Sin Kun Bu Tek Jilid 06

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Sin Kun Bu Tek (Kepalan Dewa Tanpa Tanding) jilid 06
Sonny Ogawa

Sin Kun Bu Tek Jilid 06 karya Kho Ping Hoo - Lui Tiong lalu bercerita, dan Heng San mendengarkan hal-hal yang baru dan asing baginya, tapi yang membuat ia bertekad hendak membantu perjuangan Thio congtok.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Menurut cerita Lui Tiong, ternyata bahwa akhir-akhir ini banyak sekali timbul gerakan-gerakan para perusuh atau pemberontak yang bermaksud memberontak dan merebut kekuasaan alat-alat negara dengan tujuan merampok dan untuk kepentingan sendiri. Banyak sudah rombongan-rombongan pemberontak yang terdiri dari orang-orang bu-lim dapat ditumpas atau dibubarkan.

Beberapa hari yang lalu, di kota Keng-koan kedatangan serombongan penari silat yang membuka pertunjukan. Mereka ini terdiri dari seorang laki-laki setengah tua, dua orang muridnya, dan seorang gadis yang masih muda dan cantik, yakni puteri dari pemimpin rombongan itu.

Berbeda dengan rombongan-rombongan penari yang biasa mengadakan pertunjukan, rombongan ini sangat istimewa dan menarik perhatian karena ternyata ilmu kepandaian mereka luar biasa. Terutama pemimpin rombongan dan anak gadisnya, mereka ini mempunyai ilmu silat yang tinggi! Hal ini menimbulkan rasa curiga pada Thio cong-tok yang sengaja memerintah kepada Lui Tiong untuk menyelidiki keadaan mereka.

“Aku telah menyelidiki mereka,” Demikian Lui Tiong tutup ceritanya kepada rekan-rekannya, “dan mereka itu benar-benar bukan orang sembarangan. Ketika pada malam hari aku gunakan kepandaian mengintai dari genteng tempat mereka bermalam, biarpun aku sudah berlaku hati-hati sekali, namun agaknya suara kakiku terdengar juga oleh mereka. Hampir saja aku menjadi kormab piauw yang menyambar ke arahku. Baiknya aku memang berlaku hati-hati, hingga aku dapat berkelit dan larikan diri sebelum mereka melihatku.”

Heng San tertarik sekali. “Di manakah tempat bermalam mereka?”

“Dalam kelenteng Hok-man-tong.” Jawab Lui Tiong. “Bagaimana kau tahu bahwa mereka itu mempunyai hubungan dengan mata-mata pemberontak di kota ini seperti yang kau ceritakan tadi?” tanya Heng San pula.

“Begini soalnya,” Lui Tiong bercerita, “kemarin ketika dengan diam-diam aku campurkan diri dengan para penonton melihat pertunjukan mereka, dan ketika gadis itu sedang menari pedang yang sebenarnya bukanlah tarian biasa tapi adalah gerakan ilmu silat pedang Sian-li kiamhwat yang tinggi! Kemudian aku melihat seorang pengemis yang matanya buta sebelah di antara para penonton memuji-muji: “Bagus! Bagus!” dan ia bagaikan seorang gila lalu berloncatan.

"Sebelum hilang heranku, tiba-tiba pengemis itu berjumpalitan dan berdiri dengan kepala di bawah kaki di atas sambil berkata-kata kacau-balau. Tapi aku perhatikan sikap dan bicaranya hingga dapat tertangkap kata-kata “garuda sakti” dan “hati-hati”, “dicurigai”. Tentu saja aku merasa heran sekali, tapi pada saat itu juga pengemis itu lari pergi setelah berjumpalitan lagi.

"Orang-orang tertawa melihat perbuatannya dan menganggap ia seorang gila yang meniru gerakan orang bersilat. Tapi aku tahu bahwa ia bukanlah orang biasa saja, maka aku segera mengejarnya. Alangkah heranku ketika sebentar saja ia dapat melenyapkan diri dengan gunakan ilmu lari cepat yang luar biasa!”

Heng San dan yang lain-lain mendengar dengan tertarik sekali. Setelah menghirup araknya, Lui Tiong lanjutkan ceritanya. “Malam tadi aku berhasil mengintai mereka tanpa diketahui. Aku berlaku sangat hati-hati hingga tak berani aku ambil jalan dari atas. Aku gunakan kekerasan dan minta bantuan hwesio penjaga kelenteng dan ia membantuku bersembunyi dalam sebuah kamar yang dekat dengan ruang duduk di mana mereka katanya sering berkumpul.

"Benar saja, tak lama kemudian mereka datang, gadis itu, ayahnya dan dua orang murid si tua. Dari percakapan mereka tahulah aku bahwa mereka itu sudah mencatat nama-nama kita dan kumpulkan segala keterangan mengenai kita!

"Bahkan rumah-rumah kawan-kawan kita sudah mereka ketahui pula. Kemudian mereka bicarakan perihal pengemis itu yang ternyata adalah susiok sendiri dari pemimpin rombongan itu! Terang mereka itu memata-matai kita dan mereka itu adalah anggota-anggota atau orang-orang kepercayaan pemberontak!”

“Benarkah mereka berlidah selatan?” Thio congtok bertanya. Lui Tiong mengangguk, “Mereka memang orang-orang selatan!”

Thio congtok kerutkan kening. “Hm, kalau begitu mereka itu tentu anak buah si pemberontak Lo Hay Cin. Kabarnya, mereka, orang-orang selatan ini, banyak sekali yang mempunyai kepandaian tinggi, maka kuharap kalian berhati-hati menghadapi mereka. Ban kauwsu, sekarang juga kau pergilah dan kumpulkan semua pahlawan. Mereka harus berkumpul di sini dan bermalam di sini pula. Gedung ini harus dijaga kuat-kuat.

"Lui kauwsu-lau dan Lauw sicu kuserahi tugas memimpin beberapa orang kawan menangkap mereka. Lebih lekas melihat mereka tertahan dalam penjara lebih amanlah hati, daripada melihat mereka berkeliaran di luar dan memperkuat kedudukan mereka. Yang lain-lain harus tinggal di gedung ini menjaga kalau- kalau mereka datang menyerang!”

Setelah berkata demikian, Thio congtok tinggalkan mereka. Para pahlawan segera menjalankan tugas. Ban Hok pergi memanggil para anggota garuda sakti yang segera berkumpul dan datang dengan cepat. Lui Tiong dan Heng San siap di luar gedung.

“Lui twako, kau yang lebih tahu akan keadaan mereka, pimpinlah penangkapan ini.” Kata Heng San kepada Lui Tiong.

Si harimau muka kuning senang mendengar ini dan lambat laun sakit hatinya karena dikalahkan pemuda itu menjadi lenyap, melihat betapa Heng San tidak gunakan kemenangannya untuk menduduki tempat tertinggi dan berlaku sebagai orang atasan.

“Baiklah, saudara Lauw. Mereka hanya berempat. Kurasa cukup kalau kita bawa Kang Seng dan Kang Eng berdua saudara saja. Kepandaian mereka cukup baik.”

“Terserah Lui twako. Tapi sebenarnya siapakah mereka itu? Orang-orang apakah mereka itu hingga begitu menimbulkan heboh dan agaknya sangat ditakuti oleh congtok?”

“Yang dapat kuketahui hanya bahwa pemimpin rombongan itu adalah seorang bekas guru silat di daerah selatan yang terkenal dengan julukan Naga Selatan. Menurut penyelidikan, ia mengaku she Lim, tapi sebenarnya adalah seorang she Ma. Perempuan muda itu adalah puterinya, dan kedua orang muda adalah murid-muridnya. Agaknya yang berat dilawan hanya ayah dan anak itu saja. Kedua muridnya boleh kita serahkan kepada Kang Seng dan adiknya. Nah, marilah kita berangkat.”

Setelah memberitahu Kang Seng dan Kang Eng yang segera siap dengan siangkiam di punggung, mereka berangkat menuju ke kelenteng yang dimaksudkan oleh Lui Tiong. Sementara itu, hari telah menjadi gelap karena malam telah tiba.

Di tengah jalan Lui Tiong bertanya kepada Heng San: “Saudara Lauw, mana senjatamu?”

Heng San tersenyum dan gerakkan pundaknya. “Aku tidak mempunyai senjata, Lui twako.”

“Ah, kalau begitu pakailah pedangku ini. Aku bisa cari lain senjata.”

“Terima kasih, Lui twako. Terusterang saja, aku belum pernah mempelajari cara bermain pedang. Aku hanya andalkan kedua kepalan tanganku saja.”

Lui Tiong terheran-heran. “Kau gegabah sekali, saudara Lauw.” Di dalam hatinya, Lui Tiong tidak percaya akan keterangan Heng San dan anggap pemuda itu terlalu jumawa dan hendak pertahankan nama gelarnya sebagai Kepalan dewa tanpa tandingan!

Ketika mereka tiba di depan kelenteng, Lui Tiong maju mengetuk pintu depan yang sudah tertutup. Seorang hwesio penjaga pintu membuka daun pintu yang tebal itu. “Di mana adanya tamu-tamu kelenteng, rombongan penari itu?”

Hwesio terkejut melihat pakaian Lui Tiong dan kawan-kawannya yang seragam dan terdapat gambar garuda di bagian dada. Nama garuda sakti sudah terkenal karena memang Ban Hok dan kawan-kawannya sengaja gunakan nama itu untuk menyombong diluaran.

“Mereka berada dalam kamarnya, sicu.” Hwesio itu menjawab dengan hormat.

“Suruh mereka keluar, dan jangan membawa senjata!” bentak Lui Tiong. Hwesio itu lari masuk dengan ketakutan.

“Lauw hiante, kau dan Kang Seng jagalah di atas, kalau-kalau mereka melarikan diri. Kang eng tinggal di sini dengan aku.”

Heng San lalu ayun tubuhnya loncat ke atas genteng, diikuti oleh Kang Seng yang cukup tangkas dan cepat gerakannya. Untuk beberapa lama hwesio penjaga pintu itu belum juga keluar lagi, sedangkan empat pahlawan congtok yang menanti di luar sudah merasa berdebar hatinya.

Tiba-tiba terdengar bentakan dari dalam. “Hai, para anggota garuda sakti, anjing-anjing penghianat dan penjilat kaisar. Kalau memang berkepandaian, tunggulah kami di luar!”

“Bangsat-bangsat penghianat dan pemberontak tak bermalu. Keluarlah kalian!” Lui Tiong balas memaki dengan marah dan cabut pedangnya.

Tiba-tiba dari dalam melayang keluar piauw yang menyambar ke arah Lui Tiong, disusul dengan loncat keluarnya seorang tua yang berteriak: “Bangsat, lihat senjata!”

Lui Tiong gunakan pedangnya menangkis senjata rahasia yang menyambar padanya dan ketika melihat menyambarnya golok, ia berkelit lalu balas menyerang. Pada saat itu, dari dalam keluarlah seorang muda yang langsung menyerang Kang Eng yang segera menangkisnya. Ternyata orang tua yang bertempur melawan Lui Tiong adalah pemimpin rombongan penari dan pemuda yang berkelahi dengan Kang Eng adalah seorang muridnya.

Thio Sebagaimana pihak Lui Tiong, ternyata rombongan penari yang telah bersiap dan mengintai dari dalam itu, pecah rombongan menjadi dua bagian. Ketika Heng San dan Kang Seng menjaga dengan waspada di atas genteng, tiba-tiba dari bawah menyambar enam buah peluru yang disambitkan ke arah tubuh mereka. Heng San berseru: “Awas!” dan dengan lincah ia bergerak dan berhasil menangkap empat buah peluru. Yang dua dapat disampok siangkiamnya Kang Seng.

Kemudian dari bawah melayanglah dua tubuh manusia dengan cepat sekali dan tahu-tahu di depan mereka berdirilah dua orang muda, seorang laki-laki dan seorang wanita. Wanita itu adalah seorang gadis muda yang cantik sekali dengan pakaian warna hijau muda dan di tangannya memegang sebatang pedang yang berkilauan karena tajamnya.

Ketika Heng San memandang dengan teliti, hampir saja ia keluarkan seruan karena terkejut. Gadis itu bukan lain ialah Ma Hong Lian atau Tit-lee Lihiap, si pendekar wanita dari Tit-lee yang dulu pernah bertempur dengannya di atas genteng rumah obat!

Sementara itu, kawan si nona yang ternyata adalah murid kedua dari pemimpin rombongan penari, langsung menyerang Kang Seng dengan pedangnya. Kang Seng gunakan siangkiamnya, yakni pedang sepasang, untuk menangkis dan balas menyerang.

Ma Hong Lian ketika melihat bahwa yang berdiri di depannya adalah pemuda kurang ajar yang dulu merampas hasil curiannya dari rumah obat, untuk sejenak berdiri bengong tak dapat berbuat apa-apa.

“Eh, kaukah ini, nona? Dulu menjadi roh jahat, sekarang kau pegang peran sebagai apa pula?” tegurnya perlahan agar jangan terdengar oleh Kang Seng yang sedang bertempur.

Gadis itu pandang padanya dengan mata berapi karena marah dan bibir yang merah mungil itu tersenyum menghina. “Sudah kusangka bahwa kau bukanlah manusia baik-baik! Ternyata sekarang bahwa kau adalah manusia yang lebih rendah daripada sangkaku semula!”

“Nanti dulu, nona. Apa sebabnya datang-datang kau memaki sesuka hatimu?” Heng San heran sekali melihat betapa bencinya gadis itu padanya.

”Jangan banyak cerewet! Hari ini kalau bukan kau, tentu aku yang mati di sini.” Tanpa banyak cakap lagi Hong Lian gerakkan pedangnya dan untuk kedua kalinya Heng San melayani gadis itu dengan tangan kosong.

Kawan gadis itu ternyata bukan tandingan Kang Seng karena setelah berempur kurang lebih tigapuluh jurus, Kang Seng berhasil gunakan pedang di tangan kanannya untuk membabat putus lengan kanannya. Pemuda itu menjerit keras dan tubuhnya menggelinding turun dari atas genteng!

Kang Seng hendak membantu Heng San, tapi Heng San cepat berseru: “Kau bantulah Lui twako di bawah. Biar yang satu ini kuhadapi sendiri. Mungkin Lui twako perlu bantuan!”

Setelah melihat sebentar dan mendapat kenyataan bahwa Heng San benar-benar tidak terdesak oleh pedang gadis itu, Kang Seng segera melayang turun dan mengeroyok orang tua kepala rombongan yang benar-benar lihai itu.

Heng San melihat ia hanya berdua dengan gadis itu segera tunda gerakannya dan berkata: “Ma lihiap, sudahlah tahan senjatamu. Mengapa nasib kita selalu bertentangan? Mengapa kita harus bermusuhan?”

“Penghianat jangan banyak pentang mulut!” dan Hong Lian menerjang lagi, tapi dapat dikelit oleh Heng San dengan mudah.

Tiba-tiba di bawah terdengar pula teriakan orang mengaduh, dan pucatlah wajah gadis itu yang kenal suara itu sebagai suara ayahnya. Dengan isak tertahan ia hendak loncat ke bawah, menolong ayahnya. Tapi Heng San menghalanginya dengan kedua lengan terpentang. Hatinya berdebar karena terharu dan kasihan.

Entah mengapa, semenjak pertemuan pertama dengan gadis itu ketika memperebutkan hasil curian dulu, ia merasa tertarik dan suka sekali kepada Hong Lian. Ia tidak dapat menentukan perasaan apakah yang menarik hatinya kepada Hong Lian, entah kasihan, entah ingin tahu, tapi pokoknya ia tidak ingin gadis itu kena celaka.

“Ma lihiap, jangan... kau turun. Kawan-kawanku di bawah orang-orang lihai, kau tentu akan kena tertawan pula!”

Dalam kesedihan dan kemarahannya, Hong Lian tertegun juga mendengar kata-kata ini. Ia tak habis heran melihat sikap Heng San. Sejak pertempuran dulu, ia tahu jelas bahwa pemuda itu memiliki kepandain yang jauh lebih tinggi darinya, bahkan agaknya tidak di bawah ayah atau kawan-kawannya yang lain, tapi mengapa pemuda garuda sakti itu tidak mau merobohkan atau menangkapnya?

Semenjak pertempuran tadi, pemuda itu hanya berkelit saja, sedikitpun tidak mau balas menyerang. Sekarang, pemuda itu menasehatinya supaya jangan turun takut kalau ia sampai tertawan! Siapakah pemuda ini dan apakah maksudnya? Hong Lian menjadi ragu-ragu dan pada saat itu dari bawah tampak bayangan orang-orang dan teriakan-teriakan:

“Masih ada seorang lagi di atas, hayo tangkap!”

“Lekas serang aku dengan piauw!” Heng San berseru dan berbareng tangannya bergerak merampas pedang Hong Lian.

Gadis itu terkejut, tapi pedangnya kena terampas! Mendengar kata-kata Heng San, gadis itu cepat rogoh kantong senjata rahasia dan keluarkan beberapa buah peluru besi. Sambil melangkah pergi, kedua tangannya bergerak dan empat butir peluru menyambar ke arah Heng San. Pemuda itu sampok tiga butir dengan tangannya, tapi yang keempat ia sengaja sambut dengan pundaknya.

“Aduh!” Heng San berseru kesakitan dan pundaknya terluka. Baju di bagian pundak robek dan kulit pundaknya lecet hingga mengalirkan banyak darah! Pada saat itu Lui Tiong dan kedua kawannya telah loncat ke atas genteng pula. Mereka terkejut melihat Heng San terluka.

Heng San pegang pundaknya dan tubuhnya terhuyung-huyung, kebetulan ia terhuyung ke depan Lui Tiong hingga menghalang jagoan itu yang hendak mengejar Hong Lian. “Awas, Lui twako, pelurunya lihai sekali!”

Karena terhalang oleh Heng San dan mendengar seruan ini, Lui Tiong menjadi ragu-ragu, sementara itu Hong Lian telah lari jauh dan sebentar saja lenyap ditelah malam gelap!

“Bagaimana hasilmu, twako?” Heng San bertanya.

“Orang she Ma telah terluka dan tertawan, sedangkan kedua muridnya telah tewas! Kali ini kita berhasil baik, hanya sayang perempuan durjana itu dapat melarikan diri dan melukaimu!” Lui Tiong menghampiri dan hendak memeriksa luka Heng San.

Tapi cepat-cepat pemuda itu gunakan saputangan membungkus dan menutupi luka di pundaknya, sambil berkata: “Ah, luka ringan saja, twako. Aku kurang hati-hati pedangnya telah dapat kurampas, tapi aku tidak sangka ia demikian lihai hingga sebuah di antara peluru-pelurunya melukai pundakku.”

Mereka segera memberi perintah kepada para hwesio untuk mengurus mayat kedua anggota pemberontak itu, lalu sambil mengiringkan tawanan mereka pulang ke gedung congtok.

Thio congtok menyambut mereka dengan gembira, dan setelah menerima pujian-pujian tinggi, mereka diperkenankan mengaso. Tawanan irang she Ma itu dimasukkan ke dalam sebuah kamar tahanan di gedung itu, dijaga oleh enam orang pahlawan di luar kamar yang memakai pintu jeruju besi.

Di dalam kamarnya Heng San termenung dan bimbang memikirkan keadaan Hong Lian. Wajah gadis itu tak dapat ia lupakan, selalu terbayang di depan mata. Ia merasa menyesal sekali mengapa gadis itu demikian tersesat dan ikut menjadi anggota pengacau.

Maka teringatlah ia akan perjumpaan mereka dulu. Ketika itupun gadis itu dijumpai sedang menjalankan pencurian! Ia menghela napas. Sayang! Sayang gadis manis yang telah menawan hatinya itu adalah seorang penjahat!

Sebenarnya rombongan penari itu memang segolongan orang gagah yang bertugas menghubungi orang-orang kang-ouw untuk rencana pemberontakan terhadap pemerintah Boan. Pemimpin rombongan itu bernama Ma Giok, seorang guru silat yang terkenal gagah dan berjiwa patriot.

Anak tunggalnya ialah Ma Hong Lian yang semenjak kecil dididik ilmu silat dan memiliki jiwa pahlawan pula. Gadis ini telah merantau di dunia kang-ouw dan memperoleh nama baik karena sepak terjangnya hingga mendapat julukan Tit-lee Lihiap atau pendekar wanita dari Tit-lee.

Karena merasa penasaran melihat sepak terjang para durna dan segala kansin (menteri koruptor) serta kaki tangannya yang menggencet rakyat, para orang gagah di daerah selatan segera mengumpulkan kawan seperjuangan untuk menggerakkan pemberontakan.

Tapi usaha mereka ini kebanyakan kandas karena pemerintah memang cerdik dan mendapat dukungan banyak orang gagah yang menjadi penghianat, atau orang-orang yang dapat dipengaruhi oleh harta. Maka sisa-sisa para patriot itu kini hanya bergerak dengan sangat hati-hati dan terbatas sekali. Mereka lebih utamakan gerakan mereka membasmi kaki tangan segala pembesar berhati hitam.

Untuk memberontak terhadap pemerintah, mereka merasa tidak mampu, maka jalan satu-satunya ialah membela rakyat secara langsung, membasmi pembesar-pembesar setempat dan kaki tangannya serta menanam bibit persatuan di antara kawan segolongan...

Selanjutnya,