Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 07 karya Kho Ping Hoo - BELUM pernah ia melihat Sekarsari berwajah seperti itu, muram dan dingin. Ia tahu akan perasaan hati Sekarsari terhadap Jarot, bahkan ia merasa bersyukur kalau anak gadisnya dapat menjadi isteri Jarot, pemuda yang ia kagumi itu. Tentu kemuram-durjaan itu ada hubungannya dengan Jarot, pikir Ki Galur.
Dipanggilnyalah anaknya mendekat dan mereka duduk di atas sebuah bale-bale. "Sari, kulihat kau mempunyai ganjelan hati. Apakah yang kau sedihkan, nak?"
Sekarsari menggigit bibirnya dan sambil menunduk ia menggeleng kepala. Kemudian, bibirnya bergerak perlahan dan berkata lirih, "Tidak apa-apa, ayah."
Ki Galur memandang wajah yang menunduk itu dengan penuh perhatian dan kasih sayang, lalu berkata perlahan, suaranya penuh kesabaran, "Sari, aku sudah tua, nak. Harapanku satu-satunya hanya ingin melihat kau berbahagia dan kalau mungkin... sebelum aku mati, aku ingin sekali melihat kau... kau duduk di samping gus Jarot sebagai isterinya."
Sekarsari mengangkat muka dan memandang wajah ayahnya dengan terharu, ia tahan-tahan hatinya, tapi kemudian bagaikan ada yang mendorongnya dari belakang ia menubruk ayahnya dan menjatuhkan kepala di atas pangkuan Ki Galur sambil menangis terisak-isak. "Ayah... ayah....." suaranya membisikkan rintihan hatinya yang terluka.
Ki Galur terkejut. Ia mengusap-usap rambut yang lebat halus di kepala anaknya sambil menghela napas dan diam-diam ia menyapu kering dua butir air mata yang menetes turun dari pelupuk matanya. "Sari, anakku, apakah yang terjadi antara kau dan gus Jarot? Bercekcokkah kalian?"
Kembali Sekarsari menggeleng kepala. "Dia... dia... cinta kepada Maduraras, ayah…”
"Apa? Gadis yang ditolongnya itu? Ah, tak bisa jadi. Itu hanya dugaanmu saja. Gus Jarot bukanlah macam pemuda yang mudah jatuh hati."
Sekarsari tak menjawab, hanya menangis terisak-isak. Ia merasa terhibur oleh kata-kata ayahnya dan dipangkuan ayahnya ia merasa aman.
"Sari, kau cinta kepada gus Jarot, bukan?"Sekarsari gerakkan kepala mengangguk perlahan tanpa melihat ayahnya. "Dan... dia belum melamarmu?"
Kembali gadis itu menggeleng kepala, lalu berkata malu-malu dan perlahan, "Kalau melamar juga tentu kepadamu, ayah, bukan langsung padaku."
Ki Galur menghela napas. "Aah, sebetulnya sudah waktunya bagi gus Jarot untuk mengajukan lamaran. Biarlah, Sari, nanti kalau dia datang, aku akan bicarakan urusan ini dengan dia."
Serentak Sekarsari bangun dan memandang ayahnya. "Apa? Ayah hendak bicara padanya tentang aku? Tidak, tidak! Jangan kau lakukan hal itu, ayah!"
Ki Galur memandangnya heran. "Kenapa, Sari?"
"Perlukah kita merendah sedemikian rupa? Jangan, ayah, aku tidak sudi ditawar-tawarkan, aku tak sudi memaksa dia mengawiniku! Aku tidak sudi seperti Maduraras, memikat-mikat hatinya!" Dan dengan marah Sekarsari lari ke dalam biliknya. Ia tidak keluar lagi biarpun ia mendengar Jarot datang dan makan bersama ayahnya. Ia mendengarkan baik-baik, siap untuk mencegah dan membantah, jika ayahnya menawarkan dirinya.
Tapi Ki Galur cukup kenal wataknya yang keras. Orang tua itu hanya bercakap-cakap tentang soal biasa dan tidak menyinggung-nyinggung dirinya. Penutup percakapan mereka adalah sebuah pertanyaan dari Jarot,
"Sari ke mana, paman? Aku tidak melihatnya sejak tadi."
Pertanyaan itu dijawab oleh Ki Galur sambil lalu, "Ia sudah tidur. Agak pusing barangkali, atau terlampau lelah."
Dan Jarot tak berkata apa-apa lagi, lalu masuk ke biliknya. Malam itu keadaan Jarot dan Sekarsari sama. Mereka gelisah dan tak tenang. Baik Sekarsari maupun Jarot tak dapat meramkan mata barang sesaat. Hawa malam itu panas. Agaknya mendung tak juga mau memberi jalan kepada air yang hendak menghujan.
Setelah dapat menenteramkan pikiran dan agak mereda gelisahnya, Jarot merasa betapa panas hawa dalam biliknya dan keluarlah dia dari bilik. Hawa di luar lebih sejuk karena angin malam bertiup perlahan bagaikan kipas raksasa yang bergerak tak tampak.
Dengan tak sengaja kakinya melangkah ke arah bengawan. Cahaya ribuan bintang di langit yang suram tertutup mendung di beberapa tempat membuat pohon-pohon tampak bagaikan raksasa-raksasa mengerikan menghadang ditengah jalan.
Ketika tiba dekat bengawan, tiba-tiba Jarot mendengar suara seorang wanita berkata marah, "Tidak, tidak mau!" dan suara itu disusul tangisan sedih.
Hati Jarot tercekat. Itulah suara Maduraras! Ia cepat bersembunyi di belakang alang alang dan mengintai. Alangkah herannya ketika ia melihat bahwa Maduraras sedang duduk di atas sebuah batu sambil menangis sedih, sedangkan di depannya berdiri seorang laki-laki yang bertolak pinggang. Ketika ia memandang tajam, ternyata bahwa laki-laki itu bukan lain ialah Raden Mas Bahar!
Jarot menjadi marah sekali dan hasratnya besar sekali untuk segera meloncat dan memberi hajaran kepada laki-laki jahanam itu! Tapi karena ia tak melihat Bahar berbuat sesuatu yang jahat, maka ia sabarkan hati danterus mengintai.
"Raras, apakah kau tidak mau membantu kakakmu? Bukankah di dunia ini hanya kau seorang yang mau membantuku, mau membelaku? Kalau bukan kau yang menolong, siapakah lagi, Raras?Ayah tentu tak sudi memperdulikan aku atau kau!”
"Kurang apakah aku membelamu? Kurang apakah aku membuktikan sayangku sebagai adikmu? Kau suruh aku lakukan sesuatu yang jahat, kau suruh aku bermain sandiwara, menipu mas Jarot, merusak perhubungan Jarot dan Sekarsari, kau suruh aku menghancurkan hati Sekarsari, dan semua itu telah kulakukan! Bukankah itu sudah cukup membuktikan sayangku kepadamu, mas Bahar? Tapi, untuk mencelakai jiwa mas Jarot, ah, jangan, mas. Jangan kau sekejam itu, aku... aku tak sanggup melakukan permintaanmu ini....."
"Raras! Tak tahukah kau betapa sakit hatiku kepadanya belum juga terbalas? Aku telah dipukulnya, dihinanya, direndahkannya di hadapan Sekarsari. Kau tahu betapa rinduku kepada gadis itu. Kalau Jarot tidak disingkirkan, ia merupakan rintangan besar, Raras. Tidak maukah kau berusaha membantu kakakmu supaya terlaksana keinginanku kawin dengan Sekarsari?"
Maduraras mendengarkan dengan menunduk dan masih terisak-isak. Sementara itu Jarot seakan-akan mendengar suara setan-setan berbicara dari neraka ketika ia mendengar percakapan itu. Demikian jahatkah Maduraras? Jadi selama ini, semua perbuatan gadis jelita itu hanya pura-pura dan gadis itu telah berusaha memikatnya, agar hubungannya dengan Sekarsari terputus? Ah, jahatnya! Jarot merasa betapa tubuhnya menggigil karena marah kepada kakak beradik jahanam yang tengah bercakap-cakap didepannya itu.
"Aku sudah berusaha, kak, tapi..... apa dayaku? Kangmas Jarot tidak.... cinta padaku. Aku tak sanggup memisahkannya dari Sekarsari....."
"Nah, kalau begitu, tiada jalan lain, Raras. Mudah saja, besok kau pergi mengunjungi mereka dan carilah kesempatan untuk menyuguhkan minuman kepada Jarot. Kau masukkan saja bubuk ini ke dalam minumannya, dan... akan terbalaslah dendam hatiku!"
"Jangan...! Tidak mau, mas Bahar! Aku tak sanggup!"
"Kau... setan alas! Kau beratkan dia daripada kakakmu sendiri?"
"Bukan demikian, tapi.... aku.... aku.... mas Jarot....."
Tiba-tiba Bahar melayangkan tangan menempeleng kepala Maduraras. "Keparat! Jadi rupa-rupanya kau jatuh cinta kepada pemuda jahanam itu, ya?"
Pada saat menerima pukulan itu, timbullah perlawanan dalam hati Maduraras. Memang sungguhpun ia sangat sayang kepada kakaknya, namun ia berani melawan jika merasa dirinya benar.
"Memang! Aku cinta padanya! Aku cinta padanya! Dan kaulah yang kejam, kaulah yang membuatku begini! Kalau bukan karena muslihatmu yang buruk, aku selamanya takkan kenal padanya! Sekarang aku telah mengenalnya, telah mengetahui kebaikannya, dan... dan aku jatuh cinta. Cinta sia-sia, mas Bahar, cinta sengsara, karena dia tidak membalas cintaku! Dan aku, adikmu yang kau sayang ini sekarang menderita, selama hidup akan menderita karena kau! Ah, aku menyesal... bunuhlah saja aku, mas Bahar....!"
"Kau juga cinta kepada Jarot? Ha ha! Sungguh gila. Kau yang menolak pinangan Pangeran sekarang jatuh hati kepada anak melarat itu?"
"Ya! Memang aku cinta pada kangmas Jarot! Ia lebih jantan daripada Pangeran, lebih jantan daripada kau, lebih bijaksana daripada siapa juga. Aku tidak malu jatuh hati padanya!"
Bahar mencabut kerisnya. "Raras, lihat ini, masih ingatkah kau pusaka ini?”
"Kau bawa-bawa pusaka ibu mau apa?"
"Ketika akan menutup mata, ibu meninggalkan pusaka ini untuk kita. Ingatkah kau akan pesan beliau? Bahwa kita harus saling bantu, saling bela. Sekarang kau tidak mau membantuku, Raras. Inginkah kau melihat aku mati diujung pusaka ini?"
"Mas Bahar..... kau kejam, mas. Mintalah yang lain, suruhlah aku menyerbu api menyelami samudra, akan kujalani dengan patuh. Tapi jangan.... jangan minta aku membunuh kangmas Jarot.,..." ratap tangis Maduraras.
"Jahanam! Perempuan tak kenal budi....!" Dengan wajah beringas Bahar maju dengan keris di tangan.
Melihat sikap kakaknya, Maduraras tidak gentar bahkan ia maju setindak mengangkat dadanya. "Kau mau membunuh aku? Bunuhlah, mas. Aku rela mati di tangan kakak sendiri. Ini, tusuklah dadaku..., biar aku menyusul ibu....."
Melihat sikap Maduraras dan mendengar kata-katanya, lemaslah tangan Bahar. Kemudian dengan suara menyeramkan ia berkata, "Baiklah, aku tak sampai hati membunuhmu, tapi aku takkan sudah sebelum Jarot mampus dan Sekarsari menjadi isteriku."
Sampai pada saat itu Jarot tak dapat menahan lagi kemarahannya. Dengan sekali loncat ia telah berdiri di depan Bahar sambil bertolak pinggang. "Pengecut! Macam inikah watak seorang satria? Bahar, alangkah rendahnya budimu. Kau tidak malu menaruh dendam padaku, padahal permusuhan kita kau sendirilah yang membuatnya. Dalam dendam kesumatmu yang buta dan sesat ini kau bahkan menyeret-nyeret adikmu sendiri yang suci hingga membuatnya menjadi gadis penipu dan pemikat yang rendah!"
Terdengar jerit Maduraras disusul tangis mendengar kata-kata yang menusuk kalbunya ini.
"Jarot, jangan kau banyak tingkah!" Bahar berseru marah lalu ia bertepuk tangan tiga kali.
Dari belakang batang-batang pohon muncullah empat orang tinggi besar, kaki tangan Bahar! Tanpa banyak cakap mereka berlima menyerang Jarot dengan ruyung dan keris.
"Mas Bahar... jangan, mas...." teriak Maduraras sambil maju menubruk kakaknya untuk menghalangi, tapi sekali dupak saja robohlah gadis itu.
Jarot menjadi marah sekali. "Kalian mencari mampus?" bentaknya dan dengan mengandalkan kegesitan tubuhnya dan kecepatan tangan kakinya ia melayani lima orang lawan yang bersenjata itu dengan tangan kosong!
Biarpun Bahar dulu pernah merasai kekerasan tangan Jarot, namun kini ia tidak takut karena ia dibantu oleh empat orang yang terkenal cabang atas dan ahli-ahli silat kelas satu. Sambil mengirim serangan ia berseru, "Pukul mati keparat ini. Habisi dia!"
Tapi Jarot tak gentar sedikitpun. Tubuhnya bergerak cepat hingga seakan-akan ia terpecah menjadi lima dan dapat melayani masing-masing lawannya. Kelima lawan itu berkunang-kunang melihat kecepatan Jarot dan seorang di antara mereka menjadi gentar dan menyangka pemuda itu menggunakan ilmu iblis.
Hal ini membuat gerakannya menjadi lambat dan sapuan kaki kiri Jarot membuat sambungan lututnya terlepas dan ia jatuh terduduk dengan meringis-ringis dan mengurut-urut dengkulnya yang tiba-tiba menjadi lumpuh! Ketika seorang lawan lain dari kanan mengayun ruyung ke arah kepala Jarot, pemuda ini dengan sigapnya berkelit ke kiri dan dengan jari tangan terbuka ia menyodok lambung lawan itu.
Orang tinggi besar itu berteriak kesakitan, ruyungnya terlepas dan ia menggunakan kedua tangan menekan-nekan perutnya karena sodokan jari tangan Jarot tadi membuat perutnya tiba-tiba menjadi mulas dan sakit sekali. Sambil mengerang dan merintih ia mundur, duduk di bawah sebatang pohon sambil memegang-megang dan menekan-nekan perutnya!
Jarot tidak mau berlaku kejam kepada empat jagoan itu, karena ia maklum bahwa mereka ini hanya diperalat oleh Bahar. Kepada Bahar seoranglah kebenciannya meluap. Maka dengan beruntun ia robohkan dua pembantu Bahar yang lain dengan hanya memberi hadiah tendangan dan pukulan yang tidak membahayakan jiwa mereka tapi yang cukup membuat mereka rebah tak kuasa bangun lagi. Maka tinggal Bahar seoranglah yang masih berlaku nekat.
"Jarot, kalau bukan kau, tentu akulah yang hari ini menjadi mayat!" geramnya sambil maju menyerang dengan nekat.
"Kau yang mulai, bukan aku!" jawab Jarot sambil berkelit dengan mudahnya.
Dengan keris pusaka ibunya Bahar menyerang bertubi-tubi, tapi sambil tersenyum mengejek Jarot mempermainkannya dengan berloncatan ke sana ke mari, kadang-kadang tangannya menowel pundak, menjiwir telinga dan menjambak rambut. Tentu saja dipermainkan demikian Bahar makin marah dan nekat. Dadanya terasa panas dan matanya gelap.
"Mas Jarot, ampunkan padanya, mas..." tiba-tiba terdengar suara Maduraras memohon.
Sambil berkelit Jarot berkata kepada Bahar, "Kau masih tidak kapok? Hentikan seranganmu dan aku ampunkan padamu. Kalau bukan aku kasihan kepada Maduraras, tidak nanti aku sudi ampunkan jiwamu yang rendah."
Pada saat itu terdengar isak tertahan di balik batang pohon kelapa dan sesosok bayangan seorang gadis lari menyelinap ke dalam gelap. Dia ini bukan lain ialah Sekarsari! Gadis ini yang gelisah dan tak dapat tidur, keluar dari biliknya dan dengan pikiran ruwet ia menuju ke bengawan. Melihat Jarot sedang berkelahi dikeroyok dan ada beberapa orang lawan Jarot rebah merintih-rintih, ia terkejut sekali.
Tapi tiba-tiba terlihatlah olehnya Maduraras menangis, maka diam-diam ia bersembunyi. Ketika ia melihat bahwa yang memimpin pengeroyokan itu bukan lain ialah Bahar, maka mengertilah ia. Tentu Maduraras diganggu oleh Bahar dan Jarot datang menolong! Atau, pikirnya dengan hati panas, mungkin Jarot dan Maduraras sedang membuat pertemuan di situ dan diganggu oleh Bahar!
Kini ia melihat betapa Jarot dengan mudahnya mengampuni Bahar hanya karena diminta oleh Maduraras. Sekarsari tak dapat menahan panas hatinya lebih lama lagi dan sambil menahan isak tangisnya, ia lari meninggalkan tempat itu!
Bahar mendengar kata-kata Jarot bukannya menghentikan serangannya, bahkan ia mundur beberapa tindak dengan napas terengah-engah dan mata terbelalak marah. Kemudian, sambil mengeluarkan geraman hebat, ia ayun keris pusaka ke arah Jarot. Serangan ini berbahaya sekali karena Bahar memang mahir melempar keris. Keris pusaka itu dengan lajunya bagaikan anak panah menyambar leher Jarot.
Jarot maklum betapa berbahaya serangan gelap ini karena cuaca yang gelap tak memungkinkan ia melihat datangnya keris dengan jelas. Baiknya telinga Jarot sudah terlatih hebat hingga ia dapat menangkap suara angin yang terbawa keris itu. Karena sudah tiada waktu untuk berkelit pula, ia menggunakan jari tangan kanannya menyampok ke arah keris. Keris pusaka itu terpental sedemikian rupa hingga senjata itu membuat gerakan membalik dan langsung melayang ke arah Bahar.
Terdengar teriakan ngeri ketika keris itu menancap dada Bahar yang roboh berkelojotan dan menghembuskan napas terakhir setelah beberapa kali menyebut ibunya! Karena kelalimannya, pusaka mendiang ibunya telah menghabisi riwayatnya dengan tak terduga dan tak disengaja.
Melihat kejadian ini Maduraras menyerbu tubuh kakaknya dan sambil menangis dan menjerit-jerit ia peluki tubuh itu. Dan Jarot berdiri kesima dan lesu. Ia menyesal sekali hingga ia hanya dapat memandang gadis yang menangis sedih itu tanpa dapat bergerak maupun berkata-kata. Karena sedih dan putus asa,
Maduraras jatuh pingsan di samping mayat kakaknya. Dan pada saat itu, jatuhlah air hujan menimpa dan membasahi segala apa di permukaan bumi. Kilat menyambar-nyambar, guntur menggelegar, dan udara penuh dengan gema hiruk-pikuk menyeramkan, seakan-akan semua iblis, demit, dan setan bekasakan keluar dari tempat persembunyian masing-masing pada saat itu, siap untuk mencari korban.
Jarot masih berdiri bagaikan patung. Kemudian ia mengambil keputusan untuk membawa mayat Bahar dan mengantarkan Maduraras ke tumenggungan, tempat tinggal Tumenggung Suryawidura, yang ia kini tahu, adalah ayah Maduraras! Tapi, pada saat kakinya bergerak maju, tiba-tiba dari belakangnya datang berloncatan tiga orang yang memegang tombak.
"Hordah! Berhenti kamu. Siapa di situ?" tiga orang membentak berbareng dan tiga batang tombak dipalangkan mencegat majunya Jarot!
Jarot menggunakan kedua tangan menolak tombak itu, tapi alangkah terkejutnya ketika tiga tombak itu tidak terpental karena pemegang-pemegangnya ternyata bertenaga besar sekali. Semua urat dalam tubuh Jarot menegang dalam persiapan, karena ia maklum bahwa kali ini ia harus menghadapi lawan-lawan yang tak mudah dikalahkan! Secepat kilat ia loncat berbalik menghadapi ketiga pemegang tombak itu dan ia saling pandang dengan Adipati Uposonto dan dua orang pahlawan keraton lain!
"Dimas Jarot!" Uposonto berseru tercengang. "Kau sedang apa di sini?" Kemudian di antara menyambarnya kilat, tampak oleh adipati itu tubuh Bahar membujur kaku dan tubuh Maduraras yang rebah tak bergerak didekatnya.
"Eh, mereka siapa dan kenapa?" tanya Uposonto kepada Jarot.
"Kangmas Uposonto, sekarang bukan waktunya bicara, bantulah aku mengangkat mereka. Mereka adalah Denmas Bahar dan adiknya."
Tanpa banyak cakap lagi Uposonto dan dua orang kawannya mengangkat dua tubuh itu dan menaruh mereka di atas kuda. "Dimas Jarot. Kami datang sengaja mencarimu atas perintah paman senapati Baurekso. Kami disuruh memberitahumu, bahwa balatentara Mataram hendak mulai dengan penjelajahannya, pertama-tama ke Wirasaba. Kau tidak diharuskan, tapi kami akan merasa girang sekali kalau kau suka ikut."
Mendengar hal ini Jarot merasa girang sekali. "Tentu saja, kangmas Uposonto, aku akan ikut. Nah, tolonglah kau antar mereka ini pulang ke tumenggungan lebih dulu, aku hendak mengadakan persiapan. Bila kita berangkat?"
"Besok pagi-pagi pada saat fajar menyingsing."
"Baik."
"Tapi, dimas Jarot, bagaimana kalau nanti paman tumenggung bertanya tentang mereka ini? Apakah sebenarnya yang telah terjadi?"
"Kematian denmas Bahar ini karena berkelahi dengan aku. Lihatlah, kerisnya sendiri masih tertancap didadanya. Ia sambitkan keris itu padaku, karena gelap, terpaksa aku menyampoknya dan dengan tak kusengaja keris itu tersampok kembali dan menancap didadanya. Adapun Madu..... eh, adiknya ini, kukira ia hanya pingsan karena sedih dan kaget."
Uposonto mengangguk maklum. "Persoalan dapat diurus kemudian, kini yang perlu harus mengantar mereka ini ke tumenggungan. "Mari kita berpisah, dimas Jarot."
Kemudian, ketiga pahlawan keraton itu membawa kedua tubuh itu sambil melarikan kuda mereka. Melawan serangan angin dan hujan. Sedangkan Jarot dengan cepat berlari pulang. Dengan cepat ia menengok kudanya di kandang sebentar, lalu bertukar pakaian kering. Ketika ia memasuki biliknya, tiba-tiba ia mendengar suara isak tangis tertahan dari kamar Sekarsari.
Ia merasa heran sekali mengapa Sekarsari menangis pada saat lewat tengah malam. Mimpikah gadis itu? Tapi ia tak berani mengganggu. Ia lalu duduk bersamadhi. Besok ia akan pergi berjuang membela Mataram. Ia akan meninggalkan Sekarsari.
Tapi, kepergiannya ini ada baiknya, karena pertama ia akan dapat bertempur melawan musuh, kedua ia akan menjauhkan diri dari segala hal yang tak menyedapkan hati, seperti urusannya dengan Bahar, dengan Maduraras, dan dengan Sekarsari yang kini agaknya berobah sikap terhadapnya! Biarlah ia meninggalkan kota raja untuk beberapa lama dan mudah-mudahan saja sekembalinya nanti keadaan akan menjadi lebih baik.
Sementara itu Adipati Uposonto telah tiba di tumenggungan dan menggedor pintu gerbang. Penjaga muncul dengan marah, tapi ketika melihat siapa orangnya yang menggedor pintu, ia berlaku sangat hormat dan menanyakan maksud kedatangan Adipati Uposonto yang dijawab dengan singkat dengan perintah agar pintu dibuka dan Tumenggung Suryawidura diberi tahu akan kedatangannya.
Penjaga itu merasa ragu-ragu dan takut untuk membangunkan tumenggung pada saat seperti itu, tapi ketika ia melihat tubuh Raden Mas Bahar terkulai di atas punggung kuda, ia terkejut sekali dan, setelah membuka pintu gerbang, ia berlari-lari masuk sambil berteriak-teriak!
Alangkah terkejutnya hati Tumenggung Suryawidura melihat mayat anaknya, dan ia heran melihat tubuh gadis yang pingsan itu, karena sesungguhnya ia lupa dan tidak mengenali Maduraras. Dengan singkat Uposonto menuturkan tentang perkelahian antara Bahar dengan Jarot.
"Anak bedebah itu, Awas, besok akan kulaporkan kepada Sri Sultan!" tumenggung tua itu mengutuk.
''Saya rasa paman tumenggung hendaknya bersabar sedikit. Lebih baik tanyakan lebih dulu duduknya hal kepada puteri paman jika ia telah siuman."
"Ia... Maduraras?" dan tumenggung Suryawidura lari ke dalam untuk melihat Maduraras.
Uposonto menanti sebentar dan tak lama kemudian tumenggung keluar kembali, wajahnya tampak sedih dan marah, “Ia telah siuman tapi belum mau bicara, hanya menangis saja."
"Paman tumenggung, saya ulangi lagi bahwa sebaiknya paman jangan mengganggu Sri Sultan pada waktu ini. Paman sendiri maklum betapa sibuk pikiran Sri Sultan dengan rencana penjelajahan bala tentara Mataram ini. Janganlah hendaknya Sri Sultan diganggu dengan urusan-urusan pribadi."
Tumenggung Suryawidura memandang marah, "Habis, harus diam sajakah aku dihina oleh Jarot anak desa itu?"
"Bukan demikian, paman. Urusan ini masih dapat diselesaikan kelak bila perjuangan ini sudah. Dikerjakan dengan hasil baik. Ketahuilah bahwa dimas Jarot sendiripun ikut dengan kami membela Mataram. Maka, kalau paman melaporkan hal ini sekarang, berarti paman mendatangkan dua kerugian. Pertama, Sri Sultan akan terganggu dan kedua barisan kami akan kehilangan tenaga Jarot yang sangat kami andalkan itu. Ingatlah, paman. Belum terlambat agaknya hal ini diurus lebih lanjut jika kami telah kembali kelak. Pula, belum tentu kesalahan berada di pihak dimas Jarot, hal ini sebaiknya paman pertimbangkan dulu setelah paman mendengar keterangan dari puteri paman nanti."
Akhirnya Tumenggung Suryawidura hanya mengangguk-angguk dengan penasaran dan kecewa, dan Adipati Uposonto lalu minta diri untuk mengadakan persiapan guna pemberangkatan besok.
Hari itu, pagi-pagi sekali Jarot sudah sadar dari samadhinya dan ia segera mendahului Sekarsari ke bengawan, di mana ia sengaja bersembunyi dan menanti kedatangan Sekarsari. Betul saja, tak lama kemudian tampak gadis itu mendatangi dengan kelenting tempat air ditangan kanan dan pakaian cucian ditangan kiri. Jarot kaget juga melihat wajah yang muram dan sedih dengan tubuh yang kelihatan lemah-lunglai itu.
Sekarsari tampak bagaikan seorang yang tidak sehat, mukanya demikian pucat dan matanyakemerah-merahankarena banyak menangis. Ketika tiba di pinggir bengawan, Sekarsari menurunkan bawaannya lalu pergi duduk di atas sebuah batu. Di situ ia duduk melamun, diam tak bergerak bagaikan patung sambil memandangi air bengawan yang mengalir tiada hentinya.
Ia tidak mendengar betapa seorang pemuda menghampirinya dari belakang. "Sari....."
Gadis itu tersentak kaget dan cepat ia menengok, tapi segera ia membuang muka ketika melihat Jarot.
"Sari, kau kenapa? Agaknya kau marah padaku...."