Rajawali Lembah Huai Jilid 07

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Rajawali Lembah Huai Jilid 07
Sonny Ogawa

Rajawali Lembah Huai Jilid 07, karya Kho Ping Hoo - GOAN CIANG mengangguk dan mengerutkan alisnya yang tebal. “Sungguh tidak tahu malu. Pinangan ditolak mengapa lalu marah-marah dan menimbulkan permusuhan?” dia mengomel, tak puas dengan sikap orang she Kwa itu.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Kini Lee Siang berlari lagi dan Goan Ciang juga tidak banyak bertanya. Mereka berlari cepat dan tak lama kemudian mereka telah memasuki sebuah hutan. Mudah diduga bahwa inilah yang dinamakan hutan Bambu Kuning karena di situ memang banyak tumbuh bambu kuning di samping pohon-pohon lain.

Ketika mereka tiba ditengah hutan, di mana terdapat tempat terbuka dengan petak rumput tebal, dan betapa kaget rasa hati mereka ketika melihat lima orang wanita rebah malang melintang di tempat itu, dan suasana sepi sekali walaupun masih nampak bekas pertempuran terjadi di tempat itu. Banyak darah melumuri rumput yang terinjak-injak, senjata tajam berserakan.

“Ngo-liong Ci-moi...!” Lee Siang berseru kaget dan cepat ia menghampiri mereka. Ternyata tiga orang di antara mereka telah tewas, seorang terluka parah dan seorang lagi terluka ringan, akan tetapi tidak mampu bergerak karena dalam keadaan tertotok. Agaknya baru saja mereka bertanding melawan musuh yang pandai.

Setelah membebaskan totokan kedua orang yang terluka itu Lee Siang cepat bertanya, “Apa yang terjadi? Mana pangcu?”

Wanita yang terluka parah di dadanya merintih, “Pangcu... tertawan mereka... cepat tolong ia, siocia...” Dan iapun terkulai dan tewas pula.

Lee Siang meloncat ke orang yang terluka ringan dan menguncangnya. “Siapa yang menawan suci? Orang-orang Yang-ce Bu-koan?”

Wanita itu menangis lirih dan sudah bangkit duduk. “Pangcu ditawan Kwa-kauwsu (guru silat Kwa), dan kami berlima dikeroyok belasan orang anak buahnya.”

Lee Siang bangkit berdiri, mukanya berubah merah dan ia mengepal tinju. “Keparat orang she Kwa! Enci Ciu, cepat kau pulang dan kerahkan semua saudara kita untuk menyerbu Yang-ce Bu-koan. Aku pergi dulu menolong suci!”

“Baik, siocia,” kata wanita itu yang masih menangisi empat orang saudaranya yang tewas. Biarpun hatinya hancur karena belum sempat mengurus jenazah empat orang saudaranya, terpaksa ia cepat berlari pulang untuk minta bala bantuan. Sementara itu, Lee Siang menghadapi Goan Ciang.

“Cu-enghiong, kami menghadapi urusan besar. Aku akan mencoba untuk menolong suci. Akan tetapi pekerjaan ini berbahaya sekali. Aku tidak berani memaksamu untuk membantu tetapi kalau engkau sudi membantuku, aku akan berbesar hati dan berterima kasih sekali.”

“Nona Kim, kenapa berkata demikian? Bukankah katamu sudah sepatutnya kalau kita saling bantu? Tentang bahaya, sudah sering aku terancam bahaya. Mari kita kejar mereka yang menawan sucimu itu.”

Pandang mata gadis itu berkilat penuh harapan dan kegembiraan, lalu iapun meloncat dan kini ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari cepat secepat mungkin. Namun, dengan kagum ia melihat betapa pemuda itu selalu dapat mengimbanginya, bahkan nampaknya tidak mengerahkan seluruh tenaganya.

“Nona, harap berhenti dulu,” tiba-tiba Goan Ciang berkata dan gadis itu menahan larinya, berhenti dan memandang kepada pemuda itu. Ia mengusap keringat dari lehernya karena tadi mengerahkan seluruh tenaga untuk berlari cepat.

“Ada apakah, Cu-enghiong?”

“Nona, kurasa amat ceroboh kalau kita hanya langsung saja mendatangi Yang-ce Bukoan, menghadapi mereka yang berjumlah banyak.”

Gadis itu mengerutkan alisnya yang bentuknya indah, “Aku tidak takut! Untuk menolong suci, aku rela mempertaruhkan nyawaku! Apakah engkau merasa jerih? Kalau engkau takut, biar aku sendiri yang akan menolongnya!”

Goan Ciang tersenyum. “Bukan takut, nona. Akan tetapi aku khawatir kita berdua akan gagal kalau menghadapi demikian banyaknya lawan...”

“Aku tidak takut!” kembali Lee Siang berkata tegas.

“Bukan soal berani atau takut, nona. Akan tetapi, apa artinya kalau kita berdua gagal? Kita mungkin tertangkap atau tewas, akan tetapi yang jelas, kegagalan, kita tidak akan menolong sucimu itu. Lalu apa artinya usaha yang sia-sia itu?”

“Habis, bagaimana? Apakah aku harus berpangku tangan mendiamkan saja suci ditawan mereka?”

“Tentu saja tidak, nona. Kita memang harus berusaha untuk menolong sucimu, akan tetapi tidak secara ceroboh yang akhirnya bukannya berhasil malah membahayakan diri sendiri. Kita harus mempergunakan akal agar dapat berhasil.”

Kalau tadinya wajah gadis itu muram dan marah, kini wajah itu berseri karena baru ia tahu akan maksud pemuda yang dikaguminya itu. “Ah, engkau benar sekali, Cu-enghiong! Akan tetapi akal apa yang dapat kita pergunakan untuk menolong suci?”

“Mulai saat ini, engkau harus menyebut aku twako dan aku menyebutmu siauw-moi agar orang menduga bahwa di antara kita masih ada hubungan kekeluargaan. Kita datangi mereka dan tentu mereka sudah tahu bahwa engkau adalah sumoi dari ketua Jang-kiang-pang, akan tetapi mereka belum mengenalku. Nah, aku akan mengaku bahwa aku adalah seorang kakak misan dari sucimu. Aku akan menuntut agar kalau kepala Yang-ce Bukoan sungguh-sungguh mencintai sucimu, dia harus mengajukan pinangan kepada aku sebagai walinya, agar perjodohan itu dilakukan secara terhormat. Serahkan saja kepadaku kalau sudah berhadapan dengan dia. Yang terpenting, kita dapat membebaskan sucimu terlebih dulu, bukan? Ini masih jauh lebih mengandung harapan berhasil dari pada kalau kita menyerbu secara kekerasan.”

Wajah gadis itu bersinar-sinar penuh harapan dan kekaguman. “Ahhh, Cu-enghiong... ah, maksudku, twako, siasatmu sungguh bagus sekali! Mudah-mudahan saja berhasil. Engkau benar, yang terpenting adalah membebaskan suci lebih dahulu dari tangan mereka. Kalau suci sudah bebas, hemm... mereka mau mengajak perang sekalipun, boleh!"

“Nona... eh, siauw-moi, mulai sekarang biarlah aku yang nanti bicara dengan mereka. Engkau mudah terpengaruh emosi sehingga dapat menggagalkan rencana kita.”

Lee Siang tersenyum dan dalam pandangan Goan Ciang, belum pernah dia melihat wajah semanis itu. “Baiklah, toako.”

Tak lama kemudian mereka berdua sudah tiba di satu-satunya dusun yang berada di lereng Bukit Kijang. Di dusun itulah adanya perguruan silat Yang-ce Bu-koan (perguruan silat sungai Yangce) yang mengambil namanya dari sungai besar yang mengalir di kaki bukit.

Semua penghuni dusun itu seolah-olah menjadi anggota perguruan itu karena mereka semua, yang muda-muda, menjadi murid perguruan itu, di samping murid yang berdatangan dari kota dan dusun lain. Karena itu, ketika penghuni dusun melihat munculnya Kim Lee Siang yang mereka kenal sebagai sumoi dari ketua Jang-kiang-pang, suasana menjadi gempar dan muncullah belasan orang jagoan perguruan itu, menghadang.

Melihat sikap mereka, Goan Ciang segera berkata dengan suara yang lantang dan berwibawa. “Hemm, beginikah caranya orang-orang Yang-ce Bu-koan menyambut calon keluarganya? Aku, Cu Goan Ciang, adalah kakak misan dari ketua Jang-kiang-pang Liu Bi yang sudah yatim piatu, aku adalah walinya dan aku ingin bicara dengan Kwa-kauwsu tentang perjodohan itu! Apakah pantas kalau aku disambut seperti seorang musuh?”

Mendengar ucapan yang lantang dan terdengara berwibawa itu, belasan orang jagoan Yang-ce Bu-koan tertegun dan bimbang. Seorang di antara mereka lalu maju dan mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Goan Ciang dan Lee Siang. Bagaimana juga, yang datang dari Jang-kiang-pang hanya dua orang, tidak perlu ditakuti.

“Maafkan sikap kami, karena kedatangan ji-wi tanpa memberi kabar lebih dahulu, kami tidak menyambut secara pantas. Kalau ji-wi hendak bicara tentang perjodohan, kami persilahkan jiwi untuk mengikuti kami bertemu dengan suhu kami.”

Dengan sikap gagah Goan Ciang dan Lee Siang mengikuti mereka menuju ke sebuah bangunan besar yang megah. Di depan bangunan itu terpancang sebuah papan nama perkumpulan yang ditulis dengan huruf-huruf besar dan gagah “Yang-ce Bu-koan”.

Agaknya telah ada anggota perguruan silat itu yang telah memberi laporan kepada Kwakauwsu (guru silat Kwa), karena ketika dua orang tamu itu tiba di depan rumah yang pekarangannya luas, guru silat itu telah menyambut dan berdiri di atas lantai bertangga dengan sikap gagah. Sambil melangkah maju menghampiri tuan rumah, Goan Ciang memandang penuh perhatian. Guru silat itu memang gagah.

Tubuhnya tinggi besar dengan perut yang gendut, nampak kokoh seperti baru karang dan usianya sekitar empat puluh lima tahun, matanya lebar bulat dan hidungnya besar, bibirnya tebal. Tidak tampan memang, akan tetapi nampak jantan dan menyeramkan bagi lawan. Pakaiannya berwarna biru, potongannya ringkas seperti pakaian ahli silat, dengan lengan baju digulung sampai ke siku sehingga nampak sepasang lengan yang berotot dan berbulu dengan jari-jari yang panjang besar dan kasar.

Bukan penampilan yang dapat menarik hati wanita, maka Goan Ciang tidak heran mengapa ketua Jang-kiang-pang menolak lamaran laki-laki ini. Untung bahwa Goan Ciang sudah memesan kepada Lee Siang untuk diam saka dan membiarkan dia yang bicara dengan guru silat itu, karena kalau saja tidak demikian, begitu bertemu dengan Kwa-kauwsu, tentu Lee Siang akan langsung memakinya atau bahkan menyerangnya untuk menuntut dibebaskannya sucinya. Gadis itu menahan diri dan diam saja.

Sementara itu, Kwa-kauwsu yang sudah mengenal Lee Siang mengetahui bahwa gadis itu adalah sumoi dari ketua Jang-kiang-pang yang membuatnya tergila-gila, akan tetapi dia tidak mengenal Cu Goan Ciang walaupun tadi dia sudah mendengar laporan bahwa Cu Goan Ciang adalah kakak misan dari calon isterinya!

“Selamat datang, Nona Kim Lee Siang, atau lebih tepat kusebut adik Kim Lee Siang saja? Dan siapakah saudara yang datang berkunjung?” Dia pura-pura tidak tahu dan bertanya kepada Goan Ciang sambil merangkap kedua tangan depan dada sebagai penghormatan.

Cu Goan Ciang membalas penghormatan itu sedangkan Lee Siang diam saja. Sambil tersenyum ramah Goan Ciang berkata, “Aku bernama Cu Goan Ciang, dan aku adalah kakak misan dari adikku Liu Bi yang sudah bertahun-tahun tidak kujumpai. Ketika aku datang berkunjung, aku mendengar tentang peristiwanya dengan Yang-ce Bu-koan! Aku ingin sekali bertemu dengan guru silat dari bu-koan ini untuk membicarakan urusan itu.”

“Akulah Kwa Teng atau disebut Kwa-kauwsu pemilik Yang-ce Bu-koan,” kata guru silat itu sambil membusungkan dada. “Aku adalah calon suami nona Liu Bi ketua Jang-kiang-pang!”

“Ah, kalau begitu aku berhadapan dengan calon adik iparku!” kata Cu Goan Ciang sambil memberi hormat lagi. “Akan tetapi aku mendengar bahwa telah terjadi keributan dan perkelahian antara engkau dan adik misanku Liu Bi, benarkah itu? Dan engkau bahkan telah menawannya? Bagaimana pula ini?”

Guru silat itu tertawa. “Ha-ha-ha, hanya ada sedikit perselisihan. Calon isteriku itu tadinya memandang rendah kepadaku dan menantang untuk mengadu kepandaian dengan janji ia akan mau menjadi isteriku kalau aku mampu mengalahkannya. Nah, ia telah kalah dan kini ia sudah berada di sini, tinggal menanti dirayakannya pernikahan kami.”

Cu Goan Ciang mengerutkan alisnya. “Aih, Kwa-kauwsu, tindakanmu itu salah besar dan hanya akan merugikan nama besarmu sendiri saja. Seyogyanya engkau tidak menyanderanya dan setelah ia kalah, kalau engkau mengajukan pinangan secara terhormat, tentu kelak ia akan menjadi isterimu yang setia dan baik. Sebaliknya kalau secara menyandera begini, apa akan kata dunia kang-ouw?

"Engkau tentu dianggap sebagai seorang penculik dan pemaksa, dan adik misanku tidak akan merasa terhormat, bagaimana akan dapat menjadi isterimu yang mencinta? Juga, tentu para saudaranya akan memusuhimu dan permusuhan takkan pernah berhenti, mengganggu ketenteraman hidupmu.”

Kwa-kauwsu tertegun. Tentu saja dia tahu akan hal itu. Akan tetapi tidak ada jalan lain baginya. Mula-mula, dia mengajukan pinangan secara resmi terhadap ketua Jang-kiangpang yang membuatnya tergila-gila itu, akan tetapi utusannya yang melakukan lamaran itu ditolak bahkan dihina. Lalu dia membuat surat tantangan, menantang Nona Liu Bi untuk mengadakan pi-bu (adu ilmu silat) di hutan bambu kuning.

Dengan pengeroyokan para muridnya yang jumlahnya jauh lebih banyak, dia berhasil merobohkan lima orang anak buah gadis ketua itu dan menawannya, lalu membawanya pulang. Karena sudah dikalahkannya, dia akan memaksa Liu Bi menjadi isterinya.

Tentu saja dia sendiri tidak menyukai cara pernikahan seperti ini yang mengandung paksaan, akan tetapi dia tidak melihat cara lain yang memungkinkan dia menikah dengan gadis yang membuatnya tergila-gila itu. Dia sendiri seorang duda dan ketika dia melihat ketua Jang-kiang-pang, seketika dia jatuh cinta dan tergila-gila.

“Hemm, saudara Cu, kalau menurut pendapatmu, apa yang harus kulakukan untuk dapat menikah dengan Nona Liu Bi secara terhormat?”

“Kwa-kauwsu yang perkasa, aku adalah kakak misannya, satu-satunya keluarganya yang lebih tua sehingga aku dapat mewakili kedua orang tuanya yang sudah tiada, dapat menjadi walinya. Aku berhak membicarakan urusan perjodohannya dengan terhormat. Kalau secara resmi engkau melamar Liu Bi kepadaku, lalu kuterima lamaran itu dan diadakan upacara dan pesta pernikahan secara resmi.

"Maka pernikahan itu akan terhormat dan engkau akan mendapatkan seorang isteri yang baik dan penurut. Sebaliknya, kalau engkau menggunakan cara paksaan seperti ini, bukankah keselamatanmu akan terancam setiap saat? Engkau seperti mengawini seorang musuh besar yang tiap saat dapat saja membunuhmu.”

Kwa-kauwsu terbelalak. Tadinya dia mengira bahwa setelah ketua Jang-kiang-pang itu menjadi isterinya, wanita itu akan tunduk kepadanya. Baru sekarang dia melihat kemungkinan terjadinya hal yang diucapkan tamunya itu.

“Saudara Cu, dan engkau nona Kim, mari kita bicara di dalam kamar tamu. Silahkan!” katanya dan sikapnya kini berubah ramah karena dia melihat bahwa tamunya ini agaknya akan dapat menolongnya dari keadaan yang gawat itu. Tentu saja dia ingin memperisteri Liu Bi secara wajar. Dia bukan pula penjahat yang suka memperkosa wanita, apa lagi Liu Bi yang membuatnya tergila-gila dan dicintanya.

Cu Goan Ciang dan Kim Lee Siang melihat betapa tuan rumah masih bersikap waspada ketika Kwa-kauwsu mengiringkan mereka masuk ke kamar tamu, sepuluh orang yang agaknya menjadi murid atau pembantu utamanya, mengiringkannya dan ikut masuk ke kamar tamu.

Ketika Kwa-kauwsu mempersilahkan mereka berdua mengambil tempat duduk berhadapan dengan guru silat itu, sepuluh orang itu berdiri berkelompok di sudut ruangan, berjaga-jaga. Kalau mereka berdua menggunakan kekerasab terhadap tuan rumah, tentu sepuluh orang itu akan maju mengeroyok, dan sebentar saja seluruh penghuni dusun itu akan mengepung mereka.

Setelah kedua orang tamunya duduk, Kwa-kauwsu berkata sambil mengamati wajah Cu Goan Ciang. “Apa yang kau katakan tadi memang ada benarnya dan aku sendiri menghendaki agar pernikahanku dengan Liu Bi dapat berlangsung secara wajar dan terhormat. Akan tetapi, bagaimana kalau ia menolak pinanganku yang resmi seperti yang pernah ia lakukan?”

Cu Goan Ciang tertawa. “Aku mengenal betul watak adik misanku itu. Wataknya memang keras dan angkuh, tidak mudah tunduk. Karena, ketika engkau mengajukan lamaran, di pihaknya tidak ada walinya, maka ia merasa tersinggung dan menolak. Akan tetapi aku tahu bahwa adikku Liu Bi itu hanya mau berjodoh dengan laki-laki yang gagah perkasa dan mampu menandingi ilmu silatnya. Nah, kurasa engkau merupakan seorang pria yang cocok sekali dan memenuhi syarat untuk menjadi suaminya.”

“Sebaiknya kalau engkau mengundang suci ke sini untuk bicara dengan kami, Kwa-kauwsu,” kata Kim Lee Siang yang sejak tadi diam saja.

Guru silat itu memandang curiga kepada gadis manis itu. “Hemm, aku meragukan apakah ia akan mau menerima pinanganku dengan baik.”

Cu Goan Ciang cepat berkata, “Kauwsu, kenapa engkau masih ragu? Aku yang menanggung bahwa adikku itu pasti akan mau menerimanya. Aku yang akan membujuknya. Sebaiknya kalau ia dipanggil ke sini agar dapat bicara denganku. Pula, kami bertiga berada di rumahmu, di tengah dusunmu, tidak ada yang perlu kau khawatirkan!”

Kwa-kauwsu mengangguk-angguk, benar juga, pikirnya. Andai kata Liu Bi dan adik seperguruannya ini mengamuk, dibantu oleh kakak misannya sekalipun, mereka bertiga tidak mungkin dapat lolos dari pengepungan para muridnya. Dan pemuda yang jangkung tegap ini agaknya bicara serius dan dapat dipercaya.

“Baiklah, akan kupanggil ia ke sini. Akan tetapi, kalau usaha kalian membujuknya tidak berhasil dan ia tetap hendak menolak, terpaksa kami akan menawan kalian semua!” Kwa-kauwsu memberi isarat kepada seorang pengawal yang segera memberi hormat dan keluar dari ruangan itu.

Dengan hati berdebar tegang, Goan Ciang dan Lee Siang menunggu dan untuk menenteramkan suasana, Goan Ciang berkata, “Kwa-kauwsu, kenapa masih mencurigai kami? Kami datang dengan maksud baik, untuk mendamaikan perselisihan di antara adik misanku dan engkau sebagai calon suaminya.”

Tak lama kemudian, pintu sebelah dalam ruangan itu terbuka dan muncullah seorang wanita muda yang cantik sekali. Cu Goan Ciang sendiri sampai tertegun melihat betapa cantiknya gadis itu. Di belakang gadis itu, berjalan dua belas orang pengawal yang memegang golok. Wajah gadis itu agak pucat, namun pandang matanya bersinar-sinar penuh keberanian. Ia terbelalak heran melihat Lee Siang dan Goan Ciang.

“Suci! Aku dan Cu-toako datang untuk menolongmu!” Lee Siang berseru dengan sikap gembira sekali melihat sucinya dalam keadaan selamat.

Dengan sikap wajar dan wajah gembira, Cu Goan Ciang bangkit berdiri memandang gadis itu dan berseru, “Piauw-moi (adik misan), agaknya engkau lupa kepadaku! Tidak aneh karena sudah lima tahun lebih kita tidak saling jumpa, piauw-moi, aku adalah Cu Goan Ciang, putera bibimu!”

”Suci, aku sendiri hampir tidak mengenal lagi kepada Cu-toako ketika dia datang kemarin!” kata Lee Siang dengan nada suara gembira.

Jang-kiang Sianli Liu Bi bukanlah seorang wanita bodoh. Sama sekali tidak. Ia seorang tokoh kang-ouw yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan amat cerdik. Kalau sampai ia dapat tertawan oleh Kwa-kauwsu adalah karena ia sama sekali tidak menduga bahwa guru silat itu demikian tergila-gila kepadanya sehingga tidak segan melakukan kecurangan dan mengeroyoknya untuk mendapatkan dirinya, secara halus maupun kasar!

Kini, mendengar ucapan pemuda yang sama sekali tidak pernah dilihatnya itu dan ucapan sumoinya, iapun mengerti bahwa siapapun adanya pemuda itu, tentu dia datang diajak sumoinya untuk menolongnya. Ia lalu tersenyum, dan menghampiri Goan Ciang, memberi hormat dengan ramah.

“Aih, kiranya Cu-piauwko yang datang bersama sumoi? Akan tetapi, apa yang dapat kau lakukan piauw-ko? Aku telah menjadi tawanan Kwa-kauwsu!” Ia menoleh ke arah guru silat itu dan memandang marah.

Cu Goan Ciang memang sengaja hendak mengulur waktu sambil menunggu datangnya bala bantuan. Maka dia lalu memandang kepada Kwa-kauwsu. “Kwa-kauwsu, kalau kami dibiarkan bertiga saja di sini, aku akan mencoba untuk membujuk dan mengingatkan, menyadarkan piauw-moiku ini agar ia menyadari bahwa kini ia telah menemukan jodohnya yang cocok dan serasi. Jangan khawatir, kami tidak akan membuat ulah macam-macam, pula, bukankah engkau dengan seluruh anak buahmu dapat mengepung tempat ini dan kami sama sekali tidak akan dapat melarikan diri?”

Kwa-kauwsu mengangguk-angguk, menganggap bahwa ucapan pemuda itu memang beralasan. Tentu saja dia akan merasa berbahagia sekali kalau Liu Bi dengan suka rela suka menjadi isterinya, bukan isteri paksaan yang kelak dapat membahayakan dirinya.

Dia lalu memberi isyarat kepada para murid dan anak buahnya dan merekapun lalu meninggalkan Goan Ciang, Lee Siang dan Liu Bi bertiga saja di dalam ruangan tamu itu. Tentu saja dia mengerahkan murid-muridnya untuk mengepung ruangan itu dengan ketat. Cu Goan Ciang yang sudah mengatur siasat dengan Lee Siang, lalau mulai membujuk.

“Piauwmoi” itu dengan kata-kata yang cukup lantang sehingga akan dapat terdengar oleh orang yang melakukan pengintaian.

Sedangkan Lee Siang dengan berbisik memberitahu sucinya, suaranya tertutup oleh ucapan Goan Ciang yang lantang, bahwa mereka bertiga harus menanti sampai datangnya para anggota Jang-kiang-pang yang akan datang menyerbu, barulah mereka bertiga akan mengamuk.

Juga ia mengatakan dengan lirih bahwa pemuda itu adalah seorang kenalan baru yang menjadi pelarian karena membunuh seorang perwira dan kini hendak membalas budi karena telah ditolongnya ketika melarikan diri, memiliki kepandaian yang boleh diandalkan.

Liu Bi yang cerdik melayani permainan sandiwara itu dan pura-pura menolak dengan suara keras. “Dia telah mengeroyok dan menawanku, bahkan telah membunuh Ngo-liong Ci-moi yang menjadi pembantu utamaku, bagaimana mungkin aku dapat menjadi isterinya?” demikian antara lain dia berteriak.

“Piauw-moi, pikirkanlah baik-baik. Kesalah-pahaman yang menimbulkan perkelahian itu adalah karena engkau menolak lamarannya dengan keras sehingga Kwa-kauwsu merasa terhina dan marah. Sudah wajar kalau dalam perkelahian jatuh korban. Bagaimanapun juga, engkau diperlakukan dengan sopan dan baik, bukan?”

“Itu memang benar, akan tetapi aku... aku belum ingin menikah.”

“Piauw-moi, ingat bahwa arwah kedua orang tuamu tentu akan merasa tenteram kalau melihat engkau menikah. Usiamu juga tidak terlalu muda lagi, sudah sepantasnya kalau engkau menikah. Engkau dahulu selalu mengatakan kepadaku bahwa engkau hanya akan menikah dengan seorang pria yang mampu menandingimu. Sekarang, Kwa-kauwsu bahkan telah menawanmu.

"Dia memiliki kepandaian tinggi, juga perguruan silatnya besar, namanya cukup dikenal dan disegani, selain itu, walaupun dia seorang duda, dia belum mempunyai keturunan. Nah, mau apa lagi? Adapun tentang peristiwa perkelahian itu, aku yakin Kwa-kauwsu suka meminta maaf dan akan mengajukan pinangan dengan resmi kepada aku sebagai walimu.”

Sengaja kedua orang ini berbantahan secara panjang lebar mengulur waktu. Tiba-tiba terdengar ribut-ribut di luar, dan tiga orang itu mendengar dengan jelas teriakan-teriakan bahwa orang-orang Jang-kiang-pang datang menyerbu, bahkan mulai terdengar teriakan-teriakan perkelahian yang riuh rendah. Inilah saatnya mereka bergerak.

Lee Siang mencabut pedangnya. Ia sengaja membawa dua batang pedang dan ia menyerahkan sebatang kepada sucinya yang diterima dengan gembira. Adapun Cu Goan Ciang sendiri memang tidak membawa senjata.

Pada saat itu, pintu depan ruangan itu terbuka dan nampak Kwa-kauwsu dengan golok di tangan, bersama belasan orang muridnya berdiri di luar pintu dan dia berteriak, “Liu Bi, Lee Siang, dan Cu Goan Ciang! Orang-orang Jang-kiang-pang datang menyerbu. Apa artinya ini?”

Sebelum Jang-kiang Sianli Liu Bi menjawab, Cu Goan Ciang mendahului dia dan dia berkata, “Kwa-kauwsu, biarkan kami mencegah mereka. Ini tentu kesalah-pahaman dari mereka yang mengira bahwa ketua mereka diperlakukan tidak baik!”

Guru silat itu meragu, akan tetapi karena keadaan gawat, diapun mengangguk dan memperingatkan, “Cu Goan Ciang, kalau kalian menipu kami, kalian akan kami bunuh!”

“Kita adalah antara calon keluarga sendiri, kenapa harus menipu?” katanya dan dia memberi isarat kepada Lee Siang dan Liu Bi untuk mengikutinya keluar.

Guru silat itu bersama belasan orang muridnya lalu mengikuti dari belakang dan ternyata memang para anggota Jang-kiang-pang sudah mulai menyerbu sehingga terjadi perkelahian di pintu gerbang.

Kini, Liu Bi yang berseru nyaring kepada anak buahnya, “Tahan senjata!”

Melihat betapa ketua mereka dalam keadaan selamat, juga di situ terdapat pula Lee Siang, para anggota Jang-kiang-pang mundur dan berteriak-teriak dengan gembira. Mereka terdiri dari puluhan orang laki-laki dan wanita. Liu Bi sekarang memimpin dan di sebelahnya berdiri Lee Siang dan Cu Goan Ciang. Para anak buah Jang-kiang-pang berdiri di belakang mereka. Dengan mata berkilat kini Liu Bi berdiri tegak, pedang di tangan kanan dan telunjuk kirinya ditudingkan ke arah muka Kwakauwsu.

“Orang she Kwa, engkau manusia curang tak tahu malu. Sekarang tinggal engkau pilih, hendak mengadakan pertempuran mati-matian dan aku akan mengerahkan seluruh orangku untuk membakar dan membasmi perkampunganmu, atau kita mengadu kepandaian secara orang gagah tanpa ada pengeroyokan dan kecurangan lain!” Sikap ketua Jang-kiang-pang itu gagah sekali.

Kwa-kauwsu marah bukan main dan memandang kepada Cu Goan Ciang. “Orang she Cu, kiranya engkau telah menipu kami! Keparat busuk, siapa engkau sebenarnya?”

Goan Ciang tersenyum. “Kami tidak menipumu, Kwa-kauwsu, hanya mengimbangi siasatmu yang licik. Aku bernama Cu Goan Ciang dan sahabat dari nona Kim Lee Siang. Engkau menawan ketua Jang-kiang-pang dengan menggunakan kecurangan, melakukan pengeroyokan. Nah, sekarang kami menantangmu untuk mengadu kepandaian sebagai orang gagah, atau engkau lebih menginginkan diserang habis-habisan?”

Kini ketua Jang-kiang-pang baru tahu akan kecerdikan pemuda yang mengaku kakak misannya itu yang ternyata mempergunakan siasat yang nampaknya mengalah dan lunak, hanya untuk menanti datangnya bala bantuan.

“Cu-twako,” katanya dengan sikap manis dan tidak ragu-ragu menyebut pemuda itu twako, “terima kasih atas bantuanmu. Akan tetapi tidak perlu twako terlibat, biar aku sendiri yang akan menghajar pengecut Kwa ini. Hayo, Kwa Teng, kita bertanding satu lawan satu! Orang macam engkau ingin memperisteri aku? Sungguh tidak tahu malu!”

Tentu saja Kwa-kauwsu marah bukan main. Dia telah dihina oleh Liu Bi di depan semua muridnya. Pada hal tadinya dia sudah mengumumkan bahwa ketua Jang-kiang-pang akan menjadi isterinya. Akan tetapi, ketika dia mengeroyok ketua itu dengan para murid andalannya, dia tahu bahwa Jang-kiang Sianli Liu Bi amat lihai dan kalau dia seorang diri menandinginya, belum tentu dia akan menang, untuk mengadakan pertempuran, biarpun pihaknya memiliki anak buah yang lebih banyak.

Namun para anggota Jang-kiang-pang rata-rata lihai dan selain itu, yang amat berbahaya baginya adalah mengingat bahwa para pimpinan Jang-kiang-pang mempunyai hubungan baik sekali dengan para pejabat di Wuhan sehingga kalau terjadi pertempuran, tentu pasukan keamanan pemerintah akan berpihak kepada Liu Bi. Hal ini akan merupakan malapetaka baginya. Dia menjadi serba salah. Lalu dengan mata melotot dia menghadapi Cu Goan Ciang.

“Orang she Cu! Engkau yang menjadi biang keladi dengan menipuku sehingga terjadi pertentangan ini. Aku, Kwa Teng, menantang Cu Goan Ciang sebagai sama-sama laki-laki untuk mengadu ilmu di sini, disaksikan oleh semua anak buah kedua pihak!”

“Kwa Teng, manusia curang! Yang bermusuhan adalah engkau dan aku! Cu-twako ini adalah orang luar. Akulah yang akan menandingimu, bukan orang lain!” kata Liu Bi yang merasa khawatir kalau-kalau penolongnya itu akan kalah karena ia tahu bahwa tingkat kepandaian guru silat itu sudah tinggi, bahkan tidak banyak selisihnya dengan ia sendiri.

Akan tetapi, biarpun Lee Siang sendiri belum pernah menguji ilmu kepandaian Goan Ciang, gadis ini sudah melihat betapa pemuda itu dapat berlari cepat, bahkan memiliki tenaga lebih kuat dari padanya. Maka iapun berkata dengan senyum bangga. “Suci, biarkan Cu-twako memberi hajaran kepada manusia sombong dan curang itu!”

Mendengar ucapan sumoinya, Liu Bi percaya bahwa pemuda itu agaknya boleh diandalkan, maka iapun tersenyum dan mengangguk. “Baiklah, agaknya Kwa-kauwsu tidak berani menantang aku, maka menantang Cu-twako. Biar aku menjadi penonton saja atau menunggu siapa di antara pihak Yang-ce Bu-koan yang akan berani menantangku.”

Cu Goan Ciang lalu maju menghadapi ketua atau guru dari Yang-ce Bu-koan yang marah itu. Guru silat itu memegang sebatang golok besar yang mengkilap saking tajamnya, akan tetapi Goan Ciang tidak memegang senjata. Melihat ini, Lee Siang berkata, “Twako, pakailah pedangku ini!”

Goan Ciang menoleh dan tersenyum kepadanya. “Tidak perlu, Siang-moi, terima kasih. Aku tidak biasa menggunakan pedang atau senjata lain.” Tadinya dia dan Lee Siang saling menyebut twako dan siauwmoi hanya untuk bersandiwara dan bersiasat kepada Kwa-kauwsu, akan tetapi sekarang rasanya canggung kalau mengubah sebutan yang sudah akrab itu.

Melihat betapa Cu Goan Ciang menghadapinya dengan tangan kosong, guru silat Kwa menjadi semakin marah, merasa dipandang rendah. “Orang she Cu, keluarkan senjatamu!” tantangnya.

Cu Goan Ciang memandang kepadanya dengan sikap tenang. “Kwa-kauwsu, aku tidak perlu menggunakan senjata menghadapimu. Aku bukan orang yang suka mempergunakan senjata dan kekerasan untuk memaksakan kehendakku, apa lagi memaksa wanita yang tidak suka untuk menjadi isteriku. Biar kulawan engkau dengan tangan kosong saja.”

“Manusia sombong! Keluarkan senjatamu atau jangan katakan aku curang kalau nanti tubuhmu lumat oleh golokku ini!” Dia membentak sambil mengamangkan goloknya yang besar, berat dan mengkilap.

“Majulah, Kwa-kauwsu. Dalam suatu pertandingan, kalah atau menang adalah hal wajar, terluka atau matipun tidak perlu dibuat penasaran lagi. Aku sudah siap menghadapi golokmu dengan tangan kosong!” kata Cu Goan Ciang pula.

Memang pemuda ini, sejak menerima ilmu Sin-tiauw ciang-hoat (Silat Rajawali Sakti), ilmu yang khas dari Lauw In Hwesio, tidak perlu lagi mempergunakan senjata. Ilmu silat itu bahkan lebih cocok dimainkan dengan tangan kosong, karena seperti gerakan seekor rajawali, tangan itu bukan hanya dapat dipergunakan untuk memukul dan menotok, namun juga mencengkeram dan keampuhan tangan dari ilmu itu tidak kalah hebatnya dibandingkan senjata yang bagaimanapun.

Kwa-kauwsu agaknya sekali ini ingin bersikap gagah. Dia memandang ke sekeliling dan berkata dengan suara lantang. “Kalian semua menjadi saksi. Dia sendiri yang menantang golokku dengan tangan kosong, dia sendiri yang mencari mati, jangan ada yang menyalahkan aku nanti. Cu Goan Ciang, bersiaplah menyambut seranganku.”

Kedua orang itu saling berdiri berhadapan dan dengan sendirinya semua orang kedua pihak membentuk lingkaran yang lebar dan bersikap di pihak masing-masing, menonton dengan hati tegang. Guru silat itu memasang kuda-kuda yang gagah, dengan golok melintang di atas kepala, siap untuk menyerang.

Sedangkan Cu Goan Ciang masih nampak santai saja, berdiri tegak dan mengikuti gerakan lawan yang mengitarinya dengan sudut matanya. Sikap Goan Ciang seperti seekor burung rajawali yang mengintai gerakan seekor ular yang mengitarinya dan yang mengancamnya, demikian tenang namun waspada dan setiap jaringan syaraf di tubuhnya menegang.

Setelah mengitari lawan sampai dua kali putaran, tiba-tiba Kwa-kauwsu mengeluarkan bentakan nyaring, “Hyaaaatttt...!!”

Dan goloknya menyambar dari samping kanan Goan Ciang, menyambar dari atas ke arah leher lawan. Terdengar bunyi berdesing diikuti sambaran angin saking tajam dan cepatnya golok itu menyambar. Golok itu lenyap berubah menjadi sinar terang yang menyambar, dan semua orang menahan napas karena agaknya akan sukar menghindarkan diri dari bacokan golok sehebat itu.

“Singg....!” Golok itu mengenai tempat kosong karena dengan mudah dan ringannya tubuh Goan Ciang telah mengelak dengan menggesek kaki ke samping. Namun, Kwa-kauwsu sudah memutar pergelangan tangannya sehingga golok yang menyambar tempat kosong tadi kini membalik dan menyambar ke arah pinggang Goan Ciang.

Kembali Goan Ciang mengelak dengan loncatan ke belakang dan sekali lagi golok itu menyambar, kini ke arah kedua kakinya seperti orang membabat ilalang saja. Goan Ciang melompat ke atas dan mengembangkan kedua tangannya seperti seekor burung rajawali terbang dan kini pemuda itu mulai memainkan ilmu andalannya, yaitu Sin-tiauw Ciang-hwai.

Bagaikan seekor burung rajawali saja, tubuhnya berkelebatan dan berloncatan seperti terbang, cepat bukan main dan dari atas, dari segala jurusan, dia membalas serangan lawan dengan tendangan, cengkeraman dan totokan, membuat Kwa-kauwsu menjadi sibuk sekali karena biarpun semua serangan balasan itu tidak mempergunakan senjata, namun bahanya tidak kalah dengan serangan senjata tajam.

Kini, baik Lee Siang maupun Liu Bi sendiri tercengang. Mereka berdua adalah dua orang wanita gagah yang memiliki ilmu silat tinggi, sudah banyak pula melihat ilmu silat sehingga mereka tadi mengenal dasar gerakan ilmu silat Siauw-him-pai. Akan tetapi setelah Goan Ciang memainkan ilmu silat Sin-tiauw Ciang-hwat, mereka tercengang dan tidak mengenal ilmu yang amat cepat gerakannya dan aneh, mirip gerakan seekor burung rajawali yang menyambar-nyambar.

Sementara itu, Kwa-kauwsu dengan nekat dan membabi buta mencoba untuk membabat bayangan tubuh yang berloncatan itu dengan bacokan goloknya. Diam-diam dia terkejut dan menyesal mengapa dia tadi memandang rendah pemuda ini. Ternyata pemuda ini demikian lihainya, dan baginya akan lebih menguntungkan kalau dia menandingi Jang-kiang Siang-li Liu Bi sendiri dari pada melawan pemuda yang gerakannya lincah dan aneh ini.

Akan tetapi karena sudah terlanjur, dia hanya dapat bertindak nekat, mempergunakan keuntungannya memegang golok sedangkan lawannya bertangan kosong, untuk menyerang dengan ganas dan dahsyat. Namun, semua bacokan dan tusukan golok itu tak pernah mengenai tubuh Goan Ciang, sebaliknya, dua kali Kwa-kauwsu terhuyung karena pundaknya terkena tamparan ketika tubuh Goan Ciang menyambar dari atas, kemudian punggungnya juga terkena tendangan.

Walaupun dua kali serangan itu membuat dia hanya terhuyung dan belum roboh, namun cukup membuat hati Kwa-kauwsu menjadi semakin penasaran. Dia adalah seorang ahli silat yang berpengalaman, bahkan di daerah itu dia dikenal sebagai guru silat yang pandai, mempunyai banyak murid.

Kalau sekali ini, dengan golok di tangan, dia sampai kalah melawan seorang pemuda bertangan kosong, padahal disaksikan oleh semua penghuni dusunnya dan oleh semua anggota Jang-kiang-pang, maka namanya akan jatuh dan tentu dia akan menjadi bahan ejekan orang di dunia persilatan.

“Mampuslah...!” Dia berteriak lantang dan secara nekat dan membabi buta dia menyerangkan goloknya dengan bacokan kilat ke arah dada Goan Ciang.

Melihat kenekatan lawan, Goan Ciang merendahkan tubuhnya dan ketika golok lewat di atas kepalanya, secepat kilat tangannya menotok ke atas, menggunakan jari telunjuk dan jari tengah, tepat menotok jalan darah di pergelangan tangan lawan.

“Tukk!” Kwa-kauwsu mengeluh dan terpaksa dia melepaskan goloknya karena tangan kanannya tiba-tiba menjadi lumpuh oleh totokan itu. Dia terkejut sekali dan cepat menggulingkan tubuh agar jangan sampai tersusul serangan lawan. Tubuhnya bergulingan menjauh, kemudian dia meloncat berdiri dan biarpun kini dia sudah tidak memegang senjata lagi, dengan nekat dia lalu menerjang dan menyerang dengan tangan kosong!

Menggunakan golok besar saja dia tidak mampu menang, apalagi kini bertangan kosong. Dia masih mencoba mengerahkan tenaga dan menyerang dengan dahsyat, namun tentu saja dengan mudah serangannya dapat dipatahkan Goan Ciang, sekali ini bukan mengelak melainkan menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

“Dukkk!” Dua buah lengan bertemu dan akibatnya, Kwa-kauwsu terdorong mundur sampai beberapa langkah. Goan Ciang tidak memberi hati lagi, maju dan mengirim tendangan yang membuat tubuh guru silat itu terjengkang.

Pada saat itu, sepuluh orang murid utamanya maju dengan golok di tangan mengeroyok Cu Goan Ciang. Melihat ini, Liu Bi dan Lee Siang juga berlompatan maju dan pedang mereka segera mengamuk di antara sepuluh orang itu. Guru silat Kwa sudah maju lagi, agak berbesar hati karena kini sepuluh orang murid utamanya sudah membantu, dan dia sudah menyambar sebatang golok dari tangan seorang muridnya.

Namun, Goan Ciang yang merasa marah melihat kecurangan lawan yang menggunakan pengeroyokan, sudah mendahuluinya dan sekali tangannya menyambar, tangannya sudah menghantam dada lawan, membuat guru silat itu terbanting dan terjengkang keras, muntah darah dan tidak dapat berdiri lagi, hanya bangkit duduk sambil mengerang kesakitan.

Sementara itu, Lee Siang dan Liu Bi mengamuk dan dalam waktu singkat saja, kedua orang gadis cantik itu sudah merobohkan sepuluh orang pengeroyoknya, dan mereka yang roboh oleh pedang kedua wanita itu jelas tidak mampu bangun kembali karena mereka semua telah tewas. Mayat sepuluh orang itu malang melintang dan kedua orang gadis itu, dengan pedang di tangan siap untuk mengamuk atau mengerahkan anak buahnya.

“Orang she Kwa, bagaimana sekarang? Apakah engkau masih hendak melanjutkan pertempuran ini?" Liu Bi menantang.

Kwa-kauwsu maklum bahwa pihaknya telah kalah. Kalau dia mengerahkan semua muridnya untuk melawan, sama saja dengan menyuruh para murid itu membunuh diri. Dia sendiri sudah tidak mampu melawan. Sepuluh orang murid kepala yang diandalkan telah tewas. Sedangkan di pihak musuh terdapat pemuda yang amat lihai itu. “Aku mengaku kalah.” katanya dengan lirih dan menundukkan mukanya.

Cu Goan Ciang maklum bahwa kalau dia tidak cepat bertindak, kekalahan ini akan menimbulkan dendam yang berkelanjutan yang akhirnya hanya akan merugikan kedua pihak, maka dia lalu berkata kepada guru silat itu. “Kwa-kauwsu, sebaiknya kalau permusuhan ini diakhiri sampai di sini. Perjodohan tidak mungkin dapat dipaksakan. Engkau telah membunuh empat orang pembantu utama pangcu dari Jang-kiang-pang di lain pihak, sepuluh orang muridmu juga tewas. Habisi saja permusuhan ini dan anggap saja bahwa Nona Liu Bi bukan jodohmu.”

Guru silat itu dengan wajah lesu dan masih menunduk, mengangguk dan berkata lemah, “Aku mengaku kalah....”

“Nanti dulu, terlalu enak kalau hanya bergitu, “kata Liu Bi penasaran. “Kalau dia masih tinggal di sini, aku tidak tanggung bahwa lain kali tidak akan terjadi bentrokan lagi karena kami tentu tidak mudah melupan begitu saja penghinaan yang telah dia lakukan terhadap kami.”

“Hemmm, lalu apa yang kau kehendaki, pangcu?” tanya Cu Goan Ciang.

“Dia harus pergi dari sini dan membubarkan Yang-ce Bu-koan dan tidak pernah lagi memperlihatkan mukanya di sini. Kalau hal itu tidak dia lakukan, terpaksa aku akan membunuhnya!”

Cu Goan Ciang, mengerutkan alisnya. Memang harus dia akui bahwa guru silat itu telah membuat kesalahan, namun hukuman yang dideritanya sekarang sudah cukup hebat. Sepuluh orang muridnya tewas, niatnya memperisteri ketua Jang-kiang-pang gagal dan namanya pun jatuh.

Akan tetapi, Liu Bi menuntut yang lebih keras lagi, menunjukkan bahwa watak ketua Jang-kiang-pang ini berwatak keras, tidak selembut watak Kim Lee Siang. Akan tetapi, dia hanya orang luar dan urusan itu adalah urusan pribadi antara Liu Bi dan Kwa-kauwsu, maka diapun tidak dapat mengambil keputusan. “Bagaimana pendapatmu, Kwa-kauwsu?”

Guru silat itu mengangguk dengan wajah muram. “Hemm, kau kira aku masih sudi tinggal di sini setelah aku kalah oleh bocah she Cu ini? Jangan khawatir, hari ini juga aku akan membubarkan Yang-ce Bu-koan dan akan meninggalkan tempat ini.”

Legalah hati Goan Ciang. Kiranya guru silat ini sudah patah hati dan malu untuk tetap tinggal di situ sehingga memudahkan apa yang dikehendaki Liu Bi, maka tidak akan menimbulkan persoalan lagi.

Ketika dengan sikap ramah, Liu Bi mempersilakan Goan Ciang untuk singgah di perkumpulannya untuk ikut merayakan kemenangan itu, dia hendak menolak, akan tetapi ketika Lee Siang juga ikut mengundangnya, dia tidak dapat lagi menolak.

Bagaimanapun juga, dia tertarik sekali kepada Lee Siang dan dia ingin mengenal lebih dekat dua orang kakak beradik seperguruan itu. Mereka ini merupakan tenaga-tenaga yang kuat dan baik sekali kalau kelak dia membutuhkan persekutuan seperti yang dicita-citakannya.

Demikianlah, diapun ikut pulang bersama Liu Bi dan Lee Siang dan diperlakukan dengan sikap hormat oleh para anggota Jang-kiang-pang yang menganggapnya sebagai seorang yang telah menyelamatkan ketua mereka. Karena dia sendiri masih menjadi buronan pemerintah, maka Goan Ciang juga tidak menolak ketika Lee Siang menyarankan agar untuk semetara dia bersembunyi di perkumpulan itu.

Setelah tinggal di perkumpulan Jang-kiang pang selam dua minggu, hubungan Goan Ciang dengan kedua orang kakak beradik seperguruan itu menjadi akrab dan kini dia mulai mengenal betul watak kedua orang gadis itu. Dia semakin kagum kepada Lee Siang karenaa biarpun gadis ini menjadi wakil pimpinan perkumpulang Jang-kiang-pang yang mengutamakan kekerasan.

Namun pada hakekatnya Lee Siang adalah seorang wanita yang berwatak pendekar yang gagah perkasa, bahkan dalam percakapannya dengan gadis itu, Goan Ciang dapat menyelami watak Lee Siang yang sebetulnya patriotik karena gadis ini diamdiam membenci penjajah Mongol, cocok dengan wataknya sendiri.

Akan tetapi sebaliknya, ketua Jang-kiang-pang, yaitu Jang-kiang Sian-li Liu Bi, adalah seorang wanita yang haus akan kekuasaan dan kemewahan sehingga dia tidak segan-segan untuk membantu pemerintah Mongol dan bersahabat baik dengan para pejabat tinggi.

Kedua orang gadis itu memang cantik. Bahkan kalau diukur tentang kecantikan, Liu Bi lebih cantik dari Lee Siang karena Liu Bi pandai berhias, genit dan pandai sekali memikat hati pria, pandai memainkan mata dan senyum memikat. Dan walau usianya sudah tiga puluh tahun, namun Liu Bi nampaknya sebaya dengan sumoinya yang baru berusia delapan belas tahun itu.

Namun, dalam hal ilmu kepandaian silat, ilmu mereka tidak banyak selisihnya, hanya ada satu kelebihan Liu Bi, yaitu bahwa ia selain ilmu silat, juga memiliki keahlian dalam hal penggunaan racun, ilmu yang tidak dipelajari oleh Lee Siang.

Betapapun juga, ada rasa kagum dalam hati Goan Ciang terhadap Liu Bi. Wanita itu memang genit dan bergaul akrab dengan para pejabat pemerintahan Mongol, akan tetapi ia bukan golongan wanita cabul. Ia bahkan angkuh terhadap pria, bukan wanita murahan.

Itulah sebabnya pula mengapa sampai berusia tiga puluh tahun, ia belum mau menikah dan seperti yang telah dilakukan terhadap Kwa-kauwsu, kalau ada pria berani meminangnya, ia selalu menolak dengan cara yang kasar. Agaknya, di dunia ini tidak ada seorangpun pria yang cukup pantas untuk menjadi suaminya!

Setelah tinggal di tempat itu selama belasan hari dan setiap hari bergaul dengan Lee Siang, kalau bercakap-cakap selalu keduanya saling merasa cocok, kalau berlatih silat mereka saling mengagumi, maka bukan hal yang aneh kalau mulai timbul perasaan aneh dalam hati kedua orang muda ini. Perasaan yang dimulai pada saat pertama kali ketika mereka duduk berhimpitan dalam joli itu.

Kemudian dipupuk oleh saling pengertian dan kecocokan hati dan selera. Mulailah terdapat sesuatu yang lain dalam sikap mereka, dalam pandangan mereka, dalam suara mereka kalau mereka saling berhadapan. Bahkan, tidak bertemu sebentar saja timbul perasaan rindu dalam hati Goan Ciang terhadap Lee Siang.

Suatu senja yang indah di taman bunga belakang rumah besar Liu Bi yang juga menjadi tempat tinggal Lee Siang dan di mana Goan Ciang menjadi tamu, Goan Ciang duduk di atas bangku, berhadapan dengan Lee Siang, di dekat kolam ikan emas dan keduanya nampak bercakap-cakap dengan asyik. Di antara percakapan mereka, nampak tatapan mata yang mengandung sinar kemesraan, senyum yang membayangkan kebahagiaan hati.

“Engkau ingin tahu riwayatku, Siang moi. Ah, tidak ada apa-apanya yang menarik. Riwayatku hanya mendatangkan kenangan sedih saja,” kata Goan Ciang menjawab pertanyaan gadis itu.

“Aih, twako, kita sudah saling kenal dengan akrab, bahkan menurut perasaanku seolah kita telah menjadi sahabat baik selama bertahun-tahun. Tentu janggal sekali kalau aku tidak tahu riwayat hidupmu, siapa engkau dan dari mana engkau berasal. Aku ingin tahu sekali, twako. Akan tetapi kalau engkau berkeberatan menceritakan kepadaku, akupun tidak berani memaksamu.”

“Siang-moi, terus terang saja, kepada siapapun juga aku tidak akan suka menceritakan riwayatku yang penuh lembaran hitam. Akan tetapi kepadamu lain lagi, Siang-moi, Aku tidak mau engkau menyangka aku tidak percaya kepadamu. Nah, dengarlah riwayat seorang yang hanya satu kali ini saja menceritakan riwayatnya pada orang lain”

“Cu twako...! Jangan memaksa diri, kalau engkau merasa keberatan dan hendak merahasiakan, akupun tidak suka memaksamu dan sunggu, aku tidak akan merasa kecewa...”

Jilid selanjutnya,