|
| Karya Kho Ping Hoo |
Sepasang Rajah Naga Jilid 18 - SONG BU tersenyum. Biarlah kalau mereka memberinya nama julukan, begitu. Julukan yang cukup baik dan sesuai dengan rajah naga di dadanya. Dia memang ingin menjadi seorang pendekar, seperti seekor naga hitam yang terbang melayang di angkasa, memperlihatkan kegagahannya.
Akan tetapi dia teringat akan kedudukannya di kota raja. Dia menjadi pembantu Thaikam Liu! Dan rekan-rekannya adalah datuk-datuk jahat dan sombong. Dia teringat betapa tugasnya yang pertama kali adalah disuruh membunuh Pangeran Ceng Sin sekeluarga, padahal Pangeran Ceng Sin adalah seorang bangsawan yang baik. Anak perempuannya yang bernama Ceng Loan Cin itu juga seorang anak pemberani yang berwatak gagah perkasa!
Song Bu meninggalkan Houw-San sambil termenung. Dia tidak akan bertindak sebagai pendekar kalau membiarkan dirinya menjadi kaki tangan Thaikam Liu Cin dan menjadi rekan orang-orang seperti Im Yang Tojin yang berkhianat terhadap Im Yang Kauw, Tho Te Kong yang sombong, Hek Pek Moko yang berwatak kejam, dan Cui-Beng Kui-Bo yang kejam dan cabul. Diapun merasa heran mengapa Ayah angkat dan juga gurunya itu mau bergaul dengan datuk-datuk macam itu dan mau pula menjadi kaki tangan Thaikam Liu Cin.
“Aku harus meninggalkan mereka, harus mencari alasan untuk meninggalkan mereka,” pikirnya..“Sribaginda Kaisar demikian bijaksana dan baik, akan tetapi Thaikam Liu Cin agaknya tidak suka kepada Kaisar. Lebih baik aku mencari adik Ouw Yang Lan dan Ibunya. Lo Cit sudah mati Kini tinggal mencari Thai-Lek-Kui Ciang Sek yang merupakan orang ke dua yang menyerbu Pulau Naga. Mudah-mudahan melalui Ciang Sek aku akan dapat menemukan Ouw yang Lan dan Ibunya.” Pikiran ini menambah semangat Song Bu dan mulailah dia melakukan perjalanan menuju pegunung Thai-San.
Thai-Lek-Kui Sek sedang duduk berbincang-bincang dengan Lai Kim, isterinya. Majikan Bukit Awan Putih ini sudah berusia lima puluh dua tahun, namun dia masih tampak gagah. Tubuhnya tinggi besar dan kokoh kuat, mukanya yang merah itu masih belum dihias keriput, bahkan rambut kumis dan jenggotnya masih hitam.
Adapun Lai Kim, wanita yang telah dua belas tahun menjadi isterinya itu, yang kini telah berusia empat puluh tiga tahun, juga masih tampak cantik dan bertubuh ramping. Tahi lalat di pipi kirinya menambah manis wajah wanita ini. Pada sore hari itu mereka bercakap-cakap tentang Ouw Yang Lan, puteri bawaan Lai Kim atau anak tiri Ciang Sek yang disayangnya seperti anak kandung sendiri.
“SunggUh heran sekali anak itu!” kata Ciang Sek. “Sudah tiga bulan lebih ia pergi dan sampai sekarang belum juga pulang. Kemana saja perginya Lan-ji (anak Lan)?”
“Aku juga merasa khawatir sekali kalau-kalau ia mengalami halangan. Sebetulnya aku merasa tidak setuju sama sekali kalau ia pergi ke Pulau Naga. Ouw Yang Lee itu orangnya keras hati dan kejam sekali. Untuk apa anak itu pergi ke sana?” kata Lai Kim sambil mengerutkan alisnya.“Tidak perlu khawatir, isteriku. Lan-ji bukan gadis lemah. la mampu menjaga dan membela diri kalau ada bahaya mengancamnya. Pula, ia berhak mengunjungi pulau tempat lahirnya untuk menemui Ayah kandungnya. la sudah dewasa dan aku tidak berhak melarangnya, apalagi ia pergi tanpa pamit.”
“Akan tetapi ia masih belum banyak pengalaman, suamiku. Kuharap engkau suka menyusul dan mencarinya, mengajaknya pulang. Sungguh amat tidak baik bagi seorang gadis dewasa untuk berkeliaran seorang diri di dunia ramai yang banyak mengandung bahaya. Hatiku gelisah selalu."
“Baiklah. Kita tunggu sampai tiga hari lagi. Kalau ia belum juga pulang, aku akan pergi menyusul dan mencarinya,” kata Ciang Sek, dan Lai Kim tersenyum lega.
Suaminya ini memang amat sayang kepadanya dan puterinya dan diam-diam ia merasa bersukur. Alangkah jauh bedanya antara sikap Ciang Sek dan sikap Ouw Yang Le ketika masih menjadi suaminya dahulu. Ouw Yang Lee keras hati dan galak, mau menang sendiri dan menganggapnya sebagai pemuas napsu belaka. Sebaliknya dari Ciang Sek ia mendapatkan kasih sayang, penghargaan dan penghormatan.
Pada saat itu terdengar daun pintu ruangan itu diketuk orarng dari luar. Ciang sek mengangkat muka memandang ke arah pintu dan berkata,.“Siapa itu? Masuk sajalah.”
Seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus masuk. Dia adalah Gu Tian, berusia kurang lebih empat puluh lima tahun. Gu Tian ini adalah Sute (Adik Seperguruan) dan juga pembantu utama Ciang Sek.
“Ah, kiranya Gu-Sute! Duduklah, Sute. ada keperluan apakah?”
“Maaf kalau aku mengganggu, Suheng dan Soso (Kakak Ipar). Saya hanya ingin memberitahu bahwa di luar rumah ada seorang tamu yang hendak bertemu dan bicara dengan Suheng.”
“Hemm, siapakah dia dan apa kepentingannya hendak bertemu dan bicara denganku?”
“Sudah kutanyakan hal itu kepadanya, Suheng. Akan tetapi dia tidak mau mengaku hanya berkata bahwa dia akan bicara dengan Suheng dan katanya Suheng pasti tahu siapa dia,” kata Gu Tian. “Kalau Suheng merasa terganggu dan tidak ingin menemuinya, biar aku yang akan mengusirnya.”
“Tidak baik mengusir seorang tamu yang datang berkunjung,” kata Lai Kim kepada suaminya. “Kalau dia sudah datang ke sini, tentu ada keperluan penting dan sebaiknya kalau tamu itu ditemui dan ditanya apa keperluannya.”
Dalam banyak hal, Ciang Sek yang biasanya berwatak keras itu menjadi lunak kalau sudah diingatkan isterinya tersayang. Dia memandang isterinya dan tersenyum lalu berkata kepada Gu Tian, “Gu Sute, aku akan menemui tamu itu.” Dia lalu bangkit berdiri.
“Biar aku ikut,” tiba-tiba Lai Kim berkata. “Entah mengapa, hatiku merasa tidak enak.” Isteri itupun bangkit dan menemani suaminya keluar dari rumah untuk menemui tamu yang tidak mau memperkenalkan diri kepada orang lain kecuali tuan rumah itu. Gu Tian juga mengikuti Suhengnya keluar.
Setelah tiba di luar rumah, mereka melihat seorang laki-laki berusia hampir enam puluh tahun, bertubuh tinggi besar berjenggot panjang dan sikapnya gagah. Melihat laki-laki itu, wajah Lai Kim berubah pucat dan tangan kirinya menutupi mulutnya agar tidak menjerit. la berseru lirih. “Ouw Yang Lee!”
Ciang Sek terkejut mendengar isterinya menyebut nama itu. Walaupun dia pernah membantu Lo Cit menyerbu Pulau Naga, namun dia belum pernah bertemu dengan Ouw Yang Lee. Dia tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan majikan Pulau Naga itu. Dahulu itu dia hanya membantu Lo Cit yang menjadi sahabat lamanya. Kini mendengar bahwa laki-laki itu adalah bekas suami isterinya, tentu saja dia terkejut.
Ouw Yang Lee menudingkan telunjuknya ke arah Lai Kim dan memaki, “Perempuan hina tak tahu malu!”
“Kiranya engkau ini Ouw Yang Lee majikan Pulau Naga?” kata Ciang Sek sambil melangkah maju menghadapinya. "Lai Kim telah menjadi isteriku yang tersayang. Engkau tidak boleh merampasnya, juga tidak boleh memaki menghinanya!"
Ouw Yang Lee tertawa mengejek. “Ha-ha-ha, orang she Ciang! Engkau hadiahkan wanita itu dengan cuma-cuma kepadaku sekalipun aku tidak sudi menerimanya! Aku hanya ingin membunuh wanita tak tahu malu itu!”
Lai Kim terisak dan ia lalu lari ke dalam rumah, tak tahan mendengar makian dan penghinaan Ouw Yang Lee. Ciang Sek marah bukan main..“Ouw Yang Lee, tutup mulutmu yang kotor! Engkau mengancam hendak membunuh isteriku? Boleh, akan tetapi langkahi dulu mayatku kalau engkau berani!”
Ouw Yang Lee tertawa lagi. Suara tawanya mengandung sinkang yang kuat sehingga menggetarkan jantung orang-orang yang berada di situ. Kini anak buah Pek-In-San berdatangan dan pekarangan rumah itu penuh dengan mereka.
“Ha-ha-ha-ha! Ciang Sek, percuma saja engkau berjuluk Thai-Lek-Kui kalau engkau hanya mengandalkan banyak orang untuk menghadapi lawan dengan, keroyokan. Engkau ternyata hanyalah seorang pengecut besar!”
Ouw Yang Lee menertawakannya. wajah Ciang Sek yang sudah kemerahan itu kini, menjadi semakin merah. Dia memandang kepada anak buahnya dan membentak mereka, “Kalian semua keluar dari pekarangan ini dan jangan mencampuri pertandingan antara kami berdua!”
Para anak buah itu lalu keluar pekarangan dan hanya berdiri nonton dari kejauhan. Yang tinggal di pekarangan depan, rumah kini tinggal Ouw Yang Lee yang berhadapan dengan Ciang Sek, sedangkan Gu Tian berdiri agak mundur ke belakang.
“Bagus, sekarang baru aku melihat bahwa Thai-Lek-Kui Ciang Sek adalah seorang laki-laki sejati! Akan tetapi hari ini engkau. harus menebus dosa-dosamu kepadaku dengan nyawamu. Engkau membantu Lo Cit menyerbu Pulau Naga. Engkau menculik isteri dan anakku, bahkan sekarang engkau, mengambil seorang isteriku menjadi isterimu. Semua itu hanya dapat ditebus dengan nyawamu!” Ouw Yang Lee mencabut pedang yang tergantung di punggungnya.
“Ouw Yang Lee, aku tidak akan menyangkal perbuatan yang telah kulakukan dan aku berani bertanggung jawab. Aku membantu Lo Cit karena dia memang sahabatku dan engkau telah berulang kali menyerang dan menghinanya, membunuh banyak anak buahnya. Kami menculik isteri-isteri dan anak-anakmu untuk memberi pelajaran atas kesombonganmu. Akan tetapi aku sama sekali tidak memaksa Lai Kim menjadi isteriku. Kami menikah atas dasar saling mencinta. Tidak perlu engkau mengancam karena aku sama sekali tidak takut akan ancamanmu. Mari kita selesaikan urusan di antara kita di ujung pedang!”
Setelah berkata demikian, Ciang Sek juga mencabut pedangnya. Dua orang laki-laki yang sama tinggi besar dan gagahnya itu kini saling berhadapan, dengan pedang tajam mengkilap di tangan! Keduanya sama-sama maklum bahwa mereka berhadapan dengan lawan yang tangguh. Biarpun mereka belum pernah saling berkelahi, namun mereka sudah saling mendengar nama masing masing yang cukup terkenal di dunia kang-ouw.
“Ciang Sek, bersiaplah untuk mampus!” seru Ouw Yang Lee sambil memasang kuda-kuda, tubuhnya merendah dengan kaki terpentang lebar, pedang di tangan kanan menuding ke arah muka lawan sedangkan dua jari tangan kiri menempel pada pergelangan tangan kanan. Inilah pembukaan dari ilmu pedang Coat-Beng Tok-Kiam (Pedang Racun Pencabut Nyawa). Sebagai seorang ahli racun yang berjuluk Tung-Hai-Tok (Racun Laut Timur), tentu saja pedang di tangan Ouw Yang Lee itu mengandung racun yang amat berbahaya. Tergores sedikit saja yang menyayat kulit sudah cukup untuk merenggut nyawa lawan!
“Engkau atau aku yang akan mati!” jawab Ciang Sek dan majikan Pek-In-San inipun sudah memasang kuda-kuda. Dia berdiri dengan kedua kaki rapat dan berjingkat, pedang di tangan kanan menuding ke atas dan tangan kiri menudingkan telunjuk dan jari tengah ke arah muka lawan. Ini adalah pembukaan dari ilmu silat pedang Lo-Thian Kiam-Sut (Ilmu Pedang Pengacau Langit).
“Haiiiit...” Tiba-tiba Ouw Yang Lee membentak dengan suara melengking dan pedangnya menyambar dengan dahsyatnya ke arah dada lawan dengan tusukan maut.
“Singgg...” Pedang itu berdesing, namun tidak mengenai sasaran karena Ciang Sek sudah mengelak dengan menarik tubuh ke kiri dan diapun mengelebatkan pedangnya yang menyambar dari samping dengan bacokan ke arah leher Ouw Yang Lee.
“Singgg...!” Akan tetapi pedang Ciang Sek inipun tidak mengenai sasaran karena Ouw Yang Lee sudah merendahkan tubuh sehingga pedang lewat di atas kepalanya. Sambil mengelak majikan Pulau Naga ini menusukkan pedangnya dari bawah ke arah perut lawan. Namun Ciang Sek sudah memutar balik pedangnya dan menangkis sambil mengerahkan tenaga sinkangnya.
“Singgggg... trangggg...!! Bunga api berpijar ketika dua pedang bertemu dan keduanya terdorong ke belakang sampai beberapa langkah.
Maklumlah kedua pihak bahwa tenaga lawan amat kuat dan boleh dibilang kekuatan mereka seimbang. Hal ini diam-diam mengejutkan Ciang Sek. Dia terkenal dengan julukan Thai-Lek-Kui (lblis bertenaga Besar) dan tadinya dia mengharapkan akan dapat mengatasi majikan Pulau naga itu dengan mengandalkan kelebihan tenaganya. Sekarang ternyata bahwa Ouw Yang Lee ternyata mampu menandingi tenaganya.
Pertandingan dilanjutkan dan keduanya berhati-hati, akan tetapi juga mengeluarkan seluruh kemampuan mereka. Setiap serangan merupakan jangkauan maut. Gu Tian yang menonton dari samping merasa tegang dan khawatir. Biarpun tingkat kepandaiannya masih di bawah tingkat Ciang Sek, namun dia sudah dapat mengikuti jalannya pertandingan itu dan maklum bahwa biarpun Suhengnya belum tentu kalah dan keadaan mereka masih seimbang.
Namun lawan ternyata amat tangguh sehingga agaknya akan sukar bagi Suhengnya untuk keluar sebagai pemenang. Kini Ciang Sek mengubah gerakannya, kalau tadi dia hanya mengandalkan permainan silat pedang Lo-Thian Kiam-Sut saja, kini dia menyelingi serangan pedangnya dengan Soan-Hong-Tui (Tendangan Angin Puyuh). Dia menguasai ilmu tendangan yang hebat ini. Kedua kakinya dapat menendang secara berantai dan bertubi, sehingga dapat menyulitkan lawan. Kadang-kadang kedua kakinya mencuat bergantian, seperti kilat menyambar ke arah tubuh lawan.
Ouw Yang Lee terkejut dan terpaksa menghindar. Serangan kedua kaki lawan ini membendung serangannya sendiri sehingga dia lebih banyak diserang dari pada menyerang. Terkadang dia menangkis dengan lengan kirinya atau terpaksa mundur untuk menghindarkan diri dari serangan tendangan yang dahsyat itu.
Ouw Yang Lee mulai terdesak dan diam diam Gu Tian merasa girang. Kalau dilanjutkan begitu, besar kemungkinan Suhengnya akan menang. Ouw Yang Lee yang sudah banyak pengalamannya itu menyadari akan hal ini. Dia mulai mengukur tenaga tendangan lawan itu dengan tangkisan lengan kirinya. Tendangan itu cukup kuat, akan tetapi dia yakin masih akan mampu menerima tendangan itu dengan lindungan kekebalannya.
Sedikitnya, dia tidak akan terluka dalam oleh tendangan seperti itu, paling banyak akan menderita nyeri dan terpental. ía dapat mencuri kemenangan dengan membiarkan tubuhnya tertendang. Diam-diam dia mengerahkan tenaga sakti beracun ke tangan kirinya sehingga tangan kiri itu dari jari-jari sampai ke siku berubah menjadi merah. Itulah ilmu Ang-Tok-Ciang (Tangan Racun Merah) yang menjadi ilmu andalannya.
Dia harus mendahului dengan pukulannya sebelum tubuhnya terkena tendangan yang kuat itu. Saat yang dinanti-nanti tiba. Sebuah tendangan kaki kanan Ciang Sek dia elakkan ke kiri, kemudian tiba-tiba tangan kirinya membuat gerakan memutar. Pedang lawan membacok dari atas. Dia menggunakan pedangnya untuk menyambut pedang lawan sambil mengerahkan tenaga sinkang untuk menempel.
Pedangnya seperti mengandung semberani, ketika dua pedang bertemu, dua pedang itu saling melekat dan mereka mengerahkan tenaga untuk saling dorong dengan pedang. Saat itulah tangan kiri Ouw Yang Lee memukul dengan telapak tangan ke arah dada lawan. Ciang Sek terkejut dan cepat dia menyambut dengan telapak tangan kirinya pula sambil mengerahkan Pek-In Ciang-Hoat (IImu Silat Awan Putih) yang sepenuhnya mengandung tenaga sakti.
“Plakkk!” Kedua telapak tangan bertemu dan pada saat itu Ciang Sek yang merasakan telapak tangannya panas dan gatal sekali, menendang dengan kaki kanannya. Hal ini bahkan merugikannya karena dengan pengerahan tenaga pada tendangannya, maka tenaga pada tangan kiri yang menyambut pukulan lawan itu berkurang.
“Dessss...!” Tubuh Ouw Yang Lee terpental empat meter jauhnya akan tetapi dia tidak terbanting jatuh, melainkan turun dengan kedua kakinya dan hanya terhuyung. Wajahnya pucat menahan rasa nyeri pada dadanya yang tertendang tadi. Dia memang mengalami luka dalam, namun tidak parah. Di lain pihak, tubuh Ciang Sek hanya terdorong mundur lima langkah. Dia terhuyung, darah mengalir dari ujung bibırnya, matanya terpejam dan alisnya berkerut.
Dia membuka mata memandang telapak tangan kirinya yang terasa panas dan gatal. Ternyata telapak tangan kirinya sudah berubah merah darah. Rasa nyeri menghimpit dadanya dan maklumlah dia bahwa dia menderita luka dalam yang hebat karena keracunan. Ciang Sek tidak kuat lagi dan diapun cepat duduk bersila dan mengerahkan pernapasan menghimpun hawa murni, seperti orang sedang bersamadhi.
“Ha-ha, Ciang Sek! Sekarang engkau akan mati dan setelah itu, giliran wanita hina itu yang akan tewas di tanganku.” Ouw Yang Lee menghampiri Ciang Sek yang masih duduk bersila dengan pedang di tangan. Dia mengayun pedang membacok.
“Tranggg....!” Pedangnya terpental dan Ouw Yang Lee terhuyung ke belakang Ketika dia memandang, ternyata yang menangkis pedangnya adalah Gu Tian! Dari tangkisan tadi, tahulah dia bahwa orang tinggi kurus ini memiliki tenaga yang cukup kuat. Padahal dia sendiri sudah terluka dan tenaganya tidak mungkin dapat dikerahkan sepenuhnya sehingga kalau dia melawan, dia tidak akan menang.
“Ouw Yang Lee, engkau menyerang orang yang sudah tidak mampu melawanmu. Datuk macam apa engkau ini!” Bentak Gu Tian yang siap dengan pedang di tangan.
“Siapa engkau?” bentak Ouw Yang Lee sambil memandang dengan mata mencorong.
“Aku Gu Tian. Thai-Lek-Kui Ciang Sek adalah Suhengku!” jawab Gu Tian.
Makin yakinlah Ouw Yang Lee bahwa dalam keadaan terluka seperti sekarang ini, dia tidak akan mampu mengalahkan Sute dari Ciang Sek yang tentu tingkat kepandaiannya tidak berselisih jauh dari tingkat kepandaian Ciang Sek. “Hemm, baiklah. Lain hari aku akan kembali dan membasmi kalian semua!” katanya dan dia lalu memutar tubuhnya dan dengan langkah lebar meninggalkan tempat itu.
Setelah Ouw Yang Lee meninggalkan tempat itu, baru Lai Kim berlari keluar menghampiri suaminya, yang masih duduk bersila mengatur pernapasan. “Engkau... terluka...?” tanya Lai Kim sambil berlutut dekat suaminya.
Ciang Sek membuka matanya, memandang isterinya dan tersenyum untuk menenangkan perasaan isterinya. Dia menghela napas panjang dan berkata, “Kepandaian dan tenaga kami seimbang diapun terluka, hanya tenaganya mengandung hawa beracun yang hebat...”
Gu Tian dan Lai Kim membantu Ciang Sek bangun kemudian memapahnya masuk ke dalam rumah. Ciang Sek memasuki kamarnya dan merebahkan diri, dijaga oleh Lai Kim. Gu Tian lalu mempersiapkan obat yang mereka miliki sekedar untuk mencegah menjalarnya racun dan memperkuat daya tahan tubuh Ciang Sek.
Untung bahwa Ciang Sek memiliki tubuh yang kuat dan juga tadi dia sudah melindungi dirinya dengan tenaga sakti. Walaupun dia terserang hawa pukulan Ang-Tok-Ciang, namun tidaklah terlalu gawat dan dengan latihan pernapasan dia dapat menahan hawa beracun itu dan sedikit demi sedikit mengusirnya keluar dari tubuhnya.
“Aku membutuhkan waktu sedikitnya sepuluh hari untuk membersihkan hawa beracun dan memulihkan kesehatanku, yang kukhawatirkan kalau sebelum sepuluh hari Ouw Yang Lee datang lagi. Aku tentu tidak akan, mampu melawannya,” kata Ciang Sek kepada isterinya dan Sutenya.
“Ahh, habis bagaimana baiknya?” Lai Kim berkata dengan nada khawatir.
“Aku tidak mampu membujuknya agar menghentikan permusuhan ini, orangnya begitu keras kepala dan kejam...” Nyonya yang berwatak pemberani dan agak keras itu lalu mengepal tangan kanannya dan melanjutkan kata-katanya dengan nada marah. “Kalau saja aku memiliki kepandaian silat, tentu akan kulawan dia mati-matian!”
“Harap Suheng dan Soso jangan khawatir. Kalau Ouw Yang Lee berani datang lagi, aku yang maju menandinginya!” Ciang Sek menggeleng kepala.
“Sute, engkau akan kalah, dia lihai sekali.”
“Kalau saja Lan-ji berada di rumah, tentu ia akan dapat membantu Gu-te (adik Gu) untuk melawan si jahat itu,” kata Lai Kim.
“Hemm, engkau ingin anakmu melawan Ayah kandungnya sendiri?” kata Ciang Sek.
“Ouw Yang Lee hendak membunuh engkau dan aku. Tentu Lan-ji akan membela kita!" kata Lai Kim penuh semangat.
“Harap Suheng tidak khawatir. Kalau anak Lan sudah pulang, tentu bersama dia kami akan dapat mengalahkan Ouw Yang Lee. Andaikata ia belum pulang dan Ouw yang Lee muncul, aku dapat menandinginya dan mengerahkan kurang lebih seratus orang anak buah kita. Hendak kulihat, apa yang mampu dilakukan Ouw Yang Lee menghadapi kekuatan kita?”
“Gu-te benar. Kita akan melawan mati-matian. Kalau perlu kita mengerahkan seluruh kekuatan anak buah kita. Harap engkau tenangkan hatimu dan pulihkan kesehatanmu,” kata Lai Kim menghibur.
Ciang Sek dan Lai Kim merasa gembira bukan main ketika dua hari kemudian Ouw Yang Lan muncul. Ketika ia melihat Ayah tirinya terluka dan mendengar cerita Ibunya tentang perbuatan Ouw Yang Lee yang bermaksud membunuh Ibunya dan Ayah tirinya, gadis itu marah bukan main.
“Biarkan dia datang lagi! Aku yang akan menghadapi dan melawannya!” katanya marah.
“Akan tetapi, Lan-ji. Dia adalah Ayah kandungmu sendiri,” kata Ciang Sek.
"Tidak perduli! Walaupun dia Ayah kandungku, kalau dia hendak membunuh engkau dan Ibuku, berarti dia musuhku dan aku akan melawannya mati-matian!” kata Ouw Yang Lan.
"Engkau benar, anakku,” kata Lai Kim. "Dan jangan khawatir, Gu-te dan para anak buah di sini akan membantumu mengusir, si jahat itu. Sekarang ceritakan bagaimana hasil perjalananmu.”
“Aku sudah berlayar ke Pulau Naga akan tetapi tidak dapat bertemu dengan Ayah Ouw Yang Lee maupun Suheng Tan Song Bu. Aku lalu mencari Tok-Gan-Houw Lo Cit dan berhasil membunuh jahanam itu. Akan tetapi aku tidak dapat menemukan adik Ouw Yang Hui yang kabarnya dibawa anak buah Lo Cit dan hilang tak tentu rimbanya. Adapun Ibu Sim Kui Hwa katanya ditolong oleh seorang pendekar. Akan tetapi akupun tidak tahu di mana dia berada sekarang. Karena itu aku lalu pulang. Menyesal sekali terlambat sehingga tidak dapat membantu Ayah Ciang Sek ketika menghadapi Ayah Ouw Yang Lee.”
Mulai hari itu, Ouw Yang Lan membantu Gu Tian yang sejak kunjungan Ouw Yang Lee setiap hari, siang malam, melakukan penjagaan dan perondaan ketat. untuk menjaga keselamatan Suhengnya. Bahkan Ouw Yang Lan tidak hanya berjaga di dalam perkampungan, melainkan keluar dari perkampungan dan berkeliaran di sekitar Bukit Awan Putih untuk berjaga-jaga kalau ada musuh yang datang menyerbu.
Sepuluh hari telah lewat dan Ciang Sek telah berhasil mengusir hawa beracun pukulan Ang-Tok-Ciang dari tubuhnya. Dia sudah sehat kembali. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, terjadi kegemparan. Beberapa orang anak buah yang bertugas jaga, pagi itu menemukan tanda-tanda yang aneh.
Terdapat tanda tapak kaki yang amat dalam dari pekarangan rumah itu sampai ke ruangan belakang. Bahkan tapak kaki yang berada di lantai batu itu dalamnya tidak kurang dari setengah jengkal, seolah-olah kaki itu menginjak tanah liat, bukan menginjak lantài batu! Bukan ini saja yang aneh, akan tetapi ternyata tidak ada seorangpun melihat atau mengetahui ada orang memasuki rumah induk di tengah perkampungan itu.
Seolah-olah ada seorang berkeliaran di dalam rumah itu tanpa ada yang mengetahuinya dan orang itu melangkah dengan kedua kaki yang mempunyai tenaga ribuan kati sehingga menekan lantai batu sampai begitu dalam. Ciang Sek, Gu Tian, dan Ouw Yang Lan dengan teliti memeriksa tapak-tapak kaki itu dan Ciang Sek mengerutkan alisnya, menghela napas panjang dan berkata,
“Ini bukan dibuat oleh Ouw Yang Lee! Tidak mungkin dia melakukan ini. Tapak kaki seperti ini hanya akan mampu dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu Ban-Kin-Lat (Tenaga Selaksa Kati), seorang yang memiliki tenaga sinkang yang amat kuat. Dan dia sudah meninggalkan tapak seperti ini di rumah kita tanpa ada yang mengetahui, walaupun kita mengadakan penjagaan ketat siang malam. Ini menunjukkan bahwa orang itu benar-benar amat lihai.”
“Akan tetapi apa artinya dia meninggalkan tapak kaki seperti ini, Ayah?” tanya Ouw Yang Lan penasaran.
Ayah tirinya menghela napas panjang. “Biasanya, orang yang meninggalkan bukti kelihaiannya seperti ini merupakan peringatan atau ancaman bahwa dia akan datang kembali dengan niat buruk. Aku menduga keras bahwa orang ini adalah seorang datuk besar di dunia kang-ouw yang agaknya diundang oleh Ouw Yang Lee untuk memusuhi kita.”
“Kita tidak perlu takut, Ayah!” kata Ouw Yang Lan marah. “Biarkan dia datang. Kita lawan mati-matian!”
“Tentu saja kita harus melawannya Lan-ji,” kata Ciang Sek sambil tersenyum senang melihat pembelaan anak tirinya yang demikian penuh semangat. “Akan tetapi orang ini benar-benar merupakan lawan yang amat tangguh. Kita tidak boleh sembrono sebelum mengetahui apa sebenarnya yang dia kehendaki, Karena itu, kita harus menggunakan akal.”
“Akal apakah itu?” tanya Lai Kim yang merasa khawatir mendengar percakapan antara suami dan anaknya.
“Mendekatlah, hal ini harus dirahasiakan dan hanya kita berempat saja yang mengetahuinya,” bisik Ciang Sek.
Lai Kim, Ouw Yang Lan dan Gu Tian lalu mendekat dan Thai-Lek-Kui Ciang Sek berbisik-bisik menceritakan akal yang direncanakannya.
Pada hari itu, perkampungan Pek-In-San dalam suasana berkabung! Semua anggauta terkejut dan berduka atas kematian ketua mereka yang mendadak. Ciang Sek mati karena luka-lukanya setelah bertanding melawan Ouw Yang Lee.
Jenazah diurus oleh Gu Tian dan anak isteri yang meninggal. Dimasukkan ke dalam sebuah peti mati tebal dan peti mati diletakkan di ruangan berkabung yang berada di depan. Semua anggauta perkampungan Pek-In-San berkabung dan bersembahyang. Para wanita keluarga para anggauta menangis. Inilah siasat yang dilakukan Ciang Sek. Dia pura-pura mati dan siasat ini bahkan tidak diketahui para anggautanya.
Mereka mengira bahwa ketua mereka benar-benar tewas karena luka dalam akibat perkelahian melawan Ouw Yang Lee. Tentu saja peti jenazah itu tidak terisi jenazah, melainkan diisi batu-batu bata. Adapun Ciang Sek sendiri bersembunyi di dalam kamar dekat ruangan berkabung itu, siap siaga menanti kemunculan musuh. Malam itu Ouw Yang Lan tidak berada di dalam ruangan berkabung.
Semenjak petang, ia sudah meninggalkan perkampungan dan melakukan perondaan di sekeliling perkampungan, di hutan-hutan lereng Pek-In-San. la menyelinap dan bersembunyi di balik semak belukar dan pohon-pohon besar, mengintai dan menanti munculnya můsuh yang hendak mengacau perkampungan. Ketika meninggalkan perkampungan gadis ini menunggang kuda.
Akan tetapi setelah tiba di hutan yang terletak di lereng bawah, ia menambatkan kudanya dan mengintai jalan yang menuju ke perkampungan itu. Jalan melewati hutan merupakan satu-satunya jalan menuju ke perkampungan Pek-In-San. Kalau ada orang hendak berkunjung, pasti akan lewat jalan itu. Malam itu bulan muncul dengan sinarnya yang cukup terang. Hal ini memang telah di perhitungkan Ouw Yang Lan. la dapat melakukan penghadangan karena terang bulan.
Andaikata tidak waktu terang bulan, tentu ia tidak akan menghadang di situ, melainkan berjaga di perkampungan. Tiba-tiba hati Ouw Yang Lan berdebar tegang. Musuh yang dinanti-nantinya akhirnya muncul! la tidak dapat melihat dengan jelas muka orang yang berjalan perlahan mendaki lereng itu, tidak tahu apakah orang itu sudah tua ataukah masih muda.
Akan tetapi melihat pakaiannya, tahulah ia bahwa orang itu adalah seorang laki-laki. Tidak salah lagi, laki-laki itu tentulah musuh. Siapa lagi yang mendaki lereng hendak berkunjung ke perkampungan Pek-In-San kalau bukan musuh yang berniat jahat? Kalau orang baik-baik tentu tidak berkunjung di waktu malam seperti itu.
Ouw Yang Lan teringat akan dugaan Ayahnya bahwa musuh yang telah meninggalkan tapak kaki itu tentu seorang yang lihai sekali. Maka iapun bersikap hati-hati dan otaknya yang cerdik bekerja. la harus menggunakan akal, seperti yang telah dilakukan Ayah tirinya Sekarang ini, pikirnya. Setelah mengambil keputusan, Ouw Yang Lan lalu keluar dari belakang semak-semak dan menghadang laki-laki yang berjalan perlahan dari depan itu.
Laki-laki itu bukan lain adalah Song Bu. Seperti kita ketahui, Song Bu berkunjung ke Bukit Harimau, ke perkampungan sarang gerombolan yang dipimpin Tok-Gan-Houw Lo Cit. Dia melihat Lo Cit sudah tewas dan dari anak buah gerombolan dia mendengar bahwa orang yang membantu Lo Cit menyerbu ke Pulau Naga, kemudian yang membawa pergi Ouw Yang Lan dan Ibunya adalah Thai-Lek-Kui Ciang Sek.
Oleh karena itu, dia lalu melakukan perjalanan menuju pegunungan Thai-San dan biarpun hari mulai gelap ketika dia tiba dipegunungan ini. Dia melanjutkan pendakian karena dibantu sinar bulan yang cukup terang. Ketika dia melihat seorang yang melihat pakaiannya tentu seorang wanita muncul menghadang di depan, tentu saja Song Bu merasa heran sekali. Hari mulai malam dan di hutan yang sunyi di lereng itu muncul seorang wanita seorang diri.
Tentu saja hal ini amat aneh. Dia segera mempercepat langkahnya menghampiri wanita yang tidak dapat dilihat mukanya dengan jelas. Akan tetapi setelah dekat, dalam cuaca yang remang-remang dia melihat bahwa wanita itu seorang gadis yang cantik sekali.
Sebaliknya Ouw Yang Lan juga melihat bahwa orang yang ia anggap musuh itu adalah seorang pemuda yang tampan, walaupun wajahnya tidak dapat tampak dengan jelas. Ouw Yang Lan juga melangkah maju menyongsong orang itu sampai mereka berhadapan dekat.
“Kenapa engkau bawa demikian banyak orang mendaki bukit ini?” tanya Ouw Yang Lan sambil menudingkan telunjuknya ke arah belakang pemuda itu.
Mendengar pertanyaan ini, tanpa curiga dan dengan otomatis Song Bu memutar tubuhnya untuk memandang ke arah belakangnya yang ditunjuk gadis itu. Pada saat itu, Ouw Yang Lan yang sejak tadi sudah siap, menggunakan Pek-In Ciang-Hoat (Ilmu Silat Awan Putih) sehingga tangannya bergerak seperti awan melayang tanpa menimbulkan suara angin dan tiba-tiba ia sudah menotok kedua pundak Song Bu.
“Uhh...” Song Bu terkejut, mengeluh dan terkulai roboh. Dia sama sekali tidak pernah mengira akan diserang secara begitu mendadak dan serangan totokan itu ternyata lihai sekali. Dia dapat merasakan betapa jari-jari tangan yang menotoknya itu mengandung tenaga sinkang yang cukup kuat. Dia roboh telentang dan melihat betapa gadis itu membungkuk dan mengamatinya.
“Nona, mengapa engkau menotokku?” Song Bu bertanya, penasaran. Dia masih dapat mengeluarkan suara dan bicara, akan tetapi tidak dapat menggerakkan kaki tangannya yang menjadi lemas dan lumpuh.
“Engkau tentu utusan Ouw Yang Lee!” Ouw Yang Lan berkata dan suaranya terdengar ketus. Song Bu diam saja. “Hei! Tulikah engkau? Engkau tentu diutus oleh Ouw Yang Lee, bukan?” Ouw Yang Lan menghardik. “Jawab!”
Song Bu menghela napas panjang. Seorang gadis yang galak bukan main, pikirnya, menduga-duga siapa gerangan gadis galak ini. “Ya, begitulah.”
Akhirnya dia berkata. Memang benar bahwa kepergiannya dari kota raja karena disuruh oleh Ouw Yang Lee untuk mencari Ouw Yang Hui, kemudian dia menyelidiki tentang Ouw Yang Lan dan Ibunya. Akan tetapi tak disangka-sangkanya, mendengar jawaban itu, tangan kanan Ouw Yang Lan bergerak menamparnya.
“Plak! Plak!” Kedua pipinya telah ditampar. Tamparan tanpa mempergunakan tenaga, sinkang, akan tetapi cukup panas dan perih terasa pada mukanya.
“Kenapa engkau memukulku, nona?” tanyanya penasaran.
“Engkau tentu datang dengan niat menbunuh Thai-Lek-Kui Ciang Sek, bukan?” tanya lagi gadis itu.
Song Bu menghela napas lagi. Dia belum tahu siapa gadis ini, akan tetapi, dia menjawab sejujurnya. “Mungkin saja. Akan tetapi, siapakah engkau, nona?”
Gadis itu tidak menjawab, melainkan mengambil segulung tali sebesar jari tangan, tali yang sudah ia persiapkan kalau-kalau ia dapat menangkap musuh. Ujung tali itu ia ikatkan pada kedua pergelangan tangan Song Bu, kemudian diseretnya tubuh pemuda yang telentang dan terikat kedua tangannya itu. Tubuh Song Bu terseret di atas tanah.
Pemuda itu tak berdaya karena tubuhnya tak dapat digerakkan. Dia melihat betapa gadis itu mampu menyeret tubuhnya dengan mudah, menandakan bahwa gadis itu memiliki tenaga yang kuat. “Nona, kenapa nona galak terhadap aku?”
Ouw Yang Lan sudah tiba di dekat kuda yang ditambatkan di pohon. la melepaskan ikatan kudanya lalu melompat ke atas punggung kuda. “Hemm, aku galak? Engkau tidak kubunuh masih untung!” jawabnya sambil menjalankan kudanya dan tubuh Song Bu terseret.
“Nona, siapa sih engkau yang begini kejam kepadaku?” Song Bu bertanya sambil memandang gadis yang demikian cekatan ketika melompat ke atas punggung kuda.
“Mau tahu aku siapa? Aku adalah puteri dari Thai-Lek-Kui Ciang Sek yang hendak kau bunuh itu! Nah, sekarang engkau tahu mengapa aku menangkapmu seperti ini! Engkau memang patut dihajar”
Diam-diam Song Bu terkejut. Puteri Thai-Lek-Kui Ciang Sek? Dan tadi dia sudah mengaku bahwa dia utusan Ouw Yang Lee yang hendak membunuh Ciang Sek! Betapa bodohnya. Diam-diam dia mengerahkan tenaga sinkangnya untuk membebaskan dirinya dari pengaruh totokan.
Ouw Yang Lan yang merasa yakin bahwa pemuda ini yang mengancam Ayah tirinya dan yang meninggalkan tapak kaki itu,mulai melarikan kudanya agar, tawanannya itu semakin tersiksa. la tidak ingin, buru-buru membunuh musuh itu, melainkan hendak dihadapkan dulu kepada Ayah tirinya.
Terserah kepada Ayah tirinya hendak diapakan orang itu. Mengingat betapa Ayah kandungnya sendiri, Ouw Yang Lee hendak membunuh Ibunya dan Ayah tirinya, ia menjadi marah dan merasa benci kepada Ayahnya sendiri. Tentu saja iapun membenci orang yang menjadi utusan Ayah kandungnya untuk membunuh Ibunya dan Ayah tirinya, bahkan mungkin Ayahnya yang keras hati dan kejam itu hendak membunuhnya.
Kalau saja yang diseret dengan kuda itu bukan Song Bu, dalam keadaan tertotok dan terikat itu tentu akan menderita siksaan hebat dan tentu kulit punggungnya akan terkelupas! Namun, Song Bu telah memiliki tingkat kepandaian yang tinggi. Begitu dia menahan napas mengerahkan sinkangnya, maka dia berhasil membebaskan dirinya dari pengaruh totokan dan dia dapat menggerakkan lagi kaki tangannya.
Setelah terbebas dari totokan, mudah saja bagi Song Bu untuk membikin putus tali yang mengikat kedua pergelangan tangannya. Ouw Yang Lan sama sekali tidak tahu akan hal ini. la tidak sedikitpun pernah membayangkan bahwa orang yang telah ditotoknya dan kedua pergelangan tangan diikatnya sekuat itu dapat membebaskan dirinya. Tiba-tiba saja dia merasa ada gerakan di belakangnya dan begitu ia menoleh, pundaknya telah tertotok dan diapun terkulai lemas.
Song Bu sudah melompat dan duduk di belakang gadis itu lalu secepat kilat menotoknya sehingga kini Ouw Yang Lan yang lemas tak berdaya. Dia lalu merebahkan tubuh gadis itu menelungkup dan melintang dipunggung kuda, di depannya. Ouw Yang Lan tidak mampu bergerak, akan tetapi ia masih dapat mengeluarkan suara. la menjerit-jerit. “Lepaskan aku! Jahanam busuk, lepaskan aku!”
Song Bu tertawa. “Kenapa aku harus melepaskanmu? Biar engkau tahu rasa!”
Ouw Yang menjadi semakin marah. “Engkau anjing, kucing, tikus, monyet jelek busuk! Engkau laki-laki kejam, tak berjantung, berani engkau menghina dan menyiksaku?”
“Ha-ha-ha, sayang malam hanya remang-remang dan tidak ada cermin di sini. Kalau saja engkau dapat bercermin, engkau akan melihat bahwa semua makianmu itu sepatutnya ditujukan kepada dirimu sendiri! Engkau tadi menotokku, mengikatku, menampar pipiku lalu menyeretku. Dan apa yang kulakukan sebagai pembalasan? Aku hanya menotokmu dan memboncengkan engkau di punggung kuda. Engkau masih enak karena aku tidak ingin menghina dan berlaku kejam terhadap wanita.”
“Kau curang! Engkau menotokku dari belakang selagi aku tidak siap! Bebaskan aku dan mari kita bertanding sampai seorang dari kita roboh dan mampus!”
“Hemm, apakah ketika engkau menotokku tadi juga tidak curang? Engkau mengalihkan perhatianku dan engkau menotok selagi aku tidak siap. Aku hanya menuntut balas dan engkau hanya membayar apa yang kau beli sendiri. Aku tidak membalas tamparanmu, tidak membalas penyiksaanmu kepadaku dengan menyeretku di atas tanah. Untuk semua itu, aku hanya minta kau bayar dengan pengakuan dan keteranganmu dan kuharap engkau masih mempunyai kejujuran untuk menjawab pertanyaanku.”
Ouw Yang Lan adalah seorang gadis yang keras hati dan keras kepala, akan tetapi ia bukan orang bodoh. Melihat sikap pemuda yang kini menawannya, ia melihat kenyataan bahwa pemuda itu bukan orang yang kurang ajar, sama sekali tidak mengganggunya, tidak menyentuhnya hanya membiarkan ia tertelungkup di punggung kuda di depannya dan semua ucapannya tadi tak dapat dibantahnya karena memang kenyataannya demikian.
Ia tadi telah mencurangi, menghina dan menyiksa pemuda itu dan kini apa yang dilakukan pemuda itu sebagai pembalasan masih jauh lebih ringan dari pada apa yang telah ia lakukan tadi. Maka, mendengar ucapan pemuda itu, ia menjawab, walaupun suaranya masih ketus.
“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, katakan dulu mengapa engkau hendak membunuh Thai-Lek-Kui Ciang Sek?”
“Tentu saja aku ingin membunuhnya karena dia telah melakukan dua kejahatan besar yang tidak dapat diampuni!” jawab Song Bu sambil menjalankan kuda seenaknya. Dia sudah menyelidiki perkampungan Pek-In-San dari penduduk dusun di kaki pegunungan dan sudah dapat mengira-ngirakan di mana letak perkampungan itu.
“Hemm, kejahatan apa itu?” tanya Ouw Yang Lan.
“Pertama, dia sudah membantu Tok-Gan-Houw Lo Cit melakukan penyerbuan ke pulau Naga dan bersama Lo Cit dia menculik dua orang Ibu dengan dua orang puteriya. Itu dosa pertama dan yang ke dua, dia kemudian melarikan seorang Ibu dan puterinya. Aku akan membunuhnya karena kejahatannya itu.”
“Dan engkau diutus Ouw Yang Lee untuk melakukan pembunuhan itu?”
“Ya dan tidak. Memang dia menyuruh aku mencari jejak anak isterinya yang diculik, akan tetapi kehendakku sendiri untuk mendatangi sarang Ayahmu. Eh, kenapa jadi terbalik begini? Aku yang hendak bertanya kepadamu, sekarang malah engkau yang banyak bertanya dan aku yang menjawab semua pertanyaanmu!” Song Bu mengomel.
“Sekali lagi saja aku bertanya, setelah itu engkau boleh mengajukan pertanyaan dan aku akan menjawab sejujurnya.”
Song Bu menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, dia tidak mungkin dapat bertindak keras terhadap seorang gadis. Bahkan menawannya dan membuatnya menelungkup didepannya di atas punggung kuda itupun rasanya sudan membuat dia tidak enak dan rikuh karena sebagian tubuh gadis itu menimpa ujung kedua lututnya. “Tanyalah, apa lagi yang ingin kau ketahui?”
“Engkaukah yang malam kemarin mendatangi rumah kami dan meninggalkan tapak kaki dalam rumah kami?”
“Hemm, jangan menuduh yang bukan-bukan. Baru malam ini aku tiba di sini dan sebelum ini belum pernah aku berkunjung ke rumahmu! Sudahlah, sekarang giliranku bertanya, hanya satu pertanyaan saja akan tetapi engkau harus menjawab sejujurnya.”
“Tanyalah!” kata Ouw Yang Lan, suaranya masih ketus.
“Engkau adalah puteri Thai-Lek-Kui Ciang Sek, tentu engkau mengetahui di mana adanya Ibu dan puterinya yang diculik Ayahmu sebelas tahun yang lalu. Kalau Ayahmu telah mengganggu atau membunuh mereka, aku pasti akan membunuh Ayahmu!”
“Hemm, siapakah nama Ibu dan anak itu?” Ouw Yang Lan masih bertanya untuk mendapatkan keyakinan walaupun ia sudah tahu bahwa yang dimaksudkan penawannya itu adalah Ibunya dan ia sendiri.
“Ibu itu bernama Lai Kim dan puterinya bernama Ouw Yang Lan,” jawab Song Bu. “Engkau tentu tahu di mana mereka sekarang, masih hidupkah atau sudah mati?”
“Engkau ini siapa sih yang begitu memperhatikan nasib Ibu dan anak itu. Siapa namamu?” tanya Ouw Yang Lan.
“Namaku Tan Song Bu,” jawab Song Bu singkat dan semenjak dia merasa tidak senang dengan kedudukan Ouw Yang Lee yang bekerja sama dengan orang-orang seperti Im Yang Tosu, Tho-Te-Kong dan Cui-Beng Kui-Bo, apalagi ketika melihat Ouw Yang Lee hendak membunuh Ouw yang Hui, Song Bu tidak ingin lagi memakai marga Ouw Yang, tidak suka menjadi anak angkat datuk yang dianggapnya terlalu keras hati dan kejam itu.
Hampir saja Ouw Yang Lan berteriak ketika mendengar bahwa pemuda yang menawannya itu adalah Song Bu, Suhengnya (Kakak Seperguruannya) sendiri! Akan tetapi ia diam saja karena masih merasa jengkel ditawan dan ditelungkupkan di atas punggung kuda seperti itu, tidak berdaya sama sekali. Dara inipun diam saja, hanya cemberut.
“Hayo jawab, di mana adanya Ibu dan anak itu sekarang?” Song Bu mendesak melihat gadis itu diam saja.
“Kalau aku tidak mau menjawab engkau mau apa?” tantang Ouw Yang Lan, suaranya kaku.
“Hemm..., engkau ini sungguh seorang gadis yang keras kepala dan licik! Semua pertanyaanmu yang bertubi kujawab, akan tetapi satu saja pertanyaanku engkau tidak mau menjawab, walaupun engkau sudah berjanji. Gadis macam engkau ini patut dihajar biar bertaubat!” Song Bu menghentikan kudanya. Mereka masih berada di dalam hutan.
“Kau... kau mau apa...? Ouw Yang Lan bertanya, takut juga melihat Song Bu mengangkat tubuhnya turun dari atas punggung kuda. Song Bu memondong tubuh itu dan merebahkannya telentang di bawah sebatang pohon besar.
“Kau... mau apa kau...?” Kembali Ouw Yang Lan bertanya dengan muka pucat dan mata terbelalak.
Akan tetapi setelah merebahkan tubuh Ouw Yang Lan dan membuat gadis itu ketakutan karena menyangka bahwa pemuda itu akan melakukan hal yang bukan-bukan, Song Bu bangkit berdiri. “Aku akan meninggalkan engkau di sini. Biar engkau dicabik-cabik dan dimakan harimau, atau ada ular besar yang akan membelit-belit tubuhmu dan menelanmu sedikit demi sedikit.”
“Aku tidak takut!” Ouw Yang Lan berkata ketus.
“Baik, aku akan senang melihat engkau dihampiri harimau, mukamu dijilat-jilati lebih dulu sebelum leher dan dadamu dicabik cabik dan dagingmu diganyang, darahmu dijilati. Aku ingin melihat tubuhmu dibelit belit dan dihimpit ular sampai tulang-tulangmu remuk sebelum tubuhmu ditelan perlahan-lahan.”
Setelah berkata demikian, Song Bu melompat ke atas punggung kuda dan melarikan kuda itu meninggalkan Ouw yang Lan yang masih rebah telentang di bawah pohon tidak mampu bergerak.
Sebetulnya Ouw Yang Lan adalah seorang gadis pemberani yang tidak pernah mengenal takut. Akan tetapi tubuhnya yang tidak mampu digerakkan itu membuat ia merasa tidak berdaya sama sekali dan ini sedikitnya mengurangi keberaniannya. Apa lagi bila teringat akan ucapan Song Bu tadi dan tanpa disengaja ia membayangkan harimau besar yang mendekatinya.
Lalu mendengus dan mencium-cium mukanya lalu menjilati seluruh mukanya dengan lidahnya yang kasar, besar, dan basah, kumisnya yang kasar menggelitiknya dan cakar yang runcing melengkung mencengkeram dadanya lalu merobek kulit dagingnya. la bergidik. Apa lagi ketika ia membayangkan seekor ular besar menghampiri.
Tubuh ular yang licin dan dingin itu menggeleser di atas tubuhnya, menggeliat dan membelitnya, menghimpit makin lama semakin kuat sehingga ia sesak bernapas, tubuhnya terus dihimpit sampai tulang-tulangnya berkeretakan, kemudian moncong yang lebar itu menggigit dan menelan kepalanya yang masuk perlahan-lahan ke dalam perut ular! Hihh..! Kembali ia bergidik dan tak terasa lagi ia menangis!
Ouw yang Lan yang tidak pernah cengeng itu, yang berhati baja, kini menangis terisak isak. “Hu-huuuuuu... huuuu...!” la menangis dan air matanya membanjiri kedua pipinya tanpa la mampu menyusutinya.
Tiba-tiba Song Bu muncul di situ. “Hem... engkau menangis ketakutan?” tanya Song Bu, suaranya mengejek karena dia senang sudah dapat mematahkan kekerasan hati gadis itu dan membuatnya menangis ketakutan.
Begitu melihat munculnya Song Bu, tiba-tiba saja tangis Ouw Yang Lan berhenti dan mulutnya cemberut. “Aku tidak takut! Bunuhlah, aku tidak takut mati!” hardiknya.
“Aku bukan orang yang begitu kejam membiarkan seorang gadis mati dimangsa binatang buas di hutan. Nah, sekarang katakanlah di mana adanya Nyonya Lai Kim dan puterinya. Setelah engkau menjawab sejujurnya, aku akan membebaskanmu dan membiarkan engkau pergi.”
Biarpun tadi ia mengalami rasa takut yang mengerikan, namun begitu Song Bu muncul, kemarahannya mengalahkan rasa takutnya dan ia berkeras tidak mau bicara tentang Lai Kim dan Ouw Yang Lan seperti yang ditanyakan pemuda itu.
“Tidak usah bertanya kepadaku. Aku tidak dapat menjawab. Datanglah saja ke sana kalau engkau berani dan engkau akan mengetahui segala yang kau pertanyakan,” jawabnya singkat.
“Katakan saja, apakah Ibu dan anak itu masih hidup?” desak Song Bu.
“Aku tidak mau menjawab. Datang saja ke sana dan engkau akan tahu!”
Song Bu mengerutkan alisnya. “Gadis kepala batu!” omelnya dan dengan agak kasar diapun memondong tubuh gadis itu, membawanya ke kuda dan seperti tadi, dia menelungkupkan tubuh Ouw Yang Lan melintang di atas punggung kuda. Kemudian dia naik ke atas punggung kuda dan menjalankan kudanya dengan hati gemas.
“Hemm, kau kira aku tidak berani datang ke rumah Ayahmu? Kau lihat saja!” Song Bu bukan hanya nekat tanpa perhitungan. Dia dapat menduga bahwa Pek-In-San tentu mempunyai banyak anggauta. Akan tetapi dia tidak takut karena dia sudah menawan puteri Thai-Lek-Kui Ciang Sek! Bahkan dia dapat mempergunakan gadis itu untuk memaksa Ciang Sek mengakui di mana adanya Lai Kim dan Ouw Yang Lan.
Peti jenazah yang berdiri di ruangan depan itu membuat suasana menjadi menyeramkan, Empat lampu gantung menerangi ruangan itu dan asap dupa yang mengepul menambah seram. Lai Kim, isteri Thai Lek-kui Ciang Sek duduk di atas sebuah kursi di belakang peti jenazah. Wanita yang usianya sudah empat puluh dua tahun ini masih tampak cantik dan ramping. Rambut dan pakaiannya kusut dan wajahnya tampak berduka.
Kedukaan ini tidak dibuat-buat. Walaupun tentu saja ia tahu bahwa suaminya hanya pura-pura mati dan kini bersembunyi di dalam kamar, tidak berada di dalam peti jenazah itu, namun tetap saja hatinya dicengkeram kekhawatiran. la tahu bahwa keselamatan nyawa suaminya, bahkan juga dirinya sendiri dan puterinya Ouw Yang Lan, terancam bahaya maut.
Gui Tian, Sute Ciang Sek yang juga menjadi pembantu utama, duduk di atas sebuah kursi lain dekat peti jenazah. Di atas lantai tampak belasan orang pembantu yang ikut menjaga peti jenazah dan di sekitar tempat itu terdapat pula puluhan orang anggauta yang berjaga sambil bersembunyi. Penjagaan itu amat kuat, namun tetap saja hati Gui Tian dan para anggauta Pek-In-San selalu tegang karena mereka maklum bahwa yang mengancam Pek-In-San adalah musuh yang amat tangguh.
Sunyi sekali malam itu. Di perkampungan sendiri, rumah-rumah para anggauta sudah ditutup semua pintu dan jendelanya dan tidak tampak seorangpun manusia di luar rumah. Suasana tegang mencekam. Semilir angin malam yang memasuki ruangan itu membuat api lampu bergoyang-goyang, menimbulkan bayang-bayang hitam bergerak menari-nari, suara kaki kuda memasuki pekarangan rumah itu membuat semua orang terbelalak.
Mereka yang tadinya setengah mengantuk mendadak menjadi siap dan waspada. banyak pula yang meraba gagang golok dan pedang yang sudah dipersiapkan di punggung. Gu Tian juga bangkit berdiri dan menatap tajam ke arah pekarangan yang tampak dari ruangan depan itu. Lai Kim juga ikut berdiri dari kursinya.
Penunggang kuda menjalankan kudanya sampai di luar ruangan depan yang menjadi ruangan berkabung itu. Sinar empat lampu dari ruangan itu menyinari muka si penunggang kuda sehingga semua orang, melihat bahwa dia seorang pemuda yang tampan dan gagah. Lai Kim cepat melihat wajah pemuda itu dengan jelas dan seperti orang dalam mimpi, kedua kakinya melangkah maju menghampiri dan matanya tak pernah berkedip menatap wajah pemuda itu.
Melihat ini, Gu Tian meràsa khawatir akan keselamatan Sosonya (Kakak Iparnya), maka diapun melangkah mendekatinya untuk menjaga kalau-kalau Sosonya diserang. Song Bu juga memandang wajah Lai Kim yang cantik dan ada tahi lalatnya di pipi kiri itu. Akan tetapi dia masih meragu dan melompat turun dari atas punggung kuda. Lai Kim menghampiri dan ia melihat pula Ouw Yang Lan yang tergantung menelungkup di atas punggung kuda.
“Kau... kau... bukankah engkau Song Bu?” Akhirnya wanita itu menegur sambi menatap wajah pemuda itu.
Kini Song Bu tidak ragu-ragu lagi. “Subo...!'“ katanya sambil menghampiri dan memberi hormat kepada Lai Kim. “Bagaimana Subo dapat berada di sini?” Song Bu bertanya heran sambil memandang ke arah peti jenazah yang berada di ruangan itu.
“Song Bu, mengapa Lan-ji itu? Apa yang kau lakukan terhadap Sumoimu (Adik Seperguruan) Ouw Yang Lan?” Wanita itu menudingkan telunjuknya ke arah gadis yang masih menelungkup melintang di atas punggung kuda.
Mendengar ini Song Bu terbelalak dan menoleh ke arah gadis yang menjadi tawanannya itu. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa gadis itu adalah Ouw Yang Lan! Sekarang ada cahaya lampu menerangi wajah gadis itu dan dia kini dapat mengenal wajah Ouw Yang Lan, walaupun kini bukan kanak-kanak lagi melainkan sudah menjadi seorang gadis dewasa, namun dia masih dapat mengenal wajah yang cantik manis itu. Tahi lalat di dagu itupun masib teringat olehnya.
“Sumoi Ouw Yang Lan...?” Dia berseru sambil melompat mendekati. Cepat dia menurunkan tubuh gadis itu dan membebaskan totokannya. “Lan-Sumoi, maafkan aku.”
Akan tetapi begitu dapat bergerak, tangan kanan Ouw Yang Lan menampar muka Song Bu dan pemuda itupun tidak mengelak atau menangkis. “Plakk...!!” Pipi kiri Song Bu menjadi merah terkena tamparan itu.
“Lan-ji…!” Lai Kim menegur puterinya dan Ouw Yang Lan menghampiri Ibunya.
“Ibu, dia hendak membunuh Ayah Ciang Sek!” kata gadis itu. Kembali Song Bu terkejut bukan main.
“Ayahmu...? Engkau menjadi anak Thai-Lek-Kui Ciang Sek?” Tentu saja Song Bu menjadi heran sekali. “Subo, apa artinya semua ini?” Dia memandang ke arah peti jenazah. “Dan siapa yang meninggal dunia ini?”
“Ini adalah peti jenazah Thai-Lek-Kui Ciang Sek, suamiku,” kata Lai Kim sambil mengamati wajah pemuda itu.
“Dia sudah mati dan... dan... Subo menjadi isterinya? Bagaimana pula ini...?” Song Bu semakin bingung mendengar bahwa Subonya (Ibu Gurunya) itu telah menjadi isteri Thai-Lek-Kui Ciang Sek yang dahulu menculiknya.
“Panjang ceritanya, Song Bu. Marilah masuk dan aku akan menceritakan semua ini kepadamu.” Nyonya itu memberi isyarat agar Song Bu ikut masuk ke ruangan sebelah dalam.
Song Bu memandang kepada Ouw yang Lan dan kebetulan gadis inipun sedang memandang kepadanya. Melihat pemuda itu memandang, Ouw Yang Lan membuang muka dan cemberut. Song Bu lalu mengikuti mereka masuk ke dalam dan Gu Tian juga mengikuti mereka. Akan tetapi setelah mereka berada di ruangan sebelah dalam Lai Kim berkata kepada Gu Tian dengan lembut.
“Gui-te (adik Gui), maafkan aku. Kuminta agar engkau suka menjaga peti jenazah di luar dan membiarkan aku dan Lan-ji bicara bertiga dengan Tan Song Bu.”
Gu Tian yang sudah berpengalaman itu cukup bijaksana. Dia sebetulnya belum tahu siapa pemuda yang bernama Tan Song Bu itu, akan tetapi melihat sikap Lai Kim, dia dapat menduga bahwa hubungan antara Ibu dan anak itu dengan pemuda itu tentu dekat sekali dan mereka tentu akan membicarakan hal-hal yang tidak boleh diketahui orang luar. Dia mengangguk lalu keluar lagi dari ruangan itu, duduk menjaga peti mati di ruangan depan.
Lai Kim mempersilakan Song Bu duduk dan mereka bertiga duduk menghadapi sebuah meja bundar. “Nah, sekarang kita dapat bicara dengan leluasa. Song Bu, sebelum aku bercerita, lebih dulu ceritakanlah apa yang telah terjadi antara engkau dan Lan-ji tadi.” kata Lai Kim sambil memandang kepada anaknya dan Song Bu.
Song Bu melirik kepada Ouw Yang Lan dan melihat gadis itu masih cemberut. Dia berkata lirih, “Subo, sebaiknya kalau Lan-Sumoi yang menceritakan.”
Ouw Yang Lan mengerling kepadanya dan berkata ketus. “Tidak, engkau saja boleh melapor kepada Ibu.”
Song Bu menahan senyumnya. Gadis itu agaknya menduga bahwa dia tentu akan melaporkan semua perbuatan gadis itu terhadap dirinya tadi. “Begini, Subo! Saya memang bermaksud untuk berkunjung ke Pek-In-San untuk menemui Thai-Lek-Kui setelah saya mendengar bahwa dahulu, Thai-Lek-Kui Ciang Sek membantu Tok-Gan-Houw Lo Cit menyerbu Pulau Naga dan menculik Subo berdua dan kedua adik Ouw Yang Lan dan Ouw Yang Hui.
"Saya bermaksud untuk membalas dendam dan bertanya di mana adanya Subo dan adik Ouw Yang Lan. Ketika saya melakukan perjalanan mendaki pegunungan ini, tiba-tiba muncul Lan-Sumoi yang menotok dan merobohkan saya. Saya tidak mengenalinya karena cuaca remang-remang. Akan tetapi saya berhasil membebaskan totokan itu dan berbalik saya yang menawannya.
"Karena ia mengaku sebagai puteri Thai-Lek-Kui Ciang Sek, maka saya menawannya untuk memaksa Ciang Sek mengakui di mana adanya Subo dan Lan-Sumoi. Sungguh mati saya sama sekali tidak tahu bahwa yang saya tawan itu bukan lain adalah Lan-Sumoi sendiri. Baru saya ketahui setelah saya bertemu dengan Subo.”
Setelah berkata demikian Song Bu kembali melirik ke arah Ouw Yang Lan dan dia melihat gadis itu memandang kepadanya dan wajah itu tidak cemberut lagi, bahkan bibir yang manis itu agak tersenyum. Agaknya hati gadis itu senang mendengar bahwa dia tidak menceritakan kepada Ibu gadis itu betapa Ouw Yang Lan tadi telah menawannya dan menyiksanya dengan menyeretnya.
“Aku tadi sudah menduga bahwa orang yang kutawan itu tentu Suheng Tan Song Bu. Karena aku yakin bahwa dia datang diutus Ayah Ouw Yang Lee untuk membunuh Ayah Ciang Sek, Ibu dan aku sendiri, dan bahwa dialah orangnya yang meninggalkan tapak kaki, maka aku menawannya dan hendak membawanya ke sini untuk dihukum. Tidak kusangka dia dapat membebaskan diri dari totokanku dan berbalik menawanku.”
Gadis itu bicara kepada Ibunya, akan tetapi Song Bu merasa bahwa gadis itu memberi alasan kepadanya mengapa gadis itu tadinya menyiksanya. Hal itu dilakukan karena Ouw Yang Lan mengira bahwa dia akan membunuh keluarga itu termasuk Ouw Yang Lan dan Ibunya! Kini dia mengerti mengapa gadis itu bertindak begitu kejam kepadanya.
Lai Kim memandang kepada Song Bu dengan sinar mata penuh selidik. “Song Bu, benarkah engkau hendak membunuh Ciang Sek, aku dan Ouw Yang Lan? Engkaukah yang kemarin malam datang ke sini dan meninggalkan tapak kaki yang dalam itu?”
“Saya tidak pernah datang ke sini sebelum ini, Subo. Dan tentang niat membunuh itu. Sesungguhnya saya memang hendak membalas dendam kepada Ciang Sek yang sudah menyerbu Pulau Naga dan menculik Subo dan adik Ouw Yang Lan. Akan tetapi dia sudah mati dan ternyata Subo malah menjadi isterinya.”
“Nah, dengarlah ceritaku, Song Bu. Ketika aku dan Ibu gurumu Sim Kui Hwa diculik bersama dua orang anak kami, aku memang dilarikan oleh Ciang Sek. Ditengah perjalanan aku dan Lan-ji berhasil meloloskan diri ketika Ciang Sek pergi mencari air. Walaupun dia memperlakukan kami dengan baik, akan tetapi kami melarikan diri untuk pulang ke Pulau Naga. Akan tetapi ketika kami melarikan diri, kami ditangkap oleh tiga orang penjahat yang berniat jahat dan mesum kepada kami.
"Ciang Sek muncul menolong kami dan membunuh tiga orang penjahat itu. Terpaksa kami mengikutinya ke Pek-In-San. Ternyata kemudian bahwa dia memperlakuan kami dengan hormat dan baik sekali, sikapnya jauh lebih baik dari pada sikap Ouw Yang Lee yang selalu keras terhadap kami. Ciang Sek bahkan mengundang guru sastra dan mengajarkan silat kepada Ouw yang Lan, dan dia bersikap menghargai dan lembut kepadaku.
Karena dia seorang duda maka dia berterus terang meminangku. Akupun menerima pinangannya dan kami menjadi suami isteri. Dia memperlakukan Ouw yang Lan seperti anak kandungnya sendiri. Kami berdua menikmati kehidupan yang lebih tenteram dan berbahagia di sini dibandingkan dengan kehidupan kami ketika berada di Pulau Naga.
Sampai sebelas tahun kami hidup di sini dengan bahagia sampai datangnya malapetaka sepuluh hari yang lalu ketika tiba-tiba saja muncul Ouw Yang Lee dan dia berkeras hendak membunuhku. Saat itu Lan-ji sedang tidak berada di rumah dan andaikata ia ada, mungkin ia juga akan menjadi sasaran kemarahan Ouw Yang Lee.
Suamiku, Ciang Sek, membelaku dan dia lalu berkelahi melawan Ouw Yang Lee. Dia berhasil mengusir Ouw Yang Lee yang pergi sambil mengancam akan datang lagi membunuh kami. Mereka berdua sama-sama menderita luka dalam yang cukup parah.”
“Kalau aku berada di rumah ketika itu, tentu aku akan melawan Ayah Ouw Yang Lee yang jahat dan kejam itu!” kata Ouw Yang Lan dengan gemas.
"Akan tetapi dia Ayah kandungmu sendiri, Lan-moi!” kata Song Bu terkejut.
“Biarpun Ayah kandungku sendiri, kalau dia hendak membunuh Ibuku, dia jahat dan harus kutentang!”
Song Bu menghela napas panjang, diapun sudah lama menyadari bahwa gurunya itu bukan seorang datuk yang berwatak baik. Dulupun dia hendak membunuh Sim Kui Hwa padahal wanita itu ingin kembali pulang ke Pulau Naga. Sim Kui Hwa malah dianggap menyeleweng dengan laki-laki lain dan Ouw Yang Lee berkeras hendak membunuhnya. Kemudian Ouw Yang Lee juga bermaksud membunuh Ouw Yang Hui, anaknya sendiri.
Di samping itu, masih ada kenyataan lain. Ouw Yang Lee menghambakan dirinya kepada Thaikam Liu Cin yang dia tahu benar merupakan seorang pembesar yang mempunyai niat jahat. Buktinya dia diperintahkan membunuh keluarga Pangeran Cheng Sin dan juga menyuruh para jagoannya yang lain untuk melakukan pembunuhan terhadap pejabat tinggi dan bangsawan yang menentang kekuasaannya. Selain itu, Ouw Yang Lee juga menjadi rekan orang-orang berhati iblis seperti para jagoan yang menjadi pembantu Thaikam Liu Cin.
“Ternyata Ouw Yang Lee tidak berhenti sampai di situ saja. Kemarin malam rumah kami kedatangan orang tanpa dapat diketahui para penjaga dan orang itu meninggalkan tapak kaki. Kau lihat di sana itu, bahkan dalam ruangan inipun dia meninggalkan tapak kaki yang dalam. Ini merupakan tanda ancaman bagi kami, Nyawa kami sekeluarga berada dalam ancaman maut.”
Song Bu bangkit dari kursinya dan menghampiri tapak kaki yang terdapat di sudut ruangan. Dia terkejut melihat tapak kaki yang jelas itu di atas lantai batu. Tapak itu demikian dalamnya dan hal itu hanya dapat dilakukan seorang yang memiliki sinkang yang amat kuat. Dia kembali duduk dan menghela napas panjang....