Sepasang Rajah Naga Jilid 20 - “DEMI TUHAN...! Nyanyianmu seperti nyanyian para bidadari di sorga, Hui-Ji.”
|
| Karya Kho Ping Hoo |
“Aduh, enci Hui! Kukira tadi mimpi mendengar nyanyian indah, tidak tahunya ketika aku terbangun, engkau yang bernyanyi! Ayah benar, suaramu seperti suara bidadari sorga!” kata Li Hong sambil memegangi tangan Ouw Yang Hui.
Sim Kui Hwa merangkul dan mencium pipi Ouw Yang Hui, dan dengan air mata membasahi kedua matanya ia berkata, “Hui-ji, aku berterima kasih kepada mendiang Cia-Ma yang telah memberi pendidikan yang amat baik kepadamu!”
Mendengar ini, Ouw Yang Hui juga merangkul Ibunya. Hatinya terharu dan juga sedih teringat akan kematian Cia-Ma yang bagaimanapun juga amat ia rasakan kasih sayangnya sehingga dalam hatinya juga timbul rasa kasih sayang kepada Ibu angkat itu. “Terima kasih, Ibu. Aku girang sekali Ibu dapat menghargai jasa Cia-Ma yang malang...”
Sementara itu Sin Cu yang menunggang kuda di belakang kereta, lebih dulu mendengar derap kaki kuda yang terdengar di sebelah belakangnya. Dia menengok dan melihat belasan orang penunggang kuda mendatangi dari belakang dengan kecepatan tinggi. Karena khawatir kalau-kalau mereka itu rombongan orang yang hendak memusuhi mereka, dia lalu melarikan kudanya ke samping kereta bagian depan. Dia lalu berkata kepada Gan Hok San.
“Paman, ada belasan orang penunggang kuda datang dari belakang. Lebih baik Paman menghentikan kereta dan bersiap siap melindungi Bibi dan Hui-moi. Saya yang akan menghadapi mereka kalau mereka itu mempunyai niat buruk terhadap kita.”
Gan Hok San menjenguk ke belakang dan diapun melihat serombongan penunggang kuda itu datang dan tampak debu mengepul di belakang mereka. Pendekar Siauw-Lim-Pai ini mengerutkan alisnya dan diapun menduga buruk. Melarikan kereta kiranya tidak mungkin karena kalau mereka itu melakukan pengejaran, tentu kereta akan tersusul. Jalan pendakian di depan merupakan jalan yang buruk dan kasar. Melalui jalan seperti itu, keretanya tidak akan dapat meluncur kencang dan pasti akan mudah dikejar mereka yang menunggang kuda.
Memang sebaiknya menghentikan kereta dan bersama Sin Cu melindungi Ouw Yang Hui dan Ibunya. Maka diapun minggirkan keretanya dan menghentikan dua ekor kuda penarik kereta. Sin Cu sendiri sudah melompat turun dari atas kudanya dan menambatkan kudanya pada kereta, kemudian dia berdiri di belakang kereta untuk menjaganya. Gan Hok San berdiri di sisi lain, di depan kereta.Rombongan berkuda itu kini datang dekat. Jumlah mereka ada dua belas orang, terdiri dari laki-laki berusia empat puluh tahun ke atas. Yang tertua berusia enam puluh tahun lebih dan berpakaian seperti seorang Tosu (Pendeta Taoisme). Rombongan itu melewati kereta dan mereka hanya melirik sebentar saja ke arah kereta yang dijaga oleh Gan Hok San dan Sin Cu. Mereka lewat dan melanjutkan perjalanan mereka tanpa memperhatikan kereta.
Sin Cu bernapas lega. “Ah, ternyata mereka bukan rombongan yang hendak mengganggu kita, Paman,” katanya. Akan tetapi Gan Hok San mengerutkan sepasang alisnya.
“Tosu itu adalah Cang Su Cinjin, ketua Bu-Tong-Pai. Dan yang lain-lain itu adalah para tokoh Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai. Apa yang telah terjadi di Siauw-Lim-Si? Kenapa mereka semua datang berkunjung dan tampaknya sikap mereka tidak bersahabat, seperti orang-orang yang penasaran dan marah? Sin Cu, hatiku merasa tidak enak. Aku khawatir terjadi sesuatu di Siauw-Lim-Si. Mari kita ikuti mereka ke Siauw-Lim-Si!” kata Gan Hok San yang segera mencambuk dua ekor kuda penarik kereta sehingga mereka berlari congklang. Sin Cu juga melompat ke atas kudanya dan mengikuti kereta.
“Apa yang terjadi? Kenapa kita tadi berhenti lalu sekarang melarikan kereta cepat-cepat?" tanya Sim Kui Hwa dari dalam kereta.
“Ada serombongan orang Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai lewat menuju ke Siauw-Lim-Si. Aku khawatir terjadi sesuatu di sana maka aku ingin cepat-cepat tiba di sana,” jawab Gan Hok San.
Kuil Siauw-Lim terletak di lereng gunung Sung-San... tidak jauh lagi dari padang rumput itu. Tak lama kemudian kereta itu telah tiba di lapangan yang luas di depan Kuil. Gan Hok San dan Sin Cu melihat bahwa rombongan dua belas orang tadi sudah berada di depan Kuil, sudah turun dari atas kuda dan mereka sedang berhadapan dengan belasan orang Hwesio (Pendeta Budha) dari Kuil Siauw-Lim-Pai.
Gan Hok San adalah seorang murid utama dari Siauw-Lim-Pai, Dia mengenal semua Hwesio yang keluar dari Kuil menyambut rombongan itu. bahkan yang menjadi ketua Siauw-Lim-Pai pada waktu itu adalah Susioknya (Paman Gurunya), yaitu Hui Sian Hwesio, sedangkan para Hwesio yang lain adalah tiga orang Suhengnya dan yang lain lima orang Sute dan beberapa orang murid angkatan lebih muda. Sin Cu yang pernah bertemu dengan ketua Siauw-Lim-Pai juga mengenal Hui Sian Hwesio.
“Kalian tinggallah saja dalam kereta, kami hendak mendekat dan melihat apa yang terjadi,” kata Gan Hok San kepada isterinya dan anak tirinya.
Setelah itu, bersama Sin Cu dia menghampiri, lebih dekat sehingga mereka berdua dapat mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh para Hwesio dengan rombongan dari Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai itu. Mereka tidak datang lebih dekat lagi, tidak ingin mengganggu percakapan mereka, hanya mendengarkan dari jarak agak jauh.
“Siauw-Lim-Pai terkenal sebagai tempat para Hwesio yang beribadah dan hidup sebagai manusia-manusia yang mengutamakan kesucian, akan tetapi mengapa melindungi murid yang melakukan kejahatan!” kata Tosu yang disebut Cang Su Cinjin oleh Gan Hok San tadi. Ketua Bu-Tong-Pai ini tampak marah dan penasaran.
“Memang aneh sekali. Siauw-Lim-Pai yang terkenal memiliki murid-murid yang berjiwa pendekar, mengapa kini ada muridnya yang bertindak seperti maling dan secara curang membunuh dua orang murid kami!” kata seorang laki-laki berusia enam puluhan tahun dan berpakaian sebagai seorang ahli silat atau pendekar. Dia adalah seorang tokoh Kong-Thong-Pai, bahkan menjabat sebagai wakil ketua dan namanya adalah Lui Kai It. Tubuhnya tinggi kurus, matanya mencorong dan sikapnya keras dan galak.
“Omitohud...!” Hui Sian Hwesio merangkap kedua tangan di depan dadanya. sikapnya lembut dan halus, tubuhnya yang tinggi agak gemuk itu tidak membayangkan kekuatan dan kekerasan, wajahnya penuh dengan senyum sehingga tampak cerah dan menyenangkan. Pandang matanya lembut penuh kesabaran dan pengertian.
“Pinceng sudah katakan tadi bahwa kami sama sekali tidak mempunyai permusuhan dengan Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai, bagaimana mungkin ada murid kami yang melakukan perbuatan tidak terpuji, menyerang murid-murid anda sekalian? Tidak ada murid Siauw-Lim-Pai yang membunuh orang dan kami sama sekali tidak menyembunylkan pembunuh. Kalau memang ada murid kami yang melakukan kejahatan, silakan cuwi (anda sekalian) menunjuk, yang mana murid kami itu dan kami tentu akan bertindak melakukan hukuman kalau memang tuduhan itu terbukti dan benar.”
“Tentu saja tidak dapat dibuktikan karena orang yang melakukannya tidak dapat ditangkap!” kata Lui Kai It wakil ketua Kong-Thong-Pai dengan marah.
“Akan tetapi mata kami belum buta dan telinga kami belum tuli! Mata kami melihat bahwa seorang berkepala gundul yang melakukan penyerangan gelap itu dan telinga kami mendengar betapa dia menantang agar kami mencarinya ke Siauw-Lim-Si kalau kami berani.”
“Omitohud! Lui-Pangcu (ketua Lui), belum tentu semua orang yang berkepala gundul itu seorang Hwesio Siauw-Lim-Si dan belum tentu semua orang yang mengaku dari Siauw-Lim-Si itu benar-benar murid kami,” kata Cu Sian Hwesio yang menjadi Sute dari Hui Sian Hwesio dan menjabat wakil ketua Siauw-Lim-Pai. Hwesio ini bertubuh tinggi kurus, usianya sekitar enam puluh lima tahun.
“ltu hanya alasan saja!” Ketua Bu-Tong-Pai, Cang Su Cinjin, berseru. “Sejak dahulu memang Siauw-Lim-Pai memandang rendah partai lain termasuk Bu-Tong-Pai. Bagaimanapun juga, karena pembunuh itu mengaku sebagai murid Siauw-Lim-Pai, maka sudah menjadi tugas kewajiban dan tanggung jawab Siauw-Lim-Pai untuk mencari sampai dapat pembunuh itu. Ini tentu saja kalau Siauw-Lim-Pai menghendaki namanya dibersihkan. Kalau Siauw-Lim-Pai diam saja, berarti mereka sudah menerima tuduhan itu dan sengaja hendak menyembunyikan, pembunuh, itu untuk melindungi muridnya yang jahat.”
“Itu tidak adil namanya, hendak menghimpit dan menyudutkan kami!” bentak seorang Hwesio lain yang menjadi Sute Hui Sian Hwesio dengan marah sekali. “Kalau begitu kita putuskan saja mana yang salah mana yang benar melalui, adu kepandaian!”
“Bagus! Katakan saja para pimpinan Siauw-Lim-Pai hendak membela muridnya yang bersalah dengan mengandalkan dan memamerkan kepandaiannya! Hayo maju jangan dikira kami dari Kong-Thong-Pai takut melawan orang Siauw-Lim-Pai!” bentak Lui Kai It wakil ketua Kong-Thong-Pai sambil mencabut pedangnya.
“Baik, kalian yang datang mencari perkara, bukan Pinceng (aku)!” bentak Hwesio berkulit hitam tinggi besar itu sambil melintangkan senjata toya baja di depan dadanya.
“Omitohud! Tenang dan tahanlah nafsu amarah kalian masing-masing! Kekerasan bukan caranya untuk menyelesaikan urusan ini. Mari kita bicarakan baik-baik. Ucapan Cang Su Cinjin tadi dapat Pinceng terima. Memang Pinceng sebagai ketua Siauw-Lim-Pai tentu saja tidak dapat tinggal diam kalau nama baik Siauw-Lim-Pai dicemarkan.
"Pinceng yakin bahwa tentu ada orang lain yang sengaja mempergunakan nama Siauw-Lim-Pai untuk memburukkan nama kami atau sengaja hendak mengadu domba antara Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai dengan pihak Siauw-Lim-Pai. Mari kita bicara baik-baik.
"Cang Su Cinjin, harap engkau suka mengulangi lagi dan menceritakan bagaimana terbunuhnya seorang Sutemu dan bagaimana pula kalian dari Bu-Tong-Pai begitu yakin bahwa pembunuhnya adalah orang Siauw-Lim-Pai,” kata Hui Sian Hwesio dengan sikap sabar dan tenang sambil melangkah maju dan berdiri di antara dua orang yang sudah marah dan siap hendak bertanding tadi.
“Begitu baru dapat dikatakan bahwa Siauw-Lim-Pai bertanggung jawab. Akan tetapi Siauw-Lim-Pai harus benar-benar dapat menangkap pembunuh itu. Kalau tidak, jangan salahkan kami kalau kami menuduh Siauw-Lim-Pai menyembunyikan pembunuh. Nah, dengarlah penjelasanku. Kurang lebih sebulan yang lalu, Pinto (aku) mendengar suara perkelahian. Ketika aku keluar, diikuti beberapa orang murid Bu-Tong-Pai, aku melihat Sute Kam Lok sedang bertanding melawan seorang yang kepalanya gundul dan jubahnya seperti Hwesio Siauw-Lim-Pai.
"Sute Kam Lok bukan seorang lemah. Ilmu kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi. Akan tetapi pada saat itu, lawannya mendadak memukul dengan gerakan cepat dan tangannya berubah putih, Sute Kam Lok terpukul roboh dan orang itu melompat ke tempat gelap sambil tertawa dan berkata bahwa ilmu silat Bu-Tong-Pai tidak akan mampu menandingi ilmu silat Siauw-Lim-Pai.
"Ketika kami mengejar, orang itu lenyap dalam kegelapan malam. Kami segera memeriksa Sute Kam Lok, akan tetapi dia telah tewas dan di dadanya terdapat bekas telapak tangan berwarna putih. Siapa lagi yang memiliki ilmu pukulan begitu hebat kalau bukan dari Siauw-Lim-Pai? Pula orang itu sudah mengejek dan membandingkan ilmu silat Bu-Tong-Pai dengan ilmu silat Siauw-Lim-Pai.”
“Omitohud! Memang meyakinkan sekali. Tidak aneh kalau cuwi (kalian) dari Bu-Tong-Pai merasa yakin bahwa orang itu adalah orang Siauw-Lim-Pai. Sekarang Lui Pangcu, harap engkau suka jelaskan tentang kematian dua orang anggauta Kong-Thong-Pai sejelasnya agar kami mengetahui betul apa yang telah terjadi,” kata Hui Sian Hwesio kepada Lui Kai It.
Wakil ketua Kong-Thong-Pai yang tinggi kurus itu lalu menghela napas panjang. “Tidak jauh bedanya dengan kematian saudara kam Lok dari Bu-Tong-Pai. Kurang lebih sebulan yang lalu, pada suatu malam terdengar keributan di ruangan belakang, Aku dan beberapa orang saudaraku berlari ke belakang dan melihat dua orang murid utama kami yang tingkat kepandaiannya sudah tinggi bertanding melawan seorang Hwesio gundul.
"Karena kedua Sute sudah bertanding berdua menghadapi seorang lawan, aku hanya menonton sambil bersiap siaga. Akan tetapi tiba-tiba Hwesio itu mengeluarkan suara bentakan, kedua tangannya memukul dan kedua tangan itu berwarna hitam. Kedua orang murid kami itu terjengkang dan Hwesio itu melompat ke tempat gelap sambil berseru bahwa kalau kami hendak mencarinya agar kami datang ke Siauw-Lim-Pai kalau kami berani.
"Kami mengejarnya akan tetapi dia sudah menghilang dalam kegelapan malam dan ketika kami memeriksa, dua orang murid itu sudah tewas dan ada tanda telapak tangan menghitam di dada mereka. Siapa lagi yang memiliki ilmu pukulan dahsyat itú kalau bukan tokoh Siauw-Lim-paí? Pula, orang itu sudah mengaku dan menyuruh kami mencarinya ke Siauw-Lim-Pai!”
“Omitohud! Kami tidak menyalahkan pihak Kong-Thong-Pai lalu datang ke sini karena sikap dan kata-kata pembunuh itu memang meyakinkan bahwa dia datang dari Siauw-Lim-Pai. Akan tetapi kalau jiwi (anda berdua) renungkan dan pertimbangkan, ada beberapa kenyataan janggal yang sepatutnya membuat jiwi menjadi curiga.
"Pertama, kalau benar pembunuh-pembunuh itu orang Siauw-Lim-Pai, lalu apa yang menjadi sebab atau alasan mereka melakukan pembunuhan-pembunuhan itu? Jiwi tentu tahu bahwa akibat hanya timbul karena sebab dan selama ini tidak ada permusuhan apapun antara Siauw-Lim-Pai dengan Bu-Tong-Pai maupun Kong-Thong-Pai, jadi tidak masuk akal kiranya kalau kami melakukan pembunuhan tanpa sebab.
"Kedua, pembunuhan itu dilakukan secara gelap, menyerang di waktu malam, bukan merupakan tantangan yang terang-terangan. Lalu para pembunuh itu setelah melakukan pembunuhan mengaku dengan jelas bahwa mereka datang dari Siauw-Lim-Pai. Ini juga tidak masuk di akal. Bagaimana pembunuh-pembunuh yang melakukan pembunuhan secara gelap, lalu tiba-tiba mengaku terang-terangan dari mana mereka datang?
"Melihat kenyataan-kenyataan itu, maka Pinceng (aku) hampir berani memastikan bahwa mereka sengaja melakukan fitnah terhadap Siauw-Lim-Pai atau sengaja hendak mengadu domba diantara kita.”
“Lo Suhu! Hal itu memang tidak luput dari pengamatan dan dugaan kami, akan tetapi kalaupun pembunuh itu melakukan fitnah yang di fitnah adalah Siauw-Lim-Pai, maka kiranya Siauw-Lim-Pai, yang tahu siapa yang memusuhi dan yang telah melakukan fitnah.”
Pada saat itu, Hui Sian Hwesio melihat Gan Hok San dan Sin Cu dan sambil memandang kepada mereka dia mengerahkan tenaga sakti dalam suaranya dan berseru lembut. “Kedua sobat kalau ada keperluan dengan kami harap datang ke sini!” Suara itu dikeluarkan dengan lembut saja, namun suaranya terdengar jelas seperti yang bicara berada di dekat Gan Hok San dan Sin Cu.
Mendengar teguran ini, Gan Hok San memberi isyarat kepada Sin Cu dan mereka berdua segera menghampiri mereka yang berdiri di depan Kuil itu. “Suheng, maafkan kalau saya mengganggu pertemuan ini,” kata Gan Hok San memberi hormat kepada ketua Siauw-Lim-Pai yang menjadi Suhengnya itu.
“Omitohud, kiranya engkau, Sute Gan Hok San? Kebetulan sekali, ini muncul urusan yang memusingkan. Engkau dapat menyumbangkan pikiranmu untuk mencari jalan keluar karena Siauw-Lim-Pai di fitnah orang.”
“Saya telah mendengar semua, Suheng dan kepada para sobat dari Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai saya Gan Hok San yang selama hidup saya belum pernah berbohong, saya berani menanggung bahwa para pembunuh itu tidak mungkin orang Siauw-Lim-Pai,” kata Gan Hok San dengan suara lantang. “Mereka tentu merupakan komplotan. Bukankah dua peristiwa pembunuhan itu terjadi pada waktu yang bersamaan? Hal itu berarti bahwa pembunuh di Bu-Tong-Pai berbeda dari pembunuh di Kong-Thong-Pai.”
“Siapapun pembunuhnya karena mereka sudah mempergunakan nama Siauw-Lim-Pai, maka Siauw-Lim-Pai harus ikut bertanggung jawab dan mencari mereka yang telah melemparkan fitnah itu,” kata Lui Kai It.
“Dan orang muda ini omitohud...! Bukankah engkau ini Wong-sicu murid Bu Beng Siauwjin yang pernah berkunjung kesini?" tanya Hui Sian Hwesio sambil memandang kepada Sin Cu yang sejak tadi diam saja.
Sin Cu cepat merangkap kedua tangan depan dada memberi hormat. “Benar, Lo-Cianpwe. Saya Wong Sin Cu menghaturkan hormat kepada Lo-Cianpwe. Saya tidak ingin lancang mulut, Lo-Cianpwe, akan tetapi mendengar percakapan tadi, rasanya saya dapat menduga siapa adanya dua orang pembunuh yang mengacau di Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai seperti diceritakan tadi.”
Semua orang terkejut. Bahkan Gan Hok San sendiri juga terkejut dan memandang kepada calon mantunya itu dengan mata terbelalak. Ucapan pemuda itu tidak boleh dianggap ringan karena dapat menimbulkan keributan, “Sin Cu, benarkah engkau dapat menduga siapa mereka itu?” tanyanya.
“Omitohud, engkau sama sekali tidak lancang, Wong-sicu, bahkan kami akan merasa beruntung dan berterima kasih sekali kalau engkau mau mengatakan siapa orangnya yang kau duga melakukan pembunuhan-pembunuhan itu,” kata Hui Sian Hwesio.
“Lo-Cianpwe, saya tadi mendengar bahwa pembunuh di Bu-Tong-Pai meninggalkan tanda telapak tangan putih sedangkan yang melakukan pembunuhan di Kong-Thong-Pai meninggalkan tanda telapak tangan hitam. Saya ingat bahwa orang-orang yang memiliki ilmu pukulan beracun seperti itu adalah Hek Pek Moko. Saya pernah bertanding dengan mereka dan saya tahu benar bahwa Hek Moko memiliki ilmu pukulan Hek-Tok-Ciang (Tangan Racun Hitam).”
“Akan tetapi yang menyerang kami adalah seorang yang berkepala gundul,” kata Cang Su Cinjin.
“Benar, dan dia mengenakan jubah Pendeta seperti para Hwesio di Siauw-Lim-Si...” kata pula Lui Kai It.
“Omitohud, hendaknya jiwi tidak dipengaruhi kepala gundul dan jubah Pendeta,” kata Hui Sian Hwesio. “Rambut di kepala dapat ditutup seperti gundul dan jubah dapat dibuat.” Kemudian ketua Siauw-Lim-Pai itu menoleh kepada Sin Cu.
“Akan tetapi, Wong-sicu, andaikata benar dugaanmu itu bahwa Hek Pek Mok melakukan ini, apa alasannya? Sepanjang yang kami ketahui, kami tidak mempunyai permusuhan dengan mereka berdua.”
“Saya juga tidak tahu dan tidak dapat menduga apa yang menjadi alasan mereka, akan tetapi ketika saya bertemu dengan mereka, kedua orang itu membunuh Panglima Kwee Liang sekeluarga.”
“Panglima Kwee Liang?” Cang Su Cin jin berseru kaget. “Dia adalah seorang panglima yang amat terkenal karena kesetiaannya!”
“Begitulah yang saya dengar,” kata Sin Cu. “Perbuatan itu saja menunjukkan bahwa dua orang manusia iblis itu amat jahat dan mungkin mereka melakukan pembunuhan dengan menggunakan nama Siauw-Lim-Pai dengan maksud yang jahat pula. Cang Su Cinjin dan Lui-Pangcu, jiwi sudah mendengar sendiri semua keterangan itu. Kita semua condong menduga bahwa perbuatan membunuh itu selain untuk melemparkan fitnah kepada kami juga untuk mengadu domba di antara kita.
"Kami di pihak Siauw-Lim-Pai merasa bertanggung jawab dan akan kami usahakan untuk membongkar rahasia ini. Kami akan membantu sekuat tenaga untuk dapat menemukan dan menangkap penjahat yang mempergunakan nama kami. Sekarang kami harap jiwi agar pulang dan kita sama-sama berusaha untuk mencari penjahat itu. Kami harap jiwi dapat menerima pendapat kami ini.”
“Saya juga berjanji untuk membantu agar para pembunuhnya dapat ditangkap Lo-Cianpwe,” kata Sin Cu yang merasa penasaran juga karena Siauw-Lim-Pai di fitnah.
“Terima kasih, Wong-sicu. jiwi Pangcu, ketahuilah bahwa Wong-sicu ini adalah murid dari Bu Beng Siauwjin, karena itu kata-katanya dapat dipercaya sepenuhnya.”
Dua orang pimpinan Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai itu saling pandang lalu keduanya mengangguk. “Baiklah, Lo-Suhu. Kami akan bersabar dan menanti sampai usaha Siauw-Lim berhasil. Selamat tinggal dan maafkan sikap kami tadi,” kata Cang Su Cinjin sambil memberi hormat dan diturut oleh para pengikutnya, lalu membalikkan tubuh dan pergi meninggalkan tempat itu.
“Kamipun akan menunggu hasil pencarian Siauw-Lim-Pai!” kata Lui Kai It. “Selamat tinggal!” Diapun bersama para pengikutnya memberi hormat lalu meninggalkan tempat itu.
“Heiii...! Berhenti!!” Tiba-tiba Sin Cu berteriak dan melompat ke arah kereta, akan tetapi bayangan yang memanggul tubuh Ouw Yang Hui itu dengan kecepatan seperti burung terbang telah berlari cepat sekali.
Rombongan Bu-Tong-Pai dan rombongan Kong-Thong-Pai melihat ini dan mereka semua berhenti, tidak melanjutkan perjalanan mereka meninggalkan Siauw-Lim-Pai.
Melihat ini, Gan Hok San juga berlari cepat menghampiri kereta. Dia membuka tirai kereta dan melihat isterinya, Sim Kui hwa, duduk di dalam kereta tak bergerak seperti berubah menjadi patung. Tahulah pendekar ini bahwa isterinya telah tertotok. Dia cepat menggerakkan tangannya, menotok kedua pundak isterinya dan menekan punggungnya.
Sim Kui Hwa mengeluh dan begitu dapat bicara dan bergerak, ia berkata. “Tolong Hong-ji ini...!”
Gan Hok San memeriksa anak itu. Li Hong bersandar di tempat duduknya dengan mata terpejam seperti sedang tidur. Tahulah Gan Hok San bahwa anaknya itu pingsan. Setelah mengurut tengkuknya, anak itu siuman.
“Mana mana enci Hui...?” tanyanya.
“Cepat... kejar... Hui-ji dilarikan orang...!” Gan Hok San segera keluar dari kereta dan turut mengejar ke arah larinya orang yang menculik Ouw Yang Hui. Akan tetapi dia telah tertinggal jauh sekali.
Sementara itu Sin Cu yang melakukan pengejaran merasa terkejut sekali karena orang yang melarikan Ouw Yang Hui itu dapat berlari luar biasa cepatnya. Dia sudah mengerahkan seluruh ginkangnya dan mengejar sekuat tenaga, akan tetapi orang di depan itu melesat semakin cepat dan dia sudah tertinggal jauh. Ketika orang itu memasuki hutan, dia kehilangan bayangan maupun jejaknya dan Sin Cu terpaksa berhenti karena tidak tahu harus mengejar ke mana! Dia merasa cemas sekali.
Ouw Yang Hui, kekasihnya, tunangannya, calon isterinya, dilarikan orang dan dia tidak tahu siapa orang itu karena tidak sempat melihat wajahnya, hanya melihat punggungnya saja. Dia hanya tahu bahwa orang itu bertubuh tinggi kurus dan larinya luar biasa cepatnya sehingga dia tidak mampu mengejarnya.
Gan Hok San mengejar, sampai di situ dan mendapatkan Sin Cu berdiri dengan bingung. “Sin Cu, ke mana penculik itu lari?”
Sin Cu menengok dan memandang Gan Hok San dengan khawatir dan dia menggeleng kepala. “Dia masuk hutan ini dan menghilang, Paman. Saya tidak tahu dia lari ke jurusan mana sehingga tidak dapat mengejarnya.”
“Cepat, engkau mengejar ke kiri dan aku mengejar ke kanan!” kata Gan Hok San.
Mereka lalu berpencar ke kanan kiri melakukan pengejaran. Akan tetapi sampai ke ujung hutan, keduanya tidak dapat menemukan orang yang membawa lari Ouw Yang Hui. Akhirnya mereka kembali ke kereta dengan lesu.
Hui Sian Hwesio, Cang Su Cinjin, dan Lui Kai It bersama semua pembantu mereka berkerumun di dekat kereta. Melihat Gan Hok San dan Sin Cu kembali dengan tangan kosong, mereka semua menyambut dengan pertanyaan.
Gan Hok San mengerutkan alisnya dan berkata. “Suheng dan saudara sekalian. Peristiwa ini sungguh aneh. Ada orang berani menculik puteri kami. Padahal disini dekat Kuil Siauw-Lim-Pai dan saudara sekalian kebetulan berkumpul di sini. Karena itu saya berpendapat bahwa penculikan terhadap puteri kami ini pasti ada hubungannya dengan pembunuhan-pembunuhan itu.
"Peristiwa ini merupakan bukti pula bahwa pembunuhan itu sama sekali tidak mungkin dilakukan oleh pihak kami dari Siauw-Lim-Pai. Kami pasti akan mencari dan menangkap penculik itu dan mudah-mudahan saja kami akan dapat pula membongkar rahasia pembunuhan terhadap orang-orang Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai.”
“Gan-Enghiong, engkau akan segera dapat menemukan puterimu itu”, kata Cang Su Cinjin yang lalu memberi hormat dan bersama para pengikutnya meninggalkan tempat itu.
“Kami juga merasa prihatin, Gan-Enghiong (orang gagah Gan). Kami akan menyebar para murid untuk ikut memasang mata dan telinga menyelidiki siapa yang menculik puterimu,” kata Lui Kai It yang juga segera pergi dari tempat itu bersama para pengikutnya.
Hui Sian Hwesio mendekati Gan Hok San. “Gan-Sute, kau kira siapa yang telah menculik puterimu itu? Apakah engkau mempunyai seorang musuh beşar?”
Gan Hok San mengerutkan alisnya dan menggeleng kepalanya. “Saya membawa anak isteri mencari tempat tinggal baru dekat Siauw-Lim-Si justeru untuk menghindarkan diri dari ancaman seorang musuh besar yang mengancam kami, Suheng.”
“Omitohud... Gawat sekali kalau begitu. Sute, ajaklah isterimu untuk turun dari kereta. Kita bicara di ruangan depan Kuil,” kata Hui Sian Hwesio dengan lembut kepada Gan Hok San. Pendekar itu mengangguk lalu menghampiri kereta. Ketika dia menjenguk ke dalam, dia melihat isterinya menangis dengan sedihnya.
“Isteriku, tenanglah dan bersabarlah. Aku tidak akan tinggal diam dan tentu Sin Cu akan mencari calon isterinya sampai dapat ditemukan dalam keadaan selamat. Percayalah, karena aku yakin penculik itu tidak akan membunuh anak kita. Kalau dia bermaksud membunuh, tentu tadi tidak diculiknya melainkan langsung dibunuhnya. Sekarang, Suheng Hui Sian Hwesio mempersilakan kita masuk ke Kuil dan bicara disana. Marilah.” Gan Hok San menghibur isterinya.
Sim Kui Hwa telah sebelas tahun menjadi isteri pendekar ini, maka ia tahu bahwa terlalu cengeng merupakan pantangan bagi seorang pendekar. Ia menahan perasaannya, mengangguk sambil mengusap air matanya lalu membiarkan dirinya dituntun keluar dari kereta.
“Ibu, jangan, menangis. Ayah dan kak Sin Cu pasti akan dapat menemukan enci Hui, kalau aku sudah besar, akan kubunuh orang yang berani menculik enci Hui!” kata Li Hong sambil menuntun Ibunya turun dari kereta.
Hui Sian Hwesio mempersilakan Gan Hok San, Sim Kui Hwa, dan Sin Cu memasuki Kuil. Akan tetapi karena bagian dalam Kuil itu merupakan daerah yang pantang dikunjungi wanita, maka mereka bertiga hanya diterima di ruangan depan. Hui Sian Hwesio dan Cu Sian Hwesio menerima tiga orang tamunya itu dan mereka duduk mengitari meja di ruangan itu.
“Gan-Sute, sekarang katakanlah bagaimana engkau mempunyai seorang musuh besar. Bukankah sejak dulu kita sudah diperingatkan bahwa kita tidak boleh mempunyai musuh? Bahwa musuh besar yang harus kita lawan dan tundukkan adalah nafsu dalam diri kita sendiri? Bagaimana engkau yang sudah mengangkat nama besar Siauw-Lim-Si dengan sikapmu sebagai pendekar besar kini dapat mempunyai seorang musuh besar?”
Gan Hok San menghela napas panjang. “Suheng, sesungguhnya saya masih ingat akan semua pantangan dan ajaran mendiang Suhu, bahkan sampai sekarang masih saya pegang teguh. Saya tidak memusuhi siapapun juga, Suheng. Akan tetapi ada seseorang yang memusuhi saya, bahkan memusuhi kami sekeluarga. Karena itulah Suheng, agar permusuhan tidak berlarut-larut, saya mengajak anak isteri untuk pindah ke pegunungan Sung-San, dekat Kuil Siauw-Lim-Si agar orang yang memusuhi kami itu tidak terus mengejar kami. Akan tetapi, ternyata begitu tiba di sini, puteri kami malah diculik orang.”
“Apakah kau kira yang menculik adalah orang yang memusuhi kalian itu?” tanya Hui Sian Hwesio.
“Hal itu masih perlu diselidiki, Suheng. Mengingat akan peristiwa yang menimpa Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai, saya merasa curiga bahwa penculikan terhadap puteri kami itu masih ada hubungannya dengan pembunuhan-pembunuhan itu. Sayang kita tidak dapat melihat wajah penculik itu. Atau barangkali engkau sempat melihat wajahnya, isteriku?”
Sim Kui Hwa menghela napas panjang. Ia dapat menekan perasaannya dan tidak menangis lagi. Akan tetapi wajahnya masih pucat dan lesu, kedua matanya kemerah-merahan. “Peristiwa itu terjadi cepat sekali. Aku dan Hui-ji sedang duduk dalam kereta menantimu. Tiba-tiba tirai kereta terbuka dan sebuah tangan dengan cepatnya menotok pundak dan leherku dua kali sehingga aku tidak mampu bergerak atau bersuara. Aku hanya melihat betapa orang itu juga menotok Hui-ji dan dia lalu memanggul Hui-ji dan dibawanya lari melalui pintu sebelah sehingga tidak dapat tampak dari arah Kuil.”
“Saya juga hanya kebetulan saja melihat berkelebatnya bayangan itu karena saya sedang memandang ke arah ke dua rombongan yang hendak meninggalkan tempat ini,” kata Sin Cu.
Gan Hok San tampak bingung dan khawatir. Dia tahu bahwa kalau dia tidak segera dapat menemukan kembali Ouw Yang Hui, isterinya akan menderita sekali. Dengan lembut dia bertanya kepada isterinya yang duduk di sebelah kirinya. “Apakah engkau tidak melihat wajahnya dan barangkali ada tanda tertentu pada tubuhnya?”
Sim Kui Hwa mengingat-ingat. “Aku hanya melihat sepintas, lalu tak mampu menggerakkan leherku. Dia seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, wajahnya tampan akan tetapi kewanitaan, senyumnya menyeringai mengerikan, matanya seperti mata wanita genit... dan eh, ya, pada bajunya di bagian dada ada gambar setangkai bunga teratai putih pada dasar warna biru.”
“Pek-Lian-Kauw...!” Seruan ini keluar dari mulut Gan Hok San, Hui Sian Hwesio, dan Cu Sian Hwesio.
“Pek-Lian-Kauw? Apakah itu, Ayah?” tanya Li Hong yang sejak tadi hanya mendengarkan saja.
“Nama perkumpulan,” Gan Hok San menjelaskan kepada puterinya yang selalu ingin tahu itu. “Para anggautanya memakai gambar bunga teratai putih di baju bagian dadanya.”
“Ah, aku ingat sekarang, Ayah!” seru Li hong. “Ketika dia menepuk tengkukku, sebelum aku tidak ingat apa-apa lagi, aku melihat dia menyeringai dan ada kilatan kuning pada giginya bagian kanan seperti emas.”
“Si Banci Bergigi Emas?” Gan Hok San berseru heran. “Kalau benar dia, pantas engkau tidak dapat mengejarnya, Sin Cu. Dia terkenal dengan ginkangnya yang tiada keduanya di dunia kang-ouw, walaupun ilmu silatnya bukan tidak dapat ditandingi. Akan tetapi kalau benar dia, mengapa dia menculik Hu-ji? Dan mengapa pula dia berpakaian seperti anggauta Pek-Lian-Kauw? Apakah dia telah menjadi anggauta Pek-Lian-Kauw sekarang?”
“Omitohud... kenapa muncul orang-orang aneh melakukan hal-hal aneh pula?” kata Hui Sian Hwesio. “Siapakah Si Banci bergigi Emas itu, Gan-Sute?”
“Sebetulnya dia peranakan Mancu dan namanya terkenal sekali di daerah Tembok besar di utara. Dia dikenal sebagai seorang pencuri ilmu silat yang telah mempelajari banyak macam aliran ilmu silat. Bahkan kabarnya dia menguasai pula beberapa macam ilmu silat Siauw-Lim-Pai aliran utara. Akan tetapi yang paling terkenal adalah ginkangnya yang amat hebat sehingga dia mampu berlari cepat sekali,” kata Gan Hok San yang mempunyai pengetahuan luas tentang dunia persilatan pada puluhan tahun yang lalu sampai sekarang.
“Paman, siapakah sesungguhnya Si Banci Bergigi Emas itu dan di mana tempat tinggalnya? Saya segera akan pergi mengejar ke tempat tinggalnya” kata Sin Cu.
“Menurut apa yang kudengar, sebetulnya dia adalah seorang Pangeran bangsa Mancu. Karena itu aku merasa heran sekali mendengar dari Hong-ji tadi bahwa dia mengenakan pakaian yang ada gambar lambang Pek-Lian-Kauw. Apa hubungan pihak Mancu dengan Pek-Lian-Kauw? Dan apa pula hubungan, kedua pihak itu dengan Ouw Yang Lee?”
“Omitohud, siapa lagi yang kau sebut itu, Sute?” tanya Cu Sian Hwesio yang sejak tadi hanya mendengarkan saja.
Gan Hok San menghela napas panjang. “Dia adalah Majikan Pulau Naga dan dialah orangnya yang memusuhi kami sekeluarga dan yang berniat membunuh kami Suheng (kakak seperguruan ke dua). Karena itu, saya merasa heran apakah orang Mancu bekerja sama dengan Pek-Lian-Kauw dan bersekutu pula dengan Ouw Yang Lee yang sekarang menjadi pembantu Thaikam Liu Cin? Dan apa pula hubungannya dengan pembunuhan-pembunuhan dan fitnah yang dilemparkan kepada Siauw-Lim-Pai?”
“Omitohud... Semakin rumit dan mencurigakan!” kata Hui Sian Hwesio. “Mengapa begini kebetulan? Bangsa Mancu adalah musuh negara yang merupakan ancaman yang datang dari utara. Pek-Lian-Kauw terkenal sebagai gerombolan pemberontak yang berniat menggulingkan pemerintah. Adapun Thaikam Liu Cin seperti yang telah diketahui semua orang adalah pejabat tinggi yang berkuasa di istana, yang telah mempengaruhi Sribaginda Kaisar! Tiga pihak itu agaknya memiliki kepentingan yang sama dan kalau benar kecurigaan Pinceng ini, berarti Kerajaan terancam bahaya besar.”
“Saya kira pendapat Lo-Cianpwe Hwe Sian Hwesio ini benar sekali, Paman Gan. Agaknya tidak salah lagi bahwa pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan komplotan itu untuk menjatuhkan fitnah kepada Siauw-Lim-Pai dengan maksud mengadu domba antara partai pendukung Kerajaan sehingga akan melemahkan Kerajaan Beng. Di balik peristiwa pembunuhan orang-orang Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai dan penculikan terhadap Hui-moi ini tersembunyi rencana yang lebih besar dan penting yang menyangkut keamanan negara.”
Gan Hok San mengangguk-angguk. “Walaupun belum ada buktinya bahwa tiga golongan itu bersekutu dan tidak ada buktinya pula bahwa pembunuhan dan penculikan ini ada kaitannya, namun hal itu memang patut dicurigai.”
“Saya kira sudah cukup bahan-bahan penyelidikan saya dapatkan dan saya akan pergi sekarang juga untuk mencari Hui-moi,” kata Sin Cu sambil bangkit berdiri. “Saya mohon doa restu dari Paman dan Bibi, juga mohon doa restu dari Lo-Cianpwe di sini.”
“Kak Sin Cu, aku ikut!” tiba-tiba Li Hong berkata dengan nyaring. “Akupun harus ikut mencari dan menemukan enci Hui!”
“Hong-ji, jangan kira ini pekerjaan main-main!” kata Gan Hok San. “Kakakmu Sin Cu memikul tugas yang berat dan berbahaya!”
“Ayah, aku dapat membantu Cu-ko!” rengek Li Hong.
“Li Hong, jangan rewel. Apa yang dapat kau lakukan untuk membantu kakakmu Sin Cu? Pekerjaan ini berbahaya sekali, menghadapi orang-orang jahat yang amat lihai,” bujuk Sim Kui Hwa.
“Ibu, aku dapat membantu, aku dapat melawan para penjahat itu, aku dapat menjaga diri!” bantah Li Hong sambil berdiri dan mengepal dua tangannya, lagaknya seperti hendak bertanding.
“Omitohud, puterimu ini memiliki semangat besar, Gan-Sute. Kalau mendapat pendidikan yang benar, kelak ia akan dapat mengangkat nama Siauw-Lim-Pai.”
“Li Hong, jangan banyak membantah. Belum waktunya engkau menghadapi orang-orang jahat. Engkau tinggallah saja bersama ibumu. Aku memberi tugas kepadamu utuk menjaga keselamatan ibu. Kakakmu Sin Cu dan aku yang akan pergi mencari Hui-ji. Toa-Suheng dan Ji-Suheng, saya dan Sin Cu akan melakukan penyelidikan ini, mencari Hui-ji dan sekaligus mencari para pembunuh yang menggunakan nama Siauw-Lim-Pai. Saya titip isteri dan anak saya disini agar keselamatan mereka terjamin.”
“Baiklah, sute. Di pekarangan depan terdapat pondok untuk para murid yang bertugas jaga. Biar pondok itu dijadikan tempat tinggal sementara isteri dan anakmu sampai engkau kembali ke sini dan berhasil,” kata Hui Sian Hwesio.
Setelah mempersiapkan pondok jaga itu untuk tempat tinggal sementara isteri dan anaknya, dua hari kemudian Gan Hok San dan Sin Cu meninggalkan Kuil Siauw-Lim-Pai untuk melakukan perjalanan mencari Ouw Yang Hui dan sekalian menyelidiki pembunuhan-pembunuhan yang menggunakan nama Siauw-Lim-Pai itu. Setibanya dikaki pegunungan Sung-San, mereka berhenti untuk berunding.
“Sin Cu, aku kira agar hasil penyelidikan kita, lebih baik, kita berpencar saja. Dengan demikian lebih banyak kemungkinan kita akan menemukan Hui-ji.”
“Paman benar. Memang sebaiknya kita berpencar,” jawab Sin Cu.
“Ada tiga pihak yang patut kita curigai sehubungan dengan penculikan Hui-ji dan pembunuhan-pembunuhan mempergunakan nama Siauw-Lim-Pai itu. Pertama pihak Ouw Yang Lee dan kawan-kawannya yang mungkin sekali melakukan penculikan terhadap Ouw Yang Hui. Ke dua adalah Pek-Lian-Kauw karena Pangeran Yorgi yang berjuluk Si Banci Bergigi Emas itu mengenakan pakaian anggauta Pek-Lian-Kauw.
"Mencari Pangeran Yorgi tidak mudah karena dia adalah seorang Pangeran Mancu yang tinggal di luar Tembok Besar. Kini tinggal dua pihak yang sebaiknya kita selidiki, yaitu Ouw Yang Lee dan Pek-Lian-Kauw. Aku pernah bertemu dan mengenal ketua Pek-Lian-Kauw, karena itu biarlah aku yang menyelidiki ke sarang Pek-Lian-Kauw sedangkan engkau yang melakukan penyelidikan terhadap Ouw Yang Lee dan kawan-kawannya. Akan tetapi berhati-hatilah, Sin Cu.
"Selain Ouw Yang Lee itu lihai sekali, juga dia tentu mempunyai banyak kawan yang tinggi ilmu silatnya.nBaru Cui-Beng Kui-Bo itu saja sudah begitu lihai, Kalau dugaan kita benar bahwa Ouw Yang Lee yang menculik Hui-ji, engkau harus berusaha sekuatnya untuk dapat menyelamatkan Hui-ji. Setelah aku melihat keadaan Pek-Lian-Kauw dan menyelidiki di sana, tentu akupun akan segera menyusulmu ke kota raja. Mudah-mudahan kita akan berhasil, Sin Cu.”
“Baiklah, Paman Gan. Saya akan berusaha sekuat kemampuan saya,” kata Sin Cu.
Kedua orang itu lalu berpisah. Sin Cu langsung saja pergi menuju ke kota raja sedangkan Gan Hok San melakukan perjalanan ke sarang Pek-Lian-Kauw yang berada di sebelah barat kota raja.
Ouw Yang Hui tidak mampu bergerak atau bersuara. la merasa tubuhnya lunglai, lemas dan tidak berdaya berada di atas pundak orang yang memanggul dan melarikannya itu. la masih dapat melihat betapa kekasih hati atau tunangannya, melakukan pengejaran. Akan tetapi orang yang memanggulnya itu berlari seperti terbang cepatnya dan sebentar saja sudah tiba di dalam hutan lebat. la dibawa lari terus dan ia harus memejamkan matanya karena merasa ngeri melihat tubuhnya meluncur dengan amat cepatnya.
Biarpun tubuhnya tidak mampu bergerak dan tidak dapat mengerahkan tenaga, namun dipanggul seperti itu sampai lama, Ouw Yang Hui merasa lelah sekali. Akhirnya, setelah orang yang membawanya lari itu merasa bahwa tidak ada orang yang mengejarnya dan mereka sudah tiba jauh sekali dari Pegunungan Sung-San, orang itu menurunkan tubuh Ouw Yang Hui dan membebaskan totokannya.
Dengan lemas dan lelah Ouw Yang Hui terkulai dan duduk di atas rumput. Akan tetapi gadis yang lemah lembut ini sama sekali tidak menangis, bahkan ia mengangkat muka memandang kepada penculiknya yang berdiri di depannya.
Laki-laki itu berusia kurang lebih empat puluh tahun. Pakiannya mewah dan dia seorang pesolek. Pada bajunya di bagian dada terdapat lukisan setangkai bunga teratai putih. Pakaiannya dari sutera mahal dan sepatunya baru mengkilap. Lehernya memakai kalung emas yang besar bertaburkan intan permata. Juga rambut yang ditutup topi bulu itu dihias tusuk rambut dari emas permata.
Tubuhnya tinggi kurus Wajahnya cukup tampan, akan tetapi kewanita-wanitaan. Bahkan ada bekas bedak dan yanci (pemerah) pada pipi dan Bibirnya. Senyum dan pandang matanya genit. Ada sesuatu yang mengerikan terasa oleh Ouw Yang Hui ketika ía mengamati wajah orang itu. Orang itu memandang wajah Ouw Yang Hui dan sepasang matanya menyinarkan kekaguman.
“Wah, engkau cantik sekali seperti bidadari!”
Akan tetapi Ouw Yang Hui menangkap sesuatu yang aneh dalam pandang mata itu. Bukan kekaguman seperti yang terdapat pada mata pria biasa, kagum dan bergairah. Sama sekali tidak. Akan tetapi dalam pandang mata orang ini terdapat kekaguman yang bercampur iri hati dan kebencian. Akan tetapi, sesuai dengan wataknya yang memang lembut, setelah dapat menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku dan dapat bicara, Ouw Yang Hui bangkit berdiri, memandang wajah orang Itu dan bertanya,suaranya lembut.
“Paman, engkau siapakah?”
“Paman? Aku bukan Pamanmu!” seru orang itu dan Ouw Yang Hui kembali merasa aneh dan ngeri karena suara orang itu tinggi seperti suara wanita! Juga logat bicaranya terdengar asing.
“Aku Pangeran Yorgi, sebut aku Pangeran, bukan Paman. Paman? Huh, engkau menghina, ya?”
Ouw Yang Hui tertegun, merasa seolah berhadapan dengan seorang yang miring otaknya. Akan tetapi ia tahu benar bahwa orang ini lihai sekali sehingga Sin Cu juga tidak mampu mengejarnya. Larinya cepat seperti terbang. Dan melihat pakaian dan perhiasannya yang mewah dan mahal, la percaya bahwa mungkin saja orang ini memang seorang Pangeran, entah bangsa apa karena logat bicaranya jelas menunjukkan bahwa dia seorang asing.
“Baiklah, Pangeran Yorgi dan maafkan karena tadinya aku tidak mengerti. Akan tetapi, engkau seorang Pangeran mengapa menculik aku?”
“Aku mau menculik siapapun, siapa yang dapat melarang dan menghalangi aku?”
“Pangeran, kulihat engkau seorang yang memiliki ilmu silat tinggi. Sepatutnya engkau mempergunakan ilmu yang kau miliki itu untuk melakukan kebaikan di dunia ini, menolong orang dan menentang kejahatan. Akan tetapi mengapa engkau malah menculik aku? Di mana kegagahanmu?” Ouw Yang Hui mencela dengan ucapan yang lembut.
“Hi-hi-hik! Justeru menculikmu inilah perbuatan yang gagah berani, tanda bahwa aku seorang yang gagah perkasa dan tanpa tanding! Menculik gadis yang dilindungi oleh Pendekar Gan Hok San, di depan para pimpinan Siauw-Lim-Pai, tokoh-tokoh Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai! Hi-hik, perbuatanku ini akan menggegerkan dunia kang-ouw!”
“Akan tetapi, Pangeran. Apa yang akan kau lakukan terhadap diriku?”
Pangeran Yorgi mengamati wajah gadis yang jelita itu. “Apa yang akan kulakukan? Hi-hi-hik, aku akan membiarkan engkau diperebutkan banyak laki-laki, dicabik-cabik! Aku ingin melihat engkau tersiksa, menangis dan meraung, menyesal bahwa engkau telah dilahirkan di dunia ini, hi-hik..!”
Ouw Yang Hui mengerutkan alisnya yang kecil hitam melengkung indah. “Akan tetapi, mengapa engkau begitu kejam terhadap diriku? Apa kesalahanku kepadamu, Pangeran Yorgi?”
“Kesalahanmu? Engkau terlalu cantik jelita! Engkau membuat aku kelihatan buruk! Karena itu engkau harus hancur, agar engkau menjadi jelek dan tidak ada orang menyenangimu!”
Ouw Yang Hui menjadi semakin ngeri, makin kuat dugaannya bahwa ia berhadapan dengan seorang gila. Seorang gila yang amat lihai! la hendak bicara lagi untuk menyadarkan orang itu, akan tetapi baru saja ia membuka bibir hendak bicara, Pangeran itu sudah membentaknya.
“Cukup, jangan bicara lagi, cerewet amat sih! Aku lelah dan mengantuk, hendak tidur sebentar!” Setelah berkata demikian, Pangeran Yorgi duduk bersandar kepada sebatang pohon, melenggut dan sebentar saja dia sudah mendengkur!
Melihat-ini, Ouw Yang Hui lalu bergerak perlahan, melangkah dengan hati-hati agar jangan membuat suara, meninggalkan tempat itu. Berkali-kali ia menoleh dan hatinya lega melihat penculiknya itu masih mendengkur. Setelah cukup jauh, ia lalu berlari. la berlari sekuat tenaga dan secepatnya. la harus dapat melarikan diri dari orang gila yang amat lihai dan berbahaya itu. Ouw Yang Hui bukan tidak tahu bahwa di hutan besar seperti itu tentu terdapat banyak binatang buas.
Akan tetapi ia akan memilih menjadi korban binatang buas dari pada terjatuh kembali ke tangan orang gila itu. la ngeri membayangkan betapa orang gila itu akan melampiaskan kepuasan hatinya melihat ia tersiksa. la membayangkan bahwa di tangan orang gila Itu, ia akan mengalami penderitaan yang lebih mengerikan dari pada maut.
Dengan napas terengah-engah Ouw yang Hui berlari terus sampai akhirnya ia terpaksa berhenti karena, di depannya menghadang sebuah jurang yang menganga lebar dan dalam. la mengambil jalan ke kiri, melalui sebuah padang rumput yang tebal. Akan tetapi tiba-tiba ia tersentak kaget sekali, matanya terbelalak, wajahnya pucat dan napasnya terhenti seolah lehernya tercekik karena dari balik semak belukar berlompatan tujuh orang laki-laki yang kasar dan bengis.
Mereka berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, pakaian mereka kumal. Tubuh mereka kotor dan wajah mereka yang penuh kumis dan jenggot itu menyeringai seperti muka-muka binatang buas. Sambil terkekeh dan gembira sekali mereka berlompatan mengepung Ouw Yang Hui, memandang gadis itu dengan mata merah dan mulut berliur, pandang mata mereka seolah hendak menelan bulat-bulat gadis yang jelita itu.
“Waduh, ada bidadari...!
“Wah, cantiknya!”
“Biarkan aku memeluknya!”
“Aku dulu!”
“Tidak, aku dulu!”
Mereka berteriak-teriak dan mengepung semakin ketat. Seorang dari mereka yang bertubuh paling tinggi besar, mukanya penuh brewok sehingga muka itu seperti seekor orang hutan, menggereng dan berseru nyaring.
“Mundur kalian semua! Yang ini untuk aku dulu. Biarkan aku menangkapnya sendiri!”
Mendengar seruan yang disertai geraman marah itu, enam orang yang lain terpaksa mundur sambil sambil bersungut-sungut. Sikap mereka seperti segerombolan anjing yang hendak memperebutkan tulang. Ouw Yang Hui hampir pingsan saking ngerinya. Akan tetapi ia teringat bahwa dirinya terancam bahaya dan bahwa ia harus mempertahankan diri sekuat mungkin.
Tekad ini mendatangkan semangat. Ia memang belum mempelajari ilmu silat untuk berkelahi, akan tetapi setidaknya ia pernah digembleng dasar-dasar ilmu silat ketika masih tinggal di Pulau Naga, kemudian bahkan ia dilatih ilmu langkah ajaib Chit-Seng Sin-Po oleh Sin Cu. Ilmu ini cukup baginya untuk menghindarkan diri dari gangguan orang. Raksasa kumal yang menjadi pemimpin gerombolan itu menyeringai.
“Marilah, manis. Mari kupeluk dan kupondong!” Dia lalu maju menubruk untuk merangkul gadis yang cantik jelita itu.
Akan tetapi dia terkejut karena tubrukannya mengenai tempat yang kosong dan gadis itu sudah mengelak dengan gerakan kaki aneh. Tubrukannya yang luput tentu saja memancing tawa teman-temannya. Si brewok menjadi penasaran, akan tetapi dia masih tertawa-tawa, gembira, merasa seperti seekor harimau yang bermain-main dengan seekor domba muda sebelum merobek-robek kulit dagingnya dan melahapnya. Dia menubruk lagi.
Ouw Yang Hui menghindar lagi dengan langkahnya yang membuat tubuhnya menggeliat dan luput dari terkaman kepala gerombolan itu. Penjahat itu menjadi semakin penasaran dan kini dia nempercepat gerakannya. Namun, sampai lima kali dia menerkam, tetap saja terkamannya tidak mengenai sasaran. Ouw Yang Hui maklum bahwa mengelak terus tidak akan dapat membebaskannya dari ancaman.
Maka setelah mengelak sekali lagi dengan langkah lebar ke samping, ia lalu melarikan diri secepatnya! Tujuh orang itu sambil tertawa-tawa dan berteriak-teriak melakukan pengejaran seperti segerombolan srigala mempermainkan seekor domba. Ouw Yang Hui berlari secepatnya. Namun karena padang rumput itu penuh rumput gemuk yang setinggi lutut, kedua kakinya terbelit-belit rumput dan akhirnya iapun terguling jatuh.
Melihat gadis itu terpelanting dan jatuh di antara rumput hijau yang tebal, tujuh orang itu saling berebut menubruk. Mereka tidak memperdulikan lagi pimpinan mereka dan tangan-tangan. kasar itu menjangkau ke arah tubuh Ouw Yang Hui.
Gadis itu merasa ngeri dan takut, menjerit-jerit ketika tangan-tangan itu menyentuh tubuhnya. Sementara itu, di balik sebuah semak, Pangeran Yorgi berjongkok dan mengintai. la menyeringai girang melihat betapa gadis itu dikeroyok tangan-tangan kasar itu. Matanya bersinar-sinar penuh gairah ketika tangan-tangan itu berebutan.
“Tolooonggg...!” Baju Ouw Yang Hui tertarik robek sehingga tampak pundak kiri berikut lengan kirinya yang berkulit putih mulus, juga celananya robek sehingga memperlihatkan paha dan betis kaki kanannya. Akan tetapi tujuh orang itu malah tertawa-tawa senang melihat gadis itu meronta dan menggeliat, bahkan jeritan itu terdengar menyenangkan sekali hati mereka yang sudah dipenuhi nafsu rendah.
Kini keadaan Ouw Yang Hui sudah gawat sekali. Tangan-tangan itu sudah siap menelanjangi dan mereka agaknya akan berebutan untuk memperkosanya. Melihat ini, tiba-tiba Pangeran Yorgi melompat. Gerakannya seperti seekor burung terbang saja. Tahu-tahu dia sudah berada dekat tempat di mana Ouw Yang Hui dikeroyok tangan-tangan kotor itu.
“Mundur! Kalian anjing-anjing busuk mundur...! Gadis itu adalah milikku dan tanpa seijinku, siapapun juga dilarang menyentuhnya!” Suaranya tinggi melengking.
Mendengar teriakan seperti wanita itu tujuh orang yang sedang berusaha keras menelanjangi Ouw Yang Hui yang meronta-ronta dan mempertahankan diri, terkejut dan mereka cepat menengok, mengira akan melihat seorang wanita cantik lainnya. Akan tetapi ketika mereka melihat bahwa yang membentak itu seorang laki-laki tinggi kurus dan tampaknya lemah saja, mereka menjadi marah.
Mereka mendengus dan berlompatan berdiri menghadapi Pangeran Yorgi seperti segerombolan anjing yang memperebutkan tulang diganggu. Kepala gerombolan itu dengan mata merah dan muka membayangkan kebuasan, dengan kedua tangan dikepal menjadi tinju-tinju yang besar dan kokoh kuat, melangkah maju dan membentak.
“Dari mana datangnya seekor cacing tanah yang berani mengganggu kesenangan kami? Apa engkau sudah bosan hidup?”
“Hi-hik, bukan aku yang bosan hidup, melainkan kalian bertujuh yang sudah menjadi calon bangkai!”
Sementara itu, Ouw Yang Hui sudah bangkit, mencoba dengan kedua tangan untuk menutupkan baju dan celananya agar pundak dan pahanya tidak tampak. la mundur dan memandang dengan muka pucat. Tubuhnya yang berkulit halus lembut itu merasa nyeri semua bekas jamahan dan remasan tangan-tangan kotor tadi, la memandang bingung.
Terhadap Pangeran aneh itu ia merasa ngeri, akan tetapi menghadapi tujuh orang kasar dan hina itu iapun merasa takut sekali. Mendengar ucapan Pangeran Yorgi, raksasa brewok itu menjadi marah. Dia adalah pemimpin gerombolan liar yang kasar dan tanpa memperdulikan tata cara di dunia kangouw, dia sudah mencabut golok besarnya, siap untuk membunuh lawan yang tampak kurus dan tidak bersenjata itu.
“Jahanam, hayo cepat katakan namamu sebelum engkau menjadi mayat tanpa nama!” bentak penimpin gerombolan.
“Hi-hi-hik! Namaku...? Namaku adalah Pembunuh Tujuh Ekor Anjing Busuk!”
Tentu saja kepala gerombolan itu marah sekali karena jelas bahwa mereka bertujuh yang dimaki. Maka diapun mengayun golok besarnya, membacok ke arah kepala Pangeran Yorgi dengan sekuat tenaga, agaknya dia ingin membelah kepala itu dengan satu kali bacokan.
“Singggg...!” Dengan sedikit miringkan kepalanya, Pangeran Yorgi sudah dapat mengelak dan golok itu menyambar di samping tubuhnya. Secepat kilat tangan kiri Pangeran Yorgi bergerak, jari telunjuknya menyambar dan menotok ke arah pelipis kanan kepala gerombolan.
“Tukk...! Auugh... tubuh tinggi besar itu terjengkang dan terbanting roboh, goloknya terlepas dan diapun tidak berkutik lagi karena sudah tewas seketika. Di pelipis kanannya terdapat lubang sebesar jari yang mengeluarkan darah bercampur otak! Enam orang anak buah gerombolan itu menjadi terkejut dan marah sekali.
Mereka adalah orang-orang kasar yang biasanya memaksakan kehendak mereka dan harus dituruti semua kehendak itu, orang-orang yang tidak pernah merasakan apa artinya kekalahan. Selalu menang mengandalkan kekerasan dan pengeroyokan. Karena itu, melihat tewasnya pimpinan mereka, enam orang itu tidak menyadari bahwa mereka berhadapan dengan seorang lawan yang memiliki kepandaian tinggi, sebaliknya mereka malah menjadi, marah bukan main.
Mereka mencabut golok dan menyerbu Pangeran Yorgi sambil berteriak-teriak seperti segerombolan srigala yang menyerang sambil menyalak-nyalak. Diserang oleh enam orang yang mengeroyoknya dengan golok di tangan itu, Pangeran Yorgi malah tertawa dan sekali dia berkelebat, enam orang itu tertegun karena lawan yang mereka keroyok telah menghilang!
Demikian cepat gerakan Si Banci Bergigi Emas ini sehingga enam orang itu tidak mampu mengikuti gerakannya dengan pandang mata dan mengira si tinggi kurus itu menghilang. Tahu-tahu, bayangan Pangeran Yorgi berkelebat di belakang mereka, tangannya menyambar-nyambar.
“Plak-plak-plak!” Tangan Pangeran Yorgi menampar tengkuk para pengeroyoknya dan sekali kena tamparan tangannya, orang-orang itu terpelanting roboh dan tidak mampu bangkit kembali karena kepala mereka retak dan mereka tewas seketika.
Satu demi satu roboh dan Pangeran Yorgi berdiri sambil terkekeh-kekeh melihat tujuh orang itu telah menggeletak, semua tanpa nyawa! Ouw Yang Hui berdiri dengan kedua tangan memegangi baju dan celananya yang robek, mukanya pucat dan hatinya merasa ngeri sekali. Pangeran Yorgi sudah menyelamatkannya dari tangan kotor tujuh, orang itu, akan tetapi hal ini berarti bahwa ia terjatuh lagi ke dalam tangan Pangeran asing yang mengerikan itu.
Orang tinggi kurus itu membunuh tujuh orang demikian mudahnya dan kini tertawa-tawa senang! Ketika Pangeran Yorgi mendadak memutar tubuhnya menghadapi Ouw Yang Hui dan menatap matanya, gadis itu bergidik dan merasa betapa tubuhnya menjadi panas dingin, jantungnya berdebar keras penuh ketegangan. Akan tetapi Pangeran itu tertawa.
“Hi-hi-hik, senang sekali melihat engkau dijadikan rebutan tadi. Sungguh merupakarn pemandangan yang menarik, sekali. Sayang, terpaksa kuhentikan pertunjukan yang menggairahkan itu karena aku tidak ingin menyerahkan engkau dalam keadaan rusak, heh-heh-heh!” Ouw Yang Hui bergidik.
“Menyerahkan aku kepada siapa?”
“Kepada siapa saja yang kukehendaki. Hayo jalan ikut aku.”
“Tidak, aku tidak sudi, biar kau bunuhpun aku tidak sudi!” kata Ouw Yang Hui yang timbul keberaniannya karena jika ia ikut orang aneh ini, tentu ia akan menghadapi penderitaan hebat.
“Heh-heh, tidak mau biarpun aku membunuhmu? Enak saja dibunuh. Kalau engkau kubunuh, aku mendapatkan apa? Akan tetapi kalau engkau tidak mau ikut, akan kutinggalkan di sini. Biar nanti muncul puluhan orang seperti mereka ini dan engkau akan dicabik-cabik seperti seekor domba dijadikan rebutan puluhan ekor srigala. Nah, selamat tinggal!” Pangeran Yorgi membalikkan tubuh dan pergi dari situ.
Ouw Yang Hui terbelalak mendengarkan ucapan itu. Membayangkan betapa dirinya ditangkap oleh orang-orang seperti tujuh orang yang telah mati itu, dia bergidik dan menggigil. “Tunggu, Pangeran...!” teriaknya.
Pangeran Yorgi berhenti melangkah, menoleh dan menyeringai. Maksudnya hendak tersenyum manis dan memang wajahnya cukup manis, akan tetapi ketika menyeringai itu, bagi Ouw Yang Hui tampak mengerikan dan menjijikkan, seperti melihat orang gila tersenyum. “Mau ikut juga? Cepatan!” katanya.
“Akan tetapi aku tidak dapat berjalan cepat, Pangeran, Pakaianku ini membuat aku tidak leluasa berjalan,” kata Ouw Yang Hui sambil kedua tangannya memegangi bagian baju dan celana yang terobek lebar.
“Ahh, anjing-anjing busuk itu!” Pangeran Yorgi memaki, lalu dia mengambil seperangkat pakaian dari buntalan pakaiannya dan menyerahkannya kepada Ouw Yang Hui.
“Cepat pakai ini untuk menutupi pakaianmu yang robek!” perintahnya dengan sikap tak sabar.
Ouw Yang Hui menerima pakaian serba kuning itu. Tentu saja ia tidak mau berganti pakaian di depan orang itu, Baju dan celana kuning itu terlalu panjang dan besar baginya. Maka iapun lalu mengenakan pakaian itu di luar pakaiannya sendiri yang robek. Tentu saja kebesaran dan kepanjangan sehingga kedodoran, akan tetapi ia tidak perduli karena setidaknya pakaian serba kuning itu dapat menutupi pundak dan pahanya. Dalam keadaan seperti itu, mana ada ingatan untuk berdandan dengan baik?
“Hayo kita pergi!” Pangeran Yorgi kembali memerintah dan Ouw Yang Hui melangkah dan mengikuti orang itu dan menenangkan hatinya.
la teringat akan pelajaran dalam kitab-kitab kuno yang pernah dibacanya bahwa dalam keadaan di mana usaha tenaga dan pikiran kita tidak berdaya lagi, maka jalan terbaik hanyalah menyerahkan diri dengan segala kepasrahan kepada Thian. Tuhan adalah penentu hidup dan matinya, maka setelah segala usaha sendiri tidak menolong, maka terserahlah kepada Tuhan apa yang akan terjadi pada dirinya. Dengan kepasrahan ini hilanglah semua rasa ngeri dan takutnya dan hati akal pikirannya menjadi tenang.
Di sebelah barat kota Pao-Ting, di bagian dalam Tembok Besar, di antara pegunungan yang berbukit-bukit, terdapat sebuah perkampungan yang terpencil di lereng bukit, jauh dari pedusunan dan tempat ini tidak mudah dikunjungi orang. Bahkan jarang ada orang tahu atau mengenal perkampungan ini. Di situlah sebuah cabang Pek-Lian-Kauw yang besar berada.
Pek-Lian-Kauw (Agama Teratai Putih) adalah sebuah perkumpulan rahasia yang sebetulnya bukan perkumpulan agama biasa, melainkan sebuah perkumpulan yang memberontak dan tidak suka kepada pemerintah Kerajaan Beng. Agamanya sendiri lebih merupakan kebatinan yang mempelajari tentang ilmu sihir.
Pusat Pek-Lian-Kauw tidak diketahui orang karena selalu dikejar-kejar pemerintah dan selalu berpindah-pindah. Yang kadang diketahui orang adalah cabang-cabangnya. Inipun seringkali berpindah tempat. Akan tetapi cabang yang berada di sebelah barat kota Pao-Ting itu merupakan cabang besar, yang hanya diketahui orang-orang kangouw.
Pada suatu hari, tampak seorang laki laki gagah perkasa berusia lima puluh tahun lebih, berjalan mendaki lereng, keluar masuk hutan. Dia melangkah dengan tegapnya dan seorang diri saja. Sebatang pedang di punggung dan sikapnya yang gagah membuat orang mudah menduganya bahwa dia tentu seorang pendekar atau setidaknya seorang ahli silat.
Kalau bukan seorang gagah perkasa, tentu tidak akan berani mengunjungi tempat yang terkenal angker itu. Bahkan para pemburu yang gagah berani sekalipun tidak berani berburu binatang di wilayah yang dikuasai oleh cabang Pek-Lian-Kauw itu. Laki-laki gagah perkasa itu adalah Gan Hok San, pendekar Siauw-Lim-Pai yang terkenal di dunia persilatan.
Seperti kita ketahui, Gan Hok San bersama Wong Sin Cu mencari Ouw Yang Hui yang dilarikan penculik. Dalam usaha pencarian mereka, kedua orang ini berpencar dan membagi tugas. Karena mereka melihat ada dua kemungkinan yang melakukan penculikan, yaitu Ouw Yang Lee atau pihak Pek-Lian-Kauw, maka Wong Sin Cu bertugas menyelidiki Ouw Yang Lee dan kawan-kawannya di kota raja.
Sedangkan Gan Hok San melakukan perjalanan ke cabang Pek-Lian-Kauw di perbukitan itu. Pagi yang cerah itu Gan Hok San sudah mendaki bukit, keluar masuk hutan menuju ke perkampungan yang dikenal sebagai daerah gawat, berbahaya dan terlarang bagi orang luar itu...