|
| Karya Kho Ping Hoo |
Pisau Terbang Bunga Emas Jilid 07 - MELIHAT ini, saking geli hatinya Bwe Hwa tertawa cekikikan sambil menutupi mulutnya, kemudian mengambil piauw itu dan mendekapnya pada dadanya. ”Orang macam kau mana becus?” katanya, ”Pergilah!”
”Kalau pemiliknya bisakah?” tanya Kian Liong.
“Tentu saja pandai, tidak seperti kau yang bodoh!”
“Jadi kau suka kepadanya?” tanya Kian Liong mengerutkan kening.
Merah muka Bwe Hwa. Ia melirik ke kanan-kiri dan melihat di situ tidak ada orang lain, juga tidak kelihatan ada Siauw Hong, untuk mengusir orang yang dibencinya ini ia lalu berkata tegas: “Betul, aku suka kepadanya, suka kepada orang gagah yang memiliki piauw ini. Lekas kau pergi, kalau ia datang melihatmu, kepalamu bisa ditembusi oleh piauw!”
Muka Kian Liong yang tampan ditarik seperti orang mau mewek, nampaknya kecewa dan berduka sekali. “Dasar aku yang sial.…” katanya sambil menjambak-jambak rambut dan keluar dari taman itu, diikuti pandang mata Bwe Hwa yang merasa geli akan tetapi juga kasihan melihat sikap pemuda tolol itu.
“Dia lucu dan tampan, sayang otaknya tidak beres...” kata gadis ini dalam hatinya, kemudian teringat akan Kim-hoa-piauw, pendekar aneh yang telah meninggalkan piauw itu kepadanya, ia tersenyum dan mendekap piauw itu ke dadanya.
Siauw Hong masuk berlari-lari ke dalam taman itu. Tangannya memegang seikat kembang bwe yang berwarna indah sekali. “Siauw Hong, kau dari mana, dan kembang-kembang itu... aduh indahnya, dari mana kau dapat?” tegur Bwe Hwa yang sudah menyelipkan piauw itu ke dalam ikat pinggangnya.
Siauw Hong yang tertawa-tawa tidak melihat piauw itu. “Nona, indah sekali bunga-bunga ini, bukan? Tadi ketika hamba lewat di depan, hamba bertemu dengan pengawal yang baru, Cung Hok Bi yang gagah perkasa dan tampan keponakan dari tikoan lama Song Tek. Dan dia yang memberi kembang-kembang ini, siocia.”
Bwe Hwa tersenyum. ”Bagus sekali kembang-kembang itu, Siauw Hong. Beri aku setangkai, bolehkah?”“Eh, nona, mengapa setangkai? Memang bunga-bunga ini ia berikan untuk siocia. Entah bagaimana dia tahu bahwa siocia suka akan kembang bwe, agaknya karena nama siocia itulah. Terimalah semua, siocia dan hamba lah yang hendak minta setangkai saja.”
Jari tangan kecil yang tadi sudah menyentuh kembang dan hendak mengambil setangkai, ditarik kembali seakan-akan disengat kumbang. Sepasang alis yang kecil hitam itu berkerut. “Apa kau bilang? Diberikan kepadaku? Siauw Hong, kau lancang sekali. Kembalikan, aku tidak sudi menerima! Bagaimana pengawal itu berani begitu kurang ajar?” Ia membentak.
Siauw Hong menundukkan mukanya, takut², akan tetapi sepasang mata yang bening itu nampak berseri, “Tadi hamba sudah berkata bahwa siocia tak mungkin mau mcnerimanya, akan tetapi dia memaksa hamba dan berkata bahwa apabila siocia tidak mau menerima, biarlah bunga-bunga ini untuk hamba saja.”
“Siauw Hong kau lancang sekali. Lain kali kalau kau mau menerima pemberian orang yang ditujukan kepadaku, terpaksa akan kulaporkan kepada ayah.”
“Ampunkah hamba, siocia.”
Bwe Hwa tidak berkata apa-apa lagi, bahkan meninggalkan pelayannya itu untuk berkemas karena besok pagi² mereka akan berangkat.
“Lie-tikoan, ingatlah bahwa langsung atau tidaknya kedudukanmu tergantung dari hasil atau tidaknya kau menyelamatkan Liu-leng dari gangguan para penjahat. Biarpun aku dan keluarga berada di kotaraja, akan tetapi aku akan selalu membuka mata membuka telinga, siapa yang akan dapat menumpas para penjahat itu.”
Lie tikoan menundukkan mukanya. ”Baiklah, ongya, hendak saya coba sedapat mungkin. Akan tetapi, benar-benarkah ongya tidak membutuhkan pengawal yang lebih banyak?”
“Tak usah, ada Song-tikoan dan pengantar-pengantarnya, ada pula Cung Hok Bi yang gagah perkasa, ditambah pula perlindungan dari Kim-hoa-piauw, penjahat mana berani main gila? Lebih baik semua tenaga kau kerahkan di sini untuk menghadapi para penjahat!”
“Baiklah, saya mentaati perintah ongya,” kata Lie-tikoan merendah.
”Hanya satu hal penting kau harus tahu, Lie-tikoan. Yaitu bahwa sesungguhnya dahulu aku terlalu tergesa-gesa mengenai diri Song-tikoan. Baru sekarang aku tahu bahwa dia sesungguhnya tidak tinggal diam dan ternyata telah maju dalam menyelidiki para penjahat itu.”
Kata-kata ini merupakan cambuk bagi Lie-tikoan, akan tetapi pembesar ini hanya diam saja dan bersikap tenang. Dia bukan orang bodoh dan selama inipun Lie-tikoan tidak diam saja, melainkan telah mengumpulkan keterangan-keterangan yang amat penting dalam penyelidikannya.
Biarpun pangeran itu menolak untuk dikawal, diam-diam Lie tikoan memberi perintah kepada Kim-coa-pian Bu Kiat dan Sin-siang-to Kwee Sin Bun untuk membawa sepuluh orang anak buah agar supaya mengikuti perjalanan rombongan pangeran Lu sekeluarga dan siap memberi bantuan apabila terjadi sesuatu di tengah perjalanan. Adapun penjagaan di kota Liu-leng, cukup diatur oleh Hok Ti Hwesio dan anak buahnya.
Akan tetapi, belum lama setelah rombongan ini berangkat, muncul seorang bertopeng di kamar kerja Lie-tikoan yang sedang berunding dengan Hok Ti Hwesio. Dua orang ini terkejut ketika melihat bahwa yang datang ini adalah Kim-hoa-piauw, pendekar rahasia itu.
“Kenapa kau berada di sini? Bukankah kau bertugas mengawal rombongan keluarga Lu seperti dikatakan oleh Lu-ongya tadi?” tanya Lie-tikoan.
“Yang mengawal rombongan adalah Kim-hoa-piauw palsu atau Cung Hok Bi yang bukan lain adalah kepala penjahat! Dan para pengawal Song Tek semua adalah penjahat. Harap lekas taijin siapkan barisan untuk mengejar dan menangkap mereka!”
Sudah lama Lie-tikoan dihubungi oleh Kim-hoa-piauw, maka ia percaya penuh. “Sudah kuduga Cung Hok Bi bukan manusia baik-baik!” katanya.
”Heran, tadinya kukira dialah Kim-hoa-piauw tulen! Siapa kira ada dua orang Kim-hoa-piauw!” kata Hok Ti Hwesio.
Segera semua tenaga dikumpulkan dan tak lama kemudian debu mengebul tinggi ketika barisan berkuda ini menyusul rombongan yang kira sudah belasan li jauhnya. Di dalam barisan ini terdapat Hok Ti Hwesio dan Kim-hoa-piauw. Bahkan Lie-tikoan sendiri ikut naik kuda di samping Hok Ti Hwesio dan Kim-hoa-piauw.
Rombongan Pangeran Lu selain dikawal oleh belasan orang pengawal yang dibawa oleh Song Tek, juga dikawal oleh Kim-hoa-piauw, yang telah menanti di luar pintu gerbang dan menunggang seekor kuda bulu hitam. Pemuda bertopeng ini nampak gagah dengan pedangnya tergantung di pinggang, wajahnya berseri di balik topeng dan mulutnya tersenyum. Pandang matanya seringkali melayang ke arah kendaraan berkuda di mana duduk Pangeran Lu, isterinya, dan Lu Bwe Hwa. Juga peti besar terisi harta pusaka itu berada di dalam kendaraan yang ditarik oleh empat ekor kuda.
Dari celah-celah tirai sutera yang menutupi kendaraan, Bwe Hwa kadang-kadang melihat berkelebatnya Kim-hoa-piauw di atas kuda. Hati gadis ini berdebar aneh melihat pemuda gagah yang selalu dikenangnya itu demikian dekat dengan kendaraan. Ia. merasa aman sekali melakukan perjalanan dikawal oleh pemuda ini.
Siauw Hong yang duduk di dekat kaki nonanya, juga kadang-kadang mengintai dari celah-celah tirai. Jalanan mulai tidak rata, kereta terguncang ke kanan-kiri, yang duduk di dalam bergoyang-goyang .
Setelah mereka memasuki hutan yang terpisah kurang lebih duapuluh li dari kota Liu-leng, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan tak lama kemudian terdengar Song Tek dan yang lain-lain mengeluarkan seruan kaget.
Pangeran Lu membuka tirai untuk melihat siapa yang datang. Setelah ia memandang keluar, iapun kaget setengah mati sampai-sampai hampir terjengkang. Ia melihat seorang pemuda menunggang kuda putih, mukanya tertutup topeng yang serupa benar dengan topeng yang dipakai oleh Cung Hok Bi. Pakaian merekapun serupa bentuk dan potongannya. Karena tubuh mereka hampir sama besarnya, sama tegap dan sama kuat, kedua orang bertopeng ini mirip satu dengan yang lain. Mukapun sama tampan.
“Penjahat-penjahat terkutuk!” Kim-hoa-piauw yang baru tiba itu membentak sambil mencabut pedangnya. “Setelah aku datang, jangan harap akan dapat melanjutkan niat kalian yang buruk!” Kemudian ia menoleh ke arah kereta, memandang kepada Pangeran Lu sambil berteriak:
“Lu-ongya, Cung Hok Bi bukan saja Kim-hoa-piauw palsu, akan tetapi dia juga kepala penjahat. Semua pengawal yang mengantar rombongan ini adalah kaki-tangan penjahat. Mereka hendak kabur keluar kota dan menggunakan ongya sebagai tameng!”
Bukan main kagetnya Pangeran Lu mendengar ini, kaget dan bingung sekali. Sementara itu, Cung Hok Bi sudah melepas topengnya, mencabut pedang dan menyerang Kim-hoa-piauw. Pemuda bertopeng ini mengeluarkan suara ketawa nyaring, tubuhnya mencelat turun dari kuda dan sebentar saja ia dikeroyok oleh belasan orang penjahat yang menyamar sebagai pcngawal-pcngawal Song Tek.
Repot juga Kim-hoa-piauw melayani sekian banyaknya orang-orang yang berkepandaian tinggi. Akan tetapi gerak pedangnya luar biasa sekali sehingga dalam sekejap mata, dua orang penjahat roboh tersambar pedang.
Pertempuran berjalan seru sekali. Cung Hok Bi juga bukan orang sembarangan. Ilmu pedang Bu-tong-pay sudah terkenal kelihayannya, maka sekarang dengan nekad ia mainkan pedang yang berubah menjadi segulung sinar putih. Dibantu lagi oleh belasan orang kawannya yang rata-rata memiliki ilmu tongkat atau ilmu toya dari perkumpulan Thian-tung-kaypang, ia dapat mendesak Kim-hoa-piauw.
Tiba-tiba Kim-hoa-piauw mengeluarkan bentakan keras, tubuhnya mencelat ke atas, kemudian menukik ke bawah dengan pedang ditusukkan. Inilah gerak-tipu Hui-in-ci-tian (awan mengeluarkan kilat) yang luar biasa hebatnya. Dengan cara melompat ke atas, ia terlepas dari kepungan senjata yang demikian banyak dan dapat menujukan serangannya kepada Cung Hok Bi seorang.
Biarpun pemuda Bu-tong-pay ini lihay, namun menghadapi Hui-in-ci-tian ia terkejut dan tak berdaya. Dicobanya menangkis, namun hanya dua kali ia sanggup menangkis. Tusukan pedang ketiga kalinya mengenai leher, menembus dan mengantar nyawa pemuda yang tersesat ini ke alam baka!
Kawanan penjahat terkejut sekali, akan tetapi kematian Cung Hok Bi menimbulkan kemarahan mereka. Dengan semangat meluap dan nekad mereka mendesak terus, membuat Kim-hoa-piauw terpaksa memutar pedang melindungi diri.
“Penjahat-penjahat buta, aku mewakili Suhu Bu-beng Sin-kai menghukum kalian manusia-manusia murtad!” kata Kim-hoa-piauw dengan keras.
Kata-kata ini benar saja mendatangkan pengaruh hebat. Para penjahat itu sebetulnya adalah bekas anggauta Thian-tung-kay-pang. Setelah Bu-beng Sin-kay meninggalkan kotaraja dan meninggal di luar daerah, perkumpulan ini menjadi tersesat dan akhirnya mendapat pimpinan yang keliru dari penjahat.
Dua orang penjahat roboh lagi mandi darah oleh pedang Kim-hoa-piauw, pada saat itu, rombongan Lie-tikoan dan Hok Ti Hwesio tiba. Tentu saja mereka segera menyerbu dan para penjahat mendapat tandingan bukan lagi mengeroyok bahkan kini para pcnjahat itu yang dikeroyok hebat.
Kim-hoa-piauw melompat mendekati kereta. Dilihatnya Pangeran Lu Siang Tek sambil merangkul isterinya, bersembunyi di dalam kereta. ”Mana Lu-siocia?” kata Kim-hoa-piauw, kaget sekali karena tidak melihat adanya Bwe Hwa.
“Dia diajak melarikan diri ke tempat yang aman oleh Song-tikoan dan Siauw Hong.” kata pangeran Lu dengan gagap, masih bingung karena benar-benar peristiwa dua Kim-hoa-piauw ini membikin dia linglung.
Terbelalak mata dibalik topeng itu. “Celaka! Aku salah duga! Ke arah mana larinya?” tanyanya dengan suara membentak sehingga Pangeran Lu terperanjat.
“Ke sana...!” Jarinya menuding ke timur.
Tanpa banyak cakap lagi Kim-hoa-piauw melompat ke atas kuda putihnya dan membalapkan kuda itu ke jurusan timur. Di sepanjang jalan ia mengomel: “Celaka betul, aku tertipu! Dia malah biang keladinya! Awas kau, setan, kuhancurkan kepalamu!” Kudanya makin membalap melakukan pengejaran. “Kalau sampai Bwe Hwa terganggu sehelai saja rambutnya, kau akan kucincang!”
Tak lama kemudian ia mengeluarkan seruan girang ketika melihat dua orang berlari-lari. Yang seorang adalah Siauw Hong dan orang kedua adalah Song Tek yang memondong tubuh Bwe Hwa dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya membawa sebuah toya.
”Benar saja, dia malah si laknat itu! Bedebah, kau tunggu saja!” Kim-hoa-piauw menggerutu.
Orang-orang yang di depan agaknya sudah melihatnya. Song Tek berlari terus, bahkan makin cepat sedangkan Siauw Hong menanti di tengah jalan. Ketika kuda yang ditunggangi Kim-hoa-piauw sudah dekat, tiba-tiba Siauw Hong menggerakkan kedua tangannya dan jarum-jarum halus menyambar ke arah tubuh pemuda ini.
“Ayaaaa... kau juga kaki-tangannya? Pantas segala rahasia bocor...!” seru Kim-hoa-piauw sambil melompat turun dari kuda dengan cara berjungkir-balik.
“Mampuslah!” seru Siauw Hong nyaring sambil menyerang dengan sebuah pedang tipis yang selama ini ia sembunyikan di balik bajunya.
Kim-hoa-piauw menangkis dan segera mereka bertempur. Ilmu pedang yang dimainkan oleh Siauw Hong lihay juga, akan tetapi ia bukan lawan tangguh dari Kim-hoa-piauw. Dalam sepuluh jurus saja, ujung pedang Kim-hoa-piauw berhasil melukai pergelangan tangan kanan, membuat pedang tipis itu terlepas. Kim-hoa-piauw mengayun kakinya dan robohlah tubuh gadis pelayan yang cantik itu. Ia tidak dapat melarikan diri lagi karena sambungan lutut kirinya terlepas. Ia hanya meringis kesakitan sambil memaki-maki.
Kim-hoa-piauw tersenyum mengejek, lalu melompat cepat mengejar Song Tek. Karena jalanan mulai sukar, ia tidak menunggang kuda, melainkan mempergunakan ilmu lari cepat Liok-te-hui-teng. Tak disangkanya bahwa Song Tek ternyata juga pandai sekali berlari cepat, bahkan tidak kalah pandai olehnya sehingga sampai lama tetap saja ia tidak mampu menyusul Song Tek!
Akhirnya Kim hoa-piauw mengeluarkan seruan girang karena melihat bekas tikoan itu berhenti dan tak dapat maju lagi. Di depannya terbentang jurang yang curam dan luas, sama sekali tidak ada jalan maju lagi.
Terpaksa Song Tek melepaskan Bwe Hwa dari pondongannya dan bersiap menghadapi lawannya. Toyanya dipegang erat-erat dan ia memasang kuda-kuda yang kuat sekali! Pangeran Lu kalau melihat hal ini mungkin akan lupa untuk bernapas! Memang benar-benar hal ini amat tak tersangka-sangka.
Bahkan Kim-hoa-piauw sendiri yang semenjak lama menyelidiki keadaan para penjahat, sama sekali tak pernah mimpi bahwa kepala penjahat-penjahat itu adalah Song Tek, bekas tikoan yang kelihatan lemah-lembut, ramah-tamah, dan baik hati itu!
”Iblis rendah, jadi kau yang telah merusak Thian-tung-kay-pang? Jadi kaukah Kwa Ceng murid durhaka dari mendiang suhu Bu-beng Sin-kay? Ketahuilah, aku mewakili suhu untuk menghukummu!” bentak Kim-hoa-piauw sambil melompat maju dan menusuk dada lawannya.
Dengan tenang Song Tek miringkan tubuh sambil menangkis tusukan itu, kemudian berkata: ”Bangsat pengecut yang bersembunyi di balik topeng. Kau siapakah?!”
“Tak perlu kau tahu. Sampai mati kau akan tetap menyangka-nyangka. Cukup kalau kau ketahui bahwa aku mewakili suhu Bu-beng Sin-kay mencabut nyawamu!”
Pertempuran berjalan sengit. Bwe Hwa berdiri dengan kaki gemetar dan muka pucat. Gadis ini tadinya tidak tahu dan suka saja diajak melarikan diri ke tempat aman. Akan tetapi setelah tiba di tengah jalan dan Song Tek dengan kasar memeluk dan memondongnya, setelah ia mendengar percakapan antara Song Tek dan Siauw Hong, baru terbuka matanya bahwa bekas tikoan ini adalah seorang penjahat dan bahwa bekas pelayannya adalah seorang kaki-tangannya! Akan tetapi ia tidak berdaya!
Ilmu toya yang dimainkan oleh Song Tek adalah ilmu toya warisan dari Bu-beng Sin-kay, maka hebatnya bukan main. Tidak mengherankan apabila sukar sekali penjahat ini ditangkap atau dikalahkan.
“Hebat ilmu toyamu!” seru Kim-hoa-piauw. ”Pantas suhu bilang bahwa kalau aku menerima ilmu tongkat, aku takkan menang melawanmu. Akan tetapi dengan ilmu pedang pemberian suhu, aku pasti menang.”
Benar saja, Kim-hoa-piauw berhasil mendesak terus sampai Song Tek yang main mundur tak dapat mundur lagi. Di belakangnya terletak jurang, di depannya pedang di tangan Kim-hoa-piauw berkelebatan seperti naga mengamuk. Ia menggigit bibir dan melakukan perlawanan terakhir, akan tetapi sebuah tendangan dari Kim-hoa-piauw mengenai pahanya. Song Tek menggeser kaki menahan sakit, kakinya menginjak pinggir jurang, terpeleset dan...
“Aaaahhhh...!” Hanya pekik mengerikan ini saja yang mengantar kematian Song Tek sebelum tubuhnya hancur lebur terbanting di dasar jurang yang dalam dan penuh batu-batu karang.
Kim-hoa-piauw menyimpan pedang dan berlari menghampiri Bwe Hwa. Gadis ini merasa ngeri sekali dan hampir terguling pingsan kalau Kim-hoa-piauw tidak lekas-lekas memeluknya.
“Selamat, nona. Bahaya telah lewat!” Tanpa memberi kesempatan kepada gadis itu untuk membantah, ia memondongnya di depan dada dan tiada hentinya menatap wajah yang cantik manis itu.
Lambat laun lenyaplah rasa takut, bahkan Bwe Hwa merasa aman sekali berada di pondongan laki-laki yang selama ini menjadi buah mimpinya. “Sebetulnya siapakah kau, in-kong (tuan penolong)?”
Kim-hoa-piauw tersenyum. “Kau tak dapat mengira aku siapa? Aku tunanganmu, calon suamimu.”
Bwe Hwa cemberut. ”Jangan menggoda!” Akan tetapi cepat tangannya merenggut topeng, didiamkan saja oleh Kim-hoa-piauw yang senyumnya melebar. ”Kau....??!”
Ternyata pemuda itu bukan lain adalah Lie Kian Liong, kini ketampanan dan kegagahannya tidak lagi tertutup awan ketololan, lenyap sudah sifat-sifat bodoh dan tolol dari mukanya yang tampan. “Tidak ada rahasia lagi sekarang, tidak perlu topeng itu...” kata Kian Liong.
“Kau....?!? kembali Bwe Hwa yang terbelalak dan melongo mengeluarkan kata-kata, kemudian ia meronta minta turun.
Kian Liong menurunkan gadis itu dari pondongannya dan wajahnya yang tampan menjadi muram. ”Kau tidak senang melihat bahwa Kim-hoa-piauw yang kau cinta adalah Lie Kian Liong yang tolol?” tanyanya.
Sebagai jawaban, Bwe Hwa menangis dan ketika Kian Liong memegang pundaknya, Bwe Hwa menyandarkan kepalanya di dada yang bidang itu. “Kau tidak tahu betapa girang hatiku...” bisiknya, “Seringkali aku menangis kalau teringat mengapa orang yang melamar diriku itu demikian tolol... dan biarpun tolol tapi... tapi... ah, sukar untuk menceritakan. Kalau sekiranya Kim-hoa-piauw bukan engkau, hatiku selalu akan bimbang dan hidupku akan sengsara karena aku... aku suka kepada dua orang yang amat berlainan, yaitu engkau dan Kim-hoa-piauw!”
Lie Kian Liong mendekap kepala itu dan bertunduk sehingga mukanya terbenam ke dalam gelombang rambut yang halus dan harum.
“Jadi kaupun baru saja tahu bahwa Kim-hoa-piauw adalah puteramu sendiri?” tanya Pangeran Lu kepada Lie-tikoan ketika dua orang tua ini bercakap-cakap setelah meresmikan perjodohan antara dua anak mereka.
“Benar, kami baru mengetahui setelah kami mendapatkan topeng dan pedang di kamarnya, akan tetapi kami diam-diam saja. Liong-ji ternyata dahulu setelah ditolong jiwanya oleh seorang kakek sakti, secara diam-diam telah diambil murid. Kakek itu adalah Bu-beng Sin-kay ketua dari Thian-tung Kay-pang.”
”Dan siapakah Song Tek?”
“Dia adalah murid Bu-beng Sin-kay juga yang kemudian murtad dan menyelewengkan perkumpulan itu. Dengan cara menyogok dan menyuap pembesar-pembesar atasan, ia berhasil menjadi tikoan di Liu-leng. Cung Hok Bi adalah keponakannya yang tadinya seorang pemuda baik-baik, akan tetapi karena ancaman dan kalah oleh pamannya, akhirnya iapun terjerumus dan terseret.”
“Apakah guru silat Kwan Ciu Leng juga anak buahnya?”
“Bukan. Kwan kauwsu dibunuh karena guru silat ini telah mengetahui rahasia Song Tek. Ia dibunuh dan mayatnya diberi pakaian dan kedok penjahat untuk mengalihkan perhatian dan mengacaukan penyelidikan. Thio Cin Gan memang benar menjadi anak buahnya yang bersama Siauw Hong sengaja dimasukkan ke sini menjadi pegawai ongya. Maksud terutama dari Song Tek di Liu-leng ialah untuk mencuri harta pusaka ongya.”
”Memang bagus sekali siasat mereka itu. Mereka memancingku untuk keluar ke kotaraja, membawa harta pusaka. Selain mereka mendapat kesempatan untuk merampok harta dan menculik Bwe Hwa, juga mereka menggunakan aku sebagai tameng sehingga mereka itu semua bisa keluar dari kota tanpa dicurigai, dan sekalian dapat membawa keluar hasil-hasil curian sampai dua peti banyaknya. Benar-benar berbahaya sekali. Siapa kira bahwa kami melakukan perjalanan di tengah-tengah penjahat-penjahat besar?”
“Semua rahasia telah dapat diduga dan diketahui oleh Kian Liong yang sengaja melakukan penyelidikan dengan menyamar agar kedudukanku tidak terancam. Hanya dua hal yang tidak diduga oleh Kian Liong, yakni bahwa kepala penjahat adalah Song Tek dan bahwa nona Siauw Hong juga menjadi kaki tangan. Ini karena pandainya Song Tek menimpakan semua kepada pundak keponakannya. Kalau Liong-ji (anak Liong) tahu bahwa Song Tek kepalanya, tentu nona Bwe Hwa tidak sampai dilarikan yang mendatangkan banyak kaget kepada anak itu.”
“Akan tetapi semua telah berakhir dengan baik dan aku girang sekali. Dahulu aku tidak pernah menolak pinanganmu!”
Dua orang tua itu tertawa bergelak sambil minum arak dan makan hidangan yang disediakan. Adapun di belakang, di taman bunga, terdengar suara gelak ketawa yang amat menggembirakan, diiringi oleh suara ketawa kecil dari Bwe Hwa, yang terdengar amat manis. Gadis ini tengah belajar mempergunakan piauw!
Seperti dahulu ketika ia digoda oleh Kian Liong yang berpura-pura tolol, gadis ini menyambitkan piauw ke arah batang pohon kembang. Kalau dulu Kian Liong berlaku tolol sehingga piauw tidak menancap melainkan mental kembali, sekarang gadis itu lebih tolol lagi. Jangankan mental, kenapun tidak pada batang pohon itu!
“Ha-ha-ha, ternyata kau lebih bodoh daripada aku! Ha-ha-ha!”
“Iiihh, mengejek saja kau! Beginikah caranya mengajar? Hayo beritahu bagaimana caranya supaya aku dapat menyambit!” kata Bwe Hwa sambil mencubit lengan Kian Liong.
“Aduh, aduh.... ya, aku akan mengajarmu. Nah, kau lihat baik-baik. Begini memegangnya, cara mengayunnya dan membidiknya. Nah, lihatlah!” Tangannya bergerak, piauw meluncur dan tepat sekali menancap pada sasarannya, yakni lukisan sebuah hati pada batang pohon yang sengaja dibuat oleh Kian Liong.
”Tepat ditengah-tengah, bukan seperti tepatnya kim-hoa-piauw yang dulu kutinggalkan di sini, tepat mengenai hatimu...”
“Hushh, kita belajar main piauw, bukan bercanda....!” Bwe Hwa merengut akan tetapi bahkan menyandarkan kepalanya di dada kekasih dan tunangannya.
”Kau tak perlu belajar, moy-moy. Tanpa piauw kaupun sudah merobohkan aku, sudah merampas hatiku. Senyum bibirmu lebih indah daripada gerakan kim-hoa-piauw, kerling matamu lebih tajam daripada ujung pedang. Aku taluk padamu tanpa syarat, manisku....”
Sepasang burung berkicau saling sahut seakan-akan bernyanyi indah menyatakan ikut gembira dengan kebahagiaan dua orang muda di bawah pohon itu, sedangkan sepasang kupu-kupu beterbangan di sekeliling taman, menari gembira merayakan peristiwa bahagia di tengah taman bunga!