Kisah Si Tawon Merah Jilid 05 - KAUW-JIU PEK-WAN (Lutung Putih Tangan Delapan) Kiu Ciang Hok menyambut Siong Li dengan sikap sederhana saja karena dia menganggap pemuda itu tentu dari golongan muda yang bertingkat rendah dan tidak perlu disambut dengan penuh penghormatan. Karena sikap inilah maka dia pernah mengenalnya dan tidak pula mengundangnya menghadiri pesta perayaan itu.

Setelah dipersilakan duduk, Siong Li mengambil tempat duduk bersama para tamu lainnya, akan tetapi seluruh perhatiannya ditujukan ke dalam, membayangkan apa yang kini sedang dilakukan Bwee Hwa.
Dengan hati-hati dan cerdik, bersikap biasa saja, Bwee Hwa menyelinap ke dalam kebun dan memasuki gedung dari pintu belakang. Untung baginya bahwa semua orang sibuk di depan sehingga bagian belakang rumah itu kosong dan sunyi. Dari bagian belakang itu ia mendengar suara para tamu di depan, suara berisik seperti pasar.
Tiba-tiba dari pintu samping keluar dua orang pelayan wanita membawa cawan-cawan kosong. Melihat Bwee Hwa, mereka menganggap bahwa gadis itu tentu seorang tamu, maka mereka lalu bertanya heran. “Siocia (nona) hendak mencari siapakah?”
Bwee Hwa dengan sikap tenang menjawab. “Aku hendak menyampaikan sesuatu kepada Kiu-hujin (Nyonya Kiu). Di manakah kamarnya?”
Kedua orang pelayan itu saling pandang dan tersenyum mengejek, lalu bertanya, “Nona maksudkan lo-hujin (nyonya tua) yang`sedang sakit?”
Biarpun Bwee Hwa merasa panas hatinya melihat sikap kedua orang pelayan wanita itu jelas meremehkan ibunya, namun ia menahan diri dan mengangguk membenarkan. “Ya, di mana kamarnya?” ia bertanya lagi.
“Kamarnya di belakang sana, yang pintunya bercat hitam. Ada keperluan apakah nona mengunjunginya? Hati-hati, nona dapat ketularan penyakitnya...”
Bwee Hwa menahan kemarahannya dan tanpa berkata apa-apa ia lalu menuju ke belakang. Benar saja, ia mendapatkan sebuah kamar yang daun pintunya hitam dan kotor. Agaknya tak pernah dibersihkan. Ia membuka daun pintu dan memasuki sebuah kamar yang tak terawat. Terdengar suara merintih lirih. Ia masuk dan memandang seorang yang rebah di atas sebuah dipan.
Wanita itu tampak kurus dan tua sekali. Rambutnya awut-awutan dan kusut. Mukanya yang kurus itu pucat seperti muka mayat. Tubuhnya rebah terlentang di atas pembaringan yang tak dapat dibilang bersih itu tertutup selimut sampai ke lehernya. Kedua matanya terbuka dan memandang sayu ke arah Bwee Hwa dan napasnya terengah-engah.
Bwee Hwa tertegun memandang wajah itu dan ia merasa jantungnya seperti diremas-remas. Wajah itu! Biarpun amat kurus dan pucat, namun masih tampak jelas bekas kecantikannya yang lembut. Wajah ibunya! Inilah wajah yang selama ini selalu terbayang dalam hatinya. Ibu kandungnya!
Pada saat itu, bagaikan tersentuh bisikan hatinya, wanita itu memandang dengan penuh perhatian kepadanya. Betapa kurusnya. Sepasang mata itu cekung sekali, membuat wajah itu seperti tengkorak. Ia mengeluh perlahan dan kedua tangannya tersembul keluar dari dalam selimut. Dua buah tangan yang kurus diangkat dan dikembangkan ke arah Bwee Hwa. Bibir itu gemetar dan berbisik lirih. “Bwee…”
“Ibu....!!” Bwee Hwa melompat ke depan dan merangkul wanita tua itu yang mendekap kepala Bwee Hwa dengan kedua lengannya.
Kedua lengan yang tadinya lemas tak bertenaga itu kini seolah mendapatkan tenaga baru, mendekap dengan erat seolah ia telah mendapatkan kembali mustikanya yang hilang dan tidak ingin kehilangan lagi. Kedua orang ibu dan anak itu menangis sesenggukan. Bwee Hwa menangis terisak-isak sambil merangkul dan menciumi wajah ibunya yang sepucat mayat dan sekurus tengkorak.
Kemudian wanita tua itu memegang kedua pipi Bwee Hwa dengan kedua tangannya, memandang muka anaknya lama sekali, seolah tidak percaya kepada apa yang dilihatnya dan air matanya menetes, bercampur dengan air mata puterinya. “Bwee Hwa... engkau...? Ya Tuhan... terima kasih, Tuhan.... sekarang aku puas... aku dapat.. mati dengan... tenang...”“Ibu....! Jangan berkata begitu, ibu. Aku tahu, ayah terlalu sekali. Dia kejam, tidak berperikemanusiaan. Membiarkan ibu sakit begini dan dia malah berpesta merayakan pernikahannya! Sungguh ayah telah tersesat, memalukan sekali!”
“Jangan...! Jangan sebut dia... ayah. Dia bukan ayahmu....”
Bwee Hwa tersentak kaget. “Apa?!? Kauw-jiu Pek-wan, dia... dia bukan ayahku?” Gadis itu terbelalak dengan pucat.
“....untung sekali... dia bukan ayahmu.... Bwee Hwa....”
Bwee Hwa terlampau kaget dan terguncang hatinya sehingga ia tidak ingat betapa penyakit ibunya itu parah sekali dan sebetulnya wanita itu tidak boleh banyak bicara dan harus beristirahat dan berobat. Pada saat itu Bwee Hwa terlampau bingung sehingga ia ingin sekali segera mengetahui siapa sebenarnya Kauw-jiu Pek-wan dan siapa pula ayah kandungnya.
Dengan suara yang terputus-putus dan napas terengah-engah, terkadang berbisik lirih sehingga Bwee Hwa harus mendekatkan telinganya untuk menangkap kata-kata ibunya, wanita itu bercerita kepada anaknya. Ia dan suaminya yang bernama Lim Sun, seorang pedagang, melakukan perjalanan bersama anak tunggal mereka, Bwee Hwa yang ketika itu masih kecil.
Dalam perjalanan yang dikawal belasan orang piauw-su (pengawal barang) dan membawa barang dagangan itu, tiba-tiba muncul Kauw-jiu Pek-wan. Lim Sun dan para pengawal itu terbunuh semua oleh perampok tunggal itu dan ia bersama anaknya diculik.
Kauw-jiu Pek-wan Kiu Ciang Hok memaksanya menjadi isterinya dan Nyonya Lim ini terpaksa menurut karena kalau ia tidak mau, anaknya akan dibunuh penjahat itu. Ternyata Kauw-jiu Pek-wan memperlakukannya dengan baik, juga menganggap Bwee Hwa sebagai anaknya sendiri sehingga Bwee Hwa yang ketika ayahnya tewas itu baru berusia satu tahun, menganggap Kauw-jiu Pek-wan sebagai ayahnya sendiri.
“.......begitulah, Bwee Hwa...... Kemudian....... ketika engkau berusia delapan tahun....... pada suatu hari…… engkau lenyap entah ke mana.......” Nyonya itu menghentikan ceritanya dan napasnya terengah-engah kelelahan karena banyak bicara.
“Jahanam....! Jadi dia malah pembunuh ayah kandungku? Dan sekarang dia menyia-nyiakan ibu, membuat ibu sengsara? Akan kubunuh iblis itu!” Bwee Hwa memaki dan ia melompat sambil mencabut pedangnya lalu hendak lari keluar dari kamar.
Akan tetapi ketika ia tiba di pintu, mendengar suara ibunya mengeluh lirih, “Bwee Hwa....”
Ia menengok dan alangkah terkejutnya ketika ia melihat muka ibunya kini pucat sekali dan dari mulutnya mengalir darah! Ia cepat melompat ke dekat pembaringan dan duduk di tepi pembaringan. “Ibu... ibu... bagaimana rasa badanmu, ibu...?” Baru sekarang ia menyadari bahwa ibunya sedang menderita penyakit berat dan keadaannya mengkhawatirkan sekali.
Ibu Bwee Hwa mencoba untuk tersenyum, senyum yang menusuk jantung Bwee Hwa karena senyum itu begitu menyedihkan. “Bwee Hwa aku aku telah puas.... aku telah....... bertemu denganmu....... Bwee Hwa....... kau ingatlah....... dulu ketika....... engkau masih kecil....... engkau telah dijodohkan....... dengan putera....... keluarga....... Ui Cun Lee....... di kota....... Ki-lok.......”
Setelah mengerahkan seluruh tenaga untuk mengatakan semua itu, tubuhnya terkulai dan setelah terbatuk-batuk beberapa kali memuntahkan banyak darah dari mulutnya, wanita itu menghembuskan napas terakhir dalam pelukan Bwee Hwa!
“Ibuuuu.......!” Bwee Hwa mengeluarkan jerit yang keluar dari hatinya dan ia menangis sambil memeluki jenazah ibunya.
Kemudian, tiba-tiba ia teringat kepada Kauw-jiu Pek-wan yang dianggapnya sebagai pangkal semua bencana yang menimpa keluarganya. Pembunuh ayah kandung dan kini juga pembunuh ibu kandungnya. Ia lalu melepaskan rangkulannya, berlutut di depan pembaringan, menutup wajah ibunya dengan selimut lalu berkata dengan geram.
“Ibu, tenangkanlah perasaan ibu, aku bersumpah, hari ini juga anakmu akan membunuh musuh besar kita Kauw-jiu Pek-wan Kiu Ciang Hok agar ibu dapat menyeretnya menghadap Giam-kun untuk membuat perhitungan!”
Setelah berlutut menyembah delapan kali, Bwee Hwa lalu melompat dari kamar dengan pedang di tangan. Ia bertemu dengan dua orang pelayan wanita tadi. Mereka memandangnya dengan terkejut dan heran. Akan tetapi begitu bertemu, Bwee Hwa menggerakkan kaki menendang dan dua orang pelayan itu terlempar dan menjerit, mengaduh-aduh.
Tanpa memperdulikan mereka, Bwee Hwa terus berlari keluar dan tiba di ruangan depan di mana para tamu duduk. Di tengah-tengah ruangan itu tampak seorang laki-laki tinggi besar dengan brewok dan rambut yang telah memutih. Dia sedang duduk bercakap-cakap dengan para tamu yang dihormati. Laki-laki ini tampak gembira sekali dan jelas bahwa dia telah banyak minum arak sehingga mukanya menjadi merah dan tampak menyeramkan.
Bwee Hwa ragu-ragu karena belum yakin betul apakah orang itu Kauw-jiu Pek-wan yang dicarinya, karena walaupun ia masih setengah ingat akan muka orang yang tadinya dianggap ayahnya itu, sekali ini ia tidak mau salah tangan. Sementara itu, semua tamu yang terdekat dengan Bwee Hwa menjadi terkejut dan heran, juga agak khawatir ketika melihat betapa tiba-tiba seorang gadis muda cantik jelita yang berpakaian serba merah dan ringkas muncul dengan pedang di tangan dan mukanya membayangkan kemarahan besar.
“Kauw-jiu Pek-wan, bangsat tua bangka, manusia iblis! Kau bersiaplah untuk mampus di tanganku!” Bwee Hwa berseru nyaring sambil memandang ke arah laki-laki tua tinggi besar itu dengan sinar mata tajam menyelidik.
Kauw-jiu Pek-wan Kiu Ciang Hok terkejut bukan main mendengar seruan ini dan dia segera menengok ke arah gadis yang berani mati mengeluarkan ancaman seperti itu. Ketika dia melihat wajah Bwee Hwa, dia terkejut bukan main. Bukankah itu Bwee Hwa yang dulu lenyap ketika berusia delapan tahun? Dia masih ingat benar potongan wajah gadis itu, karena mirip sekali dengan wajah isterinya yang sedang sakit.
Si Lutung Putih Tangan Sembilan ini adalah seorang datuk yang terkenal memiliki kepandaian tinggi, maka tentu saja dia sama sekali tidak gentar menghadapi ancaman seorang gadis muda, apalagi hanya Bwee Hwa, anak tirinya yang mungkin marah melihat ibunya sakit dan dia merayakan pernikahannya dengan seorang wanita lain. Sekali saja dia menggerakkan tubuhnya, tahu-tahu dia telah melompat ke depan gadis itu.
“Kau kau.... bukankah engkau Bwee Hwa....?” tanyanya.
“Hemm, mata tuamu masih belum lamur sehingga masih dapat mengenalku!” kata Bwee Hwa ketus.
“Bwee Hwa, anakku...!” seru Kauw-jiu Pek-wan.
“Siapa anakmu? Siapa sudi mempunyai seorang ayah bangsat tua bangka rendah macam engkau?”
Marahlah Kauw-jiu Pek-wan. Dia telah dimaki dan dihina di depan para tamu. Kumis dan brewoknya seolah berdiri, kedua matanya yang bundar itu melotot lebar. Tak seorangpun di dunia ini boleh menghinanya seperti itu, apalagi di depan puluhan orang tamunya! “Hemm, jadi engkau sudah tahu bahwa engkau bukan anakku? Jadi kalau begitu engkau sudah bertemu dengan anjing hina tua itu? Belum mampuskah ia?”
Belum habis ia bicara, Bwee Hwa sudah membentak marah dan pedangnya berkelebat menyerang dengan tusukan ke arah dada ayah tirinya yang amat dibencinya itu.
Kiu Ciang Hok adalah seorang datuk yang berkepandaian tinggi dan memiliki pengalaman bertanding selama puluhan tahun, maka tentu saja tidak mudah dia dirobohkan begitu saja. Sambil membentak nyaring dia mengelak dari tusukan pedang itu dan sambil memutar tubuh dia menyambar sebuah kursi dan memukulkan kursi itu kepada Bwee Hwa.
“Wuuuttt....... crakkkk!”
Bwee Hwa menangkis dengan pedangnya dan kursi itupun pecah menjadi dua potong, bahkan hampir saja lengan Kiu Ciang Hok terbabat pedang. Datuk itu terkejut bukan main. Sama sekali tidak disangkanya bahwa anak tirinya itu kini telah menjadi seorang gadis yang memiliki ketangkasan. Dia lalu melompat ke belakang dan mencabut sebatang golok besar yang tergantung di dinding.
Kauw-jiu Pek-wan memang terkenal pandai memainkan senjata golok besar itu. Sebagai pengantin ia tidak membawa golok, maka senjata itu digantungkan di dinding sebagai hiasan dan juga sebagai tanda “kebesarannya”. Kini dia telah memegang senjatanya dan sambil mengeluarkan suara menggereng seperti seekor binatang buas diapun menyerang gadis itu. Bwee Hwa yang juga marah sekali menggerakkan pedangnya menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
“Singgg.......trangggg.......!!”
Bunga api berpijar dan Kui Ciang Hok menjadi semakin kaget. Pertemuan dua senjata itu membuat tangannya tergetar hebat, tanda bahwa anak tirinya itu memiliki tenaga sin-kang (tenaga sakti) yang amat kuat pula! Mereka saling serang dan terjadilah perkelahian seru di tengah ruangan yang menjadi medan pesta itu!
Untuk mendapatkan ruang yang bebas, kedua orang yang bertanding itu menendangi meja kursi. Para tamu menjadi ribut dan panik. Yang tidak pandai ilmu silat menonton dari kejauhan. Mereka melarikan diri menabrak meja kursi sehingga keadaan di situ menjadi kacau balau.
Beberapa orang tamu orang-orang kang-ouw yang menjadi sahabat baik Kauw-jiu Pek-wan sudah mencabut senjata masing-masing. Mereka hendak membantu tuan rumah dan mengeroyok gadis yang dianggap mengacau di pesta itu. Akan tetapi sebelum mereka sempat mengeroyok, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan seorang pemuda telah berdiri menghadang di depan mereka dengan pedang di tangan.
Pemuda ini bukan lain adalah Siong Li yang tersenyum kepada mereka lalu berkata lantang. “Bukan laki-laki gagah kalau mengeroyok seorang gadis muda! Mereka berdua mempunyai urusan pribadi, biarlah mereka selesaikan sendiri!”
Setelah berkata demikian, Siong Li memungut sepasang sumpit kayu yang berada di atas meja. Yang sebatang dia lemparkan ke atas dan ketika sumpit itu meluncur turun, dia menggerakkan pedangnya dengan amat cepat. Yang tampak hanya sinar menyambar ke arah sumpit yang melayang turun itu dan sumpit itu telah terbelah memanjang menjadi dua potong.
Belum habis rasa heran dan kagumnya mereka yang tadinya hendak mengeroyok Bwee Hwa melihat kehebatan gerakan pedang itu, Siong Li mengayun sumpit kedua ke atas meja. Sumpit kayu itu bagaikan sebatang anak panah baja menancap dan menembus meja kayu yang tebal itu!
Menyaksikan pameran ilmu pedang dan tenaga sakti sehebat ini, semua orang yang hendak membantu Kauw-jiu Pek-wan menjadi terkejut dan jerih. Mereka maklum bahwa ilmu kepandaian pemuda ini jauh lebih tinggi daripada tingkat mereka, maka mereka menjadi ragu untuk melanjutkan niat mereka mengeroyok Bwee Hwa.
Siong Li bukan orang bodoh. Ketika melihat Bwee Hwa bertanding melawan ayah tirinya, dari gerakan mereka dia dapat memperhitungkan bahwa gadis itu tidak akan kalah. Karena itu ketika melihat beberapa orang hendak maju mengeroyok Bwee Hwa dia cepat mencegah mereka dan memamerkan kelihaiannya agar mereka menjadi gentar. Andaikata dia melihat bahwa Bwee Hwa akan kalah, tentu dia akan membantu gadis itu menghadapi Kauw-jiu Pek-wan!
Kini semua orang menonton dengan penuh perhatian dan hati tegang. Anak dan ayah tirinya itu bertanding mati-matian dan berusaha saling merobohkan. Sepak terjang Bwee Hwa dahsyat sekali. Pedangnya berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang mengeluarkan bunyi mendengung. Tubuhnya berkelebatan menjadi bayang-bayang merah.
Ia mengerahkan tenaga dan mainkan ilmu pedang Sin-hong-kiam-sut (Ilmu Pedang Tawon Merah) dengan hebatnya sehingga Kauw-jiu Pek-wan yang banyak pengalaman itupun menjadi bingung. Namun, jagoan tua ini memang lihai, bertenaga besar dan menang dalam pengalaman bertanding sehingga biarpun ilmu silatnya kalah tinggi, dia masih dapat bertahan sehingga pertandingan berlangsung hampir seratus jurus masih belum dapat juga Bwee Hwa merobohkan lawannya.
Bwee Hwa yang merasa marah, dendam sakit hatinya memuncak, menyerang dengan semangat bernyala-nyala sehingga Kauw-jiu Pek-wan makin terdesak dan datuk ini mulai mengeluarkan keringat di seluruh tubuhnya dan napasnya mulai memburu. Dia merasa heran melihat betapa anak tirinya itu kini telah menjadi seorang lawan yang amat tangguh. Diam-diam dia mengeluh dan merasa menyesal mengapa tidak dulu-dulu dia membunuh saja anak ini yang sekarang merupakan musuh besar yang amat lihai dan mengancam keselamatannya.
Karena tidak ada jalan untuk keluar dari desakan ini, dia menjadi nekat dan melawan sekuat tenaga, bahkan beberapa kali sengaja melakukan serangan tanpa memperdulikan pertahanan dirinya sehingga serangan itu merupakan tantangan mengadu nyawa atau mengajak mati bersama. Ia meloncat ke belakang, kemudian ia melompat ke atas dan memainkan jurus Hui-in-ci-tian (Awan Mengeluarkan Kilat) pedangnya berputar dan menyambar bagaikan kilat ke arah leher dan dada lawan.
“Singgg.... crattt....!”
Kauw-jiu Pek-wan mengeluh. Serangan gadis itu cepat bukan main sehingga biarpun dia sudah mengelak, tetap saja ujung pundaknya tercium ujung pedang sehingga baju dan kulit bahunya pecah dan berdarah. Hanya dengan melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan dia dapat terbebas dari maut.
Bwee Hwa tidak ingin melepaskannya dan mengejar. Sama sekali ia tidak menyangka bahwa ketika bergulingan itu, Kauw-jiu Pek-wan diam-diam mempersiapkan tiga batang piauw, senjata rahasianya yang berwarna hitam. Ketika Bwee Hwa mengejarnya, kakek itu melompat bangun dan begitu tangan kirinya bergerak, tiga sinar hitam menyambar ke arah Bwee Hwa.
Gadis itu terkejut, cepat memutar pedangnya menangkis. Dua batang piauw dapat ditangkisnya, akan tetapi yang sebatang lagi menancap di paha kirinya! Dengan mengertak gigi Bwee Hwa mencabut piauw itu dan ia merasa lega karena senjata rahasia itu tidak mengandung racun. Pahanya hanya terluka saja dan mengeluarkan darah. Ia tidak memperdulikan lukanya dan menyerang lagi dengan pedangnya sehingga sekali lagi mereka bertanding mati-matian.
Akan tetapi, biarpun luka di pahanya itu tidak berbahaya namun amat menganggu sehingga gerakannya menjadi kaku dan Bwee Hwa kehilangan kegesitannya. Rasa nyeri pada pahanya membuat kakinya tidak leluasa bergerak. Bwee Hwa menjadi marah dan iapun mengambil jarum-jarumnya dengan tangan kiri.
“Bangsat rendah lihat jarumku!” bentaknya. Tangan kirinya bergerak dan sinar-sinar merah lembut menyambar ke arah Kauw-jiu Pek-wan sambil mengeluarkan suara berdengung seperti serbuan ratusan ekor lebah. Itulah Hong-cu-ciam (Jarum-jarum Tawon).
Senjata rahasia Bwee Hwa ini hebat dan sukar sekali dielakkan. Pertama karena kecil lembut dan cepat sekali luncurannya. Kedua karena suara berdengung halus seperti tawon itu menutupi suara desir angin terbangnya senjata rahasia itu sehingga sukar diduga arah dan jaraknya. Setelah tiga kali tangan kiri Bwee Hwa bergerak dan tangan kanan yang memegang pedang masih tetap menyerang, Kauw-jiu Pek-wan menjerit karena mata kanannya terkena jarum merah. Dia terhuyung ke belakang sambil mendekap mata kanannya dengan tangan kiri.
Dan pada saat itu, Bwee Hwa menyerang dahsyat sambil membentak. “Kau ikutlah ibuku!” pedangnya berkelebat cepat sekali dan menembus dada Kauw-jiu Pek-wan yang roboh terjengkang, berkelojotan dan tewas. Keadaan menjadi kacau dan gempar. Semua orang memandang dengan wajah pucat. Bwee Hwa melompat ke atas sebuah meja, melintangkan pedang di depan dada lalu berkata lantang, air matanya mengalir di atas kedua pipinya.
“Saudara-saudara sekalian, ketahuilah! Aku adalah anak kandung dari nyonya tua yang sekarang telah meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya. Dan anjing rendah ini....”
Ia menuding ke arah mayat Kauw-jiu Pek-wan, “dia dulu membunuh ayah kandungku dan merampas ibuku menjadi isteri paksaan. Sekarang kembali dia menyakiti hati ibuku dengan menyia-nyiakannya dan menikah lagi, tidak memperdulikan keadaan ibuku yang sakit parah sampai meninggal dunia seorang diri dalam kamarnya. Kini aku telah membalas dendam sakit hati ayah dan ibu kandungku, aku telah membunuh musuh besarku ini. Jika di antara kalian ada yang merasa penasaran dan hendak membelanya, boleh maju melawanku!”
Setelah gadis itu berhenti bicara, suasana menjadi sunyi sejenak, kemudian disusul suara gaduh karena para tamu itu saling bicara sendiri. Agaknya tidak ada seorangpun yang berani mencoba-coba menentang Bwee Hwa, apalagi setelah mereka ketahui bahwa gadis yang lihai itu masih mempunyai teman seorang pemuda yang juga lihai sekali.
Kemudian, para tamu meninggalkan tempat perayaan itu dan akhirnya tempat itu ditinggal sunyi, hanya terdapat para pelayan yang tampak ketakutan. Mempelai wanita yang tadinya berada didalam kamar pengantin, ternyata juga telah pergi dengan diam-diam, dilarikan keluarganya.
Bwee Hwa yang merasa menjadi ahli waris tunggal, atas nama ibunya lalu memerintahkan semua pelayan untuk mengurus jenazah Kauw-jiu Pek-wan dan ibu kandungnya. Setelah ia mengurus kedua jenazah itu sampai pemakamannya dibantu oleh Siong Li, ia lalu membagi-bagikan semua harta benda Kauw-jiu Pek-wan kepada para pelayan dan kepada para penduduk dusun yang miskin di sekitar pegunungan itu.
Kemudian ia menunjuk seorang pelayan laki-laki berusia limapuluh tahun untuk menjaga rumah gedung dan semua prabotnya. Dari semua harta kekayaan yang dibagikan, ia menyisakan sebagian karena dianggapnya itu hak ibu kandungnya dan ia berhak pula mewarisi milik ibunya.
Setelah membagi-bagikan harta kekayaan Kauw-jiu Pek-wan, ia mengusir semua pelayan. Seluruh penduduk dusun di pegunungan Twi-bok-san kebagian harta dan mereka merasa bersyukur dan berterima kasih sekali. Setelah semua beres, Bwee Hwa dan Siong Li bercakap-cakap di taman belakang gedung yang kini telah sepi itu.
“Hwa-moi, semua harta kekayaan itu adalah milikmu. Engkau berhak mewarisinya karena engkau adalah puteri kandung ibumu yang telah meninggal dunia. Ayah tirimu juga telah meninggal dunia dan mereka berdua tidak mempunyai sanak keluarga lain. Kenapa engkau bagi-bagikan kepada para pelayan dan para penduduk dusun sekitar sini?” tanya Siong Li, ingin tahu apa yang mendorong gadis itu melakukan hal itu.
Bwee Hwa menghela napas panjang. “Li-ko, aku hanya berhak memiliki sebagian kecil saja harta itu yang menjadi hak ibuku. Aku tidak berhak memiliki harta peninggalan Kauw-jiu Pek-wan karena harta itu dia dapatkan dari hasil kejahatannya. Harta kekayaan itu lebih berguna bagi mereka yang miskin dan membutuhkan daripada aku.”
Siong Li mengangguk-angguk. “Bagus sekali, Hwa-moi. Aku setuju sepenuhnya dengan pendapatmu itu.”
Keduanya lalu terdiam dan melihat gadis itu diam saja dan seringkali menghela napas panjang dengan wajah sedih, Siong Li merasa iba. “Hwa-moi, tenangkanlah hatimu. Ibu kandungmu sudah meninggal, hal itu bahkan baik sekali baginya daripada hidup dalam keadaan berpenyakitan. Pula, hidup matinya seseorang ditentukan oleh kekuasaan Thian (Tuhan).”
“Engkau benar, Li-ko. Engkau sungguh seorang kawan yang baik sekali dan aku tidak tahu bagaimana dapat membalas budi kebaikanmu. Sekarang aku telah menjadi sebatang kara di dunia ini....”
“Hwa-moi, mengapa seorang gagah seperti engkau dapat mengucapkan kata-kata seperti itu? Bukankah di mana-mana terdapat banyak orang gagah dan mulia hatinya, yang pantas menjadi saudara kita? Selain itu.... bukankah di dunia ini masih.... ada aku....?”
Bwee Hwa menatap wajah kawannya itu dan sepasang matanya basah air mata ketika ia melihat betapa mata pemuda itu memandangnya dengan begitu lembut dan mesra, pandang mata penuh kasih sayang. Ia maklum akan perasaan hati pemuda itu kepadanya.
“Li-ko, engkau adalah seorang enghiong (pendekar) yang gagah perkasa dan budiman. Hidupmu berbahagia. Kau tinggalkanlah aku, Li-ko, karena nasibku yang sial akan menyeretmu ke arah kesialan pula. Kau lanjutkanlah perjalananmu sendiri dan tinggalkan aku dalam kemalangan.”
Siong Li mengerutkan alisnya. “Hwa-moi, agaknya engkau masih ragu dan tidak percaya kepadaku. Aku....... harus kuakui bahwa sumber kebahagiaanku terletak di telapak tanganmu. Berpisah darimu berarti derita bagiku....” Pemuda itu menundukkan mukanya yang berubah muram dan sedih.
“Li-ko, engkau seorang yang berhati mulia. Alangkah akan senangnya hatiku mendengar ucapanmu tadi kalau saja.... kalau saja....” Bwee Hwa menghentikan ucapannya dan menundukkan muka.
“Kalau saja apa, Hwa-nioi? Engkau hendak mengatakan bahwa engkau tidak dapat mengimbangi perasaanku? Katakanlah saja terus terang, tidak usah ragu-ragu, karena orang yang mengutamakan kegagahan seperti kita tidak perlu berpura-pura lagi dan sebaiknya bersikap terbuka.”
Bwee Hwa menghela napas panjang, lalu mengangkat muka menatap wajah pemuda itu. “Li-ko, ketika ibuku hendak menghembuskan napas terakhir, ia meninggalkan pesan padaku.”
“Pesan apakah itu kalau aku boleh mengetahui, Hwa-moi?” tanya Siong Li, menenangkan hatinya yang berdebar tegang.
“Pesan itu... adalah... bahwa aku semenjak kecil telah telah.... dijodohkan dengan putera keluarga Ui Cun Lee di kota Ki-lok!”
Siong Li cepat menatap wajah Bwee Hwa yang begitu bertemu pandang segera menundukkan mukanya. Wajah pemuda itu tiba-tiba menjadi pucat, akan tetapi segera dia dapat menguasai perasaan hatinya. Mulutnya tersenyum, senyum biasa yang ramah dan gembira, hanya saja sekali ini senyumnya tidak disertai seri matanya. Mata itu muram dan terselubung awan duka.
“Hemm, begitukah? Lalu bagaimana sekarang kehendakmu, Hwa-moi?” Akhirnya pemuda itu bertanya, suaranya terdengar biasa saja sehingga Bwee Hwa berani mengangkat mukanya perlahan-lahan dan memandang pemuda itu.
Hati gadis itu merasa lega melihat pemuda itu masih dapat tersenyum walaupun senyumnya itu seolah mengiris jantung Bwee Hwa karena ia merasa betapa pemuda di dekatnya itu seperti bukan lagi Siong Li yang biasa. “Aku.... aku tidak dapat menolak... aku harus menaati pesan terakhir ibuku itu, Li-ko.... aku tidak sempat menolak karena begitu meninggal pesan itu, ibuku menghembuskan napas terakhir....”
Siong Li mengangguk-angguk. “Memang demikianlah seharusnya, Hwa-moi. Seorang anak yang berbakti harus menaati pesan orang tuanya, dan aku percaya sepenuhnya bahwa ibumu tentu tidak salah pilih.”
Tiba-tiba Bwee Hwa merasa terharu sekali. Tidak disangkanya bahwa Siong Li memiliki pendirian semulia itu. Pemuda itu bicara dengan tabah, walaupun ia dapat merasakan betapa suaranya tergetar menahan perasaan. Ia amat terharu dan tak tertahankan lagi ia menutupi mukanya dengan kedua tangan dan terisak, menahan tangisnya.
“Hwa-moi, engkau kenapakah....?”
“Li-ko, engkau sungguh mulia. Kuharap saja mudah-mudahan benar seperti katamu tadi bahwa ibu takkan salah pilih....”
“Jangan khawatir, Hwa-moi. Lebih baik engkau segera berkemas dan mari kita cari keluarga Ui itu.”
Bwee Hwa mengangkat mukanya, memandang dengan mata basah, terkejut dan heran. “Apa....? Engkau mau mengantar aku mencari mereka?”
Melihat gadis itu terheran, Siong Li tersenyum, kini senyumnya cerah seperti biasanya. “Tentu saja, mengapa tidak? Engkau yatim piatu, juga tiada sanak keluarga. Anggaplah aku sebagai kakakmu sendiri dan menjadi walimu. Kukira tidaklah pantas sebagai seorang gadis engkau harus mencari sendiri tunanganmu itu.”
Bwee Hwa menundukkan kepalanya dan mukanya berubah kemerahan. “Memang engkau benar, Li-ko. Agaknya kalau tidak kau antar, aku selamanya tidak akan sudi mengantarkan diri kepada mereka yang sama sekali tidak kukenal....”
“Kalau begitu berkemaslah. Kita berangkat sekarang juga.”
Setelah meninggalkan pesan kepada A-sam, laki-laki setengah tua yang hidup sebatang kara itu untuk menjaga dan membersihkan rumah, berangkatlah Bwee Hwa bersama Siong Li turun dari Bukit Twi-bok-san menuju ke kota Ki-lok di Propinsi Hok-kian.
Bwee Hwa dan Siong Li tiba di kota Ki-lok yang besar dan ramai setelah mereka melakukan perjalanan hampir sebulan lamanya. Mereka menyewa dua buah kamar di sebuah hotel besar di kota itu dan setelah beristirahat semalam, pada keesokan harinya, pagi-pagi Siong Li berpamit kepada Bwee Hwa untuk pergi mencari keluarga Ui Cun Lee.
Ui Cun Lee adalah seorang hartawan di kota Ki-lok dan dahulu menjadi sahabat dalam perdagangan yang baik dari Lim Sun, ayah kandung Bwee Hwa. Persahabatan itu amat erat sehingga isteri merekapun menjadi sahabat baik, bahkan lebih akrab dan karib dibandingkan persahabatan antara suami mereka. Saking akrabnya, Nyonya Lim Sun dan Nyonya Ui Cun Lee bersepakat untuk menjodohkan anak mereka! Pada saat mereka bersepakat itu, puteri Lim Sun, yaitu Lim Bwee Hwa berusia enam bulan sedangkan putera Ui Cun Lee yang bernama Ui Kong berusia dua tahun.
Tidak sukar bagi Ong Siong Li untuk menemukan rumah Ui Cun Lee. Keluarga Ui ini terkenal sebagai seorang pedagang yang kaya raya dan budiman, suka menolong orang, dermawan dan baik hati. Ciut juga hati Siong Li ketika berdiri di depan gedung besar yang megah itu. Kiranya calon suami Bwee Hwa adalah seorang pemuda putera hartawan besar. Dia merasa kecil sekali.
Ketika dia mendengar suara ramai-ramai di pekarangan gedung itu, dia melongok ke sana dan dilihatnya banyak orang berpakaian sederhana pertanda bahwa mereka orang-orang miskin sedang berdiri antri menerima bagian beras dari dua orang pegawai. Di sana tersedia beberapa karung beras.
Seorang laki-laki berusia limapuluh tahun berdiri mengawasi dan melihat pakaiannya, laki-laki itu tentulah majikan dua orang pegawai yang membagi beras. Hal ini terbukti ketika para pengantri sesudah menerima bagiannya lalu membungkuk dengan hormat kepada laki-laki tua itu dan berkata, “Terima kasih, Ui-loya (Tuan Besar Ui)!”
Berdebar rasa jantung dalam dada Siong Li. Laki-laki itu tentulah hartawan Ui Cun Lee! Dia merasa semakin kecil. Sudah kaya raya, dermawan lagi. Dia sendiri bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan keluarga Ui itu. Diam-diam ada rasa lega juga.
Bagaimanapun, hatinya dapat merasa tenteram karena Bwee Hwa mendapatkan seorang jodoh yang amat baik. Putera seorang hartawan yang dermawan! Tiba-tiba dia tertegun. Bagaimana kalau ternyata pemuda tunangan Bwee Hwa itu seorang yang cacat tubuhnya? Atau buruk sekali wajahnya? Mendapatkan pikiran ini dia cepat menghadang seorang laki-laki tua yang berjalan di jalan besar depan rumah itu.
“Maaf kalau saya mengganggu, paman. Saya hendak mohon keterangan sedikit dari paman,” katanya dengan sikap hormat.
Laki-laki itu memandang heran, akan tetapi dia tersenyum melihat bahwa penanyanya adalah seorang pemuda yang bersikap sopan dan wajahnya lembut, bukan seperti seorang yang jahat walaupun di punggung pemuda itu terdapat sebatang pedang. “Tidak mengapa, engkau tidak mengganggu, ho-han (orang gagah). Apakah yang hendak kau tanyakan?”
“Begini, paman. Saya bukan orang sini, akan tetapi saya sudah mendengar bahwa Hartawan Ui yang dermawan mempunyai seorang putera. Nah, saya ingin tahu keadaan puteranya itu. Bagaimana wajahnya? Apakah dia tampan? Apakah dia baik hati?”
Orang itu tersenyum. “Yang mana yang kau tanyakan, ho-han? Ui-wangwe (Hartawan Ui) mempunyai dua orang putera, keduanya adalah pemuda-pemuda tampan dan berbudi luhur seperti orang tuanya, dermawan dan suka menolong orang.”
Siong Li menjadi bingung. Dua orang? Dia teringat akan cerita Bwee Hwa yang mengatakan bahwa pesan ibu kandung gadis itu hanya memberitahu bahwa gadis itu telah dijodohkan dengan putera Ui Cun Lee yang tinggal di Ki-lok, tanpa menyebutkan nama pemuda yang ditunangkan dengan Bwee Hwa itu. Akan tetapi mendengar bahwa dua orang pemuda itu, dan seorang di antaranya pasti tunangan Bwee Hwa, adalah dua orang pemuda yang tampan dan berbudi luhur, dia menjadi semakin lega. Kiranya memang tidak salah pilihan ibu kandung Bwee Hwa!
“Terima kasih, paman. Bolehkah saya bertanya satu hal lagi? Siapa nama kedua orang putera Hartawan Ui itu?”
“Nama mereka? Twa-kongcu (Tuan Muda Terbesar) bernama Ui Kiang, terkenal karena ahli sastera yang sudah mempunyai gelar siucai (pelajar lulus ujian). Adapun Ji-kongcu (Tuan Muda kedua) bernama Ui Kong, juga sama tampan dengan kakaknya, akan tetapi lebih terkenal karena tinggi ilmu silatnya.”
“Usia mereka, paman?”
“Twa-kongcu berusia duapuluh empat tahun, sedangkan Ji-kongcu berusia duapuluh satu tahun.”
“Dan mereka sudah menikah?”
Laki-laki itu tersenyum dan menggeleng kepala. “Dua orang kongcu itu memang aneh. Hampir semua orang yang memiliki anak gadis yang cantik jelita mengharapkan puterinya menjadi jodoh seorang di antara kongcu itu. Akan tetapi dua orang kongcu itu tetap belum mau menikah. Dan mereka adalah dua orang pemuda pilihan, tidak suka berfoya-foya dan ugal-ugalan seperti para pemuda lainnya walaupun mereka itu putera orang kaya raya.”
Siong Li tersenyum dan mengangguk-angguk. Hatinya merasa tenang. Bwee Hwa pasti akan hidup makmur dan bahagia berjodoh dengan seorang di antara mereka. “Terima kasih, paman.”.Kini dengan tenang dia melangkah memasuki pekarangan besar gedung itu di mana terdapat banyak orang antri menerima pembagian beras. Dia langsung menghampiri dua orang yang membagi beras.
“Eh, sobat. Kalau ingin mendapatkan bagian beras, harap antri di belakang. Tidak boleh menyerobot di depan!” kata seorang di antara dua pegawai yang membagi beras.
Siong Li memberi hormat dan berkata, “Maaf, saya datang bukan untuk mendapatkan pembagian beras, melainkan untuk menghadap Hartawan Ui, untuk menyampaikan urusan yang amat penting.”
Laki-laki setengah tua yang tadi menonton pembagian beras, memandang kepada Siong Li dan maju menghampiri. “Orang muda, engkau hendak bertemu dengan Hartawan Ui? Akulah orangnya dan siapa engkau? Ada urusan apakah engkau hendak bertemu denganku?”
Siong Li mengangkat kedua tangan depan dada dan menjura. “Harap maafkan saya kalau saya mengganggu. Saya bernama Ong Siong Li dan saya datang mewakili keluarga Lim Sun di So-jiu.”
Siong Li mengetahui bahwa ayah kandung Bwee Hwa bernama Lim Sun dan dulu tinggal di So-jiu. Ibu kandung Bwee Hwa memang tidak sempat menceritakan kepada anaknya secara jelas, akan tetapi kedua orang muda itu mendengar banyak tentang orang tua kandung Bwee Hwa dari A-sam, pelayan tua yang dipercaya oleh ibu kandung Bwee Hwa. Dengan bekal pengetahuan tentang keluarga orang tua Bwee Hwa inilah Siong Li berani mewakili keluarga Lim itu.
Mendengar disebutnya Keluarga Lim Sun dari So-jiu, Hartawan Ui terkejut dan tertarik sekali. “Ah, begitukah? Mari, silakan masuk, kita bicara di dalam saja.”
Siong Li mengikuti hartawan itu memasuki ruangan tamu yang luas dan indah. Setelah dipersilakan duduk, seorang pelayan wanita muncul membawakan minuman..“Nah, sekarang ceritakanlah, Ong…… siapa namamu tadi?”
“Ong Siong Li, harap sebut saja Siong Li, paman,” kata Siong Li dengan ramah. Diapun langsung menyebut paman tanpa ragu lagi, melihat sikap hartawan itu yang ramah dan akrab.
Ui Cun Lee tersenyum, senang mendengar pemuda itu menyebutnya paman. Dia adalah seorang yang biarpun kaya raya, berwatak sederhana dan tidak suka disanjung-sanjung dengan penghormatan yang sifatnya menjilat dan bermuka-muka.
“Baik, Siong Li, dengan begini kita dapat bicara leluasa dan akrab. Nah, sekarang ceritakan bagaimana engkau yang semuda ini menjadi wakil keluarga Lim Sun di So-jiu. Sudah lama sekali kami tidak pernah berhubungan, bahkan aku mendengar bahwa keluarga itu tertimpa malapetaka. Kabarnya Lim Sun tewas di tangan penjahat dan isterinya beserta anaknya telah hilang. Sejak itu aku tidak pernah mendengar apa-apa lagi dari mereka dan kini tahu-tahu engkau muncul dan mengaku sebagai wakil mereka. Bagaimana ceritanya? Aku tertarik sekali!”
“Ceritanya panjang, Paman Ui. Kabar yang paman dengar itu memang benar. Paman Lim Sun belasan tahun yang lalu, ketika melakukan perjalanan dengan isteri dan puteri tunggalnya, di tengah perjalanan dihadang seorang perampok. Paman Lim Sun dan para pengawalnya terbunuh. Isteri dan puterinya dilarikan perampok yang kemudian memaksa Bibi Lim Sun menjadi isterinya, dan puterinya menjadi anak tiri perampok yang berjuluk Kauw-jiu Pek-wan itu.”
Siong Li lalu menceritakan tentang Bwee Hwa yang dilarikan Sin-kiam Lojin, kemudian menjadi muridnya dan betapa akhirnya Bwee Hwa berhasil membunuh Kauw-jiu Pek-wan, bertemu ibu kandungnya yang meninggal karena sakit.
“Ketika hendak menghembuskan napas terakhir, ibu kandung nona Lim Bwee Hwa meninggalkan pesan kepada puterinya itu bahwa nona Lim Bwee Hwa sejak kecil sudah dijodohkan dengan putera Paman Ui Cun Lee di Ki-lok. Karena hendak memenuhi pesan terakhir ibu kandungnya, maka Nona Lim Bwee Hwa mencari ke sini dan saya menjadi wakil keluarga Lim atau wali nona Lim Bwee Hwa untuk menemui paman dan menceritakan ini semua.”
Ui Cun Lee mengangguk-angguk dan memandang pemuda itu dengan mata penuh selidik. “Dan ada hubungan keluarga apakah kalian dengan nona Lim Bwee Hwa?”
“Ah, saya hanya seorang sahabat, paman. Secara kebetulan saja saya bertemu dengannya dalam perjalanan dan bersama-sama menentang kejahatan. Karena melihat ia tidak mempunyai sanak keluarga, maka saya memberanikan diri menjadi walinya.”
Kembali Ui Cun Lee mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya yang jarang. “Ibunya anak-anakku juga sudah meninggal dunia. Walaupun begitu aku tidak ingin mengingkari janji yang sudah dikeluarkan mendiang isteriku dan aku setuju saja kalau janji itu dipenuhi dan seorang puteraku menikah dengan puteri mendiang sahabatku Lim Sun. Akan tetapi ada satu hal yang tidak dapat dipaksakan, yaitu orang yang bersangkutan sendiri.
"Kedua orang puteraku itu memiliki watak yang aneh. Mereka sudah berusia duapuluh empat dan duapuluh satu tahun, akan tetapi selalu menolak bujukanku untuk berumah tangga. Sekarang, menghadapi janji ikatan perjodohan ini, tentu saja aku harus menanyakan pendapat mereka yang bersangkutan. Dan tentu saja yang harus menikah lebih dulu adalah puteraku yang tertua, Ui Kiang.
"Dan untuk mengetahui pendapatnya, tentu saja jalan satu-satunya adalah mempertemukan Ui Kiang dengan Lim Bwee Hwa. Kalau Ui Kiang setuju untuk menikah dengan Lim Bwee Hwa, tentu saja akupun tidak keberatan sama sekali. Bagaimana pendapatmu sebagai wakil keluarga Lim, Siong Li?”
Siong Li mengangguk, kagum akan kebijaksanaan hartawan itu. “Pendapat paman itu baik sekali. Akan tetapi Nona Lim Bwee Hwa adalah seorang pendekar wanita dan ia memiliki harga diri yang tinggi. Kiranya akan sukar membujuknya untuk datang ke rumah paman. Sebagai seorang gadis terhormat tentu saja ia merasa malu kalau harus datang ke rumah calon jodohnya.”
“Hemm, aku mengerti dan itu menunjukkan bahwa ia seorang gadis yang menjaga tinggi kehormatannya. Bagus sekali.”
“Lalu bagaimana sebaiknya diatur agar mereka berdua dapat saling bertemu, paman?”
“Begini saja. Di sebelah timur kota ini, sekitar sepuluh li (mil) dari sini, terdapat sebuah kuil, yaitu Ban-hok-si. Besok pagi kami sekeluarga akan melakukan sembahyang di sana. Nah, engkau ajaklah Lim Bwee Hwa ke sana sehingga kalian dapat bertemu dengan kami dan perkenalkan Bwee Hwa kepada kami. Dengan demikian, pertemuan ini seolah secara kebetulan dan bukan berarti Bwee Hwa mendatangi kami.”
Siong Li mengangguk. “Usul paman itu baik sekali. Saya akan mengajak ia ke kuil Ban-hok-si besok pagi.”
Siong Li lalu berpamit dan keluar dari gedung itu. Di pekarangan di mana masih terjadi kesibukan membagi beras, dia berpapasan dengan seorang pemuda yang tampan dan gagah sekali. Dari pakaiannya saja, walaupun pakaian itu tidak terlalu mewah, dapat diduga bahwa pemuda itu adalah seorang kongcu (tuan muda) yang kaya. Pandang mata pemuda itu tajam sekali dan ketika berpapasan, dia memandang Siong Li penuh selidik. Siong Li mengangguk dan pemuda itu membalas dengan anggukan.
Setelah pemuda itu memasuki ruangan tamu, Ui Cun Lee masih duduk termenung di atas kursinya. Orang tua ini terkenang kepada mendiang isterinya yang mengikat janji dengan mendiang isteri Lim Sun. Teringatlah dia kepada Lim Sun yang menjadi sahabat baiknya dan isteri Lim Sun yang cantik jelita dan ramah. Dia menghela napas panjang. Betapa buruk nasib Lim Sun dan isterinya. Juga isterinya sendiri yang meninggal dunia dalam usia yang masih terhitung muda, baru empat puluh tahun usianya.
Alangkah akan senang hatinya kalau seorang puteranya, dalam hal ini Ui Kiang sebagai putera pertama, dapat menikah dengan puteri tunggal Lim Sun dan isterinya. Dia merasa yakin bahwa gadis bernama Lim Bwee Hwa itu tentu cantik jelita karena ibunya juga seorang wanita jelita dan ayahnya, Lim Sun, juga seorang pria yang tampan. Akan tetapi ada sedikit hal yang membuat alisnya berkerut.
Menurut cerita Ong Siong Li tadi, Bwee Hwa adalah seorang pendekar wanita, seorang ahli silat! Sedangkan putera pertamanya, Ui Kiang adalah seorang siucai yang lemah lembut. Agaknya Ui Kong, puteranya yang kedua lebih cocok menjadi suami Bwee Hwa karena Ui Kong juga seorang ahli silat yang pandai. Akan tetapi, menurut aturan, Ui Kiang yang harus menikah lebih dulu! Semua ini membuat Ui Cun Lee duduk termenung dalam ruangan tamu.
Ui Kong memasuki kamar tamu itu dan melihat ayahnya duduk termenung, dia langsung bertanya sambil duduk di atas kursi di depan ayahnya..“Ayah, siapakah pemuda yang membawa pedang di punggungnya dan yang baru keluar dari rumah kita tadi?”
Ui Cun Lee sadar dari lamunannya dan memandang wajah puteranya yang kedua. “Namanya Ong Siong Li dan dia membawa berita yang teramat penting.”
“Berita apakah itu, ayah? Ayah tampak termenung ketika aku masuk, tentu berita itu penting sekali.”
“Kong-ji (Anak Kong), panggil dulu kakakmu ke sini. Berita ini harus didengar kalian berdua.”
“Baik, ayah,” Pemuda itu dengan tangkas lalu bangkit dan keluar dari kamar tamu.
“Kalian temui aku di kamar dalam,” pesan Ui Cun Lee yang juga bangkit dan pindah ke kamar dalam, kamar yang merupakan kamar keluarga dan lebih tertutup, karena tidak ada pelayan berani masuk kamar atau ruangan itu tanpa dipanggil.
Tak lama kemudian Ui Cun Lee sudah duduk di atas kursi berhadapan dengan dua orang puteranya. Ui Kiang yang berusia duapuluh empat tahun berpakaian sebagai seorang sasterawan, pakaiannya sederhana walaupun terbuat dari sutera halus dan tampak bersih sekali. Sampai ke kuku-kuku jari tangannya, pemuda ini merawat dirinya bersih dan gerak geriknyapun lembut, tubuhnya sedang saja dan wajahnya yang halus tanpa kumis dan jenggot itu tampak sehat dan tampan.
Adapun adiknya yang bernama Ui Kong, berusia duapuluh satu tahun, tubuhnya tinggi tegap membayangkan kekuatan yang kokoh. Wajahnya tampan dan sikapnya sesuai dengan kegagahannya, terbuka jujur dan agak keras. Wajahnya juga tampan dan bersih, sepasang matanya seperti mata burung rajawali, tajam dan berwibawa.
“Ayah memanggil saya? Ada perintah apakah yang ayah ingin berikan kepada saya?” tanya Ui Kiang duduk di sebelahnya.
Dari ucapan dan sikapnya, Ui Kiang bersikap lebih merendah dan hormat kepada ayahnya dibandingkan Ui Kong yang sikapnya agak kasar terbuka, namun ada kemesraan dalam suaranya terhadap ayahnya. Cara kedua orang anak ini berbakti dan bersikap terhadap ayah mereka untuk menyatakan kasih sayang mereka, berbeda sesuai dengan watak mereka yang terbentuk sesuai dengan keahlian mereka.
Ui Kiang seorang sasterawan dan kutu buku yang mempelajari banyak filsafat dan agama, sedangkan Ui Kong tidak begitu maju dalam pelajaran sastra, akan tetapi memilih ilmu silat sebagai kegemarannya dan ilmu ini dia pelajari sampai mendalam. Untuk memperdalam ilmu silatnya, Ui Kong bahkan pernah berguru kepada Beng-san Cin-jin yang bertapa di pegunungan Beng-san sampai lima tahun lamanya.
“Aku tidak ingin menyuruh kalian melakukan sesuatu, hanya ingin memberitahu akan peristiwa yang penting dan minta pertimbangan kalian.”
“Peristiwa apakah itu, ayah? Tentu ada hubungannya dengan orang yang bernama Ong Siong Li tadi, bukan? Sudah kuduga bahwa dia tentu datang membawa urusan yang penting,” kata Ui Kong.
“Kong-te, siapakah itu Ong Siong Li? Jangan mengambil kesimpulan dulu dan biarkan ayah menceritakan kepada kita,” tegur Ui Kiang dengan halus.
Ui Cun Lee menggerakkan tangan kanannya. “Dengarkan kalian baik-baik. Tadi datang seorang tamu yang mengaku bernama Ong Siong Li. Karena dia mengatakan bahwa dia menjadi wakil keluarga Lim Sun dari kota So-jiu dan hendak bicara denganku, maka kuajak dia ke ruangan tamu dan kami bicara.”
“Nanti dulu, ayah. Siapakah itu keluarga Lim Sun dari So-jiu? Kurasa Kiang-ko (kakak Kiang), seperti juga aku sendiri, belum pernah mendengar tentang keluarga itu!”
“Kong-te (adik Kong), kembali engkau memotong pembicaraan ayah. Kenapa engkau begitu kasar?” tegur Ui Kiang.
Ui Kong mengangguk kepada ayahnya dan berkata, lebih halus, “Maafkan aku, ayah.”
“Sudahlah, kalian dengarkan saja baik-baik. Lim Sun adalah seorang sahabat karibku di So-jiu, juga isterinya menjadi sahabat mendiang ibumu. Kami suami isteri bergaul dengan akrab. Kami saling berpisah ketika aku dan ibumu pindah ke Ki-lok ini. Akan tetapi sebelum kami berpisah, ibumu dan isteri Lim Sun telah saling berjanji bahwa mereka berdua kelak akan menjodohkan anak masing-masing. Mereka mempunyai seorang anak perempuan.”
Kakak beradik itu terkejut dan otomatis mereka menoleh dan saling berpandangan. Ui Kong sudah menggerakkan mulutnya, akan tetapi baru saja bibirnya terbuka, belum sempat bersuara, kakaknya sudah memberi isyarat dengan telunjuk menekan mulut agar adik itu tidak memotong cerita ayah mereka. Ui Kong teringat dan menutup bibirnya rapat-rapat!
“Tadinya aku hanya mendengar bahwa Lim Sun telah tewas terbunuh penjahat dan anak isterinya hilang entah ke mana. Akan tetapi kemudian muncul Ong Siong Li itu dan dialah yang bercerita banyak tentang keluarga Lim Sun. Dia bercerita bahwa Lim Sun terbunuh oleh seorang kepala perampok berjuluk Kauw-jiu Pek-wan dan isterinya dipaksa menjadi isteri perampok itu, sedangkan anaknya juga menjadi anak tiri si perampok.”
Tiba-tiba Ui Kong melompat berdiri dari kursinya. “Kauw-jiu Pek-wan Kiu Ciang Hok! Jahanam busuk itu memang jahat sekali. Pernah aku bersama beberapa orang suheng (kakak seperguruan) mencari untuk membasminya, akan tetapi dia menghilang dan tak seorangpun tahu di mana dia berada! Sungguh keji dan biadab! Sudah membunuh suaminya, memaksa isterinya untuk menikah dengannya pula!”
“Kong-te, tidak bisakah engkau diam sejenak agar ayah dapat melanjutkan ceritanya?” tegur Ui Kiang marah.
Ui Cun Lee menghela napas panjang. Dua orang anaknya itu memiliki sikap yang demikian jauh berbeda, akan tetapi keduanya memiliki kebenaran masing-masing. Kalau Ui Kiang mengutamakan sikap baik bersusila, Ui Kong lebih mengutamakan sikap gagah menentang kejahatan.
“Menurut cerita Ong Siong Li, anak perempuan yang bernama Lim Bwee Hwa itu kemudian menjadi seorang gadis yang lihai ilmu silatnya. Kemudian, seorang sakti yang entah siapa namanya aku lupa lagi, merampas Lim Bwee Hwa dari tangan ayah tirinya kemudian dijadikan murid orang sakti itu. Nah, setelah dewasa, Lim Bwee Hwa itu mencari ibunya yang setelah bertemu dengannya, mati karena sakit dan terlantar, sedangkan Kauw-jiu Pek-wan menikah lagi. Lim Bwee Hwa lalu membunuh ayah tiri yang juga pembunuh ayah kandungnya dan menyia-nyiakan ibunya itu!”
“Bagus! Hebat…!” Ui Kong bersorak, akan tetapi teringat akan teguran kakaknya, dia melirik kepada kakaknya dan duduk.
“Sebelum ibunya mati, Nyonya Lim Sun memesan kepada Lim Bwee Hwa bahwa gadis itu telah dijodohkan dengan puteraku seperti telah dijanjikan oleh mendiang ibu kalian. Maka, gadis itu lalu mencari sampai di kota ini dan ia menyuruh Ong Siong Li, yang menurut cerita pemuda itu menjadi sahabat baiknya, untuk menjadi walinya, menemuiku dan membicarakan urusan perjodohan ini. Nah, bagaimana menurut pendapat kalian? Karena ibumu sudah tidak ada, terpaksa hanya dengan kalian aku dapat berunding. Akan tetapi, akupun tidak ingin mengingkari janji yang sudah diucapkan ibumu.”
Kembali Ui Kiang dan Ui Kong saling pandang. Mulut mereka tidak mengatakan sesuatu, akan tetapi pandang mata mereka menyatakan berbagai macam perasaan. Terkejut, heran, ragu, cemas dan bimbang, bahkan seolah takut kalau-kalau dirinya terpilih oleh ayah mereka harus menikah dengan gadis yang sama sekali tidak mereka kenal itu!
“Ui Kiang, engkau lebih dulu mengatakan, bagaimana menurut pendapatmu menghadapi persoalan ini?” tanya Ui Cun Lee kepada anak sulungnya.
Ui Kiang terkejut, lalu memandang kepada ayahnya dan berkata dengan tenang dan lembut. “Tidak dapat disangkal lagi, ayah. Pesan ibu yang sudah meninggal merupakan pesan wasiat yang sama sekali tidak boleh diabaikan dan harus dilaksanakan. Janji mendiang ibu harus dipenuhi, tidak boleh diingkari karena hal itu menyangkut kehormatan keluarga ibu, yaitu ayah, saya dan Kong-te.
"Karena itu, sayapun setuju kalau ayah hendak memenuhi janji ibu itu. Adapun siapa di antara saya dan Kong-te yang harus memenuhi janji itu dan menjadi jodoh Nona Lim Bwee Hwa, hal itu saya kira harus dipertimbangkan dengan penuh kebijaksanaan.
"Menurut cerita ayah tadi, nona itu adalah seorang ahli silat yang pandai, seorang gadis pendekar. Keadaannya itu sama benar dengan keadaan Kong-te, maka saya kira mereka berdua akan lebih cocok dan serasi untuk menjadi suami isteri. Begitulah pendapat saya, ayah. Maafkan kalau ada kesalahan dalam kata-kata saya tadi.”
Ui Cun Lee mengangguk-angguk senang. Pendapat putera sulungnya itu memang cocok sekali dengan pendapatnya sendiri. Memang, kalau dilihat dari keadaannya, gadis itu lebih cocok menjadi isteri Ui Kong, sama-sama ahli silat dan berjiwa pendekar! Kini orang tua itu memandang kepada anak bungsunya. “Dan sekarang aku minta pendapatmu, Ui Kong!”
Ui Kong juga terkejut. “Aku, ayah? Ah, aku sih setuju dengan pendapat Kiang-ko bahwa janji mendiang ibu harus ditepati. Itu merupakan keharusan! Kalau tidak, berarti kita mengkhianati ibu. Akan tetapi aku sama sekali tidak setuju dengan pendapat Kiang-ko bahwa akulah orangnya yang tepat menjadi suami gadis itu. Mana ada aturan seperti itu? Kiang-ko adalah saudara tua, anak sulung! Masa kakak sulung belum menikah, adik bungsu harus menikah lebih dulu melangkahi kakaknya?
"Tidak mungkin ini, ayah. Aku tidak mau menjadi terkutuk karena kesalahan ini. Kiang-ko yang tepat untuk menaati pesan ibu dan menikah dengan Nona Lim Bwee Hwa itu. Dia seorang siucai (sastrawan) dan Nona Lim Bwee Hwa seorang lihiap (pendekar wanita). Alangkah sudah serasinya ini. Kelak anak mereka tentu menjadi bun-bu-cwan-jai (ahli sastra dan silat)! Ayah akan mempunyai cucu-cucu yang hebat!”
Mendengar ini, Ui Kiang cemberut dan mengerutkan alisnya, akan tetapi Ui Cun Lee tertawa. Pendapat putera bungsunya itu pun cocok dengan pendapatnya. Akan tetapi dia teringat akan kericuhan ini dan menghela napas panjang.
“Inilah yang membuat hatiku bingung. Memang, kalau mengingat kepatuhan, seharusnya Ui Kiang yang menikah lebih dulu, akan tetapi kalau mengingat keahlian yang sama, agaknya Ui Kong lebih tepat menjadi jodoh gadis itu.”
“Akan tetapi, apakah ayah sudah memutuskan?” kedua orang kakak beradik itu bertanya, suara mereka hampir berbareng.
“Belum. Biarpun terkadang aku gelisah dan jengkel memikirkan betapa sampai sekarang, setelah Kiang-ji (anak Kiang) dan Kong-ji (anak Kong) berusia duapuluh empat dan duapuluh satu tahun belum juga mau menikah, akan tetapi dalam urusan ini aku tidak mau memaksa kalian. Kalian harus menentukan jodoh kalian masing-masing. Akan tetapi, aku telah mengambil keputusan agar janji mendiang ibu kalian tidak kita ingkari, dan kalian berdua juga menyetujui hal itu, maka aku telah mengambil suatu keputusan.”
“Keputusan yang bagaimanakah itu, ayah?” tanya Ui Kong dan kedua orang pemuda tampan itu menanti jawaban ayah mereka dengan jantung berdebar tegang.
“Keputusanku ini telah kusampaikan kepada Ong Siong Li dan diapun sudah menyetujuinya. Besok pagi-pagi, kita bertiga akan pergi sembahyang untuk arwah ibumu di Kuil Ban-hok-si di sebelah timur kota itu dan pada waktu itu, Ong Siong Li akan mengajak Lim Bwee Hwa ke kuil itu, melihat orang-orang yang melakukan upacara sembahyang. Dengan demikian kalian dapat bertemu dan berkenalan dengan Lim Bwee Hwa dan kita lihat saja nanti, siapa di antara kalian yang suka dan bersedia menjadi calon suaminya.”
“Akan tetapi, ayah. Bagaimana kalau pilihan itu jatuh kepadaku? Aku tidak mau, tidak berani melangkahi Kiang-ko dan menikah lebih dulu.”
“Kong-te (adik Kong), jangan hiraukan hal itu. Aku tidak apa-apa walau engkau melangkahiku dan menikah lebih dulu. Aku rela sepenuhnya!”
“Akan tetapi aku yang akan celaka, kualat! Arwah ibu juga tentu akan marah besar kepadaku kalau ia melihat aku melangkahimu dan menikah lebih dulu!”
“Sudahlah jangan ribut. Kalian berdua harus mau saling mengalah sedikit. Begini saja. Kalau yang merasa suka itu Kiang-ji, maka tidak ada masalah dan dia boleh menikah dengan Bwee Hwa, akan tetapi seandainya yang cocok dan suka itu Kong-ji, maka dia akan bertunangan dulu dengan Bwee Hwa dan baru akan dilangsungkan pernikahan kalau Kiang-ji sudah mendapatkan jodohnya. Nah, ini merupakan perintah yang tidak boleh kalian bantah lagi!”
Sejenak dua orang kakak beradik itu diam. Mereka tidak berani membantah lagi karena memang keputusan ayah mereka itu mereka anggap sudah seadil-adilnya. Tidak ada unsur paksaan, dan tidak ada masalah lagi.
“Bagaimana, kalian setujukah? Hayo katakan kalau setuju dan kalau tidak setuju juga katakan terus terang dan kemukakan alasannya,” kata Hartawan Ui itu.
“Maaf, ayah. Saya sama sekali bukan tidak setuju, bahkan mendukung keputusan ayah yang sudah adil itu. Akan tetapi, kita harus memikirkan kemungkinan ketiga. Kemungkinan ketiga yang akan menghancurkan sama sekali rencana ayah yang amat baik ini.”
“Hemm, kemungkinan ketiga yang bagaimana itu?” Hartawan Ui bertanya dengan alis berkerut. Hatinya sudah senang dengan keputusannya yang disetujui kedua orang anaknya itu dan yang dianggapnya merupakan rencana yang pasti berhasil karena tidak ada halangan apapun lagi. Maka adanya “kemungkinan ketiga” yang dikatakan Ui Kiang ini membuat dia gelisah.
“Kemungkinan itu, ayah, adalah bagaimana kalau di antara Kong-te dan saya tidak ada yang suka atau cocok dengan gadis itu? Bagaimana kalau misalnya ia cacat atau.... jelek sekali wajahnya sehingga kami berdua tidak suka sama sekali?”
“Wah, benar sekali itu, ayah! Lebih celaka lagi, kalau ia ternyata seorang gadis yang sesat dan jahat, mengingat bahwa ayah tirinya juga sesat dan jahat, tentu biar matipun aku tidak sudi menjadi suaminya!” kata Ui Kong penuh semangat.
Hartawan Ui menghela napas panjang, “Mudah-mudahan tidak begitu dan aku percaya tidak akan muncul kemungkinan ketiga itu. Aku ingat benar bahwa Lim Sun seorang laki-laki yang berwajah tampan, sedangkan isterinya juga lembut dan cantik. Suami isteri itu memiliki watak yang amat baik. Tidak mungkin kalau anak tunggalnya cacat badan dan batinnya. Kecuali kalau Thian menghendaki lain apa boleh buat, kita akan bicarakan lagi seandainya memang terjadi kemungkinan ketiga itu. Bersiaplah kalian, besok pagi-pagi kita berangkat ke kuil Ban-hok-si!”
Kuil Ban-hok-si adalah sebuah kuil besar di mana dipuja beberapa tokoh dewa. Akan tetapi yang membuat Ban-hok-si (Kuil Selaksa Rejeki) terkenal adalah pemujaan terhadap Kwan Im Pouwsat (Dewi Welas Asih) yang patungnya terbuat dari emas terukir indah.
Patung Dewi Kwan Im emas itu merupakan hadiah dari Kaisar Yung Lo yang memindahkan kota raja dari Nan-king di selatan ke Peking di utara, setelah dia berhasil merampas singasana dari keponakannya sendiri, Kaisar Hui Ti. Kaisar Yung Lo adalah putera dari Kaisar Thai Cu atau yang tadinya bernama Cu Goan Ciang, pendiri dinasti Beng.
Melihat keponakannya diangkat menjadi kaisar, dia merasa lebih berhak maka dia yang menjadi panglima berkedudukan di Peking lalu memberontak, menyerbu ke Nanking dan merampas kedudukan kaisar. Dia menjadi kaisar dan berkedudukan di kota raja Peking. Ketika kisah ini terjadi, Kaisar Yung Lo telah memerintah selama kurang lebih sepuluh tahun...