Cheng Hoa Kiam Jilid 36, karya Kho Ping Hoo - WI LIONG hanya meneriakkan kata-kata. "Nona Pui, jangan ulangi lagi hal celaka yang terjadi antara aku dan Siok Lan! Kun Hong dapat diinsyafkan oleh cinta kasihmu. Kasihanilah dia...!"

Akan tetapi Eng Lan sudah pergi jauh, lupa membayar makanannya. Terpaksa Wi Liong merogoh kantong dan membayar semua harga makanan, baik yang tadi dimakan oleh Kui Sek dan Lan Lan, maupun hidangan yang baru dimakan sedikit oleh Eng Lan. Dia sendiri tidak membeli apa-apa, tidak ada selera lagi padanya.
Tidak ada nafsu makan setelah ia mengalami hal-hal yang menegangkan hatinya. Apa lagi pertemuan dengan gadis yang serupa benar dengan Siok Lan tadi. Tak terasa dalam hatinya muncul harapan untuk bertemu kembali dengan Bu-beng Siocia tadi, yang ia hanya ketahui namanya memakai "Lan" juga.
Mari kita ikuti perjalanan Kun Hong yang hancur hatinya mengingat kelakuannya sendiri terhadap Eng Lan. Ia merasa berdosa kepada kekasihnya itu. Apa lagi kalau ia teringat betapa ia telah memperlakukan Eng Lan sebagai seorang wanita rendah, malah ia maki lebih rendah dari pada para pelayan Kui-bo Thai-houw! Alangkah jahat mulut dan hatinya.
Eng Lan, gadis yang ternyata amat setia padanya, yang sampai hampir mengorbankan nyawa di Ngo-tok-kauw karena hendak mencarikan obat untuknya! Gadis yang suci dan murni cintanya ini ia caci-maki ia perlakukan kasar dan rendah, ia tuduh yang bukan-bukan. Ia samakan dengan dirinya sendiri, dengan dia yang sudah rusak moralnya.
Makin diingat makin sakit dan menyesal hati Kun Hong kepada diri sendiri. Teringatlah ia akan semua pengalamannya, akan semua jalan hidup sesat dan hina yang pernah ia lalui. Teringat ia akan Tok-sim Sianli akan selir-selir gurunya, teringat pula ia kepada Ciok Kim Li yang kakinya sampai buntung karena dia.
Teringat juga kepada wanita-wanita yang telah memasuki jalan hidupnya, kepada Kui-bo Thai-houw dan para pelayannya. Dia yang sudah begitu rusak dan bejat moralnya, masih berani mencaci-maki dan memfitnah yang bukan-bukan kepada Eng Lan. gadis suci murni itu!
"Aku sudah layak mampus!" katanya berkali-kali ketika seperti orang gila ia mendayung perahu pergi meninggalkan Ban-mo-to untuk mencari Eng Lan. "Aku harus temukan dia, aku harus minta ampun kepadanya atau mati di depan kakinya!" demikian ia mengambil keputusan. Karena sedih dan menyesalnya kepada diri sendiri, batu kemala Im-yang-giok-cu yang sudah ia dapatkan itu tidak ia pergunakan. Ia tidak perduli lagi berapa lama ia masih akan hidup.
Ia mencari keterangan bertanya sana-sini, namun Eng Lan seperti lenyap ditelan bumi, tidak meninggalkan bekas. Biarpun demikian, Kun Hong tidak menghentikan usahanya, terus mencari dengan hati mengandung kedukaan besar.
Pada suatu hari, kedua kakinya yang sudah penat itu membawanya ke lereng Gunung Thian-mu-san yang letaknya di perbatasan Propinsi Kiang-si dan An-hwi. Tanpa ia sengaja ia telah tiba di bagian yang penuh dengan tebing curam dan daerah yang berbatu amat berbahaya.
Sukar sekali tempat ini dilalui orang kalau orang tadi tidak memiliki kepandaian tinggi. Kun Hong sendiri yang sudah tinggi ilmunya, karena tempat itu masih asing baginya, terpaksa melompat-lompat mencari jalan yang enak. Akhirnya ia tiba di dataran yang sebelah kirinya merupakan tebing yang amat curam, ratusan meter dalamnya jurang yang amat terjal di sebelah kiri itu.
Akan tetapi kalau orang berdiri di atas tebing memandang ke bawah, tamasya alam yang luar biasa indahnya terbentang luas dt bawah kakinya, membuat orang terpesona oleh keindahan yang jarang terdapat ini. Sampai lama Kun Hong berdiri di situ, menikmati pemandangan indah dan tiupan hawa gunung yang sedap nyaman. Terhibur juga hatinya oleh pemandangan dan suasana yang indah tenteram dan sunyi itu.
Memang, di kala manusia menyadari akan kebesaran alam, di kala ia merasa bahwa dirinya sebagai satu titik bagian alam yang amat kecil, amat tidak berarti, saat itu ia akan kehilangan watak egoisnya, merasa bersatu dengan alam dan karenanya perasaan-perasaan pribadi seperti marah susah dan lain-lain lenyap sekaligus, terganti perasaan yang ayem tenteram.
Saking tertariknya Kun Hong oleh semua keindahan itu, yang membuat jiwanya yang selama ini kelelahan menjadi nikmat seperti mengalami istirahat yang nyaman, ia berdiri seperti patung, seperti dalam keadaan samadhi yang hening sehingga ia tidak tahu bahwa dari kaki gunung terdapat bayangan orang berkelebat ke sana ke mari, melompat dari batu ke batu dengan amat lincah tanpa mencari-cari jalan seperti Kun Hong tadi.
Ini menandakan bahwa orang itu sudah biasa dengan jalan di daerah ini sehingga tanpa melihat ia dapat melompat ke sana ke mari mendaki ke tebing atas. Setelah dekat, ia mengeluarkan seruan tertahan melihat pemuda itu berdiri di pinggir jurang seperti patung batu.
Yang baru datang ini seorang gadis yang pendek sekali. Kalau dilihat dari jauh, tentu orang akan menyangka dia seorang anak perempuan yang masih kecil karena ketika meloncat-loncat tadi rambutnya yang diikat ke belakang melambai-lambai. Akan tetapi kalau dilihat dari dekat, wajahnya bukanlah wajah bocah, melainkan wajah gadis dewasa yang sudah masak, sedikitnya dua-puluh tahun usianya.
Dari pinggang ke atas ia normal seperti gadis-gadis biasa, akan tetapi kakinya amatlah pendek. Ia memandang Kun Hong dengan wajah menjadi pucat setelah mengenal pemuda ini, dan tak terasa lagi bibirnya berseru keras. "Kun Hong...!!"Pemuda itu sadar dari lamunannya dan cepat memutar tubuh memandang, dengan mata penuh harap karena telinganya tadi menangkap suara memanggil namanya, suara... Eng Lan. Akan tetapi keningnya berkerut tanda kecewa ketika ia melihat bahwa gadis itu bukanlah Eng Lan, melainkan... Ciok Kim Li, gadis puteri Ciok Sam yang terbunuh olehnya, gadis yang pernah menjadi kekasihnya dan yang terpaksa ia buntungi kedua kakinya karena kaki gadis itu terluka parah oleh Tok-sim Sian-li.
"Kim Li, kau di sini...?" katanya perlahan, baru sekarang merasa heran bagaimana gadis buntung ini bisa berada di tempat yang sesunyi ini.
Akani tetapi, sama sekali tak disangka-sangka, gadis buntung itu mencabut sebatang pedang dari punggungnya dan dengan pedang itu ia menuding muka Kun Hong sambil berkata marah, "Bagus! Agaknya Thian yang membawa kau ke sini agar aku bisa mengadu nyawa denganmu, manusia jahat!"
"Eh.... eh... Kim Li, kau kenapakah?" Kemudian Kun Hong teringat bahwa mungkin gadis ini marah dan sakit hati kepadanya karena ia telah membuntungi kedua kaki gadis itu. Ia menarik napas panjang, lalu menundukkan muka dan berkata, "Yaaaah, memang aku seorang jahat yang layak dibunuh, Kim Li. Akan tetapi kalau kau marah kepadaku karena aku membuntungi kedua kakimu kau keliru. Kalau tidak kubuntungi kakimu, nyawamu tentu telah melayang oleh racun Tok-sim Sian-li."
Pedang di tangan Kim Li gemetar. "Aku tidak bicara tentang diriku sendiri. Aku sama jahat dan busuknya dengan kau! Ayahku kau bunuh aku malah menyerahkan diri padamu, tidak tahu dan buta mataku bahwa kau seorang manusia busuk. Biarlah, buntungnya kedua kakiku adalah hukumanku karena aku tidak berbakti kepada ayahku.
"Akan tetapi sekarang tiba saatnya bagiku untuk menebus semua kedurhakaanku. Tidak hanya untuk membalaskan mendiang ayah, melainkan terutama sekali membalaskan sakit hati mendiang enci Siok Lan dan membalaskan kesengsaraan suhu yang diderita karena kau!"
Setelah berkata demikian, gadis buntung itu menyerang hebat dengan pedangnya, menusuk dada Kun Hong. Akan tetapi pemuda itu kaget dan heran sekali mendengar ucapan gadis tadi sehingga ia cepat mengibaskan tangannya ke arah punggung pedang. Pedang itu terpental ke samping dan hampir terlepas dari pegangan Kim Li.
"Nanti dulu, Kim Li. Apa artinya semua ucapanmu tentang nona Siok Lan dan suhumu tadi? Aku tidak mengerti kenapa aku kau persalahkan terhadap mereka?”
"Huh, kau masih pura-pura tidak tahu!" bentak Kim Li yang menjadi makin marah karena ternyata ia tidak berdaya menghadapi pemuda yang lihai ini. Padahal selama ini ia telah mendapat kemajuan pesat di bawah pimpinan suhunya.
"Enci Siok Lan sampai terputus perjodohannya dengan Thio Wi Liong, malah sampai meninggal dunia karena perbuatanmu yang merenggangkan perhubungan mereka! Karena perbuatanmu yang tak tahu malu, mengaku-aku di depan Kwee lo-enghiong bahwa kau kekasih enci Siok Lan, kau telah mendatangkan malapetaka sehingga enci Siok Lan membunuh diri dan suhuku, Kwa suhu ayah enci Siok Lan menjadi berubah ingatan!"
Tentu saja Kun Hong kaget bukan main mendengar ini. Ia makin merasa nelangsa, makin tertindih batinnya karena bertumpuknya dosa, karena akibat perbuatannya mendatangkan banyak malapetaka. Makin terbukalah mata hatinya betapa hidupnya dahulu penuh kejahatan, betapa selama ini ia telah tersesat ke jalan hitam.
"Aduh, sampai begitu hebat? Di mana Kwa lo-enghiong biar aku mencoba mengobatinya..." katanya, teringat akan Im-yang-giok-cu yang disimpannya. Ia akan rela memberikan bata kumala mujijat ini kepada Kwa Cun Ek, asal dapat menyembuhkannya dan dengan demikian ia dapat menebus sebagian dari pada dosanya.
Mana Kim Li mau percaya? Dengan marah ia menerjang lagi. "Keparat jahanam, omonganmu yang beracun siapa sudi percaya? Lebih baik kau mampus!" Pedangnya kembali menusuk dan kali ini dengan seluruh kekuatan yang ada padanya sehingga tubuhnya ikut melayang bersama pedang itu bagaikan seekor burung garuda menyambar.
Hebat serangan ini. Kun Hong mengerti bahwa kalau ia menangkis, tentu gadis ini akan terbanting dan terluka, maka cepat sekali ia menyelinap ke kiri sehingga tubrukan gadis itu mengenai tempat kosong.
Terdengar pekik mengerikan dan Kun Hong berdiri pucat sekali, tak bergerak seperti patung melihat betapa gadis itu yang tadinya menyerangnya sepenuh tenaga, sekarang karena menubruk tempat kosong, tak dapat dicegah lagi terlempar ke bawah, ke dalam jurang atau tebing yang ratusan meter dalamnya itu!
Sampai lama Kun Hong berdiri pucat, menutup telinga dengan tangan sambil meramkan mata agar jangan melihat arau mendengar kejadian yang hebat mengerikan ini. Kembali ia mengakibatkan malapetaka yang mengerikan. Akibat dari perbuatannya pula, biarpun kali ini tidak ia sengaja.
Mengapa dosa mengejar ngejarnya terus? Dua titik air mata turun membasahi pipinya. Ia berhasil menenteramkan guncangan hatinya, lalu menjenguk ke bawah. Tidak kelihatan apa-apa saking dalamnya jurang itu.
Tiba-tiba ia melihat gulungan tambang di tempat itu, tak jauh dari tempat ia berdiri. Tentu Kim Li yang membawa tambang ini tadi, entah untuk apa. Memang sebetulnya Kim Li yang tadi membawanya karena dalam perjalanannya terakhir ia harus menggunakan tambang untuk mencapai tempat tinggalnya, tempat tinggalnya bersama gurunya.
Tanpa berpikir panjang lagi. Kun Hong mengambil tambang itu dan mengikatkan ujungnya pada sebuah pohon. Kemudian ia merosot turun melalui tambang itu ke dalam jurang, dengan maksud mencari mayat Kim Li dan menguburnya baik baik. Untuk menjaga segala kemungkinan di tempat berbahaya ini, ia menghunus pedangnya dan terus merosot turun perlahan-lahan sambil memandang ke sana ke mari mencari-cari mayat gadis buntung itu.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, "Bangsat keji! Setelah membunuh Kim Li cici, kau hendak melarikan diri ke mana?”
Kun Hong kaget memandang dan ternyata bahwa di tengah-tengah tembok karang dari tebing yang curam itu terdapat sebuah gua yang besar sekali dan di mulut gua ini sekarang muncul seorang gadis. Siok Lan kah gadis itu? Karuan saja Kun Hong merasa bulu tengkuknya berdiri. Bukankah tadi Kim Li menyatakan bahwa Siok Lan sudah mati? Kenapa sekarang tahu-tahu muncul di tempat yang luar biasa itu? Apakah ini roh Siok Lan yang datang mengganggunya?
Ia tidak sempat berpikir lebih jauh karena tiba-tiba gadis itu mengayun kedua tangannya. Tampak sinar berkilauan dan belasan batang senjata rahasia Kim thouw-ting (Paku Berkepala Emas) menyambar ke arahnya dengan kecepatan luar biasa dan hebatnya, yang diarah adalah jalan-jalan darah di tubuhnya. Inilah kepandaian hebat!
Kun Hong cepat memutar pedangnya menangkis. Paku-paku itu dapat ditangkisnya, akan tetapi ia merasa betapa pedangnya tergetar ketika menyampok paku-paku itu, tanda bahwa gadis itu betul-betul lihai sekali, tidak saja dapat menyambit dengan gerakan sulit yang disebut Boan-thian-hwai (Hujan Bunga dari Langit), yaitu cara melepas senjata rahasia yang hanya dapat dilakukan oleh seorang ahli am gi (senjata gelap) yang berilmu tinggi, juga ternyata memiliki tenaga lweekang yang hebat sekali.
Di lain fihak, gadis itu kelihatan tercengang ketika berondongan pertama dari tigabelas buah Kim-thouw-ting yang dilepasnya tadi sebuahpun tidak mengenai sasaran. Padahal, kalau ada sekelompok burung terbang di udara, tigabelas pakunya tadi sudah dapat dipastikan akan menghasilkan tigabelas ekor burung!
Kembali dua buah lengannya terayun dan kini sekaligus tujuhbelas buah paku melayang ke arah Kun Hong, sebagian menyambar tubuhnya bagian atas sampai kepala, sebagian pula menyambar tubuh bagian bawah sampai ke kaki!
Kun Hong kaget sekali. Benar-benar berbahaya serangan ini dan hanya dapat dihalau dengan pemutaran pedang mengelilingi seluruh tubuhnya. Ia menarik kedua kaki ke atas. berpegang erat-erat pada tambang dengan tangan kiri sedangkan pedangnya diputar cepat sekali di sekeliling tubuhnya.
Celaka baginya, ia lupa bahwa ia sedang tergantung pada sebuah tambang, maka tanpa dapat dicegah lagi, pedangnya sendiri membabat putus tambang di atas kepalanya dan tubuhnya melayang ke bawah!
"Eng Lan....!" Kun Hong berseru atau lebih tepat bersambat kepada kekasihnya. Dalam menghadapi maut, yang teringat olehnya hanya Eng Lan. Ia maklum bahwa kali ini tak ada harapan baginya, maka ia memegang pedang erat-erat untuk menghadapi kematian dengan pedang di tangan, biarpun mati terbanting hancur.
Pada detik yang gawat itu, dua buah paku menyambar dengan kepala di depan, tepat menotok jalan darah tai-twi-hiat dan yan-goat-hiat di tubuh Kun Hong. Seketika itu juga tubuh Kun Hong menjadi-kaku seperti kayu! Dia tidak mampu menahan karena memang keadaannya sudah tak berdaya dan ia sendiri tidak peduuli lagi akan serangan orang maka mendiamkan saja jalan darahnya tertotok oleh paku paku yang sengaja disambitkan dengan terbalik itu!
Kemudian terdengar suara bersiut. Sebatang tambang lain menyambar dari arah gua itu, dengan cepat dan tepat sekali tambang itu melibat tubuh Kun Hong dan di lain saat tubuh pemuda itu sudah dibetot melayang ke arah gua, jatuh berdebuk di lantai gua depan kaki gadis gagah perkasa itu!
"Siapa yang kau tawan itu, anakku?" terdengar suara laki-laki yang nyaring dan besar.
Dari dalam gua muncullah dua orang laki laki, yang seorang tinggi tegap dengan jenggot panjang gemuk menutupi leher, matanya lebar dan nampaknya gagah sekali. Yang ke dua adalah seorang laki laki tinggi besar pula, akan tetapi kedua matanya buta. Mereka keluar dan melihat Kun Hong, tiba-tiba laki-laki tua tinggi besar itu tertawa bergelak.
"Ha-ha ha-ha, kalau kita bicara tentang iblis, dia muncul! Saudara Kwee Sun Tek, tahukah kau siapa iblis yang ditangkap oleh anakku?"
"Siapakah dia, saudara Kwa Cun Ek?" balas tanya si buta.
"Ha-ha ha... siapa lagi kalau bukan jahanam keparat Kun Hong, biang keladi keributan antara kita. Ha-ha-ha!"
Orang buta itu nampak terkejut. Juga gadis gagah perkasa yang menawan Kun Hong tadi kelihatan kaget sekali. Siapakah dia? Apakah betul Siok Lan yang sudah mati di sungai? Dan kenapa Kwee Sun Tek dan Kwa Cun Ek bisa berada di tempat itu? Tentu pembaca bingung karenanya. Maka baiklah kita mundur sedikit mengikuti perjalanan Kwa Cun Ek, ayah Kwa Siok Lan yang dalam hidupnya banyak mengalami pahit getir ini.
Telah dituturkan di bagian depan betapa Kwa Cun Ek dengan hati sedih sekali pergi meninggalkan rumahnya setelah melihat Kwa Siok Lan anak tunggalnya minggat dari rumah lalu disusul oleh Tung-hai Sianli, isterinya. Kebahagiaan berkumpul dengan anak isterinya hanya dikecap sebentar saja, malah kini terganti oleh perceraian tidak karuan yang amat menyedihkan hatinya.
Belum jauh ia meninggalkan rumah, terdengar orang memanggil-manggil di belakangnya. Ketika ia menoleh, ia melihat Kim Li, gadis buntung yang menjadi muridnya itu, berdiri di depannya sambil menundukkan muka dan menangis.
"Kim Li, mau apa kau mengejarku?" tanya Kwa Cun Ek keren.
Kim Li menjatuhkan diri berlutut dan sambil menahan tangis ia berkata. "Suhu apakah hendak pergi pula? Enci Siok Lan pergi, subo pergi, kalau suhu pergi pula meninggalkan teecu, habis teecu bagaimana? Teecu mohon suhu sudi membawa teecu pergi, teecu akan membantu mencari subo dan enci Siok Lan."
Kwa Cun Ek mengerutkan kening, kemudian teringat bahwa Kim Li adalah seorang gadis yatim piatu dan sudah menganggap dia sebagai ayah sendiri. Memang kasihan sekali kalau ditinggal sendirian di rumah. Akhirnya ia mengajak muridnya ini pergi merantau, mencari isterinya dan puterinya.
Sudah banyak tempat mereka jelajah, hasilnya sia-sia belaka, malah karena menderita pukulan batin dan kesedihan hebat. Kwa Cun Ek mulai menjadi linglung, malah sekarang lebih gila dari pada dahulu. Hanya berkat perawatan yang teliti dari Kim Li yang berbakti dan setia, orang gagah itu tidak sampai mati telantar di perjalanan.
Memang sudah nasib Kwa Cun Ek untuk mengalami kesengsaraan. Penderitaannya menjadi makin berat dan hebat ketika pada suatu hari kebetulan sekali ia bertemu dengan sutenya, See-thian Hoat-ong. See-thian Hoat-ong ini orangnya jujur dan kasar. Mendengar bahwa suhengnya ini mencari-cari Kwa Siok Lan, dengan terus terang ia ceritakan bahwa Siok Lan sudah mati, membunuh diri di sungai bersama suaminya, Chi-loya.
Mendengar ini Kwa Cun Ek roboh pingsan. Kim Li minta kepada See-thian Hoat-ong supaya membantu cari Tung-hai Sian-li agar wanita itu mau merawat Kwa Cun Ek. See-thian Hoat-ong pergi dan Kim Li merawat Kwa Cun Ek dengan penuh kebaktian. Pukulan batin ini hebat sekali dan sekaligus membuat Kwa Cun Ek betul betul berubah ingatannya. Ia kadang-kadang tertawa kadang-kadang menangis, kadang-kadang mengamuk. Hanya pada Kim Li yang merawatnya ia menurut.
Guru dan murid ini merantau dalam keadaan sengsara sekali. Kim Li tidak mampu mencegah suhunya pergi ke mana saja suhunya suka. la hanya mengikuti dengan setia dan jaranglah ditemui seorang seperti Kim Li setianya. Ia sudah menganggap gurunya sebagai ayah sendiri dan agaknya kepada ayah ke dua inilah ia hendak menebus dosanya terhadap ayah pertama yang terbunuh oleh Kun Hong akan tetapi ia malah menyerahkan diri kepada pembunuh ayahnya itu!
Perantauan mereka yang tidak karuan tujuannya itu membawa mereka ke Telaga Po-yang di kaki Gunung Thian mu-san. Pemandangan di telaga yang indah ini amat menggembirakan hati Kwa Cun Ek dan merupakan hiburan yang amat baik. Kim Li yang menjaga setengah mengasuh gurunya seperti mengasuh anak kecil, sengaja menyewa sebuah perahu dan memenuhi permintaan gurunya membeli arak baik. Kwa Cun Ek duduk di kepala perahu sambil minum-minum arak dan bernyanyi-nyanyi dengan suaranya yang nyaring.
Tentu saja para pelancong yang banyak berpesiar di telaga itu, menjadikan hal ini sebagai tontonan baru dan perahu Kwa Cun Ek menjadi perhatian orang. Tidak hanya para pelancong yang memperhatikan, juga lima orang laki-laki yang bertubuh tegap dan bersikap sebagai ahli ahli silat. Sejak Kim Li dan gurunya tiba di Telaga Po-yang, lima orang laki-laki ini sudah mengawasi dan menaruh perhatian besar.
Kwa Cun Ek sudah mabok. Tiga guci arak sudah memasuki perutnya semua. Ia masih merasa kurang. "Kim Li... araknya tambah lagi!!" teriaknya dari kepala perahu.
"Cukup, suhu. Sudah habis tiga guci arak. Kalau terlalu banyak tidak baik untuk kesehatan suhu." jawab murid yang setia itu dari dalam perahu sambil menambali pakaian suhunya yang sudah mulai robek-robek.
Kwa Cun Ek mengomel akan tetapi tidak membantah. "Kalau kau tidak mau membelikan tambahan arak, biar aku beli sendiri....." Orang tua ini mengomel perlahan, tidak terdengar oleh Kim Li. Kwa Cun Ek bangun berdiri, tubuhnya terayun-ayun.
Pada saat itu, perahu mereka berada di dekat pantai, kira-kira lima meter jauhnya Kwa Cun Ek membawa guci di kedua tangan, sebuah di kanan sebuah di kiri, lalu ia meloncat ke darat! Kalau ia sedang waras dan tidak mabok, jangankan baru jarak lima meter, biar dua kali itu akan dapat ia loncati dengan mudah. Akan tetapi karena ia mabok. ketika ia tiba di darat, tubuhnya terhuyung-huyung.
Biarpun demikian, loncatannya ini cukup membuat para penonton di situ bertepuk tangan memuji. Lebih-lebih kagum dan heran semua orang ketika tiba-tiba dari dalam perahu berkelebat bayangan dan tahu-tahu Kim Li sudah melompat di dekat suhunya dan memegang lengan orang tua yang terhuyung mau jatuh itu.
"Hati hatilah, suhu. Hendak ke manakah?" Tegur gadis itu.
Semua orang kembali bertepuk tangan, kali ini mereka heran dan kagum betul-betul karena Kim Li kelihatan hanya seorang gadis kecil pendek saja. Orang-orang sudah menduga bahwa gadis ini tentu buntung kedua kakinya, kalau tidak masa begitu pendek sedangkan tubuh bagian atas normal.
Kwa Cun Ek menjawab, suaranya keras. "Punya uang untuk apa kalau tidak untuk beli arak? Kalau uang habis, itu perhiasan-perhiasan emas perak jual saja!"
Kim Li khawatir sekali. Memang mereka membawa perhiasan, emas dan perak dari rumah sebagai bekal perjalanan. Kalau suhunya begini berterang di muka umum. apakah hal itu bukan berarti menarik perhatian orang-orang jahat dan perampok?
"Hishhh, suhu. Baiklah teecu membeli seguci lagi. Suhu tunggu saja di sini, ya!"
Kwa Cun Ek mengangguk-angguk. Akan tetapi sebelum Kim Li pergi, tiba-tiba muncul lima orang laki-laki yang sejak tadi mengawasi guru dan murid ini. Sikap mereka mengancam dan mereka berdiri mengurung Kim Li dan gurunya.
"Tak salah lagi, tentu inilah maling kecil yang membunuh Giam sute! Maling cilik menyerahlah kau sebelum kami menggunakan kekerasan!" Orang yang bicara ini, seorang laki-laki berusia empatpuluh tahunan, menjangkau dengan jari tangan terbuka ke arah pundak Kim Li.
Akan tetapi, dengan mudah dan gesit Kim Li. miringkan tubuh mengelak sambil berseru marah. "Bajingan tengik jangan pegang pegang orang! Aku bukan maling, juga bukan pembunuh sute mu!"
Akan tetapi mana lima orang itu mau percaya? Sudah sebulan lebih, daerah Telaga Po-yang ini diganggu oleh seorang pencuri luar biasa yang tidak pernah meninggalkan jejak. Lima orang itu adalah rombongan ahli silat yang didatangkan oleh para hartawan di Nan-tiang yang menjadi korban pencurian, untuk menyelidiki dan menangkap pencuri itu.
Lima orang ini tadinya berjumlah enam dengan Giam-kauwsu (guru silat Giam). Akan tetapi pada suatu malam beberapa minggu yang lalu, ketika mereka berenam mencari ke sana ke mari, Giam-kauwsu telah tewas dalam pertempuran melawan seorang pencuri wanita! Lima orang iitu di antaranya adalah suheng-suheng dari Giam-kauwsu.
Tentu saja mereka menjadi makin marah dan teliti. Dan pada hari itu mereka sengaja melakukan penyelidikan di Telaga Po-yang dan menjadi curiga melihat Kim Li, apa lagi ketika gadis ini terpaksa memperlihatkan kepandaiannya melompat ke darat dari perahunya.
"Kau mau melawan?" bentak guru silat yang hendak menangkap tadi dan cepat mencabut goloknya.
Kim Li maklum bahwa tidak ada gunanya bertengkar mulut dengan orang-orang ini. Ia pun mencabut pedang dipunggungnya dan membentak. "Anjing-anjing rendah, kalian jangan sewenang-wenang. Aku Ciok Kim Li tidak takut kepadamu!" Dengan gagah sekali gadis buntung kakinya ini melintangkan pedang di depan dada.
Lima orang itu mengeluarkan seruan marah dan orang yang sudah mencabut goloknya segera menyerang. Akan tetapi dengan gerakan lincah Kim Li mengelak dan sekali pedangnya menyambar, orang itu berteriak kaget, cepat mengguling kan tubuh ke belakang karena hampir saja perutnya dicium ujung pedang. Empat orang kawannya juga kaget, tidak menyangka bahwa gadis buntung ini demikian lihai. Serentak mereka mencabut senjata masing-masing dan di lain saat Kim Li sudah dikeroyok lima!
Para pelancong lari simpang-siur melihat perkelahian dengan senjata tajam ini. Yang berhati penakut cepat-cepat melarikan diri sipat kuping, yang tabah menonton dari tempat jauh karena tidak mau terbawa-bawa dalam pertempuran mati-matian itu.
Biarpun kedua kakinya buntung, namun sebagai murid Kwa Cun Ek, tentu saja ilmu pedang Kim Li lihai. Akan tetapi, kali ini ia menghadapi keroyokan lima orang guru silat yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi sehingga dalam dua-puluh jurus lebih, gadis buntung ini sudah menjadi terdesak hebat dan hanya dapat melindungi diri, tak kuasa membalas serangan lawan yang bertubi-tubi datangnya.
Tiba-tiba terdengar seruan nyaring sekali dan Kwa Cun Ek dengan, geramnya menyerbu ke dalam pertempuran. Dua buah gucinya digerakkan dan pecahlah kepala seorang pengeroyok sedangkan guci yang satu lagi membikin pedang seorang pengeroyok terpental jauh! Akan tetapi karena dalam keadaan mabok, tubuh Kwa Cun Ek terhuyung-huyung hampir jatuh.
Bukan main kagetnya empat orang lain yang melihat seorang di antara mereka roboh dan tewas sekali pukul oleh kakek mabok itu. Cepat mereka berteriak "Suhu, bantulah!"
Dari bawah pohon melompat seorang gundul tinggi besar bersenjata toya. Hwesio ini sejak tadi hanya menonton saja sambil melenggut seperti orang ngantuk. Sekarang ia melompat dan menerjang Kwa Cun Ek. Dia ini adalah seorang hwesio ketua kelenteng Thian-hwa-tang di kota Nan-kiang yang dimintai tolong oleh para guru silat ini. Bi Lam Hosiang adalah seorang hwesio Siauw-lim pai yang tinggi ilmu silatnya.
Pertempuran terpecah menjadi dua. Kim Li dikeroyok lagi oleh empat orang guru silat sedangkan Kwa Cun Ek digempur oleh hwesio itu. Kalau saja Kwa Cun Ek tidak begitu mabok, biarpun ditambah lagi dengan tiga orang hwesio seperti Bi Lam Hosiang, agaknya akan mudah baginya untuk mengalahkan lawan.
Akan tetapi ia mabok keras, kepalanya ringan matanya kabur, gerakannya masih amat kuat akan tetapi kakinya limbung. Suara guci terbentur toya nyaring sekali dan Kwa Cun Ek beberapa kali terhuyung ke kanan kiri..Sementara itu. keadaan Kim Li juga buruk seperti gurunya. Empat orang pengeroyoknya itu masih terlampau berat baginya. Ia sudah mulai berpeluh dan napasnya memburu.
Pada saat yang amat berbahaya bagi Kwa Cun Ek dan, muridnya itu, tiba-tiba berkelebat bayangan kuning dan terdengar suara, trang-tring-trang-tring dan tahu-tahu semua golok dan pedang para pengeroyok Kim Li, juga toya di tangan Bi Lam Hosiang, patah-patah semua beterbangan ke sana sini! Bukan main kagetnya mereka, dengan muka pucat hwesio dan empat orang guru silat itu melompat mundur.
Entah dari mana datangnya, di situ sudah berdiri seorang gadis cantik jelita dan gagah, berdiri dengan pedang berkilau di tangan kanan dan tangan kirinya bertolak pinggang. Dengan mata bersinar-sinar ia memandang kepada Bi Lam Hosiang dan empat orang guru silat itu, lalu terdengar suaranya nyaring berkata.
"Manusia-manusia tak bermalu! Mengeroyok seorang gadis cacad dan seorang tua sakit dan mabok! Di mana kegagahan kalian?"
Tahu bahwa gadis ini adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Bi Lam Hosiang menjura dan berkata. "Pinceng yang bodoh mohon maaf. Lihiap tidak tahu bahwa mereka berdua ini adalah maling-maling yang selama ini membikin kacau daerah sini, karenanya pinceng dan kawan-kawan ini berusaha-menangkapnya."
Gadis itu mengeluarkan suara jengekan. "Huh, ngawur saja! Hartawan-hartawan di sini pelit dan menindas kaum tani yang miskin sekali, kalau sebagian hartanya ada yang ambil untuk digunakan menolong para petani miskin, sudah sepatutnya!"
"Lihiap, seorang sute kami dibunuh oleh maling itu!" kata seorang guru silat yang mengharapkan gadis perkasa ini berbalik membantu mereka menangkap maling.
"Sute kalian she Giam itu selain menjadi kaki tangan pembesar jahat, juga lancang mulut berani menghinaku, aku membunuhnya untuk menyingkirkan bahaya bagi rakyat jelata. Kalian mau apa? Kalau kalian mau tahu siapa yang selama ini mengganggu para hartawan dan pembesar keparat di daerah ini, akulah orangnya. Jangan ngawur menuduh orang-orang lain yang tidak tahu apa apa. Hayo, siapa mau menangkap aku?" Ia menantang.
Bi Lam Hosiang dan empat orang kawannya kaget sekali, akan tetapi tidak berani bergerak karena tahu bahwa gadis ini lihai bukan main.
"Lekas kalian pergi, dan bawa mayat ini!" gadis itu membentak pula. Tanpa berani membantah empat orang guru silat itu mengangkat mayat kawan meieka dan bersama Bi Lam Hosiang meninggalkan tempat itu.
Gadis itu tersenyum, memutar tubuh menghadapi Kim Li dan gurunya. Kim Li berdiri bengong memandang kepadanya dengan mulut ternganga dan mata terbelalak. Kwa Cun Ek segera berteriak girang, "Siok Lan....!" lalu kakek ini menubruk dan memeluk gadis itu, mengelus-elus rambutnya.
"Suhu, bukan..! Bukan enci Siok Lan, biarpun serupa benar. Nona ini jauh lebih muda...!" kata Kim Li yang masih belum hilang kagetnya.
"Bodoh, apa matamu sudah buta? Ini Siok Lan anakku...!" Suara Kwa Cun Ek yang gemetar itu mengharukan hati gadis itu yang memberi kedipan mata kepada Kim Li supaya jangan mengganggu kakek itu. Kim Li membalas kedipan itu dengan pandang mata terima kasih sekali.
"Kalian ini hendak ke mana dan dari manakah? Di mana tempat tinggal kalian?" tanya gadis itu setelah melepaskan diri dari pelukan "ayahnya" dan Kwa Cun Ek berdiri kegirangan, matanya yang lebar bersinar-sinar dan mulutnya tertawa-tawa tidak karuan. Gadis itu memandang terharu sekali. Entah bagaimana, wajah kakek ini mendatangkan kasihan dalam hatinya.
"Lihiap. kami orang-orang sengsara..." dan tiba-tiba Kim Li menangis teringat akan nasibnya dan gurunya. "Kami tidak punya tempat tinggal dan kami mencari.... puteri suhu ini, enci Siok Lan.... yang serupa benar dengan kau, seperti pinang dibelah dua, hanya usia saja yang berbeda."
Gadis itu makin tertarik dan menjadi terharu. Ia memegang pundak Kim Li untuk menghibur dan berkata. "Kemana sih perginya Siok Lan itu?"
Kim Li melirik kepada Kwa Cun Ek, lalu mendekati gadis itu sambil berbisik, "Enci Siok Lan sudah.... meninggal dunia. Itulah yang membikin suhu seperti berubah ingatan...."
Gadis itu menjadi pucat dan ia memandang kepada Kwa Cun Ek dengan terharu sekali. Pada saat itu, Kwa Cun Ek juga memandang kepadanya, lalu berkata penuh kasih sayang.
"Lan-ji (anak Lan), marilah kita pulang. Aku sudah kepingin sekali merasai masakanmu, anakku yang manis...."
Gadis itu memegang tangan Kwa Cun Ek, lalu menjawab, "Baiklah, ayah. Mari kau ikut aku ke tempat tinggalku." Ia menoleh kepada Kim Li sambil berkata. "Mulai sekarang kau dan suhumu tinggal bersamaku."
Gadis itu membawa Kwa Cun Ek dan Kim Li ke lereng Gunung Thian-mut-san. Di tebing yang curam itu ia lalu mengerek turun Kwa Cun Ek dan Kim Li melalui seutas tambang dan ternyata "tempat tinggal" gadis ini adalah di dalam sebuah gua yang besar dan bersih, di tengah-tengah tebing atau jurang itu. Orang takkan merasa heran lagi kalau sudah berada di dalam gua, karena di situ benar-benar indah dan nyaman.
Pemandangan di luar gua membikin orang merasa, berada di taman sorga dan hawanya nyaman bukan main. Kwa Cun Ek senang tinggal di situ, apa lagi karena ia menemukan kembali anaknya. Gadis itu dengan sukarela mengaku diri sebagai Kwa Siok Lan, malah ia menurut nasihat Kim Li untuk berdandan persis seperti Siok Lan, baik pakaiannya maupun rambutnya yang digelung ke atas sampai tinggi.
Dari Kim Li ia mendengar riwayat Kwa Cun Ek dan Kwa Siok Lan, mendengar pula tentang perjodohan yang terputus antara Siok Lan dan Thio Wi Liong, mendengar juga tentang perbuatan Kam Kun Hong yang menjadi biang keladi semua itu.
Tentu saja Kim Li tidak mau bercerita tentang diri sendiri dengan Kun Hong, hanya menceritakan bahwa kedua kakinya buntung karena kekejian Tok-sim Sian-li dan bahwa semenjak ia yatim-piatu, ia dipungut murid oleh Kwa Cun Ek.
Semua penuturan ini didengarkan oleh gadis itu penuh perhatian dan ia menjadi terharu sekali. Apa lagi ketika mendengar tentang kematian Kwa Siok Lan yang membuat ibu gadis itu, Tung-hai San-li pergi entah ke mana dan membuat ayahnya, Kwa Cun Ek menjadi seperti gila.
"Kalau begitu, aku akan berusaha mencari Tung-hai Sian-li, agar suami isteri itu bisa berkumpul kembali. Kasihan suhumu kalau tidak ada yang merawat."
Kim Li menjatuhkan diri berlutut sambil berkata, "Lihiap tentu dikirim oleh Thian untuk menolong kami yang sengsara ini. Selanjutnya aku menyerahkan diri kepada lihiap, menurut segala perintah lihiap."
Gadis dtu mengangkat bangun Kim Li dan menghibur, "Kau gadis berhati emas, aku amat kagum melihat kesetiaan dan kebaktianmu. Kim Li, mulai sekarang kau boleh kuanggap sebagai saudaraku dan akupun tidak keberatan menjadi anak angkat suhumu."
Kim Li girang bukan main. lalu bertanya tentang riwayat gadis itu. Dengan singkat gadis itu bercerita. "Riwayatku juga tidak menggembirakan hati. Aku tidak punya ayah ibu atau kalau punya juga, aku tidak mengenal mereka, tidak tahu mereka siapa. Hidupku sebatangkara di dunia ini...."
Gadis itu menarik napas panjang dan Kim Li mendengarkan dengan terharu sekali. Dianggapnya nasib gadis cantik yang berwajah seperti Siok Lan ini malah lebah buruk lagi. Pantas saja begitu melihat suhu yang kehilangan anak perempuan, ia menjadi kasihan dan begitu diaku anak oleh suhu, serta-merta menerima. Demikian pikir Kim Li dan memang betul apa yang ia pikirkan itu.
Gadis yang semenjak kecilnya tidak mengenal ayah bunda ini, merasa terharu dan tertarik sekali mendengar Kwa Cun Ek kehilangan anak perempuan sampai menjadi gila dan dia yang selama hidupnya belum pernah merasai kasih sayang seorang ayah, ketika dipeluk oleh Kwa Cun Ek sebagai seorang ayah. ia merasa terharu dan bahagia.
"Aku hanya, tahu bahwa namaku Lin Lin, semua orang memanggilku demikian semenjak aku kecil. Bahkan suhuku sendiri, Liong-tosu seorang tokoh paling tinggi ilmu silatnya namun tidak mau mencampuri urusan partainya Kun-lun pai, tidak dapat menerangkan siapa ayah bundaku. Suhu hanya bilang bahwa aku dibawa oleh murid tunggalnya yang bernama Pek Hui Houw.
"Muridnya itu datang-datang sakit parah sampai meninggal dunia dan aku sejak berusia tiga empat tahun itu dipelihara oleh suhu Liong-tosu. Setelah berusia enambelas tahun aku tamat belajar dan oleh suhu diperintahkan merantau. Dua tahun aku merantau, ketika kembali ke Kun-lun-pai, aku terlambat...” Gadis itu, Lin Lin kembali menarik napas panjang.
Kim Li mendengarkan penuh perhatian, la pernah mendengar nama Kun lun-pai, partai persilatan yang terkenal sekali di dunia persilatan sebagai partai besar yang dipimpin orang-orang sakti. Kalau Liong-tosu itu seorang tokoh yang paling pandai di Kun-lun-pai. tidak mengherankan apa bila kepandaian gadis ini hebat luar biasa, pikirnya.
"Aku terlambat karena suhu telah meninggal dunia. Orang satu-satunya di dunia ini yang mencintaku, yang kuanggap pengganti orang tuaku, meninggal dunia tanpa kuketahui. Kemudian aku merantau meninggalkan Kun-lun-pai karena aku tidak disuka oleh orang-orang Kun-lun yang menganggap aku seorang luar, bukan anggauta Kun-lun yang memiliki ilmu silat Kun-lun-pai. Bahkan lebih tinggi dari pada sebagian besar dari mereka. Karena sudah biasa tinggal di bukit dan mencinta tamasya alam di gunung, aku memilih tempat ini di sini sampai aku bertemu secara kebetulan dengan kau dan suhumu."
"Hebat sekali pengalaman hidupmu, lihiap. Ternyata kau malah lebih banyak penderitaanmu, dan kau nampak gembira saja. Benar-benar kau seorang kuat lahir batin, aku takluk dan kagum sekali. Kuharap kau sudi memberi petunjuk ilmu silat kepadaku."
Lin Lin tersenyum dan memegang tangan Kim Li. "Jangan kau merendah. Setelah sekarang aku mendengar darimu bahwa suhumu itu adalah Siang-jiu Lo-thian Kwa Cun Ek, tentu kepandaianmu juga tinggi. Aku girang sekali bahwa aku dianggap puteri oleh suhumu yang terkenal sebagai eorang tokoh besar yang gagah perwira. Anehnya, keluarga suhumu rusak karena perbuatan orang yang bernama Kam Kun Hong, sedangkan suhuku juga meninggal karena dia."
"Apa....? Bagaimana...?" Kim Li bertanya kaget.
"Ketika aku pulang ke Kun-lun-pai, suhu sudah tidak ada. Menurut penuturan para pemimpin Kun-lun-pai, suhu tewas karena menghabiskan tenaga lweekang dalam usahanya mengobati seorang bernama Kam Kun Hong, anak pungut dari suheng Kam Ceng Swi yang katanya tersesat masuk ke dalam kalangan Mo-kauw menjadi murid Thai-khek-sian. Apakah yang kau maksudkan Kun Hong pengrusak rumah tangga suhumu itu juga Kun Hong yang ini?"
"Dia itulah penjahatnya!" jawab Kim Li gemas.
Lin Lin termenung. "Sering kali aku heran bagaimana semua suhu di Kun-lun-pai membenci dan memburukkan nama Kun Hong itu, malah sekarang kau sendiripun membencinya dan menganggapnya penjahat."
"Memang dia manusia jahat!" seru Kim Li penuh kemarahan.
Akan tetapi mata Lin Lin yang tajam dapat melihat sinar aneh dalam mata gadis buntung itu. "Aku takkan menyangkal." kata Lin Lin kemudian, "Akan tetapi yang kuherankan, kalau memang dia itu orang jahat, bagaimana suhuku mau menolongnya sampai suhu mengorbankan nyawa sendiri! Suhu seorang yang arif bijaksana, seorang waspada yang tentu dapat membedakan orang jahat dan orang baik."
Kim Li tidak menjawab, hanya termenung, teringat akan masa pertemuannya dengan Kun Hong dahulu, yang mesra, akan tetapi juga menyedihkan karena dalam pertemuan itulah ia kehilangan ayahnya.
Setelah tinggal di dalam gua besar itu bersama Lin Lin, kesehatan Kwa Cun Ek pulih kembali. Ia nampak segar dan gembira sungguhpun kesehatan jiwanya masih belum pulih benar. Pada suatu hari ia menulis surat dan menyuruh Kim Li pergi mengantar surat itu ke Wuyi-san, kepada Kwee Sun Tek!
"Aku telah mendapatkan kembali anakku, kuharap saudara Kwee sudi datang menengok agar kita bisa membicarakan urusan perjodohan antara anakku dan keponakanmu." demikian antara lain bunyi surat itu!
Kim Li tidak berani membantah, juga Lin Lin diam saja karena ia merasa seakan-akan Kwa Cun Ek telah menjadi ayahnya sendiri. Bahkan andaikata ayahnya ini hendak memaksanya berjodoh dengan orang yang namanya Thio Wi Liong, kiranya iapun takkan banyak membantah untuk membahagiakan hati orang tua yang dikasihinya itu.
Kwee Sun Tek datang bersama Kim Li. Tentu saja orang tua yang buta ini tidak dapat melihat Lin Lin dan karena suara Lin Lin memang sama benar dengan suara Siok Lan, ia pun mengira bahwa gadis itu benar-benar Siok Lan. Dua orang tokoh ini bergembira ria, mengobrol tiada berkeputusan. Kwee Sun Tek dalam kesempatan ini mengakui kesalahannya dan mengharapkan maaf dari tuan rumah.
Melihat keadaan dua orang itu. Lin Lin diam-diam terharu sekali dan yakinlah bahwa orang yang mengakuinya sebagai anak ini benar-benar seorang gagah yang berbudi, juga bahwa tamu yang buta ini bukan orang sembarangan, melainkan seorang gagah perkasa juga.
Dan pada saat itu ia mendengar jerit Kim Li yang tubuhnya terlempar ke dalam jurang! Lin Lin cepat melompat keluar, ia melihat seorang pemuda menjenguk dari atas tebing dan masih sempat melihat tubuh Kim Li meluncur turun. Lin Lin kaget dan merasa ngeri sekali.
Dari kaget dan duka melihat Kim Li jatuh ke dalam jurang yang tidak kelihatan dasarnya itu, ia menjadi marah sekali. Cepat ia mengambil senjata rahasinya yaitu Kim-thouw-ting dan menyerang pemuda itu yang bukan lain adalah Kun Hong...