Cheng Hoa Kiam Jilid 32, karya Kho Ping Hoo - PADA SAAT IA sedang bimbang, ia kaget sekali mendengar berkesiurnya angin yang luar biasa disertai bau semerbak harum. Segera disusul jerit-jerit mengerikan dan ketika Wi Liong memandang, hampir ia berteriak kaget karena semua orang Pek-eng-pai, berikut kepalanya, Tek Loan dan sisanya yang masih ada sembilan belas orang, semua roboh tak dapat bangun lagi!

Dan sebagai gantinya, di atas sebuah batu besar berdiri seorang wanita cantik agung dan angkuh, seorang wanita yang sebetulnya sudah tua akan tetapi karena pakaiannya yang indah, karena hiasan-hiasan dan rawatan mukanya yang dulu memang cantik jelita.
Ia masih nampak muda dan tetap menarik, apa lagi kerling matanya yang masih seindah mata burung hong dan bibirnya yang merah semringah membayangkan gairah hati yang tak kunjung padam. Dari tubuhnya keluar bau semerbak yang harum tadi.
Wi Liong melongo. Tak dapat disangkal lagi, wanita ini memiliki kepandaian yang amat luar biasa. Ginkangnya sempurna sampai-sampai kedatangannya begitu cepat sukar diikuti pandangan mata. Kepandaiannya tinggi sehingga dalam sekejap mata saja semua pengeroyok sudah dirobohkannya.
Akan tetapi alangkah kejam dan ganasnya! Ataukah dia tidak membunuh semua orang itu? Dari tempat Wi Liong bersembunyi, orang-orang yang roboh itu seperti orang pingsan atau terkena totokan saja. akan tetapi tarikan muka pada para korban itu mengerikan dan meragukan hatinya.
Wanita cantik itu membuka mulut dan suaranya halus berpengaruh. "Ek Kok, percuma saja kau memakai julukan Sin-liong (Naga Sakti). Menghadapi orang-orang seperti ini saja kau tidak dapat mengatasi. Karena sudah cukup lama kau bertemu dan melepas rindu dengan keempat orang adikmu, sekarang kau pergilah bersama anakmu dan jangan kau datang kembali sebelum membawa serta anakmu yang seorang lagi. Aku ingin melihat si kembar bersatu kembali!"
Setelah berkata demikian, wanita itu memberi isyarat dengan lambaian tangannya dan empat orang wanita burik yang aneh itu seperti anjing-anjing piaraan lalu mengikuti wanita itu. Adapun kakek gundul itu, tanpa berani membantah lagi lalu pergi dari situ berlari-lari cepat. Tadi begitu wanita cantik itu muncul, ia sudah bangun dan berdiri dengan kepala tunduk.
Tinggal Wi Liong seorang diri di tempat sembunyinya. Keadaan sunyi sepi, mengerikan sekali kalau melihat tubuh-tubuh bertumpuk menggeletak di sana-sini! Wi Liong melompat keluar dan seruan kaget serta marah keluar dari bibirnya ketika ia memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa semua anggauta Pek-eng pai itu sudah mati terkena pukulan jarak jauh yang luar biasa keji dan lihainya.
"Kui-bo Thai-houw.........!" bisiknya mengertak gigi saking gemasnya. "Tak salah lagi, dia tentu Kui-bo Thai-houw. Siapa lagi kalau bukan dia di dunia ini yang begini kejam?"
Makin gelisah hatinya memikirkan keselamatan Eng Lan dan orang-orang lain yang mendatangi Ban-mo-to. Ia cepat melompat, memanggil-manggil para petani yang tadi lari cerai-berai setelah terjadi pertempuran hebat.
"Sudah tidak ada orang jahat lagi. Mayat-mayat itu perlu segera dikubur, kalau tidak, akan membusuk dan akan meracuni daerah ini. Harap saudara-saudara mengumpulkan teman-teman untuk mengurus dan menguburnya. Aku hendak menyusul kawan-kawan ke Ban-mo-to."
Setelah berkata demikian, pemuda ini cepat berlari kencang mengejar Kui-bo Thai-houw dan empat orang pelayannya. Ia tidak perdulikan lagi kakek gundul tadi. Kalau saja Wi Liong mengikuti perjalanan kakek gundul ini dan melihat puterinya, tentu pemuda itu akan mengalami kekagetan yang hebat!
Wi Liong mengerahkan kepandaiannya untuk mengejar Kui-bo Thai-houw, akan tetapi karena yang dikejarnya juga bukan sembarang orang, maka ketika ia tiba di pantai, ia melihat Kui-bo Thai-houw dan empat orang pelayannya itu telah naik sebuah perahu mewah yang sudah mulai bergerak ke tengah lautan pula. Di atas perahu itu ia hanya melihat empat orang pelayan kembar yang gemuk-gemuk tadi, yang berdiri memandang kepadanya sambil tertawa-tawa cekikikan dan menuding-nuding dengan telunjuk seakan-akan mentertawakannya. Wi Liong membanting kaki saking gemasnya, kemudian mencabut sebatang tonggak yang agaknya tadi dipakai untuk mengikat perahu.
"Tunggu dulu...!!" teriaknya dan pemuda perkasa ini mengenjot tubuhnya melompat kedepan. Seperti seekor burung melayang, tubuhnya meluncur ringan dari pantai, mengejar perahu. Akan tetapi jarak antara pantai dan perahu itu sudah terlampau jauh, maka lompatannya yang hebat ini tidak bisa mencapai perahu.
Hal ini sudah diperhitungkannya, maka ia segera melempar tonggak tadi ke atas air dan ketika kedua kakinya turun, ia menginjak tonggak yang terapung itu dan mengenjot lagi mempergunakan tonggak sebagai dasar loncatan. Dengan cara demikian ia bisa sampai di perahu!
"Hebat sekali....”
"Pemuda ganteng....”
"Tapi tidak boleh...."
"Naik ke perahu....!"
Empat orang nenek kembar itu berkata dan bagaikan dikomando saja, tangan mereka dengan gerakan sama menyambit sebuah kim-chi-piauw (senjata rahasia seperti uang logam) ke arah tubuh Wi Liong yang masih melayang ke arah perahu itu. Serangan ini benar-benar berbahaya sekali. Tubuh yang sedang melayang dalam loncatan itu mana bisa mengelak?
Wi Liong yang melihat serangan ini, mengulur tangan dan berhasil menyampok dua buah mata uang, akan tetapi yang dua lagi ia biarkan mengenai dada dan perutnya setelah ia mengerahkan lweekang menghentikan jalan darah dan membikin kebal dada dan perutnya. Dengan demikian, dua buah senjata rahasia itu mental ketika menyentuh kulit dada dan perutnya, dan hanya membikin bolong pakaiannya saja.
"Ayaaa..... Lihai sekali......”
"Pemuda ganteng......."
"Perlu lekas......."
"Laporkan Thai-houw.....!!" Empat orang wanita itu serentak berlari memasuki bilik perahu yang dicat merah.
"Siluman-siluman jangan lari....!" Wi Liong membentak. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika kedua kakinya turun ke atas perahu, baru saja dua kaki itu menyentuh papan perahu dan ia masih menjaga keseimbangan tubuhnya, secara mendadak perahu itu terguling ke kanan seperti roboh terkena serangan hebat dari bawah perahu."Celaka....!" Wi Liong berseru keras. Hal ini sama sekali tak pernah ia sangka-sangka, karenanya ia menjadi kaget dan bingung. Dari pada terguling bersama perahu dan ada bahaya tertindih, ia malah melompat ke kiri dan menceburkan diri ke dalam air. Biarpun bukan seorang ahli, akan tetapi kalau hanya berenang saja Wi Liong juga dapat maka ia tidak takut-takut melompat ke dalam air melihat perahu itu roboh.
Aneh bin ajaib! Perahu yang tadinya mendadak terguling roboh ke kanan itu kini tiba-tiba dan serentak bisa bangun lagi! Dan muncullah Kui-bo Thai-houw di atas dek diiringkan oleh empat orang nenek dan delapan orang pelayan yang muda-muda dan cantik-cantik.
"Hih-hih-hih....."
"Aduh lucunya.....”
"Ada ikan bagus.....”
"Tak ada buntutnya....!" Empat orang nenek itu mengejek Wi Liong yang masih menggerak-gerakkan kaki tangannya didalam air untuk menjaga tubuhnya jangan sampai tenggelam. Delapan orang pelayan yang berpakaian serba hijau dan serba merah menutupi mulut dengan ujung lengan baju menahan ketawa. Mereka ini selain cantik-cantik jelita, juga gerak gerik mereka halus dan sopan seperti puteri-puteri istana saja.
"Tangkap ikan itu," terdengar Kui-bo Thai-houw memerintah dengan suara halus.
"Ikan liar itu...."
"Berbahaya dan kuat...."
"Kalau akan ditangkap.....”
"Sebaiknya menggunakan jala emas."
Kui-bo Thai-houw mengangguk setuju dengan mata masih menatap tajam ke arah Wi Liong. Empat orang nenek kembar itu segera berlari masuk dan tak lama kemudian keluar lagi membawa sebuah jala yang terbuat dari pada benang halus berwarna keemasan. Atas isyarat Kui-bo Thai-houw, mereka lalu melempar jala itu ke arah Wl L;ong sambil tertawa-tawa dan memegangi ujung jala yang merupakan tali panjang.
Wi Liong boleh menjagoi di daratan, akan tetapi di dalam air kepandaiannya terbatas, tak banyak bedanya dengan orang biasa. Ia tadi mendongkol bukan main ketika melihat perahu itu tiba-tiba "bangun" lagi dan tahulah ia bahwa ia telah ditipu mentah-mentah, bahwa perahu tadi miring bukannya akan roboh tenggelam melainkan sengaja dimiringkan oleh orang pandai dari dalam perahu. Orang sakti seperti Kui-bo Thai-houw tentu saja sanggup melakukan hal ini.
Sekarang, tidak ada lain jalan baginya kecuali menyerah saja. Ia takkan melawan sampai ia dinaikkan ke dalam perahu. Karena itu, biarpun menjadi bahan tertawa dan diperlakukan seperti seekor ikan yang dijala dari perahu, pemuda ini hanya menggigit bibir menahan kemarahannya, dan menyerah saja ketika tubuhnya dijatuhi jala kemudian ia dikerek naik ke atas perahu seperti seekor ikan.
"Hi-hi-hi.... dapat ikan....!"
"Alangkah gantengnya ikan ini....!"
"Tentu enak dagingnya....!"
"Berikan saja kepada kami....!"
Demikian empat orang nenek kembar itu berkata sambil cekikikan dan menarik tali jala itu ke atas mengerek tubuh Wi Liong yang berada di dalam jala.
Akan tetapi, ketika jala itu sudah tiba di tengah-tengah antara pinggiran perahu dan air, tiba-tiba Kui-bo Thai-houw memberi isyarat supaya pengerekan itu jangan dilanjutkan. Malah tali jala itu lalu diikatkan di atas dan dengan demikian Wi Liong tergantung di tengah-tengah, di pinggir perahu!
"Eh, kenapa tidak dikerek terus?” seru pemuda ini yang mulai merasa bingung.
Tidak ada jawaban dari atas kecuali suara ketawa cekikikan dan ketawa halus merdu para pelayan muda yang mulai mengiringkan Kui-bo Thai-houw memasuki bilik perahu lagi. Wi Liong menyumpah-nyumpah. Perahu itu tinggi sekali, berbeda dengan perahu-perahu biasa.
Badan perahu itu dari permukaan air ada tiga meter lebih dan kini ia berada di dalam jala, tergantung antara air dan pinggir perahu, tak berdaya sama sekali. Ia tidak mau berusaha memberontak keluar dari jala itu karena kalau hal ini terjadi, berarti ia akan jatuh ke dalam air lagi.
Dari pada berenang dan ada bahaya dimakan ikan hiu, lebih baik berada di jala ini. Apa lagi karena ia memang hendak ke Ban-mo-to. Biarpun dalam keadaan tidak enak dan memalukan, ia sudah membonceng perahu orang ke pulau itu.
Masih untung baginya bahwa benang-benang jala itu benar-benar luar biasa dan halus sehingga ia boleh "duduk" melenggut, terayun-ayun enak juga. Hanya satu hal yang amat mengganggunya, yaitu pakaiannya yang basah kuyup.dan tak lama kemudian setelah pakaiannya agak mengering, ia merasa seluruh tubuhnya kaku-kaku dan asin!
"Awas kalian nanti kalau sudah mendarat," pikirnya gemas. Sekarang ia tidak meragukan lagi bahwa wanita setengah tua yang cantik dan sikapnya agung itu tentulah Kui-bo Thai-houw. Diam-diam ia merasa heran. Tadinya, mendengar nama Kui-bo Thai-houw (Permaisuri Biang Iblis) ia membayangkan seorang wanita yang amat buruk rupa dan menakutkan. Tidak tahunya demikian cantik dan sikapnya seperti seorang permaisuri yang tulen.
Girang hati Wi Liong ketika akhirnya perahu itu berhenti di pinggir sebuah pulau. Ia masih mandah saja tidak melawan ketika jala itu diseret turun. Akan tetapi begitu jala berikut tubuhnya dilempar ke atas pasir di pantai pulau itu, ia serentak melompat berdiri. Ia melihat penyambutan yang mengagumkan terhadap Kui-bo Thai-houw. Di kanan kiri berderet barisan wanita-wanita cantik dengan pakaian beraneka warna, merupakan gapura indah.
"Selamat datang Thai-houw yang mulia! Ban-ban-swe( hidup)....!!" demikian pekik sambutan itu. Dan Kui-bo Thai-houw dengan langkah halus dan lenggang menarik menuruni anak tangga yang dipasang di pinggir perahu agar kaki wanita ini jangan terkena air laut.
Wi Liong sudah tak dapat menahan kesabarannya lagi Ia merenggut jala itu dengan kedua tangan, lalu ditariknya agar benang-benang jala itu putus. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika benang jala itu mulur dan tidak mau putus! Ia menarik-narik lagi, mengerahkan tenaga, namun hasilnya sia-sia belaka. Benang jala itu tidak bisa ia putuskan dengan kedua tangannya!
Wi Liong mulai gelisah. Ia terheran-heran. Tenaga lweekangnya sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Benang bajupun sanggup ia menarik putus, masa benang biasa yang berwarna keemasan ini tak dapat ia memutusnya? Ia mencoba-coba lagi, tubuhnya meronta-ronta mencari jalan keluar, tetap saja sia-sia. Ia seperti ikan dalam jala yang di lempar ke daratan, meronta-ronta, bergerak-gerak hendak keluar.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa cekikikan dan empat orang nenek kembar tadilah yang menertawakannya. Wi Liong marah sekali. Dengan geram ia lalu menerjang maju dan mengamuk dari dalam jala! Empat orang nenek itu masih tertawa-tawa melihatnya, akan tetapi segera mereka lari tunggang-langgang ketika mendapat kenyataan bahwa amukan pemuda itu tak boleh mereka pandang ringan.
Mereka hendak mengelak atau menangkis, akan tetapi entah bagaimana, tahu-tahu dua orang di antara mereka, yaitu Nam Hwa dan Si Hwa, sudah tak dapat mempertahankan diri dan roboh tertotok! Cepat Tung Hwa menyambar Nam Hwa dam Pai Hwa menyambar Si Hwa, dibawa lari menjauhi pemuda di dalam jala itu, lari menuju kepada Thai-houw untuk minta bantuan.
Mendengar laporan mereka. Thai-houw mengerutkan kening dan dua totokan tangannya membuat Nam Hwa dan Si Hwa terbebas dari pengaruh totokan. Kemudian Kui-bo Thai-houw menghampiri Wi Liong.
Pemuda ini yang sudah marah sekali memaiki, "Siluman betina, apakah kau yang bernama Kui-bo Thai-houw....?"
Beberapa orang pelayan wanita yang muda dan cantik menahan jerit kengeriannya mendengar ada orang muda begini tampan berani menghina Thai-houw. Mereka maklum bahwa menyebut Kui-bo (Biang Iblis) di depan Thai-houw, berarti mencari kematian secara mengerikan. Mereka sudah berdebar menanti Thai-houw menjatuhkan tangan mautnya. Akan tetapi aneh! Setelah beberapa menit saling pandang tanpa berkedip. Kui-bo Thai-houw malah tersenyum dan mengangguk!
"Benar dugaanmu. Orang muda yang berani, kau siapakah dan apa maksudmu membikin marah kami?"
"Aku Thio Wi Liong," jawab Wi Liong singkat. "'Kui-bo Thai-houw, kalau kau memang orang gagah, lepaskan jala ini dan mari kita berhadapan secara gagah, tidak curang!"
Wanita itu tersenyum dan semua pengikutnya memandang penuh kekaguman kepada pemuda di dalam jala itu, yang begitu berani, begitu gagah dan begitu ganteng. "Lepaskan sih gampang. Katakan dulu apa maksud kedatanganmu di perahu kami."
"Aku datang untuk minta kau bebaskan nona Pui Eng Lan yang kau culik, juga hendak menyusul rombongan Pak-thian Koai-jin yang kabarnya datang ke Ban-mo-to untuk menolong nona Pui."
Tiba-tiba Kui-bo Thai-houw tertawa. Jarang wanita ini tertawa memperlihatkan giginya, dan sekarang ketika ia tertawa, Wi Liong harus mengakui bahwa wanita ini memang cantik sekali. Giginya masih bagus, kecil rata putih berkilat. Aneh, dalam ketawanya itu, Wi Liong melihat adanya bayangan iri hati yang besar di sudut mata Kui-bo Thai-houw.
"Semua orang tergila-gila kepada si hitam manis! Apa kau mencinta Eng Lan?"
Wi Liong terkejut. Pertanyaan yang sama sekali tak pernah diduganya akan keluar dari mulut Ratu Ban-mo-to ini. "Ti... tidak...! Kui-bo Thai-houw, alasan apanyang membuat kau majukan pertanyaan gila-gilaan ini?"
Kembali Kui-bo Thai-houw tertawa, kini lirih dan tidak menggerakkan bibirnya. "Kau memasuki jala emas adalah kesalahanmu sendiri, seperti ikan sudah masuk jala, mana bisa dilepas? Kalau ada kepandaian, boleh coba melepaskan diri."
Wi Liong marah dan dari dalam jalanya ia menerjang maju, tak dapat melangkah leluasa hanya melompat bersama jalanya. Akan tetapi Kui-bo Thai-houw menggerakkan tangan dan di lain saat ia sudah memegang ujung jala dan memutar tali jala itu di atas kepalanya.
Tubuh Wi Liong di dalam jala itu ikut terputar di udara, di atas kepala Kui-bo Thai-houw! Sambil tersenyum-senyum dan diikuti pandang mata kagum dari para pengikutnya, wanita ini berjalan terus sambil memutar-mutar jala berikut tubuh Wi Liong itu, seperti seorang anak nakal bermain-main.
Wi Liong mendongkol tak usah diceritakan lagi, akan tetapi apa dayanya? Ia berada di dalam sebuah jala yang luar biasa kuatnya, yang terbuat dari pada benang-benang halus yang tak dapat diputus, dan selain itu berada dalam tangan seorang sakti yang berilmu tinggi lagi. Ia hanya mengharapkan akan dapat kesempatan bertemu muka dan bertanding secara seimbang dengan Ratu Ban-mo-to ini.
Kui-bo Thai-houw membawanya terus ke taman bunganya yang hebat. Bukan hanya taman bunga, lebih patut dinamakan kebun raya, karena di situ selain terdapat seribu macam tanaman kembang serba indah, juga terdapat pohon-pohon besar segala macam yang tumbuh dengan megahnya, merupakan sebuah hutan kecil akan tetapi semua tanaman dan pepohonan teratur rapi.
Dengan gerakan ringan seperti burung walet, Kui-bo Thai-houw melompat ke atas sebuah pohon yang besar dan tinggi, kemudian ia mengikatkan ujung jala itu berkali-kali ke sebuah dahan sehingga jala berikut tubuh Wi Liong itu tergantung! Pemuda itu marah-marah dan menuntut supaya dilepaskan, namun percuma saja.
Kui-bo Thai-houw hanya tersenyum dan berkata. "Kau bocah nakal harus diberi hajaran biar kapok!" Kemudian pergi dari situ melenggang memanaskan hati.
Selagi Wi Liong marah-marah dan tak berdaya seperti seekor burung dalam kurungan itu, tiba-tiba pohon itu dahannya tergoyang dan ia melihat seorang gadis melompat ke atas dahan di mana jalanya tergantung.
"Nona Eng Lan...!" Wi Liong berseru kaget heran, dan girang.
"Ssttt....." Gadis manis itu mengisyaratkan dengan jari didepan bibir menyuruh Wi Liong jangan berisik. "Bagaimana kau bisa sampai di sini dan ditawan dengan jala emas!" bisiknya.
"Mereka curangi aku!" jawab Wi Liong gemas. "Nona Eng Lan, lekas kau bantu aku putuskan tali-tali ini dari luar dengan pedangmu."
Eng Lan menggeleng kepalanya. "Percuma, jala ini terbuat dari pada benang yang berasal dari sutera ular emas. Pedang biasa saja takkan mampu memutusnya. Ah, kalau saja Cheng-hoa-kiam.... kau tunggulah, aku akan berusaha mengambil Cheng-hoa-kiam." Gadis itu hendak pergi lagi.
Wi Liong tertegun memandang gadis itu meloncat turun dan lenyap di antara gerombolan pohon. Ia bingung Bagaimana Eng Lan bisa bebas saja di situ? Apakah yang telah terjadi di Pulau Ban-mo-to ini? Di mana yang lain-lain?
Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepala Wi Liong, marilah kita mundur sebentar dan mengikuti pengalaman-pengalaman Eng Lan.
Telah dituturkan di bagian depan bagaimana Eng Lan yang tak berdaya karena totokan Hak Lui, telah disambar dan dibawa lari oleh Kun Hong yang datang bersama Kui-bo Thai-houw membasmi Ngo-tok-kauw dan merampas Ngo-heng-giokcu.
Biarpun tubuhnya tak dapat bergerak, akan tetapi Eng Lan masih ingat dan semenjak melihat kedatangan Kun Hong, gadis ini sudah merasa terheran-heran kemudian menjadi amat gelisah melihat betapa pemuda itu seakan-akan menjadi boneka hidup, menurut dan taat saja atas kehendak dan perintah wanita setengah tua yang lihai itu, Kui-bo Thai-houw.
Ia mandah saja dibawa lari dan dipondong oleh kekasihnya, sungguhpun hatinya tidak rela karena ia masih penasaran hendak mendengar penjelasan semua itu dari mulut Kun Hong. Di balik rasa keraguan dan kegelisahan ini, iapun merasa bahagia sekali, bukan karena dapat melepaskan rindunya dalam pondongan orang yang dikasihinya, akan tetapi terutama sekali karena melihat kekasihnya itu selamat dan agaknya sehat-sehat saja. Sudah sembuhkah Kun Hong? Mengapa sekarang seperti menjadi kaki tangan wanita siluman itu?
Kun Hong yang memondong Eng Lan, di tengah jalan diam-diam membuka jalan darah gadis itu, lalu memberi isyarat supaya Eng Lan jangan banyak membantah.
"Kau bawa aku ke mana....?" gadis ini berbisik setelah dapat menormalkan kembali peredaran darahnya.
"Diamlah, sayang... diamlah dan serahkan saja kepadaku....." jawab Kun Hong sambil mendekap tubuh kekasihnya erat-erat pada dadanya.
Untuk sejenak Eng Lan meramkan matanya, merasa berbahagia sekali. Akan tetapi kembali timbul keraguan dan kesangsian hatinya dan ketika ia membuka mata. ia melihat Kun Hong memandang kepadanya dengan mesra. Akan tetapi di balik kemesraan ini ia melihat sesuatu yang ganjil memancar keluar dari mata pemuda itu, seperti orang marah, seperti orang iri, seperti orang cemburu.
Ketika Kui-bo Thai-houw melihat pemuda itu memondong Eng Lan, keningnya berkerut akan tetapi senyumnya manis dan suaranya lembut ketika bertanya, "Kau bawa gadis ini?"
Kun Hong mengangguk. "Dia kawan baikku, aku suka padanya, biar tinggal di pulau bersama kita."
"Siapa namanya?" tanya pula Kui-bo Thai-houw, garis kerut-merut pada keningnya makin jelas.
"Pui Eng Lan,” jawab Kun Hong singkat.
Kui-bo Thai-houw mengangguk-angguk. "Sudah pernah kumendengar nama itu kau sebut-sebut dalam tidurmu." Lalu wanita ini melanjutkan perjalanan dan tidak memperdulikan lagi pada Kun Hong dan Eng Lan.
Kui-bo Thai-houw tidak seperti Thai Khek Sian yang membolehkan kekasih-kekasihnya bermain gila dengan siapapun juga. Wanita ini amat cemburu. Akan tetapi terhadap Kun Hong ia tidak berani melarang. Hal ini adalah karena ia terlampau sayang kepada pemuda itu yang sudah menjadi kekasih, anak angkat dan murid sekaligus.
Pernah ia melihat Kun Hong berkasih-kasihan dengan seorang pengikutnya. Ia marah. Pelayan itu dibunuhnya dan melihat ini Kun Hong memberontak, hampir minggat dari pulau. Kui-bo Thai-houw menyesal dan selanjutnya berjanji takkan melarang pemuda itu berkasihan dengan siapapun juga asalkan tidak meninggalkan dirinya dan selalu taat!
Kun Hong yang masih belum mendapatkan pengobatan Im-yang-giok-cu, merasa seperti diikat kaki tangannya. Ia terpaksa tunduk kepada wanita aneh ini. Selain menanti datangnya saat pengobatan untuk menyambung nyawanya, juga di samping ini ia masih menambah kepandaiannya dari Kui-bo Thai-houw yang tidak segan-segan menurunkan ilmunya kepada pemuda itu.
Inilah sebabnya mengapa Kun Hong berani membawa Eng Lan bersamanya ke Ban-mo-to dan Kui bo Thai-houw tidak melarangnya. Akan tetapi kalau Kun Hong merasa gembira dapat membawa Eng Lan bersamanya, adalah gadis itu yang menjadi panas hatinya dan sakit perasaannya, dibakar api cemburu. Ia memberontak dari pondongan Kun Hong. Kun Hong mencegahnya, "Kalau kau lari, Thai-houw akan membunuhmu!" ia memperingatkan.
"Aku tidak sudi kau pondong!" jawab Eng Lan yang cukup cerdik untuk menahan diri tidak lari, karena iapun maklum bahwa menghadapi orang-orang sakti itu ia takkan berdaya melarikan diri. Eng Lan mengikuti rombongan itu berjalan kaki dan Kun Hong berjalan di sampingnya.
"'Kenapa kau bisa melakukan perjalanan bersama Wi Liong? Ada apa antara kau dan dia?" tak tertahan lagi Kun Hong mengajukan pertanyaan ini karena ia dibakar oleh api cemburu sejak tadi melihat Eng Lan dan Wi Liong menjadi tawanan Ngo-tok-kauw. Suaranya jelas membayangkan cemburu dan iri hatinya, dan hal ini diketahui baik oleh Eng Lan yang menjadi lebih marah lagi.
"Manusia tak tahu diri!" desisnya perlahan. "Kau yang katanya pergi mencari obat, kiranya hidup mewah dan senang di dekat siluman-siluman itu menjadi orang hina-dina. Dan semua itu masih kau tambah lagi dengan pikiran yang rendah dan bukan-bukan terhadap diriku? Sungguh memualkan!" Dan gadis ini jalan menjauhi Kun Hong tidak sudi menengok lagi.
Merah wajah Kun Hong. Ia mengerti bahwa Eng Lan sudah dapat menduga akan keadaannya dengan Kui-bo Thai-houw. Ia ingin bicara banyak, ingin menerangkan isi hatinya kepada Eng Lan, akan tetapi karena mereka sedang berjalan bersama rombongan Kui-bo Thai-houw, tentu saja tidak leluasa baginya untuk bicara di situ. Maka ia diam saja dan hanya menjaga agar Eng Lan jangan sampai melarikan diri.
Demikianlah, Eng Lan dibawa ke Ban-mo-to, mendapatkan kebebasan karena ia dianggap kekasih Kun Hong. Tak seorangpun mengganggunya. Akan tetapi mana sudi Eng Lan didekati Kun Hong? Ia malah selalu menjauhkan diri dari pemuda itu dan berkeliaran di atas Pulau Ban-mo-to yang indah. Pernah Kun Hong berhasil menjumpainya seorang diri dan pemuda ini berkata perlahan,
"Eng Lan, kau pertimbangkan keadaanku baik-baik. Aku memang mencari obat dan satu-satunya orang di dunia ini yang bisa mengobati aku dan menyambung nyawaku hanyalah Thai-houw. Oleh karena itu, mana bisa aku tidak mentaatinya? Selain pengobatan, akupun menerima petunjuk ilmu silat. Budi yang begitu besar, apakah tidak patut kalau dibalas? Harap kau jangan cemburu, aku.... aku tetap mencinta padamu. Percayalah, kalau ada gadis yang kucinta sepenuh jiwaku, kaulah gadis itu."
Dengan sinar mata berapi gadis itu memandang Kun Hong. "Siapa perduli? Siapa perduli kau mau apa? Mau jungkir-balik di sini, mau hidup sebagai pangeran, mau menjadi begundal atau.... kekasih siluman-siluman di sini.... tidak perduli aku!"
Air matanya mulai bercucuran. "Aku... aku lebih suka melihat kau mati karena lukamu...!" Tak tertahan lagi Eng Lan menangis sambil berlari pergi menjauhi Kun Hong.
Pemuda ini berdiri bengong. Hatinya risau dan ia tidak tahu harus berbuat apa. Memang sesungguhnya pengakuannya tadi. Semenjak bertemu dengan Eng Lan, hatinya sudah terisi dan tidak ada lain wanita di dunia ini yang dapat merebut cinta kasihnya. Kalau ia menjadi kekasih Kui-bo Thai-houw dan wanita-wanita lain, itu bukanlah cinta kasih hanya sekedar menuruti hati muda dan terutama sekali karena ia terpaksa menuruti kehendak hati Kui-bo Thai-houw yang ia butuhkan untuk menolongnya memberi obat.
Demikianlah pentingnya pendidikan Kun Hong yang semenjak mudanya terdidik oleh orang-orang sesat dan hidup di dalam lingkungan orang-orang seperti Bu-ceng Tok-ong, Tok-sim Sian-li, dan Thai Khek Sian, jalan pikirannya pun terpengaruh dan baginya, bermain gila dengan wanita-wanita penghuni Ban-mo-to.
Bukanlah apa-apa dan tak perlu dipusingkan oleh Eng Lan. Ia belum dapat menjajaki hati Eng Lan dan menyelami isi hati yang murni dari seorang gadis sopan dan putih bersih seperti Eng Lan. Selama ini Kun Hong hanya mengenal isi hati wanita-wanita seperti Tok sim Sian-li!
Di lain fihak, biarpun hatinya terasa perih dan sakit sekali melihat keadaan Kun Hong di Ban-mo-to, namun cinta kasih yang bersemi dalam hati Eng Lan sudah amat mendalam. Ia boleh kecewa, boleh berduka, akan tetapi tak dapat ia membenci Kun Hong. Boleh mulutnya memaki-maki dan sinar matanya berapi hendak membakar pemuda itu, namun hatinya tetap sejuk dan tidak bisa ia melempar atau membuang bayangan Kun Hong dari lubuk hatinya.
Cinta kasihnya terhadap pemuda itu sudah mendarah daging, sudah terlalu mendalam sehingga gadis ini malah tidak mempunyai ingatan untuk mencoba melarikan diri dari Ban-mo-to. Kun Hong berada di situ, iapun tidak mau pergi, biarpun ia harus menderita kesengsaraan hati dan selalu bersikap benci dan menjauhi Kun Hong. Memang cinta kasih bisa membikin banyak macam dongeng dan menimbulkan banyak macam perangai yang aneh-aneh pada orang-orang muda.
Beberapa hari kemudian, sebuah perahu besar mendekati Pulau Ban mo-to. Hal ini menimbulkan geger di pulau itu. Para gadis penjaga pantai yang melihat perahu ini terheran-heran. Belum pernah ada perahu asing berani mendekati Ban-mo-to, apa lagi mendarat, karena mendarat berarti mengantar nyawa dengan sia-sia. Mereka cepat-cepat mengirim laporan kepada Kui-bo Thai-houw dan sebagian pula mempersiapkan perlawanan dan memperkuat penjagaan.
Yang pertama kali keluar dari perahu itu adalah seorang kakek tinggi besar. Thai It Cinjin diikuti oleh Im yang Siang-cu. Kemudian muncul Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong, di belakangnya menyusul puteranya yaitu Kong Bu yang nampak pucat dan lemah karena lukanya bekas pukulan Hek-tok-sin-ciang dari Thai Khek Sian.
Para gadis penjaga pantai tentu saja mengenal Thai It Cinjin, maka mereka tidak berani sembarangan bergerak. Namun tetap saja mereka tidak bisa membiarkan pulau yang mereka anggap keramat ini didatangi orang-orang begitu saja. Mereka membentuk barisan menghadang di jalan dan seorang gadis yang berpakaian merah berkata,
"Pulau Ban-mo-to tidak boleh didatangi orang tanpa seijin Thai-houw!"
Melihat barisan gadis-gadis cantik ini, Thai It Cinjin dan kawan-kawannya berhenti. Thai It Cinjin tertawa bergelak lalu berkata. "Nona-nona manis, lekas laporkan kepada Thai-houw bahwa aku Thai It Cinjin dari Kim-Ie-san dan beberapa orang kawan sengaja datang berkunjung untuk membalas kebaikan kunjungan Thai-houw ke Kim-Ie-san tempo hari."
Sebelum ada yang menjawab dari tengah pulau itu terdengar suara halus akan tetapi berpengaruh sekali, suara Kui-bo Thai-houw. "Biarkan mereka datang menghadap!"
"Terima kasih, Tiai-houw yang baik, terima kasih. Kami datang menghadap!" kata Thai It Cinjin sambil berjalan menuju ke tengah pulau, diikuti oleh kawan-kawannya.
Seperti sudah dituturkan terdahulu, Kong Bu. See-thian Hoat-ong, dan Pak-thian Koai-jin yang hendak menolong Eng Lan pergi ke Ban-mo-to lebih dulu mampir di Kim-Ie-san minta bantuan Thai It Cinjin dan dua orang sutenya, Im-yang Siang-cu. Kong Bu yang minta tolong kepada Thai It Cinjin. Tadinya Thai It Cinjin segan membantu karena maklum bahwa menentang Kui-bo Thai-houw bukanlah hal yang mudah dan tidak berbahaya.
Akan tetapi ketika ia mendengar bahwa dua orang muridnya terculik oleh Thai Khek Sian dan kini sedang dikejar oleh seorang pemuda murid Thian Te Cu, ia menjadi tidak enak juga kalau tinggal peluk tangan. Thai It Cinjin orangnya cerdik sekali maka seketika itu juga ia mendapatkan akal.
"Boleh saja dan tentu aku suka membantu kalian," katanya. "Akan tetapi karena Kui-bo Thai-houw tak boleh dipandang ringan, harap kalian bersabar dan biarkan aku menghadapinya dengan jalan damai. Jangan ada yang bersikap sembrono dan mengambil keputusan sendiri. Setuju?"
Demikianlah, dengan langkah tenang dan muka ramah Thai It Cinjin memimpin kawan-kawannya menuju ke tengah pulau. Setelah dekat dengan perumahan Kui-bo Thai-houw dan anak buahnya, di kanan kiri jalan berderet barisan gadis-gadis cantik, sikap mereka keren dan gagah, tangan kanan memegang pedang tangan kiri bertolak pinggang!
Thai It Cinjin dan Pak-thian Koai-jin tersenyum-senyum, yang lain memandang kagum. Benar-benar sebuah pulau wanita yang aneh dan indah, orangnya cantik-cantik dan tetanaman di pulau itu kesemuanya tidak ada yang liar, semua terawat dan teratur indah.
Tiba-tiba melompat bayangan yang gesit dan Eng Lan muncul, langsung maju menghadap Pak-thian Koai-jin. "Suhu...!"
Melihat muridnya bebas lepas, malah pedangnya masih dibawa di pinggang, bergerak begitu saja seperti menjadi seorang di antara penghuni-penghuni pulau, Pak-thian Koai-jin menjadi bengong terlongong. Tentu saja hal ini sama sekali tak pernah disangkanya, ia susah-susah datang untuk menolong muridnya yang disangkanya terculik orang jahat eh, tidak tahunya muridnya itu bebas saja kelihatan enak-enak di pulau ini!
"Kau... tidak apa-apa....!" tanya Pak-thian Koai-jin kepada muridnya, memandangi muridnya itu dari kepala sampai ke kaki.
Eng Lan menggeleng kepala, tersenyum akan tetapi matanya menitikkan dua butir air mata! Gadis ini lalu ikut berjalan bersama suhunya, mengikuti Thai It Cinjin yang hanya terganggu sebentar oleh kedatangan Eng Lan. Baginya, munculnya Eng Lan yang membuat Pak-thian Koai-jin girang sekali itu tidak ada artinya.
"Suhu, teecu telah bertemu dengan.... Kun Hong...."
"Hemm, di sini? Bagus, karena itukah kau bisa bebas?" jawab Pak-thian Koai-jin dengan suara berbisik pula.
Eng Lan mengangguk, "Suhu, dia.... dia berubah sekali.... dia....." Eng Lan menahan-nahan, akan tetapi pipinya tahu-tahu sudah basah oleh air mata.
Pak-thian Koai-jin adalah seorang yang sudah banyak pengalamannya. Ia tadi melihat adanya banyak gadis-gadis cantik di pulau ini dan ia dapat menduga orang macam bagaimana adanya Kun Hong murid Thai Khek Sian.
"Bangsat muda itu tidak pantas untukmu...." celanya.
"Suhu....!"
Pak thian Koai-jin menarik napas panjang sambil menggeleng-geleng kepalanya. "Hemmm, baiklah.... baiklah.... aku takkan mencela pilihanmu itu."
"Suhu.... teecu biarpun bebas akan tetapi tidak bisa pergi dari Ban-mo-to. Di sini berbahaya sekali, Kui-bo Thai-houw lihai bukan main. Harap suhu berhati-hati."
"Aku hanya datang untuk minta kau dibebaskan. Mudah-mudahan Thai-houw tidak membikin urusan menjadi sengketa," kata Pak-thian Koai-jin, suaranya terdengar biasa dan tenang-tenang saja.
Akan tetapi sebetulnya ia gelisah sekali. Bukan gelisah menghadapi musuh berat seperti Kui-bo Thai-houw karena bagi tokoh besar seperti dia ini, menghadapi lawan-lawan berat bukanlah hal yang asing lagi. Akan tetapi yang membuat ia gelisah adalah keadaan muridnya ini mengenai diri Kun Hong.
Juga Eng Lan gelisah bukan main. Belum tentu gurunya kalah oleh Kui-bo Thai-houw, melihat bahwa gurunya datang bersama orang-orang pandai. Akan tetapi biarpun andaikata suhunya menang dan ia diperbolehkan meninggalkan Ban-mo-to, apa artinya baginya kalau Kun Hong tetap berada di situ? Apa artinya baginya kalau dengan mendapatkan kembali kemerdekaannya ia kehilangan Kun Hong?
Rombongan itu telah tiba di depan rumah besar tempat tinggal Kui-bo Thai-houw dan berhenti di situ karena di depan pekarangan yang lebar terjaga oleh belasan orang gadis pelayan yang memegang tombak. Akan tetapi tidak lama mereka tertahan di situ karena tampak Kui-bo Thai-houw dalam pakaian seindah-indahnya berjalan keluar dari pintu rumahnya dengan langkah halus.
Mukanya baru dibedak, putih kemerahan, matanya bersinar bibirnya tersenyum, ia diikuti oleh Kun Hong, kemudian di belakangnya berjalan empat orang nenek kembar dan belasan orang pelayan cantik-cantik barisan serba empat. Benar-benar amat ganjil melihat Kun Hong di antara sekian banyaknya wanita. Satu-satunya pria dalam sebuah dunia wanita!
Kui-bo Thai-houw duduk di atas sebuah kursi kuning yang sudah disediakan di pekarangan itu, yang lain-lain berdiri di belakangnya. Setelah itu barulah dia memberi isyarat ke depan supaya tamu-tamu disuruh masuk. Pintu pekarangan dibuka dan masuklah rombongan itu, Thai It Cinjin di depan, baru yang lain-lain.
"Thai It Cinjin, apa maksud kau dan kawan-kawanmu datang mengganggu kami di sini?" Kui-bo Thai-houw menegur dan dari suaranya saja sudah dapat diketahui bahwa wanita ini merasa tidak senang hatinya. Matanya menyambar ke arah semua tamunya dan sekilas ia memandang Eng Lan yang berdiri di sebelah kiri suhunya.
Wajah Kun Hong menjadi berubah sedikit ketika ia melihat Eng Lan bersama rombongan itu, akan tetapi aneh, pemuda ini tidak memandang lama dan selanjutnya bersikap tidak mengacuhkan hal itu sama sekali. Bukan main mendongkolnya hati Eng Lan.
Thai It Cinjin cepat memberi hormat kepada wanita cantik itu, lalu berkata, mukanya ramah tersenyum, "Thai-houw yang baik, harap maafkan aku dan kawan-kawanku. Aku datang untuk memberi hormat, untuk membalas kunjunganmu beberapa bulan yang lalu, dan untuk mengagumi pulaumu yang indah ini."
"Tak usah plintat-plintut panjang lebar, hayo katakan apa keperluanmu!" Kui-bo Thai-houw membentak dengan suara masih halus.
Thai It Cinjin menjadi gugup juga. Bukan main wanita ini, tidak bisa diajak bersopan-sopan, la menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya yang berguncang. Lalu ia melangkah maju dan berkata,
"Dahulu Thai-houw sudah datang mengunjungi Kim-Ie-san dan dalam kesempatan itu aku melihat kelihaian Thai-houw, juga ketika itu aku tidak jadi menewaskan saudara muda ini," ia menuding ke arah Kun Hong, "Karena ternyata dia ini sudah menjadi sahabat-sahabat baik kedua orang muridku Hui Nio dan Hui Sian. Urusannya dengan Beng Kun Cinjin adalah urusan ayah dan anak dan kami tidak ikut campur. Baiknya Thai-houw keburu datang sehingga saudara muda ini selamat dan sekarang malah berada di sini. Aku merasa girang melihat hal ini dan...."
"Cukup, jangan berbelit-belit. Apa maksudmu sebenarnya?" Thai-houw memotong tak sabar lagi.
Thai It Cinjin melanjutkan kata-katanya dengan tergesa-gesa, "Saudara muda ini murid Thai Khek Sian, akan tetapi sungguh aneh sekali, beberapa hari yang lalu Thai Khek Siansu dan Beng Kun Cinjin datang dan menculik kedua orang muridku dan melukai tunangan muridku, Kong Bu ini," Ia menuding calon suami Hui Nio.
"Karena mengingat bahwa murid-muridku itu sahabat baik saudara muda ini, mengingat pula akan kelihaian Thai-houw dan nama besar Thai-houw yang tentu saja tidak kalah oleh Thai Khek Siansu. Maka kedatanganku ke sini selain kunjungan penghormatan juga hendak minta kemurahan hati Thai-houw untuk mengobati Kong Bu yang terkena pukulan Hek-tok-sin-ciang dan kemudian menggunakan pengaruh Thai-houw untuk minta kedua orang muridku dibebaskan,"
Kun Hong mengerutkan alisnya. Tak senang hatinya mendengar gurunya, Thai Khek Sian, menculik Hui Nio dan Hui Sian. Juga ia merasa aneh bagaimana gurunya bisa datang bersama Beng Kun Cinjin. Hatinya panas dan ingin ia segera mengejar ke Pek-go-to mencari ayahnya yang amat dibencinya itu, akan tetapi ia berada dalam kekuasaan Kui-bo Thai-houw, tak dapat ia pergi sembarangan saja.
Mendengar omongan Thai It Cinjin itu, Pak-thian Koai-jin tersenyum pahit. Ia maklum bahwa urusan Eng Lan sama sekali tidak diperdulikan oleh orang tua itu maka tidak disebut-sebut. Adapun Kui-bo Thai-houw memandang sejenak ke arah Kong Bu, kemudian ia menatap wajah See-thian Hoat-ong dan Pak-thian Koai-jin, pandang matanya menduga-duga dan menaksir-naksir, Im-yang Siang-cu tak ditolehnya.
"Saudara yang seperti panglima perang gagah perkasa ini siapakah?" tanyanya menuding See-thian Hoat-ong.
"Aku adalah ayah Kong Bu yang luka ini, namaku Kong Lek In..."
Thai-houw mengingat-ingat. Dahulu dia tinggal di istana kaisar dan dia paling memperhatikan urusan negara maka banyak ia mengenal nama-nama panglima besar yang berkuasa dan terkenal. "Kau dari Sin-kiang?" tanyanya tiba-tiba, teringat.
Kong Lek In mengangguk hormati. "Mohon kemurahan hati Thai-houw untuk mengobati puteraku yang terluka," katanya.
"Ah, kau tentu See-thian Hoat-ong, bukan?" Ketika Kong Lek In kembali mengangguk, wanita itu kelihatan gembira. "Bagus, bagus! Sudah lama mengenal nama, dahulu tiada kesempatan bertemu. Dan pengemis ini siapa?" Ia menuding ke arah Pak-thian Koai-jin.
Kakek ini mengangguk-angguk sambil tertawa, menggerak-gerakkan mangkok butut di tangan kanan seperti seorang pengemis sedang meminta-minta. "Kiranya Thai-houw bersifat pemurah, buktinya Cinjin (orang berkedudukan tinggi) dan Hoat-ong pada datang minta berkah. Aku seorang pengemis mana mau ketinggalan? Tongkat pembantu jalan sudah kubawa, mangkok tempat sedekah sudah kupegang! Thai-houw, aku Pak-thian Koai-jin datang minta kau bebaskan muridku ini sekalian menghaturkan terima kasih bahwa selama ini muridku sudah menjadi tamumu di sini."
Ucapan yang agak aneh dan berputar-putar ini tidak memarahkan Kui-bo Thai-houw, malah wanita ini kelihatan tercengang dan gembira. "Ah, kiranya tokoh-tokoh besar belaka yang datang ke sini."
Tiba-tiba sikapnya berubah, nampak keren dan sepasang mata yang indah itu mengeluarkan sinar berapi. "Semua bilang mohon, minta pada hakekatnya menuntut! Boleh saja kalian membuka mulut, akan tetapi mana aku takut terhadap tuntutan kalian? Hemm, Thai It Cinjin, soal Thai Khek Sian adalah urusanku sendiri untuk mengajar adat atau tidak, tak perlu kau membawa-bawa aku dan Kun Hong.
"Juga tentang mengobati puteramu, See-thian Hoat-ong, tergantung dari sikapnya dalam beberapa hari ini di sini. Aku yang memutuskan kelak hendak diobati ataukah tidak. Dan kau, pengemis dari utara, sudah lama aku mendengar nama besarmu, kiranya kau hanya seorang pengemis yang tidak mampu mengajar adat pada murid. Kalau aku tidak mau membebaskan muridmu, kau mau apakah?"
Menarik sekali kalau memperhatikan muka tiga orang tokoh besar itu pada saat mendengar kata-kata ini. Muka Thai It Cinjin berubah pucat, muka See-thian Hoat-ong yang sudah kemerahan itu menjadi merah sekali dan muka Pak-thian Koai-jin bergerak-gerak tersenyum lebar.
"Thai-houw, jawabannya berada di mulutmu. Sebenarnya kau menghendaki apakah?" Pak-thian Koai-jin bertanya.
Bagi orang lain, kiranya pertanyaan ini akan dianggap kurang ajar, akan tetapi tidak bagi Kui-bo Thai-houw. Ia malah tersenyum mengangguk-angguk. "Tak percuma kau berjuluk Koai-jin (Orang Aneh). Kau sudah dapat menangkap kehendakku. Dengarlah, kalian hari ini datang sebagai tamu-tamu tak diundang, karenanya harus mentaati undang-undangku, begini : Siapapun juga berani menginjak pulau ini tanpa seijinku, harus mati!"
Tentu saja Thai It Cinjin, Im-yang Siang-cu, See-thian Hoat-ong, dan Pak-thian Koai-jin marah sekali mendengar "undang-undang" seenaknya sendiri saja ini, akan tetapi mereka diam saja, ingin mendengarkan apa yang selanjutnya akan diucapkan oleh wanita cantik akan tetapi berhati iblis ini.
Setelah berhenti sebentar untuk melihat bagaimana sikap tamu-tamunya mendengar ucapannya tadi, sambil tersenyum Kui-bo Thai-houw melanjutkan kata-katanya, "Akan tetapi, karena kalian adalah tokoh-tokoh penting di dunia kangouw dan datang dengan permintaan-permintaan, biar kurobah sedikit undang-undang itu. Kalian tidak akan mati begitu saja, akan tetapi diberi kesempatan membela diri.
"Malah ada pahalanya. Karena kalian adalah ahli-ahli silat, biarlah kalian seorang demi seorang melawan anak angkatku ini. Kalau kalian kalah, tak perlu bicara lagi, berarti mati. Kalau menang, selain kuanggap sebagai tamu yang kuundang, juga permintaan. permintaanmu tadi akan dipertimbangkan...."