Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 06, karya Kho Ping Hoo - "AKU MENGAMBIL keputusan lebih baik mati daripada diselir pak demang tua bangka yang lebih pantas menjadi kakekku itu. Maka malam tadi aku melarikan diri. Aku terlunta-lunta, tiada kawan tiada keluarga, tiada orang mau menolong hingga aku tiba di sini dan karena putus asa aku hendak membunuh diri..."
Jarot mengangguk-angguk lagi, lalu berkata gemas, "Biar kuhajar pak demang yang hendak memaksa anak gadis orang itu!"
"Jangan, raden. Apa gunanya? Kalau aku kembali ke rumah ibu tiriku, pasti aku akan mengalami banyak siksa. Aku tidak sudi kembalike sana, lebih baik mati, raden!"
Jarot merasa bingung dan tak tabu apa yang harus dikerjakan untuk menolong gadis yang buruk nasib ini. "Habis, bagaimana baiknya? Bagaimana aku harus menolongmu?"
"Raden Jarot. Kalau kau sudi, kalau kau kasihan kepadaku, kalau kau memang berhati mulia dan gagah sebagaimana kudengar disohorkan orang, bawalah aku, raden. Aku hendak suwita kepadamu, aku lebih rela menjadi bujangmu, menjadi pelayanmu, menjadi pesuruhmu, rela kau jadikan apa saja asal aku jangan dipulangkan ke rumah Ibu tiriku..." Dan Maduraras menangis lagi dengan sedih.
Jarot duduk bingung dengan wajah bodoh dan bingung. Kemudian ia geleng-geleng kepala dengan keras dan berkata, "Tidak bisa.... tidak mungkin.... tak bisa jadi!!” Jawabannya demikian keras, cepat dan kaku hingga Maduraras memandangnya dengan kaget dan khawatir.
"Jadi kau tidak sudi, raden? Ah nasib... memang kau benar, apa perlunya menolong seorang gadis hina-dina seperti aku ini....? Biarlah.... biarlah aku mati saja..."
Dan Maduraras bangun berdiri dan lari ke arah tebing lagi! Jarot dengan sekali loncat menangkap lengannya dan menariknya kembali duduk di atas rumput. "Jangan kau putus asa dulu, nona" katanya bingung.
"Jadi, maukah kau menerima aku raden Jarot, jangan kau khawatir, aku pandai masak, pandai mencuci, rajin bekerja dan aku pandai memijit urat-uratmu kalau kau lelah, aku pandai bernyanyi dan menari untuk menghiburmu kalau kau bersedih, sedangkan aku tak mengharap upah apa-apa.... hanya asal mendapat makan saja... dan makanku... makanku tidak banyak, raden....."
Mendengar kata-kata terakhir ini mau tak mau Jarot tertawa bergelak hingga sekali lagi Maduraras memandangnya heran. "Ah, jangan kau anggap aku begitu kikir hingga penolakanku akan suwitamu adalah karena takut kau makan terlalu banyak! Tidak demikian, Maduraras, tapi ketahuilah, aku sendiri masih mondok dirumah orang lain. Sedangkan aku adalah seorang pemuda yang belum berumah tangga, seorang jejaka yang hidup sebatang kara, maka kalau aku terima suwitamu, apakah akan kata orang nanti? Aku menolak suwitamu bukan karena aku tidak suka menolongmu, tapi karena hal ini memang tak mungkin kuterima."Maduraras tunduk dengan muka muram. "Tapi, bukan hal yang aneh kalau seorang muda seperti raden ini mengambil seorang dua orang selir sebelum kawin....."
"Aku.....? Mengambil selir.....??" Jarot mengulangi dengan mata terpentang lebar.
"Apa salahnya, raden? Gusti pangeran sendiripun telah mempunyai belasan orang selir sungguhpun beliau belum kawin...."
“Ah, gusti pangeran lain lagi halnya..."
"Barangkali aku terlampau buruk hingga kau tidak sudi menerimaku, raden..."
"Bukan... bukan begitu, Maduraras. Kau cukup cantik bahkan sangat cantik..."
"Habis, mengapa kau tetap saja menolak?"
"Belum waktunya bagiku, Maduraras. Sekarang baiknya begini, adakah kau mempunyai keluarga atau kenalan yang kiranya bisa kau mintai tolong, dan yang suka menerimamu tinggal dipondoknya? Kalau ada, akulah yang akan memintakannya, dan berapa saja ia minta akan kubayar."
Setelah tunduk dan geleng-gelengkan kepala sambil berkali-kali menghela napas akhirnya Maduraras menangis lagi. Tubuhnya mulai menggigil dan cuaca makin gelap.
Melihat keadaan gadis itu, Jarot maklum betapa gadis itu menderita karena kedinginan. Dapat ia bayangkan betapa dinginnya dalam pakaian yang basah kuyup itu. Tiba-tiba ia mengambil keputusan. “Berdirilah, Maduraras, dan marilah kau ikut aku!"
Gadis itu serentak bangun berdiri dan mengulurkan kedua lengan kepada Jarot sambil berkata lirih. "Den-mas Jarot... terimakasih...terimakasih..."
Gadis itu sungguh cantik jelita dan keadaannya demikian mengharukan hingga Jarot seakan-akan terpesona dan kedua kakinya tak terasa lagi bertindak maju. Ketika gadis cantik itu maju menubruknya Jarot terima tubuh hangat itu dalam pelukan dan merangkul dengan terharu. Beberapa lama mereka diam dalam keadaan saling peluk, tak bergerak bagaikan patung.
Kemudian setelah rasa haru agak reda menguasai kalbunya, Jarot lepaskan pelukannya dan berkata perlahan, "Marilah kita pergi, pakaianmu basah semua, kau bisa terserang penyakit."
"Kangmas Jarot, kita.....ke mana?" Jarot berdebar mendengar sebutan mesra ini.
"Akan kucoba minta tolong kepada Mbok Rondo Gendingan. Ia seorang janda yang baik hati dan hanya mempunyai seorang anak perempuan bernama Sulastri. lapun seorang gadis yang baik. Kau tentu suka tinggal di sana."
"Tapi..... kau sendiri?"
"Aku tinggaldi rumah Ki Galur."
"Jauhkah dari rumah mbok rondo itu?"
"Dekat saja. Masih sekampung."
Terdengar Maduraras menarik napas lega. "Kau tentu akan sering datang menengokku ya, kangmas?" Suaranya terdengar mesra dan manja, dankembali dada Jarot berdebar, la hanya mengangguk dan percepat langkahnya sambil menggandeng tangan Maduraras yang hangat dan halus.
Bukan main herannya Mbok Rondo Gendingan dan Sulastri ketika mereka membuka pintu dan melihat Jarot datang dengan seorang gadis cantik yang berpakaian basah dan rambut basah kusut tak karuan. Tapi setelah dengan singkat Jarot menceritakan keadaan Maduraras, Mbok Rondo dan Sulastri segera memeluk gadis itu, bahkan ketika gadis itu menangis, Sulastri Juga ikut menangis.
Tentu saja mereka suka menerima Maduraras dengan suka hati hingga Jarot merasa terhibur dan lapanglah dadanya melihat persoalan ruwet itu akhirnya dapat terpecah dengan baik. Ketika ia hendak tinggalkan mereka, Maduraras berkata padanya dengan suara yang halus merdu penuh perasaan,
"Kang mas Jarot, jangan lupa untuk sering datang menjenguk ke sini."
Melihat pandang mata Sulastri berkilat menggoda, Jarot hanya mengangguk kepada Maduraras dan segera bertindak pergi cepat-cepat tanpa menengok lagi!
Sekarsari telah menanti-nanti dengan tidak sabar. Gadis itu telah siap dengan makan malam untuk Jarot. Ketika Jarot memasuki pintu Sekarsari biarpun ingin sekali bertanya, namun ditahannya perasaannya itu danhanya melempar senyum lalu cepat pergike dapur menghangatkan sayur. Sebentar lagi keluarlah dia dan mengatur makanan di atas tikar. "Makanlah, mas Jarot."
"Mana paman? Kita makan bersama," jawab Jarot.
"Ayah pergike rumah kawannya dan tadi sudah makan lebih dulu karena terlalu lama menunggu-nunggu kau."
Memang Jarot menghendaki agar Ki Galur tidak berlaku sungkan kepadanya dan menganggap ia seperti anak kemenakan sendiri. Maka tidak heran bila orang tua itu berani mendahului makan.."Kau tidak makan, Sari?"
Sekarsari menggeleng kepala dengan senyum, lalu berkata, "Lupakah kau ini hari apa, mas Jarot?"
Pemuda itu mengingat-ingat dan tahulah dia bahwa hari itu jatuh hari pasaran ketiga dan pada tiap hari ketiga dan kelima, Sekarsari selalu berpuasa sehari semalam penuh. Maka iapun tertawa.
"Mas Jarot, mengapa kau agak terlambat tadi? Kemanakah kau pergi setelah mandi, mas?" pertanyaan ini wajar dan tidak mengandung penyesalan sedikitpun.
"Aku telah menolong seorang yang hampir mati tenggelam, Sari,"
Sekarsari terkejut dan ngeri, "Aduh kasihan, siapakah dia, mas? Laki-laki atau perempuan?"
"Seorang gadis, Sari, seorang gadis dari kampung Duku."
"Ah, kasihan sekali. Kenapa ia sampai hampir tenggelam, mas? Mandikah dia? Atau sedang mencuci pakaian?"
"Tidak, Sari. Ia memang sengaja terjun dari tebing, sengaja hendak bunuh diri."
Sekarsari hampir menjerit dan menggunakan tangan menutup mulut. Matanya terbelalak memandang Jarot dengan ngeri. "Bunuh diri? Kenapa, mas? Kenapa?”
Maka sekali lagi dengan singkat Jarot menceritakan riwayat Maduraras yang ditolongnya. Sekarsari mendengarkan dengan penuh perhatian dan sementara itu hatinya merasa tidak enak. Entah mengapa, tapi pikirannya menjadi kacau dan bimbang, kasihan, bangga, curiga dan cemburu mengaduk-aduk perasaan dan hatinya.
Setelah Jarot habis bercerita, maka bertanyalah Sekarsari, "Jadi Maduraras sekarang mondok dirumah Sulastri?"
Jarot mengangguk. Sunyi sejenak, kemudian Sekarsari bertanya tiba-tiba, "Cantikkah ia, mas?"
Mendengar pertanyaan tiba-tiba dan tak tersangka-sangka itu, Jarot agak gelagapan. "Cantik? Siapa, Sari?"
"Siapa lagi? Itu, lho, Maduraras! Cantikkah dia, mas?"
Jarot yang masih belum sadar akan perasaan gadis itu, mengangguk membenarkan. "Dia memang cantik, Sari.”
Sunyi lagi sejenak. "Kasihan betul nasibnya, ya, mas?"
Kembali Jarot mengangguk. "Memang kasihan. Sari."
"Dia tentu lebih cantik daripada aku, ya. mas?"
Kini Jarot dapat menangkap nada suara Sekarsari dan ia menengok. Ketika pandang mata mereka bertemu, Jarot terkejut sekali melihat betapa mata Sekarsari berkaca-kaca dan hampir meneteskan air mata! "Sari... kau kenapa, Sari...?"
Pertanyaan ini bagaikan mendorong keluar air mata dari mata Sekarsari. Gadis itu serentak bangun berdiri dan lari ke kamarnya! Untuk kesekian kalinya semenjak pertemuannya dengan Maduraras, Jarot dibikin heran oleh wanita dan ia duduk bengong dengan muka bodoh, lebih bodoh daripada ketika dia menghadapi Maduraras tadi! Ia tak mengerti akan sikap Sekarsari. Maka ia lalu rebahkan diri telentang di atas balai-balai, sepasang matanya memandang langit-langit dan pikirannya melayang-layang jauh meninggalkan raganya.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali setelah mandi, Sekarsari tidak membuang waktu lagi, segera mengunjungi Sulastri untuk melihat sendiri Maduraras, gadis yang bernasib buruk. Ketika dilihatnya bahwa benar-benar Maduraras adalah seorang gadis yang cantik jelita, hatinya makin cemburu dan khawatir. Tapi ia tak dapat membenci gadis itu yang menerimanya dengan ramah-tamah dan yang sebentar saja dapat memikat hati gadis-gadis lain dan menjadi kawan baik.
Mbok Rondo Gendingan yang berwatak peramah dan baik hati, menerima Maduraras dengan hati terbuka. Janda yang berkeadaan serba cukup dan punya sawah beberapa patok itu tidak mau menerima uang kerugian dari Jarot, bahkan ia menjawab tak senang.
"Gus Jarot mengapa demikian sungkan? Kau telah begitu baik untuk menolong seorang gadis yang sama sekali tidak kau kenal sebelumnya apa kau kira aku demikian kejam untuk menolak gadis yang demikian buruk nasibnya itu? Jasa baik jangan kau borong sendiri!"
Jarot tak dapat membantah apa-apa hanya menyatakan terimakasihnya. Maduraras ternyata seorang gadis lincah dan pandai bergaul hingga sebentar saja semua orang kenal padanya sebagai anak angkat Mbok Rondo Gendingan. Sulastri juga merasa suka dan bangga mempunyai seorang saudara yang selain cantik, juga pandai dalam seni tari dan seni suara, juga ahli dalam pekerjaan kerajinan tangan.
Dengan cepat Maduraras dapat menyenangkan hati Sekarsari dan segera mereka menjadi kawan baik. Hampir setiap hari Maduraras berkunjung ke rumah Sekarsari. Sikapnya kepada Jarot makin mesra dan secara terang-terangan ia perlihatkan perasaan hatinya kepada pemuda itu.
Tentu saja sikap ini membuat Jarot merasa bingung dan likat, sedangkah diam-diam Sekarsari merasa sakit hati. Jarot dapat pula meraba dan memaklumi perasaan yang terkandung dalam dada Sekarsari, maka sedapat mungkin ia berusaha menjauhkan diridari Maduraras yang seakan-akan mengejar-ngejarnya itu.
Beberapa hari kemudian, Jarot berjalan perlahan sambil tuntun kendali Nagapertala. Telah beberapa hari kudanya itu gelisah saja, meringkik-ringkik dalam kandang dan tak suka makan. Sekarsari sengaja mencari rumput hijau yang gemuk segar dari seberang bengawan, namun tetap Nagapertala hanya mencium-ciumnya sajatapi tak mau memakannya.
"Barangkali dia sakit, mas!" kata Sekarsari cemas.
Tapi Jarot tidak melihat tanda-tanda sakit pada tubuh kuda itu. "Mungkin dia kesal karena terlalu menganggur di kandang saja. Biarlah besok akan kucoba dia berlari."
Benar saja, ketika Jarot meloncat ke atas punggungnya, kuda itu meringkik gembira dan lari ke depan dengan liarnya. Jarot belokkan kuda itu ke arah hutan dan Nagapertala dengan cepat sekali lari sekuat tenaga. Keempat kakinya seakan-akan tak menginjak tanah dan bulu surinya berkibar tertiup angin..Kegembiraan Nagapertala itu mempengaruhi Jarot hingga ia pun menjadi gembira dan lupa pulang.
Demikianlah, Jarot dan Nagapertala berlomba melawan angin. Setelah cuaca mulaigelap, barulah mereka menuju pulang. Kini berubahlah watak kuda itu, tidak gelisah dan lesu lagi. Ketika mereka sudah mendekati kampung, Jarot membiarkan Nagapertala berjalan congklang. Tiba-tiba kuda itu menahan kaki depannya dan mengeluarkan ringkik perlahan.
Jarot memperhatikan keadaan sekitarnya dan tampaklah olehnya bayangan seorang wanita duduk di atas gelengan sawah sambil menutupi mukanya dengan tangan, menangis. Alangkah herannya ketika la melihat bahwa wanita itu bukan lain ialah Maduraras! Ia cepat turun dari punggung Nagapertala dan menghampiri gadis itu, membiarkan Nagapertala terlepas dan makan rumput di pinggir sawah.
"Maduraras, mengapa kau berada seorang diri dan menangis disini?"
Maduraras tampak terkejut mendengar suara ini. Ketika ia angkat muka memandang dan melihat bahwa yang bertanya itu adalah Jarot, ia tutupmukanya lagi dan tangisnya makin menjadi.
Jarot ikut duduk diatas gelengan. "Maduraras, kau kenapakah? Siapa yang telah mengganggumu?"
Maduraras hanya geleng-geleng kepala, tapi tak menjawab.."Bilanglah terus terang. Kenapa kau menangis?" Jarot mendesak.
"Aku..... aku..... ah, biarlah, memang nasibku yang.malang....."
“Apa maksudmu? Hayo kita pulang saja, mbok rondo tentu mencarimu.”
"Aku tidak mau kembali, aku...... aku malu..."
Jarot makin penasaran dan ingin tahu. "Kau mengapakah? Apa yang telah terjadi?”
Tiba-tiba Maduraras angkat mukanya yang cantik dan pandang wajah Jarot dengan mesra. "Kangmas Jarot.... kau.... kau kasihankah padaku?"
Jarot mengangguk. "Kau tahu betapa aku kasihan padamu."
"Dan.... dan kau.... cintakah kau padaku?"
Pertanyaan ini membuat Jarot merasa mukanya panas dingin. Ia tak berani bergerak untuk beberapa lama, pikirannya bingung. Kemudian ia tetapkan hatinya dan menjawab juga. "Jangan kau tanyakan tentang cinta, Maduraras. Aku.... kasihan dan suka padamu, tapi tentang cinta.....ah, aku tak dapat mencintaimu, Maduraras."
Maduraras palingkan muka seakan-akan hindarkan sebuah pukulan. "Kalau begitu... dia berkata benar...."
"Dia siapa?"
"Sekarsari.... dia.... pagi tadi telah cekcok dengan aku.....”
“Apa yang kalian ributkan?"
"Tentang..... tentang kau!"
Jarot merasa mukanya panas. "Apa? Tentang aku?"
"Kami bertemu di bengawan dan,.. Sulastri menyindir dan menggodaku tentang hubunganku dengan kau.... dan mengatakan bahwa.... kau dan aku saling mencinta. Sekarsari yang mendengar godaan Sulastri itu hanya tampak marah tapi diam saja. Aku coba menghiburnya dengan berkata bahwa Sulastri menyangka salah, bahwa sebenarnya Sekarsarilah yang menjadi sasaran godaan itu. Tapi Sekarsari bahkan menjadi marah. Ia berkata persetan dengan engkau dan ia tidak perduli sedikitpun juga dengan siapa kau bercinta dan ia katakan aku..... aku memikatmu, ia katakan aku tak bermalu, katanya aku gadis terlantar tak tahu diri, ia tuduh aku datang membuat kacau dan susah orang lain saja. Aku menjadi marah dan.....dan hampir berkelahi...."
Jarot bangun dan berdiri diam bagaikan patung. Ia bingung dan menyesal. Mengapa Sekarsari sebodoh itu? Tidak percayakah gadis itu padanya? Maka teringatlah olehnya bahwa selama itu belum pernah ia menyatakan cintanya kepada Sekarsari!
Tiba-tiba sentuhan tangan halus pada lengannya menyadarkannya. "Mas Jarot. benar-benarkan kau begitu kejam? Benarkah kau tidak mau terima persembahan hatiku? Mas.... aku akan cukup berbahagia untuk menjadi... selirmu. Kau kawinlah dengan Sekarsari kalau itu yang kau kehendaki. Aku... aku... asalkan aku boleh ikut padamu, mas. Biar aku menjadi pelayan Sekarsari pun akan kujalani, asal kau mau membalas kasihku..,."
Jarot berkata lirih penuh haru, "Maduraras, kau adalah seorang gadis yang cantik jelita. Banyaklah kiranya satria gagah dan tampan yang akan berbahagia untuk menyunting bunga seindah kau ini. Jangan kau curahkan perhatianmu padaku. Aku.... aku miskin tak berharga, dan... terus terang saja aku hanya bisa mencinta seorang gadis di dunia ini, Maduraras."
"Sekarsari?"
Jarot mengangguk dan tiba-tiba Maduraras lepaskan pegangannya pada lengan Jarot seakan-akan lengan itu panas membara. "Kau... kau kejam? Kalau begitu, mengapa kau tolong aku dulu? Untuk apa aku tinggal di sini menerima hinaan? Biarlah, biarlah aku pergi saja!"
Lalu dengan tak tersangka-sangka, gadis jelita itu dengan sigap dan cekatan meloncat ke atas punggung Nagapertala! Jarot berdiri kesima melihat gerakan terlatih itu, sungguh tak disangka bahwa gadis itu demikian gesit. Maduraras dengan gemas dan marah menarik kendali dengan sentakan keras hingga Nagapertala yang merasa asing dengan perlakuan kasar ini timbul sifat liarnya. Ia angkat kedua kaki depan, meringkik-ringkik dan menggoyang-goyangkan punggungnya hingga tak mungkin bagi gadis itu untuk bertahan lebih lama!
Maduraras terlempar dari punggung kuda itu dan menjerit. Untung baginya, Jarot berlaku cepat dan dapat menyambar tubuh yang terlempar itu, tapi tidak urung kaki gadis itu masih membentur batu hingga berdarah.
"Sabar, Maduraras. Engkau hendak kemana?"
"Biarkan aku pergi! Biarkan aku pergi!!"' gadis itu menjerit-jerit dan meronta-ronta, Jarot lepaskan tangannya dan Maduraras lari pergi! Tapi baru saja maju beberapa tindak, ia mengaduh dan roboh terguling. Jarot cepat memburu.
"Kenapa, Maduraras.... kau kenapa?"
"Aduh..... kakiku....." gadis itu merintih.
Jarot merasa betapa akan sia-sianya berunding dengan gadis yang sedang nekat dan panas hati itu. Maka tanpa banyak cakap lagi ia pondong tubuh itu dan naikkan keatas punggung Nagapertala. Kemudian ia sendiri lalu meloncat dan duduk di belakang gadis itu. Maduraras hanya meramkan mata dan air mata membasahi kedua pipinya. Dengan perlahan Nagapertala berjalan menuju kampung mereka.
Sementara itu Sekarsari duduk melamun seorang diri di kebun belakang rumahnya. Ia heran mengapa Jarot belum juga pulang. Hatinya makin tak senang, wajahnya makin keruh. Ia masih merasa marah semenjak pertemuannya dengan Maduraras pagi tadi. Tadi, pagi-pagi sekali ia telah pergi ke bengawan untuk mencuci pakaian dan mandi seperti biasa.
Kawan-kawannya belum datang dan kesunyian di situ membuatia duduk melamun, mendengarkah bunyi riak air dan kicau burung. Hatinya diliputi kesedihan dan keraguan. Ia tahu bahwa ada terjadi sesuatu pada diri Jarot semenjak Maduraras datang ke kampungnya. Mula-mula ia merasa marah, kecewa dan cemburu. Ingin ia dapat membenci Jarot. Ingin ia dapat mengajak Maduraras berkelahi!
Tapi cintanya yang selalu terpendam terhadap pemuda itu terlampau besar hingga tak mungkin ia dapat membencinya. Sedangkan untuk marah dan mengajak berkelahi Maduraras, ah, gadis itu terlampau baik dan ramah-tamah. Maka ia hanya dapat menyiksa hati sendiri dengan pikiran yang bukan-bukan karena cemburu.
Ketika ia sedang melamun, datanglah Sulastri dan Maduraras. Memang gadis yatim-piatu ini sering kali membantu Sulastri mencuci pakaian. Maka mereka bertiga lalu mulai mencuci. Maduraras tampak gembira sekali dan dengan suaranya yang merdu gadis itu menembang lagu Sinom Parijoto. Kata-kata dalam tembang itu menceritakan kerinduan seorang gadis kepada kekasihnya. Setelah Maduraras selesai menembang. Sulastri menggodanya dengantertawa.
"Aah, kalau mas Jarot sedang berjalan kaki tentu akan tersandung-sandung dan kalau ia sedang makan tentu akan keseduan!”
Mendengar nama Jarot disebut-sebut, Sekarsari yang sedang berhati murung itu bertanya sambil lalu, "Mengapa?"
"Tentu saja, karena barusan Maduraras merindukannya dalam tembang Sinom. Siapa lagi yang dirindukan oleh Maduraras selain Jarot??" Sulastri tertawa dan Maduraras segera gunakan kedua tangannya menyiram muka gadis yang menggodanya itu dengan air.
Sekarsari makin tak senang dan di dalam hati ia merasa panas dan mendongkol yang bukan-bukan! Maduraras dengan wajah merah tudingkan telunjuknya kepada Sulastri, "Mengobrol? Kau hendak menyangkal? Tak tahukah aku betapa tiap malam kau bermimpi dan dalam mimpimu kau bertemu dengan mas Jarot?"
"Ah, bohong.....! Mana kau bisa tahu akan mimpi orang lain!"
"Mengapa tidak tahu? Dalam mimpi kau selalu mengigau dan menyebut-nyebut nama mas Jarot!"
Maduraras tundukkan kepala dengan wajah merah, dan matanya yang jeli dan tajam itu mengerling ke arah Sekarsari, lalu berkata, "Lastri, jangan kau terlalu menggodaku dengan kangmas Jarot, Sekarsari bisa marah....."
Sebutan "kangmas" yang diucapkan dengan gaya mesra itu menambah besar nyala api kemarahan dalam hati Sekarsari. Ia berhenti mencuci dan sambil bertolak pinggang ia menghadapi Maduraras dan berkata angkuh, "Tutup mulutmu! Kenapa kau bawa-bawa aku dalam percakapanmu yang rendah tak tahu malu itu? Memang mas Jarot itu apaku maka aku harus marah? Aku bukanlah wanita serendah engkau, mudah saja mengaku-aku seorang laki-laki sebagai kekasihnya!”
Senyum kesukaan menghias mulut Maduraras ketika ia melihat kemarahan Sekarsari. Jawabnya, "Eh-eh, Sari, kenapa kau marah? Aku tidak mengaku-aku. Aku memang cinta kepada kangmas Jarot, tapi belum tentu ia mencintaku sungguhpun dari sikapnya aku tak ragu-ragu lagi. Tapi, boleh jadi dia mencintamu, karena bukankah kau serumah dengan ia?"
"Perempuan rendah! Perempuan terlantar yang hanya mengacau kebahagiaan orang! Kau anggap aku orang macam.apa? Jangan kau berani singgung-singgung namaku lagi dalam percakapan gila dan tak tahu malu ini!"
Maduraras pun timbul napsu marahnya. Ia turunkan cuciannya dan memandang lawannya dengan mata bernyala. "Eh-eh, Sari. Mengapa kau memaki orang? Kau ini siapakah maka mau menghina orang seenaknya dan mau menang sendiri saja?" tegurnya.
Sekarsari makin marah. "Kau mau tahu aku siapa? Majulah! Kalau sudah kurobek mulutmu baru kau tahu aku siapa!" Dan dengan sikap mengancam Sekarsari maju hendak menyerang.
Sulastri cepat memisah mereka. “Sudahlah, sudahlah, Sari, maafkan Maduraras kalau kau anggap dia menggodamu. Kenapa kau sekarang mudah sekali marah, Sari. Ada apakah? Sakitkah kau?"
Pertanyaan ini diucapkan oleh Sulastri dengan halus sambil pegang pundak gadis yang sedang marah itu hingga lenyaplah kemarahan dari hati Sekarsari, terganti oleh rasa sengsara hati. Sekarsari tutupmuka dengankedua tangan lalu menangis sedih.
"Sari, maafkan aku..... aku berdosa padamu...." Maduraras berkata lirih sambil peluk Sekarsari, lalu ia naik ke atas tebing dan lari meninggalkan tempat itu, membuat Sulastri heran sekali, karena ia sama sekali tidak mengerti akan sikap ini.
Sehari itu Sekarsari tak dapat bekerja seperti biasa. Hatinya terlalu sakit dan pikirannya terlalu bingung. Mengapa ia harus marah kepada Maduraras dan seakan-akan mengukuhi Jarot sebagai hak miliknya? Berhak apakah ia atas diri pemuda itu? Cintakah Jarot padanya? Belum pernah pemuda itu menyatakan cinta padanya dengan kata-kata, walaupun sikap dan perhatian Jarot terhadapnya tak meragukan lagi.
Tiba-tiba Sekarsari tersadar dari lamunan ketika mendengar ringkik kuda dari jauh. Itu ringkik Nagapertala tak salah lagi! Maka berlari-larilah ia ke arah bunyi itu datang. Tapi setelah bunyi kaki kuda terdengar dekat, ia merasa malu untuk menyambut kedatangan Jarot sedemikian rupa. Bagaimana kalau sampai terlihat oleh Maduraras atau Sulastri? Alangkah akan malunya dia!
Pikiran ini mendorongnya untuk menyelinap ke dalam kegelapan bayang-bayang pohon. Matanya tajam memandang bayangan orang dan kuda yang makin mendekat. Hampir saja ia perdengarkan seruan terkejut ketika kuda itu lewat perlahan, tak salahkah penglihatannya?
Tak mungkin! Jelas tampak olehnya Maduraras duduk di depan Jarot dan gadis itu sandarkan kepalanya di dada Jarot. Biarpun cuaca sudah mulai gelap, namun masih tampak olehnya betapa Maduraras menangis perlahan dan betapa muram tampak wajah Jarot!
Sekarsari tak merasa lagi detak jantungnya yang seakan-akan berhenti. Dadanya menjadi panas seakan-akan hendak meledak. Pipinya terasa terbakar dan kepala pening. Cepat-cepat ia berpegang pada dahan yang tergantung rendah untuk mencegah tubuhnya yang limbung dan akan roboh itu. Jiwanya menjerit, hatinya hancur. Setelah dapat kumpulkan kekuatannya kembali, perlahan-lahan iaberjalan terseok-seok kembalike pondoknya.
Tapi Sekarsari adalah seorang gadis yang berhati kuat dan pada dasarnya ia berwatak angkuh dan tinggi hati. Biarpun merasa sengsara dan sangat bersedih, tak sudi ia memperlihatkan sikap lemah dan ia mengambil keputusan untuk tidak memperlihatkan kehancuran hatinya kepada Jarot.
Sebelum masuk pondok, ia pergi ke belakang rumah dan mencuci mukanya dari bekas air mata dengan air persediaan di gentong. Kemudian ia masuk rumah, dan menyiapkan hidangan malam untuk ayahnya dan Jarot seperti biasa.
KI Galur yang cukup mengenal watak dan keadaan gadisnya, maklum bahwa tentu terjadi sesuatu yang luar biasa pada diri Sekarsari...