Sin Kun Bu Tek Jilid 02

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Sin Kun Bu Tek (Kepalan Dewa Tanpa Tanding) jilid 02
Sonny Ogawa

Sin Kun Bu Tek (Kepalan Dewa Tanpa Tanding Jilid 02, karya Kho Ping Hoo - Bertahun-tahun telah lalu dan lima tahun kemudian kepandaian Heng San sudah setingkat dengan suhunya, bahkan kalau mau diadakan perbandingan, murid yang rajin ini mempunyai tenaga yang jauh lebih hebat daripada suhunya sendiri!

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Hanya tentu saja, ia kalah pengalaman. Di dalam latihan-latihan yang dilakukan berdua, pengemis dewa itu telah merasa sendiri betapa berat tenaga yang keluar dari pukulan muridnya, sebaliknya Heng San masih merasa berat menghadapi tipu-tipu pukulan gurunya.

Tapi Lauw Cin suami-isteri merasa khawatir sekali karena mereka lihat betapa berbareng dengan meningkatnya kepandaian putera mereka yang menjadi seorang gagah perkasa yang tinggi ilmu silatnya, meningkat juga kesombongan anak muda itu.

Mereka cemas melihat betapa pengemis dewa itu hanya dapat melatih dalam hal kesaktian saja, tapi sama sekali tidak mendidik pengetahuan batin hingga Lauw Cin takut kalau-kalau anaknya menjadi seorang yang sombong dan sewenang-wenang, mengandalkan kepandaian sendiri kelak!

Benar saja dugaan Lauw Cin, di dalam bulan-bulan terakhir ini terjadilah dua peristiwa yang bagaimanapun juga hanya mendatangkan permusuhan saja. Peristiwa itu ialah peristiwa perkelahian yang dilakukan oleh Heng San.

Yang pertama ialah seorang guru silat yang terkenal pandai dan menjagoi di kota itu. Dengan beberapa gebrakan saja, guru silat itu dirobohkan oleh Heng San hingga ia yang telah menjadi guru silat puluhan tahun di kota itu menjadi malu dan angkat kaki dari kota itu setelah bubarkan perguruannya.

Sebenarnya hal ini biasa saja di kalangan persilatan, yakni setiap guru silat harus selalu siap sedia untuk menerima ajakan orang untuk pibu atau adu kepandaian silat. Soalnya ialah, karena guru silat itu merasa malu, disebabkan oleh kenyataan bahwa yang menjatuhkannya bukan lain ialah seorang pemuda sekota dan ia dijatuhkan demikian mudah hingga ia merasa terhina sekali.

Peristiwa ke dua ialah pemukulan terhadap seorang pemuda mata keranjang yang menggoda gadis orang. Heng San demikian marah melihat perbuatan ini hingga ia tidak perdulikan siapa adanya pemuda itu, terus saja dipegang batang lehernya dan dibanting hingga kepalanya mengeluarkan darah dan pingsan seketika itu juga!

Padahal pemuda itu adalah puter seorang tikwan, hingga tentu saja menyebabkan marah dalam hati pembesar itu yang segera mengirim serombongan polisi untuk menangkapnya. Tapi rombongan polisi yang terdiri dari belasan orang ini semua dihajar kalang-kabut oleh Heng San!

Ketika Lauw Cin laporkan hal ini kepada Pengemis Dewa Tangan Delapan, guru Heng San ini hanya tertawa terbahak-bahak dan tidak marah kepada muridnya, bahkan ia puji muridnya itu sebagai seorang yang gagah dan adil..“Akupun akan bertindak demikian kalau aku menjadi Heng San!” katanya dengan gembira.

Lauw Cin mendongkol sekali. Di lubuk hatinya ia memang dapat membenarkan perbuatan anaknya dan dapat juga ia mempertimbangkan dengan adil, tapi betapapun juga ia anggap perbuatan anaknya itu hanyalah timbul dari hati sombong belaka yang akibatnya tak lain hanya permusuhan dan keributan!

Sebagai seorang yang berwatak lembut dan baik ia tidak menyukai permusuhan atau keributan. Maka segera ia pakai pakaiannya yang terbaik, lalu membawa potongan emas beberpa banyak dan pergilah ia mengunjungi tikwan itu. Dengan merendah sekali ia mintakan ampun bagi Heng San sambil persembahkan uang kerugian beberapa tail emas itu.

Tikwan itu bukanlah seorang bodoh. Ia maklum akan kepandaian Heng San dan jika ia teruskan napsu hatinya untuk mencelakakan pemuda itu, tentu akan timbul banyak korban di pihaknya, terutama mengingat bahwa guru pemuda itu tentu takkan tinggal diam pula. Ia juga takut akan pembalasan pemuda gagah itu, maka kini melihat sikap Lauw Cin, ia suka habiskan urusan itu.

Sepulangnya Lauw Cin dari gedung tikwan, ia segera panggil anaknya dan beri teguran keras. “Heng San, kau ingatlah! Aku suruh kau belajar silat kepada suhumu bukan untuk bikin kau menjadi seorang tukang pukul atau tukang berkelahi! Perbuatanmu itu hanya merendahkan nama orang tua saja, dan kau memancing permusuhan dengan orang lain.”

“Tapi, ayah, orang-orang itu memang pantas dipukul!”

Lauw Cin menggebrak meja dengan marah. “Kaulah yang pantas dipukul! Kenapa kau ikut campur urusan orang lain? Mulai sekarang, kau kularang keluar dari rumah! Mulai sekarang, kau harus bantu urus pekerjaanku, dan belajar bekerja. Aku sudah tua, siapa yang akan menjadi penggantiku selain kau? Tapi kau bukannya belajar menjadi penolong orang dan mempelajari obat-obatan, bahkan sebaliknya kau belajar menjadi pemukul dan mencelakai orang!” Setelah berkata demikian, ayah yang marah itu tinggalkan anaknya!

Heng San merasa sedih sekali. Ia tidak dapat mengerti sikap ayahnya. Ia menjadi pemukul dan mencelakai orang? Bukankah putera tikwan yang menggoda gadis itu berusaha menghina dan mencelakai orang? Bukankah dengan memberi hajaran kepada pemuda mata keranjang itu berarti ia melenyapkan seorang pengganggu keamanan kota? Berarti ia telah menolong gadis itu? Dengan hati kecewa ia memasuki kamar suhunya.

Melihat wajah Heng San yang keruh dan penasaran itu, pengemis dewa tersenyum. “Seorang laki-laki tak perlu bersedih atau kecewa menghadapi setiap persoalan, muridku. Di mana kekerasan hatimu? Tak perlu bersedih, tak perlu melamun. Yang perlu, bertindaklah!”

“Suhu, bagaimana teecu harus bertindak? Sekali ini teecu bukan menghadapi persoalan dengan sembarang orang yang mudah begitu saja dapat teecu dibereskan. Teecu menghadapi kemarahan orang tua, bagaimana teecu harus bertindak?” Kemudian ia tuturkan kepada suhunya akan kemarahan ayahnya.

“Heng San, aku tak dapat menyalahkan ayahmu. Ia memang seorang yang sedikitpun tak tahu akan hal kegagahan dan keadilan orang kang-ouw dan orang-orang gagah seperti kita!”

“Habis, apa yang harus teecu lakukan, suhu? Ayah melarang teecu keluar dari rumah dan suruh teecu mengurus pekerjaan di dalam toko obat.”

“Terserah kepadamu. Turut saja, tentu.”

Heng San menghela napas. “Teecu tidak suka, suhu. Teecu tidak suka diam saja di rumah, terkurung dan menjadi seekor katak dalam tempurung.”

Pat-chiu Sin-kay mengangguk-angguk. “Memang demikianlah sifat seorang enghiong. Heng San, aku berhutang budi kepada ayahmu dan sampai matipun aku tidak sudi menyakiti hatinya. Tapi kini kulihat bahwa kau memang tidak berjodoh untuk menjadi tukang obat seperti ayahmu. Kepandaianmu telah cukup dan semua yang kumiliki atau kuketahui telah kaumiliki dan kauketahui pula. Aku bukan menyombong, Heng San, tapi untuk dunia persilatan agaknya tingkatnya sudah bukan rendah lagi biarpun masih banyak yang tingkatnya sama atau lebih tinggi darimu.”

“Lebih tinggi, suhu? Ah, teecu ingin sekali menambah pengertian dan berguru kepadanya!”

Gurunya tersenyum. “Demikianlah anak muda. Tak mau kalah dan selalu ingin maju. Tapi, muridku, sebenarnya saja, untuk dewasa ini sukarlah mencari orang yang pantas menjadi gurumu. Kepandaianmu sudah cukup tinggi, hanya belum matang. Kalau saja kau pergi merantau untuk barang tiga atau lima tahun saja, tentu pengetahuanmu akan tambah luas, pengalamanmu bertambah dan kepandaianmu dengan sendirinya akan meningkat.”

“Merantau seperti para hiapkek yang sering kau ceritakan itu, suhu?”

“Ya, seperti mereka itulah, menjalankan darma bakti dengan menolong sesama manusia yang mendapat kesukaran dan yang tertindas. Membasmi mereka yang jahat dan yang suka mengganggu dan menindas orang mengandalkan kekuatan sendiri.”

“Itu sudah menjadi cita-citaku siang-malam, suhu!”

Gurunya memandang dengan sungguh-sungguh. “Heng San, bagaimanapun juga, lebih baik aku berterus terang. Segala macam hal di dunia ini mempunyai dua permukaan. Permukaan yang baik dan yang buruk. Merantau meluaskan pengalaman memang baik, tapi ada juga buruknya.”

“Apakah buruknya, suhu?”

“Godaan-godaan, muridku. Banyak sekali godaan di luar yang dapat mencelakakan dan dapat menyimpangkan kau dari jalan benar jika kau tidak hati-hati. Lihatlah aku sebagai contoh. Aku tukang merantau, seorang yang malang-melintang di dunia kang-ouw. Apa hasilku? Setelah tua, aku menjadi seorang berpenyakitan, seorang tiada guna, dan seorang pengemis yang mati kedinginan di depan rumahmu kalau ayahmu tidak demikian baik hati menolongku! Memang, ada betulnya juga ayahmu memaksa kau mengikuti jejaknya. Kalau kau menjadi pengganti ayahmu, kau akan dikawinkan, berumah tangga dan hidup bahagia dengan keluargamu, tidak menghadapi bahaya dan hidup tenteram.”

“Tapi teecu tidak suka, suhu. Teecu bosan dengan hidup tenteram. Teecu ingin menghadapi bahaya, ingin menempuh bahaya, ingin mencoba kekuatan sendiri, dan ingin hidup bebas di alam luar sebagai seekor burung!”

Gurunya tersenyum lagi dan putar-putar kedua matanya yang lebar. “Memang begitu, memang demikianlah darah pemuda! Nah, kalau sudah tetap pendirianmu, tidak pergi sekarang mulai pengembaraanmu, mau tunggu kapan lagi?”

Heng San kaget dan pandang muka suhunya. “Sekarang?”

“Ragu-ragukah kau? Takutkah kau?”

“Tidak. Suhu. Apakah suhu hendak pergi juga? Marilah kita merantau bersama-sama!”

“Kau menghendaki kawan? Takutkah kau? Tidak, Heng San. Kita harus berpisah. Sudah sepuluh tahun kau belajar ilmu dariku. Kini aku sudah tua, tubuhku sering sakit. Aku harus mengaso. Kau pergilah sendiri, tapi ingat baik-baik, Heng San. Jangan kau berlaku sesat, karena jika kau tersesat dan mencemarkan nama orang tuamu dan gurumu, aku akan mencari dan menghukummu!”

Heng San berlutut dan menghaturkan terima kasih, kemudian ia tinggalkan sepucuk surat kepada ayah-ibunya dan dengan diam- diam pada malam itu juga ia tinggalkan rumahnya. Sebuah buntalan terisi pakaian dan uang tergendong di punggungnya.

Pada keesokan harinya, ketika hari sudah siang tapi belum juga melihat puteranya keluar dari kamar, nyonya Lauw masuk ke kamar Heng San. Dilihatnya kamar itu kosong dan segera ia dapatkan surat di atas meja dalam kamar itu. Dengan heran ia melihat bahwa surat itu adalah tulisan Heng San yang ditujukan kepada ayah-ibunya.

Nyonya Lauw ambil surat itu dengan tangan gemetar dan dada berdebar, lalu sambil berlari ia pergi mendapatkan suaminya. Lauw Cin terima surat anaknya dengan perasaan tidak enak. Setelah dibuka dan dibacanya, ia menjadi pucat dan mengeluh: “Dasar anak puthauw!”

Isterinya cepat merampas surat itu dan membacanya. Belum juga habis, ia telah menangis tersedu-sedu. Surat itu berbunyi demikian:

Ayah-ibu yang tercinta,
Anak mohon beribu ampun bahwa anak pergi tanpa pamit dan tanpa izin dari ayah-ibu. Anak ingin sekali merantau, meluaskan pengalaman hidup dan mencari tahu keadaan dunia luar. Anak akan hidup sengsara kalau anak harus diam saja di rumah seperti seorang gadis.

Ayah, janganlah terlalu marah kepada anak, dan jagalah kesehatan ayah supaya jangan sampai kena sakit. Ibu, anak mohon ampun dan doamu, ibu. Jika anak telah kenyang merantau, pasti anak akan pulang dan menerima hukuman yang hendak ayah- ibu jatuhkan kepada diri anak.
Dari anak yang tidak berbakti, Lauw Heng San.


“Ini semua salah losuhu itu! Mana dia? Harus bertanggung jawab. Kalau Heng San tidak belajar silat, tentu ia tak berani lari dari rumah!” Nyonya Lauw menangis sambil menyalahkan pengemis dewa.

Lauw Cin juga merasa marah dan penasaran. Mereka berdua lalu bangkit dan bergesa-gesa menuju ke kamar Pat-chiu Sin-kay di ruang belakang. Kakek tua itu sedang duduk dengan anteng di dalam kamarnya ketika mereka berdua menyerbu masuk.

“Kau.... kau harus bertanggung jawab tentang ini semua!” dalam marahnya Lauw Cin lupa akan peradatan dan lempar surat itu kepada Sin-kay.

Kakek itu menyambut surat dan membacanya lalu geleng-geleng kepala. “Heng San sudah pergi, baiklah kalau kalian salahkan aku, hendak kususul dia. Aku takkan kembali sebelum berjumpa dengan dia ” Pat- chiu Sin-kay lalu menjura kepada Lauw Cin suami-isteri.

“Kalian berdua suami- isteri yang luhur budi tak perlu khawatir tentang diri Heng San. Ia telah mempunyai kegagahan yang cukup kuat untuk menjaga diri sendiri. Aku orang tua yang tiada guna telah cukup menjadi beban, telah cukup menerima budi kalian dan sampai matipun takkan kulupa bahwa di dunia ini ada suami-isteri Lauw yang budiman. Nah, selamat tinggal!”

Belum habis gema suaranya, tahu-tahu kakek itu telah gerakkan tubuh dan lenyap dari situ! Suami- isteri itu hanya menghela napas dengan sedih, dan berdoa dalam hati semoga putera mereka selamat dan selalu terhindar dari bencana.

Heng San keluar dari kotanya dan berjalan tak tentu tujuan. Mula-mula ia merasa gembira sekali dan puaskan pandangan matanya dengan apa saja yang tampak. Ketika ia melalui bukit-bukit dan menikmati pemandangan alamnya yang indah, ia merasa betapa luasnya dunia ini dan betapa bagusnya alam. Kalau ia masuk ke sebuah kota yang besar, ia merasa betapa kecilnya kota sendiri. Semua pemandangan menimbulkan kegembiraan besar dalam hatinya.

Pada suatu hari ia memasuki kota leng-koan. Ini adalah kota terbesar yang pernah dimasuki. Ketika melihat sebuah toko obat yang besar dengan merknya “Pau An Tong” yang besar, ia teringat akan ayah-ibunya, dan tiba-tiba ia merasa rindu kepada mereka. Dengan tak terasa telah setengah tahun lebih ia tinggalkan rumah. Untuk beberapa lama ia berdiri di depan toko obat itu hingga seorang setengah tua yang menjaga toko itu bertanya padanya:

“Tuan hendak mencari obat apakah?”

Heng San terkejut mendengar ini. Cepat ia geleng-gelengkan kepala dan menjawab: “Tidak mencari apa-apa.”

Tiba-tiba wajah orang itu menjadi cemberut. “Kalau tidak mencari apa-apa, mengapa berdiri sejak tadi dan melihat-lihat seperti orang mau mencuri?”

Naiklah darah Heng San mendengar ini. Ia heran sekali mengapa ada orang begitu galak dan sombong. Tadinya ia sangka bahwa semua pemilik toko obat adalah orang-orang baik hati dan ramah tamah seperti kedua orang tuanya. Tapi kali ini ia kecewa dan marah. Hampir saja ia loncat dan memukul orang setengah tua itu, tapi karena di situ banyak orang, ia takut menimbulkan keributan dan tekan-tekan perasaan mendongkolnya. Tanpa menengok lagi ia pergi dari situ dengan muka merah.

Heng San pergi mencari rumah penginapan, tapi semua rumah penginapan yang ada di kota itu telah penuh. Kebetulan sekali di kota itu sedang dilakukan perayaan gotong toapekong dari sebuah kelenteng besar hingga kota itu dibanjiri oleh orang-orang luar kota yang sengaja datang bayar kaul atau hanya ingin nonton keramaian saja.

Akhirnya ada juga sebuah rumah penginapan yang masih ada sebuah kamarnya yang kosong, tapi ketika Heng San menemui pengurusnya untuk minta kamar itu, si pengurus memandangnya dari atas ke bawah dengan penuh perhatian. Heng San mendongkol sekali karena terang-terangan si pengurus itu bukan melihat dirinya, tapi melihat pakaiannya!

“Sewanya semalam lima tail, harus bayar di muka!” katanya dengan dibarengi hembusan asap dari pipanya yang panjang.

Muka Heng San yang tadi sudah merah karena masih mendongkol kepada penjaga toko obat yang menghinanya, kini makin merah. Ia marah dan malu. Marah melihat sikap pengurus rumah penginapan yang menghina, malu karena sesungguhnya dalam buntalan pakaiannya hanya tinggal uang dua tail lagi! Ketika ia tinggalkan rumah, ia membawa uang duaratus tail, tapi selama setengah tahun lebih, uang itu habis dan tinggal dua tail saja!

Dengan menahan rasa mendongkolnya ia keluarkan uangnya yang tinggal dua tail itu, lalu berkata: “Saya bayar dulu dua tail, kurangnya besok kubayar!”

Pengurus itu cabut pipa dari mulutnya. “Mana ada aturan demikian? Kalau sekarang tidak punya uang, besokpun tentu tidak ada uang! Kau mau akali aku? Tidak bisa, harus bayar penuh, satu chi-pun tidak boleh kurang!”

Heng San tak dapat menahan marahnya lagi. ia ambil uang dua tail itu dari meja dan kepal dalam tangannya. “Kalau kau tidak tahan mulutmu yang kotor dan penuh candu itu, akan kuhancurkan seperti macam ini!” Ia buka kepalan tangannya dan perlihatkan dua potong uang perak telah hancur dlam tangannya!

Pengurus rumah penginapan itu memandang dengan mata terbelalak dan wajahnya menjadi pucat. Sikapnya menjadi berubah dan ia segera berkata: “Maaf, tay-ong, maaf. Mari, mari, tempatilah kamarmu, soal uang pembayaran besokpun boleh...”

Heng San tersenyum. “Agaknya matamu berminyak juga, tapi awas, jangan sebut aku tay-ong, apakah kau kira aku ini kepala rampok?”

"Maaf, tayhiap.... maafkan sikapku barusan. Di sini sering terjadi penipuan. Orang-orang datang minta kamar dan pergi tanpa bayar sedikitpun. Karena itu kami selalu minta uang dibayar di muka!”

“Hm, kau harus gunakan matamu baik-baik dan dapat bedakan mana penipu mana bukan....”

Selanjutnya,
SIN KUN BU TEK JILID 03