Kisah Si Tawon Merah Jilid 04 - SETELAH mandi air yang cukup banyak, Bwee Hwa merasa tubuhnya segar. Hidangan malam itu lebih meriah lagi dan diramaikan dengan tarian dan nyanyian yang dilakukan keluarga para anggauta gerombolan. Suasana menjadi meriah dan riang gembira. Bwee Hwa terbawa ke gembiraan itu.

Diam-diam gadis ini merasa heran karena dalam keadaan seperti itu, sama sekali tidak membayangkan bahwa ia berada di tengah perkampungan yang menjadi sarang perampok-perampok ganas!
Arak harum berulang kali disuguhkan oleh Gak Sun Thai yang bergantian dengan para pembantunya menyulangi gadis itu. Dalam kegembiraannya, gadis yang masih kurang pengalaman ini merasa tidak enak untuk menolak dan iapun minum banyak arak wangi sampai kepalanya mulai merasa pening.
Akhirnya Bwee Hwa tidak kuat lagi. Ia menjadi mabok dan dengan terhuyung-huyung ia diantar oleh dua orang pelayan wanita memasuki kamarnya. Tanpa membuka pakaian lagi ia langsung menjatuhkan diri di atas pembaringan di kamar itu dan langsung tertidur pulas.
Bwee Hwa mendengar kicau burung. Banyak burung berkicau dan suara mereka indah sekali, mendatangkan suasana riang gembira. Ia membuka kedua matanya dan melihat jendela kamar itu sudah terbuka. Angin pagi semilir masuk mendatangkan hawa sejuk. Kepalanya masih berdenyut aneh dan teringatlah ia bahwa semalam ia terlalu banyak minum arak. Ia hendak mengangkat tangan untuk memijat pelipisnya yang terasa agak pening.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika kedua tangannya tidak dapat ia angkat. Ia cepat menggerakkan kedua kaki untuk melompat turun dari atas pembaringan, namun juga kedua kakinya tidak dapat di gerakkan. Cepat ia mengerling dengan sudut matanya dan ia menjadi heran, kaget dan marah bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa kedua kaki dan tangannya telah terbelenggu kuat-kuat!
Bwee Hwa mengerahkan tenaga untuk memutuskan belenggu kaki tangannya itu, akan tetapi agaknya orang yang membelenggunya sudah siap menghadapi kemungkinan ini. Karena mengetahui betapa kuat tenaga sin-kang gadis itu, maka mereka menggunakan tali yang amat kuat, ulet dan lentur sehingga semua upayanya untuk mematahkan belenggu itu hanya menghasilkan rasa nyeri dan pedas pada pergelangan kaki dan tangannya.
“Jahanam Gak, manusia keparat rendah, pengecut besar!” Bwee Hwa berteriak-teriak nyaring, memaki-maki penuh kemarahan. Ia hanya dapat menggulingkan tubuhnya sehingga akhirnya ia terguling dan jatuh dari atas pembaringan dalam keadaan rebah dan tidak mampu bangkit duduk.
Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dan Gak Sun Thai muncul dari pintu kamar. “Ha-ha-ha, perempuan muda yang sombong! Coba ingin kulihat apakah engkau dapat membebaskan dirimu sekarang, ha-ha-ha!”
Bwee Hwa menggulingkan tubuhnya sehingga ia dapat memandang wajah kepala gerombolan itu. “Huh, orang she Gak! Apakah engkau tidak tahu malu? Pantaskah kecurangan ini dilakukan seorang laki-laki jantan? Sungguh engkau manusia hina, rendah dan curang! Mengapa engkau melakukan kecurangan seperti ini kepadaku yang tadinya kau anggap sebagai seorang sahabat?”
“Bwee Hwa, jangan engkau sombong! Biarpun kepandaianmu tinggi, akan tetapi engkau masih hijau dan tolol. Ketahuilah, kalau saja engkau bukan puteri Kauw-jiu Pek-wan, tentu sekarang engkau masih kuanggap sebagai seorang tamu agung yang kami hormati. Akan tetapi engkau adalah puteri Si Lutung Gila itu! Dia telah memukul, memaki, menghina dan mengusir aku.
"Padahal aku telah bertahun-tahun menjadi pembantunya yang setia. Telah lama sekali aku mendendam kepadanya, dan sekarang engkau anaknya dengan suka rela datang menyerahkan diri. Maka, jangan engkau mati penasaran, biarlah engkau mewakili ayahmu atas kelakuannya yang jahat kepadaku dahulu dan biarlah engkau yang menebus dosanya.”
“Pengecut hina! Beginikah caramu membalas dendam? Kalau engkau memang laki-laki, lepaskan ikatan ini dan mari kita bertanding seribu jurus sampai seorang di antara kita mati!”
“Ha-ha-ha, kau kira aku begitu bodoh? Terus terang kuakui bahwa aku tidak mampu menandingimu. Kepandaianmu tinggi, aku tidak begitu bodoh untuk membebaskanmu. Engkau sudah tertawan dan dendamku akan terbalas terhadap Kauw-jiu Pek-wan melalui engkau, anaknya!”Bwee Hwa merasa gemas sekali. “Bangsat rendah tak tahu malu. Aku sudah terjatuh dalam akal dan tipu muslihatmu yang curang dan rendah. Hayo engkau cepat ambil senjata dan bunuh mati aku agar nyawaku dapat bebas untuk mencekik batang lehermu!”
“Enak saja kau bicara! Bukan semudah itu engkau mati.”
“Apa yang hendak kau lakukan, jahanam busuk?” Bwee Hwa membentak dengan marah, akan tetapi diam-diam ia merasa khawatir. Mati bukan apa-apa baginya dan ia tidak takut. Akan tetapi ia merasa khawatir kalau-kalau manusia rendah itu akan menggunakan akal busuk lain lagi untuk menyiksanya.
“Nona manis, kau lihat sajalah nanti. Aku akan menghibur anak buahku dengan pertunjukan yang menarik hati.”
Setelah berkata demikian, Gak Sun Thai berteriak memanggil empat orang anak buahnya yang menanti di luar kamar. Atas perintah Gak Sun Thai, empat orang itu lalu mengangkat dan memanggul tubuh Bwee Hwa keluar dari rumah itu. Gadis itu lalu dinaikkan ke atas punggung dua ekor kuda yang di tengah-tengah antara mereka telah dipasangi usungan.
Bwee Hwa dipaksa duduk di dalam usungan itu dengan kaki tangan tetap terbelenggu. Ia meneliti dengan sudut matanya dan melihat betapa orang-orang yang kemarin mengaguminya itu kini tampak bermuka beringas, buas dan kejam, tanda bahwa mereka semua telah ikut membenci dan memusuhinya.
Tak lama kemudian, Gak Sun Thai bersama tiga orang pembantu utamanya yang kemarin menguji kepandaian Bwee Hwa, memimpin para anak buah gerombolan membawa Bwee Hwa ke dalam hutan yang tampaknya lebih lebat dan liar lagi. Mereka melalui sepanjang lorong kecil yang agaknya merupakan jalan rahasia mereka dan jalannya mendaki, menuju puncak bukit.
Kurang lebih lima li mereka berjalan, mereka tiba di puncak bukit di mana terdapat tempat terbuka karena pohon-pohon yang tumbuh di situ tidak berdempetan, akan tetapi semua pohon itu sangat tinggi. Bwee Hwa lalu diturunkan dan diikat pada sebatang pohon besar yang berdiri agak terpencil. Ia dihadapkan ke arah timur, disinari matahari yang mulai cerah sinarnya.
“Nah, malam tadi engkau kami jamu dengan pesta makan besar, sekarang biarlah engkau yang menjadi hidangan lezat!” kata Gak Sun Thai sambil menyeringai. Wajahnya tampak bengis penuh dengan kekejaman hati yang mendendam.
Bwee Hwa diam saja, hanya tetap waspada memperhatikan keadaan sekelilingnya walaupun ia sama sekali tidak berdaya. Ia tahu bahwa dirinya berada dalam ancaman bahaya maut, akan tetapi tidak dapat menduga apa macam bahaya itu.
Gak Sun Thai lalu mengeluarkan sebuah terompet dari tanduk kerbau dan diapun meniup terompet itu. Terdengar suara mengaum yang menyeramkan, seperti bunyi seekor kerbau menguak, akan tetapi suara itu memanjang dan mengandung getaran yang dapat membuat suara itu terdengar sampai jauh, bergaung.
Ketika kepala gerombolan itu meniup terompetnya, semua anak buahnya yang berdiri mengelilinginya berdongak memandang ke atas sehingga Bwee Hwa juga memandang ke atas. Akan tetapi langit yang kelabu itu tampak bersih tidak ada sesuatu yang aneh sehingga Bwee Hwa merasa heran sekali. Apakah yang sedang dilakukan orang-orang yang wajahnya beringas ini? Berulang-ulang Gak Sun Thai meniup terompetnya sehingga mukanya mulai berkeringat dan urat lehernya menggembung.
Tiba-tiba terdengar seorang di antara mereka berseru, “Nah itu mereka datang!”
Semua orang memandang ke atas. Juga Bwee Hwa melihat ke arah yang ditunjuk itu. Tiba-tiba hatinya berdebar dan tahulah ia kini apa yang dikehendaki Gak Sun Thai yang sudah seperti gila oleh dendam sakit hatinya.
Di atas udara tampak dua titik hitam melayang-layang dan berputar-putar mengelilingi sekitar tempat itu. Jelas bahwa dua titik hitam itu merupakan burung terbang. Setelah dua titik hitam itu melayang turun semakin dekat, tampaklah bahwa mereka adalah dua ekor burung rajawali yang amat besar, seperti dua ekor rajawali yang dibunuhnya kemarin!
Gak Sun Thai dan semua anak buahnya lalu berloncatan menyelinap di antara semak-semak dan mereka semua bersembunyi. Akan tetapi Gak Sun Thai yang bersembunyi di dalam semak belukar masih terus meniup terompetnya. Dua ekor burung rajawali itu kini telah tiba di atas pohon di mana Bwee Hwa terikat. Mereka terbang mengelilingi pohon itu dan Gak Sun Thai sudah meng-hentikan tiupan sulingnya.
Kini mengertilah Bwee Hwa. Tiupan terompet tanduk kerbau itu adalah untuk menarik perhatian dan memanggil dua ekor burung itu dan dirinya dipasang di situ sebagai umpan. Pantas saja kepala gerombolan itu tadi berkata bahwa ia hendak dijadikan sebagai hidangan lezat. Ia hendak dijadikan mangsa dua ekor burung itu!
Tentu saja Bwee Hwa merasa ngeri membayangkan betapa tubuhnya akan dicabik-cabik. Akan tetapi ia menggigit bibirnya. Tak sudi ia mengeluh atau menjerit memperlihatkan rasa takutnya kepada Gak Sun Thai dan anak buahnya. Ia akan menghadapi kematiannya dengan tabah dan gagah, sesuai dengan nasihat gurunya dahulu.
“Lebih baik mati seperti harimau daripada hidup seperti babi!” kata gurunya yang menganjurkan agar ia selalu menjaga nama dan kehormatan, bersikap gagah biar diancam kematian sekalipun dan tidak boleh berbuat rendah dan bersikap pengecut.
Melihat semua orang bersembunyi, tahulah Bwee Hwa bahwa mereka takut menjadi korban dua ekor burung ganas itu dan mereka kini tentu sedang mengintai dengan hati tegang dan gembira! Kini ia tahu mengapa ia diikat di pohon itu dengan menghadap ke timur. Dengan demikian tubuhnya akan disinari matahari dan dapat dengan mudah tampak oleh sepasang burung rajawali itu.
Benar saja dugaannya. Agaknya dua ekor rajawali itu kini dapat melihat tubuh gadis yang terikat di batang pohon. Mereka mengeluarkan bunyi nyaring seperti kegirangan dan keduanya meluncur turun sampai dekat sekali dengan pohon. Mereka mengelilingi pohon dan kepakan sayap mereka yang besar dan kuat itu mendatangkan angin membuat daun-daun pohon bergoyang-goyang. Kini keduanya mengeluarkan bunyi cecowetan seolah berunding siapa yang akan lebih dulu menyerang calon mangsa yang berada di bawah pohon itu.
Bwee Hwa merasa ngeri, akan tetapi tetap saja ia tidak mau mengeluh, bahkan tidak memejamkan mata. Bahkan dengan sinar mata tajam ia menatap ke arah dua ekor rajawali itu dengan penuh keberanian. Tiba-tiba seekor di antara dua ekor rajawali itu, agaknya yang jantan, menukik ke bawah menyambar ke arah tubuh Bwee Hwa.
Pada saat yang teramat gawat bagi keselamatan nyawa Bwee Hwa itu, tiba-tiba terdengar seruan nyaring. “Binatang jahat, pergilah!”
Dan dari belakang seba-tang pohon besar berkelebat sesosok bayangan orang yang melebihi kecepatan rajawali itu sehingga sebelum burung itu dapat mencengkeram tubuh Bwee Hwa, tahu-tahu seorang pemuda telah berdiri di depan Bwee Hwa dan menggunakan pedangnya menyambut rajawali itu dengan sabetan pedangnya!
Rajawali raksasa itu sama sekali tidak menyangka akan disambut serangan. Gerakan pedang di tangan pemuda itu luar biasa cepatnya sehingga rajawali itu tidak mampu menghindarkan dirinya dan kaki kirinya, di bagian paha terluka sabetan pedang dan mengeluarkan darah! Burung itu mengeluarkan pekik nyaring, tubuhnya melayang lagi ke atas sambil berteriak-teriak.
Alangkah gembira hati Bwee Hwa ketika melihat bahwa yang menolongnya itu bukan lain adalah Ong Siong Li, pemuda yang dulu bersamanya telah mengobrak-abrik perkumpulan agama sesat Hwe-coa-kauw! Siong Li tidak membuang waktu lagi, pedangnya berkelebat dua kali dan belenggu di kaki tangan Bwee Hwa terputus. Gadis itu kini bebas.
“Li-ko, terima kasih!” kata Bwee Hwa dengan terharu, karena tadinya ia sudah hampir putus asa untuk dapat terlepas dari ancaman maut.
“Hwa-moi, jangan sungkan untuk urusan kecil ini. Mari kita basmi penjahat-penjahat itu.”
Bwee Hwa seperti diingatkan. Ia melihat ke kanan kiri dan matanya yang tajam dapat melihat bayangan orang-orang bersembunyi di balik pohon-pohon dan semak-semak. Sementara itu, dua ekor burung rajawali tadi tampaknya menjadi ketakutan dan mereka terbang pergi meninggalkan tempat itu. Mungkin kedua ekor rajawali itu tidak sedang kelaparan. Kalau mereka kelaparan, tentu mereka akan nekat untuk menyerang lagi.
“Bangsat rendah she Gak, keluarlah untuk menerima kematianmu!” bentak Bwee Hwa dengan marah.
Tiba-tiba dari tempat persembunyian para gerombolan itu meluncur anak panah dan senjata rahasia piauw yang beterbangan menyerang Bwee Hwa dan Siong Li. Siong Li cepat memutar pedangnya untuk memukul runtuh senjata-senjata rahasia itu. Adapun Bwee Hwa yang tidak memegang senjata, melompat ke atas menghindarkan diri.
Tubuh gadis itu bagaikan seekor burung terbang saja kini melayang ke arah para anak buah gerombolan yang sudah berlompatan keluar dari tempat persembunyian mereka. Begitu tubuhnya tiba di antara para anak buah gerombolan, kaki tangannya bergerak cepat dan terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan tiga orang anggauta gerombolan telah terpelanting roboh.
Seorang diri saja Gak Sun Thai tidak mampu mengalahkan Bwee Hwa. Hal ini bukan membuat dia jerih. Karena sekarang dia diikuti tiga orang pembantu utamanya dan empatpuluh lebih orang anak buahnya, tentu saja Gak Sun Thai tidak menjadi takut dan dia menjadi marah sekali melihat gadis itu dapat dibebaskan oleh seorang pemuda. Dia lalu memberi aba-aba dan semua anak buahnya kini maju mengeroyok Bwee Hwa dan Siong Li.
Seorang anak buah menyerang Bwee Hwa dengan tusukan pedangnya dari belakang. Pedangnya meluncur, menusuk ke arah punggung gadis itu. Akan tetapi dengan pendengarannya yang tajam terlatih, Bwee Hwa dapat mendengar gerakan ini. Dengan cepat sekali ia miringkan tubuhnya, terus membalik. Pedang itu meluncur lewat dekat tubuhnya. Tangan kiri Bwee Hwa menyambar, merampas pedang dan kakinya mencuat.
Penyerang itu berteriak, pedangnya terampas dan tubuhnya terlempar ke belakang diterjang tendangan kaki mungil itu. Kini, dengan pedang rampasannya, Bwee Hwa mengamuk. Pedangnya berubah menjadi gulungan sinar menyambar-nyambar, dari mulutnya keluar suara berdengung-dengung seperti banyak tawon beterbangan dan banyak anak buah gerombolan berpelantingan disambar gulungan sinar pedang.
Siong Li juga mengamuk dengan pedangnya. Gerakan pedangnya tidak kalah hebat walaupun tidak seganas amukan Bwee Hwa yang marah sekali. Melihat amukan dua orang muda itu, Gak Sun Thai cepat memberi isyarat kepada tiga orang pembantunya. Dia sendiri sudah menyerang Bwee Hwa dengan pedangnya dibantu Souw Ban Lip, kakek tinggi kurus berjenggot panjang yang bersenjatakan sebatang golok tipis.
“Cringgg.......!” Golok tipis di tangan Souw Ban Lip terpental ketika Bwee Hwa menangkis menggunakan pedang rampasannya. Pada saat itu, Gak Sun Thai membacok ke arah lehernya dengan pedang di tangan. Melihat serangan kilat yang tak dapat dielakkan lagi, Bwee Hwa mengerahkan tenaga dan memapaki bacokan itu dengan tangkisan pedangnya.
“Trakkk!” Bwee Hwa terkejut sekali dan melompat ke belakang. Ia melihat bahwa pedang rampasannya patah menjadi dua potong dan ternyata kepala gerombolan itu mempergunakan pedang Sin-hong-kiam pedang miliknya yang telah dirampas Gak Sun Thai.
“Keparat! Kembalikan pedangku!” bentak Bwee Hwa sambil menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka orang.
“Ha-ha-ha, nih, terima pedangmu!” Dia berkata dan menusukkan pedang pusaka itu ke arah dada Bwee Hwa.
Gadis itu cepat melompat ke kiri. Akan tetapi golok Souw Ban Lip telah menyambutnya dengan bacokan. Terpaksa ia melompat ke belakang dan hanya dengan sepotong pedang buntung Bwee Hwa melayani pengeroyokan Gak Sun Thai dan Souw Ban Lip, juga masih harus menghadapi pengeroyokan banyak sekali anak buah gerombolan.
Bwee Hwa berlaku cerdik sekali. Ia berlompatan meninggalkan dua orang pemimpin itu dan mengamuk di antara para anak buah gerombolan. Dengan demikian, dua orang pemimpin itu tidak mampu mendesaknya, terhalang oleh pengeroyokan banyak anak buah mereka terhadap Bwee Hwa.
Sementara itu, Lui Thong yang tinggi besar juga sudah mengeroyok Siong Li bersama Lie Hoat yang pendek kurus. Lui Thong menggunakan goloknya yang besar dan berat, sedangkan Lie Hoat mempergunakan sebatang tombak. Dua orang pimpinan gerombolan ini masih dibantu banyak anak buah mereka sehingga gerakan mereka bahkan terhalang dan tidak leluasa.
Seperti juga Bwee Hwa, Siong Li maklum bahwa yang lihai di antara para pengeroyoknya adalah dua orang pimpinan ini, maka diapun menjauhi mereka dan mengamuk, merobohkan banyak anak buah gerombolan. Di amuk dua orang muda yang amat lihai itu, anak buah gerombolan menjadi panik. Banyak sekali kawan mereka sudah roboh. Sisanya menjadi panik dan hanya mengepung sambil berteriak-teriak, tidak berani mendekat.
Akhirnya, hanya tinggal Gak Sun Thai dan Souw Ban Lip yang mengeroyok Bwee Hwa, sedangkan Lui Thong dan Lie Hoat mengeroyok Siong Li. Para anak buah ada yang merawat kawan-kawan yang terluka, dan ada pula yang menonton dari jarak jauh yang aman.
Sementara itu, ketika mengamuk di antara para anak buah gerombolan tadi, Bwee Hwa sudah berhasil merampas sebatang pedang lain untuk menggantikan pedangnya yang buntung. Kini ia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menghadapi dua orang pengeroyoknya.
Tiba-tiba Souw Ban Lip menggerakkan tangan kirinya dan tiga batang piauw dilepaskannya, menyambar ke arah Bwee Hwa. Gadis itu sengaja melempar diri ke bawah, bergulingan dan tangan kirinya bergerak. Sinar lembut menyambar ke arah Souw Ban Lip dan orang tinggi kurus itu menjerit dan terpelanting roboh sambil memegangi lehernya di mana tertancap tiga batang jarum Hong-cu-ciam!
Gak Sun Thai terkejut sekali melihat kawannya roboh. Dia menjadi panik dan biarpun dia menggunakan pedang pusaka Sin-hong-kiam milik Bwee Hwa, akan tetapi karena dia sudah terbiasa memainkan siang-kiam (sepasang pedang), maka gerakannya menjadi kacau. Akhirnya, ketika ujung pedang di tangan Bwee Hwa menyentuh lengannya, terpaksa dia melepaskan Sin-hong-kiam dan gadis itu cepat menangkap pedangnya, lalu membuang pedang rampasan tadi, kini menggunakan pedang sendiri!
Gak Sun Thai menjadi semakin panik, akan tetapi karena tidak ada kesempatan melarikan diri, dengan nekat dia mencabut sepasang pedangnya yang tergantung di punggung, lalu melawan mati-matian menggunakan siang-kiam.
Siong Li juga tidak mau kalah. Setelah dikeroyok dua, dia mengeluarkan jurus simpanannya pada saat Lie Hoat menahan tombaknya dan menyerangnya dengan tangan kiri menggunakan ilmu pukulan Tiat-see-ciang yang ampuh. Siong Li membuang diri ke kiri dan ketika tangan Lie Hoat yang pendek itu memukul lewat, dia mengayun pedangnya dari kiri.
“Crakkk!” Lengan kiri Lie Hoat itu buntung sebatas siku. Lie Hoat menjerit lalu melompat ke belakang, dengan tangan kanan memegangi siku yang buntung, akhirnya dia terkulai dan roboh pingsan. Beberapa orang anak buah segera mengangkatnya, seperti juga mereka mengangkat dan merawat Souw Ban Lip yang terkena jarum tawon Bwee Hwa.
Kini Bwee Hwa dan Siong Li masing-masing hanya melawan seorang saja. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuh Gak Sun Thai. Dia melawan mati-matian dengan sepasang pedangnya. Akan tetapi sekarang Bwee Hwa menggunakan Sin-hong-kiam. Sedangkan tadipun, mengeroyok gadis itu dengan banyak orang dia tidak mampu menang, apalagi harus melawan seorang diri!
Di lain pihak, Bwee Hwa marah sekali kepada kepala gerombolan yang curang dan kejam itu, maka ia mengeluarkan jurus-jurus simpanannya. Akhirnya, Bwee Hwa berhasil merobohkan Gak Sun Thai dengan tusukan pedangnya. Gak Sun Thai terjungkal roboh dan tewas seketika. Pada saat berikutnya, Siong Li juga berhasil merobohkan Lui Thong.
Bwee Hwa masih hendak mengamuk dan mengejar anak buah gerombolan yang melarikan diri sambil mengangkat kawan-kawan yang tewas dan terluka. Akan tetapi Siong Li mencegahnya.
“Sudahlah, Hwa-moi. Ampunkan mereka. Mereka itu hanya anak buah. Setelah para pimpinan mereka tewas, tentu mereka tidak akan berani merajalela melakukan kejahatan lagi. Apalagi mengingat bahwa mereka mempunyai keluarga.”
Bwee Hwa menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, orang yang paling dibencinya, Gak Sun Thai, telah tewas. Ia membersihkan pedangnya pada batang pohon dan daun-daun, lalu menyarungkan lagi pedangnya. Sarung pedang itu masih menempel di pinggangnya. Agaknya karena tergesa Gak Sun Thai tadi hanya merampas pedangnya tanpa menanggalkan sarung pedangnya.
Ia lalu menatap wajah Siong Li dan berkata sambil tersenyum manis. “Li-ko, sungguh aku berhutang budi besar sekali kepadamu. Kalau saja tidak ada engkau, maka pada saat ini tentu sudah tidak ada lagi yang namanya Ang-hong-cu. Aku tentu sudah lenyap ke dalam perut dua ekor rajawali raksasa tadi. Bagaimana aku dapat membalas budimu ini, Li-ko?”
“Hwa-moi, jangan engkau mengeluarkan kata-kata seperti itu, membuat aku merasa malu dan tidak enak saja. Bukankah sudah menjadi kewajiban kita untuk menolong siapa yang patut ditolong? Janganlah bicara tentang budi, karena perbuatan yang dilakukan dengan pamrih apapun juga demi keuntungan diri sendiri bukanlah kebajikan.”
Mendengar ucapan ini Bwee Hwa menghela napas panjang. “Li-ko, kata-katamu itu mengingatkan aku akan guruku. Engkau sungguh berhati mulia dan aku merasa seakan-akan berhadapan dengan saudaraku sendiri. Maukah engkau kuanggap sebagai seorang kakakku?”
“Terima kasih atas kebaikanmu, Hwa-moi.”
“Twako (kakak), bagaimana engkau tiba-tiba saja dapat datang ke sini menolongku?”
Wajah Siong Li menjadi kemerahan. Sebenarnya, ketika dia berpisah dari gadis itu, hatinya merasa tidak senang. Entah mengapa, dia merasa suka sekali berada di dekat gadis itu sehingga ketika mereka saling berpisah, dia merasa kehilangan dan kesepian. Terutama kalau dia teringat akan keterangan gadis itu bahwa ia hendak mencari Kauw-jiu Pek-wan. Hatinya menjadi cemas karena dia telah mendengar kabar bahwa Kauw-jiu Pek-wan adalah seorang yang berkepandaian tinggi dan juga jahat sekali.
Dia khawatir kalau-kalau gadis itu akan menemui bencana. Karena itu, akhirnya dia mengalihkan tujuan perjalanannya dan melakukan pengejaran, lalu membayangi secara diam-diam. Dia melihat Bwee Hwa dijamu kepala gerombolan, akan tetapi dia hanya mengintai dari jauh dan tidak mau memperlihatkan diri. Dia melewatkan malam di atas pohon besar dan tidur di sana, seperti yang sudah biasa dia lakukan.
Akan tetapi, pada keesokan harinya, dia terkejut bukan main melihat betapa Bwee Hwa ditawan, dibelenggu kaki tangannya dan dibawa ke dalam hutan. Dia membayangi dan berjaga-jaga untuk turun tangan menolong kalau gadis itu terancam. Demikianlah, ketika dua ekor burung itu datang menyerang, dia lalu turun tangan menolongnya.
Akan tetapi kini dia menghadapi pertanyaan Bwee Hwa dan dia merasa bingung, tidak tahu harus menjawab bagaimana. Untuk berterus terang dia merasa malu karena hal itu akan membuka rahasia perasaan hatinya. Untuk berbohong dia juga tidak sanggup karena hal itu bukan kebiasaannya. Akhirnya setelah berpikir-pikir, dia menjawab.
“Hwa-moi, sebetulnya ketika aku mendengar bahwa engkau hendak mencari Kauw-jiu Pek-wan, hatiku merasa sangat tertarik. Telah lama aku mendengar akan nama besar dan kehebatan Kauw-jiu Pek-wan, akan tetapi aku belum pernah bertemu dengannya. Kini aku ingin sekali untuk bersamamu mencari orang tua yang lihai itu dan untuk membuktikan sampai di mana kelihaiannya. Karena pikiran dan keinginan itulah maka aku lalu menyusulmu dan mengikuti jejakmu sampai di sini dan kebetulan melihat engkau terancam bahaya tadi.”
Bwee Hwa menghela napas panjang. “Li-ko, karena engkau telah menolongku dan sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri, maka biarlah aku mengaku terus terang kepadamu. Sebenarnya Kauw-jiu Pek-wan itu adalah ayahku sendiri. Aku telah dibawa oleh suhu ketika aku berusia delapan tahun dan aku tidak ingat lagi siapa nama ayah ibuku dan di mana tempat tinggal mereka. Karena itulah, maka aku hendak mencari Kauw-jiu Pek-wan karena hanya julukannya itulah yang kutahu dari suhuku.”
Siong Li dapat menahan perasaan hatinya yang kaget bukan main mendengar bahwa Bwee Hwa adalah puteri Kauw-jiu Pek-wan. Akan tetapi hal ini tidak tampak pada mukanya. Dia hanya mengangguk lalu berkata. “Lalu ke manakah engkau hendak mencarinya, Hwa-moi?”
“Aku sudah mendengar dari jahanam Gak Sun Thai itu bahwa ayahku sekarang bertempat tinggal di sebuah kampung kecil di atas Bukit Twi-bok-san. Dia bernama Kwee Ciang Hok dan memang tadinya ayah adalah seorang perampok besar. Akan tetapi kata kepala gerombolan itu, ayah kini telah mengundurkan diri dan mencuci tangan.”
Siong Li menarik napas panjang. “Hwa-moi, terus terang saja, akupun telah mendengar bahwa nama ayahmu itu disohorkan orang dan tidak begitu baik terdengarnya. Akan tetapi semua itu hanya kabar angin, aku sendiri belum menyaksikannya dan engkau juga telah berpisah dari ayahmu sejak kecil. Kuharap saja kabar-kabar itu hanya bohong belaka. Maka sebaiknya kita pergi sendiri ke Twi-bok-san untuk membuktikan kebenaran kabar-kabar angin itu.”
Bwee Hwa memandang wajah pemuda itu dan di dalam hatinya ia menilai. Pemuda ini benar-benar baik hati terhadapnya dan memiliki pandangan yang bijaksana. Dan harus ia akui bahwa wajah pemuda itu cukup tampan dan gagah. Memang bentuk tubuhnya agak pendek, akan tetapi ketika diam-diam Bwee Hwa mengukur dengan sudut matanya, ia mendapat kenyataan bahwa sependek-pendeknya, pemuda itu masih lebih tinggi sedikit daripada ia.
“Li-ko, tahukan engkau jalan menuju Twi-bok-san?” Siong Li mengangguk. “Kalau begitu, kita tidak segera berangkat ke sana, mau tunggu sampai kapan lagi?”
Siong Li mengangkat muka memandangnya. Sepasang matanya berseri gembira. “Hwa-moi , jadi.... engkau tidak keberatan kalau aku pergi bersamamu?”
Bwee Hwa tersenyum manis. “Tentu saja tidak, bahkan aku senang sekali mendapat kawan yang baik hati dan banyak pengalaman seperti engkau, Li-ko. Kuharap engkau tidak bersikap demikian sungkan lagi. Bukankah kita sudah menjadi sahabat baik? Bahkan aku merasa seolah engkau ini pantas menjadi seorang kakakku.”
Dalam hatinya Siong Li membantah. Tentu saja dia tidak bergembira kalau hanya dianggap sebagai kakak. Akan lebih berbahagialah hatinya kalau gadis itu menganggap dia sebagai seorang… kekasih atau tunangan! Akan tetapi tentu saja dia tidak berani menyatakan suara hatinya itu dengan kata-kata.
Mereka lalu meninggalkan hutan itu dan mempergunakan ilmu berlari cepat. Tubuh sepasang orang muda ini berkelebatan di antara pohon-pohon dengan cepat sekali. Mereka seolah berlumba dan mendapat kenyataan dengan perasaan kagum bahwa kecepatan lari mereka seimbang. Karena kini Bwee Hwa melakukan perjalanan bersama Siong Li yang telah mengenal jalan, maka perjalanan mereka cepat dan lancar.
Menurut keterangan pemuda itu, Bukit Twi-bok-san dapat dicapai selama perjalanan kurang lebih satu minggu, melalui kota Tung-kwang yang besar dan ramai. Di sepanjang perjalanan, Siong Li bersikap sopan terhadap Bwee Hwa. Kalau mereka terpaksa bermalam di tengah perjalanan Siong Li mencarikan tempat di gubuk-gubuk ladang atau di kuil tua. Kalau terpaksa kemalaman di hutan, Siong Li membuat api unggun dan melakukan penjagaan.
Tentu saja Bwee Hwa tidak mau tidur semalam suntuk dan membiarkan pemuda itu berjaga, ia memaksa pemuda itu untuk bergiliran menjaga. Kalau mereka bermalam di losmen sebuah kota, Siong Li minta dua buah kamar. Sikap Siong Li yang amat sopan dan ramah ini membuat Bwee Hwa semakin tertarik dan kagum.
Pada suatu sore mereka memasuki kota Tung-kwang. Kota ini cukup besar dan ramai. Melihat banyaknya rumah makan dan rumah penginapan dapat diketahui bahwa kota ini banyak dikunjungi orang dari luar kota dan merupakan kota dagang yang cukup ramai. Siong Li dan Bwee Hwa mencari sebuah rumah penginapan yang besar dan menyewa dua kamar yang berhadapan. Setelah mandi dan bertukar pakaian, mereka lalu keluar dari rumah penginapan untuk berjalan-jalan dan melihat-lihat.
Karena siang tadi mereka tidak bertemu dusun atau kota, maka sejak pagi tadi mereka belum makan. Perut mereka terasa lapar dan Bwee Hwa mengajak Siong Li memasuki sebuah rumah makan besar dari mana melayang uap yang menyegarkan aroma sedap membangkitkan selera. Di dalam rumah makan itu terdapat banyak tamu sedang makan dan bercakap-cakap dengan ramai.
Akan tetapi ketika mereka melihat Siong Li dan Bwee Hwa memasuki ruangan rumah makan, mereka menghentikan percakapan mereka, bahkan banyak yang menunda makan mereka. Agaknya mereka tertarik sekali melihat sepasang orang muda yang berpakaian serba ringkas dan membawa pedang di punggung. Mata mereka memandang penuh curiga.
Siong Li dan Bwee Hwa merasakan perubahan ini dan tahu bahwa semua orang memperhatikan mereka. Akan tetapi mereka tidak perduli. Mereka memesan makanan dan minuman, lalu setelah yang dipesan dihidangkan, merek lalu makan dan minum dengan tenang. Betapapun juga, mereka berdua diam-diam memperhatikan orang-orang di sekitar mereka. Semua orang melanjutkan makan mereka akan tetapi kini mereka bicara perlahan, tidak berani langsung memandang ke arah Siong Li dan Bwee Hwa, kelihatan takut-takut.
Malam hari itu terlewat tanpa terjadi sesuatu. Akan tetapi pada keesokan harinya, pagi-pagi benar ketika Bwee Hwa telah bangun dan membersihkan diri lalu keluar dari kamar hendak mengetuk pintu kamar Siong Li, tiba-tiba dari luar menyerbu masuk tujuh orang yang berpakaian seperti polisi. Mereka memasuki rumah penginapan itu dengan pedang terhunus di tangan dan langsung menghampiri Bwee Hwa. Kawanan polisi ini dipimpin seorang yang berkumis panjang.
Pada saat itu, Siong Li keluar dari dalam kamarnya. Ternyata diapun sudah bangun dan sudah mandi sehingga tampak segar. Pemuda ini merasa heran melihat tujuh orang petugas keamanan itu yang agaknya langsung menghampiri dia dan Bwee Hwa. Kepala regu itu berkata kepada mereka berdua. “Harap ji-wi (kalian berdua) menyerah dan tidak melawan. Kami harus membawa ji-wi ke kantor polisi untuk diperiksa.”
Tentu saja Bwee Hwa dan Siong Li terkejut mendengar ini dan Bwee Hwa yang berwatak keras itu segera bertolak pinggang dan membentak marah. “Kau anggap kami ini orang apakah? Jangan sembarangan menuduh dan berlaku sewenang-wenang mengandalkan kekuasaanmu! Dengan alasan apakah kalian hendak menangkap kami?”
Mendengar ucapan dan melihat sikap Bwee Hwa yang keras dan melawan, kawanan polisi itu segera memberi isyarat ke belakang mereka dan muncullah tiga belas orang polisi lain sehingga jumlah mereka kini menjadi duapuluh orang yang semuanya mencabut pedang masing-masing!
“Nona, harap jangan mencoba untuk melawan dengan kekerasan. Kami hanya menjalankan tugas. Kami diperintah atasan kami untuk menangkap kalian berdua. Soal urusannya boleh kalian bicarakan sendiri dengan jaksa yang akan memeriksa kalian nanti di kantor.”
Bwee Hwa hendak mencabut pedangnya, akan tetapi Siong Li memberi isyarat dengan matanya untuk mencegah gadis itu mengamuk. Melihat ini Bwee Hwa menahan kemarahannya dan Siong Li lalu menghampiri kepala regu polisi itu dan berkata dengan sikap halus.
“Baiklah, kami akan menurut. Akan tetapi engkau harus menerangkan dulu kepada kami, tuduhan apakah yang dijatuhkan kepada kami? Kami minta penjelasan agar tidak menjadi penasaran.”
Kepala rombongan petugas keamanan itu tersenyum mengejek. “Ah, kalian masih pura-pura bertanya lagi? Seluruh kota telah gempar karena perbuatan-perbuatan kalian pada malam hari, sekarang masih berpura-pura tanya mengapa kalian hendak ditangkap? Jangan main-main kalian!”
“Siapa yang main-main? Kalian telah salah sangka dan salah tangkap. Kami bukanlah orang-orang yang melakukan pelanggaran dan perbuatan jahat, kami bukan orang-orang yang kalian maksudkan. Kami baru saja datang di kota ini sore tadi. Nah, marilah antar kami ke kantor jaksa agar ada penjelasan tentang hal ini semua."
Dengan sikap tenang Siong Li dan Bwee Hwa keluar dari rumah penginapan itu, dikawal oleh duapuluh orang penjaga keamanan. Tentu saja hal ini menarik perhatian orang banyak dan dua orang muda itu menjadi tontonan. Para petugas keamanan membentak orang-orang yang saling berdesakan hendak melihat wajah Siong Li dan Bwee Hwa yang dikabarkan sebagai sepasang pencuri yang telah sebulan lebih menggemparkan kota itu.
Tadinya pemimpin regu polisi itu hendak memasang borgol pada kedua tangan Siong Li dan Bwee Hwa, akan tetapi Bwee Hwa membentak, “Kalau engkau berani menyentuh tanganku, kepalamu akan kubikin pecah lebih dulu!”
Siong Li cepat berkata kepada kepala regu itu, “Sobat, percayalah kepada kami. Kami tidak akan lari, kecuali kalau kalian bertindak kasar dan sewenang-wenang tentu kami akan bertindak keras pula. Bawalah saja kami kepada jaksa dan kami akan menghadap secara baik-baik.”
Kepala regu itu agaknya dapat menduga bahwa kedua orang muda ini tentu lihai sekali dan diapun melarang anak buahnya bersikap kasar. Maka Siong Li dan Bwee Hwa tidak diborgol, juga diperlakukan dengan sopan sehingga mereka yang menonton menjadi heran. Di sepanjang perjalanan menuju ke kantor jaksa, banyak orang nonton seregu petugas keamanan yang mengawal dua orang muda itu.
Berita bahwa sepasang maling yang selama ini meresahkan penduduk kota Tung-kwang telah tersebar luas dan semua orang ingin melihat bagaimana wajah para maling itu. Mereka yang sempat melihat Siong Li dan Bwee Hwa merasa heran bukan main. Sepasang maling itu sama sekali tidak berwajah menyeramkan sebagaimana yang mereka bayangkan, seperti wajah para penjahat pada umumnya. Sama sekali sebaliknya, wajah kedua orang maling ini tampan dan cantik, sepasang orang muda yang elok!
Tak lama kemudian tibalah pasukan itu di kantor jaksa dan ternyata Jaksa Kwee telah diberi laporan tentang tertangkapnya dua orang muda yang dicurigai sebagai maling, maka diapun sudah siap untuk memeriksanya. Jaksa Kwee adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh lima tahun, bertubuh gemuk dengan wajah kekanak-kanakan dengan sepasang mata yang tajam dan cerdik. Dia sudah duduk di atas kursi kebesarannya, berpakaian jaksa lengkap. Lima orang perajurit pengawal berdiri di belakangnya, dengan golok mengkilap di tangan.
Lima orang anggauta polisi termasuk pemimpinannya yang berkumis panjang mengawal dua orang muda itu memasuki ruangan sidang. Mereka berlima menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada Jaksa Kwee, akan tetapi Siong Li dan Bwee Hwa tetap berdiri. Si kumis panjang yang melihat ini segera membentak. “He, kalian sungguh tidak tahu aturan. Lekas berlutut!”
Bwee Hwa menjawab ketus. “Mengapa berlutut? Kami bukan pesakitan!”
Pemimpin polisi itu hendak marah, akan tetapi Jaksa Kwee memberi isyarat dengan tangannya untuk mencegah, kemudian berkata kepada dua orang muda itu. “Ji-wi bernama siapa dan datang dari manakah?”
Siong Li mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi hormat, diturut oleh Bwee Hwa lalu berkata lantang. “Saya bernama Ong Siong Li dan nona ini adalah seorang pendekar wanita bernama Bwee Hwa berjuluk Ang-hong-cu. Kami berdua adalah pengembara dan sama sekali tidak mengerti mengapa tanpa sebab kami dipaksa menghadap ke sini. Harap taijin (pembesar) suka memberi penjelasan mengapa kami ditangkap?”
Jaksa Kwee mengangguk-angguk dan menghela napas panjang. “Aku sendiri tidak dapat percaya bahwa orang-orang berdosa dapat bersikap seperti kalian. Tentu ada salah sangka dalam hal ini. Ketahuilah, telah sebulan lebih kota ini terganggu oleh sepasang maling yang sangat berani dan yang tiap malam mendatangi rumah-rumah penduduk lalu mencuri barang-barang berharga. Ji-wi adalah orang-orang asing dan merupakan muka-muka baru, juga merupakan sepasang, lebih-lebih jiwi membawa pedang dan pasti memiliki kepandaian silat karena mengenakan pakaian perantauan yang ringkas itu, maka mudah dimengerti mengapa para petugasku menjadi curiga kepada ji-wi.”
Siong Li dan Bwee Hwa saling pandang dan mengangguk-angguk. Di dalam hati mereka memuji sikap Jaksa Kwee ini sebagai seorang pembesar yang tegas, jujur, dan bijaksana. Untung tadi mereka tidak mempergunakan kekerasan. Kalau sampai terjadi demikian, tentu mereka berdua akan merasa malu sekali menghadapi pembesar yang bijaksana dan bersikap terbuka ini.
“Sekarang kami mengerti mengapa kami berdua ditangkap, taijin,” kata Siong Li. “Kami tidak menyalahkan para perajurit ini.”
Jaksa Kwee menghela napas panjang lalu berkata, “Ji-wi adalah orang-orang gagah. Melihat sikap ji-wi yang gagah dan tenang, aku dapat menduga bahwa ji-wi tentulah dua orang pendekar budiman yang gagah perkasa. Akan tetapi sayang sekali nama baik ji-wi telah dicemarkan oleh sepasang penjahat yang mengacau kota Tung-kwang ini.”
Siong Li hanya tersenyum dan dia merasa semakin kagum kepada pembesar ini. Ucapan pembesar itu mengandung maksud tertentu dan membuktikan kelihaian pembesar itu mempergunakan akalnya. Akan tetapi Bwee Hwa mengerutkan alis dan merasa tidak senang.
“Hemm, mengapa nama kami tercemar oleh mereka? Kami tidak mempunyai hubungan apapun dengan mereka. Apa yang mereka lakukan tidak ada sangkut pautnya dengan kami!”
Kwee-taijin menjawab dengan suara yang mengandung penyesalan besar. “Bukankah ji-wi tadi telah terlihat oleh semua penduduk kota ini ketika digiring oleh para petugas keamanan ke kantor ini? Tentu saja orang-orang itu mengambil kesimpulan termudah, yaitu bahwa jiwi tentulah sepasang penjahat yang telah mengacau di kote ini. Bukankah itu berarti bahwa kedua penjahat itu makan dan menikmati buahnya, akan tetapi ji-wi yang terkena getahnya?”
Tahulah kini Bwee Hwa akan maksud kata-kata Kwee-taijin tadi dan ia menjadi marah sekali kepada kedua orang penjahat itu. “Baiklah, taijin. Kalau demikian halnya, aku berjanji akan menangkap kedua orang penjahat itu dan menyeretnya ke hadapanmu agar semua penduduk mengetahui bahwa kami berdua bukanlah penjahat-penjahat keparat itu, melainkan pendekar-pendekar yang membela kebenaran dan keadilan!” kata gadis itu marah.
Wajah Jaksa Kwee kini tampak cerah berseri-seri. Senyum lega dan penuh harapan mengembang di wajahnya yang gemuk, berkali-kali dia berkata, “Bagus, bagus!” dan dengan ramahnya dia mengundang Bwee Hwa dan Siong Li untuk tinggal di gedungnya dan mengajak mereka makan bersama!
Malam bulan purnama! Langit bersih, tak tampak ada mendung sehingga cahaya bulan bersinar tanpa halangan, menerangi permukaan bumi mendatangkan suasana yang indah gemilang menggembirakan. Namun, penduduk kota Tung-kwang yang dihantui rasa takut dan ngeri dengan adanya dua orang penjahat yang hampir setiap malam berkeliaran di kota itu, lebih merasa aman untuk mengeram diri di dalam kamar rumah mereka.
Semenjak sore tadi, Siong Li dan Bwee Hwa sudah bersiap-siap. Sehabis makan malam, mereka lalu keluar dari gedung Jaksa Kwee, melakukan perondaan keliling kota. Mereka berpakaian ringkas dan bersikap waspada. Setelah kota menjadi sepi karena semua penduduk memasuki rumah dan menutup daun pintu dan jendela, keduanya lalu melompat ke atas genteng dan melakukan penjagaan di atas rumah-rumah penduduk.
Malam terang bulan itu dingin sekali. Kesunyian kota menambah dingin. Setelah menanti sampai tengah malam, belum ada tanda-tanda sepasang pgnjahat itu menampakkan diri. Siong Li dan Bwee Hwa merasa marah dan kecewa sekali. Mereka beristirahat dan duduk di atas wuwungan sebuah gedung tertinggi sehingga dari situ mereka dapat melihat ke empat penjuru. Bwee Hwa hampir kehabisan kesabarannya.
“Penjahat-penjahat gila!” ia bersungut-sungut. “Kenapa belum juga muncul? Tidak kusangka malam ini kita akan makan angin di sini.”
Melihat gadis itu cemberut dan marah, Siong Li tertawa kecil sehingga Bwee Hwa memandangnya dengan heran. “Mengapa engkau tertawa, Li-ko?”
“Aku merasa lucu melihatmu, Hwa-moi.”
“Hemm, apanya yang lucu sampai engkau menertawakan?” gadis itu mengerutkan alisnya.
“Engkau kelihatan lucu karena sekarang engkau marah-marah sedangkan tadi engkau begitu bersemangat untuk menangkap penjahat. Kalau saja engkau tidak terbujuk kata-kata manis dari Jaksa Kwee yang cerdik itu, tentu sekarang kita sudah semakin dekat dengan tempat tujuan kita. Memang pembesar gendut itu lihai sekali memainkan kata-kata.”
Bwee Hwa tertegun dan setelah berpikir sejenak, baru ia menyadari bahwa tadi ia telah diakali pembesar gendut bermuka kekanak-kanakan itu. Ia mendongkol sekali. “Kalau begitu, marilah kita turun dan temui Jaksa Kwee! Aku tidak sudi diperkuda olehnya dan setelah bicara terus terang kepadanya, kita lanjutkan perjalanan malam ini juga. Perjalanan kita lebih penting daripada segala usaha menanti-nanti munculnya maling-maling kecil seperti sekarang ini. Aku benar tolol sehingga menderita kedinginan seperti ini!”
Bwee Hwa sudah bersiap hendak melompat turun ketika tiba-tiba Siong Li memegang lengannya dan berbisik, “Sstt, lihat di sana itu…!”
Bwee Hwa menengok dan ia melihat dua sosok bayangan hitam berlari-lari di atas genteng. Gerakan mereka cukup gesit dan tentu saja Bwee Hwa menjadi curiga dan menduga bahwa mereka tentu dua orang penjahat yang dimaksudkan itu. Karena dua sosok bayangan itu berlari menuju ke arah mereka, maka Bwee Hwa tetap mendekam dan berkata perlahan,
“Maling-maling kecil, sekarang tiba saatnya kalian binasa!” Ia dan Siong Li bersiap siaga dan ketika dua bayangan itu telah melompat ke atas genteng wuwungan gedung di mana ia berada, Bwee Hwa melompat keluar dan membentak. “Maling-maling kecil busuk! Menyerahlah untuk kutangkap!”
Dua orang itu terkejut bukan main dan mereka berdiri menghadapi Bwee Hwa dengan sikap menantang. Bwee Hwa memperhatikan dan melihat bahwa dua orang itu adalah seorang laki-laki dan seorang wanita yang berusia kurang lebih tigapuluhan tahun. Pakaian mereka serba hitam dan keduanya mempunyai pedang yang tergantung di punggung. Ketika melihat bahwa yang mereka hadapi hanyalah seorang dara muda yang berpakaian serba merah, wanita itu lalu balas membentak.
“Anak kecil kurang ajar! Siapakah kamu berani menghalangi kami?” Sambil berkata begini ia mencabut pedangnya hendak menyerang.
Akan tetapi kawannya yang laki-laki mencegah, lalu menoleh ke arah wuwungan di mana Siong Li masih bersembunyi dan berkata mengejek. “Sobat yang berada di belakang wuwungan, keluarlah menemui kami, tidak perlu bersembunyi di situ!”
Siong Li kagum akan ketajaman penglihatan orang itu. Dia meloncat keluar sambil tersenyum. Melihat gerakan Siong Li demikian ringan dan cepat, kedua orang berpakaian hitam itu terkejut juga. Siong Li memang mempergunakan jurus Le-hi Ta-teng (Ikan Lele Meloncat) dan loncatannya cepat dan indah karena dia membuat pok-sai (salto) sampai tiga kali sebelum kedua kakinya hinggap di atas genteng tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Laki-laki itu agaknya maklum bahwa dia berhadapan dengan orang pandai, maka dia bersikap ramah ketika menegur. “Dua orang sobat yang baik, siapakah kalian dan mengapa menghadang kami?”
Bwee Hwa yang masih marah segera menjawab ketus. “Mau tahu, siapa kami? Aku adalah Ang-hong-cu (Si Tawon Merah) dan kawanku ini adalah Kim-kak-liong (Si Naga Tanduk Emas). Kalian berdua sungguh kurang ajar dan sengaja mencemarkan nama kami!”
Laki-laki berkumis tipis itu terbelalak heran. “Bagaimana engkau dapat berkata demikian, lihiap (pendekar wanita)? Kita baru saja bertemu, bagaimana kami dapat mencemarkan nama kalian?”
Bwee Hwa menudingkan telunjuknya ke arah muka orang itu. “Kami adalah pendekar-pendekar pembela keadilan dan kebenaran, akan tetapi baru saja kami memasuki kota ini orang-orang telah menyangka bahwa kami adalah kalian berdua! Mana bisa kami disamakan dengan segala maling kecil seperti kalian?”
Laki-laki berkumis tipis itu tersenyum mengejek. “Sungguh engkau aneh dan tidak adil, lihiap. Kalau kalian berdua disamakan dengan aku dan adikku ini, siapakah yang menyamakan? Pasti sekali bukan kami. Kami tidak pernah bermusuhan dengan kalian, maka harap jangan mengganggu kami.”
Bwee Hwa tidak dapat menjawab, sehingga Siong Li yang maju dan berkata, “Harap ji-wi (kalian berdua) maafkan jika kami terpaksa mengganggu pekerjaan ji-wi. Akan tetapi, sebagai orang-orang yang menentang kejahatan, kami tidak suka dengan perbuatan kalian yang mengacau penduduk kota ini dan melakukan pencurian. Pula, kami telah berjanji kepada Jaksa Kwee untuk menangkap orang-orang yang menjadi pengacau kota ini. Terpaksa kami harus menangkap kalian.”
“Bangsat sombong!” maling wanita itu berteriak dan cepat ia sudah menggerakkan pedang di tangannya dan menyerang Bwee Hwa.
“Singgg…!” Pedang itu menyambar lewat di atas kepala Bwee Hwa karena pendekar wanita ini sudah mengelak dari sambaran pedang ke arah lehernya dengan merendahkan tubuhnya dan dari bawah, pedang Sin-hong-kiam (Pedang Tawon Sakti) ia tusukan ke arah perut lawan.
Maling wanita itu terkejut bukan main, tidak menyangka bahwa gadis yang diserangnya itu sedemikian cepat gerakannya. Nyaris perutnya tertusuk pedang. Ia cepat melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik tiga kali. Kini dengan hati-hati sekali ia menghadapi Bwee Hwa dan segera terjadi pertandingan pedang antara dua orang wanita itu.
Sementara itu, maling pria yang melihat rekannya atau lebih tepat adiknya telah bertanding melawan Bwee Hwa, segera menyerang Siong Li dengan pedangnya pula. Siong Li menyambut dengan pedangnya dan terjadi perkelahian yang seru antara kedua orang ini.
Akan tetapi, baru saja lewat belasan jurus, sepasang maling ini sudah kewalahan dan terdesak hebat. Mereka maklum bahwa mereka tidak mampu menandingi sepasang pendekar itu. Akan tetapi karena tidak mampu melarikan diri, mereka lalu melawan dengan nekat dan mati-matian.
Di lain pihak, Bwee Hwa dan Siong Li tidak terlalu menekan kedua orang lawan itu karena sepasang pendekar ini tidak ingin membunuh mereka, melainkan ingin menangkap mereka hidup-hidup untuk diserahkan kepada Jaksa Kwee dan agar semua orang mengetahui maling-maling yang sesungguhnya.
“Hyaaaaatttt…!” Bwee Hwa membentak nyaring dan kaki kirinya berhasil menendang pergelangan tangan maling wanita sehingga pedang di tangan wanita itu terlepas dan terlempar, jatuh berkerontangan di atas genteng. Sebelum maling itu dapat menghindarkan diri, Bwee Hwa sudah menotok pundaknya dan lawannya terkulai dengan tubuh lemas tak berdaya.
Pada saat yang hampir bersamaan Siong Li juga sudah berhasil merobohkan lawannya dengan mematahkan pedang lawan ketika pedang mereka bertemu dan merobohkannya dengan sebuah tendangan lalu menyusulkan totokan yang membuat maling pria itupun tidak mampu bergerak. Kedua orang pendekar itu lalu membawa dua orang maling itu turun dari atas genteng dan hendak membawa mereka ke gedung Jaksa Kwee.
“Kalian akan membawa kami ke mana?” tanya maling wanita itu kepada Bwee Hwa yang memanggul tubuhnya.
“Ke mana lagi?” jawab Bwee Hwa dengan suara mengejek. “Tentu saja hendak kami serahkan kepada Jaksa Kwee agar kalian diadili dan dihukum berat.”
“Bebaskan kami!” kata maling wanita itu. “Kalau tidak, kalian tentu akan berhadapan dengan Kauw-jiu Pek-wan yang pasti akan membalas dendam kepada kalian!”
“Apa…?” Tiba-tiba Bwee Hwa dan Siong Li berhenti. Mereka sudah tiba di depan gedung Jaksa Kwee.
Bwee Hwa menurunkan maling wanita itu dari pundaknya dan bertanya, “Kau tadi menyebut nama… Kauw-jiu Pek-wan....?”
Maling wanita itu merasa girang karena mengira bahwa nama besar itu membuat Bwee Hwa takut. “Benar, Kauw-jiu Pek-wan adalah guru kami!”
Bukan main kagetnya hati Bwee Hwa mendengar bahwa kedua orang maling itu adalah murid ayahnya! Siong Li juga terkejut dan dia juga menurunkan maling pria itu dari atas pundaknya.
“Li-ko, ternyata mereka ini… muridnya…!” kata Bwee Hwa kepada Siong Li.
“Apakah ji-wi mengenal guru kami?” tanya maling pria yang masih rebah di atas tanah di samping rekannya, tidak mampu bergerak karena keduanya masih dalam keadaan tertotok.
“Mengenalnya? Hemmmm…” Bwee Hwa meragu. “Kalau kalian murid Kauw-jiu Pek-wan, mengapa kalian menjadi maling?”
Mendengar pertanyaan ini, kedua orang itu tertawa dan Bwee Hwa baru teringat bahwa Kauw-jiu Pek-wan, ayahnya itu adalah seorang kepala perampok besar! Tidak aneh kalau murid-muridnya menjadi maling! Maka pertanyaannya itu tadi tentu saja terdengar bodoh sekali sehingga kedua orang maling itu tertawa.
“Di mana adanya Kauw-jiu Pek-wan?” tanyanya kepada kedua orang maling itu.
Dua orang itu masih menganggap bahwa Bwee Hwa jerih kepada suhu mereka, maka maling wanita itu menjawab dengan terus terang, mengharapkan bahwa akhirnya Bwee Hwa akan membebaskan mereka.
“Guru kami masih tetap tinggal di Twi-bok-san yang tidak jauh dari sini dan kini sedang menghadapi perayaan besar. Kami berdua di sini sedang mengumpulkan biaya atas perintahnya untuk keperluan perayaan itu. Kalau kalian membebaskan kami, beliau tentu akan memaafkan kalian dan akan memberi hadiah besar. Karena itu, bebaskanlah kami sekarang juga dan kami akan melaporkan kebaikan kalian kepada suhu.”
Bwee Hwa memandang kepada Siong Li dan bertanya, “Bagaimana pendapatmu, Li-ko? Apa yang akan kita lakukan terhadap dua orang ini?” Gadis itu bagaimanapun juga merasa ragu dan serba salah. Dua orang itu adalah maling yang harus dihukum, akan tetapi mereka juga murid-murid ayahnya!
Siong Li merasa sungkan juga kepada Bwee Hwa. Akan tetapi dia harus jujur dan setelah menghela napas panjang dia menjawab. “Dulu guruku pernah berkata bahwa seorang gagah harus teguh dalam pendiriannya, yaitu menentang kejahatan tanpa memperdulikan siapapun yang melakukan kejahatan itu.”
Bwee Hwa mengangguk-angguk. “Tepat sekali, aku juga berpikir begitu, Li-ko. Terima kasih, pendapatmu menghapus keraguanku. Mari kita serahkan dua orang maling ini kepada Jaksa Kwee!”
“Kalian mencari mampus!” teriak kedua orang maling itu. “Ingat, suhu pasti akan membalas dendam, akan menyiksa kalian lalu membunuh kalian seperti dua ekor tikus!”
Akan tetapi Bwee Hwa dan Siong Li tidak perduli dan menyeret kedua orang itu memasuki gedung yang pintu gerbangnya dijaga beberapa orang perajurit. Siong Li menyerahkan dua orang maling itu kepada para penjaga.
“Awas, ikat kedua tangan mereka jangan sampai mereka meloloskan diri dan serahkan kepada Jaksa Kwee. Inilah dua orang pencuri yang mengacau kota Tung-kwang.”
Setelah berkata demikian, Siong Li mengajak Bwee Hwa melanjutkan perjalanan pada malam hari itu juga. Mereka kembali ke kamar mereka untuk mengambil buntalan pakaian lalu meninggalkan kota Tung-kwang menuju ke Gunung Twi-bok-san.
Karena hatinya merasa penasaran dan ingin sekali dapat cepat bertemu orang tuanya, Bwee Hwa mengajak Siong Li melakukan perjalanan secepatnya. Dua hari kemudian mereka berdua telah tiba di kaki Bukit Twi-bok-san. Mereka melihat banyak orang mendaki bukit itu. Ada yang menggunakan kuda, ada pula yang berjalan kaki dan kebanyakan dari mereka tampaknya seperti orang-orang dunia persilatan. Agaknya mereka adalah para tamu yang hendak ikut merayakan pesta perayaan itu.
Bwee Hwa hanya tahu bahwa ayahnya hendak mengadakan pesta perayaan, akan tetapi ia belum tahu perayaan apakah itu, maka ketika melihat seorang petani tua sedang mencangkul ladang di kaki bukit, ia mengajak Siong Li untuk berhenti dan menghampiri kakek itu. “Selamat pagi, paman,” kata Bwee Hwa kepada petani yang sedang mencangkul itu.
Petani itu menengok dan merasa heran ada seorang gadis cantik memberi salam. “Selamat pagi, nona,” katanya hormat dan dia menghentikan pekerjaannya, lalu menghampiri Bwee Hwa dan Siong Li yang berdiri di tepi ladang yang sedang digarapnya.
“Paman, maafkan kalau kami mengganggu pekerjaan paman,” kata Bwee Hwa. “Aku hanya ingin bertanya kepada paman. Ada apakah di puncak bukit ini maka demikian banyak orang mendaki ke atas?”
Petani tua itu mempergunakan sehelai kain untuk mengusap keringat di muka, leher dan dadanya yang kurus dan telanjang, lalu menjawab. “Apakah nona tidak tahu? Di sana, di rumah Kiu Wan-gwe (Hartawan Kiu) sedang diadakan pesta pernikahan.”
“Paman maksudkah di rumah Kauw-jiu Pek-wan?”
Petani itu memandang ke kanan kiri, tampaknya takut-takut. “Benar, nona. Akan tetapi beliau tidak suka dengan nama julukan itu dan kami semua penduduk pedusunan di sekitar Twi-bok-san menyebutnya Hartawan Kiu.”
“Hemm, siapakah yang merayakan pernikahan, paman?” tanya Bwee Hwa, mengira bahwa tentu yang menikah itu seorang murid ayahnya.
“Siapa lagi kalau bukan Hartawan Kiu sendiri yang menikah?” kata petani itu.
Bukan main kaget rasa hati Bwee Hwa mendengar ini. Ayahnya hendak merayakan pernikahan? Ia menjadi bingung. “Akan tetapi, bukankah Kauw-jiu Pek-wan atau Hartawan Kiu itu telah mempunyai seorang isteri?”
Petani itu kembali memandang ke kanan kiri, takut kalau ada yang mendengar percakapan itu. Kemudian dia mengamati wajah Bwee Hwa dengan tajam. “Nona tentu seorang asing maka tidak mengetahui persoalan itu. Hartawan Kiu memang telah mempunyai seorang isteri yang baik hati dan sering menolong kami para petani yang miskin. Akan tetapi isterinya itu sudah tua dan sakit-sakitan. Dia merayakan pernikahannya dengan seorang gadis dan kabarnya dia hendak mengusir isterinya yang tua agar meninggalkan gedungnya.”
Rasanya seperti mau meledak rasa hati Bwee Hwa mendengar keterangan itu. Semenjak mendengar bahwa ayah kandungnya adalah seorang perampok, ia sudah merasa penasaran kepada ayahnya dan ia sudah mengambil keputusan bahwa kalau ia bertemu dengan ayahnya, ia akan menegur dan membujuk ayahnya agar menghentikan pekerjaan yang jahat itu. Akan tetapi, kini apa yang didengarnya dari petani itu sudah keterlaluan sekali.
Bagaimana mungkin ayahnya sampai tersesat sedemikian jauhnya? Bukan hanya menjadi penjahat besar, bahkan murid-muridnya disuruhnya menjadi maling mencarikan dana untuk pernikahannya dan dia begitu kejam untuk mengusir ibunya yang sakit-sakitan! “Jahat dan gila…!” Bwee Hwa berseru dan iapun berkelebat, lari dengan cepat sekali mendaki bukit.
Siong Li cepat mengejarnya. “Hwa-moi, engkau bersabarlah!” kata pemuda itu. “Tak perlu berlari-lari seperti ini karena akan menarik perhatian para tamu yang mendaki ke bukit.”
Mendengar kata-kata Siong Li, Bwee Hwa menahan larinya dan ia menahan isak tangisnya.
“Adik Bwee Hwa, sebaiknya kita atur agar jangan sampai mengacaukan perayaan yang diadakan orang tuamu. Aku akan menggabungkan diri dengan para tamu, dan engkau dapat melakukan penyelidikan ke belakang, menjumpai ibumu yang sedang sakit. Bagaimana pendapatmu?”
Bwee Hwa hanya mengangguk, tidak dapat mengeluarkan kata-kata, hanya matanya memandang kepada Siong Li dengan sinar mata berterima kasih. Memang ucapan Siong Li itu benar. Pada saat itu terdapat banyak orang yang hendak mengunjungi pesta perayaan di atas sehingga kalau ia berlari-lari cepat, hal itu tentu menimbulkan kecurigaan dan kekacauan.
Karena sebagian besar para tamu terdiri dari orang-orang kang-ouw (sungai telaga, persilatan) maka dengan mudah Siong Li membaurkan diri di antara mereka dan tidak menimbulkan kecurigaan. Bersama para tamu lainnya, Siong Li disambut sendiri oleh Kauw-jiu Pek-wan Kiu Ciang Hok. Siong Li memandang penuh perhatian.
Datuk penjahat yang kini menjadi hartawan itu bertubuh tinggi besar dan kokoh. Rambutnya telah memutih namun dia masih tampak gagah dengan matanya yang lebar itu bersorot tajam penuh wibawa. Begitu bertemu dengan datuk ini, Siong Li merasa heran karena tidak ada sedikitpun kemiripan antara wajah Bwee Hwa dan wajah orang tua ini....