Cheng Hoa Kiam Jilid 21

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Cheng Hoa Kiam Jilid 21
Sonny Ogawa

Cheng Hoa Kiam Jilid 21, karya Kho Ping Hoo - “AHA, ANAK MUDA yang sedang menderita. Bagus sekali kau bertemu dengan aku. Tunggulah kuobati penderitaanmu itu dengan ujar-ujar agung dari kitab Tiong Yong.”

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Sambil berkata demikian, kakek itu merosot turun dari atas punggung keledai dan ia ternyata pendek saja, tubuhnya agak bengkok di bagian punggungnya seperti penderita penyakit encok. Lalu ia menuntun keledainya, diikatkannya kendali binatang itu pada batang pohon lalu ia menghampiri Kun Hong dengan langkah perlahan. Kun Hong tercengang.

“Lopek, bagaimana kau bisa bilang bahwa aku seorang yang sedang menderita?”

“Hemm, apa sukarnya? Seorang penderita lapar baru dapat menikmati makanan seorang penderita dahaga baru dapat menikmati minuman, seorang penderita penyakit baru dapat menikmati kesehatan. Dan hanya orang yang menderita batinnya saja dapat menikmati ujar-ujar dalam kitab Tiong Yong.” Kun Hong makin tertarik. Suara orang ini amat menarik perhatiannya dan kata-kata yang keluar dari mulutnya aneh-aneh belaka sungguhpun ia masih kurang mengerti, namun agaknya ia dapat menangkap kebenaran-kebenaran yang tersembunyi dalam ucapan-ucapan itu.

“Lopek, coba kau jelaskan arti sajak tadi. Kalau memang cocok dan baik, biar aku mengaso sambil mendengarkan.”

Orang itu terkekeh, lalu duduk di atas sebuah batu yang halus permukaannya. Juga Kun Hong lalu duduk di atas batu, menghadapi kakek aneh itu. “Ujar-ujar itu ada hubungannya erat sekali dengan watak dan tabiat manusia,“ kakek itu mulai dengan uraiannya,

“Pada hakikatnya sifat manusia yang masih belum terganggu perasaan-perasaan sesuatu, adalah sama dengan air yang diam, tenteram, diam rasa, pokoknya lurus dan tidak berat sebelah. Inilah yang disebut TIONG atau tengah-tengah, ibarat orang sedang tidur nyenyak tanpa diganggu mimipi apa-apa, begitu tenteram dan damai, bersih dan adil. Akan tetapi, sekali datang perasaan-perasaan senang, marah, duka, gembira dan sebagainya, ketenangan itu terguncang dan pertimbangannya lalu menjadi miring, dan hal ini dapat membuat manusia menyeleweng dan meninggalkan jalan kebenaran.”

Kun Hong mengerutkan kening, penasaran. “Akan tetapi, lopek. Manusia mana yang tidak akan diganggu oleh perasaan-perasaan hatinya? Hanya orang yang sudah mati, atau orang yang hidupnya tidak ada artinya lagi, baru kiranya tidak akan perduli akan perasaan hatinya.”

Kakek itu mengangguk-angguk. “Pelajaran dalam kitab Tiong Yong mengakui akan kenyataan bahwa manusia tidak terluput dari pada gangguan-gangguan yang timbul dari pada panca inderanya, mengalami gocangan- goncangan yang menerjang ketenteraman hatinya seperti sebuah perahu di laut teduh sewaktu-waktu tentu menerima serangan ombak dan badai. Akan tetapi, kalau kita dapat menerima serangan itu dengan penuh kebijaksanaan, dapat mengendalikan perasaan seperti seorang tukang perahu yang pandai mengemudikan perahunya dalam terjangan ombak dan badai, itulah yang baik sekali dan disebut HOO.”

“Aku mulai mengerti, lopek. Bagus sekali ujar-ujar itu. Akan tetapi, bagaimana orang bisa berlaku demikian? Mengalami kenikmatan siapa yang tidak senang, menghadapi hal yang tidak menyenangkan siapa yang tidak berduka, dan menghadapi tindasan siapa yang tidak akan marah!”

“Itulah yang dimaksudkan supaya kita mengendalikan perasaan. Orang yang dapat mengendalikan perasaan sendiri, selalu akan bersikap tenang dan waspada. Dari ketenangan dan kewaspadaan ini timbul kebijaksanaan dan tindakan yang sudah dipertimbangkan masak-masak berdasar keadilan. Inilah sifatnya orang bijaksana. Ia bisa berduka, ia bisa marah menghadapi hal-hal itu.

"Akan tetapi perasaan duka dan marah itu dapat ia kendalikan sehingga ia tidak menjadi mata gelap, tidak akan melakukan perbuatan yang terdorong oleh nafsu-nafsu itu. Bisa jadi ia akan girang dan senang menghadapi sesuatu yang menguntungkan dan menyenangkan, akan tetapi perasaan girang dan senang itu dapat ia kendalikan sehingga ia tidak akan menjadi sombong, angkuh, serakah, dan sebagainya.”

Kun Hong mengangguk-angguk. Sekarang isi ujar-ujar itu menjadi gamblang baginya dan ia makin tertarik. Ia segera berdiri dan menjura dengan hormat. “Bolehkah aku yang bodoh mengetahui nama lopek yang mulia? Dan kalau sekiranya lopek tidak keberatan, aku mohon bimbingan lebih lanjut untuk mempelajari ujar-ujar yang bagus itu.”

Kakek itu menutup kitabnya dan memandang kepada Kun Hong. Keningnya dikeruitkan ketika ia berkata, “Orang muda, kau seorang muda yang gagah, membawa-bawa pedang, tentu seorang ahli silai. Mengapa ingin mempelajari segala ujar-ujar ini?”

“Lopek, seperti lopek katakan tadi. hatiku gelisah dan aku terluka hebat. Aku sedang mencari hwesio muka hitam untuk mohon kepadanya mengobati lukaku ini. Karena selama ini hatiku gelisah dan tidak mendapat ketenteraman, tadi mendengar uraian lopek sebagian besar kegelisahanku berkurang, maka mohon lopek yang budiman sudi memberi petunjuk.”

Kakek itu nampak terperanjat. “Kau mencari hwesio muka hitam? Hemmm, bagaimana kau bisa tahu di sini ada seorang hwesio muka hitam?” Pertanyaan ini diajukan dengan tiba-tiba dan sepasang mata kakek itu memandang penuh selidik.

Terhadap orang ini Kun Hong tidak berani main-main. “Aku mendapat petunjuk dari mendiang Liong Tosu dari Kun-lun-san yang mengatakan bahwa hanya hwesio muka hitam dari Pegunungan Bayangkara yang akan dapat mengobati lukaku dan menghilangkan rasa sakit di dadaku.”

Kakek itu menarik napas panjang. “Dia tentu akan marah setengah mati kalau kau datang sendiri. Kalau aku yang membawamu, dia bisa memaafkan aku. Kau orang muda menderita lahir batin, aku kasihan kepadamu. Kalau kau mencari hwesio muka hitam, kiranya hanya aku Miang Sinshe seorang di dunia ini yang akan dapat mengantarmu. Mari kau ikut aku.”

Setelah berkata demikian, kakek itu kembali menaiki keledainya dan menjalankan keledai itu perlahan-lahan. Bukan, main girangnya hati Kun Hong. Dicari susah-susah, sekarang ada seorang perantara yang akan membawanya kepada hwesio muka hitam. Akan tetapi tiba-tiba ia teringat akan ujar-ujar tadi dan menggunakan kekuatan batinnya untuk mengendalikan perasaan girang ini!

“Terima kasih, lopek. Kau baik hati sekali,” katanya sederhana lalu mengikuti kakek itu dari belakang.

Kakek itu tidak menjawab, melainkan membuka kitabnya dan membaca ujar-ujar lain dengan suara keras. Kun Hong mendengarkan dari belakang dan betul-betul ia mendapatkan banyak pelajaran batin dari isi kitab Tiong Yong itu. Banyak hal-hal yang membuka matanya dan membuat ia insyaf betapa penghidupannya yang dulu-dulu ketika ia masih bercampur-gaul dengan Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li, benar-benar telah meninggalkan jalan kebenaran.

Diam-diam ia memperhatikan pelajaran-pelajaran itu sambil terus mengikuti jalannya keledai yang amat lambat. Agaknya kakek yang naik keledai itu sudah hafal benar akan jalan naik ke puncak, buktinya ia tidak pernah mencari jalan lagi. Malah-malah keledainya seperti yang audah mengenal jalan sehingga biarpun kakek itu terus-menerus membaca kitab tanpa mengendalinya, binatang itu bisa memilih jalan sendiri.

Setelah mendaki setengah hari lamanya, akhirnya mereka tiba di puncak dan keledai itu berhenti di depan sebuah pondok yang amat sederhana, (terbuat dari pada tumpukan batu dan balok-balok kayu kasar).

“Phang Sinshe, kau sudah datang? Siapa kawanmu itu?” terdengar suara dari dalam pondok, suara yang parau akan tetapi mengandung pengaruh besar.

Kakek itu tertawa dan merosot turun dari keledainya sambil menutup kitabnya. "Seorang murid baru," katanya. "Losuhu, kau keluarlah, orang muda ini sengaja datang untuk mencarimu."

Tidak terdengar jawaban dari dalam pondok, keadaan menjadi sunyi sekali. Kun Hong melihat betapa pondok itu bersandar pada sebaris pohon-pohon yang besar sekali, pohon-pohon raksasa yang usianya sudah ratusan, mungkin ribuan tahun. Sungguh tempat yang sunyi dan tersembunyi, ia ingin sekali melihat bagaimana macamnya orang yang menyembunyikan diri di situ, yang oleh Liong Tosu disebut hwesio muka hitam yang akan dapat mengobatinya.

"Losuhu... harap kau jangan marah kepadaku. Akulah yang berlaku lancang mengajaknya ke sini, karena kulihat dia betul-betul patut ditolong, dia menderita luka lahir batin. Mungkin aku dapat mengobati luka batinnya, akan tetapi luka jasmaninya, hanya kau seorang yang dapat mengobati, demikian kata pemuda ini menurut petunjuk Liong Tosu dari Kun-lun-san."

Kembali sampai lama tidak terdengar jawaban. Kun Hong diam-diam mendongkol sekali melihat sikap orang yang agaknya ”amat jual mahal" itu. Tiba-tiba terdengar suara itu lagi. "Phang Sinshe orang macam pinceng (aku) yang mengasingkan diri, tidak mempunyai kepandaian apa-apa, bagaimana bisa mengobati orang sakit? Orang muda itu percuma saja membuang waktu datang ke sini. Suruh ia pergi lagi saja,"

Kun Hong adalah seorang muda yang berwatak keras. Mendengar ucapan ini ia lalu berkata kepada Phang Sinshe dengan suara nyaring. "Phang Sinshe, kalau aku tahu bahwa hwesio muka hitam yang ditunjuk oleh mendiang Liong Tosu supaya aku minta pengobatan hanya seorang yang tidak berbudi, kasar, dan macam ini sikapnya menyambut tamu, aku lebih suka mati karena lukaku. Aku benar menyesal sudah menyusahkan Phang Sinshe dan mendaki bukit ini. Lebih baik aku pergi saja, Phang Sinshe." Setelah berkata demikian, Kun Hong memutar tubuh lalu pergi dari situ.

Tiba-tiba dari dalam pondok itu berkelebat bayangan orang dan seorang kakek bertubuh tinggi besar dengan kepala gundul melompat bagaikan seekor burung garuda terbang melampaui kepala Kun Hong dan turun di depan pemuda itu sambil bertolak pinggang. "Orang muda. berhenti dulu!" bentaknya.

Kun Hong mengangkat muka dan melihat betapa muka hwesio itu hitam sekali, akan tetapi anehnya, kulit tubuh yang lain tidak, hanya muka itu yang hitam sehingga sukar dilihat tarikan mukanya. Hwesio ini bertubuh tinggi besar, kelihatan kuat sekali dan di lehernya tergantung seuntai tasbeh. Sinar matanya keras akan tetapi membayangkan penderitaan batin yang besar.

''Orang muda, kau tadi bilang mendiang Liong Tosu! Benarkah Liong Tosu dari Kun-lun-san sudah tewas?"

Menghadapi sikap keren dan bersungguh-sungguh dari hwesio muka hitam ini. Kun Hong tidak mau main-main. Ia mengangguk dan menjawab singkat. "Betul. Liong Tosu dari Kun-lun-san sudah tewas."

Hwesio ini menepuk dadanya dan mengomel, "Benar juga, akhirnya kau mendahului aku sahabatku..." lalu ia menarik napas panjang dan berkata perlahan, "alangkah baiknya nasibmu, cepat terbebas dari pada derita hidup..."

Kun Hong melongo. Pengalaman-pengalaman yang ia jumpai akhir-akhir ini benar membuat ia sering kali terheran. Ia bertemu dengan orang-orang yang selalu mengutamakan kebaikan, selalu menolong orang dan membasmi kejahatan, orang-orang yang bertindak sebagai pendekar seperti kekasihnya Eng Lan.

Kemudian ia bertemu dengan Phang Sinshe yang mempelajari hal-hal tersembunyi dalam hidup, yang tidak memandang hidup asal hidup saja melainkan hendak mengupasnya dan melihat isinya. Kemudian ia melihat hwesio muka hitam yang menganggap kematian sebagai kebebasan dan mengatakan orang mati sebagai bernasib baik! Benar-benar membuat Kun Hong tak mengerti.

"Orang muda, kalau betul Liong Tosu yang menyuruhmu datang, coba ceritakan bagaimana ia tewas dan bagaimana pula ia bisa menyuruh kau datang kepada pinceng."

"Aku terluka oleh pukulan Im-yang-lian-hoan dari ketua Kun-lun-pai dalam sebuah pertempuran,." Kun Hong bercerita, sengaja tidak mau menceritakan kecurangan orang-orang Kun-lun karena ia teringat akan ajaran-ajaran Eng Lan bahwa tidak selayaknya menceritakan keburukan orang lain kepada orang lain pula.

"Secara kebetulan aku bertemu dengan Liong Tosu yang mengobati luka di dadaku, akibat pukulan itu, Liong Tosu menyatakan bahwa biarpun ia sudah mengobati luka Im-kang di dadaku, akan tetapi luka akibat Thai-yang hanya dapat diobati oleh losuhu. Setelah mengobatiku. Liong Tosu meninggal dunia di luar tahuku karena setelah ditotok punggungku, aku roboh pingsan. Ketika siuman kembali, dia telah tewas."

Hwesio itu membelalakkan matanya. "Dia mengorbankan nyawanya untuk menolongmu? Hebat... hebat... kau pernah apanyakah?"

"Aku bukan apa-apanya, juga aku sama sekali tidak tahu bahwa ia mengorbankan nyawa untukku," jawab Kun Hong tak senang.

"Liong Tosu menolong orang memang tidak kepalang tangung. Orang muda, kau memang terluka hebat oleh Im-yang-lian-hoan, dan hawa Thai-yang yang memukul isi dadamu benar-benar hebat sekali. Agaknya kau baru-baru ini telah terpukul pula oleh seorang ahli gwakang, maka lukamu makin parah, membuat mukamu pucat dan lehermu merah.

"Kalau pinceng tidak mengobatimu, tentu Liong Tosu di alam baka akan mentertawakan pinceng, memaki pinceng terlalu pelit. Orang muda, biarpun kepandaianku kalau dibandingkan dengan Liong Tosu bukan apa-apa, akan tetapi di dunia ini yang dapat memulihkan luka bekas pukulan Yang-kang dari Kun-lun-pai, kiranya hanya beberapa orang saja. Kau duduk bersilalah!”

Biarpun hatinya mendongkol melihat sikap yang terlalu kasar ini, namun karena maklum bahwa orang hendak mengobatinya. Kun Hong tidak membantah. Ia melepaskan pedang pemberian Eng Lan, lalu duduk bersila di atas tanah. Hwesio itu lalu menghampirinya dan meraba pundaknya. Seketika hwesio itu menarik kembali tangannya dan bertanya cepat, "Hebat sinkangmu! Kau murid siapa?"

Kun Hong orangnya cerdik. Ia sekarang sudah maklum bahwa di dunia kang-ouw, nama gurunya, Thai Khek Sian, bukanlah nama yang harum dan disuka. Orang ini hendak mengobatinya, maka kiranya tidak baik kalau ia memperkenalkan diri sebagai murid Thai Khek Sian.

"Murid Seng-got-pian Kam Ceng Swi," katanya, tidak membohong besar karena memang pertama-tama ia mendapat latihan dari ayah pungutnya itu.

"Heran sekali! Seng-goat-pian bisa mempunyai murid dengan hawa sinkang begini tinggi? Dan sebagai cucu murid Kun-lun bagaimana sampai terpukul Im-yang-lian-hoan? Akan tetapi sudahlah bukan urusan pinceng. Phang Sinshe, harap kau suka duduk dulu di dalam sebentar pinceng menyusul setelah selesai mengobati orang, muda ini."

Phang Sinshe yang sejak tadi sudah membaca lagi kitabnya, mendengar permintaan ini lalu mengangguk dan memasuki pondok membiarkan dua orang itu yang berada di luar pondok.

"Kau harus tutup saluran hawa sinkangmu, jangan sekali-kali melakukan perlawanan atas desakan hawa Thai-yang dariku. Biarpun tubuhmu akan serasa terbakar, bahkan biarpun kau hampir mampus juga, jangan sekali-kali melakukan perlawanan. Ingat ini semua demi kesembuhanmu sendiri. Janji?"

"Janji!" jawab Kun Hong singkat lalu ia menutup matanya dan bersiap menghadapi pengobatan aneh itu.

Tiba-tiba ia merasa dua telapak tangan yang lebar dan kasar menghantam punggungmya dengan keras sekali sampai tubuhnya terguncang. Akan tetapi dua telapak tangan itu menempel di punggungnya, terus melekat dan dari kedua tangan itu mengalir keluar hawa panasnya seperti api!

Ia tidak melihat betapa hwesio itu dengan pasangan kuda-kuda, kedua kaki ditekuk ke bawah dan kedua tangan menempel punggungnya, sedang mengerahkan tenaga dan "mengirim" hawa panas dari Thai-yang di tubuhnya untuk menyembuhkan Kun Hong. Semacam penyetruman agaknya.

Mula-mula Kun Hong masih dapat menahan mengalirnya hawa panas ke dalam punggungnya. Akan tetapi lama-kelamaan hawa itu menjadi makin panas berputar-putar di seluruh tubuhnya lalu berkumpul didadanya, membuat dadanya serasa hendak meledak. Ia terengah-engah, kepalanya pening, ketika membuka mata, matanya berkunang. Peluh mengucur deras, tubuhnya seperti dibakar di atas api unggun.

Kun Hong merobek bajunya agar angin gunung mengurangi panasnya, akan tetapi makin panas saja. Kalau saja ia tidak ingat janjinya, mau rasanya ia melawan hawa ini dengan lweekangnya, atau melompat pergi, dari situ. Akan tetapi ia sudah berjanji dan kata Eng Lan, seorang pendekar atau seorang jantan lebih baik mati dari pada melanggar janjinya!

Oleh karena ini, Kun Hong mempertahankan terus sambil menggigit bibirnya sampai terluka dan berdarah. Ia tidak tahu lagi apa yang terjadi di sekelilingnya dan beberapa menit kemudian Kun Hong pingsan sambil masih duduk bersila. la tidak tahu bahwa keadaan kakek gundul itupun tidak menyenangkan.

Keringat sebesar kacang hijau memenuhi kepala yang gundul itu. Muka yang hitam itu nampak mengerikan dan hwesio tua ini menyeringai sambil terus menekan punggung. Tubuhnya makin lama makin menggigil keras, akhirnya ia melepaskan kedua tangannya dan jatuh terduduk di samping Kun Hong. Dengan ujung jubahnya ia menyusuti peluhnya lalu mengatur pemapasannya.

Setelah itu, ia lalu berdiri lagi dan menotok tujuh belas persimpangan jalan darah di tubuh Kun Hong. Semua totokan ini ia lakukan dengan jari telunjuk, termasuk gerakan menotok dari Ilmu Silat Pai-in-ciang. Baru setelah beres ia nampak lega, lalu duduk di atas batu depan Kun Hong sambil menatap wajah pemuda itu.

"Tampan dan menarik," demikian kesan pertama dalam hatinya ketika hwesio muka hitam itu mulai memperhatikan wajah Kun Hong. Ada sesuatu pada wajah pemuda ini yang membuat ia memandang makin penuh perhatian. Ada sesuatu pada wajah itu yang serasa telah dikenalnya baik-baik. Akan tetapi, betapapun ia memeras otak, tak diingatnya bila dan di mana ia pernah melihat pemuda ini.

Tiba-tiba ia melihat sebuah benda kecil mengkilap di atas tanah dekat kaki pemuda itu. Hwesio itu menjadi tertarik sekali dan mengambilnya. Itulah sebuah gelang emas kecil. Tiba-tiba mata itu terbelalak dan tangan yang memegang benda perhiasan itu menggigil.

"Kun... Hong..." ia berbisik sambil menatap dua buah huruf yang terukir di gelang itu, dua buah huruf, yang berbunyi Kun dan Hong.

Itulah gelang kecil yang diberikan oleh Kam Ceng Swi kepada Kun Hong ketika pemuda itu hendak meninggalkan Kun-lun-san. Sebuah benda yang menjadi saksi tunggal dari keadaan Kun Hong, akan tetapi karena benda itu tak dapat bicara maka sebegitu jauh Kun Hong maupun Kam Ceng Swi tidak dapat menyingkap tabir yang menutupi rahasia sekitar diri Kun Hong.

"Mungkinkah ini...?” Hwesio muka hitam itu berkata lagi perlahan dan ia menatap wajah Kun Hong. Teringatlah ia kini bahwa memang wajah pemuda ini sudah sering kali dilihatnya, malah sudah terukir di lubuk hatinya, merupakan wajah seorang wanita yang cantik jelita, wanilta yang dulu terkenal sebagai Puteri Harum, bekas selir Kaisar Mongol Jengis Khan puteri cantik jelita yang bernama Kiu Hui Niang yang kemudian menjadi isterinya yang terkasih dan kemudian dia bunuh!

Menggigil seluruh tubah hwesio itu kini, karena ia bukan lain adalah Beng Kun Cinjin Gan Tui! Karena mukanya yang sehitam arang sukar sekali dilihat apa yang sedang ia rasakan pada detik itu. Akan tetapi di dalam hatinya terjadi perang tanding yang hebat. Bermacam-macam pikiran memasuki kepalanya dan akhirnya matanya menjadi beringas ketika ia memandang kepada Kun Hong. Beringas yang timbul dari rasa takut. Ia lalu melompat berdiri dan mengguncang-guncang pundak Kun Hong.

Baru saja pemuda itu siuman, dari pingsannya dan ia masih meramkan mata karena ia merasa tubuhnya amat ringan dan enak. Rasa sakit yang tadinya membuat ia menderita sudah lenyap sama sekali, akan tetapi perubahan itu membuat ia merasa tubuhnya seringan kapas dan kepalanya menjadi pusing.

Perubahan yang tiba-tiba ini benar-benar membingungkannya. Ia membuka mata dan masih bingung dan heran ketika melihat penolongnya mengguncang-guncang pundaknya. la masih ingat betul bahwa hwesio muka hitam ini yang tadi menolongnya.

Melihat pemuda itu sudah membuka matanya, hwesio itu membentak keras dalam pertanyaannya, "Lekas bilang, apakah kau bernama Kun Hong?"

Dengan mata masih berkunang karena pusing dan bingung mengalami perubahan keadaan tubuh yang mendadak itu. Kun Hong mengangguk. "Namaku memang Kun Hong...” ia berkata perlahan sekali.

"Kau anak siapa? Hayo lekas kau mengaku!" hwesio itu mendesak.

Seperti diketahui Kun Hong sendiri tidak tahu siapa ayah bundanya, maka dalam keadaan pusing itu menghadapi pertanyaan ini ia menjadi makin bingung dan tak tahu harus menjawab apa. Akhirnya dengan gagap ia menjawab juga.

"Aku... aku tidak punya ayah dan ibu... ibuku sudah mati dibunuh orang dihutan... ayahku entah siapa...!”

Tubuh Beng Kun Cinjin menggigil makin keras. "Gelang ini... kau lihat ini... apakah gelang ini milikmu...?"

Kun Hong berada dalam keadaan bingung dan pening. Kalau tidak tentu ia akan merasa curiga sekali melihat keadaan orang. Akan tetapi ia lebih banyak menutup mata dari pada membukanya. Kalau ia membuka matanya, ia melihat pohon-pohon di sekelilingnya seperti berputaran. Ia hanya membuka mata sebentar untuk melihat gelang itu, lalu ia mengangguk lagi.

”Gelang itu... ditemukan oleh.... ayah pungutku ketika ia menolongku...."

Beng Kun Cinjin melompat berdiri. Ia bimbang. Telah belasan tahun setiap hari ia menyesali perbuatannya, menyesali kesesatannya sehingga ia mengorbankan nyawa murid-muridnya yang terkasih, murid-muridnya yang ia tahu adalah pendekar-pendekar gagah perkasa. Thio Houw dan Kwee Goat binasa ketika dua murid itu hendak mengingatkannya dari pada kesesatannya.

Malah ia telah membikin buta mata muridnya yang ke tiga, Kwee Sun Tek. Dan semua itu ia lakukan karena ia tergila-gila kepada Kiu Hui Niang, Puteri Harum yang kemudian ternyata hanyalah seorang perempuan rendah yang berwatak hina yang tidak setia dan mengadakan perhubungan gelap dengan laki-laki lain.

Biarpun ia sudah agak terhibur karena sudah membunuh perempuan itu, namun ia masih selalu gelisah jika mengingat akan perbuatan-perbuatannya terhadap murid-muridnya. Oleh karena inilah ia lalu menyembunyikan diri di Bayangkari, membuang namanya, malah melumuri mukanya dengan obat sehingga muka itu menjadi hitam dan sukar dikenal lagi.

Belasan tahun ia menyesali perbuatannya secara diam-diam dan selain Liong Tosu dan Kun-lun-pai yang menjadi kenalannya hanyalah Phang Sinshe karena ia suka mendengar Phang Sinshe menguraikan tentang ilmu-ilmu kebatinan untuk pengobat hatinya yang terluka.

Siapa kira, tiba-tiba sekarang ia berhadapan dengan Kun Hong! Bocah yang ketika masih bayinya ia timang-timang, ia sayang sepenuh jiwa karena bocah ini adalah anaknya sendiri. Akan tetapi yang kemudian ia benci karena ternyata kemudian bahwa bocah itu bukan anaknya seperti yang ia dengar dari percakapan antara Kiu Hui Niang dan Liu-kbngcu. Tiba-tiba saja ia menjadi benci melihat Kun Hong, pemuda putera Kiu Hui Niang itu.

"Anak haram! Keparat kau, pergilah menyusul ibumu yang kotor!" Tiba-tiba hwesio itu menendang tubuh pemuda yang masih duduk bersila di atas tanah.

"Bukk!" Tubuh Kun Hong terlempar sampai beberapa meter jauhnya dan anehnya, Kun Hong jatuh ke atas tanah kembali dalam keadaan masih tetap bersila! Hal ini tidak aneh. Tenaga lwee-kang dan hawa sinkang di tubuh Kun Hong sudah mencapai tingkat tinggi sekali.

Tadi berkat pengobatan Beng Kun Cinjin yang benar-benar manjur luka di dadanya sudah hilang rasa sakitnya dan telah memulihkan semua tenaganya, maka tendangan itu tidak membuat ia terluka. Akan tetapi oleh karena ia masih pening dan bingung, tubuhnya terasa masih ringan dan aneh, ia seperti tidak ambil perduli perbuatan hwesio itu kepadanya dan masih tetap duduk bersila seperti tadi.

Untuk sejenak Beng Kun Cm jin terkejut bukan main. Tidak salahkah matanya memandang? Pemuda itu terkena tendangan kilatnya tidak apa-apa, hanya mencelat tapi seperti tidak merasa sesuatu! la menjadi penasaran, dilolosnya senjatanya yang hebat, yaitu tasbeh yang dikalungkan di lehernya. Sambil memutar tasbehnya, ia memaki.

"Bocah keparat kau tidak patut hidup di dunia ini. Bawalah pergi nama buruk perempuan yang melahirkanmu, pergilah menyusul roh Kiu Hui Niang di neraka!" Dengan cepat Beng Kun Cinjin melompat dan tasbehnya diputar di atas kepala, menyambar ke arah kepala Kun Hong. Pemuda ini masih seperti orang mabok dan agaknya biarpun ia berkepandaian tinggi, pukulan tasbeh ini tentu akan meremukkan kepalanya.

"Tar... Tar....!" Suara menyetar ini dibarengi berkelebatnya dua benda berbentuk bintang dan bulan yang menangkis tasbeh di tangan Beng Kun Cinjin dan disusul suara bentakan keras,

"Beng Kun Cinjin jadi kaukah yang membunuh ibu anak ini? Kau yang membunuh... isterimu sendiri? Benar-benar manusia tidak tahu malu, pengecut tak berani memikul akibat perbuatan sendiri! Setelah membunuh murid-murid gagah, kau malah sekarang hendak membunuh anak sendiri...."

"Tutup mulut! Kau tentu Seng-goat-pian Kam Ceng Swi? Bagus, kau sudah mengetahui persoalanku, mampuslah kau!" Beng Kun Cinjin yang merasa malu dan gelisah sekali ada orang mengenalnya, cepat mengirim serangan dengan tasbehnya.

Ceng Swi mengelak, sambil membalas dengan serangan yang tak kalah hebatnya. Di lain saat, dua orang tokoh besar itu sudah bertempur dengan ramai sekali. Seng-goat-pian Kam Ceng Swi adalah seorang tokoh Kun-lun-pai yang berkepandaian tinggi dan pengalamannya luas, apa lagi senjatanya merupakan senjata yang aneh dan sukar diduga gerakannya. Malah tokoh Kun-lun ini pernah mendapat petunjuk-petunjuk dari Liong Tosu, maka ia lihai sekali.

Akan tetapi, sekarang ia berhadapan dengan Beng Kun Cinjin Gan Tui. Seperti telah diketahui, Beng Kun Gnjin atau Gan Tui ini adalah putera tunggal dari pendekar besar Gan Yan Ki, murid seorang di antara Wuyi Sam-lojin. Selain mewarisi kepandaian ayahnya yang mati muda biarpun yang diwarisinya itu hanya sebagian saja, namun selain kepandaian keluarga ini ia pernah mendapat petunjuk-petunjuk dari Thian Te Cu yang merasa kasihan kepadanya.

Di samping ini. juga di waktu mudanya Gan Tui telah mempelajari banyak ilmu silat tinggi dari cabang persilatan lain sehingga kepandaiannya makin meningkat saja. Dibandingkan dengan Seng-goat-pian Kam Ceng Swi, ilmu kepandaian Beng Kun Cinjin masih menang banyak.

Biarpun sepasang senjata bulan sisir dan bintang di ujung tali itu menyambar-nyambar dengan dahsyat dan berbahaya, namun selalu dapat dikeltt dan ditangkis oleh Beng Kun Cinjin. Setiap kali senjata di tangan Kam Ceng Swi bertemu dengan tasbeh, senjata itu terpental ke belakang dan tasbeh terus menyambar langsung, merupakan serangan balasan yang hebat sekali.

Diam-diam Kam Ceng Swi terkejut dan maklum bahwa lawannya ini memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri. Akan tetapi, untuk membela anak pungutnya yang ia sayang seperti putera sendiri, pendekar ini tidak takut mati. Diam-diam ia menduga-duga mengapa hwesio tinggi besar ini hendak membunuh Kun Hong?

Bukankah Kun Hong itu puteranya sendiri? Hwesio ini menyatakan bahwa Kun Hong putera Kiu Hui Niang, padahal Kiu Hui Niang itu adalah puteri yang dihadiahkan kepada Beng Kun Cinjin ketika hwesio itu menjadi koksu dari pemerintahan Mongol.

Akan tetapi Kam Ceng Swi tidak mendapat banyak kesempatan untuk memikirkan hal ini karena sekarang ia mulai terdesak hebat. Gulungan sinar senjatanya makin menyempit, gerakan bintang dan bulan sisir di kedua ujung talinya makin lambat. Sekarang ia lebih banyaik menangkis serangan lawan dari pada menyerang.

Ia sudah mulai mundur-mundur dan matanya silau karena tasbeh itu menyambar-nyambar seperti kilat putih, bergulung-gulung sukar diduga ke mana gerakannya. Kam Ceng Swi harus mengeluarkan seluruh tenaga untuk menjaga diri, namun tetap saja ia terdesak terus.

Setelah pertempuran berlangsung lima puluh jurus lebih, tiba-tiba Kam Ceng Swi mengeluarkan bentakan nyaring dan ia melakukan serangan dengan geralk tipu yang paling ia andalkan, yaitu gerakan Seng-goat-kan-in (Bintang dan Bulan Mengejar Awan). Ujung cambuk yang berbentuk bintang itu meluncur cepat seperti bintang jaituh mengarah lambung lawan sedangkan ujung yang berbentuk bulan sisir melayang ke arah kepala Beng Kun Cinjin yang gundul licin!

"Bagus....!" Beng Kun Cinjin mengeluarkan seruan pula, kagum dan juga kaget, akan tetapi sebagai seorang ahli dia dapat berlaku tenang. Malah-malah ia terus berpura-pura kaget dan melompat ke belakang dengan gerakan limbung untuk mengelabui lawan.

Benar saja, Kam Ceng Swi yang berpengalaman itu menjadi girang karena mengira bahwa kali ini lawannya terdesak oleh gerakannya Seng-goat-kan-in, maka dengan besar hati ia terus mendesak. Tidak tahunya, secara tiba-tiba sekali Beng Kun Cinjin memindahkan tasbeh di tangan kiri lalu tangan kanannya melakukan pukulan jarak jauh sambil menggereng seperti seekor singa!. Inilah Lui-kong-jiu atau Pukulan Geledek yang dilakukan dari jarak jauh, sebuah di antara banyak ilmu yang diandalkan oleh Beng Kun Cinjin.

Seng-goat-pian Kam Ceng Swi sadar setelah terlambat. Ia masih mencoba untuk mengelak, namun tetap saja hawa pukulan yang dahsyat itu menghantam dadanya dan membuat ia terjengkang ke belakang. Ia masih dapat mengatur kakinya sehingga tidak roboh melainkan terhuyung-huyung akan tetapi pada saat itu, tasbeh di tangan Beng Kun Cinjin sudah menyusul tanpa mengenal ampun lagi. Kam Ceng Swi mengelak sambil miringkan kepala, akan tetapi kurang cepat, pinggir kepalanya pada pangkal telinga kena hantaman tasbeh.

"Prakk...!" Tubuh Kam Ceng Swi terguling, pecut yang merupakan senjatanya istimewa itu di luar kesadarannya menggubat-gubat tubuh sendiri dan ia roboh tak dapat bergerak lagi.

Pada saat itu, terdengar bentakan nyaring, "Keparat jahanam!!" Tahu-tahu Kun Hong yang tadi duduk bersila sambil meramkan mata, kini sudah menerjang Beng Kun Cinjin dengan hebat. Gerakannya ringan bagaikan burung walet, pukulannya mengandung angin pukulan yang membuat Beng Kun Cinjin terkejut bukan main. Ia cepat mengelak, dan menyabetkan tasbehnya.

Akan tetapi pemuda itu berkelebat cepat dan tahu-tahu sudah berada di samping dan menyerang lagi lebih hebat dari pada tadi. Makin terkejutlah Beng Kun Cinjin. Tak disangkanya sama sekali bahwa pemuda ini demikian lihai. "Kau murid siapa...!" tanyanya sekali lagi ketika ia melirik dan melihat betapa dasar gerakan-gerakan ilmu silat pemuda ini amat dikenalnya.

"Siluman gundul, kau berani membunuh ayah pungutku...?" Kun Hong berseru lagi tanpa menjawab pertanyaan lawan sambil terus mendesak secara bertubi-tubi malah sekarang pedang yang tadinya ia taruh di tanah telah ia ambil untuk melakukan penyerangan mematikan.

Beng Kun Cinjin memutar tasbehnya. Ia memang merasa menyesal karena terpaksa harus menewaskan Kam Ceng Swi untuk menutup rahasianya, malah ia harus membunuh anak Kiu Hui Niang yang dibencinya ini. Sekarang sudah kepalang ia harus berdaya membunuh Kun Hong. Ia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, menyerang pemuda itu kalang-kabut.

Tadi Kun Hong berada dalam keadaan setengah pingsan. Ia masih mabok oleh perubahan keadaan tubuhnya yang tiba-tiba menjadi enak dan ringan hilang rasa sakit pada dadanya. Ketika Kam Ceng Swi bertempur melawan Beng Kun Cinjin pemuda ini hanya tahu samar-samar saja seperti orang mimpi.

Pada saat Kam Ceng Swi berseru keras melancarkan serangan, baru ia sadar dan siuman kembali. Ia membuka mata dan secara perlahan kesadarannya pulih kembali. Maka dapat dibayangkan betapa terkejutnya menyaksikan ayah angkatnya dipukul roboh oleh hwesio muka hitam yang tadi menolongnya.

Betapapun juga, karena semenjak, kecil dipelihara penuh kasih sayang oleh Kam Ceng Swi di lubuk hati Kun Hong terdapat rasa cinta dan bakti seorang anak terhadap ayahnya bagi Kam Ceng Swi. Sekarang melihat ayah angkatnya dibunuh orang tentu saja ia marah bukan main.

Memang betul hwesio muka hitam itu tadi telah mengobatinya, akan tetapi hal itu bukan menjadi alasan bahwa ia harus mendiamkan saja orang membunuh ayah angkatnya yang ia sayang dan hormati. Oleh karena itu dengan kemarahan yang meluap-luap ia menyerang Beng Kun Cinjin.

Setelah menghadapi permainan pedang Kun Hong. Beng Kun Cinjin tidak kuat lagi ia menjadi makin yakin sekarang bahwa ilmu silat pemuda ini sesumber dengan ilmu silat ayahnya. "Apa kau murid Thian Te Cu?" tanyanya.

Kun Hong hanya menjawab dengan tusukan pedangnya yang demikian dahsyat sehingga biarpun sudah ditangkis tasbeh dan dielakkan, tetap saja sebagian besar ujung lengan baju hwesio itu terbabat putus!

"Ataukah murid Thai Khek Sian?" tanya pula Beng Kun Cinjin penasaran.

Akan tetapi kembali jawabannya hanya babatan pedang yang nyaris memutuskan lehernya kalau tidak cepat-cepat Beng Kun Cinjin membuang ke belakang, menggelundung dan terus melarikan diri secepatnya! Kun Hong hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya ketika mendengar suara lemah memanggilnya, "Kun Hong....."

Pemuda itu cepat melompat menghampiri Kam Ceng Swi yang tadi memanggilnya itu. Ia melihat ayah angkatnya itu membuka mata dan menggerakkan bibir. Kun Hong mengangkat kepala orang tua itu dan dipangkunya. Darah dari kepala membasahi bajunya.

"Ayah.... bagaimana dengan lukamu?" tanyanya sambil memeriksa luka di pangkal telinga itu. Hebat luka ini dan ada tanda-tanda kepala itu retak.

"Kun Hong... aku tahu sekarang... hwesio itu... Beng Kun Cinjin.... dialah pembunuh ibumu... dia itu.... ayahmu sendiri... kau... kau tanyalah... Kwee Sun Tek...." Sampai disini Kam Ceng Swi tak dapat melanjutkan kata-katanya matanya meram dan napasnya terhenti.

"Ayaaahh....!!" Kun Hong memanggil namun nyawa yang sudah melayang pergi meninggalkan badan tak dapat ditahan lagi.

Keterangan ayah angkatnya ini seperti halilintar menyambar kepalanya, membuat Kun Hong untuk sekian lamanya duduk di atas tanah dengan jenazah ayah angkatnya masih dipangkunya. Wajahnya pucat sekali dan dua butir air mata menitik turun tanpa diusapnya. Jalan pikirannya berputar tidak karuan, bingung ia memikirkan betapa hwesio muka hitam yang mengobatinya dan kemudian membunuh ayah angkatnya itu adalah ayahnya sendiri!

Jadi hwesio itu adalah Beng Kun Cinjin. pikirnya. Pantas saja gerakan-gerakan ilmu silatnya mirip dengan ilmu silatnya sendiri, tidak tahunya hwesio muka hitam itu putera tunggal Gan Yan Ki. Tapi bagaimana bisa jadi hwesio itu ayahnya sendiri? Sayang ayah angkatnya tak dapat memberi keterangan yang jelas dan keburu tewas karena lukanya.

Akan tetapi ia akan mencari Kwee Sun Tek. orang tua buta itu untuk ditanyai keterangan. Hatinya berdebar. Bagaimana bisa terdapat keanehan yang demikian kebetulan? Mengapa justeru kepada Kwee Sun Tek ia harus mencari keterangan? Justeru kepada orang tua buta yang pernah ia permainkan sehingga terjadi kehebohan dalam tali perjodohan Wi Liong.

Dengan hati berduka Kun Hong lalu mengubur jenazah ayah angkatnya, dibantu oleh Phang Sinshe. Orang she Phang ini tadinya bersembunyi di dalam pondok saja karena takut mendengar suara ribut-ribut, kemudian setelah Kun Hong memanggilnya keluar, ia bergemetar melihat di situ ada jenazah seorang yang tidak dikenalnya.

"Sobatmu muka hitam itu sudah melarikan diri, dan ini ayah angkatku terbinasa. Phang Sinshe, apa kau tahu ke mana kiranya Beng Kun Cinjin pergi?"

"Beng Kun Cinjin itu siapa? Aku tidak mengenalnya," jawab Phang Sinshe sejujurnya.

Kun Hong dapat menduga bahwa kutu buku ini tidak tahu apa-apa dan tidak berdosa. "Bagaimana kau bisa menjadi sobat hwesio muka hitam itu dan bagaimana pula agaknya kau mengenal Liong Tosu?" tanya Kun Hong sambil memandang tajam.

Kakek itu menarik napas panjang. "Aku hanya mengenal hwesio itu sebagai seorang hwesio yang menderita batinnya, yang selalu kelihatan susah dan berduka. Ia tertarik akan pengetahuanku tentang kitab-kitab kuno, maka kami sering kali bercakap-cakap tentang ilmu kebatinan. Agaknya percakapan-percakapan kami itu dapat sedikit menghibur hatinya maka sering kali aku datang mengunjunginya. Karena perkenalanku dengan dia itulah aku mengenal Liong Tosu yang pernah pula mengunjunginya."

Penguburan jenazah Kam Ceng Swi dilakukan dengan amat sederhana. Kun Hong menaruh sebuah batu besar di depan makam dan mengikatkan senjata Seng-goat-pian erat-erat pada batu itu. Batu nisan yang istimewa itu kelihatan angker dan menjadi tanda yang mudah dikenal.

Setelah menghaturkan terima kasih kepada Phang Sinshe. Kun Hong lalu turun gunung, di dalam hati ia berjanji untuk mencari Beng Kun Cinjin dan biarpun hwesio itu dikatakan oleh Kam Ceng Swi adalah ayahnya, namun ia benci kepada "ayah" itu yang telah membunuh ibunya dan membunuh ayah angkatnya yang terkasih.

Apa lagi kalau diingat bahwa matinya Kam Ceng Swi adalah untuk membelanya. Biarpun ia tadi masih dalam keadaan pusing namun setelah ditendang oleh hwesio muka hitam itu, ia ingat samar-samar bagaimana hwesio itu hendak memukulnya dengan tasbeh akan tetapi lalu tiba-tiba saja bertempur dengan Kam Ceng Swi.

Tadinya Kun Hong berniat hendak langsung mencari Im-yang-giok-cu yaitu batu giok Im-yang yang dapat menjadi obat baginya. Menurut pesan Liong Tosu biarpun kini rasa sakit sudah lenyap setelah ia menerima pengobatan Liong Tosu dan hwesio muka hitam, namun tetap saja akibat pukulan Im-yang-lian-hoan itu akan membuat ia hanya dapat hidup selama dua tahun kecuali kalau ia mendapatkan obat Im-yang-giok-cu yang dimiliki oleh Kui-bo Thai-houw di Ban-mo-to.

Memang tadinya ia hendak mencari obat ini lebih dulu sebelum mengurus hal-hal lain. Akan tetapi semenjak mendengar pesan terakhir dari Kam Ceng Swi sekarang ia ingin cepat-cepat mencari Kwee Sun Tek guna minta penjelasan tentang keadaan Beng Kun Cinjin yang dikatakan sebagai ayahnya itu. Oleh karena itu, kini setelah turun dari Bayangkari ia langsung menuju ke Wuyi-san lagi untuk mencari Kwee Sun Tek. Kalau perlu ia hendak minta keterangan dari Wi Liong, yaitu apa bila Kwee Sun Tek tidak berada di sana.

Kun Hong sedang berbaring di atas tempat tidur dalam kamar hotelnya. Ia telah melakukan perjalanan jauh terus-menerus sehingga tubuhnya terasa lelah sekali. Siang hari tadi ia tiba di kota Kong-siang ini dan langsung mencari hotel, lalu setengah hari lamanya ia bersamadhi untuk memulihkan kesegaran tubuhnya. Kemudian ia makan sore dan membaringkan diri di dalam kamar. Malam ini ia hendak mengaso sampai puas baru besok pagi-pagi melanjutkan perjalanan.

Ia berbaring sambil melamun. Alangkah banyaknya persoalan yang dihadapinya. Menyelidiki tentang Beng Kun Cinjin kemudian mencarinya. Pergi ke Ban-mo-to untuk mencari Im-yang-giok-cu yang baginya merupakan obat penyambung nyawa. Belum lagi mencari Thai It Cinjin dan kedua sutenya. Im Thian Cu dan Yang Thian Cu, yang telah merampas pedang Cheng-hoa-kiam.

Semua itu masih ditambah urusan tentang perjodohan Kwa Siok Lan dengan Wi Liong yang harus ia sambung kembali memenuhi permintaan Eng Lan dan hal ini biarpun sama sekali tidak mengenai dirinyn sendiri, malah mendapatkan kedudukan pertama dalam perhatiannya karena Eng Lan yang menyuruhnya.

Eng Lan... mengenangkan gadis itu, tersenyum bibir Kun Hong dan wajahnya berseri. Apapun akan jadinya, betapapun berat tugas-tugas yang dihadapinya, asal kelak dapat mempersunting bunga hatinya itu ia tetap gembira dan tidak akan mundur setapak menghadapi rintangan-rintangan maha berat.

"Eng Lan... kau di mana sekarang dan sedang apa saat ini....?" bibirnya bergerak membisikkan kata-kata ini sambil menekan kerinduan yang timbul di dalam hatinya.

Tiba-tiba ia mendengar suara kaki di atas genteng, gerakan kaki yang amat ringan dan sukar terdengar oleh telinga biasa. Kun Hong cepat meniup padam api lilin di atas meja, menyambar pedangnya, membuka jendela kamar perlahan-lahan lalu melayang keluar dari jendela itu.

Tanpa terasa olehnya, malam telah merayap jauh dan pada saat ia melangkah keluar ke belakang hotel, baru kelihatan bahwa malam itu amat terang, gemilang oleh sinar bulan. Ia melihat keadaan sekeliling sunyi saja, lalu ia mengenjot kakinya melompat ke atas genteng. Sambil berlindung di balik wuwungan ia mengintai dan melihat dua sosok bayangan bergerak-gerak di atas genteng hotel.

Ketika ia menghampiri dengan hati-hati sambil bersembunyi, terlihat olehnya bahwa dua orang itu adalah dua orang wanita muda yang gerak-geriknya amat lincah dan ringan. Mereka sedang menjenguk dari lubang yang mereka buat di antara genteng-genteng, dan terdengar mereka tertawa terkekeh ditahan dan tangan mereka bergantian menyambitkan sesuatu ke bawah,

"Aduh, setan kurang ajar!" terdengar seruan-seruan dari bawah, suara laki- laki yang parau dan dua orang wanita itu terkikik lagi.

Kun Hong terkejut, ia ingat bahwa kamar yang diganggu oleh dua orang wanita itu adalah kamar seorang laki-laki tinggi besar yang dari golok yang tergantung di pinggang serta gerak-geriknya saja sudah dapat diketahui bahwa orang itu adalah seorang kang-ouw yang memiliki ilmu silat dan bukan seorang yang mudah diganggu begitu saja. Dari mana datangnya dua orang wanita yang ternyata adalah gadis-gadis muda ini dani mengapa mereka mengganggu laki-laki tinggi besar itu?

"Enci, kau bilang dia itu yang berjuluk Tiat-thouw-sai (Singa Kepala Besi)?"

"Betul, dialah Tiat-thouw-sai Tan Kak." jawab gadis ke dua.

"Julukannya hebat, mengapa kepalanya tidak sekuat besi?" gadis pertama yang rambutnya diikat pita di kanan kiri bertanya lagi. Keduanya lalu tertawa-tawa lagi sambil mengincar ke bawah genteng.

Kun Hong menjadi ingin tahu dan ikut pula mengintai ke dalam melalui genteng di balik wuwungan. Dan ia menahan ketawanya. Benar-benar dua orang gadis itu nakal sekali. Di dalam kamar itu kelihatan si Tiat-thouw-sai itu sedang mencak-mencak dan mengelus-elus kepalanya. Kain pembungkus kepalanya sudah lubang-lubang dan kepalanya benjol-benjol.

Tiap kali ia hendak lari ke pintu, sebuah benda kecil menyambar kepalanya membuat ia mengurungkan niatnya dan tiap kali ia hendak melompat dan menyerbu ke atas melalui jendela sebuah benda malah kadang-kadang dua buah membuat ia roboh kembali!

Akhirnya Tiat-thouw-sai Tan Kak insyaf bahwa di atas genteng terdapat orang pandai, maka ia lalu menjatuhkan diri berlutut di atas lantai sambil mengeluh. "Enghiong dari mana dan siapakah yang di atas dan mengapa mempermainkan siauwte (aku)? Jika ada salah, harap sudi memberi maaf!"

Kini dua orang enci adik itu tertawa cekikikan tanpa menahan suara ketawanya sehingga Tiat-thouw-sai Tan Kak yang mendengar bahwa yang di atas genteng adalah wanita-wanita, menjadi terbelalak heran.

"Tiat-thouw-sai Tan Kak. kau telah mengacau kota Kong-siang dan mencuri banyak emas permata, masih pura-pura tanya kesalahan!" kata gadis yang tertua, yang bertubuh tinggi langsing, suaranya merdu akan tetapi keren sekali.

"Seorang perantau kehabisan bekal, mengambil sedikit harta para hartawan yang kikir, apakah itu dianggap kesalahan?" kata Tan Kak, mengeluarkan aturan para perantau kang-ouw dan liok-lim, yaitu tidak ada salahnya bagi mereka untuk menyatroni para hartawan jahat.

"Siapa tidak kenal alasanmu yang kosong? Kau mencuri bukan sekedar kekurangan bekal perjalanan. Masa untuk bekal perjalanan kau mengambil uang beratus tael emas? Dan kau telah mengganggu pula gedung hartawan Bun yang terkenal dermawan dan sosiawan, benar-benar dosamu tak boleh diampuni!"

Karena mendapat kenyataan bahwa yang mengganggunya hanyalah dua orang wanita, semangat Tiat-thouw-sai Tan Kak timbul kembali. Dengan gerakan tiba-tiba ia memukul ke arah lilin sehingga api lilin di kamarnya padam dan keadaan menjadi gelap sekali. Cepat ia mencabut goloknya dan melompat keluar dari pintu, terus ke belakang dan melompat naik ke atas genteng.

"Siluman wanita dari mana berani main-main dengan Tiat-thouw-sai?" bentaknya setelah ia melompat ke dekat dua orang gadis itu ia segera disambut oleh gadis ke dua yang rambutnya diikat pita di kanan kiri dengan bentakan nyaring.

"Singa Kepala Besi (Tiat-thouw-sai), hendak kulihat sampai di mana kerasnya kepalamu!"

Tan Kak marah sekali dan goloknya menyambar. Melihat bahwa dua orang wanita itu hanya dua orang gadis muda, ia makin memandang rendah lagi. Inilah kesalahan seorang yang sombong. Setiap ahli silat paling hati-hati apabila menghadap tiga macam orang. Laki-laki sasterawan yang kelihatan lemah, orang-orang bercacad yang nampaknya tak berdaya, dan wanita-wanita yang lemah-lembut.

Mereka tiga macam orang ini pada umumnya memang lemah akan tetapi kalau mereka berani beraksi di dunia kang-ouw, itu tandanya bahwa mereka sudah memiliki kepandaian yang tinggi. Kalau Tan Kak tidak sombong mengandalkan julukannya dan tidak memandang rendah kepada dua orang gadis itu, tentu baginya lebih selamat kalau ia tadi melarikan diri aja di dalam kegelapan.

Menghadapi sambaran golok di tangan Tan Kak, gadis muda itu tertawa mengejek. Ia bertangan kosong saja dan sedikit gerakan tubuhnya yang langsing itu telah membikin golok lawan menyambar angin. Tan Kak menjadi penasaran dan menyerang terus, akan tetapi lawannya bergerak seperti seekor burung walet cepatnya, setiap sabetan golok dapat dihindarkan tanpa banyak mengeluarkan tenaga.

Sementara itu gadis ke dua yang berambut panjang dan di bagian depan menutupi jidatnya telah melompat ke bawah menuju ke kamar Tan Kak. Tak lama kemudian ia sudah keluar lagi membawa dua buah kantong yang berat! Melihat adiknya masih terus mempermainkan Tan Kak bergerak ke sana ke mari sambil tertawa-tawa di antara berkelebatnya sinar golok, ia berseru,

"Hui Sian, tidak lekas bereskan dia mau tunggu sampai kapan...?"

Jilid selanjutnya,