Sin Kun Bu Tek (Kepalan Dewa Tanpa Tanding Jilid 03, karya Kho Ping Hoo - Dengan hati masih gemas Heng San masuk ke kamar yang sewanya mahal itu. Ia melihat bahwa kamar itu tak berapa besar dan kotor sekali. Marahlah hatinya. Ah, benar-benar orang kota ini penipu dan pemeras semua! Ia berteriak memanggil pelayan.

Seorang pelayan tua berlari-lari menghampirinya. Berbeda dengan pengurus tadi, pelayan tua ini sikapnya cukup menghormat hingga agak redalah kemarahan Heng San. “Siauwya perlukan apakah?” tanyanya.
“Kamar ini demikian kotor. Coba tolong bersihkan dan pasang tilam kasur yang bersih!”
Pelayan itu memandangnya dengan mata heran. “Siauwya hendak sewa kamar ini?” katanya sambil memasuki kamar.
“Ya, kenapa?” Heng San bertanya.
Pelayan itu memandang ke kanan-kiri. “Siauwya, berapa kau bayar untuk sewa kamar ini?” tanyanya perlahan.
Heng San bersungut-sungut dan teringat akan kekurang-ajaran pengurus. “Aku harus bayar lima tail semalam.”
Pelayan itu geleng-geleng kepala. “Terlalu... terlalu...! Memang aku tahu, orang she Lie itu penipu besar! Masak kamar macam ini disewakan lima tail? Ah, siauwya, kalau kau percaya omongan seorang tua seperti aku, lebih baik carilah kamar di lain penginapan.”
“Eh, eh, apa maksudmu?”
“Orang she Lie itu telah menipumu. Kamar ini adalah... kamar hantu! Siapapun tak pernah bermalam di sini. Tak seorangpun berani!”
Terbelalak heranlah mata Heng San. “Apa katamu? Kamar hantu?”“Sstt! Jangan keras-keras, siauwya. Dengarlah ceritaku. Sudah sejak kurang lebih tiga bulan ini, kamar ini tak ditiduri orang, karena tiap kali ada orang tidur di sini, pada tengah malam ia tentu diganggu hantu hingga ia malam-malam lari keluar berteriak-teriak ketakutan. Telah ada beberapa orang tabah dan berani yang mencobanya, tapi semuanya lari keluar pada tengah malam buta. Semenjak itu tak ada lagi orang yang berani bermalam di sini! Dan sekarang, orang she Lie itu berikan kamar ini padamu, ditambah dengan sewa lima tail pula! Betul-betul terlalu... terlalu...!”
Diam-diam Heng San mengerling dan memandang ke sekeliling kamar, tapi tiada terdapat sesuatu yang mencurigakan. “Eh, jangan kau main-main! Betulkah ceritamu itu?”
“Aku sudah tua, siauwya, untuk apa aku berbohong kepadamu?”
“Mengapa orang-orang yang bermalam di sini lari ketakutan? Apa yang mengganggu mereka?”
“Macam-macam cerita mereka. Ada yang merasa diangkat orang ketika sedang tidur dan tahu-tahu pindah ke kolong tempat tidur. Ada yang melihat setan, ada yang tiba-tiba kaku tak dapat bergerak untuk beberapa lama. Ah, macam-macamlah cerita mereka, tapi pokoknya mereka terganggu oleh sesuatu yang mengerikan! Maka, lebih baik kau pindah saja, siauwya!”
“Pindah ke mana? Di mana-mana semua penuh tamu.”
“Kalau perlu, kau bisa tidur di rumahku, yakni kalau siauwya sudi tidur di rumah gubuk yang bobrok.”
Heng San memandang orang tua itu dengan berterima kasih dan girang. Ternyata tidak semua orang di kota berhati jahat! Pelayan tua ini baik benar.
“Lopeh,” tiba-tiba suara Heng San terdengar lembut, “terima kasih atas segala kebaikanmu. Tidak, aku tidak takut. Biarlah aku mencoba pula bagaimana rasanya diganggu hantu.”
Pelayan tua itu geleng-geleng kepala dan memandangnya heran. “Kau aneh, siauwya, aneh...” dan ia mulai membersihkan kamar itu, lalu tinggalkan Heng San setelah memandang sekali lagi dengan heran.
Heng San duduk dalam kamarnya dan untuk beberapa lama memikirkan ucapan pelayan itu. Benarkah ada setan dan hantu dalam kamar ini? Ah, tak mungkin. Ia tidak percaya. Mungkin pelayan itu sudah terlalu tua dan menjadi pikun, atau ia terlalu tahyul. Sebentar saja hal hantu itu telah lenyap dari pikirannya dan ia teringat lagi akan keadaannya.
Uangnya telah habis! Bagaimana ia harus bayar sewa kamar itu? Dari mana ia harus mencari uang? Teringatlah ia akan kata-kata suhunya dulu. Benar kata suhunya, perantau macam dia hanya akan menemui kesulitan saja, tak pandai mencari uang, dan, seperti suhunya, akan berakhir dengan terlantar! Menjadi pengemis! Dia?? Menjadi pengemis?
Tiba-tiba Heng San berdiri. Tak mungkin! Otaknya bekerja. Ah, ia mendapat jalan. Toko obat itu! Toko obat dengan pemiliknya yang sombong dan yang menghinanya siang tadi.
Mendapat pikiran ini, tenteramlah hati Heng San. Ia duduk bersila di atas pembaringan menanti datangnya malam gelap. Setelah malam tiba dan keadaan sunyi, ia bersiap hendak tinggalkan kamarnya, tapi pada saat itu di pintu kamarnya terdengar suara ketukan. Ia terkejut karena teringat akan cerita pelayan tentang hantu. Segera ia buka pintu kamarnya.
Pelayan tua tadi berdiri di depan pintu. Mukanya pucat dan membayangkan kecemasan hati. “Sukur, siauwya. Kau tidak apa-apa?” tanyanya.
Heng San tersenyum. “Terima kasih, lopeh. Aku tidak apa-apa. Dan tidak ada hantu di sini.”
“Tapi sekarang belum tengah malam, siauwya. Sukakah kau keluar dari kamar dan duduk di ruang tengah dengan aku? Marilah kita mengobrol dulu. Aku bertugas jaga malam pada malam hari ini.”
Di dalam hati Heng San merasa terganggu, tapi ia tidak tega untuk menolak ajakan orang tua yang baik hati itu. Maka ia lalu duduk bersama pelayan itu di atas bangku di ruang tengah. Pelayan itu banyak ceritanya. Heng San mendengarkan dengan hati tertarik, terutama tentang gotong toapekong itu.
“Telah beberapa lama di kota ini terjangkit penyakit aneh dan pencurian-pencurian yang aneh pula. Orang-orang anggap bahwa itu tentu gangguan roh jahat, maka mereka lalu putuskan hendak menggotong patung Kwan-tee-kong keluar dari kelentengnya dan dibawa putar-putar dalam kota untuk mengusir roh jahat yang mengganggu penduduk kota.”
“Penyakit aneh bagaimanakah?” tanya Heng San yang merasa heran karena kota ini agaknya kaya akan hantu dan roh jahat!
“Hampir beberapa malam sekali tentu rumah seorang penduduk diganggu, tahu-tahu sejumlah uang perak dan emas lenyap dan tuan rumahnya menderita sakit gagu untuk beberapa hari lamanya. Setelah mereka sembuh dan ditanyai keterangan, mereka tidak tahu apa-apa, hanya ceritakan bahwa pada tengah malam mereka tiba-tiba terbangun dari tidur dalam keadaan gagu! Kalau bukan roh jahat yang melakukan ini, siapa lagi?”
Heng San garuk-garuk kepalanya, “Masak ada roh jahat suka akan perak dan emas?”
“Kau tidak tahu, siauwya. Pernahkah kau mendengar tentang orang-orang yang kaya mendadak?”
“Kaya mendadak?”
“Ya, orang-orang yang tanpa bekerja sesuatu tiba-tiba saja menjadi kaya! Nah, mereka ini adalah orang-orang yang memelihara roh-roh jahat itu! Dengan menjual nyawa kepada roh jahat, ia bisa perintah roh itu untuk mencuri uang.”
“Menjual nyawa bagaimana maksudmu, lopeh?” Heng San benar-benar tertarik karena selama hidup memang belum pernah ia mendengar hal aneh macam itu.
“Begini. Orang yang memelihara roh jahat itu telah berjanji bahwa kelak setelah mati iapun akan menjadi seperti roh-roh itu. Menjadi setan pula. Tapi sebelum mati ia bisa hidup kaya raya tanpa bekerja.”
Heng San menghela napas. Ia tidak bisa percaya begitu saja kepada obrolan si pelayan, tapi untuk menyatakan ketidak-percayaannya, ia sungkan dan tidak tega. Kemudian ia menyatakan hendak tidur karena sudah mengantuk.
“Selamat tidur, siauwya. Jangan lupa, kalau ada apa-apa kau berteriaklah. Aku akan membantumu! Kau baik, aku suka bantu padamu kalau hantu jahat itu mengganggumu.”
Heng San tertawa geli. “Terima kasih, lopeh.” katanya dan ia lalu kembali ke kamarnya, tutup pintu dan mengganjalnya supaya jangan dapat dibuka dari luar.
Saat itu telah hampir tengah malam. Heng San buka jendelanya dan sekali berkelebat ia telah berada di luar dan enjot tubuhnya ke atas genteng. Langsung ia berlari-lari dengan ringannya di atas genteng rumah-rumah penduduk dan mencari rumah obat yang siang tadi dilihatnya.
Rumah obat itu cukup besar. Heng San loncat ke wuwungan rumah dan memeriksa ke bawah. Tiba-tiba ia cepat bergerak dan sembunyi ke belakang wuwungan, karena dari jauh ia melihat bayangan seorang yang bergerak cepat sekali! Orang itu berhenti juga di atas rumah obat itu, celingukan kesana-kemari lalu ayun tubuhnya turun!
Heng San merasa heran sekali karena gerakan orang itu ternyata cukup gesit dan ketika turun ke bawah sedikitpun tidak perdengarkan suara. Dengan gunakan gerakan Lo-wan-teng-ki atau Monyet tua loncati cabang, ia loncat turun lalu berjumpalitan dan gunakan kedua kakinya mengait balok yang melintang. Dari tempat gelap yang tak terdapat sedikitpun sinar lampu, ia dapat memandang ke sekeliling dengan jelas.
Dilihatnya bayangan tadi berjalan berindap-indap ke arah jendela sebuah kamar. Kemudian bayangan itu meraba jendela dan sebentar saja jendela itu telah dapat dibongkar! Setelah memandang ke sekeliling sekali lagi, bayangan itu dengan gerakan yang sangat gesit dan ringan lalu meloncat ke dalam kamar.
Heng San juga loncat turun dan mengintai dari luar jendela. Biarpun ia tidak suka kepada pemilik toko obat yang dianggapnya sombong, tapi ia bersedia menolongnya jika bayangan itu hendak melakukan pembunuhan.
Ia melihat bayangan itu menyingkap kelambu sebuah pembaringan yang berdiri di pojok kamar. Di atas pembaringan rebah dua tubuh. Seorang laki-laki dan seorang wanita. Yang laki-laki adalah orang sombong siang tadi dan yang wanita mungkin isterinya. Heng San siap dengan sebuah batu kecil di tangannya. Tapi bayangan itu tidak mencabut pedang yang terselip di punggung, hanya jari tangannya bergerak dan menotok jalan darah di leher kedua orang yang sedang tidur itu!
Heng San heran dan terkejut karena tamu malam itu menotok jalan darah yang membuat kedua orang itu kaku dan gagu! Kemudian tamu malam itu mebongkar peti dan keluarkan kantung yang berat. Ketika diperiksa ternyata kantung itu berisi emas dan perak!
Setelah ikat lagi mulut kantung, bayangan itu melesat keluar jendela. Heng San sudah siap dan siang-siang telah loncat ke atas wuwungan. Hatinya geli memikir betapa ia telah didahului orang! Ternyata orang itupun datang hendak mencuri emas dan perak, dan kini ia tahu siapakah orang yang mengganggu kota itu.
Ketika bayangan itu loncat pula ke atas genteng, tiba-tiba ia merasa ada angin menyambar. Ia berkelit, tapi tahu-tahu kantung yang dibawanya telah terbetot dan pindah tangan! Ia menjerit perlahan dan memandang ke depan. Seorang pemuda dengan senyum sindir telah berdiri di depannya dan kantung tadi telah terpegang oleh pemuda itu!
Sebaliknya Heng San tak kurang terkejutnya. Bayangan itu ternyata adalah seorang pemuda yang bertubuh kecil ramping dan berwajah cakap dan tampan sekali. Ketika ia berhasil merampas kantung dan bayangan itu menjerit kecil, keheranan Heng San bertambah karena dari suara jeritan itu tahulah ia bahwa yang berdiri di depannya adalah seorang wanita!
“Oh, ah! Jadi... roh jahat itu kau kah?” tanyanya dengan heran.
Gadis cantik yang berpakaian seperti laki-laki itu menjadi merah mukanya dan cepat ia mencabut pedang panjang tipis yang terselip di punggung. “Manusia liar dari mana berani ganggu aku?” suaranya merdu dan nyaring, hingga walaupun ketus dan marah namun terdengar sedap di telinga Heng San.
“Maaf, nona, sungguh aku tidak tahu bahwa roh jahat yang mengganggu kota adalah seorang gadis!”
“Jangan banyak cakap. Kembalikan kantungku!”
Heng San ulurkan tangan yang pegang kantung hendak mengembalikan kantung itu, tapi dengan tak disengaja dalam merebut kantung tadi ia gunakan tenaga terlalu keras hingga ikatan mulut kantung telah putus. Maka ketika ia angsurkan kantung itu, tiba-tiba saja mulut kantung terbuka dan isinya berhamburan di atas genteng!
“Bangsat kurang ajar!” gadis itu membentak dan cepat gerakkan pedang menusuk tenggorokan Heng San.
“Eh, tak sengaja, nona!” Heng San berseru sambil kelit tusukan itu. Ia tutup mulut kantung untuk mencegah uang yang tinggal setengahnya itu meluncur keluar.
Tapi si gadis telah menyerang lagi dengan lebih hebat. Terpaksa Heng San cepat selipkan kantung itu di ikat pinggangnya dan berkelit lagi dengan gesitnya. Gadis itu merasa heran dan penasaran, dan terus kirim serangan bertubi-tubi yang semuanya dapat dikelit oleh Heng San.
Pemuda ini sedikitpun tidak membalas, karena sejak pandang mata pertama ia telah merasa suka dan cinta kepada gadis gagah itu. Diam-diam ia perhatikan serangan-serangan gadis itu yang ternyata memiliki kepandaian cukup tinggi. Ingin sekali ia kenal gadis itu, tapi keadaannya serba salah. Dengan tak disengaja ia telah goda dan timbulkan marah gadis itu.
“Tahan nona, tahan dulu!” Ia loncat berkelit sambil angkat kedua tangan. Tapi gadis itu yang berkali-kali tak berhasil serangannya menjadi gemas dan mendongkol sekali, tanpa menjawab ia terus mengejar dan kirim serangan-serangan mematikan!
Heng San menjadi bingung. Tiba-tiba ia mendapat akal. Ia lambatkan gerakannya hingga ujung pedang gadis itu dapat menusuk ujung bajunya hingga robek. Heng San sengaja berteriak kaget dan ketakutan, lalu berkata sambil loncat berkelit kesana-sini.
“Nona, nona... sebelum kau bunuh aku, beritahu dulu namamu, agar aku dapat mati dengan mata meram dan tidak penasaran!”
Benar-benar gadis itu tahan pedangnya. Ia sebagai seorang pendekar tidak mau bunuh orang secara menggelap. “Dengar kau, maling kecil! Aku adalah Ma Hong Lian, pendekar wanita dari Tit-lee! Nah, sekarang terimalah kematianmu dengan mata meram!” tanpa menanti jawaban orang ia menyerang kembali dengan gerakan Pek-hong-koan-jit atau Bianglala putih menutup matahari!
“Aya!” Heng San bergerak cepat dengan kelitannya. Hatinya girang karena akalnya telah berhasil, ia telah tahu nama gadis cantik itu. “Ah, Tit-lee Lihiap! Kenapa kau bernapsu benar hendak membunuhku! Kau tidak takut nanti setanku mengejarmu hendak menuntut balas?”
“Kau laki-laki kurang ajar! Tunggu nonamu ambil kepalamu!” Dan pedangnya berkelebat menyambar.
“Suka betulkah kau pada kepalaku, nona Hong Lian?” Heng San menggoda hingga kemarahan gadis itu semakin memuncak. Ia merasa bahwa ia pasti akan dapat membunuh laki-laki kurang ajar ini karena bukankah tadi hampir saja pedangnya menembus tubuh pemuda itu?
Tapi tiba-tiba nona itu kaget sekali karena gerakan Heng San berubah. Tubuh pemuda itu kini bergerak cepat sekali, loncat ke kanan-kiri, tiba-tiba berada di belakangnya dan cepat sekali berada di depan lagi hingga ia menjadi pusing! Kemudian, sebelum ia tahu bagaimana pemuda itu melakukannya, tahu-tahu pedangnya telah terampas!
Heng San ambil kantung itu di tangan kiri, lalu dengan kedua tangan terulur, satu pegang pedang yang lain pegang kantung, ia berkata: “Nah, nona, terimalah barang-barangmu. Aku Lauw Heng San bukanlah maling kecil seperti yang kau kira. Atau... baiknya kita jangan bicara hal maling, karena itu bisa menyinggung padamu juga!” ia tersenyum.
Gadis itu kertak gigi dan gigit bibirnya. Ia memandang benci, lalu dengan isak tertahan ia balikkan tubuh dan melesat pergi! Heng San hendak mengejar, tapi ia pikir hal itu tentu akan lebih memperbesar salah paham dan kemarahan si nona, maka dengan girang ia kembali ke hotelnya!
Ketika ia loncat melalui jendela kamarnya, ia disambut oleh serangan hebat yang tak disangka-sangkanya semula! Sebuah golok menyambarnya dari balik daun jendela! Heng San berkelit cepat dan dilihatnya betapa di situ telah penuh dengan orang-orang yang pegang senjata tajam. Ada lima orang berpakaian seperti jagoan dan pelayan tua yang ramah-tamah terhadapnya itu kini berada pula di situ dan menunjuk dengan telunjuknya:
“Nah, itu dia! Aku sudah curiga bahwa ia bukan orang baik-baik. Ternyata dialah hantu dan roh jahat itu. Serbu! Tangkap!”