Sin Kun Bu Tek Jilid 08

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Sin Kun Bu Tek (Kepalan Dewa Tanpa Tanding) jilid 08
Sonny Ogawa

Sin Kun Bu Tek Jilid 08, karya Kho Ping Hoo - Heng San bingung dan tak dapat menangkap maksud gadis itu. “Nona Hong Lian, kalau kiranya kau takut kepada kawan-kawanmu untuk membebaskan diri dari perkumpulan jahat ini... percayalah aku sanggup membebaskan kau dari mereka. Kalau perlu, aku sanggup membasmi mereka semua dengan kedua tanganku.”

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Hong Lian masih terisak-isak. “Sayang... kau menjadi pemimpin garuda sakti...”

“Kenapa sayang, nona? Tapi... kalau kau mau melepaskan dirimu dari segala pemberontak jahat itu, aku... akupun akan rela keluar dari barisan garuda sakti. Karena sesungguhnya, aku tidak suka menjadi pembantu congtok, biarpun pekerjaan ini kuhargai karena memang tepat dikerjakan oleh orang-orang yang anggap diri pembela rakyat!”

“Kau.... kau buta!!”

Sebelum Heng San dapat menjawab karena heran dan tak senang, tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak dan dari dalam rimba itu muncullah si tosu dan pengemis aneh yang dulu menyerang gedung congtok!

“Ha, ternyata Sin Kun Bu Tek bukan saja lihai ilmu silatnya, tapi juga lihai memutar lidah! Jika kau memang orang gagah seperti yang berkali-kali kau katakan, janganlah kau memusuhi kami dan tinggalkan gedung congtok. Tapi kalau kau kukuh hendak membela congtok pembesar anjing itu, terpaksa kami hendak melawan mati-matian! Kalau perlu, kami harus melenyapkan kau dari muka bumi!”

Heng San tersenyum sindir mendengar kata-kata tosu itu. “Kau tosu siluman. Kau dan kawan-kawanmu memang orang-orang jahat. Pemberontak dan pengacau yang kerjanya hanya merampok dan mencuri! Tapi aku tak perdulikan itu semua kalau kalian tak menyeret-nyeret seorang gadis memasuki duniamu yang kotor dan sesat itu. Sekarang, karena kejahatanmu sudah melewati batas dan bertemu dengan aku, maka jangan harap Sin Kun Bu Tek akan mengamuni kalian!”

Heng San memang benci sekali kepada kawan-kawan Hong Lian yang dianggapnya menjadi sebab kesesatan Hong Lian, maka dengan cepat lalu maju menyerang tosu itu! Tosu itu kibaskan ujung lengan baju untuk menangkis dan berseru marah:

“Pinto Ang Jit Tojin hari ini akan bertempur mati-matian dengan kau!”

Maka berkelahilah kedua orang dengan seru, tapi ternyata bahwa kali ini Heng San tak memberi banyak kesempatan kepada lawannya. Ia keluarkan ilmu kepandaiannya yang memang hebat untuk mendesak hingga sebentar saja Ang Jit Tojin terdesak mundur karena angin pukulan Heng San yang keras.

Tan Kok si pengemis aneh segera berseru marah dan putar tongkatnya sambil berteriak: “Sin Kun Bu Tek! Kau penghianat bangsa terimalah kematianmu!” Tongkatnya berputar cepat dan menghantam dengan keluarkan angin pukulan yang menderu!

Tapi Heng San tidak menjadi takut atau jerih. Ia pergunakan ginkangnya yang telah mencapai tingkat tinggi untuk berkelit dan menghindari serangan kedua jago tua itu, tapi kali ini ia tidak mau mengalah lagi. Sambil berkelit, ia selalu kirim serangan balasan yang lebih hebat hingga biarpun dikeroyok dua, tetap ia masih dapat mendesak kedua orang itu!

Hong Lian memandang dengan hati berdebar. Ia tidak membantu karena perasaannya sangat tertekan. Semenjak ia bertemu dengan pemuda yang dulu merampas hasil curiannya, ia merasa kagum kepada pemuda itu. ia belum pernah bertemu dengan seorang pemuda yang demikian lihai ilmu silatnya, sedangkan pemuda itu masih muda serta tampan pula.

Maka ketika ia bertemu kembali dengan pemuda yang mengganggu hatinya itu dan melihat betapa pemuda itu ternyata menjadi anjing penjaga congtok, rasa sukanya berubah menjadi benci karena menyesal. Dan baru saja pemuda itu membuka rahasia hatinya. Jadi pemuda itu cinta padanya! Memang ia telah mempunyai dugaan seperti itu ketika beberapa kali Heng San sengaja melepaskannya dan bahkan menolongnya, tapi ia masih sangsi.

Kini, mendengar sendiri betapa pemuda itu menyukainya, bersedia membelanya, hatinya menjadi sedih dan menyesal. Ah, kalau saja Heng San berdiri di pihaknya! Kalau saja pemuda itu benar-benar seorang pendekar yang berjiwa patriot! Alangkah bahagianya menyerahkan nasib diri kepada seorang pemuda yang demikian gagahnya.

Ketika itu dari dalam rimba muncul pula beberapa pemuda yang bersenjata golok dan pedang. Mereka ini berjumlah lima orang yang tanpa banyak cakap lagi segera mengeroyok Heng San.

“Hong Lian, kenapa kau peluk tangan saja?” tosu itu menegur. Hong Lian baru sadar dan segera maju mengeroyok.

Heng San menghela napas. Kalau baru dikeroyok oleh tosu dan pengemis ditambah dengan lima anak muda yang tak berapa tinggi ilmu kepandaiannya itu saja, ia masih dapat melayani dengan gembira. Tapi kini melihat gadis pujaan hatinya itu maju mengeroyok, ia menjadi sedih, tapi berbareng marah sekali. Dengan gesit ia loncat kesana-kemari dan kerjakan kaki-tangannya hingga sebentar saja dua orang pemuda pengeroyoknya telah kena terpukul roboh.

Melihat pihaknya menderita kerugian, pengemis aneh itu memberi tanda suitan. Semua kawannya mengerti dan segera mengeroyok Heng San dari satu jurusan saja sambil keluarkan senjata rahasia! Pertama-tama adalah ketiga pemuda dan Hong Lian yang keluarkan senjata piauw dan pelor besi yang disambitkan dan menyambar ke arah tubuh Heng San!

Pemuda ini terkejut sekali karena tidak sangka bahwa suitan itu adalah tanda untuk menyerang dengan senjata rahasia! Ia loncat ke atas hingga semua peluru dan piauw lewat di bawah kakinya. Sebelum tubuhnya turun kembali, tiba-tiba tiga batang piauw yang bersinar putih menyambar di tiga bagian tubuhnya!

Heng San kaget sekali karena piauw ini ternyata adalah gin-piauw atau piauw perak yang dilempar dengan tenaga hebat oleh Ang Jit Tojin! Sedangkan pada saat itu tubuhnya masih berada di udara dan sedang turun. Ia segera gunakan gerakan Naga siluman berjumpalitan dan tubuhnya berpoksay di udara dengan indahnya.

Dengan gerakan itu ia berhasil hindarkan diri dari tiga batang gin-piauw yang menyambarnya, tapi pada saat itu telah datang pula tiga batang gin-piauw lain dari Ang Jit Tojin yang menyambar dengan lebih hebat lagi, sebatang mengarah leher, sebatang menyambar pusar dan sebatang pula menyerampang kaki!

Kini tak mungkin pula Heng San berkelit di udara, maka ia gunakan ujung sepatunya menendang pinggir piauw yang menyambar kaki, gunakan tangan menangkap piauw yang mengancam pusar dan miringkan kepala untuk menghindari piauw ketiga yang menyambar ke arah leher!

Gerakannya sungguh luar biasa, cepat dan indah hingga pihak lawan semua memuji. Tapi pujian yang diucapkan dengan keras itu hanya membuat Heng San menjadi lengah dan tahu-tahu piauw keempat yang dilepas dengan diam-diam telah menyambar dan menancap di pundak kanannya! Heng San menjerit dan dengan kertak gigi ia cabut piauw itu. Darah mengucur dari pundaknya.

Pada saat itu terdengar suara mengaung keras dan tahu-tahu sebuah hui-to dari pengemis itu telah menyambar ke arah Heng San, disusul pula oleh hui-to kedua dan ketiga! Karena terluka oleh piauw dari Ang Jit Tosu, Heng San merasa marah sekali. Sekarang melihat ia diserang hui-to, ia berseru keras dan sambitkan piauw yang tadi terampas ke arah hui-to pertama hingga senjata rahasia golok terbang itu terpukul jatuh ke tanah.

Hui-to kedua menyambar dan Heng San loncat ke atas, kemudian sambil melayang turun ia tendang hui-to ketiga hingga hui-to ketiga itu mencelat dan terbang ke lain jurusan dengan keras sekali. Terdengar pekik nyaring dan hebat di tempat hui-to ketiga itu menyambar akibat tendangan Heng San dan Hong Lian roboh mandi darah dengan dada tertancap hui-to tadi!

Ternyata gadis itu ketika melihat betapa Heng San terluka oleh gin-piauw, hatinya timbul rasa kasihan dan otomatis ia tidak ikut menyerang lagi, hanya melihat dengan hati berdebar. Darah yang makin banyak keluar dari pundak Heng San dan menembus keluar kepakaiannya itu mengharukan hati Hong Lian, hingga ketika tiba-tiba hui-to yang ditendang Heng San menyambar ke arahnya secepat kilat, ia tak sempat berkelit dan golok kecil tajam itu menancap di dadanya!

Heng San melihat peristiwa itu berteriak ngeri dan loncat menubruk gadis itu. Ia angkat kepala gadis itu di pangkuannya dan berulang-ulang memanggil: “Hong Lian... Hong Lian....”

Tapi gadis itu telah lemas di pelukannya. Tiba-tiba gadis itu buka matanya dan melihat wajah Heng San dekat di depan matanya, ia tersenyum lemah.

“Hong Lian!”

Gadis itu gerak-gerakkan bibirnya seakan-akan hendak bicara tapi ia hanya dapat keluarkan suara bisik-bisik perlahan sekali.

“Hong Lian! Kau hendak pesan apakah? Bilang padaku, tentu akan kulakukan permintaanmu itu!” Kemudian Heng San tempelkan telinganya di bibir Hong Lian.

“Kau.... kau harus bebaskan ayah..." sehabis berkata begini, gadis itu hembuskan napas terakhir dalam pangkuan Heng San!

Heng San ingin menjerit, ingin menangis, ingin mengamuk. Ia anggap bahwa kematian gadis ini adalah kesalahan orang-orang yang sekarang mengurungnya. Para pemberontak jahat ini telah menyesatkan Hong Lian, dan kini gadis itu menjadi korban, mati dalam keadaan menyedihkan. Mati di bawah tikaman senjata pemimpin mereka sendiri, dan digerakkan oleh tendangannya, dalam tangannya, padahal ia sangat mencintai gadis itu!

Dan ini semua gara-gara para pemberontak ini! Ini semua gara-gara pengemis dan tosu jahanam itu! Heng San angkat kepala dan perlahan-lahan kepalanya menengok ke kanan-kiri dengan pandangan yang menyeramkan.

Kawan-kawan Hong Lian melihat betapa serangan mereka bahkan mengorbankan gadis itu, dan melihat betapa pemuda lawan mereka menubruk dan menangisi Hong Lian, tiba-tiba menjadi kesima dan tak mampu bergerak! Kini, melihat pemuda itu berdiri perlahan dengan sikap mengerikan, mereka siap dengan hati berdebar.

Wajah Heng San saat itu tiada ubahnya sebagai seekor harimau yang kehilangan anakmya! “Kalian telah membunuhnya! Kalian orang-orang jahat telah menyeretnya ke jurang maut! Kalian harus membayar untuk ini!”

Setelah keluarkan kata-kata ini dengan suara yang menyeramkan, Heng San segera loncat menubruk orang yang terdekat. Seorang pemuda yang bersenjata golok kena terpegang olehnya. Heng San totok pemuda itu lalu pegang kedua kakinya. Ia putar-putar tubuh orang untuk digunakan sebagai senjata dan serang mereka dengan hebat.

Melihat kehebatan Heng San, Ang Jit Tojin dan pengemis itu menjadi jerih juga. Mereka melayani rangsekan Heng San sambil mundur. Dua pemuda lain yang membantu telah kena disapu oleh kaki Heng San hingga terlempar jauh dan roboh tak kuasa bangkit lagi!

Ang Jit Tojin dan Ngo-jiauw-eng Tan Kok terpaksa gunakan senjata-senjata rahasia mereka untuk menahan desakan Heng San yang telah lempar mayat pemuda di tangannya tadi dan merangsek maju dengan kedua tangannya!

Senjata rahasia kedua orang itu memang lihai, maka serangan Heng San tertunda karena ia harus hati-hati hindarkan diri dari serbuan senjata rahasia yang berbahaya itu. Sambil gunakan kesempatan di waktu Heng San repot kelit semua senjata rahasia, kedua orang itu lalu melarikan diri ke dalam hutan.

“Jangan lari!” Heng San membentak. “Ke mana juga kalian pergi, sebelum aku dapat membunuh kalian, jangan harap dapat lepaskan diri dariku!” Dengan cepat ia terus mengejar mereka.

Karena ilmunya berlari cepat memang luar biasa, maka sebentar saja ia dapat mengejar Tan Kok yang lebih lemah ginkangnya. Ia serang pengemis itu yang terpaksa gunakan tongkat melawannya, sedangkan Ang Jit Tojin segera lari kembali untuk membantu. Biarpun kedua orang itu terdiri dari tokoh-tokoh persilatan yang tinggi ilmu silatnya, tapi kali ini menghadapi Sin Kun Bu Tek, mereka terdesak hebat. Sungguh kepandaian silat tangan kosong dari Heng San tak terkira tingginya.

Setelah bertempur puluhan jurus dengan mati-matian, akhirnya Heng San mendapat kesempatan pukul leher Tan Kok, sedangkan pengemis itupun kirim pukulan tongkat kepada pemuda itu. Dua pukulan yang dilepas masing-masing ini tak dapat dihindarkan lagi, karena pada saat itu, Heng San sedang menangkis kebutan ujung baju Ang Jit Tojin pada kepalanya, sedangkan tangan kiri dipakai menghantam leher Tan Kok.

Ia yang sudah nekat hendak mengadu jiwa dengan mereka maka ia biarkan saja ancaman tongkat Tan Kok yang menyerbu dadanya. Ia kerahkan tenaga dalam dan kekebalannya untuk menerima pukulan itu dan berbareng arahkan pukulannya ke tempat leher di mana terdapat jalan darah kematian.

Tan Kok yang terpukul lehernya tak sempat menjerit tapi terlempar setombak lebih lalu menggeletak tanpa dapat bersuara pula karena ia telah tewas pada saat itu juga! Sebaliknya Heng San yang terkena pukul dadanya merasa betapa dadanya menjadi panas dan tiba-tiba ia muntahkan darah segar! Tapi dasar ia kuat dan kebal, pukulan hebat itu hanya mendatangkan luka dalam yang tak berapa berat.

Melihat kehebatan lawan, Ang Jit Toin segera loncat pergi dan lari. Pertapa ini memang mempunyai ilmu lari cepat yang lebih tinggi daripada Tan Kok. Dibanding dengan Heng San, ia hanya kalah sedikit. Kini karena Heng San sudah mendapat luka, maka kecepatan mereka berimbang, hingga ketika pemuda itu mengejar, jarak di antara mereka tak menjadi lebih dekat atau lebih jauh.

Mereka lari berpuluh li di dalam hutan yang panjang itu dan akhirnya tibalah Ang Jit Tojin di kaki sebuah bukit. Tiba-tiba pertapa itu loncat masuk ke dalam sebuah kelenteng tua yang terdapat di kaki bukit.

Heng San berdiri di luar kelenteng dan berteriak-teriak: “Tosu siluman! Keluarlah kau terima binasa! Jangan mencemarkan rumah suci ini dengan darahmu yang kotor! Hayo, keluarlah, atau aku akan menyeretmu keluar!” Heng San terengah-engah dan ia mulai merasa sakit di dadanya.

Karena Ang Jit Tojin tidak menjawabnya, juga tidak tampak keluar, ia menjadi marah sekali. Dengan keras ia menendang pintu kelenteng hingga daun pintu itu hancur berantakan dan pecahannya terbang ke sana-sini! “Tosu siluman, kau hendak lari ke mana?”

Tiba-tiba Heng San melihat dengan mata terbelalak ke arah pintu dari mana muncul seorang pengemis. Ia hampir tak mau percaya pandangan mata sendiri dan gunakan tangan untuk gosok-gosok matanya. Tapi ketika ia memandang kembali dengan teliti.

Ternyata memang betul bahwa yang berjalan keluar dari pintu dan sedang menghampirinya dengan pandangan mata bagaikan cahaya api yang membakar dirinya itu bukan lain ialah Pat-chiu Sin-kay si Pengemis Dewa Tangan Delapan atau gurunya sendiri!

Sedangkan Ang Jit Tojin berjalan di belakang suhunya itu dengan sikap takut-takut. Di belakang Ang Jit Tojin keluarlah lima orang lagi yang semuanya tampak gagah dan bersemangat dengan senjata tergantung di pinggang atau menggemblok di punggung.

Heng San merasa matanya berkunang-kunang dan ia cepat jatuhkan diri berlutut: “Suhu!” suaranya yang pada keadaan biasa pasti akan terdengar gembira dan girang itu kini terdengar penuh keraguan melihat betapa gurunya memandang dengan marah, dan betapa Ang Jit Tojin ternyata bersahabat dengan gurunya!

“Heng San, sudah gilakah kau?!” tiba-tiba suhunya menegur dengan suara yang terdengar lebih sedih daripada marah.

“Suhu, kalau teecu bersalah, persilahkan suhu menghukum teecu, tapi sesungguhnya, teecu tidak mengerti apa maksud suhu.”

“Tahukah kau, siapakah orang-orang yang kau bunuh belum lama ini? Tahukah kau, siapakah Ma Giok yang kau tawan itu?”

Heng San pandang wajah suhunya, tapi melihat bahwa kedua mata gurunya masih memancarkan api kemarahan, ia tunduk lagi dan menjawab dengan suara tetap, walaupun hatinya mulai meragu:

“Orang-orang yang teecu basmi belum lama ini adalah penjahat-penjahat pemberontak yang mengacau dan merampok rakyat. Ma Giok adalah seorang pemimpin perampok, seorang jahat yang berbahaya.” Kemudian, setelah berhenti sebentar ia tambahkan cepat-cepat: “Dan seorang ayah durhaka yang menyeret anak sendiri ke dalam jurang kenistaan!”

Pat-chiu Sin-kay memandangnya dengan gemas, tapi ia tekan perasaannya, lalu bertanya lagi: “Dan tahukah kau siapa Ngo-jiauw-eng yang kau bunuh tadi?”

“Ngo-jiauw-eng? Suhu maksudkan pengemis aneh tadi? Ah, suhu, ia orang jahat pula. Ia gunakan kepandaiannya untuk menjadi penjahat dan merupakan seorang pemimpin pula dari gerombolan pemberontak.”

Merahlah wajah pengemis dewa itu, dadanya dirasakan seperti hampir meledak dan terasa sakit di dada kiri. Ia tahu bahwa serangan batin ini membuat penyakitnya kambuh pula, dan jantungnya terserang hebat. Tapi ia masih tekan hati dan bertanya pula: “Dan tahukah kau, hai anak durhaka, hai murid murtad, siapakah Thio congtok yang kau bela itu?”

Terkejutlah Heng San mendengar kata-kata suhunya yang memaki-makinya dengan keji itu. ia memandang gurunya dan ia makin heran karena melihat betapa orang tua itu pegang-pegang dada kirinya dengan wajah merah. Maka ia menjawab dengan bibir gemetar dan suara ragu-ragu:

“Thio congtok... adalah seorang pembesar yang... yang bijaksana... seorang yang mengutamakan keadilan, yang membela dan menjaga keamanan rakyat yang membasmi para penjahat...”

“Cukup! Tutup mulutmu yang kotor, kau... kau manusia rendah! Kau... ahh... tidak saja kau melumuri muka dan nama suhumu dengan kotoran, tapi kau bahkan menghianati orang tuamu sendiri, kau bahkan menghianati bangsa sendiri!”

Pat-chiu Sin-kay maju terhuyung-huyung ke arah Heng San dengan tangan terkepal, sikapnya hendak menyerang, tangan kanan terkepal tapi tangan kiri pegang dada. Tapi sebelum ia pukulkan tangannya ke kepala Heng San, jantungnya yang terserang tekanan hebat tak kuat pula hingga sambil menyemburkan darah dari mulut, ia roboh.

Heng San loncat berdiri dan peluk tubuh suhunya, tak perdulikan lagi darah dari mulut suhunya yang memancur keluar dan membasahi seluruh pakaiannya, bahkan mukanya juga terkena darah! Ia peluki tubuh suhunya dan meratap-ratap:

“Suhu... suhu... ampunkan teecu, suhu... bunuhlah teecu kalau teecu bersalah, tapi jangan... jangan siksa diri begini, suhu... amoun, suhu....” Kini Heng San benar-benar menangis dan pondong tubuh suhunya yang sudah kaku itu sambil membawanya lari kesana-kemari!

Tapi si pengemis dewa ternyata telah mati. Akhirnya Heng San ketahui hal ini, maka ia menangis keras sambil pukul-pukul kepala sendiri dan berlutut di depan mayat gurunya. Kemudian ia menghampiri Ang Jit Tojin dan orang-orang gagah lain yang duduk melihat kelakuannya dengan mata dingin.

“Cuwi, mengapa kalian diam saja? Kalau aku, Lauw Heng San, telah berbuat salah, katakanlah apa salahku itu? Kalau kalian tidak mau katakan, nah, inilah aku. Bunuhlah, aku takkan melawan! Tapi sedikitnya jelaskanlah dulu, mengapa suhu begitu marah padaku?”

Seorang gagah yang tinggi besar cabut goloknya hendak ditimpakan ke leher Heng San, tapi ia dicegah oleh Ang Jit Tojin yang berkata: “Sabar, Cui enghiong. Agaknya anak ini benar-benar telah tertipu. Biarlah aku ceritakan dulu semua hal yang agaknya masih gelap baginya.”

Heng San segera jatuhkan diri berlutut di depan Ang Jit Tojin. “Karena perbuatanmu ini saja aku orang she Lauw merasa berterima kasih sekali dan untuk kesalahanku yang sudah-sudah nanti kau orang tua balaslah sesuka hatimu!”

Ang Jit Tojin bangunkan Heng San. “Kau duduklah dan dengar kata-kataku baik-baik....”

Selanjutnya,
SIN KUN BU TEK JILID 09