Sin Kun Bu Tek (Kepalan Dewa Tanpa Tanding Jilid 04, karya Kho Ping Hoo - Heng San marah sekali. Tapi ia dapat menduga bahwa ini adalah salah paham pelayan itu yang mencurigainya dan mendatangkan orang-orang untuk menangkapnya yang dikira penggangu keamanan! Cepat ia loncat keluar lagi, tapi ketika ingat bahwa buntalan pakaiannya masih di dalam, ia poksay di udara dan tubuhnya melayang kembali ke dalam kamar.

Terkejutlah orang-orang di dalam kamar dan lima buah senjata tajam serentak menyerang bayangan Heng San. Tapi Heng San gerakkan kedua lengannya dan terdengarlah teriakan saling susul dan berkerontangnya golok dan pedang yang jatuh di atas lantai. Ternyata semua senjata itu dapat dibikin terpental oleh tangkisan kedua tangan Heng San!
Pada saat orang-orang masih bengong dan heran, Heng San sudah sambar buntalan pakaiannya dan melesat kembali melalui jendela bagaikan seekor burung yang ringan dan gesit! Heng San tidak perdulikan semua orang yang mengejarnya, karena ia memang tidak menghendaki permusuhan.
Ia terus percepat larinya hingga sebentar saja ia sudah keluar dari kota Leng-koan. Kini ia mempunyai setengah kantung uang. Setelah lari beberapa lamanya, ia melihat sebuah kelenteng tua kosong di pinggir jalan, maka di situlah ia bermalam sampai pagi.
Pada keesokan harinya ia melanjutkan perjalanan. Ketika lewat sebuah kampung, ia membeli seekor kuda yang kuat dan melanjutkan perjalanannya berkuda. Dua hari ia naik-turun bukit dan masuk-keluar hutan, menikmati pemandangan di sepanjang jalan.
Pada hari ke tiga ia melalui sebuah hutan yang besar. Ketika ia tengah enak menjalankan kudanya perlahan sambil dengarkan suara burung dan binatang hutan berbunyi saling sahut, tiba-tiba telinganya menangkap suara minta tolong. Ia keprak kudanya dan membalap ke arah suara itu.
Di tengah hutan ia melihat sedang terjadi pertempuran hebat antara beberapa orang polisi pengiring tikwan dan beberapa banyak orang-orang yang berpakaian tak karuan dan bersikap gagah. Telah banyak mayat polisi rebah mandi darah, sedangkan yang berteriak-teriak minta tolong adalah si tikwan sendiri yang gunakan sebuah tameng dan sebuah golok menangkis serangan-serangan yang dilakukan oleh seorang anggota perampok.
Heng San loncat turun dari kudanya dan cepat maju memberi pertolongan. Sekali tendang saja perampok yang menyerang pembesar itu terlempar jauh. Kemudian kaki-tangannya bergerak dan tak lama kemudian kawanan perampok rebah malang-melintang dengan kaki tangan patah! Heng San merasa kagum dan bangga akan kehebatan sendiri. Tak disangkanya bahwa semua orang yang pandai silat baginya hanya makanan-makanan lunak saja!
Kepala perampok yang bercambang bauk dan bersenjata pedang melawan dengan mati-matian, tapi tak lama kemudian iapun terkena tendangan maut Heng San hingga terlempar beberap tombak dan roboh dengan muntah darah.
“Anjing pemerintah!” kepala rampok itu memaki. “Siapakah kau yang membela seorang pembesar pengisap dan penindas rakyat?”
Heng San terkejut dan ia tidak mengerti maksud kata-kata kepala rampok tadi. Sementara itu, pembesar yang ditolongnya telah lempar lembing dan goloknya, lalu menghampiri Heng San dengan muka berseri.“Hebat, hebat! Kau sungguh gagah, hohan! Kalau tidak ada hohan yang datang menolong, tentu jiwa kami melayang semua. Ahh, sungguh keadaan tidak aman sekarang, di mana-mana terdapat perampok-perampok jahat dan kejam! Mereka minta barang-barang kami dan sudah kami berikan, tapi mereka menghendaki pula jiwa kami. Tentu saja kami melawan! Terima kasih, hohan. Bolehkah kami ketahui namamu yang terhormat?”
Heng San malu ketika pembesar itu demikian menghormat padanya. Ia cepat membalas hormat dan berkata merendah: “Siauwtee she Lauw bernama Heng San. Kebetulan saja siauwtee melihat dan dapat membantu taijin membasmi bangsat-bangsat itu!”
“Kau betul-betul seorang gagah, seorang hohan dan enghiong sejati. Siapakah julukanmu, Lauw enghiong?” tanya tikwan itu.
Heng San tersenyum. “Ah, orang macam aku ini mana mempunyai julukan segala?” jawabnya.
Pembesar itu perlihatkan wajah heran. “Sungguh tidak adil! Aku telah banyak bertemu dengan orang-orang gagah yang kepandaiannya jauh di bawahmu, tapi mereka itu sudah mempunyai julukan yang hebat-hebat! Apalagi seorang gagah yang berkepandaian selihai kau ini, yang dengan tangan kosong dapat merobohkan belasan perampok yang bersenjata tajam dalam sekejap mata saja! Ah, Lauw enghiong, percayalah, selama hidup belum pernah aku bertemu atau menyaksikan kepandaian sehebat ini. Kau benar-benar Sin Kun Bu Tek, Kepalan Dewa Tanpa Tandingan!”
Heng San merasa bangga sekali dan ia anggap pembesar itu sangat ramah-tamah dan baik. Dengan menjura ia berkata: “Terima kasih, taijin. Siauwtee tidk merasa pantas mempunyai julukan sehebat itu, tapi kalau taijin berkenan memberinya pada siauwtee, akan siauwtee pakai juga.”
Pembesar itu tepuk-tepuk tangannya. “Bagus, bagus! Memang kau tepat sekali disebut Sin Kun Bu Tek, karena sebagai seorang pendekar gagah, tidak kulihat kau membekal senjata.”
“Memang senjata siauwtee hanya sepasang tangan dan kaki ini, taijin.”
Pembesar itu mendekati dan tepuk-tepuk pundak Heng San. “Lauw enghiong, aku adalah tikwan dari kota Keng-koan. Kau masih muda dan gagah, maka marilah ikut kami ke Keng-koan, di sana kau akan kami perkenalkan kepada Thio Cong-tok, pembesar militer yang berkuasa besar dan menjadi kepala barisan pelindung kaisar. Kau tentu suka berkenalan dengan orang-orang gagah yang berkumpul di sana!”
Heng San tertarik sekali. Memang ia tidak mempunyai tujuan tertentu, maka ia segera menyatakan setuju. Tikwan itu adalah Liok Ham Say, seorang pembesar yang sangat cerdik dan menjadi sahabat baik Thio cong-tok, pembesar militer yang menjadi tangan kanan kaisar merangkap pembasmi para pemberontak yang berusaha merobohkan kerajaan Tay Ceng.
Orang yang disebut Thio cong-tok bukan lain ialah Thio Ci Gan yang namanya sangat terkenal di kotaraja. Ia adalah seorang kepercayaan kaisar dan sudah berjasa besar sekali ketika menghancurkan barisan pemberontak Gouw Sam Kwie dulu. Ia sengaja dikirim ke Keng-koan karena kaisar mendapat berita dari para penyelidiknya bahwa daerah ini penuh dengan orang-orang gagah yang bersikap memberontak.
Maka Thio Cin Gan pindah ke Keng-koan dan di situ ia kumpulkan orang-orang gagah yang dapat disogoknya dan dijadikan pahlawan-pahlawan untuk membasmi orang-orang gagah yang dicurigai! Ketika Liok tikwan membawa Heng San menghadap, Thio cong-tok sedang duduk minum arak dengan beberapa orang pahlawannya.
Congtok itu sambut Liok tikwan dengan ramah-tamah dan mempersilahkan kawannya itu duduk. Heng San memperhatikan congtok itu dan kagum melihat tubuh yang tinggi besar dan tampak kuat itu. juga pandangan mata congtok itu menunjukkan akan kecerdikannya.
“Thio ciangkun, ini adalah seorang kawan baru bergelar Sin-kun-bu-tek, namanya Lauw Heng San. Kawan yang gagah perkasa ini telah menolongku dari serangan dan kepungan belasan pengacau dengan hanya bertangan kosong!”
Thio congtok tunda mangkuk araknya dan memandang dengan tajam kepada Heng San. Juga para jagoan yang tadinya melihat dengan tak acuh kepada pemuda itu, kini menatapnya penuh perhatian.
Thio congtok bangun dan berkata ramah: “Selamat datang, Lauw sicu, kami merasa mendapat kehormatan besar menerima kunjungan seorang gagah seperti kau!”
Heng San pun berdiri menjura dan berkata: “Terima kasih, ciangkun. Yang menerima kehormatan adalah siauwtee, adapun tentang pujian-pujian Liok taijin, itu hanya main-main belaka.”
“Ha-ha! Lauw enghiong terlalu merendahkan diri!” Liok tikwan mencela dengan tak puas. “Kau diumpamakan pedang masih terbungkus dalam sarung, belum terhunus hingga tak tampak ketajamannya!”
Thio congtok mendengar kata-kata ini nampak gembira, lalu ia perkenalkan pahlawan-pahlawannya kepada Heng San. Di antara mereka, yang sudah terkenal namanya dan pernah didengar oleh Heng San adalah tiga orang, maka ia perhatikan mereka ini.
Yang pertama adalah seorang tinggi kurus yang bermuka kuning dan bernama Lui Tiong, si Harimau Muka Kuning. Yang kedua adalah seorang tinggi besar dan kuat bernama Ban Kok, si Kerbau Belang, dan orang ketiga bertubuh kate bernama Auwyang Sin, si Golok Emas.
Ketiga orang ini semua berkepandaian tinggi dan menjadi orang-orang kepercayaan Thio congtok. Karena tiap kali menerima pembantu selalu diuji kepandaiannya dulu, maka menurut ukuran kepandaian mereka, tingkatnya ialah Lui Tiong ke satu, Ban Kok ke dua dan Auwyang Sin ke tiga, sungguhpun mereka ini mempunyai keistimewaan masing-masing.
Ketiga jagoan ini masih memandang Heng San dengan pandangan ringan, karena mereka belum pernah mendengar namanya. Pula seorang pemuda sehijau itu bisa mempunyai kepandaian bagaimana tinggikah?
Hidangan-hidangan lezat dikeluarkan dan Heng San menikmati makanan enak-enak dan arak yang wangi. Karena keramahan tuan rumah, Heng San agak terlalu banyak minum arak hingga sikapnya berubah gembira sekali.
“Lauw sicu,” kata congtok itu, “karena kau seorang pengembara yang menurut katamu hendak meluaskan pengalaman, bagaimana kalau kau bekerja dengan kami di sini?”
“Bekerja sih mudah, tapi aku harus tahu dulu apakah macam pekerjaan itu.” jawab Heng San dengan lancar.
“Apalagi? Kita adalah golongan orang-orang gagah, golongan pendekar pembela keadilan. Pekerjaan kita ialah membasmi orang- orang jahat, pengacau-pengacau dan perampok-perampok. Setujukah kau?”
“Ha-ha! Thio ciangkun, tanpa diminta pun aku sudah menjadi pekerja macam itu!”
Thio congtok isi mangkok arak Heng San yang sudah kosong sambil tertawa bergelak, “Kau betul, Sin-kun-bu-tek! Tapi, pekerjaan itu akan lebih sempurna dan teratur jika kita rencanakan bersama. Kalau kau bekerja sendiri, bagaimana kalau kau sampai salah tindak? Tidak demikian halnya dengan kami. Kami mempunyai barisan penyelidik yang dapat mengetahui orang macam apakah yang harus kita basmi!”
“Akur! Aku terima usulmu, ciangkun!” jawab Heng San gembira.
“Nanti dulu, ciangkun.” Tiba-tiba Lui Tiong mencela. “Tidakkah ini terlalu sembrono? Kita belum tahu sampai di mana kesetiaan dan kepandaian Lauw sicu ini. Apakah ciangkun hendak menyimpang dari kebiasaan?”
Thio congtok pandang pahlawannya dengan senyum. “Tentu saja kita harus menguji dulu. Eh, Lauw sicu, sukakah kau diuji?”
“Diuji? Bagaimana maksudmu?”
“Bisa saja. Diuji kepandaianmu. Dicoba dan diukur sampai di mana tingginya kepandaianmu.”
Heng San tersenyum. Ia sedang gembira, maka iapun ingin sekali memamerkan kepandaiannya. “Boleh, boleh!” jawabnya. “Siapakah yang akan mencobaku? Apakah twako ini?” Ia menunjuk kepada Lui Tiong.
Tiba-tiba Auwyang Sin berdiri. “Ciangkun, perkenankanlah saya mencobanya lebih dulu.”
Dengan wajah gembira Thio congtok angkat tangan tanda setuju. “Mari kita pindah ke lian-bu-thia,” katanya dan mereka lalu menuju ke ruang main silat di belakang gedung.
Dengan senyum simpul Auwyang Sin buka baju luarnya dan berdiri di tengah lian-bu-thia sambil melambaikan tangan kepada Heng San. “Marilah, engko cilik, kita main-main sebentar!” lagaknya sangat memandang ringan.
Heng San pun maju menghadapinya. Ia berlaku sangat hati-hati karena belum tahu sampai di mana kepandaian lawan yang sudah tersohor itu. Maka setelah menjura, ia mempersilahkan: “Mulailah, saudara!”
Auwyang Sin tak sungkan-sungkan lagi, segera geser kakinya maju dan menyerang dengan kepalan kanan ke arah dada Heng San dan segera dibarengi dengan tendangan kaki kiri! Pukulan dan tendangannya berat, tapi menurut pandangan Heng San, gerakan lawannya agak lambar. Dengan mudah saja ia berkelit sambil balas menyerang!
Si golok emas kaget melihat gerakan anak muda yang aneh itu. Dalam berkelit tahu-tahu anak muda itu bisa balas menyerang. Alangkah cepatnya ia bergerak! Tapi sebagai seorang jago silat kenamaan Auwyang Sin dapat juga menangkis dan untuk kedua kalinya ia terkejut ketika ia merasa lengan tangannya kesemutan beradu dengan lengan Heng San.
Kini Heng San sudah dapat mengukur tenaga lawan, maka ia loncat mundur dan berkata: “Saudara yang baik. Tadi aku mendengar bahwa kau bergelar Kim-to atau Golok emas, maka karena sekarang terdapat kesempatan, penuhilah keinginanku hendak melihat kehebatan golok emasmu itu!”
Auwyang Sin merah mukanya tapi ia menahan sabar. “Saudara Lauw, lupakah kau bahwa permainan ini hanya untuk mencoba kepandaianmu saja? Kita bukan sedang pibu atau berkelahi. Golok tidak ada matanya, kawan, sekali salah bacok bisa celaka orang yang kena bacok!”
“Aku tahu, aku tahu! Tapi maksudku juga bukan hendak mencari ribut. Aku hanya ingin melihat permainan golokmu yang tersohor itu, juga agar lebih indah dipandang mata untuk menghormat tuan rumah! Tapi kalau kau keberatan, biarlah kita teruskan saja adu kepalan ini!”
Auwyang Sin segera menyerang lagi, tapi dalam dua gebrakan saja, ketika ia menendang dengan keras, kakinya dapat tertangkap oleh Heng San dan tahu-tahu tubuhnya melayang ke atas! Untung sekali Heng San segera menangkapnya kembali, kalau tidak pasti ia akan terbanting ke atas lantai!
Liok tikwan tepuk tangan dengan girang. “Apa kataku, ciangkun? Ia benar-benar Sin Kun Bu Tek!”
Thio congtok juga heran. Ia tidak sangka pemuda itu dapat jatuhkan Auwyang Sin dengan dua kali gebrakan saja! Si Golok emas merasa malu sekali, maka ia menjura kepada Heng San sambil berkata: “Sungguh kau gagah sekali. Apakah sekarang kau masih ingin melihat permainan golokku? Aku memang tidak biasa bersilat dengan tangan kosong!”
Heng San tersenyum, “Karena itulah maka aku tadi usulkan agar kau gunakan golok!”
Auwyang Sin menjura kepada Thio congtok. “Bolehkah saya pergunakan kim-to, ciangkun?”
Dengan tertawa girang Thio congtok mengangguk: “Boleh, asal jangan sampai terjadi perkara jiwa di sini!”
Auwyang Sin segera lari menuju ke kamarnya dan ambil keluar sebatang golok bergagang emas. Ia berdiri pasang kuda-kuda di depan Heng San dan berkata: “Cabutlah senjatamu, kawan! Ingin aku menerima pengajaranmu dengan senjata tajam.”
Tapi Heng San hanya tersenyum dan menjawab, “Saudara Auwyang, selamanya aku tak berani bermain-main dengan senjata tajam. Jangan sungkan-sungkan, saudara yang baik, mulailah dengan seranganmu!”
Auwyang Sin turunkan kembali goloknya dan berkata dengan muka cemberut: “Kau kira aku seorang pengecut hendak bertanding dengan seorang yang bertangan kosong sedangkan aku gunakan golok?"
“Lauw sicu, keluarkanlah senjatamu!” Thio congtok juga membujuk, tapi Heng San menjawab:
“Maaf, ciangkun, siauwtee berkata sebenarnya bahwa semenjak kecil tak pernah bermain senjata tajam. Siauwtee hanya mengandalkan kedua tangan dan kaki ini saja!”
“Benar-benar Sin Kun Bu Tek, Kepalan Dewa Tanpa Tandingan!” berkata Liok tikwan dengan kagum.
Juga Thio congtok merasa heran. “Kalau begitu, Auwyang kauwsu, jangan ragu-ragu lagi. pergunakan golokmu, aku ingin sekali melihat!”
Mendapat anjuran dan perkenan Thio congtok, Auwyang Sin segera berkata: “Maaf dan awas golok!” lalu maju menyerang. Goloknya menyambar-nyambar hebat, merupakan segundukan sinar putih berkilauan mengurung diri Heng San.
Tapi pemuda itu berseru: “Bagus!” dan tahu-tahu ia sudah keluar dari kurungan sinar golok sambil meloncat kesana-kemari.
Payah juga Auwyang Sin mengejar dengan sambaran goloknya, karena tiap kali diserang, tubuh di depannya itu tiba-tiba lenyap dan tahu-tahu ada angin pukulan atau tendangan menyambar dari belakang, dari samping kanan, atau dari kiri! Ia merasa heran, penasaran, dan kagum, karena selama menjagoi di kalangan kang-ouw, belum pernah ia menjumpai seorang segesit pemuda ini!
Ia percepat gerakan goloknya, tapi seperti juga sedang mempermainkannya, gerakan Heng San juga makin cepat hingga tetap saja ia tidak mampu sedikitpun menyerang pemuda itu, kecuali dengan bacokan-bacokan ngawur karena ia hanya membacok ke arah bayangan yang seakan-akan berada di mana-mana!
Thio congtok benar-benar kagum dan tak terasa pula ia tepuk tangan bersama Liok tikwan. Belum habis tepukan tangannya, tiba-tiba golok Auwyang Sin terpental tinggi ke udara dan agaknya akan menancap ke langit-langit, tapi tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat sekali menyusul lajunya golok dan berhasil saut golok itu sebelum menancap di atas!
Ketika turun, kedua kaki Heng San tak mengeluarkan suara sedikitpun. Tentu saja kepandaian yang luar biasa ini disambut pujian tinggi oleh Thio congtok dan Liok tikwan, bahkan para pahlawan yang berada di situ juga merasa kagum sekali.
Ban Hok si kerbau belang melihat betapa Auwyang Sin dengan golok di tangan dapat dipermainkan demikian rupa oleh Heng San yang bertangan kosong, mereka takluk dan maklum bahwa kepandaian silatnya yang hanya sedikit lebih tinggi dari si golok emas bukanlah lawan dari si pemuda luar biasa itu. Maka ia berkata terus terang kepada Thio congtok:
“Ciangkun, terus terang saja saya mengaku bahwa kepandaian Sin Kun Bu Tek benar-benar hebat dan masih jauh lebih tinggi dari kepandaian saya dan agaknya untuk para saudara yang pernah saya kenal, takkan ada yang dapat menandinginya.”
Thio congtok mengangguk-angguk puas, tapi Oey-bin-houw Lui Tiong si harimau muka kuning tak senang mendengar ini. Ia berdiri menjura kepada Thio congtok dan berkata: “Saudara Ban Hok sangat merendahkan diri sendiri. Biarpun kepandaian Sin Kun Bu Tek benar-benar lihai, namun sebelum mencobanya sendiri, orang tentu menjadi penasaran juga. Bolehkah aku mengujinya, ciangkun?”
Thio congtok gembira sekali dan berkata kepada Heng San yang masih berada di lian-bu-thia: “He, saudara Lauw yang gagah, maukah kau bermain-main sebentar dengan Lui kauwsu?”
Heng San menjawab sambil memandang ke arah Lui Tiong, “Tentu saja siauwtee bersedia melayani Lui twako!”
Lui Tiong segera gerakkan tubuhnya loncat ke tengah lian-bu-thia dan menjura kepada Heng San. “Lauw sicu sungguh mengagumkan. Masih begini muda tapi sudah berkepandaian sangat tinggi! Ilmu silatmu selain lihai juga aneh gerakannya. Bolehkah aku ketahui nama suhumu yang mulia?”
Dengan suara sederhana Heng San menjawab: “Suhuku bergelar Pat-chiu Sin-kay.”
Sungguh di luar dugaan Heng San, mendengar nama gelaran ini wajah Lui Tiong menjadi pucat dan tubuhnya agak gemetar. Ketika itu juga ia mendengar Thio congtok mengulangi: “Apa? Si Pengemis Dewa Tangan Delapan...?”