Cheng Hoa Kiam Jilid 28

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Cheng Hoa Kiam Jilid 28
Sonny Ogawa

Cheng Hoa Kiam Jilid 28, karya Kho Ping Hoo - PAK-THIAN KOAI-JIN membanting-banting kakinya, menggaruk-garuk kepalanya. "Mana bisa? Mana dia mau....?”

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

"Tentu saja dia tidak mau karena hatinya tidak condong kepadaku. Locianpwe, perkara perjodohan harus diserahkan kepada yang akan menjalani barulah tepat karena suka duka perjodohan kelak hanya dua orang yang akan merasai."

"Suhu, mari kita pergi kalau tidak teecu akan pergi sendiri!" terdengar Eng Lan berkata setelah hilang kekhawatirannya akan dipaksa berjodoh dengan Wi Liong setelah ia mendengar ucapan pemuda itu. Di dalam hatinya, ia berterima kasih kepada pemuda ini.

"Nanti dulu... nanti dulu..." Pak-thian Koai-jin menudingkan tongkatnya kepada Wi Liong. "Eh, orang muda... kau pintar mengakali aku orang tua. Akan tetapi kau masih kalah janji, sekarang kau harus mau berjanji untuk menolong aku membasmi iblis-iblis Ngo-tok-kauw (Perkumpulan Lima Racun).

"Baik, aku berjanji, locianpwe, asal saja perkumpulan itu memang sudah sepantasnya dibasmi."

"Tentu saja pantas dibasmi. Kau datang saja menyusul kami ke hutan sebelah utara kota Siang-tan, di sanalah sarang mereka."

"'Baik, locianpwe, aku pasti akan menyusul ke sana." janji Wi Liong yang menjadi girang sekali dapat terbebas dari godaan kakek nakal itu.

Pak-thian Koai-jin lalu pergi menyusul muridnya sambil mengomel panjang pendek, hatinya kecewa karena lagi-lagi Eng Lan menolak pilihannya. Ia suka sekali kepada Wi liong dan akan besarlah hatinya kalau mempunyai murid mantu seperti dia!

Setelah bayangan dua orang itu lenyap, baru Wi Liong berani naik ke darat dan memakai pakaiannya dengan hati lega. Lain kali dia tidak akan mandi tanpa pakaian dan meninggalkan pakaian begitu saja, pikirnya. Bagaimana kalau ada orang jail mencuri pakaiannya? Tentu terpaksa ia akan merendam diri sampai malam gelap, baru berani keluar. Celaka!

Kemudian ia ingat akan janjinya. Ngo-tok-kauw? Perkumpulan apakah itu? Belum pernah ia mendengar nama ini. Sebelum utara kota Siang-tan? Siang-tan tak terlalu jauh letaknya dari situ. Aku sudah berjanji, harus kupenuhi janji itu. Setelah mengambil keputusan ini Wi liong lalu berangkat menuju ke Siang-tan.

Kota Siang-tan letaknya di sebelah selatan Tung-ting di mana mengalir Sungai Kemala. Ketika Wi Liong sedang berlarian menuju ke selatan dan menjelang senja ia sudah tiba di sebelah utara kota itu, ia melihat Pak-thian Koai-jin sudah menantinya di pinggir jalan, di luar hutan!

"Cepat muridku telah mereka culik....!" kata-kata pertama yang menyambutnya ini mengejutkan hati Wi Liong.

"Locianpwe... harap kau memberi penjelasan dulu. Siapakah mereka itu? Apakah orang-orang Ngo-tok-kauw yang kau sebutkan tadi? Mengapa memusuhi mereka dan bagaimana pula nona Pui dapat terculik?”

Pak-thian Koai-jin memukulkan tongkatnya di tanah, kelihatan tidak sabar. "Aku sudah menunggumu sejak siang tadi, setelah bertemu masa hanya disuruh mengobrol? Mengobrol tidak ada gunanya, paling perlu cepat bertindak menolong muridku!"

"Akan tetapi aku harus tahu lebih dulu duduknya perkara, locianpwe. Tidak sempurna bertindak tanpa dipikir dulu. bukan?"

"Alaaaaa, sudahlah mari kuceritakan sambil berjalan. Jangan-jangan muridku sudah mereka tewaskan selagi kita mengobrol di sini!" Setelah berkata demikian kakek itu lalu berlari memasuki hutan.

Terpaksa Wi Liong juga berlari karena pemuda ini kaget mendengar ucapan tadi. Sambil berlarian cepat, kakek itu secara singkat menceritakan bahwa Ngo-tok-kauw adalah perkumpulan agama baru yang muncul dari pantai laut selatan.

Sebetulnya tidak dapat disebut perkumpulan jahat karena para anak buah atau anggautanya tak pernah mengganggu orang lain, dan mata pencaharian mereka adalah mencari batu-batu Sungai Kemala yang ternyata kaya akan batu-batu berharga.

Hanya saja, mereka mengandalkan kepandaian mereka untuk mengusir setiap orang nelayan yang berlalu lintas di sepanjang sungai itu dan seakan-akan menganggap sungai itu milik mereka! Memang mereka sering kali membantu penghidupan para nelayan, memberi sumbangan sejumlah uang besar kepada para nelayan yang miskin.

"Kalau begitu mereka tidak jahat!" seru Wi Liong terheran.

"Mereka memang tidak melakukan praktek-praktek jahat, akan tetapi mereka itu kejam dan ganas luar biasa. Setiap orang nelayan yang berani membantah perintah mereka, yang berani berperahu di sungai itu, tanpa ampun lagi mereka bunuh dan mayat nelayan itu mereka jadikan bahan untuk racun-racun mereka yang jahat!"

Wi Liong melebarkan matanya, ngeri dan heran. "Kenapa perkumpulan mencari batu kemala itu memakai nama kauw (perkumpulan agama)?"

"Entah, siapa tahu! Mereka menyembah ular-ular berbisa, yang menjadi kauwcu (ketua agama) juga seorang wanita tua seperti ular." Sampai di sini Pak-thian Koai-jin kelihatan ngeri dan takut. "Hebat sekali kauwcu itu ilmunya tinggi dan kalau aku tidak panjang langkah, tentu akan mampus di tangannya!"

"Locianpwe, kau dan muridmu mengapa memusuhi mereka sampai nona Pui sekarang diculik?”

"Dasar Eng Lan yang keras kepala. Kalau dia mau memilih kau sebagai calon suami, kan beres, tidak timbul permusuhan dengan Ngo-tok-kauw...." kakek itu mengomel, membuat Wi Liong terheran-heran.

"Bocah itu kegilaan si Kun Hong murid Thai Khek Sian itu dan ia sambil menangis minta bantuanku mencarikan batu kemala yang disebut Im-yang-giok-cu, katanya batu itulah yang akan dapat menyambung nyawa Kun Hong yang terluka hebat oleh pukulan Im-yang-lian-hoan dari Kun-lun-pai. Katanya ia rela mempertaruhkan nyawa untuk mencarikan obat pemuda itu..." Pak-thian Koai-jin menarik napas panjang. "Orang muda kalau sudah jatuh cinta, otaknya menjadi miring...!"

Wi Liong merasa terharu sekali, terharu dan juga terkejut. Ia teringat bahwa Kun Hong memang sudah terluka hebat ketika bersama Eng Lan mengunjunginya di Wuyi-san, akan tetapi ia tidak sangka bahwa itulah luka akibat Im-yang-lian-hoan dari Kun-Iun-pai.

"Aku bukan hanya guru Eng Lan. Akan tetapi dia juga kuanggap seperti anak sendiri. Ayah mana yang takkan bingung ditangisi anaknya seperti itu? Terpaksa aku lalu berusaha mencari Im-yang-giok-cu di Sungai Kemala."

"Kenapa di sungai itu?"

"Im-yang-giok-cu hanya dimiliki oleh Kui-bo Thai-houw di Ban-mo-to. Kalau batu itu sudah berada di tangan biang iblis itu, siapa orangnya berani mencari ke sana? Aku biarpun sudah tua bangka belum ingin mampus, maka aku mengajak Eng Lan mencari di Sungai Kemala karena tidak ada batu apapun yang tidak terdapat di sungai itu.

"Nah, itulah yang menyebabkan adanya permusuhan antara kami dan Ngo-tok-kauw. Mereka melarang aku mencari batu di sungai itu dan terjadi pertempuran. Melawan anak buah mereka aku dan Eng Lan masih sanggup. Akan tetapi setelah muncul pentolan-pentolan mereka, benar-benar berat.

"Terpaksa aku dan Eng Lan melarikan diri, dikejar terus sampai di Tung-ting di mana kebetulan sekali aku bertemu dengan kau. Tadi ketika aku dan Eng Lan tiba di hutan ini, tiba-tiba kami diserang oleh orang-orang Ngo-tok-kauw dan Eng Lan diculik mereka! Kau sih yang datang terlambat!"

Wi Liong terkejut sekali. Kalau sampai terhadap pentolan-pentolan saja kakek sakti ini tidak berdaya, betapa hebatnya kepandaian kauwcu mereka! Dalam urusan ini, biarpun masih sukar disebut siapa benar siapa salah, akan tetapi keselamatan Eng Lan terancam dan bagaimana juga ia harus menolong nona itu dari bahaya maut.

Sementara itu, senja telah terganti malam. Sebetulnya kalau orang berada di luar hutan, mungkin cuaca belum begitu gelap. Akan tetapi, hutan itu liar dan penuh pohon besar maka keadaan di situ sudah amat gelapnya. Pak-thian Koai-jin berhenti di bawah sebatang pohon siong tua. lalu berkata perlahan.

"Sarang mereka berada di sana itu, di sebelah barat sungai yang mengalir dalam hutan ini. Kita harus berhati-hati karena mereka itu rata-rata memiliki kepandaian tinggi dan penjagaan tentu diperkuat. Ketika aku pertama kali menyerbu dengan Eng Lan, kami mengambil jalan dari sungai. Akan tetapi mereka sekarang tentu sudah menjaga tepi sungai."

Mendengar suara kakek itu terdengar jerih sekali. Wi Liong tersenyum dalam gelap. Agaknya fihak musuh memang luar biasa hebatnya, kalau tidak tak mungkin dapat membikin jerih kakek sakti ini yang sudah terkenal di dunia kangouw. terutama sekali di utara, tempat asalnya.

"Harap locianpwe menanti di sini saja dulu, dan biarkan aku mencari tahu tentang kedudukan mereka. Kalau mungkin akan kutolong nona Eng Lan dan kubawa keluar dari sarang mereka. Kepadaku mereka belum kenal, tentu kurang perhatian mereka, tidak seperti terhadap locianpwe."

Pak-thian Koai-jin sudah mengenal pemuda ini dan sudah tahu pula akan kelihaiannya, maka ia mengangguk dan banya memesan, "Kalau mendapat kesulitan harap bersuit tiga kali dan... hati-hatilah, mereka benar-benar lihai sekali."

Wi Liong mengangguk sambil tersenyum lalu berkelebat dan lenyap dalam kegelapan hutan itu setelah mendapat petunjuk di mana sarang perkumpulan itu. Ia menyelinap di antara pohon-pohon besar. Matanya awas dan gerakannya gesit sekali sehingga di tempat yang demikian liar dan gelap dia masih dapat bergerak dengan lincah dan cepat.

Betul saja, ia melihat penjaga-penjaga di dalam hutan itu., penjaga-penjaga yang menjaga di sekitar bangunan-bangunan megah yang merupakan sebuah dusun kecil di tengah hutan liar itu. Para penjaga ini berpakaian biasa saja. Hanya topi mereka seragam, yaitu topi kebundaran seperti bentuk kepala ular dan lima warna pula!

Gerak-gerik mereka memang menunjukkan bahwa mereka terdidik dan berkepandaian ilmu silat, akan tetapi tentu saja tingkat mereka masih amat rendah kalau dibandingkan dengan Wi Liong maka mereka itu tak seorangpun dapat mendengar atau melihat kedatangan Wi Liong yang bergerak amat rincan dan cepatnya. Dengan mudah saja Wi Liong menerobos penjagaan itu dan memasuki perkampungan Ngi-tok-kauw.

Keadaan di perkampungan itu terang-berderang. Jauh sekali bedanya dengan di dalam hutan tadi. Pohon-pohon telah dibabati dan perkampungan itu nampak bersih dan pada saat itu nampak penerangan memenuhi tengah-tengah perkampungan. Sementara itu bulan purnama yang baru mulai muncul menambah terangnya cuaca.

Akan tetapi keadaannya sunyi dan ketika Wi Liong mendekati sebuah rumah di pinggir, di situ kosong saja. Tiba-tiba ia mendengar suara orang-orang yang datangnya dari arah tengah perkampungan yang terang itu. Ia cepat melompat naik ke atas genteng dan bergerak maju menuju ke tengah.

Kiranya para anggauta Ngo-tok-kauw sedang berkumpul di sebuah lapangan yang agaknya sengaja diadakan di tengah perkampungan, semacam alun-alun yang tidak begitu luas akan tetapi cukup menampung para anggauta yang jumlahnya ada limapuluhan orang laki -laki wanita.

Seperti para penjaga tadi, baik laki-laki maupun wanita yang berkumpul di situ semua memakai topi berbentuk kepala ular yang berwarna lima, hanya bentuknya berbeda, kalau wanita memakai hiasan bunga-bunga sutera di kepala. Orang orang itu sedang duduk mengelilingi seorang nenek tua berpakaian hitam yang mengerikan sekali keadaannya.

Wanita tua ini tubuhnya kecil tinggi dan berlenggak-lenggok seperti ular gerak-geriknya. Ketika itu ia tidak duduk, melainkan berbaring di atas tilam permadani, kadang-kadang melingkar, kadang-kadang mengangkat kepala gerak geriknya meniru ular, akan tetapi ia mengeluh dan mengaduh, agaknya menderita sakit.

Para anggauta Ngo tok-kauw duduk di atas rumput begitu saja mengelilingi tempat nenek itu yang cukup lega. Seperti juga para anggautanya, nenek yang menjadi kauwcu (ketua perkumpulan agama) inipun mengenakan topi berbentuk kepada ular dan Wi Liong dari jauh dapat melihat bahwa memang topi yang dipakai nenek itu terbuat dari pada kepala ular aseli.

Bahkan mata dan taring ular itu masih kelihatan, di atas kepalanya, menimbulkan pemandangan yang mengerikan. Tak jauh dari tempat nenek ini berbaring, kelihatan sebatang tongkat hitam bengkak-bengkok yang panjangnya ada dua meter, tertancap di atas tanah seperti tonggak.

Selain nenek ini, yang duduk di dalam lingkaran orang-orang itu, kelihatan tiga orang muda duduk di pojok. Yang seorang adalah Pui Eng Lan, duduk di atas tanah dengan kaki tangan terbelenggu kuat-kuat. Gadis ini yang wajahnya pucat kelihatan merasa ngeri memandang nenek itu, akan tetapi ia sama sekali tidak kelihatan takut, malah sinar matanya memancarkan keangkuhan.

Di sebelah kiri Eng Lan duduk seorang gadis lain, gadis cantik berkulit kemerahan yang dari mata dan bibirnya menunjukkan watak yang genit dan cabul. Lirikan-lirikan matanya tajam, bibirnya tersenyum-senyum dan pakaiannya amat ketat membungkus tubuhnya sehingga potongan dan bentuk tubuhnya tercetak nyata, apa lagi kain pakaiannya terbuat dari sutera tipis. Pakaiannya indah dan di punggungnya tergantung sebatang pedang pendek.

Di sebelah kanan Eng Lan duduk seorang pemuda bertubuh tegap tinggi besar, juga pakaiannya indah dan kelihatan gagah sekali. Sayang mukanya hitam dan bopeng (burik), hidungnya terlalu besar dan matanya terlalu sempit, mulutnya tak pernah tertutup. Pendeknya, muka yang tidak akan menimbulkan rasa suka pada hati wanita. Juga pemuda yang usianya duapuluh lima tahun ini pada pinggangnya tergantung sebatang pedang panjang.

Wi Liong dengan sepintas lalu memandang ini semua dan ia heran dan ingin tahu apakah yang akan terjadi selanjutnya. Untuk menolong Eng Lan begitu saja tidak mudah karena tempat gadis itu duduk telah dikurung. Di sudut lain terdapat lima buah keranjang bambu yang bentuknya bundar, tingginya dua kaki.

Wi Liong tidak tahu apakah isi keranjang itu. Ia menanti saat baik untuk menolong Eng Lan, sambil bersembunyi memperhatikan nenek yang ia dapat menduga tentulah kauwcu Ngo-tok-kauw. Pada saat itu, nenek yang seperti ular tubuhnya itu nampak marah-marah, berguling-gulingan gelisah dan berdengus-dengus, menambah keseraman keadaannya.

"Aku masiih kuat...! Aku tidak akan mati...! Siapa bilang aku terlalu tua menjadi kauwcu? Hayo bilang, siapa berani berkata demikian??" tiba-tiba nenek itu menggeliatkan tubuhnya dan tahu-tahu ia sudah berdiri, tinggi dan kecil seperti pohon bambu.

Di antara para anggauta yang duduk mengelilingi tempat itu, tidak ada yang berani berkutik. Mereka kelihatan takut sekali kepada nenek itu. Nenek itu lalu memutar tubuhnya menghadapi dua orang muda tadi, matanya jelilatan dan Wi Liong melihat sepasang mata kemerahan.

"Kalian berdua bukan anak anak keponakan yang baik! Kalian berdua adalah anak-anak yang puthauw (durhaka). Kalau tahu kalian bakal menentangku, dulu-dulu ketika masih bayi sudah kucekik mampus. Ha-ha-hi-hi!"

Wanita itu menggerak-gerakkan kepalanya dan bergemerlapan cahaya batu-batu permata yang menghias leher dan dadanya terkena sinar obor dan bulan. Rata-rata anggauta Ngo-tok-kauw, apa lagi gadis dan pemuda di dalam lingkaran itu, memakai banyak permata-permata atau batu batu kemala yang bermacam-macam warnanya.

"Pek-bo (uwa), kami mengusulkan pengunduranmu demi kebaikanmu sendiri. Sudah tua lebih baik mengaso dan biarkan yang muda-muda bekerja menggantikanmu," terdengar pemuda buruk rupa itu berkata.

"Coba tuh dengar, menyebut pek-bo. Apakah aku sudah kau anggap bukan kauwcu mu lagi?" bentak wanita tua itu sambil menggeliat-geliatkan pinggangnya seperti seorang penari perut.

"Hih, sudah tua tak tahu tuanya!" gadis genit itu mencela sambil meruncingkan bibirnya yang merah.

"Ciu Kim....!!" Nenek itu membentak marah sambil menghentak-hentakkan tongkat hitamnya yang sudah dicabut, matanya bersinar-sinar menatap wajah gadis itu. Akan tetapi gadis bernama Ciu Kim itu juga berdiri tegak, tangan kanan meraba gagang pedang, siap untuk menanti serangan, sikapnya menantang sekali.

Nenek itu ragu-ragu, lalu menarik napas panjang dan suaranya seperti orang menangis ketika berkata, "Anak-anak nakal... dulu kutimang-timang... dulu kuajar silat... setelah lebih pandai melawan....!"

Pada saat itu, dari luar lingkaran orang melompat masuk lima orang kakek yang pakaiannya berbeda beda. Seorang berpakaian serba merah, ke dua serba putih, ke tiga serba hitam, ke empat serba kuning dan ke lima serba hijau, akan tetapi topi mereka serupa, lima warna dan berbentuk kepala ular.

Melihat sikap mereka dan pakaian mereka, Wi Liong menduga bahwa mereka inilah kiranya yang disebut pentolan-pentolan Ngo-tok-kauw oleh Pak-thian Koai-jin dan yang mengalahkan kakek itu bersaima muridnya.

Melihat lima orang itu kauwcu Ngo-tok-kauw menghentikan kemarahannya dan bertanya. "Ada laporan apa?”

Si baju hitam menjawab hormat. "Kauwcu, Pak-thian Koai-jin datang bersama seorang pemuda, akan tetapi pemuda itu lenyap entah di mana sedangkan Pak-thian Koai-jin tidak memasuki batas penjagaan, hanya berkeliaran di luar saja."

"Hih-hih-hih... tua bangka mabok itu. Mau apa dia? Tak usah dijaga, biar dia masuk kalau berani. Kalian berlima di sini saja, menjadi saksiku."

Lima orang pembantu ketua itu lalu duduk di atas tanah di belakang tempat duduk ketua dan diam tak bergerak.

"Kalian dua orang bocah durhaka tidak berhak bersikap sesuka sendiri!" si nenek itu kembali menghadapi Ciu Kim dan pemuda itu yang bernama Hak Lui. "Akulah kauwcu dan aku pula yang menetapkan siapa yang menjadi penggantiku. Karena kau berdua kurang ajar, biar aku yang memilih. Dan aku memilih dia ini! Mulai sekarang dia menjadi muridku dan kelak menggantikan kedudukanku menjadi kauwcu dari Ngo-tok-kauw!" Nenek ini menudingkan telunjuknya ke arah Eng Lan.

Tentu saja Eng Lan menjadi kaget dan heran bukan main. Hak Lui mengerutkan kening memandang kepada Eng Lan dan sebaliknya Cui Kim melompat ke depan dan menghunus pedangnya.

"Tua bangka mau mampus! Kau sudah gila? Perkumpulan ini dahulu dengan susah payah didirikan oleh ayah bundaku. Setelah mereka meninggal, kau menjadi kauwcu hanya karena aku dan kakak misanku Hak Lui masih kecil. Sekarang kami sudah dewasa dan akulah yang berhak menggantikan kedudukan ayah bundaku sebagai Ngo-tok-kauwcu. Masa begitu saja kau mau berikan kepada orang lain? Aku tidak membolehkannya!"

"Cui Kim! Kau ada hak apa melarangku dan mengangkat diri sendiri menjadi kauwcu?" bentak nenek itu marah.

"Hak ku kau tanya? Hak sebagai ahli waris pendiri Ngo-tok-kauw. Hak sebagai orang terbaik, tercantik, paling kuat dan pandai di sini. Siapa tidak setuju boleh maju dan mencoba pedangku!"

Nenek itu menoleh kepada lima orang pembantunya. "Hayo kalian mengapa diam saja? Bocah ini hendak memberontak, tangkap dia!" perintahnya.

Akan tetapi lima orang itu saling pandang dan tidak bergerak. Kemudian yang berpakaian putih berkata. "Kauwcu, mana bisa kami melawan Theng-siocia? Tugas kami hanya membantunya dan membantu kauwcu, akan tetapi bukan melawannya."

Nenek itu makin marah. Ia membanting-banting kakinya dan tubuhnya makin menggeliat-geliat aneh, itulah tanda bahwa dia marah sekali. Tiba-tiba ia mencabut sebatang tongkat dan mata Wi Liong menjadi silau melihat tongkat itu karena segera cahaya kebiruan tercampur cahaya kemerahan, kuning, dan lain-lain seperti sinar pelangi bersinar dari tongkat itu. Tongkat itu pendek saja, hanya satu kaki terbuat dari pada kayu kehitaman yang mengkilap dan di kepala tongkat itu terdapat sebuah batu kemala besar yang mengeluarkan cahaya aneh itu.

"Kalian lihat, Ngo-heng-giok-cu (batu kemala lima elemen) berada di tanganku, siapa yang tidak menurut pada pemegang ngo-heng-giok-cu dihukum mati!" katanya kepada lima orang pembantu itu.

Melihat tongkat ini, lima orang kakek itu menjadi bingung sekali dan segera berlutut dan membentur-benturkan kepala di atas tanah. "Hamba menurut perintah... menurut perintah..." terdengar mereka berkata.

"Tangkap Cui Kim! Tangkap atau bunuh! Dia memberontak kepada kauwcu!" kata nenek itu dengan sikap dan suara seperti seorang ratu mengeluarkan perintah, tongkat Ngo-heng-giok-cu itu diangkat tinggi-tinggi di atas kepalanya.

Benar-benar mengherankan, kalau tadi lima orang pembantu itu ragu-ragu dan segan untuk menyerang Cui Kim puteri pendiri Ngo-tok-kauw, sekarang melihat tongkat dengan batu kemala warna lima itu mereka segera serentak berdiri dan meloloskan senjata mereka, masing-masing sebatang golok besar.

"Menjunjung tinggi Ngo-heng-giok-cu lambang perkumpulan Ngo-tok-kauw, mentaati perintah kauwcu kami harap Theng siocia suka menyerah dan tunduk kepada kauwcu!" kata si baju putih mewakili kawan-kawannya.

Terdengar suara ketawa merdu dan nyaring akan tetapi mengandung nada mengejek. "Kalian berlima ini sudah seperti bukan manusia lagi hanya alat. Mau menangkap atau membunuh aku? Majulah!" Setelah berkata demikian, gadis itu malah mendahului, menyerang dengan pedang pendeknya dengan gerakan yang amat gesit.

Lima orang pentolan Ngo-tok-kauw itu menggerakkan golok, berpencar dan sebentar saja telah membentuk barisan lima penjuru dan melakukan ilmu silat Ngo heng-kun yang amat kuat. Diam-diam Wi Liong kagum dan terkejut. Pantas saja Pak-thian Koai-jin dan muridnya kalah, kiranya lima orang ini memiliki Ilmu Silat Ngoheng-kun yang dijalankan oleh lima orang dan demikian kuatnya.

Akan tetapi ketika melihat bagaimana gadis itu menghadapi Ngo-heng-kun, ia menjadi makin kagum dan terkejut. Tidak saja gadis itu dapat melayani dengan baik, malah dengan ilmu silat semacam Ngo-heng-kun yang sudah dicampur ilmu silat lain yang aneh, gadis itu dapat menindih gerakan-gerakan lawan dan dapat mengatasi semua desakan karena nampaknya hafal sekali akan semua gerak-gerik lima oramg pengeroyoknya! Dilihat begitu saja seakan-akan lima orang kakek itu adalah murid-muridnya.

Sebetulnya hal ini memang tidak begitu mengherankan kalau orang tahu akan duduknya perkara. Gadis itu adalah Theng Cui Kim puteri tunggal Theng Gak pendiri dari Ngo-tok-kauw. Ketika Cui Kim masih kecil, baru berusia sebelas tahun, ayah bundanya meninggal dibunuh orang.

Karena Cui Kim masih kecil, juga kakak misannya The Hak Lui yang yatim piatu dan menjadi murid ayahnya belum dewasa, maka pimpinan Ngo-tok-kauw diserahkan kepada kakak perempuan ibunya, yaitu nenek yang seperti ular tubuhnya itu. Akan tetapi sebelum tewas.

Theng Gak meninggalkan sebuah kitab pelajaran ilmu silat Ngo-tok-kauw yang ia ciptakan sendiri berdasarkan Ilmu Silat Ngo-heng-kun. Theng Cui Kim dipesan oleh ayahnya agar kitab itu jangan diperlihatkan lain orang. Cui Kim berhati keras dan berkemauan besar maka selanjutnya ia belajar ilmu itu secara diam-diam dan mendapatkan kepandaian tinggi.

The Hak Lui pemuda muka hitam itu juga belajar ilmu silat dan karena dia memang tekun mencari guru-guru di luaram, iapun memiliki kepandaian yang tidak rendah dengan ilmu silat campuran.

Setelah dua orang muda ini menjadi dewasa, mereka merasa bahwa Ngo-tok-kauw telah diselewengkan oleh kauwcu yang sekarang ini, tidak hanya khusus pencari batu kemala seperti yang dimaksudkan oleh Theng Gak semula, akan tetapi diperhebat dan diperdalam tentang agama yang menyeramkan dan penuh ketahyulan.

Maka dua orang muda itu mengusulkan supaya kauwcu sekarang itu mengundurkan diri dan mereka berdua yang akan memimpin, pendeknya mereka hendak menyingkirkan kauwcu bertubuh seperti ular itu sehingga terjadi keributan pada hari itu. Pertempuran berlangsung cepat dan empat puluh jurus telah lewat.

Wi Liong dapat menduga bahwa akhirnya lima orang pengeroyok itu akan kalah. Dugaannya ini terbukti pada jurus ke empat puluh lebih. Sambil tertawa dan memutar pedang lebih cepat lagi, pedang pendek yang sudah menindih lima batang golok itu menyambar, terdengar suara keras disusul teriakan-teriakan kaget kelima orang itu karena golok mereka telah terlepas dari tangan, yang dirasakan perih dan sakit sekali.

Ketika mereka melompat mundur, ternyata tangan mereka telah terluka dan tergores pedang! Mereka kagum sekali dan juga amat berterima kasih karena puteri pendiri Ngo-tok-kauw itu kiranya masih mengampuni nyawa mereka, kalau tidak tentu mereka sekarang sudah menggeletak menjadi mayat!

Diam-diam merekapun insyaf bahwa Ngo-tok-kauw akan menjadi jauh lebih baik kalau dipimpin oleh nona ini. Di bawah pimpinan kauwcu yang sekarang, sering kali terjadi hal-hal kejam dan nyawa anak buah Ngo-tok-kauw tidak terjamin, demikian mudahnya kauwcu membunuh anggautanya kalau dianggap membangkang. Tadi merekapun sudah ragu-ragu, hanya karena melihat tongkat Ngo-heng-giok-cu saja mereka terpaksa tidak dapat membantah lagi.

Melihat orang-orang kepercayaannya dikalahkan, marahlah kauwcu. Ia memekik ngeri dan maju menghadapi Cui Kim sambil mengacungkan tongkat dengan kemala lima warna itu. "Pemberontak cilik! Kau tidak melihat tongkat ini,? Masih berani kau melawan kehendak kauwcumu?" bentaknya.

Tongkat itu biasanya ditakuti oleh semua anggauta Ngo-tok-kauw. Memang tongkat ini merupakan tanda kebesaran atau lambang Ngo-tok-kauw dan mempunyai riwayat yang menarik. Ketika dahulu Theng Gak memimpin anak buahnya mencari batu-batu kemala di Sungai Kemala ia mendapatkan batu kemala besar yang mengeluarkan cahaya lima macam ini.

Dan pada hari itu juga ia digigit ular berbisa di pinggir sungai sehingga ia roboh dalam keadaan empas-empis dan tubuhnya membengkak semua. Hebatnya, tidak hanya seekor ular yang menggigitnya, melainkan lima ekor ular berbisa sekaligus.

Baiknya isterinya pernah mendengar tentang khasiat batu kemala yang disebut Ngo-heng-giok-cu ini, maka cepat ia menggosok-gosokkan semua luka gigitan dengan batu itu. Hebatnya, racun ular keluar semua dihisap oleh batu Ngo-heng-giok-cu dan cahaya batu itu makin bersinar terang seakan-akan semua racun itu merupakan alat pencuci!

Maka selamatlah nyawa Theng Gak. Semenjak hari itu, ia menganggap batu itu batu keramat yang harus dijunjung oleh semua anggauta Ngo-tok-kauw, sedangkan nama perkumpulan Ngo-tok (Lima Racun) pun diambil dari peristiwa itu. Juga lima macam ular yang menggigitnya dipelihara baik-baik sampai hari itu. sudah berkali-kali berganti kulit.

Melihat tongkat dengan batu kemala itu, Cui Kim membentak. "Kembalikan tongkat ayah!'" Cepat seperti ular menyambar, lengan kiranya bergerak merampas tongkat itu.

Nenek itu yang dahulu terkenal dengan nama Siu-toanio, cepat mengelak dan terjadilah perebutan tongkat dengan ramainya. Akhirnya dari perebutan tongkat menjadi pertempuran dahsyat. Cui Kim menggunakan pedang pendeknya, Siu-toanio mempergunakan tongkat hitamnya, sedangkan tongkat bermata Ngo-heng-giok-cu sudah ia simpan lagi, diselipkan di ikat pinggangnya.

Pertempuran yang terjadi kini amat cepatnya dan amat indah dipandang di bawah sinar bulan yang sudah memancarkan cahaya sepenuhnya tanpa dihalangi mega. Langit bersih biru, sinar bulan bersih kuning keemasan. Tongkat panjang nenek itu berubah menjadi segunduk sinar hitam yang mengerikan, yang bergerak ke sana ke mari menimbulkan angin bersiutan.

Pedang di tangan Cui Kim berubah menjadi segulung sinar putih. Bagi mata orang-orang di situ, yang terlihat hanyalah dua gulung sinar hitam dan putih ini, saling desak saling tindih dengan hebat. Akan tetapi bagi mata Wi Liong yang bersembunyi di atas pohon, ia dapat mengikuti jalannya pertandingan dengan pandang matanya.

Diam-diam ia kaget juga melihat Ilmu Silat Ngo-heng-kun yang diperlihatkan nenek itu. Benar-benar amat ganas, curang, dan cepat kuat. Tubuh nenek yang lenggak-lenggok seperti ular dapat menggeliat-geliat itu menambah kelihaiannya karena ia dapat mengatur serangan penuh gerak tipu yang sukar diduga.

Akan tetapi Cui Kim mengagumkan sekali. Tidak saja ilmu silatnya memang lebih tinggi tingkatnya, biarpun kalah matang dan kalah taktik, juga ia memiliki tubuh yang lebih gesit dan ringan. Dengan ilmu silatnya Ngo-tok-kun yang merupakan perbaikan dan penyempurnaan Ngo-heng-kun yang dimainkan oleh Siu-toanio, gadis itu dapat mengimbangi malah mengatasi permainan lawan.

Tiba-tiba Siu-toanio mengeluarkan seruan keras dan topi kepalanya terlempar, rambutnya terurai dan sebagian putus terbabat pedang. Dengan amat marah nenek itu mengeluarkan dua buah benda dari dalam saku dan memasangkan dua benda itu di kedua ujung tongkat hitamnya.

Wi Liong dari atas pohon dengan kaget dan ngeri melihat benda-benda itu bergerak-gerak dan ternyata itulah dua ekor ular kecil, yang seekor berwarna putih yang seekor lagi hitam, ular-ular beracun yang berbahaya tentunya!

Melihat dua ekor ular itu. Cui Kim yang tahu bahwa itu adalah dua ekor ular yang amat berbisa, menjadi kaget dan jerih. Permainan pedangnya menjadi kacau-balau dan sebentar saja ia sudah terdesak hebat. Mulailah nenek itu tertawa-tawa dan terus menggencet gadis itu tanpa mengenal ampun lagi. Jelas dari serangan-serangannya bahwa ia bermaksud membunuh Cui Kian.

"Semua ular takut kepada Ngo-heng-giok-cu!" tiba-tiba terdengar seruan Hak Lui pemuda muka hitam tadi.

Dalam hal ilmu silat, kiranya pemuda ini tidak selihai Cui Kim, akan tetapi dia memiliki kecerdikan luar biasa. Inilah sebabnya Cui Kim suka bekerja sama dengan dia untuk membantunya memimpin Ngo-tok-kauw. Kalau tidak cerdik sekali pemuda ini, mana Cui Kim sudi bekerja sama dengan pemuda yang selain kepandaiannya tidak dapat melebihinya, juga mukanya amat buruk tidak menyenangkan hatinya itu?

Mendengar ucapan The Hak Lui tadi. Cui Kim tiba-tiba tersadar dan cepat ia merobah gerakan pedangnya, kini mati-matian melancarkan serangan maut bertubi-tubi dengan jurus-jurus yang paling berbahaya dari Ngo-tok-kun.

Siu-toanio kaget sekali sampai berseru keras dan terdesak mundur. Kesempatan ini dipergunakan oleh Cui Kim untuk menubruk maju, tangan kirinya menyambar dan di saat yang sama, ia berhasil merampas tongkat bermata Ngo-heng-giok-cu, akan tetapi pundak kanannya digigit oleh ular hitam!

Siu-toanio marah sekali akan tetapi juga girang bahwa ularnya dapat menggigit Cui Kim. Ia mengharapkan Cui Kim roboh tak bernapas lagi. Dapat dibayangkan betapa gemas dan kecewanya ketika melihat gadis itu sambil tertawa-tawa menggosok-gosokkan mata tongkat itu pada pundaknya dan semua racun dihisap oleh Ngo-heng-giok-cu!

Nenek itu menyerang lagi, akan tetapi Cui Kim mengangkat tongkat bermata Ngoheng-giok-cu dan dua ekor ular itu jatuh terlepas dari ujung tongkat, melingkar di tanah seperti tak bertenaga lagi, sama sekali tak berdaya oleh hawa yang keluar dari Ngo-heng-giok-cu yang benar-benar merupakan batu mustika yang jarang bandingannya!

Pedang Cui Kim menyambar lagi, terdengar jerit kesakitan dan tongkat hitam terlempar. Sebuah tendangan membuat nenek itu terpaksa jatuh berlutut karena tulang kaki kirinya patah! Cui Kim melompat maju pedangnya bergerak dan....”tak!" lima jari tangan nenek itu yang sebelah kanan putus semua!

"Kau masih belum mengakui aku sebagal kauwcu setelah Ngo-heng-giok-cu berada di tanganku?" bentak Cui Kim.

Siu-toanio berlutut dan menganggukkan kepala. "Kauwcu...!" ia berkata tanpa mengeluh sakit biarpun tulang kakinya patah dan lima jari kanannya putus.

Lima orang kakek tadi juga berlutut dan menyebut, "Kauwcu...!"

Para anggauta bersorak, "Hidup kauwcu baru...!" Mereka rata-rata memang tidak suka kepada Siu-toanio yang amat ganas dan kejam, maka gembiralah mereka sekarang dapat mengangkat Cui Kim sebagai ketua perkumpulan mereka.

Hanya Hak Lui yang tersenyum-senyum saja dan tidak ikut berlutut memberi hormat kepada kauwcu baru itu. Cui Kim mengerutkan alis tanda tak senang, akan tetapi karena baru saja menjadi kauwcu dan ia membutuhkan bantuan Hak Lui. Ia diam saja tidak menegur kakak misannya yang sebetulnya juga suhengnya itu karena Hak Lui ketika kecil belajar ilmu silat pada ayahnya.

Dengan bangga dan wajahnya yang cantik manis berseri-seri, matanya mengerling ke sana ke mari dengan tajam, sambil membawa tongkat bermata Ngo-heng-giok-cu. Cui Kim lalu duduk di atas permadani yang tadi menjadi tempat duduk Siu-toanio.

"Menurut peraturan yang berlaku kauwcu baru belum sah kedudukannya sebagai pemimpin kalau belum berkenalan dengan Ngo-tok-coa (Lima Ular Beracun)!" tiba-tiba Siu-toanio berkata, suaranya keras dan mengandung ejekan biarpun sikapnya menghormat sambil berlutut.

Cui Kim mengejek dalam senyum manisnya. "Kau kira aku tidak tahu akan peraturan ayah sendiri?" la menoleh kepada lima orang kakek tadi sambil memberi perintah "Hayo lakukan upacara itu!"

Wi Liong yang sejak tadi mengintai semua pertunjukkan itu, menjadi makin tertarik dan ingin sekali ia meliihat "upacara." itu. Dilihatnya bahwa sampai sebegitu jauh, keselamatan Eng Lan tidak terancam, maka ia hendak melihat gelagat sebelum secara sembrono turun tangan menolong Eng Lan dan mengganggu upacara perkumpulan agama yang aneh itu.

Sementara itu Theng Cui Kim yang sekarang sudah menjadi calon kauwcu baru itu telah melepaskan topi kepala ularnya dan tampaklah rambutnya yang hitam halus dan panjang terurai di kedua pundak dan punggungnya. Wajahnya yang putih kelihatan pucat dikelilingi rambut hitam itu. Kemudian gadis ini menggulung lengan bajunya sampai seatas siku sehingga kedua lengan tangan yang berkulit putih kekuningan itu nampak.

Adapun lima orang kakek pembantu tadi telah mengeluarkan tambur, gembreng. dan suling. Empat orang di antara mereka terus saja membunyikan alat tetabuhan ini dan terdengar musik yang aneh dan nyaring. Wi Liong sendiri sebagai seorang ahli suling dan suka akan musik, mendengar bunyi-bunyian ini merasa kagum karena ia dapat menangkap pengaruh yang gaib dan keramat dalam bunyi-bunyian itu.

Cui Kim memberi isyarat dan kakek ke lima yang berpakaian serba putih membuka tutup lima buah keranjang bambu tadi. Suara suling ditiup makin nyaring ketika sumbat kelima keranjang itu dibuka dan perlahan-lahan tampaklah kepala ular tersembul keluar dari keranjang-keranjang itu.

Mula-mula kepala-kepala ular itu tersembul, memandang ke kanan kiri sambil menjulurkan lidah yang kecil merah, kemudian seperti tertarik oleh suara musik terutama sulingnya, ular-ular itu merayap keluar dari keranjang masing-masing.

Wi Liong sudah banyak menjelajah tempat-tempat berbahaya, hutan-hutan besar dan gunung-gunung. Melihat ular-ular itu dengan terkejut ia mengenal ular-ular beracun yang paling hebat dan berbahaya. Hebatnya, ular-ular itu berlainan warnanya, tidak besar tapi cukup panjang dan kelihatan liar dan gesit sekali. Inilah lima ekor ular yang dulu menggigit ayah Cui Kim, pendiri Ngo-tok-kauw. Ular-ular yang sudah tua sekali akan tetapi selalu berganti kulit, yang makin lama menjadi makin berbahaya racunnya.

Para penabuh musik makin kencang menabuh alat masing-masing, keadaan menjadi makin serem dan Cui Kim mulai menari-nari dan mulailah para anak buah Ngo-tok-kauw bertepuk-tepuk tangan menguatkan irama musik. Tarian Cui Kim aneh dan indah, juga menyeramkan hati Wi Liong.

Gadis yang rambutnya terurai ini mulai menari mengelilingi lima ekor ular itu, tubuhnya yang langsing berlenggak-lenggok, lemas sekali seakan akan ia tak bertulang. Pinggangnya menggeliat-geliat, kedua lengan yang berkulit putih bersih dan nampak merah kekuningan tertimpa cahaya bulan itu, bergerak-gerak dan lemas seperti dua ekor ular, matanya bersinar-sinar bibirnya setengah terbuka, penuh nafsu yang amat aneh.

Wi Liong bergidik, juga Eng Lan yang menonton pertunjukan ini. Benar-benar upacara yang aneh dari Agama Lima Racun ini. Hebatnya lima ekor ular itu seakan-akan sudah biasa bergembira seperti ini, buktinya mereka itupun menggeliat dan seperti menari-nari ke sana ke mari.

Betapapun juga menghadapi gadis yang menari aneh mengelilingi mereka itu lima ekor binatang liar itu amat menaruh perhatian dan selalu curiga. Ke manapun juga Cui Kim memutar, lima ekor ular itu selalu mengikuti dengan mata, kepala mereka bergerak-gerak dan leher diangkat ke atas.

Cui Kim yang seperti telah kemasukan pengaruh ajaib, tiba-tiba melakukan tarian rendah, tubuhnya merendah menggeliat-geliat seperti seekor ular, kadang-kadang mukanya yang cantik itu hampir menyentuh tanah. Ia makin mendekati ular yang berkulit keputih-putihan, mendekat sambil tersenyum-senyum dan mengeluarkan bunyi mendesis perlahan.

Ular putih itu nampak marah juga mendekat dan muka binatang itu sudah dekat berhadapan dengan muka Cui Kim yang sama sekali tidak takut atau jijik, malah matanya mengerling dan bibirnya tersenyum seperti laku seorang wanita menggoda pria. Tiba-tiba ular itu mendesis dan cepat sekali kepalanya bergerak maju, menyerang dan menggigit!

Hampir saja Wi Liong menggerakkan tangan menyambit ular itu kalau ia tidak ingat bahwa nona yang menari dengan ular itu adalah kauwcu perkumpulan Ngo-tok-kauw yang tentu saja seorang ahli dalam hal racun dan sebagainya!

Memang Cui Kim sama sekali tidak mengelak, malah menerima serangan ular itu dengan mulutnya yang kecil, membiarkan bibirnya yang bawah tergigit! Ketika ular itu melepaskan gigitannya dan mundur, nampak darah memerahi bibir gadis itu! Akan tetapi Cui Kim kelihatan tersenyum saja, biarpun dari pandang matanya dan menggembungnya urat-urat lehernya Wi Liong dapat mengerti bahwa gadis itu menahan kesakitan hebat.

Dengan gerakan-gerakan seperti tadi Cui Kim menari-nari mendekati ular-ular lain sehingga lima kali ia menerima ciuman pada bibirnya oleh lima ekor ular berbisa itu! Hebat sekali! Ciuman ini bukan sembarang ciuman, melainkan ciuman maut yang akan mencabut nyawa setiap orang gagah sekalipun.

Bibir Cui Kim sudah merah sekali dan benar-benar kelihatan menyeramkan, seakan-akan gadis itu yang tadi menggigiti ular dan darah ular membasahi mulutnya. Semua anggauta Ngo-tok-kauw kini tidak ada yang bergerak, memandang dengan penuh perhatian dan gelisah.

Cui Kim dengan tubuh menggigil dan muka mulai membiru, cepat mengeluarkan tongkat bermata Ngo-heng-giok-cu dari pinggangnya dan menyapu-nyapukan batu kemala itu pada bibirnya beberapa kali. Semua ini ia lakukan sambil menari-nari, biarpun tariannya sudah lemah dan tubuhnya gemetar semua akibat mengamuknya racun lima ekor ular tadi.

Kalau racun-racun ular itu hebat, Ngo-heng-giok-cu lebih hebat lagi. Makin diusap ke mulut, makin bercahaya sinar yang terpancar keluar dari batu kemala itu dan makin lincah gerakan Cui Kim tanda bahwa gadis ini sudah sembuh kembali, tertolong oleh Ngo-heng-giok-cu, seperti ayahnya dulu.

Wi Liong kagum bukan main. Gadis itu benar-benar memiliki ketabahan luar biasa, berani bermain-main dengan maut. Ia dapat menduga bahwa karena ular-ular itu menggigit secara bergantian, maka racun-racun yang lima macam itu bertemu di dalam tubuh Cun Kim dan karenanya malah memperlambat pengaruh kejahatan racun itu.

Kalau hanya seekor ular yang menggigit, kiranya Cui Kim takkan bertahan sampai begitu lama sebelum terobat oleh batu kemala itu. Pertemuan lima macam racun di tubuhnya malah mengurangi kekerasan racun-racun itu sendiri. Betapapun juga, batu kemala itu benar-benar luar biasa sekali dan merupakan sebuah jimat yang jarang terdapat di dunia ini.

"Tua bangka sudah puaskah kau?" Cui Kim menghentikan tariannya dan mengejek Siu-toanio.

Nenek itu berlutut dan mengangguk-angguk, tanpa berani mengeluarkan kata-kata lagi. Sementara itu, lima orang kakek pembantu sudah berhenti menabuh musik dan mereka hendak menggiring ular-ular itu kembali ke keranjang, akan tetapi Cui Kim memberi isyarat mencegah dengan tangannya. Lima orang kakek itu mundur kembali, mengeluarkan sebuah pengebut atau pecut rambut yang warnanya sama dengan pakaian mereka.

Lucunya, sekarang setiap orang kakek itu mengurung ular-ular itu di tengah-tengah dengan menggunakan pecut itu, kakek baju putih "menggembala" ular putih kakek baju merah menjaga ular merah dan seterusnya. Ular-ular itu agaknya takut kepada cambuk atau pengebut, buktinya mereka menjadi jinak dan tidak berani bergerak lagi.

”Siapa sekarang berani menyangkal bahwa aku adalah Ngo-tok-kauwcu (Ketua Perkumpulan Agama Lima Racun) yang baru?" Cui Kim berdiri tegak membusungkan dada dan memandang ke sekeliling.

Semua orang, kecuali Hak Lui berlutut dan menyebut. "Kauwcu.... Ngo-tok-kauwcu banswe (panjang usia ketua)!!"

Cui Kim tertawa puas, giginya yang berderet putih mengkilap tertimpa sinar bulan. Kemudian ia duduk di atas permadani itu dan matanya memandang ke sana ke mari seperti ular mencari mangsa. Tiba-tiba ia menghentikan pandangnya kepada Eng Lan, dan keningnya mengeriput.

Di bawah sinar bulan purnama, Eng Lan nampak cantik manis sekali, kulitnya yang agak hitam itu seperti tembaga digosok, wajahnya manis bukan main, dengan sepasang mata seperti bintang, gadis tawanan itu kelihatan gagah menarik.

"Seret dia ke sini!" bentaknya dan perintah ini ia tujukan kepada Hak Lui.

Pemuda muka hitam itu yang duduk di sebelah Eng Lan lalu berdiri dan dengan halus ia menarik lengan Eng Lan mengangkatnya dan meletakkan gadis yang tak dapat berjalan karena kedua kakinya terikat itu di depan Cui Kim.

"Bocah lancang, kau dan gurumu kakek gila itu telah berani main gila, melanggar wilayah kami malah berani mencari batu di Sungai Kemala. Kau yang tidak mundur mengorbankan nyawa untuk mencari batu, sebetulnya apakah kehendakmu? Batu apa yang kalian cari mati-matian itu?"

"Aku dan suhu mencari batu Im-yang-giok-cu untuk mengobati kawan yang terluka." jawab Eng Lan terus terang. "Sungai adalah buatan alam, bagaimana manusia berani mengakui sebagai hak miliknya?"

Cui Kim dan semua anggauta Ngo-tok-kauw nampak tercengang mendengar disebutnya Im-yang-giok-cu sehingga kalimat terakhir yang diucapkan Eng Lan tak mereka perdulikan.

"Im-yang-giok-cu?" kata Cui Kim dengan wajah berubah. "Di dunia ini mana ada dua Im-yang-giok-cu? Satu-satunya yang adapun hanya terdapat di Sungai Kemala. Aah, Im-yang-giok-cu... ayah dan ibu terpaksa harus mengorbankan nyawa untuk itu...." Dan tiba-tiba saja Cui Kim menangis tersedu-sedu!

Semua anggauta Ngo-tok-kauw menundukkan kepala, nampak berduka dan sebagian besar anggauta-anggauta wanitanya ikut-ikut menangis. Malah Siu-toanio, nenek buruk mengerikan itupun menangis terisak-isak.

Eng Lan memandang ke kanan ke kiri dengan bingung karena tidak mengerti mengapa mereka itu tiba-tiba menangis dan mengapa pula ayah bunda kauwcu ini mati karena Im-yang-giok-cu. Akan tetapi Wi Liong yang berotak terang, dalam tempat persembunyiannya sudah dapat menduga apa yang dahulu telah terjadi.

Tiba-tiba Cui Kim marah-marah. Ia melompat berdiri dan menudingkan telunjuknya kepada Eng Lan sambil memerintah lima orang kakek pembantunya yang biasanya terkenal dengan sebutan Ngo-heng-tin (Barisan Lima Elemen). "Berikan dia kepada Ngo-tok-coa!"

Lima orang kakek itu lalu menghampiri Eng Lan. Gadis ini maklum bahwa nyawanya terancam maut, ia tidak takut malah marah dan penasaran. "Siluman betina! Aku tidak takut mati, akan tetapi ingin aku tahu apa sebabnya kau hendak membunuh aku?" teriaknya.

Cui Kim tersenyum dingin. "Siapa tahu kau bukan mata-mata dari Ban-mo-to? Kalau Kui-bo Thai-houw menyukai Im-yang-giok-cu, tentu saja ia lebih-lebih menyukai Ngo-heng-giok-cu. Hayo lempar dia ke sana!" Ia menuding ke arah lima ekor ular yang masih menggeliat-geliat di tengah lingkaran.

"Tahan dulu!” Tiba-tiba Hak Lui melompat ke dekat Eng Lan dan memberi isyarat dengan tangannya mencegah lima orang kakek Ngo-heng-tin itu menyeret Eng Lan. "Kim-moi (adik Kim)...”

"Kau tidak bisa menyebut kauwcu?" bentak Cui Kim.

Pemuda muka hitam itu tersenyum. "Tidak, janggal bagiku. Kau tetap adik piauwku Cui Kim bagiku. Adik Kim, apa kau sudah lupa akan niat kita semula? Kita ingin menumbangkan kekuasaan Siu-toanio karena tidak suka kalau perkumpulan kita diselewengkan dan banyak terjadi hal-hal kejam. Mengapa kau sekarang hendak mengulangi semua kekejaman itu? Mengapa kau hendak memulai kedudukanmu sebagai kauwcu baru dengan perbuatan keji? Tidak semestinya kalau nona ini dihukum mati secara kejam!"

"Ha-ha-ha. Lui-ko. Kau kira aku tidak dapat menjenguk hatimu melalui mukamu yang hitam buruk itu? Kau sudah jatuh hati kepada gadis ini, bukan? Hi-hi, lucu sekali. Betapapun juga, dia ini harus mampus! Aku tidak melakukan kekejaman, melainkan menjalankan peraturan yang harus dilaksanakan. Dia mata-mata Ban-mo-to. harus dibunuh!"

Wajah hitam pemuda itu menjadi makin hitam ketika ia mendengar kata-kata yang amat menghinanya akan tetapi yang juga tepat ini. Ia lalu berkata keras. "Kim-moi, kau mengetahui isi hatiku apa kau kira akupun tidak dapat melihat isi hatimu? Bukan karena menuduh nona ini mata-mata Ban-mo-to kau hendak membunuhnya, melainkan karena kau iri hati kepadanya! Kau merasa kalah cantik, kalah gagah, maka kau menjadi benci padanya."

Memang ucapan ini tepat sekali. Cui Kim tidak sekejam Siu-toanio. Akan tetapi kalau gadis ini sudah membenci orang, dia bisa kejam sekali. Dan alasannya satu-satunya untuk membenci Eng Lan hanya karena cantik manisnya gadis tawanan ini. Hak Lui sudah mengenal watak Cui Kim, tidak mau kalah oleh gadis lain!

Mendengar ucapan ini. merah wajah Cui Kim. "Kalau begitu, biar dia mampus sekarang juga!" Pedangnya bergerak cepat menusuk dada Eng Lan.

"Traangg.....!" pedang itu ditangkis oleh Hak Lui dengan pedangnya. Memang pemuda muka hitam ini sudah siap sedia dan maklum akan perangai piauw-moinya yang keras.

"Kau berani melawan aku? Baik, tidak mendapat bantuanmu juga tidak apa!" Dan gadis itu menyerang hebat.

Hak Lui terpaksa melawan sedapatnya. Akan tetapi mudah dilihat bahwa sebentar saja pemuda itu sudah terdesak hebat dan takkan lama tentu ia roboh oleh pedang Cui Kim yang lihai itu. Betul saja, baru tigapuluh jurus lewat, pedang di tangan Hak Lui sudah terlempar dan secepat kilat pedang pendek di tangan Cui Kim meluncur ke arah dada Hak Lui tanpa pemuda itu dapat mengelak atau menangkis lagi.

"Takk....! Ayaaaa...!" Jeritan itu keluar dari mulut Cui Kim ketika secara tiba-tiba pedangnya membentur sebuah suling dan membuat tangannya tergetar dan tubuhnya limbung ke belakang. Ketika ia melompat dan memandang, ternyata yang menolong Hak Lui tadi adalah seorang pemuda tampan ganteng yang memegang sebatang suling dan yang entah dari mana datangnya tahu-tahu sudah berdiri di depannya sambil tersenyum-senyum.

Cui Kim hampir tidak mempercayai pandang matanya sendiri. Ia membuka lebar-lebar matanya yang genit dan indah bentuknya itu untuk memandang lebih teliti. Memang benar, seorang pemuda bergaya lemah lembut seperti seorang pelajar berwajah tampan sekali, berdiri di situ dan tadi telah menangkis sambaran pedangnya menolong nyawa Hak Lui yang sekarang sudah berdiri di pinggiran. Akan tetapi ia masih ragu-ragu.

"Kaukah yang menangkis pedangku tadi?" Cui Kim masih bertanya sangsi.

Wi Liong pemuda itu mengangguk. "Tidak perlu ada pembunuhan." katanya halus.

Tiba-tiba Cui Kim menggerakkan pedangnya dan menyerang lagi ke arah leher Wi Liong. Pedangnya berkelebat cepat dan kuat. Wi Liong dengan perlahan mengangkat sulingnya menangkis. Lagi-lagi pedang itu terpental dan tangan Cui Kim gemetar, tubuhnya terhuyung. Ia masih penasaran menyerang lagi menusuk ke arah perut.

"Traanggg...!" Kini Wi Liong memperbesar tenaganya dan pedang itu terlepas dari pegangan, menancap ke atas tanah karena dipukul suling dari atas....

Jilid selanjutnya,