Rajawali Lembah Huai Jilid 08, karya Kho Ping Hoo - GOAN CIANG tersenyum. Betapa lembut dan mulia hati gadis ini. “Aku tidak akan memaksa diri, Siang moi. Kepadamu, aku tidak mungkin dapat menyimpan rahasia. Nah, dengarlah. Aku adalah seorang yang berasal dari sebuah dusun Cang-sun, dusun yang terletak di lembah suang Huai. Aku sudah yatim piatu, ayah ibuku meninggal dunia karena bahaya kelaparan dan penyakit. Sejak kecil aku hidup miskin sampai makanpun tidak dapat kenyang setiap hari.”

Dengan ringkas namun jelas dan tidak menyembunyikan rahasia, Goan Ciang menceritakan riwayatnya dengan perasaan seperti mencurahkan segala himpitan perasaan hatinya kepada seseorang yang dipercaya sepenuhnya, bahkan yang menjadi tempat yang dianggap paling aman untuk mencurahkan semua isi hatinya.
Diceritakannya betapa dia pernah menjadi penggembala ternak, kemudian menjadi kacung di kuil, menerima banyak penghinaan, lalu belajar ilmu dari Lauw in Hwesio dan menjadi seorang gelandangan sampai dia tiba di Wuhan dan dalam perkelahian membunuh Bhong-Ciangkun dan bertemu dengan Lee Siang yang menolongnya.
“Nah, demikianlah riwayatku, Siang-moi. Aku seorang pemuda dusun yang miskin dan hina...”
”Cukup, twako. Riwayatmu menarik sekali dan engkau adalah seorang yang digembleng oleh kehidupan sejak kecil. Pantas engkau kini menjadi seorang pemuda yang kuat lahir batin. Aku kagum sekali padamu.”
Wajah Goan Ciang berubah merah karena di dalam hatinya, dia merasa gembira bukan main. Tadinya dia khawatir kalau riwayatnya akan membuat gadis itu memandang remeh kepadanya. Tidak tahunya gadis itu malah memujinya. Sungguh seorang gadis yang luar biasa.
“Sekarang giliranmu, Siang moi. Setelah aku menceritakan pengalamanku, sudah sepantasnya kalau engkaupun menceritakan riwayatmu kepadaku agar kita dapat lebih mengenal keadaan diri masing-masing. Tentu saja kalau engkau tidak berkeberatan.”
Lee Siang tersenyum, “Riwayatku juga tidak kalah suram dibanding riwayatmu, twako. Biarpun engkau yatim piatu, namun engkau mendapat kesempatan pernah mengenal dan melihat wajah ayah ibumu sebelum mereka meninggal. Aku lebih parah lagi dari itu karena aku tidak pernah mengetahui bagaimana wajah ayah dan ibu kanduku.”
“Aduhh, kasihan sekali engkau, Siong-moi!” kata Goan Ciang setulus hatinya.
Gadis itu tersenyum manis. “Tidak perlu dikasihani, twako. Aku sendiri sudah tidak mempunyai perasaan iba kepada diri sendiri. Sejak bayi aku telah dijual oleh orang tuaku kepada seorang keluarga kaya she Kim. Bahkan siapa nama keluarga ayahku yang asli, akupun tidak tahu. Oleh keluarga yang membeliku, aku diberi nama Kim Lee Siang dan kami tinggal di kota Nam-ki di selatan. Karena tidak tahu siapa nama keluarga ayah kandungku, mana akupun menerima namaku itu sebagai nama sendiri sampai sekarang.
"Tadinya aku tidak tahu bahwa aku bukan anak kandung keluarga Kim. Akan tetapi, setelah aku remaja, aku mendengar rahasia itu dari seorang pelayan keluarga Kim, mejelang kematiannya. Bukan aku saja yang mendengarnya, akan tetapi juga kakakku laki-laki, yaitu putera tunggal keluarga Kim. Dan sejak itu sikapnya terhadap diriku berubah sama sekali.”
“Riwayatmu menarik sekali, Siang moi!”
“Ah, sebetulnya tidak ada yang menarik, hanya menyedihkan. Sejak kecil, aku dan kakak angkat yang tadinya kuanggap kakak kandung itu, mempelajari ilmu silat dan karena dia memang tidak berbakat, dia selalu kalah olehku. Setelah kami menjelang dewasa, ketika itu aku berusia enam belas tahun dan dia berusia dua puluh tahun, pada suatu malam dia mendengar bahwa aku bukan adik kandungnya, bahkan bukan apa-apanya, dia... dia mencoba merayuku. Ketika kutolak, dia lalu nekat hendak memperkosaku."“Hemmm....” Goan Ciang mengerutkan alisnya, membayangkan betapa kakak itu seorang yang rendah wataknya.
“Aku melawan dan tanpa kusengaja, tahu-tahu aku telah membacoknya dengan pisau dan membunuhnya.”
“Ahh...!” Goan Ciang terkejut.
“Sungguh mati, aku tidak sengaja membunuhnya, twako. Karena dia hendak memaksa aku melawan dan aku menyambar sebatang pisau dan mengancamnya, untuk menakut-nakutinya agar dia sadar dan tidak nekat. Akan tetapi dia agaknya sudah gila. Dia nekat bahkan menyerangku, terpaksa aku melawan dan tanpa kusadari, pisau di tanganku sudah membacok lehernya dan diapun tewas!” Gadis itu menghela napas panjang dan memejamkan mata, seolah hendak mengusir kenangan itu.
“Tidak perlu terlalu disesalkan dan diingat, Siang-moi. Bagaimanapun juga, engkau tidak sengaja dan tidak bersalah. Dialah yang keterlaluan.” Goan Ciang menghibur.
Gadis itu membuka matanya dan memandang kepada Goan Ciang dengan sinar mata berseri. “Terima kasih, twako. Setelah peristiwa itu terjadi, ayah dan ibu angkatku menjadi marah dan bukan saja mereka tidak mengakuiku lagi dan mengusirku, bahkan hampir saja aku dikeroyok dan dibunuh. Aku melarikan diri dan sejak itu aku hidup sebatang kara. Akhirnya aku mendapatkan seorang guru silat yang sakti dan bersama suci Liu Bi aku memperdalam ilmu silat. Dan sekarang aku menjadi pembantu suci yang menjadi ketua Jang kiang-pang.
"Berkat pertolongan suci, maka aku seolah mendapatkan hidup baru karena ialah yang menolongku ketika aku terlunta-lunta, dan ia pula yang minta kepada guru kami untuk menerimaku sebagai murid. Ia melimpahkan kasih sayang kepadaku dan aku menganggap ia sebagai pengganti keluargaku. Demikianlah riwayatku, twako, riwayat yang sama sekali tidak menarik dan menyedihkan saja.”
“Kita berdua mempunyai latar belakang dan nasib yang tak jauh berbeda, Siang moi. Berapa usiamu sekarang Siang moi?”
Gadis itu memandang kepada Goan Ciang sambil tersenyum. “Delapan belas tahun lebih.”
“Dan engkau belum mempunyai tunangan?”
“Apa, twako?” Gadis itu terbelalak heran.
“Maksudku, apakah engkau belum mempunyai calon jodoh, calon suami?”
Wajah itu kemerahan, tersipu dan ia menggeleng kepala, lalu bertanya, “Kenapa engkau bertanya tentang itu, twako?”
Goan Ciang juga tersenyum, “Ah, hanya ingin tahu saja.”
Kini gadis itu menatap wajah Goan Ciang dengan penuh selidik, wajahnya sendiri berseri dan senyumnya menggoda dan manis sekali. “Dan bagaimana engkau sendiri, twako? Berapa usiamu dan apakah engkau belum menikah?”
Kini Goan Ciang yang tertegun dan mukanya berubah agak kemerahan. “Usiaku dua puluh tahun lebih, Siang-moi, dan aku belum... belum menikah dan belum mempunyai calon isteri. Akan tetapi, kenapa engkau bertanya tentang itu?”
“Mengapa? Hanya ingin tahu saja, twako," kata gadis itu, suaranya menirukan jawaban Goan Ciang tadi.
Pemuda itu tertawa, gadis itupun tertawa dan merekapun tertawa karena merasa lucu. Akan tetapi, seperti permulaannya, tawa mereka itupun berhenti tiba-tiba dan mereka saling pandang, seperti terpesona.
“Twako, kenapa engkau memandang seperti itu?”
“Dan engkau mengapa pula memandang seperti itu? Sinar matamu seperti menembus jantungku rasanya.”
“Entahlah, aku....” Lee Siang tak dapat melanjutkan, mukanya berubah merah sekali dan iapun menundukkan mukanya. Goan Ciang bangkit berdiri, menghampiri dan berdiri di depan gadis yang masih duduk di bangku itu dan dia memegang kedua tangan gadis itu yang terasa dingin dan agak gemetar. Lee Siang mengangkat muka memandang, sinar matanya penuh keheranan, juga tersipu.
“Siang-moi, kita berdua berasal dari tempat yang rendah, kita sebatang kara dan tidak berarti. Maukah engkau mengarungi samudera kehidupan yang buas ini bersamaku, mencari pantai bahagia untuk kita berdua?”
Sepasang mata yang jeli itu menyelidik. “Apa.... maksudmu, twako?”
“Siang-moi, maukah engkau menjadi isteriku?”
Kini sepasang mata itu terbelalak kaget, akan tetapi Lee Siang tidak menarik kedua tangannya yang masih digenggam Goan Ciang. “Kenapa, twako? Kenapa engkau melamarku untuk menjadi isterimu? Kenapa?”
Goan Ciang menatap tajam dan tersenyum. “Siang moi, masih kau tanya lagi kenapa aku ingin engkau menjadi isteriku? Karena aku kagum padamu, karena aku cinta padamu, sejak kita duduk di dalam joli itu. Maukah engkau, Siang moi?”
Goan Ciang menarik kedua tangan itu sehingga Lee Siang juga bangkit berdiri, saling berhadapan, dekat, kedua tangan saling berpegang. “Akupun kagum kepadamu, twako...” akhirnya gadis itu berbisik, mengaku sejujurnya.
“Dan cinta?”
Gadis itu harus mengangkat muka untuk menatap wajah Goan Ciang. Dua pasang mata saling tatap, bertaut seperti saling menyelidiki. “Aku...baku tidak tahu... akan tetapi aku kagum dan suka padamu... bukan mustahil inilah perasaan cinta itu....”
“Siang moi, jadi engkau... mau menjadi isteriku?”
Gadis itu mengangguk sambil tersenym dan saking girangnya Goan Ciang mendekap kepala gadis itu sehingga muka Lee Siang seperti hendak dia benamkan ke dalam dadanya.
Tiba-tiba terdengar bentakan lembut, "Siang moi...!”
Bagaikan diserang seekor ular, Lee Siang melepaskan diri dari pelukan Goan Ciang dan mereka berdua memutar tubuh dan melihat Liu Bi telah berdiri di situ dengan alis berkerut dan sepasang mata memandang kepada mereka dengan tajam penuh selidik.
“Sumoi, apa yang kau lakukan ini?” kembali suara itu lembut menegur dan sinar mata itu berkilat menyambar ke arah muka Lee Siang.
“Suci, aku...” gadis itu tergagap dan tersipu.
Sepasang alis yang indah bentuknya ditambah penghitam alis itu berkerut semakin dalam dan sinar matanya menatap wajah kedua orang muda itu bergantian, lalu terdengar berkata, “Begitu mudahnya? Sumoi, lupakah engkau bahwa aku adalah pengganti gurumu, keluargamu, bahkan orang tuamu? Begitu saja engkau hendak menjadi isteri orang tanpa memperdulikan aku?”
Lee Siang terkejut dan baru menyadari bahwa ia memang terlalu lancang mengikat janji perjodohan dengan Goan Ciang tanpa memberi tahu kepada sucinya terlebih dahulu atau setidaknya minta persetujuannya. “Suci, maafkan... aku.... kami.... semua terjadi begitu tiba-tiba dan....”
“Sumoi, masuklah. Aku mau bicara denganmu!” kata Liu Bi dan sumoinya mengangguk, mengerling kepada Goan Ciang lalu melangkah pergi meninggalkan taman, memasuki rumah dengan patuh.
Kini Liu Bi berdiri berhadapan dengan Goan Ciang. Pemuda ini memberi hormat dan berkata, “Pangcu, harap engkau suka memaafkan Siang moi. Ia benar, cinta kami begitu tiba-tiba, dan...”
“Sudahlah, jangan bicarakan hal itu dahulu, Cu enghiong. Biarkan kami bicara dulu karena urusan perjodohan amatlah penting dan tidak dapat diambil keputusan sedemikian mudahnya. Engkau tentu mengerti apa yang kumaksudkan. Kami adalah wanita, harus memperhitungkan baik-baik tentang perjodohan agar tidak menyesal kemudian.”
Goan Ciang mengangguk, “Aku mengerti, pangcu.”
“Nah, selamat malam, Cu-enghiong.” Ketua yang cantik itu lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan Goan Ciang yang masih berdiri terlongong sambil mengikuti langkah sang ketua.
Langkah yang gontai dan indah, lenggang seperti menari, membuat pinggang yang ramping itu berlenggang-lenggok seperti batang pohon itu tertiup angin, dan pinggul yang menonjol seperti bukit itu menari-nari ke kanan kiri. Baru Goan Ciang menyadari bahwa senja telah berubah malam dan diapun perlahan-lahan kembali ke kamarnya di bagian belakang rumah besar itu.
“Sumoi, kenapa engkau begitu lancang, begitu mudah jatuh cinta kepada seorang laki-laki yang belum kau kenal benar keadaannya?” di dalam kamarnya di mana ia memanggil sumoinya itu, Liu Bi menegur Lee Siang.
Gadis itu duduk di atas kursi dengan muka tunduk dan merah tersipu. “Suci, kami sudah saling mencinta dan aku kagum kepadanya. Dia gagah perkasa, ilmu silatnya tinggi.”
“Sumoi, kau tahu berapa usiamu?”
“Delapan belas tahun lebih, suci.”
“Dan kau tahu berapa usiaku?”
“Kalau... kalau tidak salah, suci pernah mengatakan usia suci tiga puluh tahun, walaupun aku tidak pernah dapat mempercayai karena suci kelihatan tidak lebih tua dari pada aku.”
“Nah, aku yang sudah tiga puluh tahun usiaku belum menikah? Apakah engkau benar-benar sudah mencinta Cu Goan Ciang?”
“Sudah, suci.”
“Dan setelah engkau menikah dengan dia, engkau lalu akan ikut pergi dengan dia?”
Gadis itu mengangguk. “Cu-twako seorang yang hidup sebatang kara, kami berdua akan bertualang bersama, membangun kehidupan baru dalam sebuah rumah tangga yang berbahagia, suci.”
Tiba-tiba sikap ketua Jang-kiang-pang itu berubah. Wajahnya berseri gembira dan senyumnya manis sekali. Ia merangkul sumoinya dan mencium kedua pipinya. “Ah, aku ikut merasa gembira, sumoi! Aku senang sekali kalau engkau berbahagia.”
Tentu saja Lee Siang yang tadinya merasa khawatir mendapat teguran dan kemarahan sucinya, kini menjadi girang bukan main, Ia balas merangkul dan kedua matanya basah. “Terima kasih, suci. Engkau memang orang yang paling berbudi di dunia ini bagiku. Terima kasih.”
“Aku harus memberi selamat kepadamu dan kita rayakan kebahagiaan ini dengan minum anggur!” Liu Bi lalu pergi ke sebuah almari di mana tersimpan beberapa guci anggur yang tua dan baik.
Lee Siang yang mengetahui bahwa sucinya seorang peminum yang kuat, tersenyum. Ia sendiri tidak begitu suka minum anggur keras seperti sucinya, akan tetapi sekali ini, untuk merayakan kebahagiaannya dan untuk menyenangkan hati sucinya yang telah menyetujui perjodohannya dengan Goan Ciang, ia siap untuk minum sampai mabok sekalipun.
Tak lama kemudian, di dalam kamar yang mewah dan diterangi lampu gantung berwarna warni itu, dua orang pimpinan Jang-kiang pang sudah minum anggur dengan gembira. Dengan setulus hati Liu Bi berkali-kali memberi selamat kepada sumoinya dengan mengajaknya minum secawan anggur. Karena merasa telah memiliki tenaga sin-kang yang kuat, maka mereka tidak mudah menjadi mabok.
Biarpun demikian, tetap saja berkurang kewaspadaan Lee Siang, apa lagi ia merasa terlalu gembira melihat sikap sucinya sehingga ia tidak melihat ketika sucinya menaburkan bubuk putih dari dalam sebuah botol kecil ke dalam cawan anggurnya, ketika kembali sucinya mengajaknya minum.
Begitu minum habis secawan anggur yang sudah diberi bubuk putik di luar tahunya itu, tibatiba Lee Siang merasa pening dan lemas. Ia terkejut sekali, memandang kepada cawannya, lalu kepada sucinya. Nampak tubuh sucinya, seperti berputaran, demikian pula seisi kamar itu. “Suci, aku.... aku pusing... aneh sekali...”
Dan kini terjadi perubahan pada wajah Liu Bi. Ia tertawa dan suara tawanya amat mengejutkan hati Lee Siang. Gadis itu berusaha sekuat tenang untuk membelalakan matanya agar dapat melihat dengan jelas. “Tidak aneh, sumoi, karena memang anggur yang kau minum tadi telah kuisi racun!”
“Suci...! Kau... kau meracuni aku? Suci, mengapa? Mengapa kau lakukan ini, suci?” Lee Siang terkejut bukan main, dan terheran. Ia memaksa diri agar tidak jatuh pingsan walaupun pusing di kepalanya semakin menghebat, pandang matanya berkunang dan tubuh terasa lemas dan berat.
“Hi-hi-hik,” ketua itu tertawa dan kini tawanya terdengar aneh dan mengerikan bagi Lee Siang. “Aku selalu sayang padamu, sumoi, akan tetapi kalau engkau hendak merebut pria pilihanku, terpaksa engkau kusingkirkan!”
“Apa....? Maksudmu... engkau... engkau....”
“Ya, sejak semula aku telah jatuh cinta kepada Cu Goan Ciang dan aku sudah mengambil keputusan untuk menarik dia menjadi suamiku!”
“Tapi.... tapi... bukankah suci mencinta Perwira Khabuli....?”
“Huh, raksasa kasar itu? Itu hanya demi kedudukan, aku muak melihatnya. Aku mencinta Cu Goan Ciang, dan engkau tidak boleh merampasnya dariku, sumoi.”
“Tapi suci, kalau benar demikian, tidak perlu suci meracuni aku. Aku suka mengalah, suci. Demi Tuhan, kalau aku tahu suci mencinta twako, aku akan mundur, aku akan rela mengalah karena aku sayang padamu, aku menghormatimu. Mengapa harus meracuni aku, suci?”
“Aku tahu dan aku percaya bahwa engkau akan mengalah kepadaku, akan tetapi aku meracunimu agar dia mau menjadi suamiku.”
“Suami....” suara Lee Siang semakin lemah. Gadis ini terlalu heran melihat betapa sucinya yang saling sayang dengannya kini dapat berlaku sedemikian curang dan kejam kepadanya! Dalam keadaan hampir pingsan dan setengah sadar ia masih melihat sucinya tersenyum mengejek dan bicara dengan suara yang semakin lirih.
“Tenanglah, sumoi. Kalau dia sudah setuju menjadi suamiku, engkau pasti akan kuberi obat penawar. Akan tetapi kalau dia menolak, tidak ada jalan lain bagiku kecuali membiarkan engkau mati. Racun itu akan membunuhmu selama tiga hari, jadi dalam waktu tiga hari ini, mudah-mudahan Cu Goan Ciang akan suka menjadi suamiku,“
Lee Siang tidak kuat menahan lagi dan iapun terkulai dan tentu akan roboh kalau tidak cepat sucinya merangkul kemudian memondong tubuhnya dan membawa Lee Siang ke dalam kamar gadis itu sendiri, merebahkan tubuh yang pingsan itu ke atas pembaringan, kemudia memanggil pelayan dan menyuruh pelayan menjaga dan merawat Lee Siang yang ia katakan sedang menderita sakit.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Goan Ciang sudah bangun dan setelah mandi dan berganti pakaian, dia segera pergi mengunjungi kamar Lee Siang. Akan tetapi, pintu kamar itu masih tertutup dan dia mengetuknya perlahan. Ketika daun pintu kamar terbuka, yang muncul adalah seorang gadis pelayan, yaitu seorang anggota Jang-kiang-pang.
“Ah, selamat pagi, Cu-enghiong,” kata pelayan itu dengan sikap hormat.
“Selamat pagi. Di mana Kim Siocia?” demikian sebutan bagi Lee Siang untuk para anggota perkumpulan itu.
“Kim Siocia belum bangun dari tidurnya, taihiap (pendekar besar),” kata lagi pelayan itu.
“Aneh sekali! Biasanya ia bangun pagi-pagi sekali, kenapa sekarang belum bangun? Ada apakah dengannya?”
“Kim Siocia sakit, taihiap. Malam tadi ia dipondong oleh pangcu masuk kamar ini dan tertidur atau pingsan, sampai sekarang belum terbangun. Keadaannya mengkhawatirkan, taihiap.”
Mendengar ini, Goan Ciang terkejut bukan main dan dia cepat mendorong pelayan itu ke samping lalu menerobos masuk untuk memeriksa sendiri keadaan kekasihnya. Ketika dia melihat tubuh Lee Siang rebah telentang di atas pembaringan dan tertutup kelambu, tanpa ragu lagi dia menyingkap kelambu dan duduk di tepi pembaringan. Dia terkejut bukan main melihat wajah kekasihnya yang cantik manis itu, dengan rambut kusut akan tetapi tidak mengurangi kecantikannya, nampak membiru dan pucat sekali.
“Siang moi....!” dia berseru dan meraba tangan kekasihnya. Dia semakin terkejut. Tangan itu panas bukan main. Kekasihnya menderita demam! Kenapa? Padahal semalam dalam keadaan sehat. Cepat dia memeriksa denyut nadi gadis itu. Denyut nadinya kacau sebentar cepat sebentar lambat. Setelah memeriksa leher, dada, membuka pelupuk matanya, tahulah Goan Ciang bahwa sumoinya keracunan. Keracunan hebat sekali!
Pelayan tadi berdiri di belakangnya, memandang dengan wajah khawatir. Goan Ciang memandangnya penuh selidik. “Katakan, apa yang terjadi semalam? Apakah Nona Kim berkelahi dengan seseorang?”
“Saya tidak tahu, taihiap. Setahu kami, semalam Kim Siocia dan pangcu bergembira di kamar pangcu, minum-minum anggur. Akan tetapi, tahu-tahu malam tadi pangcu memondong tubuh Kim Siocia memasuki kamar ini, merebahkannya dan menyuruh saya melakukan penjagaan dan merawatnya.”
“Di mana pangcu?”
“Pagi-pagi sekali ia sudah terbangun dan menjenguk ke sini, kemudian memesan agar saya menjaga di sini, karena ia hendak berjalan-jalan di taman.”
Mendengar itu, cepat Goan Ciang berlari keluar kamar dan langsung dia lari ke dalam taman di mana semalam dia saling menyatakan cinta dengan Lee Siang. Seperti ada perasaan yang menuntunnya, dia langsung saja pergi ke dekat kolam ikan emas, tempat di mana dia bermesraan dengan Lee Siang semalam.
Dan benar saja di atas bangku di mana semalam Lee Siang duduk, nampak Liu Bi duduk seorang diri, seolah-olah ia sedang melamun dan melihat ikan emas hilir mudik berenang dengan indahnya di dalam kolam yang airnya jernih. Ketua itu nampak cantik sekali, dengan wajah yang segar karena pagi itu telah mandi, rambutnya yang hitam halus berombak itu digelung rapi ke atas seperti gelung rambut puteri bangsawan, dihias permata indah.
Wajah itu segar dan cantik, dengan penghitam alis, pemerah bibir dan pipi, dan pakaiannyapun baru dan indah terbuat dari sutera mahal dan potongannya agak ketat membungkus tubuhnya yang langsing dan padat. Seorang wanita yang amat cantik menggairahkan.
Goan Ciang dapat menduga bahwa wanita itu tentu pura-pura tidak tahu akan kedatangannya karena dengan ketajaman perasaan dan pendengarannya yang terlatih, mestinya ia tentu sudah mendengar langkah kakinya.
“Selamat pagi, pangcu.” dia berkata setelah berdiri dalam jarak dua meter di belakang wanita itu.
Liu Bi menoleh dan pura-pura hanya mengangkat sepasang alis yang hitam itu ke atas, matanya mengerling tajam dan bibirnya yang kemerahan itu tersenyum. “Aihhh... selamat pagi, Cu-twako! Sudah berapa kali aku mengingatkan agar kau jangan menyebut pangcu kepadaku! Sebut saja Bi moi (adik Bi), tidak maukah engkau akrab dengan aku?”
Goan Ciang yang ingin menyenangkan hatinya dan ingin sekali mendengar tentang kekasihnya, membalas senyumnya. “Tentu saja, Bi-moi.”
“Nah, begitu lebih akrab, bukan? Toako, pagi-pagi benar engkau sudah bangun dan nampak segar, sudah mandi dan berganti pakaian. Apakah pelayan telah mengantar sarapan pagi untukmu?”
“Belum, dan biarlah nanti saja, Bi-moi. Aku sengaja mencarimu di sini untuk menanyakan sesuatu.”
“Apa yang hendak kau tanyakan, twako yang baik?”
“Aku ingin bertanya tentang Siang-moi! Apakah yang terjadi dengannya maka ia dalam keadaan seperti itu, keracunan hebat? Apa yang terjadi semalam ketika ia minum-minum anggur denganmu, Bi-moi?”
Mendengar ini, Liu Bi tersenyum. Senyumnya memang manis sekali. Sepasang bibir lembut itu merekah dan nampak kilatan gigi yang berderet rapi dan putih dan karena mulut itu agak ternganga ketika senyum, nampak rongga mulut yang kemerahan dan ujung lidah yang merah muda.
“Engkau tahu bahwa ia keracunan hebat? Akan tetapi engkau tentu tidak tahu bahwa kalau ia tidak mendapatkan obat penawar yang ampuh, dalam waktu tiga hari ia pasti akan mati dan tidak ada obat apapun di dunia yang akan mampu menyembuhkannya.”
Wajah Goan Ciang berubah agak pucat dan matanya terbelalak memandang wajah wanita itu dengan penuh selidik. “Pangcu... eh, Si moi, apa yang telah terjadi dengannya. Mengapa ia dapat keracunan seperti itu?”
Senyum itu melebar dan kerlingnya menyambar tajam. “Semua itu karena salahmu, twako.”
“Salahku?” Apa maksudmu, Bi-moi?”
“Semalam itu, engkau merayu dan menjatuhkan hati sumoi. Itulah kesalahanmu yang mengakibatkan kini sumoi terpaksa harus menderita seperti itu.”
“Maksudmu?” Goan Ciang sungguh tidak mengerti dan menjadi bingung.
“Karena engkau membuat aku membenci sumoiku yang tadinya sudah kuanggap sebagai murid atau adik sendiri. Ia minum anggur yang kucampuri racunku yang amat kuat!”
“Pangcu!!!” Goan Ciang meloncat dan mukanya berubah merah, kedua tangannya gemetar karena timbul perasaan marah yang hebat yang membuat dia hampir tak dapat menahan diri untuk tidak menyerang wanita cantik itu.
Akan tetapi, Liu Bwe tersenyum dan bangkit berdiri, agaknya sudah siap dan berkata lembut, “Tenanglah, twako.”
“Pangcu....”
“Ingat, Bi-moi, bukan pangcu.”
“Baiklah, Bi-moi!” kata Goan Ciang gemas. “Apa artinya semua ini? Kalau engkau yang meracuni Siang-moi, engkau harus cepat memberinya obat penawar!”
“Kalau aku menolak?”
“Demi Tuhan! Aku akan memaksamu!”
“Memaksaku? Hik-hik, lucunya. Pertama, belum tentu engkau dapat mengalahkan aku, apa lagi kalau aku mengerahkan semua anak buahku. Kedua, andaikata engkau mampu mengalahkan aku sekalipun, menyiksa atau membunuh sekalipun, aku tidak akan mau membiarkan kau pergi dan dalam waktu tiga hari, tetap saja sumoi akan mati dalam keadaan tersiksa! Nah, kau tetap hendak memaksaku?”
Goan Ciang seorang cerdik dan dia tahu bahwa wanita itu bukan hanya menggertak saja. “Lalu, apa kehendakmu, Bi-moi? Engkau meracuni sumoimu sendiri karena ia cinta kepadaku dan hal ini membuatmu membencinya. Kenapa? Engkau tidak mau mengobatinya, kenapa?”
“Cu Goan Ciang, engkau seorang laki-laki, masihkah perlu bertanya lagi sebabnya? Aku tidak ingin ia menjadi isterimu! Itulah sebabnya!”
“Tapi kenapa? Andaikata engkau tidak menyetujui perjodohan kami, dan engkau melarangnyapun, tidak perlu engkau meracuninya dan mengancam nyawanya! Tidak perlu engkau membunuhnya!”
“Cu-twako, apakah engkau menghendaki agar ia hidup kembali? Engkau ingin agar sumoi mendapatkan obat penawar dan nyawanya tidak terancam oleh racun itu?”
“Tentu saja! Bi Moi yang baik, tolonglah jangan sampai Siang-moi terancam bahaya maut. Kasihan ia! Bukankah engkau sayang kepadanya, Bi-moi? Tolonglah, berilah obat penawar agar ia sembuh.”
“Tentu saja aku sayang kepadanya. Akan tetapi, peristiwa semalam membuat aku tega membunuhnya, twako.”
“Akan tetapi kenapa? Apa salahnya kalau dia mencintaiku dan aku mencintainya? Apa salahnya dengan itu?”
“Salahnya adalah karena dia membuat aku iri hati, membuat aku cemburu setengah mati."
Goan Ciang terbelalak saking kaget dan herannya. “Cemburu? Ehh... apa... maksudmu, Bi-moi?”
“Maksudku, aku tidak ingin engkau menjadi suami sumoi, akan tetapi aku ingin engkau menjadi suamiku, Cu Goan Ciang!”
Goan Ciang tertegun, sejenak tidak mampu bicara, bahkan tidak mampu berpikir karena hal itu sama sekali tidak pernah disangkanya. Selama belasan hari tinggal di situ dia hanya akrab dengan Lee Siang. Biarpun ketua inipun bersikap ramah kepadanya, namun tak pernah dia melihat tanda-tanda behwa wanita ini tertarik kepadanya. Dan sekarang, tiba-tiba saja wanita ini menghendaki agar dia menjadi suaminya, dan tega meracuni sumoi yang disayangnya untuk merebut dia dari tangan sumoinya.
“Tapi... tapi... aku sungguh tidak mengerti, Bi-moi. Kenapa begini mendadak dan keinginan itu sungguh... rasanya tak masuk akal dan aneh!"
“Apakah yang aneh, twako? Selama ini aku tidak menikah karena kuanggap tidak ada pria yang cocok untuk menjadi suamiku. Ketika aku bertemu denganmu, melihat sepak terjangmu, segera aku yakin bahwa engkaulah satu-satunya pria yang cocok untuk menjadi suamiku. Karena itu, tentu saja aku benci dan marah melihat sumoi hendak merebutmu. Malam tadi, kami berdua masih sama-sama bebas, kami saling mencinta dan...”
“Cukup! Sekarang tinggal terserah kepadamu. Kalau engkau suka menikah denganku, sumoi tidak akan mati. Aku akan memberi obat pemunah racun dan ia akan sembuh kembali. Sebaliknya, kalau engkau menolak, dalam tiga hari sumoi pasti tewas dan tidak ada obat di dunia ini yang akan mampu menyembuhkannya.”
“Ahhh...!" saking bingungnya, Goan Ciang tidak mampu bicara, hanya berdiri mematung dan memandang wanita itu dengan mata terbelalak mulut ternganga. Perlahan-lahan mukanya berubah merah sekali saking marahnya.
“Jang-kiang Sianli Liu Bi, engkau adalah seorang wanita berhati iblis! Akan kuhancurkan engkau dan perkumpulanmu!” Dia membentak dan siap menyerang.
Liu Bi tersenyum mengejek dan sekali ia mengeluarkan suara bersuit nyaring, dari segenap penjuru bermunculan anak buahnya yang jumlahnya tidak kurang dari lima puluh orang mengepung tempat itu.
“Engkau memilih sumoi mati tersika dan engkau sendiri mampus oleh pengeroyokan kami? Ingat, aku sendiri saja belum tentu engkau mampu mengalahkan!” katanya.
Goan Ciang tidak takut mati, tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri. Akan tetapi mengingat keadaan kekasihnya, dia gelisah sekali. “Kalau aku menuruti kehendakmu, engkau benar-benar akan menyembuhkan Siang-moi?” akhirnya dia bertanya. “Maukah engkau bersumpah?”
“Kau laki-laki gila! Janji ketua Jang-kiang pang lebih kuat dari pada sumpah. Pula, aku sayang kepada sumoi dan hanya karena engkau maka aku tega meracuninya.”
Diam-diam Goan Ciang mengasah otaknya. Yang terpenting adalah menyelamatkan Lee Siang lebih dahulu, pikirnya. “Berilah waktu kepadaku sampai besok, dan biarkan aku menjaga Siang-moi dan bicara dengannya dahulu sebelum aku memberi keputusanku besok.”
Dia minta waktu sehari semalam agar dia dapat berusaha mengobati gadis itu dengan kekuatan sin-kangnya, juga kalau gadis itu siuman, dia ingin bicara dengan Lee Siang tentang niat gila Liu Bi yang hendak menariknya sebagai suaminya.
Tentu saja Liu Bi dapat menduga apa yang sedang dipikirkan pemuda itu. Akan tetapi, dia pura-pura tidak tahu dan hanya tersenyum, lalu mengangguk, “Baiklah, aku tidak tergesa-gesa. Akan tetapi ingat, kalau sampai besok malam engkau belum memberi jawaban berati sudah terlambat untuk menolong sumoi.. Bahkan obatku sekalipun tidak akan ada gunanya lagi. Besok siang harus sudah ada keputusan darimu.”
“Baik,” kata Goan Ciang dan Liu Bi memberi isarat kepada semua anak buahnya sehingga mereka mundur. Dengan langkah gontai Goan Ciang lalu menuju ke kamar Lee Siang, memasuki kamar itu dan menyuruh pelayan yang berjaga di situ keluar. Lalu dia duduk di tepi pembaringan setelah menutupkan daun pintu kamar itu.
Dengan hati-hati Goan Ciang lalu memeriksa lagi keadaan kekasihnya. Dia pernah mempelajari ilmu pengobatan, walaupun tidak banyak, dari gurunya ketika dia berada di kuil Siauw-lim-pai. Setidaknya, oleh Lauw In Hwesio dia diajar bagaimana caranya mengobati luka oleh senjata tajam, bahkan sedikit tentang pengobatan menggunakan tenaga sin-kang seperti mengobati luka dalam dan menggunakan sin-kang mengusir hawa beracun dari dalam tubuh korban.
Dengan hati-hati dia lalu duduk bersila di dekat tubuh kekasihnya, kemudian menghimpun tenaga melalui pernapasan, dan menempelkan kedua telapak tangannya pada punggung Lee Siang setelah dia membalikkan tubuh kekasihnya itu sehingga rebah miring. Dia lalu mengerahkan sin-kang, disalurkan melalui kedua telapak tangan, menggetar memasuki tubuh Lee Siang dari punggung.
Tak lama kemudian, Lee Siang mengeluh, membuka mata, kemudian berkata, “Hentikan... twako, hentikan....!”
Goan Ciang terkejut dan melepaskan kedua tangannya. Gadis itu telentang lagi dan napasnya terengah, akan tetapi ia telah siuman. Dahi dan lehernya penuh keringat. Goan Ciang menggunakan ujung lengan bajunya menghapus keringat itu. “Bagaimana rasanya, Siang-moi?”
“Lemah... pusing.....”
“Kenapa engkau menghentikan usahaku untuk mengusir racun dari tubuhmu?”
“Twako, kalau kau lakukan itu... aku... aku akan segera mati....”
Tentu saja Goan Ciang terbelalak dan mukanya berubah pucat. “Apa? Kenapa begitu..?”
Lee Siang kini sudah sadar sepenuhnya dan ia menghela napas panjang. “Racun yang telah masuk ke tubuhku ini amat kuat, bukan saja meracuni darahku, akan tetapi juga merampas tenaga saktiku. Kalau diobati dengan pengerahan sin-kang, maka tenagamu yang menyusup ke dalam tubuhku tidak dapat kubantu dengan tenagaku sendiri dan akibatnya bahkan akan mempercepat jalannya racun. Tanpa diobati, aku akan bertahan tiga hari. Hanya suci yang memiliki obat pemunahnya...”
“Betapa kejamnya Liu-Bi...!” kata Goan Ciang dengan gemas.
“Jangan berkata demikian, twako. Suci menyayangku...”
“Omong kosong ! Menyayangmu dan meracunimu, hendak membunuhmu?”
“Hai itu ia lakukan karena ia mencintamu, twako.”
“Apa? Kau sudah tahu? Gila benar! Ia mengatakan bahwa ia baru akan memberimu obat penawar racun kalau aku mau menikah dengannya! Aku tidak sudi!”
“Ahhh... Cu-twako... kuminta.... kuharap, jangan engkau menolak permintaannya. Menikahlah engkau dengannya, twako..." kata gadis itu dengan suara tersendat bercampur tangis.
Goan Ciang tertegun, terkejut, heran dan penasaran sekali. Kekasihnya ini bahkan minta kepadanya agar dia mau menikah dengan Liu Bi! Kekecewaan menyusup ke dalam hatinya. Tak disangkanya bahwa kekasihnya yang amat dia cinta dan kagumi ini ternyata pada saat terakhir adalah seorang penakut. Takut mati.
Akan tetapi dia menghibur dirinya. Siapa yang tidak akan takut kalau sudah dicengkeram racun seperti yang dialami Lee Siang dan tahu bahwa kalau dia menolak menikah dengan ketua Jang-kiang-pang, dalam waktu tiga hari nyawanya akan melayang?
“Tidak, Siang-moi. Dan jangan engkau takut. Aku akan mencarikan obat untukmu, kalau perlu aku akan menangkap Liu-Bi, menyiksa dan memaksanya agar ia suka mengobatimu sampai sembuh. Kalau perlu akan kuhancurkan seluruh Jang-kiangpang ini!”
“Twako, engkau salah sangka! Aku tidak takut mati, twako, sama sekali bukan karena aku takut mati maka aku memohon engkau suka menikah dengan suci.”
“Lalu kenapa engkau minta aku melakukan hal yang gila itu?”
“Twako, aku kasihan dengan suci. Aku sayang padanya, aku berhutang budi padanya, aku berhutang budi padanya, aku ingin melihat ia berbahagia. Kalau engkau suka memenuhi permintaanya, menjadi suaminya dan ia berbahagia, akupun akan merasa berbahagia pula. Mengertikah engkau, twako? Bukan karena aku takut mati, melainkan aku ingin membahagiakan suci. Andaikata aku tahu bahwa suci mencintamu, sudah pasti aku mengeraskan hati menolak cintamu, mengubur perasaan cintaku padamu sebagai rahasia yang akan kubawa mati.”
Kembali Goan Ciang terkejut bukan main. Kekasihnya ini adalah seorang gadis luar biasa, penuh kejutan. “Jadi, engkau sama sekali tidak menyesal telah diracuni sucimu sendiri?”
Mulut itu tersenyum dan ia menggeleng kepala. “Mengapa mesti menyesal? Suci melakukan ini untuk memaksamu menerima permintaannya. Aku mengenal suci. Ia harus mendapatkan apa saja yang dikehendakinya. Aku hanya menyesal, mengapa aku tidak tahu sebelumnya, bahwa suci mencintaimu.”
“Tapi..., lalu bagaimana dengan kau?” Dengan cintamu? Cinta kita?”
“Twako, aku rela mengorbankan apa saja demi kebahagiaan suci. Rela kehilangan engkau, kehilangan cintaku, bahkan aku rela mati demi untuk suci. Maka, sekali lagi aku mohon padamu, twako, terimalah suci sebagai isterimu. Kalau engkau menolak, aku akan mati penasaran, twako...”