang amat terang dan ditengah-tengah ruangan ini ia melihat seorang Hwesio tua, bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam, tengah duduk bersamadhi. Sebatang toya besar menggeletak di dekatnya.
Melihat sikap yang angker dan muka yang memancarkan cahaya kelembutan itu, In Hong hendak menghindari Hwesio ini dan hendak keluar lagi dari ruangan itu untuk mengambil jalan lain. Akan tetapi, tiba-tiba Hwesio bermuka hitam itu membuka matanya dan berkata dengan suara lemah lembut.
“Nona, kau sudah memasuki Siauw-Lim-Si secara menggelap, jangan kau harap akan dapat keluar lagi. Lebih baik kau mengakulah kepada Pinceng, siapa namamu dan apa keperluanmu datang ke tempat kami ini. Ketahuilah bahwa Pinceng adalah Ceng Seng Hwesio dan Pinceng memimpin para anak murid Siauw-Lim-Si. Pinceng bukan seorang yang berhati kejam, dan kalau sekiranya menurut pertimbangan Pinceng, dosamu tidak terlalu besar, tentu kau akan Pinceng lepaskan.”
Mendengar ini, In Hong memasuki ruangan itu. Lebih baik mengakui terus terang, pikirnya. Kalau dia diampuni dan dibolehkan pergi tanpa gangguan, itu baik sekali. Sebaliknya kalau tidak diampuni, daripada menghadapi keroyokan semua Hwesio di Siauw-Lim-Si, lebih baik terlebih dulu ia menggempur Hwesio pemimpin ini! Kalau saja ia bisa membikin Hwesio ini tidak berdaya, ia dapat mempergunakan sebagai perisai untuk keluar melarikan diri.
Setelah berpikir demikian, In Hong lalu menghadapi Ceng Seng Hwesio dan berkata, pedangnya melintang di depan dada, “Lo-Suhu, terus terang saja, kedatanganku disini bukannya mengandung maksud buruk. Aku bernama Kwee In Hong dan aku adalah murid dari Hek Moli.”
“Sudah Pinceng duga, melihat gerakan pedangmu yang ganas dan melihat Toat-beng-hek-kong tadi. Teruskan, nona, kau bilang tidak bermaksud buruk, apakah maksud kedatanganmu malam-malam di Siauw-Lim-Si?” Hwesio itu memotong.
In Hong terkejut. Hwesio ini tadi duduk bersemadhi saja, bagaimana bisa ketahui semua perbuatannya? Akan tetapi ia tidak gentar, dan melanjutkan kata-katanya, “Guruku tewas oleh keroyokan orang-orang Kun-Lun-Pai dan aku telah naik ke Kun-Lun-San untuk membalas dendam. Akan tetapi aku dikalahkan oleh tenaga lweekang mereka, oleh karena itu, kedatanganku di Siauw-Lim-Si ini hanya untuk meminjam kitab I-Kin-Keng.”
“Meminjam kitab Suci Tat-mo I-Kin-Keng?” Ceng Seng Hwesio benar-benar terkejut dan heran. “Untuk apakah?”
“Untuk kupelajari isinya dan kelak tentu akan kukembalikan dengan pernyataan terima kasihku. Bahkan, kalau dengan I-Kin-Keng aku berhasil membalas sakit hati Guruku, aku kelak sambil mengembalikan kitab, rela menerima segala hukuman dari Siauw-Lim-Si. Harap kau orang tua suka mempertimbangkan dan meluluskan permintaanku.”
Mendengar ini, Ceng Seng Hwesio bangkit berdiri dan tertawa bergelak. “Lucu, lucu...! Kau anggap begitu mudah meminjam I-Kin-Keng? Ha, ha, nona, tidak sembarang manusia di kolong langit ini dapat mempelajari Tat-Mo I-Kin-Keng, apalagi dalam waktu singkat. Ini masih belum penting, yang terutama sekali, siapapun juga di dunia ini tidak dibolehkan menjamah kitab Suci itu tanpa perkenan dari Suhu, Ketua Siauw-Lim-Si. Apalagi kau datang dengan maksud hendak mencuri kitab itu. Ah, ini sebuah kedosaan besar sekali, nona. Kalau Hek Moli yang datang kesini melakukan perbuatan ini, Pinceng masih dapat memakluminya, akan tetapi kau... benar-benar kebetulan dan aneh sekali...”
In Hong tidak mengerti apa maksud kata-kata terakhir itu, akan tetapi ia sudah tidak sabar lagi dan berkata keras sambil menggerak-gerakkan pedangnya, “Lo-Suhu, bagaimana keputusanmu, boleh atau tidak?”
“Nona, kau bilang tidak bermaksud buruk, akan tetapi kau telah melukai tiga orang murid Siauw-Lim-Si dengan toat-beng-hek-kong.”
“Aku tidak sengaja, aku terpaksa karena didesak dan untuk menyelamatkan diri. Aku menyesal sekali dan inilah obat penawar untuk mereka!” kata In Hong sambil merogoh sakunya.
“Tak perlu, nona. Orang lain boleh menakuti toat-beng-hek-kong, akan tetapi Siauw-Lim-Si tidak. Kami ada obat penawar sendiri untuk senjata rahasiamu yang ganas itu. Dan tentang peminjaman kitab Suci itu, tentu saja tidak mungkin!”
“Pinjam kitab tidak boleh dan sekarang akupun tidak boleh keluar? Begitukah kebijaksanaan Siauw-Lim-Si?” In Hong sudah siap sedia untuk mengamuk.
“Tentang hal kedua, kau sudah melakukan dosa besar, sudah melakukan pelanggaran dan oleh karena itu, kau harus ditangkap dan dihadapkan Ketua Siauw-Lim-Si. Hanya Suhu yang berhak memberi keputusan. Oleh karena itu, harap kau suka menyerah.”
“Orang tua, kau sama saja dengan yang lain! Aku harus menyerah? Terimalah ini!” Tangan kiri In Hong bergerak dan sinar hitam menyambar ke arah Ceng Seng Hwesio!
Hwesio ini mengebutkan ujung lengan bajunya dan semua pasir hitam yang menyerangnya runtuh. Sebelum In Hong sempat melompat keluar, Hwesio ini sudah menyambar dengan toyanya, menyerampang kaki gadis itu. In Hong cepat melompat ke atas dan membalas serangan lawan dengan tusukan pedangnya. Tak lama kemudian keduanya sudah bertanding dengan hebatnya.
In Hong maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan berat, maka ia tidak berlaku sungkan lagi. Pedangnya bergerak cepat sekali sehingga berubah menjadi segulung sinar yang berkilauan, menyambar-nyambar dan berbahaya sekali. Ia mengerahkan seluruh kepandaiannya dan kini terlihatlah ilmu pedang yang ia warisi dari Hek Moli, ilmu pedang yang amat aneh gerakannya dan amat ganas sifatnya.
Menghadapi ilmu pedang ini, diam-diam Ceng Seng Hwesio kagum sekali. Tidak heran banyak orang roboh karena ilmu pedang yang hebat ini dari Hek Moli, pikirnya. Ia sudah memiliki banyak sekali pengalaman dan sebagai murid kepala dari Bu Kek Tianglo, tentu saja Hwesio ini memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi, belum pernah ia bertemu dengan lawan yang memiliki ilmu pedang sehebat ini, maka ia menjadi kewalahan juga menghadapinya.
Baiknya, dalam hal tenaga lweekang, In Hong masih kalah jauh sekali sehingga tiap kali toya membentur pedang, gadis itu merasa telapak tangannya seperti dibeset kulitnya, perih dan sakit bukan main. Maka ia selalu menghindari bentrokan senjata dan inilah kelemahannya sehingga ia tidak dapat mendesak lawannya.
Sebaliknya, sambaran toya di tangan Ceng Seng Hwesio mengeluarkan angin yang amat kuat. In Hong maklum bahwa kalau dilanjutkan, ia akhirnya akan kalah juga, maka lagi-lagi tangan kirinya bergerak dan dari jarak dekat sekali, pasir hitamnya menyambar ke arah muka Ceng Seng Hwesio.
“Ganas sekali...!” seru Hwesio ini yang terpaksa melompat ke belakang sambil mengibas dengan lengan bajunya agar terlepas daripada serangan maut ini. Ketika ia melihat lagi, nona itu sudah lari memasuki ruangan di sebelah kiri. Ceng Seng Hwesio tidak mengejar, bahkan tertawa, “Ha, ha, nona yang ganas. Kau memasuki Ngo-Heng-Thia (Ruangan Ngo-heng), biarlah kau mencoba kepandaianmu dengan tempat ujian Siauw-Lim-pay yang paling sulit!”
Setelah berkata demikian, Hwesio ini berdongak ke atas dan berkata keras, “Sute, kau jagalah dimulut Ngo-Heng-Thia dan cegat dia kalau keluar!”
Ong Teng San memang sejak tadi berdiri di atas genteng menonton pertempuran. Ia tadi mendengar semua kata-kata yang diucapkan oleh In Hong dan wajahnya berubah pucat. Nona itu bernama Kwee In Hong, pikirnya, tidak salah lagi, dia itulah anak perempuan dari Ibu tirinya yang dikabarkan lenyap! Pikiran Teng San menjadi tidak karuan sehingga ia kurang hati-hati dan kakinya yang menginjak genteng menerbitkan suara, maka Ceng Seng Hwesio mengetahui kehadirannya. Mendengar suara Suhengnya, ia menjawab, “Baik, Suheng...”
Cepat ia melompat turun dan berlari untuk menjaga di pintu keluar ruangan Ngo-Heng-Thia itu. Dadanya masih berdebar-debar. Apakah yang harus ia lakukan terhadap gadis itu? Teringatlah ia kepada Ibu tirinya dan teringat pula ia akan penuturan Ibu tirinya bahwa Adik tirinya yang bernama In Hong ini lenyap ketika terjadi keributan, ketika terjadi pembunuhan atas diri suami Ibu tirinya itu oleh... Ayahnya! Jadi, gadis ini adalah kurban daripada Ayahnya juga!
Ia pun mendengar kata-kata In Hong tadi bahwa Guru In Hong yang bernama Hek Moli telah terbunuh dan kini gadis ini datang untuk mencuri kitab I-Kin-Keng, untuk memperdalam ilmu silat dan kelak membalas dendam atas kematian Gurunya itu. Hal ini dapat ia maklumi. Bukankah semenjak kecil gadis ini kehilangan Ayah bundanya dan menganggap Gurunya sebagai pengganti orang tua? Sekarang Gurunya terbunuh orang, tidak terlalu mengherankan apabila gadis itu mengerahkan seluruh usaha untuk membalas dendam.
Demikianlah, dengan hati tidak karuan rasa, Teng San dengan pedang di tangan menjaga di pintu keluar Ngo-Heng-Thia, dan diam-diam ia berkhawatir sekali akan keselamatan In Hong! Ia tahu bahwa Ngo-Heng-Thia adalah ruangan untuk menguji para murid tingkat tinggi, dan merupakan tempat yang amat berbahaya. Dia sendiri baru beberapa bulan yang lalu diuji di dalam Ngo-Heng-Thia, dan biarpun ia dapat keluar dengan selamat, namun ia masih terluka pundaknya. Bagaimana dengan keadaan In Hong?
Gadis yang pemberani ini memasuki ruangan Ngo-Heng-Thia tanpa curiga sedikitpun. Ia tidak tahu bahwa tempat itu adalah tempat untuk menguji kepandaian murid yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya, maka ia berjalan terus dengan cepat. Namun ia tetap waspada, karena ia menduga, di ruangan inipun ia tentu akan menemui lawan. Ia melihat ruangan itu hanya memiliki sebuah lorong yang lebarnya kurang lebih sepuluh kaki dan agak gelap.
Tanpa curiga ia masuk ke dalam lorong ini. Alangkah kagetnya ketika ia masuk baru beberapa langkah, ia mendengar suara keras di belakangnya dan pintu lorong itu tertutup dari atas, tertutup oleh lapisan besi! Keadaan menjadi remang-remang dan tidak ada jalan kembali lagi.
“Tempat apa ini?” tanyanya seorang diri sambil berdiri diam. Ia harus membiasakan pandangan matanya di dalam tempat yang setengah gelap ini, kemudian dengan berani ia melangkah maju perlahan-lahan.
Baru kurang lebih lima langkah ia maju, tiba-tiba dari kiri terasa sambaran angin ke arah kepalanya. Cepat In Hong mengelak dengan menggerakkan kepala ke belakang sambil membabat dengan pedangnya. Terdengar suara keras dan pedangnya bertemu dengan sebuah lengan yang terbuat dari pada baja! Lengan inilah kiranya yang tadi memukulnya secara tiba-tiba, keluar dari dinding!
“Ah, kiranya tempat rahasia!” pikirnya setelah melihat lengan itu lenyap kembali. “Aku harus hati-hati sekali...” Kembali ia melangkah maju.
Tiba-tiba dari atas meluncur besi yang beratnya ratusan kati. Kalau orang tertimpa besi ini, pasti kepalanya akan hancur. In Hong mengelak cepat ke kiri, akan tetapi kembali dari kiri keluar bayangan yang menubruknya! Pada saat itu, besi yang tadi menimpa, telah tertarik dan naik kembali, karena besi itu ternyata tergantung pada sehelai tali baja yang kuat. Karena serangan bayangan yang menubruknya itu amat tidak terduga dan cepat, In Hong terpaksa mempergunakan gerakan Trenggiling Menggelundung Dari Bukit untuk mengelak.
Ia menjatuhkan diri di atas lantai dan menggelinding sambil tidak lupa membabat dengan pedangnya ke arah bayangan yang menyerangnya tadi. Ternyata bahwa bayangan itu adalah sebuah orang-orangan dari besi pula, yang digerakkan dengan alat dan keluar sendiri dari dinding kiri. Setelah tidak berhasil menubruk mangsanya, orang-orangan ini bergerak sendiri mundur dan masuk ke dalam dinding.
In Hong melompat berdiri dan duduk beberapa lama ia termenung. Benar-benar berbahaya, pikirnya. Tempat agak gelap dan semua serangan terjadi tiba-tiba, tidak dapat diduga darimana akan muncul orang-orangan itu. Dengan pedangpun tidak berguna menghalau bahaya, karena orang-orangan dari baja ini tidak terluka oleh pedang.
Ia lalu berpikir. Gerakan orang-orangan dan juga lengan yang menyerangnya tadi adalah gerakan ilmu silat, bukan penyerangan biasa. Untuk menghadapi serangan-serangan itu bahkan lebih baik kalau ia bertangan kosong, agar ia dapat mempergunakan kegesitannya untuk mengelak. Dengan pikiran ini, In Hong lalu menyimpan pedangnya, kemudian ia melangkah maju dengan hati tabah, matanya tajam memandang ke depan dan seluruh urat syarafnya menegang, waspada menghadapi segala kemungkinan.
Tidak ada jalan lain baginya, harus maju terus karena jalan belakang sudah tertutup. Ia melangkah maju lagi dan melihat bahwa lorong itu membelok ke kiri. Baru saja ia tiba di tikungan itu, tiba-tiba ia melihat sebuah orang-orangan tinggi besar yang terus saja menyerangnya dari depan. Serangan dengan jurus-jurus ilmu silat yang datangnya bertubi-tubi!
Mula-mula orang-orangan ini menjotos ke arah lehernya, lalu tiba-tiba merendahkan diri dan menendang. In Hong mempergunakan kegesitannya. Ia mengelak ke kanan dan miringkan tubuh sambil menyampok dengan telapak tangannya ketika kaki orang-orangan ini menyambar. Akan tetapi, orang-orangan ini tidak berhenti sampai disitu saja. Seperti bernyawa, orang-orangan ini terus melakukan serangan dan tiga jurus terus-menerus!
In Hong menjadi marah. Ketika orang-orangan itu menggunakan lengan besi untuk mencengkeram kepalanya, ia mengelak ke kiri dengan cepat sekali dan menggunakan telapak tangannya untuk mendorong dada patung itu. Akan tetapi, ternyata bahwa orang-orangan itu tidak dapat didorong jatuh, bahkan sebaliknya kini kedua tangan orang-orangan itu memeluknya dengan gerakan tangan dari kanan kiri, cepat bukan main!
In Hong hampir mengeluarkan teriakan terkejut, namun gadis ini memang memiliki kegesitan luar biasa, maka ia cepat merosot atau merendahkan diri, hampir berjongkok untuk menghindarkan diri dari pelukan, kemudian dari bawah ia mendorongkan kedua tangannya ke arah tubuh orang-orangan itu sekuat tenaga. Kali ini ia berhasil karena orang-orangan itu terjengkang dan roboh mengeluarkan suara hiruk-pikuk!
Bagaikan seekor burung, In Hong melompati patung itn dan baru saja kakinya menginjak lantai, dari kanan kiri, yakni keluar dari dinding kanan kiri, meluncur pedang tajam yang menusuknya dari kanan kiri. In Hong tidak mau mundur, bahkan ia maju selangkah dan mendengar desir angin dari kanan kiri, ia cepat membalikkan tubuhnya untuk menghadapi dua orang-orangan yang memegang pedang!
“Setan!” makinya. “Kalian kira aku takut?” Sambil berkata demikian, ia cepat mengelak dari sambaran pedang yang dilakukan oleh orang-orangan sebelah kiri. Pedang ini menyambar ke arah lehernya dan gerakan orang-orangan ini memang gerakan serangan ilmu silat pedang yang lihay.
Dilain saat, In Hong sudah harus menghadapi serangan bertubi-tubi dari dua orang-orangan itu. Baiknya gin-kang dari gadis ini sudah tinggi. Sekali mengenjot tubuhnya, ia telah melompat naik dan dengan sebelah kakinya, ia berdiri di atas kepala orang-orangan yang di kiri! Dengan hati geli gadis ini melihat betapa dua orang-orangan itu terus saja bergerak-gerak menyerang dengan pedang, kemudian setelah habis jurus-jurus itu dimainkan, dua orang-orangan itu tiba-tiba bergerak kembali ke dinding di kanan kiri!
In Hong cepat melompat turun dan melanjutkan perjalanannya. Hatinya mulai gembira, karena di tempat yang aneh ini ia mendapat kesempatan untuk menguji kepandaiannya, sungguhpun ujian seperti ini bukannya tidak berbahaya! Serangan dari alat-alat rahasia itu merupakan serangan sungguh-sungguh dan ia terlengah berarti ia akan tewas di tempat setengah gelap ini!
In Hong maklum bahwa ilmu silat yang digerakkan dengan perantaraan orang-orangan itu adalah ilmu silat Siauw-Lim-Si yang amat lihay dan setiap pukulan orang-orangan besi itu tentu saja amat kuat. Baiknya, dari Hek Moli ia pernah mendapat tahu biarpun serba sedikit tentang ilmu-ilmu silat tinggi dari partai-partai persilatan besar, dan pula, nona ini sudah memiliki ginkang yang hampir sempurna, maka mengandalkan ginkangnya, ia tidak merasa gelisah.
Ia maju terus dan sebentar saja berturut-turut ia harus menghadapi keroyokan orang-orangan yang berjumlah tiga orang, kemudian empat buah orang-orangan. Dengan amat susah payah, akhirnya berhasil juga nona ini melewati rintangan-rintangan ini, ia merasa lelah sekali dan juga agak pening karena apa yang ia alami benar-benar amat berbahaya. Ketika ia melewati empat orang-orangan yang mengeroyoknya tanpa terluka, tiba-tiba ketika ia melangkah ke depan, kakinya terjeblos lubang!
Kalau bukan In Hong, tentu akan terjeblos terus ke bawah. Baiknya nona ini memang amat gesit. Dengan sebelah kaki terjeblos lubang sehingga tubuhnya sudah masuk sebagian, tangannya dapat menepuk lantai di pinggir lubang dan sambil mengerahkan ginkangnya, ia dapat melompat tinggi melewati lubang itu! In Hong berdiri dengan muka pucat dan keringat dingin membasahi lehernya.
Ia menghapus keringat itu dengan saputangan, menenteramkan hatinya sambil beristirahat, kemudian ia maju lagi. Dari jauh ia sudah melihat pintu lorong itu terbuka lebar, maka hatinya menjadi girang sekali. Akan tetapi, sebelum tiba dipintu itu, ia melewati sebuah ruangan yang berbentuk bundar dan lebih luas daripada lorong yang dilaluinya tadi. Dan di ruangan itu, berdiri lima buah orang-orangan sebesar manusia, kesemuanya orang-orangan seperti Hwesio yang memegang toya!
Ia melihat bahwa pada dada setiap orang-orangan terdapat tulisan huruf besar. Yang pertama dadanya ada tulisan KIM (emas), kedua BOK (kayu), ketiga SUI (air), keempat HO (api) dan kelima TOUW (logam tanah). Inilah Ngo-Heng-Tin (Barisan Ngo-heng) yang merupakan inti daripada lorong Ngo-Heng-Thia itu. Di ruang Ngo-Heng-Thia inilah barisan Ngo-Heng-Tin telah menanti untuk melakukan ujian terakhir, ujian yang paling berat.
Lima orang-orangan itu digerakkan oleh alat-alat rahasia yang amat luar biasa sehingga gerakan mereka teratur seperti gerakan lima orang ahli silat Ngo-heng-kun dari Siauw-Lim-Si! Disini pula hanyak anak-anak murid Siauw-Lim-pay yang pandai gagal dalam ujian, bahkan belum lama ini Ong Teng San yang kepandaiannya sudah tinggi, masih mendapat luka di pundaknya ketika ia berusaha melewati rintangan terakhir ini.
Namun In Hong tidak tahu akan lihaynya lima orang-orangan ini. Bahkan ia tertawa mengejek. “Dilihat dari jauh, benar-benar seperti Hwesio-Hwesio tulen! Benar-benar Siauw-Lim-Si pandai menakut-nakuti orang!”
Ia berjalan masuk ke dalam ruangan itu dengan waspada. Baru saja kedua kakinya menginjak lantai, otomatis lima orang-orangan itu mulai bergerak. Mereka bergerak dan sebentar saja mereka itu mengurung In Hong. Ketika gadis ini memindahkan kakinya, otomatis lima orang-orangan itu mulai menyerang! Orang-orangan itu diperlengkapi dengan alat-alat dari per dan kawat-kawat halus dan di lantai itulah pusat pergerakan mereka.
Setiap kali lantai terinjak, pasti mengakibatkan gerakan mereka yang berubah-ubah, tergantung dimana orang yang dikeroyok bertindak! Rintangan terakhir ini memang berat. Setiap gerakan orang-orangan itu adalah penyerangan senjata toya yang sesuai dengan ilmu silat Ngo-heng-kun yang luar biasa. Biarpun orang-orangan tidak mengenal ilmu lweekang, namun gerakan mereka amat kuat, sedikitnya setiap sambaran toya itu mengandung tenaga tigaratus kati!
Lima batang toya menyambar-nyambar dan menyerang In Hong dari segala jurusan, dan gadis ini sebentar saja menjadi terdesak hebat dan kewalahan. Akhirnya ia menjadi nekat dan marah. Dicabutnya pedang Liong-gan-kiam dan diputarnya untuk melindungi dirinya. Berbeda dengan rintangan-rintangan yang tadi, orang-orangan yang menyerangnya selalu akan mengundurkan diri sendiri setelah penyerangan habis.
Akan tetapi, barisan Ngo-heng ini tidak demikian. Selama orang yang dikepung mereka masih berada di ruangan itu, lima orang-orangan ini masih akan menyerang terus, karena seperti telah dituturkan tadi, pergerakan mereka berpusat pada per-per di bawah lantai sehingga kalau ada orang menginjak lantai, per-per bekerja dan otomatis orang-orangan itupun bergerak menyerang dengan ilmu toya Ngo-heng-kun dari jurus-jurus yang paling lihay.
In Hong tidak melihat jalan keluar. Beberapa kali ia mencoba untuk menerobos kepungan itu dan melarikan diri, namun sia-sia. Datangnya toya-toya itu amat cepat dan amat berbahaya sehingga lagi-lagi usahanya menerobos gagal karena ia harus menyelamatkan diri dari sambaran toya. Pedangnya mengeluarkan bunyi “Trang-tring-trang!” berkali-kali ketika bertemu dengan toya-toya yang mendesaknya.
Tubuhnya lincah bergerak kesana kemari, karena tak mungkin baginya untuk menghindarkan diri dengan jalan menangkis saja. Kulit telapak tangannya sampai lecet-lecet dan napasnya mulai memburu. Keringat memenuhi jidatnya dan In Hong merasa lelah bukan-main. Ia telah maklum bahwa takkan dapat mempertahankan lebih lama. Akan tetapi sama sekali ia tidak takut, bahkan merasa penasaran dan marah sekali.
Beberapa kali ia menyebar pasir hitamnya ke arah lima orang-orangan itu seakan-akan ia menghadapi lawan terdiri dari manusia-manusia biasa. Orang-orangan itu tentu saja tidak merasakan sesuatu dan melanjutkan penyerangan mereka. Beberapa kali In Hong membacok dan mengenai tubuh orang-orangan, namun hanya bunga api yang berpijar. Ia mencoba untuk menendang, mendorong, tetap sia-sia.
Lima boneka besar ini benar-benar kuat sekali. Lima puluh jurus lebih In Hong mempertahankan diri. Ia demikian sibuk menghadapi keroyokan lima orang-orangan ini sehingga ia tidak merasa bahwa sejak tadi ada sepasang mata mengintai dari luar pintu ruangan itu dengan pandang mata kagum. Pengintai ini adalah Teng San.
Pemuda ini memang benar-benar kagum bukan main melihat cara In Hong menghadapi barisan Ngo-heng. Hebat, pikirnya. Gadis itu belum pernah mengenal Ngo-Heng-Tin, dan belum pernah mempelajari Ngo-heng-kun sehingga tentu saja tidak dapat menduga datangnya serangan-serangan toya itu. Namun, bukan saja dapat mempertahankan diri selama limapuluh jurus dengan baiknya tanpa terluka sedikitpun, bahkan masih dapat menendang, memukul dan mendorong patung-patung hidup itu!
“Sayang lweekangnya kurang kuat,” pikir Teng San. “Kalau ia berhasil mencuri kitab I-Kin-Keng dan mempelajarinya, ia akan menjadi lihay sekali dan biarpun Suhu sendiri agaknya akan sukar menghadapinya.”
Semenjak tadi Teng San memang menunggu di luar pintu, termenung dan memikirkan keadaan gadis yang dikejar-kejar, gadis yang sebetulnya masih Adik tirinya sendiri. Ia makin berduka kalau mengingat kembali kepada Ibu tirinya yang amat disayangnya seperti Ibu sendiri. Timbul rasa kasihan di dalam hatinya terhadap In Hong, terhadap Adik tirinya. Kalau sampai Adik tirinya ini mengalami malapetaka disini, bukankah Ibu tirinya akan berduka sekali?
Kemudian ia mendengar suara pedang beradu dengan toya-toya itu, maka cepat ia mengintai ke dalam dan dapat menyaksikan kelincahan In Hong. Ia menjadi kagum dan makin sayang, tidak tega membiarkan In Hong mengalami kebinasaan disitu. Setelah melihat betapa keadaan gadis itu mulai payah dan kelelahan, Teng San cepat melompat ke dalam ruangan Ngo-Heng-Thia itu. Ia lari kedinding sebelah kiri, menekan beberapa kenop dan lima orang-orangan itu tiba-tiba terdiam, tidak dapat bergerak lagi!
In Hong cepat memutar tubuh menghadapi Teng San. Pedangnya siap menyerang karena ia mengira bahwa pemuda yang tadi dilihatnya membaca kitab ini akan menangkapnya. Akan tetapi, ia melihat pemuda itu tidak memegang senjata, bahkan kini ia tahu bahwa pemuda inilah yang menghentikan pengeroyokan orang-orangan itu.
“Nona, kalau kau ingin keluar dengan selamat, lekas kau lari keluar dari ruangan ini, membelok ke kanan, terus saja sampai kau tiba di pagar tembok dan melompati pagar itu. Aku akan mengejarmu dari belakang dan kau jangan melayani semua rintangan."
In Hong tertegun. Ia tidak tahu mengapa pemuda yang tampan dan halus sekali gerak geriknya ini berusaha menolongnya, sedangkan tadi menyerangnya dengan sungguh-sungguh! Ia juga masih belum percaya betul-betul, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, tidak ada jalan lain kecuali menurut nasihat ini. Ia hanya menganggukkan kepala dan segera melompat keluar.
Betul saja, di depan pintu ruangan Ngo-Heng-Thia ini terdapat tiga jalan simpangan, satu lurus ke depan, kedua membelok ke kiri dan ketiga membelok ke kanan. Ia mengambil jalan ketiga ini, menikung ke kanan dan terus berlari cepat, pedangnya masih siap di tangan dan pasir hitam di tangan kiri. Ketika In Hong menengok, ia melihat pemuda tadi benar-benar mengejarnya dengan ilmu lari cepat yang tinggi pula. Dan kini pemuda itu telah memegang sebatang pedang!
“Kau hendak lari kemana?” pemuda itu membentak sambil mengejar terus. Dari depan mendatangi tiga orang Hwesio gundul yang bertugas menjaga disitu. Mereka ini memegang toya dan melihat kedatangan In Hong, mereka langsung menyerang dengan gerakan kilat.
In Hong mengelak sambil memutar pedang, terdengar suara, “Cring, traang!” dan ujung sebatang toya kena dibikin buntung! Namun, taat akan nasihat pemuda tadi, In Hong tidak melayani terus dan cepat melompat tinggi dan melanjutkan larinya lurus ke depan. Ia tidak menengok lagi dan hanya mendengar suara pemuda tadi berkata keras,
“Sam-wi tak usah mengejar, biarkan siauwte yang menangkapnya!”
In Hong berlari terus dan sekali lagi ia menengok, ia melihat pemuda itu masih terus mengejarnya dengan pedang di tangan! Ia tidak mengerti akan sikap pemuda ini. Mengapa ia hendak menolongnya, pikir In Hong. Akan tetapi pada saat seperti ini, tidak ada waktu lagi baginya untuk menyelidiki hal itu. Ia sudah amat lelah, kedua kakinya sudah mulai gemetar dan kedua tangannya lemas. Juga kedua telapak tangannya lecet-lecet mengeluarkan darah.
Malam sudah lewat dan pagi mulai menampakkan diri. Setengah malam lamanya In Hong berputaran di dalam kurungan Siauw-Lim-Si ini! Setengah malam lamanya ia bertemu dengan lawan berganti-ganti, melakukan pertempuran puluhan kali banyaknya. Kembali lima orang Hwesio mencegat di depan. In Hong mengeluh. Celaka aku sekarang, pikirnya. Lima orang Hwesio itu adalah Hwesio-Hwesio tua dan mereka semua memegang sebatang toya dengan cara seperti yang dilakukan oleh lima orang-orangan tadi!
Baru menghadapi keroyokan lima orang-orangan saja, ia sudah hampir celaka, apalagi sekarang kalau harus menghadapi keroyokan lima orang Hwesio tulen sedangkan keadaannya sudah amat lelah, sudah dapat dibayangkan akibatnya!
Lima orang Hwesio itu menghadang dan melihat nona yang dikejar-kejar itu datang, seorang di antaranya berkata dengan bengis, “Jangan harap bisa lari sebelum menghadapi Ngo-Heng-Tin dari Siauw-Lim-Si!”
In Hong terkejut. Apa yang ia takuti memang benar-benar. Lima orang Hwesio tua ini tentu sama dengan lima orang-orangan tadi. Ia masih ingat huruf-huruf yang merupakan Ngo-heng pada dada orang-orangan tadi. Kalau Ngo-Heng-Tin (barisan Ngo-heng) boneka saja sudah demikian lihaynya, apalagi sekarang Ngo-Heng-Tin tulen. Namun In Hong tak dapat memikirkan jalan lain. Diam-diam ia mendongkol sekali dan merasa ditipu oleh pemuda itu.
Sudah terang bahwa pemuda itu sengaja menggiringnya supaya menghadapi Ngo-Heng-Tin yang tangguh ini. Jadi pemuda itu tak lain hanya memancingnya, agar ia mudah ditawan dengan bantuan Ngo-Heng-Tin. Kurang ajar! In Hong marah sekali dan ia sudah siap hendak mempergunakan toat-beng-hek-kong, pasir hitamnya.
Akan tetapi, tiba-tiba ia mendengar suara halus dari belakang, suara yang dibisikkan dengan penyaluran tenaga khikang sehingga yang dapat mendengar hanya dia sendiri, tidak sampai terdengar oleh lima orang Hwesio yang berada jauh di depan itu, “Nona, jangan menggunakan hek-kong!”
Selagi In Hong termangu-mangu dan ragu-ragu, terdengar pemuda itu berkata dengan lantang, “Ngo-wi Suheng, harap membuka jalan, biarkan siauwte menangkapnya sendiri. Ini merupakan ujian bagi siauwte dan demikian pula perintah twa-suheng!”
Lima orang Hwesio itu ketika mendengar suara Teng San, tidak ragu-ragu lagi. Mereka semua maklum bahwa ilmu kepandaian Teng San, Sute mereka yang termuda ini, sudah amat tinggi, bahkan akhir-akhir ini, Teng San mendapat kepercayaan untuk menerima ilmu sakti I-Kin-Keng! Maka mereka tersenyum dan melompat minggir sehingga ketika In Hong yang berlari cepat menerobos masuk, mereka tidak mengganggu. Bayangan In Hong berkelebat cepat di depan mata mereka, disusul oleh bayangan Teng San yang tak kalah cepatnya.
“Siauw-Sute, hati-hatilah, dia lihay dan ganas sekali!” kata seorang Hwesio kepada Teng San.
“Baik, Suheng...”
Kejar mengejar ini berjalan terus dan tanpa ada perintang lagi, In Hong akhirnya tiba di bawah pagar tembok. Gadis ini telah berdebar hatinya, ia merasa malu kepada diri sendiri yang tadi menyangsikan kebaikan hati pemuda ini. Ah, siapakah dia dan mengapa ia benar-benar berusaha menolongku? Terang dia seorang murid Siauw-Lim yang lihay, mengapa ia tidak menawanku, bahkan menolongku melarikan diri? Namun In Hong terus saja melompat ke atas tembok.
Tiba-tiba ia melihat seorang gadis cilik nongkrong di atas pagar tembok itu dan memujinya, “Cici, kau lihay sekali ilmu ginkangmu, juga kau cantik sekali seperti bidadari!”
In Hong tercengang. Bagaimana seorang gadis cilik semuda ini dapat naik ke atas pagar tembok? Biarpun In Hong amat tertarik melihat seorang gadis cilik yang duduk di atas pagar tembok, namun ia tidak berani berlaku lambat. Yang amat menarik hatinya adalah wajah gadis yang cantik itu seakan-akan ia pernah mengenalnya.
Bahkan seakan-akan gadis itu seringkali dilihatnya. Akan tetapi dimana? Ia hanya tersenyum manis kepada gadis yang usianya paling banyak empat belas tahun itu, lalu melompat turun keluar pagar tembok sambil berkata, “Adik yang manis, hati-hati jangan sampai kau jatuh dari atas!”
In Hong masih mendengar pemuda yang bernama Ong Teng San dan yang secara aneh sekali telah menolongnya melarikan diri itu berkata kepada gadis cilik di atas tembok, “Lian Hong, turun kau!”
“Koko, orang lain semalam suntuk bermain-main dengan cici yang gagah itu, apakah aku tidak boleh menonton?” jawab gadis cilik itu, akan tetapi selanjutnya In Hong tidak mendengar apa-apa karena ia sudah lari jauh.
Sementara itu Teng San dan Lian Hong yang sudah berdiri di atas pagar tembok, tidak melanjutkan pengejaran. Teng San menarik napas lega karena melihat In Hong berhasil melarikan diri. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan,
“Siauw-Sute, bagaimana kau berani melepaskan pengacau itu? Apakah kau tidak takut mendapat marah dari Suhu?”
Lima bayangan orang berkelebat dan lima orang Hwesio yang tadi membentuk Ngo-Heng-Tin telah berdiri di atas tembok menghadapi Teng San! Gerakan mereka demikian cepat dan ringan ketika melompat ke atas sehingga dari gerakan ini saja sudah dapat diukur akan tingginya tingkat kepandaian mereka.
Teng San tidak berani membohong. Sambil menundukkan kepalanya ia menjawab, “Suheng sekalian, nona itu sudah cukup terhukum, semalam suntuk telah diserang, didesak, bahkan telah pula berkenalan dengan Ngo-Heng-Thia sehingga ia kehabisan tenaga dan mungkin menderita luka-luka. Biarpun ia telah melakukan dosa dengan mengacau dan akan melakukan pencurian, akan tetapi belum ada sesuatu yang tercuri. Siauwte menganggap bahwa ia sudah cukup terhukum. Untuk ini siauwte mengaku salah dan bersedia diberi hukuman.”
“Sute, bukan kau dan juga bukan Pinceng sekalian yang berhak memutuskan hukuman, melainkan Suhu sendiri. Lebih baik kau membantu kami mengejarnya.”
Pada saat itu, berkelebat bayangan lain yang luar biasa cepatnya, disusul suara Ceng Seng Hwesio, “Suhu memberi perintah agar supaya bocah pengacau itu ditangkap dan dihadapkan kepada Suhu untuk diperiksa!”
Tanpa berhenti di atas tembok, tubuh Ceng Seng Hwesio sudah melesat lewat. Lima orang Hwesio itupun tanpa berkata apa-apa lagi cepat mengejar twa-suheng (kakak seperguruan tertua) mereka.
Teng San menjadi serba salah, akan tetapi karena pengejaran sekarang ini adalah atas perintah Suhunya, iapun tidak berani tinggal diam. “Adik Lian Hong, kau kembalilah ke kamarmu.”
“Tidak, aku ikut mengejar!” seru gadis cilik itu yang mendahului Kakaknya melompat keluar tembok dan menyusul para Hwesio yang sudah berlari cepat. Dalam hal ilmu ginkang, Lian Hong tidak ketinggalan jauh. Memang gadis cilik ini memiliki gerakan lincah sekali, maka setelah dengan tekun mempelajari ilmu silat di Siauw-Lim-Si selama kurang lebih tujuh tahun, ia dapat mempergunakan ilmu lari cepat yang cukup hebat.
Lian Hong berwatak periang dan biasanya penurut, akan tetapi sekali gadis cilik ini mempunyai kehendak, sukar dihalangi. Teng San mengetahui baik akan watak Adiknya itu, maka ia tidak mencegah ketika Lian Hong ikut melakukan pengejaran.
Demikianlah, pada saat matahari mulai muncul, di luar kelenteng Siauw-Lim-Si, terjadi kejar mengejar yang tentu akan mengherankan orang luar. In Hong sudah lelah sekali, maka larinya tidak begitu cepat lagi. Selain ini, ia juga tadinya mengira bahwa ia sudah terlepas daripada ancaman orang-orang Siauw-Lim-pay yang ternyata luar biasa lihaynya itu. Dengan jengkel dan kecewa ia berlari terus, tidak begitu cepat, memasuki sebuah hutan yang liar.
Akan tetapi, tengah ia berlari itu, terdengar bentakan nyaring dari belakang, “Bocah setan, kau hendak lari kemana?”
In Hong menengok, kagetlah ia. Lima orang Hwesio yang dikenalnya sebagai barisan Ngo-Heng-Tin, dikepalai oleh Hwesio tangguh yang pernah ia rasai kelihayannya dan keunggulannya bermain toya, yakni Ceng Seng Hwesio. Dan di belakang rombongan ini, ia melihat pula pemuda Ong Teng San dan Adik perempuannya!
“Kalian mendengar? Baik, aku Kwee In Hong tidak takut mati!” katanya gemas sekali dan begitu rombongan itu datang dekat, In Hong lalu menyerang mereka dengan Toat-beng-hek-kong, pasir hitam beracun yang amat lihay itu.
Akan tetapi, semua pasir hitam ini dapat dikibas runtuh oleh ujung lengan baju Ceng Seng Hwesio yang segera memberi komando, “Tangkap bocah ganas ini!”
Ngo-Heng-Tin bergerak dan dilain saat, In Hong sudah dikurung di tengah-engah! Ngo-Heng-Tin sudah hebat, apalagi ditambah oleh Ceng Seng Hwesio, maka kini enam buah toya dipalangkan, mengurung dan menutup semua jalan keluar. Teng San dan Lian Hong yang sudah tiba di tempat itu hanya berdiri menonton. Lian Hong biarpun belum tahu bahwa In Hong adalah Kakak tirinya, namun bocah ini merasa suka sekali kepada In Hong dan karenanya ia tidak mau membantu pengepungan itu.
“Kalian hendak menangkapku? Boleh, kalau aku sudah menjadi mayat!” bentak In Hong yang cepat mengerjakan Liong-gan-kiam, menyerang membabi-buta.
Akan tetapi kali ini ia menghadapi lawan yang terlampau kuat. Baru menghadapi seorang Ceng Seng Hwesio saja, belum tentu ia menang. Kini masih ada Ngo-Heng-Tin yang demikian kuatnya, maka sebentar saja ia sudah lelah sekali. Semua serangan pedangnya membentur toya yang amat kuat. Iweekang dari enam orang Hwesio itu rata-rata lebih tinggi dari pada tenaganya sendiri, maka sebentar saja tangan kanannya menjadi lelah bukan main.
Gadis ini menggigit Bibir dan memindahkan pedang di tangan kiri, lalu mengamuk lebih hebat lagi. Berkali-kali Ceng Seng Hwesio memperingatkan lima orang Sutenya agar jangan melukai In Hong dan agar menawan gadis itu tanpa melukainya. Hal inilah yang menolong In Hong, karena kalau tidak demikian, kiranya sebentar saja ia akan roboh terpukul toya. Menangkap In Hong hidup-hidup tanpa melukainya masih jauh lebih sukar daripada menangkap seekor harimau betina yang mengamuk ganas.
Malihat ini, Ceng Seng Hwesio menjadi penasaran dan malu. Benar-benar memalukan sekali kalau dilihat oleh orang-orang kangouw. Enam orang tokoh besar Siauw-Lim-Si masih tidak mampu membekuk seorang gadis muda setelah pertempuran demikian lama? “Nona, lebih baik kau menyerah untuk kami hadapkan kepada Ketua Siauw-Lim-pay agar kau dapat diadili. Kalau tidak, terpaksa Pinceng melukai kakimu agar kau dapat ditawan!” katanya.
In Hong tertawa mengejek. “Hwesio bau! Kau kira aku gentar mendengar ancaman dan gertak sambalmu? Mau pukul boleh pukul, mau bunuh boleh bunuh, siapa takut?”
“Bagus, kau memang tiada bedanya dengan Hek Moli, siluman wanita itu. Rebahlah!” Setelah berkata demikian Ceng Seng Hwesio merobah gerakan toyanya, demikian pula barisan Ngo-Heng-Tin. Sebentar saja keadaan berobah.
Kalau tadi In Hong yang selalu menyerang dan membentur benteng toya, kini semua toya menyerangnya dan ia sibuk menangkis dan mengelak. Akhirnya, toya Ceng Seng Hwesio mengenai paha kirinya! In Hong menggigit Bibir menahan keluhan, sehingga dari mulutnya tidak terdengar suara. Padahal rasa sakit di pahanya sampai menembus ke tulang sungsum.
Biarpun ia dapat mempertahankan diri dan tulang pahanya tidak patah, namun urat dan daging pahanya telah terluka sehingga rasanya sakit bukan main. Tadi Ceng Seng Hwesio masih menaruh hati kasihan sehingga pukulan itu dilakukan dengan tenaga sepertiga saja. Kalau Hwesio ini berlaku kejam, pasti tulang paha gadis ini telah patah-patah.
Pada saat itu, In Hong masih bertahan, bahkan mengamuk dengan nekad. Tiba-tiba telinga gadis ini mendengar suara halus, seakan-akan ada orang berbisik didekat telinganya, “Murid Hek Moli, kau larilah ke kiri dan masuk ke dalam gua yang terletak di dekat pohon pek!”
In Hong heran sekali, akan tetapi ia menurut nasihat ini. Dengan putaran pedangnya ke kiri secara hebat dan ganas, ia dapat membuat para pengepung yang berada di sebelah kiri melompat minggir. Cepat ia menerobos bagian ini sambil memutar pedang dan tangan kirinya menyebar toat-beng-hek-kong, kemudian sambil menyeret kaki kirinya, ia terpincang-pincang melarikan diri ke sebelah kiri.
Ceng Seng Hwesio diam-diam merasa kagum sekali melihat daya tahan yang luar biasa dari gadis itu. Orang lain, biar laki-laki gagah sekalipun, kalau sudah terluka seperti itu, pasti akan menyerah. Apalagi menyerah bukan untuk dibunuh musuh, hanya untuk diadili oleh Ketua Siauw-Lim-pay yang terkenal adil dan penuh welas asih hatinya. Mengapa gadis ini begitu keras-kepala?
“Nona, laripun takkan ada gunanya. Lebih baik kau menyerah!” katanya sambil mengejar bersama lima orang Sutenya.
Teng San juga ikut mengejar. Maka pemuda ini pucat sekali dan di dalam hatinya ia mengeluh. Ia merasa kasihan sekali kepada gadis yang dikaguminya. Ingin ia membantu dan menolong, akan tetapi tentu saja ia tidak berani menghianati Suheng-suhengnya. Juga Lian Hong diam saja dan gadis cilik inipun merasa kasihan kepada In Hong.
“Koko, mengapa cici itu begitu nekat? Kalau ia menurut saja dengan baik-baik dibawa menghadap Suhu, tentu ia tidak mengalami luka dan dikejar-kejar.”
“Diamlah, Lian Hong. Mari kita lihat saja bagaimana akhirnya. Kalau nona itu hendak dibunuh oleh para Suheng kita harus mencegah dan mintakan ampun.”
Lian Hong menoleh dan memandang wajah Kakaknya yang pucat. Ia tidak tahu mengapa Kakaknya begitu menaruh perhatian kepada gadis yang dimusuhi oleh Siauw-Lim-pay itu, akan tetapi ia sendiripun takkan rela kalau Suheng-suhengnya membunuh gadis itu.
In Hong berlari sambil terpincang-pincang. Tak jauh dari situ memang terdapat pohon pek yang besar. Ketika tiba dibawah pohon, ia sudah hampir tidak kuat menahan rasa sakit di pahanya. Kepalanya sudah pening dan tenaganya sudah hampir habis. Alangkah girangnya ketika ia melihat bahwa betul saja, tak jauh dari pohon itu, terdapat sebuah gua yang besar dan di depan gua penuh oleh rumput alang-alang. Gua itu nampak menyeramkan dan hanya patut menjadi tempat bersembunyi binatang-binatang buas.
Akan tetapi In Hong tidak ambil perduli dan tidak berpikir panjang pula, cepat ia melompat masuk ke dalam gua. Kakinya terlibat rumput alang-alang dan ia jatuh menggelinding ke dalam gua dan baru berhenti ketika tubuhnya tertahan oleh sesuatu. Hampir saja gadis yang tabah ini mengeluarkan teriakan kaget ketika ia membuka matanya dan melihat bahwa ia telah tertahan oleh tubuh seorang Kakek yang menyeramkan sekali.
Kakek ini nampak tua, kurus seperti tengkorak, hanya tulang terbungkus kulit saja. Yang kelihatan hidup hanya sepasang matanya yang lebar dan bergerak-gerak mengeluarkan cahaya berpengaruh. Yang lebih menyeramkan lagi, Kakek ini sudah buntung semua kaki tangannya. Kedua lengan buntung sebatas pergelangan tangan, sedangkan kedua kakinya buntung sebatas lutut! Pakaiannya compang-camping danKakek ini duduk melonjorkan kedua paha yang tidak berkaki lagi, kedua tangannya bersedekap kelihatan mengerikan karena tidak ada tangannya.
Sebelum In Hong sempat membuka mulut, Kakek itu bertanya dengan suara halus, suara yang dikenal oleh In Hong karena tadi yang berbisik didekat telinganya juga suara ini, “Benarkah kau murid Hek Moli? Siapa namamu?”
In Hong ingat akan pesan Gurunya bahwa di dunia ini memang ada orang berilmu tinggi yang lweekangnya sudah demikian hebat sehingga dapat mengirim suara dari jauh, ditujukan kepada orang yang dimaksud saja sehingga suara itu hanya terdengar oleh orang itu dan tidak terdengar oleh lain orang. Kakek ini tentu seorang berilmu tinggi, pikirnya. “Teecu bernama Kwee In Hong, memang betul Teecu murid tunggal dari Hek Moli.”
“Mengapa kau dikejar-kejar oleh para Hwesio Siauw-Lim-pay?”
“Guru Teecu tewas dalam tangan orang-orang Kun-Lun-Pai, ketika Teecu hendak membalas dendam disana, Teecu kalah oleh tokoh-tokoh Kun-Lun-Pai. Karena itu Teecu datang ke Siauw-Lim-Si untuk mencuri kitab I-Kin-Keng karena Teecu hanya kalah dalam tenaga lweekang. Teecu hendak mempelajari isi kitab itu dan kelak hendak membalas dendam lagi. Tak tahunya Teecu bukan saja tidak berhasil, bahkan dikalahkan oleh para Hwesio Siauw-Lim dan hendak ditawan.”
Kakek itu tertawa, suara ketawanya aneh menyeramkan, jauh bedanya dengan suara halus ketika ia bicara. “Jangan takut, duduklah di depanku dan kalau mereka datang, kau lawanlah sambil duduk.”
In Hong menurut dan bangun karena tadi ia masih setengah rebah, tubuhnya lemas bukan main. Ia duduk dengan kaki gemetar dan mencoba bersila..“Lo-Cianpwe, dengan berdiri dan mengeluarkan seluruh kepandaian saja Teecu masih tak sanggup menang, bagaimana Lo-Cianpwe menyuruh Teecu melawan mereka sambil duduk?” tanyanya dengan penasaran dan juga jengkel, mengira Kakek ini main-main.
“Kau keras kepala seperti Gurumu! Jangan kau banyak membantah kalau ingin selamat! Hayo bersiap, kalau mereka menyerang, kau menangkis dan balas menyerang dengan pedangmu!”
Setelah berkata demikian, tiba-tiba In Hong merasa punggung dan lehernya tersentuh oleh ujung lengan buntung itu. Ia merasa geli karena lengan buntung itu lunak sekali, akan tetapi tiba-tiba ada hawa yang panas memasuki tubuhnya dari punggung dan leher dan seketika itu juga rasa sakit-sakit dan lelah ditubuhnya terusir pergi!
“Bocah ganas, kau hendak sembunyi kemana? Lebih baik menyerah saja agar kami tak usah mempergunakan kekerasan!” terdengar suara Ceng Seng Hwesio yang memasuki gua itu, diikuti oleh lima orang Sutenya. Di belakang sekali Teng San dan Lian Hong, akan tetapi dua orang muda ini tidak ikut masuk, hanya menanti di luar.
Gua itu amat besar maka enam orang Hwesio Siauw-Lim-pay dapat masuk berbareng dan mereka segera berhadapan dengan In Hong. Tubuh Kakek itu tidak kelihatan, tertutup oleh tubuh In Hong. Biarpun Kakek itu sebenarnya lebih jangkung, akan tetapi entah bagaimana, setelah enam orang Hwesio itu masuk gua, tubuh Kakek itu mengecil dan terhalang oleh tubuh In Hong sehingga tidak kelihatan oleh para Hwesio.
Melihat In Hong duduk bersila dengan pedang di tangan kanan dan mata memandang tajam, Ceng Seng Hwesio tercengang. Ia menduga bahwa gadis itu tentu menderita kesakitan hebat pada pahanya, akan tetapi benar-benar tidak disangkanya bahwa setelah kini lumpuh, gadis itu masih menanti dengan pedang di tangan sambil duduk bersila, nampaknya tenang dan menantang!
“Nona, sudah lama Pinceng hidup, sudah banyak Pinceng menjumpai orang-orang gagah, akan tetapi baru sekali ini Pinceng bertemu dengan seorang muda yang keras kepala seperti kau! Gurumu sendiri, Hek Moli, agaknya tidak demikian keras kepala. Mengapa kau mempersukar kami? Lebih baik kau menyerah dan dengan sukarela. Ikut dengan kami ke Kuil untuk menghadap Guru kami. Kau sudah bersalah, mengacau Siauw-Lim-Si, mengapa untuk menghadap Suhu dan menerima salah saja kau enggan?”
“Hm, setan-setan gundul bau busuk! Kalian ini orangtua-orangtua tak tahu malu semalam suntuk sudah mengurung, mengeroyok dan mendesak aku. Sekarang aku sudah berada disini, tak dapat lari lagi, kalian mau apa? Jangan harap akan dapat memaksaku ikut dan minta-minta ampun, kalau kalian mau bunuh, boleh maju, aku tidak takut!”
“Ah, benar-benar siluman betina! Nona kecil bernyali siluman! Liok-Sute, kau tangkap dia,” seru Ceng Seng Hwesio marah.
Orang kelima dari barisan Ngo-Heng-Tin yang disebut Liok-Sute (adik seperguruan keenam) melangkah maju, toyanya digerakkan. Ia tidak mau menyerang tubuh In Hong, hanya mengerahkan tenaga untuk memukul pedang di tangan nona itu agar terlepas dari pegangan, karena kalau pedang itu sudah terlepas, akan lebih mudah menawannya.
In Hong maklum bahwa pukulan toya itu keras dan hebat sekali dan tadi sudah dirasai kelihayan tenaga para Hwesio ini. Tenaganya sendiri sudah hampir habis dan kalau tadi menangkis pukulan toya ini, pasti pedangnya akan terlepas dari pegangannya. Akan tetapi, kali ini ia tidak bisa seperti tadi mempergunakan kelincahannya mengelak, maka terpaksa ia mengangkat pedang menangkis toya itu. Terdengar suara keras dan hampir berbareng enam orang Hwesio itu mengeluarkan seruan kaget.
Juga In Hong merasa heran sekali akan kesudahan dari benturan senjata ini. Ia merasa seakan-akan ada dorongan tenaga dari belakang dan tenaga ini merupakan hawa hangat yang menjalar sampai ke tangan kanannya yang memegang pedang. Ketika senjatanya menangkis toya, ia hanya merasa getaran hebat, akan tetapi tidak terpengaruh apa-apa, pedangnya tidak terlepas bahkan membuat keras sehingga toya itu menjadi patah!
Potongan toya melayang ke atas dan menancap pada dinding gua sedangkan Hwesio itu sendiri tertolak ke belakang dan jatuh bergulingan seperti daun tertiup angin! Tentu saja hal ini mengagetkan semua orang. Dua orang Hwesio menjadi penasaran dan berbareng mereka maju dengan toya digerakkan.
Toya pertama datang dari arah kiri, menghantam pedang di tangan In Hong dengan gerakan menyamping. Sedangkan toya dari Hwesio kedua meluncur ke arah pundak kanan In Hong dengan maksud menotok jalan darah atau melukai pundak sehingga boleh dibilang kedua serangan ini bermaksud sama, yakni merampas senjata nona itu.
Melihat serangan dari kanan kiri ini, In Hong terkejut sekali. Pedangnya cepat membentur toya dari kiri, akan tetapi pada saat itu, toya dari kanan telah menotok pundaknya. Kembali terjadi keanehan yang sukar dipercaya. Toya dari kiri itu terkena sampokan pedang, biarpun tidak putus akan tetapi terlepas dari pegangan dan membalik lalu memukul Hwesio itu sendiri, tepat kena kepalanya yang gundul sehingga menimbulkan suara keras dan kepala itu timbul benjol sebesar kepalan tangan! Adapun toya yang menotok pundak kanan In Hong, seakan-akan mengenai karet saja dan toya ini membal kembali.
Hwesio yang menotoknya berseru keras karena tenaga totokannya kembali dan menyerang tangannya sendiri sehingga ia terpaksa melepaskan toyanya dan melompat ke belakang dengan muka pucat. In Hong sendiri tidak merasa apa-apa, seakan-akan pundaknya dilindungi oleh baja yang kuat. Dua orang Hwesio lagi menjadi marah.
Sambil berseru keras toya mereka bergerak, kini tidak sungkan lagi dan bukan hanya hendak merampas pedang karena toya ini yang satu mengemplang kepala In Hong sedangkan yang kedua menusuk ke arah ulu hati. Pendeknya, kedua toya ini mengirim serangan maut!
Ceng Seng Hwesio mengeluarkan seruan kaget, mencegah kedua Sutenya melakukan serangan keji itu, akan tetapi terlambat karena toya itu sudah menyambar laksana dua ekor harimau menubruk.
Melihat serangan ini, biarpun In Hong berkepandaian tinggi dan bernyali besar, tetap saja gadis ini merasa ngeri dan putus asa. Ia hanya melakukan gerakan pedang melindungi diri, memutar pedang itu untuk menjadi perisai. Ia maklum bahwa gerakannya ini lemah saja dan tak mungkin dapat menghalangi dua senjata lawan yang mengarah nyawanya. Namun, dalam memutar pedangnya, kembali ia merasa punggung dan lehernya panas dan otomatis tangannya yang memegang pedang itu menyambar cepat.
Terdengar bunyi keras lagi dan dua batang toya itu terlempar, pedangnya dengan aneh seakan-akan tak dapat dikuasai lagi oleh In Hong, terus meluncur dan tubuhnya condong ke depan. Dalam sekejap mata, dua orang Hwesio itu memekik kesakitan dan kaki kanan mereka mengucurkan darah karena terluka oleh goresan pedang!
“Omitohud...!” Ceng Seng Hwesio memuji nama Buddha ketika ia melihat keanehan ini. Ia menjadi curiga sekali karena ia melihat bahwa dalam tiga gebrakan berturut-turut dimana In Hong merobohkan atau mengalahkan lima orang Hwesio Ngo-Heng-Tin, gadis itu hanya bergerak sembarangan saja. Sudah jelas bahwa kekalahan lima orang Sutenya itu bukan karena ilmu silat, melainkan karena tenaga lweekang yang luar biasa menghantam mereka dari pedang gadis itu. Ceng Seng Hwesio melangkah maju.
In Hong yang kini maklum bahwa ia dilindungi olehKakek tua renta di belakangnya, menjadi besar hati. Ia tersenyum mengejek dan berkata, “Hwesio gundul, apakah kau juga masih hendak menawan?”
Ceng Seng Hwesio tidak marah, hanya terheran-heran dan penasaran. Ia telah menyaksikan kelihayan gadis ini pada malam hari tadi di Siauw-Lim-Si, dan biarpun ia harus akui bahwa ilmu pedang gadis ini luar biasa ganas dan lihaynya, namun dalam hal ilmu lweekang, gadis ini masih terhitung lemah. Bagaimana sekarang tiba-tiba saja dapat menjadi begitu kuat? Apakah tiba-tiba gadis itu mendapatkan ilmu yang aneh?
Tak mungkin, andaikata mendapatkan ilmu juga, tak mungkin dapat dilatih dan dimiliki dalam waktu singkat. Apalagi, baru saja gadis itu telah terkena pukulan toyanya pada pahanya dan ia melihat sendiri gadis itu melarikan diri lalu masuk ke dalam gua. Bagaimana dan bila gadis itu mendapat ilmu yang aneh?
Karena penasaran sekali, Ceng Seng Hwesio hendak mencoba dengan toyanya sendiri. Ia mengayun toya sambil berseru keras, “Lepaskan pedang!”
Dalam sambaran toyanya ini, ia mempergunakan seluruh tenaga dalamnya. Dalam hal lweekang, Ceng Seng Hwesio sudah dapat dikatakan tinggi dan hanya di bawah Suhunya, Bu Kek Tianglo. Memang betul dia sendiri belum dapat mewarisi ilmu I-Kin-Keng, akan tetapi tenaga lweekangnya sudah mencapai tingkat yang tinggi di dunia kangouw, jarang sekali ia bertemu tandingan. Kini, karena penasaran ia mengerahkan seluruh tenaganya, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya sambaran toya itu!
Kalau menurut perhitungan dan kalau sewajarnya, tidak saja In Hong takkan kuat menahannya, bahkan selain pedangnya akan terlepas, tentu gadis itu akan roboh pula karena serangan hawa pukulan itu akan melukai anggauta di dalam tubuh. In Hong cepat mengangkat pedang menangkis. Dua senjata bertemu, api berpijar mengeluarkan cahaya menyilaukan di dalam gua yang agak gelap itu. Dua tenaga dahsyat yang tidak kelihatan bertemu dalam benturan pedang dan toya.
In Hong mengeluarkan keluhan perlahan karena telapak tangan gadis ini tidak dapat tahan menghadapi benturan ini. Sebaliknya Ceng Seng Hwesio juga berseru kaget, toya dan pedang terlepas dari tangan masing-masing, toyanya melayang dan hampir saja menghantam seorang Sute dari Ceng Seng Hwesio yang cepat mengelak sehingga toya itu meluncur dan menancap didinding gua. Sedangkan pedang In Hong melayang ke atas dan menancap pada langit-langit gua!
Ceng Seng Hwesio berdiri seperti patung, matanya terbelalak, penuh keheranan. Ia tadi merasa betapa dari pedang gadis itu menyambar hawa pukulan yang luar biasa sekali dan ia harus mengaku bahwa dalam benturan tenaga tadi, ia masih kalah jauh sehingga tenaganya sendiri membalik dan terpaksa toyanya terlepas dari pegangan dan meluncur ke belakang.
Memang, melihat kemana dua senjata itu meluncur, sudah dapat diketahui siapa yang lebih unggul dalam adu tenaga tadi. Toya di tangan Ceng Seng Hwesio membalik dan meluncur ke belakang, sedangkan pedang di tangan In Hong mencelat ke atas, maka berarti bahwa toya ini terpental ke belakang karena kalah tenaga!
Sebaliknya, lima orang Hwesio Ngo-Heng-Tin setelah melihat betapa pedang itu telah terlepas dari pegangan In Hong, menjadi besar hati. Mereka berlima bergerak maju dan dengan berbareng mereka menyerang. Ada yang menotok jalan darah, ada yang mencengkeram pundak, ada pula yang mencengkeram lengan.
Kalau menurut suara hatinya, In Hong sudah putus asa dan tidak punya harapan lagi. Akan tetapi, kepercayaannya terhadap Kakek aneh yang melindunginya mendatangkan keberaniannya kembali. Ia mengangkat kedua tangan, menggerakkan kedua tangannya cepat-cepat untuk menangkis dan balas menyerang. Luar biasa sekali. Dari kedua tangan gadis ini keluar hawa pukulan dahsyat.
Tanpa pedang, ternyata hawa hangat yang mengalir dalam tubuhnya menjadi makin dahsyat dan langsung sehingga tenaga pukulannya terasa anginnya menyambar-nyambar. Dalam segebrakan saja, terdengar suara teriakan kesakitan ketika tubuh lima orang Hwesio yang tangguh itu satu persatu melayang dan terbentur pada dinding gua...!