Pusaka Gua Siluman Jilid 22

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Pusaka Gua Siluman Jilid 22
Sonny Ogawa

Pusaka Gua Siluman Jilid 22, karya Kho Ping Hoo - Auwyang Tek adalah seorang pemuda sombong yang merasa diri sendiri terpandai, maka ke manapun ia pergi, ia mengobral dan meninggalkan tanda-tanda tapak tangan Hek-tok-ciang, tidak saja untuk memberi tanda kepada kawan-kawannya yang banyak disebar di daerah perbatasan, juga untuk menakuti para anggauta Tiong-gi-pai.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Maklum bahwa Souw Teng Wi merupakan pujaan kaum pemberontak dan mempunyai pengaruh besar, Auwyang Tek berusaha mencari tempat persembunyian ini. Ia pikir bahwa sekali Souw Teng Wi dapat ditangkap, kiranya orang-orang yang mempunyai pikiran untuk memberontak akan menjadi kecil hatinya.

Maka ia sering kali muncul di Peking dan baginya mudah saja karena ia adalah putera Menteri Auwyang, selain itu tidak berani Raja Muda Yung Lo mengganggunya karena Auwyang Tek, dengan perantaraan ayahnya telah dapat memiliki sebuah tek pai (bambu bertulis tanda kuasa) dengan tugas kaisar: Memeriksa dan meneliti tentang keamanan di dalam negeri!

Di dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Bu Lek Hwesio. Semenjak dulu, hwesio ini terkenal curang dan cerdik. Tahu bahwa Auwyang Tek mencari Souw Teng Wi, hwesio licik ini menemuinya dan menyatakan bahwa ia dapat membantu Auwyang Tek mencari Souw Teng Wi, asal pemuda itu suka mengajak tiga orang kawan baiknya dan suka memberi hadiah besar dan janji pangkat apa bila usaha itu berhasil kelak.

Tentu saja Auwyang Tek menerimanya dengan gembira. Adapun tiga orang kawan baik Bu Lek Hwesio ini adalah tiga orang hwesio yang sekarang bersama mereka melakukan perjalanan ke utara. Mereka ini adalah tiga orang hwesio yang selama ini tidak terkenal karena mereka tak pernah muncul di dunia kang-ouw.

Akan tetapi sesungguhnya mereka memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan biarpun usia mereka sebaya dengan Bu Lek Hwesio, namun dalam hal tingkat mereka masih terhitung susiok (paman guru) dari Bu Lek Hwesio. Ini saja sudah membuktikan bahwa tingkat kepandaian mereka memang sudah tinggi.

Demikianlah, bersama Bu Lek Hwesio dan tiga orang hwesio yang menyebut diri Hu-niu Sam-lojin (Tiga kakek dari Bukit Hu-niu) itu, Auwyang Tek segera berangkat lagi ke utara untuk mencari Souw Teng Wi sebagaimana telah dijanjikan oleh Bu Lek Hwesio yang sanggup mencarikan tempat persembunyian pahlawan yang dikejar-kejar dan dianggap pemberontak oleh Kerajaan Beng di Nan-king.

Dan pada hari itu mereka tiba di Bukit Tiga Menara tanpa mengetahui bahwa gerak-gerik mereka diawasi oleh sepasang mata bening tajam dari seorang gadis jelita, puteri dari Souw Teng Wi!

Melihat tiga batu karang yang berbentuk menara tinggi sekali itu, timbul kegembiraan hati Auwyang Tek dan ia ingin menguji kepandaian tiga orang susiok dari Bu Lek Hwesio yang mendengung-dengungkan kelihaian tiga orang hwesio itu. Auwyang Tek mengeluarkan sehelai saputangan putih, lalu berkata,

"Aku ingin sekali memancangkan saputangan ini dengan tandaku di puncak menara batu karang ini. Apakah di antiara losuhu ada yang dapat memberi petunjuk kepadaku?"

Hwesio muka merah yang berjuluk Ang Bin Hosiang menjawab sambil berdongak ke atas, "Dapat dilakukan dengan melompat tinggi." Ia memang seorang ahli ginkang yang lihai. Ilmunya meringankan tubuh dan melompat sukar ditandingi dan hal ini sudah didengar oleh Auwyang Tek dari Bu Lek Hwesio.

Maka ia ingin sekali mengujinya. "Akan tetapi mana bisa aku melompat setinggi itu! Apa losuhu bisa menolongku memancangkan saputangan ini di atas sana? Tak perlu di puncaknya sekali karena terlalu tinggi, takkan kelihatan orang dari bawah. Cukup di tempat sedikit di bawah puncak."

Auwyamg Tek bicara seolah-olah ia tidak sengaja menguji kepandaian orang, padahal tempat yang ia kehendaki, yaitu di bawah pncak, sudah merupakan tempat tinggi yang kiranya tak mungkin dicapai orang dengan melompat saja.

"Pinceng (aku) bisa melompat sedikit, akan tetapi entah bisa mencapai tempat setinggi itu atau tidak, baik dicoba saja.." jawab Ang Bin Hosiang.

Auwyang Tek girang sekali, cepat ia menempelkan telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan itu ke tengah saputangan yang segera meninggalkan tanda tapak tangan menghitam. Kain itu telah menjadi hangus di bagian gambar ini. Benar-benar menunjukkan betapa hebat dan berbahaya adanya Hek-tok-ciang!

"Hek-tok-ciang memang hebat dan lihai sekali," kata Ang Bin Hosiang memuji serta mengangguk-anggukkan kepalanya yang gundul kelimis. Kemudian ia menerima saputangan itu dan memasang kuda-kuda, kemudian sambil berseru keras kedua kakinya mengenjot tanah dan tubuhnya melayang ke atas, berjungkir-balik lalu melayang lagi ke atas, demikian sampai tiga kali sehingga ia tiba di depan menara di bagian atas sekali dekat puncak.

Tangannya yang memegang saputangan itu bergerak ke depan secepat kilat dan saputangan itu telah menempel pada batu karang, pinggirnya amblas tertekan oleh tangan hwesio itu yang tubuhnya kini sudah melayang turun kembali seperti seekor burung besar tanpa sayap.

Auwyang Tek dan hwesio-hwesio yang lain bertepuk tangan memuji, dan di lereng bukit itu bergema suara tepuk tangan mereka. Lee Ing sendiri bersembunyi sambil mengintai, diam-diam memuji karena perbuatan hwesio itu memang sukar sekali dilakukan dan tak sembarang orang dapat menirunya.

"Di puncak ini ada tiga batu karang seperti menara, baiknya ketiganya diberi tanda. Aku ingin mengukir telapak tanganku di puncak menara ke dua, entah apakah Oei Bin Losuhu suka menolongku? Aku sendiri melompat takkan sampai, merayap naik aku sanggup sampai ke puncak, akan tetapi sambil merayap tentu saja tak mungkin aku dapat mengerahkan tenaga mengecap pada batu karang."

Hwesio muka kuning tersenyum dan tahulah dia bahwa pemuda putera menteri ini sebetulnya hendak menguji kepandaian dia dan saudara-saudaranya. Ia mengangguk dan hwesio yang tidak biasa banyak bicara ini menjawab singkat, "Mari kongcu pinceng bawa naik."

Setelah berkata demikian, ia berdiri di dekat batu karang ke dua dan memberi isyarat kepada Auwyang Tek untuk berdiri di atas pundaknya. Auwyang Tek agak ragu-ragu karena mana mungkin orang merayap di atas batu karang itu sambil di pundaknya ditumpangi orang lain?

Membawa diri sendiri saja sudah amat payah dan harus memiliki Ilmu Pek-houw-yu-cong secara mahir. Ilmu Pek-houw-yu-cong adalah ilmu merayap seperti cecak bermain-main di atas tembok. Akan tetapi karena memang hendak menguji, tanpa berkata apa-apa ia lalu melompat ke atas pundak hwesio bermuka kuning itu.

Seperti juga saudaranya tadi, si muka kuning ini mengeluarkan seruan keras yang menggetarkan bukit, bahkan Auwyang Tek sendiri sampai merasa tubuhnya tergetar oleh seruan ini, kemudian hwesio itu mulai merayap naik dengan kedua kaki tangannya seperti cecak besar, dengan cepat sekali! Hebat tenaga lweekang hwesio muka kuning ini. Tanpa berkurang tenaganya, ia terus merayap naik ke atas sampai mencapai puncak menara ke dua itu.

"Berhenti di sini, losuhu!" kata Auwyang Tek yang cepat memukulkan telapak tangannya pada batu karang dengan menggunakan Hek-tok-ciang sampai batu karang itu berlubang dan tangannya meninggalkan bekas di situ.

"Turun ke bawah!" kata lagi Auwyang Tek dan hwesio muka kuning itu lalu merayap turun, lebih cepat dari pada tadi ketika naik. Padahal dalam mempergunakan Ilmu Pek-houw-yu-cong ini, turunnya malah lebih sukar dari pada naiknya.

Karena merasa tidak enak dipanggul terus, sepuluh kaki sebelum mencapai tanah, Auwyang Tek sudah melompat turun, diikuti oleh hwesio muka kuning itu yang tiba di atas tanah kembali dalam keadaan biasa, hanya jidatnya berpeluh sedikit. Kembali tepuk sorak menyambut demonstrasi kepandaian yang memang hebat ini.

Sekali lagi Lee Ing memuji dalam hati. "Kepala-kepala gundul ini benat-benar tak boleh dipandang ringan," pikirnya dalam hati dan ia mengeluh bahwa fihak Auwyang-taijin betul-betul mempunyai banyak tenaga kuat.

Hwesio ke tiga yang bermuka hitam, berjuluk Ouw Bin Hosiang, juga memperlihatkan kepandaiannya. Kali ini ia mendemonstrasikan kemahirannya bermain piauw (senjata yang ditimpukkan). Sehelai saputangan bercap jari tangan Hek-tok-ciang dilempar oleh Auwyang Tek ke udara, dan selagi saputangan itu melayang, Ouw Bin Hosiang menyusul dengan empat batang piauwnya berturut-turut.

Saputangan itu kena disambar piauw, melayang ke atas puncak batu karang ke tiga dan terpantek di puncak itu dengan rapinya. Piauw itu telah menancap di empat ujung saputangan seperti dipasangkan orang.

Setelah demonstrasi ini disambut tempik-sorak pula, Auwyang Tek tertawa bergelak, "Kepandaian sam-wi-losuhu (tiga bapak pendeta) benar mengagumkan. Dengan bantuan sam-wi-losuhu, pemberontak-pemberontak itu tentu lebih mudah dihancurkan I Ha-ha-ha-ha!"

Lima orang itu lalu melanjutkan perjalanan menuruni bukit sambil ketawa ketawa Hampir saja Lee Ing tak dapat menahan kesabarannya dan ingin ia melompat keluar memberi hajaran kepada Auwyang Tek yang amat dibencinya itu. Akan tetapi ia dapat menahan perasaannya. Tak perlu mencari permusuhan untuk urusan pribadi yang tidak ada artinya, demikian sering kali Han Sin memberi nasihat.

Boleh kita mengorbankan jiwa raga, akan tetapi itu hanya demi membela negara, rakyat, atau nama dan kehormatan. Musuh besar yang telah menganiaya ayahnya adalah Tok-ong Kai Song Cinjin seorang. Biarpun Auwyang Tek itu murid Tok-ong, namun pemuda ini tak pernah berurusan dengan ayahnya. Lee Ing tersenyum seorang diri dan merasa heran mengapa ia sekarang bisa berpikir panjang seperti ini. Gara-gara Han Sin, pikirnya.

Pemuda yang jujur dan berhati terlampau baik sehingga kadang-kadang amat lemahnya. Apakah akupun ketularan menjadi lemah hati? Lee Ing melompat keluar dari tempat pengintaiannya tadi, menghampiri batu karang pertama yang tinggi seperti menara itu. Dari bawah nampak saputangan putih yang ada bekas jari tangan atau telapak tangan Auwyang Tek. Hatinya panas.

"Hemmm, menempel benda itu sambil melompat ke atas bagiku apa sukarnya? Masa aku tidak bisa?" Ia mengerahkan tenaga, kedua kakinya menotol tanah dan tubuhnya melayang ke atas. Berbeda dengan gaya Ang Bin Hosiang yang tadi berpoksai (membuat salto) sampai tiga kali untuk mencapai puncak batu karang menara, kini Lee Ing menggerak-gerakkan kaki tangannya seperti orang berenang.

Aneh dan hebat, tiap kali kedua kakinya menjejak udara, tubuhnya mumbul makin tinggi. Akhirnya gadis yang luar biasa mi dapat mencapai saputangan dengan tangannya. Ia mengulur lengan kanan, menggunakan jari-jari tangannya menggurat dua kali dan diatas saputangan itu, tepat di atas cap tapak tangan, terdapat garis silang yang "mematikan" tapak tangan itu.

Lee Ing melayang turun lagi ke bawah dengan cara terjun, kepala di bawah kaki di atas. Sebelum membentur tanah, ia membalik dan dapat berdiri tegak bagaikan seekor burung dara melayang turun saja ringannya.

Menghadapi batu karang ke dua, diapun meniru perbuatan Ouw Bin Hosiang, merayap naik dengan enak dan cepat sekali ke atas, setelah sampai di puncak, ia memukulkan tangannya pada permukaan batu karang di mana terdapat tapak tangan Auwyang Tek. Permukaan batu karang itu hancur dan gambar tapak tangan itupun lenyap! Puas hatinya lalu merayap turun lagi dengan kecepatan luar biasa.

Saputangan bergambar tapak tangan di puncak batu karang menara ke tiga ia pukul robek-robek dengan sebuah batu dari bawah. Juga dalam menimpuk, gadis ini menandingi kepandaian Ouw Bin Hosiang!

Setelah melakukan tiga perbuatan ini, Lee Ing tertawa girang, lalu berlari-lari turun gunung seperti seorang anak yang nakal. Hatinya riang karena ia telah dapat merusak hasil kesombongan pemuda Auwyang Tek yang amat dibencinya itu. Karena ia ingin cepat-cepat mencari ayahnya, maka ia tidak inemperdulikan lagi kepada rombongan ini, malah ia menyusul dan mendahului mereka tanpa terjadi bentrokan yang hanya akan menghambat perjalanan.

Karena selalu menghindarkan diri dari bentrokan-bentrokan dengan fihak lawan, malah tidak mau melayani gangguan-gangguan orang jahat di perjalanan yang mengira dia seorang gadis lemah atau makanan empuk, Lee Ing dapat melakukan perjalanan cepat sekali.

Setelah melakukan perjalanan lama sampai berpekan-pekan, akhirnya gadis ini sampai juga di kota raja utara, Peking. Girang hatinya melihat daerahnya ini, bertemu muka dengan orang-orang utara, merasa berada di kampung halaman sendiri. Hatinya berdebar kalau ia ingat bahwa ia telah dekat dengan ayahnya yang tercinta.

Memang jauh berbeda keadaan di selatan dan di utara. Di utara, rakyat nampak hidup tenang, kaum tani yang bekerja di sawah nampak gembira. Di setiap dusun yang dilalui Lee Ing nampak aman tenteram, dan wajah orang-orang kelihatan terang dan ramah, tanda bahwa mereka merasa puas dengan keadaan hidup mereka.

Keadaan di kota raja sendiri amat ramai, penuh dengan para pedagang yang datang dari luar daerah membawa dagangan mereka yang beraneka warna. Kalau negara kuat rakyat hidup aman dan dapat mencurahkan seluruh perhatian kepada pekerjaan mereka dan perdagangan menjadi maju dan ramai, mendatangkan hasil berlimpah-limpah bagi semua orang, mendatangkan kemakmuran dan karena tidak ada yang kekurangan sandang pangan jarang muncul kejahatan.

Akan tetapi, sungguhpun di kota raja utara ini nampaknya ramai dan tenteram, bagi yang mengetahui, tempat ini penuh dengan mata-mata, baik mata-mata pemerintah Raja Muda Vung Lo, maupun mata-mata dari selatan yang dikirim oleh pemerintah Kerajaan Beng.

Lee Ing memasuki kota raja dengan wajah gembira dan kagum. Bangunan-bangunan yang besar dan megah membuat ia bengong karena di selatan tidak ada ia melihat bangunan-bangunan seperti ini. Memang mengenai bangunan, kota raja selatan kalah oleh bekas kota raja Bangsa Mongol ini. Megah dan hebat. Apa lagi sekarang, setelah Raja Muda Yung Lo yang berkuasa di situ, kota raja ini nampak makin makmur.

Kalau toh kelihatan pengemis-pengemis di kota raja ini, mereka ini adalah orang-orang malas yang terlalu terpengaruh oleh kebiasaan para pendeta hwesio yang suka berjalan minta-minta makanan dari rakyat seperti biasa mereka lakukan. Karena ingin sekali mendapat makanan tanpa bekerja inilah menimbulkan adanya pengemis-pengemis di kota besar itu.

Jadi bukan timbul pengemis karena kurang pangan. Memang ada orang-orang yang sudah demikian biasa dengan kehidupan mengemis sehingga bagi mereka inilah "pekerjaan" yang paling nikmat dan menyenangkan.

Lee Ing sedang enak berjalan mencari sebuah rumah penginapan ketika tiba-tiba seorang yang berpakaian pengemis menyeruduknya dari samping. Pengemis itu terhuyung karena kakinya tertumbuk batu, akan tetapi mata Lee Ing yang tajam dapat mengenal gerakan orang dan tahu bahwa pengemis ini hanya pura-pura saja jatuh.

Ia cepat menggeser kakinya agar jangan kena tubruk, akan tetapi dari dua tangan pengemis itu menyambar angin yang membuat baju Lee Ing tertiup menyingkap sehingga sekelebatan kelihatanlah pedang Li-Iian-kiam yang dililitkan di pinggangnya.

"Minta sedekah, nona... kasihani seorang pengemis...." orang itu berkata seperti biasanya orang-orang macam dia.

Lee Ing mendongkol. "Pergi kau, jangan mencari-cari urusan dengan aku!" Dengan marah gadis ini lalu membalikkan tubuh dan meninggalkan pengemis aneh itu.

Akan tetapi, dari jauh pengemis itu mengikutinya, sungguhpun hal ini ia lakukan seperti tidak disengaja. Lee Ing tidak perdulikan dia lagi. Melihat sebuah rumah penginapan yang kelihatan bersih dan rapi, Lee Ing lalu masuk memesan kamar. Kebetulan sekali ia mendapatkan sebuah kamar di atas loteng. Kamar itu kecil saja namun bersih menyenangkan.

Setelah memasuki kamar dan melihat dari jendela ke luar, kelihatan jalan raya di depan rumah penginapan itu dengan lalu-lintasnya berjalan hilir mudik di depan rumah penginapan, Lee Ing melihat lagi pengemis yang tadi berjalan terbongkok-bongkok.

Pengemis itu usianya belum begitu tua, paling banyak empat puluh tahun, bajunya compang-camping akan tetapi celananya masih baru. Jalannya bongkok-bongkok seperti orang menderita penyakit tulang punggung, akan tetapi matanya tajam mengerling ke arah rumah penginapan. Dengan hati sebal Lee Ing menurunkan tirai jendela.

Pelayan mengantar teh panas dan Lee Ing mulai bertanya. "Lopek, aku mencari seorang tuan muda bernama Siok Bun, putera dari Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui. Apakah kau tahu di mana dia tinggal?"

"Nona, di sini banyak sekali orang she Siok, bagaimana aku bisa tahu? Akan tetapi coba hendak kutanyakan kepada pengurus kepala, mungkin dia tahu."

'‟Kalau tidak tahu biarlah, aku akan mencari sendiri besok," jawab Lee Ing karena memang ia merasa lelah dan hendak beristirahat di dalam kamarnya sebelum ia keluar lagi mencari Siok Bun. Tentu saja ia tidak tahu bahwa pelayan itupun seorang di antara penyelidik yang tentu saja menjadi kaget mendengar nona ini mencari Siok Bun yang amat dikenalnya.

Ia merasa curiga dan memang tidak seharusnya ia memberitahukan tempat tinggal keluarga Siok kepada seorang yang belum diketahui keadaannya. Diam-diam dia memberi tahu kepada kepala penyelidik tentang pertanyaan nona ini hingga saat itu nama Lee Ing sudah dimasukkan daftar "tamu-tamu yang dicurigai."

Malam itu Lee Ing tidur nyenyak setelah berpekan-pekan ia melakukan perjalanan jauh sekali. Akan tetapi menjelang tengah malam ia bangun. Ada suara membangunkannya. Suara itu demikian perlahan dan tentu takkan terdengar oleh telinga orang biasa yang sedang tidur. Akan tetapi pendengaran Lee Ing amat tajam, perasaannya juga halus sekali.

Sedikit suara yang mencurigakan cukup membuat ia serentak bangun dan dalam detik-detik selanjutnya ia sudah tahu bahwa ada orang berada di aras genteng kamarnya. Betapapun pandai orang itu menggunakan ginkang sehingga jejak kakinya hampir tidak mengeluarkan bunyi, tetap saja tertangkap oleh pendengaran gadis itu.

Dengan tenang namun cepat sekali, Lee Ing menyambar pakaian luarnya, mengenakan pakaian dan terus melompat keluar jendela, sebelah tangan menyambar ujung genteng dan diayunnya tubuhnya itu melengkung ke atas genteng. Benar-benar gerakan yang amat indah, juga berbahaya, dilakukan di malam gelap itu.

"Bangsat pengecut jangan lari!" Lee Ing memaki dan terus mengejar, la tadi melihat bayangan dua orang berdiri di atas genteng.

Dua orang itu cepat sekali larinya, berloncat-loncatan dari genteng ke genteng rumah lain. Namun mereka kurang gesit bagi Lee ing yang cepat mengejarnya. Tiba-tiba Lee Ing sengaja mengurangi kecepatannya karena ia hendak mengetahui di mana sarang penjahat-penjahat ini yang sudah pasti tidak bermaksud baik malam-malam mengintai kamarnya. Ia hanya mengikuti dari belakang dan menjaga agar jarak antara dia dan mereka tetap dekat.

Ternyata dua bayangan orang itu membawanya ke sudut kota di mana terdapat beberapa bangunan besar. Mereka melompat ke atas genteng rumah yang besar dan tinggi dan hendak masuk ke dalam melalui wuwungan. Akan tetapi Lee Ing sudah melompat jauh dan menyerang mereka.

"Jangan lari!" bentaknya dan kedua tangannya melakukan serangan totokan yang hebat, la tidak mau menurunkan tangan maut, apa lagi ketika ia melihat bahwa mereka adalah orang-orang muda yang kelihatan gagah dan berpakaian seperti pakaian penjaga keamanan.

Dua orang itu cepat mengelak, namun ilmu menotok dari Lee Ing adalah lain dan pada yang lain. Bagaikan bermata, jari-jarinya mengejar terus sampai akhirnya dua orang itu roboh tak berkutik di atas genteng. Terdengar hiruk-pikuk di bawah genteng dan alangkah kaget hati Lee Ing ketika belasan orang melompat naik sedangkan di bawah genteng masih terdapat puluhan orang yang berpakaian seragam.

Kiranya ia dibawa ke sebuah markas penjaga keamanan! Makin tercenganglah ia melihat bahwa belasan orang yang melompat naik itu dipimpin oleh pengemis yang ia lihat siang tadi. Timbul marahnya. Masa datang-datang ia sudah diawasi seorang mata-mata dan malamnya ada yang mengintai kamarnya? Mereka menganggap dia orang apa?

"Bagus, kalian hendak mencari gara-gara dengan aku?" Lee Ing menggerakkan tangan kanan dan pedang Li-lian-kiam berada di tangannya.

"Kepung dan tawan dia. Gadis ini mencurigakan sekali!" teriak pengemis itu dengan nada memerintah. Sekarang mudah diduga siapa adanya pengemis ini. Pedang dan golok digerakkan ke atas mengancam Lee Ing. Gadis itu menggerakkan pedangnya seperti halilintar menyambar.

"Plak-plak-plak!!" Sebentar saja tiga pedang dan dua batang golok menempel di pedangnya dan tak dapat ditarik kembali. Selagi lima orang itu berkutetan hendak menarik kembali senjata mereka, Lee Ing mengerahkan tenaga menarik dan lima batang senjata itu terlepas dari pegangan mereka dan jatuh berkerincingan di atas genteng!

Akan tetapi para pengeroyok itu tidak menjadi gentar. Agaknya memang mereka sudah terlatih menghadapi orang-orang pandai. Mereka mendesak terus dan pengemis itu ternyata juga lihai. Dengan tiongkat besi ia sendiri maju mengeroyok Lee Ing. Gadis ini menggerakkan pedangnya dan "criiing!" tiga batang pedang pengeroyoknya somplak.

"Kepung rapat! Gadis ini lihai sekali pedangnya!" Pengemis itu berteriak lagi akan tetapi ia segera menjadi repot sekali karena kini Lee Ing mendesaknya. Ia mencoba untuk mempertahankan diri, akan tetapi tanpa dapat dicegah lagi lengan kanannya terluka. Cepat ia mundur dengan muka pucat sambil memegangi lengannya yang sudah terluka. Baiknya gadis itu tidak berniat membunuh, kalau demikian halnya tentu kulit perutnya yang pecah, bukan hanya kulit lengannya!

Selagi Lee Ing dikepung rapat, tiba-tiba berkelebat bayangan dan terdengar bentakan keras, "Semua mundur! Masa menghadapi seorang gadis harus mengeroyok seperti ini? Benar-benar memalukan sekali!"

Lee Ing memandang, orang yang baru datang itu memandang dan keduanya bengong. Apa lagi pemuda bertopi batok yang baru sampai ini. Ia berdiri tegak menatap wajah Lee Ing yang diterangi oleh cahaya obor yang dibawa oleh pasukan yang kini sudah memenuhi genteng. Ia ragu-ragu. Ingat-ingat lupa. Akan tetapi Lee Ing mana bisa lupa? Jarang ada pemuda tampan bertopi batok!

"Saudara Siok Bun apakah baik-baik saja?" tegur Lee Ing sambil tersenyum dan menyimpan kembali pedangnya.

"Aduh, tak salah lagi kiranya! Bukankah kau nona Souw Lee lng?" tanya pemuda itu yang bukan lain adalah Siok Bun, pemuda yang dulu dengan mati-matian membela Lee Ing dari tangan Mo Hun dan juga Yap Lee Nio.

Ketika dengan senyum manis Lee Ing tersenyum, Siok Bun lalu memutar tubuh dan membentak orang-orang itu, "Kalian ini tolol semua! Tamu agung datang tidak disambut dengan baik-baik malah kalian bersikap sangat keterlaluan dan memalukan!" Orang berpakaian pengemis itu menjadi pucat.

"Dia... dia mencurigakan.... dia bertanya-tanya tentang nama taihiap dan alamat Siok-ciangkun....!" Dia mencoba membantah.

"Goblok! Tentu saja dia menanyakan aku dan alamat ayah. Tak tahu kau siapa orangnya yang kalian keroyok ini? Dia puteri Souw-taihiap, tahu?"

Terdengar seruan di sana-sini dan semua orang cepat memberi hormat, didahului oleh pengemis itu yang berkata, "Souw-lihiap, mohon maaf sebesarnya kalau kami telah berlaku lancang dan kurang ajar."

"Tidak apa." jawab Lee Ing dengan senyumnya yang selalu siap di bibir, "betapapun juga, kalian telah membawa aku bertemu dengan saudara Siok Bun."

Gadis ini lalu membebaskan beberapa orang korban yang tadi telah dirobohkan dengan totokan. Kemudian ia melompat turun mengikuti Siok Bun yang mengajaknya memasuki ruangan dalam. Setelah berdua saja, Siok Bun bertanya girang, "Nona, benarkah kau datang mencari aku?" Lee Ing mengangguk, tidak tahu mengapa pemuda itu kelihatan luar biasa girangnya.

"Aku telah bertemu dengan ayahmu di selatan dan dia yang memesan supaya aku mencarimu di kota raja ini."

"Kau bertemu dengan ayah? Bagaimana dia? Baik-baik sajakah? Berhasilkah usahanya?"

"Ada sedikit gangguan, akan tetapi sekarang kiranya sudah bertemu dengan Bu-lohiap, diantar oleh saudara Liem Han Sin." Dengan singkat Lee Ing menceritakan pertemuannya dengan Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui.

"Dan keperluanmu ke utara ini?" tanya Siok Bun yang mendengarkan penuturan nona itu dengan hati penuh kegembiraan sambil menatap wajah yang jelita, wajah yang beberapa tahun yang lalu sudah membuat ia tergila-gila dan sekarang lebih-lebih memikat dan menjatuhkan hatinya.

"Aku minta kau antar aku ke tempat ayah."

Siok Bun mengangguk-angguk sambil mengerutkan keningnya. "Banyak sekali orang pihak musuh yang mencari ayahmu dengan maksud jelek. Kami yang amat menjunjung tinggi jasa-jasa ayahmu, tentu saja berusaha sedapat mungkin untuk melindunginya. Sayangnya ayahmu tidak suka berurusan dengan siapapun juga, hendak menyendiri saja dan selalu marah-marah kalau dibawa ke dalam benteng. Karena itu, untuk menyembunyikan dan menyelamatkannya dari kejaran orang-orang suruhan para durna di selatian.

"Terpaksa kami membawanya keluar kota dan atas permintaan ayahmu sendiri kami membuatkan sebuah perahu di mana ayahmu tinggal. Agaknya ayahmu gembira setelah tinggal dalam perahu di atas sungai. Selain itu, juga mata-mata musuh tidak ada yang pernah menduga bahwa ayahmu berada di tempat itu. Ayahmu sering bernyanyi-nyanyi dan yang disebut-sebut hanya namamu dan Namilana...."

Kedua mata lee Ing menjadi basah oleh air mala. "Ibuku...! Ayah sudah cukup lama menderita, sekarang aku hendak berusaha menghiburnya. Saudara Siok Bun, bawa aku ke sana!"

"Berangkat ke sana siang hari, amat tidak baik karena khawatir terlihat oleh mata-mata musuh. Pergi malam hari seperti sekarang, juga khawatir mengganggu ayahmu yang tentu masih tidur. Paling baik pergi pagi-pagi nanti, nona."

"Tidak, aku ingin pergi sekarang! Biar kita menanti sampai ayah bangun. Aku tidak sabar lagi," kata Lee Ing, suaranya penuh permintaan.

"Baiklah, aku selalu bersedia membantumu, nona! Mari kita berangkat."

Siok Bun memesan kepada para perwira di markas itu agar supaya lebih hati-hati menjaga keamanan, kemudian bersama Lee Ing ia berangkat keluar kota raja dari pintu gerbang sebelah utara. Penjaga pintu gerbang yang melihat pemuda ini, mengenalnya baik-baik dan cepat membuka pintu.

Diam-diam Lee Ing kagum. Pemuda ini masih muda namun sudah terkenal di antara para penjaga, benar patut menjadi putera seorang panglima seperti Siok Beng Hui. Di tengah perjalanan yang dilakukan biasa itu, Siok Bun menceritakan keadaan kota raja.

"Para durna mengirim orang-orang pandai untuk menyelidiki keadaan di sini, juga mereka selalu berusaha untuk mengetahui di mana adanya ayahmu," demikian antara lain ia betcerita.

"Mengapa mereka mencari ayah? Di kota ini apakah mereka juga berani bertindak sewenang-wenang dan berani menganggu ayah?"

"Kau tidak tahu, nona. Betapapun juga, daerah utara ini masih termasuk wilayah Kerajaan Beng yang pada waktu ini dikuasai oleh kaisar di Selatan. Kaisar telah kena dihasut oleh para durna sehingga beliau suka memberi surat keputusan bahwa ayahmu dinyatakan sebagai seorang pengkhianat dan pemberontak. Dengan surat keputusan itu, tentu saja orang-orang para durna itu berani menawan atau mencelakai ayahmu, dan para petugas di sini, bahkan raja muda sendiri mana berani melawan surat keputusan kaisar yang menjadi ayah?"

Lee Ing menarik napas panjang. "Menyebalkan sekali para durna itu! Membosankan sekali penghidupan di selatan yang penuh hawa nafsu dan kepalsuan itu. Kalau sudah selesai tugasku, aku akan mengajak ayah kembali ke utara, ke tempat kong-kong, di sebelah utara padang pasir Gobi..."

Lee Ing lalu menerbangkan lamunannya jauh ke tempat itu, tempat sunyi akan tetapi mengamankan hati di mana tidak terdapat kepalsuan-kepalsuan dan pertentangan-pertentangan seperti di daratan Tiongkok ini. "Di sini semua orang berhati jahat....." Tak terasa lagi ucapan ini keluar dari bibir Lee Ing.

Wajah pemuda itu menjadi pucat. "Betul tidak ada orang baik menurut pendapatmu?"

Lee Ing baru sadar bahwa dia bicara keterlaluan. Bukankah orang-orang Tiong-gi-pai itu baik-baik, juga orang-orang seperti Siok Beng Hui, apa lagi Oei Siok Ho, amat baik? Masih ada lagi Liem HanSin dan pemuda ini. Tidak tahu mana yang lebih baik, akan tetapi menurut suara hatinya, yang paling baik tentu saja Siok Ho!

"Maaf, saudara Siok Bun. Tentu saja tidak semua, maksudku banyak terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan, kepalsuan-kepalsuan yang membikin jemu hatiku di selatan sini. Memang banyak kujumpai orang-orang baik, di antaranya.... kau sendiri dan ayahmu."

Wajah Siok Bun menjadi merah sekarang, akan tetapi oleh karena udara hanya diterangi bintang-bintang, perubahan warna pada kulit mukanya ini tidak terlihat oleh Lee Ing. Akhirnya sampai juga mereka di pinggir sungai yang dimaksudkan itu. Benar saja, di tengah sungai terdapat sebuah perahu besar yang diam tak bergerak. Penghuninya agaknya membuang jangkar di tengah sungai. Tidak ada penerangan pada perahu itu.

"Siapa itu?" tiba-tiba terdengar teguran dan dua orang muncul dari sebuah perahu kecil yang berada di tepi sungai. Mereka ini membawa pedang di tangan.

"Aku orang sendiri!" jawab Siok Bun mendekat.

"Ah, kiranya Siok-taihiap!" kata seorang di antara mereka yang ternyata merupakan penjaga-penjaga yang diberi tugas mengawasi perahu Souw Teng Wi itu.

"Semua aman? Tidak ada sesuatu yang mencurigakan?" tanya Siok Bun.

"Aman dan tidak ada apa-apa," jawab mereka.

"Baik, pergilah kalian meronda, biar aku yang berada di sini," kata pula pemuda itu. Dua orang penjaga itu lalu naik ke dalam perahu mereka dan mendayung perahu itu untuk meronda, yaitu mengitari perahu di tengah sungai itu.

"Hemm..., mereka baru bangun tidur," kata Lee Ing tak puas. "Apakah hanya mereka berdua yang melakukan penjagaan?"

"Betul, nona. Bukan untuk menjaga keselamatan, hanya untuk segera melapor apa bila terjadi hal-hal yang mencurigakan. Di sini termasuk daerah terlarang, bahkan para nelayanpun tidak ada yang berani lewat di sini."

Lee Ing duduk di atas akar pohon yang banyak tumbuh di pinggir sungai. Hatinya tidak puas. Ayahnya seorang yang memiliki kepandaian tinggi, masa hanya dijaga oleh dua orang yang tidak ada gunanya seperti tadi? Lebih baik tidak dijaga, ayahnya mampu menjaga diri sendiri.. Akan tetapi tentu saja ia tidak mau menyatakan suara hatinya ini kepada Siok Bun yang juga sudah duduk di atas akar pohon.

"Aku sering kali duduk di sini mendengarkan suara ayahmu bernyanyi," kata pemuda itu memecah kesunyian malam.

"Bernyanyi?" tanya Lee Ing heran, juga terharu.

"Ya, suara ayahmu tidak merdu, lagunya juga tidak menarik. Akan tetapi kata-katanya amat mengagumkan, penuh semangat perjuangan. Ayahmu benar-benar seorang pahlawan besar, sampai dalam keadaan seperti itupun masih bersemangat. Sering kali aku mendengarnya dan hanya satu lagu yang amat meresap di hatiku, sampai-sampai aku hafal kata-katanya."

"Lagu apakah itu?" tanya Lee Ing tertarik, karena pemuda ini begitu memperhatikan ayahnya.

"Dengarkan aku hendak menyanyikannya seperti yang dinyanyikan oleh ayahmu," kata Siok Bun yang bangkit berdiri tegak, membuka dada membusung ke depan, lalu bernyanyi. Suara pemuda ini nyaring dan merdu, akan tetapi Lee Ing tidak memperhatikan suaranya saking terpesona oleh kata-kata lagu itu.

"Berjuang mempertaruhkan nyawa.
Demi membela nusa dan bangsa!
Isteri pujaan menanti di utara.
Bersama seorang puteri ataukah putera?
Namilana, dewi pujaan kalbu...
Masih ingatkah kau akan daku...?
Mengapa kau tidak datang mencariku?
Di mana kau... di mana kau Namilana isteriku?"


Tak tertahan lagi Lee Ing menutupi mukanya dengan tangan dan menangis tersedu-sedu mendengar nyanyian yang dinyanyikan oleh Siok Bun Ini. Ia hafal benar akan kata-kata ini, kata-kata yang diukir oleh ayahnya pada dinding batu dalam Gua Siluman. Sajak yang merupakan jerit hati ayahnya.

Sampai tergoncang-goncang pundak Lee Ing ketika ia menangis. Ia menahan-nahan sedapat mungkin, namun suara nyanyian Siok Bun demikian menusuk kalbunya, seakan-akan dengan nyanyian itu, Siok Bun telah dapat menggambarkan betapa keadaan ayahnya yang amat sengsara. "Ayah... alangkah besar penderitaanmu...." Ia bersambat.

Tiba-tiba sebuah tangan yang halus diletakkan di atas pundaknya. Ia kaget, menoleh dan melihat Siok Bun memandang kepadanya dengan wajah aneh. Lebih aneh lagi suara Siok Bun yang sekarang berkata dengan perlahan itu terdengar gemetar,

"Nona Lee Ing... jangan kau berduka... aku... aku tak tahan melihat kau menangis. Jangan bersedih, di dunia ini masih ada aku yang selalu bersiap melindungimu, hidupku ini kalau perlu.... kusediakan untuk kepentinganmu, nona."

Seketika itu juga Lee Ing sadar dari keadaannya yang sedih, ia bangkit serentak seperti kena siram air dingin. Matanya terbelalak memandang kepada Siok Bun. "Saudara Siok Bun! Apa.... apa maksudmu dengan kata-kata itu?"

Siok Bun terpukul hatinya, mukanya menjadi merah sekali dan ia berkata sambil menundukkan mukanya. "Maaf.... aku telah berlaku lancang dan mengeluarkan kata-kata kurang sopan. Apa hendak dikata kalau aku memang suka kepada nona dan hatiku penuh dengan haru dan iba? Apa dayaku kalau aku tertarik oleh diri nona, kalau aku selalu membayangkan wajah nona semenjak kita berjumpa beberapa tahun yang lalu? Maafkanlah, tidak semestinya aku mengeluarkan semua ini. Kalau aku menyinggung hatimu harap kau maafkan dan aku berjanji selamanya takkan mengulanginya lagi."

Lee Ing memandang dengan muka sebentar merah sebentar pucat. Celaka tiga belas, pikirnya. Jadi pemuda inipun jatuh cinta kepadanya? Pemuda ini baik sekali dan ucapannya yang terakhir itu mengharukannya.

"Saudara Siok Bun, harap kau kasihani aku dan jangan bicara lagi soal itu. Aku ingin bertemu dengan ayah, kemudian aku ingin membalaskan sakit hati ayah yang telah dibuat sedemikian sengsara oleh orang-orang jahat. Yang lainnya aku tidak mau pikirkan... yakni.... setidaknya... pada waktu sekarang ini."

Berseri wajah Siok Bun. Hatinya lega bukan main. Tadinya ia sudah siap menerima caci-maki dari gadis itu. Tidak disangka gadis itu tidak marah, malah kalau dipikirkan secara mendalam, ia masih ada harapan. Gadis itu bilang bahwa pada waktu sekarang ini tidak mau memikirkan tentang hal lain, atau jelasnya tentang cinta, jadi dapat diartikan bahwa lain waktu atau kelak akan memikirkannya. Inilah logika pemuda yang mabok asmara. Sedikit kata-kata, sedikit senyum, sekilas kerling, sudah diterima dan diartikannya sebagai seribu janji.

Malam mulai menghilang, terganti fajar menyingsing di ufuk timur. Sinar-sinar pertama dari matahari mengusiri sisa-sisa kegelapan malam. Pergumulan antara cahaya terang berkilat dengan kegelapan menghitam tercermin di permukaan air sungai, menimbulkan pemandangan yang gaib.

Burung-burung yang tak pernah malas untuk bangun pagi-pagi sekali itu mulai berkicau, siap-sedia menempuh kehidupan sehari itu dengan sikap gembira dan besar hati, sungguhpun besar kemungkinan mereka takkan mendapatkan makanan cukup untuk hari itu.

Tiada pemikiran tentang hari depan, tiada kekhawatiran, tak pernah diganggu oleh tujuh perasaan nafsu seperti manusia, karenanya hidup bebas lepas, bergerak sesuai dengan kehendak yang menciptanya, itulah burung! Karena selalu nampak gembira.

Pantas saja penyair besar The Sun pernah menyatakan keinginan hatinya untuk berubah menjadi burung. Agaknya ia membuat syair itu setelah melihat burung-burung di waktu pagi, apa lagi di dekat sungai seperti itu. Akan tetapi, dua orang muda yang duduk di tepi sungai, Lee Ing dan Siok Bun, agaknya tidak memperhatikan keindahan pagi hari seperti penyair The Sun. Yang menjadi pusat perhatian mereka hanyalah perahu besar yang terapung di tengah sungai.

"Biasanya ayahmu bangun pagi-pagi sekali dan mulai mendayung perahunya itu ke sana ke mari, kadang-kadang menjala ikan, kadang-kadang kalau lagi senang hatinya malah mengajak penjaga main catur sambil menikmati hidangan ikan bakar dan arak. Mengapa sekarang sunyi saja? Apakah beliau masih tidur?"

"Mari kita ke sana, itu ada perahu kosong," kata Lee Ing sambil menunjuk ke sebuah perahu penjaga yang kosong. Memang di situ terdapat beberapa buah perahu yang disediakan untuk para penjaga.

"Biasanya Souw-taihiap tidak suka diganggu. Kalau beliau menghendaki adanya hubungan dengan orang lain, ayahmu itu suka mendayung perahunya menghampiri. Kalau diganggu suka marah. Pernah dua orang penjaga dipukul dan dilempar ke dalam air karena berani mendatangi perahunya."

"Kasihan, karena sering kali difitnah dan dicurangi orang jahat, menjadi penuh kecurigaan terhadap orang lain. Biar aku yang menghampiri perahunya. Padaku dia takkan marah."

"Nanti dulu, nona." Siok Bun mencegah penuh kekhawatiran. "Ayahmu berbahaya sekali kalau sedang marah, dan dia itu lihai bukan main. Lebih baik aku yang memanggilnya dari sini."

Pemuda itu lalu mengerahkan tenaga menggunakan khikang memekik keras, "Souw-locianpwe....! Disini aku Siok Bun mohon bertemu...!!"

Teriakan ini bergema sampai jauh, akan tetapi keadaan tetap sunyi. Tak ada jawaban apa-apa dan suara burung-burung yang tadi berkicau gembira menjadi sirap, agaknya terkejut dan takut akan pekik manusia yang amat nyaring tadi.

"Heran, biasanya pagi-pagi sekali ayahmu sudah bangun..." Siok Bun menggerutu dan hatinya mulai tidak enak.

Melihat perahu panjang sudah bergerak mendekat lagi setelah melakukan perondaan, ia memberi isyarat memanggil. Dua orang penjaga itu mempercepat gerakan perahu yang mereka dayung sekuat tenaga menuju ke tempat dua orang muda itu. Sekarang kelihatan tegas wajah mereka, dua orang muda yang kelihatan kuat dan gagah, hanya mata mereka agak kemerahan karena mengantuk.

"Apakah tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan semalam?" tanya Siok Bun setelah mereka melompat ke darat dari perahu mereka yang diseret ke pinggir.

"Tidak Siok-taihiap. Sunyi-sunyi saja tidak ada sesuatu yang mencurigakan."

"Hemm, justeru aku curiga karena terlalu sunyi. Bukankah biasanya Souw-locianpwe sudah bangun pagi-pagi sekali?" kata pemuda itu sambil memandang ke tengah sungai di mana perahu Souw Teng Wi itu bergerak-gerak keterjang ombak kecil. Dua orang itu kelihatan kaget dan pucat. Agaknya baru sekarang mereka melihat keganjilan ini.

"Betul, biasanya pagi-pagi sudah bangun dan bernyanyi-nyanyi," kata mereka.

"Tolol kalian!" Siok Bun memaki.

Akan tetapi Souw Lee Ing sudah tidak sabar lagi. "Aku hendak melihat ke sana!" katanya dengan suara agak gemetar, la gelisah kalau-kalau terjadi sesuatu dengan ayahnya. Cepat ia melompat ke dalam perahu penjaga-penjaga tadi.

"Mari kutemani!" kata Siok Bun yang cepat melompat pula.

Mereka mendayung kuat-kuat dan sebentar saja perahu kecil mereka sudah menempel pada perahu besar Sduw Teng Wi. Tanpa ragu-ragu lagi Lee Ing melompat ke atas perahu ayahnya, diikuti oleh Siok Bun yang terheran-heran menyaksikan kegesitan dan keringanan tubuh gadis itu. Alangkah banyaknya kemajuan yang diperoleh gadis itu, pikirnya. Juga ketika ia menyaksikan sepak terjang Lee Ing dikeroyok oleh para perajurit di benteng, ia sudah terheran-heran.

Akan tetapi oleh karena para pengeroyok itu memang hanya memiliki ilmu kepandaian lumayan saja, hal itu tidak dianggapnya luar biasa. Ia hanya mengira bahwa selama ini puteri Souw-taihiap itu tentu telah memperdalam kepandaiannya. lapun cepat mengikuti Lee Ing, melompat ke atas perahu sambil membawa tambang yang diikatkan pada kepala perahunya sendiri. Sampai di atas ia mengikatkan ujung tambang pada pinggiran perahu besar itu.

Lee Ing sementara itu sudah menghampiri ruangan perahu dan melongok ke dalam. Ia mengharapkan melihat ayahnya masih terbaring tidur di bawah atap peiahu yang amat sederhana itu, akan tetapi ia menjadi melongo. Wajahnya pucat. bibirnya gemetar dan sepasang matanya nampak kaget, duka dan kecewa. Tempat itu kosong, tidak ada seorangpun manusia di dalamnya!

Siok Bun yang juga sudah melongok ke dalam, mengeluarkan seruan kaget. "Celaka...! Ke mana perginya Souw-locianpwe?" katanya.

Lee Ing tiba-tiba memutar tubuhnya menghadapi Siok Bun dan mencabut pedangnya, membuat pemuda itu kaget bukan main. "Di mana ayah?" bentak Lee Ing. "Kau, ayahmu dan orang-orang kota raja sini bertanggung jawab atas keselamatan ayah! Di mana kalian menyembunyikan ayah?"

Siok Bun maklum bahwa gadis ini karena duka dan gelisah melihat ayahnya tidak berada di situ, menjadi naik darah. Ia menarik napas dan berkata halus, "Nona Souw, ayahmu seorang yang tinggi ilmunya, mana bisa kami paksa dia bersembunyi? Kami hanya bisa menjaga dan mengamatinya, akan tetapi menjaga seorang selihai ayahmu benar-benar tidak mudah. Memang para penjaga kami yang bersalah sampai tidak melihat ayahmu meninggalkan perahu, akan tetapi dengan kepandaian yang dimiliki ayahmu, apa sukarnya pergi tanpa diketahui oleh para penjaga?

"Harap nona bersabar dan jangan menyangka yang bukan-bukan. Kami amat menghargai ayahmu dan bermaksud sedapat mungkin melindunginya, sungguhpun perkataan melindungi ini kurang tepat mengingat bahwa ayahmu adalah seorang yang tak membutuhkan perlindungan karena memiliki kepandaian tinggi. Kukira sekarang dia hanya pergi karena bosan berada di sini."

Melihat sikap Siok Bun, Lee Ing menjadi lebih sabar. Ia melompat ke dalam ruangan itu dan matanya memandang ke sekitar kamar. Tiba-tiba ia mengeluarkan seruan kaget, demikian pula siok Bun ketika melihat ada tanda tapak tangan hitam di dinding ruangan itu.

"Bedebah she Auwyang! Jadi kaukah yang telah menculik ayah?" Lee Ing berteriak marah, teringat kepada Auwyang Tek yang juga melakukan perjalanan ke utara dikawani oleh Bu Lek Hwesio dan Hu-niu Sam-lojin.

Akan tetapi, dia telah meninggalkan mereka itu di tengah perjalanan, masa mereka sudah mendahuluinya sampai di sini? Siok Bun adalah seorang pemuda yang teliti, la sudah pernah bertempur melawan Auwyang Tek, bahkan sudah pernah merasa kehebatan Hek-tok-ciang. Melihat tapak tangan di atas dinding itu, ia menarik sebuah meja dan melompat ke atasnya untuk melihat tanda itu lebih dekat lagi.

Setelah melihat dengan teliti, ia menggunakan telunjuknya meraba-raba permukaan dinding yang dinodai oleh gambar itu dan berkata. "Nona Souw, menurut pendapatku ini bukan tapak tangan Hek-tok-ciang Auwyang Tek! Biarpun dilakukan dengan pukulan Iweekang yang hebat bukan main, namun hitamnya karena hangus, bukan karena racun Hek-tok-ciang."

"Dia manusianya atau bukan, bagiku sama saja. Ayah telah lenyap tak berbekas dan ini terjadi di daerah utara yang katanya aman terlindung! Ah, aku menyesal sekali!" Tak tertahan lagi Lee Ing mengusap air mata yang menitik turun dari matanya.

Dapat dibayangkan betapa marah dan kecewanya, juga gelisahnya. Jauh-jauh ia menjelajah dari selatan ke utara untuk menemui ayahnya. Siapa tahu begitu ia tiba di tempat ayahnya, orang tua itu hilang secara penuh rahasia dan aneh!

"Aku menyesal sekali, nona. Akan tetapi aku bersumpah akan mencari ayahmu sampai dapat, biar untuk itu aku harus berkorban jiwa!" Kata-kata yang bersemangat dari pemuda ini kembali agak menghibur hati Lee Ing.

Membuat gadis ini teringat bahwa tidak selayaknya kalau dia menyalahkan sebab kehilangan ayahnya kepada pemuda ini atau, siapapun juga yang berada di sini. Ia tahu bahwa orang-orang utara ini bersama Tiong-gi-pai yang menyelamatkan ayahnya dari tangan Tok-ong Kai Song Cinjin dan kawan-kawannya, dan tahu pula bahwa tak mungkin kalau orang-orang utara menyembunyikan ayahnya dengan jalan kekerasan karena ia maklum bahwa ayahnya masih tidak beres ingatannya.

Kehendak ayahnya sendiri untuk hidup di atas sungai dan Siok Bun sudah menaruh penjaga-penjaga. Akan tetapi apa sih artinya penjaga-penjaga macam itu? Dan juga, seperti yang dikatakan oleh Siok Bun tadi, siapa tahu kalau ayahnya memang sengaja pergi dari situ dan tidak ada yang menculiknya? Akan tetapi tanda tapak tangan itu? Tak mungkin ayahnya yang membuatnya. Untuk apa?

"Tanpa tenaga Hek-tok-ciang, kiranya orang macam Auwyang Tek tak dapat melakukan pukulan yang menghanguskan dinding. Akan tetapi siapa tahu? Selain bangsat she Auwyang itu, siapa lagi yang sudi meninggalkan tanda tapak tangan hitam? Saudara Siok Bun, maafkan semua sikapku tadi. Aku tidak seharusnya mencurigaimu. Biarlah aku akan mencari ayah dan terima kasih atas kesediaanmu tadi. Sampai bertemu lagi!" Gadis itu berkelebat keluar dan nampaknya seperti hendak menceburkan diri ke dalam air, karena melompat begitu saja ke air.

Siok Bun cepat mengejar dan ia menjadi melongo melihat Lee Ing sudah jauh meninggalkan perahu besar, mendayung perahu kecil tadi dengan kecepatan yang sukar dipercaya. Hebat, pikirnya. Kiranya Lee Ing juga sudah mendapat kemajuan luar biasa. Gerakannya tadi, dan cara dia mendayung itu berlipat ganda kalau dibandingkan dengan dahulu.

Ia hanya dapat melihat betapa gadis itu sudah sampai di darat, melompat dan berkelebat menghilang. Ia berdiri bengong sampai beberapa lama, merasa menyesal sekali mengapa hanya demikian pendek waktu pertemuannya dengan gadis yang sudah merampas hatinya, dan lebih menyesal lagi mengapa kebetulan terjadi hal yang amat tidak menyenangkan, yaitu kehilangan Souw-taihiap.

"Dasar aku yang sial," gerutunya seorang diri. "Akan tetapi jangan kau khawatir, Lee Ing. Aku akan mencari Souw-locianpwe sampai dapat, biar ke neraka sekalipun, akan kukejar!"

Dengan gemas Siok Bun lalu memekik memberi tanda kepada para penjaga untuk datang membawa perahu kecil, dan maki-makian sudah siap di bibirnya bagi para penjaga yang dianggapnya kurang hati-hati dan tolol itu, Setelah memaki-maki para penjaga yang ternyata sama sekali tidak tahu akan lenyapnya Souw Teng Wi, hari itu juga Siok Bun meninggalkan kota untuk mencari jejak Souw Teng Wi. Ia tidak menanti kedatangan ayahnya, hanya memberi tahu akan maksudnya kepada ibunya.

Ibunya, Ang-lian-ci Tan Sam Nio, mengerutkan kening dan menggeleng-geleng kepalanya. "Kenapa kau tidak mengajak nona Souw datang menjumpai aku? Sekarang, setelah Souw-taihiap lenyap tanpa meninggalkan bekas, kau hendak mencari kemanakah? Siok Bun, kau tahu betapa lihainya orang-orang yang menghendaki nyawa Souw-taihiap. Kalau Souw-taihiap sendiri sampai terculik, kau akan berdaya apakah? Bukankah itu berarti mencari kecelakaan sendiri? Lebih baik menanti kembalinya ayahmu..."

Jilid selanjutnya,
PUSAKA GUA SILUMAN JILID 23