Sin Kun Bu Tek (Kepalan Dewa Tanpa Tanding Jilid 05, karya Kho Ping Hoo - Heng San berpaling dan melihat bahwa semua orang di situ, terhitung Thio congtok dan para pahlawan, memandangnya dengan mata terbelalak! Diam-diam ia bangga sekali akan gurunya yang ternayata demikian ternama dan berpengaruh hingga baru mendengar namanya saja membuat orang demikian terkejut!

“Ah, pantas, pantas! Tidak tahunya Lauw sicu murid Pat-chiu Sin-kay! Pantas begitu lihai!” Thio congtok berkata keras. “Hayo Lui kauwsu, cobalah dia!” suaranya gembira lagi.
“Marilah, Lauw sicu!” Dan si harimau muka kuning segera menyerang dengan pukulan Pay-in-cut-sui atau dorong awan keluar puncak.
Heng San berlaku hati-hati karena dari angin pukulannya ia tahu bahwa Lui Tiong bukanlah lawan yang lunak dan kepandaiannya jauh lebih lihai daripada orang she Auwyang tadi. Ia melayani dengan ilmu silat Lohan Kunhoat dari cabang Siauwlim. Mereka bertempur ramai sambil keluarkan segala kepandaian yang ada pada mereka.
Tapi setelah bertempur puluhan jurus, tahulah Heng San bahwa dalam hal gin-kang dan lweekang ia masih lebih unggul. Maka segera ia gunakan kepandaian gin-kangnya untuk bergerak lebih cepat dan berbareng menyerang sambil keluarkan ilmu silat Ngoheng Lian-hoan Kun-hwat!
Kali ini orang she Lui itu betul-betul terdesak dan terus mudur mengitari tempat itu, hanya bisa menangkis saja tanpa mampu membalas sedikitpun! Yang menonton hanya melihat bayangan Heng San sekan-akan menjadi bayangan kedua dari Lui Tiong dan terus mengejar ke mana juga tubuh Lui Tiong bergerak, kemudian bayangan itu tiba-tiba melesat pergi dan tahu-tahu Heng San sudah berdiri tiga tombak jauhnya dari Lui Tiong sambil menjura dan berkata: “Lui twako suka mengalah, terima kasih.”
Lui Tiong juga menjura: “Lauw sicu sungguh-sungguh patut disebut Kepalan Dewa Tanpa Tandingan! Aku menyerah kalah!”
Ketika orang-orang yang menjadi heran memandang dengan teliti, ternyata baju di bagian dada Lui Tiong telah bolong karena robek oleh jari-jari tangan Heng San! Seandainya mereka berkelahi karena permusuhan, tentu jiwa Lui Tiong takkan tertolong lagi!
Tentu saja pandangan mereka terhadap Heng San makin tinggi, terutama Thio congtok. Pembesar ini merasa girang sekali. Sambil tersenyum lebar ia bertindak menghampiri Heng San dan tangkap lengan tangan pemuda itu. thio congtok bukanlah orang sembarangan pula. Sebagai seorang panglima iapun mempunyai kepandaian silat tinggi, selain keahlian tentang ilmu perang dan atur tentara.
Pegangannya kepada lengan Heng San sebenarnya bukan sembarangan dan bukanlah pegangan biasa saja karena ia sekalian mencoba dan tangan kanannya yang memegang lengan itu adalah sebuah cengkeraman kim-na-jiauw yang dapat membeset kulit mematahkan tulang!
Heng San ketahui hal ini maka ia telah bersedia. Ketika jari-jari tangan Thio congtok menyentuh lengan Heng San, pembesar itu terkejut seklai, karena kulit lengan pemuda itu berubah lemas dan lembek bagaikan kapas hingga tak mungkin dapat dicengkeram, sedangkan ilmu cengkeraman tangannya khusus dipelajari untuk mencengkeram benda keras! Menghadapi kulit yang licin lembek maka ilmunya tak berdaya dan mati kutu!“Ah, kau betul-betul gagah perkasa, Lauw sicu! Mari, mari, kita harus minum untuk rayakan pertemuan kita yang menggembirakan ini!”
Hidangan ditambah dan Thio congtok bahkan memberi perintah kepada orang-orangnya untuk mendatangkan gadis-gadis tukang menyanyi untuk bersenang-senang minum arak sambil menikmati lagu-lagu yang dinyanyikan dengan suara merdu dari bibir-bibir yang manis itu!
Di tengah-tengah perjamuan, Thio congtok bertanya kepada Heng San, tentang riwayatnya, tentang gurunya, dan lain-lain. Heng San hanya memberi keterangan singkat saja, dan ketika ia ditanya tentang suhunya, ia menjawab:
“Siauwtee sudah setengah tahun lebih berpisah dari suhu, maka tak tahu di manakah adanya orang tua itu sekarang.”
Thio congtok menghela napas. “Ah, aku sudah lama sekali mendengar nama Pat-chiu Sin-kay dan mengaguminya. Alangkah senangnya kalau dapat berjumpa dengan orang tua luar biasa itu.”
Sementara itu, arak terus mengalir ke dalam perut Heng San sampai ia menjadi mabuk dan digotong ke dalam sebuah kamar indah yang sudah tersedia untuknya!
Semenjak hari itu, ia menjadi seorang pahlawan kelas satu yang dipercaya dan disayang oleh Thio congtok. Kerjanya setiap hari hanya menemui congtok itu di gedung, dalam perjalanan, pendeknya merupakan pengawal pribadi.
Beberapa hari kemudian, Thio congtok berkata kepadanya, setelah panggil menghadap Ban Hok dan Auwyang Sin. “Aku mendengar dari seorang penyelidik bahwa di hutan sebelah timur kota Bun-koan berkumpul serombongan perampok yang sering kali mengganggu para pelancong atau orang-orang yang lewat di situ, bahkan sudah dua kali rombongan pengacau itu berani masuk dan merampok kota Bun-koan. Mereka ini harus dibasmi sebelum mendatangkan malapetaka lebih besar lagi. Lauw sicu, kau kuserahi tugas ini. Ban sicu dan Auwyang sicu harus membantu. Bawalah selosin pahlawan yang terpilih dan berangkatlah sekarang juga. Awas, di pihak sana kudengar ada seorang yang tinggi kepandaiannya.”
Heng San menerima tugas itu dengan gembira karena baru pertama kali ini ia menerima tugas. Ia anggap itu sebagai suatu tugas yang suci, karena bukankah ia harus membasmi serombongan perampok yang ganas dan pengacau rakyat? Maka berangkatlah ia dengan Ban Hok dan Auwyang Sin, diikuti oleh duabelas jagoan lain, hingga jumlah rombongannya limabelas orang. Oleh Thio congtok mereka diberi pakaian baru warna biru dan merah hingga dengan pakaian seragam itu mereka tampak gagah sekali.
“Rombongan di bawah pimpinanmu kuberi nama barisan Garuda sakti!” Thio congtok berkata kepada Heng San yang menjadi sangat girang dan bangga.
Rombongan lima belas orang itu berkuda dan dengan gagahnya berbaris dengan rapi. Di sepanjang jalan mereka diikuti pandang mata orang-orang kampung yang melihat dengan heran dan kagum.
Ban Hok berlaku sombong sekali. Pada tiap orang yang memandang barisan itu dengan heran, ia berteriak: “Hai, lihatlah! Inilah barisan Garuda sakti!”
Melihat kelakuan kawannya yang tinggi besar itu Heng San hanya tertawa geli. Setelah berkuda sehari penuh, sampailah mereka di kota Bun-koan dan mereka bermalam di sebuah rumah penginapan. Kedatangan mereka di kota itu tak terlepas dari perhatian pembesar setempat yang segera mengutus seorang wakil untuk datang memeriksa. Heng San perlihatkan surat perintah Thio congtok.
Melihat surat perintah itu, cepat-cepat pemeriksa memberi laporan kepada pembesar yang segera datang sendiri menyambut rombongan Garuda sakti. Dengan ramah-tamah pembesar kota itu mempersilahkan Heng San serombongan untuk bermalam di rumah orang.
Kemudian terjadi sesuatu yang mengherankan hati Heng San, tapi yang berbareng membuatnya mendongkol. Ketika hendak pulang, pembesar itu mengeluarkan sebuah bingkisan, dan berikan kantung itu kepada Heng San dengan kata-kata:
“Kami tak dapat memberi apa-apa, hanya sedikit bingkisan ini harap congsu terima dengan senang hati untuk menambah ongkos sekedarnya. Tolong sampaikan kepada Thio ciangkun bahwa kami di sini baik-baik saja dan sampaikan pula hormatku padanya.”
Heng San terheran-heran hingga tak dapat berkata-kata, hanya melihat bungkusan itu. ketika ia cepat membukanya, ternyata isinya potongan-potongan emas yang berkilauan! Ia terkejut sekali, segera pegang bungkusan itu dan lari keluar menyusul pembesar yang sudah naik ke tandunya.
“Taijin, tunggu! Ini hartamu jangan ditinggalkan! Aku tidak butuh dengan ini!”
Wajah pembesar itu pucat. “Tapi... congsu....”
“Terimalah kembali dan jangan banyak tapi!” Heng San lempar bungkusan itu ke pangkuan si pembesar yang menggigil ketakutan, lalu kembali ke dalam rumah penginapan dengan tindakan lebar dan muka merah. Ia bersungut-sungut dengan hati sebal ketika Ban Hok dan Auwyang Sin menghampiri dan bertanya mengapa pemuda itu agaknya marah.
“Ah, menyebalkan betul pembesar babi itu! Dikiranya siapakah kita ini? Mudah saja ia hendak menyogok. Hm, pasti ada apa-apa yang tidak beres di sini, kalau tidak masak dia begitu perlu untuk gunakan emas menyogok kita? Baik, sekembali kita dari hutan, pasti hal ini akan kuselidiki!”
Ban Hok tertawa bergelak hingga Heng San heran. “Mengapa kau tertawa?” tanyanya tak senang.
“Lauw sicu agaknya tidak mengerti keadaan zaman! Memang sudah demikianlah keadaan sekarang. Pemberian itu tak berarti apa-apa, hanya sebagai tanda penghormatan belaka dari pembesar itu kepada kita! Bukan merupakan hal yang aneh!”
Heng San memandangnya dengan mulut ternganga. Ini merupakan hal baru baginya. “Tapi apa perlunya? Mengapa ia harus memberi emas kepada kita? Kita toh tidak berbuat sesuatu untuknya?”
“Lauw sicu! Bukankah kita hendak pergi membasmi perampok yang mengacau daerahnya? Setidak-tidaknya kita akan mengamankan kota ini dari gangguan perampok!” Auwyang Sin menerangkan dengan suara menyesal mengapa Heng San tolak pemberian itu.
Kini mengertilah Heng San tapi ia tetap penasaran dan tidak sudi menerima pemberian orang dengan cara demikian. Ia anggap hal itu merendahkan namanya dan menghinanya. Barisan Garuda sakti harus menjadi barisan yang terhormat, gagah, dan berjasa, patut dibanggakan oleh Thio congtok yang demikian baik dan jujur!
Pada keesokan harinya setelah mendapat keterangan di mana letak hutan yang dimaksudkan, Heng San ajak rombongannya berangkat. Setibanya di luar hutan, Heng San pesan kepada anak buahnya supaya jangan bergerak dulu sebelum mendapat perintahnya.
Kemudian Ban Hok keluarkan bendera pemberian Thio congtok, bendera berwarna kuning yang tersulam gambar seekor burung garuda warna merah keemasannya! Gagah sekali gambar itu, gambar yang serupa benar dengan sulaman garuda di dada mereka! Kemudian, sambil jalankan kuda perlahan, mereka memasuki hutan.
Belum lama mereka berjalan, tiba-tiba dari kanan-kiri menyambar beberapa batang anak panah yang semuanya tertuju ke tubuh Heng San. Heng San mengeluarkan suara ketawa menghina dan kedua tangannya dengan cepat menangkap semua anak panah itu. kemudian ia berseru: “Pelepas anak panah keluarlah sebagai laki-laki, jangan membokong seperti kelakuan seorang pengecut!”
Tiba-tiba hutan yang sunyi itu menjadi ramai dengan suara orang bersorak dan berteriak-teriak: “Bunuhlah anjing-anjing kaisar! Basmilah penghianat-penghianat bangsa!”
Maka keluarlah kurang lebih empat puluh orang liauwlo atau anak buah perampok yang dikepalai oleh dua orang muda bersenjata golok besar.
“Siapa kepala gerombolan ini?” Heng San bertanya dengan suara keras sambil majukan kudanya.
Dua kepala perampok itu loncat maju. “Kamilah yang memimpin, kau pemimpin penghianat tak bermalu. Apa maksudmu membawa barisanmu mencari kami?”
Heng San melihat bahwa dua kepala perampok itu masih muda dan tampaknya gagah, maka dalam hati ia merasa sayang. “Kalian orang-orang muda dan gagah mengapa menjadi kepala perampok? Tidak adakah lain jalan hidup yang lebih sempurna?”
Kedua kepala perampok itu saling pandang dan kemudian tertawa geli. “Ini namanya serigala kecil memberi nasihat kepada harimau! Kami orang-orang golongan lioklim walau bagaimanapun juga masih mempunyai hati jantan dan semangat pahlawan, tidak seperti kamu yang bermuka tebal, sudi menjadi anjing pemerintah asing dan menggigit betis bangsa sendiri!”
Heng San tidak mengerti maksud kata-kata mereka, ia hanya anggap mereka itu bicara kasar sekali. Karena beberapa kali mendengar makian anjing, ia menjadi marah juga lalu membentak keras: “Kalau kalian sayang jiwa, lebih baik bubarkan orang-orangmu dan kalian ikutlah menjadi tawanan kami, barangkali saja jiwa kamu masih akan diampuni.”
“Anjing rendah. Kematian sudah di depan mata masih banyak mengoceh lagi!” Dua pemimpin rampok itu segera gerakkan senjata dan menyerang Heng San. Para anak buahnya melihat kepala mereka sudah bergerak, dengan teriakan “Bunuh mereka! Basmi anjing- anjing kaisar!” lalu menyerbu dengan senjata di tangan!
Heng San dan kawan-kawannya telah loncat turun dari kuda dan siap menghadapi mereka. Dengan tangan kosong Heng San menyambut serbuan dua kepala rampok itu yang ternyata mempunyai kepandaian silat lumayan juga. Sebetulnya maksud Heng San hanya hendak membunuh atau menawan kepalanya saja, sedangkan anak buah perampok yang banyak itu hendak disadarkan dengan nasihat dan ancaman.
Tapi kawan-kawannya sebanyak empat belas orang itu dengan garang mengamuk dengan senjata mereka. Gagah seklai mereka dengan pakaian yang bersulamkan burung garuda di dada itu, di mana saja senjata mereka bergerak, pasti terdengar pekik kesakitan dan seorang liauwlo roboh mandi darah! Terutama Ban Hok dan Auwyang Sin. Kedua jago ini berpesta pora dengan darah dan jiwa para anak buah perampok, hingga lagak mereka bagaikan dua ekor naga liar mengamuk!
Heng San melihat betapa para perampok itu bagaikan semut-semut melawan ayam, merasa ngeri dan berbalik marah kepada kedua perampok yang dianggap menjadi biang keladinya. Sambil berseru keras ia kerjakan kaki-tangannya dan sekali gebrak saja ia berhasil robohkan kedua kepala rampok itu hingga rebah tak berkutik lagi. kemudian ia serukan kawan-kawannya: “Saudara-saudara, tahan!”
Tapi mana ia mampu menahan amukan orang-orang yang sudah keranjingan itu. Mayat perampok bertumpuk-tumpuk memenuhi tempat itu dan selebihnya pada lari terbirit-birit menyelamatkan diri dari amukan kawanan garuda sakti! Ketika diperhatikan, ternyata lebih dari duapuluh orang perampok tewas.
Kawanan garuda sakti pulang dengan wajah berseri karena kemenangan bagus itu. Pembesar kota Bun-koan yang sudah mendengar kabar, menyambut mereka dengan penuh kehormatan.
Tapi semenjak keluar dari hutan, wajah Heng San tidak segirang kawan-kawannya. Diam-diam ia merasa sayang telah terjadi pembunuhan sebanyak itu, walaupun ia merasa bangga bahwa tugas pertamanya telah terlaksana dengan sempurna. Bahaya pengganggu keamanan telah dilenyapkan, berarti ia berjasa terhadap negara dan bangsa. Tapi diam-diam ia sedih memikirkan betapa orang-orang yang menjadi perampok itu bukan lain ialah anak negeri sendiri!
Melihat sambutan pembesar yang demikian hormatnya, timbul jemu dalam hatinya pula. Ingin ia mendamprat dan mencaci, tapi Ban Hok dan Auwyang Sin mencegah dan menyabarkan hatinya, hingga Heng San hanya dapat menjauhkan diri dari pembesar itu, pura-pura tidak melihatnya, sedangkan kawan-kawannya menikmati hidangan dalam pesta yang khusus diadakan untuk kawanan garuda sakti.
Pada keesokan harinya, Heng San ajak kawan-kawannya pagi-pagi meninggalkan kota itu untuk kembali ke Keng-koan. Di sepanjang jalan mereka berbaris rapi dan gagah. Wajah kawanan garuda sakti, kecuali Heng San yang larikan kuda di depan dan bersikap tenang, menyatakan gembira dan puas. Pertama karena mereka telah peroleh kemenangan besar. Kedua karena saku mereka di luar tahunya Heng San, telah dipenuhi oleh pembesar Bun-koan dengan barang-barang berharga!
Kedatangan mereka disambut oleh Thio congtok dengan wajah berseri dan mulut tersenyum girang. “Lauw sicu tentu lelah. Duduk dan mengasolah.” Kata pembesar itu sambil perintahkan pelayan mengambil arak wangi. Setelah semua orang minum, barulah Thio congtok bertanya tentang hasil tugas mereka.
Dengan sederhana Heng San ceritakan bahwa gerombolan perampok telah dapat dibasmi, dan kepala perampok telah tewas. Cerita Heng San sering diganggu oleh Ban Hok dan Auwyang Sin yang dengan bangga dan girang menceritakan bagaimana pertempuran terjadi! Thio congtok puas mendengarnya, tapi ia dengan cerdik berkata:
“Kalian hebat betul, hanya agak kusayangkan ada anggota perampok yang sempat melarikan diri. Golongan penjahat macam itu tak boleh dikasih ampun. Sekali terlepas dari hukuman, mereka tentu akan menjadi perampok kembali di lain tempat.” Heng San hanya tundukkan muka menyatakan sesalnya.
“Biarlah, hal itu tak berarti penting. Sekarang ada soal yang lebih penting lagi. Lui kauwsu sudah kusuruh menyelidiki dengan teliti hal ini. Kami memang sengaja menanti kalian kembali baru mau bertindak, karena sekali ini kita menghadapi lawan-lawan berat!” Thio congtok berkata lagi dengan wajah sungguh-sungguh.
“Ada persoalan apakah, ciangkun?” tanya Ban Hok. “Jangan khawatir, karena sekarang kawanan garuda sakti telah kembali di sini, maka segala rintangan pasti akan dapat kita hancurkan!”
Thio congtok tersenyum mendengar ucapan yang sombong itu, sedangkan Heng San merasa tak senang akan kejumawaan kawannya. “Bagaimana pendapatmu tentang kata-kata Ban kauwsu ini, Lauw sicu?” tanya Thio congtok tiba-tiba kepada Heng San.
Heng San hanya tersenyum. “Ban twako terlalu tekebur. Tapi sebenarnya apakah persoalan yang penting itu? Tentu saja adalah menjadi kewajiban kami untuk mengurusnya.”
Thio congtok undang Heng San, Ban Hok dan Auwyang Sin ke dalam, setelah bubarkan para pahlawan lain untuk pulang ke rumah masing-masing. Para pahlawan di situ semua berumah di dalam kota dengan berpencaran, hanya keempat pahlawan pimpinan termasuk Heng San yang tinggal dan mendapat kamar di gedung congtok.
Pada saat mereka memasuki ruang dalam, datanglah Lui Tiong si harimau muka kuning. Dengan senang pahlawan she Lui itu memberi selamat kepada rekan-rekannya atas hasil pekerjaan mereka yang gemilang. Kemudian Lui Tiong dipersilahkan duduk dan dengan wajah sungguh-sungguh ia berkata kepada Thio congtok:
“Kini saya yakin bahwa mereka itu mengadakan hubungan dengan kaki tangan pemberontak yang bersembunyi di kota ini, ciangkun.”
Thio congtok mengangguk-angguk, kemudian sambil memandang kepada Heng San dan kawan-kawannya, ia berkata kepada Lui Tiong: “Lui kauwsu. Sekarang setelah Lauw sicu dan lain-lain saudara telah kembali, kekuatan kita lengkap. Maka sebelum berunding atau bertindak lebih jauh lagi, lebih baik kau ceritakan dulu persoalan ini kepada mereka...”