Sin Kun Bu Tek Jilid 07 karya Kho Ping Hoo - Ma Giok mendapat tugas untuk menghubungi orang-orang utara dan menyelidiki orang-orang kepercayaan kaisar yang besar pengaruhnya. Dalam perjalanan memenuhi tugas ini, Ma Giok menyamar sebagai pemimpin rombongan penari, sedangkan anggota rombongan itu ialah puterinya sendiri dan dua orang murid yang telah dipercayanya.

Ia mendengar bahwa di Keng-koan tinggal seorang pembesar militer yang berpengaruh dan mempunyai banyak kaki tangan pandai. Juga terdengar warta bahwa Thio congtok yang berpengaruh itu kini membentuk seregu barisan pahlawan. Maka Ma Giok segera menuju ke kota itu untuk melakukan penyelidikan.
Malang baginya, Thio congtok adalah orang yang terlalu cerdik dan ahli yang berpengalaman hingga sebelum Ma Giok dapat berbuat banyak, rombongan penari itu sendiri telah masuk daftar orang-orang yang dicurigai oleh Thio congtok! Ma Giok tidak sangka bahwa di mana-mana, bahkan di dalam kelenteng yang ditinggalinya, terdapat mata-mata congtok itu.
Kemudian terjadilah penggerebekan itu. Kini Ma Giok harus akui kekuasaan Thio congtok, karena yang datang menangkapnya ternyata adalah orang-orang yang berilmu tinggi sekali hingga dengan hanya empat orang saja ia sendiri dapat tertawan dan kedua orang muridnya tewas!
Ma Giok duduk dalam kamar tahanannya dengan kecewa. Ia tidak bersedih atau takut, hanya kecewa akan kebodohan sendiri dan kesalahannya memandang terlalu rendah kepada Thio congtok. Ia tidak tahu bagaimana dengan nasib Hong Lian. Tapi dengan lolosnya gadis itu, ia percaya penuh bahwa dirinya tentu akan tertolong.
Terutama jika diingat bahwa kemarin telah dilihatnya seorang pengemis gila menunjukkan diri di kota itu. Pengemis gila itu bukan lain ialah Tan Kok yang bergelar Ngo-jiauw-eng atau Garuda kuku lima, yang menjadi paman gurunya sendiri!
Ma Giok memandang keluar pintu dan melihat enam orang pahlawan congtok duduk minum arak sambil main thioki dengan gembira. Tak seorangpun memperhatikannya. Ma Giok mencari-cari dengan sudut matanya tapi tak dilihatnya pahlawan yang menjatuhkannya tadi.
Ia merasa penasaran kalau mengingat betapa si tinggi kurus itu dapat menjatuhkan dirinya, padahal untuk daerah selatan, permainan goloknya jarang terkalahkan. Ia tidak tahu bahwa yang menjatuhkannya adalah Lui Tiong si harimau muka kuning, seorang ahli pedang yang sebelum Heng San datang, diakui sebagai panglima nomor satu dari Thio congtok!
Pada saat itu tiba-tiba bayangan seorang berkelebat masuk. Ma Giok heran melihat seorang pemuda telah berdiri di situ dan semua pahlawan melihat dia lalu menyambut dengan girang: “Lauw sicu!”
Pemuda itu yang bukan lain ialah Heng San, gerakan telunjuknya ke bibir. “Ssttt! Jangan berisik,” katanya perlahan, “ada musuh datang! Kalian jagalah baik-baik di sini, biar aku menyambut mereka di atas.” Kemudian sekali berkelebat saja tubuhnya telah lenyap dari situ dan berada di luar ruangan.
Melihat kehebatan pemuda yang masih sangat muda itu ternyata jauh lebih lihai daripada pahlawan yang menjatuhkannya, diam-diam Ma Giok merasa terkejut sekali dan ia mengeluh dalam hatinya. Tak disangkanya sama sekali di gedung congtok ini terdapat demikian banyak anjing penghianat yang luar biasa tinggi kepandaian silatnya.
Heng San dengan gerak loncat Burung kepinis pulang ke sarang naik ke atas genteng. Sebetulnya tadi ia tengah duduk termenung dalam kamarnya, tak habisnya memikirkan Ma Hong Lian, gadis yang menawan hatinya itu. Kemudian teringatlah ia akan cerita Lui Tiong bahwa kemarin terlihat seorang pengemis yang mencurigakan, maka seketika timbul curiganya.Orang she Ma yang sekarang menjadi tawanan itu tentu mempunyai banyak teman yang lihai, maka dapat diduga bahwa malam ini mereka pasti berusaha menolongnya. Pula gadis Ma itu telah melarikan diri, maka tak mungkin gadis itu akan tinggal diam melihat ayahnya ditawan.
Serentak Heng San bangun berdiri dan setelah ringkasnya pakaian, ia lalu naik ke atas rumah untuk melihat-lihat. Ia berlari-lari di atas wuwungan rumah hingga melalui beberapa wuwungan.
Tiba-tiba ia melihat tiga bayangan hitam berloncat-loncatan gesit dan mendatangi dari jauh. Ia memapaki sambil bersembunyi. Ternyata bayangan itu bukan lain ialah Ma Hong Lian, gadis cantik yang membuatnya melamun tadi itu, dan kedua kawannya adalah seorang pengemis yang bermuka aneh dan seorang tosu tua yang bermata tajam.
Dengan cerdik dan cepat sekali Heng San ambil jalan memutar, langsung menuju ke ruang di mana terdapat kamar tahanan itu untuk memberi peringatan kepada kawan-kawannya. Kemudian dengan tabah sekali ia seorang diri dan bertangan kosong menanti datangnya musuh!
Ketika bayangan tiga orang itu datang dekat, Hong Lian menunjuk ke arah Heng San. Tiba-tiba tangan pengemis itu bergerak dan sebuah hui-to atau golok terbang yang berbentuk melengkung dan bengkok menyambar ke arah leher Heng San!
Pemuda itu terkejut sekali karena tidak sembarang orang dapat gunakan golok terbang berbentuk demikian itu. ia cepat berkelit dan golok kecil itu terbang bersiutan melewati kepalanya. Kemudian dengan sendirinya dapat terbang kembali dan diterima oleh penyambitnya!
Agaknya pengemis itu setelah melihat percobaannya gagal, mengerti bahwa ia berhadapan dengan seorang yang tidak lemah, maka tanpa banyak cakap lagi ia maju menyerang dengan tongkatnya. Heng San melayani dengan hati-hati karena tahu bahwa kepandaian pengemis itu tak boleh dipandang ringan.
Gadis itu gunakan kesempatan baik ini untuk loncat ke bawah bersama tosu tadi. Heng San tahu maksudnya, maka ia berkelit cepat dari sabetan tongkat, lalu loncat menghadang di depan Hong Lian.
“Nona, kau pulanglah! Tiada gunanya, kau takkan berhasil, bahkan keselamatan jiwamu terancam!”
“Bangsat rendah! Siapa sudi akan nasihatmu!” Dan Hong Lian kirim tusukan dengan pedangnya.
Heng San berkelit dan tiba-tiba tosu itu kebutkan ujung lengan bajunya yang membuat Heng San terkejut sekali karena tenaga dalam tosu ini lihai sekali. Ia terpaksa berkelit dan balas menyerang kalau tidak mau didahului. Pada saat itu pengemis tadi sudah mengejarnya dan kembali Heng San bersilat dengan pengemis itu.
Kali ini pengemis aneh mengurungnya dengan ujung tongkat sambil berseru: “Ma siocia, kau menyerbulah turun dengan Ang toheng!”
Heng San tak berdaya karena tongkat pengemis yang bergerak hebat itu minta perhatian penuh untuk dilawannya. Diam-diam ia khawatir akan keselamatan Hong Lian.
Benar saja dugaannya, tiba-tiba di dalam ruang tempat tahanan itu dikurung, terdengar teriakan-teriakan para pengawal: “Ada penjahat! Ada penjahat!” dan terdengarlah suara senjata beradu. Sebentar saja, para pahlawan pimpinan Liu Tiong, Ban Hok, dan Auwyang Sin, telah keluar dengan senjata di tangan! Hong Lian dan tosu itu jadi terkurung oleh para pahlawan.
“Ha-ha! Memang nasib orang she itu baik sekali!” Lui Tiong tertawa mengejek. “Kini ia bakal dikawani oleh anaknya dan seorang pertapa. Bagus, bagus! Jangan bunuh mereka, tangkap hidup-hidup!” Kemudian ia putar pedangnya maju mendesak.
Tapi di luar dugaannya, tosu itu hebat sekali kepandaiannya. Dengan kedua ujung lengan bajunya yang panjang dan lebar, ia dapat lindungi diri bahkan balas menyerang dengan hebat! Juga Hong Lian mengamuk dengan pedangnya hingga tak mudahlah bagi mereka itu untuk menangkapnya, jangan kata hendak membekuknya hidup- hidup!
Karena melihat keadaan ayahnya dan merasa gemas sekali, permainan pedang Hong Lian menjadi sengit luar biasa. Pada suatu saat ia tiba-tiba loncat ke kiri dan putar pedangnya sedemikian rupa hingga dua orang pahlawan tak keburu berkelit hingga roboh mandi darah. Tosu tua itu juga berhasil gunakan ujung lengan bajunya menyabet hingga seorang pahlawan lain roboh dengan kepala pecah!
Sementara itu, mendengar betapa pertempuran di bawah makin menghebat, hati Heng San menjadi bingung sekali. Ia khawatirkan dua hal. Pertama takut kalau-kalau gadis yang menawan hatinya itu terluka atau tertawan. Kedua takut kalau-kalau gadis dan tosu yang lihai itu berhasil merampas tawanan. Maka ia lalu loncat pergi tinggalkan pengemis itu untuk melihat hasil pertempuran di bawah dari dekat.
Pengemis itu putar tongkatnya dan mengejar turun. Tapi ketika melihat betapa tosu dan Hong Lian terkurung hebat, ia tak perdulikan Heng San lagi, hanya cepat menyerbu ke dalam pertempuran membantu kedua kawannya.
Datangnya pengemis itu mengacaukan kepungan para pahlawan karena ilmu tongkat pengemis itu sungguh hebat dan berbahaya sekali. Heng San segera maju pula hingga seklai lagi ketiga orang itu terkurung karena gerakan Heng San yang tangkas luar biasa itu dapat membuat tosu itu tak berdaya dan repot. Diam-diam tosu dan pengemis itu heran melihat sikap Heng San.
Mereka merasa seakan-akan pemuda itu mempermainkan mereka, juga mempermainkan kawan-kawannya sendiri, karena kepandaian pemuda itu jauh di atas mereka, tapi anehnya, tak sekalipun pemuda itu mengirim serangan mematikan. Heng San hanya menangkis saja sambil berdaya merapas senjata. Lebih-lebih pengemis itu, ia heran sekali karena ilmu silat tangan kosong pemuda itu setingkat dengan ilmu silat gurunya!
Maka karena melihat pihaknya takkan dapat kemenangan, ia berseru: “Mundur!” dan putar tongkatnya lebih hebat.
Sebenarnya bagi Heng San mudah saja untuk menghadapi tongkat ini, tapi karena ia memang kandung niatan untuk membebaskan gadis itu, ia pura-pura ikut mundur dan terkejut seperti para pahlawan lain yang jeri menghadapi tongkat itu. kesempatan ini digunakan oleh si pengemis untuk pegang lengan Ma Hong Lian dan tarik gadis itu ke atas genteng karena melihat bahwa gadis itu agaknya sudah nekat sekali.
Lui Tiong menjadi penasaran dan loncat mengejar, diikuti oleh Ban Hok dan Auwyang Sin, tapi ia didahului oleh Heng San yang berseru: “Awas, Lui twako!”
Benar saja, tiba-tiba dari depan menyambar golok terbang dengan keluarkan suara mendesing dan cahaya berkilau. Semua pahlawan terkejut karena datangnya hui-to itu tak tersangka dan cepat sekali. Tapi Heng San bergerak lebih cepat lagi. Ia loncat memapaki dan di tengah udara ia gunakan tangannya untuk menepuk gagang hui-to itu yang menjadi mencong arahnya dan menyambar ke jurusan lain lalu lenyap ke dalam gelap!
“Lihai sekali!” seruan ini dikeluarkan oleh kedua pihak.
Pihak Lui Tiong yang terkejut dan ngeri melihat hebatnya hui-to lawan, dan pihak pengemis itu yang kagum melihat gerakan Heng San. Sebentar lagi hilanglah tiga bayangan penyerang itu dan para pahlawan menghela napas lega karena tawanan mereka tak sampai terampas oleh musuh yang ternyata lihai.
Tapi mereka juga merasa penasaran melihat bahwa di pihak sendiri jatuh tiga orang korban. Thio congtok yang sudah jaga lalu atur penjagaan makin kuat, dan pada malam itu juga ia perintahkan seorang pengawal pergi ke kotaraja minta bala bantuan!
Pada hari ketiganya, datanglah bala bantuan dari kotaraja merupakan serombongan pahlawan pilihan yang dikepalai oleh seorang hwesio! Heng San terkejut melihat tubuh hwesio yang tinggi besar dan berbulu bagaikan orang hutan itu, tapi ketika diperkenalkan dan mendengar bahwa hwesio itu ialah Lui Im Hosiang, ia tahu bahwa hwesio itu adalah seorang yang berilmu tinggi karena namanya telah terkenal sekali.
Selama tiga hari itu tak terjadi sesuatu, dan rombongan yang diminta datang ini akan diserahi tugas mengawal tawanan itu ke kotaraja. Karena tak melihat gerakan sesuatu dari pihak anggota pemberontak, maka diam-diam Thio congtok merasa khawatir. Ia panggil Heng San dan minta anak muda ini pergi menyelidik di dalam kota dan kalau perlu memeriksa jurusan yang akan dilalui tawanan besok hari.
Pagi-pagi Heng San pergi melaksanakan tugasnya. Ia tanggalkan baju yang bersulam naga sakti, dan pakai pakaian biasa. Ketika sudah merasa jemu karena putar-putar kota setengah hari lamanya belum juga melihat sesuatu yang mencurigakan, tiba-tiba ia melihat seorang tua dari belakang. Ia merasa kenal potongan tubuh orang tua itu, maka ia percepat tindakan kakinya mengejar.
Tapi ternyata orang tua itu menuju ke luar kota dengan tindakan kaki yang cepat sekali! Ia merasa penasaran dan gunakan ilmunya berlari cepat hingga setelah keluar dari kota dan berada di jalan yang sunyi, kedua orang itu berkejar-kejaran dengan cepat. Dalam hal ilmu lari cepat, Heng San telah berada di tingkat tinggi dan jarang bertemu tandingan, tapi kali ini ia harus kerahkan seluruh kepandaiannya untuk mengejar orang itu.
Akhirnya dapat juga ia mengejar, tapi pada saat itu, mereka telah tiba di pinggir sebuah hutan. Orang tua itu menengok sambil tersenyum dan Heng San terkejut sekali karena kenal bahwa yang dikejarnya bukan lain ialah tosu yang pada tiga hari yang lalu ikut menyerbu ke gedung congtok!
Ia percepat larinya dan tidak perduli pantangan bagi orang mengejar lawan. Biasanya kalau mengejar lawan yang memasuki hutan, hal ini sangat berbahaya bagi si pengejar, karena mudah saja dibokong atau terjebak ke dalam perangkap. Namun Heng San yang berhati tabah sama sekali tidak merasa takut. Dengan berani ia terus lari mengejar.
Tapi hutan itu sangat lebat dan ia tidak kenal keadaan di situ, hingga ketika ia memasukinya, ternyata tosu itu telah lenyap dari pandangan. Ia memandang kesana-kemari, tapi pertapa itu tak tampak bayangannya lagi. Ketika ia hendak kembali dan keluar dari hutan, tiba-tiba ia mendengar tindakan kaki orang berlari mendatangi, dan ketika ia berpaling, berdebarlah dadanya.
Yang mendatangi bukan lain ialah gadis kenangannya, gadis cantik jelita yang telah memikat hatinya, Ma Hong Lian si pendekar wanita dari Tit-lee! Gadis itu berhenti dan berdiri di depannya sambil memandang dengan kedua matanya yang tajam bagaikan mata burung hong.
“Lihiap... nona Hong Lian... kau... kau disini??” tanyanya gagap.
“Akulah yang seharusnya bertanya, Sin Kun Bu Tek, kau datang kemari bukankah hendak mencari kami?”
Heng San tersenyum dan tidak sembunyikan keheranannya. “Bagaimana kau dapat ketahui nama lelucon yang diberikan orang kepadaku itu, nona?”
Gadis itu keluarkan suara sindiran. “Hm, siapa yang tidak kenal Sin Kun Bu Tek si Kepalan dewa tanpa tandingan, orang gagah perkasa yang menjual diri kepada pembesar kaya?”
Heng San tersenyum saja dan anggap gadis itu hendak menang sendiri saja. Ia tetap bersabar dan pandang wajah gadis itu dengan kagum. “Dan... sudah kenalkah kau akan namaku, nona? Aku she Lauw....”
“Aku tak perduli kau she apa dan bernama siapa! Pokoknya kau adalah seorang pemuda yang telah jauh tersesat, yang sudah menjual diri kepada seorang pembesar kaki tangan kaisar! Kau menjadi kaki tangan penindas rakyat!”
Heng San memandangnya dengan lucu. “Ah, jangan putar balikkan duduknya perkara, nona. Thio congtok adalah seorang pembesar bijaksana, dan semua pahlawannya adalah orang-orang gagah belaka yang membela keadilan dan menjaga keamanan dan ketenteraman hidup rakyat. Adalah kau dan kawan-kawanmu itulah yang sesat dan mencari hasil dengan jalan yang mudah dan jahat. Kau masih muda, nona, janganlah kau ikut-ikut mereka itu. hiduplah sebagai seorang pendekar wanita yang berbudi, sesuai dengan nama gelarmu. Aku... aku merasa menyesal sekali melihat keadaanmu yang demikian jauh tersesat!”
Hong Lian memandang dengan heran dan marah. Kemudian ia tersenyum sindir. “Kalau kau anggap aku jahat, kalau aku kau anggap sesat, mengapa beberapa kali kau sengaja menolong padaku? Mengapa kau sengaja melepaskan aku? Apakah dengan cara itu kau hendak perlihatkan kepandaianmu dan hendak menghinaku?!”
Heng San perlihatkan muka sungguh-sungguh. “Memang aku bodoh, nona. Seharusnya orang-orang seperti kau dan kawan-kawanmu itu kubasmi habis! Itu telah menjadi kewajibanku, baik sebagai orang yang mengaku menjadi orang gagah, maupun sebagai pemimpin barisan garuda sakti yang kewajibannya menjaga keamanan dan membasmi kejahatan! Tapi padamu...”
Muka Heng San berubah merah dan berkali-kali ia menghela napas sebelum melanjutkan kata-katanya. “Padamu... aku tak dapat melihat kau tertawan dan mendapat celaka! Aku... aku kasihan padamu, nona Hong Lian...”
Hong Lian memerah muka dan akhirnya ia menjadi marah sekali. Gadis itu banting-banting kaki dan berkata galak: “Hah! Tak bermalu! Siapa yang ingin kau bela? Siapa yang ingin mendapat kasihmu? Aku tidak sudi!”
“Kau boleh caci maki aku, nona. Kau boleh anggap aku musuhmu dan penghalang pekerjaanmu, tapi betapapun juga, aku... aku suka padamu!”
Tiba-tiba Hong Lian tekap mukanya dan menangis, tangis yang telah ditahan-tahannya sejak tadi, tangis yang keluar dari hati jengkel, marah, gemas, dan menyesal.
Heng San melangkah maju dan berdiri ragu-ragu di depan gadis itu. “Nona... nona, kenapa kau menangis? Kau... kau menyesalkan akan segala kesesatan yang telah kau perbuat? Belum terlambat, nona. Marilah kembali ke jalan benar.”
Tiba-tiba Hong Lian buka kedua tanganyang menutup muka dan matanya menyambar tajam kepada pemuda itu. “Siapa yang sesat? Aku memang menyesal... menyesal sekali...”