Cheng Hoa Kiam Jilid 37

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Cheng Hoa Kiam Jilid 37
Sonny Ogawa

Cheng Hoa Kiam Jilid 37, karya Kho Ping Hoo - BUKAN karena kasihan maka Lin Lin melontarkan tambang menyelamatkan Kun Hong dari bahaya maut di dasar jurang, melainkan karena penasaran. Ia hendak tahu lebih dulu mengapa pemuda ini membunuh Kim Li.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kun Hong tertawan oleh Lin Lin, ditotok dua jalan darahnya dengan paku Kim-thouw-ting, kemudian tubuh pemuda yang menjadi kaku ini terbanting di lantai gua dan begitu melihat pemuda ini, Kwa Cun Ek tertawa girang karena mengenal pemuda ini sebagai Kun Hong!

Kita kembali lagi ke dalam gua di mana Kwa Cun Ek tertawa tawa melihat tubuh Kun Hong menggeletak di depan kakinya,

"Ha-ha-ha! Saudara Kwee Sun Tek, dasar Thian itu adil! Entah apa sebabnya, iblis muda ini datang ke sini dan dapat ditawan oleh anakku! Inilah dia biang keladi segala kejahatan biang keladi keributan yang timbul antara kita."

"Dan baru saja dia membunuh cici Kim Li!" kata Lin Lin dengan marah.

"Apa kau kata....??" Kwa Cun Ek marah sekali dan kepalan tangannya bergerak hendak memukul kepala pemuda yang menggeletak tak berdaya itu.

"Tahan dulu, saudara Kwa!" kata Kwee Sun Tek. "Pertemuan menggembirakan antara kita ini jangan kita kotori dengan pembunuhan. Nona Kwa Siok Lan, betulkah dia membunuh orang? Apa kau melihat sendiri?"

"Aku tidak melihat sendiri, akan tetapi tubuh Kim Li cici terjerumus ke dalam jurang sedangkan dia ini menjenguk dari atas lalu menggunakan tambang turun ke sini," jawab Lin Lin.

"Kalau begitu biarlah aku membawanya pergi dari sini. Tentang perbuatannya yang membuat hubungan antara kita hampir terputus, adalah perbuatan menipu kepadaku. Sudah sepatutnya kalau aku yang memberi hukuman kepadanya. Saudara Kwa, tentu kau tidak keberatan, bukan? Selain urusan antara dia dan aku, juga ia telah mencuri pedang Cheng-hoa-kiam dari tanganku, dan juga aku mempunyai dugaan bahwa dia ini bukanlah putera Kam Ceng Swi, melainkan putera musuh besarku."

Kwa Cun Ek mengangguk-angguk. "Ah, begitukah? Kalau ada hal-hal yang demikian pelik, memang lebih tepat kalau kau yang menghukumnya. Biarlah kami berikan iblis ini kepadamu, hitung hitung emas kawin dari kami." Kwa Cun Ek menengok kepada Lin Lin dan melihat wajah anaknya merah, ia tertawa bergelak.

Kwee Sun Tek lalu memanggul tubuh Kun Hong yang masih pingsan, lalu pergilah dia dari gua itu, melalui sebuah anak tangga terbuat dari pada tambang yang dipasang oleh Lin Lin. Dapat dibayangkan betapa hebat kepandaian kakek buta ini, sudah tua dan buta memanggul tubuh seorang pemuda, hendak melakukan perjalanan dari Bukit Thian mu-san ke Bukit Wuyi-san di sebelah selatan!

Setelah tiba di atas tebing, ia bernapas lega lalu melanjutkan perjalanan dengan langkah tetap, tangan kanan memegang sebatang ranting panjang untuk menjadi alat pemilih jalan. Mengapa Kwee Sun Tek mau bersusah payah memanggul tubuh Kun Hong? Betulkah ia mempunyai niat menghukum Kun Hong?

Sama sekali tidak. Biarpun dahulunya Kwee Sun Tek ini adalah seorang yang terkenal berwatak keras sekali, akan tetapi semenjak ia menjadi murid Thian Te Cu, tidak saja menerima ilmu tinggi, juga menerima ilmu kebatinan, ia menjadi seorang yang berwatak halus dan pemurah. Banyak hal yang menjadi sebab mengapa ia minta kepada Kwa Cun Ek untuk membawa pergi Kun Hong.

Pertama karena ia tidak tega kalau pemuda itu dibunuh Kwa Cun Ek, padahal belum tentu kalau pemuda ini membunuh Kim Li. Ke dua, ia merasa kasihan kepada pemuda ini yang semenjak kecil terjatuh ke tangan orang-orang jahat, apa lagi kalau mengingat bahwa pemuda itu besar kemungkinan adalah putera Beng Kun Cinjin.

Ke tiga, ia hendak minta kembali Cheng hoa-kiam dan ke empat dan ini penting sekali, ia hendak bertanya kepada pemuda ini apakah betul gadis yang berada di gua itu Kwa Siok Lan.

Ia tentu saja tadinya tidak menyangka yang bukan-bukan, akan tetapi setelah mendengar bahwa Kun Hong dapat dilawan oleh Siok Lan, ia merasa heran sekali. Sepanjang ingatannya, kepandaian Kun Hong sebagai murid Thai Khek Sian adalah luar biasa sekali, dia sendiri yang sudah menerima gemblengan Thian Te Cu merasa tak sanggup mengalahkan Kun Hong.

Bagaimana Siok Lan yang hanya menerima pelajaran dari Kwa Cun Ek bisa menawan Kun Hong? Jangankan gadis itu, biarpun ayahnya sendiri turun tangan, kiranya sukar untuk mengalahkan Kun Hong, apa lagi menawan! Timbul kecurigaannya dan ia ingin sekali mendapat keterangan ini dari Kun Hong.

Setelah melakukan perjalanan cepat selama setengah hari. Kwee Sun Tek mengaso di bawah sebatang pohon besar karena saat itu tengah hari yang amat terik. Ia menurunkan tubuh Kun Hong dan dari gerakan pemuda itu ia mendapat kenyataan bahwa Kun Hong tidak pingsan lagi. Ia lalu meraba-raba jalan darah ditubuh pemuda itu dan akhirnya berhasil membuka jalan darah, membebaskan Kun Hong dari pengaruh totokan.

Pemuda itu mengeluh, kemudian diam saja karena sedang mengumpulkan tenaga mengatur nafas untuk melancarkan jalan darahnya yang tadi terganggu sampai setengah hari lamanya. Tubuhnya terasa kaku dan sakit-sakit. Setelah kesehatannya pulih kembali, ia mengeluh lagi dan berkata,

"Aaahhh... aku telah melihat setan...! Kwee lo-enghiong, kenapa kau menolong aku orang berdosa ini? Kenapa kau tidak membiarkan aku mereka bunuh saja? Aku hendak kau ajak ke manakah?"

"Kun Hong, di mana-mana kau mendatangkan onar dan ribut saja. Perbuatan apa lagi yang kaulakukan tadi? Kenapa kau membunuh gadis buntung itu?" Kwee Sun Tek sudah mengenal Kim Li yang membawa surat ke Wuyi-san dan merasa kasihan kepada gadis buntung itu.

Kun Hong menarik napas panjang. "Dasar aku yang sialan, lo-enghiong. Aku sama sekali tidak bermaksud membunuhnya. Begitu aku tiba di tebing, ia datang menyerangku kalang-kabut seperti orang gila, mengatakan bahwa aku yang menjadi gara-gara nona Siok Lan membunuh diri, dan Kwa-enghiong menjadi gila.

"Aku mengelak dan saking bernafsunya ia menyerang, tubuhnya terjerumus ke dalam jurang. Bagaimana aku bisa mencegahnya? Aku hendak menuruni jurang itu dengan tambang yang ia tinggalkan dengan maksud mencari mayatnya dan menguburnya baik-baik. Tidak tahunya di tengah-tengah..." pemuda itu nampak bingung,

"Aku melihat... setan! Ataukah Kim Li itu yang membohongiku ketika mengatakan bahwa Siok Lan sudah membunuh diri? Tetapi tak mungkin aku melihat arwah gadis itu yang menggodaku. Dia betul-betul Siok Lan, akan tetapi aneh... entahlah, lo-enghiong. Aku bingung sekali. Akan tetapi aku berani mengatakan dengan sumpah bahwa aku tidak melakukan sesuatu yang jahat di tempat tadi."

"Aku percaya kepadamu, orang muda. Akan tetapi gadis itu... kau tentu pernah melihat Siok Lan dahulu, bukan?"

"Pernah, ia seorang gadis cantik yang keras hati dan gagah," jawab Kun Hong.

"Dan gadis yang menawanmu itu, benar-benar dia Siok Lan yang pernah kau lihat?"

"Inilah yang membingungkan hatiku, lo-enghiong. Nona Kwa Siok Lan yang kulihat dua tahun yang lalu itu kepandaiannya biasa saja, akan tetapi nona tadi bukan main lihainya. Sambitan Kim-thouw-ting yang dihujankan kepadaku tidak saja dilepas secara luar biasa, akan tetapi juga mengandung tenaga lweekang yang belum tentu kalah olehku. Lagi totokannya dengan kepala paku, benar-benar hanya dapat dilakukan oleh orang pandai."

"Cocok! Begitupun jalan pikiranku. Kun Hong, hal itu benar-benar aneh. Maukah.... maukah kau menolongku, menolong seorang buta yang tak dapat melakukan pekerjaan ini sendiri?"

Sampai beberapa lama Kun Hong tidak menjawab. Kwee Sun Tek tidak tahu bahwa tiba-tiba pemuda itu menjadi pucat sekali, matanya terbelalak memandang ke depan, dari mana datang berlari-lari tiga orang, yang dua laki-laki dan yang seorang wanita.

Matanya terbelalak memandang yang perempuan karena wanita ini bukan lain adalah Siok Lan! Atau seorang wanita yang tiada bedanya seujung rambut dengan wanita di bawah yang merobohkan dia tadi, baik wajahnya, maupun bentuk tubuhnya! Hanya pakaiannya dan sanggul rambutnya yang berbeda.

"Kun Hong, maukah kau menolongku?"

Anehnya, dari pucat wajah Kun Hong menjadi biru dan pemuda itu menggigil seluruh tubuhnya, lalu roboh tak ingat diri di dekat Kwee Sun Tek. Kakek buta ini tadi hanya mendengar napas terengah-engah, maka cepat ia meraba dan alangkah kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa tubuh pemuda itu diam tak bergerak dalam keadaan yang amat panas seperti terbakar!

Ia tahu bahwa pemuda ini menderita sesuatu yang amat berbahaya seperti orang terkena racun yang amat jahat. Cepat Kwee Sun Tek mengangkat tubuh itu, dipanggulnya lagi dan dibawanya pergi setengah berlari. Ia tidak melihat betapa tiga orang, Phang Ek Kok, Kui Sek, dan Lan Lan yang tentu akan membuat ia kaget setengah mati kalau melihatnya, berlari-lari tanpa memperhatikannya menuju ke Bukit Thian-mu-san di belakangnya.

Tanpa memperdulikan kelelahannya, Kwee Sun Tek membawa tubuh Kun Hong yang masih panas tak bergerak itu naik Gunung Wuyi-san. Terengah-engah kakek buta ini menurunkan tubuh Kun Hong di depan Thian Te Cu yang sedang bersamadhi.

"Siansu... tolonglah pemuda ini...." katanya dengan napas masih memburu.

Thian Te Cu menarik napas panjang dan membuka matanya. Kakek ini sudah makin tua, akan tetapi anehnya, makin tua dia makin kurus tubuhnya makin banyak keriputnya, sebaliknya rambutnya menjadi makin menghitam! Karena rambutnya yang makin hitam dan panjang ini, lebih cocok lagi nama poyokan Mayat Hidup yang diberikan padanya karena dikelilingi rambut hitam itu mukanya yang kurus menjadi makin kurus dan makin pucat seperti muka mayat.

Kipas daun di tangan kiri dipindahkannya ke tangan kanan dan dengan tangan kirinya Thian Te Cu meraba dada Kun Hong. Ia mengerutkan kening karena tidak tahu apa yang menyebabkan pemuda itu menjadi demikian. Dibukanya baju pemuda itu untuk melihat dada dan pusarnya, dirabanya lagi dan terdengar kakek sakti ini berkata.

"Siancai... siancai... damai... damai... bocah ini menjadi korban pukulan Im-yang-lian-hoan dari Kun-lun-pai. Pukulan jahat... pukulan jahat... aku yang bodoh mana bisa mengobatinya? Di dunia ini hanya ada satu orang yang bisa menyembuhkannya, yaitu Kui-bo Thai-houw di Ban-mo-to. Kalau tidak, dia hanya akan tahan sampai tiga hari lagi. Pukulan ini dideritanya hampir dua tahun yang lalu. Eh, Sun Tek, siapakah bocah yang kuat ini? Dia sampai bisa tahan dua tahun!"

"Siansu... dia ini seorang bernama Kam Kun Hong, murid Thai Khek Siansu di Pek-go-to."

Thian Te Cu menggangguk angguk, keningnya makin dalam berkerut. "Hemmm.... sayang menjadi muridnya, tulangnya baik sekali. Aneh juga muridnya bisa menahan Im-yang lian-hoan sampai hampir dua tahun."

Sambil berkata demikian. Thian Te Cu menutupkan kembali baju yang tadi dibukanya. Pada saat itu, seuntai kalung perak dengan mata batu kemala yang aneh sekali warnanya, hitam putih, merah kuning berubah ubah tak menentu, jatuh dari dalam saku baju itu. Thian Te Cu mengambil kalung itu, mengamat-amati batu kemalanya dan mukanya berubah,

"Thian Yang Maha Adil! Im-yang giok-cu sendiri yang hadir! Dengan obat tunggal ini di dalam sakunya, kenapa bocah ini sampai menjadi begini? Sun Tek, bocah ini telah membawa obatnya sendiri. Lekas kau ambil mangkuk dan nyalakan api dalam tungku."

Sampai tiga bulan lebih Kun Hong berada di Wuyi-san, mendapat perawatan dan pengobatan Thian Te Cu yang menggunakan sari hawa Im-yang-giok cu untuk menyambung nyawa pemuda itu. Tidak hanya menerima pengobatan lahir, malah pemuda itu menerima pengobatan batin, yaitu menerima wejangan dan gemblengan batin dari mulut Thian Te Cu sendiri.

Terbukalah mata hatinya dan makin yakinlah hati pemuda itu bahwa selagi hidup ia harus memupuk kebaikan sebanyaknya dan membasmi kejahatan. Makin jelaslah baginya bahwa jika hidup sebagai manusia tidak memupuk kebajikan dan menjadi hamba nafsu kejahatan ia hanya akan mengotorkan dunia, mengotorkan nama leluhur dan tidak pantas dilahirkan sebagai manusia.

Kalau dulu semenjak ia mengenal Eng Lan, Kun Hong sudah mendapat banyak kemajuan, sekarang ia lebih sadar lagi dan lebih kuat iman dan batinnya. Malulah ia kalau teringat betapa mudahnya ia jatuh terpikat oleh Kui-bo Thai-houw.

Pada suatu hari, Thian Te Cu memanggilnya dan setelah pemuda ini menghadap sambil berlutut, kakek itu berkata. "Kau sudah sembuh sama sekali boleh turun gunung. Harapanku, tidak sia-sia selama ini kau berada di sini dan kau turun gunung sebagai orang yang sudah sadar betul dan tahu ke mana harus kemudikan langkah hidupmu."

Sambil berlutut Kun Hong memberi hormat. "Teecu sudah menerima budi pertolongan Siansu, sudah mendapat pertolongan sehingga teecu masih hidup sampai sekarang. Yang lebih penting lagi, teecu sudah menerima petunjuk-petunjuk dan wejangan yang takkan teecu lupakan selama hidup. Mohon doa restu Siansu saja supaya teecu kuat menjalani semua petuah yang berharga itu."

Thian Te Cu nampak puas. la mengeluarkan sebuah kotak kecil dan memberikan kotak itu kepada Kun Hong. "Di dalam kotak ini terisi batu kemala Im-yang-giok-cu yang sudah menyembuhkanmu. Kau harus antarkan batu ini kembali kepada Kui-bo Thai-houw dan menyatakan terima kasihmu."

"Ke Ban-mo-to....?" Kun Hong berkata perlahan, kaget.

"Apa yang kau khawatirkan? Kau ke sana untuk mengembalikan Im yang-giok-cu, dan bukankah kau masih ingat akan semua petuahku?"

Wajah Kun Hong menjadi merah sekali. Kenapa ia takut kepada diri sendiri? Dahulu ia sampai tersesat dan mudah dipermainkan oleh Kui-bo Thai-houw oleh karena ia masih lemah dan pula karena ia mempunyai keinginan mendapatkan obat. Sekarang ia hanya mengembalikan batu kemala itu, apa salahnya?

"Baiklah, Siansu. Teecu mentaati perintah." Demikianlah, dalam keadaan sehat jasmani dan rohani, Kun Hong turun gunung, meninggalkan Wuyi-san untuk pergi pertama-tama ke Ban mo-to mengembalikan Im-yang-giok-cu kepada Kui-bo Thai-houw. Tidak hanya Im-yang-giok-cu, juga pedang yang masih tergantung di pinggangnya, akan ia kembalikan kepada Ratu Ban-mo-to itu.

* * *

Sementara itu, di Gunung Thian-mu-san terjadi pula hal yang amat ganjil. Pada saat Kwee Sun Tek memanggul tubuh Kun Hong yang pingsan karena pengaruh pukulan Im-yang lian-hoan yang dideritanya, sudah diceritakan bahwa Phang Ek Kok dan puteranya, Lan Lan serta muridnya, Kui Sek berlari menuju ke gunung itu.

Dari manakah mereka ini? Ek Kok tak pernah menghentikan usahanya mencari Lin Lin dan kalau memang Lin Lin masih hidup, hal itu mudah saja ia lakukan bersama Lan Lan. Bukankah wajah dan potongan tubuh Lin Lin sama benar dengan Lan Lan?

Dengan membawa Lan Lan, ia bertanya ke sana ke mari kalau-kalau ada orang melihat seorang gadis yang serupa dengan Lan Lan.

Akhirnya perantauannya membawa ia bertemu dengan Kui Sek. Muridnya ini memang sudah lama jatuh hati kepada Lan Lan, maka Kui Sek lalu menyatakan hendak ikut gurunya, bantu mencari. Kemudian mereka bertiga sampai di Telaga Po-yang. Mulailah terjadi hal-hal yang aneh terhadap diri Lan Lan.

Begitu ia muncul, para pelancong dan para tukang yang menyewakan perahu kelihatan ketakutan, malah dari jauh ada yang menuding-nuding ke arah Lan Lan dengan sikap ketakutan. Seorang penjual makanan yang tergesa-gesa hendak melarikan diri sambil membawa dagangannya, tersandung dan jatuh tertelungkup di depan Lan Lan!

Gadis itu merasa geli dan juga kasihan, maka ia hendak turun tangan membantu orang itu mengumpulkan dagangannya yang menggelinding ke mana-mana. Akan tetapi tiba-tiba orang itu dengan tubuh menggigil menjatuhkan diri berlutut di depan Lan Lan sambil berkata. "Mohon di ampuni jiwa hamba.... hamba orang miskin...."

Lan Lan menarik kembali tangannya, jidatnya berkerut. "Ngaco-belo, kau bicara apakah?" bentaknya.

Orang itu berdiri ketakutan dan Lan Lan dengan jengkel membentaknya menyuruhnya pergi. Juga Ek Kok dan Kui Sek terheran-heran melihat sikap orang-orang yang berada di situ. Setiap orang penjual makanan yang mereka dekati, tiba-tiba melarikan diri, malah ada yang meninggalkan dagangan mereka.

"Mereka ini ada apakah?" Lan Lan paling merasa karena semua mata ditujukan kepadanya dengan ketakutan.

"Perut lapar, kalau mereka bersikap begitu semua, apakah kita akan kelaparan? Hayo kita makan saja, habis perkara!" kata Kui Sek yang duduk di atas sebuah bangku persediaan pedagang mi.

"Hush... pedagangnya tidak ada, suheng." kata Lan Lan. Pedagang mi itupun melarikan diri ketika tadi melihat Lan Lan.

"Kita ambil dan masak sendiri, masa tidak bisa?"

"Jangan begitu, aku tidak sudi mencuri makanan orang."

Ek Kok menengahi mereka. "Lan Lan... tidak ada yang mencuri. Kita makan saja dan nanti kita tinggalkan uang di mejanya. Suhengmu benar, orang-orang ini bersikap aneh dan kalau kita tidak berani melayani perut sendiri, kita akan kelaparan."

Karena ayahnya membenarkan suhengnya, terpaksa Lan Lan menurut dan demikianlah, tiga orang ini lalu makan mi yang dimasak sendiri oleh Kui Sek! Biarpun tempat itu menjadi sunyi karena semua orang melarikan diri, namun mereka merasa bahwa banyak pasang mata diam-diam mengawasi gerak-gerik mereka.

"Sungguh aneh sekali. Apa sih yang terjadi di sini?" Lan Lan kembali berkata, hatinya tidak puas melihat sikap orang-orang itu. Iapun tidak dapat makan banyak lenyap nafsu makannya melihat keadaan yang amat ganjil itu.

"Mengapa pusing-pusing? Kita nanti tangkap saja seorang dan paksa dia mengaku!" kata Kui Sek yang bersama suhunya makan dengan lahapnya.

"Heh-heh-heh, A Sek (si Sek) benar sekali. Makanlah, Lan Lan," kembali Ek Kok membenarkan muridnya.

Kui Sek bangga sekali, akan tetapi Lan Lan jengkel. Ayahnya ini sering kali memperlihatkan sikap memanjakan muridnya, malah ada tanda-tanda ayahnya ini hendak menjodohkan dia dengan suhengnya! Pada saat itu, seorang kakek datang terbongkok-bongkok ke tempat mereka. Dari pakaiannya, jelas bahwa kakek ini seorang miskin, agaknya tukang perahu.

Melihat kedatangan orang, Kui Sek berdiri dan membentak, "Ini agaknya biang keladinya!" Dan ia menjangkau hendak menangkap.

"Suheng, jangan!" bentak Lan Lan.

Kakek itu nampak terkejut dan ketakutan, lalu serta-merta menjatuhkan diri di depan Lan Lan. "Lihiap yang mulia, harap suka mengampuni kami orang-orang miskin. Bukankah lihiap katanya hanya akan mengganggu hartawan jahat dan pembesar korup? Bukankah katanya lihiap melindungi orang-orang miskin? Kami semua, pedagang-pedagang makanan dan tukang-tukang perahu yang mencari nafkah di tepi telaga, adalah orang-orang miskin. Harap lihiap jangan mengganggu."

Lan Lan tertarik. Tentu ada terjadi apa-apa yang aneh di sini, pikirnya. Ia membangunkan kakek itu dan bertanya dengan suara ramah dan halus, "Lopek, siapakah yang bilang begitu? Kau mendengar dari siapa tentang aku?"

Kakek itu memandang wajah Lan Lan, tidak begitu takut lagi setelah Lan Lan bersikap ramah. Ia malah tersenyum. "Siapa yang tidak mendengar? Lihiap, kau memang hebat. Semenjak lihiap mengalahkan guru-guru silat itu kemarin dulu, kami semua sudah mendengar belaka tentang perbuatan-perbuatan lihiap yang mulia, yang memberi hukuman kepada para hartawan dan bangsawan jahat untuk melindungi orang-orang miskin. Lihiap, kami semua berterima kasih kepadamu. Akan tetapi tak dapat dicegah lagi semua orang takut kepada lihiap. Harap lihiap jangan mengganggu kami orang-orang miskin..."

Berubah wajah Lan Lan. Akan tetapi Kui Sek yang dogol itu sudah membentak, "Kunyuk tua, apa yang kau obrolkan itu? Sumoiku ini...."

"Suheng, diamlah kau. Di sini ada sesuatu yang menarik."

"A Sek, biarkan Lan-ji berurusan dengan dia," kata pula Ek Kok yang juga tertarik sekali.

Lan Lan membawa kakek itu duduk di atas bangku. "Lopek, ceritakanlah, apa kau melihat sendiri ketika... aku... mengalahkan guru-guru silat itu?"

"Tentu saja. Malah hwesio itupun takut kepada lihiap, sekali serang mereka telah tunduk ketakutan. Benar hebat!"

"Bila terjadinya itu?"

Kakek itu memandang heran. "Bagaimana lihiap bisa lupa? Kan baru kemarin dulu dan...."

Tiba-tiba ia menoleh dan cepat berkata, "Itu hwesio yang kau kalahkan datang...."

Benar saja, yang datang adalah Bi Lam Hosiang. Seperti diketahui, hwesio ini kemarin dulu membantu guru-guru silat untuk mencoba menangkap maling, akan tetapi bertemu dengan Lin Lin dan dikalahkan dengan mudah. Sekarang kebetulan ia berada di tempat itu dan melihat Lan Lan, ia kaget bukan main dan cepat-cepat hendak memutar tubuh dan melarikan diri. Akan tetapi gadis itu, Lan Lan, cepat memanggilnya.

"Suhu yang di depan harap tunggu, aku mau bicara!"

Bi Lam Hosiang tidak berani melanjutkan niatnya melarikan diri. Malah ia cepat menghampiri Lan Lan dengan sikap merendah, jauh-jauh sudah merangkap tangan di depan dada. Kaget juga ia ketika melihat maling wanita itu kini datang bersama seorang laki-laki tinggi besar bertopi aneh dan seorang kakek gemuk pendek gundul yang pakaiannya tidak karuan, mukanya aneh dan tangannya memegang sebuah senjata roda golok yang mengerikan. Ia memaksa senyum dan menegur hormat,

"Ah, kiranya lihiap di sini? Pinceng kebetulan jalan-jalan dan...."

Lan Lan tak sabar lagi melihat sikap takut takut itu. "Lo-suhu, apakah kemarin dulu bersama jago-jago silat, suhu juga bertempur dengan aku?” tanyanya cepat.

Bi Lam Hosiang menjadi merah mukanya dan menjura makin dalam. "Mohon maaf, mata pinceng buta, tidak melihat Gunung Thian-san. Setelah mengenal lihiap, mana berani pinceng memperlihatkan kebodohan?"

Lan Lan berdebar hatinya dan cepat-cepat ia membentak, "Kau bertempur melawan aku, jawab ya atau tidak?"

Hwesio itu kaget dan heran sampai melongo memandang Lan Lan, kemudian mengangguk dan bibirnya gemetar berkata, "Ya.....!"

Terdengar suara keras disusul suara ketawa cekakakan ketika Ek Kok tahu tahu melompat dan memegang pundak hwesio itu. "Heh hak-heh hak, hwesio gundul jangan kau membohong kalau masih sayang gundulmu. Lekas katakan, apakah kau juga tahu di mana tempat tinggal nona yang seperti puteriku ini mukanya? Hayo jawab...!"

"Pinceng.... pinceng...." Bi Lam Hosiang kaget setengah mati ketika pundaknya tiba-tiba ditekan sampai hampir remuk tulangnya. Ia memandang kepada Lan Lan dan gadis ini menyentuh lengan ayahnya.

"Lepaskan dia ayah. Karena tiada guna menakutkannya."

Setelah Ek Kok melepaskan pegangannya, gadis itu bertanya halus, "Maafkan ayahku yang tidak sabar lagi. Dengar, lo-suhu. Gadis yang kemarin dulu bertempur dengan kau bukanlah aku dan agaknya mempunyai wajah yang mirip aku. Aku perlu sekali bertemu dengan dia. Tolong kau beritahukan di manakah ia tinggal?"

Hwesio itu mengangguk dan baru mengerti. Memang kemarin dulu setelah ia dan kawan-kawannya dikalahkan, diam-diam ia mengikuti Lin Lin yang pergi bersama gadis buntung dan suhunya. Ia mendapat kenyataan bahwa mereka bertiga mendaki Thian-mu-san dan lenyap di tebing jurang.

“Pinceng memang kemarin dulu mengikutinya karena ingin tahu. Dia pergi mendaki Thian-mu-san dan anehnya, setelah tiba di tebing jurang curam di lereng Thian mu-san, dia lenyap."

Mendengar ini, Ek Kok meloncat dan berlari sambil berteriak. "Tentu dia Lin Lin... hah-hah-hah, hayo kita cari dia.....!"

Lan Lan gembira sekali sampai ia melupakan hwesio itu dan lari mengejar ayahnya. Ia memang semenjak kecil merindukan adik kembarnya yang bernama Lin Lin, yang lenyap diculik orang. Biarpun ia sudah tidak ingat lagi, akan tetapi sering kali ia diceritai oleh ayahnya maka ia merasa rindu bukan main. Kini mendengar tentang gadis yang serupa dengan dia, tentu saja dengan penuh harapan ia lalu berlari menyusul ayahnya menuju ke Thian-mu-san.

Kui Sek melongo, lalu menggeleng-geleng kepala dan mengomel, "Suhu seperti orang gila, dan jangan jangan sumoi juga ketularan! Ribut-ribut semua ini untuk apakah?" Akan tetapi biarpun mulut mengomel, tidak urung kedua kakinya bergerak lari mengejar juga.

Karena ketiganya memiliki kepandaian yang lumayan, biarpun tidak mudah mendaki Thian-mu-san, menjelang senja sampai juga mereka di lereng yang dimaksudkan, yaitu di atas tebing yang amat curam. Sampai di situ mereka bingung dan mulailah mereka berteriak-teriak.

"Lin-ji...! Lin-ji (anak Lin)....!!" teriak Ek Kok, suaranya yang parau besar itu seperti suara burung gagak.

"Adik Lin Lin...! Adik Lin Lin....! Kesinilah...!!" teriak Lan Lan, suaranya tinggi melengking nyaring, bergema di seluruh lereng.

Pada saat itu, Lin Lin di dalam guanya sedang duduk melamun. Baru saja ayahnya memberi seuntai kalung mutiara, kalung anak kecil yang bermata batu putih berukir huruf "LIONG". Inilah kalung Wi Liong ketika masih kecil, kalung yang diterima oleh "ayahnya". Kwa Cun Ek dari Kwee Sun Tek sebagai tanda ikatan jodoh antara dia dengan Thio Wi Liong!

Hati Lin Lin tidak karuan rasanya menerima kalung ini, terharu akan tetapi juga bingung. Terharu akan kasih sayang "ayahnya", bingung karena bagaimana kelak kalau semua orang, terutama calon suaminya itu tahu bahwa dia itu bukan Kwa Siok Lan seperti yang mereka kira? Bahwa dia itu Kwa Siok Lan palsu?

Sambil memegang anak kecil dan mempermainkannya di antara jari-jari tangannya yang halus, Lin Lin melamun jauh. Selama hidupnya ia belum pernah mengenal kasih sayang ayah. Memang betul bahwa Liong Tosu suhunya dahulu amat sayang kepadanya.

Akan tetapi Liong Tosu adalah seorang kakek di Kun-lun-pai yang berwatak aneh sekali. Tak pernah kakek ini memperlihatkan kasih sayangnya, apa lagi kasih sayang seorang ayah terhadap puterinya seperti yang dirasakan oleh Lin Lin setelah kini Kwa Cun Ek menganggapnya sebagai anak. Ia merasa terharu dan bahagia dapat melayani "ayahnya" ini, dapat berbakti kepada ayahnya sebagai pengganti orang tuanya yang tak pernah dikenalnya.

Akan tetapi terutang perjodohan ini, bagaimana ia menerima dan menurut begitu saja? Bagaimana kalau kelak calon suaminya yang bernama Thio Wi Liong itu ternyata tidak disukainya? Betul ia melihat bahwa paman atau wali pemuda itu, Kwee Sun Tek, adalah seorang kakek gagah dan patut dihargai, akan tetapi siapa bisa bilang bagaimana macamnya keponakannya?

Berkali-kali Lin Lin menarik napas panjang. Ia tidak tega untuk membantah kehendak "ayahnya" dan sekarang setelah kalung sebagai tanda ikatan jodoh itu berada di tangannya, ia merasa gelisah dan menyesal. Tak terasa lagi air matanya berlinang. Kemudian lamunan gadis ini membawanya teringat kepada Kim Li dan ia merasa menyesal dan berduka sekali. Kim Li seorang gadis baik, seorang kawan baik yang dikasihinya. Sekarang gadis buntung itu menemui ajalnya secara demikian mengerikan.

Tiba-tiba gadis ini tersentak kaget dan cepat kalung yang tadi dipegangnya ia masukkan ke balik baju dalamnya, la mendengar suara orang memanggil namanya!

"Lin-ji...!" suara laki-laki yang parau kasar.

"Adik Lin Lin...!" suara wanita yang nyaring, seperti suara Kim Li!

Lin Lin melompat berdiri, mukanya berubah. Namanya jarang dikenal orang. Hanya suhunya dan orang-orang Kun lun-pai saja yang mengenal nama ini. Bagaimana ada orang memanggilnya dengan nama itu dan bisa tahu pula bahwa ia berada di situ? Apakah orang-orang Kun-lun-pai yang datang dan mengetahui tempat tinggalnya? Akan tetapi siapakah orangnya yang menyebutnya "anak Lin" dan siapa pula yang menyebutnya "adik Lin Lin"?

Lin Lin merasa curiga. Cepat ia mengambil pedangnya, menggantungkan pedang di punggungnya, tak lupa membawa paku-pakunya dan dengan gesit ia lalu mendaki tebing itu melalui sebuah tambang yang dipasang secara rahasia, tambang yang biasa ia pergunakan naik turun tebing itu. Yang mengetahui jalan tambang ini hanya dia. Kim Li dan Kwa Cun Ek.

Jalan atau tangga tambang itu membawanya ke dalam sebuah rumpun alang-alang di belakang batu besar. Alangkah herannya ketika ia melihat tiga orang yang tak dikenalnya berteriak-teriak memanggil namanya di tepi tebing. Saking herannya Lin Lin tak sabar lagi, melompat keluar dari balik batu besar dan membentak, ''Siapakah kalian yang membikin ribut di sini?”

Tiga orang itu menengok dan memandang kepada Lin Lin. Seketika Lin Lin menjadi pucat, kedua kakinya gemetar ketika ia memandang kepada gadis di depannya itu, memandang wajah dan bentuk badan yang membuat ia merasa memandang bayangannya sendiri di depan cermin!

Tiga orang itu, Ek Kok, Kui Sek, dan Lan Lan juga berdiri seperti patung, menatap Lin Lin dengan pandang mata seperti orang terkena hikmat dan terpesona. Apa lagi Kui Sek. Pemuda ini membuka mata selebar-lebarnya seperti orang melihat setan di tengah hari, tingkahnya tidak karuan, topinya dibuka dan kepalanya digaruk-garuk sambil sebentar memandang Lin Lin sebentar Lan Lan, mulutnya mengeluarkan kata-kata gagap.

"Mati aku....! Suhu.... yang mana Lan moi...? Waah, kalau pakaian dan rambutnya tidak berbeda, sungguh mati aku bisa gila dibuatnya!"

Phang Ek Kok juga melongo melihat persamaan yang luar biasa itu. Tidak ada sedikitpun perbedaannya kecuali pakaian dan cara menyanggul rambut. Selebihnya sama, betul-betul sama yang membuat orang merasa ngeri dan bingung.

Sebaliknya, Lan Lan yang tadinya berdiri bengong, perlahan-lahan terisak-isak. Air matanya mengucur deras, kedua lengannya dibuka ke depan dan kakinya bertindak perlahan. "Lin Lin... tak salah lagi... kau Lin Lin adikku yang manis..." kemudian ia menjerit dan menubruk, memeluk dan mencium Lin Lin sambil menangis.

Lin Lin juga menangis, akan tetapi masih bingung. "Aku kenal kau.... aku tentu kenal kau.... sering kali kujumpai dalam mimpi.... ah, aku harus kenal kau.... siapakah kau, cici?”

Lan Lan menciumi muka adiknya, lalu tertawa terkekeh-kekeh di antara tangisnya, "Anak nakal! Mana bisa kau tidak mengenal cicimu sendiri? Masa kau tidak mengenal saudara kembarmu sendiri? Aah. Lin Lin, sejak berusia tiga tahun kita dipisahkan orang secara keji. Hampir aku mati karena rinduku kepadamu. Lin Lin... Lin Lin, sampai mati aku tak mau berpisah darimu lagi... aku Lan Lan... kau Lin Lin... dimana ada aku, di sana ada kau."

"Betul, Lan Lan. Sekarang aku ingat, nama Lan Lan tidak asing bagiku.... betul dulu sekali pernah kau di sampingku," Lin Lin gembira sekali, tiba-tiba ia teringat dan membetot tangan Lan Lan berdiri, "Mari, Lan Lan, mari saudaraku, mari temui ayah angkatku. Kau tahu, aku sudah mendapatkan seorang ayah angkat yang baik sekali!"

Lan Lan menahan betotan tangan adiknya. "Lin Lin, kenapa menemui ayah angkatmu? Lebih dulu kau temui ayahmu, ayah kandung kita!" kata Lan Lan sambil menuding ke arah Phang Ek Kok yang sudah melangkah dekat.

Lin Lin melepaskan tangan Lan Lan dan memandang kepada Ek Kok dengan muka menyata kan kagetnya. Inikah ayahnya? Orang lucu seperti badut potongannya ini? Lin Lin kecewa bukan main. Betulkah ini ayahnya? Ia melihat laki-laki pendek gendut berkepala gundul pletat-pletot ini datang sambil tertawa tawa cekakakan.

"Lin Lin, adikku, kau ini bagaimana sih? Jelek-jelek dia itu ayahmu, ayah kita! Dan pemuda itu adalah Kui Sek suheng, murid ayah. Lekas beri hormat kepada ayah. manisku."

"Kalau.... kalau dia ayah, mana ibu...?" Lin Lin yang masih ragu-ragu bertanya.

Phang Ek Kok tertawa bergelak. "Kak-kak-hah-hah, Lin Lin, bocah manis. Aku Phang Ek Kok adalah ayahmu, ibumu... ibumu... eh, ibumu sudah meninggal dunia. Ya... sudah mati ketika kau dan Lan Lan masih kecil. Kau lenyap diculik orang ketika baru berusia tiga tahun, anakku. Aku ayahmu, Lin Lin... hah-hah-hah-hah!"

Lin Lin kecewa bukan main melihat orang ini yang mengaku sebagai ayahnya. Jauh lebih baik dia menjadi anak Kwa Cun Ek, pikirnya. Masa mempunyai ayah kok begini macam? Akan tetapi, adanya Lan Lan di situ menjadi bukti paling kuat bahwa orang ini memang ayahnya.

Kui Sek sudah dapat menetapkan hatinya. Ia melangkah maju dan dengan muka ramah ia berkata, "Aduh, Lin-moi. Benar-benar aku girang sekali dan juga bingung setengah mati melihat kau sudah dapat ditemukan. Sudah bertahun tahun suhu dan sumoi Lan Lan mencari-carimu. Benar-benar hari ini adalah hari yang amat baik, ha-ha-ha!"

"Lin Lin, jangan bengong saja. Apa kau tidak memberi hormat kepada ayah dan Kui-su-heng?” Lan Lan memperingatkan adiknya.

Terpaksa Lin Lin menjura kepada Ek Kok dan Kui Sek, akan tetapi mulutnya tak dapat mengeluarkan kata-kata, karena sebetulnya hatinya masih merasa ragu-ragu dan berat untuk menyebut ayah kepada orang gemuk pendek gundul seperti badut ini. Setelah memberi hormat, dengan terharu kembali ia memeluk pinggang Lan Lan.

Kalau di situ tidak ada Lan Lan yang ia akui betul-betul saudara kembarnya, tentu ia tidak suka melayani Ek Kok dan Kui Sek. Pada Lan Lan ia tidak ragu-ragu lagi, darahnya berdebar aneh ketika ia dekat dengan Lan Lan, hatinya memastikan bahwa ini memang saudara kembarnya.

"Lin Lin... anakku yang manis. Coba kau ceritakan, ke mana saja selama belasan tahun ini kau pergi?" tanya Ek Kok dengan mulut menyeringai lebar.

"Aku.... aku tidak ingat lagi apa yang terjadi ketika kecil. Tahu-tahu aku berada bersama Liong Tosu yang menjadi guruku, di puncak Kun-lun-san di tempat yang tersembunyi. Kata mendiang suhu, aku dibawa datang oleh murid suhu yang bernama Pek Hui Houw..."

Ek Kok mengeluarkan seruan marah. "Kiranya bangsat dari Kun-lun-pai yang menculiknya!"

"Pek Hui Houw meninggal dunia karena sakit parah begitu ia datang membawaku, kemudian semenjak itu aku menjadi murid Liong Tosu dan baru dua tahun ini aku merantau seorang diri setelah suhu meninggal." demikianlah dengan singkat Lin Lin menceritakan riwayatnya.

"Bangsat-bangsat Kun-lun-pai, awas kau. Kuberitahukan kepada Thai-houw kalian!" kata Ek Kok sambil mencak-mencak marah. "Anak-anakku, mari kita ke Ban-mo-to, menghadap Thai-houw membuat laporan. Biar Thai-houw yang membasmi Kun-lun-pai untuk membalas kekurang-ajaran orang-orang Kun-lun!''

Lin Lin mengerutkan keningnya. "Apakah yang dimaksudkan Kui-bo Thai-houw, siluman tua di Ban-mo-to? Aku mendengar dia itu jahat sekali!"

"Hush... Lin Lin, Thai-houw di Ban-mo-to seorang sakti," kata Lan Lan. Dia sendiri tidak suka kepada wanita tua genit itu, akan tetapi karena tahu akan kelihaiannya, ia khawatir juga mendengar Lin Lin memakinya berterang.

"Empat orang bibimu juga berada di sana menjadi pelayannya, Lin Lin. Ah. kau tidak mengerti apa-apa, kasihan sekali. Mari ikut, nanti Lan-ji akan menceritakan segalanya kepadamu."

"Betul, Lin Lin, mari kita pergi dari tempat ini....." Lan Lan juga membujuk adiknya.

Pada saat itu terdengar suara nyaring, "Lan-ji, kau sedang apa di situ?" Dan muncullah Kwa Cun Ek yang memandang dengan matanya yang lebar, kelihatan terheran-heran.

"Ayah....! Kenapa kau ikut naik? Kesehatanmu belum pulih....!" kata Lin Lin penuh kasih sayang sambil melompat mendekati Kwa Cun Ek.

Akan tetapi Kwa Cun Ek tidak menjawab karena kakek ini sudah melihat Lan Lan dan seperti juga yang lain-lain. persamaan yang luar biasa antara dua orang gadis itu membuat ia bengong karena bingung.

"Siok Lan... anakku... kenapa kau ada dua....?" bisiknya perlahan sekali dan kakek ini agaknya sedang memeras otaknya untuk mengingat-ingat.

Terdengar suara ketawa berkakakan ketika Ek Kok melompat maju di depan Kwa Cun Ek. "Hak-hak hak, kiranya orang ini linglung dan tidak waras otaknya. Dia itu bukan anakmu, bukan pula bernama Siok Lan, akan tetapi dia anakku bernama Phang Lin Lin dan ini saudara kembarnya bernama Phang Lan Lan. Orang gila, jangan kau bermimpi terus, pergilah!"

Kwa Cun Ek menjadi makin bingung, sebentar memandang Lin Lin, sebentar memandang Lan Lan, lalu mengerling Ek Kok. Ia merasa kepalanya puyeng, matanya kabur dan wajahnya sebentar pucat sebentar merah. Kejadian kejadian yang lampau berputaran di depan matanya dan ia teringat kembali akan penuturan sutenya, See thian Hoat ong bahwa Siok Lan sudah mati!

Ia memandang Lin Lin, memang semuanya sama, sampai pakaian dan rambut-rambutnya, akan tetapi gadis ini jauh lebih muda dari pada Siok Lan. Ia makin bingung dan dengan seruan keras ia menerjang Ek Kok. "Penipu! Pembohong!!" teriaknya marah sekali.

"Ayah....! Jangan berkelahi....!" Lin Lin mencegah sambil memegang lengan tangan Kwa Cun Ek. Gadis ini memang lihai dan kepandaiannya malah lebih tinggi dari Kwa Cun Ek, maka cegahannya berhasil...

Jilid selanjutnya,