Nona Berbunga Hijau (Kun Lun Hiap Kek) Jilid 07, karya Kho Ping Hoo - YANG NAM adalah putera tuan tanah yang kaya raya, maka dengan menggunakan hartanya, amat mudah baginya untuk menarik bantuan para pendeta Lama yang silau matanya oleh emas untuk menjadi pelindungnya. Malah ia berhasil pula mempengaruhi Thu Bi Tan, seorang di antara “empat besar” yaitu empat orang guru besar di antara pendeta Lama yang dianggap paling pandai dan paling tinggi kedudukannya.

Memang banyak di antara para hwesio yang menyeleweng, akan tetapi selama ini, empat orang guru besar itu tetap dapat menjaga kesucian diri. Hanya setelah Yang Nam pindah ke Lasha dan diam-diam mengadakan perhubungan dengan Thu Bi Tan, hwesio kepala ini akhirnya kena dipengaruhi dan merupakan pelindung Yang Nam. Makin besarlah kekuasaan Yang Nam setelah semua orang mengetahui bahwa orang muda ini adalah “sahabat baik” Thu Bi Tan yang ditakuti orang.
Ketika Yang Nam mendengar tentang kejadian di Loka, di mana ayahnya dan antek-anteknya tewas oleh Ci Ying dan Wang Sin, ia terkejut setengah mati. Sambil berlutut ia menangis di depan Thu Bi Tan Hwesio, menceritakan malapetaka yang menimpa keluarga ayahnya di Loka.
Sebetulnya, Yang Nam lebih banyak merasa takut dari pada berduka, karena ia maklum bahwa tentu dua orang bekas budak itu akan mengetahui bahwa ia telah pindah ke Lasha dan mencarinya untuk membalas dendam.
“Sudahlah, Taijin, jangan berduka. Mati hidup bukan milik raga kita dan ayahmu sudah mati biarlah ia mendapat tempat yang tenteram. Adapun dua orang pemberontak itu, biar mereka berkepala tiga berlengan enam, ada pinceng yang akan menangkapnya agar kau dapat menghukumnya,” kata Thu Bi Tan menghibur.
Akan tetapi ketika mendengar dari para hwesio yang dapat melarikan diri dari Loka ke Lasha betapa banyak pula pendeta dikepalai Thouw Tan Hwesio terbinasa di Loka, Thu Bi Tan Hwesio menjadi marah sekali. Tidak hanya dia seorang yang marah, malah tiga orang pendeta kepala yang lain diam-diam merasa tak senang.
Mereka dapat mengerti kalau ada budak yang memberontak dan membunuh tuan tanah, akan tetapi membunuh pendeta-pendeta, itulah keterlaluan, pikir mereka. Tentu saja para pendeta kepala kerjanya hanya bersembahyang di dalam kelenteng ini tidak tahu akan sepak terjang murid-murid mereka yang menyeleweng itu.
Biasanya tiga orang pendeta kepala yang lain, adalah orang-orang yang beribadat dan tidak mudah marah, akan tetapi kali ini mereka tidak membantah ketika Thu Bi Tan Hwesio memberi tugas kepada seorang murid kepala yang bernama Ga Lung Hwesio untuk membawa beberapa orang saudara dan melakukan pengejaran serta menangkap dua orang muda yang telah mengamuk di Loka itu.
Ga Lung Hwesio adalah seorang pendeta gemuk yang berilmu tinggi. Kepandaiannya masih jauh lebih tinggi daripada Thouw Tan Hwesio dan dia merupakan murid nomor satu Thu Bi Tan Hwesio, Peribahasa “guru kencing berdiri murid kencing berlari” terbukti kebenarannya di sini. Karena Thu Bi Tan Hwesio menjadi “sahabat” Yang Nam, tentu saja murid-murid ini bukan hanya sekedar bersahabat, malah boleh dibilang dia menjadi antek pembesar muda itu.
Kalau di Loka Yang Nam dahulu mengandalkan Thouw Tan Hwesio, maka di Lasha ia mempunyai Ga Lung Hwesio sebagai pengawal pribadinya. Maka terdengar perintah guru besar ini kepada muridnya. Diam-diam Yang Nam lalu cepat menghujani Ga Lung Hwesio dan empat orang sutenya dengan hadiah-hadiah dan janji-janji muluk sambil dibisiki supaya kalau sukar menangkap hidup, dua orang muda yang mengamuk di Loka itu “dibereskan” saja yang artinya dibunuh.
Demikianlah, Wang Sin dan Ci Ying yang telah tiba di luar kota Lasha, tiba-tiba melihat lima orang hwesio datang dengan langkah lebar dan cepat. Melihat gerakan kaki lima orang hwesio yang amat ringan ini, diam-diam Wang Sin dan Ci Ying terkejut dan dapat menduga bahwa yang datang ini adalah orang-orang dengan kepandaian tinggi.
“Kanda Wang Sin, kita telah disambut. Tapi jangan takut, aku akan menghadapi mereka!” kata Ci Ying, sikapnya memandang rendah sekali.
“Ci Ying, musuh kita hanya Yang Nam. Jangan mencari gara-gara dengan para hwesio di sini.” Wang Sin memperingatkan akan tetapi gadis itu tersenyum mengejek.
Lima orang hwesio itu bukan lain adalah Ga Lung Hwesio yang memimpin empat orang sutenya. Baru saja hendak berangkat mencari dua orang muda yang mengamuk di Loka, mereka sudah mendengar laporan mata-mata di luar tembok kota bahwa yang mereka cari sudah datang.
“Bagus,” kata Ga Lung Hwesio, anjing-anjing sudah datang tinggal menggebuk saja!”
Lalu bersama empat orang sutenya, ia berlari keluar kota untuk menghadang Wang dan Ci Ying. Melihat bahwa pasangan muda mudi itu benar-benar masih amat muda, Ga Lung Hwesio menjadi heran sekali. Masa Thouw Tan Hwesio sampai kalah oleh dua orang muda ini?
“Apakah kalian yang bernama Wang Sin dan Ci Ying, dua orang bekas budak yang menimbulkan huru-hara di Loka?” tanya Ga Lung Hwesio sambil mengangkat muka dengan sikap angkuh.
Dengan tenang Wang Sin menjawab. “Betul.”Akan tetapi Ci Ying tertawa dan menyambung, “Hwesio cebol, kalau nonamu yang membikin huru-hara di Loka, kau mau apa?”
Ga Lung Hwesio adalah seorang yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya. Mendengar makian ini ia dapat menindas perasaan marahnya dan ia hanya tersenyum.
“Orang-orang muda suka besar kepala, mengira di dunia ini tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. Ah, anak-anak yang masih hijau, lekas kalian turun dan berlutut. Pincengan tidak akan menggunakan kekerasan, hanya akan menggiring kalian ke kota di mana kalian akan diadili.”
“Hwesio sialan, siapa sudi dengar omonganmu yang busuk? Menyingkirlah biar kami lanjutkan perjalanan!” bentak Ci Ying, tangan kirinya bergerak dan lima benda bundar mengkilap menyambar ke arah jalan darah berbahaya di tubuh Ga Lung Hwesio dan adik-adik seperguruannya. Itulah serangan gelap yang amat cepat dan sukar dikelit.
Akan tetapi dengan tenang lima orang hwesio itu menggerakkan tangan dan lima buah benda bundar itu sudah dapat mereka tangkap dengan telapak tangan. Ga Lung Hwesio melihat benda itu dengan keningnya berkerut. Dengan tongkatnya yang kecil panjang, tongkat terbuat dari sebangsa bambu kuning, ia mencongkel tanah di depannya kakinya, melempar benda itu ke dalam tanah dan menguruknya lagi dengan ujung tongkat.
Sambil mengeluarkan seruan kaget, empat hwesio yang lain juga mengikuti perbuatan ini, lalu kelimanya mengucapkan doa-doa pendek sambil merangkap kedua tangan ke depan dada. Kemudian Ga Lung Hwesio membuka matanya, memandang Ci Ying sambil membentak. “Bocah keji! Dari mana kau mendapatkan mata manusia itu?”
“Orang-orang telah dengan suka rela menyumbangkan sebelah matanya kepadaku, semua ada sepuluh biji. Sekarang kalian lima orang hwesio sinting membuang lima biji, harus ditukar dengan sebelah mata kalian?” jawab Ci Ying sambil mendelikkan matanya.
Dua orang hwesio mengeluarkan seruan keras, tak dapat menahan kemarahannya. Serentak mereka melompat ke depan, seorang menubruk Ci Ying dan yang seorang lagi menubruk Wang Sin untuk menyeret dua orang muda itu turun dari kuda. Sambaran mereka ini hebat sekali, tangan kanan mencengkeram ke arah pundak dan tangan kiri dihantamkan kepada punggung kuda.
Wang Sin yang merasai datangnya angin pukulan yang amat keras, kaget bukan main. Ia melompat ke arah lain sambil menggulingkan tubuh, hampir saja ia roboh terguling kalau tidak lekas-lekas ia menggunakan tangannya mendorong tanah, sehingga ia dapat berdiri tegak lagi.
Adapun Ci Ying sambil mengeluarkan suara nyaring, dengan ringan sekali tubuhnya melompat dari atas kuda menghindarkan cengkeraman, akan tetapi tidak seperti Wang Sin, sambil melompat sabuk merahnya meluncur ke arah leher lawan merupakan serangan balasan yang sekali gus mengarah urat kematian.
Terdengar suara keras ketika tangan kiri dua orang hwesio itu mengenai punggung kuda. Dua ekor binatang itu meringkik hebat, melompat jauh dan berlari keras. Akan tetapi baru beberapa belas meter mereka lari, sekali lagi mereka meringkik dan terguling roboh berkelonjotan terus mati. Kiranya hajaran tangan kiri dua orang hwesio tadi telah meremukkan isi perut mereka.
Adapun hwesio yang menyerang Ci Ying, ketika melihat datangnya ujung sabuk mengarah jalan darah di lehernya, kembali mengeluarkan seruan keras, tangan kanannya yang luput mencengkeram tadi ditarik untuk menangkap ujung sabuk dan merampasnya. Akan tetapi, Ci Ying lihai sekali.
Sekali sendal ujung sabuknya melejit dan lolos dari cengkeraman malah dapat memecut lengan hwesio itu yang cepat mundur dengan seruan kaget. Kulit lengannya itu pecah dan biarpun tak mendatangkan luka berbahaya tetap saja terasa amat sakit.
Di lain saat Ci Ying sudah tertawa ha-ha-ha-hi-hi sambil mengobat-abitkan sabuknya. “Mari, mari, cucuku gundul, mari kalau hendak menerima hajaran nenekmu!” katanya.
Dua orang hwesio itu memuncak kemarahannya. Dengan geram mereka mengeluarkan senjata mereka, sebuah toya yang besar dan berat. Langsung mereka menerjang maju, seorang menyerang Wang Sin yang kedua menyerang Ci Ying.
Wang Sin sudah menarik pedangnya dan segera ia bertempur dengan hwesio itu. Diam-diam ia mengeluh karena selain toya lawannya amat kuat tidak terpatahkan pedang mustikanya, juga tenaga lawannya ini besar sekali, membuat telapak tangannya sakit-sakit tiap kali senjatanya menangkis toya. Ia segera mengeluarkan semua kepandaiannya, mainkan ilmu pedang Kun-lun-pai yang amat cepat. Benar juga, setelah ia menggunakan kecepatannya, ia dapat mengimbangi lawan.
Di lain pihak, sambil tertawa-tawa mengejek, Ci Ying melayani dan mempermainkan hwesio kedua. Toya adalah sebuah senjata yang kaku dan keras, maka menghadapi senjata sabuk yang amat lemas dan digerakkan dengan amat cepat secara aneh, hwesio itu segera terdesak hebat.
Harus diakui bahwa dalam hal tenaga dalam, Ci Ying masih tidak mampu menangkan hwesio ini yang sudah memiliki pengalaman dan latihan puluhan tahun. Akan tetapi Ci Ying mewarisi ilmu silat yang aneh dan ganas. Setiap pukulan merupakan tangan maut yang mengarah jalan darahjalan darah yang paling berbahaya, tidak mengherankan apablia hwesio lawannya menjadi bingung dan kacau permainan toyanya.
“Hi-hi-hi, hwesio bau. Orang macam kau biar ada sepuluh, mana bisa melawan aku? Konco-koncomu itu apa jerih menghadapi aku? Biar mereka maju bersama!” tantangnya, sombong dalam kemenangannya.
Melihat seorang saudaranya menghadapi Wang Sin sudah cukup dan dapat mendesak, hwesio-hwesio itu tidak mau membantu. Akan tetapi melihat saudaranya yang terdesak oleh Ci Ying mereka gelisah.
Akan tetapi Ga Lung Hwesio dan empat orang adik seperguruannya ini adalah hwesio-hwesio berkedudukan tinggi di Tibet, mana mereka sudi mengeroyok? Hanya setelah mendengar tantangan Ci Ying, seorang di antara mereka menjadi panas hati dan mendapatkan kesempatan selagi lawan menantang, ia segera melompat maju memutar tongkatnya.
“Bocah ganas, lihat toya!” serunya sambil menyerang dengan hebat.
Ci Ying diam-diam sudah siap sedia. Melihat hwesio itu maju, ia tertawa dan sekali tangan kirinya bergerak kembali lima biji mata yang masih berada di kantongnya, ia sambitkan kepada hwesio itu, mengarah lima jalan darah di tubuhnya. Jarak antara mereka hanya tiga empat meter, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya serangan mendesak ini.
“Makan ini!” seru Ci Ying. Sebetulnya, menurut sopan santun dunia persilatan, menyerang secara menggelap merupakan pantangan besar. Oleh karena itu, setiap kali hendak membuka serangan, orang selalu membentak dan setiap kali menggunakan senjata rahasia, selalu didahului dengan seruan agar lawan bersiap sedia. Akan tetapi Ci Ying yang licik sekali berseru setelah senjata rahasianya menyambar lawan.
Bukan main kagetnya hwesio ini. Hwesio pertama yang tahu kawannya diserang secara menggelap, hendak mencegah dengan mengirim serangan ke arah kepala Ci Ying, akan tetapi ia terlambat. Lima buah benda itu sudah dilontarkan dan dengan cekatan Ci Ying sudah dapat mengelak dari serangannya.
Hwesio yang menghadapi ancaman maut dari lima butir biji mata itu, melempar diri ke belakang untuk menghindarkan serangan, akan tetapi dua butir biji mata yang menyambar lutut kiri dan bawah pusarnya sukar dikelit dan agaknya ia akan segera mendapat celaka.
Pada saat itu terdengar bentakan keras dan sebatang tongkat kecil panjang meluncur memapak dua butir biji mata itu sehingga terdengar suara “tak-tak” dan biji mata itu terlempar ke pinggir, tidak mengenai sasaran. Itulah tongkat dari Ga Lung Hwesio yang dilontarkan untuk menangkis.
Hwesio yang baru saja terbebas dari bahaya maut, melompat bangun dengan muka pucat. Keringat dingin membasahi jidatnya. Ia bersyukur bahwa suhengnya sudah bergerak cepat dan dapat menyelamatkan nyawanya. Ia memungut tongkat itu dan menyerahkan kepada Ga Lung Hwesio dengan sinar mata terima kasih. Kemudian ia menerjang Ci Ying, memaki.
“Setan licik, kau benar-benar ganas dan pantas menjadi penghuni neraka!”
"Hi-hi-hi, hwesio bau. Suruh kawanmu yang dua lagi maju. Itu hwesio cebol mana berani?”
Ga Lung Hwesio hanya tersenyum biarpun hatinya mendongkol sekali dimaki oleh gadis itu. Akan tetapi sutenya seorang lagi marah lalu memutar toya dan menyerbu sehingga di lain saat Ci Ying sudah dikeroyok tiga. Tentu saja Ci Ying menjadi repot sekali. Melawan seorang hwesio saja, ia dapat mengimbangi dan menang di atas angin hanya karena ia mengandalkan kecepatannya padahal ia kalah tenaga. Apalagi sekarang dikeroyok tiga.
Lebih-lebih lagi kegelisahannya ketika melihat Wang Sin sudah repot sekali dan dalam jurus berikutnya Wang Sin terkena serampangan kakinya. Ia mencoba untuk melompat, akan tetapi kurang cepat dan tulang keringnya terkena hajaran toya sampai patah tulangnya. Orang muda itu mengeluh dan melompat jauh menggunakan satu kakinya yang belum terluka.
Hwesio itu hendak mengejar, akan tetapi Ci Ying keburu melompat jauh menghadang di depan Wang Sin sambil berseru. “He, hwesio tengik! Kawanku sudah terluka dan kalah, kau masih mendesak terus, apakah tua bangkotan tidak malu menghina yang muda?”
Mendengar ucapan ini, hwesio itu melengak dan otomatis ia bergerak mundur. Tentu saja, sebagai seorang yang berkedudukan tinggi ia pantang sekali dianggap “yang tua menghina yang muda”, ia ragu-ragu dan menengok ke arah Ga Lung Hwesio sambil menanti keputusan.
“Bocah ganas, apakah setelah kawanmu terluka kau masih tidak mau menyerah?” tanya Ga Lung Hwesio.
Ci Ying cerdik sekali, akan tetapi ia maklum bahwa kali ini ia tidak berdaya. Maka ia sengaja hendak mengulur waktu dan tidak mau menyerah secara mentah-mentah. “Hwesio cebol, siapa sudi menyerah? Kawanku terluka, akan tetapi, aku belum kalah, kau tahu?”
“Kalau begitu, kami akan merobohkan kau lebih dulu!” seru hwesio yang tadi hampir menjadi korban senjata rahasia dan ia melompat maju dengan serangannya, diikuti dua orang kawannya.
Mereka bertiga yang tadi mengeroyoknya hendak cepat-cepat mengalahkan Ci Ying, maka begitu menerjang mereka menggunakan tongkat mereka mainkan jurus yang paling ampuh.
Ci Ying cepat mengelak sambil mengebut dengan sabuknya, “Cih, tak tahu malu! Tiga monyet bangkotan mengeroyok seorang nona muda. Mana di dunia kang-ouw ada macam aturan itu? Tebal muka!”
Tiga orang hwesio itu menjadi bohwat (tak berdaya). Mereka merasa malu sekali dan terpaksa mereka menahan senjata mereka. “Kau sendiri yang tadi menantang minta dikeroyok!” seorang di antara mereka mencoba untuk membentak.
“Celaka, aku bicara main-main, kiranya kalian kakek-kakek tua begitu tidak tahu malu menggunakan kesempatan orang muda main-main lalu mengeroyok sungguh-sungguh.”
Ci Ying memang sejak dulu berwatak lincah jenaka dan pandai bicara. Sekarang menghadapi ancaman pihak yang lebih kuat, keganasannya bersembunyi dan muncullah sifat-sifatnya dahulu yang cerdik.
Melihat tiga orang sutenya nampak bengong, Ga Lung Hwesio tertawa sambil memukul-mukulkan tongkatnya ke atas tanah. “Sute sekalian mundurlah. Biar pinceng menghadapinya seorang lawan seorang.”
Ci Ying melihat akalnya berhasil membuat ia tidak akan dikeroyok lagi. Apa pula yang maju adalah hwesio cebol gemuk ini. Yang lain-lain boleh lihai, akan tetapi si cebol gemuk ini mana bisa main silat dengan baik?
Ia cepat menghampiri Ga Lung Hwesio dan menyerang dengan serentak. “Bagus! Siapa kalah dalam pertempuran ini berarti haknya kalah dan harus mundur. Janji orang gagah tak dapat ditarik kembali!”
Para hwesio itu melengak. Siapa yang berjanji? Benar-benar seorang bocah yang licik sekali, lihai ilmu silat dan mulutnya. Akan tetapi Ga Lung Hwesio yang sudah melihat ilmu silat Ci Ying, tanpa ragu-ragu lagi berkata, “Baiklah, siapa kalah berarti pihaknya kalah. Majulah!”
Ci Ying tidak berlaku seji (sungkan) lagi. Sabuknya menyerang cepat, mengarah jalan darah yang-goat-hiat dan kin-ceng-hiat. Anehnya Ga Lung Hwesio tidak mengelak mundur, bahkan melangkah setindak dan menyodokkan tongkatnya ke arah leher nona itu. Gerakan tongkatnya yang kecil panjang itu cepat bukan main, tahu-tahu sudah mengancam leher Ci Ying.
Gadis ini terkejut. Kalau dia melanjutkan serangannya, sebelum ujung-ujung sabuknya mengenai tubuh lawan, lebih dulu ia akan “dimakan” tongkat. Terpaksa ia mengelak sambil menggerakkan sabuknya lagi, sekaligus menotok ke arah iga dan pergelangan tangan Ga Lung Hwesio. Gerakannya indah dan cepat lagi ganas, membuat hwesio pendek gemuk itu mengeluarkan seruan memuji.
Akan tetapi secepat-cepatnya Ci Ying, ia masih kalah cepat oleh hwesio murid kepala Tibet itu. Tongkat sudah diputar lagi, sekali gus menangkis dua ujung sabuk. Ci Ying menggetarkan sabuknya hendak membelit tongkat, namun lawannya sudah menarik kembali tongkatnya dan di lain saat ia sudah berjongkok dan dua kali ujung tongkatnya menusuk sambungan lutut kedua kaki Ci Ying.
Gadis itu berseru kesakitan dan roboh terguling. “Ikat gadis liar ini!” seru Ga Lung Hwesio kepada seorang sutenya.
Akan tetapi sesosok bayangan berkelebat dan Wang Sin sudah berdiri dengan sebelah kaki pincang. Orang muda ini menghadang dengan sikap gagah, pedang melintang di dada sambil berseru. “Jangan kurang ajar! Siapa berani mengganggu Ci Ying akan menjadi makanan pedangku!”
Ga Lung Hwesio tertawa dan tongkatnya digerakkan, Wang Sin menangkis dengan pedangnya, mengerahkan tenaganya. “Tranggg....!” Pedangnya terlepas dan terlempar jauh dengan cepat, meluncur merupakan sinar kebiruan dan dia sendiri segera roboh ketika tongkat hwesio pendek itu menotok pundaknya.
Selagi lima orang hwesio itu kegirangan karena melihat dua orang muda yang mengamuk sudah tertawan, tiba-tiba mereka kaget karena sinar biru dari pedang Wang Sin yang terlempar tadi terhenti di tengah jalan dan tahu-tahu sudah disambar oleh tangan seorang wanita yang berusia lima puluh tahun lebih.
Wanita ini berpakaian serba putih seperti seorang pendeta, tangan kirinya memegang kebutan merah dan tangan kanan memegang seuntai tasbeh. Tasbeh inilah yang tadi diputar dan “menangkap” pedang yang sedang terbang itu.
Ga Lung Hwesio dan empat orang sutenya melihat wanita ini menjadi kaget karena di rambut kepala wanita ini terdapat sekuntum bunga hijau yang mengeluarkan sinar gemilang. Mereka teringat akan bunga hijau yang menghias kepala Ci Ying dan tahulah mereka siapa orangnya yang telah datang ini.
Akan tetapi Ga Lung Hwesio pura-pura tidak mengenalnya dan segera menjura dengan hormat. Sebagai seorang hwesio, melihat pendeta dari aliran agama lain, ia berlaku hormat. “Omitohud.... ada saudara datang tidak keburu menyambut karena gangguan anak-anak muda. Harap toyu sudi memaafkan pinceng berlima.”
Nenek itu mengeluarkan suara dingin sambil memandang tajam. “Hwesio-hwesio bangkotan menindas orang-orang muda, sungguh tak tahu malu!”
“Suthai, bikin mampus mereka. Mereka telah menghina muridmu!” kata Ci Ying yang girang sekali melihat kedatangan nenek itu yang bukan lain adalah gurunya, Cheng Hoa Suthai ketua dari Cheng-hoa-pai di Heng-toan-san.
Ga Lung Hwesio dan sute-sutenya sudah mendengar kehebatan nenek tua Cheng-hoa-pai ini, akan tetapi karena belum pernah melihat sendiri kelihaiannya, mereka tidak takut. Adalah karena mendengar ucapan Ci Ying tadi mereka menjadi khawatir sekali kalau-kalau nenek itu terlalu memihak murid sendiri, maka Ga Lung Hwesio cepat menjawab.
“Kiranya Cianpwe adalah ketua dari Cheng-hoa-pai yang ternama. Harap cianpwe suka mempertimbangkan urusan ini. Semua adalah kesalahan muridmu sendiri yang telah membunuh sute Thouw Tan Hwesio dan banyak pendeta-pendeta lain. Dia memberontak di Loka dan.....”
“Ci Ying, kenapa kau membunuh keledai-keledai gundul di Tibet?” tanya Cheng Hoa Suthai kepada muridnya. Pertanyaan ini terdengar keren, akan tetapi dengan menggunakan sebutan “keledai gundul” berarti dia telah memaki para hwesio di Tibet yang agaknya tak diindahkan olehnya.
Ci Ying sudah mengenal baik watak gurunya. Nenek ini amat ganas dan kejam hatinya, akan membunuh setiap orang tanpa berkejap mata. Akan tetapi dia amat pantang untuk menodai nama baik Cheng-hoa-pai dan berlaku keras kepada murid-muridnya. Setiap orang murid harus menjunjung tinggi nama baiknya Cheng-hoa-pai. Siapa melanggar berarti mati. Maka dengan suara tetap ia menjawab.
“Suthai telah mengerti bahwa teecu pergi hendak membalas sakit hati kepada tuan tanah di Loka yang telah menyiksa teecu dan semua budak, malah sudah membunuh ayah. Manusia binatang macam tuan tanah itu sudah sepatutnya dibasmi, bukan?”
Cheng Hoa Suthai mengangguk-angguk sambil melirik tajam ke arah lima orang hwesio itu. “Memang lebih dari patut dibasmi sekeluarganya berikut antek-anteknya!”
Ci Ying tersenyum. “Nah, teecu hanya berhasil membunuh tuan tanah yang tua berikut antek-anteknya di Loka, sedangkan yang muda sudah pindah ke Lasha, para pendeta bangkotan palsu di Loka membantu tuan tanah, kiranya bangkotan ini yang berkepala gundul berpakaian pendeta, juga menjadi kaki tangan mereka. Mereka inipun pantas dibasmi!”
Terkejut hati Ga Lung Hwesio mendengar ini dan melihat wajah Cheng Hoa Suthai berubah keras, mereka siap sedia. “Pantas.... pantas sekali dibasmi. Eh, hwesio-hwesio Tibet yang tahu malu, perbuatan kalian membantu tuan-tuan tanah jahat benar-benar tidak cocok dengan kedudukan kalian. Apakah Su Thai Losu (Empat Guru Besar Tua) di Lasha akan membiarkan saja penyelewengan kalian?”
Mendengar sebutan ini, Ga Lung Hwesio dan sute-sutenya dengan girang dapat menduga bahwa nenek yang lihai ini masih gentar terhadap guru-guru besar mereka, maka Ga Lung Hwesio segera menjawab.
“Cianpwe, pinceng dan sute-suteku ini adalah murid-murid Su Thai Losu, malah guru-guru pinceng yang menitahkan pinceng menangkap dua orang pemberontak ini. Harap Cianpwe ketahui bahwa dosa mereka ini besar sekali tidak saja mengacau malah merendahkan nama besar guru-guru kami. Pinceng berjanji akan membawa dua orang muda ini supaya menerima pengadilan di Lasha.”
“Hwesio bau! Kau tidak melihat aku, ya? Kau kira aku takut kepada empat keledai tua di Lasha? Rebahlah kau!” Cepat sekali gerakan tangan Cheng hoa, tahu-tahu pedang biru sudah melayang ke arah Ga Lung Hwesio sedangkan tasbeh dan kebutannya bergerak ke arah empat orang hwesio yang lain.
Ga Lung Hwesio adalah seorang hwesio yang sudah memiliki kepandaian tinggi. Melihat sinar biru menyambar dadanya, ia menangkis dengan tongkat. Terdengar suara keras dan bunga api berhamburan, akan tetapi pedang itu sudah dapat ditangkisnya sehingga menyeleweng dan menancap sampai ke gagangnya di atas tanah. Sedangkan dia sendiri mundur tiga langkah dengan kedua tangan merasa tergetar hebat.
Wajahnya menjadi pucat, apalagi ketika ia melihat betapa empat sutenya berturut-turut terjungkal, tak dapat menahan serangan Cheng Hoa Suthai. Dua orang yang terpukul tasbeh patah-patah tulang iganya sedangkan yang dua orang lagi terkena sambaran kebutan, terlepas sambungan tulang pundaknya.
Ga Lung Hwesio terkejut sekali. Keempat orang sutenya itu sudah memiliki kepandaian yang cukup tinggi, akan tetapi sekali serang saja Cheng Hoa Suthai sudah dapat merobohkan mereka. Dari sini saja sudah dapat dibayangkan betapa lihainya nenek ini.
Akan tetapi karena marah sekali, Ga Lung Hwesio menjadi nekad. Ia memutar tongkatnya lalu menyerbu sambil mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan semua tenaganya. Sebagai seorang berkedudukan tinggi, yaitu menjadi ketua partai, Cheng Hoa Suthai memiliki keangkuhan. Terhadap orang-orang yang tingkatnya lebih rendah, dia tidak mau terlalu mendesak.
Sekali turun tangan ia harus berhasil dan tidak sudi mengulangi lagi. Kalau Ga Lung Hwesio tidak menyerangnya, dia tentu mengampuni hwesio ini karena tadi ia sudah menyerang hwesio ini dengan lontaran pedang Wang Sin dan hwesio itu sudah dapat menyelamatkan diri.
Akan tetapi sekarang Ga Lung Hwesio menyerangnya, maka bangkitlah kemarahannya. Begitu melihat tongkat Ga Lung Hwesio menyambarnya, kebutan di tangan kiri bergerak menggulung ujung tongkat. Ga Lung Hwesio adalah seorang yang sudah banyak pengalamannya bertempur.
Melihat senjatanya kena terlibat, ia mengerahkan tenaga untuk membetot akan tetapi tongkat itu seakan-akan telah tertanam buluh kebutan menjadi akar-akarnya, tak dapat ditarik kembali.
Dan pada saat itu tiba-tiba Cheng Hoa Suthai mengendurkan kebutannya, sehingga oleh tenaga yang dilepas tiba-tiba ini, Ga Lung Hwesio hampir terjengkang ke belakang. Di saat itu bayangan putih berkelebatan, ialah tasbeh di tangan kanan Cheng Hoa Suthai yang menyambar ke arah kepalanya.
“Celaka......!” seru Ga Lung Hwesio sambil melepaskan tongkatnya dan menjatuhkan diri kebelakang.
“Melihat muka Su Thai Losu, aku mau mengampuni jiwa anjingmu!” terdengar ketua Cheng-hoa-pai itu berkata dengan suara dingin, gerakan tasbehnya diturunkan dan sebagai pengganti kepala hanya pundak Ga Lung Hwesio saja yang “dimakan” tasbeh, “Krakkk!” patahlah pundak kiri hwesio itu yang menjerit kesakitan terus roboh tak berdaya lagi.
Cheng Hoa Suthai menghampiri muridnya dan menotok lutut untuk membebaskan totokan tongkat Ga Lung Hwesio tadi. Ci Ying segera melompat dan berlutut di depan gurunya, girang bukan main.
“Siapa pemuda yang membantumu itu?” tanya Cheng Hoa Suthai, menunjuk ke arah Wang Sin.
Dengan muka merah akan tetapi dengan suara nyaring, Ci Ying mengaku terus terang. “Suthai, dia itulah Wang Sin tunanganku yang pernah teecu tuturkan kepada suthai dulu.”
Cheng Hoa Suthai mengangguk-angguk. “Kita pergi dari sini. Ajak tunanganmu itu bersama.”
“Tetapi Suthai, teecu belum berhasil membunuh Yang Nam, tuan tanah muda yang paling kurang ajar di dunia ini....” bantah Ci Ying.
“Jangan membantah! Dengan kepandaianmu menghadapi ke lima ekor anjing ini saja tidak bisa menang apalagi menghadapi Su Thai Losu? Jangan mimpi. Pulang!”
Ci Ying tidak berani membantah. Kalau gurunya saja gentar menghadapi pendeta-pendeta kepala di Lasha, dia sendiri bisa berbuat apakah? Tanpa banyak cakap lagi ia lalu menghampiri Wang Sin dan memondong tubuh tunangannya itu, lalu berlari cepat meninggalkan tempat itu.
Di lain saat gurunya telah berkelebatan di sampingnya dan nenek ini agaknya tidak tega melihat muridnya harus memondong laki-laki yang tentu berat, maka diulurnya tangannya dan tiba-tiba Ci Ying merasa tubuhnya ringan sekali dan kakinya bergerak maju seperti terbang.
Yang paling tidak enak hatinya adalah Wang Sin. Karena sebelah kakinya pincang dan tulangnya patah, ia terpaksa harus dipondong oleh Ci Ying. Ia mengeluh perlahan dan hal ini dikira oleh Ci Ying karena sakit di kakinya. Murid ini lalu minta gurunya berhenti untuk memeriksa luka di kaki Wang Sin.
“Hemmm, tulangnya patah,” kata Cheng Hoa Suthai. Tanpa banyak cakap lagi nenek ini lalu menyambung tulang patah itu dan memberi obat, dan lenyaplah rasa nyeri, diam-diam Wang Sin makin berterima kasih kepada Ci Ying dan gurunya.
Tanpa bantuan Ci Ying di Loka saja, dia dan isterinya sudah gagal dan besar kemungkinan akan berkorban nyawa dan tadi untuk kedua kalinya, tanpa ada Cheng Hoa Suthai kiranya tak dapat disangsikan lagi ia akan tewas di tangan hwesio Tibet. Makin tidak enak hatinya karena tahu bahwa makin sukarlah ia melepaskan diri dari ikatan Ci Ying.
Enam belas tahun kemudian....
Pegunungan Kun-lun merupakan barisan gunung yang panjang dan luas sekali. Di puncak ini tersebar tokoh-tokoh Kun-lun-pai yang banyak, akan tetapi yang merupakan pusat dari pada partai persilatan Kun-lun-pai berada di puncak paling timur yang menjadi sumber atau mata air dari sungai Cin-sa dan puncak ini yang menjadi tapal batas antara pegunungan Kun-lun dan Bayangkara.
Di pusat ruangan ini pula duduk guru besar dari partai Kun-lun-pai bernama To Gi Couwsu yang sudah sangat tua. Sudah belasan tahun tosu tua ini tidak menguruskan lagi keramaian dunia dan hanya bertapa di puncak gunung. Murid-murid dan cucu-cucu muridnya cukup banyak untuk mengurus semua kewajiban dan menjaga nama baik Kun-lun-pai sehingga partai persilatan ini mempunyai nama besar yang amat harum di dunia kang-ouw, ditakuti orang jahat disegani orang gagah.
Tidak seperti biasanya pada hari itu di dalam markas besar Kun-lun-pai, di ruangan lian-bu-thia (ruang belajar silat) nampak tosu-tosu kepala berkumpul, duduk di kursi-kursi yang diatur memutari ruangan itu. Para anak murid lain berdiri di belakang, menonton sambil memanjangkan leher agar dapat melihat lebih jelas ke tengah ruangan.
Di kursi kepala duduk To Gi Couwsu yang sudah amat tua, duduknya tegak dan di tangan kirinya memegang sebatang tongkat yang tak pernah berpisah dari badannya. Tosu ini sudah begitu tua sehingga untuk berjalan saja ia harus dibantu oleh tongkatnya.
Di tengah ruangan itu terdengar angin mendesir-desir dan berkelebatannya bayangan putih yang meloncat ke sana ke mari. Itulah hawa pukulan yang dahsyat, menandakan bahwa di ruangan itu ada seorang yang sedang bermain silat dengan hebatnya.
Ketika bayangan itu berhenti bersilat, baru dapat dilihat bahwa dia adalah seorang gadis muda berusia kurang lebih enam belas tahun, berpakaian serba putih, berwajah cantik berkulit putih. Pakaian gadis ini sederhana sekali, akan tetapi hal ini malah menonjolkan kecantikannya yang wajar.
Setelah ia berhenti bersilat, para tosu kepala ruangan itu mengangguk-angguk dan mengeluarkan suara pujian. “Sumoi benar-benar telah mencapai kemajuan yang pesat,” kata mereka.
Akan tetapi To Gi Couwsu menggeleng-gelengkan kepalanya nampak tidak puas. “Bi Hong, coba kau mainkan ilmu pedangmu biar dinilai oleh para suhengmu,” kata To Gi Couwsu, suaranya perlahan dan lambat seperti orang lelah.
Bi Hong, gadis cantik itu, memberi hormat kepada gurunya lalu menjurus kepada para tosu yang duduk mengitari tempat itu, belasan orang banyaknya. “Suheng sekalian harap jangan mentertawakan permainan pedang siauw moi yang masih buruk,” katanya.
Di lain saat tangan kanannya bergerak dan tampak sinar kuning emas berkelebat, disusul oleh gulungan sinar pedang yang ternyata telah dimainkan dengan amat dahsyatnya. Apalagi yang dimainkan adalah sebuah pedang pusaka dari Kun-lun-pai, yaitu Kim-Hui-Kiam (Pedang Emas Terbang) yang dihadiahkan oleh To Gi Couwsu kepada muridnya ini, cepat dan dahsyat sampai tubuh gadis itu lenyap terbungkus gulungan sinar pedang yang kuning emas.
Para anak murid Kun-lun-pai yang masih belum tinggi tingkatnya, yang menonton di belakang sambil berdiri, menjadi kabur pandangannya dan mereka memuji dengan penuh kekaguman dan kebanggaan. Bukankah gadis itu murid Kun-lun-pai yang patut mereka banggakan?
Setelah mainkan jurus-jurus yang sulit, tiba-tiba gadis itu berseru, “Suhu, teecu mohon diijinkan menggerakkan jurus terakhir!”
To Gi Couwsu menganggukkan kepalanya dan tahu-tahu sinar pedang itu melesat keluar ruangan, melampaui kepala para anak murid Kun-lun-pai yang berdiri di luar. Semua orang mengikuti sinar pedang ini dan melihat betapa dengan gerakan amat indah, gadis itu telah mainkan jurus terakhir dari Kun-lun Kiam-hoat yang disebut Hui-kiam-kan-goat (Pedang Terbang Mengejar Bulan), jurus yang amat sukar dimainkan karena banyak orang harus memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang sudah tinggi dan kesempurnaan menggerakkan pedang.
Ketika semua orang sedang ternganga kagum, gadis itu sudah turun kembali dan di tangan kirinya ia memegang seekor burung yang kedua sayapnya telah ia sabet putus dengan pedangnya. Burung gereja itu tadi sedang terbang dan burung inilah yang menjadi sasaran jurus Hui-kiam-kan-goat tadi sehingga putus kedua sayapnya. Burung itu kini mencicit di atas telapak tangan kiri Bi Hong, tidak dapat terbang lagi.
Semua tosu kepala yang duduk di situ kembali memuji. “Siancai... hebat ilmu pedang sumoi.”
Akan tetapi lagi-lagi To Gi Couwsu, guru kepala Kun-lun-pai, menggeleng-gelengkan kepalanya dan tanpa berkata apa-apa ia menggapai kepada Bi Hong supaya mendekat. Setelah gadis itu menghampirinya, tosu ini lalu mengambil burung gereja dari tangan gadis itu, mengelus-elusnya penuh kasih sayang, dan memeriksa kedua sayap yang sudah tidak berbulu lagi.
“Kau harus bersabar tiga puluh hari lebih, menanti sayapmu tumbuh, burung....” katanya perlahan lalu memasukkan burung yang tak bersayap itu ke dalam kantong bajunya yang lebar.
“Bi Hong, apa yang kau perlihatkan tadi indah dilihat, akan tetapi belum ketahuan bagaimana kalau menghadapi lawan. Coba kau minta twa-suhengmu untuk menguji,” kata pula To Gi Couwsu dengan suaranya yang perlahan dan tenang.
Gadis itu nampak gembira sekali. Cepat ia menghampiri seorang tosu, murid paling tua di Kunlun-pai, berusia lima puluh tahun lebih. Di antara semua murid To Gi Couwsu, yaitu para tosu di Kun-lun-pai, dia inilah yang paling tinggi ilmu silatnya, juga paling alim dan selalu mengutamakan kebajikan dan berwatak sabar sekali seperti gurunya.
Gadis itu menjura kepada tosu ini dan berkata sambil tersenyum. “Twa-suheng, di antara para suheng, hanya kau yang selalu menolak untuk menguji kebodohan siauwmoi. Sekarang atas perintah suhu, siauwmoi harap twa-suheng tidak berlaku pelit lagi.”
Lee Kek Tosu menarik napas panjang lalu berdiri dari tempat duduknya. “Suhu yang memerintah siapapun tak boleh menolak. Siauwmoi, kepandaianmu tinggi, darahmu panas, pinto seorang tua lemah mana bisa menangkan kau?”
Bi Hong tertawa dan dengan sikap yang manja ia menarik tangan tosu itu ke tengah ruangan, diikuti senyum para tosu lain. Setelah sampai di tengah ruangan itu, Bi Hong berkata. “Suheng yang baik, harap kau menaruh kasihan kepadaku dan jangan menurunkan tangan besi.”
Gadis itu pintar sekali. Ia maklum bahwa di antara semua tosu yang menjadi suhengnya, twasuheng ini adalah orang yang paling pandai, maka ia sengaja hendak menjajal kepandaiannya sendiri dengan tangan kosong dan kemudian baru menggunakan pedang. Sebelum tosu itu menjawab, ia sudah menerjang maju sambil berkata, “Twa-suheng, awas, siauwmoi mulai menyerang!”
Bi Hong yang maklum akan kelihaian twa-suhengnya, tidak mau membuang waktu dengan jurus-jurus biasa, melainkan segera menyerang dengan jurus-jurus yang paling lihai dari Kun-lun Ciang-hoat. Mula-mula ia membuka serangannya dengan gerak tipu Kong-ciak-khai-peng (Merak Membuka Sayap) lalu diteruskan dengan Pai-bun-twi-san (Atur Pintu Tolak Gunung). Gerakannya cepat dan bertenaga sekali ketika tangan kanannya mendorong ke arah dada twa-suhengnya.
“Bagus!” Lee Kek Tosu memuji ketika merasa betapa sambaran angin dorongan ini amat kuat tanda lweekang dari adik seperguruannya sudah mencapai tingkat tinggi. Dengan sigapnya ia miringkan tubuh, tangan kiri menangkis dan tangan kanannya membalas dengan serangan Totui-kim-ciang (Merobohkan Lonceng Emas), disabetkan dengan jari tangan miring ke arah leher gadis itu.
Bi Hong cepat mengelak dan mengebutkan tangan kirinya. Ia merasai betapa pukulan tangan twa-suhengnya amat berat membuat tangannya tergetar. Tahulah ia bahwa dalam hal tenaga lweekang, ia masih kalah jauh. Maka ia lalu menggunakan kelincahan tubuhnya menerjang dengan mempercepat gerakannya.
Namun dengan tenang sekali tosu itu menghadapinya dan demikianlah, dalam serang menyerang selama belasan jurus kelihatan perbedaan antara mereka. Si tosu bersikap tenang, gerak geriknya lambat tapi mantap dan bertenaga penuh. Sebaliknya Bi Hong bergerak cepat sekali sehingga ia dapat mengimbangi twa-suhengnya dan menutup kekurangannya dalam kekalahan tenaga lweekang.
Makin lama gerakan Bi Hong makin cepat, pukulan-pukulannya makin berbahaya dan setelah berlangsung empat puluh jurus lebih, gadis ini sudah bukan main-main atau berlatih lagi melainkan menyerang dengan sungguh-sungguh. Di lain pihak, tosu itu masih tenang saja dan selalu menjaga agar jangan sampai ia kesalahan tangan melukai sumoinya.
“Cukup, ganti dengan pedang,” terdengar To Gi Couwsu berkata.
Keduanya melompat mundur, wajah Bi Hong merah sekali namun suhengnya masih biasa saja. Gadis ini diam-diam merasa penasaran bagaimana setelah menyerang sehebat-hebatnya ia masih belum dapat mendesak suhengnya yang berlaku lambat-lambatan itu. Harus ia akui bahwa dalam ilmu silat tangan kosong suhengnya itu terlalu tangguh baginya. Ia boleh dibilang sudah jauh di bawah angin dan kini ia hendak menebus kekalahannya dengan pedang.
“Suhu sudah memerintahkan, mari keluarkan pedangmu, suheng,” katanya sambil menghunus Kim-hui-kiam.
Si tosu tua tertawa. “Sudah kukatakan tadi, sumoi. Kau lihai dan darahmu panas, mana pinto bisa mengatasimu?” Ucapan ini sabar sekali kedengarannya dan dengan gerakan lambat tosu ini mencabut sebatang pedang dari balik bajunya.
Pedang ini biasa saja kelihatannya, malah tidak bersinar dan kelihatan kotor. Logam yang dijadikan pedang ini kelihatan seperti batu saja. Namun Bi Hong sudah tahu bahwa pedang twasuhengnya itu adalah pedang pusaka yang tidak kalah ampuhnya dari Kim-hui-kiam dan disebut Toan-kang-kiam (Pedang pemotong baja).
“Twa-suheng, lihat pedang!” bentak Bi Hong dan pedangnya meluncur cepat ke arah tenggorokan orang. Tosu itu menangkis, terdengar suara nyaring dibarengi bunga api berhamburan. Di lain saat keduanya sudah sudah bertempur hebat. Seperti juga tadi, gerakangerakan Bi Hong lincah dan teguh penjagaannya.
Biarpun demikian, diam-diam Lee Kek Tosu terkejut ketika mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang sumoinya ini benar-benar hebat dan sudah mewarisi dari ilmu pedang Kun-lun-pai. Harus ia akui bahwa biarpun dengan lweekangnya ia dapat menahan, namun untuk menjatuhkan sumoinya ini bukanlah soal mudah lagi baginya.
Setelah lewat seratus jurus, ia melompat mundur, menghela napas panjang dan berkata, “Hebat... hebat sekali kiam-hoatmu, sumoi. Pinto merasa girang sekali dan bangga.”
Juga semua tosu memuji gadis ini yang cepat menjura sambil berkata. "Twa-suheng terlalu mengalah. Semua yang siauwmoi dapatkan ini semata-semata berkat kemurahan hati suhu yang mulia dan para suheng yang berbudi.”
To Gi Couwsu menggerak-gerakan tongkatnya di atas lantai. Bi Hong, twa-suhengmu berkali-kali mengingatkan kepadamu, apakah kau masih tidak sadar?”
Bi Hong terkejut, lalu ia menjatuhkan diri berlutut di depan suhunya. “Suhu, teecu mohon penjelasan.”
“Eh, bocah bodoh. Suhengmu berkali-kali mengatakan darahmu panas, itulah peringatan yang harus kau ingat betul. Kalau kau tidak terlalu panas darah, kalau kau ingat akan pelajaran lweekang dan menekan perasaan, dapat berlaku tenang seperti suhengmu, kau malah lebih kuat dari pada twa-suhengmu. Menghadapi lawan ringan kau dapat berlaku sesukamu menurut perasaan, akan tetapi sekali berhadapan dengan lawan berat, darah panasmu akan merugikan gerakan-gerakanmu. Kenapa kau begitu bernafsu dalam gerakan-gerakanmu?”
Tiba-tiba Bi Hong menangis. “Maaf, suhu. Teecu terlalu bernafsu karena selalu teringat akan musuh-musuh besar yang belum terbalas. Teecu ingin segera turun gunung untuk membalas sakit hati, ingin membasmi orang-orang yang telah membunuh Kong-kong dan membikin ibu mati karena duka.”
To Gi Couwsu menarik napas panjang, terbayanglah semua peristiwa enam belas tahun yang lalu. Peristiwa yang membuat tosu tua ini terpaksa menerima lagi seorang murid, padahal tadinya sudah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri karena terlalu tua.
Gadis itu Wang Bi Hong, bukan lain adalah puteri dari Ong Hui. Seperti telah diceritakan di bagian depan setelah bersama suaminya menyerbu ke Loka dan bertemu dengan Ci Ying yang membencinya. Ong Hui mengalah dan pergi meninggalkan suaminya, kembali ke rumah ayahnya di Kun-lun-san. Sambil menangis sedih, ia menuturkan semua pengalamannya kepada ayahnya dan supeknya,
Cin Kek Tosu. Ayahnya menghela napas panjang. “Hui-ji, semua ini kesalahanku. Sudah tahu Wang Sin mempunyai seorang tunangan, aku setengah memaksanya untuk menjadi mantuku. Biarlah, aku akan mencari dia dan tentu dia bisa menerima usulku untuk disamping tunangannya itu, mempunyai isteri kedua.”
“Tidak usah, ayah. Enci Ci Ying tidak rela melihat dia mempunyai isteri lain,” kata Ong Hui sambil menyusut air matanya.
Cin Kek Tosu membanting kakinya, “Kurang ajar anak itu! Mana bisa dia menyia-nyiakan isterinya yang sudah hampir mempunyai anak? Pinto yang akan menghajarnya, kalau kelak dia tidak mau kembali kepadamu.”
Demikianlah, Ong Hui melewatkan hari-hari yang sunyi di atas gunung dengan hati selalu mengandung kedukaan hebat. Beberapa bulan kemudian ia melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Wang Bi Hong. Semenjak melahirkan anak, tubuhnya menjadi lemah dan sering kali sakit. Ini semua disebabkan oleh penderitaan batinnya yang amat berat.
Beberapa bulan kemudian, terjadilah serbuan hebat ke gunung itu. Ga Lung Hwesio dan empat orang sutenya, dikawani oleh Thu Bi Tan Hwesio sendiri yang berilmu tinggi menyerbu ke situ. Hwesio-hwesio Tibet ini datang untuk membalas dendam atas kematian Thouw Tan Hwesio dan karena mereka tahu bahwa Wang Sin adalah murid Cin Kek Tosu.
Mereka lalu mencari ke gunung itu dan terjadilah pertempuran hebat antara hwesio-hwesio Tibet itu melawan Cin Kek Tosu yang dibantu oleh sutenya, Ong Bu Khai, ayahnya Ong Hui...