Pusaka Gua Siluman Jilid 19

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Pusaka Gua Siluman Jilid 19
Sonny Ogawa

Pusaka Gua Siluman Jilid 19, karya Kho Ping Hoo - TADINYA bocah ini mengira bahwa di dunia hanya ayahnya yang paling hebat dan tidak ada yang akan dapat menangkan ayahnya. Baru sekarang ia melihat orang yang dapat menandingi ayahnya dan orang itu hanya seorang gadis muda!

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Memang Ciong Thai amat mengabaikan anaknya ini sehingga boleh dibilang-bocah ini tidak pernah tahu apa-apa, tidak diberi tahu tentang segala sesuatu. Pendidikan satu-satunya dari Ciong Thai hanyalah ilmu silat yang ia ajarkan kepada puteranya itu sewaktu-waktu. Kalau saja ia lebih memperhatikan nasib anaknya, tentu ia akan melihat bahwa sebetulnya bocah ini memiliki bakat yang besar sekali.

"Nona selain cantik juga lihai, cocok sekali dengan paman...." bocah gundul itu berkata sambil matanya terbelalak memandang Lee Ing.

"Swi Kiat, masuk kau...!" terdengar seruan nyonya Ciong.

Swi Kiat bocah gundul itu meleletkan lidah memandang ke arah dalam, akan tetapi agaknya ia sudah biasa dengan perintah dan teguran ibu tirinya yang tidak boleh dibantah, maka ia-pun bangkit berdiri dan masuk setelah melempar kerling dan senyum main-main ke arah Lee Ing.

Melihat ini timbul rasa kasihan dalam hati Lee Ing terhadap bocah itu. la sudah dapat menduga sebagian besar dari keadaan anak ini. Akan tetapi pada saat itu ia lebih memperhatikan Han Sin yang dianggapnya bersikap aneh sekali. Begitu melihat di situ tidak ada orang lain lagi, Lee Ing segera membuka mulut menegur,

"Liem-twako, kau ini bagaimana sih...?" Tanpa disadari, sekarang Lee Ing tidak lagi menyebut saudara Liem, melainkan menyebut twako (kakak), sebutan yang membuat hati Han Sin berdebar bangga dan girang.

"Dan kulihat orang she Ciong itu menderita luka dalam atau racun yang amat hebat, mengapa sikapnya begitu aneh dan apa pula artinya segala tangis-tangisan tadi?"

"Duduklah, nona Souw. Memang amat membingungkan kalau kau belum mendengar duduk perkaranya. Tadipun aku sendiripun bingung sebelum mendengar penuturan mereka."

Lee Ing duduk menghadapi Han Sin dan pemuda itu mulai menuturkan pengalamannya semenjak tadi berpisah dengan nona ini. Ketika mereka berdua mengejar Ciong Swi Kiat si bocah gundul. Han Sin sudah mempunyai dugaan bahwa bocah itu tentulah anak atau murid orang sakti. Oleh karena ia sedang bertugas menghubungi dan menarik bantuan orang-orang sakti di daerah selatan.

Maka ia mencegah Lee Ing melukai bocah itu, kemudian ia mengejar Lee Ing yang jauh meninggalkannya. Ketika ia memasuki hutan lebat, tiba-tiba muncul Bu-eng-sin-kiam Giam Loan dan dua orang pembantunya, yaitu Thio Sam dan Ho Kai Beng. Tiga orang ini mengambil sikap mengancam, akan tetapi Han Sin tenang-tenang saja.

"Siapa kau dan mengapa kau berani sekali menghina Ciong-kongcu?" bentak Ho Kai Beng yang memegang gembolan dengan muka galak.

Han Sin dapat menduga bahwa mereka ini tentulah kawan-kawan bocah gundul tadi, maka ia menjura sambil menjawab, "Kalau sam-wi (tuan bertiga) maksudkan anak kecil gundul tadi, siauwte mengharap banyak maaf. Justeru siauwte hendak menemui sam-wi untuk menghaturkan maaf dan memberi penjelasan agar jangan timbul salah mengerti. Siauwte Liem Han Sin murid Im-yang Thian-cu dan siauwte datang ke daerah ini sengaja hendak mencari persahabatan dengan orang-orang gagah di daerah selatan."

"Siapa mau bersahabat dengari kau?" Ho Kai Beng yang berangasan membentak dan sepasang gembolannya bekerja, menyerang dada dan kepala Han Sin dengan hebat.

Han Sin kaget sekali. Serangan itu hebat benar. Baiknya ia sudah siap dengan kipasnya, maka cepat ia mengelak sambil mengebutkan kipas menangkis. Serangan Ho Kai Beng gagal, cara baik-baik," kata Han Sin karena memang sesungguhnya ia tidak menghendaki pertempuran dan permusuhan.

Akan tetapi tanpa menjawab, saking penasaran, Ho Kai Beng menyerang terus secara bertubi-tubi, mendesak Han Sin. Dua orang temannya hanya berdiri menonton saja. Karena serangan-serangan orang kasar ini memang berbahaya dan tidak boleh dipandang ringan.

Han Sin terpaksa melakukan perlawanan dengan sepasang senjatanya. Dia juga masih muda, tentu saja dia tidak bisa mengalah terus-terusan, apa lagi terhadap lawan yang memiliki kepandaian tinggi. Di lain saat mereka sudah bertempur seru.

"Kai Beng, berhenti!" tiba-tiba Bu-eng sin-kiam Giam Loan berseru keras dan benar-benar suaranya berpengaruh sekali karena si pemegang gembolan itu cepat melompat mundur dan menahan sepasang senjatanya Han Sin juga tidak mau mendesak, hanya bersiap sedia sambil memandang tajam kepada wanita muda berwajah manis yang kini melangkah maju menghadapinya.

"Kau murid Im-yang Thian-cu?" tanya wanita itu, suaranya halus akan tetapi sikapnya keren. "Mau apa kau memasuki daerah ini?"

Han Sin menjura dan berkata, "Aku adalah utusan Tiong-gi-pai untuk mencari hubungan dengan orang-orang gagah di daerah selatan yang tidak sudi menyaksikan rakyat ditindas oleh menteri-menteri durna."

Giam Loan menatap tajam dan penuh perhatian kepada wajah pemuda yang gagah dan tampan itu. Mata bersinar-sinar dan alisnya berkerut, akhirnya ia berkata, "Bagus, kalau begitu mari kau bertemu dengan suamiku, Sin-jiu Ciong Thai. Sudah pernah mendengar namanya?"

Han Sin terkejut. Tentu saja ia sudah pernah mendengar nama ini, yang pernah disebut-sebut oleh gurunya sebagai seorang tokoh Hek-to yang berilmu tinggi, tokoh Ching-pai (Partai Bersih) maupun Sia-pai (Partai Kotor) yang berilmu tinggi, sebaiknya jangan sampai terpengaruh oleh Tok-ong Kai Song Cinjin dan mengabdi kepada durna-durna, pikir Han Sin. Biarpun dalam faham kepartaian berbeda faham, namun dalam mengabdi bangsa dan rakyat harus satu hati.

"Kebetulan sekali," jawabnya, "sudah lama siauwte mendengar nama besar Ciong-enghiong disebut-sebut oleh suhu. Tentu saja siauwte suka sekali menghadap untuk memberi hormat."

Demikianlah, Han Sin lalu diajak masuk ke dalam hutan. Thio Sam dan Ho Kai Beng memegang kedua lengannya di kanan kiri atas perintah Giam Loan. Diperlakukan begini, Han Sin tidak membantah karena selain maklum bahwa ia menghadapi orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, juga ia percaya bahwa andaikata terjadi apa-apa dengan dirinya, tentu "Dewi Pelindungnya." yaitu Souw Le Ing, tidak akan berpeluk tangan.

Di sepanjang jalan ia telah mendengar sedikit tentang keadaan tokoh besar lembah Yang-ce-kiang itu dan ketika ia bertemu dengan Ciong Thai sendiri, ia segera memberi hormat dan berkata, "Siauwte Liem Han Sin menghaturkan hormat kepada Ciong-enghiong dan membawa salam dan hormat para sahabat dari Tiong-gi-pai."

Ciong Thai mengangguk dan mempersilahkan duduk tamunya itu sambil mendengar bisikan-bisikan isterinya yang bicara di dekatnya perlahan sekali. Mereka berdua memandang kepada Han Sin penuh perhatian, kemudian Ciong Thai berkata, "Liem-hiante dari Tiong-gi-pai datang ke sini ada keperluan apakah? Sepanjang ingatanku, kami belum pernah berhubungan dengan Tiong-gi-pai."

Han Sin lalu menceritakan bahwa setelah menjadi kaisar di Nan-king, pahlawan dan pejuang rakyat Cu Goan Ciang lalu menjadi lemah dan mudah dipengaruhi para menteri durna sehingga nasib rakyat tidak lebih baik dari pada ketika dijajah oleh pemerintah Mongol. Juga menteri-menteri durna itu memusuhi orang-orang gagah bekas pejuang, malah pahlawan besar Souw Teng Wi juga diperlakukan secara keji dan tidak adil.

"Oleh karena itu, demi penderitaan rakyat, Tiong-gi-pai dibentuk dan didirikan untuk membasmi para durna. Sayang sekali para menteri durna itu kedudukannya amat kuat, malah sekarang dibantu oleh orang-orang seperti Tok-ong Kai Song Cinjin, Toat-beng-pian Mo Hun, Ma-thouw Koai-tung Kui Ek, dan lain lain. Siauwte mendapat tugas dari Tiong-gi-pai untuk menghubungi orang-orang gagah termasuk Ciong-enghiong, mohon bantuan semangat, kalau mungkin tenaga apa bila kelak tiba masanya kekuasaan yang menindas rakyat itu ditentang."

Selanjutnya Han Sin lalu menceritakan apa yang lelah terjadi, tentang bentrokan-bentrokan antara orang-orang menteri durna dan Tiong-gi-pai.

"Malah sekarang siauwte datang bersama puteri pahlawan besar Souw Teng Wi, sayangnya tadi terpisah dari siauwte (saya yang muda)," demikian kata-kata penutup Han Sin.

Ciong Thai memberi isyarat kepada kedua orang pembantunya. Thio Sam dan Ho Kai Beng. "Keluarlah kalian, sambut kedatangan puteri Souw Teng Wi dan coba sarnpai di mana kelihaiannya."

Setelah dua orang itu pergi keluar, ia berkata kepada Han Sin, "Tidak ringan apa yang kau minta itu, apa lagi di sana ada Tok-ong Kai Song Cinjin yang bukan tidak berkepandaian dan berpengaruh. Akan tetapi kami tidak akan keberatan memenuhi permintaanmu asalkan ada imbangannya. Kamipun sekarang ini sengaja mengundangmu ke sini dari dalam hutan untuk minta pertolonganmu. Apakah kau suka membantu kami?"

"Tentu saja siauwte suka membantu asal siauw-te dapat dan urusannya tidak berlawanan dengan kebenaran," jawab Han Sin dengan suara tetap. "Akan tetapi siauwte yang muda dan dangkal kepandaian, bagaimana bisa menolong Ciong-enghiong yang memiliki ilmu kepandaian tinggi?"

Ciong Thai menarik napas panjang. "Kau tidak tahu, Liem-hiante. Sebetulnya aku, isteriku dan adikku, semua menderita luka hebat sekali akibat pukulan Pek-kong-sin-ciang. Kalau tidak mendapat obatnya, dalam waktu lima hari lagi kami takkan tertolong lagi...."

Han Sin terkejut bukan main, apa lagi ketika melihat wajah tuan rumah, adiknya, dan isterinya nampak berduka sekali. Bukan hanya ia kaget mendengar hal hebat ini, terutama sekali kaget dan heran mengapa orang-orang berkepandaian tinggi seperti mereka ini sampai bisa dilukai orang dan kalau mereka saja kalah, dia sendiri bisa berbuat apakah?

“Dalam suatu pertengkaran, kami telah kesalahan tangan membunuh seorang pemuda yang kami sama sekali tidak sangka adalah calon mantu Pek-kong-sin-ciang Bu-lohiap. Setelah hal ini terjadi baru kami tahu. Kami menyesal dan pergi minta maaf kepada Bu-lohiap, akan tetapi anak perempuannya itu tidak mau memberi maaf. Terjadi pertempuran dan kami akhirnya dilukai oleh pukulan Pek-kong-sin-ciang yang lihai Sekarang Liem-hiante lewat di sini, benar-benar ini kehendak Thian bahwa kami tidak harus mati sekarang."

"Ciong-enghiong, siauwte memang pernah mempelajari sedikit ilmu silat dari suhu, akan tetapi siauwte sama sekali tidak pernah belajar ilmu pengobatan. Bagaimana siauwte bisa tolong?"

"Pek-kong-sin-ciang adalah pukulan mengandung racun yang amat berbahaya dan kiranya selain Bu-lohiap sendiri, tidak dapat diobati lagi. Bu-lohiap adalah seorang yang menjunjung tinggi patriot rakyat, oleh karena ini Liem-hiante sebagai anggauta Tiong-gi-pai kalau suka pergi kepadanya dan mintakan obat untuk kami, tentu akan dapat menolong nyawa kami."

Han Sin mengangguk-agguk. Sekarang ia mengerti maksud tuan rumah ini. Dia disuruh menghadap Bu-lohiap (pendekar tua she Bu) untuk mintakan obat tiga orang ini! Pekerjaan yang mudah, pikirnya dan pula, setelah di sini terdapat pendekar tua she Bu yang jauh lebih lihai dari pada tiga orang ini, sungguh kebetulan sekali. Tanpa mereka mintapun ia ingin pergi menemui pendekar tua itu untuk menyampaikan pesan Tiong-gi-pai! Cepat ia menyanggupi permintaan Ciong Thai.

Pada saat itu muncullah Souw Lee Ing seperti telah diceritakan di bagian depan. Mendengar penuturan Han Sin ini, Lee Ing mengangguk-angguk dan tahulah ia kini mengapa Han Sin bersikap demikian aneh.

"Ah, kiranya begitukah? Orang-orang itu memang menderita luka hebat dan tinggal menunggu mati, akan tetapi mengapa sikap mereka masih begitu angkuh dan aneh? Benar-benar memualkan perut!" akhirnya Lee Ing berkata.

"Nona Souw, memang demikianlah sikap orang-orang kang-ouw, selalu aneh. Kalau mereka ini sudah demikian aneh, apa lagi orang tua she Bu itu. Oleh karena itu, aku yang bodoh merasa khawatir juga menghadapinya dan kalau seandainya kau sudi, aku sangat mengharapkan bantuanmu untuk menyertaiku mendatangi orang tua she Bu itu." Suara Han Sin terdengar penuh permohonan dan sinar matanya memandang penuh harap.

Lee Ing tersenyum, lalu menarik napas panjang. "Aku sendiri sih, tidak tertarik oleh urusan perang segala macam. Akan tetapi karena Tiong-gi-pai amat membela nama baik ayahku, pula mengingat persahabatan kita, biarlah kali ini aku menemanimu ke rumah orang she Bu itu. Apa kau sudah tahu di mana rumahnya?"

Pada saat itu, Thio Sam dan Ho Kai Beng muncul membawa senjata masing-masing. Mereka datang dan berdiri tegak di depan Han Sin dan Lee Ing. Melihat mereka, Lee Ing tertawa mengejek dan berkata, "Apa kalian muncul untuk menerima gebukan-gebukan lagi?"

"Tidak, nona. Kami diperintah untuk mengantar ji-wi ke rumah Bu-lohiap," jawab Ho Kai Beng penuh hormat sambil menjura di depan Lee Ing.

Lenyap sikapnya yang keras tadi dan kini ia takluk betul-betul kepada Lee Ing. Han Sin sendiri sampai heran melihat hal ini, karena ia tahu betul bahwa dua orang pembantu keluarga Ciong itu berkepandaian tinggi dan berwatak galak. Akan tetapi mendengar kata-kata sindiran Lee Ing, ia dapat menduga bahwa mereka tentu sudah menerima hajaran dari nona ini. Makin kagumlah ia terhadap Lee Ing yang belum ia ketahui sampai di mana kehebatan ilmu kepandaiannya.

"Mari kita pergi agar urusan lekas beres!" kata Lee Ing berdiri dari bangkunya.. Berangkatlah mereka keluar dari rumah itu dan dapat dibayangkan keanehan watak tuan rumah yang sama sekali tidak muncul untuk mengantar orang-orang yang hendak mencari obat guna menolong mereka!

Siapakah sebetulnya yang disebut Pck-kong-sin-ciang Bu-lohiap dan mengapa terjadi permusuhan antara dia dengan keluarga Ciong? Mari kita melihat keadaan pendekar tua ini yang sebetulnya adalah seorang tokoh besar yang sangat terkenal di daerah selatan, merupakan seorang di antara tokoh-tokoh nomor satu di selatan.

Kurang lebih dua puluh lima li jauhnya dari Lembah Yang-ce-kiang itu, di sebelah utara Telaga Tung-ting, terdapat sebuah dusun nelayan dan di sinilah tempat tinggal Pek-kong-sin-ciang yang bernama Bu Kam Ki. Tokoh ini memang seorang nelayan, hidup sebagai nelayan miskin, akan tetapi terkenal sebagai seorang sakti yang berwatak aneh.

Dia hidup di dusun itu bersama seorang anak gadisnya bernama Bu Lee Siang yang sudah berusia tujuhbelas tahun, seorang gadis remaja yang biarpun tidak berapa cantik, bertubuh langsing dan berkepandaian tinggi.

Selain anak perempuannya, juga di situ terdapat beberapa orang nelayan kasar yang menjadi pembantu dan pelayan. Melihat keadaan mereka yang amat sederhana, orang takkan mengira bahwa kakek itu, juga anaknya, malah pelayan-pelayannya pula, adalah orang-orang berilmu silat tinggi yang sukar dicari bandingannya di wilayah itu.

Bu Kam Ki memang sengaja hidup sederhana setelah dahulu, belasan tahun yang lalu, ia gagal dalam usahanya mengguncangkan pemerintah Mongol yang ketika itu masih amat kuat. Oleh karena memang ia berjiwa patriot, biarpun ia bersembunyi dari kejaran pemerintah Mongol, diam-diam ia selalu memperhatikan dan ketika pemerintah Mongol roboh, kakek ini mengadakan pesta besar di rumahnya, mengundang semua tetangganya!

Bu Lee Siang gadis berkepandaian tinggi yang semenjak kecilnya hidup sebagai seorang gadis nelayan, berjiwa sederhana dan tidak banyak tingkah. Oleh karena itu ia menerima dengan senang hati ketika ayahnya mencalonkan ia sebagai isteri seorang pemuda nelayan pula bernama Lai Seng, seorang pemuda yang jujur dan cukup tampan.

Setelah hidup sederhana sebagai nelayan miskin. Bu Kam Ki yang dahulunya amat terkenal di dunia kang-ouw, melihat betapa penghidupan rakyat kecil jauh lebih bersih dan murni dari pada penghidupan orang-orang kota dan bangsawan-bangsawan berikut pembesar-pembesarnya.

la maklum bahwa kalau puteri tunggalnya menjadi isteri seorang nelayan sederhana, puterinya itu akan mengalami hidup sederhana namun tenteram, damai, dan penuh kebahagiaan sejati. Tidak seperti kehidupan wanita-wanita bangsawan dan kaya raya di kota-kota yang hidupnya tidak sewajarnya lagi, penuh kepalsuan dan nafsu duniawi.

Agaknya memang sudah takdirnya akan terjadi keributan, pada suatu hari nelayan muda Lai Seng yang sedang membetulkan jala di pinggir Telaga Tung-ling, tiba-tiba ditegur oleh suara halus seorang wanita.

"Aku mau menyewa perahumu berkeliling di telaga, bisakah kau mengantarkan dan sewanya berapa?"

Lai Seng mengangkat muka dan melihat seorang wanita cantik manis berpakaian indah berdiri tegak memandangnya dengan senyum dikulum dan kerling mata menyambar tajam. Sekali pandang Lai Seng tahu bahwa wanita ini tentu orang kota, dapat dilihat dari bibirnya yang diberi cat merah dan alisnya yang ditambahi warna hitam, mungkin dengan angus dari pantat kwali.

"lni perahu nelayan untuk mencari ikan, nona, tidak disewakan. Bukan perahu pesiar," jawab Lai Seng tidak acuh lagi sambil melanjutkan pekerjaannya menambal jala yang pecah.

"Apa salahnya? Mencari ikan berarti mencari uang, menyewakan perahu juga mendapat uang. Aku berani membayar lima tail untuk berputar-putar selama dua tiga jam. Setelah kau mengantarkan aku putar-putar, kau masih banyak waktu mencari ikan, bukan? Malah, kalau kau mau, kau boleh sekalian menjala ikan, aku ingin menonton. Wanita itu mengeluarkan uang lima tail dan melemparkannya di depan Lai Seng.

Tergerak hati pemuda nelayan ini. Uang lima tail sungguh tidak mudah ia dapatkan. Dan lagi, kalau sambil mengantar wanita pesolek ini putar telaga ia masih boleh menjala ikan, lumayan juga, la perlu mendapatkan hasil lebih banyak, perlu mengumpulkan uang setelah hari pernikahannya makin mendekat, kurang lima bulan lagi.

"Jadilah, akan tetapi perahuku buruk, harap nona jangan menyesal dan mencela nanti." Ia mengantongi uang itu lalu membersihkan perahunya.

Ketika ia mempersilahkan nona itu menaiki perahunya, ia melihat nona itu melompat dengan gerakan seperti burung walet saja ringannya. Mengertilah ia sekarang mengapa nona ini melakukan perjalanan seorang diri. Kiranya seorang wanita kang-ouw, yang memiliki kepandaian.

Ia tidak heran sama sekali karena dia sendiri juga banyak mendapat petunjuk tentang ilmu silat dari calon mertuanya, bahkan tunangannya adalah seorang gadis yang memiliki ilmu silat luar biasa tingginya.

Betul saja dugaannya ketika nona itu duduk di atas perahunya, ia melihat pedang tergantung di bawah baju. Akan tetapi Lai Seng tidak curiga atau takut, karena biarpun ia seorang nelayan miskin, melihat pedang dan ilmu silat bukan hal baru baginya.

Siapakah wanita ini? Bukan lain dia adalah Bu-eng-sin-kiam Giam Loan, isteri Ciong Thai yang amat genit dan cabul. Wanita ini memang sering kali berpelesir ke tempat-tempat indah dan kadang-kadang ditemani oleh adik iparnya, Ciong Sek yang selain menjadi adik ipar juga menjadi kekasihnya.

Giam Loan dan Ciong Sek memang cocok sekali, seperti keranjang dengan sampahnya. Mereka berpesiar dan kalau sudah merasa bosan satu kepada yang lain, lalu mencari jalan masing-masing, mencari hiburan sendiri-sendiri.

Demikianlah, selelah kenyang berpesiar berdua di Telaga Tung ting, kmi Ciong Sek pelesir di dalam sebuah perahu bersama dua orang wanita penyanyi, sedangkan Giam Loan keluyuran mencari korban baru. Akhirnya ia melihat Lai Seng, pemuda nelayan yang beriubuh sehat kuat, kulitnya agak kecoklatan karena setiap hari terbakar matahari, pemuda sederhana yang cukup tampan sehingga menggerakkan hari Giam Loan yang kotor.

Tadinya perahu Lai Seng yang ditumpangi dan disewa oleh Giam Loan itu nampak bergerak tenang dan biasa saja, ke sana ke mari di antara perahu-perahu yang berada di telaga itu. Akan tetapi, kurang lebih satu jam kemudian, terdengar ribut-ribut dari perahu itu. Lai Seng berdiri di kepala perahu dan mengeluarkan suara keras.

"Tak tahu malu! Siapa sudi menurutkan kehendakmu yang kotor? Kau mau memaksa saja mengandalkan apa sih? Kau kira aku takut? Hayo kuantar kau mendarat dan minggat dari perahuku, uang kotormu boleh kau bawa lagi!"

Ternyata bahwa setelah berada di perahu, Giam Loan mencoba untuk membujuk pemuda nelayan itu, merayu dan memikatnya. Akan tetapi kali ini ia bertemu dengan batu karang yang kuat. Lai Seng menolak keras, mula-mula dengan halus dan bersifat mengingatkan agar wanita cabul itu tidak melanjutkan usahanya yang menjijikkan.

Akan tetapi ketika Giam Loan dengan tak tahu malu malah mengeluarkan ancaman bahwa kalau Lai Seng menolak akan dibunuhnya, Lai Seng tak dapat menahan kemarahannya lagi, la lalu memaki-maki dan cepat mendayung perahunya ke pinggir.

Dapat dibayangkan betapa malunya hati Giam Loan. Akan tetapi ia menahan sabar karena maklum bahwa kalau bertempur di perahu, sekali pemuda itu melompat ke air dan menggulingkan perahu ia akan celaka. Di darat ia boleh garang dan ganas, akan tetapi di dalam air tanpa diapa-apakan ia akan mati sendiri.

Lebih-lebih malunya ketika perahu sudah mendekati daratan, Giam Loan melihat Ciong Sek sudah berada disitu, tertawa-tawa gembira menunggunya setelah puas berpelesir dengan perempuan-perempuan tukang menyanyi di dalam perahu pesiar. Giam Loan takut kalau-kalau Lai Seng pemuda nelayan itu akan membikin malu padanya di daratan maka begitu ia melompat turun setelah Lai Seng keluar lebih dulu, ia segera menyerang pemuda itu dengan pukulan keras.

Lai Seng pernah menerima sedikit pelajaran ilmu silat dari calon mertuanya, maka pukulan ini dapat ia hindarkan dengan elakan cepat, lalu ia memaki, "Perempuan tak tahu malu...!"

Cong Sek yang melihat kekasihnya atau kakak iparnya berkelahi dengan tukang perahu, cepat menghampiri dengan lompatan-lompatan jauh.

"Anjing ini mencoba berlaku kurang ajar kepadaku!" kata Giam Loan mendahului.

Tentu saja Ciong Sek marah bukan main dan cepat menyerang. Biarpun pernah dapat petunjuk dari seorang jago tua kang-ouw yang lihai, namun Lai Seng semenjak kecilnya tidak belajar silat, hanya setelah menjadi tunangan Bu Lee Siang saja ia belajar sedikit ilmu silat, itupun belum ada satu tahun. Mana ia mampu menghadapi lawan pandai seperti Giam Loan atau Ciong Sek? Dalam beberapa gebrakan saja ia sudah menjadi bulan-bulan pukulan Ciong Sek dan tendangan Giam Loan!

"Lekas berlutut dan minta ampun tujuh kali, baru aku takkan membunuhmu!" bentak Giam Loan yang sebetulnya tidak bermaksud membunuh pemuda ini, hanya ingin membalas dan membikin malu.

Akan tetapi Lai Seng adalah seorang pemuda jujur kasar yang berhati keras dan tak kenal takut. Biarpun ia disiksa dan seluruh tubuhnya sakit-sakit, ia tidak sudi minta ampun, malah memaki-maki.

"Anjing buduk! Kau memang sudah bosan hidup!" bentak Ciong Sek yang mengirim pukulan dengan keras yang tepat mengenai kepala Lai Seng. Pemuda nelayan ini terlempar lalu terpelanting dan roboh tak berkutik lagi, tewas!

Pada saat itu terdengar jeritan keras dan marah. Seorang gadis muda berpakaian sederhana, agaknya gadis nelayan, bertubuh langsing dan gerakannya ringan sekali, datang berlari-lari. Inilah Bu Lee Siang, gadis berusia tujuh belas tahun yang menjadi tunangan Lai Seng. Inilah puteri tunggal Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki. Melihat tunangannya menggeletak dengan kepala pecah. Bu Lee Siang marah bukan main.

"Jahanam laki perempuan dari manakah berani membunuh dia?" teriaknya dengan muka pucat saking marahnya.

Ciong Sek si mata keranjang melihat gadis muda ini marah-marah, tersenyum sambil melangkah maju. "Eh. nona, jangan galak-galak kau, kalau galak hilang manismu! Mari ikut saja dengan aku orang she Ciong untuk bersenang-senang!"

Sementara itu, Giam Loan yang tadi dihina dan dibikin malu, masih panas hatinya. Kini melihat ada seorang gadis nelayan datang-datang memaki, ia lalu bertolak pinggang dan berkata, "Aku Bu-eng-sin-kiam Giam Loan yang membunuh anjing laki-laki, kau anjing betina apakah sudah bosan hidup pula?"

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Bu Lee Siang. Ia menjerit nyaring dan maju menyerang sambil mencabut sebuah pisau pemotong ikan di tangan kiri. Kepandaian Lee Siang hebat sekali dan ayahnya telah sengaja menciptakan semacam ilmu silat senjata yang luar biasa, yaitu dengan sebatang pembelek perut ikan dan sebuah jala kecil, sesuai dengan pekerjaan puterinya kelak sebagai isteri nelayan.

Tadinya Gam Loan dan Ciong Sek memandang ringan. Apa sih yang perlu ditakuti dari seorang gadis nelayan saja? Akan tetapi begitu gadis itu bergerak, pisaunya menyambar ke arah lambung Giam Loan dan jalanya terbuka menyambar kepala Ciong Sek, dua orang ini terkejut bukan main. Dua senjata ini datangnya cepat dan kuat sekali, mendatangkan angin pukulan yang dahsyat.

Tak berani lagi Ciong Sek dan Giam Loan memandang rendah Mereka cepat melompat mundur agak jauh sambil mengeluarkan senjata masing-masing. Giam Loan mencabut keluar sebatang pedang yang sinarnya kehijauan menandakan bahwa itu adalah sebatang pedang pusaka, sedangkan Ciong Sek mencabul keluar siang-kiam (pedang sepasang).

Namun Lee Siang sama sekali tidak menjadi gentar dan menyerbu terus dengan sepasang senjatanya yang dapat digerakkan secara istimewa. Segera terjadi pertempuran yang hebat dan kembali dua orang itu terkejut karena mendapat kenyataan bahwa gadis nelayan ini benar benar hebat kepandaiannya. Mereka mulai khawatir dan menduga-duga.

"Lekas beritahukan Bu-taihiap! Bu-lihiap bertempur dengan dua orang kota!" terdengar suara beberapa orang nelayan yang menonton pertempuran itu.

Mendengar seruan ini, semangat Ciong Sek dan Giam Loan seperti terbang meninggalkan raga. Mereka menjadi pucat.

"Tahah dulu!" kata Ciong Sek. "Apakah nona ini puteri Bu-lohiap?"

"Jahanam keparat! Aku Be Lee Siang, kau tunggulah nonamu membalas dendam ini!" bentak Lee Siang menyerang lagi.

"Akan tetapi kami tidak bermusuhan dengan keluarga Bu-lohiap! Maafkan, kami tidak mau melawan lebih lama lagi," kata pula Ciong Sek sambil memberi isyarat kepada Giam Loan untuk menyimpan senjata.

"Kalian sudah membunuh dia, masih bilang tidak ada permusuhan?" bentak Lee Siang, hampir tak dapat menahan kemarahannya.

"Siapa... siapakah dia.....?" Giam Loan bertanya perlahan sambil memandang ke arah mayat Lai Seng.

Lee Siang tidak menjawab, sepasang senjatanya bergerak-gerak di tangannya, wajahnya pucat matanya bersinar-sinar. Seorang nelayan tua mewakilinya menjawab pertanyaan Giam Loan itu, "Dia Lai Seng, calon mantu Bu-lohiap!"

Kalau ada halilintar menyambar mereka, kiranya dua orang itu takkan begitu kaget seperti ketika mendengar jawaban ini. "Celaka, kita kesalahan membunuh orang. Bu-siocia, perkara ini harus dibicarakan secara damai, kita... kita tidak bersalah..." kata Ciong Sek gugup.

Akan tetapi Lee Siang sudah menyerang lagi. Ciong Sek melompat mundur dan berkata kepada Giam Loan, "Kita pulang dulu, kelak damaikan urusan ini...!"

Dua orang itu cepat lari, dikejar oleh lee Siang. Akan tetapi Ciong Sek dan Giam Loan sudah sampai di tempat kuda mereka yang segera mereka tunggangi dan kaburkan dari tempat berbahaya itu Lee Siang yang tidak mempunyai kuda tidak berdaya mengejar, lalu kembali dan menangisi mayat tunangnannya.

Sepasang alis putih itu bergerak-gerak naik turun, sepasang matanya mengeluarkan cahaya menakutkan. Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki mengangkat bangun puterinya dan berkata, "Sudahlah, orang yang sudah mati takkan hidup lagi biar kau tangisi dengan air mata darah. Mati hidup sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa Aku tahu siapa Bu-eng Sin-kiam itu, dia isteri Ciong Thai yang tinggalnya tidak jauh dari sini Iaki-laki muda itu mungkin adiknya. Aku akan menyusul ke sana."

"Aku ikut, ayah. Biar kuhancurkan kepala mereka!" Lee Siang berkala penuh geram.

"Tak usah, jangan kau mengotorkan tanganmu dengan permusuhan. Percayalah, ayahmu akan membereskan urusan ini."

Pek-kong-sin-cang Bu Kam Ki yang sudah tua itu dapat menahan kesabarannya dan ia lalu pergi menyusul dua orang tadi pergi ke tempat tinggal jago lembah Sungai Yang-ce bagian barat, yaitu Sin-jiu Ciong Thai. la pergi seorang diri tanpa membawa senjata.

Kedatangannya disambut oleh Ciong Thai sendiri bersama isteri dan adiknya. Ciong Thai sudah diceritai oleh isterinya, tentu saja dengan bohong. Giam Loan bercerita bagaimana Lai Seng mencoba untuk berlaku kurang ajar kepadanya, maka ia menegur dan mendampratnya, lalu Lai Seng malah marah memaki-maki sampai terjadi pertempuran.

"Kalian tentu sudah maklum apa keperluanku datang ke tempat ini," kata Bu Kam Ki dengan suara perlahan namun membuat jantung tiga orang itu berdebar gelisah. "Hayo ceritakan terus terang mengapa calon mantuku yang bodoh itu dibunuh."

"Bu-lohiap, aku... aku hanya membantu soso (kakak ipar). Melihat so-so dihina orang, tentu saja aku turun tangan, sama sekali tidak mengira bahwa dia itu calon mantumu.." kata Ciong Sek mendahului untuk membebaskan diri, karena sesungguhnya dialah yang memukul pemuda Lai Seng sampai mati.

Bu Kam Ki menatap wajah Giam Loan dan berkata keren, "Ceritakan yang jelas."

"Bu-lohiap, sesungguhnya pemuda itu yang bersalah. Aku menyewa perahunya dan minta dia mengantarku berpesiar di Telaga Tung-ting. Eh, tidak tahunya pemuda itu hendak berlaku kurang ajar padaku di tengah telaga. Tentu saja aku marah dan memakinya. Ia lalu marah pula, dan hendak menggunakan kekerasan. Kami bertengkar dan aku minta dia mendaratkan perahu.

"Sesampai di daratan, baru aku berani memukul dan memakinya. Dia melawan, lalu terjadi pertempuran sampai dia menemui ajalnya. Sungguh aku tidak pernah menyangka dia itu masih ada hubungan keluarga dengan kau orang tua, kalau aku tahu pasti takkan terjadi perkara itu. Malah aku tentu takkan menyewa perahunya.

Sepasang mata tua itu menatap tajam seperti hendak menembus wajah Giam Loan dan menjenguk isi hatinya. Diam-diam Giam Loan berdebar dan mengkirik. Akan tetapi demi keselamatannya dan menjaga nama baiknya, ia menentang pandang mata kakek itu dengan berani seperti orang yang betul-betul tidak mempunyai kesalahan dalam perkara itu.

"Harap Bu-lohiap suka mempertimbangkan dengan baik-baik," kata Sin-jiu Ciong Thai, "isteriku dihina laki-laki yang tak dikenalnya menjadi marah sampai terjadi pertempuran dan laki-laki itu tewas. Hal ini sesungguhnya bukan kesalahan isteriku dan adikku membantu iparnya adalah kewajibannya untuk menjaga nama dan kehormatan keluarga. Hanya menyesal sekali yang terbunuh itu adalah pemuda calon mantumu. Untuk peristiwa ini benar-benar aku menyatakan menyesal sekali dan bersedia melakukan apa saja untuk meringankan kedukaan keluargamu."

Bu Kam Ki masih memandang tajam kepada Giam Loan, mengangguk angguk dan berkata, "Hemmm, isterimu ini memang masih muda, cantik dan genit. Tidak amat mengherankan kalau ada orang muda tertarik oleh lagaknya. Akan tetapi... Lai Seng itupun seorang pemuda yang tampan dan gagah, masih muda lagi. Kalau dibandingkan, dia menang banyak dari kau atau adikmu ini.

"Dalam perkara itu, siapa tahu apa yang terjadi sesungguhnya di tengah telaga? Hanya telaga bisa menjadi saksi, Aku sayang sekali tidak mau bertindak tanpa bukti-bukti terang. Yang sudah mati takkan kembali, perlu apa ditambah kematian yang tidak jelas sebab-sebabnya?

"Ciong Thai, perkara sudah menjadi begini. Kau sekeluarga menjaga keselamatan dan aku menjaga nama baik. Kalau kau dan isterimu, dan adikmu suka datang bersembahyang di depan peti mati jenazah Lai Seng untuk minta ampun, kemudian berlutut di depan Lee Siang minta ampun pula, aku orang tua akan menghabiskan urusan sampai di sini saja."

Berat sekali permintaan ini bagi Sin-jiu Ciong Thai. Diapun meragukan kebenaran cerita isterinya, akan tetapi oleh karena tidak ada bukti, dan pula memang ia harus pula menjaga nama baiknya sendiri, ia tentu membela isterinya. Kalau sekarang kakek itu menyuruh dia sekeluarga minta-minta ampun, bukankah itu sama artinya dengan mengakui kesalahan di depan orang banyak?

"Permintaanmu terlampau berat, Bu-tohiap. Ini menyangkut soal nama dan kehormatan, aku orang she Ciong mana bisa melakukannya?"

"Calon mantuku sudah mati, kalian yang membunuhnya. Aku yang mempunyai hak menuntut sesuatu. Kalau kalian tidak mau melakukan permintaanku dengan suka rela, terpaksa akan kulakukan paksaan," jawab Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki dengan suara keras dan tegas.

Nama besar Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki sudah amat terkenal dan keluarga Ciong ini juga sudah lama mendengar nama ini. Akan tetapi Sin-jiu Ciong Thai juga bukan seorang biasa saja, ia sudah membuat nama besar di dunia persilatan, biarpun ia sudah mendengar tentang Pek-kong-sin-ciang yang hebat.

Namun ia sendiri juga terkenal akan ilmu silat tangan kosongnya dan memiliki beberapa pukulan ampuh, di antaranya yang amat ia andalkan adalah Tok-see-jiu (Tangan Pasir Beracun), semacam pukulan khusus yang selain mempergunakan tenaga lweekang, juga mengandung hawa beracun karena ketika melatihnya dulu tangannya dipakai menampari pasir panas beracun.

Selain dia sendiri, Ciong Thai juga maklum akan kelihaian isterinya sebagai ahli pedang Go bi-pai dan ketangguhan adiknya yang memiliki ilmu pedang pasangan yang tak boleh dibilang lemah. Mengingat akan ini semua, tentu saja jawaban Bu Kam Ki itu memanaskan perutnya dan membuai ia tiba-tiba bersikap dingin dan kaku.

"Bu-lohiap... kau orang tua benar-benar agak keterlaluan terhadap kami. Kami tidak merasa bersalah, bagaimana kami mau disuruh berlutut minta ampun di depan umum? Kami menolak permintaanmu dengan halus, kau hendak menggunakan paksaan. Bagaimana kau bisa memaksa kami?"

Bu Kam Ki tertawa bergelak. "Orang she Ciong, manusia seperti aku mana bisa disamakan dengan engkau? Biarpun aku hidup miskin seperti nelayan, akan tetapi namaku bersih tak pernah tercemar seperti namamu, juga nama Bu-eng-sin-kiam bukanlah nama yang bersih dan harum. Biarpun tidak bisa melihat bukti-buktinya, orang yang berurusan dengan isterimu sudah dapat disangka siapa yang salah. Kalau aku hendak menggunakan paksaan, kalian bisa membantah bagaimana lagikah?"

Ciong Thai melompat bangun. "Bagus. Orang she Bu benar-benar sombong. Coba hendak kami lihat bagaimana kau bisa memaksa kami?"

Bu Kam Ki mengeluarkan suara ketawa menyeramkan, kemudian tubuhnya bergerak maju dan mulutnya membentak, "Mau tahu? Lihatlah pukulanku!"

Ciong Thai, Giam Loan, dan Ciong Sek melihat sinar putih menyambar-nyambar ke arah mereka, hawanya panas sekali. Mereka cepat mencabut senjata masing-masing sambil mengelak lalu menerjang maju. Akan tetapi mereka disambut oleh hawa pukulan Pek-kong sin-ciang yang amat hebat. Baru melihat berkelebatnya sinar putih dan merasakan panasnya saja membuat mereka tak kuat menahan dan kacau gerakan-gerakan mereka.

Hampir bersamaan waktunya, Giam Loan roboh disusul Ciong Thai kemudian Ciong Sek. Ketiganya telah terluka oleh pukulan Pek-kong Sin-ciang yang amat lihai. Pukulan ini tak usah mengenai kulit lawan, langsung hawa pukulannya menembus kulit dan mengakibatkan luka mengandung racun yang amat berbahaya.

Bu Kam Ki tersenyum mengejek. "Kalian hanya akan hidup lima hari lagi. Dalam lima hari aku menanti kunjungan kalian untuk memenuhi permintaanku lagi. Aku bukan seorang keji yang bisa mencabut nyawa orang begitu saja. Kalau kalian suka memenuhi permintaanku, aku sanggup mengobati luka-luka kalian."

Setelah berkata demikian, kakek yang kosen itu meninggalkan mereka dalam keadaan luka hebat di sebelah tubuhnya. Dari luar mereka tidak kelihatan terluka. Akan tetapi di sebelah dalam mereka menderita luka yang tak dapat disembuhkan lagi kecuali oleh pemukulnya.

Demikianlah, tiga orang itu bingung dan gelisah sekali. Ciong Thai berkeras tidak mau melakukan permintaan Bu-lohiap karena memang dia tidak merasa bersalah. Seorang tokoh besar seperti dia, masa untuk membela nyawa saja harus berlutut minta-minta ampun di depan umum sedangkan dia tidak merasa bersalah apa-apa? Adapun Ciong Sek dan Giam Loan, tidak berani mereka melakukan hal ini di luar persetujuan Ciong Thai.

Kebetulan sekali Han Sin datang. Ketika mendengar bahwa Han Sin itu murid Im-Yang Thian-Cu dan utusan Tiong-gi-pai, Ciong Thai timbul lagi harapannya dan minta tolong kepada pemuda ini supaya suka mintakan obat kepada Bu-lohiap, sebagai balasan janjinya kelak akan membantu gerakan Tiong-gi-pai.

Ia maklum bahwa Bu Kam Ki dahulunya seorang pejuang dan tentu kakek itu memandang tinggi sekali kepada orang-orang Tiong-gi-pai. Seperti telah kita ketahui, Han Sin yang maklum akan beratnya tugas ini, mengingat bahwa kakek she Bu itu bukan seorang sembarangan, minta tolong kepada Lee Ing untuk membantunya. Sebetulnya Lee Ing tidak suka kepada keluarga Ciong itu dan hendak mengajak pergi Han Sin meninggalkan tempat itu dan membiarkan mereka mampus karena luka-lukanya.

Akan tetapi Han Sin adalah seorang laki-laki sejati, selain ia harus memenuhi tugas sebagai utusan Tiong-gi-pai mencari bantuan. juga ia sudah berjanji untuk coba membantu keluarga itu. Andaikata Lee Ing tidak mau, tentu pemuda itu akan nekat pergi sendiri. Mana Lee Ing tega membiarkan dia pergi sendiri?

Thio Sam dan Ho Kai Beng, dua orang murid atau kaki tangan Ciong Sek, sudah menjemput untuk mengantar Han Sin ke tempat tinggal Bu Kam Ki. Berangkatlah mereka menunggang kuda yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Karena letak kampung dekat Telaga Tung-ting tempat tinggal Bu Kam Ki hanya terpisah dua puluh lima li, sebentar saja mereka telah memasuki kampung itu.

"Kita turun di sini dan berjalan kaki," kata Han Sin yang segera diturut oleh dua orang kaki tangan Ciong Sek.

"Hemm, perlu apa sih pakai banyak peraturan? Seperti menghadap pembesar tinggi saja!" kata Lee Ing tak puas melihat sikap pemuda itu yang selalu menghormat Bu-lohiap.

"Bukan begitu, nona Souw. Aku datang untuk mintakan maaf dan mintakan obat, sudah sepatutnya aku menghormati tuan rumah, apa lagi keluarga Bu sedang berkabung," jawab Han Sin merendah.

"Hemmm....." Lee Ing tidak puas sekali melihat sikap Han Sin yang dianggapnya terlampau merendahkan diri dan terlampau lemah, la merasa heran mengapa pemuda yang menghadapi Tok-ong Kai Song Cinjin sedikitpun tak merasa gentar yang menghadapi bahaya maut dengan sikap jantan dan mengagumkan, sekarang untuk menolong nyawa tiga orang keluarga Ciong itu rela berlaku begini hormat dan merendah, sampai-sampai harus turun dari kuda begitu memasuki kampung tempat tinggal keluarga Bu!

"Kau mau berjalan kaki, sesukamulah. Aku tidak mau turun dari kuda sebelum sampai tempatnya!" katanya singkat dan Han Sin juga tidak berani menyuruh turun karena pemuda itu mengajak Lee Ing dengan maksud supaya ia jangan sampai terpisah dari nona yang telah merampas hatinya ini, sama sekali ia tidak mengandalkan kelihaian gadis ini untuk memenuhi tugasnya. Ia diam saja dan berjalan terus, diikuti oleh Thio Sam dan Ho Kai Beng yang juga berjalan kaki sambil menuntun tiga ekor kuda mereka.

Bu Kam Ki adalah seorang kakek yang amat disegani dan dihormati di dusunnya. Kematian calon mantunya ternyata membuat dusun itu nampak sunyi karena semua penduduk ikut berkabung dan berbelasungkawa. Kedatangan empat orang ini amat menarik perhatian, apa lagi karena keadaan mereka yang agak ganjil. Yang wanita muda belia dan berwajah cantik jelita berseri-seri, menunggang kuda lambat-lambat dan di sebelahnya berjalan seorang pemuda tampan diikuti dua orang tinggi besar yang menuntun kuda.

Bu Kam Ki adalah seorang tokoh kang-ouw yang ternama. Biarpun ia tidak aktip lagi di dunia kang-ouw dan hidup sederhana setengah tersembunyi, namun setiap orang kang-ouw yang lewat di tempat itu sudah tentu memerlukan mengunjunginya. Oleh karena itu orang-orang dusun ini sudah biasa melihat tokoh kang-ouw yang aneh-aneh. Kini menyaksikan keganjilan empat orang ini merekapun tidak berani membuka mulut.

Biarpun demikian, pandang mata mereka cukup membuat Lee Ing turun dari kudanya, menarik napas panjang lalu menuntun kudanya berjalan kaki di sebelah Han Sin. Pemuda itu melirik, melihat gadis ini cemberut ia menjadi geli. "Kenapa nona turun dari kuda?"

"Dasar kau yang menjadi gara-gara pakai banyak aturan turun dari kuda segala. Kau turun dan gentong-gentong nasi itupun turun, aku sendiri naik kuda mana patut? Pandang mata semua orang mencela dan menegurku!"

Han Sin menahan senyumnya dan diam-diam makin suka melihat gadis yang memiliki kepandaian yang tak dapat diukur sampai di mana tingginya akan tetapi yang wataknya masih kekanak-kanakan ini.

"Biarkan kami yang menuntun kudamu, nona. Tempatnya sudah dekat, itu di persimpangan jalan membelok ke kanan sedikit," kata Ho Kai Beng dengan sikap hormat. Dia dan Thio Sam maklum bahwa kali ini menghadapi keluarga Bu yang sudah mengalahkan guru mereka, mereka sendiri tidak berdaya dan hanya mengandalkan pemuda dan terutama nona yang lihai ini.

Betul saja, setelah tiba di jalan persimpangan, menoleh ke kanan sudah terlihat rumah keluarga Bu yang besar sederhana dan di situ sudah banyak orang yang sudah datang, maka Bu Kam Ki yang mengurus jenazahnya, malah kini ditaruh di dalam peti mati di rumahnya pula.

Hal ini sengaja ia lakukan, bukan hanya untuk menolong keluarga Lai yang miskin, juga untuk menanti kedatangan keluarga Ciong yang ia pastikan tentu akan datang kalau mereka masih ingin hidup. Di depan rumah dipasangi kain putih dan asap hio mengebut terus keluar dari pintu.

Agaknya penduduk dusun cepat sekali melaporkan kedatangan empat orang ini kepada Bu-lohiap oleh karena sebelum tiba di rumah itu, Bu Kam Ki dan puterinya telah muncul dan menyambut jauh di luar rumah dengan sikap keren sekali.

Melihat Thio Sam dan Ho Kai Beng, Bu-lohiap mengenal mereka sebagai orang-orang keluarga Ciong maka ia berkata kepada puterinya, "Dua orang tinggi besar itu orang-orangnya keluarga Ciong, agaknya mereka ini datang bukan dengan maksud baik." Dengan kata-kata ini Bu-lohiap hendak memperingatkan puterinya supaya berhati-hati dan tidak bertindak secara sembrono.

Akan tetapi, begitu mendengar kata-kata ayahnya ini Bu Lee Siang sudah melompat maju, memandang kepada dua orang tinggi besar yang menuntun empat ekor kuda itu dan membentak, "Kalian ini apakah datang mewakili keluarga Ciong?"

Thio Sam dan Ho Kai Beng kaget, lalu Thio Sam yang mengangkat tangan menjura dan berkata, "Kami berdua hanya murid atau pesuruh."

"Setan, segala macam kantong nasi dikirim ke sini mau apa? Hayo lekas minggat dari sini, suruh guru atau majikan kalian sendiri datang ke sini!"

Thio Sam dan Ho Kai Beng adalah orang-orang kasar yang tidak bisa diperlakukan kasar, bahkan sudah biasa membentak-bentak orang. Sekarang mereka dibentak-bentak dan dimaki-maki oleh seorang gadis yang menurut pandangan mereka amat sederhana, pakaiannya dari kain kasar putih, matanya kemerahan karena terlampau banyak menangis.

Gadis yang usianya belasan tahun ini saja berani membentak-bentak dan memaki mereka? Kalau saja di situ tidak ada Bu-lohiap yang mereka tahu amat lihai karena sudah mengalahkan guru mereka, tentu mereka akan memaki gadis muda ini Thio Sam menjawab, suaranya kaku, "Biarpun hanya murid, akan tetapi kami orang kepercayaan Ciong taihiap, dan..."

"Manusia tiada guna!" Lee Siang membentak marah, kedua tangannya bergerak dan empat sinar putih menyambar seperti kilat ke depan.

Thio Sam dan Ho Kai Beng terkena, cepat mereka melompat ke samping untuk mengelak dari serangan ini. Akan tetapi mereka kecele karena yang diserang oleh gadis ini bukan mereka melainkan empat ekor kuda yang segera roboh berkelojotan dan tewas tak lama kemudian. Sebatang pek kong-ciam (Jarum sinar putih) mengenainya. Bukan main marahnya Thio Sam dan Ho Kai Beng. Mereka meraba gagang senjata dan dengan muka merah Ho Kai Beng berkata,

"Nona, kau keterlaluan sekali. Kalau perlu kami dapat menjaga diri! Biarpun kami hanya murid dan pesuruh, namun telah puluhan tahun kami belajar ilmu silat, sebelum nona terlahir. Bagaimana nona berani menghina kami secara begini keterlaluan?"

Bu Lee Siang membanting-banting kakinya. "Keluarga Ciong benar-benar harus mampus! Tidak saja tak mau datang sendiri minta ampun, malah menyuruh datang dua ekor babi bau yang mengoceh tidak karuan! Kalau kalian tidak mempunyai kepandaian, mengapa tidak lekas-lekas mencabut senjata itu? Hendak kulihat bagaimana caranya dua ekor monyet mainkan senjata!"

Dimaki babi dan monyet, dua orang yang biasanya berlaku sewenang-wenang mengandalkan kepandaiannya itu tentu saja tak dapat menahan kemarahan yang sudah memuncak. Mereka melirik ke arah Bu-lohiap yang berdiri sambil memeluk kedua lengan dan sama sekali malah tidak memandang kepada mereka, melainkan memandang ke arah Han Sin dan Lee Ing yang berdiri di pinggiran.

Lee Ing tersenyum geli melihat pertunjukan itu, akan tetapi Han Sin mengerutkan kening tidak senang akan sikap dua orang kasar itu yang tak mau mengalah sebagai utusan yang membutuhkan pertolongan.

"Nona, kami hanya utusan dan tidak ingin mencari perkara. Akan tetapi kalau nona hendak menguji kami, silahkan," jawab Thio Sam yang sudah mencabut sepasang gembolannya.

Dua orang ini tentu tidak akan bersikap demikian galak kalau saja mereka tidak yakin akan kelihaian Lee Ing yang datang bersama mereka. Mereka ini memang tergolong orang-orang licik yang sudah memperhitungkan semua tindakan secara licik pula. Menghadapi gadis nelayan dusun ini saja tentu mereka tidak takut dan andaikata kakek she Bu itu turun tangan, bukankah di situ ada pemuda dan gadis yang sudah sanggup hendak menolong majikan mereka?

Memang mereka ini menghendaki supaya obat untuk majikan mereka itu didapatkan dengan bertempur, bukan dengan jalan mengemis. Sedikit banyak mereka juga merasa panas perut karena majikan mereka telah dilukai.

Di lain fihak, Bu Lee Siang berada dalam keadaan berkabung, hatinya sakit dan sedih kehilangan tunangannya secara demikian menyedihkan. Tentu saja keadaan seperti itu. Bu Lee Siang yang pada dasarnya sudah memiliki watak jujur dan keras hati itu, mudah sekali terbakar hatinya dan lebih-lebih lagi menghadapi dua orang utusan musuh-musuhnya. ia menjadi berang dan tak dapat menahannya.

"Tikus-tikus busuk, jadi kalian minta dihajar? Pergunakan senjata itu baik-baik dan awas, lihat pukulanku!" Setelah berkata demikian, Lee Siang lalu menerjang maju dengan serangannya, dua tangannya bergerak-gerak melakukan pukulan kilat, pertama ke arah kepala Thio Sam yang kedua kalinya ke arah lambung Ho Kai Beng.

Serangan-serangannya ini dilakukan dengan amat cepatnya. Melihat puterinya mempergunakan Pek-kong-sin-ciang untuk menyerang dua orang lawannya. Bu Kain Ki mengerutkan kening dan memperingatkan.

"Siang-ji, ingat mereka itu hanya pesuruh-pesuruh biasa, jangan bunuh mereka."

Lee Siang tidak menjawab, hanya melanjutkan serangannya yang dahsyat, akan tetapi ayahnya melihat bahwa puterinya itu tidak mempergunakan Pek-kong-sin-ciang lagi maka ia bernapas lega.

Sikap ayah dan anak ini mendatangkan rasa kagum dalam hati Souw Lee Ing dan Liem Han Sin. Sekaligus memperlihatkan kegagahan dan watak kakek itu karena dalam peringatan itu kakek itu agaknya yakin bahwa dua orang itu bukan tandingan puterinya, padahal dua orang kepercayaan keluarga Ciong itupun bukannya orang-orang lemah. Pula memperlihatkan bahwa sebetulnya kakek Bu bukannya orang kejam yang suka membunuh orang secara sembarangan.

Sementara itu, gadis she Bu itu sudah dikeroyok dua. Ruyung dan gembolan menyambar-nyambar dahsyat, rupanya dua orang itu hendak menebus kekalahan majikan mereka dan "membalaskan dendam" kepada gadis she Bu ini. Di samping itu, mereka merasa malu kalau sampai kalah. Mengeroyok seorang gadis bertangan kosong, berdua dengan senjata saja sebetulnya sudah merupakan , hal yang menjatuhkan nama mereka.

Akan tetapi hal ini bukan kehendak mereka, adalah gadis itu yang sengaja menghina dan menantang. Kalau sampai mereka berdua, laki-laki tinggi besar, kuat dan berkepandaian tinggi memegang senjata pula, mengeroyok seorang gadis dusun bertangan kosong sampai kalah, benar-benar mereka tak tahu harus ke mana menyimpan muka!

Tadinya dua orang ini hanya menggerakkan senjata secara main-main saja. Maksud mereka hendak menakut-nakuti gadis galak ini dan akhirnya menjatuhkannya tanpa melukai berat apa lagi menewaskan. Akan tetapi setelah belasan jurus, dua orang ini kaget bukan kepalang. Untuk kedua kalinya dalam satu hari, mereka bertemu dengan seorang gadis muda yang hebat!

Jangan bilang mempermainkan atau mendesak, menjaga diri saja sudah sukar bukan main terhadap serangan-serangan Bu Lee Siang yang memiliki gerakan cepat seperti burung walet. Yang hebat, hawa pukulan gadis itu saja sanggup menahan gerakan senjata mereka.

Pada jurus ke dua puluh, tiba-tiba Bu Lee Siang berseru, "Pergilah!" dan tepat sekali ujung sepatu kirinya menendang tulang kering kaki kanan Ho Kai Beng.

Orang tinggi besar she Ho ini mengaduh aduh kesakitan. Ia tidak mau melepaskan senjata gembolannya, akan tetapi rasa nyeri pada tulang kering kakinya membuat ia berjingkrakan atas kaki kiri, melompat-lompat dan mulutnya mengaduh-aduh, "Aduh kakiku... kakiku.... aduuuuhhh.....!"

Tendangan yang dilakukan oleh Lee Siang tadi bukanlah tendangan biasa saja, melainkan tendangan lweekang yang telah mengenai jalan darah dan membikin tulang kering itu retak-retak! Sungguh kasihan Ho Kai Beng yang berjingkrak-jingkrak karena sakitnya memang tak dapat ditahan lagi. Selain kasihan juga kelihatan lucu seperti seekor monyet besar belajar dansa.

Hanya karena sedang dalam perkabungan saja penduduk dusun yang menyaksikan pemandangan ini tidak tertawa geli. Akhirnya Ho Kai Beng tidak dapat menahan sakit lagi, menjatuhkan diri di pinggir jalan dan memijit-mijit kaki sambil menggigit bibir, air matanya bercucuran keluar...!

Jilid selanjutnya,
PUSAKA GUA SILUMAN JILID 20