Cheng Hoa Kiam Jilid 35

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Cheng Hoa Kiam Jilid 35
Sonny Ogawa

Cheng Hoa Kiam Jilid 35, karya Kho Ping Hoo - “SUHENG. kau benar benar gembul sekali. Sering kali aku heran, siapa yang akan menang kalau bertanding minum arak dan makan mi. kau atau ayah." terdengar gadis itu berkata sambil tersenyum geli melihat laki-laki berusia tigapuluhan itu sudah menghabiskan belasan cawan arak dan dua kati mi goreng.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Laki-laki yang ternyata suhengnya (kakak seperguruan) itu hanya tertawa dan matanya menatap wajah sumoi (adik seperguruan) itu dengan lucu. Bagi orang yang sudah berpengalaman, melihat sinar mata laki-laki itu menatap wajah adik seperguruannya, mudah dilihat bahwa laki-laki ini menaruh hati kasih sayang yang besar kepada gadis itu.

"Entah mengapa, Lan-moi (adik Lan), kalau hari hujan, perutku ini rasanya tak pernah mengenal kenyang. Lapar terus!" Ia tertawa terbahak-bahak sambil menepuk nepuk perutnya yang gendut membusung seperti perut wanita mengandung lima bulan.

Gadis itu tertawa geli, menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Biarpun dari suara ketawanya yang lembut nyaring ini ia termasuk gadis kang-ouw yang tidak malu-malu seperti gadis pingitan, namun caranya menutupi mulut ketika ketawa menunjukkan bahwa ia bukanlah gadis liar dan kasar yang tidak mengenal kesopanan seorang wanita.

”Sumoy. sebaliknya kenapa makanmu sedikit amat? Aku takut kau akan menjadi makin lama makin kurus kalau kau tidak mau menambah makanmu."

Anehnya, kalau dari setiap gerak-geriknya si gendut ini jelas seorang badut yang suka melawak, ucapan kali ini diucapkan penuh kesungguhan dan di dalam suaranya terkandung perhatian dan kasih sayang.

"Gadis mana yang kepingin gendut seperti kau?" Gadis itu tersenyum. "Aku mana suka mempunyai potongan badan seperti bibi-bibi di Ban-mo-to? Biar aku makan setengah kenyang saja dari pada tubuhku menjadi gendut-gendut seperti tubuh mereka berempat!"

"Hush, sumoi, kau keterlaluan sekali. Masa bibi sendiri kau cela? Biarpun seperti itu, mereka itu lihai sekali kepandaiannya. Kalau tidak masa mereka itu menjadi pelayan-pelayan kesayangan Thai-houw?"

Gadis itu nampak tak senang membicarakan urusan yang menyangkut Ban-mo-to. "Sudahlah, kalau bicara tentang Ban-mo-to, suka mengkirik (meremang bulu tengkuk) aku. Menyeramkan! Eh, suheng, kenapa ayah belum juga muncul?" Gadis ilu melangak-longok ke jalan raya, melihat-lihat.

"Hi-hik, kaya belum kenal saja watak suhu. Tadi begitu hujan turun, suhu berlari keluar untuk hujan-hujan (bermain di bawah hujan). Katanya sudah setengah tahun tidak bertemu hujan, sekarang hendak bermain sepuasnya. Memang suhu lucu sekali. Ha-hak!" Gadis itu ikut tertawa geli.

Dua orang ini bercakap-cakap sambil bersendau-gurau. Memang hubungan kedua orang ini akrab sekali Hal ini tidak mengherankan kalau diketahui bahwa mereka adalah kakak beradik seperguruan semenjak gadis itu masih kecil, semenjak gadis itu masih kanak kanak dan baru bisa berjalan. Ketika masih kanak-kanak, laki-laki itu sudah seorang pemuda tanggung dan sering kali sumoinya itu digendong dan diasuhnya.

Dengan demikian hubungan keduanya sudah seperti kakak dan adik sekandung, setidaknya demikian perasaan hati gadis itu. Bagi pemuda itu lain lagi karena diam-diam di dalam hatinya tumbuh cinta kasih yang besar, cinta kasih seorang laki laki terhadap seorang wanita! Cuma saja hal ini tidak diketahui dan tidak terasa oleh gadis remaja yang masih hijau ini.

Siapakah mereka ini? Gadis yang dipanggil Lan moi (adik Lan) itu bernama Lan Lan, puteri Phang Ek Kok, orang aneh lucu gemuk pendek berkepala plontos yang menjadi kakak nenek kembar empat pelayan Kui-bo Thai-houw di Ban-mo-to. Adapun pemuda yang usianya sudah tigapuluh tahun lebih itu bernama Sek she-nya Kui. Kui Sek ini sebelum menjadi murid Phang Ek Kok belasan tahun yang lalu, telah ditinggal mati ayah bundanya.

Ayahnya seorang guru silat, ilmu pedang, maka selain menerima pelajaran ilmu silat tinggi dari gurunya, Phang Ek Kok, lebih dulu Kui Sek juga sudah mewarisi ilmu pedang ayahnya. Wataknya juga jujur dan kasar lucu akan tetapi sayang agak menyombongkan kepandaiannya sendiri. Ia malah memakai julukan Sin hui kiam (Pedang Terbang Sakti) dan julukan ini saja sudah membayangkan kesombongannya!

Mereka sedang melakukan perjalanan bersama guru mereka, Phang Ek Kok yang begitu kegirangan melihait hujan turun sehingga seperti anak kecil saja, orang aneh itu meninggalkan orang orang muda itu di restoran untuk main-main di bawah siraman air hujan!

Setelah meninggalkan Kim Ie-san di mana ia tadinya ditugaskan menjaga oleh Kui-bo Thai-houw, Ek Kok mengajak puterinya. Lan Lan pergi ke Propinsi An hui di mana ia hendak mencoba mencari puterinya ke dua yang lenyap ketika masih kecil. Lan Lan sebetulnya adalah anak kembar, yang ke dua adiknya bernama Lin Lin. Lin Lin inilah yang lenyap dan sedang dicari-cari oleh Ek Kok, yang tidak melenyapkan harapan biarpun sudah mencari sampai sepuluh tahun lebih tanpa hasil.

Baik Lan Lan sendiri maupun Kui Sek murid nya, tidak tahu akan rahasia Ek Kok dengan Lan Lan. Sebetulnya Lan Lan ini bukanlah anak Ek Kok. Bagaimana Ek Kok bisa mempunyai anak kalau selama hidupnya dia tidak pernah mempunyai isteri? Akan tetapi kepada Lan Lan dan orang-orang lain ia menceritakan bahwa Lan Lan dan Lin Lin adalah anak kembarnya, dan bahwa isterinya, ibu anak kembar itu telah meninggal dunia ketika melahirkan anak kembarnya.

Phang Ek Kok sendiripun tidak tahu anak siapakah Lan Lan dan Lin Lin. Kira-kira enam belas tahun yang lalu, dia dan adik kembarnya yang empat orang, dikalahkan oleh Kui-bo Thai-houw dan selanjutnya adik kembarnya yang empat orang itu dijadikan pelayan oleh Kui-bo Thai-houw dan dibawa ke Ban-mo-to.

Dia hidup seorang diri dan pada suatu hari, beberapa bulan kemudian, tiba-tiba muncul Kui-bo Thai-houw mendapatkannya dan wanita sakti dari Ban-moto ini datang membawa dua orang anak perempuan kembar yang baru berusia dua tahun.

"Ambil dua bocah ini sebagai puteri-puterimu dan didik baik-baik. Awas, jangan bocorkan rahasia. Sampai mampuspun kau tidak boleh menyatakan bahwa mereka bukan anak-anakmu. Mengerti!"

Kaget bukan main hati Phang Ek Kok. Bagaimana pula ia bisa membangkang, ia sudah dikalahkan dan ia tahu pula akan kekejaman Kui-bo Thai-houw. Membantah berarti menyerahkan nyawa ke dalam tangan iblis wanita itu. Pula ia sayang melihat dua bocah yang mungil-mungil itu, dua orang anak perempuan yang serupa benar.

Terpaksa ia menerima juga dan semenjak saat itu. Phang Ek Kok yang selama hidupnya belum pernah menikah, tahu tahu telah menjadi "bapak" dari dua orang anak perempuan. Baiknya Ek Kok selama ini hidup merantau, tidak pernah tinggal lama di tempat tertentu, maka mudah saja ia membohongi orang-orang bahwa anak-anak itu memang anaknya dan isterinya mati ketika melahirkan.

Akan tetapi setahun kemudian, ketika dua orang anak itu baru bisa belajar bicara dan sedang lucu-lucunya, pada suatu malam Ek Kok kehilangan Lin Lin! Anak itu lenyap begitu saja tanpa meninggalkan bekas, seperti diculik setan. Bukan main marahnya Ek Kok. Sebagai seorang kang-ouw yang ulung tahulah dia bahwa Lin Ljn diculik orang yang berkepandaian tinggi. Semenjak saat itu. ia mengajak Lan Lan merantau dan di mana-mana ia mencari jejak Lin Lin tanpa hasil.

Kui-bo Thai-houw juga marah sekali mendengar ini. Akan tetapi wanita itu hanya menekan kepada Ek Kok supaya terus mencari Lin Lin sampai dapat ditemukan kembali. Malah akhir-akhir ini Kui-bo Thai-houw menyatakan bahwa Ek Kok tidak boleh muncul lagi di Ban-mo-to sebelum menemukan kembali Lin Lin.

Demikianlah riwayat singkat keadaan Ek Kok dan "puterinya", Lan Lan yang sekarang duduk di restoran bersama suhengnya, Kui Sek. Dalam perjalanan di An-hui, Ek Kok dan Lan Lan bertemu dengan Kui Sek yang sekarang sudah tamat belajar dan hidup menyendiri di An king. Pemuda ini girang sekali bertemu dengan suhu dan sumoi-nya. Dipilihnya kamar terbagus dalam hotel terbaik di kota itu. malah ia lalu "mentraktir" suhu dan sumoinya di restoran Hok-lo itu.

Ketika Kui Sek dan Lan Lan menanti datangnya Phang Ek Kok di restoran Hok-lo sambil memandang keluar, tiba tiba dari luar masuk seorang gadis cantik yang gagah sekali sikapnya. Seperti Lan Lan, gadis ini juga menggantungkan pedang di pinggang kirinya, langkahnya tegap dan gesit sekali, rambutnya agak basah oleh hujan rintik-rintik tadi. Sayang sekali wajah yang jelita dan manis itu nampak muram dam sinar matanya sayu.

Begitu memasuki restoran dengan tergesa-gesa karena kehujanan, gadis ini mengebut-ngebutkan pakaiannya yang agak basah, lalu mengusap rambut kepalanya. Pada saat itu seorang pelayan menyambutnya, akan tetapi gadis ini berdiri kaku dengan tangan di atas kepala. Pada saat ia mengusap rambutnya tadi, pandang matanya bertemu dengan wajah Lan Lan yang memandang kepadanya sambil tersenyum.

Gadis itu kaget sekali kelihatannya, kaget dan heran sampai ia berdiri tegak dengan tangan masih di atas kepala dan tidak melihat bahwa seorang pelayan menyambutnya dengan manis budi dan ramah. Sampai lama dua orang gadis itu saling berpandangan.

"Luar biasa... kalau tidak jauh lebih muda, gadis itu seperti enci Siok Lan benar! Bagaimana di dunia ada dua orang yang begitu sama wajahnya?" gadis yang baru masuk ini dalam hatinya berkata dan memaksa diri untuk mengalihkan pandang dan mengikuti pelayan itu yang mengajaknya menghampiri sebuah meja.

Kebetulan sekali, pelayan itu membawanya ke sebuah meja yang berdekatan dengan meja Lan Lan, malah duduknyapun menghadap ke dalam sehingga dari tempat duduknya ia dapat melihat Lan Lan dan suhengnya dengan jelas.

Begitu melihat, hati Lan Lan tertarik dan suka kepada gadis gagah yang baru masuk itu. Melihat gadis itu membawa pedang dan sikapnya gagah, timbul keinginan dalam hati Lan Lan untuk berkenalan dan terutama sekali, memenuhi dorongan darah mudanya, ingin ia mencoba ilmu silat terutama ilmu pedang nona itu. Ia memandang dengan sepasang matanya yang bening ke arah gadis itu dan tersenyum-senyum memancing-mancing perkenalan.

Akan tetapi gadis yang berwajah muram ini tidak melayaninya. Ia memang sebentar-sebentar melirik ke arah Lan Lan dan tiap kali memandang wajah Lan Lan ia kelihatan terheran, akan tetapi senyum Lan Lan tidak dibalasnya dan tidak dilayaninya. Dengan suara perlahan ia memesan makanan dan minuman kepada pelayan, kemudian duduk diam merenung sendirian sambil menanti datangnya masakan yang dipesannya.

Dasar harus terjadi keributan. Lan Lan di depan suhengnya memuji-muji Eng Lan dengan suara perlahan dan selalu dibantah oleh Kui Sek yang ingin menunjukkan kepada sumoinya itu bahwa ia tidak tertarik oleh lain wanita yang bagaimanapun juga!

"Enci itu cantik dan bukan main manisnya!" demikian Lan Lan mulai.

"Ah, biarpun cantik akan tetapi mukanya muram menakutkan orang. Tidak seperti kau yang selalu senyum dan bermuka terang. Aku paling benci melihat gadis bermuka masam." jawab Kui Sek perlahan sekali selengah berbisik dan suaranya ini memang takkan dapat terdengar oleh orang yang duduknya sejauh gadis tadi duduk.

"Suheng, mana kau tahu orang cantik? Enci itu manis sekali! Dan melihat gerak-geriknya, aku berani bertaruh bahwa dia tentu memiliki ilmu silat dan ilmu pedang yang tinggi," kata pula Lan Lan sambil memandang ke arah Eng Lan yang sedang menerima hidangan yang dipesannya.

"Aaaahhh, tak mungkin! Gadis-gadis macam dia itu sekarang seperti jamur di musim hujan banyaknya, berkeliaran di sana sini. Semua itu hanya untuk menakut-nakuiti orang saja supaya tidak berani mengganggunya, atau kebanyakan malah digunakan sebagai, modal berlagak. Membawa-bawa pedang, berpakaian ringkas seperli pendekar pedang, berjalan ditegak-tegakkan. Ah, sumoi pada waktu ini mana ada gadis segagah engkau! Sukar dicari keduanya. Jangan kau memuji-muji gadis kota seperti dia itu."

Ucapan ini dikeluarkan lebih perlahan lagi karena si gendut ini hanya bicara untuk menyindirkan kepada sumoinya bahwa dalam pandangannya, di dunia ini tidak ada gadis yang lebih cantik atau lebih pandai dari pada Lan Lan! Ia setengah berbisik karena sebenarnya ia tidak menghendaki kalau ucapan-ucapan ini terdengar oleh gadis yang baru mau makan mi-nya itu.

Dasar celaka! Gadis yang sejak tadi diam saja dan sekarang sudah mulai mengangkat sumpitnya, tiba-tiba berhenti dan tidak jadi makan, meletakkan sumpitnya di atas meja. Muka yang muram itu menjadi makin keruh dan sinar matanya berkilat-kilat ke arah Kui Sek! Ia melompat dekat dan tangan kanannya meraba-raba gagang pedang,

"Babi gemuk, mulutmu kotor dan lancang sekali! Kau keedanan gadis cilik ini bukan urusanku, akan tetapi kenapa kau membawa-bawa aku? Apa kau sudah bosan hidup? Hayo lekas berlutut minta ampun, kalau tidak benar-benar aku akan membikin kau menjadi babi gemuk tanpa kepala!"

Gadis itu ternyata galak sekali dan setelah bicara amat lancar dan lincah, tanda bahwa sebelum ia diliputi awan kedukaan yang membuat ia pendiam dan muram, dahulunya ia seorang gadis yang lincah dan pandai bicara.

Kui Sek kaget setengah mati. Tak disangka sangkanya bahwa gadis itu dapat mendengar omongannya. Ataukah hanya ngawur saja? Lebih baik ia membodoh untuk menutupi malunya. "Eh, eh, kau ini perempuan galak dari mana? Kenapa tiada hujan tiada angin ngamuk ngamuk dan memaki-maki orang?" katanya dengan muka bodoh.

"Babi keparat! Masih hendak pura-pura lagi? Kau ini laki-laki pengecut, percuma saja membawa-bawa pedang! Bisa kau bilang orang membawa pedang untuk berlagak, tidak tahunya kau sendiri yang membawa pedang untuk menjual aksi yang tidak laku!"

Kui Sek boleh jadi dogol dan sombong, akan tetapi iapun mempunyai sifat baiknya, yaitu selain jujur juga bisa melihat kesalahan sendiri. Sekarang karena ia merasa salah, maka menghadapi gadis yang marah marah itu ia hanya tertawa ha-hah-he-heh sambil menundukkan mukanya yang menjadi merah.

Lan Lan semenjak kecil suka sekali kepada Kui Sek dan menganggap suheng ini sebagai kakaknya sendiri. Juga ia tidak sesabar Kui Sek, maka melihat suhengnya dimaki-maki orang, melihat suhengnya dihina begitu rupa, gadis muda ini menjadi naik darah. Ia melompat bangun dan menghadapi gadis yang marah-marah itu.

"Enci, sabar dulu. Kenapa marah marah dan memaki maki orang di tempat umum? Ini bukan sikap seorang gagah. Kau bersikap seakan-akan kau sendiri yang punya kepandaian. Ketahuilah, suhengku diam saja bukan sekali-kali karena takut padamu, melainkan karena dia merasa salah omong, salah kira karena kau tadi disangkanya gadis biasa. Kalau dia tidak merasa sudah salah, apa kami mau kau hina begini macam? Sudahlah, suhengku sudah salah, kau sudah memaki, jangan kau lanjutkan. Sayang seorang gadis cantik dan gagah seperti kau ini memaki-maki di tempat umum. Memalukan."

Ucapan Lan Lan ini biarpun mengakui kesalahan fihak suhengnya, namun mengandung teguran pedas sekali bagi gadis itu yang agaknya memang sedang risau pikirannya dan karenanya tidak bisa menahan sabar. Ia memandang kepada Lan Lan dan berkata ketus,

"Kau ini bocah cilik tidak tahu dijuali omongan manis membujuk merayu dari babi gemuk itu. Hati-hati, kalau kau tidak bisa menjaga diri kau akan terjatuh ke dalam perangkapnya! Minggir, aku tidak berurusan dengan kau bocah cilik!"

Naik darah Lan Lan. Dia memang keras hati, sungguhpun watak keras hati ini jarang muncul karena tertutup oleh sifatnya yang periang dan lincah. Sekarang dia marah benar. Seperti juga gadis itu, tangan kanannya meraba gagang pedang dan ia menantang. "Habis kau mau apa? Kau punya pedang, akupun punya, enci yang manis!"

"Bagus, bocah genit, keluarkan pedangmu. Setelah membikin kapok kau. baru nanti kuhajar babi gemuk!" bentak gadis itu.

Keduanya sudah siap dan sudah menggerakkan tangan hendak menghunus pedang ketika pada saat itu dari luar restoran terdengar seruan kaget, "Bu-beng Siocia (Nona Tak Bernama)...!"

Baru saja suara ini terdengar, orangnya sudah tiba di ruangan restoran itu dan berkelebat menengahi antara Lan Lan dan gadis tadi. Baru sekarang pemuda yang baru datang ini melihat wajah gadis itu dan berserulah ia heran dan kaget.

"Nona Pui Eng Lan...!"

Gadis yang marah-marah tadi memang Eng Lan adanya. Eng Lan melihat pemuda itu menjadi kaget juga karena pemuda itu bukan lain adalah Wi Liong! Dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya Wi Liong tadi ketika lewat di depan restoran itu, ia melihat dua orang gadis tengah bersitegang hendak bertanding, dan melihat Lan Lan, ia menjadi pucat karena gadis ini memang tidak ada bedanya dengan Kwa Siok Lan yang dikabarkan telah tewas!

Tanpa dapat dicegah lagi ia tadi berseru "Bubeng Siocia" karena teringat akan Siok Lan ketika pada pertama kali ia jumpa, dan cepat ia melompat untuk mencegah pertempuran itu. Makin besar keheranannya ketika melihat bahwa gadis yang seorang lagi adalah Eng Lan!

Lan Lan memandang kepada Wi Liong dengan mata terbelalak dan mulut tersenyum geli. Siapakah pemuda ini dan mengapa tadi menyebut Bu-beng Siocia? Tentu dia yang disebutnya itu, karena di situ hanya ada dua orang siocia (nona) dan nona yang menjadi lawannya itu sudah disebut namanya, yaitu Pui Eng Lan.

"Nona Pui, kenapa kau di sini? Mana... mana Kun Hong...?" tanya Wi Liong.

Melihat Eng Lan menjadi pucat mendengar disebutnya nama Kun Hong. Wi Liong segera berkata lagi, "Kau duduklah dulu, harap jangan dilanjutkan pertempuran ini. Ada urusan apakah Nona Pui, kau duduklah di sana, nanti aku akan banyak bicara denganmu."

Karena Eng Lan terguncang sekali hatinya melihat munculnya Wi Liong yang menyebut-nyebut nama Kun Hong, ia mengangguk dan kembali ke tempat duduknya.

Sementara itu, Wi Liong menghadapi Lan Lan yang masih tersenyum mengejek. Untuk kedua kalinya, jantung Wi Liong berdenyut keras melihat wajah yang begitu cantik jelifa seperti wajah Siok Lan. Bahkan senyuman mengejek pada bibir merah itupun senyuman Siok Lan! Ia mengejap-ngejapkan kedua matanya untuk memandang lebih nyata karena khawatir kalau matanya yang menipunya.

Sudah terlalu sering ia membayangkan wajah Siok Lan sslungga kerap kali ia seperti melihat Siok Lan dan mendengar suaranya. Akan tetapi, betapapun ia mengejapkan mata, gadis di depannya itu tetap saja seperti Siok Lan, baik wajahnya yang jelita maupun bentuk tubuhnya yang ramping.

"Kau.... kau siapakah...!" tanyanya gagap dan matanya memandang membelalak.

Lan Lan menggerak gerakkan alisnya menahan geli hatinya, tetap saja ia tidak tahan dan tertawa sambil menutupi mulutnya yang kecil lalu berkejap-kejap meniru perbuatan Wi Liong tadi dengan lucunya. Kemudian ia menjawab sambil tersenyum, "Kau sudah mengenalku, masih berpura-pura tak kenal lagi?"

Meremang bulu tengkuk Wi Liong. Apakah yang di depannya ini roh Siok Lan yang mengganggunya? Mukanya sebentar merah sebentar pucat, dan suaranya gemetar ketika ia bertanya, "Kau... kau siapakah? Siapa namamu? Apa betul kita pernah saling berkenalan?"

Lan Lan memandang heran. Apakah pemuda ini miring otaknya? Sayang kalau miring otaknya, pemuda begini tampan dan suaranya sedap amat didengar. Kalau tidak miring otaknya, mengapa begini aneh? Dan suling itu... orang lain membawa pedang kenapa dia membawa suling? "Tadi datang-datang kau menyebut namaku, masa lupa lagi!" Lan Lan mempermainkan.

"Betulkah? Aku lupa lagi. Siapa sih namamu?" tanya Wi Liong, agak tenang hatinya karena sikap lincah dan kenes dari gadis itu membuat ia berbeda dari Siok Lan yang pendiam dan sungguh-sungguh. Juga sekarang baru terlihat jelas olehnya bahwa gadis ini jauh lebih muda dari Siok Lan. pantas menjadi adiknya.

"Namaku Bu-beng Siocia!" Lan Lan berkaca sambil tersenyum geli.

Wi Liong tertawa, tertawa gembira. Baru kali ini semenjak ia kehilangan Siok Lan. ia bisa tertawa segembira itu. Wajahnya menjadi menarik dan makin tampan, kelihatan muda sekali ketika tertawa ini sehingga Lan Lan tertarik hatinya.

"Dan kau siapa? Kenapa datang-datang mencegah orang hendak mengadu pedang! Enci itu galak sekali, kalau kau kenal dengannya tolong kauberi tahu lain kali jangan galak-galak seperti ayam bertelur. Eh, kau siapakah? Kau membawa suling, tentu kau tukang tiup suling yang pandai ya?"

Aneh sekali. Wi Liong biasanya bersikap pendiam dan serius, akan tetapi kali ini ia mau melayani gadis remaja yang mempermainkannya. Dengan gembira ia mengangguk. "Memang aku tukang suling."

"Twako yang baik, kalau begitu coba kau meniup sebuah lagu untukku. Mau?"

Aneh benar. Seperti lupa diri, lupa bahwa ia berada di dalam restoran dan bahwa sekarang para tamu dan para pelaiyan menonton pertunjukan itu, lupa bahwa ia diperlakukan seperti seorang pemuda berotak miring, Wi Liong mengangguk menyanggupi permintaan Lan Lan, membawa suling pada bibirnya dan tak lama kemudian iapun menyuling sebuah lagu!

Suara suling melengking, mengalun, menyelinap di antara suara rincik hujan, menimbulkan suasana yang ganjil. Semua orang bengong karena pemuda ini benar-benar pandai menyuling. Lan Lan berdiri dengan mata bersinar-sinar, wajahnya berseri, akan tetapi lambat-laun pandang matanya menjadi sayu. Suara suling itu berubah, dari garang menjadi lembut, makin lama makin menyedihkan hati.

"Jangan begitu sedih..." tak terasa lagi Lan Lan melangkah maju setindak dan berbisik, memandang Wi Liong dengan kasihan sekali.

Kui Sek yang melihat, ini semua, timbul kemarahannya karena cemburu, ia melompat ke depan Wi Liong dan membentak, ”Berhenti!"

Akan tetapi Wi Liong seperti tidak mendengarnya dan menyuling terus. Kui Sek makin marah. "Tadi aku mengalah terhadap seorang nona. Akan tetap, kau pemuda gila ini jangan main-main di depanku, berhenti dengan suling gila itu!"

Wi Liong hanya melirik sedikit, keningnya berkerut tanda ia tak senang diganggu, namun ia menyuling terus, "Kau berani berlagak di depan Sin-hui-kiam Kui Sek? Apa kau ingin digampar! Untuk ketiga kalinya, berhenti! Kalau tidak, terpaksa ku gampar dan jangan bilang aku terlalu!"

Berkata demikian ia mengangkat tangan mengancam sambil melirik ke arah Eng Lan seperti menyatakan bahwa sebagai orang gagah ia tidak sudi datang datang menampar orang, akan tetapi lebih dulu mengancam sampai tiga kali. Akan tetapi Eng Lan diam saja dan di dalam hatinya memandang semua itu sebagai lelucon. Tentu saja ia tidak mengkhawatirkan Wi Liong, ia tidak begitu gila untuk mengkhawatirkan keselamatan pemuda sakti ini.

"Benar-benar kau mencari celaka!" bentak Kui Sek dan tangannya sudah bergerak untuk menampar.

"Suheng, jangan...!" Lan Lan mencegah.

Akan tetap, terlambat. Tangan dengan telapakannya yang lebar dan kuat itu sudah melayang dan... terhenti di tengah udara. Aneh sekali kalau dibicarakan. Tahu-tahu tubuh tinggi besar itu berdiri diam tak bergerak dengan tangan kanan masih diangkat di atas kepala Wi Liong, akan tetapi tidak jadi diturunkan dan tidak bergerak. Seluruh tubuh Kui Sek seperti beku dan kaku, hanya matanya yang sipit itu saja berputaran kaget dan bingung, Wi Liong masih menyuling terus!

Lan Lan yang melihat keadaan Kui Sek demikian itu, kaget sekali. Ia mengguncang-guncang tubuh Kui Sek dan memanggil. "Suheng...! Suheng...!" Setelah memegang pundak suhengnya, baru ia tahu bahwa suhengnya telah ditotok jalan darahnya secara ajaib sekali!

Sementara itu, Wi Liong sudah menyelesaikan permainan sulingnya. Melihat Lan Lan mengguncang-guncang tubuh Kui Sek, ia lalu menggerakkan sulingnya ke arah iga pemuda dogol itu yang seketika terbuka kembali jalan darahnya, mengeluh dan memandang kepada Wi Liong dengan mata melotot.

"Bagaimana pendapatmu tentang permainan sulingku. Bu-beng Siocia?" tanya Wi Liong yang tidak perduli ada orang melotot padanya dan mengajukan pertanyaan itu sambil memandang Lan Lan.

Gadis ini masih belum hilang kagetnya. Setelah Wi Liong tadi menotok iga suhengnya. barulah ia mengerti bahwa suhengnya tertotok oleh pemuda peniup suling ini, maka dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya, juga disertai rasa kagum.

"Bagus, hanya sedih sekali. Tadi kau apakan suhengku?" tanya Lan Lan, lagaknya seperti anak kecil.

Wi Liong makin terharu melihat wajah dan gerak bibir serta suara yang membuat ia merasa berhadapan dengan Siok Lan. Ia tak dapat menjawab pertanyaan tadi, hanya memandang kepada Kui Sek dengan senyum. Kui Sek marah bukan main. Dicabutnya pedang dari punggungnya dan sambil berseru keras ia menerjang Wi Liong.

Para tamu dan pelayan restoran itu menjadi bingung dan ketakutan, lari berserabutan melalui pintu samping dan pintu belakang, melarikan diri karena takut terseret dalam perkelahian.

"Suheng, jangan...!" kembali Lan Lan mencegah suhengnya. Akan tetapi melihat Kui Sek nekat terus, terpaksa gadis ini melompat mundur dan menonton dengan hati berdebar, la melihat betapa pemuda tampan itu hanya menggunakan sulingnya tadi untuk menangkis serangan pedang suhengnya.

"Celaka, dengan suling saja mana dia bisa menjaga diri dari serangan pedang suheng yang lihai...?" Gadis itu diam-diam amat mengkhawatirkan keselamatan Wi Liong.

Akan tetapi kekhawatirannya berubah keheranan luar biasa ketika ia melihat betapa tangkisan suling itu membuat tubuh Kui Sek terhuyung-huyung ke belakang dan pedang di tangan suhengnya itu hampir saja terlepas dari pegangan.

Wajah si gemuk menjadi pucat dan matanya terbelalak kaget. Akan tetapi sudah menjadi watak Kui Sek tidak mau kalah dalam pertempuran dan terlalu memandang tinggi kepandaian sendiri tanpa memandang kepandaian orang lain. Ia tadi merasa betapa tangkisan suling itu membuat seluruh lengan kanan yang memegang pedang seakan-akan lumpuh dan pasangan kuda-kuda kakinya tergempur hebat, akan tetapi sebaliknya dari pada kapok ia malah menyerang lagi lebih hebat.

"Aku tidak ada waktu untuk melayanimu!" Wi Liong berkata pelahan, sulingnya digerakkan secara aneh. Terdengar suara keras ketika suling itu menangkis pedang, akan tetapi kali ini suling itu terus bergerak ke arah lengan tangan Kui Sek.

Pemuda gemuk itu berteriak kesakitan, pedangnya terlepas jatuh mengeluarkan suara nyaring di atas lantai dan ia melangkah mundur sambil memegangi lengannya yang sakit sekali.

"Luar biasa...!" Lan Lan berseru, lupa untuk membantu suhengnya. Kekagumannya terhadap Wi Liong meningkat dan gadis ini hanya dapat berdiri bengong memandang.

Tiba-tiba pada saat itu terdengar suara ketawa-tawa tidak karuan dan dari luar restoran kelihatan "menggelinding" masuk seorang laki-laki gemuk pendek berkepala gundul pelontos.

"Hah-heh-hah-heh, Lan Lan... Kenapa kau diamkan saja suhengmu dipermainkan orang?"

Wi Liong memandang dan kagetlah ia karena ia sudah mengenal si gundul ini yang bukan lain adalah orang gundul yang dulu bertempur melawan kelua Pek-eng-pai di Kim Ie-san, kakak dari empat orang nenek kembar pelayan Kui-bo Thai-houw.

"Maaf." katanya sambil menjura, "sekali-kali siauwte tidak mempermainkan orang, malah tanpa sebab diserang. Bukankah begitu, Bu-beng Siocia?" tanyanya kepada Lan Lan.

Lan Lan mengangguk! Matanya yang bening tidak pernah lepas dari wajah Wi Liong.

"Lan Lan, kau bagaimana sih? Malah membenarkan musuh!" tegur Phang Ek Kok kepada puterinya.

Wi Liong tercengang. Gadis inipun bernama Lan Lan, hampir sama dengan Siok Lan. Dan gadis ini puteri badut gundul yang lucu itu? Luar biasa sekali! Saking herannya pemuda ini sampai tidak bisa berkata apa-apa dan hampir saja ia tidak bergerak pula ketika Ek Kok menyerangnya dengan pakulan ke arah dadanya. Baru setelah Lan Lan berteriak kaget melihat ayahnya memukul pemuda itu, ia cepat mengangkat lengan tangan menangkis. Dan tubuh gemuk pendek itu terlempar ke belakang!

"Berani kau menjatuhkan ayah?" Lan Lan berseru marah dan tangannya bergerak memukul.

"Plakk...!!" Lan Lan merasa kepalan tangannya panas ketika mengenai dada permuda itu. Ia cepat-cepat melompat mundur karena jengah dan malu. Pemuda itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis ketika ia pukul tadi, malah kelihatan menerima pukulan itu sambil tersenyum kepadanya! Namun pemuda itu tidak kelihatan sakit sedikit juga, malah kepalan tangannya yang terasa panas!

Phang Ek Kok adalah seorang kangouw yang sudah berpengalaman cukup. Dia tidak dogol seperti Kui Sek, akan tetapi sekali gebrakan saja ketika tadi pukulannya tertangkis Wi Liong, tahulah ia dengan kaget dan heran bahwa tenaga dan kepandaian pemuda ini jauh lebih tinggi dari padanya.

"Apakah loenghiong (orang tua gagah) hendak mengamuk seperti ketika berhadapan dengan Pek-eng-pai lagi!" tanya Wi Liong sambil menatap wajah kakek pendek gemuk itu dengan tajam.

Makin kagetlah Phang Ek Kok. Kejadian di Kim-le san itu hebat sampai banyak orang Pek-eng-pai tewas. Sungguhpun bukan dia yang menewaskan, namun tewasnya karena bertempur dengan dia.

Kekejaman Kui-bo Thai-houw yang membunuhi semua orang amat tidak menyenangkan hatinya. Ia tidak setuju dengan pembunuhan besar besaran itu dan peristiwa di Kim Ie-san Ini akan selalu dikenang dengan penyesalan. Sekarang pemuda ini menyebut-nyebut tentang Kim-Ie-san, jangan-jangan pemuda ini seorang dari Pek-eng pai yang akan membalas dendam.

Tanpa banyak cakap lagi ia menyambar lengan Lan Lan dan berseru kepada Kui Sek, "Hayo lekas pergi dari sini. Jangan mencari gara-gara meributkan tempat orang!" Setelah berkata demikian, ia berlari cepat menyeret puterinya, pergi dari situ diikuti oleh Kui Sek yang lari gedebag-gedebug di belakang suhunya.

Pelayan-pelayan rumah makan itu berteriak-teriak menagih uang makanan sambil mencoba untuk mengejar. Akan tetapi mana bisa mengejar tiga orang yang memiliki kepandaian lari cepat itu? Sebentar saja Ek Kok dan puteri serta muridnya sudah lenyap dari situ.

Wi Liong menyesal sekali. Ia tak sempat berkenalan dengan Lan Lan. Lagi-lagi ia hanya mengenal gadis itu sebagai Bu-beng Siocia, seperti ketika ia mengenal Siok Lan untuk pertama kalinya. Ia berkata kepada pengurus rumah makan.

"Tak usah ribut. Biar aku yang akan membayar rekening mereka, berikut penggantian meja kursi yang rusak."

Setelah berkata demikian, Wi Liong lalu duduk menghadapi Eng Lan yang sejak tadi hanya memandang saja, penuh keheranan akara sikap Wi Liong terhadap gadis muda galak yang tadi hampir berkelahi dengan dia. Setelah duduk berhadapan dengan Eng Lan, sampai lama Wi Liong masih diam saja seperti orang termenung, agaknya peristiwa yang baru saja dialaminya masih berkesan dalam-dalam di hatinya.

"Thio-taihiap, gadis tadi sama benar dengan enci Siok Lan," kata Eng Lan untuk mengingatkan pemuda itu bahwa ia masih berada di situ.

"Hemmm? Apa...? Oya nona Pui, kau masih di sini? Betul katamu, gadis tadi serupa benar dengan... dengan... nona Kwa Siok Lan," jawab Wi Liong gagap.

"Apakah kau sudah berjumpa dengan enci Siok Lan, Thio-taihiap? Dan bagaimanakah urusanmu dengan dia? Kuharap saja sudah beres kembali," kata pula gadis itu yang teringat akan peristiwa yang terjadi antara pemuda ini dengan Siok Lan, yaitu tentang terputusnya pertunangan, sehingga ia sendiri dahulu berusaha untuk mengusahakan penyambungannya kembali bersama Kun Hong.

Wajah Wi Liong tiba-tiba menyuram seperti api dian kehabisan minyak ketika mendengar pertanyaan ini. Ia maklum bahwa Eng Lan belum tahu akan urusannya dengan Siok Lan yang ruwet dan belum mendengar pula akan berita meninggal nya Siok Lan.

Melihat muramnya wajah Wi Liong yang menjadi sedih nampaknya sehingga garis-garis kesedihan muncul di dahinya, membuat pemuda itu nampak tua, cepat-cepat Eng Lan berkata. "Maafkan aku kalau aku mendatangkan perasaan tidak enak padamu, taihiap."

Wi Liong menggeleng kepala dengan sedih. "Kau tidak tahu, nona. Siok Lan sudah... sudah tidak ada lagi...."

Eng Lan terkejut. "Masudmu....?"

Wi Liong mengangguk lemah. "Dia sudah meninggal dunia. Berita ini kudengar dari See-thian Hoat ong dan... ah. nona Pui, harap kau jangan membicarakan tentang Siok Lan, tak kuat hatiku....”

Eng Lan menundukkan kepalanya, maklum bahwa tentu telah terjadi hal hebat yang membuat pemuda ini patah hati dan berduka. Ia tidak berani lagi bicara tentang Siok Lan sungguhpun hatinya ingin sekali tahu apa gerangan yang telah terjadi. Setelah beberapa kali bertemu dengan pemuda ini dan menyaksikan sepak terjangnya, Eng Lan menjadi kagum dan hormat sekali kepada Wi Liong yang ia anggap sebagai seorang pendekar sakti yang patut dihormati.

"Nona Pui, aku tadi sengaja menahanmu di sini untuk bicara denganmu tentang... Kun Hong."

Eng Lan mengangkat mukanya yang menjadi pucat, sambil menatap wajah Wi Liong dengan pandang mata tajam. Ia benar terkejut dan tidak menduga bahwa pemuda ini akan bicara kepadanya mengenai Kun Hong. "Aku tidak ada urusan dengan dia!" bantahnya ketus dan muka yang pucat itu segera berubah merah karena marah.

"Hemmm, kulihat kau marah kepadanya. Bagus, memang dia patut sekali menerima kemarahanmu, menerima hukumanmu."

Mendengar ini, Eng Lan seperti mendapat "hati", merasa mendapat kawan yang membenarkannya dalam perselisihannya dengan Kun Hong. Serta-merta air matanya mengalir turun dan ia berkata lirih, "Dia kurang ajar, dia menghinaku! Manusia tak kenal budi itu!"

"Memang... memang Kun Hong amat menyakitkan hatimu, aku tahu sudah, nona Pui. Akan tetapi...."

"Akan tetapi apa lagi? Aku tak dapat mengampunkan dia!" Eng Lan memotong, dapat menduga apa yang hendak dikatakan Wi Liong karena nada suara pemuda itu sudah menyatakan bahwa pemuda ini hendak membantu Kun Hong.

"Aku hanya ingin memberi tahu bahwa belum lama ini aku bertemu Kun Hong, malah kami saling bertempur. Dia... menaruh hati cemburu kepadaku terhadapmu, nona. Itulah kiranya yang membuat dia bersikap tidak layak. Harap kau ingat bahwa semenjak kecil Kun Hong berada dalam asuhan orang orang tidak benar. Akan tetapi dia tidak jahat, hanya tersesat untuk sementara dan kiranya hanya cinta kasihnya yang besar kepadamu yang akan menolongnya. Dia... dia amat cinta kepadamu, nona dan sekarang dia seperti orang gila mencari-carimu. Demi cinta kasih murni, apakah kau tidak mau menemuinya?"

Air mata makin deras mengucur turun dan kedua mata Eng Lan. Ia melompat berdiri dan berkata terisak-isak. "Tidak...! Ti... dak sudi lagi aku....! Dia boleh mampus..!" Setelah berkata demikian ia berlari pergi...

Jilid selanjutnya,