Cheng Hoa Kiam Jilid 29, karya Kho Ping Hoo - WAJAH CUI KIM berseri, matanya bersinar-sinar. Baru kali ini selama hidupnya ia bertemu dengan pemuda sehebat ini. Pandang matanya bertemu dengan pandang mata Hak Lui. Dalam sedetik ini, dua orang muda ini sudah dapat menyelami pikiran masing-masing.

Cui Kim lalu maju menjura kepada Wi Liong dan berkata, suaranya halus sikapnya hormat sekali. "Taihiap ini siapakah? Kehormatan apa yang akan diberikan kepada Ngo-tok-kauw dengan kunjungan taihiap yang gagah perkasa ini?"
Wi Liong tertegun. Tak disangkanya ketua baru Ngo-tok-kauw ini akan merobah sikap, begini sopan. Iapun menjura sebagai pembalasan hormat dan berkata. "Aku she Thio bernama Wi Liong kedatanganku hendak minta kebaikan hati Ngo-tok-kauw untuk membebaskan nona Pui Eng Lan itu."
Ia menoleh ke arah Eng Lan, lalu tanpa menanti jawaban ia menghampiri nona ini. Sekali tangannya meraba ke arah kaki dan tangan Eng Lan, semua ikatan putus dan dara ini sudah bebas. Eng Lan cepat berdiri, mukanya merah dan untuk menghilangkan jengah dan malunya, ia menggosok-gosok pergelangan kedua tangannya yang masih terasa kaku dan sakit-sakit bekas belenggu tadi.
''Dia itu... apamukah?" tanya Cui Kim kepada Wi Liong.
"Dia sahabat baikku, dia dan gurunya adalah sahabat-sahabatku," jawab Wi Liong sejujurnya.
"Kau lihai sekali, boleh aku mengetahui siapa suhumu?”
Karena maklum akan bahayanya bermusuhan dengan Ngo-tok-kauw. Wi Liong berterus terang untuk membikin mereka jerih, menyebut nama suhunya. "Suhu adalah Thian Te Cu...."
Tiba-tiba Cui Kim menjura dalam sekali, malah Hak Lui juga datang memberi hormat, dan semua anggauta Ngo-tok-kauw juga berlutut memberi hormat kepada Wi Liong.
"Eh eh, apa-apaan ini...?" tanya pemuda itu.
"Kiranya taihiap adalah murid dari locianpwe Thian Te Cu yang menjadi in-kong (tuan penolong) kami. Kalau dahulu tidak ada suhumu yang mulia, kiranya sekarang ini sudah tidak ada Ngo-tok-kauw lagi." kata Cui Kim.
"Memang, locianpwe Thian Te Cu yang menolong Ngo-tok-kauw dari pada kehancurannya. Sekarang Thio-taihiap yang menjadi muridnya telah datang, inilah kesempatan kami untuk membalas budi, menyambutnya sebagai seorang tamu agung dan seorang penolong. Sekalian untuk mohon maaf atas kesalah-fahaman dengan nona Pui Eng Lan..." kata The Hak Lui.
"Betul sekali, harap Thio-taihiap tidak menampik penghormatan kami dan Pui-siocia, harap kau sudi maafkan kami yang tadinya tidak mengenalmu sebagai sahabat baik Thio-taihiap..." Cui Kim menjura kepada Eng Lan, terpaksa gadis ini membalas penghormatannya.
Wi Liong ragu-ragu. Baru sekarang ia tahu bahwa mereka ini amat menghormat gurunya, maka berlaku begitu hormat kepadanya. Akan tetapi ia berlaku hati-hati. karena ia tak pernah mendengar bagaimana suhunya sampai ada hubungan dengan perkumpulan semacam ini.
"Tak usah repot-repot... kedatangan siauwte ini hanya untuk mengajak pergi nona Pui ini dari sini....." katanya sambil mengangkat tangan kiri menolak.
"Aah, jadi taihiap mendendam kepada kami karena perlakuan kami yang buruk terhadap nona Pui tadi? Kalau begitu biarlah kami mohon ampun kepada taihiap...!" Setelah berkata demikian, Cui Kim memberi komando dan ia bersama semua anak buahnya menjatuhkan diri berlutut di depan Wi Liong. Malah Hak Lui setelah bertemu pandang dengan Eng Lan, juga ikut pula menjatuhkan diri berlutut!
Bukan main kaget dan sibuknya Wi Liong menerima penghormatan ini. “Nona Pui, kau bangunkan dia!" katanya kepada Eng Lan sambil menunjuk ke arah Cui Kim, sedangkan ia sendiripun membangunkan Hak Lui. Eng Lan juga tidak enak melihat semua orang begitu menghormat, iapun memegang pundak Cui Kim dan dibangunkannya ketua Ngo-tok-kauw itu.
"Kalau kalian bermaksud baik dan selanjutnya akan dapat memimpin perkumpulan ini ke arah kebaikan dan tidak bertindak sewenang-wenang, biarlah aku dan nona Pui menerima undangan kalian, sekedar memperdalam perkenalan. Akan tetapi jangan begitu merendahkan diri dan menghormat, akupun bukan apa-apa, seorang pelancong biasa saja," kata Wi Liong, tidak berdaya lagi menolak karena mereka bersikap seperti itu.
Cui Kim dan Hak Lui nampak gembira sekali. Lebih-lebih Cui Kim. Cepat ia menyuruh anak buahnya mengadakan persiapan dan pada malam hari itu juqa sebuah pesta meriah diadakan untuk penghormatan Eng Lan dan Wi Liong. Sambil makan minum, Wi Liong dan Eng Lan mendengarkan penuturan Cui Kim tentang pertolongan Thian Te Cu kepada Ngo-tok-kauw.
Seperti telah dituturkan Ngo-tok-kauw didirikan oleh Theng Gak, ayah Cui Kim. Theng Gak adalah seorang ahli silat selatan yang pandai. Karena kehidupan yang sukar, Theng Gak dan isterinya memimpin orang-orang selatan untuk mencari untung dengan jalan mencari batu-batu berharga di Sungai Kemala. Karena Theng Gak orangnya gagah dan jujur serta adil dalam memimpin, maka makin lama makin banyaklah anggauta pencari batu kemala itu dan dia diangkat menjadi kepala.
Tahu bahwa kini anggauta-anggautanya merupakan sekumpulan orang-orang berkeluarga dan untuk menjamin kehidupan mereka ini tidaklah ringan. Theng Gak lalu memperkuat perkumpulan itu dan menamakannya perkumpulan Ngo-heng-pang karena dia adalah seorang ahli silat Ngo-heng-kun. Ia melatih semua anggautanya dengan Ilmu Silat Ngo-heng-kun untuk memperkuat diri.
Pada masa itu banyak terdapat perampok-perampok dan bajak-bajak sungai yang sering kali hendak mengganggu mereka dan merampas batu-batu kemala mereka yang berharga. Semua penjahat itu dapat mereka hancurkan sehingga nama perkumpulan Ngo-heng-pang menjadi makin terkenal.
Sungai Kemala benar-benar cocok dengan namanya. Sungai itu mengandung banyak batu kemala dan berkat kerajinan mereka, akhirnya perkumpulan itu menjadi makmur dan para anggautanya tidak kekurangan lagi. Apa lagi setelah ditemukan batu-batu kemala yang amat indah dan berharga tinggi, perkumpulan itu menjadi kaya raya.
Di antara batu-batu kemala yang indah itu, terdapat Im-yang-giok-cu, batu kemala yang sukar dicari keduanya di dunia ini, dan batu kemala Ngo-heng-giok-cu, juga sebuah batu ajaib yang luar biasa sekali. Theng Gak dan isterinya menyimpan batu-batu kemala ini dengan hati-hati dan tidak pernah mempunyai ingatan untuk menjualnya karena mereka sekarang sudah kaya raya.
Para ahli menyatakan bahwa Ngo-heng-giok-cu dapat menyembuhkan segala macam keracunan sedangkan Im-yang-giok-cu dapat menyembuhkan segala macam luka pukulan atau luka-luka sebelah dalam yang bagaimana beratpun. Tentu saja sebagai seorang ahli silat, Theng Gak amat menyayang dua buah batu itu dan lebih hati-hati lagi menjaga jangan sampai hilang.
Pada suatu hari, ketika ia sedang memimpin orang-orangnya mencari batu kemala di sebuah kedung sungai itu yang belum pernah dijelajahnya karena tempat itu berbahaya dan sukar, Theng Gak yang merogoh sebuah lubang telah digigit lima macam ular berbisa, yaitu Ngo-tok-coa yang sampai sekarang masih dipelihara oleh puterinya. Ia roboh dengan tubuh hangus dan tentu ia akan binasa kalau saja isterinya tidak cepat-cepat mempergunakan Ngo-heng-giok-cu untuk menyembuhkannya.Semenjak itu, watak Theng Gak menjadi aneh, entah karena gigitan ular-ular entah bagaimana. Ia menyuruh tangkap ular itu dan selanjutnya ia merobah Ngo-heng-pang menjadi Ngo-tok-kauw {Perkumpulan Agama Lima Racun), menyembah lima ekor ular berbisa itu dan mempergunakan Ngo-heng-giok-cu sebagai mata tongkat kebesarannya!
Adapun pembantu-pembantunya adalah lima orang kakek yang terkenal menjadi Ngo-heng-tin, isterinya sendiri dan kakak perempuan isterinya yaitu Siu-toanio yang sejak muda amat genit dan cabul.
Pada suatu hari. ketika itu Cui Kim masih kecil dan juga Hak Lui yang menjadi murid ayahnya masih kecil, datanglah malapetaka hebat di Ngotok-kauw. Berita tentang Im-yang-giok-cu yang sebagai batu kemala obat segala macam luka pukulan amat dirindukan oleh semua ahli silat, telah tersebar luas sekali dan menarik perhatian banyak tokoh besar.
Sudah beberapa kali ahli silat pelbagai cabang datang untuk minta lihat, beli bahkan hendak merampas Im-yang-giok-cu, namun mereka ini seorang demi seorang dikalahkan oleh Ngo-tok-kauw yang sementara itu telah menjadi sebuah perkumpulan besar yang memiliki orang-orang pandai.
Malapetaka itu datang dalam bentuk diri Kui-bo Thai-houw dari Ban mo-to! Tokoh besar ini mendengar pula tentang Im-yang-giok-cu dan pada suatu malam ia datang mengunjungi Ngo-tok-kauw. Dengan sikapnya yang tinggi dan angkuh sebagai seorang ratu, Kui-bo Thai-houw tadinya menawarkan sejumlah emas untuk membeli batu kemala itu. Namun Theng Gak yang belum mengenal kelihaian Kui bo Thai-houw. memandang rendah dan menolak.
Marahlah Biang Iblis ini dan ia menurunkan tangannya yang keji. Theng Gak dan isterinya tewas dan kiranya semua anak buah Ngo-tok-kauw akan terbasmi habis oleh Kui-bo Thai-houw kalau saja pada saat itu tidak muncul Thian Te Cu yang mencegah wanita kejam itu membunuh lebih banyak orang lagi. Melihat kedatangan Thian Te Cu yang ia ketahui amat sakti, Kui-bo Thai-houw melarikan diri membawa Im-yang-giok-cu.
"Demikianlah, Thio-taihiap, maka sampai sekarang kami orang-orang Ngo-tok-kauw selalu menganggap locianpwe Thian Te Cu sebagal bintang penolong kami. Oleh karena secara tidak terduga-duga taihiap sudi mengunjungi kami, maka sekarang siauw-moi yang bodoh hendak menghaturkan benda ini untuk diberikan kepadamu sebagai tanda penghargaan," Cui Kim mengeluarkan tongkat pendek bermata Ngo-heng-giok-cu dan diberikan kepada Wi Liong.
Pemuda ini tercengang sekali. Apa lagi ketika ia mendengar seruan-seruan tertahan dari para anggauta Ngo-tok-kauw. Ia maklum bahwa benda ini merupakan lambang kejayaan Ngo-tok-kauw, bagaimana bisa diberikan begitu saja kepadanya?
Tentu saja ia amat mengagumi batu kemala anti segala macam racun itu, akan tetapi tidak enaklah kalau menerima benda yang dianggap suci oleh semua orang Ngo-tok-kauw. Juga hatinya tidak enak ketika tadi mendengar ketua perkumpulan ini menyebut diri sendiri "siauw-moi".
Gerak-gerik, pandang mata senyum dan gerak bibir ketika berkata-kata kepadanya, semua membayangkan sifat cabul dan genit wanita ini yang seakan-akan berusaha sekuatnya untuk menarik hatinya. "Mana bisa aku menerima lambang Ngo-tok-kauw?" katanya merendah dan tidak mau menerima tongkat pendek yang disodorkan kepadanya.
Tiba-tiba Cui Kim menjatuhkan diri berlutut lagi di depannya, dan berbareng Hak Lui juga menjatuhkan diri berlutut. Cui Kim malah mulai menangis dengan penuh nafsu! "Dahulu,", katanya terengah-engah di antara isaknya, "mengandalkan kebaikan budi locianpwe Thian Te Cu kami terhindar dari bahaya di musnahkan oleh iblis betina Ban-mo-to. Sekarang kalau tidak mengandalkan bantuan taihiap sebagai murid locianpwe Thian Te Cu, kapan sakit hati terhadap Ban-mo-to dapat terbalas? Apakah taihiap tidak menaruh kasihan kepada kami?"
"Mohon Thio-taihiap sudi menaruh kasihan" Hak Lui juga ikut membujuk, "hanya kalau taihiap sudi menerima tongkat pimpinan Ngo-heng-giok-cu dan menjadi pembimbing kami, kiranya Ngo-tok-kauw akan dapat membalas dendam terhadap iblis betina dari Ban-mo-to."
Mendengar ucapan dua orang itu, makin terkejut hati Wi Liong. Kiranya mereka ini hendak membujuknya menjadi ketua Ngo-tok-kauw untuk memimpin mereka membalas dendam terhadap Kui-bo Thai-houw di Ban-mo-to!
"Jadi maksud semua upacara ini hanya untuk mengajakku melakukan pembalasan dendam terhadap Ban-mo-to? Kalau begitu, mari kita bicara baik-baik. Kalau hendak menjadikan aku sebagai ketua kalian, biar bagaimanapun juga aku tidak berani terima. Harap kalian maafkan. Bangunlah, kauwcu," katanya sambil membungkuk untuk membangunkan Cui Kim yang berlutut di depannya.
"Thio-taihiap.... awas...!" Eng Lan menjerit namun terlambat sudah.
Dengan kecepatan seperti kilat, Cui Kim sudah mengebutkan sehelai saputangan yang tadi ia pakai menyusuti air matanya dan kebutan ini tepat mengenai muka Wi Liong yang sama sekali tidak menyangka karena tadi berniat membangunkan ketua Ngo-tok-kauw itu. Ia hanya melihat berkelebatnya saputangan kuning, mencium bau harum sekali dan mendengar suara ketawa menyeramkan dari Siu-toanio tercampur pekik Eng Lan yang memperingatkannya.
Tangannya bergerak ke depan dan tubuh Cui Kim terlempar sampai empat meter lebih. Masih baik bagi ketua Ngo-itok-kauw itu bahwa dalam keadaan terkejut itu Wi Liong masih belum kehilangan ingatannya dan tidak melancarkan pukulan maut sehingga gadis ini tidak menderita apa-apa melainkan kaget. Wi Liong mencoba untuk mengendalikan diri, namun sia-sia. Bau harum itu memabokkannya, membuat kepalanya serasa terputar-putar, pandang matanya kabur dan ia roboh lemas, setengah pingsan.
Eng Lan melompat marah, menerjang Cui Kim. Akan tetapi ia disambut Hak Lui. Segera dua orang ini bertempur seru. Cui Kim datang membantu Hak Lui dan terlampau beratlah dua orang lawan ini bagi Eng Lan. Tak lama kemudian Eng Lan roboh tertotok jalan darahnya oleh Hak Lui. Baik Wi Liong maupun Eng Lan tak berdaya lagi, tertawan para pemimpin Ngo-tok-kauw yang lihai.
Cui Kim dan Hak Lui tertawa gembira. Kedua orang muda ini lalu menuang arak ke dalam cawan dan minum arak itu, saling menberi selamat! "Dengan seorang seperti dia menjadi suamimu, kita tak usah takut lagi kepada Ban-mo-to!" kata Hak Lui tersenyum girang dan mainkan matanya kepada Cui Kim.
Wajah Cui Kim memerah, akan tetapi bibirnya tersenyum dan matanya bersinar-sinar. "Dan Pui Eng Lan itupun merupakan sisihan yang amat baik bagimu."
Dua kalimat yang mereka ucapkan ini sudah cukup bagi mereka bahwa masing masing telah tahu akan rahasia hati yang terpendam dan dengan kata-kata itu pula mereka sudah mengikat perdamaian, saling bantu demi kesenangan hati masing-masing.
Memang, semenjak ia melihat Wi Liong, apa lagi setelah mendapat kenyataan bahwa kepandaian pemuda ini jauh lebih tinggi dari padanya, hati Cui Kim sudah jatuh dan ia mau menggunakan akal apa saja, baik maupun busuk, untuk memiliki pemuda ini dan menjadikannya sebagai suaminya.
Dan karena Wi Liong memperlihatkan sikap yang sukar untuk dibujuk, terpaksa ia mempergunakan racun dan dalam urusan seperti ini sebagai ketua Ngo-tok kau w tentu saja Cui Kim adalah seorang ahli.
Sementara itu, Hak Lui juga gembira sekali karena memang ia tergila-gila melihat Eng Lan dan sekarang Cui Kim tidak hanya membatalkan niatnya membunuh Eng Lan, malah rela melihat gadis tawanan ini menjadi isteri Hak Lui.
Fajar telah menyingsing. Pak-thian Koai-jin yang menanti-nanti kembalinya Wi Liong, menjadi tak sabar lagi. Tadinya kakek ini tidur bersandarkan pohon dan menanti sabar. Akan tetapi setelah fajar menyingsing belum juga pemuda yang berjanji hendak menolong muridnya itu muncul, ia menjadi gelisah dan setelah mencuci muka di sebuah anak sungai yang jernih, kakek ini lalu berlari-lari menuju ke perkampungan Ngo-tok-kauw.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia mengintai dari atas pohon, ia melihat Wi Liong menggeletak pingsan dan Eng Lan juga rebah tak bergerak, sedangkan Cui Kim dan Hak Lui minum arak, dilihat oleh Siu-toanio dan lima orang kakek pembantu sambil tertawa-tawa! Pak thian Koai-jin maklum bahwa ia memasuki sarang naga yang amat berbahaya, namun melihat Wi Liong dan Eng Lan menggeletak, mana dia bisa mendiamkannya saja?
"Siluman-siluman jahat, tunggu kakekmu membasmi kalian semua!" bentaknya sambil melompat turun.
Semua orang terkejut. Beberapa orang anggauta Ngo-tok-kauw yang ingin berjasa segera maju menyerbu, namun mereka itu bergulingan roboh terkena sabetan tongkat butut di tangan kakek itu. Yang hebat adalah mangkok bobroknya. Mangkok ini ia sambitkan, "menarinari” di atas tiga buah kepala orang yang segera roboh lalu terbang kembali kepada tuannya!
Dalam segebrakan saja kakek sakti yang sedang marah itu telah merobohkan delapan orang anggauta Ngo-tok-kauw! Akan tetapi, setelah lima orang kakek pembantu yang merupakan Ngo-heng-tin itu maju mengepungnya, Pak-thian Koaji-jin segera terdesak mundur.
Memang hebat sekali Ngo-heng-tin ini, sukar ditawan dan lima orang yang berpakaian lima macam warna itu bergerak otomatis seperti seorang dengan lima kepala dan sepuluh tangan saja. Repotlah kakek dari utara itu menghadapi lima orang lawan ini dan ia bermain mundur terus tanpa dapat membalas serangan-serangan lawan.
Akan tetapi, mengalahkan Pak-thian Koai-jin memang bukan tak mungkin, biarpun demikian, tidak mudah menangkap kakek nakal ini yang licin bagai belut dan sudah banyak makan asam garam pertempuran. Biarpun Cui Kim dan Hak Lui berteriak. "Tangkap tua bangka itu!"
Namun dengan lincahnya sambil memaki-maki Pak-thian Koai-jin dapat meloloskan diri ke sana ke mari dan akhirnya ia tidak kuat melawan lebih lama lagi, melompat ke dalam semak-semak dan menghilang sambil meninggalkan ancaman "Kalau kalian berani mencelakai mereka berdua, aku takkan berhenti berusaha sebelum dapat membasmi kalian!"
Hak Lui tertawa bergelak dan berteriak ke arah menghilangnya kakek itu. "Ha-ha-ha... Pak-thian Koai-jin, jangan khawatir. Kami malah hendak mengawini mereka!”
Tentu saja Pak-thian Koai-jin terkejut mendengar ini. Celaka, pikirnya, kalau Wi Liong dan Eng Lan dikawin oleh kepala-kepala siluman Ngo-tok-kauw, celakalah... aku harus menghalangi hal itu terjadi! Maka iapun tidak mau meninggalkan hutan itu dan mengamat-amati dari jauh sambil mencari akal bagaimana bisa menolong muridnya dan Wi Liong. Ia harus bertindak hati-hati sekali. Orang seperti Wi Liong sampai bisa tertawan, ini menunjukkan betapa lihainya perkumpulan siluman ular itu.
Sementara itu, selagi Cui Kim dan Hak Lui bergembira dan hendak mengangkat tubuh Wi Liong dan Eng Lan ke dalam kamar masing-masing tiba-tiba terdengar pekik mengerikan. Seketika itu pucatlah wajah Cui Kim dan yang lain-lain. Bagaikan mendapat komando, semua orang mencabut senjata masing- masing dan celingukan memandang ke sana ke mari.
Tiba-tiba terdengar suara cekikikan, suara wanita-wanita tertawa. Anehnya, suara ketawa ini datangnya dari semua penjuru seakan-akan mereka semua telah terkepung oleh orang-orang yang tidak kelihatan. Kemudian, ”braakkk!" genteng di atas pecah berhamburan dan melayang turunlah tubuh lima orang anggauta Ngo-tok-kauw dalam keadaan pingsan. Setelah ini terdengar lagi suara cekikikan mentertawakan.
Tahulah Cui Kim dan yang lain-lain bahwa musuh berada di atas genteng rumah. "Pengecut-pengecut tak tahu malu! Kalau memang hendak mencoba Ngo-tok-kauw, turunlah jangan mengganggu anak buah yang tidak bisa apa-apa. Nonamu sudah siap memenggal leher setiap orang pengacau!" teriak Cui Kim sambil menggerak-gerakkan pedangnya.
Sunyi seketika, kemudian terdengar suara mengejek. "Hemm... hmmm... bocah masih ingusan sombong benar...!" Menyusul suara ini, perlahan-lahan saja, dari luar berjalan masuk seorang wanita tua berpakaian mewah dengan sikap angkuh luar biasa, sikap seorang ratu! Di belakang wanita ini berjalan seorang pemuda tampan dan di belakangnya lagi berjalan empat orang wanita gemuk yang kembar segala-galanya.
"Kui-bo Thai-houw....!" terdengar suara seorang anggauta Ngo-tok-kauw tua yang dulu pernah melihat wanita ini ketika datang merampas Im-yang-giok-cu dan membunuh Theng Gak dan isterinya.
Celakalah orang itu. Merupakan pantangan besar menyebut "Kui-bo" (Biang Iblis) di depan tokoh wanita ini. Kui-bo Thai-houw mengerling, sinar matanya menyambar orang itu, kemudian tangan kirinya mengebut ke arah orang itu. Terdengar pekik mengerikan dan orang itu terjungkal menjadi mayat!
Semua orang kaget bukan main dan Cui Kim sendiri merasa ngeri. Ia masih muda akan tetapi sudah tahu gelagat. Cepat-cepat ia lalu menjura dan berkata dengan hormat. "Kiranya Thai-houw yang berkenan mengunjungi tempat kami yang buruk. Harap Thai-houw maafkan bahwa kami terlambat menyambut dan suka maafkan pula kalau di antara anggauta kami ada yang bersikap kurang ajar. Tidak tahu keperluan apakah gerangan yang membawa Thai-houw sudi mengunjungi kami?"
"Mengambil titipanku pada Ngo-tok-kauw!" jawab nenek itu singkat sambil matanya yang masih bening itu menyapu keadaan di situ, memandang agak tertarik kepada Wi Liong yang masih menggeletak di pinggiran, kini sudah dibaringkan di atas bangku.
Hati Cui Kim sudah gelisah sekali, mengira bahwa nenek ini datang berhubungan dengan penyerbuan Wi Liong. Akan tetapi tak mungkin, pikirnya. Pemuda ini murid Thian Te Cu. Dalam detik itu ia merasa menyesal sekali mengapa pemuda ini telah dirobohkan dengan racun. Kalau pemuda ini berdiri di fihaknya, alangkah baiknya.
"Titipan apakah, Thai-houw?" tanyanya, jantungnya berdebar.
Kini pandang mata Kui-bo Thai-houw menatap ke arah pinggang Cui Kim dan matanya seakan-akan dapat menembusi baju luar dan melihat apa yang terselip di ikat pinggang gadis itu. "Apa lagi kalau bukan Ngo-heng-giok-cu? Dulu belum sempat kuambil, kutitipkan dulu di sini. Sekarang sudah tiba waktunya kuambil. Serahkan benda itu!"
Cui Kim agak lega hatinya karena ternyata bukan Wi Liong yang diminta nenek ini. Akan tetapi tentu saja sebagai kauwcu Ngo-tok-kauw ia tidak bisa begitu saja memberikan lambang kehormatan Ngo-tok-kauw, apa lagi nenek ini adalah musuh besarnya, pembunuh ayah bundanya yang harus ia balas. "Tapi... tapi..." ia menggagap.
"Jangan banyak tingkah. Mana kauwcumu yang sekarang, suruh dia keluar," katanya lagi, keren.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa meringkik yang menyeramkan dan Siu-toanio melompat maju. "Hi-hi-hi, dia itulah kauwcunya! Penggantiku! Jangan serahkan lambang kita kepada siluman ini, kauwcu, jangan...."
Ucapan nenek buruk ini terhenti sampai di situ dan ia terjungkal roboh tertelungkup dengan napas putus dan semua orang lagi-lagi melihat Kui-bo Thai-houw hanya menggerakkan tangan ke arah Siu-toanio. Makin kaget dan gelisah orang-orang Ngo-tok-kauw melihat hal ini. Akan terulang kembalikah peristiwa sepuluh tahun yang lalu ketika Biang Iblis ini datang mengamuk dan membunuh-bunuhi orang Ngo-tok-kauw?
Sementara itu, setelah membunuh Siu-toanio yang dianggap telah menghinanya, Kui-bo Thai-houw lalu menghadapi Cui Kim dan berkata dengan senyum mengejek. "Aha... jadi kaukah kauwcunya? Bagus sekali! Hayo lekas serahkan Ngo-heng-giok-cu kepadaku”
Melihat musuh besarnya ini, hati Cui Kim sudah benci dan marah sekali, apa lagi sekarang melihat lagak musuh besarnya yang terlampau menghina Ngo-tok-kauw. Saking marah dan bencinya, gadis ini menjadi nekat, la menoleh ke arah Haik Lui dan lima orang kakek Ngo-heng-tin sambil berseru, "Melihat lambang kita diminta orang dan kehormatan Ngo-tok-kauw diinjak-injak orang, apakah kalian begitu pengecut tak berani berkutik?"
Lima orang kakek Ngo-heng-tin segera melompat maju. Mereka ini adalah tokoh-tokoh paling lama di Ngo-tok-kauw di samping Siu-toanio karena mereka ini merupakan pembantu Theng Gak dahulu, jadi boleh dibilang juga pendiri-pendiri Ngo-tok-kauw.
Sekarang mendengar ucapan Cui Kim, tentu saja mereka menjadi panas. Tadinya memang mereka gentar menghadapi Kui-bo Thai-houw, akan tetapi demi membela kehormatan sendiri, mareka mempertaruhkan nyawa dan serentak maju.
Si baju putih yang mewakili kawan-kawannya, menjura di depan Kui-bo Thai-houw sambil berkata, "Thai-houw adalah seorang tokoh besar di dunia dan nama besarnya sudah terkenal luas di Pulau Ban-mo-to. Sayangnya sekarang mempergunakan keunggulan kepandaian untuk menindas kaum lemah. Akan tetapi, di dunia ini terdapat kegagahan yang tidak gentar menghadapi penindasan di kuat, yaitu dalam membela kehormatan negara, kehormatan perkumpulan, dan kehormatan keluarga. Kami berlima siap mengorbankan nyawa demi menjaga kehormatan Ngo-tok-kauw!"
Melihat lima orang kakek ini. Kui-bo Thai-houw memandang rendah. Akan tetapi mendengar ucapan si baju putih, ia merasa sungkan juga untuk turun tangan sendiri, maka ia berkata sambil mengangkat kepala dengan angkuhnya,
"Siapa mengandalkan keunggulan? Kauwcu-mu sudah menantang bertanding dengan majunya kalian ini. Baiklah, mari kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih kuat. Ngo-heng-giok-cu menjadi taruhan." Kui-bo Thai-houw lalu memberi isyarat kepada empat orang nenek kembar yang buruk, yaitu pelayannya yang tersayang.
Memang mereka ini, perawan-perawan tua kembar empat ini adalah pelayan kesayangan Kui-bo Thai-houw, mereka setia dan ke manapun juga Thai-houw berada, mereka selalu membayanginya. Kepandaian merekapun boleh dibilang paling tinggi di antara semua pelayan Kui-bo Thai-houw di Ban-mo-to. Melihat isyarat nyonya besar mereka, empat orang nenek ini lalu tertawa-tawa dan melompat maju menghadapi Ngo-heng-tin.
"Si Hwa..." kata yang pertama, memperkenalkan diri.
"Tung Hwa..." sambung yang ke dua.
"Nam Hwa..." yang ke tiga memotong.
"Pai Hwa..." sambung yang ke empat.
"Kami berempat siap menghadapi lima orang kakek ompong!" kata pula yang pertama setelah memberi kesempatan pada tiga orang saudaranya memperkenalkan diri.
Keempatnya lalu tertawa cekikikan sambil mengambil tempat masing-masing. Si Hwa mengambil tempat di barat, Tung Hwa di timur, Nam Hwa di selatan dan Pai Hwa di utara. Inilah kelihaian empat orang wanita ini, yang sudah memiliki tempat tertentu dalam barisannya. Biarpun kalau bertempur mereka itu bergerak-gerak ke sana ke mari, akan tetapi tetap mereka bersumber dari tempat semula masing-masing.
Melihat empat orang "nona genit" ini tidak bersenjata, hati lima orang kakek itu besar. Dengan golok di tangan lima orang kakek itu lalu menyerbu garang, merupakan barisan Ngo-heng-tin yang kuat sekali. Empat orang wanita itu tertawa terkekeh sambil mengelak dan mulailah mereka berputaran, tertawa-tawa dan menyerang dengan tali pinggang-tali pinggang mereka yang lihai dibarengi cengkeraman-cengkeraman yang berbahaya sekali.
Baru kagetlah lima orang kakek itu. Tak tahunya empat orang wanita ini adalah ahli-ahli lweekang yang mahir dan sepasang tali panggang itu malah melebihi senjata tajam lihainya. Pertempuran antara lima orang kakek yang merupakan Ngo-heng-tin melawan empat orang wanita yang juga merupakan barisan segi empat yang luar biasa itu benar-benar amat menarik dan seru sekali.
Tenaga mereka seimbang dan juga mereka memiliki gerakan-gerakan yang sama aneh dan sulitnya sehingga agak sukarlah bagi mereka untuk mendesak lawan. Pakaian, wajah, suara dan gerak-gerik yang sama dari nona-nona kembar empat itu membingungkan lawan, sebaliknya lima orang kakek dengan lima macam warna pakaian itupun membuat pandang mata lawan menjadi silau dan bingung.
Betapapun juga, setelah melalui pertandingan yang amat seru di mana kedua fihak mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian, akhirnya empat orang wanita itu dapat juga mendesak lima orang lawannya. Dan harus diakui bahwa kemenangan mereka ini adalah karena suara ketawa mereka yang cekikikan itu benar-benar membingungkan kelima orang kakek.
Memang suara ini bukanlah ketawa sekedar ketawa saja, melainkan suara ketawa yang memang disengaja, dikeluarkan dengan pengerahan khikang dan mempunyai pengaruh membingungkan lawan. Apa lagi kalau yang tertawa itu empat orang wanita buruk yang sama rupa sama pakaian sama suara. Benar-benar dapat membingungkan orang di samping sifat-sifat yang aneh menyeramkan.
Ketika kakek baju merah yang sudah bingung terdesak itu melakukan gerakan nekat, menubruk seorang wanita sambil mengerjakan golok, ia menjadi agak kaget dan heran melihat wanita yang diserangnya itu sama sekali tidak bergerak untuk menangkis atau mengelak, malah berjebi dan melerok kepadanya sambil tertawa cekikikan.
Karena tingkah ini perhatian kakek baju merah menjadi tertarik dan membuat ia ragu-ragu serta lambat gerakannya, maka ia tidak tahu bahwa dari belakang menyambar tali pinggang seorang wanita lain mengarah kepalanya. Ia baru tahu setelah senjata aneh itu menyambar dekat, ia hendak mengelak sudah tidak keburu lagi.
Ujung tali pinggang itu tepat mengenai belakang kepalanya, tidak mengeluarkan suara akan tetapi tahu-tahu kakek baju merah terguling dengan napas putus karena jalan darah yang terpenting di belakang kepalanya telah putus oleh ujung tali pinggang tadi. Empat kakek yang lain menjadi kaget dan marah, lalu mengamuk membabi-buta.
Akan tetapi hal ini justeru mempercepat kekalahan mereka. Sambil tertawa-tawa empat orang nenek itu menggencet mereka dengan pukulan-pukulan dan mengurung mereka dengan senjata tali pinggang. Berturut-turut empat orang kakek inipun roboh dan tewas sehingga tamatlah riwayat Ngo-heng-tin yang sejak lama menjagoi daerah itu.
Dengan muka pucat saking marahnya Cui Kim memberi tanda supaya orang-orangnya mengangkat pergi mayat-mayat itu, kemudian ia sendiri maju sambil mencabut pedang pendeknya. "Thai-houw, biarpun kepandaianku tidak seberapa dan kiranya bukan apa-apa kalau dibandingkan denganmu, akan tetapi aku Theng Cui Kim tidak gentar menghadapi kematian untuk mempertahankan kehormatan Ngo-tok-tauw " katanya gagah tanpa kelihatan takut sedikitpun.
Kui-bo Thaihouw menghela napas panjang. "Kenapa kau begini bodoh? Kau serahkan batu kemala itu dan beres. Mengapa muda-muda harus membuang nyawa?"
Kini Cui Kim tak dapat menahan kemarahannya lagi. "Kui-bo Thai-houw siapa takut mati? Lihat baik-baik, kau telah membunuh ayah bundaku, telah menghina perkumpulanku, sekarang hendak merampas lambang kehormatan Ngo-tok-kauw. Apa hal-hal itu tidak lebih hebat dari pada mati? Kau majulah, siapa sih takut kepadamu? Orang lain boleh takut, akan tetapi aku Theng Cui Kim tidak!" Sambil mengucapkan kata-kata gagah ini Cui Kim mengerling Hak Lui.
Pemuda muka hitam inii menjadi malu sekali dan sambil mencabut pedangnya iapun melompat maju berdiri di sebelah Cui Kim. "Aku The Hak Lui juga siap membela kehormatan Ngo-tok-kauw dan membalaskan sakit hati mendiang suhu!" katanya dengan suara keras.
Kui-bo Thai-houw mengerutkan kening, kemudian terdengar ia bersuara perlahan, "Apa boleh buat kalau kalian ingin mampus!!" Nenek ini lalu memberi isyarat kepada pemuda yang sejak tadi berada di sampingnya.
Pemuda itu berulang kali menoleh ke arah Eng Lan dan mukanya yang tampan itu berubah pucat. Namun ia belum menyatakan sesuatu semenjak tadi, malah pertempuran yang seru tadi seperti tidak menarik perhatiannya. Sekarang melihat isyarat yang diberikan Kui-bo Thai-houw, pemuda ini mencabut pedangnya dan melompat maju, gerakannya ringan sekali, pedangnya berkilauan saking tajamnya.
"Kalian berdua boleh maju bareng mengeroyok thai-cu (pangeran)!" kata Kui-bo Thai-houw sambal tertawa.
Diam-diam Cui Kim dan Hak Lui heran karena belum pernah mereka mendengar bahwa wanita ini mempunyai putera dan sekarang tahu-tahu muncul seorang pangeran! Betapapun juga, Cui Kim kagum melihat pemuda yang tampan dan berpakaian indah ini.
Hak Lui tidak sabar lagi. Dengan pedangnya ia lalu melakukan serangan pertama menusuk ke arah dada. Cui Kim tidak tinggal diam. Ia dapat menduga bahwa pemuda yang sudah dijago oleh Kui-bo Thai-houw tentulah lihai, maka iapun menyusul dengan serangannya ke arah leher.
Pemuda tampan itu dengan gerakan perlahan saja mengelak. Tampaknya ia hanya menggoyang badan tanpa memindahkan kedua kaki akan tetapi nyatanya dua serangan itu mengenai angin kosong. Dan sebelum dua orang lawannya hilang kagetnya, tahu-tahu pedangnya yang tajam sudah menyambar, mengeluarkan hawa dingin dan mengancam leher Cui Kim dan Hak Lui!
"Ayaaa....!" Cui Kim dan Hak Lui mengeluarkan peluh dingin saking kagetnya dan cepat-cepat mereka melompat mundur. Kini mereka tidak berani memandang rendah. Dengan nekat mereka mengerahkan seluruh tenaga dan mainkan jurus-jurus yang paling mereka andalkan untuk mendesak pemuda tampan yang lihai sekali itu.
Pemuda itu hanya bergerak ke sana ke mari mengelak. Sampai belasan jurus ia mengelak terus, perhatiannya terpecah karena dalam menghadapi keroyokan ini ia selalu menoleh dan memandang ke arah Eng Lan yang masih rebah tak bergerak dalam pengaruh totokan.
Sebaliknya, Eng Lan yang sejak tadi juga memandang pemuda itu, kini bercucuran air mata tanpa ia dapat mengusapnya karena tangannya tak dapat digerakkan. Betapa ia takkan menangis kalau ia mengenal pemuda itu sebagai Kun Hong, kekasihnya.
Memang, pemuda itu bukan lain adalah Kun Hong yang kini sudah menjadi pangeran di Ban-mo-to! Seperti telah dituturkan di bagian depan, ketika menyerbu Ban-mo-to dan minta obat Im-yang-giok-cu dari Kui-bo Thai-houw, pemuda ini yang menjatuhkan hati nenek lihai itu, telah dirobohkan dan dipengaruhi obat yang membuat pemuda ini seperti kehilangan semangat dan menurut saja menjadi permainan Kui-bo Thai-houw!
Semenjak saat itu diaku sebagai putera Kui-bo Thai-houw dan selain menerima pengobatan Im-yang-giok-cu sehingga tubuhnya pulih kembali dari bekas-bekas luka pukulan Im-yang-lian-hoan dari Kun-lun pai, juga ia malah menerima pelajaran ilmu silat yang aneh dari Kui-bo Thai-houw yang amat menyayangnya.
Dengan wataknya yang aneh dan mengerikan, nenek ini menyayang Kun Hong sebagai anak, juga sebagai kekasih! Kun Hong juga samar- samar masih ingat akan keadaannya, akan tetapi pengaruh obat itu membuat ia seperti mabok dan lupa segala, menurut saja akan segala macam kehendak Kui-bo Thai-houw.
Sekarang, dalam penyerbuan ke Ngo-tok-kauw untuk merampas Ngo-heng-giok-cu, secara kebetulan sekali ia melihat Eng Lan. Cinta kasihnya yang suci dan mendalam terhadap gadis ini membuat ia tak dapat melupakan wajah gadis ini dan biarpun ia sama sekali belum ingat siapa adanya gadis yang menggeletak di situ, akan tetapi ia tak dapat mencegah dadanya berdebar-debar dan matanya selalu memandang kepada gadis itu.
"Kun Hong, balas! Mengapa membuang waktu?" bentak Kui-bo Thai-houw tak sabar ketika melihat pemuda itu hanya mengelak saja tanpa balas menyerang.
Kun Hong tersentak kaget dan menggunakan pedang Cheng-hoa-kiam di tangannya untuk menangkis dua pedang yang menyambar itu. "Traanggg...!"
Cui Kim dan Hak Lui mengeluarkan seruan kaget karena pedang mereka telah patah ketika tertangkis. Sebelum mereka sempat mengelak, Kun Hong sudah mendorong mereka roboh tak dapat bangun kembali karena jari-jari tangan Kun Hong yang cekatan dan penuh keahlian itu telah menotok jalan darah mereka. Biarpun ia berada di bawah pengaruh Kui-bo Thai-houw, namun pengaruh Eng Lan yang sudah meresap ke dalam jiwanya membuat Kun Hong selalu menjauhkan diri dari pembunuhan.
Kui-bo Thai-houw tertawa girang dan sekali kakinya bergerak, ia telah melayang mendekati tubuh Cui Kim. Tangannya bergerak dan di lain detik tongkat bermata Ngo-heng-giok-cu telah berada di tangannya. Mudah saja baginya mencabut permata itu keluar dari tongkat, kemudian ia mematahkan tongkat menjadi dua dan menyambit dua potongan tongkat itu ke arah Cui Kim dan Hak Lui.
Kasihan sekali dua orang muda ini yang tanpa dapat berteriak lagi harus melepaskan nyawanya karena potongan-potongan tongkat itu menghancurkan kepala mereka, Kui-bo Thai-houw masih penasaran, takut kalau batu kemala itu palsu, ia tadi sudah tertarik oleh Wi Liong, bukan saja tertarik oleh ketampanan pemuda ini, juga karena ia tahu bahwa pemuda itu pingsan karena semacam racun yang kuat.
Maka ia lalu menghampiri Wi Liong, mendekatkan mukanya ke muka pemuda itu. Ketika ia mencium bau harum luar biasa yang membuat kepalanya tiba-tiba pening, cepat-cepat ia membawa batu kemala itu ke hidungnya. Ia tersenyum karena seketika itu juga kepeningan kepalanya lenyap.
Ia lalu mendekatkan batu kemala itu ke bawah hidung Wi Liong, menggosok-gosoknya sebentar. Warna merah yang tidak sewajarnya cepat sekali menghilang dari muka Wi Liong, napasnya menjadi normal dan pemuda ini mengeluarkan keluhan, tangannya bergerak perlahan.
Kui-bo Thai-houw tertawa puas. Tak salah lagi, inilah Ngo-heng-giok-cu. Ia lalu memberi isyarat kepada empat orang pelayan dan kepada Kun Hong untuk pergi dari situ. Dengan tindakan lemah lembut wanita hebat ini meninggalkan tempat itu, diikuti oleh empat orang pelayannya. Kun Hong juga meninggalkan tempat itu akan tetapi lebih dulu ia menghampiri Eng Lan dan menyabar tubuh gadis itu, dipanggulnya dan dibawa pergi menyusul Kui-bo Thai-houw!
Wi Liong membuka matanya dan ia merasa seperti baru sadar dari tidur yang enak sekali. Kemudian ia teringat dan cepat-cepat ia bangun, apa lagi selelah mendengar suara tangisan riuh-rendah di sekelilingnya. Ia melompat dan melihat keadaan yang mengerikan. Tempat itu penuh dengan mayat, tidak saja mayat Cui Kim, Hak Lui, Sui-toanio dan lima orang kakek Ngo-heng-tin.
Akan tetapi juga mayat belasan orang anak buah Ngo-tok-kauw yang tadi menjadi korban ketika tamu-tamu agung itu pergi dan mereka hendak membela kematian kauwcu mereka. Ketika melihat semua ini dan mendapat kenyataan pula, bahwa Eng Lan tidak berada di situ, Wi Liong seketika menjadi cekatan dan waras kembali.
"Apa yang telah terjadi? Siapa membunuh mereka dan mana nona Pui...?" tanyanya kepada orang-orang yang sedang menangisi kematian pemimpin-pemimpin mereka itu.
"Siapa lagi kalau bukan iblis-iblis Ban-mo-to? Nona tawanan itupun mereka bawa pergi..." jawab seorang anggauta Ngo-tok-kauw.
Mendengar ini, Wi Liong tanpa berkata apa-apa lagi cepat melompat pergi dari tempat itu untuk mengejar orang-orang Ban-mo-to. Ia dapat menduga bahwa Kui-bo Thai-houw kembali datang mengacau dan membunuhi orang-orang Ngo-tok-kauw, malah kini menculik Eng Lan. Apa maksudnya menculik Eng Lan?
Selagi ia berlari-lari di dalam hutan, tiba-tiba muncul Pak-thian Koai-jin. Kakek ini kelihatan girang ketika mengenalnya. "Eh, eh, kau sudah bisa membebaskan diri? Syukur... syukur... dan mana Eng Lan?"
Dari ucapan ini saja Wi Liong tahu bahwa kakek ini tadi sudah melihat dia dan Eng Lan tertawan akan tetapi tidak kuasa menolong, maka iapun menuturkan dengan singkat, "Selagi aku pingsan Ngo-tok-kauw diserbu orang-orang Ban-mo-to, para pemimpinnya dibunuh dan tahu-tahu Eng Lan mereka bawa pergi. Aku hendak menyusul ke Ban-mo-to untuk menolongnya."
Pak-thian Koai-jin nampak terkejut. "Ayaaa...! Anak itu memang bernasib baik...!"
Wi Liong mau tak mau melongo mendengar kata-kata ini. "Bernasib baik? Bagaimana maksud locianpwe? Bukankah dia berada dalam bahaya?"
Pak-thian Koai-jin mengangguk-angguk. "Justeru itulah kukatakan bernasib baik, selalu dalam bahaya akan tetapi aku percaya selalu akan tertolong. Coba saja pikir, mana ada orang yang begitu banyak menghadapi pengalaman-pengalaman hebat seperti dia? Baru saja ditawan Ngo-tok-kauw, sekarang ditawan orang-orang Ban-mo-to! Dia ditawan berarti tidak dibunuh, dan ini berarti dia masih ada harapan ditolong."
Memang Pak-thian Koai-jin kalau bicara seenaknya saja, akan tetapi diam-diam Wi Liong harus membenarkan pendapatnya itu biarpun kedengarannya aneh. "Betapapun juga, locianpwe, aku sudah lama mendengar tentang kekejaman orang-orang Ban-mo-to yang kabarnya tidak kalah oleh Thai Khek Sian dan orang- orang Mo-kauw yang lain, tentu saja jauh lebih kejam dari pada Ngo-tok-kauw. Lebih baik kita cepat-cepat menyusul dan berusaha menolong muridmu itu."
Tiba.-tiba kakek itu tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, kelihatan ekormu! Jadi kau mencinta muridku? Bagas... bagus... setelah dia tertolong akan kuusahakan supaya dia mau menerimamu... ha-ha-ha!"
Wi Liong kaget dan mengerutkan keningnya, lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh, "Locianpwe, bagaimana kau bisa bilang begitu? Aku... aku tidak bisa mencinta dia, juga tidak mencinta wanita lain, aku hendak menolongnya karena itu sudah merupakan kewajibanku. Kuharap mulai sekarang locianpwe janganlah mengganggu muridmu itu tentang perjodohannya dengan aku, karena kalau aku tidak salah terka, muridmu itu mencinta Kun Hong dan ini baik sekali. Locianpwe sebagai gurunya seyogianya, membantunya supaya dia dapat berjodoh dengan pilihan hatinya sendiri, jangan malah merintangi."
Pak-thian Koai-jin melengak mendengar kata-kata yang panjang lebar ini. Ia terang sekali kecewa, lalu mengomel sambil menghela napas panjang pendek, "Apa kau kira aku tidak tahu bahwa dia tergila-gila pada Kun Hong? Aku ke mana-mana mengikutinya dan mencarikan batu Im-yang-giok-cu, apakah itu semua bukan karena aku hendak membantunya menolong Kun Hong? Hanya saja, aku lebih suka..kalau dia memilih engkau. Sudahlah... sudahlah... orang-orang muda jaman sekarang memang keras kepala...."
"Locianpwe, marilah segera menyusul orang-orang Ban-mo-to, jangan sampai kita terlambat dan terjadi apa-apa dengan muridmu itu."
Teringat akan hal ini, Pak-thian Koai-jin menjadi bersemangat lagi dan berangkatlah dua orang itu, berlari cepat ke timur untuk menyusul orang-orang Ban-mo-to. Baru saja mereka keluar dari hutan itu dan tiba di jalan besar, terdengar seruan nyaring sekali dari kanan,
"Haaaiii! Bukankah itu Pak-thian Koai-jin yang di depan!"
Pak-thian Koai-jin dan Wi Liong berhenti dan membalikkan tubuh. Seorang laki-laki tinggi besar dan berpakaian panglima perang dengan langkah lebar berlari-lari ke arah mereka.
"See-thian Hoat-ong, dari mana kau berlari-lari seorang diri? Apa hendak maju perang?" Pak-thian Koai-jin menyambut kawan ini dengan kelakarnya.
"Hendak menengoki Kong Bu, puteraku yang pada waktu ini bertugas di pantai timur. Kau hendak ke mana dan ini...." See-thian Hoat-ong sudah sampai di depan mereka dan tiba-tiba kata-katanya terhenti ketika ia mengenal Wi Liong. Mukanya berubah dan sepasang alis yang tebal itu berkerut menandakan hatinya tak senang.
"Hemmm, orang muda she Thio. Jadi kau masih hidup...?"