|
| Karya Kho Ping Hoo |
Sepasang Rajah Naga Jilid 19 - “SUHU memang kejam sekali. Bahkan Subo Sim Kui Hwa ketika itu, beberapa hari setelah diculik juga kembali ke Pulau Naga diantar seorang pendekar Siauw-Lim-Pai. Akan tetapi Suhu bahkan berkeras hendak membunuhnya. Untung ada pendekar Siauw-Lim-Pai yang membela dan mengalahkan Suhu sehingga Subo Sim Kui Hwa luput dari bahaya maut dan akhirnya pergi meninggalkan pulau karena diusir oleh Suhu. Dan sekarang saya lihat Thai-Lek-Kui Ciang Sek..., eh, suami Subo... telah meninggal dunia. Tentu karena luka-lukanya bertanding melawan Suhu Ouw Yang Lee.”
“Song Bu, aku bukan Subomu lagi. Aku bukan isteri Ouw Yang Lee lagi, karena itu jangan sebut aku Subo. Aku adalah isteri Thai-Lek-Kui Ciang Sek. Engkau boleh sebut aku Bibi, kalau engkau suka.”
“Baiklah, maafkan saya, Bibi.”
“Song Bu, akuilah terus terang secara jujur karena aku tadi mendengar ucapanmu seolah engkau tidak menyetujui sikap tindakan Ouw Yang Lee. Andaikata suamiku Ciang Sek masih hidup, apakah engkau juga berkeras hendak membunuhnya?”
“Kalau engkau hendak membunuh Ayahku, engkau harus bunuh aku lebih dulu.” kata Ouw Yang Lan dengan sikap galak, sepasang matanya yang indah itu mencorong menatap wajah Song Bu.
Song Bu menghela napas dan menggeleng kepalanya. “Tadinya memang aku bermaksud untuk membunuhnya karena menganggap dia jahat menyerbu Pulau Naga dan menculik Subo eh, Bibi dan sumoi Ouw Yang Lan. Akan tetapi setelah ternyata dia menjadi suami Bibi dan Ayah Lan-moi yang baik, tentu saja saya tidak akan memusuhinya. Akan tetapi untuk apa semua ini dibicarakan kalau sekarang dia sudah meninggal dunia?”
“Bu-Suheng,” kata Ouw Yang lan. “Andaikata engkau berada di sini ketika Ayah Ouw Yang Lee hendak membunuh Ibu dan aku, apa yang akan kau lakukan? Apakah engkau akan membantu dia untuk membunuh Ibu, aku, dan Ayah Ciang Sek?”
Dengan spontan Song Bu menggeleng kepalanya, “Tidak, sama sekali tidak bahkan aku akan menentang dan mencegahnya.”“Hemm, benarkah itu? Beranikah engkau bersumpah?” desak Ouw Yang Lan.
“Lan-ji...!” Lai Kim menegur.
“Biarlah, Ibu. Aku ingin yakin bahwa Bu-Suheng benar-benar akan membela kita dan menentang Ayah Ouw Yang Lee.”
“Aku bersumpah akan menentang Suhu Ouw Yang Lee kalau dia berkeras hendak membunuh Bibi dan Lan-sumoi.”
“Juga kalau dia hendak membunuh Ayah Ciang Sek?” kejar Ouw Yang Lan.
“Tapi... tapi... dia sudah meninggal dunia...” kata Song Bu terheran.
“Tidak perduli, berjanjilah!”
“Juga kalau dia hendak membunuh Paman Ciang Sek, aku akan menentangnya,” kata Song Bu, masih terheran-heran.
Tiba-tiba muncul Ciang Sek dari balik pintu ruangan itu dan berkata dengan lantang. “Bagus! Aku sudah, mendengar sumpahmu dan aku percaya kepadamu, orang muda yang gagah.”
Song Bu terkejut bukan main dan melompat bangkit dari kursinya dan berdiri memandang laki-laki gagah perkasa yang telah berdiri di depannya. Melihat Song Bu berdiri dan memandang kepadanya dengan kaget dan heran, Ciang Sek tertawa dan memperkenalkan diri.
“Orang muda, ketahuilah, aku yang bernama Thai-Lek-Kui Ciang Sek, ketua Pek-In-San.”
“Akan tetapi... Song Bu terbelalak dan menoleh ke arah pintu ruangan itu yang menembus ke ruangan depan. “...peti jenazah itu?”
“Itu adalah siasat kami,” kata Ciang Sek. “Duduklah, orang muda, aku percaya kepadamu dan akan menceritakan tentang siasat itu.”
Mereka duduk kembali dan Ciang Sek lalu bercerita. “Sepuluh hari yang lalu dalam pertandingan mengadu tenaga sakti melawan Ouw Yang Lee, aku menderita luka keracunan karena pukulan tangan merahnya.”
“Ang-Tok-Ciang (Tangan Racun Merah)!” seru Song Bu.
“Benar. Ouw Yang Lee juga terluka, akan tetapi lukanya tidak beracun. Selama sepuluh hari aku mengobati lukaku dan sekarang sudah sembuh sama sekali. Akan tetapi kemarin malam muncul tapak-tapak kaki itu di rumah kami. Engkau lihat sendiri. Tapak kaki itu hanya dapat dibuat oleh seorang yang lihai sekali, yang memiliki sinkang yang dahsyat. Ini tentu buatan orang yang ada hubungannya dengan Ouw Yang Lee. Aku lalu mengatur siasat ini, siasat yang hanya diketahui oleh kami sekeluarga yang tiga orang ini dan su-te Gu Tian saja. Bahkan para anak buahku tidak ada yang tahu bahwa ini hanya siasat dan mereka mengira bahwa aku benar-benar sudah tewas akibat perkelahian sepuluh hari yang lalu.”
“Akan tetapi kenapa harus menggunakan siasat ini, Paman?”
"Orang yang meninggalkan tapak kaki itu tentu amat lihai. Aku tidak sanggup menandinginya secara terbuka. Karena itu aku terpaksa menggunakan siasat ini. Kalau dia datang dan melihat peti jenazahku lalu merasa puas melihat aku mati dan pergi, kami terhindar dari bahaya maut. Andaikata dia nekat hendak mengganggu isteri dan anakku, kami akan melawan mati-matian dan aku sudah mempersiapkan semua anak buahku yang berjumlah kurang lebih seratus orang.”
“Kalau Suheng Tan Song Bu mau membantu menghadapi musuh, kita tidak perlu takut, Ayah,” kata Ouw Yang Lan.
“Lan-ji, bagaimana mungkin Song Bu dapat membantu kita? Yang memusuhi kita adalah Ouw Yang Lee, gurunya sendiri!”
“Aku juga puteri kandungnya, akan tetapi aku menentangnya karena dia jahat. Pula, Bu-Suheng sudah bersumpah akan menentang Ayah Ouw Yang Lee kalau dia hendak membunuh keluarga kita,” kata Ouw Yang Lan.
Song Bu mengangguk dan berkata, “Lan-sumoi benar. Saya akan menentang Suhu Ouw Yang Lee kalau dia dan teman-temannya hendak membunuh Paman, Bibi, dan Lan-sumoi.”
“Terima kasih, Song Bu!” seru Lai Kim dengan girang.
"Terima kasih, Bu Suheng dan maafkan sikapku tadi terhadapmu!” kata pula Ouw Yang Lan dengan gembira sekali.
“Aku juga berterima kasih sekali padamu, Song Bu. Sekarang, siasat ini harus dilanjutkan seperti yang telah direncanakan. Lan-ji, undang Gu-Sute kesini.”
Ouw Yang Lan lalu membuka pintu dan keluar dari ruangan itu sambil menutupkan kembali pintu ruangan sehingga kemunculan Cang Sek dalam ruangan itu tidak terlihat orang lain. Tak lama kemudian ia masuk kembali bersama Gu Tian. Orang tinggi kurus ini bernapas lega melihat Suhengnya duduk bersama Song Bu dan tampak akrab. Tadinya dia sudah merasa khawatir kalau-kalau pemuda itu mempunyai niat buruk terhadap keluarga Suhengnya.
“Duduklah, Sute. Kita akan membicarakan rencana siasat kita selanjutnya dan mari kuperkenalkan dengan Tan Song Bu yang sudah siap memperkuat kedudukan kita dan membantu kita.”
Setelah berkenalan mereka lalu mengadakan perundingan, kemudian Ciang Sek masuk bersembunyi lagi dalam kamarnya dan Song Bu keluar menyamar, sebagai seorang anak buah Pek-In-San, berjaga di ruangan berkabung menjaga peti jenazah bersama Gu Tian dan para pembantu lainnya. Malam itu ternyata tidak terjadi apa-apa. Tidak ada gangguan seperti yang dikhawatirkan.
Song Bu dan Gu Tian masih duduk berjaga di ruangan itu. Lai Kim dan Ouw Yang Lan sudah pergi mengaso dalám kamar mereka. Song Bu dan Gu Tian juga mengaso sambil duduk bersila. Mereka berdua sudah terlatih mengaso seperti itu sebagai gantinya tidur. Sinar matahari, mulai menerangi tanah dan tak lama kemudian ruangan berkabung itu sudah dimasuki cahaya matahari.
Lampu-lampu gantung sudah dipadamkan oleh para penjaga. Sepasang lilin besar masih bernyala di atas meja sembahyang di depan peti jenazah. Asap dupa masih mengepul dan baunya memenuhi, ruangan, bau harum yang khas. Para penjaga yang bertugas jaga di pintu gerbang perkampungan itu menjadi waspada ketika melihat seorang Kakek menghampiri pintu gerbang, Mereka memandang penuh perhatian.
Kakek itu sudah tua, sedikitnya tujuh puluh tahun usianya, bertubuh tinggi kurus sehingga mukanya seperti tengkorak terbungkus kulit. Rambut, kumis dan jenggotnya sudah putih semua. Jalannya agak terbongkok-bongkok dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat bambu kuning. Kakek itu bukan lain adalah Tho-Te-Kong!
Ketika Ouw Yang Lee terluka karena bertanding melawan Thai-Lek-Kui Ciang Sek. Dia maklum bahwa seorang diri dia tidak akan mampu membunuh Lai Kim, apalagi membunuh Ciang Sek. Maka dia lalu mengundang rekannya yang sakti, iyalah Tho-Te-Kong. Tho-Te-Kong adalah seorang datuk sesat yang berwatak aneh. Ketika diminta tolong Ouw Yang Lee untuk membunuh Ciang Sek sekeluarga, dia tidak mau melaksanakan begitu saja.
Sebagai seorang datuk besar, dia ingin lebih dulu menggertak membikin takut hati calon korbannya. Maka dia lalu mempergunakan ilmu kepandaiannya yang tinggi, memasuki rumah itu tanpa diketahui orang dan meninggalkan tapak kaki di lantai rumah itu dengan mengerahkan sinkang dan membuat kakinya menginjak lantai sampai amblas dan meninggalkan tapak kaki yang dalam.
Setelah itu, barulah dua hari kemudian, pada pagi hari itu, dia datang berkunjung ke perkampungan Pek-In-San. Tindakan ini untuk menunjukkan bahwa dia seorang datuk besar yang berani, membiarkan musuh yang diancamnya untuk bersiap siap menghadapi penyerbuannya. dan Ketika dia tiba di pintu gerbang dia melihat belasan orang anak buah Pek in-san menyambutnya dengan golok telanjang di tangan, diapun tersenyum mengejek.
Dia senang karena musuh telah melakukan persiapan. Dia akan membasmi mereka semua. Lebih banyak lebih baik akan lebih memuaskan hatinya. Sambil tersenyum dia melangkah terbongkok-bongkok menghampiri sekelompok orang yang memandang kepadanya dengan sinar mata curiga itu. Para penjaga itu merasa curiga karena tidak mengenal Kakek itu, walaupun Kakek yang tua itu tidak tampak berbahaya dan bahkan tampak seperti orang tua yang lemah berpenyakitan.
“Kakek tua, apakah engkau hendak datang melayat?” tanya komandan jaga.
Tho-Te-Kong mengerutkan alisnya dan memandang heran. “Melayat? Apakah ada yang mati di perkampungan ini?”
“Engkau datang dari manakah?”
“Apakah engkau belum mendengarnya?”
Tho-Te-Kong menyeringai, senang mempermainkan para penjaga yang sebentar lagi mungkin akan menjadi korban pembantaiannya itu. “Aku datang dari jauh sekali, kebetulan lewat di sini dan ingin mengunjungi Thai-Lek-Kui Ciang Sek. Bukankah dia ketua dari Pek-In-San ini?”
“Justeru ketua kami Thai-Lek-Kui Ciang Sek yang meninggal dunia, kek. Peti jenazahnya masih berada di ruangan berkabung kalau engkau ingin melayat dan memberi penghormatan terakhir.”
Tho-Te-Kong membelalakkan matanya. “Apa..? Dia mati..? Akan tetapi kenapa?”
Kepala jaga itu meragu untuk bercerita tentang sebab kematian ketuanya yang tadinya bertanding melawan musuh. Dia sakit sejak belasan hari yang lalu, kemarin dulu meninggal dunia.
“Ah-ah, menyesal dan mengecewakan sekali. Aku harus melayat, harus bersembahyang di depan peti matinya!” katanya dan terbongkok-bongkok dia memasuki pintu gapura.
Para penjaga itu tidak menarik curiga dan membiarkan Kakek tua renta itu menuju ke rumah induk tempat tinggal keluarga ketua mereka. Tho-Te-Kong tiba di ruangan berkabung. Dia memandang ke arah peti jenazah dan hatinya merasa kecewa sekali. Tidak ada gunanya dia menggertak.
Ternyata Thai-Lek-Kui Ciang Sek telah tewas. Tentu telah terluka ketika bertanding melawan Ouw Yang Lee. Membunuh keluarganya tidak ada artinya baginya, tidak ada harganya. Membunuhi orang-orang lemah tidak perlu menggunakan tangannya, seolah menggunakan golok besar untuk membunuhi banyak tikus.
Munculnya Tho-Te-Kong mengejutkan hati Song Bu. Dalam pakaian seorang anggauta biasa dari Pek-In-San, dia tidak akan khawatir akan dikenali oleh Kakek itu. kini dia mengerti bahwa gurunya, Ouw yang Lee, agaknya minta bantuan Tho-Te-Kong untuk menghadapi Thai-Lek-Kui Ciang Sek. Dia dapat menduga bahwa Kakek inilah yang telah meninggalkan tapak kaki di dalam rumah Ciang Sek. Dia tahu betapa lihainya Tho-Te-Kong sebagai jagoan nomor satu dari Thai-kam Liu Cin.
Gu Tian adalah seorang kangouw yang sudah berpengalaman. Tidak seperti para anak buah yang melakukan penjagaan di pintu gerbang tadi, dia sama sekali tidak memandang rendah kepada Kakek tua renta itu. Dia tetap menaruh curiga. Tho-Te-Kong tidak memperdúlikan orang-orang yang berada di tempat itu. Dia lalu menghampiri peti jenazah sambil melangkah memutari meja sembahyang.
“Ciang Sek... kenapa engkau keburu mati dan tidak menunggu kedatanganku?” Tho-Te-Kong mengeluh dan tangan kirinya menepuk-nepuk peti jenazah itu dari atas sampai ke bawah.
Gu Tian menyalakan tiga batang hioswa (dupa biting) dan menghampiri, Tho-Te-Kong. “Paman yang baik, apakah Paman ingin bersembahyang?” tanyanya sambil menyerahkan tiga batang hioswa itu.
“Sembahyang? Oh-ho-ho, sembahyang? Ya baik, aku akan memberi penghormatan terakhir kepada jenazah Thai-Lek-Kui!” Dia menerima tiga batang hioswa itu lalu berdiri di depan meja sembahyang yang berada di depan peti jenazah.
Setelah mengacung-acungkan tiga batang hioswa itu, dia lalu menggerakkan tangannya dan tiga batang dupa biting itu meluncur dan menancap ke atas peti! Biting-biting yang kecil dan lemah itu dapat menancap ke atas peti jenazah yang tebal, sungguh ini merupakan demonstrasi tenaga sakti yang amat kuat.
“Heh-heh-heh, tenang-tenanglah engkau di neraka, Thai-Lek-Kui!” Tho-Te-Kong berkata lalu membalikkan tubuhnya dan terbongkok-bongkok dibantu tongkat bambu kuningnya meninggalkan ruangan itu dan keluar dari dalam rumah, terus keluar dari perkampungan itu.
Gu Tian memberi isyarat kepada anak buahnya untuk tidak mengganggu Kakek itu dan membiarkan pergi. Setelah, mendapat laporan dari para penjaga di pintu gerbang perkampungarn bahwa Kakek aneh itu benar-benar telah pergi jauh dan tidak tampak lagi, barulah Gu Tian dan Song Bu mendekati peti.
Pada saat itu, Ouw Yang Lan dan Ibunya juga keluar dari kamar mereka memasuki ruangan berkabung dan menghampiri peti jenazah. Gu Tian memberi perintah kepada para pembantu yang berada di ruangan itu agar keluar dari ruangan. Kini hanya tinggal Gu Tian, Song Bu, Ouw Yang Lan dan Lai Kim yang berada di dekat peti jenazah. Ouw Yang Lan memandang ke arah tiga batang hioswa yang menancap peti jenazah itu dengan mata terbelalak. Juga Gu Tian memandang dan menggeleng-geleng kepalanya.
“Bukan main lihainya Kakek itu. Dapat melontarkan tiga batang hioswa ini sampai menancap di peti kayu yang begini keras, sungguh hebat!”
Sementara itu Song Bu meraba-raba peti jenazah dan dia berkata, “Berbahaya sekali...! Ouw Yang Lan dan Gu Tian cepat menengok kepadanya.
“Apa yang kau maksudkan, Suheng?”
“Tapak-tapak jari ini...” kata Song Bu sambil meraba-raba peti jenazah, “Jari Pelumat Tulang ini tentu menghancurkan semua isi peti jenazah tanpa merusak petinya.”
Ouw Yang Lan dan Gu Tian ikut meraba raba dan setelah diraba baru terasa oleh mereka betapa ada lekukan-lekukan halus pada permukaan peti jenazah. Sementara itu Lai Kim hanya memandang dengan muka pucat karena hatinya merasa ngeri.
“Jari Pelumat Tulang?” tanya Ouw Yang Lan.
“Benar. Dengan rabaan jari-jari saja, ilmu itu dapat meremukkan tulang dalam tubuh tanpa merusak kulit dan daging. Andaikata peti ini ada jenazahnya, maka dengan rabaan tadi, jenazah di dalamnya akan hancur tanpa merusak petinya.”
“Hebat...! Keji sekali! Benarkah apa yang kau katakan Itu, Song Bu?”' Tiba-tiba Ciang Sek sudah berada di ruangan itu. Dia memang bersemuunyi dalam sebuah kamar yang menembus ruangan depan itu. Thai-Lek-Kui Ciang Sek menghampiri peti jenazah dan diapun ikut meraba-raba.
“Benar, Paman. Aku yakin bahwa batu bata yang Paman taruh di dalam peti tentu sudah hancur semua,” kata Song Bu yang sudah mendengar keterangan Ciang Sek bahwa peti jenazah itu diisi dengan bata-bata sebagai pengganti dirinya.
Ciang Sek lalu memegang tutup peti yang sudah terpaku rapat itu, mengerahkan tenaganya. Dia berjuluk Thai-Lek-Kui (Iblis Bertenaga Besar). Terdengar suara keras dan tutup peti itu terbuka, semua pakunya ikut tercabut. Kini semua orang menjenguk ke dalam peti dan wajah mereka, kecuali Song Bu, berubah pucat dan mata mereka terbelalak. Benar seperti yang dikatakan Song Bu, semua batu bata dalam Peti jenazah itu telah hancur seperti dipukuli martil besi!
“Gu-Sute, tutup lagi peti ini. Kita harus menguburnya hari ini juga!” kata Thai-Lek-Kui Ciang Sek dan suaranya mengandung kecemasan. Dia maklum bahwa Kakek yang datang berkunjung tadi adalah seorang yang memiliki kesaktian yang tidak akan terlawan olehnya walaupun dibantu Ouw Yang Lan dan Gu Tian sekalipun. Dia merasa seolah, kematian telah tergantung di atas kepalanya.
Setelah Gu Tian menutup peti dan memakunya kembali sehingga rapat, mereka berlima lalu duduk untuk berunding. Melihat betapa Ciang Sek, Lai-Kim, dan Ouw Yang Lan tampak gelisah sekali, Song Bu berkata dengan nada suara menghibur.
“Paman Ciang Sek, saya kira tidak perlu dikhawatirkan sekali akan ancaman orang itu. Bagaimanapun juga, dia hanyalah seorang manusia dan dengan menyatukan tenaga, kukira kita akan dapat menandinginya.”
"Suheng, tahukah engkau siapa Kakek itu?” tanya Ouw Yang Lan.
“Aku kenal baik siapa dia, sumoi. Dia berjuluk Tho-Te-Kong (Malaikat Bumi) dan tak pernah mengatakan siapa namanya. Pada waktu ini dia merupakan jagoan dan pembantu utama dari Thai-kam Liu Cin.”
“Ahh! Jadi diakah yang berjuluk Tho-Te-Kong yang puluhan tahun yang lalu pernah menggegerkan dunia selatan?” seru Thai-Lek-Kui Ciang Sek dengan kaget. “Dan dia menjadi pembantu Thai-kam Liu cin yang jahat, korup dan berkuasa besar di kota raja itu?”
“Bu-Suheng, bagaimana engkau dapat mengenal baik Kakek itu?” tanya Ouw yang Lan.
Song Bu menghela napas. Dia belum menceritakan keadaan dirinya kepada Ouw Yang Lan dan Ibunya. Sekarang dia harus menceritakannya karena dia sudah mengambil keputusan untuk membela mereka.
“Sumoi, sudah hampir setahun Suhu mengajak aku ke kota raja dan kami diterima sebagai semacam pengawal oleh Thai-kam Liu Cin. Kemudian datang Tho-Te-Kong itu dan seorang nenek berjuluk Cui-Beng Kui-Bo yang juga diterima sebagai pembantu. Tentu saja kedudukan mereka berdua itu menjadi terpenting karena keduanya memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Sekarang Tho-Te-Kong agaknya membantu Suhu Ouw Yang Lee karena mereka masih rekan sepekerjaan.”
“Hemm, Song Bu. Aku melihat bahwa sikap dan sepak terjangmu seperti seorang pendekar. Mengapa engkau menghambakan diri kepada Thai-kam Liu Cin yang dibenci oleh semua tokoh dunia kangouw yang bersih?”
“Itulah yang menyebabkan saya menjauh kan diri, Paman. Saya terpaksa karena ikut dengan Suhu. Akan tetapi melihat sepak terjang Suhu dan terutama sekali karena menjadi kecewa dan tidak ingin lagi membantu. Itulah salah satu sebab mengapa saya meninggalkan kota raja.”
“Engkau mengatakan tadi bahwa kita dapat menandingi Tho-Te-Kong. Benarkah itu dan bagaimana caranya?” tanya Ciang Sek.
"Saya pernah disuruh menguji kepandainnya dan memang dia amat tangguh, Paman. Terutama sekali tenaga sinkangnya, amat kuat. Tidak mengherankan kalau dia mampu meninggalkan tapak kaki di lantai batu dan dapat memukul hancur isi peti jenazah tanpa merusak petinya. Akan tetapi, kalau kita satukan tenaga, saya yakin dapat menandingi dia. Selain saya,dan-sumoi, Paman sendiri dan Paman Gu Tian masih ada seratus lebih anak buah Pek-In-San. Dengan kekuatan kita ini, saya kira akan dapat menandingi Tho-Te-Kong dan Suhu Ouw Yang Lee, sekiranya dia juga muncul.”
“Bagus kalau begitu. Ucapanmu membesarkan hati kami, Song Bu dan kami sangat bergantung kepada bantuanmu. Aku mengerti betapa berat bagi perasaanmu harus menentang guru sendiri dan untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih.”
“Tidak perlu berterima kasih, Paman. Saya berdiri di antara Suhu Ouw Yang Lee dan Bibi Lai Kim bersama sumoi Ouw Yang Lan. Karena saya melihat bahwa dalam pertentangan ini pihak Suhu Ouw Yang Lee yang jahat dan bersalah, maka tentu saja saya membela sumoi dan Ibunya. Saya tidak mau terseret dan melakukan kekejaman dan kejahatan seperti yang dilakukan Suhu.”
“Ah, terima kasih, Song Bu. Engkau sungguh seorang anák yang baik dan engkau telah menyelamatkan nyawa kami,” kata Lai Kim dengan suara terharu.
“Bibi, belum tentu kalau saya dapat menyelamatkan Bibi sekeluarga. Bahkan mungkin saya sendiri akan menjadi korban kekejaman mereka. Yang penting dalam keadaan seperti ini, kita bersatu melawan mereka.”
“Apa yang dikatakan Song Bu benar sekali. Sekarang kita harus mengatur begini. Gu-Sute, kita bawa peti jenazah ke tánah kuburan hari ini juga. Aku dan Song Bu akan menyamar sebagai anak buah dan kerahkan semua anak buah untuk mengantar peti jenazah dan suruh semua orang bersiap-siap menghadapi pertempuran besar.
"Juga persiapkan sepasukan anak panah, pasukan tombak, pasukan pedang dan pasukan golok secara berlapis sehingga dapat melakukan pengeroyokan secara terukur kalau sampai terjadi perkelahian. Di tempat terbuka seperti tanah kuburan itu, kita dapat melakukan pengeroyokan dengan leluasa dan dapat mempersatukan tenaga. Andaikata tidak terjadi sesuatu di sana mungkin pihak musuh sudah merasa puas mengira aku telah mati.
Namun, kita tetap waspada dan kalau tidak ada penyerangan kita kembali ke perkampungan dan membuat penjagaan yang sangat kuat agar jangan sampai kecolongan dan ada yang memasuki rumah ini tanpa ketahuan seperti kemarin malám. Nah, buatlah persiapan, kerahkan semua anak buah, kita bawa peti jenazah ke tanah kuburan dan menguburnya, sekarang juga.”
“Baik, Suheng.” Gu Tian lalu keluar dari ruangan itu.
Semua orang membuat persiapan. Ciang Sek yang oleh semua anak buahnya pun dikira sudah mati, lalu menyamar dengan memasang kumis dan jenggot palsu tambahan pada mukanya. Song Bu juga menyamar sebagai anak buah Pek-In-San. Gu Tian memerintahkan anak buahnya untuk berkumpul dan menbuat persiapan untuk mengangkut peti jenazah ke tanah kuburan dan agar mereka semua siap dengan perlengkapan bertempur karena mungkin mereka akan diserang musuh.
Dia maklum bahwa sekali ini mereka menghadapi lawan yang, amat sakti, maka dia membuat persiapan yang kuat. Dipersiapkannya pasukan panah, pasukan tombak, pasukan golok dan pasukan. pedang yang akan berjaga dan mengawal pemakaman itu secara berlapis.
Setelah semua siap, pada siang hari itu juga berangkatlah semua anak buah Pek-In-San mengawal peti jenazah ke pemakaman. Yang tinggal di perkampungan hanya para wanità dan kanak-kanak. Gu Tian sendiri yang mengäwal para anak buah Pek-In-San itu.
Thai-Lek-Kui Ciang Sek sendiri, Song Bu dan Ouw Yang Lan mengikuti dari belakang dengan sembunyi-sembunyi. Peti jenazah digotong sampai ke tanah kuburan dan diturunkan di atas tanah dekat lubang yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Ketika Gu Tian membuat persiapan untuk melakukan upącara sembahyang terakhir di tanah kuburan sebelum peti jenazah dimasukkan lubang, muncul kakek tinggi kurus yang membawa tongkat bambu kuning itu. Kemunculán Tho-Te-Kong sungguh mengejutkan semua orang karena dia muncul begitu saja. Juga Ciang Sek, Song Bu dan Ouw Yang Lan yang mengikuti rombongan Itu dari belakang, terkejut melihat Kakek tinggi kurus itu tahu-tahu berada di dekat peti jenazah yang diletakkan di atas tanah.
“Thai-Lek-Kui..., akhirnya engkau akan menjadi makanan cacing tanah jugal.” terdengar suara nyaring dan munculah Tung-hai-tok Ouw Yang Lee. Majikan Pulau Naga yang biarpun usianya sudah hampir, enam puluh tahun namun masih gagah perkasa dengan tubuhnya yang tinggi besar itupun muncul di situ dengan cepatnya, berlari mendaki lereng itu bagaikan terbang saja cepatnya. Dia berdiri di samping Tho-Te-Kong.
“Ho-ho-ho, sebelum dikubur, aku ingin melihat dulu bagaimana macamnya orang yang berjuluk Thai-Lek-Kui itu!” kata Tho-Te-Kong dan sekali tangan kirinya bergerak ke arah peti, terdengar suara keras dan tutup peti itu terlepas dan terlempar ke atas tanah sehingga peti jenazah terbuka dan semua anak buah Pek-In-San dapat melihat isi peti.
Semua mata terbelalak dan semua mulut mengeluarkani seruan kaget ketika mereka melihat isi peti jenazah. Bukan jenazah Thai-Lek-Kui yang berada dalam peti jenazah melainkan tumpukan batu bata yang sudah hancur! Juga Ouw Yang Lee dan Tho-Te-Kong memandang heran. Mereka tadinya mengira akan melihat jenazah, Thai-Lek-Kui yang rusak oléh serangan pukulan Tho-Te-Kong. Tahulah mereka bahwa Thai-Lek-Kui belum tewas dan bahwa kematian itu hanyalah sebuah sandiwara belaka.
Pada saat itu, berlapis-lapis anggauta Pek-In-San bergerak mengepung dua orang itu. Ciang Sek, Song Bu dan Ouw Yang Lan juga muncul dari belakang pasukan. Para anak buah Pek-In-San yang tadinya terheran heran, kini merasa girang melihat kenyataan bahwa ketua mereka sebetulnya tidak tewas. Ouw Yang Lee ketika melihat Song Bu berdiri di sebelah Thai-Lek-Kui Ciang Sek dan seorang gadis cantik, menjadi marah.
“Song Bu, kenapa engkauu berada di sini bersama musuh besarku? Hayo engkau ke sini dan membantuku menghadapi mereka!” Song Bu menggeleng.
“Suhu. Saya tidak bisa memusuhi Paman Ciang Sek.” Mendengar Song Bu menyebutnya Suhu, bukan Ayah, Ouw Yang Lee menjadi semakin marah.
“Bedebah busuk engkau! Murid durhaka manusia tidak mengenal budi! Kalau aku tidak menyelamatkanmu, ketika engkau berusia tiga tahun engkau sudah menjadi mangsa ikan-ikan hiu! Kemudian aku merawat dan mendidikmu, bahkan mengangkatmu menjadi anak, dan seperti ini balasanmu? Engkau malah memihak musuhku? Keparat jahanam engkau!” Ouw Yang Lee menudingkan telunjuknya kepada pemuda itu.
Mendengar ucapan itu, Song Bu merasa terdesak dan dia hanya menundukkan mukanya yang berubah kemerahan. Ucapan datuk itu memang ada benarnya dan harus dia akui bahwa selama ini Ouw Yang Lee bersikap baik sekali kepadanya. Datuk itu benar-benar mencintanya dan kalau dingat, dia sudah berhutang banyak budi kepada Ouw Yang Lee. Akan tetapi melihat kenyataan bahwa Ouw Yang Lee dan Ibunya hidup berbahagia sebagai anak dan isteri Ciang Sek, bagaimana mungkin dia dapat membantu gurunya untuk memusuhi mereka?
Sejak munculnya Ouw Yang Lee tadi, Ouw Yang Lan sudah memandang Ayah kandungnya itu dengan sinar mata mencorong marah. Dia marah dan membenci Ayahnya bukan hanya karena Ayahnya berusaha untuk membunuh Ayah tirinya, melainkan terutama sekali karena Ouw Yang Lee hendak membunuh Ibunya. Lebih-lebih lagi mendengar cerita Song Bu bahwa Ouw Yang Lee juga berusaha membunuh Ouw Yang Hui dan Ibunya. la menganggap Ayah kandungnya itu amat kejam dan keras hati.
“Ouw Yang Lee, engkau munusia berhati kejam. Apakah engkau ingin membunuh aku juga?” tanya Ouw Yang Lan sambil menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Majikan Pulau Naga itu.
Ouw Yang Lee memandang gadis itu dengan penuh perhatian dan sepasang alisnya yang tebal berkerut. “Hemm, siapakah engkau?”
“Manusia kejam, engkau tidak mengenal anakmu sendiri!” teriak Ouw Yang Lan.
Ouw Yang Lee terbelalak, “Engkau... Ouw Yang Lan?” Mukanya menjadi merah. “Dan engkau menyebut namaku begitu saja, tidak mengakui aku sebagai Ayah kandungmu?”
“Engkau sendiri hendak membunuh kedua Ibuku, hendak membunuh adik Ouw yang Hui, mungkin akan membunuh aku pula. Apakah aku harus mengakui iblis seperti engkau menjadi Ayahku? Tidak, aku tidak sudi menyebut Ayah padamu” Ouw Yang Lan memang seorang gadis yang keras hati dan galak sekali. Mungkin kekerasan hatinya tidak kalah dibandingkan Ayahnya, walaupun ia condong memihak yang benar dan sama sekali tidak memiliki watak jahat seperti Ayah kandungnya.
Ouw Yang Lee menjadi marah bukan main. “Keparat! Engkaupun harus mati di tanganku!”
“Engkau yang akan mati di tanganku manusia busuk!” Ouw Yang Lan balas membentak, tak kalah ketusnya, sambil mencabut pedang Lo-Thian-Kiam dari punggungnya.
Pada saat itu Gu Tian sudah memberi aba-aba kepada pasukan panah. Belasan orang yang sudah siap dengan busur dan panahnya lalu mementang busur dan melepas anak panah ke arah Ouw yang Lee dan Tho-Te-Kong. Dua orang datuk sakti ini menggunakan kedua lengan mereka untuk menangkisí hujan anak panah. Ouw Yang Lan melompat ke depan dan langşung menyerang Ouw Yang Lee dengan pedangnya.
Ouw Yang Lee terkejut. Serangan anaknya itu hebat dan dahsyat sekali, sama sekali tidak boleh dipandang ringan. memang pada saat itu, tingkat kepandaian Ouw Yang Lan sudah hampir menyamai Ayah tirinya. Ouw Yang Lee cepat mencabut pedangnya dan menangkis sambil mengerahkdan tenaga saktinya.
“Tranggg...!” Dua batang pedang terpental dan bunga api berpijar. Ouw Yang Lee semakin kaget. Ternyata Ouw Yang Lan juga memiliki tenaga sinkang yang cukup kuat sehingga mampu menandinginya. Pada saat itu, pasukan tombak sudah menyerbu dan membantu Ouw Yang Lan mengeroyok Ouw Yang Lee.
Sementara itu, maklum akan kelihaian Kakek yang dikenal baik oleh Song Bu sebagai Tho-Te-Kong, pemuda itu memberi isyarat kepada Ciang Sek dan keduanya langsung menyerbu dan menyerang Tho-Te-Kong. Song Bu menggunakan sebatang pedang dan langsung dia menyerang dengan jurus-jurus ilmu pedang Coat-Beng Tok-Kiam, sedangkan Ciang Sek menyerang dengan pedang pula, menggunakan ilmu pedang Lo-Thian Kiam-Sut.
Menghadapi serangan pedang dua orang itu, Tho-Te-Kong tidak berani memandang rendah. Dia melihat betapa gerakan pedang kedua orang penyerangnya itu amat dahsyat. Dia lalu memutar tongkat bambu kuningnya dan mengerahkan tenaga sinkang untuk menangkis. Kedua pedang terpental ketika bertemu tongkat bambu kuning.
Akan tetapi Song Bu dan Ciang Sek bersikap hati-hati, menggunakan keringanan tubuh mereka untuk menyerang dari dua jurusan dan tidak memberi kesempatan kepada Kakek itu untuk menangkis pedang mereka. Mereka menghindarkan mengadu kekuatan.
Sementara itu, pasukan pedang yang terdiri dari belasan orang sudah pula membantu mereka mengeroyok Tho-Te-Kong. Ouw Yang Lee dan Tho-Te-Kong mengamuk. Mereka berdua maklum bahwa mereka terjebak dan dikepung puluhan orang anak buah Pek-In-San. Mereka berdua berhasil merobohkan beberapa orang anak buah Pek-In-San yang mengeroyok, akan tetapi mereka sendiri terdesak hebat.
Pengeroyokan Song Bu dan Ciang Sek ditambah belasan orang anak buah yang nekat itu membuat Tho-Te-Kong repot juga. Yang lebih repot adalah Ouw Yang Lee. Menghadapi Ouw Yang Lan seorang dia masih mampu menandingi bahkan mendesak. Akan tetapi Gu Tian maju menyerbu dan membantu gadis itu, ditambah belasan orang pasukan tombak yang juga dibantu pula beberapa orang pasukan golok.
Ouw Yang Lee terdesak hebat dan terpaksa dia harus sering menghindarkan diri menjauhi Ouw yang Lan dan Gu Tian. Diapun sudah merobohkan beberapa orang anak buah Pek-In-San, akan tetapi dia sendiri terdesak hebat dan maklumlah dia bahwa kalau dilanjutkan, tentu dia akan terluka dan celaka. Ouw Yang Lee merasa menyesal dan penasaran sekali. Sama sekali tidak disangkanya bahwa dia akan dibikin repot oleh puterinya sendiri!
Juga dia marah sekali melihat betapa Song Bu bahkan membela Ciang Sek, musuh besarnya. Kini mengertilah dia bahwa isterinya, Lai Kim, agaknya telah diperisteri penculiknya sendiri. Diperisteri Thai-Lek-Kui Ciang Sek dan Ouw Yang Lan menjadi anak tirinya dan juga muridnya. Benar-benar dia merasa penasaran sekali. Sinar pedang di tangan Ouw Yang Lan menyambar ke arah lehernya.
Cepat bukan main sehingga dia tidak sempat menangkis karena pada saat itu pedangnya menangkis beberapa batang tombak dan pedang di tangan Gu Tian. Terpaksa dia mengelak, namun gerakannya kurang cepat sehingga ujung pedang di tangan Ouw Yang Lan sempat melukai dan merobek baju di pundaknya berikut kulit pundak sehingga berdarah. Ouw Yang Lee mengeluarkan suara gerengan marah, tubuhnya berputar cepat dan kakinya menendang roboh dua orang anak buah Pek-In-San.
“Tho-Te-Kong, kita pergil” teriak Ouw yang Lee dan dia memutar pedangnya sambil mendesak ke arah anak buah Pek-In-San. Anak buah Pek-In-San mundur dan kesempatan itu dipergunakan Ouw Yang Lee untuk melompat jauh dan melarikan diri.
Melihat ini, Tho-Te-Kong juga memutar tongkatnya sehingga senjata itu berubah menjadi sinar kuning, mendesak ke arah para anggauta Pek-In-San. Beberapa orang anggauta Pek-In-San roboh terkena sambaran sinar kuning itu dan terpaksa mereka mundur berpencar. Tho-Te-Kong tertawa mengejek dan tubuhnya melesat jauh mengejar larinya Ouw Yang Lee yang menuruni lereng dengan cepat sekali.
“Jangan kejar!” seru Ciang Sek yang tidak ingin kehilangan lebih banyak anak buah lagi. Ouw Yang Lan hendak mengejar, akan tetapi lengannya dipegang Song Bu.
“Jangan kejar, Lan-moi. Kakek Tho-Te-Kong itu berbahaya sekali, bukan lawanmu.”
Ouw Yang Lan memandang tangan pemuda itu yang memegang lengannya. Song Bu baru menyadari bahwa tangannya masih memegang lengan gadis itu, seolah-olah jari-jari tangannya enggan untuk melepaskan lengan yang lembut lunak namun kuat itu. Setelah melihat betapa Ouw Yang Lan menatap tangannya, barulah dia sadar dan cepat dia melepaskan lengan itu.
Thai-Lek-Kui Ciang Sek memerintahkan anak buahnya untuk mengurus belasan anak buahnya yang tewas atau terluka, kemudian dia mengajak Song Bu dan Ouw Yang Lan untuk pulang. Gu Tian memimpin anak buahnya untuk mengurus para korban itu. Lai Kim menyambut tiga orang itu dengan gembira sekali. Wajahnya masih tampak pucat, tanda bahwa kepergian mereka tadi membuat ia merasa gelisah sekali karena maklum bahwa mereka terancam oleh musuh yang amat lihai dan berbahaya.
Ternyata kini suami dan anaknya pulang dalam keadaan selamat. mereka lalu merayakan peristiwa ini dengan pesta kecil. Gu Tian yang dianggap sebagai keluarga sendiri juga hadir dan mereka berempat duduk makan minum di ruangan makan. Setelah selesai makan minum, mereka duduk bercakap-cakap di ruangan dalam dan Lai Kim menyatakan kekhawatirannya.
“Hatiku masih tetap merasa gelisah. Hari ini kita masih untung karena ada Song Bu di sini yang membela, akan tetapi bagaimana kalau kelak Ouw Yang Lee dan kawan-kawannya datang lagi untuk melaksanakan niat jahatnya membunuh kita?”
“Jangan khawatir. Kukira Ouw Yang Lee tidak akan begitu sembrono untuk datang mengganggu lagi. Dia sudah gagal dua kali dan biasanya, orang yang sudah gagal dua kali tidak akan begitu bodoh mengulangi lagi kekalahannya. Selain itu, aku akan siap siaga, memperkuat penjagaan, memasang jebakan-jebakan sehingga tidak akan mudah orang mendaki Pek-In-San, betapa pandaipun dia,” kata Ciang Sek menghibur hati isterinya.
“Kukira Paman Ciang Sek benar, Bibi. Saya mengenal siapa Kakek yang lihai tadi. Dia adalah Tho-Te-Kong,” kata Song Bu.
“Karena dia sibuk di kota raja sebagai pembantu utama Thaikam Liu Cin, saya kira dia tidak akan begitu banyak waktu dan leluasa untuk membantu Suhu Ouw Yang Lee menyerbu ke sini.”
Thai-Lek-Kui Ciang Sek terkejut. “Tho-Te-Kong? Diakah datuk besar yang terkenal amat sakti itu? Pantas dia begitu lihai. Akan tetapi, bagaimana dia yang terkenal angkuh itu mau membantu Ouw Yang Lee ?”
“Hal itu tidak mengherankan, Paman Ciang Sek. Suhu Ouw Yang Lee adalah juga seorang pembantu Thaikam Liu Cin, bahkan lebih dulu dari Tho-Te-Kong. Mereka adalah rekan sepekerjaan, sama-sama pembantu Thaikam Liu Cin. Tentu Suhu Ouw Yang Lee minta bantuan Tho-Te-Kong. Akan tetapi kegagalan ini tentu membuat Tho-Te-Kong enggan untuk membantu lagi. Selain itu, mereka tidak mungkin dapat berlama-lama meninggalkan tugas mereka di istana Thaikam Liu Cin.”
Ciang Sek mengangguk-angguk. “Hemm, jadi mereka bekerja untuk Thaikam Liu in? Pantas kalau begitu. Thaikam Liu Cin adalah seorang pembesar yang berkuasa di istana, dia yang mempengaruhi Kaisar sehingga kekuasaannya besar sekali. kabarnya bahkan pembesar itu menyingkirkan banyak saingannya di kota raja.”
“Hal itu memang benar sekali, Paman.”
“Dan engkau sendiri, Suheng?” tanya Ouw Yang Lan.
Song Bu memandang sumoinya dan menghela napas. “Terus terang saja, aku diajak Suhu meninggalkan Pulau Naga untuk bekerja kepada Thaikam Liu Cin di kota raja. Tadinya aku juga seorang di antara para pembantunya. Akan tetapi kemudian aku melihat betapa jahatnya pembesar itu. Dia menggunakan orang-orang pandai untuk menyingkirkan dan membunuh para bangsawan dan pejabat tinggi lain yang tidak mau tunduk kepadanya.
Dan aku melihat pula bahwa para datuk yang membantunya adalah orang-orang kangouw dari golongan sesat seperti Im Yang Tojin yang mengkhianati Im-Yang-Kauw, Hek Pek Moko sepasang manusia iblis yang amat kejam dan jahat itu, Giam Tit yang menjadi kepala pengawal Thaikam Liu Cin, kemudian muncul dua orang datuk besar itu, iyalah Tho-Te-Kong dan Cui-Beng Kui-Bo.
Karena merasa tidak suka dan tidak cocok, aku mengambil kesempatan ketika diutus Suhu untuk mencari adik Ouw Yang Hui, meninggalkan mereka dan aku mengambil keputusan untuk tidak kembali kepada Thaikam Liu Cin. Apalagi setelah peristiwa di sini bahwa secara terang-terangan aku menentang Suhu Ouw Yang Lee dan Tho-Te-Kong.”
“Suheng, apakah engkau sudah bertemu dengan adik Ouw Yang Hui dan Ibu Sim Kui Hwa?” tanya Ouw Yang Lan.
“Aku belum bertemu dengan Subo Sim Kui Hwa, akan tetapi aku sudah dapat menduga di mana kira-kira ia berada dan aku akan pergi mencarinya. Aku mendapat keterangan ketika aku berkunjung ke Houw-San, tempat tinggal Tok-Gan-Houw Lo Cit dan anak buahnya.”
“Hemm, engkau ke sana juga, Suheng? Aku juga datang dan berhasil membunuh Lo Cit!” kata Ouw Yang Lan.
“Ah, jadi engkaukah gadis yang katanya membunuh Lo Cit? Aku juga datang ke sana ketika mayat Lo Cit masih berada dalam peti mati. Tentu engkau sudah mendapat keterangan dari mereka di mana adanya Hui-moi dan Ibunya.”
Ouw Yang Lan menggeleng kepalanya. “Aku mengancam Lo Cit akan tetapi di mengatakan tidak tahu, lalu aku membunuhnya dan pergi meninggalkan tempat itu.” kata Ouw Yang Lan.
“Dan dari siapa engkau mendengar tentang adik Hui dan Ibunya Suheng?”
“Aku mendengar dari anak buahnya, juga sebelumnya Subo Sim Kui Hwa pernah kembali ke Pulau Naga.”
“Ceritakanlah dengan sejelasnya Suheng. Lebih dulu tentang lbu Sim Kui Hwa,” kata Ouw Yang Lan dan Ibunya juga mendengarkan dengan hati tertarik.
“Beberapa hari setelah terjadi penculikan atas dirimu, Hui-moi dan kedua Subo, Subo Sim Kui Hwa kembali ke Pulau Naga diantar oleh seorang pendekar Siauw-Lim-Pai bernama Gan Hok San. Maksud Subo Sim Kui Hwa tentu saja untuk pulang ke Pulau Naga dan pendekar Gan Hok San adalah orang yang telah menolongnya dari tangan Lo Cit. Akan tetapi Suhu Ouw Yang Lee bukan saja tidak mau menerima Subo Sim Kui Hwa.
"Bahkan dia berkeras hendak membunuhnya karena cemburu. Gan Hok San melindungi Subo Sim Kui Hwa sehingga terjadi perkelahian antara dia dan Suhu Ouw Yang Lee. Akhirnya Suhu Ouw Yang Lee kalah dan Subo Sim Kui Hwa yang tidak diterima pulang ke Pulau Naga lalu meninggalkan pulau dikawal oleh Gan Hok San.
"Semenjak itu sampai sekarang, sudah sebelas tahun lewat, aku tidak mendengar beritanya dari anak buah Lo Cit, aku yakin bahwa Subo Sim Kui Hwa tentu dapat ditemukan kalau aku dapat mencari Gan Hok San. Tentu dia tahu di mana adanya Subo Sim Kui Hwa.”
“Engkau benar, Suheng. Kalau begitu peristiwanya, maka satu-satunya jalan untuk mencari Ibu Sim Kui Hwa hanyalah menemukan dan bertanya kepada Gan Hok San. Kalau dia itu tokoh Siauw-Lim-Pai maka jalan termudah adalah mencari keterangan ke Kuil Siauw-Lim-Pai di mana adanya tokoh itu.”
“Ya, memang jalan itu yang akan kutempuh untuk mencari Subo Sim Kui Hwa,” kata Song Bu.
“Lalu bagaimana tentang adik Ouw Yang hui?”
“Aku sudah bertemu dengan Hui-moi, baru beberapa pekan yang lalu di kota raja, la juga kini telah menjadi seorang gadis dewasa, Lan-moi.”
“Hui-ji di kota raja? Bagaimana keadaannya? Apakah ia terpisah dari Ibunya?” tanya Sim Kui Hwa yang ikut mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Bibi, saya bertemu dengan Hui-moi di rumah pelesir.”
“Ahh?? Apakah kau hendak mengatakan bahwa Hui-moi telah menjadi... menjadi...” Ouw Yang Lan tidak sampai hati untuk melanjutkan kata-katanya.
“Tidak, Lan-moi, untung sekali tidak, Hui-moi sama sekali tidak menjadi gadis penghibur meskipun ia diangkat anak oleh pengelola rumah hiburan itu.”
“Suheng, mau apa engkau berkeliaran ke rumah pelesir?” tiba-tiba Ouw Yang Lan memotong dan suaranya mengandung teguran.
“Lan-ji...!” Sim Kui Hwa menegur. Pertanyaan puterinya itu dianggapnya tidak sopan.
“Tidak mengapa, Bibi. Pertanyaan Lan-moi itu wajar saja. Akan tetapi, Lan moi, aku tidak pernah bermain dan berkeliaran ke rumah pelesir. Aku hanya satu kali pergi ke sana, itupun untuk mengawal Sribaginda Kaisar yang berkunjung ke rumah pelesir Pintu Merah di kota Nam-Po, tak jauh dari kota raja.”
“Sribaginda Kaisar? Beliau berkunjung rumah pelesir?” tanya Ciang Sek terheran-heran. Memang luar biasa sekali kalau Kaisar berkunjung ke sebuah rumah pelesir.
“Sebenarnya peristiwanya begini. Di seluruh kota Nam-Po, bahkan sampai ke kota raja tersiar berita bahwa di rumah pelesir Pintu Merah, di Nam-Po, terdapat seorang gadis yang luar biasa. la Puteri Cia-Ma pengelola rumah pelesir Pintu merah, terkenal dengan nama julukan Siang Bi Hwa. Siang Bi Hwa dikabarkan orang sebagai seorang gadis secantik bidadari yang tidak pernah mau melayani pria, biar diberi selaksa tail sekalipun.
"la pandai sekali bermain yangkim dan meniup suling, juga pandai bersajak dan bernyanyi. Karena tertarik oleh berita ini, pada suatu hari Sribaginda Kaisar, dengan menyamar tentu saja, mengajak aku untuk mengawalnya pergi berkunjung ke rumah pelesir itu.
"Siang Bi Hwa tidak pernah mau menemui pria, akan tetapi para tamu diperbolehkan menonton ia bermain musik dan bernyanyi di taman, ditonton dari pintu belakang. Nah, Sribaginda Kaisar berkunjung untuk menonton ia bermain musik dan bernyanyi itulah. Akupun selama hidupku baru sekali itu mengunjungi sebuah rumah pelesir, Lan-moi.”
“Aku dapat menduga lanjutan ceritamu, Suheng! Tentu Siang Bi Hwa itu bukan lain adalah adik Ouw Yang Hui, bukan?” kata Ouw Yang Lan.
“Dugaanmu tepat, Lan-moi. Begitu aku melihat gadis itu, aku segera mengenalnya. Akan tetapi aku diam saja dan baru lain hari aku berkunjung seorang diri ke rumah pelesir Pintu Merah dan menemuinya. Dan memang benar ia adalah adik Ouw Yang Hui. la menceritakan pengalamannya. Ketika ia terculik bersama Ibunya dibawa pergi Lo Cit, ia dipisahkan dari Ibunya dibawa pergi seorang anak buah Lo Cit. Dalam perjalanan, anak buah Lo Cit itu dibunuh oleh dua orang penjahat lain. Kemudian oleh dua orang penjahat itu, la dijual kepada Cia-Ma yang selanjutnya Cia-Ma mengambilnya sebagai anak.
"Menurut Hui-moi, ia diperlakukan dengan baik sekali dan penuh kesayangan, diberi pendidikan sastra dan seni sehingga setelah besar ia pandai menulis sajak, menyanyi, menari dan memainkan yang-kim dan suling. Bahkan menurut Hui-moi, Cia-Ma tidak menyuruh ia melayani pria, bahkan melarang pria manapun mengganggunya. Cita-cita Cia-Ma bahkan hendak menjodohkan Hui-moi dengan seorang laki-laki bangsawan yang terhormat dan bijaksana.”
“Kasihan Hui-ji...” kata Lai Kim.
“Tidak kasihan, Ibu. Bahkan adik Hui memperoleh pengalaman yang aneh luar biasa sekali, bahkan boleh dibilang ia beruntung sekali dijual kepada seorang seperti Cia-Ma itu. Kemudian bagaimana, Suheng?”
“Aku menceritakan tentang pertemuanku dengan Hui-moi kepada Suhu Ouw Yang Lee. Aku sungguh merasa menyesal setelah menceritakan hal itu. Di luar tahuku, Suhu Ouw Yang Lee pergi berkunjung ke rumah pelesir Pintu Merah di Nam-Po, lalu mengamuk. Dia membunuh Cia-Ma dengan orang-orangnya, dan hendak membunuh Hui-moi.”
“Jahat sekali! Aku malu mempunyai Ayah sejahat itul” Ouw Yang Lan berteriak.
“Jangan berpendapat demikian dulu, Lan-ji. Mungkin saja Ouw Yang Lee merasa malu mendengar puterinya menjadi anak angkat seorang pemilik rumah hiburan,” kata Ciang Sek.
“Tidak, Ayah. Aku sekarang yakin bahwa dia benar-benar seorang yang amat kejam dan jahat. Tidak saja dia bertekad untuk membunuh kedua orang isterinya, bahkan juga bertekad membunuh kedua orang anaknya! Teruskan, Suheng. Lalu bagaimana?”
“Suhu bercerita kepadaku bahwa dia gagal membunuh Hui-moi karena ditolong seorang pemuda dan dia sendiri tidak tahu entah kemana perginya Hui-moi. Yang jelas, Hui-moi selamat dan tidak terbunuh.”
“Syukurlah kalau Hui-ji selamat!” kata Lai Kim sambil menghela napas lega. “Akan tetapi entah bagaimana dengan nasib adik Sim Kui Hwa. Aku khawatir akan keadaannya.”
“Aku juga merasa girang bahwa Hui-moi dapat terlepas dari ancaman maut. Akan tetapi kita tidak tahu ke mana ia pergi dan siapa pemuda yang menolongnya. Jangan-jangan dia seorang yang jahat pula. Betapa banyaknya orang jahat di dunia ini.” kata Ouw Yang Lan.
“Suheng, apa... apakah sekarang engkau akan kembali ke kota raja dan bekerja sama dengan Ouw Yang Lee mengabdi kepada Thaikam Liu Cin?”
Song Bu mengerutkan alisnya dan menggeleng kepalanya. “Tidak, aku tidak akan kembali ke sana. Kalau aku kembali ke kota raja, tentu aku tidak akan lagi bekerja untuk Thaikam Liu Cin, melainkan untuk Sribaginda Kaisar. Bahkan aku akan membongkar semua rahasia busuk Liu Cin yang membunuhi banyak pejabat tinggi yang setia kepada Kaisar.”
“Lalu kemana engkau hendak pergi setelah meninggalkan tempat ini?” Ouw Yang Lan mengejar.
“Aku hendak mencari Hui-moi dan Subo eh... Bibi Sim Kui Hwa...!”
“Bagus! Cocok sekali denganku! Ibu, Ayah, aku akan pergi dan ikut Suheng untuk mencari Ibu Sim Kui Hwa dan adik Ouw yang Hui!”
Ada sesuatu dalam nada suara puterinya itu yang meyakinkan hati Lai Kim bahwa tidak mungkin ia melarang niat gadis yang keras hati itu. Apa lagi kalau perginya puterinya itu bersama Song Bu yang memiliki kelihaian dan dapat dipercaya. “Hemm, ke manakah engkau hendak mencari mereka?” tanya pula Lai Kim.
“Nanti dulu, aku akan mengambil kertas dan alat tulis!” kata gadis itu yang sudah melompat dan lari meninggalkan ruangan itu.
Tentu saja tiga orang itu menjadi heran dan saling pandang. Mereka sama sekali tidak dapat menduga apa maksud gadis itu mengambil kertas dan alat tulis! Ouw Yang Lan memasuki ruangan itu kembali dan ia sudah membawa dua lembar kertas dan dua mouw-pit (pena bulu). la memberikan sehelai kertas dan pena bulu kepada Song Bu, sedangkan ia sendiri memegang sehelai kertas dan sebatang pena bulu.
“Nah, Suheng. Engkau tuliskan jawaban pertanyaan Ibu tadi. Kemana engkau hendak mencari adik Ouw Yang Hui dan Ibunya. Aku sendiripun akan menuliskan jawabanku di atas kertas ini dan nanti kita buat perbandingan.”
Ciang Sek tertawa. “Ah, kiranya ingin melihat jawaban siapa yang paling tepat. Baik, kalian tulislah dan nanti aku yang membacanya dan menjadi wasitnya untuk menentukan siapa yang lebih tepat jawabannya."
Song Bu juga tersenyum. Diapun ingin mengetahui pendapat gadis itu ke mana mereka harus mencari Ouw Yang Hui dan Ibunya. Maka diapun lalu duduk menghadapi meja di sudut ruangan itu agar terpisah dari Ouw Yang Lan. Mereka berdua menulis di meja masing-masing. Mereka menyelesaikan tulisan mereka hampir berbareng.
“Serahkan kepadaku, akan kubacakan!” kata Ciang Sek gembira sedangkan isterinya hanya tersenyum melihat ulah puterinya. Dua orang muda itu lalu menyerahkan tulisan mereka kepada Ciang Sek.
“Aku akan membacakan tulisan Lan Ji lebih dulu,” katanya sambil membaca tulisan gadis itu dengan suara lantang. “Karena tidak diketahui ke mana Hui-moi pergi yang tidak meninggalkan jejak, maka yang harus dicari lebih dulu adalah lbu Sim Kui Hwa dan untuk mencarinya, harus diketahui di mana adanya Gan Hok San, Untuk mencarinya harus ditanyakan kepada Kuil Siauw-Lim-Si di Sung-San.”
Song Bu memandang kepada gadis itu dengan mata terbelalak heran. Ciang Sek kini berkata. “Sekarang akan kubacakan tulisan Song Bu.” Lalu dengan lantang diapun membaca, “Belum tahu Hui-moi pergi ke mana maka lebih dulu mencari Bibi Sim Kui Hwa dengan menanyakan kepada Kuil Siauw-Lim-Si di Sung-San di mana tinggalnya Pendekar Gan Hok San.”
Lai Kim tertawa dan menutupi mulutnya dengan tangan. “Aneh, hanya kata-katanya yang berbeda akan tetapi maksudnya sama!”
Ouw Yang Lan tersenyum. “Ini menunjukkan bahwa aku dan Suheng harus bekerja sama dan tentu akan berhasil menemukan lbu Sim Kui Hwa. Setelah dapat menemukan Ibu Sim Kui Hwa barulah kami berdua akan mencari adik Ouw Yang Hui sampai dapat. Bukankah begitu, Suheng?”
Song Bu hanya mengangguk. Tidak dapat dia membantah bahwa gadis itu memang cerdik dan juga memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup tinggi dan tangguh. Pula dia harus mengakui banwa dia merasa kagum terhadap sumoinya ini yang kini telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan gagah perkasa. Akan tetapi, diam diam dia membandingkan Ouw Yang Lan dengan Ouw Yang Hui dan diapun harus mengakui bahwa hatinya telah terlebih dahulu tercuri oleh kelembutan dan kejelitaan Ouw Yang Hui.
“Ibu, Ayah, aku ingin pergi bersama Suheng mencari Ibu Sim Kui Hwa dan adik Ouw Yang Hui. Tentu Ibu dan Ayah menyetujui, bukan?” Ouw Yang Lan bertanya kepada mereka, walaupun dia yakin bahwa mereka pasti tidak akan menghalanginya.
“Tadinyapun engkau sudah pergi sendiri mencari mereka. Kalau sekarang pergi bersama Song Bu, tentu saja hatiku lebih merasa tenang. Pergilah dan mudah-mudahan kalian dapat menemukan adik Sim Kui Hwa dan Ouw Yang Hui dalam keadaan selamat.”
“Engkau pergilah dengan Song Bu, Lan-Ji. Akan tetapi dalam segala hal, taatilah petunjuk Song Bu dan jangan sembrono, jangan asal nekat mengandalkan keberanian dan kekerasan hati. Ingat, di dunia kangouw banyak sekali terdapat orang-orang jahat yang lihai dan berbahaya sekali. Peristiwa yang baru saja terjadi harap kau jadikan sebagai pelajaran dan membuatmu berhati-hati. Mudah-mudahan kalian berhasil dan kalau engkau pulang ke sini, berhati-hatilah. Kami akan memasang ranjau dan jebakan. Pergunakanlah jalan rahasia yang hanya diketahui kita bertiga dengan Pamanmu Gu Tian. Mempergunakan jalan lain amat berbahaya, engkau dapat terperangkap jebakan yang berbahaya.”
“Baiklah, Ayah,” jawab Ouw Yang Lan.
Akan tetapi hati Ciang Sek masih khawatir sehingga keberangkatan sepasang orang muda itu ditunda sampai besok, dan malam itu Ouw Yang Lan dan Song Bu disuruh melihat dan mempelajari peta bukit Pek-In-San untuk mengetahui di mana yang akan dipasangi jebakan-jebakan untuk mencegah masuknya orang-orang yang mempunyai niat buruk terhadap Pek-In-San.
Melihat perangkap-perangkap itu, Song Bu sendiri merasa ngeri. Sungguh amat berhaya dan sedikit saja orang salah langkah dapat menyebabkan kematian yang mengerikan. Pada keesokan harinya, dua orang muda itu berangkat meninggalkan Pek-In-San. Song Bu membawa buntalan pakaiannya dan Ouw Yang Lan juga membawa sebuah buntalan yang terisi pakaiannya dan bekal uang emas dan perak secukupnya. Gadis itu tampak gagah dengan pakaiannya yang ringkas, di punggungnya tergantung pedang Lo-Thian-Kiam pemberian Ayah tirinya.
Gadis yang suka memakai pakaian serba putih dan kadang serba merah muda itu, kini memakai pakaian merah muda. Pedang di punggungnya sebagian tertutup buntalan pakaian berwarna kuning. Tubuhnya yang padat tampak montok, akan tetapi pinggangnya ramping sehingga bentuk tubuhnya indah sekali. Ditambah kulitnya yang putih mulus membuat gadis ini tampak cantik jelita dan gagah menarik.
Song Bu juga tampak gagah. Tubuhnya tinggi besar dan kokoh, membayangkan tenaga yang kuat. Pakaiannya seperti biasa, mewah terbuat dari Sutera halus yang mahal. Pedangnya juga tergantung dipunggung, tertutup buntalan pakaiannya. Dua orang muda itu tampak serasi sekali. Pantas untuk menjadi kakak beradik, atau pantas pula untuk menjadi pasangan kekasih. Dengan langkah tegap keduanya menuruni lereng, keluar dari perkampungan Pek-In-San. Diantar sampai ke pintu gerbang perkampungan oleh Ciang Sek, Lai Kim dan Gu Tian.
Sementara itu, pada hari itu juga para anak buah Pek-In-San sibuk mulai membuat dan memasang ranjau dan jebakan sehingga Pek-In-San menjadi sebuah tempat yang akan sukar sekali diserbu musuh. Selain pemasangan perangkap-perangkap, juga mulai hari itu penjagaan selalu diperketat dan setiap saat pasti ada anak buah yang berjaga dan meronda sehingga rasanya tidak mungkin pihak musuh akan dapat memasuki perkampungan Pek-In-San dengan aman atau tidak diketahui.
Kereta itu berjalan perlahan mendaki Bukit Bangau menuju ke pegunungan Sung-San yang tampak menjulang tinggi di depan. Dari Bukit Bangau ke Sung-San melalu padang rumput yang luas. Di kedua ujung padang rumput itu terdapat hutan-hutan yang lebat.
Kereta itu sudah melewati lereng terakhir dan mulai memasuki padang rumput yang luas itu. Yang menjadi kusir kereta adalah Gan Hok San sendiri. Di dalam kereta yang penuh barang bawaan keluarga itu duduk Sim Kui Hwa, Li Hong dan Ouw yang Hui. Di belakang kereta berjalan seekor kuda yang ditunggangi Sin Cu. Dalam perjalanan itu Gan Hok San membeli seekor kuda untuk ditunggangi Sin Cu yang mengawal mereka menuju ke Sung-San.
Tadinya Sin Cu menolak karena dengan pengerahan ginkang (ilmu meringankan tubuh) dia menggunakan ilmu Bu-Eng-Kui (Setan Tanpa Bayangan) dan dia dapat bergerak cepat dan dapat mengimbangi larinya kuda yang menarik kereta. Akan tetapi Gan Hok San, Sim Kui Hwa dan juga Ouw Yang Hui mendesaknya sehingga akhirnya dia mau juga menunggang kuda dan menjalankan kudanya di belakang kereta. Siang itu langit bersih.
Tidak tampak awan sehingga matahari bersinar sepenuhnya. Udara menjadi amat segar, tidak terlalu dingin seperti biasa, juga tidak terlalu panas, menjadi nyaman sekali. Apalagi ada angin bersilir lembut sehingga hawa udaranya segar jernih dan sejuk. Suasana di padang rumput itu sepi, yang terdengar hanya derap kaki tiga ekor kuda, yaitu dua ekor yang menarik kereta dan seekor yang ditunggangi Sin Cu. Rumput yang gemuk subur dan setinggi lutut kuda, bergoyang-goyang seperti air laut berombak.
Ouw Yang Hui dan Ibunya merasa lelah sekali. Belasan hari mereka melakukan perjalanan yang jauh, setiap hari diguncang dalam kereta. Juga Li Hong duduk melenggut, mengantuk di samping Ibunya. Gan Hok San yang maklum betapa isterinya dan anak tirinya itu kelelahan, ketika tiba di padang rumput yang berhawa segar itu berkata,
“Hawa udaranya segar sekali. Bukalah tirai kereta agar kalian dapat merasakan sejuknya hawa udara.” Ouw Yang Hui membuka tirai di kanan kiri kereta dan udara berhembus masuk, terasa menyegarkan,
“Aih, nyaman sekali.” kata Sim Kui Hwa dan ia menggeliat seperti seekor kucing. Nyonya yang usianya sudah empat puluh satu itu masih memiliki bentuk tubuh yang ramping padat.
Ouw yang Hui sendiri merasa segar dan timbul kegembiraannya. la merasa gembira dan berbahagia sekali. Setelah mengalami banyak peristiwa yang mencekam dan menggelisahkan, di mana nyawanya terancam maut berulang kali, kini ia merasa aman dan bahagia sekali telah dapat berkumpul kembali dengan Ibu kandungnya, mendapat seorang Ayah tiri yang bijaksana dan baik, bertemu dengan seorang pendekar muda yang menumbuhkan cintanya, bahkan telah bertunangan dengan pemuda itu.
Kini ia mendengar bunyi kaki kuda di belakang kereta dan biarpun tidak tampak, ia tahu bahwa Sin Cu menunggang kuda di belakang kereta, la merasa aman terlindung, merasa begitu berbahagia sehingga tanpa disadarinya, mulailah gadis itu bersenandung! Hati yang berbahagia dan gembira memang menimbulkan keinginan untuk bernyanyi.
Suara kaki tiga ekor kuda itu seperti bunyi musik yang mengiringi nyanyian Ouw Yang Hui. Suasana yang hening di tempat itu membuat suara nyanyian dan suara kaki kuda terdengar jelas dan menonjol. Kedua suara itu begitu serasi dan sedap didengar. Sim Kui Hwa memandang wajah anaknya dengan mata basah karena kagum, bangga dan terharu. Tak disangkanya bahwa puterinya sepandai itu bernyanyi, memiliki suara yang amat merdu pula.
Juga Gan Hok San yang duduk di depan sebagai kusir terpesona dan kagum sekali. Banyak sudah pendekar ini mendengar wanita bernyanyi, akan tetapi sekarang dia mendengar suara nyanyian yang demikian merdu. Lebih-lebih lagi Sin Cu yang menunggang kuda di belakang kereta. Pemuda ini terpesona dan merasa seperti diayun-ayun dalam mimpi.
Dia kagum dan merasa berbahagia sekali. Akan tetapi juga terharu karena gadis yang demikian cantik jelita, demikian hebat suaranya dapat menjadi calon isterinya. Dia merasa berbahagia sekali dan berjanji dalam hati sendiri bahwa dia akan melindungi gadis itu dengan seluruh jiwa raganya, akan membahagiakan hidup gadis yang sudah banyak mengalami kesengsaraan sejak kecilnya itu.
Suasana hening itu demikian mencekam. Dunia seolah hanya diisi suara berketepaknya kaki kuda yang mengiringi suara nyanyian merdu. Tiga orang yang lain seperti hanyut. Rumput-rumput yang dihembus angin seperti berbisik-bisik melatar belakangi nyanyian itu dan menimbulkan suasana yang ajaib.
Lama setelah Ouw Yang Hui menghentikan nyanyiannya, tiga orang pendengarnya itu seolah masih mendengar gema nyanyian itu dan suasana menjadi semakin hening. Keheningan baru pecah ketika terdengar suara Gan Hok San...