Nona Berbunga Hijau (Kun Lun Hiap Kek) Jilid 02, karya Kho Ping Hoo - SELIR INI betapapun juga masih ingat akan asal-usulnya, mereka kasihan kepada Ci Ying dan diam-diam memberi kabar melalui tukang cuci yang setiap pagi mengambil cucian. Kebetulan sekali dialah yang mempunyai tugas mengumpulkan pakaian-pakaian kotor.

Hampir tidak terdengar lagi oleh Ci Ying kata-kata budak pencuci pakaian itu. Pikirannya tidak karuan, bingung, sedih, marah, takut menjadi satu. Pada saat itu ia teringat kepada Wang Sin, tunangannya. Bayangan Wang Sin menjadi sinar terang yang mencegahnya jatuh pingsan. Tiba-tiba ia lari keluar sambil berseru perlahan. “Aku tidak mau....! Aku tidak mau...!”
Melihat akibat berita yang dibawanya, tukang cuci itu menjadi takut kalau-kalau perbuatannya terlihat oleh para centeng tuan tanah. Maka ia cepat-cepat angkat kaki menuju ke sungai untuk memulai pekerjaannya.
Ci Leng kembali menarik napas berulang-ulang, lalu meninggalkan gubuknya. “Aku harus bicara dengan tuan besar,” katanya lirih kepada diri sendiri.
Sementara itu, sambil mengendong Wang Tui yang kembali menangis, Ci Ying lari terus ke bukit di mana ia tahu Wang Sin membawa domba-dombanya. Ia takut terlambat menghadang tunangannya itu dan kalau pemuda itu sudah melewati bukit, ia harus menyusul ke tempat yang agak jauh. Ia merasakan tubuhnya lemah sekali, namun ia paksakan diri, mendaki bukit sambil berlari.
Tiba-tiba ia menjadi girang sekali dan terusirlah semua kesengsaraan hatinya ketika ia mendengar suara nyanyian yang sudah dikenalnya amat baik itu.
“Wahai, Himalaya yang tinggi. Ahoi Yalu-cangpo yang panjang. Dapatkah kalian memberi jawaban?”
“Wang Sin...!” teriak Ci Ying, mempercepat larinya.
Suara nyanyian itu berhenti dan dari atas bukit berlari turun pemuda itu. “Ci Ying...! Kebetulan sekali kau datang, aku memang ingin bertemu dengan kau!”
Tak lama kemudian mereka telah saling berhadapan dan saling berpandangan. Kabut tebal masih tidak kuasa melenyapkan sinar mata mereka ketika kedua orang remaja ini saling pandang penuh perasaan.
“Pakaianmu baru...!” seru Ci Ying, baru ia melihat pakaian pemuda itu yang indah dan tebal.
“Kau menggendong bayi...!” Wang Sin juga berseru heran. Perhatiannya tadi seluruhnya dikuasai oleh wajah gadis itu sehingga baru sekarang ia melihat dan mendengar tangis bayi di dalam pondongan Ci Ying.
“Ini anak yatim piatu yang orang tuanya dibunuh kemarin. Ku ambil dari nenek lumpuh,” jawab Ci Ying mengalah. Kemudian ia cepat mengulangi pertanyaannya, “Wang Sin, dari siapa kau mendapatkan pakaian baru yang indah ini?”
Wajah Wang Sin menjadi merah, setengah malu-malu setengah bangga dan girang mendapat kesempatan memperlihatkan diri dalam pakaian itu di depan tunangannya. Tentu ia kelihatan gagah dan tampan. Otomatis tanpa disadarinya, tangan kirinya bergerak ke atas dalam usaha membereskan rambutnya. Pemuda mana di dunia ini takkan berlagak memperbagus diri di depan wanita, apalagi tunangan sendiri yang ayu seperti Ci Ying?
“Aku mendapat hadiah dari tuan muda. Inilah yang hendak kutanyakan kepadamu. Menurut pikiranmu, mengapa dia memberi hadiah pakaian kepadaku?”
Mendengar ini, malapetaka yang menimpa dirinya teringat kembali oleh gadis itu dan ia lalu menjatuhkan diri di atas tanah sambil menangis. Bukan main kagetnya hati Wang Sin melihat reaksi yang sebaliknya ini dari tunangannya. Ia cepat menjatuhkan diri berlutut pula sambil memegangi pundak Ci Ying.
“Ci Ying, ada apakah? Kenapa kau menangis?” tanyanya.
Ci Ying tak dapat menjawab karena bayi itu menangis lagi karena lapar. Ia berusaha mendiamkan bayi itu sambil menyusuti air matanya sendiri.“Kenapa dia? Lapar?” tanya Wang Sin masih bingung.
Ketika gadis itu mengangguk, Wang Sin lalu cepat menghampiri kelompok dombanya, memegang kepala seekor domba yang sedang menyusui anaknya dan menuntun domba itu ke dekat Ci Ying. “Si putih ini banyak air susunya, beri dia air susu,” katanya.
Ci Ying menahan gelora hatinya sendiri, menahan mulutnya yang ingin menceritakan semua kesengsaraan dirinya untuk mendahulukan kebutuhan bayi itu. Ia membawa bayi ke dekat susu domba itu dan tak lama kemudian bayi itu menyusu dari susu domba. Lahap sekali bayi itu yang sudah sehari semalam tidak diberi apa-apa.
Setelah bayi itu kenyang, ia tertidur pulas dalam gendongan Ci Ying. Baru ia teringat akan keadaan diri sendiri. Sambil menangis ia bercerita. “Wang Sin malapetaka menimpa diriku. Pagi tadi bibi pencuci membawa berita celaka. Ia mendengar dari nyonya besar ke lima bahwa.... bahwa tuan muda... hendak... hendak mengambil aku sebagai... sebagai selirnya yang ke delapan... dan... tuan besar sudah menyetujuinya...” Ia menangis makin keras.
Wang Sin menjadi pucat. Ia serentak berdiri, mengepalkan tinjunya, matanya bersinar-sinar, mukanya menjadi muram dan giginya berbunyi. “Bedebah! Si keparat!” makinya dan di lain saat ia telah menanggalkan pakaian barunya yang menutupi pakaian butut.
Dikoyak-koyaknya pakaian itu, hancur berkeping-keping. “Si keparat jahanam makanan neraka!” Kembali ia memaki. “Jadi itulah gerangan sebabnya ia berbaik kepadaku? Bedebah!” Ia melemparkan kepingan-kepingan baju itu ke atas tanah dan menginjak-injaknya dengan gemas membayangkan bahwa si pemberi yang ia injak-injak itu.
“Wang Sin, bagaimana baiknya? Aku.... lebih baik aku mati dari pada menjadi selirnya.”
“Aku akan pergi kepadanya! Aku yang akan membantah, aku yang akan melarang. Biar kuputar batang leher si keparat.”
“Wang Sin, apa kau gila? Kau takkan menang melawan anjing-anjing penjaga, kau akan dipukul sampai mati...!”
“Tidak apa mati untuk membelamu!” Pemuda itu hendak pergi akan tetapi Ci Ying memegang lengannya sambil menangis.
“Wang Sin, kalau kau dipukuli sampai mati, apa kau kira aku dapat terlepas dari malapetaka ini? Tiada bedanya! Lebih baik aku melarikan diri. Bantulah aku lari dari neraka ini.”
Wang Sin sadar akan kebenaran kata-kata gadis itu. Kalau ia mengamuk, berarti ia mengantar nyawa dengan sia-sia dan gadis itu tetap saja akan dipaksa menjadi selir tuan muda. Kalau sudah begitu, apa arti pengorbanannya? Tidak ada sama sekali. “Lari Ci Ying? Ke mana?”
“Ke mana saja asal terlepas dari tangan tuan muda. Biar aku pergi dibawa aliran sungai Yalu-cangpo ke timur. Wang Sin, kau carikan sebuah perahu untukku, aku akan naik perahu itu mengikuti aliran Yalu-cangpo.”
“Akan tetapi.... ke mana tujuanmu dan bagaimana kita bisa bertemu lagi?”
“Aku akan terus mengikuti aliran Yalu-cangpo sampai sungai itu berbelok. Aku pernah mendengar cerita ayah bahwa jauh di timur sungai itu membelok ke selatan. Nah, di belokan itulah aku mendarat dan menanti kau. Lekaslah, Wang Sin, sebelum kaki tangan tuan muda menyusul ke sini.”
Karena hanya itu jalan satu-satunya, Wang Sin cepat bekerja. Ia menangkap dua ekor domba yang gemuk, membunuhnya untuk dipakai bekal rangsum tunangannya sedangkan domba yang mempunyai susu itupun ia bawa ke pinggir sungai.
Mudah baginya mencuri sebuah perahu dan tak lama kemudian Ci Ying yang menggendong bayi itu sudah naik ke atas perahu. Domba yang menyusui itu diikat mulutnya sehingga tidak bisa mengeluarkan suara, lehernya diikat pada tiang.
Bangkai dua ekor domba ditumpuk di situ dan di dekatnya terdapat sepikul rumput untuk makanan domba yang menyusui. Untuk penghabisan kali Wang Sin memegang pundak Ci Ying, matanya membasah. “Hati-hatilah, Ci Ying. Mudah-mudahan kita bisa bersua kembali.”
Ci Ying juga mengucurkan air mata, mengangguk dan berkata. “Mungkin aku akan tewas diperjalanan. Akan tetapi lebih baik mati diperjalanan dari pada mati di tangan tuan muda, bukan?”
Wang Sin mengangguk dan mendorong perahu itu ke tengah, lalu Ci Ying mendayung perahu itu terus ke tengah sampai aliran air yang kuat membawa perahu itu meluncur cepat.
Dengan air mata berlinang Wang Sin berdiri di pinggir sungai melihat perahu itu lenyap ditelan kabut yang masih tebal menutupi permukaan sungai. Hatinya lega. Dengan adanya kabut itu, tak mudah perahu yang melarikan Ci Ying itu terlihat oleh para centeng tuan tanah.
“Wang Sinnn...!!” Teriakan keras ini membuat pemuda itu terkejut dan cepat-cepat ia lari kembali ke bukit di mana tinggalkan domba-dombanya. Kembali suara panggilan itu menggema dan ternyata ayahnya yang memanggil dari bukit itu.
Melihat Wang Sin muncul, Wang Tun menegur. “Ke mana saja kau meninggalkan domba-dombamu?”
Tiba-tiba orang tua itu menudingkan telunjuknya ke bawah. ”Eh, ini banyak darah. Celaka! Tentu domba-dombamu ada yang ganggu...!”
Wang Sin bersikap tenang. “Ayah, sebelum aku menjawab pertanyaan ini, ada keperluan apakah ayah mendaki ke sini? Mengapa ayah bersusah payah mencariku?” Memang tidak mudah bagi Wang Tun yang terikat rantai kedua kakinya itu untuk mendaki bukit. Hal ini membuktikan bahwa tentu ada keperluan yang amat penting yang membawa orang tua ini datang ke situ menyusul puteranya.
“Ada peristiwa hebat. Ci Ying hendak dijadikan selir tuan muda. Ayahnya sudah menghadap akan tetapi ditolak malah diancam supaya segera menghantarkan Ci Ying ke gedung. Celakanya, Ci Ying dicari-cari tidak ada. Aku khawatir kau yang menyembunyikannya. Betul tidak?”
Wang Sin mengangguk. “Ci Ying sudah pergi dengan aman, ayah. Melarikan diri dengan perahu kubawai bekal dua bangkai domba dan sebuah domba hidup untuk memberi susu bagi bayi yang dibawanya.”
“Bayi?”
“Cucu nenek lumpuh.”
Pandai besi itu menggeleng kepalanya. “Hebat! Kalian orang-orang muda sungguh hebat! Ci Ying menolong bayi itu mempertaruhkan nyawa sendiri dan kau menolong Ci Ying, tidak perduli akan bahaya yang mengancam dirimu. Ah, kalau semua budak bersemangat seperti kalian dan bersatu melawan tuan tanah, kiranya nasib kita takkan begini.”
“Ayah, kau tidak marah....?”
Ayahnya tersenyum. “Mengapa mesti marah? Lihat, akupun sudah siap mempertaruhkan nyawa.”
Kakek itu mengeluarkan dua batang pedang panjang yang dibuatnya secara sembunyi di dalam dapur pekerjaannya. Ia berikan sebatang kepada Wang Sin. “Mereka tentu akan mencurigaimu, tentu akan memaksa kita dan menyiksa kita supaya mengaku di mana adanya Ci Ying. Daripada mampus seperti domba, lebih baik mati sebagai harimau, bukan?”
Wang Sin mengangguk-angguk tak kuasa mengeluarkan kata-kata saking terharunya, akan tetapi tangannya menangkap lengan ayahnya kuat-kuat. Dua orang laki-laki gagah, satu tua satu muda, dalam saat itu merasa bersatu dan senasib sependeritaan.
Pada saat itu, tampak seorang laki-laki berlari-lari naik ke bukit itu. Terengah-engah ia berhenti di depan Wang Tun dan Wang Sin.
“Paman Ci Leng...!” tegur Wang Sin.
“Apa kalian melihat Ci Ying?” tanya orang tua ini terengah-engah, memandang tajam kepada Wang Sin.
“Aku tidak melihatnya,” jawab Wang Tun.
“Paman, untuk apa kau mencari Ci Ying? Untuk diserahkan kepada tuan muda?” tanya Wang Sin penuh curiga.
Ci Leng melangkah maju dan dengan mata melotot tangannya menampar pipi Wang Sin. “Kau kira aku orang macam apa?”
Wang Sin mengusap-usap pipinya yang panas dan tersenyum puas lalu memberi hormat. “Bagus paman, Ci Ying sudah kubantu melarikan diri dengan perahu.” Dengan singkat ia menuturkan apa yang terjadi.
Ci Leng merangkapkan kedua tangannya, berdongak ke udara. “Terima kasih kepada Dewi Sgrolma Putih. Semoga Dewi melindunginya.” Kemudian ia teringat. “Wang Sin, mereka tentu akan menyiksamu!” Ia nampak terkejut.
“Saudara Ci Leng, demi untuk kebaikan anakmu sendiri, Wang Sin juga harus dapat melarikan diri menyusul Ci Ying. Biar kita yang tua-tua bertanggung jawab menghadapi kemurkaan tuan tanah.” Kata Wang Tun.
“Tidak, ayah! Bagaimana aku bisa membiarkan kau dan paman Ci Leng menjadi korban?”
“Diam kau! Kami sudah tua, tak lama lagi kalau tidak mampus di tangan tuan tanah, tentu akan mampus juga. Kau masih muda, kau diharap-harap oleh Ci Ying.”
“Betul sekali,” sambung Ci Leng. “Biar aku pergi ke kuil menemui Gi Hun Hosiang. Sehari ini kau harus dapat bersembunyi Wang Sin, dan malam nanti kau pergilah ke kuil Gi Hun Hosiang. Dia pasti ada jalan untuk menolongmu. Kalau kau pergi sekarang, terlambat. Semua jalan keluar melalui air tentu sudah terjaga. Aku pergi dulu.”
Setelah berkata demikian, dengan terburu-buru Ci Leng meninggalkan ayah dan anak itu. Tak lama kemudian dari bawah bukit terdengar teriakan orang-orang. Dari jauh nampak serombongan tukang pukul antek-antek tuan tanah yang mencari-cari Ci Ying.
“Tangkap Wang Sin! Tentu dia tahu di mana adanya Ci Ying!” terdengar teriakan-teriakan mereka.
“Wang Sin, kau harus bersembunyi. Lekas!” kata Wang Tun.
Memang Wang Sin sudah bersiap sedia. Ia telah mempersiapkan sebuah jerami panjang dan dengan benda itu di tangan kiri dan pedang pemberian ayahnya di tangan kanan, ia lalu berlari ke jurusan lain, menuju ke sungai.
Ayahnya maklum apa yang akan diperbuat anaknya karena memang ia sudah memberi nasehat anaknya, yaitu kalau tiba masanya anak itu hendak menyembunyikan diri, tempat yang paling aman adalah di bawah permukaan air sungai dan jerami itu dapat dipasang di mulut untuk menyedot hawa dari permukaan air.
Belum lama Wang Sin melenyapkan diri, berlarilah dua belas orang antek tuan tanah mendaki bukit itu. Melihat Wang Tun seorang diri di situ dan domba-domba yang biasa digiring oleh Wang Sin berkeliaran di situ pula, mata para tukang pukul itu liar mencari-cari Wang Sin. Namun tidak terlihat bayangan orang muda itu.
“Pandai besi Wang Tun, kenapa kau di sini? Mana Wang Sin anakmu?” tanya pemimpin rombongan tukang pukul.
“Aku sendiripun sedang mencari anak itu.” Jawab Wang Tun yang terkenal pendiam di antara tukang-tukang pukul. Seperti juga terhadap Wang Sin, terhadap kakek pandai besi ini, para begundal tuan tanah itu tidak begitu berani bersikap kasar dan sewenang-wenang seperti terhadap budak-budak lain.
Hal ini karena selain Wang Tun merupakan pandai besi satu-satunya yang tangannya amat dibutuhkan tuan besar, juga kakek ini sikapnya keras dan suka melawan. Akan tetapi pada waktu itu, para tukang pukul ini sudah mendapat kekuasaan penuh oleh tuan muda untuk mencari Ci Ying sampai dapat dan kalau perlu orang-orang seperti Wang Tun, Wang Sin, dan Ci Leng boleh disiksa untuk memaksa mereka mengaku di mana adanya gadis itu.
“Pandai besi tua bangka, jangan pura-pura. Kalau tidak ada hubungan dengan hilangnya Ci Ying, masa sepagi ini kau sudah di sini? Hayo katakan di mana adanya Wang Sin yang menyembunyikan Ci Ying? Mengakulah sebelum kami hilang kesabaran!”
“Kalian punya mata, carilah sendiri dan jangan ganggu aku!”
“Tangkap saja dan siksa, tentu mengaku si tua bangka ini,” kata seorang tukang pukul sambil mengamang-amangkan tombaknya.
“Ketemu si Wang Sin tentu ketemu pula Ci Ying, tentu si tua bangka ini yang menyembunyikan.”
“Tangkap...”
Mendengar suara-suara ini dan melihat sikap mereka mengancam, Wang Tun tersenyum mengejek, matanya bersinar-sinar. Ia mengedikkan kepala dan mengangkat dada, kakinya bergerak sehingga rantai yang mengikat kedua kakinya mengeluarkan bunyi berdencingan.
“Kalau aku tidak sudi memberitahu, kalian mau apa?”
“Bangsat, budak hina dina! Kau mau melawan?” bentak kepala rombongan yang memegang toya.
Tiba-tiba Wang Tun tertawa bergelak, tangannya bergerak dan sebatang pedang sudah berada di tangannya. “Hayo, majulah kalian anjing-anjing penjilat pantat tuan tanah! Majulah, ini saat yang kutunggu-tunggu sejak dahulu!”
Tukang-tukang pukul itu maklum bahwa si pandai besi ini biarpun tua, amat kuat dan pandai silat, akan tetapi mereka mengandalkan keroyokan. Dengan memaki-maki marah mereka lalu maju menyerbu Wang Tun yang segera mengamuk sambil memutar-mutar pedangnya.
Dengan garangnya Wang Tun menerjang maju, seputaran pedangnya dapat menangkis semua penyerang dan cepat sekali ia lanjutkan dengan menyerampang ke depan sambil merendahkan tubuhnya. Para tukang pukul yang sedikit-sedikit juga pernah belajar ilmu silat, meloncat ke atas, akan tetapi seorang di antara mereka kurang cepat loncatannya sehingga sebelah kakinya, dekat mata kaki, terbabat pedang sampai putus berikut sepatu-sepatunya.
Ia menjerit kesakitan dan tubuhnya menggelinding ke belakang, lalu berdiri lagi melonjak-lonjak dengan sebelah kaki, berputaran saking sakitnya. Tak lama kemudian ia terguling dan pingsan.
Para tukang pukul menjadi makin marah. Kepungan makin rapat dan datangnya senjata yang menyerang seperti hujan. Namun Wang Tun tidak keder. Ia malah tertawa bergelak ketika pedangnya merobohkan korban pertama. “Ha-ha-ha-ha!”
Tukang pukul yang memegang toya menggebuknya dari belakang dan karena pada saat itu Wang Tun menghadapi hujan senjata dari depan dan kanan kiri, gebukan ini tepat mengenai punggungnya.
“Blek!” dan toya yang terbuat dari kayu itu patah. Wang Tun mengeluarkan seruan menahan sakit. Cepat memutar tubuh dan pedangnya meluncur.
“Cepp....!” Pedang itu amblas memasuki perut tukang pukul itu sampai tembus ke belakang.
“Ha-ha-ha-ha-ha!” Wang Tun tertawa terbahak-bahak ketika darah lawan menyemprot membasahi bajunya. Ia cepat mencabut pedangnya dan menggulingkan tubuh ke kiri untuk menghindarkan hujan senjata. Akan tetapi karena kedua kakinya terikat, gerakannya ini kurang cepat dan sebuah penggada menghantam pundaknya.
Punggung dan pundaknya sudah terkena pukulan. Namun Wang Tun benar-benar kuat sekali. Ia hanya mengeluarkan gerakan seperti harimau terluka lalu mengamuk lagi. Dalam beberapa gerakan pedangnya sudah merobohkan lagi tiga orang pengeroyok.
Para tukang pukul yang tinggal tujuh orang menjadi gentar menghadapi amukan pandai besi itu yang seperti harimau terganggu ini. Kepungan mengendur dan mereka hanya menyerang secara hati-hati sekali sambil berteriak-teriak memaki.
“Mundurlah, anjing-anjing tiada guna. Biarkan aku menghadapi sendiri!” Teriakan ini membuat para tukang pukul mundur dengan muka pucat karena mengenal suara tuan muda Yang Nam.
Tidak berhasil mengalahkan seorang budak dengan pengeroyokan dua belas orang, benar-benar merupakan kesalahan besar dan kalau mereka nanti hanya menerima makian-makian saja sudah boleh dibilang untung.
Melihat kedatangan tuan muda yang membawa sebatang toya kuningnya, Wang Tun hanya berdiri, dengan pedang melintang di depan dada. Seperti pedang ditangannya yang berlumur darah, juga pakaiannya penuh oleh darah para korbannya dan darahnya sendiri ia telah menderita luka di sana sini. Wajahnya beringas dan matanya berapi-api.
“Wang Tun baik kau katakan saja di mana Ci Ying dan Wang Sin. Kalau kau mau berterus terang, aku akan mengampunkan kau dan biarlah anjing-anjing yang sudah kau robohkan ini karena memang mereka tak berguna. Mengakulah, di mana adanya anakmu itu dan di mana ia menyembunyikan Ci Ying?” kata Yang Nam dengan nada suara halus.
Tergetar pedang di tangan kakek pandai besi itu. Sudah tahu ia akan kelicikan pemuda ini yang lebih jahat dari pada ayahnya. Ia menggelengkan kepala dan berkata. “Hamba tidak dapat memberitahu karena tidak tahu di mana adanya mereka.”
“Wang Tun, jangan kau membohong kepadaku,” suara Yang Nam mulai mengeras, penuh gertakan.
“Hamba tidak membohong. Akan tetapi, lepas dari pada soal membohong atau tidak, hamba tidak setuju kalau Ci Ying yang sudah dijodohkan dengan putera hamba itu hendak tuan rampas,” jawabnya ini membayangkan ketegasan dan kenekatan.
Yang Nam tersenyum, mengangguk-angguk. “Ah, begitukah? Wang Tun apa kau kira aku begitu serakah? Kalau Ci Ying tidak mau, biarlah sekarang juga aku atur perkawinan antara dia dan anakmu. Pokoknya keluarkan dulu mereka dari tempat persembunyian mereka.” Ucapan ini halus dan membujuk.
Namun Wang Tun sudah cukup mengenal pemuda licik ini, ia menggeleng kepala. “Hamba tidak tahu di mana mereka....”
“Eh, itulah mereka!” Tiba-tiba Yang Nam menuding ke kanan, “Wang Sin! Ci Ying, kalian ke kanan saja?”
Wang Tun terkejut sekali dan menengok ke arah yang ditunjuk oleh tuan muda itu. Ia tidak melihat apa-apa dan tahulah dia bahwa tuan muda yang licik itu telah menipunya. Cepat dia berpaling kembali untuk bersiap sedia, akan tetapi terlambat. Toya di tangan Yang Nam sudah menyerangnya dengan hebat dan sebuah sodokan ke arah dadanya tak dapat ia hindarkan lagi.
Tubuhnya terjengkang ke belakang dan pukulan kedua yang amat keras mematahkan lengannya yang memegang pedang sehingga pedang itu terlepas dan terlempar. Namun Wang Tun tidak bersambat, hanya memandang dengan mata melotot.
Melihat pandai besi itu sudah roboh tak berdaya, menyerbulah tukang-tukang pukul itu dengan senjata mereka dan di lain saat mereka sudah memukuli tubuh Wang Tun. “Bak-bik-buk” mereka menggebuki Wang Tun seperti kelompok anak-anak menggebuki seekor ular sampai Wang Tun tak dapat bergerak lagi, rebah mandi darah.
“Tuan muda sungguh gagah perkasa...” seorang tukan pukul menyeringai dan memuji Yang Nam.
Akan tetapi jawaban pujian ini adalah sebuah tendangan kaki tuan muda itu yang membuat si pemuji terjengkang. “Gentong-gentong nasi tak punya guna. Hayo lekas cari lagi Ci Ying dan Wang Sin. Biarkan bangkai pandai besi ini membusuk di sini dan dimakan binatang buas.”
Mereka lalu pergi sambil menyeret kawan-kawan yang terluka dalam pertempuran tadi. Juga Yang Nam setelah meludah ke arah tubuh Wang Tun yang mandi darah, lalu pergi uring-uringan.
Yang Nam dan antek-anteknya tidak tahu betapa sejam kemudian setelah mereka pergi tubuh yang dikira sudah menjadi mayat itu bergerak lemah, mengerang perlahan lalu mata yang bengkak-bengkak itu terbuka.
“Wang Sin.... Wang Sin....” demikian bisik Wang Tun lirih, kemudian dia diam kembali tak bergerak. Darah menetes turun dari keningnya.
Ci Leng tergesah-gesah berjalan menuju ke kuil besar yang menjadi tempat pujaan seluruh rakyat di daerah itu. Ia membawa sebuah “hata” yaitu sehelai kain selendang yang menjadi tanda penghormatan dan kebaktian, dan sekeranjang gajih.
Hata dan gajih ini merupakan barang sumbangan yang harus dibawa oleh setiap orang yang hendak bersembahyang. Tanpa barang-barang itu jangan harap akan dapat memasuki ruangan kuil. Jadi benda-benda itu merupakan pembuka kunci pintu kuil.
Ketika Ci Leng tiba di luar kuil, di situ sudah banyak terdapat budak-budak yang berlutut di atas batu-batu lantai di luar kuil. Mereka ini datang untuk minta berkah. Selain patung-patung di dalam kuil, siapa lagi yang menaruh kasihan kepada mereka? Siapa lagi yang dapat menolong mereka? Kepada patung-patung inilah para budak itu berlari untuk minta perlindungan dan minta berkah.
Ci Leng menjatuhkan diri berlutut di antara pemuja. Batu-batu lantai itu sampai licin sekali, halus dan di sana sini berlubang saking sering dan banyaknya orang datang berlutut. Lubang-lubang kecil bekas telapak tangan dan lutut. Sambil berlutut dan berkali-kali mengangguk-anggukkan kepala, Ci Leng seperti yang lain menggerak-gerakkan bibir membisikkan doa-doa sambil memutar-mutar tasbeh.
Serombongan pendeta lama yang masih kecil-kecil, di antaranya baru berusia lima enam tahun, lewat di dekat mereka sambil menggotong ember-ember berisi air. Anak-anak kecil yang berkepala gundul dan berpakaian gerombongan itu dengan susah payah menggotong air, terhuyung-huyung ke kanan kiri.
Mereka ini adalah pendeta-pendeta Lama kecil, akan tetapi pada hakekatnya hanyalah budak juga dalam pakaian Lama dan berkepala gundul. Mereka bekerja setengah mati, diperas sampai tak kuat lagi untuk melayani para pendeta Lama yang merupakan “orang suci” di dalam kuil.
Anak-anak ini mencuci, memasak, mencari kayu bakar, mencari air, menyapu yah pekerjaan apa saja mereka lakukan untuk para pendeta Lama. Kalau para budak hamba dijadikan ternak-berbicara oleh para tuan tanah, adalah kacung-kacung ini diperkuda oleh para pendeta Lama.
Setelah mengucapkan doa-doa di depan kuil bersama para tamu kuil yang datang bersembahyang, Ci Leng memasuki halaman kuil di mana orang-orang itu secara bergiliran menyerahkan kain-kain, harta dan barang sumbangan atau disebut juga “korban” kepada seorang pendeta Lama yang bertugas untuk menerima barang-barang berharga itu.
Setelah menyerahkan barang sumbangannya, Ci Leng memasuki bangunan sebelah kiri. Ia berjalan melalui gang di mana penuh dengan lukisan-lukisan di tembok kanan kiri lorong, lukisan tentang manusia-manusia lelaki perempuan bertelanjang bulat yang sedang disiksa dan menderita di dalam neraka.
Bermacam-macam lukisan yang mengerikan, dan cukup mendatangkan rasa takut dalam hati para pengunjung kuil, sehingga mereka itu takkan berani melakukan dosa-dosa di dalam hidup agar kelak jangan disiksa seperti dalam lukisan itu?
Lukisan-lukisan itu betapapun juga merupakan lukisan indah, dan patung-patung yang tak terbilang banyaknya menghias di sana sini. Akan tetapi sepasang mata Ci Leng seakan-akan tidak melihat ini semua. Ia langsung menuju ke sebelah bangunan kecil yang letaknya di ujung kiri, di dekat dapur dan dekat tembok pagar pekarangan kuil. Inilah ruang kerja di mana Lama-Lama yang ahli dalam membuat patung-patung bekerja.
“Losuhu....!” Ci Leng memberi hormat ketika ia melihat seorang hwesio seorang diri bekerja di dalam ruangan itu.
Hwesio ini usianya sudah lima puluh tahun lebih, wajahnya lembut dan kulit mukanya putih tak pernah terbakar sinar matahari, agak pucat. Kedua tangannya penuh dengan lumpur karena ia tengah bekerja, membentuk tanah lihat untuk dijadikan patung. Di seluruh ruangan itu penuh dengan patung-patung yang sudah jadi, setengah jadi dan belum jadi. Pakaiannya yang butut penuh dengan kotoran lumpur dan cat.
Sepasang mata yang jernih dan muka yang agak muram itu berseri ketika Gi Hun Hosiang pendeta Lama itu, memandang kepada Ci Leng. “Eh, kaukah itu, saudara Ci Leng? Terima kasih bahwa kau tidak melupakan pinceng dan mau menjenguk pinceng di tempat ini.”
Akan tetapi pendeta itu menjadi heran dan kaget ketika tiba-tiba Ci Leng menjatuhkan diri berlutut di depannya, mengangguk-angguk dan berkata dengan suara penuh permohonan. “Losuhu yang mulia, tolonglah kami...”
Gi Hun Hosiang meletakan tanah lempung yang dikerjakannya dan mengangkat bangun Ci Leng. “Eh, eh ada apakah, saudara yang baik? Sang Buddha telah memberi jalan kepada semua manusia untuk menolong diri sendiri. Hanya dengan perbuatan baik orang dapat menolong diri sendiri, tidak ada orang lain dapat menolong kita terbebas kesengsaraan.”
“Malapetaka telah menimpa keluarga kami, losuhu. Dewa-dewa telah menampakan kemurkaan kepada kami.” Dengan singkat Ci Leng menceritakan betapa tuan muda hendak merampas Ci Ying dan betapa gadis itu karena tidak sudi dijadikan selir dan karena sudah bertunangan dengan Wang Sin, telah melarikan diri membawa pergi cucu nenek lumpuh.
“Sekarang Wang Sin dicari-cari dan kalau pemuda itu bisa ditangkap tentu akan disiksa oleh mereka. Oleh karena itu, tolonglah losuhu beri jalan kepada Wang Sin agar supaya dia bisa melarikan diri dari tempat ini. Malam nanti tentu dia akan datang ke sini dan memohon perlindungan losuhu.”
“Omitohud....!” Hwesio itu mengucapkan pujian sambil merangkap kedua tangan di depan dada. “Tuan Yang dan anaknya terlalu menghumbar nafsu. Apa jadinya kelak dengan mereka dalam penjelmaan mendatang? Jangan kau khawatir, saudaraku Ci Leng. Pinceng tak dapat berbuat banyak akan tetapi kalau Wang Sin berada di sini, tentu ia akan terlindung dan pinceng akan berusaha mencarikan daya upaya....”
Ci Leng berlutut lagi menghaturkan terima kasih. “Keluarlah supaya jangan menimbulkan kecurigaan. Semoga Sang Buddha melindungimu,” kata pendeta itu sambil merangkap kedua tangan.
Ci Leng lalu keluar dari ruangan itu dan Gi Hun Hosiang berkemak-kemik membaca doa, lalu disambungnya dengan kata-kata lirih. “Aku hendak membuatkan sebuah patung Sang Buddha yang indah dan besar, patung emas yang akan menjadi kebanggaan kuil ini. Itulah pekerjaanku terakhir setelah itu akan bersihlah aku dari pada dosa-dosaku. Akan tetapi sebagai tambahan baik juga kutolong anak-anak yang patut dikasihani itu....”
Kembali Hwesio yang baik hati dan saleh ini membaca mantra sebelum ia melanjutkan pekerjaannya membuat patung. Baru saja Ci Leng keluar dari ruangan pembuatan patung dan berjalan sampai di lorong:
“Hukuman di neraka,” tiba-tiba ia dikejutkan oleh bentakan parau. “Hemm, kau di sini?”
Ketika Ci Leng menengok, ia melihat Thouw Tan Hwesio, seorang Buddha hidup, seorang pendeta besar yang mengepalai kuil itu. Thouw Tan Hwesio berjubah kuning bersih, bertopi tinggi dan wajahnya keren sekali. Tubuhnya tinggi besar dan lengan tangannya berbulu. Sepatunya juga dilapis besi dan sepasang matanya yang bundar itu kini menatap wajah Ci Leng yang ketakutan. Ci Leng cepat-cepat menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada manusia dewa ini.
“Hemmm, Ci Leng. Keluargamu telah membuat kacau. Anakmu yang tak tahu malu minggat bersama setan cilik Wang Sin. Calon besanmu Wang Tun memberontak dan membunuh beberapa orang penjaga sebelum ia sendiri terbunuh. Kau yang dilumuri dosa-dosa keluargamu sekarang berani menginjak lantai kuil ini? Benar-benar kau mengotori kuilku. Hayo, keluar cepat sebelum aku memanggil halilintar untuk menyambarmu menjadi abu!”
Ci Leng dengan muka pucat, bukan hanya takut mendengar ancaman ini namun juga terkejut mendengar tentang kematian Wang Tun, cepat-cepat ia keluar dari kuil itu. Akan tetapi baru saja sampai di luar kuil, beberapa orang antek tuan tanah telah menyergapnya, mengikatnya dan menyeretnya ke gedung tuan tanah Yang Can.
“Jahanam keparat tak kenal budi!” datang-datang ia dimaki oleh tuan tanah Yang Can. “Semejak belasan tahun kau dan anakmu dapat hidup karena ada aku yang menolong, setiap hari kau dan anakmu yang keparat itu makan dan minum dari pemberianku. Dan semua ini kau balas dengan penghinaan hari ini?” Muka Yang Can merah saking marahnya.
“Ampun tuan besar. Hamba sekali-kali tidak merasa telah melakukan penghinaan,” bantah Ci Leng.
“Plakk!” tangan Yang Nam menampar pipi orang tua itu. Karena Yang Nam adalah seorang pemuda ahli silat, tamparannya keras dan seketika darah menyembur dari mulut Ci Leng karena beberapa buah giginya copot. Matanya berkunang-kunang, dan terpaksa ia meramkan mata.
“Iblis tua, pintar kau bicara!” maki Yang Nam. “Kalau bukan kau yang mengaturnya, mana bisa anakmu, seorang gadis muda, berani melarikan diri. Hayo mengaku di mana sembunyinya Ci Ying dan Wang Sin?”
“Hamba tidak tahu.... hamba tidak tahu.....”
Beberapa kali pukulan dan tendangan jatuh di tubuhnya, akan tetapi Ci Leng hanya mengucapkan, “Hamba tidak tahu... hamba tidak tahu...” Sampai akhirnya ia tidak bisa mengeluarkan suara lagi karena telah pingsan.
“Jangan bunuh dia, kau merugikan kita saja,” bentak Yang Can. “Bawa dia pergi,” perintahnya kepada para tukang pukul. “Suruh bekerja keras dan ikat kakinya dengan rantai supaya tidak mencoba untuk lari.”
Tubuh Ci Leng yang sudah lemas itu diseret keluar dari halaman gedung tuan tanah Yang Can.
Wang Sin memang memiliki tubuh yang sangat kuat. Sehari penuh tubuhnya terendam di dalam air sungai tak sekejap pun ia berani memperlihatkan kepala ke atas permukaan air. Tak perlu diceritakan lagi penderitaannya selama sehari itu, direndam di dalam air yang amat dingin.
Beberapa kali ia hampir tidak kuat menahan, hampir pingsan dan hasrat untuk naik ke dalam udara segar membuat ia hampir tak kuat menahan lagi. Namun kekerasan hatinya memang luar biasa. Dengan hanya menghisap hawa dari jerami panjang yang ia gigit, ia dapat bertahan menyelam sampai sehari.
Setelah kegelapan malam menembus air, baru ia berani muncul. Paru-parunya serasa akan meledak ketika tiba-tiba ia dapat menghisap hawa udara sepuasnya, tidak melalui jerami kecilkecil itu. Setelah melihat bahwa dipinggir sungai tidak ada orang menjaga, ia berenang ke pinggir, mendarat dan sambil menahan hawa dingin yang makin meresap ke dalam tulang, ia menyusup ke tempat gelap, hendak menuju ke kuil untuk menemui Gi Hun Hosiang sebagaimana telah dipesan oleh Ci Leng.
Tiba-tiba ia merandek dan cepat bersembunyi ke balik batang pohon. Ia mendengar suara berkeresekan, lalu terdengar keluhan perlahan sekali disusul suara bisikan, “Wang Sin.....”
“Ayah.....!” Wang Sin mengenal suara ayahnya dan cepat menghampiri. Di lain saat ia telah memangku ayahnya yang ternyata lebih baik mati dari pada hidup, dengan tubuh rusak berlumur darah dan hanya hati dan semangat membaja saja yang dapat menahan nyawa itu belum meninggalkan raga. Malah Wang Tun dengan kemauan keras tiada bandingnya lagi, berhasil merangkak menuruni bukit dan sengaja mencegat di situ untuk menemui anaknya untuk memberi pesan terakhir.
“Syukur.... Dewata masih kasihan kepadaku...Wang Sin.... dengar baik-baik.....” Ia terengah-engah. Sukar sekali kata-kata keluar dari kerongkongannya yang sudah tersumbat darah.
“Tuan muda.... dia curang...Wang Sin, kalau kau bisa lari..... kelak pergilah cari guruku.... Cin Kek Tosu.... di Kun-lun-san.... kelak.... tolonglah para budak... tolonglah mereka, bebaskan dari cengkeraman tuan tanah.... ahhh.... selamat....” Dan kakek yang kuat ini akhirnya tak dapat menahan nyawanya yang melayang meninggalkan raganya.
Wang Sin mengepal tinju. Kalau menurutkan nafsu hatinya, ingin ia mengamuk, membalas dendam ini dan kalau mungkin membunuh tuan muda Yang Nam dan yang lain-lain. Akan tetapi, pengalaman-pengalaman getir membuat pemuda ini dapat menahan nafsu dan dapat berpikir panjang. Tiada gunanya, pikirnya.
Ayahnya yang gagah perkasa sekalipun tak dapat menang. Apalagi dia yang hanya memiliki kepandaian terbatas sekali. Ia harus dapat keluar dari neraka ini, harus mempelajari kepandaian dan kelak kembali untuk membalas dendam. Ah, tidak, ayahnya lebih betul. Bukan semata-mata membalas dendam, melainkan yang terutama sekali membebaskan saudara-saudaranya para budak.
“Ayah, ampunkan anakmu tidak dapat merawatmu sebagaimana mestinya.” Dengan airmata bercucuran saking sedih melihat mayat ayahnya rebah tak terawat atau terurus, ia terpaksa meninggalkan mayat itu di situ kalau tidak mau tertangkap oleh kaki tangan tuan tanah.
Wang Sin mencari jalan di dalam gelap dan akhirnya ia berhasil memasuki kuil. Tak seorangpun kaki tangan tuan tanah menjaga tempat ini. Siapa mengira bahwa pemuda yang mereka kira sudah melarikan diri bersama Ci Ying itu berani bersembunyi di dalam kuil?
Perhitungan Ci Leng memang tepat. Tempat sembunyi di kuil itu baik sekali. Seandainya Wang Sin mengikuti jejak Ci Ying, melarikan diri menggunakan perahu, tentu ia akan tertangkap karena para antek tuan tanah sudah menjaga sampai jauh di bawah.
Gi Hun Hosiang menerimanya dengan ramah, tanpa banyak suara. Ternyata hwesio ini sudah membuat persiapan lebih dulu karena begitu Wang Sin masuk ia lalu mengambil satu stel pakaian hwesio berikut topinya yang tinggi. “Buka pakaianmu dan pakai ini,” perintahnya....