Cheng Hoa Kiam Jilid 27, karya Kho Ping Hoo - WI LIONG sedang menumpahkan seluruh perhatiannya kepada Siok Lan, maka ketika ia merasa ada sambaran pedang, dengan jengkel karena terganggu, sulingnya ditangkiskan dengan tenaga dikerahkan, sedangkan dada yang menghadapi angin pukulan Toat-sim-ciang itu ia biarkan saja, hanya mengerahkan sinkang untuk menolaknya.

Akibatnya hebat. Tidak saja pedang di tangan Tok-sim Sian-li terpental, juga wanita itu terjengkang karena hawa pukulannya sendiri yang membalik, membuat dia hampir saja roboh kalau tidak cepat-cepat berjungkir balik sampai tiga kali! Para tamu menjadi makin kagum akan kehebatan pemuda itu, sedangkan Chi-loya yang juga terpengaruh sekali oleh pertemuan aneh mengharukan itu, mencela keras.
"Tok-sim Sian-li, mengapa kau berlaku begitu curang? Kalau mau berkelahi kau tunggu sampai mereka habis bicara!"
Tok-sim Sian-li mendongkol, malu dan marah bukan main. "Heh-heh, orang she Chi kambing bandot tolol! Isterimu dipermainkan orang, kau dihina habis-habisan dan aku membantumu membunuh dia, kau malah menghalangiku? Benar tolol!"
Muka Chi-loya sebentar pucat sebentar merah. Malunya bukan main melihat isterinya dipeluk-peluk dan saling berpegang tangan, bercakap-cakap dengan pemuda itu penuh kemesraan. Memang itu merupakan penghinaan yang luar biasa. Rantai baja di tangannya menggigil, siap hendak dipukulkan ke arah kepala Wi Liong. Akan tetapi Chi-loya adalah seorang yang mengutamakan kegagahan, tidak sudi ia menyerang orang yang tidak bersiaga.
"Aku tidak butuh bantuanmu. Ini urusanku sendiri, kau boleh pergi!"
"Manusia tak kenal budi, kalau begitu lebih baik kau mampus dari pada hidup terhina oleh isteri sendiri di depan umum!" Sambil berkata demikian, kini pedang di tangan Tok-sim Sian li menyerang hebat kepada Chi-loya!
Siok Lan yang sedang bercakap cakap dengan Wi Liong, melihat suaminya diserang, cepat melompat dan menangkis pedang Tok-sim Sian-li lalu balas menyerang. Wi Liong juga berdiri. "Siok Lan, apakah dia mengganggumu?”
"Usir dia, membikin ribut saja mengganggu percakapan kita.” jawab Siok Lan.
Wi Liong menggerakkan sulingnya dan sekaligus senjata istimewa ini melakukan tiga macam serangan yang amat sulit. Tok-sim Sian-li sibuk mengelak dan menangkis, akan tetapi serangan ketiga tidak dapat dicegah lagi mengenai pundaknya, perlahan saja akan tetapi cukup membuat lengan kanannya lumpuh dan ia tak dapat menggerakkan pedangnya lagi. Ia memang jerih terhadap Wi Liong, sekarang ia tahu bahwa melanjutkan pertempuran takkan mencuci mukanya. Ia melompat pergi sambil berseru.
"Bocah setan, akan datang saatnya aku membalas semua ini!"
Akan tetapi Wi Liong sudah menarik tangan Siok Lan dan diajak duduk lagi. "Siok Lan apakah kau mencinta suamimu, Chi-loya itu?" tanya Wi Liong, teringat betapa tadi Siok Lan membantu Chi-loya ketika diserang oleh Tok-sim Sian-Ii.
Siok Lan tidak menjawab, juga tidak memandang ke arah suaminya, akan tetapi ia mengangguk. "Jadi kau tidak cinta padaku?" pertanyaan itti terdengar sedih.
"Kau tahu aku mencinta padamu, dahulu, sekarang, kelak... selama-lamanya...”
"Kalau begitu hayo kita pergi dari sini berdua... selamanya..."
Siok Lan menggeleng kepala. "Namamu akan rusak karenanya...."
"Perduli apa? Orang-orang ini...." ia mengembangkan kedua lengannya ke sekeliling, "atau orang-orang sedunia boleh mencelaku, boleh merusak namaku asalkan kau selalu berada di sampingku."
"Tidak bisa. Liong-ko, tidak mungkin. Aku sudah menjadi isteri orang dan aku mencinta suamiku. Kau pergilah dari sini dan lupakan aku." Setelah berkata demikian. Siok Lan menangis lagi terisak-isak.
"Siok Lan, kau kejam.... setidaknya ceritakan bagaimana kau bisa menjadi isteri orang lain... betapa kejam kau, betapa mudah melupakan aku dan mencari pengganti...."
"Jangan kau menyangka begitu, Liong-ko. jangan. Sungguh mati, tadinya kuanggap kau sudah meninggal ketika terjerumus ke dalam jurang. Aku seperti gila, hidup kosong bagiku. Aku pergi tanpa tujuan sampai berbulan-bulan dan akhirnya aku tiba di daerah ini dalam keadaan jasmani lemah dan sakit-sakit sedangkan ingatanku juga bingung tidak karuan, lebih gila dari pada waras, lebih mati dari pada hidup karena aku lupa makan lupa tidur..."
"Kasihan kau...."
"Aku tentu akan menjadi korban orang-orang jahat atau binatang-binatang buas di dalam hutan sepanjang sungai disebelah timur, kalau saja tidak muncul dia itu....”
"Chi-loya.....?”
Siok Lan mengangguk. "Dia menolongku, merawatku penuh kesabaran, penuh kasihan dan cinta, ia sopan, hormat, mencinta dan aku merasa seperti hidup kembali dari kematian. Aku merasa berhutang budi kepadanya. Kuanggap hidupku sudah tamat semenjak kau... kukira mati, dan ada orang yang menghidupkan aku, menanam budi, sekarang aku hanya ingin membalas budinya selagi masih hidup... Liong-ko kau harus mengerti keadaanku...." Siok Lan nampak sedih sekali.Akan tetapi Wi Liong bangkit berdiri dengan marah. Ia menoleh ke arah Chi loya dan membentak keras, "Bandot tua! Sungguh tak bermalu! Kau pura-pura menolongnya, berlaku baik padanya hanya untuk membujuknya menjadi isterimu. Jadi kau menolong untuk menanam budi agar ia terpaksa mau menjadi isterimu? Keparat...!"
"Wi Liong, jangan kau bilang begitu! Dia betul-betul orang baik tidak seperti yang kau sangka!" Siok Lan menjerit akan tetapi Wi Liong tidak perdulikan dia. Pemuda ini saking sedih dan kecewanya, menjadi mata gelap dan ia lalu menyerang maju hendak memukul Chi-loya.
Chi-loya sendiri hatinya sudah panas karena dibakar oleh Tok-sim Sian-li tadi. Kalau saja, ia tidak mendengar percakapan dua orang muda itu dan tahu bahwa di sini terdapat kesalah-fahaman tentu ia sudah menyerang Wi Liong. Ia tahu bahwa nasib buruk telah memisahkan dua orang muda yang saling mencinta itu dan hatinya tergerak.
Ia hendak membiarkan persoalan itu dalam tangan Siok Lan. Biarlah gadis itu memilih jalannya sendiri. Andaikata Siok Lan memilih Wi Liong dan meninggalkannya, iapun tidak akan menghalanginya. Akan tetapi ternyata Siok Lan memilih dia dan sekarang pemuda itu marah-marah hendak menyerangnya. Tentu saja iapun lalu menggerakkan rantai bajanya menyambut serangan ini.
Berbareng pada saat itu, belasan orang gagah yang menjadi tamu Chi-loya, serentak maju mengeroyok Wi Liong. Dalam pandangan mereka Wi Liong terlalu kurang ajar. Selain menodai kehormatan keluarga Chi dengan sikap kurang ajar terhadap pengantin wanita, sekarang malah hendak membunuh Chi loya.
"Pemuda jahat jangan kurang ajar!" teriak mereka dan sebentar saja Wi Liong yang hendak menyerang Chi-loya sudah dikepung. Pertempuran hebat terjadi di ruangan itu.
Wi Liong mengamuk. Sebentar saja empat orang sudah roboh terkena totokan sulingnya. Dua orang lagi roboh terkena tendangan kakinya. Sungguh amat hebat sepak terjang pemuda ini. Biarpun ia sudah mata gelap karena marah, kecewa dan duka, namun watak dan sifatnya yang baik dan penuh welas asih itu masih menahannya, melarangnya membunuh orang secara sembarangan saja.
Oleh karena itu, mereka yang ia robohkan tidak sampai tewas. Dengan muka merah Wi Liong mendesak maju terus dengan maksud merobohkan Chi-loya yang mungkin akan ia tewaskan karena hatinya penuh cemburu dan marah.
Para tamu yang maklum akan maksud pemuda itu membunuh Chi-loya, serentak maju membantu tuan rumah sehingga tidak mudah bagi Wi Liong untuk mendekati Chi-loya yang sudah siap berdiri tegak dengan rantai baja di tangannya. Dengan gemas Wi Liong kembali bergerak cepat sekali dan belasan orang roboh malang-melintang. Dengan lompatan jauh akhirnya ia berhadapan dengan Chi-loya!
"Bandot tua, kau hendak lari ke mana?" bentaknya.
"Siapa yang akan lari? Pemuda hijau, hamba nafsu!" Chi-loya balas memaki dengan senyum sindir sambil memutar rantai untuk menjaga diri.
Wi Liong menggerakkan sulingnya dan menyerang maju. Dua orang tamu bertubuh kurus kering menyerangnya dari kanan kiri, akan tetapi segebrakan saja dua orang itu terpental ke kanan kiri. Mereka bangun dengan mulut melongo saking herannya. Mereka ini adalah sepasang saudara yang berjuluk Hong-pek (Malaikat Angin) dan Lui-kong (Malaikat Guntur) dan nama mereka sudah amat terkenal di daerah selatan. Akan tetapi begitu keserempet hawa pukulan pemuda ini, mereka terjengkang! Siapa orangnya tidak menjadi terheran-heran?
Chi-loya bukannya orang lemah. Rantai bajanya merupakan senjata berat yang amat kuat dan sukar dilawan. Maklum bahwa pemuda ini memiliki kesaktian tinggi, ia memutar rantainya sambil mengerahkan segenap tenaga lweekangnya. Melihat suling kecil itu meluncur maju ia menyabet dengan rantainya, dengan gerakan sedemikian rupa sehingga ujung rantai dapat membelit senjata lawan.
Di luar sangkaannya, pemuda itu membiarkan saja ujung sulingnya terbelit rantai lawan. Chi-loya sudah menjadi girang sekali. Inilah sebuah di antara keistimewaannya, membelit senjata dengan rantai lalu mengerahkan tenaga sekuatnya untuk membetot dan merampas senjata lawan. Demikianlah, sambil memasang kuda kuda-kuat sekali ia berseru sambil menarik rantainya dengan gerakan mendadak.
Akan tetapi Wi Liong bukanlah orang yang dengan mudah begitu saja dapat dirampas senjatanya. Ilmu silatnya sudah terlalu tinggi kalau dibandingkan dengan Chi-loya, beberapa tingkat lebih tinggi. Maka. dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Chi-loya ketika tiba-tiba ada tenaga dahsyat sekali membuat ia melepaskan gagang rantainya!
Benar-benar sukar dimengerti dan aneh kalau dibicarakan Chi-loya yang menggunakan rantainya membelit suling dan dia yang mengerahkan tenaga membetot, eh. tahu-tahu malah rantainya sendiri yang terlepas dan terampas lawan! Sebelum ia dapat mengelak kakinya sudah diserampang oleh kaki Wi Liong sehingga tubuhnya terlempar dan roboh telentang.
"Bandot tua, bersiaplah kau untuk menghadap Giam-kun (Malaikat Akhirat)!" kata Wi Liong dan ia melangkah maju.
Tiba-tiba terdengar jerit mengerikan dan Wi Liong menahan langkah kakinya malah ia lalu mundur ketika melihat Siok Lan yang menangis tersedu-sedu itu sudah menubruk Chi-loya dan kini gadis itu menghadapinya dengan pedang di tangan dan air mata di pipi. "Mau bunuh dia...? Mau bunuh suamiku....? Bunuhlah aku lebih dulu!"
Wi Liong menjadi pucat mukanya. Pukulan ini hebat sekali baginya. Siok Lan telah dihadapkan dua pilihan dan ternyata gadis itu memilih suaminya yang tua, malah sekarang hendak melawannya! "Siok Lan... kau... kau lebih cinta padanya...?"
"Tentu! Bagaimana seorang isteri tidak mencinta suaminya? Thio Wi Liong, jangan harap kau akan dapat menjamah tubuh suamiku sebelum melalui mayatku!”
Kedua kaki Wi Liong menggigil. Tadi ia masih ragu-ragu, masih mengira bahwa gadis itu mencintanya dan hanya karena kesusilaan belaka maka terpaksa tidak mau mengikutinya meninggalkan Chi-loya. Sekarang terbukalah matanya, jelas baginya bahwa cinta gadis ini terhadapnya hanya di bibir saja.
Dan sekarang ternyata bahwa gadis itu lebih mencinta Chi-loya, malah bersedia mengorbankan nyawa untuk suaminya, rela menghadapinya sebagai lawan! Ini terlampau hebat baginya dan tiba-tiba Wi Liong melihat keadaan sekelilingnya menjadi gelap menghitam, bumi yang diinjaknya serasa terputar-putar dan di lain saat ia sudah roboh pingsan!
Dengan tangan kanan memegang pedang terhunus dan air mata bercucuran di atas pipinya. Siok Lan menyuruh suaminya dengan suara lirih. "Ikat kaki tangannya dan bubarkan para tamu!"
Melihat keadaan sudah begitu. Chi-loya tidak ada lain jalan kecuali menuruti kehendak isterinya. Ia memohon maaf kepada semua tamu dan minta mereka meninggalkan rumahnya, kemudian dengan ragu-ragu akan tetapi tidak berani membantah ia mengikat kaki tangan Wi Liong dan menyuruh pelayan-pelayannya mengangkat tubuh pemuda Itu ke dalam rumah. Setelah itu ia bersama isterinya memasuki rumah dengan hati tidak karuan.
Para pelayan hanya dapat saling pandang dengan bengong, lalu mengangkat pundak. Baiknya mayat kawanan kaki tangan pemerintah Mongol tadi sudah dibawa pergi kawan-kawan sendiri dan yang terluka juga sudah dibawa pulang oleh kawan-kawan mereka, maka para pelayan kini hanya tinggal membersihkan ruangan itu dan mencuci lantai yang terkena darah.
Wi Liong masih pingsan dan ia dibaringkan di atas dipan di ruangan tengah. Siok Lan dan Chi-loya duduk di atas kursi dekat dipan itu. Keduanya tidak bicara sejak tadi dan Chi-loya memandang kepaida isterinya dengan hati bingung, ia maklum bahwa isterinya amat mencinta pemuda sakti ini dan agaknya ia akan rela kalau isterinya mau pergi bersama Wi Liong.
Akan tetapi, hatinya tidak mengijimkan. Ia sendiri amat mencinta isterimya dan terbayanglah semua, pengalamannya semenjak ia belum bertemu dengan Siok Lan sampai saat pernikahannya yang menjadi geger tidak karuan itu.
Dahulu pernah Chi loya yang sebetulnya bernama Chi Kian mempunyai seorang isteri akan tetapi isterinya meninggal dunia tanpa meninggalkan seorangpun keturunan. Telah banyak wanita yang dilihatnya, banyak pula yang mengharapkan menjadi isteri hartawan yang terkenal dermawan dan gagah perkasa ini sehingga dijuluki orang Wu-kiang Siauw-ong. Akan tetapi belum pernah ia menemui seorang wanita yang cukup berharga untuk dijadikan pengganti isterinya yang telah meninggal dunia.
Pada suatu hari, sebulan lebih yang lalu, ia menerima laporan dari penduduk sebelah timur sungai bahwa di dalam sebuah hutan yang lebat muncul rombongan perampok yang suka mengganggu penduduk. Mendengar laporan ini, Chi-loya yang berjiwa gagah cepat membawa rantai bajanya menyeberangi sungai menuju tempat itu. Ia memasuiki hutan seorang diri saja karena tidak mau membahayakan keselamatan pembantu-pembantunya yang tidak memiliki ilmu silat tinggi.
Dan apa yang ia dapatkan di dalam hutan liar yang masih termasuk wilayahnya ini? Seorang gadis cantik jelita yang gagah perkasa yang dengan sebilah pedang telah menewaskan tiga ekor harimau yang agaknya mengganggunya di tengah perjalanan, dan ketika ia tiba di situ sedang dikeroyok oleh belasan orang perampok! Ia kagum bukan main menyaksikan ilmu pedang gadis itu dan sekali pandang saja ia maklum bahwa gadis itu memiliki ilmu silat yang tinggi, yang tidak kalah olehnya sendiri.
Akan tetapi gadis itu pucat wajahnya dan gerak-geriknya lemah seperti orang sakit sehingga biarpun ia berhasil merobohkan beberapa orang perampok ia sendiri sudah amat lemah dan hampir roboh. Chi-loya lalu turun tangan membantu dan mengusir para perampok pada saat gadis itu roboh pingsan saking lelah dan lemahnya.
Kemudian tanpa ragu-ragu lagi setelah melihat gadis itu benar benar menderita sakit deman hebat, ia memondong tubuh gadis itu dibawa pulang dan dirawat. Gadis itu bukan lain adalah Siok Lan. Sampai hampir satu bulan Siok Lan menderita sakit hebat, terserang demam panas yang hampir saja membawa pergi nyawanya kalau saja Chi-loya tidak berusaha sekuat tenaga untuk menolongnya.
Siang malam Chi-loya melayani dan merawat sendiri gadis yang sekaligus telah merampas hatinya itu. Ia memasak sendiri obat-obat untuk Siok Lan setelah mendatangkan sinshe (tukang obat) terpandai dari kota terdekat, menjaga dan merawat dengan kedua tangannya sendiri dengan penuh perhatian dan penuh kesabaran.
Siok Lan amat terharu menerima budi kebaikan yang luar biasa ini. Ia anggap dirinya sudah mati, setidaknya semangatnya untuk hidup sudah terbawa pergi oleh Wi Liong yang terjerumus di dalam jurang. Baginya, tidak ada yang lebih dinantikan selain kematian, kematian yang memungkinkan ia menyusul Wi Liong pemuda yang dikasihinya itu. Akan tetapi kini ia terikat lagi oleh dunia, terikat dengan budi yang amat besar yang dilimpahkan oleh Chi-loya kepadanya.
Cinta kasih yang besar, yang suci dan tidak terdorong nafsu semata dari hartawan itu mengharukan hatinya, membuat ta tidak tega untuk menolak ketika Chi-loya menyatakan perasaannya, meminangnya. Maka untuk sekedar membalas budi, ia menerima pinangan Chi-loya! Semua ini terbayang di depan mata Chi-loya, juga terbayang di dalam benak Siok Lan ketika keduanya menjaga Wi Liong yang masih pingsan di atas dipan.
Setelah malam tiba dan keadaan menjadi sunyi, Siok Lan berkata kepada suaminya, "Bawa dia ke sungai dan bunuh saja di sana, hanyutkan tubuhnya di sungai yang deras."
Chi-loya terkejut sekali mendengar ini, wajahnya sampai menjadi pucat. "Siok Lan, apa artinya ucapanmu ini?"
"Artinya, aku baru bisa menjadi isterimu kalau dia sudah tidak ada lagi di dunia ini seperti yang tadinya kukira!" jawab Siok Lan tenang.
"Siok Lan, kau tahu bahwa aku mencintamu dengan seluruh jiwa ragaku. Akan tetapi biarpun tidak ada apapun di dunia ini yang ingin kumiliki seperti dirimu, aku lebih suka melihat kau bahagia biarpun harus kubeli dengan nyawaku. Kalau kau mencinta pemuda ini, kau boleh tinggalkan aku dan ikutlah dengan dia kalau memang itu yang kau kehendaki kalau memang itu yang akan membikin kau bahagia. Aku rela...."
"Tidak!" kata Siok Lan terharu. "Dengan berbuat begitu aku akan merusak penghidupan dua orang, dia yang akan cemar namanya dan kau yang akan menjadi berduka. Sudahlah, kau bawa dia dan kaubunuh dia, barulah keadaanku biasa kembali seperti kemarin sebelum dia muncul! Kalau kau tidak mau melakukan ini, aku sendiri akan membunuhnya kemudian aku akan tinggalkan kau!"
Mendengar ketidaksabaran dan kejengkelan di dalam suara isterinya; Chi-loya tahu bahwa tidak ada pilihan lain baginya. Ia sudah cukup mengenal watak Siok Lan yang amat keras. "Baiklah, kalau demikian kehendakmu." katanya kemudian menarik napas panjang. lalu mengenakan jubah panjang dan mengikatkan rantai baja di pinggangnya.
Siok Lan menghampiri tubuh Wi Liong yang masih telentang pucat di atas dipan, membungkuk dan memberi ciuman tanpa malu-malu lagi penuh keharuan pada kening pemuda itu. "Bawalah, bunuhlah...." katanya perlahan dan air matanya bercucuran turun ketika ia memandang suaminya yang tinggi besar itu, yang sudah melangkah keluar dengan cepatnya sambil memondong tubuh Wi Liong.
Siok Lan berdiri terus di ambang pintu, pucat seperti mayat, tidak bergerak seperti patung. Hanya air matanya yang bergerak, seperti batu-batu giok berjatuhan di atas pipinya tanpa dirasa dan diusapnya. Seakan-akan, semangatnya terbang mengikuti tubuh Wi Liong yang dipondong pergi oleh suaminya,. Ia yakin betul bahwa Chi-loya pasti akan memenuhi permintaannya, pasti akan membunuh Wi Liong sebagaimana yang dipintanya. Ia tahu betapa besar cinta kasih orang tua itu kepadanya.
Setelah semalaman gadis itu berdiri di pintu. Menjelang pagi, sesosok bayangan berkelebat dan masuklah Chi-loya berkerudung baju panjangnya karena pagi itu dingin sekali. Wajahnya nampak gembira akan tetapi menjadi terkejut dan cemas melihat isterlnya berdiri di ambang pintu. Dipeluknya Siok Lan. dirangkul dan ditanya penuh kasih sayang, "Mengapa kau masih di sini dan belum tidur?"
Siok Lan menatap wajahnya, mencari-cari dengan pandang mata untuk menjenguk isi hati suaminya, berkata lirih, "Sudah...?”
Chi-loya hanya mengangguk, menarik lengan gadis itu memasuki rumah, menutup pintu. "Kau seharusnya sudah tidur, berdiri di luar bisa masuk angin." kata Chi-loya sambil merangkulnya.
Siok Lan diam saja, malah merebahkan kepala di dada suaminya sambil menangis terisak-isak. Chi-loya menggeleng-gelengkan kepala, menarik napas dan mengelus-elus rambut yang halus hitam itu untuk menghibur hati isteri yang amat dicinta itu.
Siok Lan dapat tidur sejenak. Akan tetapi begitu cahaya matahari pagi memasuki kamar melalui kaca-kaca jendela, ia tiba-tiba melompat bangun dan cepat mencuci muka dan membereskan rambutnya,. "Hayo antar aku, lekas..." katanya kepada Chi-loya yang juga ikut bangun dengan kaget dan memandang heran.
"Antar ke mana?"'
"Ke mana lagi? Ke Sungai Wu-kiang, bodoh!" Siok Lan menghardik.
Berdiri bulu tengkuk Chi-loya mendengar isterinya berkata kasar itu. Sambil mengerutkan kening, ia turun dan memegang lengan isterinya. "Mau apa pagi-pagi ke sungai?" tanyanya hati-hati.
"Hendak melihat apakah betul-betul dia sudah mati. Hayolah!"
Sambil berkata demikian, Siok Lan menangkap pergelangan tangan suaminya, menyambar pedang di dinding lalu menarik suaminya keluar gedung. Setibanya di luar, para pelayan memandang heran melihat tuan dan nyonya itu pagi-pagi pergi secara tergesa-gesa, bahkan Chi-loya masih kusut pakaiannya, belum juga mencuci muka!
Chi-loya menurut saja dan di lain saat keduanya sudah nampak berlari cepat menuju ke sungai. "Percuma kita ke sana, tentu jenazahnya sudah hanyut....” kata Chi-loya perlahan.
Akan tetapi Siok Lan tidak menjawab, malah mendengar ini ia lalu berlari makin cepat Terpaksa suaminya mengikuti dan belakang dengan muka berubah amat khawatir. "Di mana... di mana kau bunuh dan buang dia...?" tanya Siok Lan setelah mereka tiba di tepi Sungai Wu-kiang yang airnya mengalir tenang dan penuh.
Chi-loya nampak gugup dan tanpa berkata-kata ia membawa Siok Lan ke sebuah tebing tinggi' di tepi sungai. Dari tebing itu ke permukaan air ada seratus meter lebih dan dari tempat itu air kelihatan kehijauan, tenang sekali seperti tidak bergerak, seperti sutera hijau dibentangkan panjang. Dengan telunjuknya Chi-loya menunjuk ke arah air. "Di situ...?"
Suara Siok Lan menggigil dan matanya memandang ke bawah, mencari-cari kalau-kalau ia menemukan mayat Wi Liong. Akan tetapi yang mengambang di permukaan air hanyalah benda-benda kecil keputihan, yaitu busa- busa air dan kotoran-kotoran sisa yang termakan ikan. "Mana... mana dia? Mana jenazahnya....?"
Chi-loya menjadi pucat dan menarik napas panjang, sedih sekali melihat isterinya bersikap seperti itu. "Sudah kukatakan tadi, tentu jenazahnya sudah hanyut dan tenggelam. Siok Lan isteriku, kenapa kau bersikap begini? Kau menghendaki dia mati dan dia sudah mati. Marilah kita pulang....”
Siok Lan memandang ke permukaan sungai dan seakan akan kelihatan bayangan Wi Liong di sana. Mendengar kata kata suaminya, ia menoleh, mukanya pucat dan matanya tertutup air mata. "Pulang...? Kau bilang pulang, Wi Liong...? Ya, pulang, kau tunggu aku, mari kita pulang....!"
Dan secepat kilat, tanpa diduga-duga oleh Chi-loya, tahu-tahu Siok Lan sudah melompat ke depan sambil mencabut pedang. Sebelum tubuhnya menyentuh air, pedangnya ditusukkan sendiri ke dadanya dan... "Byuuurrr....!"
Chi Loya memekik tinggi, tubuh Siok Lan tenggelam dan permukaan air menjadi sedikit merah. "Siok Lan...!!!" Chi-loya memekik ngeri, untuk sesaat hanya berdiri pucat seperti patung. Kemudian iapun melompat ke bawah!
"Byuuurrr!" Untuk kedua kalinya air memercik tinggi, permukaan air yang tadinya tenang menjadi bergelombang. Makin lama gelombang makin kecil dan warna merah makin pudar. Tak lama kemudian permukaan air di sungai itu sudah tenang kembali dan tidak ada sedikitpun bekas peristiwa ngeri tadi di situ. Yang ada hanyalah mayat dua orang yang timbul di permukaan air jauh di hilir dan tak lama kemudian lenyap pula dari permukaan air, entah apa yang terjadi di dalam, tidak kelihatan.
Wi Liong berjalan seorang diri, langkahnya ringan, bibirnya tersenyum-senyum, namun kalau orang memandang lebih teliti, di antara sepasang alisnya timbul gurat-gurat membujur yang membuat wajahnya nampak beberapa tahun lebih tua dari pada usianya. Kedua kakinya seperti bermata, berjalan menyusup-nyusup dan melangkahi rintangan di depan, akan tetapi sebenarnya kedua kaki ini maju tanpa tujuan tertentu.
Ia berjalan asal melangkah saja, tidak perduli sampai di mana. Pikirannya melayang-layang, teringat akan segala peristiwa yang dialaminya baru-baru itu, peristiwa yang aneh, menyedihkan, mengharukan, memberi tekanan berat pada batinnya dan akhirnya mendatangkan kebahagiaan juga!
Belum lama tadi, tahu-tahu ia siuman di atas sebuah perahu kecil yang bergoyang-goyang di pinggir sungai. Ketika ia membuka matanya, ia melihat Chi-loya duduk di kepala perahu, tangannya yang besar kuat memegang rantai baja, matanya memandang jauh melalui permukaan air. Mata memandang jauh tapi tidak melihat apa-apa.
Wi Liong bergerak bangun dan terheran-heran. Melihat dia bangun. Chi-loya menghadapinya dan tersenyum ramah. "Kau sudah siuman? Bagus, tak usah terlalu lama menanti..." katanya. Pada saat itu, fajar sudah hampir menyingsing, keadaan masih remang-remang hanya diterangi oleh bulan sepotong yang sudah hampir tenggelam dan sudah pudar sinarnya.
"Kita berada di mana? Mengapa di dalam perahu?" tanya Wi Liong yang masih bingung dan heran, kemudian ia melihat sulingnya di dalam perahu, lalu diambilnya.
Chi-loya mendiamkannya saja dia mengambil senjatanya itu. Lalu ia berkata tenang, "Seperti kau lihat, kau berada di dalam perahu baru saja siuman dari pingsan dan aku... aku tadinya bertugas mengetuk kepalamu sampai pecah dan melempar mayatmu di sungai ini...." Orang tua tinggi besar itu menghela napas panjang, lalu meludah ke dalam air tanda hati merasa sebal.
"Kalau begitu.... kenapa aku masih hidup dan kau masih duduk diam saja memegang rantai baja yang masih bersih?" tanya Wi Liong, bukan bermaksud untuk berkelakar karena memang ia betul-betul heran.
"Kau kira aku orang macam apa, membunuh orang yang tidak berdaya, dalam keadaan pingsan? Kalau saja aku dapat menangkan kau, ingin memang aku menghancurkan kepalamu, kau orang yang hendak merusak kebahagiaan hidupku!" Chi-loya memukulkan rantainya pada pinggiran perahu sampai somplak dan hancuran kayu beterbangan.
Kagum hati Wi Liong. Orang ini baik sekali, gagah dan jujur, juga berhati jantan. Sayang dia salah mengambil Siok Lan. ”Eh, di mana Siok Lan...? Mengapa kau membawaku ke sini tadi?" tiba-tiba ia bertanya ketika ia teringat akan Siok Lan.
"Sudah kukatakan, aku harus membawamu ke sini untuk dibunuh dan dibuang. Akan tetapi sayang sekali... aku tidak tega membunuh orang pingsan, bodoh dan lemah aku ini!"
Wi Liong tiba-tiba menjadi pucat dan memegang lengan orang itu erat-erat. "Chi-loya, kau orang gagah yang karena kegagahanmu saja sudah patut kuhormati, katakanlah sejujurnya, apa artinya semua ini?”
Chi-loya memang seorang gagah yang berwatak mulia. Ia memandang Wi Liong, kini kemarahan lenyap dari mukanya, terganti perasaan kasihan. Melihat muka pemuda itu pucat dan menatapnya penuh permohonan, ia membuang muka lalu terdengar suaranya yang jelas dan nyaring, "Kau pingsan, kemudian dia menyuruh aku membawamu ke sini, membunuhmu dan melempar mayatmu ke sungai."
"Dia... dia menyuruhmu membunuhku? Siok Lan yang menyuruh kau membunuhku?” Suara pemuda itu membayangkan hati yang perih dan luka, berdarah.
Chi-loya menjadi makin kasihan. "Dia sudah menjadi isteriku, dan dia menyatakan bahwa hanya kalau kau sudah mati seperti yang tadinya ia kira, maka baru dia bisa menjadi isteriku. Dia yang menyuruhku dan sayangnya aku seorang lemah....”
Tiba-tiba Wi Liong tertawa bergelak-gelak sambil berdiri di perahu dan mendongak ke udara. Tertawa terbahak-bahak keras sekali.
Chi-loya menangkap lengannya dengan bulu tengkuk meremang. "Diam! Diam, kau seperti mayat tertawa...! Apa sih yang kau tawakan?”
Akan tetapi Wi Liong tertawa terus, kemudian berhenti dan ternyata air matanya bercucuran di atas kedua pipinya dan wajahnya pucat sekali. "Kau tidak bodoh, dan tidak lemah, Chi-loya. Akulah segoblok-gobloknya orang, setolol-tololnya manusia. Aku merindu gila seorang diri. Padahal dia tidak cinta kepadaku. Ah... Siok Lan. Bu Beng Siocia semua itu khayalku semata, angan-angan kosong belaka.
"Dia tidak cinta padaku, hanya kasihan dan dia sudah menjadi isterimu yang tercinta. Syukurlah... syukurlah, semoga kau dan dia hidup bahagia. Chi-loya. Kau seorang gagah, kau manusia baik, sedangkan aku... aku si pandir si pemabok angan-angan, si tukang menerawang... ha-ha-ha, kembaililah kepada isterimu, Chi-loya. Selamat tinggal!"
Dan melompatlah ia dari perahu itu ke darat, dengan gerakan ringan sekali. Entah mengapa, tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya ringan dan dadanya serasa kosong melompong!
Demikianlah; pemuda ini jalan terus dengan cepatnya, tersenyum-senyum karena merasa tubuhnya enak dan kosong, ringan sekali. Kedua kakinya seperti mesin bergerak maju. tanpa tujuan. Pada saat seperti itu, teringatlah kembali ia akan ajaran-ajaran Thian Te Cu, akan wejangan-wejangan dan gemblengan-gemblengan ilmu batin, dan insyaflah ia bahwa selama ini ia ditunggangi oleh nafsunya sendiri.
Bahwa selama ini ia tergila-gila kepada Siok Lan karena nafsu mudanya, karena kebetulan Siok Lan memiliki bentuk wajah dan potongan tubuh yang mencocoki seleranya, karena segala gerak geriik gadis itu menyentuh perasaannya, membangkitkan nafsu dan kasihnya. Padahal semua itu kosong be!aka, buktinya sekarang setelah semua nafsu dan perasaannya padam oleh kesadarannya bahwa Siok Lan tidak mencintanya ia tidak merindu lagi!
Memang manusia kadang-kadang menggelikan sekali. Bodoh mengaku pandai, itulah sifat setiap orang manusia. Wi Liong, pemuda hijau mengaku pandai, merasa telah dapat membongkar rahasia cinta seorang gadis seperti Siok Lan! Terlalu hijau ia, terlalu muda, hanya tahu tentang cinta dari perkiraan belaka, dari logika mentah.
Mana dia tahu akan hikmat cinta kasih, akan kemurnian cinta kasih dalam lubuk hati seorang gadis, mana dia bisa mengira bahwa pada saat ia tersenyum senyum mentertawakan diri sendiri dan Siok Lan itu, pada saat ia berfilsafat tentang cinta, pada saat itu Siok Lan telah membunuh diri di Sungai Wu-kiang, sengaja untuk menyusul dia yang disangka sudah mati!
Mana ia tahu akan kasih sayang seperti yang memenuhi hati Chi-loya terhadap Silok Lan, sehingga laki laki gagah ini rela pula mati bersama Sioik Lan. Mayatnya terapung-apung di samping mayat Siok Lan, di permukaan air Sungai Wu-kiang! Akan tetapi memang jauh lebih baik bagi Wi Liong tidak mengetahui akan semua ini, tidak mengetahui untuk selamanya.
Karena hasil renungan dan filsafatnya tentang cinta, akhirnya Wi Liong dapat memulihkan semangatnya dan dapat menerima nasib. Ia anggap bahwa Siok Lan tidak cinta kepadanya dan bahwa gadis itu kini telah menjadi nyonya Chi yang hidup beruntung, kaya raya, suami mencinta. Dia malah merasa merdeka karena tidak ada lagi ikatan, baik ikatan lahir sebagai bekas tunangan maupun ikatan batin sebagai bekas kekasih. Dia sekarang telah bebas, merdeka!
Beberapa bulan kemudian, pemuda ini sudah tiba di Tung-ting, sebuah telaga besar di Propinsi Hu-nan. Bersama dengan banyak pelancong ia menikmati keindahan telaga ini dan berdiam di situ sampai berpekan-pekan. Ia sengaja bermalam di dalam sebuah kuil tua yang terdapat dalam hutan kecil di barat telaga, kuil yang sudah rusak dan tidak ada penghuninya.
Setiap hari orang dapat melihat pemuda ini memancing ikan sambil melamun di pinggir telaga. Atau melihat dia dengan senangnya memanggang ikan hasil pancingannya di kuil tua itu, makan seorang diri dengan lahap dan nikmatnya!
Atau kadang kadang ia juga memilih tempat yang sunyi di ujung barat telaga, di mana masih liar tanamannya dan tak pernah dikunjungi orang, dan di sinilah ia setiap hari mandi di antara batu-batu yang tinggi menonjol di pinggir telaga. Sampah berjam-jam ia berenang ke sana ke mari, memukui-mukul air dan merasa segar sehat lahir batin.
Sementara itu, di balik segerombolan batu-batu besar di pinggir telaga, terjadi hal yang aneh dan lucu. Tadinya nampak seorang kakek kecil pendek berpakaian pengemis bermata besar, kedua tangannya memegang tongkat bambu dan sebuah mangkok butut. Kakek ini memandang ke arah Wi Liong yang sedang mandi, lalu tertawa-tawa sendiri, agaknya merasa lucu nonton orang mandi bertelanjang bulat di telaga itu.
Kemudian ia pergi sambil berlari-lari, langkah kakinya ringan sekali sampai-sampai Wi Liong yang lihai juga tidak mendengar langkah kakinya. Tak lama kemudian, kakek itu datang lagi berlari-lari dengan seorang gadis cantik yang berwajah muram.
"Dialah baru orangnya yang akan dapat menolong kita membasmi iblis-iblis itu!" kata kakek itu sambil berlari-lari.
"Siapa sih yang suhu maksudkan?" tanya gadis cantik itu sambil berlari di samping suhunya.
"Kau lihat sendiri nanti, tentu kau mengenalnya!" Kakek itu terkekeh lalu membawa gadis itu ke balik gerombolan batu besar tadi. Setelah tiba di tempat itu, ia menunjuk ke arah setumpuk pakaian yang berada di situ sambil berkata. "Nah, itu orangnya dan ini pakaiannya. Hayo kita curi pakaiannya untuk memaksa dia berjanji!"
Gadis itu memandang heran ke arah tumpukan pakaian pria yang bersih dan ditumpuk rapi di atas batu licin, kemudian menurutkan tempat yang ditunjuk suhunya ia memandang ke air dan tiba-tiba wajahnya menjadi merah sekali dan cepat-cepat ia memutar tubuh membuang muka ketika ia melihat seorang pemuda bertubuh tegap berkulit kuning berada di air bertelanjang bulat. Baiknya pemuda itu membelakangi mereka.
"Ah, suhu sungguh membikin malu orang...!" katanya sambil berdiri membelakangi orang mandi itu.
"Eee... eeeee, bagaimana sih kau ini? Orang itu bukan orang sembarangan, dialah pemuda yang kita jumpai dulu di Kelenteng Siauw-lim-si, pemuda sakti yang... yang menjadi pilihanku. Kau sepatutnya menjadi isteri orang seperti itu, Eng Lan. Untuk apa kau menanti nanti pemuda macam Kun Hong yang tidak setia dan tidak memegang janji?"
"Suhu... harap jangan berkata begitu..." gadis itu mengeluh.
Wi Liong sekarang mendengar suara mereka dan cepat ia menengok. Alangkah kagetnya ketika ia melihat seorang kakek dan seorang gadis cantik yang ia kenal sebagai Pak-thian Koai-jin dan muridnya, Pui Eng Lan si gadis hitam manis! Ia kaget bukan apa-apa, hanya karena ia berada dalam keadaan telanjang dan pakaiannya justeru bertumpuk di dekat kakek dan gadis itu! Cepat-cepat ia menyelam dan hanya kepalanya saja yang kelihatan sekarang, dengan muka kemerah-merahan di permukaan air yang jernih.
"Dia sekarang tidak terikat lagi, sudah putus pertunangannya dengan puteri keluarga Kwa..."
Wi Liong mendengar ucapan terakhir kakek itu. Ia merasa heran mengapa kakek itu berkata demikian dan tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. "Ah... kiranya locianpwe Pak-thian Koai-jin yang berada disitu dan nona Pui Eng Lan... harap suka menyingkir dulu agar aku dapat... berpakaian." katanya gagap.
Muka Eng Lan menjadi makin merah dan gadis ini tak dapat berdiam lebih lama lagi di situ, terus saja mengangkat kaki pergi menjauhi tempat itu tanpa menoleh lagi.
'"Ha-ha-ha-ha!" Pak-thian Koai-jin tertawa, matanya bersinar-sinar. "Orang muda, kalau aku mengambil pakaianmu ini dan membawa pergi, kau mau bisa bikin apa terhadapku?”
Wi Liong kaget sekali. Ia memang sudah nendengar tentang keanehan kakek ini yang amat nakal, dulupun pernah kakek ini secara mendadak dan terang-terangan di depan orang banyak hendak menjodohkan dia dengan Eng Lan! Sekarang kakek ini mengancam hendak mengambil pakaiannya bisa celaka dia!
"Jangan, locianpwe yang baik kalau kau ambil, habis aku bagaimana? Janganlah ganggu aku, biar lain kali aku membalas kebaikanmu itu!"
"Betul-betulkah? Mau kau berjanji akan membalas kebaikanku tidak jadi mengambil pakaianmu? Hayo janji!"
"Aku berjanji," kata Wi Liong yang benar-benar tak berdaya menghadapi kakek nakal ini.
Pak-thian Koai-jin tertawa terbahak-bahak. "Kalau begitu, lekas kau naik berpakaian dan kita bicarakan tentang perjodohanmu dengan muridku. Pui Eng Lan."
Seketika Wi Liong menjadi lemas dan hampir ia tenggelam ke dalam air mendengar ucapan ini. "Kalau... kalau urusan itu... aku... aku tidak bisa menjalani, locianpwe..." ratapnya bingung.
"Heh-heh... dahulu kau menggunakan alasan sudah bertunangan, sekarang bukankah pertunanganmu dengan puteri keluarga Kwa itu sudah diputuskan? Ada keberatan apa lagi kau? Coba katakan, apa muridku itu kurang manis, kurang denok dan kurang gagah? Hayo katakan kalau kau pikir begitu!''
Menghadapi kakek nakal ini, Wi Liong benar-benar merasa tobat dan ia melihat Eng Lan yang berdiri jauh membelakangi mereka sudah terisak menangis. Tentu saja gadis itu dapat mendengar semuanya. Kasihan, pikirnya. Kemudian ia teringat akan hubungan gadis itu dengan Kun Hong. Tak salah lagi, gadis itu mencinta Kun Hong. Maka ia lalu mendapat akal dan berkata dengan suara tetap.
"Locianpwe, bukan sekali-kali aku mencela muridmu, malah aku seorang rendah dan bodoh ini mana patut menjadi jodohnya? Akan tetapi, perjodohan satu kali gagal sudah lebih dari cukup bagiku, locianpwe...." Wi Liong tersenyum masam, "usulmu itu baik sekali, akan tetapi sayang hanya terbatas pada keinginanmu sendiri. Aku tentu takkan membantah andaikata nona Pui sendiri yang berkata bahwa dia... dia suka menjadi jodohku. Hanya itulah syaratku...."