Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 08 karya Kho Ping Hoo - GADIS ITU tidak menjawab, tapi matanya telah penuh air mata yang ditahan-tahannya dengan menggigit bibir. Jarot meloncat ke atas sebuah batu di depan Sekarsari hingga mereka duduk berhadapan. Gadis itu menundukkan muka menyembunyikan air matanya.
"Sari, jangan kau marah padaku. Kalau aku bersalah, katakanlah terus terang, aku akan menerimanya dan minta maaf...." Kata-kata ini dikatakan dengan halus hingga untuk beberapa lama gadis itu menatap wajah Jarot, kemudian ia menangis tersedu-sedu.
"Sari, kenapakah? Jangan kau terus marah padaku, Sari. Aku tak kuat menahan jika kau bersikap seperti ini....."
Gadis itu mengangkat muka dan dari sepasang matanya yang merah terpancar sinar kemarahan. "Kau.... kau kira aku,.,, akupun senang dan dapat menahan melihat... sikap dan kelakuanmu?"
Jarot mengerutkan kening. "Kau maksudkan.,.. Maduraras?? Kalau begitu, kau... kau... cemburu? Kalau begitu, kau... kau... cinta padaku?" Wajah Jarot berseri, tapi alangkah terkejutnya ketika ia melihat perubahan air muka gadis itu.
Sekarsari menjadi pucat bagai mayat dan sepasang matanya bagaikan bernyala. Jarot insyaf dan menyesali kebodohannya. Ia terlampau jujur dan ceroboh hingga kata-katanya itu tentu saja menyinggung perasaan halus gadis itu.
"Apa katamu? Cemburu? Cinta....? Siapa... siapa yang cemburu? Apa perduliku akan hubunganmu dengan Maduraras? Aku tidak,... tidak berhak untuk merasa cemburu!! Dan cinta? Aku.... aku....!" Tiba-tiba Sekarsari menutup mukanya dan lari meninggalkan tempat itu, lupa untuk membawa cucian dan kelentingnya. Ia lari pulang sambil menangis.
"Sari..... Sari..., aku cinta padamu, Sari.....!" Jarot berdiri dan berteriak-teriak.
Tapi Sekarsari lari terus, bahkan isaknya makin mengeras. Pengakuan Jarot ini dilakukan bukan pada saat yang tepat, dan Sekarsari mendengar ucapan itu bagaikan bernada penuh ejekan.
"Sari... kembalilah, aku cinta padamu, Sari......" dan Sekarsari lari terus, kini menggunakan dua jari telunjuknya untuk dipakai menutupi telinganya!Setibanya dirumah, Sekarsari terus memasuki biliknya, membanting dirinya di atas pembaringan dan menangis tersedu-sedu. Tuduhan Jarot bahwa ia cemburu dan mencintai pemuda itu terlalu tepat dengan isi dadanya hingga sangat menusuk rasa keangkuhannya. Hatinya telah luka karena persangkaannya bahwa Jarot mempunyai hubungan dengan Maduraras kini Jarot memberi obat pada lukanya itu, tapi obat yang sangat perih hingga ia tak kuat menahannya.
Jarot yang masih bodoh untuk dapat menyelami perasaan dan hati wanita, sangat canggung dalam pernyataannya tadi, hingga ia baru menyatakan cintanya setelah terlambat, setelah tuduhannya yang tepat itu menyinggung dan menyakiti hati Sekarsari. Kalau saja ia menyatakan cintanya lebih dulu, takkan begitu jadinya!
Kini melihat Sekarsari lari darinya dan tak mau menerima pernyataan cintanya, hatinya menjadi tawar dan dingin. Ia tersenyum pahit dan senyum ini membuat wajahnya tampak lebih tua dan matang. Tanpa diketahuinya, peristiwa ini menimbulkan garis-garis baru pada kulit mukanya. Dengan tubuh lesu ia kembali ke pondok, tak lupa untuk membawa pakaian dan tempat air Sekarsari yang ditaruhnya didepan bilik gadis itu.
Kemudian ia pergike kandang, menuntun Nagapertala keluar dan sebentar lagi ia sudah berada dialun-alun di mana para perajurit telah siap berangkat, dikepalai oleh Uposonto dan beberapa orang panglima lain.
Setelah mendapat doa restu dari Sri Sultan, maka berangkatlah bala tentara Mataram yang gagah itu, diiringi gamelan selamat jalan. Rakyat berdesak-desakan ditepi jalan untuk mengucapkan selamat jalan dan menyampaikan doa-doa mereka.
Di antara rakyat yang berdesak-desakan, Jarot melihat bayangan Maduraras disuatu tempat dan bayangan Sekarsari di tempat lain. Kedua orang gadis itu memandangnya dengan sinar mata yang sama, kedua-duanya mesra dan penuh api cinta!
Expedisi penjelajah Sultan Agung tidak menemui rintangan, karena ternyata para kepala daerah kecil-kecil tahu sampai di mana kekuasaan dan kebijaksanaan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung dan mereka ini dengan senang hati menyatakan tunduk dan taat. Tapi di Wirasaba, Lasem, bala tentara menemui perlawanan yang hebat juga.
Dalam pertempuran dengan mereka, selain para panglima yang gagah perkasa dibawah pimpinan Uposonto, Jarot pun berjasa besar. Terutama ketika barisan Lasem mengeluarkan seorang pertapa dari Gunung Muria bernama Kyai Sidik Permono. Para panglima Mataram tidak ada yang kuat melawan kyai ini, karena pertapa ini menggunakan aji kesaktian yang tak dapat dilawan dengan mengandalkan kekebalan kulit dan kekerasan tulang belaka.
Bahkan Uposonto terpaksa mundur setelah mengadu kemahiran tenaga batin dengan Kyai Sidik Permono dan pertapa itu menggunakan ajinya Ciptoguno yang hebat. Apa saja yang dipegang oleh pertapa itu, baik batu, daun, atau kayu, setelah dilempar ke arah lawan lalu berubah menjadi tentara siluman yang mengerikan!
Akhirnya Jarotlah yang maju menandingi pertapa itu. Melihat kedatangan pemuda yang tampan dan halus itu, Kyai Sidik Permono terkesiap juga karena dari sinar matanya ia maklum bahwa pemuda itu bukanlah orang sembarangan.
"Satria perwira, belum pernah aku melihat panglima Mataram seperti kau. Siapakah namamu, raden?” tanya Kyai Sidik Permono.
"Saya bernama Jarot dan bukan panglima. Saya perajurit sukarela biasa saja."
Maka heranlah pertapa itu mendengar jawaban Jarot. "Hm, kau perajurit biasa? Kau lihat betapa semua panglima Mataram yang gagah perkasa tak kuat melawanku. Apakah kau juga hendak mencoba kesaktianku, raden? Ah, kau takkan kuat, mundurlah saja, Raden Jarot, sayang kalau sampai kau kena bencana."
"Paman Kyai, kau menyuruh saya mundur. Mengapa tidak kau saja yang mundur? Betapapun juga, aku adalah seorang pemuda yang telah sengaja menjadi perajurit untuk berperang membela Mataram. Tapi kau, paman kyai, kau adalah seorang pertapa suci yang seharusnya menjauhi pertumpahan darah dan berdiam saja dipadepokanmu menyucikan diri dan mengajar ilmu, memberi penerangan kepada yang kegelapan dan memberi nasihat kepada yang tersesat. Mengapa kau bahkan memperbesar peperangan ini dengan mengeluarkan aji kesaktianmu?"
Sepasang mata pertapa tua itu mencorong dengan kagum dan penasaran. "Raden, pandanganmu biarpun ada benarnya tapi hanya memihak sebelah. Kau hanya mempersoalkan kedudukan seorang dan pekerjaannya. Itu kurang luas, raden. Pandanganku lebih luas lagi. Aku adalah rakyat atau penduduk sini. Sudah menjadi kewajibanku untuk membela negeri dimana saya tinggal. Aku tidak mengurus tentang sebab dan akibat perang ini. Aku hanya patuh kepada panggilan tugas, tugas seorang kawula. Ingat, yang kulawan bukanlah kau dan kawan-kawanmu, tapi aku melawan penyerang Lasem, siapa saja mereka itu adanya."
"Kau betul, paman kyai. Kalau demikian luas pandanganmu, nah, sekarang kita sebagai petugas hanya memenuhi kewajiban saja. Majulah, aku akan mencoba untuk melawan kesaktianmu. Menang kalah itu hanya akibat kecil. Mati atau hidup itupun hanya perpindahan sederhana saja."
Kyai Sidik Permono tertawa bergelak. "Ah, tak salah lagi. Kau panglima sesungguhnya. Aku takkan merasa malu jika nanti jatuh dalam tanganmu. Nah, majulah, raden!"
"Kau dulu, paman kyai."
Melihat Jarot berlaku sungkan, Kyai Sidik Permono segera maju menyerang. Biarpun ia sudah tua, namun gerakannya gesit dan pukulan tangannya ampuh dan berat. Jarot pun tahu bahwa orang tua ini tak boleh dipandang ringan, maka ia melayaninya dengan hati-hati dan mengandalkan kegesitan dan keringanan tubuhnya.
Setelah bertempur puluhan jurus, Kyai Sidik Permono tak tahan lagi, dan hanya dapat menangkis sambil mundur. Tiba-tiba Kyai Sidik Permono menyaut sebatang tombak dari tangan perajuritnya, dan Uposonto yang sudah siap lalu memberi Jarot sebatang pula. Kini pertempuran dilanjutkan dengan tombak di tangan. Para perajurit kedua pihak bersorak-sorak ramai untuk memberi semangat kepada jago mereka.
Namun ternyata bahwa dalam permainan tombak, Kyai Sidik Permono bukanlah lawan Jarot. Pada satu saat terdengar bunyi keras dan tombak di tangan pertapa itu patah! Kalau saja saat itu digunakan oleh Jarot untuk menyerang dengan tombaknya, tentu celakalah pertapa itu. Tapi Jarot melempar tombaknya hingga tertancap di atas tanah, dan menghadapi pertapa itu dengan tangan kosong.
"Raden Jarot, kau sungguh gagah perkasa!"
"Mari paman kyai, lanjutkanlah, saya layani!"
"Tapi aku belum kalah, raden. Cobalah lawan ajiku ini!" Dengan gerakan cepat Kyai Sidik Permono melempar potongan gagang tombak di tangannya ke atas dan aneh, potongan kayu itu lenyap dan tiba-tiba di depan Jarot berdiri seorang siluman tinggi besar yang menyeramkan, hingga para perajurit di pihak Jarot mundur ketakutan. Juga Uposonto yang tadi telah merasai kehebatan aji ini, mundur beberapa tindak dan mengkhawatirkan keselamatan Jarot.
Namun Jarot hanya tersenyum dan berkata kepada pertapa itu, "Aji ini hanya baik untuk menakut-nakuti anak-anak saja, paman kyai!"
Marahlah Kyai Sidik Permono mendengar ini. Ia menggunakan jari tangannya menunjuk kepada Jarot dan pada saat itu juga siluman itu menubruk ke arah Jarot dengan gerengan hebat. Tapi Jarot sudah siap. Kedua matanya mengeluarkan cahaya tajam dan sambil mengucap, "Asal kayu kembali menjadi kayu" ia memukul dada siluman itu.
Ajaib! Sambil berteriak kesakitan siluman itu lenyap ditelan bumi dan di atas tanah menggeletak potongan gagang tombak yang lenyap tadi. Kyai Sidik Permono merasa penasaran dan berkali-kali ia matak aji dan mencipta siluman-siluman dari batu, daun, dan tanah, tapi selalu Jarot dapat memunahkan dengan mudah! Akhirnya Kyai Sidik Permono mengalah.
"Raden Jarot, sungguh kau gagah. Aku mengaku kalah. He, para perajurit Lasem, dengarlah. Aku Kyai Sidik Permono bukan tak kenal kewajiban dan tidak mau membantu perjuangan kalian tapi hari ini aku dikalahkan oleh Raden Jarot. Aku telah membantu tapi gagal. Perkenankan aku kembali ke gunungku!".Dan pertapa itu lalu meninggalkan medan pertempuran dengan langkah lebar, diikuti pandangan kecewa oleh para perajurit Lasem.
Maka pecahlah pertempuran hebat. Tapi karena seperginya pertapa sakti itu semangat perajurit Lasem telah mengurang, mana mereka dapat menahan serbuan bala tentara Mataram yang bersemangat baja dan terpimpin oleh panglima-panglima gagah perkasa. Terutama Jarot di atas Nagapertala merupakan lawan berat hingga dimana saja pemuda itu tiba dengan kudanya, disitu bergelimpangan mayat tentara musuh.
Akhirnya, tanpa dapat mengadakan perlawanan yang berarti, Lasem jatuh ke dalam tangan bala tentara Mataram dengan mudah. Barisan Mataram pulang dengan gembira sebagaimana biasa tentara menang perang. Ketika memasuki kota raja, matahari telah naik tinggi. Jarot dan Nagapertala merasa lelah, terutama kuda itu yang telah lari tiada hentinya sepanjang malam.
Tubuhnya yang kuat menjadi licin karena peluh dan ketika Jarot menghentikannya di depan pondok Ki Galur, dari punggung dan mulut Nagapertala keluarb uap putih. Jarot heran melihat kampungnya sunyi. Pondok Ki Galur tertutup pintunya. Ia cepat meloncat turun dari punggung kudanya dan mengetuk pintu, lalu berjalan memutar dari belakang.
Namun ternyata bahwa pondok itu kosong. Ketika ia sedang berdiri termenung di depan pondok, tiba-tiba seorang tetangga menegurnya, "He, Den-mas Jarot, kau baru kembali?"
Jarot bagaikan tak mendengar teguran orang dan balas bertanya, "Paman, ke manakah mereka pergi?"
Kakek yang ditanyanya tersenyum. "Kau maksudkan Ki Galur dan Sekarsari? Belum tahukah kau? Pagi tadi mereka pindah kekeraton!"
Terkejutlah hati Jarot. "Kekeraton? Mengapa?"
"Eh, bukankah Sekarsari diboyong oleh pangeran? Hari ini pesta kawinnya," jawab kakek itu dengan heran melihat perobahan muka Jarot.
"Apa katamu? Sekarsari diboyong oleh pangeran? Celaka!" Lalu tanpa memperdulikan kakek yang menjadi heran dan memandangnya dengan mata terbelalak itu, Jarot cemplak kudanya lagi dan membalapkan Nagapertala menuju ke istana.
Benar saja, gapura-gapura di alun-alun telah dihias indah. Banyak orang hilir mudik memasuki gerbang halaman keraton sambil membawa barang-barang antaran untuk memberi selamat. Bunyi gamelan menggema sampaike alun-alun. Hati Jarot makin berdebar dan tubuhnya yang telah lelah gemetar di atas kuda. la tidak turun dari kuda seperti biasa kalau orang hendak menghadap ke istana, tapi terus saja memasuki pintu gerbang dengan Nagapertala.
Banyak orang mengikutinya dari belakang karena semenjak memasuki alun-alun, orang-orang telah heran melihat Jarot membalapkan kudanya hingga hampir-hampir menabrak orang-orang yang berada di situ. Penjaga pintu gerbang dengan tombak di tangan hendak mencegah Jarot memasukkan kudanya, tapi ketika penjaga itu melihat Nagapertala dan Jarot yang pada saat ituberwajah menyeramkan, ia mundur ketakutan!
Jarot meloncat turun dan lari ke dalam istana, melewati beberapa orang pengawal keraton yang tak kuasa mencegahnya karena merasa segan dan takut menghalang-halangi pemuda yang terkenal gagah berani itu.
Pada saat itu, di ruang pesta sedang sibuk diadakan upacara sebagaimana layaknya jika pangeran atau pembesar lain mengawini seorang gadis untuk menjadi selirnya. Sekarsari duduk di atas sebuah bangku dalam pakaian pengantin yang indah dan rambut kepalanya terhias bunga-bunga dan cunduk beraneka warna dan ragam. Gadis itu duduk diam dan menundukkan kepala.
Pangeran Amangkurat dengan wajah gembira dan lagak gagah duduk disampingnya. Karena hendak memenuhi syarat dan permintaan Sekarsari, maka perkawinan itu diadakan secara sah dan dalam upacara itu dihadiri pula oleh Sultan Agung sendiri dan oleh semua penghuni istana! Peristiwa ini adalah luar biasa karena belum pernah seorang selir diboyong ke keraton dengan upacara demikian resmi bagaikan mengawini seorang isteri atau permaisuri saja.
Pada saat Upacara mencuci kaki pengantin pria dilakukan, dan Sekarsari sudah berjongkok dengan bokor kencana berisi air kembang, tiba-tiba seorang pemuda meloncat memasuki ruang itu dan suaranya keras menggema, "Batalkan perkawinan ini!"
Sultan Agung tak senang melihat sikap Jarot ini. Dengan perlahan Sultan berdiri dan berkata tenang, "Jarot, alangkah kurang ajarnya dirimu!"
Jarot kaget mendengar suara Sri Sultan, karena tidak disangkanya sama sekali bahwa Sultan Agung berada pula di situ. Buru-buru ia maju berlutut dan menyembah. "Ampunkan hamba, gusti, hamba mengaku telah berlaku lancang, tapi mohon perkawinan ini ditunda dulu dan sudi kiranya paduka mendengar keterangan hamba."
Sultan Agung memberi tanda agar upacara ditunda sebentar dan sepasang mempelai duduk kembali di kursinya. Sekarsari menundukkan kepala makin dalam hingga dagunya menempel di dada, sedangkan Pangeran Amangkurat duduk dengan perasaan tegang dan memandang ke arah Jarot dengan marah.
"Sekarang, sebelum kau bicara tentang sebab-sebab kelakuanmu yang aneh ini, terlebih dulu ceritakanlah tentang hasil bala tentara Mataram. Kau baru kembali dari Lasem, bukan?"
Jarot merasa terpukul dan malu kepada diri sendiri. Nyata bahwa Sri Sultan yang bijaksana itu jauh lebih mementingkan persoalan negara daripada persoalan-persoalan pribadi yang remeh. Maka dengan singkat ia menuturkan tentang kemenangan balatentara Mataram di Lasem dan bahwa barisan sedang menuju pulang.
Wajah Sultan Agung berseri mendengar hasil baik ini, demikianpun seisi ruangan, disana-sini terdengar tarikan napas lega. "Untung bagimu kau membawa kabar baik, Jarot. Hal ini setidaknya mengurangi pengaruh buruk dari sikap dan tindakanmu yang lancang tadi. Nah, sekarang katakanlah terus terang, mengapa kau berani mengganggu upacara perkawinan pangeran."
"Ampunkan hamba, gusti. Kalau tidak ada sesuatu yang akan mendatangkan aib dan mencemarkan nama baik kerajaan, tidak sekali-kali hamba berani mengganggu perkawinan ini. Tapi ada satu hal pelik yang harus paduka ketahui tentang diri pengantin wanita."
Terdengar suara-suara bisikan memenuhi ruang itu, Sekarsari mengangkat kepala sekejap lalu menunduk kembali, sedangkan pangeran memandang penasaran.
"Jarot, kau sungguh berani mati. Jangan kau berani mengganggu nama baik Sekarsari!" Pangeran membentak marah dan mencabut keris.
Tapi dengan sinar matanya Sultan Agung melarang puteranya, hingga pangeran terduduk kembali dengan muka merahdan pandangan mata penuh kebencian. "Jarot, apa maksudmu?" Sri Sultan bertanya.
"Gusti Sultan," Jarot berkata dengan suara keras dan tetap hingga terdengar jelas oleh semua yang hadir, "Sesungguhnya, gusti pangeran adalah masih kakak sendiri dari mempelai wanita!"
Semua orang terkesiap dan untuk sejenak keadaan di ruang itu sunyi. Semua mata tertuju kepada sepasang mempelai itu yang kini saling pandang dengan heran. Sri Sultan memandang Jarot dengan heran dan tak senang, lalu cepat bertanya, "Apa katamu? Alasan apa yang kau pakai untuk memperkuat omongan ini?"
"Hamba persilakan Gusti Ayu Bratadewi tampil ke depan."
"Eh-eh, apa maksudmu?" Sri Sultan makin terheran.
"Hamba hendak memperlihatkan bukti, gusti," jawab Jarot tabah.
Bratadewi yang hadir pula disitu dan yang sejak tadi sudah mendengar ucapan Jarot dengan hati berdebar, segera maju ke depan dan berlutut didepan Sri Sultan.
"Sekarang hamba mohon juga supaya mempelai wanita dipersilakan duduk di dekat Gusti Ayu Bratadewi dan membuka penutup mukanya supaya paduka dapat memeriksa persamaan mereka," kata Jarot.
Sekarsari yang sejak tadi memandang wajah Bratadewi dengan terkejut dan heran, mendengar kata-kata Jarot ini, tanpa menanti perintah lagi dari Sri Sultan lalu maju dan berlutut di depan Sultan Agung sambil membuka penutup wajahnya.
Sultan Agung terbelalak melihat wajah Sekarsari karena gadis yang sedang menyembah ini tiada bedanya sedikitpun dengan Bratadewi ketika masih gadis dan yang pernah menggoncangkan dan mencuri hatinya. Juga lain-lain orang yang berada diruang itu menahan napas karena baru sekarang mereka dapat melihat persamaan wajah kedua wanita itu.
Bratadewi sendiri memandang dengan tercengang dan muka pucat. Wanita setengah tua yang cantik ini menekan dada dengan kedua tangan dan bibirnya gemetar. "Apa artinya ini?" kata-kata ini diucapkan hampir berbareng oleh Sultan Agung dan Bratadewi.
"Gusti Sultan, kalau hamba tak salah sangka, bukankah dulu beberapa belas tahun yang lalu, Gusti Ayu Bratadewi telah kehilangan puterinya yang masih kecil? Bukankah puterinya itu hilang tak meninggalkan jejak dan tak tentu rimbanya?"
"Benar, benar... kau maksud gadis ini...." Bratadewi bertanya sambil memandang tajam kepada Sekarsari yang juga memandangnya.
"Sabar, gusti, hamba sendiripun belum tahu pasti karena belum tahu duduknya peristiwa. Tapi ada seorang yang akan dapat memecahkan rahasia ini."
"Siapa dia?" Sultan Agung bertanya cepat.
"Bukan lain ialah paman Galur yang kebetulan hadir pula di sini."
Kini semua mata tertuju kepada Ki Galur yang menjadi pucat dan tubuhnya gemetar karena kini terbukalah matanya akan kemungkinan dan kenyataan yang luar biasa ini.
"Ki Galur, majulah kesini dan ceritakanlah sejujurnya, siapakah sebenarnya Sekarsari yang kau aku sebagai anakmu."
Ki Galur maju dan menyembah, lalu bercerita. "Ampunkan, gusti, tadinya hamba sama sekali tidak ada persangkaan sedikitpun bahwa Sari mempunyai hubungan dengan dalam keraton. Memang, hamba bukanlah ayah Sekarsari....."
Suaranya terdengar lemah terharu hingga Sekarsari maju menubruk padanya. "Ayah..."
Ki Galur mengusap-usap rambut anaknya dan membiarkan gadis itu menangis sambil menyandarkan kepala di pundak ayahnya. "Tujuh belas tahun yang lalu, ketika hamba dan bini hamba sedang menjala ikan di bengawan pada senja hari, tiba-tiba hamba mendengar tangis seorang anak kecil. Ternyata anak itu berada dalam sebuah sampan kecil yang hanyut terapung-apung di tengah bengawan. Hamba berdua segera menolongnya dan ternyata dalam sampan itu terdapat seorang anak perempuan berusia kurang lebih satu tahun.
"Pada waktu itu juga hamba hendak melaporkan hal itu kepada yang berwajib, tapi bini hamba melarangnya karena kami memang tidak punya anak dan dia sayang sekali melihat anak yang cantik itu. Sayang sekali setahun kemudian bini hamba terkena penyakit dan meninggal dunia, hingga hamba harus memelihara anak itu seorang diri.
"Anak itu ialah Sekarsari yang hamba anggap sebagai anak sendiri. Sekali-kali hamba tidak tahu dan tidak ada persangkaan bahwa anak itu datang dari keraton, kalau demikian halnya tentu hamba takkan berani tinggal diam saja. Maka ampunkanlah hamba, gusti."
"Tapi apakah buktinya bahwa Sekarsari adalah puteri yang hilang itu? Bukankah itu hanya suatu hal yang kebetulan saja?" tanya pangeran dengan penasaran.
"Aku juga tidak dapat yakin akan hal ini kalau tidak terdapat bukti-bukti, Jarot. Dapatkah kau membuktikan bahwa gadis ini benar-benar puteri yang hilang itu?"
Jarot berpaling kepada Bratadewi dan berkata, "Gusti Ayu, dapatlah kiranya paduka ingat tanda-tanda yang ada pada tubuh puteri paduka yang hilang itu dan yang kiranya dapat dijadikan bukti bahwa gadis inilah puteri paduka? Dan tidakkah jiwa seorang ibu itu lebih dapat merasakan untuk mengenal anak sendiri?"
Bratadewi termenung sambil memandang wajah Sekarsari. Ia tak ragu-ragu lagi, tapi apakah buktinya? Ia mengingat-ingat.
Jarot berkata lagi, "Jika kiranya gusti ayu tak dapat mencarikan tanda bukti, hamba masih mempunyai jalan, yakni hamba akan menangkap penculik-penculik itu dan memaksa mereka mengaku!" Sambil berkata demikian Jarot memandang tajam kearah Tumenggung Suryawidura.
Tumenggung tua itu kebetulan memandang kearah Jarot dan ketika mata mereka bertemu pandang, Tumenggung Suryawidura tiba-tiba menjadi pucat karena pandangan mata Jarot menudingnya dengan kata-kata, "Kaulah penculiknya!"
Tumenggung Suryawidura menjadi gugup dan sambil memandang lemah kepada Bratadewi ia berkata, "Angger Bratadewi, cobalah ingat-ingat barangkali kau masih ingat akan tanda-tanda anakmu dulu." Suara ini bagi Bratadewi mengandung permohonan dan belas kasihan.
Tiba-tiba biung emban yang selalu berada dibelakang Bratadewi untuk melayaninya, berbisik perlahan, "Gusti ayu, bukankah puteri kita dulu ada tanda tembong biru di telapak kaki kirinya?"
Maka teringatlah Bratadewi dan cepat-cepat ia berkata kepada Sri Sultan. "Puteri kita yang hilang dulu mempunyai tanda tembong biru di telapak kakinya yang kiri!"
"Betulkah?" Wajah Sultan Agung menjadi gembira.
Sementara itu Sekarsari yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka dengan perhatian mendalam, tiba-tiba melepaskan dirinya dari Ki Galur dan langsung berlutut memeluk kaki Bratadewi sambil menyebut dengan suara gemetar, "Kanjeng ibu..." alangkah sedapnya sebutan itu bagi Sekarsari dan Bratadewi.
Namun kesabaran Bratadewi sudah cukup teruji selama belasan tahun itu hingga ia tidak buru-buru mengutarakan perasaan harunya, namun dengan halus ia pegang kaki Sekarsari dan membalikkan telapak kaki kirinya. Betul saja, di tengah telapak kaki itu terdapat tanda belang warna biru yang bundar.
Sekarang, Bratadewi tak dapat menahan gelora hatinya lagi. Ia peluk Sekarsari dan menggunakan kedua tangan untuk memegang kepala gadis itu, menatapnya dan memandanginya bagaikan seorang memandangi barang pusaka yang tak ternilai harganya.
Sekarsari membiarkan saja mukanya dipegang dan dipandang oleh ibunya, ia balas memandang dan dua wajah yang sama bentuknya itu saling pandang dengan mesra. Perlahan-lahan dari dua pasang mata itu mengalirlah air mata dan bagaikan tertarik oleh besi sembrani mereka saling peluk dan saling cium sambil menangis.
"Anakku.... anakku... berilah hormat kepada Ramamu."
Sekarsari memandang Sultan Agung yang merasa terharu juga. "Anakku, majulah ke mari...." kata Sri Sultan.
Sekarsari maju dan berlutut mencium ujung jari tangan Sultan Agung yang diulurkan. "Kanjeng rama, hamba menghaturkan sembah bakti..."
Sultan Agung dengan mesra mengusap-usap rambut Sekarsari, sebagaimana tadi dilakukan oleh Ki Galur yang kini memandang kesemuanya itu dengan bibir gemetar dan air mata mengucur membasahi pipinya yang kempot. "Amangkurat, tidak salah lagi, dia ini adikmu, dia adalah Susilawati yang dulu hilang diculik orang. Ah, baiknya Jarot segera datang membuka rahasia ini, kalau tidak...."
Amangkurat menyembah. "Kanjeng rama, hampir saja hamba membuat dosa besar. Ah, hamba menyesal dan malu, rama, perkenankan hamba mengundurkan diri."
Ayahnya memberi perkenan dan calon pengantin yang urung kawin itu kembali ke dalam kamarnya dengan murung dan kecewa. Dendamnya kepada Jarot makin menjadi, karena ia menganggap Jarot telah menghancurkan kebahagiaannya, menghalangi cita-citanya.
Sultan Agung berkata kepada Jarot, "Jarot, kini aku tahu mengapa kau sampai berani berlaku kurang ajar dan lancang. Ternyata kau benar dan kami berterima kasih kepadamu. Tapi, tadi kau bilang bahwa kau dapat menangkap penculik puteri kami, coba terangkan, siapakah penculik-penculik hina dina itu?"
Jarot memandang Tumenggung Suryawidura yang tampak gemetar ketakutan, tapi ketika ia mengerling ke arah Bratadewi, ia melihat puteri itu menggelengkan kepala. "Perlukah hamba menyebutkan nama-nama penculik itu, gusti?" Biarpun pertanyaan ini ia ajukan kepada Sultan Agung, tepi sebenarnya ia maksudkan minta perkenan dari Bratadewi.
Puteri inipun tahu akan maksudnya, maka segera ia berkata, "Jarot, kurasa tak perlu kau sebutkan nama mereka. Janganlah kegirangan ini ternoda oleh pengaliran darah, biarpun hanya darah penculik-penculik hina. Tuhan telah memberi kurnia kepadaku dengan mempertemukan aku dengan anakku. Kurnia sebesar ini harus dibalas dengan amal perbuatan, maka biarlah amal pertama kulakukan dengan mengampuni mereka yang telah menculik anakku beberapa belas tahun yang lalu...!"