Sepasang Rajah Naga Jilid 13

Cerita silat karya Kho Ping Hoo. Sepasang Rajah Naga Jilid 13
Sonny Ogawa
Cerita silat karya Kho Ping Hoo
Karya Kho Ping Hoo

Sepasang Rajah Naga Jilid 13 - EMPAT orang itu benar-benar tertegun dan terpesona. Tak disangkanya bahwa orang yang mereka kejar itu bukan hanya seorang wanita muda, melainkan seorang gadis yang luar biasa cantik jelitanya.

“Nona manis, engkau siapakah dan malam-malam begini engkau hendak pergi kemanakah?” tanya seorang di antara empat laki-laki itu yang gigi atasnya menonjol keluar semua.

“Aku... aku bernama Ouw Yang Hui dan hendak pergi ke kota raja,” kata Ouw Yang Hui, tidak berani menggunakan nama Siang Bi Hwa yang sudah amat terkenal.

“Kota raja? Kota raja amat jauh dari sini, nona. Sebaiknya nona bermalam saja malam ini bersama kami. Besok akan kami antarkan nona ke kota raja!” kata orang kedua sambil menyeringai dan mendekatkan mukanya pada muka Ouw Yang Hui sehingga gadis itu melangkah mundur dengan jijik. la mencium bau arak dari empat orang itu, tanda bahwa mereka habis minum arak dan tentu dipengaruhi arak sehingga sikap mereka cengar-cengir kurang ajar.

"Tidak, aku harus melanjutkan perjalananku ke kota raja. Harap kalian minggir dan biarkan aku lewat!” kata Ouw Yang Hui dan mencoba untuk menyelinap dari mereka. Akan tetapi empat pasang tangan menangkapnya.

“Lepaskan! Kalian ini mau apa? Lepaskan aku” Ouw Yang Hui meronta-ronta, akan tetapi tentu saja ia tidak mampu melepaskan dirinya dari cengkeraman delapan buah tangan itu.

Empat orang itu tertawa-tawa. “Bawa ia ke gubuk itu!”

Mereka lalu menarik dan menyeret Ouw Yang Hui ke arah sebuah gubuk yang berdiri di tepi sawah. Gubuk itu merupakan tempat peristirahatan bersama dari para petani kalau sedang bekerja di sawah, sebuah bangunan sederhana dari bambu. Di dalamnya terdapat sebuah balai bambu di mana para petani duduk beristirahat. Ouw Yang Hui diseret masuk ke dalam gubuk itu.

Sesosok tubuh tinggi besar berkelebat di luar gubuk. Bayangan ini adalah Ouw Yang Lee. Dia melakukan pengejaran dan pencarian terhadap Ouw Yang Hui sampai ke luar kota. Sebetulnya dia sudah merasa putus asa. Tiba-tiba dia melihat dua batang nyala obor di kejauhan. Dia tertarik dan berlari cepat menghampiri. Masih dapat tampak olehnya ada empat orang laki-laki menyeret seorang wanita di bawah penerangan dua batang obor itu. Mereka memasuki sebuah gubuk.

Kalau dalam keadaan biasa, Ouw Yang Lee tentu tidak akan memperdulikan peristiwa itu. Bukan urusannya dan dia tidak mau mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi sekali ini dia tidak dapat bersikap tak acuh. Dia sedang mencari Ouw Yang Hui dan siapa tahu wanita itu anaknya! Setelah dekat gubuk itu, Ouw Yang Lee mengintai. Dilihatnya empat laki-laki sedang memegangi seorang gadis yang meronta-ronta dan gadis itu adalah Ouw Yang Hui, puterinya yang dibencinya!

Teringat akan kebenciannya karena puterinya itu telah dibesarkan dalam rumah pelacuran bahkan menjadi puteri angkat mucikari yang tentu saja membuat gadis itu menjadi seorang pelacur pula, Ouw Yang Lee diam saja, membiarkan puterinya menjadi permainan empat orang pria itu. Biar ia tahu rasa, geramnya dalam hati, perempuan rendah dan hina yang mencemarkan namanya, biar terhina dan tersiksa sebelum mati.

“Song Bu-ko (kakak Song Bu). Ayah... Ayah... toloonggg..!” terdengar Ouw Yang Hui yang sudah tak mampu meronta lagi itu menjerit.

Jeritan ini bagaikan halilintar memasuki tubuh Ouw Yang Lee. Dia tersentak dan seolah mendengar jeritan anaknya itu di waktu kecil dahulu. Tiba-tiba dia menggerakkan kedua tangannya, mendorong gubuk itu.

“Braaakkkk...!” gubuk itu roboh dan tampak empat orang laki-laki itu terbelalak memandang ke arahnya. Bagaikan seekor biruang marah, Ouw Yang Lee menghampiri mereka. Seorang diantara mereka agaknya menyadari bahwa laki-laki tinggi besar yang nerobohkan gubuk ini tentu seorang musuh, maka diapun segera mengayun kaki kanannya menendang ke arah perut Ouw Yang Lee.

Namun dengan mudah Ouw Yang Lee miringkan tubuh sehingga tendangan itu lewat di sampingnya. Secepat kilat dia menangkap kaki itu dan sekali angkat, tubuh orang itu telah terangkat ke atas! Ouw Yang Lee yang memegang kaki kanan orang itu, melangkah maju dan ketika orang kedua menerjangnya, dia memutar orang tangkapannya. Putaran itu sedemikian kuatnya dan dengan tepat sekali kepala orang pertama itu menghantam kepala orang kedua yang menerjang maju.

“Wuuuuttt... prakkk!!” Dua buah kepala itu bertemu dengan kerasnya dan akibatnya mengerikan. Dua buah kepala itu pecah dan isinya berhamburan bersama darah.

Orang kedua roboh dan tewas seketika seperti juga orang pertama yang dilempar begitu saja oleh Ouw Yang Lee. Dua orang berandalan yang lain terkejut bukan main melihat dua orang kawannya tewas dalam keadaan mengerikan. Dua orang itu memang biasanya hidup berandalan dan biasa mempergunakan kekerasan. Mereka belum menyadari bahwa kini mereka berhadapan dengan seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Kemarahan membuat mereka lengah dan kesombongan membuat mereka seperti buta tidak melihat lawan yang berbahaya. Keduanya sudah mencabut golok dan maju menerjang Ouw Yang Lee dengan, ganasnya. Akan tetapi, bagi Ouw Yang Lee, kedua orang itu bagaikan dua orang kanak-kanak nakal yang tidak ada artinya sama sekali. Sambaran dua batang golok itu bahkan disambutnya dengan sambaran lengannya yang menghantam dari samping.

“Wuuuttt bresss...!!” Dua batang golok itu terpental lepas dari pegangan kedua orang itu, bahkan mereka terhuyung. Sebelum hiläng rasa kaget mereka, dua kali tangan Ouw Yang Lee berkelebat dan dua orang itu roboh dan tewas seketika terkena pukulan Ang-Tok-Ciang (Tangan Racun Merah)! Di bawah sinar dua obor yang tertancap di atas lantai dan masih bernyala, Ouw Yang Lee melihat puterinya berdiri dengan mata terbelalak memandangnya.

Ouw Yang Hui yang nyaris diperkosa empat orang berandalan tadi merasa girang melihat Ayahnya datang menolongnya. Akan tetapi iapun merasa ngeri melihat Ayahnya membunuh empat orang itu dan kini memandang Ayahnya dengan penuh kesangsian dan ketakutan sekali.

“Ayah...” Akhirnya Ouw Yang Hui dapat berseru memanggil Ayah kandungnya.

Ouw Yang Lee mendengus. “Jangan sebut aku Ayah! Engkau tidak patut menjadi anakku, tidak pantas untuk hidup. Engkau harus mati di tanganku agar tidak mencemarkan, namaku. Haiiittt...!”

Ouw Yang Lee mengangkat tangan yang sudah dipenuhi hawa Ang-Tok-Ciang sehingga lengan itu berubah merah sekali. Dia tidak ingin gagal untuk membunuh gadis itu dengan sekali pukulan. Kemudian dia menerjang ke depan dan Ouw Yang Hui yang maklum bahwa tidak mungkin ia menghindarkan diri, terbelalak memandang, menghadapi kematian dengan mata terbuka.

“Wuuutt...” Hantaman itu datang dengan kuatnya, belum sampai mengenai tubuh Ouw Yang Hui sudah terasa panasnya oleh gadis itu.

“Wuuuttt... dukkk!!.” Lengan Ouw Yang Lee terpental dan dia terkejut bukan main ketika merasa betapa lengannya bertemu dengan benda yang luar biasa keras dan kuatnya. Cepat dia melangkah empat kali ke belakang dan di bawah keremangan sinar dua batang obor dia melihat seorang pemuda telah berdiri didepan Ouw Yang Hui dan pemuda itu agaknya yang tadi menangkis pukulan mautnya.

Datuk itu memandang dengan penuh perhatian. Dia melihat pemuda yang masih muda sekali, usianya baru kurang lebih dua puluh tahun, tubuhnya sedang saja namun tegap berisi. Mukanya berbentuk bulat telur, rambutnya hitam gemuk, sepasang alisnya seperti golok dan matanya mencorong penuh kekuatan batin namun lembut, hidungnya mancung dan mulutnya yang kecil itu selalu tersenyum manis. Kulit mukanya yang putih membuat sepasang alisnya tampak hitam dan jelas.

“Lo-Cianpwe (orang tua gagah),” kata pemuda itu dengan lembut dan sikapnya halus, “Tidak semestinya Lo-Cianpwe membunuh gadis tak berdosa dan tak berdaya ini.”

Tentu saja Ouw Yang Lee menjadi marah sekali mendengar ucapan pemuda yang tidak dikenalnya itu. “Mau apa engkau mencampuri urusanku? Pergi kau atau, akan kubunuh engkau kalau berani menghalangi aku!”

“Tidak, Lo-Cianpwe, saya tidak akan pergi. Lo-Cianpwe telah membunuh empat orang laki-laki ini, hal itu tidak dapat saya salahkan karena memang empat orang laki-laki ini mempunyai niat yang keji dan jahat sekali terhadap gadis itu. Akan tetapi gadis itu sama sekali tidak bersalah. Gadis itu baik dan pantas dihargai, mengapa engkau hendak membunuhnya? Terpaksa saya akan membelanya kalau Lo-Cianpwe berkeras hendak membunuhnya.”

“Setan! Kalau begitu pendirianmu, mampuslah!” berkata demikian, Ouw Yang Lee menyambar sebatang obor bernyala dan melontarkannya ke arah pemuda itu Karena dari tangkisan tadi saja dia sudah dapat menduga bahwa pemuda itu memiliki ilmu kepandaian yang tangguh juga, maka dia menyambitkan obor bernyala itu dengan pengerahan tenaganya. Obor bernyala itu meluncur ke arah si pemuda bagaikan sebuah meteor.

Akan tetapi pemuda itu ternyata lincah bukan main. Biarpun disambit dari jarak dekat, dia dapat tergerak seperti kilat ke samping sehingga obor bernyala itu lewat di sisi tubuhnya. Obor itu menabrak reruntuhan gubuk dan segera reruntuhan gubuk yang terbuat dari pada bambu dan kayu itu, terbakar, bernyala besar.

Melihat ini, Ouw Yang Hui segera menjauhkan diri. Akan tetapi ia tidak melarikan diri, hanya berdiri menonton dari bawah sebatang pohon dengan jantung berdebar tegang. Ia segera mengenal pemuda yang membelanya itu, yang bukan lain adalah Wong Sin Cu yang telah dikenalnya karena pemuda itu pernah pula menyelamatkannya dari tangan Su Kan Lok dan para jagoannya dalam taman rumah Cia-Ma.

Dia merasa girang sekali akan tetapi juga hatinya menjadi tegang. la tidak ingin melihat pemuda itu membunuh Ayahnya. la menjadi bingung melihat dua orang itu sudah berhadapan di bawah sinar api besar yang melahap reruntuhan gubuk dan tidak tahu harus berkata atau berbuat apa. Wong Sin Cu sudah melompat menjauhi api besar, demikian pula Ouw Yang Lee. Datuk ini penasaran sekali. Mereka sudah berdiri tegak, saling berlagak, siap untuk bertanding.

“Siapa engkau? Katakan namamu agar jangan mati tanpa nama!” kata Ouw Yang Lee yang ingin sekali tahu siapa pemuda yang berani menentangnya ini.

“Nama saya Wong Sin Cu, Lo-Cianpwe.”

“Wong Sin Cu, sekarang bersiaplah untuk mampus!” bentak Ouw Yang Lee dan dia segera menerjang dan begitu menyerang, dia sudah mempergunakan ilmu silat Ang-Tok-Ciang yang amat dahsyat. Setiap sambaran tangan datuk ini mengandung hawa beracun yang amat panas.

“Wuuuuttt...” Pukulan tangan kiri dengan jari terbuka dari Ouw Yang Lee mengarah dada Sin Cu. Akan tetapi pemúda ini sudah dapat menduga bahwa lawannya amat lihai dan memiliki pukulan maut. Maka diapun cepat mengelak ke kiri.

“Syeeett...!” Kaki kanan Ouw Yang Lee menyambar. Tendangan itupun dahsyat sekali, cepat dan kuat. Kembali Sin Cu menggeser kakinya dengan gerakan aneh dan cepat sehingga tendangan itupun luput. Hal ini membuat Ouw Yang Lee menjadi semakin penasaran dan marah. Dia lalu menyusulkan serangan bertubi-tubi, menggunakan kedua tangannya dibantu kedua kakinya, tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk balas menyerang.

Akan tetapi dia segera terkejut dan terheran-heran. Semua serangannya itu luput! Tubuh pemuda itu berkelebatan seringan asap dan selalu dapat menghindarkan serangan-serangannya. Sin Cu dapat melakukan hal ini karena dia telah mempergunakan ilmu langkah ajaib Chit-Seng Sin-Po (Langkah Sakti Tujuh Bintang).

Maka, dua puluh jurus lebih dia menyerang, tidak satupun dari serangannya itu mampu menyentuh tubuh Sin Cu. Pemuda itupun dapat menilai bahwa lawannya sungguh berbahaya sekali, bukan lawan biasa, melainkan seorang lawan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Kalau dia terus menghindarkan diri dengan Chit-Seng Sin-Po, akhirnya dia akan terancam bahaya. Oleh karena itu, mulailah dia membalas. Sebuah pukulan dari Ouw Yang Lee dielakkannya dengan melompat agak jauh kebelakang dan tiba-tiba dia memasang kuda kuda ilmu silat Im-Yang Sin-Ciang (Silat Sakti Positip Negatip). Kaki kirinya ditekuk, lutut, tangan kirinya menyentuh tanah tangan kanannya lurus menuding keatas.

Melihat pemukaan ilmu silat ini, kembali Ouw Yang Lee terkejut. Dia mengenal ilmu silat itu. Bekas lawannya yang kini menjadi rekannya dan juga yang telah mengajarkan ilmu itu kepada Song Bu, yaitu Im Yang Tojin, juga memiliki ilmu silat seperti yang diperlihatkan Sin Cu itu. Ilmu silat Im-Yang Sin-Ciang Dan dibandingkan dengan Im Yang Tojin, ilmu kepandaiannya dapat dibilang seimbang.

“Apa hubunganmu dengan Im Yang Tojin?” Ouw Yang Lee bertanya sambil memandang pemuda itu.

“Saya tidak mengenal orang yang bernama Im Yang Tojin,” jawab Sin Cu dengan sebenarnya. Akan tetapi karena dia sedang memasang kuda-kuda ilmu silat Im-Yang Sin-Ciang, pertanyaan Ouw Yang Lee itu dapat dia menduga bahwa lawannya tentu sudah mengenal ilmu silat itu, maka diapun lalu melompat berdiri dan memasang kuda-kuda lain.

Kedua kakinya memasang pembukaan Menunggang Kuda dari ilmu silat Thai-Yang Sin-Ciang (Silat Sakti Inti Matahari). Benar saja, melihat jurus pembukaan ini, Ouw Yang Lee tidak mengenalnya dan diapun mendahului gerakan pemuda itu untuk melanjutkan serangannya.

Sekali ini Sin Cu bukan hanya mengelak melainkan membalas dan dari telapak tangannya yang terbuka menyambar hawa yang tidak kalah panasnya dari hawa panas yang terkandung dalam pukulan Ang-Tok-Ciang. Perkelahian itu berlangsung semakin seru dan hebat, akan tetapi perlahan lahan Ouw Yang Lee kian terdesak oleh Sin Cu. Beberapa kali hampir saja dia terkena pukulan panas itu.

Karena itu, Ouw Yang Lee mengeluarkan ilmu simpanannya. Ilmu ini merupakan jalan pintas untuk mengakhiri sebuah pertandingan dengan mengadu tenaga. Dia menekuk kedua kakinya sampai hampir berjongkok, mengerahkan seluruh tenaga sinkang berhawa racun dan menyalurkannya lewat kedua lengannya dan kedua lengan itu dihentakkan menghantamkan kedua telapak tangan ke depan. “Haiiiiiitt...!” bentaknya.

Sin Cu maklum akan hebatnya pukulan itu. Mengelak dari pukulan macam itu amat berbahaya, maka tidak ada jalan lain baginya kecuali menyambut pukulan itu dengan pengerahan tenaga yang sama. Diapun mendorongkan kedua telapak tangan ke depan menyambut pukulan lawan.

“Wuuutt..., Blaarr...!!” dua tenaga raksasa bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Ouw Yang Lee terpental ke belakang dan terhuyung-huyung, sedangkan tubuh Sin Cu mundur lima langkah.

Dilihat dari akibat benturan tenaga dalam ini saja dapat diketahui bahwa Sin Cu lebih unggul. Biarpun tidak sampai terluka parah, Ouw Yang Lee mengusap sedikit darah yang keluar dari mulutnya. Dia terbelalak kaget dan heran, lalu membalikkan tubuh dan dengan langkah lebar pergi dari tempat itu, Dia maklum bahwa kalau dia melawan terus, akhirnya akan mendapat malu atau kalah oleh pemuda itu. Maka dia merasa lebih baik pergi sebelum dirinya dirobohkan dan mendapat malu.

Setelah datuk itu pergi, barulah Sin Cu memutar tubuh dan matanya mencari-cari akan tetapi dia tidak melihat Ouw Yang Hui yang tadi berdiri dekat api. Api yang membakar gubuk itu masih belum padam dan sinarnya masih menerangi tempat itu. Sin Cu mengerutkan alisnya dengan khawatir ketika matanya mencari-cari dan tidak menemukan gadis itu.

“Cu-Twako (Kakak Cu)...!” Tiba-tiba terdengar suara lembut. Sin Cu memutar tubuhnya dan melihat gadis itu keluar dari balik sebatang pohon di mana tadi dia bersembunyi. Gadis itu tampak lega dan girang bahwa akhir pertandingan itu dimenangkan oleh Sin Cu tanpa membunuh Ayahnya.

“Hui-moi.. Ah, Hui-moi, syukur engkau di sini. Aku sudah khawatir kalau engkau pergi seorang diri di malam gelap yang penuh bahaya ini.”

“Cu-Twako..., engkau... engkau kembali telah menyelamatkan aku dari kematian. Ah... kalau engkau tidak datang, tentu aku sudah tak bernyawa lagi...” Gadis itu merasa terharu dan tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Sin Cu.

Tentu saja pemuda itu menjadi gugup dan di luar kesadarannya dia memegang kedua pundak gadis itu dan menariknya berdiri. Mereka berdiri berhadapan dan kedua tangan Sin Cu masih terletak di atas kedua pundak gadis itu. Setelah agak lama barulah dia merasakan betapa lunak dan hangat, juga lemah sekali kedua pundak itu. Cepat dia melepaskannya seolah kedua tangannya baru saja memegang bara api dan berkata dengan gugup.

“Ah, maafkan aku... nona... eh Hui-moi...” kemudian dia dapat mengatasi kegugupannya dan berkata lebih tenang. “Hui-moi, sebaiknya kita cepat pergi meninggalkan tempat ini. Siapa tahu dia akan kembali membawa teman-teman sehingga engkau akan terancam bahaya.”

“Akan tetapi, bagaimana dengan empat buah mayat ini, Twako? Kita tidak mungkin meninggalkan mereka begitu saja tanpa diurus.”

Bukan main kagumnya hati Sin Cu. Tadi dia melihat sendiri betapa gadis itu akan diperkosa dan dihina oleh empat orang berandalan itu dan sekarang gadis itu bahkan memperhatikan jenazah mereka, agaknya telah melupakan sama sekali apa yang hendak dilakukan mereka tadi. Benar-benar seorang gadis yang berbudi mulia dan pemaaf, hal yang amat sukar dilakukan sembarang orang.

“Engkau benar sekali, Hui-moi. Memang mereka sudah semestinya diurus, akan tetapi bukan kita yang mengurus. Mari kita pergi dan singgah di dusun terdekat itu untuk memberitahu kepada penduduk agar mereka yang mengurus empat jenazah ini. Kita harus meninggalkan tempat ini secepatnya dan setelah berada di tempat aman, baru kita bicara.”

Dalam cuaca yang remang-remang, hanya diterangi bulan sepotong, mereka pergi menuju ke dusun. Beberapa kali kaki Ouw Yang Hui tersandung. Di luar kesadarannya, Sin Cu selalu menangkap tangannya untuk mencegah agar Ouw Yang Hui tidak terjatuh. Akhirnya, karena jalan itu kasar dan cuaca tidak begitu terang Ouw Yang Hui yang memegang dan menggandeng tangan Sin Cu untuk mencari pegangan.

Sin Cu merasa betapa lembut, halus dan hangatnya tangan itu yang membuat jantungnya berdebar tegang. Akan tetap dia segera menekan perasaannya dan mereka berjalan sampai tiba di dusun itu. Pada pintu rumah pertama yang mereka temui, Sin Cu mengetuknya. Setelah berulang-ulang mengetuk, terdengar sapaan dari dalam. Suara seorang pria, kebetulan sekali, pikir Sin Cu. Kalau wanita yang menjawab tentu wanita itu akan ketakutan mendengar adanya pembunuhan.

“Sobat, bukalah pintu. Aku adalah seorang yang kebetulan lewat dan aku menyaksikan peristiwa hebat yang sepatutnya diketahui oleh seluruh penduduk dusun ini,” kata Sin Cu dengan suara tenang dan lembut.

Agaknya suara ini yang menarik hati si penghuni rumah dan dia sgera membuka pintunya. Sin Cu berhadapan dengan seorang laki-laki berusía kurang lebih lima puluh tahun yang terbelalak heran melthat seorang pemuda bersama seorang gadis yang amat cantik berdiri di depan pintu rumahnya.

“Ada apa? Apakah yang telah terjadı?” tanyanya heran.

“Kami berdua kebetulan di sana, di luar dusun, di persawahan yang ada gubuknya itu terjadi kebakaran. Gubuk itu terbakar dan kami melihat empat orang sudah menjadi mayat di sana. Harap paman memberitahu kepada semua penduduk agar dapat melihat dan mengurus empat mayat itu.”

“Kebakaran? Pembunuhan? Siapa mereka?”

“Kami tidak tahu, hanya melihat kebakaran dan perkelahian. Sudahlah, paman, kami akan melanjutkan perjalanan!” Sin Cu menggandeng tangan Ouw Yang Hui lalu menarik gadis itu meninggalkan petani yang masih bergong dan bingung itu.

Karena ingin menghindarkan diri dari pengejaran maka Sin Cu mengajak Ouw Yang Hui meningggalkan jalan raya, mengambil jalan setapak yang mendaki sebuah bukit. Setelah berada di lereng bukit, barulah dia berhenti. Di situ terdapat banyak batu-batu besar dan dia mengajak Ouw Yang Hui duduk di atas batu. Gadis itu tampak kelelahan sekali.

Maklum, ia seorang gadis yang tidak biasa dengan pekerjaan berat, sudah melakukan perjalanan jauh dari kota raja, kemudian mengalami hal-hal yang amat meneğangkan dan menakutkan, di tambah pula diajak berjalan meninggalkan sawah itu oleh Sin Cu. la duduk di atas batu, menjulurkan kedua kakinya yang kelelahan dan menghela napas panjang.

Belum pernah ia merasa demikian nikmatnya duduk dan menjulurkan kedua kaki. Padahal ia duduk di atas batu yang kasar dan keras, di udara terbuka yang hawanya mulai dingin sekali dan di bawah penerangan bulan sepotong yang kadang tertutup awan yang lewat sehingga cuacanya remang-remang.

Hal ini tidaklah mengherankan. Dalam keadaan lelah, orang akan menikmati istirahat sepenuhnya walaupun tempatnya beristirahat itu sederhana sekali. Orang yang kelaparan akan menikmati makan makanan yang paling sederhana sekalipun dan orang yang kehausan akan menikmati minuman air hujan sekalipun!

Sin Cu membiarkan gadis itu beristirahat melepas lelah dan tidak mau mengganggunya dengan pertanyaan walaupun hatinya ingin sekali tahu mengapa gadis yang berjuluk Siang Bi Hwa dan menjadi pujaan banyak Kongcu hartawan dan bangsawan itu pergi sampai ke tempat sejauh ini pada malam hari seorang diri.

“Cu-Twako,” akhirnya Ouw Yang Hui yang bertanya sambil mencoba untuk menatap wajah pemuda itu di bawah sinar yang remang-remang. “Bagaimana engkau dapat begitu kebetulan datang menolongku sewaktu aku terancam maut?”

“Aku sedang dalan perjalanan menuju ke kota raja setelah pulang dari berkunjung ke Nam-Po. Tadinya aku berniat untuk mengunjungimu di Nam-Po, akan tetapi aku lalu mendengar akan adanya peristiwa keributan di rumahmu, bahkan aku mendengar bahwa Cia-Ma dibunuh orang dan engkau telah hilang. Aku lalu mencari jejakmu dan mencoba mencarimu di sepanjang jalan raya menuju ke kota raja.

"Di tengah perjalanan, aku melihat kakek itu merobohkan gubuk dan melihat dia membunuhi empat orang yang agaknya hendak berbuat keji terhadapmu. Ketika aku melihat kakek itu hendak membunuhmu, aku terkejut dan turun tangan membelamu. Begitulah, Hui-moi. Akan tetapi, siapakah kakek itu yang demikian lihai akan tetapi yang berkeras hendak membunuhmu?”

Ditanya demikian, Ouw Yang Hui menangis tersedu-sedu dan menutupi mukanya dengan kedua tangan, lalu berkata di antara tangisnya. “Dia... Dia, adalah... Ahh...! Dia adalah Ayah kandungku...!”

“Apaaa... Ayahmu...?” Saking kagetnya, Sin Cu sampai terlompat bangun dari atas batu yang tadi didudukinya. Tentu saja dia kaget setengah mati dan juga heran. Bagaimana ada seorang Ayah, yang berkepandaian setinggi itu pula, hendak membunuh puterinya sendiri yang begitu baik, bijaksana dan cantik jelita? Apakah kakek itu sudah gila?

“Tapi... tapi mengapa...? Apakah yang telah terjadi, Hui-moi? Kalau boleh aku mengetahui, ingin sekali aku mendengar riwayat hidupmu, Hui-moi. Aku tertarik sekali untuk mengetahui, tentu saja kalau engkau cukup percaya kepadaku untuk menceritakan riwayat hidupmu sampai peristiwa yang terjadi malam ini. Maukah engkau, Hui-moi? Kalau engkau keberatan untuk menceritakannya, sudahlah, aku juga tidak berani memaksa padamu.”

Ucapan Sin Cu demikian halus dan penuh iba sehingga menyentuh hati Ouw Yang Hui. Gadis itu menekan perasaannya dan menghentikan tangisnya. Setelah mengusap air matanya ia menatap wajah Sin Cu dengan mata merah dan pipi masih basah.

“Cu-Twako, saat ini tidak ada siapapun yang dapat kuajak bicara dan yang kupercaya. Tentu saja engkau boleh mendengar riwayat hidupku yang penuh kesengsaraan. Ayahku adalah majikan Pulau Naga bernama Ouw Yang Lee dan berjuluk Tung-Hai-Tok (Racun Lautan Timur).”

“Pria yang amat lihai tadi?”

Ouw Yang Hui mengangguk. “Ketika aku berusia tujuh tahun lebih, malapetaka menimpa keluarga kami. Pulau Naga diserbu orang-orang jahat. Aku dan ibuku, juga enci Lan dan ibunya, kami berempat diculik dan dilarikan penjahat menyeberang lautan meninggalkan Pulau Naga. Setelah tiba didaratan besar, kami dipisahkan menjadi dua rombongan. Ibuku dan aku dibawa pergi seorang penjahat yang matanya buta sebelah, sedangkan enci Lan dan ibunya dibawa pergi seorang penjahat lain.”

“Maksudmu, Ayahmu mempunyai dua orang isteri dan dua orang anak perempuan?”

“Benar, isteri-isterinya adalah ibuku dan ibu enci Lan. Setelah tiba di tengah jalan, aku dipisahkan dari ibuku. Ibuku dibawa pergi Si Mata Satu, dan aku dilarikan dengan kuda oleh seorang anak buahnya. Akan tetapi di tengah perjalanan, orang yang melarikan aku itu bertemu dengan dua orang laki-laki jahat lain dan dia terbunuh setelah mereka berkelahi. Aku lalu dibawa ke Nam-Po oleh dua orang laki-laki itu dan aku dijual kepada Cia-Ma. Semenjak itu aku diambil anak oleh Cia-Ma.” Ouw Yang Hui teringat akan kematian Cia-Ma dan ia mengeluh. “Kasihan sekali Cia-Ma.”

“Kenapa engkau tetap tinggal bersama Cia-Ma dan tidak kembali ke Pulau Naga, Hui-moi?”

“Bagaimana aku dapat kembali ke sana? Ketika hal itu terjadi, aku baru berusia tujuh tahun. Aku dipelihara dan dididik oleh Cia-Ma yang menganggap aku sebagai anaknya sendiri. Setelah aku dewasa, aku tidak berani pulang ke Pulau Naga, tidak berani menernui Ayah ibuku karena aku merasa malu. Aku telah menjadi anak seorang mucikari, Cu-ko. Biarpun aku sendiri tidak pernah melakukan perbuatan tidak senonoh, namun tetap saja aku anak mucikari dan aku takut untuk pulang kepada orang tuaku di Pulau Naga.”

“Kemudian bagaimana, Hui-noi? Apa yang terjadi selanjutnya?”

“Setelah dewasa, aku dikenal sebagai Siang Bi Hwa dan memang aku sengaja mengunakan nama itu untuk menyembunyikan nama keluargaku yang sebenarnya, agar tidak mencemarkan nama keluarga Pulau Naga. Aku tidak pernah menjual diri kepada para pemuda dan bangsawan, dan untuk menghilangkan kekecewaan mereka, terpaksa aku memenuhi permintaan mereka untuk membiarkan mereka menonton aku bermain musik dan bernyanyi.

"Sampai pada suatu hari terjadi kerusuhan yang dilakukan Su-Kongcu dan para jagoannya dan engkau muncul menolongku, Cu-ko. Akan tetapi peristiwa itu tidak berhenti di situ saja. Su-Kongcu datang lagi bersama lima orang jagoannya dan hendak memaksa dan menculik aku. Dan sungguh kebetulan pada waktu itu di sana terdapat Sribaginda Kaisar dan seorang pengawalnya.”

“Sribaginda Kaisar datang ke rumah pelesir?” tanya Sin Cu heran.

“Benar, Cu-ko. Beliau menyamar dan minta agar aku bermain musik. Dia menonton seperti biasa dari luar pintu tembusan bersama pengawalnya. Pada saat itulah Su-Kongcu dan lima orang jagoannya masuk ke dalam taman. Akan tetapi dia dan lima orang jagoannya itu dihajar keras oleh pengawal Sribaginda Kaisar. Ketika Su-Kongcu mengenal Kaisar, dia dan anak buahnya minta-minta ampun.

"Nah, tahukah engkau siapa pengawal Kaisar itu, Cu-ko? Dia bukan lain adalah suhengku sendiri. Murid Ayahku yang katanya kini bahkan telah diangkat anak oleh Ayahku. Dia yang menceritakan bahwa dia bersama Ayah kini berada di kota raja.”

Sin Cu mendengarkan penuh perhatian. “Ah, ceritamu menarik sekali, Hui-moi, dan sejak kecil engkau telah mengalami banyak hal yang menegangkan hati. Kemudian bagaimana, Hui-moi?”

“Dari suhengku aku mendengar bahwa beberapa hari setelah diculik, ibuku pulang ke Pulau Naga diantarkan oleh seorang pendekar yang menolongnya. Akan tetapi Ayah malah cemburu dan hendak membunuh ibuku. Pendekar itu mencegahnya dan setelah mengalahkan Ayah, pendekar itu lalu membawa pergi ibuku. Sungguh aku merasa sedih sekali kalau memikirkan itu dan aku tidak tahu ke mana perginya ibuku.”

“Pendekar itu siapakah, Hui-moi?”

“Menurut suhengku, namanya adalah Gan Hok San, seorang pendekar dari Siauw-Lim-Pai. Dan sore tadi... tiba-tiba.. Ayah muncul di rumah kami... agaknya dia diberitahu suhengku tentang keadaanku...” Gadis itu kembali teringat akan amukan Ayahnya dan menundukkan mukanya dengan sedih.

Sin Cu membiarkan Ouw Yang Hui melepaskan kesedihannya. Dia hanya diam saja menunggu kelanjutan cerita yang menyedihkan itu. Akhirnya gadis itu memulihkan ketenangannya dan ia melanjutkan ceritanya, akan tetapi suaranya masih terseridat-sendat,

“Sudahlah, Hui-moi, kalau sukar bagimu untuk menceritakan, jangan ceritaan” kata Sin Cu. Ouw Yang Hui menekan guncangan hatinya.

“Aku harus menceritakan kepadamu, Cu-ko. Ayahku mengamuk. Dia memukul roboh para Kongcu yang sedang bertamu, dia menghancurkan perabot ruangan tamu dan ketika aku muncul, dia hendak membunuhku. Para penjaga keamanan yang datang ia robohkan sermua, bahkan dia... dia membunuh Cia-Ma! Aku lalu melarikan diri dari rumah itu, terus berlari keluar dari kota menuju ke utara.

"Aku terus berlari tanpa henti dalam kegelapan malam sampai aku bertemu dengan empat orang berandalan itu. Mereka menangkap aku dan pada saat mereka menyeret aku ke dalam gubuk, gubuk itu dirobohkan orang dari luar dan yang muncul adalah Ayahku. Dia membunuh empat orang berandalan itu dan hendak membunuh aku pula sampai engkau muncul menolongku...”

Ouw Yang Hui menghentikan ceritanya dan ia menangis tersedu-sedu. Karena iba yang mendalam, timbul dorongan dalam hati Sin Cu untuk menghibur Ouw Yang Hui. Dia duduk di atas batu dekat gadis itu dan menaruh tangannya dengan lembut ke atas pundaknya. “Kasihan sekali engkau, Hui-moi.”

Suara dan sentuhan tangannya ke pundak itu sedemikian lembutnya sehingga hati Ouw Yang Hui semakin nelangsa dan sedih. la merasa seperti seorang yang terombang-ambing di tengah lautan. Kehilangan pegangan dan mendadak ia seperti dapat meraih sebuah batu karang yang kokoh kuat untuk dijadikan pegangan dan sandaran. Dengan tangis yang semakin mengguguk ia merangkul dan menyandarkan mukanya di dada Sin Cu.

Seperti dengan sendirinya dan otomatis kedua lengan Sin Cu memeluk tubuh gadis itu dan tangan kanannya mengusap-usap rambut yang hitam halus seperti benang-benang sutera itu. Pada saat itu Sin Cu sama sekali tidak dipengaruhi nafsu berahi. Keharuman lembut yang tercium olehnya, keluar dari tubuh gadis itu dan rabaan tangannya yang bertemu tubuh yang lunak hangat dan rambut yang halus itu sama sekali tidak menggugah berahinya, bahkan mendatangkan rasa iba dan kemesraan yang mendalam. la seolah sedang memeluk seorang bayi yang membutuhkan perlindungan dan pembelaan.

Nafsu berahi timbul dari pikiran yang membayangkan hal yang menggairahkan dan pada saat itu pikiran Sin Cu sama sekali tidak membayangkan hal-hal yang romantis, melainkan dipenuhi perasaan iba. Kenangan berkelebat dalam benaknya dan dia membandingkan nasib gadis ini dengan nasibnya sendiri. Dia telah kehilangan Ayah ibunya dan tidak tahu di mana adanya orang tuanya, masih hidup ataukah sudah mati.

Yang diketahuinya hanya bahwa Ayah kandungnya bernama Wong Cin. Dia tidak tahu dari mana Ayahnya berasal dan tidak tahu pula kini tinggal di mana sehingga mencarinya amatlah sukar. Sedangkan gadis ini kehilangan ibunya. Akan tetapi lebih celaka dan menyedihkan lagi, Ayahnya yang masih hidup dan dijumpainya bahkan ingin membunuhnya! Hati siapa tidak akan hancur kalau Ayah kandung sendiri hendak membunuhnya?

“Sudahlah, Hui-moi, tenangkan perasaanmu, kuatkan hatimu. Percayalah selama masih ada aku, tidak ada seorangpun di dunia ini yang akan dapat menggangumu. Aku akan melindungi dan membela dengan taruhan nyawaku, Hui-moi.” Karena ucapan itu keluar dari hatinya yang timbul rasa iba dan sayang yang mendalam, tanpa disadarinya Sin Cu memeluk lebih kuat.

Ouw Yang Hui merasakan hal ini. Air matanya sudah membasahi baju Sin Cu sehingga menembus ke dalam dan membasahi dada pemuda itu yang merasa seolah air mata itu meresap dan membasahi jantungnya. “Cu-ko...” bisik Ouw Yang Hui terharu. “Sejak pertemuan kita yang pertama, aku sudah merasa bahwa engkau adalah seorang yang amat baik budi dan hatimu mulia...”

Sin Cu mendekap. Ouw Yang Hui menyandarkan mukanya di dadanya. Mereka berada dalam keadaan itu sampai tangis Ouw Yang Hui mereda. Bagaikan ada yang berbisik menegur dalam hati mereka, keduanya menyadari bahwa keadaan mereka itu tidak wajar dan tidak patut. Sin Cu dengan lembut melepaskan dekapannya dan Ouw Yang Hui dengan halus juga menarik kepala dan tubuhnya merenggang.

Sejenak keduanya duduk bersanding di atas batu besar itu, menundukkan muka seolah malu terhadap diri sendiri, saling merasa rikuh dan salah tingkah. Bulan sepotong sudah mulai turun ke barat. Cuaca menjadi semakin gelap remang-remang. Hawa udara terasa dingin sekali menyusup tulang. Sin Cu melihat gadis itu agak menggigil kedinginan. Barulah dia menyadari bahwa udara amatlah dinginnya dan tentu gadis yang tidak biasa menghadapi kekerasan alam itu menderita sekali. Dia melompat turun dari atas batu.

“Aku akan membuat api unggun, Hui-moi. Kau duduk dulu di situ. Api unggun akan dapat mengusir hawa dingin dan nyamuk.” Dia lalu mengumpulkan daun dan kayu kering, kemudian membuat api unggun di dekat batu besar. Setelah api unggun bernyala, dia berkata kepada Ouw Yang Hui. “Turunlah, Hui-moi dan duduklah disini dekat api unggun,” katanya.

Melihat batu yang diduduki itu agak tinggi sehingga amatlah sukar bagi Ouw Yang Hui untuk melompat turun, tanpa ragu lagi Sin Cu mendekat dan menjulurkan tangan untuk membantu gadis itu turun dari atas batu. Ketika jari jari tangannya bertemu dengan tangan gadis itu, Sin Cu merasa betapa kulit telapak tangan itu lunak dan lembut, hangat terasa getarannya sampai ke jantungnya.

Pemuda yang selamanya belum pernah berdekatan dengan wanita, dan selamanya belum pernah merasakan pengalaman seperti itu, menjadi berdebar-debar, tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Dia tak tahu bahwa Ouw Yang Hu juga mengalami hal yang sama, baru dan menegangkan. Gadis itu selamanya belum pernah berdekatan dengan pria, dan sekali ini hatinya tertarik sekali. Mereka duduk berdampingan menghadapi api unggun.

Sampai lama mereka duduk diam, merenung ke dalam nyala api unggun tidak berkata-kata. Akan tetapi mereka berdua merasa hangat lahir batin, merasa tenteram dan nyala api unggun itu tampak indah luar biasa sehingga mereka berdua kagum dan merasa heran mengapa mereka bwrdua tidak pernah melihat keindahan yang demikian menakjubkan dalam nyala api unggun itu sebelumnya.

“Hui-moi...” suara lembut Sin Cu memecah kesunyian.

Ouw Yang Hui menengok, memandang wajah pemuda itu dari samping. Sinar api unggun yang kemerahan bermain di atas pipi pemuda itu. “Ada apakah, Cu-ko?”

“Ketika engkau melarikan diri dari rumah Cia-Ma di Nam-Po, menempuh malam, ke manakah tujuanmu?” Sin Cu menoleh dan pandang mata mereka bertemu sejenak bertaut dan Ouw Yang Hui lalu meluruskan muka, memandang lagi ke nyala api.

“Ke kotaraja, Cu-ko.”

“Kenapa ke kotaraja, Hui-moi? Apa maksudmu pergi ke kota raja?”

"Sudah kuceritakan padamu tadi, Cu-ko, bahwa Sribaginda Kaisar pernah mengunjungi aku bersama suhengku. Sribaginda Kaisar amat baik kepadaku. Karena itu, dalam keadaan terancam bahaya aku teringat kepadanya, dan hendak mohon pertolongan dan perlindungannya."

Sin Cu mengangguk-angguk, mengerti. Hening sejenak, seolah masing-masing tenggelam ke dalam telaga pikirannya sendiri. Kemudian tanpa menoleh Sin Cu bertanya. “Besok pagi, kalau malam ini telah lewat, apakah engkau hendak melanjutkan niatmu pergi ke kota raja, Hui-moi?”

Ouw Yang Hui termangu dan merenung memandang nyala api unggun sehingga nyala api bertambah besar. Setelah menarik napas panjang beberapa kali barulah ia menjawab. “Aku masih bingung, Cu-ko, apa yang harus kulakukan. Baru sekarang aku teringat bahwa Ayahku itu, tinggal di kota raja seperti penuturan suhengku. Kalau aku pergi ke sana, besar bahayanya aku akan bertemu dia sebelum dapat menghadap Sribaginda Kaisar. Juga aku ingat bahwa bagi seorang wanita biasa, tentu amat sukar untuk dapat menghadap Sribaginda kaisar, bahkan belum tentu aku diperkenankan pula, andaikata dapat menghadap, apakah Sribaginda Kaisar sudi merepotkan diri mencampuri urusan pribadiku? Inilah yang membuat aku ragu dan bimbang.”

Sin Cu mengerutkan alisnya dan termenung. Dia merasakan benar kebingungan gadis itu, “Kalau begitu, apa rencanamu Hui-moi? Ke manakah engkau akan pergi besok?”

“Aku tidak tahu, Cu-ko. Dapatkah engkau membantu aku ikut memikirkan bagaimana baiknya?”

Sin Cu menjadi bingung. Dia sendiri adalah seorang yang hidupnya sebatang kara, tidak mempunyai tempat tinggal, tidak pula mempunyai keluarga. Bagaimana Ia dapat membantu Ouw Yang Hui memecahkan persoalan itu? “Engkau tidak mempunyai keluarga dekat? Paman atau bibi, saudara misan misalnya.”

Gadis itu menggeleng kepalanya. “Kami hidup seperti terasing di Pulau Naga. Ayah tidak pernah bercerita tentang saudara-saudaranya. Juga aku tidak tahu siapa saudara ibu kandungku”, kata Ouw Yang Hui dengan nada suara sedih. “Tempat tinggalku dahulu hanya di Pulau Naga, akan tetapi sekarang tidak mungkin lagi aku ke sana. Sedangkan tempat tinggalku yang kedua ialah rumah Cia-Ma, akan tetapi sekarang Cia-Ma telah meninggal dunia.”

“Akan tetapi ibu kandungmu masih hidup, Hui-moi!” kata Sin Cu mengingatkan.

“Menurut cerita suheng, ibu kandungku masih hidup dan pernah datang berkunjung ke Pulau Naga. Akan tetapi Ayahku tidak mau menerimanya bahkan hendak membunuhnya sehingga ibu pergi lagi meninggalkan Pulau Naga. Aku sama sekali tidak tahu ke mana ia pergi dan di mana ia sekarang.”

“Akan tetapi engkau pernah bercerita bahwa ibu kandungmu pergi meninggalkan Pulau Naga bersama seorang pendekar Siauw-Lim-Pai bernama Gan Hok San.”

“Benar! Memang benar, demikianlah cerita suheng. Akan tetapi tetap saja aku tidak tahu di mana adanya ibuku sekarang.”

"Hui-moi, mencari jejak ibumu tentu amat sulit karena ibumu adalah seorang wanita yang tentu tidak banyak orang mengenalnya. Akan tetapı kurasa mencari Gan Hok San tidaklah sesulit itu. Dia adalah seorang pendekar Siauw-Lim-Pai yang lihai, bahkan yang pernah mengalahkan Ayahmu ketika membela ibumu. Seorang pendekar seperti dia tentu dikenal di dunia kang-ouw dan kurasa akan mudah mencari tempat tinggalnya.”

“Apa kau pikir ibuku tinggal bersama pendekar itu, Cu-ko?”

“Aku tidak tahu, akan tetapi andaikata ibumu tidak tinggal bersama dia, setidaknya dia têntu tahu ke mana perginya ibumu. Bukankah, ibumu meninggalkan Pulau Naga bersama dia?”

“Jadi kau pikir, aku harus mencari pendekar Gan Hok San itu, Cu-ko?”

“Kurasa begitulah. Tidak ada jalan lain bagimu karena satu-satunya orang yang kiranya akan dapat menampungmu tentu hanya ibu kandungmu.”

Ouw Yang Hui mengerutkan alisnya dan suaranya mengandung nada sedih ketika ia berkata, “Akan tetapi, Cu-ko. Aku hanya seorang wanita yang lemah, dan aku tidak membawa bekal apapun, uang tidak bahkan pakaianpun hanya yang menempel di tubuhku ini, bagaimana aku dapat mencari seorang yang tidak kuketahu di mana tempat tinggalnya?”

“Jangan khawatir, Hui-moi. Aku akan mengantar dan menemaninu mencari pendekar itu dan menpertemukan engkau dengan ibumu.”

Ouw Yang Hoi menatap wajah pemuda itu. “Ahh, Cu-ko, aku akan merepotkanmu...”

“Tidak, Hui-moi! Sudah menjadi kewajibanku untuk menolong siapa saja orang yang membutuhkan bantuan. Apa lagi di antara kita telah terjalin persahabatan. Engkau mau mengakui aku sebagai seorang sahabatmu, bukan?”

“Cu-ko, Aku... aku tidak tahu harus berkata apa..., engkau terlalu baik bagiku. Cu-ko, engkaulah satu-satunya harapan bagiku, satu-satunya gantungan di mana aku dapat berpegang.” kata Ouw Yang Hui terharu dan kedua matanya menjadi basah.

Sin Cu merasa betapa hatinya lega dan girang sekali. “Sudahlah, Hui-moi, uluran tanganku untuk membantumu ini wajar saja jangan dilebih-lebihkan. Sekarang, mengaso dan tidurlah,. Besok kita mulai dengan perjalanan kita. Tidurlah, karena engkau tentu lelah dan mengantuk sekall. Biar aku yang berjaga di sini.” Sin Cu lalu meratakan daun kering untuk menjadi tilam agar gadis itu dapat merebahkan badan di atas tilam daun kering.

Ouw Yang Hui yang memang sudah merasa lelah dan mengantuk sekali menurut lalu merebahkan tubuhnya miring menghadap ke api unggun. Betapapun juga, karena perutnya terasa lapar, ia merasa tersiksa. Beberapa kali perutnya berkeruyuk dan ini tidak lepas dari pendengaran Sin Cu yang tajam.

Sin Cu cepat membuka buntalan pakaiannya dan mengeluarkan sebuah bungkusan roti kering dan sebuah guci terisi air jernih. “Hui-moi, ini ada roti kering dan air. Makan dan minumlah.”

Ouw Yang Hui bangkit duduk, la memandang bungkusan roti kering yang sudah terbuka itu. Wajahnya menjadi kemerahan. “Cu-ko, aku tidak dapat makan kalau hanya sendirian. Aku malu...”

Sin Cu tertawa. “Baiklah, mari kutemani. Akan tetapi maaf, yang ada hanya roti kering tanpa lauk pauk apapun.”

“Ini sudah lebih dari cukup, Cu-ko, perutku memang sudah lapar sekali dan makan apa saja akan terasa lezat bagi perut yang lapar.”

Mereka berdua lalu makan roti kering dan minum air jernih. Roti kering sederhana itu terasa lezat dan air jernih biasa itu terasa manis menyegarkan. Setelah membersihkan mulutnya, Ouw Yang Hui lalu merebahkan tubuhnya, miring membelakang api unggun dan sebentar saja pernapasannya yang lembut menandakan bahwa ia telah tertidur.

Sin Cu duduk menghadapi api unggu dan termenung. Tiba-tiba pikirannya membayangkan gadis yang tidur di seberang api unggun itu dan terdengar suara dalam kepalanya. “Pandanglah ia! Lihatlah baik-baik gadis jelita itu!”

Sin Cu mengangkat muka memandang Sebuah pemandangan yang menakjubkan Ouw Yang Hui tidur membelakanginya. Tangan kanannya dijadikan bantal. Yang tampak hanya belakang kepala, punggung, pinggul dan kaki belakang. Pakaiannya yang terbuat dari sutera halus itu seperti mencetak bagian belakang tubuh itu. Suara itu terdengar lagi.

“Lihat kulit leher di antara rambut hitam yang tersibak. Betapa putih mulus! Bagian lain tubuhnya yang tertutup tentu lebih putih mulus lagi. Lihat pinggangnya! Begitu ramping. Dan pinggulnya. Pernahkah engkau melihat pinggul yang lebih indah dari pada itu? Dan betisnya itu. Ah, ingatkah engkau betapa lunak lembut dan hangat tubuhnya ketika engkau tadi mendekapnya? Betapa harum lembut dan tubuhnya ketika ia bersandar di dadamu. la menangis dan bersandar di dada! Berarti ia suka kepadamu. Dekatilah! rangkullah ia. Pasti ia akan menerimamu dengan senang hati. la membutuhkan hiburan, membutuhkan kemesraan. Hayo, hampirilah ia. la sudah menunggumu!”

“Plak! Plak!” Sin Cu menampar kedua pipinya dengan kedua tangannya. Panas rasanya kulit pipinya. “Gila!” Dia memaki dirinya sendiri.

“Gila... gila... gila... tolol kau.” Suara itu bergema akan tetapi tidak muncul lagi.

Sin Cu bungkit berdiri, menghampiri Ouw Yang Hui. Dilepasnya baju luarnya yang panjang dan diselimutkannya baju panjangnya itu ke atas tubuh Ouw Yang Hui. Setelah duduk kembali dan melontarkan pandangan, Sin Cu menghela napas lega. Karena kini tubuh bagian belakang Ouw Yang Hui yang tampak amat indah menggairahkan itu tidak tampak lagi, tertutup baju luarnya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ouw Yang Hui telah terbangun dari tidurnya. la melihat dirinya diselimuti baju luar dan tahulah ia bahwa Sin Cu yang melakukannya. la merasa terharu sekali. Sambil menyerahkan kembali baju itu kepada pemiliknya, ia berkata,

“Cu-ko, engkau membuat aku merasa rikuh sekali. Aku semalaman tidur dan engkau terjaga, bahkan engkau meminjamkan baju luarmu kepadaku. Aku tertidur dengan hangat sedangkan engkau berjaga dalam udara dingin.”

“Ah, aku tidak pernah kedinginan, Hui-moi,” kata Sin Cu sambil memandang kagum. Dalam keadaan pakaian kusut dan rambut awut-awutan, Ouw Yang Hui bahkan tampak lebih cantik! “Aku selalu dekat dengan api unggun.”

“Cu-ko, di mana aku bisa mendapatkan air untuk mandi?”

Sin Cu tertegun. Dalam keadaan seperti itu gadis itu masih ingat untuk mandi pagi. Agaknya Ouw Yang Hui maklum akan keheranan Sin Cu. “Maafkan aku, Cu-ko. Bukan aku hendak bermanja-manja, akan tetapi sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk mandi pagi. Kalau tidak mandi rasanya badanku tidak segar, tidak enak dan lesu. Akan tetapi kalau tidak ada air, apa boleh buat...”

“Tentu ada, Hui-moi. Mari kita mencarinya. Aku tidak tega meninggalkanmu seorang diri di tempat sunyi ini selagi aku mencari sumber air. Mari kita mencari bersama. Dalam hutan ini pasti ada sumber air, atau anak sungai yang airnya jernih.”

Mereka lalu meninggalkan tempat itu. Sin Cu menggendong buntalan pakaian yang berisi pedangnya, lalu memadamkan sisa api unggun agar tidak menjalar dan membakar hutan. Setelah mencari beberapa lamanya, akhirnya mereka menemukan sebatang anak sungai yang airnya jernih. Ouw Yang Hui menjadi girang bukan main.

Setelah Sin Cu pergi menjauhkan diri dan membelakanginya, tidak terlampau jauh agar dia tetap dapat melindungi gadis itu, Ouw Yang Hui lalu menanggalkan semua pakaiannya dan iapun memasuki air yang dalamnya sepinggang itu. Pada saat berkecimpung dalam air yang jernih dan sejuk segar itu, lenyaplah semua sisa duka yang menggerogoti hatinya. Yang terasa olehnya hanya kesegaran lahir batin dan merasa aman karena yakin bahwa Sin Cu yang berdiri membelakanginya di sana itu tentu akan melindunginya dari segala marabahaya.

Setelah membersihkan tubuhnya, Ouw Yang Hui merasa menyesal juga karena ia tidak dapat berganti pakaian. Terpaksa ia kenakan kembali pakaiannya yang sudah kusut. la tidak dapat berhias diri, tidak dapat memakai bedak, bahkan tidak dapat menyisir rambutnya. la membiarkan rambutnya terjurai ketika ia menghampiri Sin Cu dan berkata lirih. “Aku telah selesai mandi, Cu-ko.”

Sin Cu memutar tubuhnya dan melihat Ouw Yang Hui dengan rambut terjurai itu menjadi kagum. Bagaikan setangkai bunga mawar bermandikan embun pagi. Begitu segar dan indah.

“Engkau tidak mandi, Cu-ko?"

Kalau saja dia seorang diri, agaknya dia akan malas mandi dalam air yang dingin itu. Akan tetapi melihat Ouw Yang Hui begitu mementingkan kebersihan, dia merasa malu kalau tidak mandi. “Aku mau mandi, Hui-moi. Engkau tunggu di sini sebentar.”

“Baik, Cu-ko. Aku akan ducduk di sini membelakangimu,” kata Ouw Yang Hui sambil tersenyum geli. la melihat kecanggungan dan kegugupan Sin Cu.

Sin Cu menurunkan buntalan pakaiannya dan membawa satu stel pakaian bersih, dibawanya ke tepi anak sungai dan diapun mandi. Setelah masuk ke dalam air yang sepinggang dalamnya, barulah dia merasa betapa segarnya mandi di waktu pagi itu. Dia mandi dengan perasaan gembira. Kegembiraan yang secara aneh muncul karena kenyataan disana bahwa Ouw Yang Hui menunggunya!

Dia selalu memandang kearah gadis yang duduk membelakanginya itu untuk menjaga kalau-kalau ada bahaya mengancam gadis itu. Setelah puas mandi dan membersihkan tubuh, diapun naik ke tepi anak sungai dan mengenakan pakaian bersih, kemudian dia menghampiri Ouw Yang Hui. “Wah, segarnya!” dia berkata di belakang Ouw Yang Hui.

Gadis itu bangkit berdiri dan memutar tubuhnya. Melihat Sin Cu memakai pakaian bersih, ia berkata. “Aku iri kepadamu, Cu-ko. Engkau dapat berganti pakaian bersih, sedangkan aku tidak.”

Melihat gadis itu tidak merias wajahnya seperti wanita lain, tiba-tiba Sin Cu mendapat sebuah pikiran yang dianggapnya amat baik. “Hui-moi, aku masih mempunyai pakaian bersih beberapa stel, bagaimana kalau engkau mengenakan pakaian bersih dariku?”

“Ihh! Mana mungkin, Cu-ko? Lupakah engkau bahwa aku seorang wanita? Bagaimana dapat memakai pakaian pria?"

“Kenapa tidak, Hui-moi. Engkau tidak mencukur alismu seperti kebanyakan kaum wanita. Kalau engkau mengenakan pakaian pria, engkau akan menjadi seorang pemuda yang tampan sekali. Kurasa hal ini perlu sekali, Hui-moi. Kita akan melakukan perjalanan, mungkin sampai jauh. Kalau engkau muncul sebagai seorang gadis muda yang cantik jelita, tentu kita akan menghadapi banyak gangguan dan urusan. Akan tetapi sebaliknya kalau muncul sebagai seorang pemuda tampan, tidak akan ada yang mengganggumu. Bagaimana pendapatmu?”

Ouw Yang Hui mengerutkan alisnya. Belum pernah ia berpikir, mimpipun belum pernah, bahwa pada suatu hari la harus menyamar sebagai seorang pria! “Maksudmu, aku harus menyamar sebagai seorang pria?”

“Hanya untuk sementara waktu saja, Hui-moi. Sampai engkau dapat bertemu kembali dengan ibumu. Ingat, dengan menyamar sebagai pria, engkau akan lebih leluasa dan bahaya yang mengancam dirimu akan menjadi berkurang, bahkan lenyap sama sekali.”

“Dan engkau tidak akan bersusah payah lagi menjaga dan melindungiku, Cu-ko. Ah, baik sekali itu. Aku setuju, Cu-ko. Akan tetapi rambutku yang panjang ini...”

“Mudah saja. Kau gelung rambut itu keatas, kemudian diikat dengan pengikat rambut.”

“Dan lubang di daun telingaku?”

“Dapat ditutup dengan tanah dicampur kapur atau ditutup rambut. Dibantu dengan sikapmu yang kau buat seperti sikap seorang pria, tak seorangpun akan mengetahui bahwa engkau seorang wanita.”

Sin Cu memilihkan sesetel pakaiannya yang terbaru, berwarna biru, dan memberikan pakaian itu kepada Ouw Yang Hui. Gadis itu menerimanya dan membawa pakaian itu kebalik semak belukar dan di sana ia berganti pakaian pria itu. Pakaian itu agak kebesaran sehingga terpaksa bagian lengannya yang kepanjangan digulung. Rambutnya ia gulung ke atas dan diikat sehelai kain pengikat rambut berwarna kuning.

Setelah selesai sambil mematut-matut diri ia keluar dari balik semak-semak dan mendapatkan Sin Cu berdiri membelakangi semak-semak itu. Ia tersenyum senang. Biarpun semak belukar itu telah menyembunyikan dirinya, tetap saja Sin Cu membelakangi semak-semak itu. Betapa baik dan sopan tingkah laku pemuda itu. “Cu-ko, bagaimana pandanganmu, sudah pantaskah aku menjadi seorang pemuda?”

Sin Cu memutar tubuhnya dan memandangi gadis yang kini menyamar pria itu. Dia tersenyum. Walaupun pemuda di depannya itu terlampau tampan, namun cukup menyembunyikan kewanitaan Ouw Yang Hui. Dia mengangguk puas.

“Cukup baik, Hui-moi... eh, aku harus menyebut engkau Hui-te (adik laki-laki Hui) sekarang. Dan engkau memakai nama margaku saja dan mulai sekarang mengaku adikku bernama Wong Hui.”

“Baik, Cu-ko,” kata Ouw Yang Hui dengan girang.

Sin Cu lalu mencari tanah liat dan mencampurnya dengan tanah kapur dan mengoleskan campuran itu untuk menutup bekas lubang di daun telinga Ouw Yang Hui.

“Mari kita berangkat, Hui-te. Kita mencari dusun atau kota di mana kita dapat membeli makanan dan juga mencari pakaian yang sesuai ukuranmu.”

“Engkau mempunyai uang Cu-ko,? Kalau tidak cukup, ini perhiasanku dapat dijual untuk membeli pakaian dan untuk bekal perjalanan kita." Ouw Yang Hui mengeluarkan perhiasan terdiri dari sepasang gelang emas, kalung, giwang dan cincin yang tadi dilepasnya semua ketika ia berganti pakaian pria.

“Aku masih mempunyai sedikit uang dan cukup untuk membelikan beberapa stel pakaian untukmu, Hui-moi. Simpanlah perhiasanmu itu.”

“Tidak, Cu-ko. Engkau yang menyimannya untuk bekal. Kałau ada orang melihat aku menyimpan perhiasan wanita, tentu hal itu dapat membongkar rahasiaku.”

Sin Cu tersenyum. “Engkau benar juga. Hui-moi.”

“Cu-ko, mulai sekarang jangan menyebut aku Hui-moi. Engkau lupa lagi. kalau terdengar orang lain, apa gunanya aku menyamar pria.”

“Eh, ya. Maafkan, aku lupa, Hui-te. Mari kita berangkat."

Mereka lalu berangkat menuju ke timur. Tujuan mereka memang mencari pendekar Gan Hok San di selatan, akan tetapi mereka mengambil jalan memutar ke timur agar jangan melalui kota Nam-Po.

* * *

“Taijin, apa yang saya ceritakan itu adalah apa yang sebenarnya terjadi. Im-Yang-Kauw adalah sebuah perkumpulan yang berpihak kepada mereka yang menentang dan memusuhi Paduka. Merekalah yang memaksa saya dahulu mengabdi kepada Koan Ciangkun dengan maksud agar dengan membonceng pengaruh Koan Ciangkun saya dapat menentang Paduka. Baru setelah Koan Ciangkun tewas dan saya mendapat kesempatan menghadap Taijin, saya tahu bahwa Im-Yang-Kauw itu keliru. Paduka adalah seorang pejabat tinggi yang baik dan bijaksana, juga amat setia kepada Sribaginda Kaisar.”

Thaikam Liu Cin mengangguk-angguk sambil mengelus jenggotnya yang pendek. Dia sedang duduk berunding dergan para jagoannya, yaitu Ouw Yang Lee, Hek Moko,Pek Moko, Im Yang Tojin dan Ouw Yang Song Bu.

“Hemm, begitukah? Im-Yang-Kauw ikut-ikutan menentangku? Berarti mereka menentang Kaisar! Mereka pemberontak!” Liu Cin mengepal tinju kanannya dengan marah.

“Taijin, apa sukarnya untuk membasmi mereka? Taijin tinggal melapor kepada Sribaginda Kaisar bahwa Im-Yang-Kauw bermaksud memberontak agar dikirim pasukan untuk membasminya. Mudah sekali!" kata Ouw Yang Lee.

“Tidak semudah itu,” kata Im Yang Tojin.

“Harap taijin ketahui bahwa Im-Yang-Kauw adalah sebuah perkumpulan yang amat kuat. Murid-murid atau anggauta yang berkumpul di pusat Im-Yang-Kauw saja ada seratus orang lebih, kesemuanya adalah orang-orang yang memiliki kepandaian silat yang cukup tangguh. Di samping itu, di sana berkumpul pula tokoh-tokoh Im-Yang-Kauw, yaitu kakak-kakak dan adik-adik seperguruan saya yang jumlahnya belasan orang.”

“Hemm, apa masalahnya? Kalau dikirim ratusan orang perajurit, ditambah kita berlima yang menandingi para tokoh Im-Yang-Kauw, mereka tentu akan dapat dibasmi. Apalagi kalau pasukan pengawal dari Liu Taijin dikerahkan, dipimpin Giam Ciangkun,” kata Hek Moko.

“Bagaimana kau pikir, Totiang, akan cukupkah itu untuk menghancurkan Im-Yang-Kauw?” tanya Thaikam Liu Cin kepada Im Yang Tojin.

Im Yang Tojin menggelengkan kepalanya. “Masih sulit, Taijin. Bukan saya memandang rendah kepada rekan-rekan saya yang membantu Taijin. Akan tetap para tokoh Im-Yang-Kauw memiliki Im Yang Ngo Kiam-tin (Barisan Lima Pedang Im yang)! Dan barisan yang terdiri dari lima orang ini luar biasa lihainya. Bahkan banyak cadangannya sehigga kalau diantara lima orang itu ada yang roboh, seketika akan ada penggantinya. Amat sulit dikalahkan.”

“Hemm, kalau begitu kita harus bertindak hati-hati dan jangan terburu nafsu,” kata Thaikam Liu Cin dengan alis berkerut. Thaikam yang amat licik ini sesungguhnya seorang pengecut. Mendengar tentang kehebatan Im-Yang-Kauw, hatinya segera mengecil dan nyalinya surut.

“Harap Taijin tidak khawatir. Kami berdua sudah memberitahu bahwa Supek (Uwa Guru) kami akan datang. Dia sudah menerima penawaran kami untuk memperkuat barisan pembantu Taijin. Kalau ada dia, urusan membasmi Im-Yang-Kauw adalah urusan kecil!” kata Pek Moko.

“Heran sekali, bukankah dia sudah berjanji akan datang hari ini? Mengapa belum juga datang?” kata Hek Moko.

Pada saat itu terdengar suara tawa bergelak. Semua orang terkejut dan mencari-cari, akan tetapi tidak ada orang yang tertawa di ruangan itu. Pada hal suara itu demikian dekat seolah yang tertawa berada di antara mereka dalam ruangan itu. “Ha-ha-ha, Tho-Te-Kong (Malaikat Bumi) tidak pernah melanggar janji! Aku sudah datang.”

“Supek” Hek Moko dan Pek Moko berseru dengan girang.

Ada angin menerabas masuk ruangan dari pintu yang terbuka dan tiba-tiba saja di ambang pintu telah berdiri seorang laki-laki yang usianya tentu sudah mendekati tujuh puluh tähun. Tubuhnya kurus kering jangkung, rambut dan kumis jenggothya panjang dan sudah putih semua akan tetapi wajahnya masih segar sehat seperti wajah kanak-kanak.

Tubuhnya tertutup pakaian serba kuning yang longgar, kepalanya tertutup kopyah bulu domba dan kakinya memakai sepatu kulit. Tangan kirinya memegang sebatang tongkat bambu kuning. Kakek ini muncul sambil menyeringai tersenyum lebar memperlihatkan rongga mulut yang sudah tidak bergigi lagi.

“Akan tetapi bagaimana engkau dapat masuk sampai di sini tanpa terhalang pintu besi dan pasukan pengawal?” Thaikam Liu Cin bertanya heran sekali.

“Ha-ha-ha, Liu Taijin, Tidak ada pintu besi dan pasukan pengawal yang mampu menghalangi kalau The-Te-Kong memasuki suatu tempat. Menurut dua murid keponakanku ini, Hek Moko dan Pek Moko, Taijin membutuhkan bantuan saya, maka saya datang berkunjung.”

“Benar sekali. Engkaukah yang berjuluk Tho-Te-Kong? Silakan duduk, kebetulan sekali kita sedang membicarakan sesuatu yang memerlukan bantuanmu,” kata Thaikam Liu Cin.

Sambil tertawa, kakek itu lalu duduk dan tanpa sungkan-sungkan lagi dia nyambar seguci arak dan minum dari guci itu seperti orang minum air saja.

Im Yang Tojin, Ouw Yang Lee dan Ouw Yang Bu memandang dengan takjub. Kakek tadi telah mendemonstrasikan tenaga khikang sehingga mampu mengirim suaranya sehingga suara itu sudah sampai diruangan itu sebelum orangnya muncul dan dapat memasuki istana Thaikam Liu Cin tanpa diketahui para perajurit pengawal juga mampu melewati pintu-pintu besi. Bukan merupakan hal yang mudah, jelas bahwa kakek ini memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi.

Im Yang Tojin, Ouw Yang Lee yang sudah lama berkecimpung di dunia kangouw memang sudah pernah mendengar akan nama Tho-Te-Kong yang terkenal sebagai seorang sakti yang sudah lama tidak pernah muncul lagi di dunia kangouw, akan tetapi yang pada waktu dulu, dua puluhan tahun yang lalu pernah malang melintang di dunia kangouw....

Selanjutnya,