Cheng Hoa Kiam Jilid 34

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Cheng Hoa Kiam Jilid 34
Sonny Ogawa

Cheng Hoa Kiam Jilid 34, karya Kho Ping Hoo - Api kemarahan dalam dada Kui-bo Thai-houw mengurang kobarannya mendengar keterangan ini. "Memang masuk di akal sekali. Tadipun ia melihat pedang itu di tangan Eng Lan. Bagaimana kalau Kun Hong bersekongkol dengan Eng Lan dan sengaja memberikan pedang Cheng-hoa-kiam kepada gadis itu untuk pergi membunuh Wi Liong?

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Tak mungkin. Pertama, apa perlunya membunuh Wi Liong meminjam tangan Eng Lan? Pula, Kun Hong tidak begitu goblok menyuruh Eng Lan melakukan sesuatu di hadapannya. Kalau begitu, lebih tepat keterangan Kun Hong. Pedang Cheng-hoa-kiam bisa jadi sekali dicuri oleh Eng Lan. Ia hampir mempercayai kekasihnya ini dan sudah membayang senyumnya, senyum lega bahwa kekasihnya tidak menghianatinya.

Akan tetapi, Si Hwa yang robohnya tidak terkena totokan melainkan terkena tendangan Kun Hong, masih bisa mengeluarkan suara, "Thai-houw... dia mengambil Im-yang-giok-cu dan Ngo-heng-giok-cu...!"

Api kemarahan yang hampir padam itu berkobar lagi, kelihatan dari sinar mata yang berapi-api. "Kun Hong, apa benar itu?"

Kun Hong tersenyum. Rahasianya sudah ketahuan, tidak ada jalan lain baginya kecuali menentang wanita ini secara berterang. Ia memegang pedang itu lebih erat lagi dan siap sedia menghadapi serangan mendadak yang menjadi kebiasaan wanita itu. "Terpaksa kuambil karena kau sendiri tahu betapa aku amat membutuhkannya untuk mengobati lukaku di dalam tubuh," jawabnya singkat, menanti penuh kewaspadaan.

Kui-bo Thai-houw mengeluarkan suara ketawa merdu tanpa menggerakkan bibir atau membuka mulut. Sungguh mengerikan wanita ini, tertawa seperti itu. Inilah tandanya bahwa dia marah sekali, tanda bahwa maut sedang mengintai korban melalui keganasan wanita ini.

"Kau mengambil pedang dan batu-batu kemala masih bisa diampuni, akan tetapi penipuan dan penghianatanmu kepadaku hanya dapat ditebus dengan nyawa. Kun Hong, keluarkan benda-benda itu dari saku bajumu!"

"Menyesal tak dapat kukembalikan, Thai-houw, karena aku membutuhkannya sekali."

"Aku bicara sebagai ibu angkatmu!"

"Kau yang mengangkatku sebagai anak angkat, akan tetapi aku taik pernah mengangkatmu sebagai ibu."

"Keparat! Apa kau tidak ingat akan hubungan kita? Kau tak kenal budi!"

"Kau yang menjadikan aku kekasihmu, aku terpaksa dan hanya melayani kehendakmu."

"Bedebah! Kau tidak mau menurut? Aku gurumu!"

"Seorang guru tentu akan membela muridnya, apalagi melihat murid terancam maut. Kau malah mengulur-ulur waktu tidak mau mengobatiku. Kau bukan guruku dan aku tak pernah mengangkatmu sebagai guru."

"Bocah kurang ajar! Kau mengandalkan apa? Mampuslah!" Kui-bo Thai-houw yang sudah kehabisan kesabarannya mencelat maju, tangan kanannya bergerak memukul dan tangan kirinya menggerakkan tali ikat pinggangnya yang sudah terkenal amat lihai itu.

Inilah serangan luar biasa yang sudah merampas jiwa entah berapa banyak musuh. Pukulan tangan kanannya itu halus dan tidak terasa ada angin pukulannya, akan tetapi dari jarak jauh sudah cukup kuat untuk mencabut nyawa lawan! Jangan lupa lagi serangan tali ikat pinggang itu.

Tali itu kecil panjang dan mengeluarkan suara bercuit, melengking tinggi ketika menyambar ke arah jalan darah kematian di leher Kun Hong, melebihi bahayanya serangan seekor ular terbang yang berbisa. Sekali ujung tali ini mengenai sasaran, betapapun pandai lawan, jangan harap bisa hidup lagi. Jalan darah akan putus, urat terpenting akan hancur sehingga darah akan merembes ke dalam kepala secara liar dan sekaligus mematikan lawan!

Baiknya Kun Hong sudah siap sedia dan bersikap waspada serta hati-hati sekati. Ia sudah lama hidup perdekatan dengan wanita ini, sudah banyak ia menyaksikan wanita ini membunuh lawannya dengan serangan-serangan serentak dan tiba-tiba. Sudah banyak pula ia mempelajari ilmu silat tinggi dari Kui-bo Thai-houw, maka gerak-gerik wanita ini sudah dikenalnya baik-baik.

Melihat Kui-bo Thai-houw bergerak tadi, ia sudah menduga bahwa wanita itu tentu menyerangnya dengan pukulan tangan kanan yang disebut Thian-li-toat-beng (Bidadari Mencabut Nyawa) sedangkan ia yang sudah mempelajari ilmu silat dengan tali ikat pinggang secara mendalam, tahu bahwa serangan ikat pinggang yang talinya panjang itu tentu mengarah jalan darah di lehernya.

Oleh karena sudah dapat menduga lebih dulu. maka cepat-cepat Kun Hong melompat ke kiri, cukup jauh untuk menghindarkan hawa pukulan Thian-li-toat-beng sambil menggerakkan pedang di tangannya untuk menangkis ujung tali yang mengejarnya dengan titik serangan tidak berobah.

Betapapun juga, ketika pedang bertemu dengan ujung tali. Kun Hong merasa seluruh lengan tangannya tergetar hebat dan ujung tali itu secara lihai sekali tahu-tahu sudah melibat pedangnya dan terjadilah perebutan pedang antara Kui-bo Thai-houw dan Kun Hong. Tarik-menarik sambil mengerahkaan lweekang.

Kun Hong makin lama makin menggigil kedua kakinya dan tangan yang memegang gagang pedang sudah gemetar, sedangkan Kui-bo Thai-houw masih berdiri tegak dengan bibir tersenyum mengejek. Tahulah Kun Hong bahwa kalau sampai pedang itu terlepas dari pegangannya, celakalah dia, berarti nyawanya akan putus oleh serangan berikutnya dengan tali ikat pinggang itu!

Maka ia mengerahkan seluruh tenaga dan menahan napas, menyatukan semangatnya. Dengan perlawanan yang gigih ini tidak mudah juga bagi Kui-bo Thai-houw untuk merampas pedang.

Kui-bo Thai-houw makin marah karena penasaran. Ia mengeluarkan suara menjerit nyaring dan tinggi, tangan kirinya digunakau untuk mendorong ke arah dada Kun Hong dengan pukulan lweekang jarak jauh yang amat kuat!

Kun Hong terkejut sekali. Tak disangkanya bahwa wanita itu ternyata belum menghabiskan seluruh tenaganya untuk merampas pedang sehingga masih sanggup melakukan pukulan hebat itu dengan tangan kiri. Terpaksa ia pun mengangkat tangan kirinya untuk menangkis. Tentu saja gerakan ini mengurangi tenaganya sehingga kuda-kuda kakinya tergempur membuat tubuhnya doyong ke depan.

Kui-bo Thai-houw tertawa mengejek dan menarik tali ikat pinggangnya lebih kuat. Makin doyong saja tubuh Kun Hong dan kini dapat dipastikan bahwa tak lama lagi pemuda ini tentu akan menyerah kalah.

Pada saat itu muncullah Wi Liong yang berlari-lari membawa Cheng-hoa-kiam. Melihat keadaan Kun Hong yang nyawanya terancam Kui-bo Thai-houw, tahulah Wi Liong bahwa sangkaannya tadi ternyata betul. Kun Hong hanya bersandiwara di depan wanita itu, pura-pura tunduk dan membalas cinta kasihnya, akan tetapi sebetulnya pemuda itu menanti saat baik untuk memberontak, untuk mencari obat dan membebaskan kawan-kawannya.

Biarpun ia tidak setuju sama sekali akan taktik Kun Hong yang tidak gagah dan memalukan itu, namun karena melihat Kun Hong terancam, ia menjadi tidak tega. Bagaikan kilat menyambar, tubuhnya melesat dan pedang Cheng-hoa-kiam membabat tali ikat pinggang yang masih menarik pedang Kun Hong.

"Tinggg....!" Kui-bo Thai-houw menjerit kecil, tubuhnya terhuyung ke belakang dan tali ikat pinggangnya ia tarik kembali. Pada saat itu Kun Hong yang tiba-tiba terlepas, hampir jatuh tersungkur ke depan kalau ia tidak cepat-cepat memutar tubuh dan berjumpalitan.

Akan tetapi Kui-bo Thai-houw menggunakan kesempatan ini untuk mengirim serangan dengan tali ikat pinggangnya, menyambarlah senjata maut itu ke arah kepala Kun Hong yang sedang berjungkir balik dan tidak berdaya menangkis itu.

Lagi-lagi Wi Liong yang menggerakkan Cheng-hoa-kiam menangkis. Baru sekarang Kui-bo Thai-houw terkejut bukan main. Tadi memang Cheng-hoa-kiam di tangan pemuda itu dapat melepaskan ikatan tali pinggangnya, akan tetapi ia mengira bahwa hal itu dapat terjadi karena tenaga pemuda ini tergabung dengan tenaga Kun Hong maka begitu kuat.

Sekarang, senjatanya bertemu dengan senjata Wi Liong itu tanpa bantuan dan ia merasa telapak tangannya tergetar dan tali ikat pinggangnya membalik cepat. Tentu saja hal ini tidak disangkanya sama sekali. Kiranya pemuda ini memiliki kepandaian yang tidak kalah oleh Kun Hong, bahkan tenaga dalamnya agaknya lebih unggul.

"Bagus, ternyata ikan yang kutangkap memiliki kepandaian juga. Biar kubunuh kau lebih dulu sebelum kumampuskan Kun Hong!" Dengan penasaran sekali Kui-bo Thai-houw menyerang Wi Liong dengan senjatanya yang istimewa.

Wi Liong menangkis tenang sambil berkata, "Kui-bo Thai-houw, sekarang kita berhadapan seorang lawan seorang di daratan. Keluarkanlah semua kepandaianmu, aku mana takut padamu!"

"Wi Liong, jangan takut. Aku membantumu. Mari kita basmi siluman betina jahat ini!" kata Kun Hong gembira. "Sulingmu juga sudah kurampas kembali, terimalah!"

Memang tadi ketika memasuki kamar Kui-bo Thai houw, Kun Hong melihat suling yang menjadi senjata Wi Liong terletak di atas meja. Ia menyambar suling itu dan menyelipkannya di pinggang karena memang ia bermaksud mengajak Wi Liong menggempur Kui-bo Thai-houw yang lihai.

Melihat sulingnya dilemparkan kepadanya, Wi Liong cepat menyambarnya. Biarpun ia sudah memegang Cheng-hoa-kiam, namun baginya lebih enak bersenjatakan sulingnya itu. "Kun Hong... tak usah kau membantuku. Lebih baik kau pergi menolong kawan-kawan yang kini sedang ditolong oleh Eng Lan," kata Wi Liong yang mengkhawatirkan keselamatan Eng Lan.

Mendengar ini, kembali terasa tak enak di hati Kun Hong, tak enak karena cemburu. Kini ia dapat menduga bahwa pedangnya tentu dicuri oleh Eng Lan dan gadis itulah kiranya yang membebaskan Wi Liong. Kalau tidak demikian, bagaimana Cheng-hoa-kiam bisa berada di tangan Wi Liong dan pemuda itu tahu pula bahwa Eng Lan pergi menolong orang-orang yang tertawan?

Wi Liong gagah perkasa dan tampan, tidak kalah olehnya, bukan hal tak mungkin kalau Eng Lan tertarik hatinya. Biarpun hatinya tidak enak sekali, akan tetapi mendengar bahwa Eng Lan pergi seorang diri menolong mereka yang tertawan, ia merasa khawatir juga dan cepat ia pergi tinggalkan tempat itu menyusul Eng Lan.

Kui-bo Thai-houw gemas sekali melihat Kun Hong pergi membawa dua buah batu kemalanya berikut pedangnya, akan tetapi ia tidak berdaya mencegah Pemuda yang menghadapinya ini benar benar tangguh. Apa lagi sekarang dengan suling ditangan kiri, pemuda ini benar-benar merupakan lawan yang tak boleh dipandang ringan sama sekali.

Kui-bo Thai-houw mengerahkan tenaga dan mengeluarkan kepandaiannya. Tali ikat pinggangnya masih melayang-layang mencari sasaran maut, tangan kakinya juga menyerang dengan serangan-serangan luar biasa. Jarang ada lawan dapat menahan hujan serangan yang kesemuanya merupakan tangan tangan maut yang menjangkau mencari korban itu.

Akan tetapi serangan-serangan yang datangnya seperti hujan ini dan sekaligus secara bertubi-tubi tidak kurang dan tigapuluh enam jurus serangan yang tidak pernah putus dengan amat indah dan cepatnya dapat dilayani dan dipunahkan oleh Wi Liong! Bukan main kagetnya hati Kui-bo Thai-houw. Belum pernah selama hidupnya ia berhadapan dengan pemuda segagah ini. Hampir tidak percaya kalau bukan dia sendiri yang mengalaminya.

Pukulan-pukulan dengan hawa lweekang yang sangat dahsyat ternyata dapat dilawan oleh dorongan pemuda itu dengan hawa lweekang yang sama kuatnya! Ia memperhatikan gerak-gerik pemuda itu, dari pergeseran kaki sampai pergerakan lengan dan pundak. Tiba-tiba Kui-bo Thai-houw melompat mundur dan menarik kembali tali pinggangnya. Mukanya menjadi merah sekali, membuat ia kelihatan makin muda dan cantik.

"Kau... murid Thian Te Cu kenapa datang menggangguku? Thian Te Cu sendiri tak pernah memusuhiku! Apakah... Thian Te Cu menyuruh kau datang untuk menghinaku?"

Dan aneh sekali, Wi Liong melihat dua butir air mata melompat keluar dari sepasang mata itu, membasahi pipi! Kui-bo Thai-houw mengeluarkan air mata. Wi Liong menjadi tidak enak sekali. Tak disangkanya bahwa agaknya wanita ini kenal baik dengan suhunya.

Malah melihat gelagatnya, agaknya dahulu ada terjadi sesuatu antara suhunya dan Kui-bo Thai-houw. Celaka kalau sampai nama gurunya terbawa-bawa dalam urusan ini, padahal gurunya tidak tahu-menahu tentang penyerbuannya ke Ban-mo-to ini.

"Aku memang murid beliau, akan tetapi suhu tidak turut campur dengan kedatanganku di pulau ini. Seperti sudah kukatakan kepadamu, Kui-bo Thai-houw, kedatanganku adalah untuk minta kau bebaskan nona Pui Eng Lan. Apa lagi sekarang kulihat kawan-kawanku, Pak-thian Koai-jin, See-thian Hoat-ong dan puteranya. Juga kabarnya Thai It Cinjin dan kedua orang satenya, semua kau tahan. Harap kau suka melepaskan mereka.''

Kui bo Thai-houw menarik napas panjang, agaknya lega mendengar bahwa pemuda ini datang bukan atas perintah Thian Te Cu. "Akupun dapat menduga, tak mungkin dia mau menyerangku. Kau ini bocah memang kurang ajar sekali. Eng Lan dan yang lain-lain tidak diganggu, malah sekarang tentu sudah bebas dibantu oleh anjing penghianat Kun Hong itu. Mengapa kau masih ribut-ribut di sini? Apakah kau begitu sombong hendak mencoba kepandaianku? Awas, bocah muda, jangan membikin aku marah dan lupa bahwa kau murid Thian Te Cu!"

Wi Liong sadar. Tadinya ia melawan Kui-bo Thai-houw hanya dengan maksud membantu dan menolong Kun Hong, kemudian memberi kesempatan kepada Kun Hong untuk menolong yang lain-lain maka ia menahan Kui-bo Thai-houw agar tidak mengejarnya. Sekarang wanita ini agaknya sudah rela membiarkan semua orang terlepas, maka perlu apa dia mendesak terus?

Harus diakui bahwa kepandaian wanita ini lihai dan berbahaya sekali dan ia sama sekali tidak berani memastikan apakah kalau pertandingan dilanjutkan ia akan bisa menang. Wi Liong lalu menjura dan berkata halus,

"Terima kasih kalau kau sudah rela membebaskan semua tawananmu. Akupun orang muda mana berani berlaku kurang ajar di tempat orang? Kui-bo Thai-houw, harap kau maafkan aku dan selamat tinggal." Setelah berkata demikian. Wi Liong melesat pergi.

"Tunggu saja sampai pertemuan puncak di Pek-go-to pada musim chun mendatang!" Kui-bo Thai-houw berkata lirih, penuh kegemasan dan penasaran. Masa dia tidak dapat menangkan murid Thian Te Cu? Kalau ia kalah terhadap Thian Te Cu, hal itu tidak memalukan benar. Akan tetapi terhadap muridnya yang masih begitu muda? Ia penasaran sekali.

"Aku perlu memperkuat diri, perlu memperdalam kepandaian. Usiaku belum terlalu tua. Aku bisa lebih maju untuk menghadapi pertemuan puncak," Demikian katanya kepada diri sendiri dan pikiran serta semangat ini membuat ia agak terhibur dari kehilangan senjata pedang dan dua buah batu kemalanya.

Wi Liong berlari cepat sekali menuju ke pantai. Ia hendak melihat dulu apakah betul Eng Lan dan yang lain-lain sudah bebas. Ia masih khawatir kalau- kalau ia ditipu oleh Kui-bo Thai-houw. Selagi ia berlari lari, tanpa disengaja ia melalui sebuah tanah pekuburan.

Inilah tanah kuburan di pulau itu, dan di sinilah dikuburnya orang-orang yang mati di Pulau Ban-mo-to, baik karena sakit karena tua maupun karena terbunuh oleh Kui-bo Thai-houw. Akan tetapi sebagian besar di antara mereka adalah korban-korban keganasan Kui-bo Thai-houw!

"Wi Liong, berhentilah kau!" tiba-tiba terdengar bentakan keras dan seorang pemuda yang membawa pedang muncul menghadang. Dia ini bukan lain adalah Kun Hong!

Melihat Kun Hong, dagu Wi Liong mengeras dan ia memandang tajam, berdiri tegak akan tetapi sikapnya tenang. "Kun Hong, kau masih di sini? Di mana yang lain-lain? Apakah mereka sudah dibebaskan semua?"

"Mereka sudah pergi meninggalkan pulau ini!" jawab Kun Hong singkat dan mata pemuda ini mengincar ke arah Cheng hoa kiam di tangan kiri Wi Liong, mulutnya cemberut dan ia nampak marah dan mendongkol.

"Kau mau apakah? Mengapa kau tidak ikut pergi dan apa maksudmu menghadangku di sini?" tanya Wi Liong penuh selidik.

Untuk beberapa lama Kun Hong tidak menjawab. Tiba-tiba ia membentak, "Kembalikan Cheng-hoa-kiam kepadaku!"

Wi Liong tersenyum dingin. "Kaulah yang harus mengembalikannya kepadaku. Ingat, kau mencuri pedang ini dari Wuyi-san."

"Kau harus merampasnya kembali dari tanganku, bukan mendapatkan kembali begitu mudah!" kembali Kun Hong membentak marah.

Wi Liong tetap tenang. "Kau mau menang sendiri saja, Kun Hong. Pendeknya, Cheng-hoa-kiam tidak akan terlepas lagi dari tanganku. Kau mau apa!"

"Aku harus mendapatkannya kembali!" Setelah berkata begini Kun Hong lalu menubruk maju, menyerang dengan pedangnya, pedang rampasan atau pedang curian dari kamar Kui-bo Thai-houw.

Pedang inipun bukan pedang sembarangan melainkan sebatang pedang pusaka yang ampuh. Maka ketika Wi Liong menangkiskan Cheng-hoa-kiam untuk merusak pedang Kun Hong itu, hanya terdengar suara nyaring disusul muncratnya bunga api, akan tetapi kedua pedang itu tidak ada yang rusak.

"Kau sendiri sudah mempunyai pedang baik, mengapa masih menginginkan milik orang lain orang?" Wi Liong mencela Kun Hong, diam-diam kagum juga melihat keampuhan pedang di tangan Kun Hong itu.

Akan tetapi Kun Hong tidak perduli lagi. Cepat dan antep dia menyerang lagi, mengerahkan tenaga dan mengeluarkan kepandaiannya, ia tidak hanya ingin merampas pedang, akan tetapi ia ingin mencoba kepandaiannya yang sudah digembleng lagi oleh Kui-bo Thai-houw itu untuk melawan musuh lamanya ini.

Pertandingan berlangsung seru dan ramai sekali. Wi Liong selalu mengalah dan untuk menjaga agar jangan sebuah di antara dua pedang pusaka itu rusak, ia menghadapi pedang Kun Hong dengan suling di tangan kanannya. Ia kaget menyaksikan keganasan ilmu pedang Kun Hong dan maklumlah ia bahwa pemuda murid Thai Khek Sian ini benar-benar telah mendapatkan banyak kemajuan dan ilmu pedang yang sudah ganas itu menjadi lebih keji lagi kini.

Tentu telah menerima latihan-latihan dari Kui bo Thai-houw, pikirnya. Menghadapi Kun Hong, Wi Liong tidak bisa enak-enakan saja. Iapun terpaksa harus mengerahkan seluruh kepandaiannya agar jangan sampai celaka dalam tangan pemuda aneh ini.

Setelah seratus jurus lewat, ketika pedang Kun Hong menusuk dadanya, Wi Liong menggunakan tenaga lweekang tinggi untuk menempel pedang itu dengan suling, menindihnya ke bawah, lalu membentak dengan suara keren, "Kun Hong, apa kau hendak mengadu nyawa karena Cheng-hoa kiam?"

Lengan tangan kanan Kun Hong yang memegang gagang pedangnya menggigil. Harus ia akui bahwa ia kalah tenaga oleh Wi Liong dan hal ini karena dia tidak pandai menjaga diri, tidak kuat mengekang nafsu seperti Wi Liong. Akan tetapi dia tidak mau kalah, malah dengan cemberut ia membentak kembali,

"Kau menggoda Eng Lan!!" Seruan ini membuat Wi Liong demikian kaget dan heran sehingga tenaganya agak mengendur.

Kun Hong cepat merenggut pedangnya terlepas dan dengan marah membacok kepala Wi Liong. Wi Liong sigap miringkan tubuh. Pedang Kun Hong menyabet bongpai (batu nisan) sebuah kuburan dan sebelum ia sempat menarik kembali pedangnya, lagi-lagi suling Wi Liong sudah menindih pedang itu.

"Kun Hong, jangan kau gila. Apa maksudmu dengan menggoda Eng Lan?"

"Kau memutuskan hubungan dengan Siok Lan karena kau mencinta Eng Lan!"

Lagi-lagi ucapan ini membuat Wi Liong kaget dan tenaganya berkurang sehingga Kun Hong dapat menarik pedangnya lalu langsung menusuk perut Wi Liong. Wi Liong menjadi marah sekali mendengar fitnah keji itu. Ia menyampok pedang lawan sekuatnya sehingga pedang itu hampir saja terlepas dari tangan Kun Hong.

"Gila kau! Jadi kau.... kau cemburu....? Apa buktinya? Apa buktinya aku menggodanya? Hayo bicara dulu jangan mengamuk seperti kerbau gila!"

"Buktinya? Dia sudah mengambil pedangku dan selain digunakan untuk mengeluarkan kau dari jaring juga ia memberikan pedang Cheng-hoa-kiam kepadamu. Dahulu pun dia bersama kau menjadi tawanan Ngo-tok-kauw, kemudian sikapnya terhadapku menjadi tawar, malah tadi ia marah-marah karena aku meninggalkanmu seorang diri menghadapi Kui-bo Thai-houw dan sekarang ia pergi meninggalkan aku dengan marah dan benci. Mana bisa Eng Lan-ku yang dulu amat menyintaku sekarang berobah begitu kalau tidak kau ganggu?"

Wi Liong tertawa, suara ketawa kering untuk memperlihatkan kegemasan hatinya, tertawa mengejek dan merendahkan Kun Hong. "Kau pemuda gila, kau manusia picik dan rendah budi. Ah, alangkah rendahnya budimu, alangkah bodoh dan buta matamu. Kun Hong, lebih baik kau cokel ke luar dua biji matamu itu, karena percuma saja kau bermata akan tetapi lebih buta dari pada orang tak bermata.

"Kau keji sekali, menuduh yang bukan-bukan kepada Eng Lan. Apa kau tahu bagaimana gadis itu mati-matian menyeret gurunya menyerbu Ngo-tok-kauw, semata-mata untuk mencari Im-yang-giok cu, semata-mata untuk mengobatimu karena ia mencintamu? Setan hina, apa kau tidak melihat betapa setelah melihat kelakuanmu yang menjemukan dan yang kotor di pulau ini, setelah ia melihat kau menjadi kekasih dan anjing Kui-bo Thai-houw.

"Setelah kau menyakitkan hatinya seperti itu, ia toh masih tidak tega meninggalkanmu di sini, seorang diri? Ia masih setia, rela menjadi tawanan di sini, semata-mata karena ia ingin selalu dekat denganmu? Semua itu ia lakukan, ia gadis suci murni itu, yang cinta kasihnya suci murni pula, semua ia lakukan untukmu yang ternyata malah membalasnya dengan fitnah keji, kau tuduh yang bukan-bukan dengan aku. Ooh.... alangkah rendahnya kau ini!"

Kun Hong terduduk tanpa merasa. Terduduk dengan muka pucat seperti mayat. Pedang di tangannya gemetar, matanya membelalak memandang Wi Liong, bibirnya menggigil pucat tanpa kuasa mengeluarkan suara, hidungnya kembang kempis dan air matanya mengalir turun membasahi kedua pipinya yang pucat. Akhirnya setelah beberapa kali membuka mulut tanpa bisa mengeluarkan suara, ia dapat juga berkata dengan suara parau dan lirih,

"Wi Liong.... demi lblis neraka.... Wi Liong... betulkah semua omonganmu itu...?”

"Selama hidupku belum pernah aku memaki dan menyumpah seperti sekarang ini, belum pernah aku marah dan gemas kepada orang lain seperti kepadamu sekarang ini, Ahhhh, alangkah inginnya aku memancungkan pedang ini pada lehermu, alangkah inginnya aku meremukkan kepalamu dengan sulingku ini."

Kun Hong tak kuat lagi menahan keharuan dan kesedihan hatinya. Ia menjatuhkan diri berlutut menciumi tanah merenggut rumput-rumput. "Lakukanlah Wi Liong... lakukanlah... bunuh saja orang keji ini... supaya iblis jahat pergi dari hatiku...."

Kun Hong menangis seperti anak kecil! Hatinya penuh penyesalan, teringat akan apa yang baru saja terjadi antara dia dan Eng Lan. Tadi setelah ia mendengar dari Wi Liong bahwa Eng Lan pergi hendak membebaskan para tawanan, ia cepat mengejar dan menyusul. Benar saja, ia melihat Eng Lan tengah dikeroyok oleh para pelayan dan berada dalam bahaya. Ia segera membentak para pelayan yang segera mundur karena mereka ini sebagian besar sudah mengenalnya.

"Mengapa kau menyusul ke sini? Mana saudara Wi Liong?" tanya Eng Lan wajar karena dalam keadaan tegang itu ia untuk sementara melupakan kemarahan kepada Kun Hong.

Dada Kun Hong makin panas karena begitu bertemu, gadis ini terus saja menanyakan Wi Liong. "Dia bertempur melayani Kui-bo Thai-houw," jawabnya singkat sambil berlari memasuki ruangan di bawah tanah, tempat para tawanan.

"Dan kau biarkan dia menghadapi Kui-bo Thai-houw seorang diri? Tidak kau bantu? Benar-benar kau keterlaluan!"

Mendengar ucapan marah dari gadis ini, rasa cemburu di hati Kun Hong menjadi berkobar dan pemuda ini tak dapat mengendalikan diri lagi. Ia tidak jadi memasuki tempat tahanan, malah melompat kembali menghadapi Eng Lan yang berdiri dengan penuh kekhawatiran untuk keselamatan Wi Liong.

"Mengapa aku harus membantunya?" tanyanya ketus sambil menatap wajah Eng Lan dengan hati panas.

"Mengapa katamu?" Eng Lan juga membentak marah. "Tentu saja kau harus membantunya, ataukah kau memang sengaja meninggalkannya supaya ia celaka di tangan Kui-bo Thai-houw ke-Cintaanmu itu?"

"Biar dia mampus! Kau perduli apa sih? Hemmm, tahulah aku, Eng Lan. Tahulah aku sudah akan isi hatimu. Tak perlu kau bicara lagi." Muka Kun Hong menjadi kejam dan biarpun pemuda ini menahan-nahannya. namun iblis di dalam hatinya mendesak terus, membuatnya tak berdaya menahan mulut yang bicara terus, mengeluarkan kata-kata keji sekali.

"Aku mati-matian mencari obat, berjuang untuk memperpanjang hidup, semua kulakukan dengan harapan kelak bisa hidup bahagia denganmu... dengan kau yang kukira gadis tunggal yang benar-benar mencintaku dengan suci, yang kukira gadis yang patut dijunjung tinggi, patut kucinta dan kupuja melebihi jiwaku sendiri... Eng Lan, tidak tahunya sepeninggalku kau ternyata sama busuknya dengan wanita-wanita yang pernah kukenal.

"Sama busuknya dengan pelayan-pelayan Kui-bo Thai-houw, malah lebih busuk dari pada mereka karena mereka itu sedikitnya tidak pura-pura suci seperti kau! Kau berdua dengan Wi Liong, tertawan berdua di Ngo-tok kauw. Kau membelanya di pulau ini, lebih mementingkan dia dari pada aku. Sekarang pula...!"

"Plakk...!!" Eng Lan menampar pipi Kun Hong sambil memekik dengan muka pucat sekali, "Tutup mulutmu, jahanam!"

Akan tetapi Kun Hong seperti sudah kemasukan iblis Ban-mo-to. Ia ditampar tidak menangkis, malah tertawa terbahak lalu sekali renggut ia telah dapat memeluk pinggang gadis itu. "Kau manis, memang...! Sampai sekarangpun aku masih suka padamu, suka pada wajahmu yang manis, pada matamu yang berapi-api. Pada bibirmu yang merah dan lembut.

"Akan tetapi aku suka padamu seperti aku suka wanita-wanita lain. Ha-ha, Pui Eng Lan, kau dan aku sama. Aku suka padamu seperti aku suka pelayan-petayan Kui bo Thai-houw, dan kau suka padaku seperti kau suka kepada Wi Liong dan mungkin laki-laki lain lagi...!" Ia memeluk dan menciumi gadis itu dengan kasar.

Eng Lan hampir pingsan. Untuk sejenak ia terlampau kaget untuk dapat bergerak dan ia meramkan mata hampir pingsan ketika Kun Hong menciuminya. Kemudian ia teringat akan harga dirinya. Ia sekuat tenaga memberontak terlepas dari pelukan Kun Hong, tak kuasa membuka mulut, tak kuasa menyerang. Begitu marah dia. Lalu dengan isak tertahan gadis itu lari meninggalkan Kun Hong!

Kun Hong tidak perduli lagi, tertawa-tawa dan memasuki ruangan bawah tanah. Ia merusak pintu-pintu kamar tahanan dengan pedangnya dan membebaskan Pak-thian Koai-jin. Thai It Cinjin. Im-yang Thian-cu, See-thian Hoat-ong, dan Kong Bu tanpa bicara apa-apa. Mereka semua memandang pemuda yang pucat dan membisu itu dengan terheran-heran.

"Kau malah yang membebaskan kami!" Pak-thian Koai-jin berkata, agak terkejut juga. "Dan di mana muridku, Eng Lan?"

Tanpa menoleh Kun Hong menjawab, "Sudah pergi lebih dulu dari pulau ini."

Ketika semua orang menyerbu keluar. Kun Hong mengikuti mereka dari jauh. Ia masih belum tahu hendak bagaimana, pikirannya kosong dan hatinya sedih sekali. Betapapun juga, biarpun ia menghibur hatinya dengan kata-kata sendiri bahwa di dunia ini masih banyak wanita lain, bahwa gadis seperti Eng Lan yang tidak setia itu tak perlu dipikirkan lagi, namun seperti tak disengaja kedua kakinya bergerak sendiri mengikuti orang-orang itu yang melarikan diri ke pantai.

Kong Bu yang larinya paling belakang karena pemuda ini masih bingung hendak bertanya tentang obat baginya, ketika melihat Kun Hong berjalan di belakangnya lalu berhenti dan berkata ramah, "Saudaraku, ternyata kau seorang sahabat baik yang menolong kami juga. Aku sangat bersyukur kepadamu. Apakah sekarang kaupun hendak pergi bersama kami?"

Kun Hong menggeleng kepala, matanya mencari-cari karena ia tidak melihat bayangan Eng Lan. Lalu ia teringat dan merogoh sakunya, mengeluarkan Ngo-heng-giok-cu yang menghias kepala tongkat yang sudah potong, yaitu tongkat Ngo tok-kauw, memberikannya kepada Kong Bu. "Lukamu karena Hek-tok sin-ciang tidak berat. Akan tetapi kalau diobati dengan ini akan lebih cepat sembuhnya. Kau pergilah."

Melihat air muka Kun Hong yang pucat dan aneh, Kong Bu tidak berani banyak cakap lagi. Ia menerima tongkat potong itu dan menghaturkan terima kasih lalu berlari menyusul ayahnya dan yang lain-lain.

Sampai di pantai, Kun Hong terus mengikut mereka. Ia melihat Pak-thian Koai-jin menangkap seorang penjaga pantai dan mengancam, "Apa kau tadi melihat nona Eng Lan? Hayo bilang terus terang agar aku tak usah menggunakan kekerasan."

"Dia sudah pergi, naik sebuah perahu...” jawab penjaga itu.

Jawaban ini diterima dengan hati lega oleh Pak-thian Koai-jin dan kawan-kawannya, akan tetapi dengan hati kosong dan semangat layu oleh Kun Hong. Benar-benar Eng Lan sudah pergi dan ia tidak akan melihat bayangannya lagi. Dari sedih ia menjadi benci dan marah, bukan kepada Eng Lan melainkan kepada Wi Liong!

Inilah yang menyebabkan ia menanti Wi Liong dan sengaja mengajak Wi Liong berkelahi mati-matian, sebetulnya sama sekali bukan Cheng-hoa-kiam yang menjadi sebab utama, melainkan Eng Lan! Demikianlah dengan hati remuk dan perasaan menyesal kepada diri sendiri, Kun Hong menangis setelah mendengar ucapan Wi Liong yang membuka matanya.

Wi Liong yang masih berdiri, terharu juga biarpun ia masih marah kepada Kun Hong. Terkenanglah ia akan pengalamannya sendiri, akan cinta kasihnya yang gagal bersama Siok Lan. la melihat bayangan asmara yang gagal dan remuk pula di depan mata, asmara antara Eng Lan dan Kun Hong.

Hatinya menjadi terharu dan tidak tega. Ia sendiri sudah merasai betapa pahitnya, betapa sengsaranya menderita patah hati dan ia tidak mau melihat lain orang menderita seperti dia. Perhubungan.Kun Hong dan Eng Lan masih dapat diperbaiki, kalau Kun Hong memang dapat memperbaiki kelakuannya. Ia dapat menduga betapa besarnya cinta kasih Eng Lan kepada Kun Hong, sebesar cinta kasih Siok Lan kepadanya.

Dan sekarang ia dapat melihat pula bahwa Kun Hong sebetulnya amat mencinta Eng Lan, kalau tidak demikian, tidak nanti pemuda ini sekarang menderita penyesalan hebat seperti ini, sampai menangis tersedu-sedan seperti anak kecil!

"Apa artinya kau menangis seperti anak kecil di depanku? Semua salahmu sendiri, karena kau tidak bisa menjaga diri, tidak bisa menahan nafsu, karena kau pemuda lemah, pemuda mata keranjang dan cabul. Kau minta ampun kepadaku, apa artinya? Bodoh, kenapa tidak minta ampun kepada Eng Lan, menyusulnya cepat-cepat sebelum ia pergi terlalu jauh dan sukar disusul lagi? Benar bodoh!"

Mendengar ini, Kun Hong seperti baru sadar dari tidurnya. Ia melompat bangun dan dengan mata merah dan muka pucat ia memandang Wi Liong. "Apa.... apa kau kira... dia akan sudi mengampuniku...?"

"Cintanya suci, tidak seperti cinta kasihmu yang kotor dan palsu."

"Terima kasih!" Kun Hong berlari cepat sekali, menuju ke tempat perahu. Bagaikan dikejar setan ia melompat ke sebuah perahu dan mendayungnya cepat-cepat menuju ke pantai daratan Tiongkok untuk mengejar kekasihnya yang telah ia sakiti hatinya. Kalau ia teringat betapa tadi ia memperlakukan Eng Lan, tidak saja mengeluarkan kata-kata menghina sekali akan tetapi juga memeluk dan menciumi gadis itu seperti laku orang edan, mau ia memukul rusak mukanya sendiri.

"Eng Lan.... Eng Lan... tunggu...!" keluhnya dalam hati.

Sementara itu, dengan mata basah karena terharu sekali melihat keadaan orang yang menderita karena cinta kasih seperti pernah ia derita. Wi Liong berdiri tegak memandang ke arah perginya perahu. Kemudian iapun menyusul dan mendayung sebuah perahu kecil yang diambilnya dari banyak perahu di tepi pulau itu.

"Semoga mereka itu dapat bertemu dan berbahagia kembali," bisiknya dan terbayanglah wajah Siok Lan di depan matanya, membuat hati Wi Liong menjadi berduka sekali.

Kota An-king di Propinsi An-hui adalah sebuah kota yang ramai dan cukup besar. Sungai Yang-ce-kiang mengalir di pinggir kota sebelah selatan dan sungai ini merupakan jalan hubungan yang amat penting bagi An-king. Barang-barang dagangan yang keluar masuk kota itu banyak melalui sungai sehingga setiap hari permukaan air sungai di kota itu penuh dengan perahu-perahu hilir-mudik.

Di kotanya sendiri juga amat ramai. Banyak pedagang dan pelancong memenuhi hotel-hotel dan restoran-restoran. Karena letaknya kota ini di tengah-tengah, maka orang-orang yang nampak di kota inipun campur-aduk. Banyak juga orang-orang utara berada di situ, yang dapat dikenal dari langgam bicara mereka.

* * *

Pada masa itu, di mana setiap saat dirasakan hawa ancaman dari bala tentara Mongol yang masih sibuk dengan penyerbuan ke dunia barat, banyak orang pergi keluar rumah membawa senjata. Banyak pula orang-orang kangouw di kota ini, sehingga tidak menjadi aneh lagi kalau orang melihat orang-orang berpakaian ahli silat membawa-bawa pedang di punggung atau pinggangnya, malah banyak juga wanita-wanita, gadis-gadis cantik, berpakaian ringkas dan di pinggang mereka tergantung pedang atau golok.

Hari itu restoran Hok-lo yang merupakan restoran besar dan selalu penuh tamu di An-king, tidak begitu ramai. Meja-meja banyak yang kosong dan hanya ada empat lima meja yang dihadapi tamu-tamu. Sebabnya adalah karena pagi hari itu hujan turun rintik-rintik membuat orang orang segan keluar rumah. Pelancong-pelancong dan pedagang-pedagang juga segan meninggalkan kamar hotel, hawa begitu dingin dan jalan agak becek.

Di meja yang letaknya paling depan duduk dua orang menghadapi meja dan hidangan. Mereka ini makan minum sambil mengobrol dan melihat-lihat keluar, ke jalan raya di depan restoran Hok-lo. mentertawakan orang-orang yang tergesa-gesa berjalan menempuh hujan.

Mereka adalah seorang gadis cantik sekali, masih muda remaja dengan sikapnya yang lincah kenes menarik hati, dan seorang pria gemuk bertopi sutera berkumis kecil. Gadis itu paling banyak baru delapanbelas tahun usianya, cantik dan manis akan tetapi sepasang mata yang indah itu kadang-kadang kelihatan berapi dan alis yang lentik itu kadang-kadang dikerutkan, membayangkan watak yang keras.

Pakaiannya ringkas sederhana, akan tetapi tidak menyembunyikan keayuannya, malah membuat ia makin jelita. Sebatang pedang panjang tergantung di pinggangnya dan ini membuat ia kelihatan gagah sehingga mata laki-laki tidak begitu berani berterang memandang dan mengagumi kecantikannya.

Adapun laki-laki itu. biarpun tubuhnya gemuk dan perutnya gendut, akan tetapi gemuk-gemuk kencang, tanda seorang kuat. Topinya dari sutera itu lain modelnya dari pada orang lain membuat ia kelihatan aneh dan asing. Di atas topi itu, di tengah-tengah, dihias sebuah mainan bundar dari benang bulu domba. Juga dia membawa pedang yang dipasang di belakang punggungnya, dari depan hanya gagang pedang yang tampak...

Jilid selanjutnya,