Sepasang Rajah Naga Jilid 12

Cerita silat karya Kho Ping Hoo. Sepasang Rajah Naga Jilid 12
Sonny Ogawa
Cerita silat karya Kho Ping Hoo
Karya Kho Ping Hoo

Sepasang Rajah Naga Jilid 12 - BIARPUN merasa penasaran, Kaisar Ceng Tek mengikutinya juga dan Song Bu mengikuti dari belakang. Song Bu tidak tertarik karena dia menduga bahwa gadis yang bernama Siang Bi Hwa itu tentu tidak ada bedanya dengan para gadis penghibur, mungkin lebih cantik, akan tetapi sama-sama pesolek, mukanya seperti gambar dipolesi bedak tebal dan gincu, seperti sebuah boneka yang didandani.

Kecantikan polesan seperti itu bahkan memuakkan hatinya. Dia memang suka bersama para pemuda bangsawan itu berpesiar, berpesta pora atau bermain judi, akan tetapi hatinya tidak pernah tertarik oleh gadis-gadis penghibur, bahkan dia merasa jijik dan muak.

Ketika mereka tiba di pintu tembusan dan dipersilakan duduk di atas kursi yang sudah disediakan di situ, Siang Bi Hwa belum tampak di dalam taman. Selagi Kaisar Ceng Tek hendak bertanya, tiba-tiba terdengar suara suling ditiup dengan istimewa. Suaranya mengalun merdu mendayu-dayu.

Kaisar Ceng Tek dan Song Bu memandang ke arah datangnya suara, tampak oleh mereka di antara tumbuh-tumbuhan Bunga di taman itu berjalan seorang gadis berpakaian biru putih, rambutnya diikat pita sutera merah, dandanannya sederhana saja walaupun pakaiannya terbuat dari sutera halus.

Biarpun gadis yang menghampiri sebuah kolam ikan itu jaraknya cukup jauh, Song Bu dapat melihat bahwa gadis itu berusia sekitar sembilan belas tahun, mukanya berbentuk bulat telur dan kulit mukanya putih kuning tidak tertutup bedak tebal ataupun gincu. Matanya agak sipit, bentuknya indah dan sinar matanya lembut sekali. Hidungnya kecil mancung dan mulut yang sebagian tertutup suling itu berbibir merah manis sekali.

Ketika ia meniup suling tampak sepasang lesung pipit di kanan kirinya. Dengan langkah gemulai dan sedikit langkah kecil itu tidak memperhatikan dua orang pria yang sedang menonton dari pintu tembusan, gadis itu menghampiri bangku dekat kolam, duduk di situ sambil terus meniup sulingnya.

Song Bu terbelalak. Bukan saja kagum akan kecantikan aseli tanpa polesan itu, melainkan juga karena dia merasa seperti sudah mengenal wajah gadis itu.

“Hemm, memang ia seorang gadis yang amat jelita, tiupan sulingnya juga merdu sekali,” terdengar Kaisar Ceng Tek memuji.

Song Bu tahu bahwa kalau ada wanita sampai dipuji oleh Kaisar, tentu wanita itu memang luar biasa. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara ribut-ribut di bagian depan rumah pelesir itu. Kaisar Ceng Tek yang merasa terganggu, segera berkata kepada Song Song Bu, "coba lihat apa yang terjadi diluar.”

Song Bu mengangguk dan berlari keluar, diikuti oleh Cia-Ma yang juga merasa khawatir. Setelah tiba di luar, mereka melihat bahwa di halaman depan terjadi perkelahian. Belasan orang tukang pukul anak buah Cia-Ma mengeroyok lima orang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih. Para tukang pukul itu mempergunakan golok mereka.

Akan tetapi lima orang itu lihai bukan main. Biarpun mereka hanya bertangan kosong, namun lima belas orang tukang pukul itu mereka hajar sampai berpelantingan, seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun berpakaian mewah, bermulut lebar dan bermata juling, bertubuh kurus dengan lagak angkuh bertolak pinggang menonton lima orang itu menghajar para tukang pukul yang belasan orang banyaknya.

“Hayo pukul, hajar mereka biar tahu rasa dan tidak berani memandang rendah kepada Su-Kongcu, putera jaksa Su di kota raja!” teriak pemuda kurus itu yang bukan lain adalah Su Kan Lok.

Melihat dan mengenal pemuda itu Cia ma cepat berlari menghampiri, mengangkat kedua tangan di depan dada dan membungkuk bungkuk meratap, “Su-Kongcu... ampunkanlah kami, jangan pukuli lagi orang orangku...”

Akan tetapi Su Kan Lok menjadi semakin marah ketika melihat wanita gemuk itu. “Cia-Ma, sekali ini hendak kulihat engkau mau menyerahkan Siang Bi Hwa padaku atau tidak!”

“Ampun, Kongcu...” Cia-Ma mendekati.

“Pergi Kau!” Su Kan Lok dengan marah menendang.

“Bukk!” Perut gendut Cia-Ma tertendang sehingga wanita itu terjengkang roboh, akan tetapi Su Kan Lok sendiri terhuyung karena rasanya berat sekali menendang perut yang gendut itu. Sementara itu, belasan orang tukang pukul anak buah Cia-Ma sudah roboh semua dan Su Kan Lok dengan gaya seorang panglima berkata,

“Sekarang mari antar aku menjemput Siang Bi Hwa di taman. Kudengar ia bermain suling di taman. Hayo ikut aku!”

Lima orang jagoan itu dengan sikap tenang dan senyum mengejek memandang belasan orang tukang pukul yang bergelimpangan di atas halaman itu, kemudian mereka mengikuti Su Kan Lok memasuki rumah. Biarpun sambil menangis dan terseok-seok, Cia-Ma mengejar enam orang itu dan Song Bu mengikuti dari belakang, hendak melihat apa yang akan dilakukan pemuda kerempeng bersama lima orang jagoannya itu.

Su Kan Lok langsung saja menuju kebelakang dan keluar dari pintu tembusan dikuti lima orang jagoannya, memasuki taman. Dia sama sekali tidak mempedulikan seorang pria yang duduk di atas kursi di pintu tembusan itu. Orang itu, Kaisar Ceng Tek, hanya duduk dan memandang kepada Su Kan Lok dengan alis berkerut.

Cia-Ma berlari-lari menghampiri Su Kan Lok yang sudah berada dalam taman. Terlihat pemuda bangsawan itu bersama lima orang jagoannya hendak menghampiri Siang Bi Hwa yang masih meniup suling di dekat kolam, Cia-Ma lalu berlari menghampiri dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan pemuda putera jaksa itu.

“Su-Kongcu ampunkan saya, ampunkan kami dan jangan mengganggu anakku...” wanita itu meratap dan menangis.

“Perempuan tolol! Siapa mau menganggu Siang Bi Hwa? Aku mau menjadikan dia isteriku.”

“Ampun... Jangan, Su-Kongcu...!” akan tetapi Su Kan Lok lalu menggerakkan kakinya menendang dan kembali tubuh wanita itu terjengkang. Akan tetapi ia tidak terluka karena tendangan itupun lemah saja.

Su Kan Lok lalu memberi isarat kepada lima orang tukang pukulnya. “Tangkap gadis itu dan bawa ia masuk ke dalam keretaku! Dia sendiri tidak berani mendekati Siang Bi Hwa karena dia percaya bahwa gadis itu memiliki ilmu kepandaian yang lihai! Lima orang tukang pukul yang rata-rata memiliki ilmu silat tangguh itu menghampiri Siang Bi Hwa yang sudah menghentikan tiupan sulingnya dan sudah berdiri dengan alis berkerut.

“Nona, mari ikut kami ke kereta Su-Kongcu!” kata seorang dari mereka sambil menggerakkan tangannya.

Siang Bi Hwa hendak mengelak, akan tetapi sekali ini ia berhadapan dengan ahli-ahli silat yang pandai. Dua orang dari mereka menggerakkan tangan dan di lain saat kedua lengan Siang Bi Hwa telah ditangkap. Di kanan kirinya telah berdiri masing-masing seorang jagoan yang memegang pergelangan tangannya sehingga ia tidak berdaya.

Melihat dua orang jagoannya telah berhasil menangkap pergelangan tangan Siang Bi Hwa, Su Kan Lok tertawa dan bertolak pinggang memandang kepada Cia-Ma yang sudah merangkak bangkit. “Ha-ha-ha, Siang Bi Hwa sudah kutangkap dan hendak kubawa pergi. Hayo, siapa berani menghalangi aku?” Setelah tertawa bergelak, pemuda kurus itu lalu memerintah anak buahnya, “Hayo, cepat bawa gadis itu ke dalam keretaku!”

Siang Bi Hwa mencoba untuk meronta, namun apa dayanya terhadap dua orang laki-laki yang memegang pergelangan tangannya? la ditarik dan setengah diseret menuju ke pintu tembusan. Song Bu memandang kepada Kaisar Ceng Tek seperti menanti perintah. Kaisar itu juga memandang kepadanya.

“Kau tolong gadis itu dan hajar lima orang jagoan itu!” kata Kaisar dengan suara lirih.

Song Bu mengangguk dan dia melangkah lebar, menghadang lima orang yang sedang menyeret Siang Bi Hwa. “Berhenti!” bentak Song Bu. “Bebaskan gadis itu!”

Seorang di antara mereka yang tidak memegang tangan Siang Bi Hwa melangkah maju menghadapi Song Bu dan membususungkan dadanya yang bidang. “Bocah, siapakah engkau berani menentang kami? Tidak tahukah engkau sipa kami? Kami adalah Kwi San Houw (Lima Harimau Kwi-san) yang terkenal! Apakah engkau sudah bosan hidup berani menentang kami?”

“Hemm, kalian ini Lima Harimau atau Lima Buaya Darat aku tidak perduli. Sebaiknya cepat kalian bebaskan gadis atau terpaksa aku akan menghajar kalian berlima!” kata Song Bu dengan tenang.

“Keparat! Bocah kemarin sore berani menentang kami! Mampuslah engkau” bentak laki-laki tinggi besar itu sambil mengayun tinjunya yang besar. Tinjunya menyambar ke arah kepala Song Bu. Penyerangnya itu agaknya yakin benar bahwa sekali pukulannya mengenai akan dapat meremukkan kepala pemuda itu. Dipukul seperti itu, Song Bu tidak mengelak, melainkan dia menyambut pukulan itu dengan tangannya.

“Plakk!” Tangan kanan Song Bu berhasil menangkap pergelangan tangan kanan lawan dan dengan gerakan cepat, dengan suatu sentakan dengan pengerahan tenaga sin-kang yang amat kuat membuat penyerangnya itu terjungkir dan terbanting ke atas tanah. Kaki Song Bu menendang, mengenai dada lawannya.

“Dess...!” tubuh yang tinggi besar itu terlempar dan terguling-guling. Melihat rekannya roboh, empat orang “Harimau” yang lain menjadi marah sekali. Sifat rendah dan pengecut mereka keluar. Tanpa banyak cakap dan tanpa malu-malu lagi mereka berempat maju mengeroyok dan mereka telah mencabut pedang, menyerang Song Bu dengan serbuan mematikan.

Namun tentu saja Song Bu tidak menjadi gentar. Para pengeroyoknya itu bukan orang lemah dan kalau orang pertama tadi dengan mudah dapat dia robohkan karena penyerang tadi memandang rendah kepadanya. Kini, empat orang itu telah tahu akan kelihaiannya dan mereka mengeluarkan kepandaian mereka dan memainkan pedang mereka dalam penyerangan yang cukup hebat.

Dengan mengandalkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) Bu-Eng-Kui (Iblis Tanpa Bayangan) sehingga tubuh berkelebatan demikian cepatnya di antara sambaran sinar pedang. Bahkan kini orang pertama yang tadi roboh telah bangkit dan ikut pula mengeroyok! Dari gerakan pedang mereka tahulah Song Bu bahwa lima orang yang mengaku berjuluk Kwi-San Ngo-Houw itu bukanlah lawan yang lemah.

Kalau hanya menghadapi seorang atau dua orang saja dari mereka biarpun dia bertangan kosong, dia masih akan mampu mengalahkannya tanpa kesukaran. Akan tetapi mereka maju berlima gerakan mereka kompak sekali sehingga berbahaya juga baginya kalau harus dia lawan dengan tangan kosong saja. Ketika lima orang pengeroyoknya mendesak, Song Bu melompat ke belakang dan tangan kanannya meraba ke belakang punggung.

Tiba tiba tampak sinar hitam yang mengerikan mencuat dan sebatang pedang berwarna hitam telah berada di tangan kanan Song Bu. Itulah pedang Toat-beng Tok-kiam (Pedang Beracun Pencabut Nyawa) yang amat berbahaya. Melihat pemuda itu mencabut pedang, Kaisar Ceng Tek tidak menghendaki Song Bu membunuh orang karena pembunuhan itu tentu akan menarik perhatian banyak orang dan dia tidak ingin kehadirannya diketahui banyak orang dan akan timbul kegemparan.

“Jangan bunuh orang!” serunya kepada Song Bu.

Seruan ini dimengerti oleh Song Bu. “Hamba hanya akan menghajar mereka.” katanya dan begitu dia menggerakkan tangan memutar pedangnya, tampak sinar hitam bergulung-gulung dan terdengar desir angin yang dahsyat.

Lima orang pengeroyok itu terkejut bukan main. Mereka menggerakan pedang mereka menyerang dari semua jurusan. Song Bu yang dikepung memutar tubuhnya seperti gasing, sinar pedangnya berkelebatan dan berturut-turut terdengar suara berdentingan dan disusul teriakan lima orang itu yang cepat melompat mundur karena pedang mereka telah patah ketika bertemu dengan sinar hitam itu.

Secepat kilat Song Bu sudah menyimpan pedangnya kembali dan dia menerjang ke depan bagaikan seekor naga menyambar dari angkasa. Kaki tangannya bergerak cepat dan lima orang itu tidak mampu menghindarkan diri dari tamparan dan tendangan yang amat cepat datangnya seperti kilat menyambar.

“Plak plak, desss...!! Mereka mengaduh dan roboh berpelantingan! Sekali ini Song Bu menambah tenaga pada tamparan dan tendangannya sehingga lima orang yang roboh itu tidak mampu bangkit dengan segera, hanya duduk dan memegangi bagian yang tertampar atau tertendang.

Su Kan Lok atau Su-Kongcu adalah seorang pemuda yang terbiasa mengandalkan kedudukan ayahnya. Dia menjadi seorang pemuda sombong dan selalu mau menang sendiri, memandang rendah orang lain. Ketika melihat betapa lima orang jagoannya roboh, dia menjadi marah sekali dan seperti biasa, dia hendak menggertak, mengandalkan kedudukan ayahnya untuk menakut-nakuti orang.

Dengan lagak gagah dia melangkah maju menghampiri Song Bu, matanya yang juling itu terbelalak dan hidungnya kembang kempis. Dia menudingkan telunjuknya ke arah muka Song Bu dan membentak. “Keparat, siapa engkau? Berani mati sekali engkau memukuli orang-orangku! Tidak tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan? Buka lebar matamu agar mengenal orang! Aku adalah Su-Kongcu, putera dari Su-Taijin (Pembesar Su), jaksa di kota raja. Apa kau ingin ditangkap dan dijatuhi hukuman seumur hidup?”

Song Bu hanya tersenyum dan menoleh memandang kepada Kaisar Ceng Tek, bertanya, “Apa yang harus hamba lakukan kepada orang ini?”

Sebelum Kaisar Ceng Tek menjawab, Su-Kongcu sudah menghampiri Kaisar dan sambil bertolak pinggang dia membentak, “Dan siapa engkau ini? Apakah dia itu tukang pukulmu? Awas, engkau pun dapat kuseret dan dimasukkan dalam penjara!”

Melihat lagak dan mendengar, ucapan Su Kan Lok yang amat sombong itu, Song Bu menjadi marah bukan main. Ingin rasanya dia memukul remuk kepala pemuda sombong itu, akan tetapi dia takut kalau mendapat marah dari Kaisar. Maka diapun melangkah maju membentak Su-Kongcu dengan suara nyaring.

“Bocah she Su! Apa matamu yang juling itu telah menjadi buta? Bukalah matamu baik-baik dan lihat siapa yang kau hadapi ini! Lihat baik-baik, manusia yang layak mampus!”

Kemudian Song Bu menghadapi Kaisar dan bertanya, “Yang Mulia, apakah hamba harus membunuh anjing ini?”

Kaisar Ceng Tek menggeleng kepala dan hanya memandang kepada Su Kan Lok dengan sinar mata penuh wibawa. Su Kan Lok terkejut mendengar ucapan Song Bu itu dan kini dia mengamati wajah Kaisar Ceng Tek dengan penuh selidik.

Pada saat itu, Kaisar Ceng Tek berkata lembut kepada Song Bu. “Song Bu, jangan membunuh orang disini.”

Mendengar disebutnya nama Song Bu Su-Kongcu menjadi semakin terkejut. Dia memang belum pernah bertemu dengan Ouw Yang Song Bu karena selama ini Song Bu hanya bergaul dengan pemuda-pemuda bangsawan tinggi, akan tetapi dia sudah mendengar nama besar jagoan muda baru dari Thaikam Liu Cin itu. Juga Kwi-San Ngo-Houw sudah mendengar akan nama besar Song Bu maka mereka juga terkejut bukan main.

Yang paling kaget dan ketakutan adalah Su Kan Lok, setelah kini dia mengenal wajah pria berusia tiga puluh tahun lebih itu. Saking takutnya, wajahnya menjadi sepucat mayat dan seluruh tubuhnya menggigil seperti orang yang terserang demam. Kedua kakinya menjadi lemas dan diapun roboh bertekuk lutut. Sambil membentur-benturkan dahinya di atas tanah diapun meratap dengan suara gemetar.

“Yang Mulia. Sri Baginda Kaisar... am... am... ampunkan hamba... ampunkan hamba...” Saking takutnya, Su Kan Lok menangis dan mendekam di atas tanah dengan tubuh menggigil.

Mendengar ucapan Su-Kongcu ini, lima orang tukang pukulnya itu terkejut bukan main. Juga tadi mereka mendengar disebutnya nama Song Bu. Nama yang amat terkenal bagi mereka. Maka, dengan ketakutan merekapun berlutut dan mohon ampun.

Cia-Ma yang mendengar bahwa tamunya adalah sri Baginda Kaisar sendiri, menjadi lemas kedua kakinya dan tubuh yang gendut itupun terkulai dan berlutut. Ouw Yang Hui juga terkejut. Sama sekali tidak pernah dibayangkannya bahwa orang yang ingin mendengar ia meniup suling dan bernyanyi itu adalah sang Kaisar sendiri!

Biarpun selamanya belum pernah ia berdekatan dengan Istana dan tidak tahu upacara dan peradatan di Istana, namun karena banyak membaca iapun tahu apa yang harus dilakukannya di depan Kaisar. Ia melangkah maju lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Kaisar dengan berucap dengan suara lembut dan penuh hormat. “Ban-swe... Ban-ban-swe (Hiduplah selaksa tahun!)...!”

Kaisar Cheng Tek memberi isarat dengan tangannya kepada Song Bu untuk mengusir enam orang itu dan Song Bu segera berkata kepada Su Kan Lok dan lima orang tukang pukulnya.

“Kalian berenam pergilah, akan tetapi keluarlah dengan merangkak! Baru boleh berdiri kalau sudah tiba di jalan raya!” Song Bu memang merasa gemas sekali dia hendak memberi pelajaran kepada mereka. “Dan tunggu saja hukuman yang akan dijatuhkan atas diri kalian!”

“Terimakasih, Yang Mulia...” Serempak enam orang itu berseru lalu karena ketakutan mereka tidak berani membangkang terhadap perintah Song Bu tadi. Mereka berenam lalu merangkak seperti enam ekor anjing, keluar dari taman itu melalui rumah Cia-Ma dan keluar dari pekarangan.

Tentu saja orang-orang yang sedang lewat di jalan raya depan rumah itu terheran-heran menyaksikan enam orang laki-laki itu merangkak-rangkak keluar dari pekarangan rumah pelesir Cia-Ma. Akan tetapi tak seorangpun berani bertanya apa lagi menertawakan ketika mereka melihat bahwa mereka adalah seorang Kongcu berpakaian mewah dan lima orang yang tampaknya bengis.

Enam orang itu setelah tiba di jalan raya lalu bangkit berdiri dan setengah berlari mereka lalu menuju ke sebuah kereta yang tadi ditumpangi Su-Kongcu, kemudian membalapkan kereta itu menuju ke kota raja. Setelah tiba di gedung ayahnya di kota raja, Su Kan Lok menangis di depan ayahnya, menceritakan tentang pertemuannya dan kesalahannya terhadap Kaisar yang tadinya tidak dikenalnya.

Mendengar pelaporan puteranya itu, Jaksa Su menjadi kaget setengah mati. Dia takut kalau kalau Kaisar akan menjadi marah besar dan mereka sekeluarga dapat dihukum karena ulah Su Kan Lok. Maka dia mendahului dan menyuruh perajurit menangkap dan menjebloskan Su Kan Lok dan Kwi-San Ngo-Houw ke dalam penjara, kemudian bergegas dia pergi menghadap Thaikam Liu Cin dan menangis di depan atasannya itu mohon agar Liu Cin suka memintakan ampun kepada Kaisar atas perilaku puteranya.

Sementara itu, setelah enam orang itu merangkak pergi, Kaisar Ceng Tek memandang kepada Siang Bi Hwa dan Cia-Ma yang masih berlutut di depan kakinya. Melihat sikap yang halus lembut dan penuh sopan santun dari Bi Hwa, sama sekali berbeda dari sikap waníta pelacur yang genit, juga melihat dandanan gadis itu sederhana walaupun rapi, Kaisar tersenyum. Hatinya senang dan diam-diam dia memuji Bi Hwa yang tidak kalah dibandingkan dengan para puteri Istana.

“Siang Bi Hwa, lanjutkan bermain musik. Mainkan Yang-kim dan bernyanyilah untuk kami. Kami ingin sekali mendengarnya,” kata Kaisar dengan lembut dan dia memberi isyarat kepada Song Bu untuk mengambilkan bangku-bangku yang berada diambang pintu itu.

Song Bu segera mengambil dua buah bangku dan Kaisar lalu duduk di atas sebuah bangku, kini tidak jauh dari tempat Bi Hwa bermain Yang-kim. Song Bu juga disuruh duduk oleh Kaisar, sedangkan Cia-Ma lalu membimbing anaknya ke tepi kolam.

Setelah mengetahui bahwa yang memerintahnya adalah Kaisar, tentu saja Bi Hwa tidak berani menolak. Apa lagi Kaisar itu bersikap lembut, sopan dan berwibawa. Namun, setelah tadi melihat sepak terjang Song Bu, teringatlah Bi Hwa kepada Wong sin Cu. Pemuda inipun gagah perkasa seperti Sin Cu!

Akan tetapi ia merasa sudah pernah mengenal wajah pemuda ini dan ketika Kaisar menyebut namanya, Bi Hwa menjerit dalam hatinya. Song Bu! Tentu saja Song Bu murid ayah kandungnya. Tan Song Bu yang menjadi Suhengnya (kakak seperguruannya)! Akan tetapi karena merasa malu bahwa ia sekarang telah menjadi anak angkat seorang mucikari, dia diam saja, hanya menahan keharuan hatinya.

Perintah Kaisar dapat mengalihkan perhatiannya dari Song Bu dan dituntun Cia-Ma, ia lalu kembali ke atas bangku dekat kolam dan mengambil Yang-kim yang memang telah tersedia di situ. la duduk dan mulai memainkan Yang-kim, dipetik jari jari tangannya yang mungil.

Cia-Ma duduk di atas batu tak jauh dari situ dengan sikap hormat karena kehadiran Kaisar. Jantung Cia-Ma berdebar keras. Akan menjadi kenyataankah mimpinya bermenantukan seorang bangsawan? Kalau saja Bi Hwa dapat menjadi isteri atau selir Kaisar! Wah ia tentu akan terangkat tinggi sekali!

Biarpun menyadari bahwa sekali ini permainan musik dan nyanyiannya didengarkan oleh Kaisar, orang tertinggi kedudukannya dan paling berkuasa di seluruh negeri, namun Bi Hwa tetap tenang dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri. Jari jari tangannya yang mungil itu sama sekali tidak gemetar ketika memainkan dawai Yang-kim. Terdengariah suara merdu berkencrang-kencring dan berkentang kenting. Kemudian terdengarlah ia bernyanyi merdu.

“Batang pohon yang terpelihara dan sehat menghasilkan daun yang hijau subur, bunga yang indah dan buah yang segar”

“Batang pohon yang sakit mematikan cabang ranting dan daun takkan menghasilkan bunga dan buah!”

“Karena itu basmilah semua benalu bersihkan semua hama perusak agar kita dapat menikmati hasilnya!”


Kata-kata dalam nyanyian itu amat berkesan dalam hati Kaisar. Isinya sungguh berbeda dengan nyanyian pada umumnya. Biasanya, lagu yang demikian merdu itu mempunyai kata-kata yang menggambarkan keindahan pemandangan alam, atau tentang kasih asmara, akan tetapi kata-kata dalam nyanyian Sing Bi Hwa ini terdengar aneh, menceritakan tentang batang pohon.

arena itu, setelah gadis itu berhenti bernyanyi, Kaisar Ceng Tek lalu menggapai dan memanggilnya. Bi Hwa menghampiri dengan langkah perlahan dan menundukkan mukanya. Ketika ia akan berlutut, Kaisar Ceng Tek mencegahnya.

“Jangan berlutut, duduk saja dikursi itu.” Dia memberi isyarat kepada Song Bu untuk menyerahkan kursinya kepada gadis itu. Bi Hwa menurut dan duduk sambil menundukkan mukanya.

“Nyanyianmu merdu sekali,” puji sang Kaisar.

“Terimakasih, Baginda” jawab Bi Hwa sederhana.

“Petikan Yang-kim-mu indah dan nyanyianmu merdu sekali...”

“Terimakasih, Yang Mulia,” kata Bi Hwa.

“Akan tetapi kami ingin mengerti tentang makna nyanyian tadi. Apa maksudmu dengan menggambarkan batang pohon itu? Coba jelaskan kepada kami,” kata Kaisar Ceng Tek dengan suara memerintah. “Karangan siapakah lagu yang Kau nyanyikan itu?”

“Ampun yang mulia, lagu itu adalah karangan hamba sendiri.”

“Lalu apa yang kau maksudkan dengan batang pohon itu? Jelaskan!”

“Batang pohon itu hamba maksudkan sebuah negara. Negara yang diatur dengan baik menjadi tertib dan kaya raya sehingga rakyatnya dapat hidup makmur dan berbahagia. Sebaliknya, kalau negara tidak teratur dengan baik, bagaikan batang pohon yang sakit, maka banyak kekacauan akan timbul dan rakyat tentu akan hidup serba kekurangan, sengsara, tertindas dan menderita.”

“Hemm, lalu apa yang Kau maksudkan dengan benalu dan hama?”

“Para pembesar yang jahat dan korup, pembesar yang hanya mementingkan kesenangan diri pribadi, mencuri uang negara dan memeras menindas rakyat untuk menggendutkan perut dan kantung sendiri, tidak adil dan sama sekali tidak mengurus tugasnya dengan baik, saling memperebutkan kekuasaan, hanya pandai menjilat ke atas menekan ke bawah, mereka semua itu bagaikan benalu-benalu dan hama-hama yang menggerogoti dan membuat pohon atau pemerintah menjadi tidak sehat.”

Kaisar Ceng Tek mengerutkan alisnya. “Hemmm, Siang Bi Hwa, apakah engkau menganggap bahwa pemerintahan kami sedang sakit dan banyak mengandung benalu dan hama perusak?”

“Ampunkan hamba, Yang Mulia Hamba mohon agar paduka berhati-hati terhadap orang-orang yang paduka percaya, karena banyak sekali orang yang menyalah-gunakan kepercayaan yang paduka berikan. Makin besar kekuasaan orang itu, maka akan semakin sewenang-wenang dan mempergunakan kekuasaannya. Hamba kira bahwa banyak di antara pembesar-pembesar negeri merupakan orang-orang yang tidak bijaksana.

"Hal ini dapat hamba nilai dari banyaknya para Kongcu putera bangsawan yang berdatangan ke sini dan kerjanya hanya menghambur-hamburkan uang berfoya-foya dan bertindak sewenang-wenang seperti putera Jaksa Su tadi. Hanya padukalah yang akan mampu membersihlkan benalu dan hama-hama itu. Ampunkan kelancangan hamba, Yang Mulia.”

Wajah Kaisar Ceng Tek menjadi kemerahan. Pada saat itu, ada sesuatu yang menyentuh hatinya. Dia sendiri merasa heran mengapa dia tidak menjadi marah kepada gadis itu. Gadis puteri mucikari berani bicara seperti itu! Kalau bukan Siang Bi Hwa yang bicara seperti itu, mungkin dia akan dia tangkap dan memenjarakannya. Akan tetapi ada sesuatu dalam kata-kata dan sikap Bi Hwa yang menyadarkannya bahwa ucapan gadis itu mungkin sekali mengandung kebenaran!

“Hemm, engkau memang seorang gadis yang luar biasa, Siang Bi Hwa. Karena kami senang sekali mendengar nyanyian dan ucapanmu, maka sekarang kami ingin memberi hadiah kepadamu. Mintalah apa saja kepada kami dan kami akan memenuhinya!”

Mendengar ini, Cia-Ma menjadi salah tingkah. la mengerling kepada anak angkatnya itu, memberi isarat dengan kedipan mata. Tentu saja Bi Hwa tidak mengerti maksudnya, tidak mengerti bahwa ibu angkatnya itu menghendaki ia mengajukan permintaan yang paling berharga dari Kaisar itu! Dalam hatinya Cia-Ma berpikir bahwa kalau ia yang menjawab, tentu ia akan minta agar Siang Bi Hwa diambil sebagai selir Kaisar dan diboyong ke dalam Istana, tentu saja berikut dirinya!

Atau andaikata ia tidak ikut diboyong juga, setelah semua orang tahu bahwa ia adalah mertua Kaisar, siapa berani mengganggunya? la akan dihormati orang seluruh negeri! Akan tetapi jawaban Siang Bi Hwa benar-benar mengejutkan Cia-Ma dan Song Bu, bahkan juga Kaisar sendiri.

“Ampunkan hamba, Yang Mulia. Hamba tidak membutuhkan apa-apa karena semua kebutuhan hidup hamba telah dipenuhi oleh ibu hamba. Hanya kalau hamba diperkenankan memohon kepada paduka, hamba hanya mohon sudilah kiranya paduka menindak dengan keras para pejabat yang tidak bijaksana, korup dan suka berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat jelata. Hanya itulah permohonan hamba.”

Song Bu merasa takjub mendengar ucapan gadis itu. Mana ada orang diberi kesempatan minta apa saja kepada Kaisar dan akan dipenuhi permintaannya, hanya minta agar Kaisar bertindak keras terhadap para pejabat yang korup? Cia-Ma merasa kecewa bukan main. Anak angkatnya telah melewatkan dan menyia-nyiakan kesempatan sebesar gunung emas!

Bahkan Kaisar Ceng Tek sendiri tercengang. Sedikitpun tidak pernah disangkanya bahwa gadis itu akan mengajukan permohonan seperti itu! Seorang gadis puteri seorang mucikari! Jelas bahwa gadis ini bukanlah seorang gadis biasa. Sama sekali tidak mata duitan, tidak mengejar kesenangan bahkan memperhatikan nasib rakyat. Kaisar mengangguk-angguk.

“Baiklah, Siang Bi Hwa. Kami akan memenuhi permintaanmu dan kami akan perintahkan para pembantu kami untuk menindak keras para pejabat yang tidak benar.”

Setelah berkata demikian, Kaisar Ceng Tek memberi isarat kepada Song Bu dan mereka berdua lalu keluar dari situ. Song Bu meninggalkan beberapa potong uang emas kepada Cia-Ma. Setelah Kaisar Ceng Tek dan Song Bu pergi, Cia-Ma menegur Bi Hwa dan menyesal sekali.

“Bi Hwa, kenapa engkau begitu bodoh? Kenapa engkau yang telah diberi kesempatan oleh SriBaginda Kaisar tidak minta untuk diangkat menjadi selir atau minta harta yang banyak? Engkau minta yang bukan-bukan!”

“Ibu, yang kuminta dari SriBaginda Kaisar itu amat berharga sekali. Kalau dipenuhi berarti mengurangi penderitaan rakyat, bahkan dapat mendatangkan kebahagiaan kehidupan rakyat jelata.”

“Aih, kenapa engkau memikirkan nasib orang lain saja? Nasib kita sendiri tidak ada yang memikirkan! Kenapa engkau tidak minta untuk dijadikan selir?”

“Aku tidak ingin menjadi selir SriBaginda Kaisar, ibu.”

“Atau engkau minta barang yang tidak ternilai harganya?”

“lbu, aku juga tidak ingin menjadi orang yang kaya raya. Akan tetapi setidaknya, dengan kunjungan SriBaginda Kaisar tadi, kita akan aman dan tidak akan ada yang berani mengganggu kita lagi.”

Wajah Cia-Ma yang tadinya muram itu menjadi berseri. “Ah, benar juga! SriBaginda Kaisar telah bersikap baik kepadamu. Berarti engkau tentu akan dilindunginya!” Cia-Ma bergegas keluar dan mulailah ia menyebarkan berita tentang kunjungan Kaisar ke rumah pelesirnya dan bahwa mulai saat itu, ia dan semua anak-buahnya berada di bawah perlindungan Kaisar. Dengan cara inipun Cia-Ma sudah merasa martabatnya terangkat tinggi sekali.

* * *

Siang Bi Hwa atau Ouw Yang Hui duduk di dalam kamarnya dan ia termenung. la teringat akan Tan Song Bu, Suhengnya yang datang bersama Kaisar siang tadi. Pertemuannya dengan Song Bu yang tidak terduga-duga itu otomatis mendatangkan bayangan masa lalu dan teringatlah ia kepada ayah ibunya dan kepada saudara tirinya, Ouw Yang Lan dan ibunya, Lai Kim. Teringatlah ia akan Pulau Naga dan semua keluarganya.

Siang Bi Hwa menahan keharuan hatinya agar tidak menangis. la telah rindu kepada mereka semua, akan tetapi bagaimana mungkin ia dapat pulang ke Pulau Naga? Selain Cia-Ma pasti tidak akan mengijinkan ia pergi, juga ia sendiri merasa malu bertemu dengan keluarganya di Pulau Naga setelah kini ia menjadi anak angkat seorang mucikari.

“Tok-tok-tok!” Daun pintu kamarnya terketuk dari luar.

“Siapa itu?” tanya Bi Hwa sambil menengok ke arah pintu.

“Aku, Bi Hwa. Bukalah pintunya, ada urusan penting yang akan kusampaikan kepadamu.”

Siang Bi Hwa membereskan rambutnya agar tidak tampak kusut dan ia mengusir kekalutan pikirannya agar tidak tampak pada wajahnya. Ibu angkatnya itu amat menghargainya sehingga kalau hendak berkunjung ke kamarnya tentu mengetuk pintu lebih dahulu. la lalu bangkit dan menghampiri pintu dan membukanya.

“Ada urusan apakah, ibu?” tanyanya lembut sambil memandang wajah Cia-Ma yang kelihatan berseri gembira.

“Bi Hwa, dia datang lagi, berkunjung ke sini dan ingin bertemu dan bicara denganmu!”

“Siapakah, ibu? Apakah Sribaginda Kaisar?”

“Ah, tidak, akan tetapi pengawalnya pemuda yang lihai dan yang telah menghajar Su Kongcu dan lima orang tukang pukulnya itu!”

Berdebar rasa jantung Bi Hwa. Tan Song Bu, Suhengnya yang datang! Akan tetapi mengapa? Siang tadi Suhengnya itu seperti tidak mengenalnya. Dan ia memang tidak ingin dikenal sebagai puteri mucikari. “Kenapa dia ingin bertemu denganku, ibu? Aku tidak mempunyai urusan dengan dia! Katakan saja bahwa aku sedang tidak enak badan dan sedang beristirahat, tidak mau diganggu.”

“Hussshh! Bagaimana boleh begitu? Ingat, dialah yang telah menyelamatkan kita dari Su Kongcu! Dan dia adalah orang kepercayaan Sribaginda Kaisar. Mungkin kedatangannya ini diutus oleh kaisar! Hayo, keluarlah dan temui dia. Apa engkau ingin kita semua celaka kalau membantah perintah Kaisar?”

Bi Hwa tidak berani membantah lagi. Mungkin Song Bu datang karena membawa perintah kaisar, pikirnya. la akan bersikap seolah tidak mengenal pemuda itu dan apapun perintah Kaisar, ia akan mempertimbangkan. la adalah seorang yang memiliki pendirian. Biarpun perintah kaisar, kalau itu tidak berkenan di hatinya, ia tidak akan membuta dan menaatinya begitu saja.

la adalah seorang anak pungut mucikari yang tentu dipandang rendah oleh orang orang lain. Apa yang dimilikinya selain harga diri yang harus dijunjungnya tinggi sebagai seorang wanita yang terhormat dan tidak sudi merendahkan, apa lagi menjual diri?

Bi Hwa mengikuti Cia-Ma keluar dari kamarnya, menuju ke ruangan tamu itu Pemuda itu duduk diam saja, tidak mempedulikan tiga orang gadis pelacur yang duduk pula di situ.

Tiga orang gadis pelacur itupun tidak berani berkutik, tidak berani mengganggu atau mengajak bicara pemuda yang mereka tahu adalah pengawal kaisar dan yang kemarin mengamuk dan menghajar Kongcu dan lima orang pengawalnya. Karena pemuda itu tidak menegur mereka, maka tiga orang gadis itupun hanya duduk diam seperti arca. Cia-Ma yang melihat situasi seperti lalu memberi isyarat kepada mereka bertiga untuk meninggalkan ruangan tamu itu.

Ketika mendengar langkah kaki Bi Hwa dan Cia-Ma, Song Bu menoleh dan dia segera bangkit berdiri ketika melihat Bi Hwa. Dia memandang dengan penuh perhatian. Demikian pula Bi Hwa. la berdiri di depan Song Bu dan menatap wajah pemuda itu dengan penuh selidik. Mereka berdua berdiri saling berhadapan dan saling tatap dengan tajam. Melihat ini, Cia-Ma lalu memberi hormat dan berkata dengan halus.

“Taihiap (Pendekar Besar), ini Siang Bi Hwa sudah datang. Silakan taihiap bicara dengannya. Bi Hwa anakku, temani Taihiap bercakap-cakap, aku hendak ke dalam dulu.” Wanita gemuk itu segera melangkah pergi meninggalkan ruangan tamu. Akan tetapi ia tidak terus menuju ke belakang, melainkan bersembunyi di balik daun pintu yang menembus ke ruangan itu dan memasang telinga.

Sebagai seorang ahli silat yang pendengarannya terlatih baik, tentu saja Song Bu dapat menangkap gerakan Cia-Ma, akan tetapi dia tidak perduli karena apa yang akan dibicarakan dengan Siang Bi Hwa bukan rahasia dan dia siap mempertanggung jawabkan pertemuannya dengan gadis itu. Sejenak dua pasang mata bertemu pandang.

Bi Hwa menundukkan pandang matanya lalu berkata dengan hormat dan lembut. “Taihiap, silakan duduk dan katakan kepentingan apa yang membawa Taihiap datang ke sini bertemu dengan saya.”

Akan tetapi Song Bu tidak mau duduk dan langsung saja dia menegur gadis itu. “Hui-moi, lupakah engkau kepadaku? Aku Suhengmu!”

Bi Hwa mengangkat muka dan menggeleng kepala. “Siapa, siapakah Taihiap?”

“Aku Suhengmu (kakak seperguruanmu), Tan Song Bu! Bahkan sekarang telah menjadi kakak-angkatmu Ouw Yang Song Bu.”

Bi Hwa tetap menggeleng kepalanya. “Tidak... saya tidak mengenalmu...”

“Hui-moil Engkau Ouw Yang Hui bukan? Aku tidak salah lihat dan aku masih mengenalmu dengan baik. Engkau Ouw Yang Hui! Ah, adikku, bagaimana engkau dapat berada di tempat seperti ini? Dan di mana adik Ouw Yang Lan? Di mana ibu Lai Kim dan ibumu Sim Kui Hwa? Hu-moi, harap jangan berpura-pura lagi. Ketahuilah, ayah Ouw Yang Lee juga berada di kota raja dan kalau dia sampai mendengar bahwa engkau berada di tempat seperti ini... ahh, tentu akan marah sekali!”

Diberondong dan dipojokkan oleh kata-kata Song Bu itu, yang membuat Ouw Yang Hui teringat akan semua keluarganya, gadis itu tidak dapat menahan kesedihannya lagi dan iapun menjatuhkan diri di atas kursi dan menangis lirih.

“Hemm, engkau, tentu diancam dan dipaksa oleh nenek gendut itu, ya? Biar kubunuh ia sekarang juga! Haii engkau, hayo keluar dari tempat sembunyimu!” Song Bu menuding ke arah pintu tembusan di belakang mana Cia-Ma bersembunyi.

Mendengar ia hendak dibunuh oleh pemuda perkasa itu dan kini dibentak disuruh keluar, Cia-Ma gemetaran dan menjadi pucat. la lalu keluar dan tersaruk-saruk menghampiri Song Bu, lalu menjatuhkan dirinya berlutut menghadap pemuda itu.

“Ampun, Taihiap... ampun dan jangan bunuh saya, anakku Bi Hwa, tolonglah...” lapun menangis ketakutan.

Ouw Yang Hui menghentikan tangisnya, mengangkat muka dan berkata kepada Song Bu. “Suheng, biarkanlah ia, jangan ganggu dia. Cia-Ma sama sekali tidak pernah memaksa atau mengancam aku, bahkan ia sudah kuanggap sebagai ibu sendiri. la baik dan berjasa sekali kepadaku, Suheng. Ibu masuklah dan jangan mendengarkan percakapan kami. Aku akan bicara dengan Suhengku ini.”

Cia-Ma mengangguk-angguk, bangkit berdiri lalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan tubuh masih lemas ketakutan. la bahkan menutupkan daun pintu tembusan itu dari luar. Setelah yakin bahwa Cia-Ma pergi dan tidak ada orang lain di dekat ruangan tamu itu, Song Bu berkata,

“Hui-moi, sekarang ceritakanlah semua riwayatmu sejak engkau dan Lan-moi bersama ibu kalian dilarikan penjahat dari Pulau Naga dan bagaimana pula engkau sampai berada di tempat seperti ini sebagai anak perempuan Cia-Ma. Akan tetapi jangan sebut aku Suheng karena ketahuilah bahwa sejak kalian meninggalkan Pulau Naga, ayah Ouw Yang Lee telah mengangkat aku sebagai puteranya dan sekarang aku bernama Ouw Yang Song Bu, kakak angkatmu, bukan lagi Suhengmu.”

Ouw Yang Hui beberapa kali menghela napas panjang untuk menenangkan hatinya yang terguncang, lalu ia bangkit, menghampiri sebuah almari tempat minuman di sudut ruangan itu, rnengambil seguci anggur dan dua buah cawan, membawanya kembali ke meja dan iapun duduk kembali. Dituangnya anggur dari guci ke dalam dua cawan anggur. Semua ini dilakukan dengan tenang karena hatinya sudah tenang kembali.

“Sebelum aku bercerita, mari kita minum dulu untuk menenangkan hati, Suheng eh, Bu-ko (kakak Bu),” katanya. Mereka mengangkat cawan dan minum anggur itu.

“Malam celaka itu, kami berempat, ibuku dan aku, ibu Lai Kim dan enci Lan, dilarikan dua orang penjahat dan dibawa pergi dari Pulau Naga dengan perahu. Aku tidak tahu siapa mereka, hanya tahu bahwa yang seorang laki-laki berusia hampir lima puluh tahun, tinggi besar brewok dan mata kirinya buta.”

“Hemm, jahanam itu adalah Gan Tok Houw Lo Cit yang sampai sekarang entah menghilang ke mana karena ayah dan aku tidak berhasil menemukan jejaknya!” kata Song Bu gemas.

“Adapun yang seorang lagi juga seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, tinggi besar dengan muka merah.”

“Jahanam yang ke dua ini belum kuketahui siapa. Akan tetapi kalau aku dapat menemukan Lo Cit, tentu aku akan dapat mengetahui siapa dia. Lanjutkan ceritamu Hui-moi,” kata Song Bu sambil memandang wajah adik angkatnya dan diam-diam dia harus mengakui bahwa Ouw Yang Hui benar-benar cantik jelita seperti bidadari!

“Kami dilarikan dengan perahu sampai ke daratan besar. Di sana telah menanti anak buah mereka. Kami lalu dipisahkah. Aku dan ibuku dinaikkan kereta oleh Si Mata Satu sedangkan Ibu Lai kim bersama Enci Lalu dibawa pergi dengan kuda oleh penculik ke dua yang bermuka merah. Akan tetapi, ditengah perjalanan, Si Mata Satu memerintahkan seorang anak buahnya untuk membawa aku pergi dengan kuda memisahkan aku dengan ibuku.”

“Dan bagaimana dengan ibumu?”

“Aku tidak tahu, ibu masih dikereta bersama Si Mata Satu. Kami menangis dan menjerit-jerit ketika dipisahkan, akan tetapi aku segera dilarikan dengan kuda oleh seorang anak buah Si Mata Satu. Akan tetapi di tengah perjalanan, orang yang melarikan aku dengan kuda itu dihadang dua orang dan merekapun menyerang penculikku. Terjadi perkelahian dan orang yang melarikan aku itu tewas di tangan dua orang itu. Aku berpindah tangan, dibawa pergi oleh dua orang itu dan akhirnya mereka membawaku kepada Cia-Ma. Nah, sejak itulah aku tinggal di sini dan diakui sebagai anak oleh Cia-Ma.”

“Dan mucikari itu memaksamu untuk melayani tamu?” tanya Song Bu dengan marah dan penasaran.

“Sama sekali tidak! Andaikata demikian tentu aku tidak sudi dan aku akan memilih mati dari pada merendahkan diri seperti itu. la bersikap baik sekali, menganggap aku anak sendiri dan ia benar-benar menyayangku sehingga akupun menyayangnya. la memanggil guru-guru untuk mendidik aku. Hanya karena desakan saja maka ia minta aku untuk bermain musik dan bernyanyi, itupun hanya ditonton dari jauh oleh para Kongcu.”

Song Bu mengangguk-angguk. Kemarahannya terhadap Cia-Ma mereda. Bagaimanapun juga, Cia-Ma telah bersikap baik kepada Ouw Yang Hui. Andaikata tidak demikian, andaikata Cia-Ma memaksa Ouw Yang Hui untuk melayani para Kongcu hidung belang, tentu dia akan membunuh mucikari itu! “Dan bagaimana dengan nasib ibumu dan Lan-moi bersama ibunya, Hui-moi?”

“Aku tidak tahu, Bu-ko. Aku sama sekali tidak pernah mendengar tentang mereka, tidak tahu mereka kini berada dimana, masih hidup ataukah sudah mati.”

“Ibumu masih hidup, Hui-moi. Bahkan ibumu pernah pulang ke Pulau Naga,” kata Song Bu yang mengenang kembali peristiwa pulangnya Sim Kui Hwa yang diantar oleh seorang pendekar yang lihai bernama Gan Hok San.

Mendengar ucapan Song Bu, Ouw Yang Hui memandang kakak angkatnya itu, matanya bersinar, la merasa girang sekali mendengar bahwa ibunya masih hidup dan selamat bahkan sudah kembali ke Pulau Naga. “Jadi ibu sudah pulang dan kini berada di Pulau Naga?” tanyanya.

Song Bu mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala. “Sayang sekali tidak seperti yang kita harapkan, Hui-moi. Ketika itu, beberapa hari setelah engkau dan Lan moi bersama kedua ibu kalian lenyap diculik orang, pada suatu hari muncul ibumu. la diantar oleh seorang pendekar Siauw-lim-pai bernama Gan Hok San yang telah menolongnya dari tangan penculiknya. Ibumu bermaksud untuk pulang ke Pulau Naga dan Pendekar Gan itu hanya mengantarnya sampai ke Pulau Naga.

"Akan tetapi ayah kita marah dan merasa cemburu, bahkan hendak membunuh ibumu. Akan tetapi Pendekar Gan menghalanginya sehingga terjadi perkelahian antara ayah dan Pendekar Gan. Akhirnya Pendekar Gan yang amat lihai dapat mengalahkan ayah. Ayah, mengusir ibumu dan akhirnya ibumu pergi meninggalkan Pulau Naga dikawal oleh Pendekar Gan Hok San.”

Ouw Yang Hui termenung, sedih memikirkan ibunya. Dapat ia bayangkan betapa hancur dan sedih hati ibunya ketika pulang ke Pulau Naga malah dicemburui dan diusir oleh suami sendiri! Bahkan hampir dibunuh dan tentu ibunya sudah tewas kalau tidak ada Pendekar Gan itu yang melindunginya.

“Keterlaluan sekali ayah!” gerutunya. “Sepantasnya dia mengasihani ibu dan berterima kasih kepada Pendekar Gan Hok San itu!”

Song Bu menghela napas dan menatap wajah adik angkatnya. “Hui-moi, engkau tahu bagaimana ayah kita. Dia amat keras hati dan karena dia sudah dikuasai cemburu, maka dia menjadi marah dan benci kepada iburnu. Akan tetapi sebaiknya kalau aku mengajak ayah untuk datang ke sini dan bertemu denganmu. Mungkin kalau melihatmu, hati ayah akan mencair dan akan menaruh kasihan kepada ibumu sehingga aku akan diperkenankan mencari ibumu dan mengajaknya pulang ke Pulau Naga. Akan tetapi mengapa selama ini engkau diam saja di sini dan tidak berusaha untuk kembali ke Pulau Naga, Hui-moi?”

“Bu-ko, bagaimana aku dapat melakukan hal itu? Ketika aku dibawa ke sini usiaku baru tujuh tahun lebih. Tak mungkin aku seorang diri kembali ke Pulau Naga yang begitu jauh menyeberangi lautan. Kemudian Cia-Ma bersikap demikian baik kepadaku, menimbuni aku dengan budi-budi kebaikan dan kasih sayang seperti ibuku sendiri. Bagaimana aku dapat meninggalkannya begitu saja?

"Kemudian, ada kenyataan lagi yang membuat aku bahkan tidak berani dan malu untuk kembali ke Pulau Naga, yaitu kenyataan bahwa aku telah menjadi anak angkat seorang mucikari. Biarpun aku tidak melakukan hal-hal yang melanggar kesusilaan dan ibu angkatku juga tidak memaksaku untuk melakukan perbuatan tersesat, namun orang-orang tetap saja memandang rendah keadaanku.”

Song Bu mengangguk-angguk dan memandang kepada Ouw Yang Hui dengan sinar mata mengandung iba. “Kasihan sekali engkau, Hui-moi. Apa yang kau kataan itu memang benar dan aku sama sekali tidak menyalahkanmu. Biarlah aku akan menceritakan keadaanmu kepada ayah. Mudah-mudahan saja ayah akan luluh hatinya dan menaruh kasihan kepadamu dan mengangkatmu dari tempat ini.” Song Bu lalu berpamit dan meninggalkan Ouw Yang Hui yang termenung dengan hati penuh kekhawatiran.

Gadis ini masih ingat benar betapa ayah kandungnya, biarpun amat mencintanya, namun ayahnya itu amat keras hati. Entah bagaimana sikap ayah kandungnya kalau bertemu dengan ia yang berada di rumah pelesir, ia tidak dapat membayangkan.

* * *

“Ayah, saya telah menemukan adik Ouw Yang Hui” kata Song Bu dengan nada suara gembira kepada Ouw Yang Lee yang sedang duduk di dalam kamarnya di rumah Thaikam Liu Cin yang mewah dan megah seperti Istana.

Seperti juga Song Bu, Im Yang Tojin, Pek Mo-ko dan Hek Mo-ko, Ouw Yang Lee mendapatkan sebuah kamar yang mewah dalam gedung besar itu. Para jagoan yang dipercaya ini hidup senang di situ. Mendengar ucapan Song Bu yang memasuki kamarnya dan tampak gembira itu, Ouw Yang Lee mengerutkan alisnya, mengangkat muka dan memandang wajah Song Bu dengan tajam penuh selidik. Disebutnya nama Ouw Yang Hui seketika mengingatkan dia kepada ibu anak itu. Sim Kui Hwa, dan api cemburu membakar hatinya.

“Hemm, perlu apa engkau memberitahukan hal itu kepadaku? Aku tidak mempunyai urusan lagi dengan Sim Kui Hwa, perempuan tidak tahu malu itu!”

“Akan tetapi saya menemukan Hui-moi hidup seorang diri dan sama sekali tidak bersama ibunya, ayah. Ketika ia dilarikan penculik, ia terpisah dari ibunya dan akhirnya ia dijual penjahat kepada seorang wanita bernama Cia-Ma yahg tinggal di Nam-Po. la amat merindukanmu, ayah. Ia perlu dikasihani dan sekarang Hui-moi telah menjadi seorang gadis yang amat cantik. la amat merindukan dan membutuhkanmu, ayah. Karena itu saya kira sebaiknya kalau ayah pergi ke Nam-Po dan menjemputnya. Sekarang ia dikenal sebagai Siang Bi Hwa, ayah.”

Ouw Yang Lee menggerakkan tangan kanannya dengan tidak sabar, memberi isarat agar Song Bu pergi dari kamar itu dan tidak mengganggunya lagi. “Sudahlah! Aku mau mengaso dan jangan ganggu aku!” katanya dengan sikap uring-uringan dan tidak perduli.

Song Bu menghela napas panjang, menggerakkan kedua pundaknya dan keluar dari kamar itu. Dia tahu bahwa ayah angkatnya itu memang amat keras hati dan keras kepala. Percuma saja membujuknya melakukan sesuatu yang tidak dikehendakinya. Diapun pergi memasuki kamarnya sendiri untuk beristirahat. Ketika Song Bu sudah terlena hampir tidur pulas, mendadak daun pintu kamarnya diketuk orang.

“Siapa itu?” tanyanya, masih setengah sadar.

“Song Bu, aku hendak pergi ke Nam-Po” Song Bu menjadi girang. “Di mana tinggalnya anak itu?”

“Carilah ia dirumah pelesir Pintu Merah, ayah,” katanya. Dalam keadaan masih mengantuk itu Song Bu sampai lupa bahwa keterangannya bahwa Ouw Yang Hui tinggal di rumah pelesir itu mungkin sekali akan membuat Ouw Yang Lee menjadi penasaran dan marah.

Pemuda itu karena merasa lega bahwa Ouw Yang Lee mau pergi menemui Ouw Yang Hui, telah tidur kembali. Keterangan Song Bu bahwa Ouw Yang Hui mengganti namanya menjadi Siang Hwa dan tinggal di rumah pelesir Pintu Merah milik Cia-Ma, bagaikan halilintar memasuki telinga Ouw Yang Lee. Seketika mukanya menjadi merah sekali, kedua tangannya dikepal dan tanpa mengeluarkan kata-kata lagi diapun melompat dan berlari keluar dari Istana Thaikam Liu Cin lalu langsung menuju ke kota Nam-Po.

Hari menjelang senja ketika akhirnya Ouw Yang Lee tiba di kota Nam-Po. Rumah rumah sudah mulai menyalakan lampu Tidak sukar bagi Ouw Yang Lee untuk menemukan rumah pelesir Pintu Merah milik Cia-Ma. Semua orang di kota itu tahu belaka di mana rumah pelesir yang amat terkenal itu. Dengan langkah lebar dan cepat Ouw Yang Lee mendatangi rumah itu. Dia melihat sebuah rumah besar yang pintunya bercat merah dan memiliki pekarangan yang teratur rapi dengan tanaman bunga-bunga indah.

Cepat dia melangkah menuju ke pintu rumah itu. Ternyata daun pintu itu terbuka dan di ruangan depan yang juga menjadi ruangan tamu yang luas dan terhias indah itu duduk tujuh orang laki-laki muda yang di temani oleh tujuh orang gadis muda yang cantik-cantik. Suasana dalam ruangan yang diterangi beberapa buah lampu gantung itu meriah dan gembira.

Agaknya tujuh pasang orang muda itu mengobrol sambil menikmati makanan kering dan anggur yang baunya memenuhi ruangan. Ouw Yang Lee mengerutkan alisnya dan pandang matanya yang tajam menyapu wajah tujuh órang wanita cantik itu. Dia yakin bahwa puterinya tidak berada di antara mereka.

“Di mana Siang Bi Hwa? Hayo cepat panggil dia keluar!” teriaknya kepada tujuh pasang orang muda yang sedang bersendau gurau itu.

Mendengar ada seorang laki-laki yang berusia hampir enam puluh tahun berteriak lantang mencari Siang Bi Hwa, tujuh orang Kongcu yang duduk di ruangan tamu itu menjadi tak senang. Mereka sendiripun tidak akan bersikap sekasar itu terhadap Siang Bi Hwa. Maka, mengandalkan kedudukan ayah mereka yang menjadi hartawan atau bangsawan di kota raja dan di Nam-Po, tujuh orang pemuda itu serentak bangkit menghampiri Ouw Yang Lee dan seorang diantara mereka dengan berani karena mengandalkan banyak teman, menegur dengan sikap angkuh.

“Haii, orang tua! Sikapmu kurang ajar sekali. Siapa engkau dan mau apa engkau mencari Siang Bi Hwa?”

“Siang Bi Hwa tidak akan sudi bertemu dengan orang kasar macam engkau, tua bangka tak tahu diri!” bentak orang ke dua sedangkan yang lain menunjukkan sikap memandang rendah.

Berkobar api kemarahan dalam dada Ouw Yang Lee. Dia mengeluarkan bentakan seperti seekor srigala menggereng, kedua lengannya bergerak menyambar dan tujuh orang pemuda hartawan dan bangsawan itu seperti tujuh helai daun kering diterpa badai. Tubuh mereka terlempar seperti di terbangkan dan baru berhenti setelah menabrak dinding ruangan itu dan jatuh ke atas lantai dalam keadaan pingsan!

Masih untung bagi mereka bahwa Ouw Yang Lee tidak berniat untuk membunuh, hanya menggerakkan kedua tangan mengibas ke arah mereka saking marahnya. Tujuh orang gadis pelacur itu menjerit-jerit melihat betapa tujuh orang tamunya terlempar menabrak dinding dan kini tergolek pingsan. Mereka bangkit dan, siap melarikan diri dari ruangan itu.

“Berhenti kalian! Hayo cepat panggil keluar Siang Bi Hwa atau aku akan menghancurkan semua yang berada di sini!” Setelah berkata demikian, Ouw Yang Lee lalu menendang sebuah pot bunga yang besar.

“Blarrr....!” pot bunga besar itupun pecah berhamburan. Ouw Yang Lee mendorong sebuah almari yang berdiri di sudut. Almari itupun roboh dan mengeluarkan suara berisik karena semua barang pecah belah yang berada di atasnya terbanting pecah.

Tujuh orang gadis itu menjadi semakin ketakutan. Mereka tidak mampu lagi menggerakkan kedua kaki mereka yang menggigil dan mereka lalu jatuh berlutut dengan ketakutan sehingga ada yang terkencing kencing.

“Ayaaaahhh...!” Terdengar jerit dan Ouw Yang Hui telah berdiri di ambang pintu tembusan dengan mata terbelalak ketika ia mengenal laki-laki yang mengamuk itu.

Ouw Yang Lee menghentikan amukannya dan memandang. Dia terbelalak kagum melihat seorang gadis yang cantik sekali, mirip sekali dengan Sim Kui Hwa isterinya yang ke dua, akan tetapi gadis ini bahkan lebih cantik daripada ibunya. Akan tetapi segera ingatannya dipenuhi oleh bayangan Sim Kui Hwa yang dianggapnya melakukan penyelewengan dengan pria lain, teringat akan kekalahannya terhadap Gan Hok San yang dianggap sebagai kekasih isterinya itu. Dan dia melihat kenyataan bahwa Ouw Yang Hui kini telah menjadi seorang pelacur dalam sebuah rumah pelesir!

“Perempuan busuk! Pelacur hina..! Jangan menyebut ayah kepadaku! Kau dan Ibumu adalah perempuan-perempuan rendah yang tak tahu malu!” bentaknya penuh kemarahan.

Mendengar makian ayahnya ini, seketika tubuh Ouw Yang Hui menjadi lemas dan ia menjatuhkan diri berlutut. “Ayah... ayah.... aku tidak pernah menjadi pelacur...!” Ratapnya sambil menangis.

“Tutup mulut! Engkau harus mampus di tanganku, anak yang hanya menodai namaku” Dia melangkah hendak menghampiri Ouw Yang Hui.

Akan tetapi pada saat itu, tujuh orang tukang pukul yang dipekerjakan menjaga keamanan di rumah pelesir itu telah berlompatan keluar dan mereka sudah mendengar bahwa di ruangan tamu ada orang yang mengamuk bahkan telah merobohkan tujuh orang Kongcu yang menjadi tamu.

Mereka sudah memegang golok masing-masing dan kini mereka menerjang ke dalam ruangan tamu. Karena terhalang orang-orang itu, Ouw Yang Lee yang berniat membunuh anaknya sendiri itu hanya dapat mengirim pukulan jauh ke arah gadis itu. Serangkum angin yang dahsyat menerjang Ouw yang Hui.

Gadis yang sedang berlutut itu dilanda angin pukulan sehingga terguling-guling saja. Gadis itu merangkak bangkit, lalu berlari sambil menangis. Hatinya terlalu sakit sehingga ia tidak merasakan sakit karena terguling-guling tadi. Hatinya seperti ditusuk-tusuk pedang. Ibunya dituduh menyeleweng dan diusir ayahnya, kini ia dituduh menjadi pelacur dan hendak dibunuh!

Dalam kesedihan dan kehancuran hatinya, ia teringat kepada Sribaginda Kaisar dan kepada Song Bu yang pernah menolongnya. Maka hanya kepada merekalah harapannya dan seperti tidak sadar lagi, Ouw Yang Hui berlari keluar dari rumah pelesir itu, memasuki malam yang mulai gelap dan terus berlari menuju ke kota raja. Tujuannya hanya satu, minta perlindungan Sribaginda Kaisar dan minta bantuan Song Bu untuk menyadarkan ayahnya.

Sementara itu, Ouw Yang Lee menjadi semakin marah melihat Ouw Yang Hui melarikan diri dan dia dihalangi oleh tujuh orang laki-laki yang memegang golok. Tujuh orang jagoan itu mengamangkan golok dan mengepung Ouw Yang Lee. Datuk ini marah, akan tetapi dia masih ingat bahwa dia berada di kota raja di mana hukum masih ditegakkan dan banyak pasukan akan menangkapnya kalau dia melakukan pembunuhan semena mena.

Dia hanya ingin membunuh Ouw Yang Hui, anak yang dia anggap telah mencenarkan nama baiknya, dan juga Cia-Ma, mucikari yang membeli Ouw Yang Hui. Karena itu, dia berseru nyaring kepada tujuh orang pengepungnya. “Kalian semua mundurlah kalau tidak ingin mampus!”

Akan tetapi tujuh orang jagoan itu tentu saja tidak mau mundur. Mereka mengandalkan jumlah banyak dan mereka memegang golok, sedangkan Ouw Yang Lee masih belum mencabut pedang yang tergantung di punggungnya.

“Engkau menyerahlah, jangan membikin kacau di tempat ini!” bentak seorang diantara para jagoan.

“Hyaaaatttt...!” Ouw Yang Lee menerjang ke depan. Tujuh batang golok menyambut dan menyambar ke arah tubuhnya. Akan tetapi, kedua tangannya bergerak cepat menghantami lengan lengan yang memegang golok. Terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan golok beterbangan. Ouw Yang Lee menyusulkan tendangan dan tamparan dengan cepat dan kuat sekali sehingga tujuh orang jagoan itu berpelantingan roboh!

Cia-Ma berlari keluar dan menjerit jerit. “Jangan bikin kacau di sini! Karena telah dilindungi oleh Sribagina Kaisar! Kau akan ditangkap dan dihukum berat.” teriaknya sambil menudingkan telunjuknya kepada Ouw Yang Lee.

Ouw Yang Lee yang melihat wanita gendut itu, lalu menuding dan bertanya. “Apakah engkau yang bernama Cia-Ma mucikari tempat ini?”

Dengan lantang dan berani Cia ma mendekat dan berkata, “Benar, aku Cia-Ma dan aku kenal dengan Sribaginda Kaisar yang pernah berkunjung ke sini dan kami dilindungi oleh Beliau! Engkau siapakah berani membikin kacau di sini."

Belum tertutup mulut Cia-Ma bicara sebuah tamparan mengenai pelipisnya dan tubuh Cia-Ma terpelanting roboh dan tidak dapat bergerak lagi, tewas seketika! Ouw Yang Lee melampiaskan kemarahannya dengan memporak porandakan isi ruangan tamu itu. Para gadis pelacur menangis tanpa suara dan mendekam saling peluk dengan ketakutan.

Juga para tukang pukul yang sudah sadar, demikian pula para Kongcu, tidak berani bangkit dan berdiam diri di atas lantai. Setelah puas menghancurkan seluruh isi ruangan itu, barulah Ouw Yang Lee melompat keluar dan ditangkapnya seorang pelayan yang kebetulan berada di situ.

“Hayo katakan, ke mana perginya Siang Bi Hwa tadi!” bentaknya sambil mengguncang-guncang tubuh pelayan itu yang dia tangkap pundaknya. Pelayan itu ketakutan. Dengan tubuh gemetaran ia menuding ke arah jalan raya. Ouw Yang Lee melemparkan tubuh pelayan itu sehingga jatuh ke atas tanah. Kemudian dia lari keluar dan berusaha melakukan pencarian terhadap puterinya.

Biarpun selama sepuluh tahun di rumah Cia-Ma tidak pernah berlatih silat atau olah raga lain, akan tetapi karena ketika kecil sudah pernah digembleng oleh Ouw Yang Lee dan memang pada dasarnya Ouw Yang Hui memiliki kesehatan tubuh yang amat baik, maka Ouw Yang Hui dapat berlari terus, keluar dari pintu gerbang kota di sebelah utara. la tahu bahwa jalan dari pintu gerbang itu menuju terus ke utara adalah jalan menuju ke kota raja.

Pernah dua kali ketik ia berusia dua-tiga belas tahun ia diajak Cia ma pelesir ke kota raja. Ouw Yang Hui berlari terus dalam cuaca yang remang remang. Ada bulan sepotong di langit, sehingga keadaan cuaca di jalan tidaklah begitu gelap. Bagaimanapun juga, karena tidak biasa melakukan perjalanan jauh, apa lagi dengan jalan setengah berlari itu,

Ouw yang Hui merasa kedua kakinya lelah dan lecet-lecet. Akan tetapi ia berlari terus, tersaruk-saruk, terhuyung-huyung. la dapat merasakan kebencian dan kemarahan ayahnya dan tahu dengan pasti bahwa kalau ayahnya sampai dapat menangkapnya, ia tentu dibunuh oleh ayahnya yang galak itu. Ketika melewati sebuah dusun, Ouw Yang Hui tidak berani berhenti. la berjalan melewati dusun itu, tidak masuk ke dusun,terus menuju ke utara, ke arah kota raja.

la tidak memperdulikan kakinya yang lelah dan sakit, melainkan berjalan terus dengan nekat dan tidak akan berhenti sebelum sampai di kota raja. la sama sekali tidak tahu bahwa empat pasang mata mengikutinya sejak ia lewat di dekat dusun tadi. Empat pasang mata pria berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Mereka adalah empat orang laki-laki berandalan yang tidak segan melakukan perbuatan tercela.

“Agaknya ia seorang wanita!” kata seorang di antara mereka setelah Ouw Yang hui lewat.

“Benar, tubuhnya ramping sekali. Biarpun klta tidak dapat melihat jelas, pasti ia seorang wanita.”

“Dan tentu masih muda.”

“Mungkin ia cantik dan tentu bukan orang dusun kita.”

“Mari kita kejar dan kita lihat siapa dia dan mengapa malam-malam begini berjalan seorang diri.” Mereka menyalakan dua batang obor dan berlari-lari melakukan pengejaran. Tak lama mereka mengejar. Mereka dapat menyusul, melewati Ouw Yang Hui, lalu berbalik menghadang. Ouw Yang Hui terkejut sekali melihat empat orang itu kini menghadangnya dan dua buah obor diacungkan untuk menyinari mukanya.

“Sobat-sobat yang baik, tolonglah jangan halangi aku. Minggirlah dan biarkan aku lewat,” kata Ouw Yang Hui, tidak menduga buruk, mengira mereka itu hanya orang-orang dusun yang merasa heran dan ingin tahu....

Selanjutnya,