Bayangan Bidadari Jilid 05

BU JIN AI menarik napas panjang, lalu memandang kepada Yo Kang dan matanya mengharapkan agar pemuda ini tahu diri dan suka kembali, pergi dari situ.
“Seorang gagah berani berbuat berani bertanggung jawab dan tidak akan menyesali perbuatannya itu!” tiba-tiba terdengar suara yang lemah lembut dan merdu, oleh orang-orang lain terdengar perlahan saja akan tetapi pada telinga Bu Jin Ai amat menusuk dan keras sekali seperti bunyi guntur!
“Air yang bersumber dari Sungai Huang-ho, mengalir kemanapun juga masih tetap hebat, dan kiranya Siauw-Lim-Si boleh diumpamakan Sungai Huang-ho yang besar dan megah!” Ucapan ini keluar dari mulut In Hong.
Yo Kang dan lima orang kauwsu, juga Cong-piauwsu memandang kepada In Hong dengan terheran-heran, sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh gadis ini dan mengira bahwa In Hong telah lancang begitu saja, bersikap seakan-akan mengerti urusan kangouw.
Akan tetapi, Bu Jin Ai tiba-tiba memandang dengan mata memancarkan cahaya aneh dan kagum, juga tercengang sekali. Ia melangkah maju menghadapi kuda In Hong, lalu matanya terbelalak dan mulutnya teranganga. Kedua tangannya bergerak menggosok-gosok matanya seakan-akan ia tidak percaya akan pandangan matanya sendiri, kemudian ia menggeleng-geleng kepala, lakunya seperti orang gendeng.
“Aku mengimpi...,” bisiknya perlahan. Kemudian ia dapat menguasai perasaannya, menjura kepada In Hong dan berkata, “Aku Bu Jin Ai benar-benar telah buta mataku. Nona cilik benar-benar bermata awas. Kau membawa pedang yang gagangnya demkian indah, terang pedang pusaka dan siapa yang berani membawa pedang pusaka, tentu lihay kiam-hoatnya. Nona cilik turunlah dari kudamu dan cabutlah pedangmu. Aku si bodoh yang bermata buta mohon pengajaran dari murid orang pandai.”
In Hong merengut. Ia tak senang berkali-kali disebut “Nona cilik.” “Kau bicara seperti Kakek-kakek bongkok dan pikun!” bentaknya. “Usiaku sudah sembilan belas tahun, kau masih mau membadut mengatakan aku nona cilik?” Ia tetap di atas kudanya dan tidak mencabut pedangnya.
Bu Jin Ai memandang dan ia tersenyum, matanya berseri-seri, kelihatannya gembira sekali. “Maaf, kiranya kau seorang cian-kim-siocia yang cantik dan gagah. Maafkan aku, dan sekarang, setelah kau mengeluarkan ucapan, apakah kau juga hendak mendermakan kudamu?”“Biarpun orang Siauw-Lim-pay, akan mengerti juga bahwa seorang gagah mempunyai rasa setia kawan. Kalau lima orang lo-kauwsu sudah mengorbankan kuda mereka, mengapa aku tidak? Sebaliknya, merampas kuda tunggangan seorang yang melakukan perjalanan jauh, hanya untuk memenuhi selera orang-orang yang sedang kelaparan, benar-benar tak dapat dikatakan menyenangkan hati.”
Mendengar ini, Bu Jin Ai menoleh kepada orang-orang dusun yang telah mendapat daging kuda sebanyak itu, lalu berkata, “Hee! Kau dengar kata-kata nona gagah ini? Jangan habiskan daging-daging itu sekadar memenuhi selera kalian, akan tetapi keringkanlah agar dapat dipergunakan di hari-hari berikutnya. Jangan berpesta pora hari ini untuk kelaparan besok harinya!”
Kemudian ia menghadapi In Hong sambil berkata, “Nona, setelah kau tiba disini dan mengeluarkan kata-kata, tak dapat tidak kita berdua harus main-main sebentar!”
“Kau turunkan aku dari kuda kalau kau dapat, dan kau boleh ambil kuda ini kalau kau bisa!” In Hong menantang tanpa turun dari kudanya, juga tidak mencabut pedangnya. Sikapnya biasa dan anehnya wajahnya berseri-seri memandang kepada Bu Jin Ai, seakan-akan ia tengah bersenda gurau dengan orang gagah yang aneh itu.
“Begitukah? Kau anak nakal, kau kira aku tidak bisa melakukan itu? Awas, bersiaplah kau!" Jawab Bu Jin Ai dengan sepasang mata bersinar-sinar dan mulut tersenyum. Dengan langkah tenang ia lalu menghampiri In Hong yang masih duduk di atas punggung kudanya.
Akan tetapi, sebelum Bu Jin Ai turun tangan, tiba-tiba Yo Kang melompat turun dari kudanya dengan golok di tangan. Ia cepat melompat di depan In Hong dan menghadang orang aneh itu, melindungi In Hong. “Harap kau jangan mengganggu Adik misanku! Hong-moy, jangan kau main-main dengan dia yang lihay dan berbahaya!”
Bu Jin Ai memandang tajam kepada Yo Kang, “Aku dan nona itu mau main-main sebentar, mengapa kau turut campur? Kau mau apakah?”
Yo Kang sudah maklum akan kelihayan orang aneh ini, maka ia tidak berani herlaku kasar. Sambil berdiri tegak di depan kuda In Hong, dan goloknya dilintangkan di depan dada, ia menjawab, “Si kuat mengganggu si lemah, itulah bukan perbuatan seorang hohan (orang gagah). Kalau Adik misanku telah mengeluarkan kata-kata yang tidak menyenangkan hatimu, biarlah aku Yo Kang yang menebus dosanya. Kau telah mengalahkan lima orang pembantuku dan merampas kuda mereka, biarlah kau sekarang memberi pelajaran padaku dan kalau perlu, jangan hanya kuda, biar nyawaku aku sediakan untuk membela nama dan membela Adik misanku ini.”
Ucapan Yo Kang ini memang gagah dan In Hong diam-diam merasa terharu. Tak disangkanya bahwa pemuda yang terlahir dikeluarga kaya itu, ternyata memiliki kegagahan yang lebih berharga daripada seluruh hartaKakek Yo Tang! Dan yang membuat ia terharu adalah cinta kasih pemuda ini terhadapnya yang kini telah dibuktikan dengan perlindungannya yang dimodali nyawa, sungguhpun Yo Kang tahu bahwa kepandaian orang aneh itu tinggi sekali.
Bu Jin Ai tertawa bergelak, lalu berkata, “Cinta membikin orang buta dan gila, akan tetapi tanpa cinta kasih, hiduppun tidak berguna! Anak muda, kau mau memamerkan ilmu golokmu? Marilah!” Sambil berkata demikian, orang aneh ini lalu menyerang, menerjang maju dengan tangan kanan mencengkeram kepada Yo Tang dan tangan kiri menyambar ke arah gagang golok untuk merampasnya.
Yo Kang sudah bersiap-siap, maka melihat datangnya serangan hebat ini, ia cepat melompat ke kiri dan membabat dengan goloknya ke arah lengan kiri, kemudian bebatan itu diteruskan dengan tusukan ke arah lambung lawannya.
“Bagus!” Bu Jin Ai berseru keras sekali sehingga kuda yang ditunggangi In Hong menjadi terkejut dan gelisah. Terpaksa In Hong menarik kendali kudanya dan membuat binatang itu melangkah mundur, menjauhi tempat pertempuran sampai kira-kira dua tombak dan dari situ ia menonton pertempuran itu dengan penuh perhatian.
Ilmu golok dari Yo Kang adalah ilmu golok dari Bu-tong-pay aseli. Lima orang Guru silat itu biarpun telah mempelajari ilmu silat bermacam-macam dan sudah pula mempunyai pengalaman bertempur, namun dibandingkan dengan Yo Kang, masih kalah. Hal ini adalah karena biarpun Yo Kang hanya mempelajari satu macam ilmu silat, namun yang ia pelajari adalah ilmu silat aseli dari perguruan yang besar.
Sehingga ia dapat memetik sarinya dan ilmu goloknya benar-benar tidak boleh dipandang rendah. Goloknya berkelebat-kelebat bagaikan seekor naga mengamuk dan mata golok itu tergetar selalu sehingga kalau dipandang seperti lebih dari satu golok yang dipegangnya. Menghadapi ilmu golok aseli dari Bu-tong-pay yang dimainkan dengan hebatnya oleh Yo Kang, orang aneh itu nampak terdesak.
Namun anehnya, Bu Jin Ai tidak mau mencabut pedangnya dan hanya menghadapi golok itu dengan kedua tangan kosong. Memang ia amat gesit, namun golok ditangan Yo Kang tentu saja lebih cepat gerakannya daripada gerakan orang mengelak sehingga golok itu terus menyambar-nyambar mengancam lawan. Yang mengagumkan sekali, kadang-kadang kalau ia sudah kehabisan waktu untuk mengelak, Bu Jin Ai dengan berani sekali mengibaskan tangan dan jari-jari tangannya menyentil golok itu sehingga terpental dan tidak jadi melukainya!
In Hong kagum sekali dan ia maklum bahwa Yo Kang takkan dapat memperoleh kemenangan, bahkan orang aneh itu sudah berlaku terlalu mengalah kepadanya. Kalau orang aneh itu mau mengeluarkan senjatanya, sudah dapat diduga bahwa dalam beberapa jurus saja Yo Kang akan roboh. Kalau dilihat-lihat, orang aneh itu seakan-akan hanya menguji sampai dimana kehebatan ilmu golok Yo Kang yang memang cukup baik dan patut dipuji.
Akan tetapi, tidak demikian pendapat Yo Kang. Pemuda ini merasa penasaran dan marah sekali melihat lawannya hanya menghadapi dengan tangan kosong. Inilah penghinaan hebat baginya. Belum pernah selama hidupnya goloknya yang membuat namanya amat terkenal dengan sebutan Bu-Tong Sin-To (Golok sakti dari Bu-tong-pay) itu dihadapi orang dalam pertempuran dengan tangan kosong belaka!
Apalagi ia selalu berada dipihak yang mendesak, hatinya menjadi besar dan timbul nafsunya untuk mengalahkan atau merobohkan orang aneh ini, sungguhpun ia tidak mempunyai niat dihati untuk membunuhnya. Maka setelah tigapuluh jurus lewat belum juga ia dapat melukai Bu Jin Ai, ia menjadi penasaran sekali dan memutar goloknya lebih cepat lagi.
Bu Jin Ai agaknya sudah merasa puas. Melihat gerakan pemuda itu makin mengganas, ia tertawa bergelak dan berkata, “Yo-kongcu, kau betul-betul tidak mengecewakan telah mempelajari ilmu golok dari Bu-tong-pay. Untuk kepandaianmu yang kau pelajari amat baiknya ini, biarlah aku mengalah dan tidak jadi mengambil kudamu!” Sambil berkata demikian, Bu Jin Ai melompat ke belakang menjauhi Yo Kang. Kata-katanya ini jelas menyatakan bahwa ia tidak ingin melanjutkan pertempurannya dengan Yo Kang.
Akan tetapi Yo Kang merasa penasaran dan gemas sekali. Tidak saja ia belum dapat merobohkan lawannya, bahkan kata-kata lawannya itu terang sekali menyatakan bahwa lawan tadi merasa diri jauh lebih unggul dan sengaja mengalah! Darah mudanya tidak membiarkan ia sudah begitu saja sebelum ada keputusan siapa kalah siapa menang, maka ia menubruk maju dan menyerang lagi dengan hebatnya. “Aku masih belum kalah!” katanya penasaran.
Marahlah Bu Jin Ai. “Anak muda kepala batu! Jadi kau ingin sekali roboh olehku? Mudah saja, bocah. Awaslah pedangku!” Tanpa dapat terlihat oleh Yo Kang saking cepatnya gerakan tangan Bu Jin Ai, tahu-tahu tangan kanan orang aneh itu telah memegang pedang yang tajam dan terdengar suara, “Traang!” yang nyaring sekali ketika golok Yo Kang beradu dengan pedang.
Yo Kang merasa telapak tangannya tergetar hebat dan hampir saja goloknya terlepas dari pegangan. Akan tetapi dasar ia masih muda dan berdarah panas, ia tidak mau mundur dan bagaikan seekor harimau muda ia menubruk lagi sambil menyerang dengan goloknya. Bu Jin Ai menangkis lagi dan kali ini setelah menangkis, pedangnya itu langsung meluncur ke depan, ke arah muka Yo Kang!
Yo Kang yang kena ditangkis goloknya sehingga mental ke bawah, berlaku nekad. Ia membiarkan pedang lawan melayang kemukanya dan sebagai pembalasan, ia juga menggerakkan goloknya dari bawah menyabet pinggang lawannya! Gerakan ini cepat dan hebat sekali sehingga kalau pedang itu mengenai muka Yo Kang, agaknya goloknyapun akan berhasil membabat pinggang Bu Jin Ai.
“Celaka...” In Hong mengeluh dalam hatinya. Ia tidak mengira bahwa Yo Kang begitu bodoh dan nekad sehingga dalam pertempuran yang tidak berdasarkan permusuhan itu ia mau mengadu jiwa. Ia tidak kenal siapa adanya Bu Jin Ai itu, yang baru dilihatnya sekarang, biarpun ia tertarik dan suka melihat sikap orang gagah ini, namun orang itu bukan apa-apa baginya.
Sebaliknya, Yo Kang adalah Kakak-misannya, maka betapapun juga, ia harus membantu Yo Kang, melepaskan pemuda itu dari ancaman maut yang agaknya sudah tak dapat dielakan lagi. Sinar hitam meluncur dari tangan gadis ini tanpa ada orang yang melihatnya. Para kauwsu sedang asik menonton pertempuran, maka siapakah yang memperhatikan gadis di atas kudanya itu?
Ketika sinar hitam yang meluncur dari tangan In Hong itu tiba di tempat pertempuran, dua orang yang sedang bertempur berseru kaget. Bu Jin Ai kaget sekali ketika tiba-tiba pedangnya terpental seakan-akan terbentur oleh sesuatu. Sekelebatan ia melihat sinar hitam yang aneh sekali namun amat kuatnya.
Sedangkan Yo Kang kaget bukan main karena tiba-tiba Bu Jin Ai mengangkat kaki menendang goloknya sehingga golok itu terpental dan terlepas dari pegangannya! Yo Kang tidak berdaya lagi dan Bu Jin Ai amat marah melihat ada sinar hitam membentur pedangnya tadi. Ia tahu bahwa ada orang membantu Yo Kang, orang yang pandai sekali. Hal ini mendatangkan penasaran dan marah besar, maka setelah ia berhasil menendang golok Yo Kang sehingga terlepas, ia lalu menggerakkan pedang ke arah telinga pemuda itu untuk memotong telinga sebelah kanan!
Bukan main marah dan ngerinya hati In Hong melihat gerakan ini. Ia tahu bahwa kalau ia tidak turun tangan, Yo Kang tentu akan kehilangan telinga kanannya. Maka, seperti tadi pula, ia mengayun tangan dan sinar hitam menyambar. Kini bukan hanya satu, melainkan tiga sekaligus!
Sebetulnya, Bu Jin Ai tidak begitu keji untuk membuntungi telinga pemuda tampan itu. Ia sengaja melakukan hal ini untuk memancing keluar orang yang membantu Yo Kang. Kalau melihat Yo Kang terancam bahaya, tentu orang itu akan turun tangan lagi. Pancingannya berhasil, karena kini tiga sinar hitam menyerangnya, satu ke arah pergelangan tangan yang memegang pedang, yang datang terdahulu dan cepat sekali, kedua menyerang ke arah jalan darah dipundaknya dan ketiga menyerang lambung!
Bu Jin Ai kaget sekali, bukan saja karena hebatnya serangan sinar hitam ini, akan tetapi lebih kaget melihat bahwa yang melepas sinar-sinar hitam itu adalah nona muda yang duduk di atas kuda! Rasa kaget ini membuat ia termangu dan agak memperlambat gerakannya. Ia dapat menarik tangan yang memegang pedang sehingga terluput dari sambaran sinar hitam, dan karena serangan sinar hitam pada lambung dan pundak datang berbareng.
Ia pikir yang menyerang lambung lebih berbahaya, maka ia menyampoknya dengan ujung lengan baju kiri dan mencoba untuk mengelak sinar hitam yang menotok pundak. Akan tetapi, pada saat ia terancam bahaya, Yo Kang tidak tinggal diam. Pemuda ini setelah goloknya terlepas, lalu menggunakan tangan kiri memukul dada lawannya.
“Buk!”.Bu Jin Ai terhuyung mundur dan mukanya berobah. Bagi orang lain, juga bagi Yo Kang, dikira bahwa jago aneh itu terhuyung karena pukulan Yo Kang. Akan tetapi sesungguhnya, lweekang dari Bu Jin Ai sudah sedemikian tingginya sehingga pukulan itu hanya mendatangkan sedikit rasa sakit pada dadanya, namun tidak mendatangkan luka berat. Yang hebat adalah serangan sinar hitam itu, karena tadi ketika ia mengelak, gerakannya kurang cepat dan ujung pangkal lengan dekat pundak masih terkena sinar hitam itu dan mendatangkan rasa ngilu dan perih!
Sinar hitam itu adalah kepandaian tunggal dari Hek Moli yang diturunkan kepada muridnya, yakni senjata rahasia berupa bubuk pasir hitam yang luar biasa lihaynya. Sekali mengenai kulit, pasir hitam ini akan menembus dan meresap ke dalam jaringan darah dibawah daging!
Bu Jin Ai tersenyum pahit. Ia memandang kepada Yo Kang dan berkata, “Aku si bodoh terima kalah!” Kemudian ia menghadap kepada In Hong sambil bertanya, “Nona, beritahukan namamu!”
In Hong merasa terkejut dan juga menyesal. Tadi ia menyerang orang itu karena mengkhawatirkan keselamatan Yo Kang, akan tetapi melihat cara Bu Jin Ai menarik tangannya, tahulah ia bahwa sambaran pedang ke arah telinga Yo Kang hanya gertak belaka, jadi orang itu tidak sungguh-sungguh hendak membuntungi telinga Yo Kang. Ia menyesal sekali karena melihat pasir hitamnya telah melukai pundak Bu Jin Ai, dan ia maklum bahwa hal itu amat berbahaya bagi keselamatan orang gagah yang aneh itu.
“Namaku? Aku... aku... sebut saja aku Put Hauw Li (Anak perempuan tidak berbakti). Aku mempunyai obat untuk menyembuhkan lukamu...”
Akan tetapi, Bu Jin Ai sudah melompat jauh sekali dan berlari pergi, terdengar suara ketawanya dan suaranya lapat-lapat terdengar oleh In Hong, sungguhpun tidak terdengar oleh orang lain, “Namanya Put Hauw Li... sungguh aneh... airmukanya sama benar... kepandaiannya lihay... aahh...” Dan sebentar saja bayangan orang aneh itu lenyap.
Lima orang kauwsu menghampiri Yo Kang dan dengan muka merah The Sun berkata, “Yo-kongcu, kepandaianmu tinggi sekali sehingga kau berhasil dapat mengusirnya. Kami orang-orang tua tidak berguna, percuma saja mengawanimu.”
“Aah, kepandaianku tidak seberapa, The-kauwsu, hanya orang aneh itu yang berlaku mengalah. Sayang sekali bahwa ngo-wi yang mencari perkara dengan dia. Sekarang kuda kita tinggal dua lagi, bagaimana baiknya?”
In Hong majukan kudanya. “Yo-Twako, kau mencari Wu Wi Thaisu bukan untuk bertempur, mengapa harus mencari kawan? Karena kuda yang masih ada hanya kudamu dan kudaku, marilah kita berdua saja mencari Tosu itu.”
“Benar kata Kwee-Lihiap,” kata Pouw Cun, karena Guru ini setengah dapat menduga akan kelihayan In Hong, “Biarlah kami berlima kembali jalan kaki, hitung-hitung untuk menebus dosa.”
Terpaksa Yo Kang menyetujui hal ini dan ia lalu pergi bersama In Hong, membalapkan kuda menuju ke dusun di depan setelah mendapat petunjuk dari Cong-piauwsu dimana tempatnya dusun yang pernah mencoba untuk merampas kereta berisi gandum. Setelah mengalami pertempuran dengan Bu Jin Ai yang aneh, Yo Kang tidak berani berlaku sembrono lagi.
Di dusun yang dimaksudkan, ia berlaku ramah-tamah dan halus, menanyakan kepada mereka dimana adanya Wu Wi Thaisu, seakan-akan seorang sahabat hendak mencari orang tua itu. Ia mendapat keterangan bahwa Wu Wi Thaisu sedang berada di dusun yang sepuluh lie jauhnya dari situ, membawa kereta berisi bahan obat untuk menolong orang-orang yang sedang diamuk penyakit-penyakit panas, dan kebetulan sekali bahan obat yang dikirim oleh Yo Kang adalah obat untuk menyembuhkan penyakit demam panas.
Mereka akhirnya mendapatkan Wu Wi Thaisu sedang membagi-bagi obat kepada orang-orang dusun sambil memberi penjelasan cara memasak dan meminumnya. Melihat kedatangan dua orang muda ini, Tosu yang sudah tua itu lalu mengoperkan pekerjaannya kepada seorang dusun yang sudah tua pula, dan ia menyambut Yo Kang.
“Wu Wi Lo-Cianpwe, maafkan boanpwe Yo Kang datang mengganggu pekerjaan Lo-Cianpwe yang mulia, membagi-bagi obat kepada orang-orang dusun,” kata Yo Kang.
“Ha, Yo-Sicu datang-datang menyindir. Memang obat-obat itu tadinya milikmu yang kurampas dari orang-orangmu. Kau tentu datang untuk menagih, bukan?”
“Tidak, Lo-Cianpwe, hanya boanpwe mohon kepada Lo-Cianpwe agar suka berjanji bahwa pengiriman-pengiriman selanjutnya takkan mendapat gangguan.”
Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya sehingga jenggotnya berkibar-kibar. “Tidak bisa, tidak bisa. Pinto boleh berjanji, akan tetapi bagaimana dengan mereka yang membutuhkannya?”
Yo Kang mulai tidak senang. “Lo-Cianpwe benar-benar keterlaluan. Boanpwe adalah seorang pedagang, kalau terus menerus diganggu, bukankah perdagangan boanpwe bisa bangkrut?”
Mendengar ini, In Hong merasa kecewa. Sedikit banyak, pemuda ini sudah ketularan watak Kakeknya, menganggap soal untung dan harta benda sebagai soal terpenting.
“Sudahlah, Yo-Sicu. Pinto selamanya tidak mau hutang, kali ini hutang tujuh kereta, tentu akan Pinto bayar pula. Karena Pinto tidak beruang, dan tidak punya apa-apa, maka Pinto hendak menukarnya dengan tujuh petunjuk ilmu silat agar Bu-tong-to-hwat (Ilmu golok Bu-tong-pay) yang kau pelajari bisa makin baik.”
Mendengar ini, Yo Kang merasa girang juga. Memang pemuda ini setelah mengalami kekalahan dari Bu Jin Ai yang aneh dan kemudian ia mendapatkan kemenangan yang aneh pula, ia merasa kecewa. Kalau tokoh besar Go-Bi-Pai ini mau mengajarnya dengan tujuan petunjuk, hal itu baik sekali. Memang iapun tidak menghendaki pembayaran hutang, karena bagaimanakah Tosu ini dapat membayar harga dari tujuh kereta barang itu? “Terima kasih atas kemurahan hati Lo-Cianpwe,” katanya.
“Nah, cabutlah golokmu. Ingat baik-baik, ambil tujuh jurus penyerangan ilmu golokmu yang paling lihay dan pergunakan itu untuk menyerangku!”
Mendengar ini, Yo Kang tertegun. Ia mengira akan mendapat pelajaran ilmu silat, mengapa ia bahkan harus menyerang Kakek itu?
“Jangan ragu-ragu, Yo-Sicu. Kalau kau sampai berhasil melukai atau bahkan membunuhku, itu juga merupakan pembayaran yang baik sekali. Tujuh kereta bahan makanan dan obat, yang menolong ratusan nyawa orang, diganti dengan cucuran darah Pinto yang tua bangka atau dengan nyawa Pinto yang sudah bosan dikurung di tubuh bobrok ini, bukankah itu baik sekali? Sebaliknya kalau golokmu tidak berhasil, kau akan mendapat tambahan pelajaran yang amat berguna bagimu kelak.”
Akan tetapi Yo Kang tetap saja ragu-ragu, apalagi kalau ia ingat bahwa In Hong berada disitu. Ia tidak mau gadis itu akan mencelanya dan menganggapnya keterlaluan menyerang seorangKakek dengan goloknya, apalagi mempergunakan jurus-jurus terlihay dari Bu-tong-to-hwat. Tak terasa lagi ia menoleh kepada In Hong, seperti minta nasihat.
“Yo-Twako, Wu Wi Totiang bermurah hati kepadamu, mengapa kau ragu-ragu untuk menerimanya? Lekas serang dia!” kata gadis ini.
Kini Yo Kang mengambil keputusan tetap. Peraturan “Membayar hutang” ini ditetapkan oleh Tosu itu sendiri, bahkan In Hong juga menyetujui, maka kelak ia takkan mendapat nama buruk. “Siaplah, Lo-Cianpwe, jurus penyerangan pertama boanpwe lakukan!” katanya dan setelah memutar golok, ia lalu menyerang dengan gerak tipu See-ceng-pay-hud (See-ceng sembah Buddha). Inilah jurus penyerangan yang amat lihay dari Bu-tong-pay dan kalau lawan tidak berkepandaian tinggi, sukarlah menghindarkan diri dari serangan golok ini.
Sebelum golok menusuk ke dada, lebih dulu tangan kiri menyelok ke arah perut lawan untuk mengacaukan pertahanan dan golok menyusul dengan kecepatan kilat. Wu Wi Thaisu bergerak lambat sekali, seakan-akan orang sedang bermain-main. Akan tetapi, ketika golok itu meluncur ke arah dadanya, ia miringkan tubuh, menggeser kaki ke kiri dan sekali tangannya berkelebat ke depan, sambungan siku tangan Yo Kang yang memegang golok telah kena disentil sehingga lengan itu gemetar dan goloknya terlepas dari pegangan!
“Ambillah golokmu, Yo-Sicu dan lakukan penyeranganmu yang kedua,” kata Tosu itu sambil tersenyum tenang.
Muka Yo Kang merah sekali. Ia merasa dipermainkan oleh Tosu ini. Katanya hendak mengajar silat, akan tetapi ia disuruh menyerang dan kemudian dikalahkan dalam segebrakan saja, bukankah ia sengaja hendak mempamerkan kepandaian dan sengaja hendak menghinanya? Saking malunya ia menjadi marah. Ia mengambil goloknya dan sambil berseru keras ia melakukan serangan yang kedua.
Kini ia menggunakan gerak tipu Liong-bun-kwa-hi (Dipintu naga tunggang ikan). Serangan ini bahkan lebih hebat dari pada serangan pertama. Golok mula-mula diputar merupakan gulungan sinar bundar lebar di depan Tosu itu, kemudian tiba-tiba tubuh Yo Kang melompat tinggi dan golok itu dari bawah perutnya ditusukkan ke depan, ke arah leher Tosu itu.
Seperti tadi, Wu Wi Thaisu bergerak perlahan sekali, akan tetapi setelah serangan tiba, ia cepat mengangkat kaki, mencokel jalan darah di mata kaki Yo Kang sehingga tubuh pemuda itu terapung makin tinggi dan kakinya yang ditowel itu menjadi lumpuh, dan sebelum ia tahu apa yang terjadi, goloknya kembali kena dirampas. Ketika ia turun lagi, kakinya tidak dapat berdiri lalu jatuh terguling! Kalau tadi muka Yo Kang hanya merah saja, sekarang menjadi pucat. Ia hampir menangis saking malu dan mendongkolnya.
“Totiang, kau terlalu menghinaku...!” katanya marah sekali.
“Yo-Twako, bagaimana sih kau ini? Wu Wi Totiang telah memberi pelajaran dan petunjuk yang begitu sempurna, mengapa kau marah? Seranganmu yang pertama tadi, tangan kirimu terlalu ke depan dan kalau menjaga siku kanan, bukankah penyerangan itu baik sekali dan kau takkan kalah? Dalam penyerangan kedua, seharusnya kau mengangkat tinggi kakimu sehingga tidak terbentang, kalau begitu, bukankah Wu Wi Totiang takkan dapat merobohkanmu?” tiba-tiba In Hong berkata dengan suara girang.
Yo Kang terkejut bukan main. Kini terbukalah matanya. Benar-benar Tosu itu telah memberi petunjuk yang amat baik! Di dalam kegembiraannya karena baru sekarang ia tahu akan maksud Wu Wi Thaisu menghadapi serangan-serangannya dan menjatuhkannya, maka Yo Kang tidak menaruh perhatian mengapa In Hong bisa tahu akan hal ini! Yo Kang tidak memperdulikan lagi betapa ia jatuh bangun, cepat ia maju menyerang dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling berbahaya dari ilmu goloknya Bu-tong To-hwat.
Namun, Tosu tua itu benar-benar lihay sekali. Yo Kang tidak berani menganggap bahwa ia terpandai dan ilmu goloknya tidak ada yang dapat melawan, akan tetapi ia tidak mengira sama sekali bahwa ada orang yang sanggup menghadapi goloknya hanya dengan tangan kosong belaka. Lebih hebat lagi, setiap jurus dari serangannya pasti dihancurkan oleh Wu Wi Thaisu, diketahui bagian yang lemah dan ia dirobohkan.
Sampai tujuh kali Yo Kang menyerang dengan jurus-jurus terlihay, dan tujuh kali pula ia tak berdaya, bahkan pada jurus ketujuh ia terlempar sampai tiga tombak lebih dan kepalanya benjol-benjol! Akan tetapi pemuda ini, dengan terpincang-pincang menghampiri Wu Wi Thaisu dan menjatuhkan diri berlutut. Ia bukan seorang bodoh dan pada tiap penyerangan tadi, ia memperhatikan sekali bagaimana ia sampai roboh.
Memang Wu Wi Thaisu bergerak lambat dan sengaja memberi petunjuk, sehingga Yo Kang tahu bagian mana dari penyerangan tadi yang kurang sempurna dan “Terbuka.” Dengan pengalaman ini, tujuh jurus ilmu goloknya yang pilihan menjadi sempurna dan dia dapat memperbaiki jurus-jurus ini sehingga tidak lagi terdapat lowongan yang membahayakan dirinya sendiri. Memang, inilah petunjuk yang jauh lebih bermanfaat daripada kalau ia menerima pelajaran ilmu silat lain.
“Totiang, Teecu menghaturkan banyak terima kasih atas petunjuk-petunjuk Totiang yang amat berharga tadi,” katanya.
Akan tetapi Wu Wi Thaisu tidak memperdulikannya, hanya mengebutkan lengan baju sambil berkata, “Sudahlah, itu untungmu kalau kau mengerti, akan tetapi kalau tidak ada nona ini, agaknya kau akan menderita kerugian besar.”
Tosu tua itu memandang kepada In Hong dengan pandang mata curiga. “Tidak tahu siapakah nona yang begini muda akan tetapi memiliki mata yang amat awas?”
In Hong tersenyum dan menjura untuk memberi hormat kepada Tosu itu. “Wu Wi Totiang, urusan Yo-Twako denganmu telah beres dan hutang pihutang itu telah dilunaskan. Memang tadinya aku hanya ikut saja dengan Yo-Twako, akan tetapi setelah bertemu dengan kau orang tua dari Go-Bi-Pai, tak dapat tidak aku yang muda harus mohon sedikit keterangan tentang seorang Tosu kurang ajar yang bernama Tek Seng Cu!”
Berubah muka Wu Wi Thaisu mendengar kata-kata ini, sedangkan Yo Kang yang sudah bangkit berdiri, memandang kepada In Hong dengan heran. “Nona, kau siapakah dan ada urusan apakah kau dengan Tek Seng Cu?”
In Hong tersenyum dan kini senyumnya mengejek. “Wu Wi Totiang, salahkah dugaanku kalau aku katakan bahwa Tek Seng Cu manusia tak tahu diri itu adalah murid dari Go-Bi-Pai? Harap Totiang tidak menyembunyikan dia dari aku yang muda dan yang mengharapkan penjelasan Totiang.”
“Hong-moy, jangan kau kurang ajar terhadap Lo-Cianpwe dari Go-Bi-Pai!” Yo Kang berseru karena ia merasa khawatir sekali melihat sikap In Hong. “Wu Wi Thay-suhu, mohon maaf sebesarnya atas kelancangan mulut Adik misan Teecu ini. Dia bernama Kwee In Hong dan dia...”
“Cukup, Yo-Twako. Tak perlu kau mencampuri, ini bukan urusanmu, melainkan urusanku pribadi dengan pihak Go-Bi-Pai,” kata In Hong ketus sehingga Yo Kang terkejut melihat sikap yang baru baginya ini.
Kemudian gadis itu menghadapi Wu Wi Thaisu kembali dan berkata, “Nah, Totiang, kau sudah mengetahui namaku. Bagaimana, apakah kau sudah bersedia untuk memberitahu kepadaku, dimana adanya Tek Seng Cu itu dan apa yang ia lakukan akhir-akhir ini?”
Wu Wi Thaisu menjadi mendongkol juga. Tek Seng Cu adalah cucu muridnya dan menjadi anak murid Go-Bi-Pai. Betapapun juga, urusan dengan Tek Seng Cu berarti urusan dengan Go-Bi-Pai dan urusannya juga, maka mau tidak mau ia harus membelanya. “Nona, kau masih begini muda akan tetapi sikapnya keras mendesak, menandakan bahwa kau memiliki kepandaian dan menyombongkan kepandaianmu itu. Tek Seng Cu adalah murid Go-Bi-Pai dan urusan dia tak perlu diketahui oleh orang luar. Segala sesuatu yang menyangkut diri seorang murid Go-Bi-Pai, adalah urusan kami sendiri dan kami pula yang akan membereskannya. Orang luar tak perlu tahu!”
Sepasang mata yang indah itu mulai berkilat dan kalau orang tahu akan kebiasan In Hong, ia akan mengerti bahwa inilah tanda kemarahan dari gadis itu. Ia melangkah maju dan berkata, suaranya menantang, “Wu Wi Totiang, aku yang muda dan bodoh sudah mendengar bahwa kau adalah tokoh kedua dari Go-Bi-Pai, dengan kepandaianmu yang tinggi menjulang kelangit. Tadipun sudah kusaksikan sendiri kelihayanmu, maka biarlah aku mencoba ilmu pukulan darimu. Kalau aku kalah, sudahlah, kau boleh berbuat apa yang kau suka. Akan tetapi kalau kau mengalah dan tidak mau menjatuhkan aku, terpaksa aku mendesak terus dan kau harus memberitahu kepadaku perihal urusan Tek Seng Cu!” Inilah kata-kata yang mengandung tantangan. Gadis yang begini muda berani menantangnya dan bertaruh kalau ia kalah supaya memberitahu tentang Tek Seng Cu, alangkah beraninya.
“Hong-moy...! Apakah kau sudah gila...?”
In Hong menoleh. “Mungkin juga, Yo-Twako. Akan tetapi kunasihatkan agar supaya kau menjauhkan diri dan menonton saja dari jauh kalau kau tidak ingin dibikin terjungkir balik oleh Wu Wi Totiang yang lihay!”
Wu Wi Thaisu sudah dapat dibakar hatinya dan ia mendelik ke arah Yo Kang. “Orang muda, minggirlah dan jangan ikut-ikut!”
Yo Kang terkejut sekali dan cepat ia menuntun kudanya dan kuda In Hong, menuju ke sebatang pohon dimana ia mengikatkan kedua kuda, lalu berdiri bengong memandang ke arah dua orang yang masih berdiri berhadapan itu. Hati Yo Kang berdebar dan ia masih mengira bahwa In Hong terlalu ceroboh dan berani mati. Apa sih kepandaian gadis itu sehingga berani bersikap demikian kurangajar terhadap Wu Wi Thaisu yang tadi telah membuktikan bahwa kepandaiannya amat tinggi?
“Nona kau benar-benar memiliki keberanian besar sekali. Siapakah Gurumu?” In Hong tersenyum lagi, senyum yang mengandung ancaman.
“Totiang, biarlah keterangan tentang Guruku inipun kujadikan taruhan. Kalau aku kalah, baru aku akan memperkenalkan siapa Guruku, sebaliknya kalau kau tak dapat mengalahkan aku, kau harus memberitahu tentang Tek Seng Cu. Bukankah ini sudah adil sekali?”
“Bagus! Kau majulah, dan jangan anggap aku seorang tua yang keterlaluan mau melayani seorang muda. Ini adalah kau sendiri yang mencari dan kau sendiri yang mendesakku. Agaknya kau terlampau dimanja dan biarlah hitung-hitung Pinto memberi hajaran kepada seorang gadis manja!”
In Hong tersenyum geli. “Awaslah, Totiang, aku yang muda dan bodoh hendak menyerang lebih dulu,” Baru saja kata-kata ini berhenti, tubuh In Hong sudah berkelebat maju dan melakukan serangan yang amat cepat gerakannya. Hek Moli adalah seorang iblis wanita yang ganas dan ilmu silatnya pun selain aneh, amat ganas sifatnya. Maka serangan dari In Hong ini tidak berbeda dengan Gurunya, cepat kuat dan ganas sekali.
Tadinya Wu Wi Thaisu sebagai tokoh besar di dunia persilatan, dan sebagai tokoh kedua dari Go-Bi-Pai, tentu saja tidak memandang sebelah mata kepada gadis yang begini muda, maka ketika In Hong hendak bergerak maju, ia telah terlanjur berkata, “Majulah, kalau dalam dua puluh jurus Pinto belum dapat mengalahkan, anggap saja kalah...”
Namun kata-katanya terputus ketika tiba-tiba bayangan In Hong, berkelebat dan tahu-tahu gadis itu sudah menyerangnya dengan kecepatan yang tak tersangka-sangka. Dengan tubuh masih terapung ketika melompat tadi, In Hong sudah mengirim tendangan berantai dengan kedua kaki, tangan kanannya menotok leher, jadi sekaligus, dengan bertubi-tubi, gadis ini telah mengirim tiga macam serangan!
Bukan-main kagetnya Wu Wi Thaisu. Ia sampai mengeluarkan seruan kaget dan cepat-cepat ia melompat ke kiri untuk menghindarkan tendangan berantai, dan melihat tangan kanan gadis itu dengan cepat meluncur, mengejar lehernya untuk ditotok, ia segera mengibaskan ujung lengan bajunya untuk menangkis.
Kibasan ini adalah ilmu silat tinggi dari Go-Bi-Pai yang disebut Siu-te-kiat-ciang (Dibawah tangan baju memotong tangan) dan lihaynya bukan main. Biarpun hanya ujung lengan baju, akan tetapi karena digerakkan dengan tenaga lweekang tingkat tinggi, cukup kuat untuk mematahkan pergelangan lengan lawan! Namun, apa yang terjadi? Terdengar suara
“Brett!” dan bukan pergelangan lengan kanan In Hong yang terpukul oleh ujung lengan baju, bahkan gadis itu cepat sekali menarik tangan kanan dan tangan kirinya yang sudah siap sedia itu mencengkeram dan sekaligus ujung lengan baju dari Wu Wi Thaisu robek dan hancur!
“Ganas... ganas...!” Tosu ini berseru dengan keringat membasahi keningnya. Baru dalam gebrakan pertama saja, dengan susah-payah baru ia dapat menghindarkan diri dan mengorbankan ujung lengan bajunya! Kalau tidak mengalami sendiri, tentu ia takkan percaya.
Namun, In Hong yang mendengar bahwa ia akan dikalahkan dalam dua puluh jurus, sudah menjadi penasaran dan naik darah, maka ia tidak mau memberi kesempatan lagi dan terus mendesak dengan serangan-serangan aneh dan cepat sekali. Sebaliknya, Wu Wi Thaisu baru terbuka matanya bahwa yang ia hadapi bukanlah gadis sembarangan yang ilmu silatnya dapat disamakan dengan Yo Kang, melainkan seorang lawan yang tangguh sekali, maka ia tidak berani berlaku sembrono lagi.
Dengan penuh perhatian ia lalu menghadapi In Hong, menggerak-gerakkan kedua lengan sehingga terdengar bunyi tulang-tulang berkerotokan. Inilah tanda bahwa Tosu tua ini telah mengerahkan seluruh tenaga lweekang, membangkitkan tenaga sin-kang di dalam tubuhnya, yang hanya ia lakukan apabila menghadapi lawan berat.
Sebetulnya, ia segan sekali harus mengeluarkan kepandaian ini menghadapi seorang gadis yang begitu muda, namun gebrakan pertama tadi sudah merupakan pelajaran pahit baginya bahwa ia sekali-kali tidak boleh memandang rendah kepada lawan muda ini.
Sebaliknya, dahulu In Hong sudah seringkali mendengar penuturan Gurunya tentang pelbagai kepandaian istimewa dari cabang-cabang persilatan yang besar, maka ia sudah tahu bahwa Wu Wi Thaisu adalah seorang ahli lweekang yang berbahaya. Ia tahu bagaimana harus menghadapinya, maka diam-diam iapun mengerahkan khikangnya untuk menambah keringanan tubuh, kemudian mengandalkan ginkang yang luar biasa, ia melakukan penyerangan.
Bukan-main hebatnya pertempuran itu. In Hong menyerang cepat sekali, tubuhnya berkelebat kesana kemari sedangkan Wu Wi Thaisu berdiri memasang kuda-kuda yang teguh dan mengandalkan tenaga lweekangnya yang disalurkan dikedua lengan, menyampok, menangkis dan memukul apabila lawannya mendekat. Dilihat dari jauh, seakan-akan Tosu itu adalah seekor harimau dan In Hong seekor garuda yang menyambar-nyambar dari atas.
Demikian cepat gerakan In Hong sehingga Wu Wi Thaisu tak pernah berhasil menyentuh tubuh nona itu, dan sama sekali tidak diberi kesempatan menyerang. Namun, bagi In Hong juga amat sukar karena hawa pukulan yang menyambar dari kedua Iengan Tosu itu benar-benar amat dahsyat sehingga tiap kali ia hampir berhasil menyerang, ia selalu terpental kembali terdorong oleh hawa pukulan. Baiknya gadis inipun telah memiliki sin-kang yang lumayan, maka dorongan hawa lweekang itu tidak mengganggunya, hanya membuatnya terpental mundur.
Yang bengong adalah Yo Kang. Pemuda ini berdiri menonton dan tak disadarinya, mulutnya ternganga dan sepasang matanya melotot tanpa berkedip. Mimpi pun tidak pemuda ini bahwa In Hong dapat mempunyai kepandaian sehebat itu. Matanya sampai berkunang-kunang karena ia tidak dapat mengikuti kecepatan gerak tubuh gadis itu! Setelah sadar karena merasa matanya pedas, ia menarik napas berulang-ulang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mukanya merah sekali kalau ia teringat betapa ia tidak memandang mata kepada gadis ini!
Dua puluh jurus lewat cepat sekali karena serangan-serangan In Hong memang dilakukan tanpa berhenti. Di dalam dua puluh jurus ini, Wu Wi Thaisu hanya sempat membalas dengan serangan tiga jurus saja, inipun serangan sambil lalu karena ia tidak diberi kesempatan sama sekali.
In Hong tidak mempunyai niat untuk mencelakakan atau untuk memperhebat pertandingannya dengan Tosu ini. Sepak terjang Tosu ini ketika merampas bahan makan dan obat lalu membagikan kepada rakyat, telah membuatnya kagum maka ia tidak ingin bermusuh dengan orang tua ini.
“Wu Wi Totiang, dua puluh jurus telah lewat, masih harus diteruskankah pertandingan ini?” tanyanya sambil terus menyerang.
Wu Wi Thaisu menjadi merah mukanya dan ia berseru, “Tahan...!”
In Hong melompat ke atas, berjungkir balik beberapa kali kemudian berdiri menghadapi Tosu itu dengan Bibir tersenyum dan sama sekali tidak kelihatan lelah.
“Ginkangmu hebat sekali, nona. Murid siapakah kau sebenarnya?” tanya Tosu itu dengan kagum.
“Ingat, Totiang. Aku tidak kalah, bukan semestinya aku bicara tentang Guruku, bahkan seharusnya kau bicara tentang Tek Seng Cu!”
Wu Wi Thaisu tersenyum pahit dan kembali menarik napas panjang. “Baiklah, baiklah, aku akan memberitahu kepadamu, akan tetapi setelah aku mengenal ilmu pedangmu. Kau membawa pedang yang begitu indah, pasti aku akan melihat kiam-hoat yang jempol. Kalau dalam sepuluh jurus permainan pedang aku belum dapat menebak kau murid siapa, biarlah aku mengaku kalah betul-betul dan akan menuruti segala permintaanmu!”
Sambil berkata demikian, Wu Wi Thaisu mencabut pedangnya..Tosu ini hendak berlaku cerdik. Go-Bi-Pai terkenal sekali akan ilmu pedangnya yang lihay, dan selain Wu Wi Thaisu telah menguasai delapan bagian dari Go-bi-kiam-hoat, iapun terkenal sebagai seorang ahli pedang yang mengenal hampir semua ilmu pedang di dunia persilatan.
Dengan menantang bermain pedang, tidak saja ia hendak menebus kekalahannya tadi juga ia ingin tahu murid siapa adanya gadis aneh ini. Ia percaya bahwa setelah melihat ilmu pedang gadis ini, ia akan dapat mengetahui dari cabang mana datangnya ilmu kepandaian itu. Boleh jadi ia tidak mengenal ilmu silat tangan kosong, akan tetapi tak mungkin ia tidak mengenal ilmu pedang.
Tentu saja In Hong yang cerdik maklum pula akan siasat Tosu tua itu, maka ia tersenyum sambil mencabut pedangnya. “Bukan aku yang mendesak, sebaliknya kau sendiri yang berjanji, Totiang. Terima kasih sebelumnya bahwa kau hendak menuruti segala permintaanku, asal saja kau orang tua tidak membohongi aku orang muda.” Kata-kata ini mengandung sindiran.
Tadi Wu Wi Thaisu sudah mengeluarkan kata-kata bahwa kalau gadis ini mampu menandinginya selama dua puluh jurus, ia akan menerima kalah, akan tetapi kemudian ia mengajak bertanding pedang. Hal ini agaknya dipergunakan oleh In Hong untuk menyindir padanya dan menyatakan bahwa dia membohong!
“Kwee-Lihiap, aku orang tua bangka mana sudi membohongimu? Tadi aku memang sudah mengaku kalah dan tentang Tek Seng Cu, pasti akan kuceritakan, sungguhpun kau akan kalah dalam pertandingan pedang ini. Go-Bi-Pai tidak ada rahasia busuk, mengapa takut menceritakan? Hanya aku masih penasaran dan ingin sekali menerka kau ini murid siapa!”
“Kalau begitu, lihatlah ilmu pedangku ini, Totiang!” seru In Hong sambil tertawa.
Wu Wi Thaisu melihat sinar terang meluncur cepat. Ia tidak mengenal pedang pusaka Liong-gan-kiam, karena setelah mencuri pedang itu dari Istana, Hek Moli tidak pernah mempergunakannya dan memberikan pedang itu kepada In Hong..Dengan penuh perhatian Wu Wi Thaisu menghadapi ilmu pedang dari gadis itu yang juga amat ganas, cepat dan kuat sekali gerakannya.
In Hong tidak takut bahwa Tosu ini akan mengenal ilmu pedangnya, karena ia tahu bahwa Gurunya, yakni Hek Moli, selalu mempergunakan tongkat sebagai senjata, dan ilmu tongkat dari Gurunya itulah yang digubah menjadi ilmu pedang untuknya. Biarpun gerakan-gerakannya sama, namun ilmu tongkat tak dapat disamakan dengan ilmu pedang dan dengan hati besar gadis ini lalu mengerahkan kepandaiannya untuk mendesak Wu Wi Thaisu.
Akan tetapi, ia harus mengakui kelihayan Tosu ini dalam ilmu pedangnya. Ilmu pedang Go-Bi-Pai amat kuat dalam pertahanannya dan pedang di tangan Tosu itu berputar-putar cepat sekali merupakan tembok baja yang kuat dan kokoh melindungi tubuhnya sehingga sukar ditembus oleh pedang di tangan In Hong.
Makin terkejutlah hati Wu Wi Thaisu. Tidak saja ia belum pernah melihat ilmu pedang yang amat aneh dan kuat ini, juga untuk mengalahkan gadis ini dalam permainan pedang saja, agaknya akan memakan waktu lama sekali baginya. Bukan main indah dan ganasnya ilmu pedang yang dimainkan oleh nona Kwee ini sehingga tubuh nona itu lenyap terbungkus oleh sinar pedang yang berkilauan.
Ia sudah mencoba untuk mendobrak dan membalas serangan In Hong, namun sia-sia belaka karena ia kalah cepat. Dan dengan pengerahan tenaga dan pencurahan perhatian untuk mengalahkan ilmu pedang gadis ini, ia makin sukar mengenal ilmu pedang itu. Sepuluh jurus lewat amat cepatnya, dan terdengar Tosu itu berkata dengan suara keras,
“Kwee-Lihiap, terus terang saja aku belum mengenal ilmu pedangmu. Aku takkan menarik janji, dan kau boleh minta apa saja nanti, akan tetapi teruskan permainanmu sampai sepuluh jurus lagi, kiranya Pinto akan dapat menduga dari siapa kau memperoleh semua ilmu yang aneh ini!”
In Hong makin gembira. Terdengar ia tertawa nyaring dan kini ilmu pedangnya makin hebat. Sengaja gadis ini mengerahkan tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling lihay dari ilmu pedangnya yang dinamai Toat-beng-kiam-hoat (Ilmu pedang mencabut nyawa) oleh Gurunya! Tidak saja ia hendak membikin Tosu itu menduga-duga dengan bingung, akan tetapi juga darah mudanya membuat ia mempunyai keinginan mengalahkan Tosu ini dalam ilmu pedang!
Dalam jurus kedua puluh, In Hong mempergunakan ilmu pedangnya dengan gerak tipu yang paling lihay, yakni yang disebut Tho-sim-toat-beng (Mencuri hati mencabut nyawa). Pedangnya berputar dan berkelebatan seperti seekor rajawali hendak menyambar korban, sukar sekali diduga kemana arah yang hendak dilalui, dan tiba-tiba, tanpa terduga-duga, pedang ini menyambar dengan tusukan kilat ke arah hati atau dada kiri lawannya!
Wu Wi Thaisu berseru keras dan cepat ia menggerakkan pedang melindungi dada, karena untuk mengelak sudah tidak ada waktu lagi! Dua pedang bertemu, menempel keras dan tak dapat dilepaskan lagi. Kalau Wu Wi Thaisu tidak menang dalam tenaga lweekang, tentu ia tak keburu melindungi dadanya dan ujung pedang In Hong hanya terpisah setengah dim saja dari bajunya. Akan tetapi, berkat tenaga lweekangnya yang masih lebih kuat daripada In Hong, ia dapat mendorong gadis itu dan sambil mengerahkan tenaga ia berseru keras.
In Hong terhuyung mundur dan terpental seakan-akan tertiup angin badai! Gadis ini pucat, akan tetapi merasa lega bahwa ia tidak terluka. Kiranya Wu Wi Thaisu memang tidak bermaksud buruk dan ia tadi hanya mengerahkan khikang untuk membikin gadis itu terpental. Kalau ia mau mempergunakan lweekang sekuatnya, pasti In Hong akan terluka di dalam tubuhnya.
“Siancay, siancay... ilmu pedangmu benar-benar hebat, Kwee-Lihiap,” kata-kata ini memang sejujurnya, karena ia yang sudah memiliki delapan bagian atau hampir seluruhnya dari Go-bi-kiam-hoat, dalam dua puluh jurus tidak dapat mengalahkan ilmu pedang gadis itu, bahkan hampir saja ia menjadi korban. Kemenangannya tadi bukan karena ilmu pedang, melainkan karena ia memiliki tenaga lweekang yang lebih kuat.
Maka ia merasa penasaran dan juga kagum sekali, akan tetapi ia sekarang teringat. Yang dapat menghadapi Go-bi-kiam-hoat dari Suhunya yang tua, yakni Tek Eng Thaisu Ketua Go-Bi-Pai, adalah Hek Moli, Iblis Wanita hitam itu. Biarpun Hek Moli mainkan tongkat, namun keganasan dan kecepatannya hampir sama dengan gerakan gadis ini.
“Kwee-Lihiap, kalau kau bukan murid Hek Moli, aku si tua bangka tidak mampu menerka lagi murid siapakah kau ini.”
In Hong menjura. “Wu Wi Thaisu, tebakanmu yang tepat ini menambah kekagumanku atas ilmu pedang Go-bi-kiam-hoat yang benar-benar indah dan luar biasa. Aku terima kalah.”
“Kau pandai bersombong dan pandai merendah, benar-benar kau seperti Gurumu. Eh, sekarang aku harus bayar hutang. Kau hendak bertanya tentang Tek Seng Cu?”
“Benar, Totiang,” In Hong menjadi gembira dan menyimpan Liong-gan-kiam.
“Dia sudah tewas!”
In Hong melengak. “Jadi subo yang...”
“Ya benar, mendiang Gurumu yang menewaskannya.”
“Apa katamu, Totiang?” In Hong menjerit. “Guruku...??”
“Gurumu juga tewas dalam pertempuran itu.”
Tiba-tiba In Hong mencabut pedangnya dan cepat menusuk dada Wu Wi Thaisu. Tosu ini cepat menangkis dengan pedang yang masih dipegangnya. “Sabar, jangan kau tiru keganasan Gurumu itu. Keganasan tanpa perhitungan dan tanpa dipertimbangkan lebih dulu adalah kesesatan dan hanya akan membawa kau ke dalam lembah kehancuran!”
In Hong sadar kembali. Memang amat tidak baik kalau tiba-tiba menyerang atau membunuh orang tanpa mengetahui persoalannya dengan jelas, hanya timbul dari persangkaan belaka. “Guruku tewas? Tentu kalau bukan olehmu, oleh Pek Eng Thaisu, siapa lagi yang dapat menewaskannya? Tek Seng Cu manusia sombong itu? Hah, jangan kau mencoba untuk menyangkal, Wu Wi Thaisu!” Dada gadis itu berombak, mukanya merah, sepasang matanya seperti berapi.
Wu Wi Thaisu menggeleng kepalanya. “Sayang bukan! Kalau aku yang menewaskannya, itu tanda bahwa ilmu silatku mendapat banyak kemajuan. Padahal semenjak aku kalah olehnya di puncak Go-bi dahulu, harus ku akui bahwa ilmu silatku banyak mundur!”
“Jadi kalau begitu Pek Eng Thaisu yang menewaskan Guruku?”
“Juga bukan, Kwee-Lihiap. Suhu sudah terlalu tua untuk mengurus segala macam persoalan dunia, mana Suhu mau membunuh orang?”
“Wu Wi Thaisu, kau tadi sudah berjanji hendak memenuhi semua permintaanku. Apakah sekarang kau hendak memutar balik omongan dan untuk pertanyaan ini saja kau tidak mau mengaku? Siapakah yang telah membunuh Guruku?”
Pada saat itu, Yo Kang yang semenjak pertandingan pedang tadi hampir tak berani bernapas, buru-buru datang menghampiri mereka. “Adikku In Hong, harap kau bersabar dan berlaku tenang. Tidak baik mendesak-desak Wu Wi Lo-Cianpwe.”
In Hong berpaling kepada Yo Kang. “Yo-Twako, urusanmu sudah selesai, dan sekarang aku minta supaya kau pulang lebih dulu. Aku ada banyak sekali urusan yang harus kuselesaikan. Harap kau jangan membantah lagi!”
Di dalam kata-kata ini terkandung suara yang dingin dan ketus sehingga Yo Kang tak berani membantah. Ia hanya menarik napas panjang, lalu berkata, “Baiklah, Hong-moy dan tentang mencari Ibumu...” Ia berhenti karena teringat bahwa kini tidak ada artinya lagi membantu gadis yang ternyata memiliki kepandaian jauh lebih lihay daripada kepandaiannya sendiri itu. “Ah.... orang macam aku ini mempunyai kegunaan apakah? Biarlah, aku hanya akan mencoba mendengar-dengar dimana adanya Ibumu, Hong-moy.”
In Hong terharu juga. Ia tahu akan isi hati pemuda ini. “Bantuanmu masih amat kuperlukan, Yo-Twako. Nah, selamat berpisah dan mudah-mudahan tak lama lagi kita akan dapat bertemu pula.”
Yo Kang memberi hormat kepada Wu Wi Thaisu, lalu melompat ke atas kudanya dan membalapkan kuda itu pulang ke See-Ciu. Ia benar-benar merasa terpukul dan malu kepada diri sendiri dan semenjak saat itu, ia melempar jauh-jauh julukan Bu-Tong Sin-To dan bahkan tidak mau lagi bicara tentang ilmu silat!
Setelah Yo Kang pergi, In Hong berkata lagi kepada Wu Wi Thaisu, “Bagaimana, Totiang, apakah kau masih tidak mau menolongku? Ingat janjimu tadi. Pantaskah seorang tokoh kedua dari Go-Bi-Pai menarik kembali janjinya? Ingat, aku tidak akan segan-segan untuk mengabarkan hal ini di dunia kang-ouw!”
Wu Wi Thaisu kewalahan dan menarik napas panjang dengan sikap duka. “Baiklah, Kwee-Lihiap. Ada orangnya yang tahu betul akan hal itu, bahkan yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri ketika Gurumu tewas. Dia itu adalah muridku sendiri yang bernama Wi Tek Tosu, Guru dari Tek Seng Cu. Aah, kami harus menanggung seluruh dosa yang dilakukan oleh Tek Seng Cu. Marilah, mari kita menemui Wi Tek Tosu yang berada di tempat tidak jauh dari sini.”
Setelah berkata demikian, Wu Wi Thaisu menggerakkan kedua kaki dan mengibaskan tangan, maka melesatlah tubuhnya karena ia sudah mempergunakan ilmu lari cepat. In Hong tidak mau tertinggal dan cepat mengejar. Dalam hal ilmu lari cepat, ia tidak kalah lihay oleh Tosu tua dari Go-Bi-Pai ini maka ia dapat mendampinginya.
Ternyata Wu Wi Thaisu tidak membawanya pergi jauh, hanya kurang lebih tigapuluh lie dari dusun tadi. Mereka tiba di sebuah dusun yang sunyi di lereng gunung kecil dan Wu Wi Thaisu mengajak In Hong menuju ke sebuah kelenteng bertembok kuning yang berdiri di lereng itu.
“Disinilah tempat Pinto untuk sementara waktu kalau Pinto turun dari Go-bi-san,” kata Tosu itu setelah mereka berjalan memasuki pekarangan kelenteng. “Di dalam sebuah kamar di kelenteng ini kau akan bertemu dengan orang yang telah menyaksikan sendiri bagaimana Gurumu itu tewas. Mari kau ikut Pinto!”
Hati In Hong berdebar keras. Suhunya sudah tewas dan ia akan bertemu dengan orang yang dapat menceritakannya tentang kematian Gurunya itu. Ia harus membalas dendam dan kalau ia sudah tahu siapa yang membunuh Gurunya, ia takkan berhenti sebelum dapat membalas sakit hati ini.
Wu Wi Thaisu berhenti di depan sebuah kamar. Kamar ini kecil saja, paling besar dua meter persegi. Daun pintunya tertutup dan di antara dua daun pintu ditempeli kertas biru yang ada tulisannya, TEMPAT HUKUMAN MURID BERDOSA. Kalau pintu itu dibuka, tentu tempelan ini akan rusak dan robek. Di dekat pintu itu terdapat sebuah jendela tak berdaun, atau lebih tepat disebut lubang angin karena tingginya satu kaki dan lebarnya tidak ada satu kaki. Inipun di tengah-tengahnya masih ada sebatang rujinya sehingga tak mungkin orang dapat keluar dari lubang itu tanpa merusaknya.
Karena Wu Wi Thaisu mengajak In Hong berhenti di depan lubang itu, tampaklah oleh In Hong seorang Tosu setengah tua duduk bersila menghadapi tembok di dalam kamar itu. Tosu ini duduk bersamadhi di atas sebuah pembaringan kayu yang kasar, tak bergerak seperti sebuah arca. In Hong tidak mengenal Tosu ini dan belum pernah melihatnya, maka ia memandang kepada Wu Wi Thaisu dengan mata bertanya.
“Dia adalah Wi Tek Tosu, muridku, dan Guru dari Tek Seng Cu,” katanya perlahan, kemudian, melalui lubang itu ia berkata kepada Tosu yang sedang bersamadhi, “Wi Tek, nona Kwee In Hong murid Hek Moli sudah datang dan kau harus menceritakan semua peristiwa itu sejelasnya kepada Kwee-Lihiap.”
Tanpa menoleh, Tosu itu berkata, “Suhu, Teecu sudah berdosa, sudah melanggar pantangan sucouw, dan Teecu sudah menerima hukuman Suhu, bersedia untuk dikurung disini selama lima tahun. Bahkan Teecu rela andaikata Suhu mengurung Teecu disini sampai mati. Akan tetapi, apa perlunya Teecu bicara dengan murid Hek Moli? Teecu sudah kehilangan tiga orang Sute, sudah kehilangan murid, semua gara-gara Hek Moli, jangan-jangan kalau melihat murid Hek Moli, Teecu akan lupa diri dan melakukan pelanggaran lagi!”
“Wi Tek, Pinto sudah berjanji kepada Kwee-Lihiap dan Pinto sudah kena dikalahkan dalam pertandingan. Ini sebuah perintahku dan kau tidak boleh melanggar!” Wu Wi Thaisu membentak.
Wi Tek Tosu memutar tubuhnya dan memandang kepada In Hong. Ia kelihatan heran sekali melihat seorang nona begini muda. Betulkah Suhunya kalah oleh nona ini? Benar-benar luar biasa dan hampir tak mungkin ia percaya. Akan tetapi ia tidak berani membantah kehendak Suhunya, maka dengan muka merengut dan tanpa menatap wajah In Hong, ia lalu menuturkan peristiwa pertempuran dengan Hek Moli secara singkat,
“Aku dengan tiga orang Suteku, Wi Kong Tosu, Wi Jin Tosu dan Wi Liang Tosu, dan muridku Tek Seng Cu, dibantu pula oleh tiga orang tokoh Kun-Lun-Pai, Cu Sim San-Lojin, Kim Sim San-Lojin, dan Sun Sim San-Lojin menantang Hek Moli mengadakan pertandingan di puncak O-mei-san. Hek Moli datang dan kami mengeroyoknya. Tiga orang Suteku dan muridku tewas, akan tetapi syukur aku dan tiga San-Lojin dari Kun-Lun-Pai berhasil membikin mampus iblis wanita itu. Nah, kau sudah mendengar penuturanku!” Setelah berkata demikian, Wi Tek Tosu memutar tubuhnya kembali, mengha-dapi tembok dan bersamadhi untuk melanjutkan hukumannya!
Sepasang alis In Hong berdiri dan sekali gadis ini menggerakkan tangan, terdengar suara keras dan ruji baja dilubang itu telah patah! Ia mencabut pedangnya dan berseru, “Bagus, kau seorang di antara pembunuh-pembunuh Guruku, kau harus mampus sekarang juga!”
Akan tetapi Wu Wi Thaisu cepat menghadang di depan jendela itu dan menggeleng-geleng kepalanya. “Kwee-Lihiap, kau benar-benar tidak adil. Coba kau berpikir dengan tenang. Peristiwa permusuhan ini yang menjadi biang keladi adalah Gurumu sendiri. Kalau Gurumu dahulu tidak naik ke Go-Bi-Pai mengajak pibu, tentu Tek Seng Cu tidak akan buntung tangannya, dan muridku ini bersama saudara-saudaranya tidak akan menaruh hati dendam.
"Ketua kami sudah melarang dia mencari permusuhan, akan tetapi diam-diam ia tidak dapat memadamkan api dendamnya sehingga ia menantang Hek Moli. Kemudian akibatnya lebih hebat lagi, karena kami kehilangan empat orang murid Go-Bi-Pai. Biarpun Gurumu tewas, akan tetapi empat orang murid kami juga tewas, dan kau lihat buktinya sendiri, Wi Tek Tosu sudah kami hukum untuk lima tahun di kamar ini. Apakah kau masih penasaran? Bukankah kematian Gurumu sudah terbalas lebih dari cukup?”
“Guruku tewas akibat pengeroyokan yang curang dan licik. Kalau murid-muridmu tidak curang dan mengeroyoknya, mana bisa Guruku tewas? Sungguh tak tahu malu, tujuh orang mengeroyok seorang lawan!” In Hong marah sekali, juga berduka mendengar akan nasib Gurunya.
“Kwee-Lihiap, Gurumu memang berkepandaian tinggi, sehingga Ketua kami barulah dapat mengimbanginya. Biarpun dikeroyok oleh empat orang murid Go-Bi-Pai, mana bisa dia kalah? Buktinya, dibantu oleh tiga tokoh Kun-Lun, masih saja tiga orang murid kami tewas. Pinto sendiri tidak akan menang dari Gurumu, mana bisa orang seperti muridku ini menewaskan Gurumu?
"Hanya karena ketiga San-Lojin dari Kun-Lun-Pai, maka akhirnya Gurumu tewas. Pihak Go-Bi-Pai sudah menebusnya dengan empat nyawa dan bahkan seorang dihukum lima tahun, ini sudah lebih dari cukup. Sebaliknya, pihak Kun-Lun-Pai, yang tidak kehilangan seorangpun murid, telah menjatuhkan Gurumu. Maka kalau kau merasa penasaran, mengapa mencari disini?”
Wu Wi Thaisu memang cerdik. Tidak saja kata-katanya memang beralasan, akan tetapi ia sengaja hendak mengadu gadis ini dengan pihak Kun-Lun-Pai. Ia dapat melihat bahwa gadis ini berwatak ganas seperti Hek Moli, dan sukarlah menundukkannya apabila kelak gadis ini menjadi jahat dan ganas. Hanya pihak Kun-Lun-Pai yang memiliki banyak orang berkepandaian tinggi kiranya dapat mengalahkan gadis ini. Gurunya sendiri, Pek Eng Thaisu, tidak mau turun gunung lagi, maka sebaiknya menyuruh gadis ini menyerbu ke Kun-Lun!
In Hong dapat menerima alasan ini, maka dengan gemas ia berkata, “Kalau aku tidak dapat menewaskan tiga San-Lojin Kun-Lun-Pai yang telah membunuh Guruku, aku bersumpah tidak mau jadi orang lagi!” Setelah berkata demikian, In Hong berkata kepada Wi Tek Tosu melalui jendela yang sudah rusak itu,
“Aku memandang muka Wu Wi Thaisu dan mengampunimu. Akupun menghabiskan permusuhan antara aku dan Go-Bi-Pai. Harap kau suka katakan bagaimana selanjutnya dengan jenazah Guruku.”
Namun Wi Tek Tosu tidak menjawab, diam saja tidak bergerak sedikitpun. Wu Wi Thaisu tidak enak melihat ini, karena ia maklum bahwa betapapun juga di dalam hati Wi Tek Tosu masih terkandung kebencian terhadap Hek Moli.
“Kwee-Lihiap, muridku sudah bercerita kepadaku bahwa jenazah Gurumu itu dikubur baik-baik oleh pendekar gagah yang bernama Ong Tiang Houw. Kau tentu kenal padanya, bukan?”
In Hong mencatat nama ini dan merasa berterima kasih sekali. “Aku sudah mendengar nama besarnya akan tetapi belum mendapat kehormatan bertemu muka dengan orangnya. Kelak aku akan mencarinya dan menghaturkan terima kasih. Nah, selamat tinggal, Totiang.”
Setelah berkata demikian, In Hong melompat keluar dari kelenteng itu dan pergi dengan cepat sekali. Hatinya penuh kemarahan terhadap Kun-Lun-Pai dan ia mengambil keputusan untuk menunda usahanya mencari Ibunya, dan hendak langsung menyerbu ke Kun-Lun-Pai, membalas dendam Gurunya kepada ketiga Kun-Lun San-Lojin...!