Cheng Hoa Kiam Jilid 31

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Cheng Hoa Kiam Jilid 31
Sonny Ogawa

Cheng Hoa Kiam Jilid 31, karya Kho Ping Hoo - WI LIONG tidak berani berlaku lambat. Cepat ia menandingi kakek itu dengan ilmu pedangnya yang sempurna, yang dimainkan dengan suling. Kalau pukulan-pukulan Thai Khek Sian mendatangkan angin bersiutan sehingga daun-daun tetanaman di taman itu pada gugur.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Adalah suling Wi Liong mengeluarkan suara melengking seperti ditiup, dan suling itu dalam tangannya seperti berubah menjadi banyak sekali. Gulungan sinar suling bergelombang mengimbangi gerakan kuku-kuku jari lawannya. Mereka telah bertanding lagi dengan hebatnya, seru dan mati-matian. Makin lama Thai Khek Sian makin marah karena penasaran sekali.

Sampai puluhan jurus belum juga ia dapat mengalahkan lawannya yang muda. Jangan kata mengalahkan, mendesakpun tidak mampu. Matanya mengeluarkan cahaya berapi, kepalanya seperti mengeluarkan uap dan gerakannya makin menggila.

Wi Liong diam-diam terkejut bukan main. Setiap pertemuan antara sulingnya dengan tangan manusia iblis itu, ia merasa lengannya tergetar. Akan tetapi ia mengumpulkan semangatnya dan melawan mati-matian sepenuh tenaga. Pertempuran itu bukan main hebatnya. Pepohonan tercabut dan roboh, batu-batu pada pecah yang berada di dekat tempat itu. semua itu hanya terkena hawa pukulan yang membabi-buta.

Dua orang gadis, Hui Nio dan Hui Siam yang sudah menyusul sampai di situ menonton dari belakang batu besar dengan muka pucat. Selama hidupnya belum pernah mereka menyakskan pertandingan sehebat itu. Angin-angin pukulan menyambar sampai ke tempat mereka dan hanya dengan berlindung di balik batu besar itu mereka dapat menonton.

Kalau tidak, hawa pukulan itu tentu menyerang mereka dan biarpun jaraknya jauh, kiranya mereka takkan dapat menahan dan akan roboh. Malah suara melengkingnya suling yang keluar dari senjata Wi Liong tak kuat mereka dengarkan lebih lama lagi. Suara itu mengandung khikang tinggi, membuat mereka lemas dan tulang-tulang terasa sakit. Terpaksa mereka menggunakan saputangan untuk menutupi kedua telinga!

Puluhan jurus telah lewat. Bahkan ratusan jurus. Sejam, dua jam, tiga, empat jam sudah dua orang itu bertanding, akan tetapi masih belum ada yang kalah atau menang. Mereka sudah tidak kelihatan lagi, sudah berubah menjadi dua gundukan sinar yang aneh, sinar bergulung-gulung dan menyambar ke sana ke mari seperti dua ekor naga sakti bermain-main di angkasa raya.

Akhirnya Thai Khek Sian tak dapat menahan sabar lagi. Memang Wi Liong sudah lama sejak tadi terdesak hebat, akan tetapi ia masih terus mempertahankan diri dan karena Thai Khek Sian ingin merobohkan pemuda itu dengan ilmu silatnya maka sebegitu lama ia belum mampu merobohkan pemuda itu.

Setelah-kesabarannya habis, tiba-tiba kakek ini mengeluarkan pekik yang luar biasa dahsyatnya, bukan pekik manusia lagi melainkan suara yang patutnya keluar dari neraka jahanarm. Tengkorak yang tergantung di dadanya tiba-tiba mengeluarkan asap putih dari mulut yang menyambar ke arah Wi Liong.

Pemuda ini memang sudah sibuk terkurung oleh jari-jari tangan berkuku tajam itu sehingga ia tidak keburu lagi menghindarkan diri. Sekali ia menyedot asap itu, tubuhnya terhuyung dan ia roboh pingsan di atas tanah! Thai Khek Sian tertawa tergelak, akan tetapi, ia masih ingat bahwa pemuda ini adalah murid Thian Te Cu maka ia tidak mau membunuhnya.

Betapapun juga, ia masih merasa ngeri untuk menanam permusuhan dan menimbulkan marahnya Mayat Hidup Thian Te Cu itu. Baru muridnya saja sudah begini hebat, pikirnya, entah bagaimana lihainya kakek itu yang sudah lama sekali tak pernah ia jumpai.

Selagi Thai Khek San tertawa-tawa girang, muncul Hui Nio dan Hui Sian dari tempat sembunyinya. Dua orang gadis ini yang menganggap Wi Liong sebagai penolong mereka, tentu saja tidak bisa tinggal diam melihat penolong mereka roboh pingsan. Mereka takut kalau-kalau Thai Khek Sian membunuh pemuda itu. Hui Sian dengan tabah lalu melompat ke depan Thai Khek Sian dengan pedang di tangan.

"Kau baru bisa bunuh dia melalui mayatku!" katanya gagah sambil bersiap untuk bertempur.

Sedangkan Hui Nio yang melihat wajah pemuda itu pucat dan napasnya tidak ada lagi, cepat mengangkat tubuh atas Wi Liong dan dipangkunya. Wi liong sudah lemas dan pucat, napasnya tidak ada lagi seperti orang mati.

"Kau... kau membunuhnya...!" kata Hui Nio marah sekali. Dengan perlahan ia lalu menurunkan tubuh Wi Liong di atas rumput dan melompat di samping Hui Sian dengan pedang di tangan.

"Eh-he-he... kalian ini mau apa?" Thai Khek Sian mentertawakan mereka. "Pemuda itu apamu sih?"

"Bukan apa-apa!" jawab Hui Sian tegas. "Akan tetapi dia mau menolong kami keluar dan sini. Oleh karena kau telah membunuhnya, kamipun hendak mengadu nyawa denganmu!" Setelah, berkata demikian, Hui Sian lalu menerjang maju, diikuti oleh Hui Nio.

Thai Khek Sian tertawa bergelak. Tentu saja dua orang gadis itu bukan lawannya. Ia membuat gerakan aneh ke kanan kiri, terdengar bunyi "krak-krak!" dan dua batang pedang di tangan Hui Nio dan Hui Sian itu telah kena ia rampas dan ia patah-patahkan! Lalu ia melempar pedang-pedang itu sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Akan tetapi Hui Nio dan Hui Sian tidak mau sampai di situ saja. Biarpun pedang mereka sudah dirampas, mereka serentak maju dan menyerang dengan kepalan dan tendangan mereka! Thai Khek Sian mulai marah. Ia membiarkan dua orang gadis itu memukul dadanya, pukulan-pukulan itu terpental dan dua orang gadis itu merasa tangan mereka sakit sekali.

Pada saat itu Thai Khek Sian memberi tanda panggilan dengan teriakannya dan datanglah Cheng In dan Ang Hwa berlarian. "Robohkan mereka, tapi jangan bunuh!" kata Thai Khek Sian.

Cheng In dan Ang Hwa bertindak cepat. Mereka menyerang Hui Nio dan Hui Sian yang tentu saja berusaha melawan. Akan tetapi dari jauh Thai Khek Sian mendorong mereka sehingga keduanya jatuh terguling. Pada saat itu Cheng In dan Ang Hwa sudah menotok jalan darah mereka, membuat dua orang gadis tawanan itu tak berdaya lagi. Melihat Wi Liong juga rebah tak bergerak, Cheng In dan Ang Hwa menjadi khawatir sekali.

"Bawa mereka ke dalam perahu, lepaskan perahu di tengah lautan. Biarkan ombak yang memutuskan mati hidup mereka!" perintah Thai Khek Sian.

Cheng In dan Ang Hwa sudah kenal betul watak Thai Khek Sian. Dari suara kakek ini saja tahulah mereka bahwa kakek ini sedang kesal hati dan tidak ingin perintahnya dibantah. Maka tanpa berani banyak cakap lagi dua orang wanita cantik ini lalu menjalankan perintah itu. Mereka mengangkat tubuh Wi Liong yang sudah lemas seperti mayat, juga tubuh dua saudara Liok dan membawanya ke dalam sebuah perahu, dibantu oleh seorang kawan lain.

Lalu perahu itu mereka dayung ke tengah lautan, antara Pulau Pek-go-to dan daratan kemudian berpindah perahu dan meninggalkan perahu kecil bergolak-golek di atas lautan. Dengan hati berat Cheng In dan Ang Hwa meninggalkan perahu itu, berat hati mereka melihat Wi Liong, akan tetapi tidak berdaya menolong, takut kepada Thai Khek Sian.

Apa sebabnya Thai Khek Sian tidak mau membunuh Wi Liong? Dan mengapa pula ia melepaskan Hui Nio dan Hui Sian? Kakek ini biarpun kejam dan berwatak aneh, ia cerdik luar biasa dan dapat melihat datangnya akibat-akibat buruk kalau ia membunuh pemuda itu.

Ia tahu dari pertempurannya melawan Wi Liong tadi bahwa Thian Te Cu sudah menurunkan hampir seluruh kepandaiannya kepada muridnya. Dia takkan mampu mengalahkan Wi Liong kalau saja ia tidak mempergunakan uap beracun. Dengan ilmu silat saja, kiranya ia takkan dapat mengalahkan Wi Liong.

Maka ia dapat membayangkan betapa besar kesayangan Thian Te Cu kepada muridnya. Kalau ia membunuh Wi Liong, tentu kelak Thian Te Cu takkan mau mengampunkannya. Lain lagi kalau ia bisa mengatasi Thian Te Cu. tentu ia takkan takut. Akan tetapi, melihat tingkat kepandaian Wi Liong, benar-benar Thian Te Cu tak boleh dipandang ringan.

Beberapa bulan lagi ia akan mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh besar maka tak boleh ia menanam permusuhan besar dengan tokoh yang masih terhitung suhengnya itu. Inilah yang menyebabkan ia tidak mau membunuh Wi Liong dan menyuruh dua orang muridnya, Cheng In dan Ang Hwa melepaskan Wi Liong di atas perahu di tengah lautan.

Juga ia tidak mau mengganggu Hui Sian dan Hui Nio karena ia tidak mau kalau hal ini kelak dipergunakan oleh Thai It Cinjin yang membencinya untuk menyerangnya di depan umum. Pula, diam-diam ia kagum melihat sikap dua orang gadis yang membela Wi Liong tadi.

Akan tetapi Thai Khek Sian menjadi amat penasaran dan gelisah. Hatinya mengkal dan tak senang sekali oleh kenyataan bahwa menghadapi Wi Liong saja ia tidak mampu mengalahkannya. Ia merasa khawatir bahwa ia takkan dapat menjadi tokoh nomor satu di dunia, yang penentuannya akan ia adakan kelak pada waktu para tokoh berkumpul di pulaunya.

Maka sepergi Cheng In dan Ang Hwa yang memenuhi perintahnya, yaitu membawa tubuh Wi Liong, Hui Nio, dan Hui Sian ke perahu dan melepaskan perahu itu di atas laut, kakek ini lalu memasuki bilik samadhinya untuk tekun melatih diri mencari kemajuan untuk ia pergunakan kelak menghadapi tokoh-tokoh besar, terutama sekali Thian Te Cu.

Sementara itu di atas lautan, sebuah perahu kecil terapung-apung dipermainkan ombak, miring ke kanan kiri, terayun-ayun seperti dalam buaian tangan ibu yang mencinta. Beberapa ekor ikan hiu yang sisiknya loreng-loreng seperti harimau meluncur di kanan kiri perahu, mendorong-dorong dengan moncongnya.

Mengharapkan perahu itu terguling seakan-akan binatang air yang amat ganas ini sudah tahu atau mencium bahwa orang-orang yang berada di dalam perahu itu tak berdaya lagi. Gerakan perahu oleh ayunan ombak amat halus, akan tetapi dorongan moncong ikan-ikan itu kasar dan keras seperti menggugah orang-orang yang berada di dalam perahu.

Wi Liong lebih dulu sadar atau lebih tepat lagi siuman dari pada keadaan pingsan. Goyangan-goyangan kasar akibat perbuatan ikan-ikan itu membuat kepalanya beberapa kali terbentur pada kayu keras pinggiran perahu. Begitu siuman, pemuda ini membuka mata dan alangkah kaget, jengah dan herannya ketika ia mendapatkan dirinya bertumpuk tidak karuan dengan dua orang gadis Liok, boleh dibilang saling berpelukan tidak sewajarnya dengan Liok Hui Nio dan Liok Hui Sian!

Yang membuat ia malu bukan main adalah kenyataan betapa ia beradu muka dengan Hui Sian seperti orang berciuman. Ia melihat pipi yang kemerahan dan mata yang bersinar aneh dari gadis itu, seakan-akan Hui Sian membiarkan keadaan seperti itu, bahkan merasa senang!

Tentu saja ia tidak tahu bahwa gadis itu seperti juga encinya, biarpun panca inderanya masih bekerja, namun karena jalan darah mereka tertotok, mereka tidak kuasa bergerak. Oleh karena inilah, betapapun malu dan jengah hati Hui Sian, gadis ini tidak dapat mencegah ia berciuman tanpa disengaja dengan Wi Liong.

Wi Liong cepat bangun duduk dan memandang ke kanan kiri. Baru ia tahu bahwa ia bertumpuk di dalam perahu kecil bersama Hui Sian dan Hui Nio, dan betapa perahu itu terayun-ayun di tengah lautan. Kaget ia melihat ikan-ikan hiu berseliweran di pinggir perahu. Kedua tangannya digerakkan ke kanan kiri perahu mengirim pukulan.

Dan dua ekor ikan hiu sebesar bantal berkelojotan lalu terapung dalam keadaan mati. Bangkai mereka ini segera menjadi rebutan kawan-kawan sendiri. Mengerikan! Dengan tangannya pula, Wi Liong mendayung perahu menjauhi gerombolan ikan liar itu. Kemudian ia menoleh ke arah Hui Nio dan Hui Sian.

Melihat dua orang nona ini masih saja rebah seperti tadi, tidak bergerak sama sekali, barulah Wi Liong sadar bahwa mereka itu berada dalam keadaan tertotok. Lenyaplah sebagian besar rasa heran dan jengahnya akan sikap dua orang gadis yang seakan-akan mandah dan diam saja berpelukan dengan dia tadi. Segera ia mengulur tangan membuka jalan darah mereka.

Hui Nio dan Hui Sian mengeluh, menggeliat melemaskan urat-urat tubuh yang kaku, kemudian Hui Sian menangis sambil menyembunyikan muka di pangkuan encinya yang menghiburnya.

"Eh, nona mengapa menangis? Kita sudah terhindar dari bahaya, terbebas dari Thai Khek Sian yang keji. Seharusnya kita bergirang, biarpun aku tidak mengerti bagaimana kita bisa tertolong dari bahaya maut."

"Sian-moi, sudahlah jangan menangis, Thio-taihiap berkata betul, tak perlu kau bersedih karena kita sudah dibebaskan oleh siluman itu dan tak perlu kau malu karena kau tidak berdaya."

Wi Liong terheran mendengar kata-kata terakhir, ia sama sekali tidak tahu bahwa Hui Sian tadi menangis karena setelah siuman menjadi malu sekali teringat akan keadaannya dengan Wi Liong tadi. Juga tidak tahu bahwa Hui Nio mengerti pula akan keadaan mereka yang aneh tadi.

Namun, tetap saja warna merah menjalar di seluruh mukanya ketika Hui Sian mengangkat muka dan bertemu pandang dengannya. Bukan main keadaan tadi. pikirnya, dan sekarang dia yang tak berani memandang pipi merah itu lama-lama!

"Sekarang harap ji-wi terangkan bagaimana kita bisa berada di perahu ini?" tanya Wi Liong, menujukan pertanyaannya kepada Hui Nio karena sekarang pandang mata Hui Sian kepadanya seakan-akan mengandung seribu bahasa yang membuat ia berdebar dan takut-takut.

"Memang aneh pengalaman kita." Hui Nio mulai menuturkan pengalaman tadi. "Kau bertempur dengan kakek siluman dan kau tiba-tiba roboh pingsan entah mengapa aku tidak tahu. Kami mencoba untuk melawan kakek itu, akan tetapi pedang kami dipatahkan dan segebrakan saja kami roboh. Kami ditotok tak berdaya oleh perempuan-perempuan baju hijau dan merah..." sampai di sini Hui Nio kelihatan gemas sekali.

"Tentu saja aku sudah habis harapan dan menyerahkan diri kepada nasib. Akan tetapi aneh sekali, kakek itu tidak membunuh dan tidak mengganggu kita malah ia menyuruh dua orang perempuan itu untuk membawa kita ke perahu lalu dilepas di tengah lautan, ditinggalkan begitu saja...."

Wajah Hui Nio tiba-tiba menjadi merah karena tadipun ia rebah dengan kepala di atas dada Wi Liong! Mendengar penuturan ini, Wi Liong mengangguk-angguk dan berkata perlahan, seperti kepada diri sendiri. "Bagus dia masih punya rasa takut kepada suhu....!"

Tiba-tiba ada suara menjawab kara-kata ini, suara yang datangnya sayup sampai seperti terbawa angin yang datang bertiup. "Siapa takut gurumu? Aku sengaja memberi kau hidup supaya kau bisa cerita kepada suhumu betapa muridnya tidak berdaya menghadapi aku, dan bahwa pada musim chun nanti gurumu harus datang mengadu ilmu!"

Wi Liong berdiri di atas perahu, lalu menghadap ke arah Pulau Pek-go-to, berkata mengerahkan khikangnya, melakukan ilmu yang disebut Coan-im-jit-bit (Mengirim Suara dari Jauh), "Thai Khek Siansu, tidak usah guruku sendiri datang. Kelak cukup aku yang datang membalas kebaikanmu membebaskan aku dari maut!"

Ucapan ini dikeluarkan oleh Wi Liong dengan nada penasaran dan pahit sekali. Memang, bagi seorang gagah, dibebaskan begitu saja oleh seorang musuh, merupakan semacam penghinaan yang harus dibalas pula!

Thai Khek Sian tidak menjawab pula, hanya terdengar suara ketawanya yang menggema di seluruh permukaan air seperti suara iblis tertawa. Memang hebat kepandaian kakek itu, tidak tahunya sejak tadi ia masih mengawasi orang-orang muda ini dari jauh. Betapapun lihainya Thai Khek Sian yang harus diakui pula oleh Wi Liong.

Namun pemuda ini masih penasaran. Dia memang kalah, akan tetapi kekalahan yang tidak sah, karena kakek itu menggunakan kecurangan. Ia harus minta nasihat gurunya dalam hal ini dan kelak, jika masanya tiba, ia akan menghadapi Thai Khek Sian lagi untuk menebus kekalahannya, untuk menebus penghinaan tadi dan sekali waktu ia harus dapat membebaskan pula kakek iblis itu dari maut, seperti tadi!

Sementara itu, Hui Nio dan adiknya memandang kepada Wi Liong dengan melongo. Memang tadipun ketika menyaksikan pertempuran antara pemuda ini dengan Thai Khek Sian, mereka sudah kagum sekali. Sekarang baru mereka takluk betul dan mengakui bahwa pemuda ini adalah seorang sakti. Malah lebih hebat dari pada Kun Hong, pikir mereka. Hui Sian makin kagum saja. Baru-baru ini ia bertemu dengan Kun Hong yang amat mengagumkan hatinya, sekarang ia bertemu dengan pemuda yang malah melebihi Kun Hong.

Hal ini adalah karena hati gadis ini masih kosong, maka ia tertarik kepada pemuda-pemuda yang gagah perkasa dan tampan. Tidak demikian dengan Hui Nio. Biarpun ia juga merasa kagum sekali melihat Wi Liong, namun hatinya sudah tertambat kepada Kong Bu dan di dunia ini tidak ada pemuda yang dapat melebihi Kong Bu tunangannya itu.

"Thio-taihiap telah bersusah payah menolong kami berdua kakak adik. maka kau adalah penolong kami yang patut kami muliakan. Terima kasih banyak. Thio-taihiap dan semoga Thian saja kelak membalas budi ini kalau kami tidak kuasa membalasnya." kata Hui Nio sambil menjura dengan hormat.

Wi Liong terkejut dan cepat-cepat membalas penghormatan itu. "Harap ji-wi siocia (nona berdua) jangan mempergunakan banyak peraturan sungkan. Mana bisa aku disebut penolong!" Ia tertawa pahit teringat akan kekalahannya lagi. "Belum sempat menolong aku sudah tertawan! Kalau ada bicara tentang menolong, kiranya harus dikatakan bahwa kita bertiga ini tertolong oleh Thai Khek Sian!"

"Jangan berkata begitu, taihiap. Yang patut di hargai bukanlah perbuatannya, melainkan usahanya. Usaha yang baiklah yang patut dihargai tanpa melihat bagaimana hasilnya. Taihiap sudah bersusah payah berusaha menolong kami dengan melupakan keselamatan diri sendiri, betapapun hasil usaha pertolongan itu. tetap saja kami merasa berterima kasih sekali dan taihiap adalah penolong kami!"

Wi Liong tersenyum dan kagum mendengar ucapan gadis ini yang sekaligus membayangkan kecerdasan otaknya dan kebaikan hatinya.

"Enci Hui, kau bagaimana sih? Kalau tidak datang Thio-taihiap, apakah kita sekarang bisa terbebas dan berada di atas perahu ini? Biarpun yang melepaskan kita adalah Thai Khek Sian, akan tetapi sebetulnya yang dilepas adalah taihiap dan kita hanya membonceng saja. Bukankah begitu?”

Hui Nio tertawa menutupi mulutnya, memandang kepada Wi Liong. "Kau betul, Hui Sian. Aku sampai lupa. Nah, taihiap, Kau mendengar sendiri. Memang, biarpun kau dirobohkan Thai Khek Sian, akan tetapi usahamu menolong kami berhasil baik, buktinya kami sudah terbebas! Kalau tidak kau datang menyerbu, mana bisa kami dibebaskan?"

Wi Liong terpaksa mengakui kebenaran kata-kata ini. "Sudahlah, di antara orang sendiri mana perlu bicara tentang tolong-menolong? Yang ada hanya wajib."

"Ketika datang, taihiap bilang disuruh oleh Kong-twako. Bagaimana kau bisa bertemu dan berkenalan dengan dia?" tanya Hui Sian.

"Apakah luka-lukanya sudah sembuh....?" Hui Nio menyambung dengan suara mengandung penuh kekhawatiran akan keselamatan tunangannya itu.

"Mari bantu aku mendayung perahu ini menuju ke daratan, nanti kuceritakan," ajak Wi Liong.

Tiga orang muda itu lalu mendayung perahu mempergunakan tangan saja. Biarpun hanya telapak tangan yang menggantikan dayung, Hui Nio dan Hui Sian di sebelah kiri perahu sedangkan Wi Liong di sebelah kanan, namun karena mereka bertiga adalah orang-orang terlatih dan memiliki ilmu silat tinggi dan tenaga yang luar biasa, maka perahu dapat meluncur cepat, tidak kalah oleh perahu yang didayung oleh tukang-tukang perahu mempergunakan dayung yang baik.

Dengan singkat Wi Liong lalu menceritakan perjalanannya. Dua orang gadis itu gembira sekali mendengar bahwa Wi Liong sudah kenal baik dengan See-thian Hoat-ong Kong Lek In ayah Kong Bu dan lebih kagum lagi mendengar betapa Pak-thian Koai-jin juga datang untuk bersama See-thian Hoat-ong menolong Pui Eng Lan murid Pak-thian Koai-jin yang terculik oleh Kui-bo Thai-houw.

"Kui-bo Thai-houw lihai dan berbahaya sekali...." kata Hui Nio.

"Karena itu aku harus lekas-lekas menyusul ke sana untuk membantu kawan-kawan," kata Wi Liong yang kini merasa khawatir juga mengingat betapa See-thian Hoat-ong dan Pak-thian Koai-jin hendak menolong Eng Lan di Pulau Ban-mo-to, menghadapi Kui-bo Thai-houw yang berbahaya.

"Taihiap, biarkan kami ikut. Kami akan membantu sedapat mungkin," kata Hui Sian dengan suara memohon. "Dengan perahu ini dari sini kita bisa langsung pergi ke Ban-mo-to. arahnya ke selatan."

Wi Liong menggeleng kepala. "Tidak perlu, nona. Selain kalian sudah lelah dan mengalami kekagetan, juga perjalanan itu amat berbahaya. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan kalian, bagaimana aku akan berkata kepada See-thian Hoat-ong lo-enghiong? Mari kalian kuantar mendarat lebih dulu setelah itu terpaksa aku akan mendahului kalian pergi ke Ban-mo-to."

Hui Sian nampak merengut, akan tetapi kakaknya yang lebih cerdik lalu berkata, "Hui Sian, kau ini masa masih hendak membikin susah Thio-taihiap? Kau sendiri tahu betapa lihainya penghuni Ban-mo-to dan perjalanan itu kiranya tidak kurang bahayanya dari pada ke Pek-go to. Malah-malah iblis betina itu bisa lebih kejam dari pada iblis Pek-go-to. Kita yang berkepandaian rendah jangan kata membantu, malah-malah membikin repot saja. Jangan bersikap seperti anak kecil!"

Hui Sian mengangguk-angguk maklum. Wi Liong merasa tidak enak sekali. "Aku sama sekali tidak berani memandang rendah kepada kalian. Ilmu kepandaian kalian sudah cukup tinggi, malah lebih tinggi dari pada kebanyakan gadis ahli silat. Sedikitnya setingkat dengan kepandaian nona Pui Eng Lan. Akan tetapi, biarpun aku tidak bermaksud meremehkan kalian, namun kata-kata yang diucapkan oleh nona Hui Nio tadi tepat sekali. Kalau sampai terjadi pertempuran, seperti ketika aku menghadapi Thai Khek Sian tadi, bagaimana aku bisa melindungi kalian? Kabarnya, Kui-bo Thai-houw tidak kalah lihainya oleh Thai Khek Sian."

Dua orang gadis itu tak dapat membantah lagi setelah mendengar ucapan yang jujur ini. Mereka menjadi makin kagum dan suka kepada pemuda yang selain lihai, juga halus perangainya dan jujur sikapnya ini. Setelah memandang beberapa lamanya dengan kagum, Hui Sian bertanya, "Thio-taihiap ini murid siapakah? Agaknya Thai Khek Sian takut kepada suhumu."

"Suhu disebut Thian Te Cu."

Dua orang gadis itu terkejut sekali. "Si Mayat Hidup?"

"Hush... Hui Sian, jangan kurang ajar!" tegur Hui Nio kepada adiknya yang tadi menyebutkan Si Mayat Hidup.

Akan tetapi Wi Liong hanya tersenyum. "Begitulah orang-orang yang tidak suka menyebut nama suhu. Anehnya, bagaimana kau bisa tahu nama poyokan itu, nona?"

Muka Hui Sian menjadi merah. "Maafkan aku tidak sengaja mengejek. Aku mendengar nama itu dari... dari..."

"Begini, taihiap. Yang suka menyebut nama itu adalah suhu kami,"

"Siapakah guru kalian?"

"Suhu adalah Thai It Cinjin di Bukit Kum-Ie-san," jawab Hui Nio.

Wi Liong tercengang. Teringat ia kepada kakek tinggi besar berkepala botak bermata lebar yang lengannya berbulu, kakek yang bersama Im-yang Siang-cu pernah menyerbu Wuyi-san. Ia mengangguk-angguk dan maklumlah ia kini mengapa Hui Sian mengenal poyokan gurunya itu. Memang ia tahu bahwa ipar dari Gan Yan Ki itu benci kepada Thian Te Cu dan lebih benci kepada Thai Khek Sian, seorang tokoh yang amat aneh.

"Dan di sana tinggal pula dua orang kakek yang disebut Im-yang Siang-cu?" tanyanya minta kepastian.

"Im-yang Siang-cu adalah tokoh-tokoh Bu-tong-pai, mereka paman-paman guru kami," kata Hui Sian. Kaget dan heran bagaimana pemuda ini bisa mengenal susiok-susioknya.

"Dan Beng Kun Cinjin, itu, bukankah dia itu... keponakan suhu kalian, Thai It Cinjin? Mengapa dia malah bersama Thai Khek Sian menculik kalian yang menjadi murid-murid pamannya?"

"Keledai gundul itu!" Hui Sian memaki. "Siapa tahu akan maksudnya? Tadinya ia berada di Kum-Ie-san, menumpang kepada suhu, sikapnya baik-baik dan dia diperlakukan baik pula oleh guru dan kami semua. Ia melarikan diri setelah Kim-Ie-san didatangi pemuda yang bernama Kun Hong itu. Tahu-tahu.ia lari ke Pek-go-to dan bersekutu dengan iblis itu menculik kami."

Selama perjalanan ke daratan, Wi Liong mengobrol dengan dua orang gadis itu. Hui Sian memang ramah-tamah, lincah dan pandai bergaul. Juga Wi Liong mendapat banyak keterangan sehingga ia tahu banyak tentang Kun Hong, tentang Ban-mo-to, tentang Thai It Cinjin dan lain-lain. Setelah tiba di darat, ia lalu berpisah dengan kedua orang gadis itu.

"Kalian tahu betapa perlunya aku harus menyusul ke Ban-mo-to. Di sana ada Kong Bu, ada See-thian Hoat-ong, ada Pak-thian Koai-jin, ada nona Pui. Dan mungkin mereka itu membutuhkan bantuanku. Maafkan aku terpaksa meninggalkan kalian, menyesal sekali karena sesungguhnya menyenangkan melakukan perjalanan dengan kalian yang ramah dan manis budi."

"Taihiap, kalau sudah pulang dari Ban-mo-to. harap kau sudi mampir ke Kim-Ie-san." kata Hui Sian.

Wi Liong mengangguk. "Kalau tiada halangan," jawabnya. Kemudian setelah berpamit sekali lagi, tubuhnya berkelebat lenyap dan dua orang aadis itu untuk beberapa lama masih berdiri kagum. Kemudian keduanya lalu melanjutkan perjalanan, pulang ke Kim-Ie-san.

Dengan cepat sekali Wi Liong melakukan perjalanan kembali ke Kim-Ie-san. Untung baginya bahwa Thai Khek Sian benar-benar tidak ingin menimbulkan kemarahan Thian Te Cu maka ketika merobohkannya, hanya mempergunakan asap beracun yang tidak berbahaya, hanya membuat dia pingsan saja. Akan tetapi pengalaman ini bagi Wi Liong terasa amat pahit dan menyakitkan hati. Sudah dua kali dia roboh oleh kakek pentolan Mo-kauw itu.

Pertama kali dahulu lebih hebat lagi, baru segebrakan saja ia sudah roboh dan pasti akan tewas kalau tidak ada Cheng In dan Ang Hwa yang menolongnya. Sekarang kembali dia roboh setelah ia menerima gemblengan dari suhunya. Pengalaman ini membuatnya lebih hati-hati kelak kalau menghadapi lawan-lawan tangguh semacam Thai Khek Sian.

Cheng In dan Ang Hwa...! Teringat akan dua orang gadis ini, mau tidak mau Wi Liong terkenang pula kepada Hui Nio dan Hui Sian. Terutama sekali Hui Sian! Terbayang ia ketika ia rebah di perahu, boleh dibilang bertumpang tindih dengan dua orang gadis itu. Lagi-lagi pemuda ini menarik napas panjang. Kenapa nasibnya selalu membawanya kepada wanita-wanita yang menarik dan yang mendebarkan jantungnya?

Setelah ia kehilangan Siok Lan, setelah hatinya rusak dan patah mendengar betapa Siok Lan telah meninggal dunia karena hendak bersetia kepadanya, kenapa masih saja ada gadis-gadis yang menghadang dalam perjalanan hidupnya? Tidak, pikirnya mantap. Aku takkan memperdulikan mereka. Tidak ada seorangpun gadis di dunia ini seperti Siok Lan!

Ketika tiba di Kim-Ie-san, ia mendapat kenyataan bahwa tak seorangpun di antara tokoh-tokoh yang hendak menolong Eng Lan nampak sudah kembali! Semua orang pergi ke Ban-mo-to. Tidak hanya See-thian Hoat-ong, Pak-thian Koai-jin, dan Kong Bu, bahkan Thai It Cinjin dan kedua Im-yang Siang-cu keduanya juga ikut pergi menyeberang ke Ban-mo-to. Dan tak seorangpun kembali!

Hati Wi Liong menjadi tidak enak sekali. Ia belum pernah bertemu dengan Kui-bo Thai-houw, akan tetapi sudah lama ia mendengar akan kelihaian nenek itu dan tentang bahayanya pergi ke Ban-mo-to yang kabarnya malah tidak kalah hebatnya kalau dibandingkan dengan Thai Khek Sian di Pekgo-to. Ia merasa amat khawatr akan keselamatan Eng Lan dan yang lain-lain.

Tanpa membuang waktu lagi Wi Liong lalu niengejar ke pantai, hendak menyusul ke Ban-mo-to menghadapi Kui-bo Thai-houw! Ia belum pernah merasai kelihaian permaisuri itu, maka diam-diam ia ingin belajar kenal. Ternyata harapannya ini terpenuhi dengan cepat, malah sebelum ia tiba di Ban-mo-to.

Ketika ia menuju ke pantai dan melewati daerah pegunungan yang masih termasuk dalam wilayah kekuasaan Thai It Cinjin di Kim-Ie-san, dari jauh ia melihat banyak orang berkumpul di sebuah tanah datar di antara gunung-gunung kecil dari batu kapur. Di bagian kiri berkumpul sederetan orang berpakaian seragam, nampaknya seperti ahli-ahli silat dan sikap mereka tenang keren dengan kedua lengan disembunyikan di belakang badan.

Ada duapuluh empat orang yang berdiri di sebelah kiri dengan kaki terpentang lebar dan mata memandang ke depan. Di sebelah kanan kelihatan beberapa orang petani yang agaknya juga tertarik dan melihat apa yang terjadi di situ. Apakah yang mereka lihat?

Dua orang kakek aneh yang saling berhadapan seperti dua ekor ayam jago tengah berlagak. Yang seorang bertubuh pendek, kepalanya gundul pelontos, jangankan rambut, bekasnyapun tidak ada seperti kulit bawang yang menutupi batok kepalanya.

Kepala itu tidak rata pula, benjal-benjol biarpun bentuknya bundar. Matanya seperti meram terus, akan tetapi mulutnya nyengir terus seperti orang merasa geli hatinya. Bajunya, seperti celananya, sudah koyak-koyak pada ujungnya.

Kakek pendek gundul ini berdiri dengan sebuah senjata aneh di tangan kanan. Senjatanya ini belum pernah terlihat di dunia persilatan, karena merupakan senjata bergagang yang luar biasa. Bentuknya gepeng bulat, merupakan gigi-gigi seperti roda bergigi, gagang itu dipasang sampai di tengah roda sehingga roda dapat berputaran. Gigi-giginya tajam dan runcing.

Yang dihadapinya adalah seorang setengah tua yang menyeramkan. Laki-laki ini bertubuh tinggi besar, alisnya tebal sekali akan tetapi tidak panjang, dahinya lebar dan yang paling menarik dan menyeramkan adalah gurat-gurat bekas luka pada mukanya di alis mata kanan kiri dan di pipinya seperti bekas luka bacokan senjata tajam.

Kedua tangan orang tinggi besar ini memegang senjata sepasang gembolan yang dahsyat, gembolan baja yang diberi duri. Melihat sikap dan pakaiannya, tentu orang ini serombongan dengan barisan orang yang berdiri di belakangnya.

Wi Liong menjadi tertarik hatinya dan menyelinap untuk mengintai karena ia mendengar nama Kui-bo Thai-houw disebut-sebut. Yang menyebut nama ini adalah orang tinggi besar yang mukanya bergores cacad itu.

"Tak perduli kau sahabat baik Kui-bo Thai-houw atau masih keponakan Raja Neraka, jangan harap kau akan menakutkan aku dan boleh menghina Pek-eng-pai (Perkumpulan Garuda Putih)," kata si muka cacad.

Mulut yang selalu tersenyum-senyum itu tiba-tiba terbuka dan mengeluarkan suara ketawa terbahak. Wi Liong bergidik mendengar ini, juga geli. Suara ketawa ini mengingatkan ia akan suara seekor ular besar di dalam hutan.

"Kak-kak-hah-hah! Sombongmu! Mukamu yang penuh goretan pedang itu saja sudah menunjukkan kelemahanmu, toh kau bersikap seperti orang yang tak pernah terkalahkan! Hah-hah, kau dan dua losin orang-orangmu ini sudah bosan hidup agaknya, berani sekali menghina Thai-houw. Aku Si Naga Sakti tidak bisa memberi ampun lagi!"

Sambil berkata demikian, orang gemuk pendek, yang lucu ini menggerak-gerakkan senjata roda bergigi di tangannya penuh ancaman. Akan tetapi karena mulutnya selalu menyeringai ia sama sekali tidak kelihatan galak atau keren, malah lucu menggelikan. Wi Liong sampai menahan suara ketawanya mendengar orang lucu ini menyebut diri sendiri Si Naga Sakti!

Akan tetapi, bagi orang yang cacad mukanya itu sama sekali tidak dapat melihat kelucuan ini, dengan marah ia lalu mengayun sepasang senjata gembolannya dan sambil menggereng seperti singa ia mulai menyerang. Gembolan baja yang demikian beratnya, ditambah duri-duri lagi, menyambar ke arah kepala yang gundul pelontos dan kehhatan halus kulitnya itu seperti buah tomat besar yang sudah masak. Kalau kena tentu akan bejat!

Tidak disangka orang gemuk pendek berkepala gundul itu ternyata gesit sekali gerak-geraknya. Sambaran gembolan kiri ke arah kepalanya yang licin pelontos itu dapat ia kelit ke kiri dengan mudahnya dan ketika lawannya menyerang lagi dengan gembolan kanan, ia sudah menangkis dengan senjatanya roda bergigi.

"Klang....!!" Terdengar bunyi nyaring disusul muncratnya bunga api ketika dua senjata itu bertemu. Keduanya terpental mundur, sekilas memeriksa senjata masing-masing dan merasa lega karena senjata mereka tidak rusak dalam pertemuan dahsyat itu. Dengan cepat mereka menerjang maju lagi, lebih hebat dan lebih hati-hati dari pada tadi karena maklum bahwa lawan bukan orang lemah. Di lain saat dua orang jagoan itu sudah saling hantam lagi dengan sengitnya.

Siapakah kedua orang yang tahu-tahu sudah berkelahi mati-matan ini? Pertanyaan ini memasuki kepala Wi Liong. Orang muka cacad itu memang kepala perkumpulan Pek-eng-pai, bernama Tek Loan berjuluk Eng-jiauw-ong (Raja Kuku Garuda), merupakan orang terkemuka di selatan dan perkumpulannya Pek-eng-pai biarpun tidak besar namun cukup berpengaruh.

Pada hari itu ia membawa anggauta-anggautanya hendak mengunjungi Thai It Cinjin dengan keperluan meminang Liok Hui Sian! Ia pernah bertemu dengan Hui Nio dan Hui Sian, dan karena ia sudah tahu pula bahwa Hui Nio sudah bertunangan dengan putera See-thian Hoat-ong, maka ia datang melamar adiknya, Hui Sian.

Tentu saja kalau mengingat akan usia dan mukanya yang bercacad, tidak patut orang ini melamar Hui Sian. Akan tetapi ia mengandalkan kepandaiannya, dan kekayaannya. Pula, ia memang kenal baik dengan Thai It Cinjin dan Im-yang Siangcu. Maka besar harapannya akan diterima pinangannya itu.

Ketika tiba di Kim-Ie-san, ia mendapatkan rumah Thai It Cinjin kosong dan tak seorangpun dapat dijumpainya kecuali para pelayan yang menyatakan bahwa Thai It Cinjin dan kawan-kawannya sedang pergi ke Ban-mo-to. Tek Loan orangnya sombong. Ia memang sudah pernah mendengar nama Kui-bo Thai-houw dari Ban-mo-to, akan tetapi karena di daerahnya sendiri ia merupakan orang nomor wahid, mana ia takuti segala macam Kui-bo Thai-houw?

Dengan semangat sebesar Gunung Thai-san. ia lalu mengajak anak buahnya menyusul ke Ban-mo-to. Dalam perjalanan inilah ia bertemu dengan si gundul lucu itu. Si gundul ini petentang-petenteng menghadang jalan, malah datang-datang menegur marah suaranya kasar, akan tetapi masih tersenyum-senyum mulutnya.

"Kalian ini bocah-bocah dari mana berani memasuki wilayah yang sudah dikuasakan oleh Thai-houw kepadaku untuk menjaga? Tanpa seijin Thai-houw, tidak boleh orang luar dan orang asing memasuki wilayah sini. Hayo kalian ini lekas pergi minggat, kecuali kalau sudah meninggalkan benda tanggungan."

"Benda tanggungan apa?" tanya Tek Loan yang masih bingung mendengar teguran itu.

"Benda tanggungannya kepala kalian." Si gundul berkata sambil pecengas-pecengis.

Tentu saja Tek Loan menjadi marah dan seperti sudah dituturkan di bagian atas, mereka lalu bertempur hebat. Tentu saja Tek Loan terkejut sekali ketika mendapatkenyataan bahwa si gundul yang lucu ini ternyata tidak lucu kepandaiannya jauh dari pada lucu, tak boleh dibuat mainan.

Senjata roda bergigi itu lihai dan berbahaya sekali. Terpaksa Tek Loan yang di kandang sendiri menjadi jago nomor satu itu mengerahkan seluruh kepandaiannya dan berusaha mati-matian merobohkan lawan gundul pacul ini.

"Remuk kepalamu!" bentaknya sambil mengerahkan tenaga, menghantam kepala si gundul itu. Hantaman ini hebat sekali, agaknya sudah tak keburu ditangkis atau dielakkan lagi.

"Belum, tidak kena!" terdengar si gundul mengejek dan aneh sekali, tiba-tiba kepalanya hilang! Benar-benar hebat si gundul ini. Agaknya ia mempunyai ilmu bulus, karena kepalanya seperti disedot masuk bersembunyi di dalam dadanya. Tentu saja tidak demikian halnya, hanya saking cepatnya gerakan lehernya dan tubuhnya yang merendah, seakan-akan kepalanya hilang.

Seketika Tek Loan kaget sekali dan terheran-heran. Akan tetapi melihat bahwa lawannya sudah berhasil menghindarkan diri kemarahannya memuncak. "Pecah dadamu!" bentaknya dan kini tubuhnya mumbul ke atas dan seperti seekor burung garuda, ia menyambar dari atas, mengayun gembolan kanan menghantam dada si gundul.

"Pecah apanya, kena juga tidak!" Si gundul kembali mengejek sambil menangkis dengan senjata roda bergigi.

"Klangggg.....!" Bunga api berpijar dan tiba-tiba si gundul marah-marah. Ia berjingklak-jingklak (meloncat-loncat dengan sebelah kaki), kaki kirinya diangkat dan dengan kaki kanan ia meloncat berputaran.

"Aduh... aduh.... curang...!" keluhnya. Ternyata ketika dua senjata tadi bertemu, sebuah di antara duri-duri baja di gembolan Tek Loan telah patah dan menyambar betis kaki kirinya. Tentu saja ini menyakitkan sekali.

Tek Loan yang melihat ini, tertawa bergelak. "Hah ha-ha, monyet gundul rasakan kelihaianku. Ha-ha-ha!"

"Curang! Cuhhh...!" Si gundul tiba-tiba meludah ke arah muka Tek Loan.

Karuan saja ketua Pek-eng-pai ini menjadi gelagapan, Ia tadi sedang tertawa karena girang, mentertawakan lawannya yang terluka, maka ketika serangan air ludah lawan datang, ia tidak sempat mengelak dan penuhlah mukanya dengan air ludah. Hebatnya, air ludah yang mengenai mukanya itu menimbulkan rasa perih dan sakit. Ini karena si gundul bukan sembarangan orang dan bukan sembarangan meludah, melainkan mempergunakan lweekangnya.

Lebih celaka lagi bagi Tek Loan, selagi matanya pedas terkena hujan air ludah dan ia tengah gebres-gebres karena hidung dan mulutnya juga kebagian air ludah, si gundul sudah maju menerjangnya lagi dengan mulut tetap menyengir kuda!

Dengan repot sekali Tek Loan memutar sepasang gembolannya melindungi tubuhnya sambil memberi isyarat kepada kawan-kawannya. Serentak lima orang kawannya melompat maju mengeroyok si gundul itu.

"Eh-eh.. curang! Licik! Mana ada aturan main keroyokan?" Biarpun ia sibuk sekali-melompat ke sana ke mari menghadapi keroyokan itu, si gundul ini masih sempat memaki dan mencela.

"Apa macammu ini tidak curang?" Tek Loan membentak marah.

"Apanya yang curang?" Si gundul balas membentak sambil melompat ke belakang akan tetapi segera dikejar dan dikepung lagi.

"Mana ada aturan bertempur terdesak lalu meludahi muka!" omel Tek Loan mendongkol.

Untuk sesaat si gundul tak dapat menjawab, memutar senjata melindungi diri sambil memutar otak. Kemudian ia menjawab, agaknya sudah mendapat alasan baik untuk menyangkal bahwa ia curang.

"Habis baumu tidak enak, bikin orang ingin meludah!"

Tentu saja jawaban ini bukan membikin Tek Loan menarik kembali tuduhannya bahwa si gundul curang, malah-malah membuat ia marah bukan main. "Bunuh monyet gundul ini! Penggal lehernya!"

Sambil berkata demikian, bersama lima orang kawannya Tek Loan mendesak maju. Si gundul masih mencoba mempertahankan diri, akan tetapi repot sekali dia sampai tubuhnya basah semua oleh peluh. Kepalanya yang seperti bola karet itupun sampai mengeluarkan keringat berbutir-butir.

Melihat ini, Wi Liong menjadi kasihan. Biarpun ia tidak tahu siapa adanya si gundul ini, dan orang macam apa adanya mereka semua itu, tidak tahu pula siapa salah siapa benar dalam pertempuran itu. Akan tetapi ia suka melihat si gundul yang amat lucu.

Sekarang melihat si gundul dikeroyok dan terdesak hebat sehingga berbahaya keselamatannya, Wi Liong mengambil keputusan hendak menolongnya. Akan tetapi ia tidak jadi bergerak karena tiba-tiba telinganya mendengar berkesiurnya angin disusul suara ketawa cekikikan, suara ketawa beberapa orang wanita. Kagetlah dia karena dalam suara ketawa ini terkandung khikang yang hebat juga.

"Engko Ek Kok, apa kadal-kadal itu mengganggumu?" terdengar suara seorang wanita dan muncullah empat orang wanita yang lucu, gemuk-gemuk, genit-genit dan serupa, baik wajah maupun pakaiannya, mukanya burik-burik semua, serupa pula bopengnya.

"Jangan takut," sambung wanita ke dua.

"'Kami membantumu," kata yang ke tiga.

"Mari basmi kadal-kadal ini, engko Ek Kok!" kata yang ke empat.

"Ha-ha-ho-ho-kak-kak-kak, bagus sekali kalian datang, adik-adikku yang manis, adik-adikku yang denok ayu! Kadal-kadal ini menjemukan, hayo ganyang!" sahut si gundul yang sebetulnya bernama Phang Ek Kok dan dia adalah saudara sekandung, kakak empat orang wanita kembar ini.

Empat orang wanita kembar ini bukan lain adalah Phang Si Hwa, Phang Tung Hwa, Phang Nam Hwa, dan Phang Pai Hwa yang menjadi pelayan-pelayan kesayangan dari Kui-bo Thai-houw! Begitu empat orang perawan tua kembar empat yang genit dan lihai ini menyerbu, mainkan sabuk tali dan pukulan-pukulan mereka yang hebat dalam bentuk barisan segi empat, bubarlah keroyokan Tek Loan dan lima orang kawannya.

Hebat dan anehnya, begitu terlepas dari kepungan dan mendapat bantuan, Phang Ek Kok kakek gundul itu lalu menjatuhkan diri di atas tanah, bersandar kepada batu gunung dan tidur mendengkur, mengorok seperti babi dipotong lehernya! Benar-benar tokoh yang lihai, aneh dan lucu sekali.

Belum lama Phang Ek Kok datang ke Ban-mo-to. Seperti biasa, ia datang untuk menjenguk empat orang adik kembar yang amat dikasihinya itu, datang bersama seorang anaknya yang sudah remaja puteri.

Akan tetapi Kui-bo Thai-houw tidak suka melihat dia lama-lama di Ban-mo-to. Sungguhpun tiada alasan bagi Kui-bo Thai-houw untuk membenci orang lucu ini, akan tetapi ia tidak suka melihat tokoh yang kadang-kadang bermulut lancang, bicara seenaknya saja tanpa sungkan lagi.

. Akan tetapi mengingat empat orang pelayannya, Kui-bo Thai-houw masih selalu bersabar. Sekarang melihat kedatangan kakek gundul aneh ini yang bicara tidak karuan ketika kakek ini melihat Kun Hong di situ, ia lalu menyuruh Ek Kok untuk mengawasi keadaan di wilayah Kim-le-san.

"Daerah itu sekarang tidak bertuan, kau boleh awasi dan wakili aku menjaga daerah itu. Jangan boleh lain orang kangkangi," demikian pesan Kui-bo Thai-houw.

Karena dia memang aneh, Ek Kok taat tanpa banyak bertanya lagi. Puterinya yang masih suka tinggal di Ban-mo-to terpaksa ikut juga, akan tetapi tidak ikut ayahnya yang suka berkeliaran, melainkan tinggal di dekat bekas tempat tinggal Thai It Cinjin melakukan penjagaan mentaati perintah ratu Ban-mo-to.

Setelah empat orang nenek kembar itu menggantikan kakak mereka menghadapi Tek Loan dan kawan-kawannya, ketua Pek-eng-pai menjadi terdesak. Malah dua orang pembantunya telah kena dirobohkan sehingga sekarang keadaan menjadi empat lawan empat.

"Maju, serbu...!!" perintah Tek Loan kepada orang-orangnya dan menyerbulah belasan orang itu dengan senjata tajam di tangan. Betapapun lihainya empat orang pelayan Kui-bo Thai-houw itu, menghadapi keroyokan duapuluh lebih orang-orang Pek-eng-pai yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi itu, repot jugalah mereka.

"Engko Ek Kok..."

"...jangan ngorok aja..."

"...bangunlah segera..."

"...bantulah kami..!"

Demikian mereka bersahut-sahutan minta bantuan kakak mereka yang masih tidur mendengkur sambil bergerak secepatnya untuk melindungi diri dari hujan senjata para pengeroyok. Akan tetapi kakek gundul itu tetap saja mengorok.

Melihat munculnya empat orang wanita yang juga amat lucu dan aneh, mukanya buruk-buruk dan ada mirip-miripnya dengan Ek Kok si gundul. Wi Liong menjadi makin geli dan tertarik. Alangkah banyaknya orang-orang aneh di dunia ini, pikirnya kagum. Juga ia harus memuji ilmu silat empat orang wanita itu yang betul-betul lihai sekali.

Akan tetapi ia juga kaget melihat betapa setiap orang pengeroyok yang roboh di tangan empat orang wanita ini, kesemuanya roboh untuk selamanya karena tak dapat bangun lagi, sudah tewas. Diam-diam ia ngeri juga melihat keganasan hati orang yang dilakukan dengan tertawa-tawa cekikikan!

Karena melihat kekejaman inilah membuat Wi Liong ragu-ragu dan tidak mau turun tangan membantu biarpun empat orang wanita itu mulai terkurung dan terdesak oleh para anggauta Pek-eng-pai...

Jilid selanjutnya,