X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Si Walet Hitam Jilid 14

Cerita Silat Mandarin Serial Si Teratai Merah Seri Ke 2, Si Walet Hitam Jilid 14 Karya Kho Ping Hoo

Si Walet Hitam Jilid 14

Mei Ling tak mau berlaku sungkan lagi, maka setelah meloncat maju ia lalu mencabut pedangnya yang tajam. Tadinya Thai Yong bermaksud hendak berkelahi dengan tangan kosong dan mengandalkan ilmunya yang lihai, yakni semacam Houw-jiauw-kang atau Ilmu Cengkeraman Harimau yang ganas.

Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo

Akan tetapi melihat bahwa gadis itu mencabut pedang, ia yang telah mendengar akan kelihaian Mei Ling, lalu mengambil senjatanya, yakni sebatang tombak yang besar dan berat. Mei Ling lalu maju dan mendahului menyerang yang dapat ditangkis dengan baik oleh tombak Thai Yong.

Keduanya lalu bertempur seru. Akan tetapi, ilmu ginkang Mei Ling ternyata jauh lebih tinggi daripada lawannya hingga sebentar saja tubuh gadis ini dengan lincahnya menyambar bagaikan seekor kupu-kupu berterbangan mengitari bunga.

Thai Yong terkejut sekali dan mencoba untuk memutar-mutar tombaknya menjaga diri, akan tetapi ternyata Mei Ling terlalu gesit baginya. Setelah menyerang bertubi-tubi dengan gerakan cepat dan lincah hingga Thai Yong merasa bingung dan pening, akhirnya ujung pedang Mei Ling berhasil membabat lengan Thai Yong hingga lengan kanan lawannya ini terbabat putus dan dengan teriakan mengerikan Thai Yong roboh mandi darah dan pingsan!

Sorak-sorai terdengar di pihak tentara Han dan tubuh Thai Yong bersama potongan lengan tangannya lalu diangkat oleh kawan-kawannya. Kekalahan ini membuat keadaan menjadi empat dua dan Hwa Yung menjadi marah sekali. Di pihaknya tinggal dua orang lagi yang boleh diandalkan, yakni dia sendiri dan Kinaka. Karena di pihaknya telah mendapat kemenangan empat kali, maka ia mengharapkan untuk mendapat dua buah kemenangan lagi, yakni dia sendiri dan Kinaka, maka ia mulai memutar otak.

Lima pertandingan lagi harus diadakan dan ketika pihak Han keluar Lee Ing sebagai jago, ia lalu mengeluarkan Kinaka. Ia menganggap kepandaian Lee Ing tentu takkan lebih tinggi dari kepandaian Mei Ling, maka oleh karena ia percaya akan ketangguhan Kinaka, ia sengaja menggunakan saat ini untuk memperoleh sebuah kemenangan lagi.

Lee Ing mencabut pedangnya dan ketika Kinaka mengeluarkan senjatanya. Lo Sin diam-diam merasa khawatir sekali. Kinaka yang bertubuh tinggi besar itu ternyata bersenjata cambuk panjang dan besar, dan cambuk itu penuh dipasangi duri-duri yang kehitam-hitaman, agaknya mengandung racun.

Lo Sin merasa menyesal sekali mengapa justeru Lee Ing yang harus menghadapi lawan tangguh ini dan dengan hati berdebar ia memandang ke arah kekasihnya. Akan tetapi, Lee Ing nampak tenang-tenang saja dan memegang pedang yang dilintangkan di dadanya dengan sikap gagah!

Setelah memandang lawannya dengan mata tajam, Kinaka lalu berseru keras, memutar-mutar cambuk yang mengerikan itu di atas kepala, lalu menerjang maju! Lee Ing menggunakan kegesitan tubuhnya untuk mengelak dan balas menyerang. Tiba-tiba saja pedang gadis itu berkelebat dengan hebatnya karena ia telah mempergunakan Hwie-sian-liong-kiam-sut yang belum lama dipelajarinya dari Lo Sin!

Melihat permainan pedang ini, Kong Liang dan Mei Ling terkejut sekali dan mereka lalu memandang kepada Lo Sin, akan tetapi pemuda ini hanya tersenyum saja dan memperhatikan permainan kekasihnya dengan penuh harapan. Ia melihat betapa Kinaka dapat dibikin bingung oleh gerakan pedang Lee Ing yang selain cepat dan ganas, juga mengandung hawa panas, walaupun tidak sehebat permainan Lo Sin karena gadis itu belum paham benar.

Lo Sin merasa khawatir melihat betapa daya serang Lee Ing masih jauh daripada sempurna, hingga Kinaka dapat bertahan dengan baiknya bahkan mengirim serangan balasan yang berbahaya. Tidak usah terkena pukulan cambuk dengan hebat, baru sebuah duri cambuk saja apabila mengenai tubuh Lee Ing, maka gadis itu pasti akan kalah karena pengaruh racun!

Kinaka agaknya juga dapat menduga bahwa ilmu pedang gadis ini walaupun luar biasa sekali, namun gadis itu belum matang benar permainannya, maka dengan sabar ia hanya memutar cambuknya untuk membela diri, menanti sampai gadis itu menghabiskan permainannya sehingga menjadi bingung sendiri.

Oleh karena ini, maka berpuluh jurus lebih telah lewat tanpa ada yang kalah, dan benar saja, Lee Ing mulai merasa bingung karena ternyata bahwa ilmu pedang yang diandalkannya itu ternyata tidak mampu mengalahkan lawannya yang tangguh ini! Ia lalu merobah gerakan pedangnya dan kini mainkan ilmu pedang warisan ayahnya yang juga hebat sekali karena ia telah melatih ilmu ini dengan baiknya!

Namun, Kinaka benar-benar lihai. Ia kini tidak hanya menangkis saja, akan tetapi mulai menyerang dengan hebat bagaikan seekor harimau liar mengamuk! Lee Ing mulai terdesak mundur oleh hebatnya sambaran cambuk itu dan keadaannya benar-benar berbahaya.

“Air...!” tiba-tiba Lo Sin berseru.

Dan mendengar ini, Lee Ing lalu mengubah lagi permainan pedangnya dan kini kembali ia menggunakan ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut bagian membela diri, yakni Naga Sakti Mandi di Air! Benar saja, setelah mainkan ilmu pedang ini, ia dapat menahan serangan cambuk lawan dan biarpun masih terdesak hebat, namun ia tidak usah mempertahankan diri sambil mundur!

Kinaka yang tadinya telah merasa girang karena yakin bahwa pasti akan dapat segera merobohkan lawannya, tiba-tiba merasa seperti menghadapi benteng baja yang kuat ketika gadis itu merobah gerakan pedangnya! Biarpun untuk sementara waktu Lee Ing terlepas dari bahaya, namun sampai berapa lama ia dapat bertahan? Keringatnya mulai mengucur dan gerakan pedangnya menjadi lemah.

Lo Sin merasa khawatir sekali dan ia mengasah otak bagaimana untuk menolong kekasihnya itu. Ia tidak berani dan tidak mau berlaku curang dengan turun tangan membantu, akan tetapi melihat keadaan Lee Ing yang terkurung hebat oleh duri-duri cambuk yang berbahaya itu, ia merasa gelisah sekali. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu dan cepat ia berseru lagi.

“Gin-san-ciang!”

Lee Ing memang sedang berpikir untuk membalas serangan lawan dengan Gin-san-ciang, maka mendengar anjuran kekasihnya ini ia merasa girang sekali. Ia sengaja memperlambat permainan pedangnya. Sejak tadi ia tahu bahwa apabila pedangnya sampai terlibat oleh cambuk lawan, maka pedang itu akan kena dirampas dan ia selalu menjaga dengan hati-hati sekali agar pedangnya jangan sampai terlibat cambuk.

Akan tetapi, setelah teringat akan Gin-san-ciang, yakni kepandaiannya memukul dengan ilmu itu, ia sengaja memperlambat gerakan pedangnya hingga Kinaka yang menyangka bahwa ia telah lelah, dengan cepat lalu membuat gerakan cepat dan tahu-tahu ujung cambuknya telah melilit pedang Lee Ing bagaikan ular!

Lee Ing sengaja membetot dengan keras dan untuk sesaat mereka saling betot. Tiba-tiba Lee Ing melepaskan gagang pedang dari tangan kanannya dan dengan bentakan nyaring sekali ia merendahkan diri dan memukul dengan tangan kirinya dan mengerahkan seluruh tenaga Gin-san-ciang yang telah dipelajarinya!

Berbareng dengan terbetotnya pedang Lee Ing dan bentakan gadis itu, Kinaka memekik keras sekali dan tubuhnya terlempar jauh lalu roboh dan bergulingan hingga duri-duri itu menusuk seluruh tubuhnya! Ia masih memekik ngeri untuk beberapa kali, kemudian ia rebah tak berkutik dan nyawanya telah melayang meninggalkan badannya!

Pukulan Gin-san-ciang yang tepat mengenai dadanya itu sebetulnya tidak sampai membinasakan karena tubuhnya telah memiliki kekebalan, akan tetapi tusukan banyak duri berbisa dari cambuknya yang membuat ia tewas seketika.

Lee Ing cepat menjemput pedangnya dan menghampiri Lo Sin dengan wajah pucat. Dengan girang Lo Sin memegang tangan kekasihnya yang memandangnya dengan penuh perasaan terima kasih.

Hwa Yung marah sekali melihat bahwa kawannya yang diandalkan telah roboh binasa. Kemudian berturut-turut jagonya roboh oleh Kong Liang dan Lim Ciauw hingga keadaan menjadi empat lima untuk kekalahannya! Ia menjadi tidak sabar lagi dan meloncat maju!

Majunya ini disambut oleh Lo Sin sendiri, akan tetapi berbareng dengan majunya pemimpin rombongan jago Turki itu, tiba-tiba seluruh tentara Turki yang tadinya hanya berdiri menonton, lalu menyerbu hebat! Inilah kecurangan Jingar Khan yang sengaja memancing lawan untuk kemudian dikeroyok! Jumlah tentara Turki jauh lebih besar daripada jumlah tentara pengawal rombongan itu.

“Pengecut yang curang!” Lim Pok dan Lim Ciauw membentak dan pertempuran hebat terjadi dengan ramainya.

Lo Sin mencabut pedang dan mendesak Hwa Yung dengan hebat sekali. Si gemuk itu hanya dapat bertahan selama tigapuluh jurus saja, dan akhirnya ia roboh dengan paha tertusuk pedang! Lo Sin lalu mengamuk membantu kawan-kawannya yang dikepung dan dikeroyok. Tubuh lawan bergelimpangan terkena senjata para eng-hiong itu, tiba-tiba Lo Sin teringat, lalu berteriak.

“Hayo kita kembali! Kembali ke Lok-sin-chung!”

Kawan-kawannya mengerti maksudnya dan setelah mengamuk hebat sehingga para pengeroyok mundur dengan jerih, mereka lalu melarikan diri kembali ke Lok-sin-chung dan benar saja. Dari jauh mereka sudah mendengar suara perang yang sedang berlangsung dengan hebatnya!

Kalau saja mereka tidak lekas kembali, entah bagaimana dengan nasib Lok-sin-chung! Akan tetapi ketika mereka ikut menyerbu, mereka melihat bahwa selain para perwira yang melawan dengan gagah berani di bawah pimpinan Kwee-ciangkun dan Can Kok In yang mengamuk bagaikan seorang raksasa keluar dari gua, di situ terdapat seorang gagah luar biasa yang mengamuk lebih hebat lagi daripada si raksasa itu.

Ketika mereka melihat, ternyata bahwa yang mengamuk itu adalah seorang pemuda yang tampan, bertubuh tegap dan berpakaian petani. Ilmu silatnya benar-benar lihai sekali dan dengan kedua tangannya ia menangkap-nangkapi lawan dan melempar-lemparkan ke kanan kiri seperti melempar ayam saja!

“Yap Bun Gai!” teriak Mei Ling dan Kong Liang hampir berbareng.

Mendengar namanya disebut orang, Bun Gai berpaling dan mukanya tiba-tiba berubah merah dan kedua matanya bersinar dan berseri ketika ia melihat Mei Ling. “Song-siocia!” katanya perlahan.

Karena girangnya, Mei Ling tanpa disadarinya lalu berlari menuju ke dekat pemuda itu dan segera membantunya melawan musuh! Kong Liang tersenyum dan bersama Lo Sin dan Lee Ing ia juga segera menyerbu musuh hingga sebentar saja pihak lawan menjadi kacau balau karena datangnya bantuan yang hebat dan lihai di pihak lawan ini!

Setengah hari pertempuran berlangsung dan akhirnya tentara Turki dapat dihancurkan dan dipukul mundur. Jingar Khan melarikan diri beserta sisa anak buahnya, meninggalkan banyak sekali tentara yang tewas.

Dengan gembira dan terharu semua orang mengerumuni Can Kok In, perwira raksasa yang dalam amukannya telah terkena anak panah yang menyambar tepat pada ulu hatinya! Raksasa ini rebah tak berdaya akan tetapi biarpun ia belum tewas, tak sepatahpun keluar keluhan dari mulutnya. Ketika ia melihat Lo Sin berlutut di dekatnya, ia memandang dan tersenyum dengan bibirnya yang mengalirkan darah.

“Ouw-yan-cu… sayang… kita belum mengukur tenaga…” kemudian tewaslah perwira yang gagah berani ini, meninggalkan kesan yang mendalam dan mengharukan di hati Lo Sin.

Kwee-ciangkun menghaturkan terima kasih dengan kata-kata yang mengharukan kepada semua eng-hiong yang telah membantu pemerintah untuk mengusir para pengacau dan semua orang gagah itu lalu pulang ke tempat masing-masing.

Lo Sin, Lee Ing, Kong Liang, Mei Ling dan Bun Gai berdiri di luar kampung Lok-sin-chung. Lo Sin berkata kepada mereka. “Kalau tidak salah, tak lama lagi kita harus naik ke Hoa-mo-san untuk menghadapi Bong Cu dan kawan-kawannya yang jahat! Kita harus bersiap sedia.”

Tiba-tiba Mei Ling menjadi pucat dan Kong Liang juga kelihatan tidak enak sekali. Sedangkan Yap Bun Gai yang mendengar ini, buru-buru berkata dengan muka merah. “Maaf, maaf, terpaksa siauwte yang rendah harus pulang lebih dulu. Song-siocia, terima kasih atas pertolonganmu dulu itu. Takkan terlupa olehku!” Pemuda ini lalu menjura dan membalikkan tubuh terus lari dengan cepat.

Mei Ling melangkah maju dengan kedua tangan digerakkan ke depan seakan-akan hendak menahan pemuda itu, akan tetapi niat ini diurungkan dan ia lalu bertindak perlahan menjauhi kawan-kawannya dan duduk di bawah sebatang pohon, nampaknya sedih sekali. Lo Sin merasa heran sekali karena ia belum diperkenalkan dengan Yap Bun Gai yang disangkanya kawan Kong Liang dan Mei Ling.

“Lo Sin, kau tidak tahu. Pemuda itu adalah murid Bong Cu Sianjin!”

Bukan main terkejut dan herannya Lo Sin mendengar ini dan ketika Kong Liang menuturkan semua pengalaman dan kebaikan hati pemuda pihak musuh itu serta menyindirkan keadaan Yap Bun Gai serta hubungannya dengan Mei Ling.

Lo Sin merasa menyesal sekali. Ingin ia memukul mulut sendiri karena tanpa disengaja ia telah menyinggung hati Bun Gai dan membuat Mei Ling berduka. Akan tetapi, apakah yang hendak dikatakan?

Pada saat itu, dari jauh nampak bayangan dua orang yang datang dengan cepat sekali dan ketika mereka itu sudah tiba dekat, semua orang merasa terkejut dan girang karena yang datang ini bukan lain ialah Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong!

“Ayah…! Ibu…!” Lo Sin berseru girang dan segera menyambut mereka.

“Sin-ji! Bagus sekali perbuatanmu! Kau mencemarkan nama baik, orang tuamu!”

Mendengar ucapan ibunya ini, Lo Sin sudah maklum bahwa yang dimaksudkan tentulah perhubungannya dengan Lee Ing, maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu membalikkan diri, berlari ke arah Lee Ing lalu memegang tangan gadis itu. Kemudian ia menarik tangan Lee Ing dan diajak berlari menghampiri Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong yang berdiri dengan marah.

Setelah berhadapan dengan kedua orang tuanya dengan Lee Ing di sebelahnya sambil bergandengan tangan, Lo Sin lalu berkata dengan suara nyaring dan tetap. “Ibu… ayah... anak berdua telah bersumpah lebih baik mati daripada berpisah. Kalau ayah dan ibu hendak berkeras, bunuhlah kami berdua, lebih baik mati bersama daripada hidup berpisah!” lalu Lo Sin menjatuhkan diri berlutut, juga Lee Ing lalu berlutut sambil menangis.

“Sin-ji, kau dianggap pengacau rumah tangga orang, dituduh seorang laki-laki mata keranjang yang memikat anak gadis orang! Tidak malukah kau? Nyo Tiang Pek telah menghina kita sesuka hatinya, dan kau masih merendahkan diri dengan membawa lari anak gadisnya? Di manakah harga dirimu? Apakah tidak ada lain gadis selain anak perempuan Nyo Tiang Pek?” Dalam marah dan keangkuhannya Ang Lian Lihiap lupa diri dan memarahi anaknya.

Mendengar ucapan ini, pucatlah wajah Lee Ing dan ia merasa seakan-akan mukanya kena tampar! Dengan isak tangis mengharukan gadis ini tiba-tiba melompat berdiri dan berlari cepat meninggalkan tempat itu sambil menangis!

Lo Sin terkejut sekali dan iapun melompat dan mengejar sambil berseru memanggil-manggil, “Ing-moi… Ing-moi…!” Akan tetapi Lee Ing terus berlari cepat tanpa menoleh lagi. Lo Sin juga terus mengejar secepatnya sambil memanggil-manggil. Ia tidak perdulikan suara ibunya yang memanggil namanya.

Ang Lian Lihiap marah sekali dan hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba suaminya memegang tangannya. “Sabarlah dan jangan kau hancurkan hati kedua anak muda yang bernasib malang itu.”

Mei Ling dan Kong Liang juga menyabarkan hati Ang Lian Lihiap, bahkan Mei Ling lalu berkata, “Cici, biarpun Nyo twako memang benar terlampau keras hati dan terburu nafsu, akan tetapi kau tidak tahu, sebetulnya Nyo-twako telah kena tipu yang curang sekali!”

Mei Ling lalu menuturkan tentang surat dari Cin Han untuk Tiang Pek yang dipalsukan oleh Tik Kong sebagaimana yang ia dengar dari Lee Ing dan Lo Sin. Pucatlah wajah Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong mendengar penuturan ini karena mereka amat marah kepada Lui Tik Kong. Kedua sinar mata mereka seakan-akan mengeluarkan cahaya berapi.

“Pantas, pantas! Pantas sekali Nyo-twako tidak menjawab lamaran kita,” kata Cin Han. “Bangsat rendah itu telah berlaku keji sekali!”

“Kasihan Lee Ing…” kata Ang Lian Lihiap sambil menghela napas dan ia merasa betapa malang nasib anak gadis yang baru saja menerima tikaman batin dari ucapannya terhadap Lo Sin itu dan diam-diam Ang Lian Lihiap merasa menyesal.

“Bagaimanapun juga kita harus pergi menjumpai Nyo-twako untuk merundingkan persoalan ini. Ia harus diinsyafkan akan tipu daya curang dari pemuda keparat itu.”

Demikianlah, Cin Han dan Lian Hwa, dengan diikuti oleh Mei Ling dan Kong Liang, segera menuju ke Bong-kee-san untuk mencari Nyo Tiang Pek. Sementara itu, dengan hati hancur dan perasaan terluka, Lee Ing melarikan diri secepatnya.

Ketika ia mendengar betapa suara panggilan Lo Sin makin dekat mengejarnya, gadis ini tiba-tiba lalu menghunus pedangnya dan menggerakkan pedang itu untuk ditabaskan ke arah leher sendiri. Lo Sin melihat gerakan ini akan tetapi oleh karena jarak antara dia dan Lee Ing masih jauh, ia tidak berdaya, hanya memekik ngeri.

“Ing-moi…!!”

Tiba-tiba bayangan seorang laki-laki yang cepat sekali gerakannya melompat turun dari atas pohon dan tahu-tahu pedang di tangan Lee Ing telah terampas. Bayangan itu adalah Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan, pendekar aneh guru Kim-gan-eng Bwee Hwa yang datang tepat pada waktunya itu.

Lo Sin tidak sempat menghaturkan terima kasih kepada orang tua itu, akan tetapi ia lalu menubruk Lee Ing sambil menangis dan berkata. “Ing-moi… Ing-moi… kau ampunkanlah ibuku, aku… aku takkan dapat hidup lebih lama lagi kalau kau mengambil keputusan pendek. Ing-moi, tidak kasihankah kau kepadaku??” Lee Ing menjatuhkan kepala di pundak Lo Sin dan menangis tersedu-sedu.

Terdengar elahan napas Pat-chiu Koai-hiap. “Hmm, terbuktilah ucapan orang-orang tua bahwa cinta kasih orang muda lebih banyak mendatangkan air mata daripada senyum. Anak-anak muda, berlakulah gagah sebagaimana layaknya pendekar yang memiliki kepandaian. Apakah terhadap derita hidup yang demikian kecilnya saja kalian sudah tunduk dan menerima kalah? Tidak ada urusan di dunia ini yang tidak dapat dibereskan!”

Lee Ing dan Lo Sin mengangkat muka dan ketika melihat orang tua itu, Lee Ing lalu menjura dan memberi hormat. Ia mengenali guru Bwee Hwa ini.

“Terima kasih atas nasihatmu yang berharga, lo-enghiong,” katanya menahan isak. “Dan terima kasih atas pertolonganmu tadi.” Kemudian ia berkata kepada Lo Sin. “Sin-ko, ini adalah Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan, suhu dari cici Bwee Hwa.”

Lo Sin lalu memberi hormat dan juga mengucapkan terima kasih karena kalau tidak orang tua ini yang bertindak cepat, entah bagaimana dengan nasib Lee Ing, gadis yang keras hati itu.

Setelah mendengar penuturan kedua anak muda itu, Oei Gan lalu menyatakan hendak menyusul Ang Lian Lihiap untuk membantu meredakan ketegangan ini dan sekalian membicarakan tentang ikatan jodoh antara muridnya, Bwee Hwa, dengan Kong Liang.

Ia memberi banyak nasihat kepada Lo Sin dan terutama Lee Ing dan minta supaya kedua anak muda itu bersikap tenang dan jangan putus harapan, karena ia yakin bahwa sebagai pendekar-pendekar gagah, akhirnya orang-orang tua itu tentu akan dapat bertindak bijaksana.

Setelah itu mereka berpisah, Oei Gan menyusul Ang Lian Lihiap dan rombongannya, sedangkan Lo Sin dan Lee Ing melanjutkan perantauan mereka sambil menanti sikap kedua orang tua mereka.

Dengan cepat dan tergesa-gesa Ang Lian Lihiap dan rombongannya menuju ke Bong-kee-san dan kedua saudara kembar she Song itu menjadi penunjuk jalan. Ketika mereka tiba di Bong-kee-san, Cin Han berkata.

“Lebih baik kau pergi lebih dulu mendapati Giok Lie, karena kurasa lebih mudah bicara dengan Giok Lie daripada dengan Nyo-twako. Dan dalam hal ini aku percaya bahwa kau lebih pandai bicara daripada aku. Biar aku menanti di sini apabila keadaan sudah beres, barulah aku menyusulmu.”

Ang Lian Lihiap menggoda suaminya. “Eh, eh, takutkah kau?”

Cin Han mengangguk. “Memang, memang aku takut kalau-kalau Nyo-twako dan aku akan sama-sama naik darah hingga kita tidak dapat menahan nafsu lagi. Kau dan Giok Lie lain lagi, karena kalian seakan-akan saudara sendiri sehingga akan lebih mudah merundingkan sesuatu.”

Terpaksa Lian Hwa lalu meninggalkan suaminya yang menanti di luar kampung, lalu bersama Mei Ling dan Kong Liang, ia menghampiri rumah Giok Lie. Ketika mereka tiba di tanah tinggi sehingga rumah Nyo Tiang Pek sudah kelihatan dari atas, tiba-tiba mereka melihat seorang wanita yang diikuti oleh dua orang pelayan, laki-laki dan perempuan, sedang berdiri di depan pintu rumah.

Tiba-tiba pelayan laki-laki itu menuding ke arah Lian Hwa dan kedua saudara kembar itu, agaknya pelayan itu mengenal dua saudara kembar yang memang tidak asing lagi bagi mereka. Giok Lie menengok dan ketika ia melihat siapa yang datang bersama Kong Liang dan Mei Ling, ia berseru girang sekali dan buru-buru menyambut, diikuti kedua orang pelayannya!

Ang Lian Lihiap tersenyum dan sambil menengok kepada Mei Ling yang berjalan di belakangnya, ia berkata, “Lihatlah, Giok Lie begitu lemah-lembut ramah tamah, bagaimana aku bisa menaruh perasaan permusuhan dengan orang seperti dia itu?”

Setelah berkata demikian, Ang Lian Lihiap lalu melompat dan berlari turun. Dari jauh kedua orang wanita ini sudah saling mengulurkan kedua tangan dengan mata mengalirkan air mata! Kemudian mereka saling menubruk, saling merangkul dan mencium muka masing-masing sambil menangis. Terutama sekali Giok Lie. Wanita ini menangis terisak-isak di pundak Lian Hwa.

“Cici… kau ampunkanlah aku… kau ampunkanlah suamiku…”

“Tidak begitu, Giok Lie, akulah yang datang mintakan ampun untuk puteraku yang kurang ajar!” jawab Lian Hwa dan dengan saling mengucapkan kata-kata ini, lenyaplah segala rasa tidak enak hati yang masih ada di antara mereka.

“Di mana suamimu? Aku ingin sekali bicara dengan secara hati terbuka agar jangan sampai ada salah paham terjadi antara kita!” kemudian Lian Hwa berkata setelah agak reda perasaan terharu karena pertemuan ini.

Mendengar ini, Giok Lie makin sedih tangisnya. “Cici… dia… tidak mau pulang dan tinggal saja di dalam gua...”

Lian Hwa terkejut. Lalu ia bertanya tentang hal itu. Giok Lie menarik tangan Lian Hwa dan mengajak Kong Liang serta Mei Ling masuk ke dalam rumah. Setelah semua orang duduk, dengan sedih Giok Lie menceritakan pengalamannya.

Ternyata beberapa hari kemudian semenjak Nyo Tiang Pek didatangi oleh Lui Siok Tojin dan dua orang kawannya yang datang-datang menuduhnya membunuh seorang anak murid Kun-lun-san dengan pukulan Gin-san-ciang sehingga akhirnya ia dan Lui Siok Tojin bertempur dan berhasil mengalahkan tosu itu, pada waktu pagi datanglah seorang tosu tua bersama Lui Siok Tojin menemuinya.

Nyo Tiang Pek terkejut melihat tosu tua ini, karena tosu ini adalah ketua dari Kun-lun-pai yang bernama Liong In Tosu dan menjadi paman guru Lui Siok Tojin, maka ilmu kepandaiannya tentu amat tinggi sekali. Akan tetapi Nyo Tiang Pek tidak merasa takut dan setelah menjura dan memberi hormat, ia lalu berkata,

“Selamat datang di tempatku yang buruk ini, ji-wi totiang. Apakah kedatangan ji-wi ini hendak memberi hajaran kepadaku yang jahat dan suka membunuh orang?”

Liong In Tosu tersenyum mendengar sindiran ini dan ia berkata dengan sabar. “Nyo-taihiap, bersabarlah sedikit. Pinto minta maaf atas kelancangan Lui Siok kemarin dulu itu, karena sesungguhnya, pinto sendiripun kurang percaya bahwa Nyo-taihiap menjadi pembunuh yang bersikap pengecut dan yang tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatannya. Akan tetapi, sungguh terjadi hal yang aneh, taihiap. Kenalkah kau kepada pedang ini?”

Sambil berkata demikian Liong In Tosu mengeluarkan sebatang pedang dan ketika Nyo Tiang Pek memandang, ia kaget sekali karena pedang itu adalah Ceng-lun-kiam, pedang yang dulu ia berikan kepada Tik Kong!

“Pedang ini adalah pedangku, totiang, akan tetapi telah kuberikan kepada orang lain.”

“Nah, apa kataku?” tiba-tiba Liong In Tosu menegur Lui Siok Tojin. “Sekarang tidak salah lagi. Ketahuilah, Nyo-taihiap, anak murid kami itu tidak saja terluka oleh pukulan Gin-san-ciang, akan tetapi juga terbunuh oleh pedang ini yang menancap dan tertinggal di dadanya. Siapakah orangnya yang kau beri pedang ini?”

Pucatlah wajah Nyo Tiang Pek mendengar ini. Jadi Tik Kong lah pembunuhnya? Dengan suara lemah ia menjawab. “Pedang itu kuberikan kepada seorang pemuda bernama Lui Tik Kong.”

“Muridmukah?” tanya Liong In Tosu sambil memandang tajam.

“Bukan, aku tidak pernah punya murid selain anakku sendiri. Dia bukan muridku sungguhpun aku pernah memberi pelajaran sedikit kepandaian kepadanya,” jawab Nyo Tiang Pek singkat, karena ia tidak bisa menceritakan bahwa pemuda itu adalah “calon mantunya”.

“Jadi kalau kami mencari lalu menangkap pemuda yang bernama Lui Tik Kong ini, kau tidak akan tersinggung, Nyo-taihiap?”

Untuk beberapa lama Nyo Tiang Pek tidak dapat menjawab, hanya berdiam sambil menggigit-gigit bibirnya. Bagaimana ia bisa membela orang yang berdosa? Akhirnya ia menjawab dengan tegas. “Kalau memang dia telah melakukan pembunuhan, bagaimana aku bisa mencampuri urusan ini? Carilah dan selidikilah sesuka hatimu.”

Biarpun ia menganggap urusan ini seperti bukan urusannya sendiri, namun hati Nyo Tiang Pek terasa perih dan hancur. Ia telah keliru memilih orang, telah salah, menjatuhkan kepercayaannya kepada orang. Lui Tik Kong yang dianggap emas murni itu, tidak tahunya hanya tembaga tak berharga! Lalu pikirannya melayang kembali memikirkan peristiwa yang sudah lalu. Bagaimana kalau dia yang bersalah dalam semua urusan itu?

Setelah Liong In Tosu dan Lui Siok Tojin meninggalkannya, Nyo Tiang Pek lalu meninggalkan rumah dan bertapa di dalam sebuah gua. Isterinya datang membujuk-bujuknya, akan tetapi tetap saja Nyo Tiang Pek hanya menundukkan kepala dengan kelihatan sedih sekali dan tidak mau keluar!

Semua ini diceritakan oleh Giok Lie kepada Ang Lian Lihiap sambil menangis hingga Lian Hwa menjadi terharu sekali.

“Memang suamimu salah sangka dan terburu nafsu, akan tetapi, semua ini adalah gara-gara pemuda keparat Lui Tik Kong itu! Kau masih belum tahu semua Giok Lie, belum tahu betapa jahatnya pemuda itu.”

Kemudian, dengan panjang lebar Lian Hwa menceritakan betapa dulu ketika pesuruh yang bernama A-kwie itu datang, mereka mengirim surat ke Bong-kee-san yang maksudnya melamar Lee Ing, dan betapa Tik Kong telah membunuh A-kwie dan memalsu surat itu, bahkan menulis bahwa Lo Sin telah kawin!

Setelah Ang Lian Lihiap selesai menuturkan semua itu, Giok Lie memandang dengan wajah pucat dan bibir gemetar. “Aduh… kalau begitu, benar puteramu itu, cici! Aduh, kasihan anakku... Ing-ji… Ing-ji…”

“Tidak hanya anakmu, Giok Lie, akan tetapi puteraku pun menderita karena perbuatan biadab dari Tik Kong ini,” kata Lian Hwa dan ia lalu menceritakan pula betapa ia tadinya marah sekali mendengar segala laporan tentang kemarahan Nyo Tiang Pek dan bahwa ia telah memarahi puteranya hingga kembali kedua anak muda itu melarikan diri.

Ketika Giok Lie mendengar dari Lian Hwa betapa Lo Sin dan Lee Ing menyatakan lebih baik mati daripada hidup saling berpisah, wanita ini lalu memeluk Lian Hwa sambil menangis, bukan karena sedih, akan tetapi karena terharu dan juga girang! Memang semenjak dulu ia bercita-cita untuk menjodohkan anaknya dengan anak Lian Hwa, dan ternyata sekarang bahwa kedua anak itu saling mencinta!

“Kalau begitu, biarlah aku sekarang pergi menemui Nyo-twako!” kata Lian Hwa. “Di mana guanya?”

“Di sebelah timur itu, di bukit yang berbatu-batu,” kata Giok Lie, kemudian disambungnya dengan khawatir. “Akan tetapi cici…”

“Ada apa?” tanya Lian Hwa.

“Dia.... dia sedang marah sekali. Harap kau suka bersabar dan ampunkanlah dia, cici…” kata nyonya itu sambil menyusuti air matanya.

Lian Hwa menepuk-nepuk pundak Giok Lie dan berkata. “Jangan khawatir, adikku. Sekarang aku sudah tahu bahwa Nyo-twako marah karena tertipu!”

Kemudian Ang Lian Lihiap lalu cepat pergi menuju ke bukit itu, dikejar oleh Kong Liang dan Mei Ling, sedangkan Giok Lie hanya duduk saja menangis. Ketika tiba di bukit yang penuh batu-batu besar dan hitam itu, senja telah berganti malam akan tetapi keadaan tidak sangat gelap oleh karena bulan menyinarkan cahayanya dan langit nampak bersih. Lian Hwa mencari-cari dan akhirnya ia melihat sebuah gua yang hitam dan besar serta melihat pula bayangan orang duduk di dalam gua itu.

“Nyo-twako!” ia memanggil sambil menghampiri gua itu.

Bayangan di dalam gua bergerak dan tiba-tiba terdengar seruan marah dari dalam gua itu. “Kau?? Kau berani datang hendak menghinaku?” dan tiba-tiba bayangan itu melompat keluar dengan pedang di tangan.

Ang Lian Lihiap terkejut melihat wajah Nyo Tiang Pek yang pucat dan yang memperlihatkan kemarahan besar itu. “Nyo-twako, aku datang bukan hendak bertempur, akan tetapi hendak merundingkan perkara yang timbul di antara kita dengan kepala dingin. Simpanlah pedangmu dan marilah kita bicarakan dengan tenang.”

“Bohong! Kau tentu datang hendak membalas puteramu dan hendak membela bangsat muda itu! Kau seorang ibu yang tidak dapat mengajar anak, membiarkan anakmu menghina aku!”

“Diam! Jangan kau menuruti hati marah dan yang bukan-bukan, Nyo-twako!” jawab Ang Lian Lihiap yang memang berdarah panas dan tidak tahan mendengar kata-kata keras.

“Ha-ha-ha! Kau bisa bilang bahwa aku menuruti hati dan bicara tidak karuan? Coba kau dengarkan anakmu dulu memaki-maki dan mencemarkan nama baik keluargaku dimuka umum. Coba kau bayangkan betapa dia merusak dan menghalangi perkawinan anakku, bahkan dia berani melarikan anakku di depan mataku sendiri, berani melawanku mengandalkan kepandaiannya! Kau kira aku takut padamu? Tidak, Ang Lian Lihiap, betapapun gagahnya kau, akan tetapi untuk membela nama baikku, aku bersedia mati di ujung pedangmu. Cabutlah pedangmu kalau kau benar-benar seorang gagah!”

Sambil berkata demikian, Nyo Tiang Pek melintangkan pedangnya di depan dada dengan sikap menantang sekali.

“Nyo-twako, kau tersesat!” Sambil berkata demikian, Lian Hwa mencabut pedangnya, akan tetapi bukan untuk menyerang, hanya pedang itu diletakkan di atas batu besar. “Lihat, aku menyimpan pedangku, karena bukan maksudku hendak berkelahi dengan kau yang picik dan dangkal pandangan ini! Kalau memang kau telah berubah pikiran dan menjadi gila, kau seranglah aku. Aku hendak merampas pedangmu yang jahat itu dengan tangan kosong!”

Sambil berkata demikian, Lian Hwa melompat ke arah Nyo Tiang Pek dengan kedua tangan terulur ke depan, siap hendak merampas pedang dari tangan si Garuda Kuku Emas.

“Ang Lian Lihiap, mundur kau! Hmm, kupenggal batang lehermu nanti!” Akan tetapi kata-kata ini hanya merupakan ancaman belaka, oleh karena nyatanya, Nyo Tiang Pek mengelak dari serangan Lian Hwa ini dan melompat ke atas batu lain. Lian Hwa tidak menjadi jerih karena ancaman ini bahkan melompat dan mengejar!

“Awas, sekarang benar-benar aku akan menyerangmu!” kata Nyo Tiang Pek sambil mengangkat pedangnya ke atas dengan lagak mengancam, akan tetapi dari sebuah batu besar Lian Hwa melompat lagi dengan gerakan Naga Putih Menyambar Awan. Tubuhnya yang gesit itu melompat dan menerkam ke arah Nyo Tiang Pek!

Pada saat itu, Cin Han muncul dari balik batu karang. Ia menjadi terkejut sekali ketika melihat betapa Ang Lian Lihiap mengejar-ngejar Nyo Tiang Pek untuk merampas pedang, sedangkan Nyo Tiang Pek yang memegang pedang itu hanya mengelak dan berpindah-pindah tempat, seakan-akan merasa jerih menghadapi Lian Hwa dan sama sekali tidak mau menyerang dengan pedangnya.

“Tahan!” kata Cin Han sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. “Sudah gilakah kalian ini? Tua bangka masih mau main kejar-kejaran seperti kanak-kanak! Nyo-twako, kau dengarlah keterangan kami dulu, kalau kau sudah mendengarkan, barulah terserah kepadamu mau berbuat apa! Kalau kau memang tidak berubah dan masih seperti Kim-jiauw-eng yang kukenal sebagai seorang pendekar yang gagah dan menjunjung tinggi pribudi dan kebenaran, simpanlah pedangmu dan dengarkan keterangan kami. Kalau kau sudah mendengarkan keterangan kami, maka terserah kepadamu sendiri, hendak mengajak bertempur sampai seratus hari seratus malam akan kami layani!”

Mendengar dan melihat Cin Han dengan sikapnya yang gagah ini, tiba-tiba hati Nyo Tiang Pek menjadi lemas. Tadi memang ia sudah merasa bingung sekali melihat kenekadan Lian Hwa yang mengejar dan hendak merampas pedangnya. Tentu saja ia tidak mau menyerang Lian Hwa yang bertangan kosong itu dengan pedangnya.

Dan kini datang lagi Cin Han yang mengeluarkan kata-kata yang amat mengesan dalam hatinya. Ia lalu menjatuhkan dirinya duduk di atas batu besar dan menancapkan pedangnya di atas tanah, kemudian sambil menutup mukanya dengan kedua tangan, ia berkata.

“Bicaralah, bicaralah! Mudah-mudahan bicaramu bukan omong kosong belaka dan jangan coba-coba menipuku!” Ternyata bahwa hati dan pikiran Nyo Tiang Pek memang amat terganggu dan tergoncang oleh kekhawatiran bahwa ia betul-betul telah tertipu oleh Tik Kong sebagaimana yang ia takutkan.

Pada saat itu terdengar suara kaki mendatangi dan Kong Liang bersama Mei Ling datang memburu ke tempat itu dengan hati penuh kekhawatiran akan tetapi menjadi lega ketika melihat bahwa tidak terjadi sesuatu yang mengerikan antara Nyo Tiang Pek dan Lian Hwa.

“Kalau aku yang bicara, mungkin kau takkan percaya,” kata Cin Han dengan suara getir, “Kong Liang dan Mei Ling datang, biarlah mereka ini menceritakan segala yang mereka dengar dari anakku dan anakmu!”

Tanpa diminta lagi Kong Liang dan Mei Ling serta merta menceritakan duduknya perkara. Mereka menuturkan betapa isi surat Cin Han yang dibawa oleh A-kwie adalah surat lamaran untuk diri Lee Ing, kemudian betapa A-kwie telah dibunuh oleh Tik Kong yang sengaja mengubah bunyi surat.

Kemudian menceritakan juga betapa Lo Sin yang mengunjungi mendiang Kong Sin Ek mendengar bahwa Tik Kong lah yang menganiaya Kong Sin Ek hingga kakek itu menjadi lumpuh dan binasa, kemudian mereka menceritakan pula betapa Tik Kong telah bersekutu dengan Hek Li Su-thai dan Bong Cu Sianjin, bahkan pernah menawan Lee Ing yang kemudian ditolong oleh Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan.

Dan untuk kedua kalinya menawan Mei Ling dan Kim-gan-eng yang kemudian ditolong oleh Kong Liang dan Yap Bun Gai. Pendeknya mereka menuturkan semua kejahatan Tik Kong dan bagaimana pemuda itu telah menipu Nyo Tiang Pek dengan curang dan jahat sekali!

Nyo Tiang Pek tadinya mendengarkan dengan kedua tangan menutupi mukanya, akan tetapi lambat-laun ia makin tertarik. Kedua tangannya diturunkan, kedua matanya terbelalak, wajahnya pucat dan tubuhnya menggigil. Saking tertariknya ia lalu bangun berdiri dan memandang ke arah mulut Mei Ling dan Kong Liang yang bercerita bergantian. Wajahnya makin pucat dan perlahan-lahan air mata mengalir keluar dari kedua matanya yang terbelalak lebar.

Setelah kedua anak muda itu selesai bercerita, Nyo Tiang Pek memandangi mereka seperti seorang mayat hidup memandang dan tiba-tiba mengangkat kedua tangannya ke atas dan berseru keras dengan suara yang menyeramkan. “Benarkah ini…? Benarkah…? Benarkah...?”

Ketika keempat orang yang berada di depannya itu mengangguk ia lalu menutup mukanya dengan kedua tangan, dan ketika ia menurunkan tangannya mukanya menjadi basah oleh air mata! Kemudian, tiba-tiba bagaikan gila Nyo Tiang Pek berseru.

“Tiang Pek… kau… kau… kau harus mampus!” dan dengan kedua tangannya Nyo Tiang Pek memukuli kepalanya sendiri, menjambak-jambak rambutnya memukuli mukanya sambil tiada hentinya berbisik, “Kau harus mampus… Nyo Tiang Pek… kau harus mampus!”

Terkejutlah semua orang melihat hal ini dan ketika mereka hendak maju mencegah, Nyo Tiang Pek melompat tinggi dan lari memukuli kepalanya dan berteriak-teriak. “Nyo Tiang Pek... kau harus mampus… Lee Ing… Lee Ing… ayahmu harus mampus…!”

Darah mengalir dari muka dan kepala Nyo Tiang Pek karena pukulannya sendiri. Pada saat itu, dari depan berkelebat bayangan Giok Lie dan ketika ia melihat keadaan suaminya ini, ia lalu menubruk sambil memekik keras. Ketika Nyo Tiang Pek merasa betapa isterinya memeluknya dengan keras, ia menangis tersedu-sedu dan ketika Giok Lie memegangi kedua tangannya yang telah berlumuran darahnya sendiri itu, ia mencoba untuk membenturkan kepalanya pada batu di dekatnya.

“Koko, jadi kau tetap hendak bunuh diri? Baiklah, aku isterimu akan mendahuluimu!” Sambil berkata demikian, Giok Lie mencabut pedangnya dan menusukkan pedang itu ke arah dadanya! Melihat hal ini, secepat kilat Tiang Pek menyampok tangan isterinya hingga pedang itu terlempar jauh.

“Giok Lie… isteriku… ampunkanlah aku…” setelah berkata demikian Tiang Pek menjerit keras dan roboh pingsan di atas rumput!

Giok Lie memeluki tubuh suaminya dan ketika melihat muka dan kepala yang sudah tidak karuan macamnya karena berlumur darah itu, ia menangis tersedu-sedu dan mendekap kepala suaminya pada dadanya. Bulan agaknya tidak kuat pula menahan rasa terharu menyaksikan keadaan mereka ini, maka ia lalu bersembunyi di balik awan putih.

Lian Hwa dan Mei Ling dengan air mata bercucuran lalu menolong Giok Lie dan menuntun nyonya yang sudah lemas dan hampir tidak kuat berjalan itu untuk kembali ke rumah, sedangkan Cin Han lalu memondong tubuh Nyo Tiang Pek. Beramai-ramai mereka kembali ke rumah Nyo Tiang Pek dan Cin Han lalu merebahkan tubuh kawannya ini di atas pembaringan.

Sampai dua hari lamanya Tiang Pek berteriak-teriak memanggil nama Lee Ing dengan keluh-kesah, dan kadang-kadang ia membentak-bentak nama Tik Kong dengan suara mengandung ancaman hebat. Tubuhnya panas sekali dan dia tidak mengenal siapa-siapa kecuali isterinya.

Pada hari ketiga, maka lenyaplah panasnya dan keadaannya kembali seperti biasa. Ia teringat akan semua yang terjadi dan ketika ia melihat Cin Han dan Lian Hwa memasuki kamarnya, ia lalu bangun duduk dan memegang tangan Cin Han dan Lian Hwa dengan jari-jari gemetar.

“Cin Han… Lian Hwa…. aku menyesal sekali… biarlah… aku berlutut minta ampun kepada kalian…”

Benar-benar Nyo Tiang Pek hendak menjatuhkan dirinya berlutut di depan Lian Hwa dan Cin Han hingga Lian Hwa buru-buru melompat ke belakang dan membalikkan tubuh, sedangkan Cin Han lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Nyo Tiang Pek dan memeluk sahabatnya yang menangis sedih ini. Tak terasa pula Cin Han pun mengalirkan air mata dari kedua matanya. Kemudian ia memaksa diri tersenyum dan berkata.

“Nyo-twako! Apa-apaan semua ini? Bertahun-tahun kita tidak bertemu dan setelah kini bertemu, seharusnya kita bergembira, apa artinya segala air mata yang keluar dari mata kita? Ah, kalau dilihat orang lain, bukankah menimbulkan malu saja. Hwee-thian Kim-hong dan Kim-jiauw-eng bertangis-tangisan! Sungguh lucu! Ingatkah kau ketika dulu kita bersama menghajar penjahat-penjahat Pek-lian-kauw? Bukankah waktu itu air mata adalah pantangan besar bagi kita? Marilah, Nyo-twako, kita kembali seperti dulu lagi!”

Nyo Tiang Pek lalu bangun dan memeluk tubuh Cin Han. “Cin Han… Cin Han… kau jauh lebih gagah perkasa daripadaku.... aku.... aku harus malu kepadamu.”

“Ah! apa gunanya semua kata-kata ini, Nyo-twako? Kita menghadapi persoalan yang sama, soal anak. Tahukah kau betapa mereka itu ketika bertemu dengan aku dan Lian Hwa lalu keduanya berlutut dan menyatakan saling cinta dan bahwa mereka berdua lebih suka dibunuh daripada harus diceraikan? Coba saja pikir!

"Anak-anak kita begitu keras hati dan kepala batu, bukankah mereka itu pantas sekali menjadi anak kita? Mereka saling mencintai seperti kau dan Giok Lie atau seperti aku dan Lian Hwa dan dalam hal kekerasan dan kenekatan hati, agaknya Lee Ing tidak kalah dengan kau dan Lo Sin tidak kalah dengan ibunya!”

Sinar kegembiraan mulai memancar dari kedua mata Nyo Tiang Pek dan kedua pipinya yang pucat itu mulai menjadi agak merah. Dengan hati penuh kegemasan ia lalu menceritakan betapa Tik Kong tidak saja melakukan kejahatan itu semua, bahkan telah mencemarkan namanya dalam pandangan golongan Kun-lun-pai.

“Aku harus membunuh anak setan itu dengan kedua tanganku sendiri!” katanya dengan hati gemas.

“Tidak, Nyo-twako. Tangankulah yang akan menghabisi nyawanya sebagai pembalasan dendam dari Kong-twako!” kata Lian Hwa dengan tak kurang gemasnya.

Demikianlah, dengan mendapat hiburan-hiburan dari Cin Han, Lian Hwa, Mei Ling dan Kong Liang, berangsur-angsur kesehatan Nyo Tiang Pek pulih kembali. Ketika Lian Hwa menceritakan tentang tantangan Lan Bwee Niang-niang untuk mengadakan pi-bu di puncak Hoa-mo-san, Nyo Tiang Pek menyambutnya dengan gembira.

“Biarlah! Biarlah sekali lagi kita naik ke puncak Hoa-mo-san dan membasmi orang-orang jahat itu. Karena keparat Tik Kong sudah bersekutu dengan Bong Cu, tentu ia berada di sana pula!”

“Memang, hatikupun kurang tetap dan tenang apabila aku harus naik ke sana tanpa kau kawani, Nyo-twako,” kata Cin Han.

“Sayang kita tidak tahu puteramu itu berada di mana. Kepandaiannya lihai sekali sehingga dulupun aku merasa kagum dan suka, sayangnya dulu aku menganggap ia telah menjadi suami lain orang!” Mengingat akan kebodohannya sendiri, Nyo Tiang Pek menghela napas.

“Aku mempunyai keyakinan besar bahwa Lo Sin dan Lee Ing pada waktunya akan datang juga di puncak Hoa-mo-san, oleh karena mereka sudah mendengar pula tentang perjanjian pertandingan itu. Aku percaya bahwa mereka tidak akan tinggal diam dan membiarkan saja kita melawan musuh tanpa membantu,” kata Mei Ling.

“Mudah-mudahan saja akan demikian jadinya,” kata Cin Han.

Ketika mereka sedang bercakap-cakap, datanglah pelayan yang memberi tahu bahwa di luar datang seorang tamu yang bersikap aneh dan datang hendak bertemu dengan Nyo Tiang Pek dan Lo Cin Han bersama isteri. Semua orang cepat memburu keluar dan mereka melihat seorang laki-laki tua yang berwajah buruk dan hidungnya menjungat ke atas.

Cin Han mewakili semua orang yang melangkah maju lalu menjura dengan hormat. “Sahabat dari manakah dan ada keperluan apa datang mencari kami?”

Orang itu tertawa terkekeh-kekeh dengan muka berseri, lalu katanya, “Ah, ah, Hwee-thian Kim-hong masih tetap gagah seperti waktu mudanya! Memang, pertemuan kita dulu hanya sebentar saja maka tidak aneh apabila kau sudah lupa padaku!”

Cin Han mengingat-ingat dan kemudian melihat muka yang aneh dan buruk itu teringatlah ia akan peristiwa ia memusuhi perkumpulan Kwi-coa-pai (Perkumpulan Ular Setan). Ia dulu ketika sedang menyelidiki rumah perkumpulan rahasia itu, melihat betapa seorang laki-laki muda dengan gerakan cepat dan gagah telah membunuh mati ular setan, yakni seekor ular berbisa yang jahat dan yang dijadikan lambang perkumpulan itu, dengan sehelai saputangan!

Maka sambil tersenyum, ia lalu berkata sambil menjura lagi. “Ah, tidak tahunya kau adalah Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan! Tidak salahkah dugaanku ini?”

Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan tertawa girang dan balas menjura. “Betul, betul! Bukan main besar hatiku bahwa ini hari aku dapat bertemu dengan tokoh-tokoh tinggi yang namanya telah menggemparkan dunia. Hwee-thian Kim-hong, Ang Lian Lihiap, dan Kim-jiauw-eng! Siapakah yang belum mendengar nama-nama ini?”

Kemudian ia memandang kepada Mei Ling dan Kong Liang yang berdiri di dekat Giok Lie. “Entah yang manakah yang bernama Song Kong Liang?”

Kong Liang terkejut dan maju memberi hormat kepada kakek aneh itu. Melihat pemuda yang tampan dan bersikap gagah itu, Oei Gan kembali tertawa bergelak-gelak. “Pantas, pantas kau memang gagah dan cocok menjadi suami Bwee Hwa. Ha-ha-ha! Eh, Hwee-thian Kim-hong, terus terang saja, kedatanganku ini hendak membicarakan urusan penukaran pedang muridku dengan pemuda ini yang katanya telah diatur oleh Ang Lian Lihiap!”

Lian Hwa tertawa girang dan berkata. “Pat-chiu Koai-hiap, marilah kau masuk ke dalam dan kita bicara dengan sepantasnya. Tak enak rasanya merundingkan soal perjodohan sambil berdiri di luar saja!”

Nyo Tiang Pek juga timbul kegembiraannya dan berkata, “Ah, aku memang tuan rumah yang bodoh dan canggung. Mari, mari, Koai-hiap, kita bicara di dalam sambil minum arak!”

“Arak wangi? Bagus, sudah beberapa hari aku menderita haus!” kata Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan sambil melangkah maju dengan tindakan lebar.

Semua orang lalu masuk ke dalam rumah dan mengambil tempat duduk mengelilingi meja. Giok Lie segera mengeluarkan hidangan seadanya dan mereka lalu merundingkan soal perjodohan antara Kong Liang dan Bwee Hwa....

Selanjutnya,